BlogPacker

I Write My All

LightBlog

Suasana Kota Ende Setelah 14 Hari Saya Di Rumah Saja . Empat belas hari telah berlalu sejak dosen, karyawan, dan mahasiswa Universitas ...


Suasana Kota Ende Setelah 14 Hari Saya Di Rumah Saja. Empat belas hari telah berlalu sejak dosen, karyawan, dan mahasiswa Universitas Flores (Uniflor) dirumahkan. Iya, kami #DiRumahSaja. Taat pada aturan, dosen dan mahasiswa Uniflor melaksanakan pembelajaran menggunakan metode e-learning. Layanan yang digunakan bermacam-macam. Ada e-learning yang bisa diakses melalui situs Uniflor, ada MOODLE, Edmodo, hingga Google Classroom. Karyawan Uniflor wajib standby. Apabila sewaktu-waktu dipanggil oleh pimpinan, wajib datang ke kampus, tidak boleh beralasan sedang berada di kampung halaman. Saya sendiri benar-benar di rumah saja karena kebutuhan keluar rumah dilakukan oleh Thika Pharmantara dan Melly seperti berbelanja kebutuhan pokok hingga kebutuhan Mamatua.

Baca Juga: Penjelasan Paling Masuk Akal Dari Kematian Elisa Lam

Sabtu, 4 April 2020, untuk pertama kali setelah empat belas hari saya pun pecah telur alias keluar kandang. Haha. Sabtu kemarin saya harus meliput kegiatan tahunan Uniflor setiap tanggal 4 April yaitu ritual Pati Ka Embu Kajo di Tubu Nabe. Kegiatan tersebut dilaksanakan pagi hari pukul 07.00 Wita dan berakhir pukul 08.30 Wita dengan peserta yang sangat terbatas. Mumpung sedang berada di luar rumah, usai kegiatan di kampus saya mengajak Thika jalan-jalan berkeliling Kota Ende. Penasaran juga ... saya yang #KakiKereta ini begitu lama berada di dalam Pohon Tua, apa yang terjadi dengan Kota Ende? Hahaha. Gaya banget lu, Teh. Anyhoo, ternyata Kota Ende masih lengang. Masyarakat patuh pada aturan yang ditetapkan pemerintah. Beberapa orang yang berada di jalanan adalah mereka-mereka yang memang bekerja di luar rumah. 

Berikut videonya. Cekidot!



Baca Juga: Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing

Pada video di atas, kalian bisa melihat suasana Kota Ende. Jalanan memang masih lengang. Kami mampir di lapak nasi kuning langganannya si Thika. Si Kakak penjual nasi kuning mengaku nasi kuning yang dijualnya masih laris manis serta belum sampai pada penurunan omzet harian. Entah dengan hari-hari beriktunya karena kami semua menerima surat edaran baru dari Rektor yang memperpanjang waktu #DiRumahSaja hingga tanggal 18 April 2020. Work from home memang menyenangkan juga, tapi lebih menyenangkan kerja di kantor seperti hari-hari biasa karena bisa bertatap muka dengan teman-teman dan bergibah hahaha.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komen.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Credits : Maluku Post . Eko Poceratu Nyong Maluku Yang Mendunia Melalui Puisi . Menulis cerpen dan puisi sejak masih duduk di bangk...

Credits: Maluku Post.

Eko Poceratu Nyong Maluku Yang Mendunia Melalui Puisi. Menulis cerpen dan puisi sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar tidak semerta-merta membikin saya terbaptis menjadi sastrawan. Perlu saya akui, bergelut dengan dunia tulis-menulis berbeda dengan bergumul dalam dunia sastra. Pisau adalah pisau. Tapi pisau bisa berbeda fungsi di tangan seorang koki, dan di tangan seorang pembunuh. Kata-kata itu sama. Tapi makna bisa berbeda. Penulis merangkai kata menjadi suatu cerita. Sastrawan merangkai kata menjadi suatu seni bercerita. Dan, dalam dunia sastra kita tahu begitu banyak penyair. Chairil Anwar, Taufiq Ismail, W.S. RendraSapardi Djoko DamonoWidji Thukul, hingga Bara Patty Radja yang berasal dari Pulau Adonara di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penyair adalah sastrawan hebat yang cerdas memilih diksi, merangkainya melalui kalimat-kalimat pendek namun padat dan syarat makna.

Baca Juga: Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya

Suatu kali, tanpa sengaja, saya melihat video berjudul Tak Harus Sedarah Untuk Menjadi Saudara. Seorang laki-laki muda berdiri di panggung, membaca puisi tersebut, dan saya ternganga sampai video mencapai detik paling akhir. Puisi yang dia bacakan tidak menggunakan Bahasa Indonesia baku melainkan bahasa Indonesia yang telah di-Maluku-kan serta dialeg khas yang kita tahu itu dari Provinsi Maluku. Kalian bingung? Ambil contoh dua kalimat berikut ini:

Bahasa Indonesia:
Darah kami adalah darah Indonesia
Kami bersatu untuk bisa merdeka
Tidak memandang suku atau agama

Bahasa Indonesia yang di-Ende-kan:
Kami pung darah ni darah Indonesia
Kami bersatu untuk bisa merdeka
Ti lihat suku atau agama

Sampai di sini kalian paham kan?

Apalah-apalah istilahnya, yang jelas hari itu dunia saya berubah. Laki-laki muda itu bernama Eko Poceratu. Sesaat setelah video Tak Harus Sedarah Untuk Menjadi Saudara saya jadikan status WhatsApp (WA), seorang adik bernama Tessa Ngga'a mengirimkan lebih banyak video puisi-puisi Eko Poceratu. Alamak, betapa beruntungnya saya! Ternyata saya tidak sendiri. Hahaha. Pada akhirnya saya memburu Eko, oalah bahasanya, hingga ke Youtube. Langsung subscribe, hidupkan lonceng notifikasi, like, share, dan bahagia setiap kali melihat notifikasi video puisi barunya diunggah. 

Eko Poceratu


Makassar Writers menulis sebagai berikut: Lahir di Tihulale, 2 Mei 1992. Sejak lulus SD sudah sudah tertarik dengan dunia sastra ketika membaca puisi W.S. Rendra di perpustakaan sekolah. Mulai merantau ke Ambon setelah lulus SD. Di bangku SMP mulai tekun menulis puisi dan cerpen untuk uang jajan dan tabungan. Kecintaan untuk menulis terbawa sampai kuliah. Sejak saat itu bersama kawan-kawan mendirikan Bengkel Sastra Batu Karang. Sekarang telah mendirikan Bengkel Sastra Kintal Sapanggal dan melakukan berbagai kegiatan sastra bersama remaja dan pemuda. Mendirikan taman baca dan mengadakan beberapa kelas untuk anak-anak sekolah. Selain itu, ikut bergabung dengan Bengkel Sastra Maluku, ibu dari komunitas sastra di Maluku yang telah melakukan kegiatan bersama seperti Konspirasi Puisi Jilid 1-3 (Konspirasi puisi mengangkat isu-isu terpanas di Maluku). Bersama Marthen Reasoa (Penyair) mengadakan Ranjang Puisi yang membahas puisi-puisi ranjang dengan tujuan mengurangi tindakan pelecehan dan pemerkosaan yang marak terjadi di Ambon, terkhusus kepada remaja dan pemuda.

Sedangkan dari blog Eko sendiri, tertera informasi sebagai berikut: Eko Saputra Poceratu, lahir di Tihulale, 2 Mei 1992. Ayah bernama Yohanes Poceratu dan ibu bernama Maria Pariama. Pernah tergabung dalam beberapa antologi bersama seperti, Antologi Puisi Biarkan Katong Bakalae (2013), Pemberontakan Dari Timur (2014), Antologi Mata Aru, Antologi Kita Dijajah Lagi (2017), Rasa Sejati (2018), Antologi Puisi Banjar Baru’s Rainy Day Literary Festival (2017-2018). Merupakan penulis Emerging di Makassar International Writer’s Festival di Fort Rotterdam (2018) dan salah satu penulis dalam Festival Sastra dan Rupa Kristiani di Jakarta (2018). Sampai saat ini telah menerbitkan sebuah novel romansa, Pelangi Biru (2013), Cerpen Di Jalan-Jalan yang Kita Curi (2014) dan telah menerbitkan Kumpulan Puisi Hari Minggu Ramai Sekali (2019).

Dari dua informasi di atas dapat saya simpulkan bahwa darah penyair tidak mengalir di setiap tubuh manusia. Darah itu harus punya aroma bakat, terkontaminasi, terus terasah dan dipoles hingga menghasilkan nada sendiri, diimbuh sesuatu yang saya sebut kecerdasan berpuisi. 

Ciri Khas yang Mendunia


Maluku Post menulis sebagai berikut: Penyair asal Maluku Eko Saputra Poceratu mendapat kesempatan residensi sebulan di Leiden, Negeri Belanda. Demikian pengumuman Komite Buku Nasional dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Situs www.Islandofimagination.id menyiarkan Pengumuman Penerima Residensi Penulis Indonesia 2019, persis pada HUT ke-74 RI, Sabtu (17/8).  Eko tidak sendiri.  Dia lolos bersama 33 penulis Indonesia lainnya, yang bakal menjalani masa residensi di berbagai kota dan negara di dalam dan luar negeri. Menurut situs tersebut, program residensi penulis Indonesia dilaksanakan pertama kali tahun 2016. Pada tahun 2019 ini, Tim Seleksi dari  Komite Buku Nasional dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyeleksi 437 aplikasi yang masuk. Tim memilih 34 nama yang akan mengikuti program residensi selama 1-3 bulan, antara Oktober-Desember 2019.

Berikutnya, kalau saya salah silahkan koreksi melalui komen di bawah untuk koreksi, saat berada di Belanda itu Eko tampil di De Balie, Amsterdam. De Balie adalah teater dan pusat politik, budaya dan media, dengan kafe-restoran di Kleine-Gartmanplantsoen 10, di Leidseplein di Amsterdam, Belanda. Itu kata Wikipedia. Hahaha. Ada dua puisi yang saya nonton videonya saat Eko tampil di De Balie yaitu Tak Harus Sedarah Untuk Menjadi Saudara dan Mana Ale Pung Maluku?. Dua puisi tersebut dibawakan full ciri khas Eko. Sangat berkarakter. Santai tapi menikam, kekuatan diksi, rima yang tepat, majas yang memukau, hingga dialeg Maluku yang kental. Kawan, ciri khas itu bakal langsung tertancap dalam jiwa semua orang yang menonton. Setidaknya itu yang terjadi pada saya.

Mari kita simak Tak Harus Sedarah Untuk Menjadi Saudara berikut ini:

Su paleng lama orang-orang di negara ini
Permasalahkan perbedaan itu deng ini
Mayoritas mau tekan minoritas
Popularitas jadi politik di atas kartas

Apa katong harus seagama, baru bisa dibilang sesama
Apa katong musti sedarah, baru bisa dibilang saudara
Apa katong harus sekandung, baru bisa dibilang gandong
Apa katong musti sesuku, baru bisa dibilang satu tungku
Apa katong musti seiman, baru bisa saling cinta
Apa katong musti seajaran, untuk saling mengerti perasaan

Kalo baku sayang sedangkal itu
Bagaimana kasih bisa menyatu?

Apa beta harus Jakarta, baru bisa dibilang Indonesia
Apa beta harus makan nasi, baru bisa disebut NKRI

Kalo keadilan seperti itu
Bagaimana perasaan bisa menyatu

Apa katong harus makan sawi, untuk jadi manusiawi
Apa katong musti satu RAS, untuk jadi manusia waras

Kalo kemanusiaan sedangkal itu
Dan kebinatangan sedalam laut,
Bagaimana cinta akan terselami

Apa beta harus lahir di Barat, untuk bisa adil di Timur
Apa beta musti blajar di Ibukota, baru di desa dapa jatah
Apa beta harus berpolitik, baru distrik dapa listrik
Apa beta harus punya investasi, baru dianggap punya kontribusi
Apa beta musti punya tambang, Baru dibilang bisa menyumbang
Apa beta musti punya emas, baru bisa jadi anak mas
Apa beta musti punya gas abadi, baru bisa dapat subsidi
Apa katong musti makan raskin, baru dibilang orang miskin

Kalo kehidupan sesempit itu
Lapang dada seng cukup
Tampung dalapang huruf:
S
E
N
G
S
A
R
A

SENGSARA.

*berdiri*
*tepuk tangan paling meriah*
*lempar bunga ke panggung*

Channel Youtube


Saya yakin kalian yang belum tahu Eko bakal sama ternganganya dengan saya. Haha. Jangan kuatir, kalian tentu bisa menonton dan mendengar suara Eko melalui video-video yang diunggah di channel Youtube-nya. Silahkan di-klik. Video terbarunya bikin perasaan jadi bemana begitu ... Cinta Perlu Pengakuan:



Hai lelaki di luar sana, cinta perlu pengakuan, jangan pakai kode-kode lagi, ya. Hahaha. Kalau cinta, akui. Jangan sembunyi. Huhuhu. Eko eee, entah kalimat apa lagi yang bisa saya sampaikan. Saya betul-betul kagum. Anyhoo, jangan lupa untuk subscribe dan turn on notifikasinya. Supaya kalian tidak melewatkan video baru yang diunggah Eko. Dia memang menggunggah video secara rutin. Mendengar suaranya ibarat menutrisi jiwa.


Saya perlu menulis epilog ini. Indonesia memang selalu terpusat di Jakarta dan/atau Pulau Bali. Tidak heran. Jakarta adalah Ibu Kota Negara. Pulau Bali adalah ikon pariwisata Indonesia. Yang hebat-hebat identik dengan Baratnya Indonesia. Ketika yang hebat itu datang dari Timur, murni lahir dan besar di Timur, ada kebanggaan dalam diri saya. Mungkin kalian orang dari Timurnya Indonesia juga sama bangganya. Perjuangan orang-orang dari Timur kini tidak sesulit dulu. Dulu, ada banyak pulau yang harus dilewati untuk bisa dikenal khalayak. Tapi sekarang, untung ada internet, kita tidak butuh beli tiket pesawat mahal-mahal untuk memperkenalkan karya kita pada khalayak melalui Jakarta. Musisi bisa langsung mengunggah karyanya di Youtube, Penyair pun demikian, bahkan konten-konten tentang indahnya Indonesia bagian Timur ini sudah bertebaran di Youtube dan dibikin sendiri oleh orang dari Timurnya Indonesia. Iya, internet memangkas birokrasi. Haha.

Baca Juga: Geser Dikit Halaman Hatimu dari Bara Patty Radja

Semoga pos hari ini cukup membahagiakan kalian. Sama seperti saya yang menulisnya dengan buncahan bahagia. Dan, mari angkat topi untuk Eko Poceratu, Nyong Maluku yang mendunia lewat puisi.

#SabtuReview



Cheers.

#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini. *** Wikiped...


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Wikipedia menginformasikan: Ranca Upas atau Kampung Cai Ranca Upas adalah salah satu bumi perkemahan di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Terletak di Jalan Raya Ciwidey Patenggang KM. 11, Alam Endah, Ciwidey Kabupaten Bandung, dengan jarak sekitar 50 km dari pusat Kota Bandung. Memiliki luas area sekitar 215 Hektar, berada pada 1700 meter di atas permukaan laut, dengan suhu udara sekitar 17 °C - 20 °C. Sekitar area, oleh hutan lindung dengan beragam flora seperti Pohon Huru, Hamirug, Jamuju, Kihujan, Kitambang, Kurai, Pasang dan Puspa. Sedangkan fauna terdiri dari beragam jenis burung, serta beberapa satwa jinak lainnya.

Dan saya pernah pergi ke Ranca Upas. Dan, melihat foto di atas, saya pernah sebulat itu. Hahaha. Itu foto tahun 2010 saat menjadi salah seorang Petualang dari Ajang (Kompetisi) Aku Cinta Indonesia dari Detik.

#PDL
#Jum'at



Cheers.

5 Kegiatan Yang Saya Lakukan Saat Di Rumah Saja . Hai semua bos-bos que . Pada hari-hari aktif bekerja acapkali saya diserang  insomnia...


5 Kegiatan Yang Saya Lakukan Saat Di Rumah Saja. Hai semua bos-bosque. Pada hari-hari aktif bekerja acapkali saya diserang insomnia, sulit bangun pagi bahkan kesiangan, diganggu sama keinginan untuk liburan atau setidaknya di rumah saja untuk leyeh-leyeh; menonton Upin Ipin dan Larva sambil tiduran di lantai ubin yang dingin. Tapi ketika dirumahkan, tidur lebih lekas, bangun cukup pagi untuk skala universe saya, melakukan banyak kegiatan, dan merindukan hari-hari aktif bekerja. Pertanyaan besarnya adalah apakah saya saja atau kalian juga mengalaminya? Semoga kalian juga mengalaminya agar saya tidak merasa sendiri. Byuuuh. Hehe. Violin Kerong pernah bilang kalau dia dilanda kebosanan tingkat tinggi. Soalnya dirumahkan tidak sama dengan liburan, mau keluar rumah pun kita diwanti-wanti sama orang rumah, manapula traveling. Sama seperti saya mewanti-wanti Thika dan Melly setiap kali mereka keluar rumah.

Baca Juga: 5 Cara Sederhana (Saya) Melindungi Diri Dari Virus Corona

Empat belas hari #DiRumahSaja berakhir minggu ini. Senin depan, jika belum ada Surat Edaran yang baru dari Rektor Uniflor tentang perubahan waktu dan/atau perpanjangan waktu dirumahkan, maka saya sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Kembali mengikuti upacara bendera, kembali mencari berita, kembali mempublikasikan segala aktivitas yang terjadi di lingkungan Uniflor. Oleh karena itu saya ingin berbagi cerita dengan kalian semua tentang lima kegiatan yang saya lakukan selama di rumah saja.

Yuk, intip!

1. Nge-blog


Jelas ini yang utama meskipun masih belum bisa sepenuhnya blogwalking. Kenapa utama? Karena, jangankan di rumah saja, pada hari-hari aktif pun setiap hari saya nge-blog. Enaknya punya blog bertema harian ya begini. Ada saja yang bisa ditulis. Mulai dari teknologi sampai review. Mulai dari kegiatan sehari-hari sampai dunia Do It Yourself (DIY). Mulai dari kamu sampai ke dia. Haha. Nge-blog ibarat sekolah private. Karena, nge-blog bukan asal menulis saja tetapi juga harus bisa mencari informasi dan/atau referensi akan sesuatu yang hendak ditulis. Contohnya, menulis tentang situasi Itali saat virus Corona mulai tersebar di sana, saya tidak bisa asal menulis. Syukurnya sahabat masa SMA yang kini saya panggil Suster, bertugas di Roma, bisa menjadi narasumber tentang denda yang dikenakan kepada warga yang berkeliaran di taman dan jalanan, serta drone yang dimanfaatkan oleh pihak berwenang untuk memantau warganya. Terima kasih, Suster Marta Soge!


Video di atas adalah video wawancara dari channel si Oedin tentang blogger yang bisa keliling Indonesia. Gratis! Memang tidak semua titik di Indonesia, tetapi cukup menjadi pengalaman terfantastikapharmantara bagi saya pribadi. Insha Allah dapat menjadi inspirasi bagi penontonnya. Mengantongi tiket gratis ke Jakarta, Denpasar, hingga Makassar itu luar biasa. Siapa yang mau memberi kita tiket gratis? Haha. Tapi saat ini, dikasih tiket gratis pun saya tidak mau, kecuali tiket gratisnya boleh disimpan sampai badai ini berlalu.

2. Membikin Konten Youtube


Kegiatan yang baru tiga minggu belakangan saya geluti. Kondisi di rumah saja mendukung saya melakukannya! Hehe. Karena saya punya tiga tema konten Youtube yaitu Blogging, Podcastuteh, dan BlogPacker, maka saya harus pandai-pandai memanfaatkan waktu. Jangan sampai ada celah untuk bengong karena pasti merugi.



Video di atas merupakan salah satu konten dari channel Youtube saya dari tema Blogging. Iya, ada tiga tema yang secara kontinyu dapat kalian lihat selain Blogging, dua lainnya adalah Podcastuteh dan BlogPacker. Selain tiga tema tersebut, ada juga sih video lain yang saya unggah yang bersifat situasional *halaaaah*. Hahahaha.

3. Membaca Buku


Banyak buku yang belum sempat saya baca, satu per satu mulai dikeluarkan dari lemari. Mumpung banyak waktu ini.


Salah satu buku tersebut berjudul Bicara Itu Ada Seninya. Saya sering menulis tentang para penulis yang mengajarkan banyak hal baik pada pembacanya tanpa terkesan menggurui. Tetapi sebenarnya kalau penulis itu memang menggurui ya tidak masalah sepanjang mereka punya kapabilitas untuk melakukannya. Di dalam Bicara Itu Ada Seninya, pembaca diajak untuk mengetahui alasan takut berbicara. Salah satunya karena trauma salah ucap. Saya sering mengalami salah ucap. Tapi untuk sampai pada tahap trauma, belum. Karena toh saya pribadi tidak mengalami kendalam saat berbicara di muka publik. Itu saya. Tapi pasti beda dengan orang lain yang bahkan untuk berdiri di muka publik saja bergetar seluruh tubuh. Intinya adalah harus membuang rasa takut tersebut. Itu yang diungkapkan oleh Oh Su Hyang.

4. Proyek DIY


Huray!! Alhamdulillah, selama dirumahkan saya bisa mewujudkan salah satu keinginan yang sudah lama terpendam. Cie. Haha. Pada akhirnya saya, Thika Pharmantara, dan Melly, membikin lilin berbentuk telur. Proses membikin lilin berbentuk telur ini bisa kalian lihat pada video berikut:



Awalnya mungkin terlihat sulit, tetapi setelah memulai ... ternyata mudah. Yang dibutuhkan adalah ketekunan dan keseriusan saja. Tapi jangan lupa, harus bersenang-senang pula.

5. Berkebun


Dulu, saya sukses berkebun. Jangan berpikir tentang kebun dengan lahan super luas ya. Berkebun di sini artinya memanfaatkan space yang ada di rumah untuk diletakkan polybag yang sudah diisi tanah. Karena di rumah saya kesulitan mendapatkan tanah yang baik/berkualitas, saya perlu meminta tanah pada Abang Umar Hamdan si pentolan Anak Cinta Lingkungan (ACIL), serta meminta aneka bibit dari Cahyadi.


Bagian belakang rumah punya cukup space untuk berkebun haha. Selain empat tanaman sorgum yang sudah tumbuh besar dan sebentar lagi dapat dipanen, cieeee dipanen, juga ada tanaman merungge/marungge yang juga sudah bisa dipetik dan diolah atau ditumis sebagai teman nasi. Sedangkan tanaman lainnya baru saja ditanam bibitnya antara lain cabe, tomat, terung, sayur sawi, dan bengkoang. Ada dua bibit yang baru saya coba tanam yaitu kacang dan bunga matahari. Sementara besok lusa saya hendak menanam kentang dan ubi tatas. Semoga.


Asyik juga ... hehe. Di rumah saja tidak selamanya makan, tidur, pengen balik kantor, dan lain sebagainya. Di rumah saja malah memberi kesempatan saya melakukan banyak kegiatan, seperti lima kegiatan di atas.

Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca

Bagaimana dengan kalian, kawan? Apa sajakah kegiatan yang kalian lakukan saat di rumah saja? Komen di bawah. Saya berharap pos ini bermanfaat untuk kalian semua. Setidaknya, setelah membaca ini kalian langsung pergi ke belakang rumah dan mulai menanam tanaman-tanaman yang bermanfaat. Yuk!

#KamisLima



Cheers.

Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah . Setiap menjelang Hari Raya Paskah , ada teman-teman yang menjual lilin Paskah dal...


Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah. Setiap menjelang Hari Raya Paskah, ada teman-teman yang menjual lilin Paskah dalam kemasan gelas mini di mana bagian luar gelas dicetak tulisan Paskah begitu. Sudah lama saya juga pengen bikin lilin semacam itu tapi bentuknya beda. Berbentuk telur! Kita semua tentu tahu bahwa Paskah identik dengan telur. Easter Egg. Keinginan yang lama terpendam itu baru bisa dilaksanakan Selasa kemarin. Maklum #DiRumahSaja harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Banyak yang mengeluh di rumah saja bikin mati gaya. Ah, siapa bilang? Hehe. Bagi saya, di rumah saja berarti bisa melakukan banyak hal, termasuk membenahi belakang rumah bekal berkebun! 

Baca Juga: Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan

Tapi hari ini saya belum bercerita tentang belakang rumah yang proyek DIY-nya sudah sudah dimulai itu. Hari ini saya akan menghadirkan cara membikin lilin berbentuk telur yang sebenarnya sangat mudah. Mari tengok bahan-bahannya:

1. Lilin.
2. Cangkang telur.
3. Crayon jika ingin lilinnya berwarna.
4. Suntikan (bekas tinta printer).

Untuk proses membikinnya, bisa kalian tengok pada video di bawah ini:


Selalu ada cerita menarik dari pengalaman pertama. Sama juga, kemarin itu untuk percobaan pertama, saya rasa cukup sukses menghasilkan lilin-lilin berbentuk telur. Kemarin itu bikinnya memang belum pakai crayon (untuk warna). Kami malah mencoba memakai pewarna makanan! Haha. Mana bisa. Yang ada di pewarna lari ke tempat lain si lilin lari ke tempat lain. Mereka tidak bisa kawin *ngakak*.

Bagaimana ... jika kalian masih #DiRumahSaja, yuk dicoba.

#RabuDIY



Cheers.

Puasnya Melihat Hasil Foto dan Video Kamera Realme 5i . Sebenarnya saya membutuhkan kamera baru yang legit untuk keperluan pekerjaan. T...


Puasnya Melihat Hasil Foto dan Video Kamera Realme 5i. Sebenarnya saya membutuhkan kamera baru yang legit untuk keperluan pekerjaan. Tetapi, setelah dipikir-pikir, banyak telepon genggam dilengkapi dengan kamera yang mumpuni. Pekerjaan saya itu mobile, liputan ke sana sini, dan sejak lama saya memang lebih suka memakai kamera Xiaomi Redmi 5 Plus ketimbang Canon Eos600D untuk urusan pekerjaan ini. Oleh karena itu saya memutuskan untuk memiliki sebuah telepon genggam yang sudah lama bikin mupeng. Meskipun kata orang-orang hasil fotonya tidak realistis karena tone warna sepertinya ditingkatkan, tapi saya suka karena bukankah saya sendiri juga acap meningkatkan tone warna foto? Selain itu, konon telepon genggam yang satu ini punya mode wide, dan juga asyik banget kalau dipakai foto malam hari.

Baca Juga: Penelitian Ini Dilakukan Oleh Dosen dan Mahasiswa Uniflor

Eng ing eng ...

Namanya Realme 5i. Versi ekonomis dari Realme 5. Hehe.

Seperti apa sih Realme 5i ini? Sudah banyak artikel yang mengulas tentang Realme 5i. Saya bahkan sudah menonton ulasannya oleh David pada channel Gadgetin. Rencananya sih kemarin pengen bikin video unboxing tapi saya tidak berbakat. Hahahaha. Meskipun tidak bikin videonya, tapi mari kita unboxing Realme 5i.

Unboxing Realme 5i


Kotak Realme 5i berwarna kuning! Sebagai Presiden Negara Kuning, saya bangga. Haha. Di bagian depan seperti biasa ada tulisan 5i dan Realme. Di bagian belakang kotak ada keterangan: Massive Battery 5.000mAh, Ultra-Wide Quad Camera, Snapdragon 665 AIE, sama 6,5" (16,5cm) Mini-drop Display.


Waktu unboxing di dalam kotak tersebut terdapat: 1 telepon genggam Realme 5i, adaptor dan kabel (charger), kotak berisi kunci slot dan petunjuk pemakaian. Slot kartu bisa mengisi dua kartu nano dan satu kartu memori. Bagian belakang telepon genggam ini terdapat satu finger print, satu flash, dan empat kamera. Satu kamera lagi di bagian depan. Empat kamera di belakang itu terdiri dari: 12 MP kamera utama, 8 MP Wide, 2 MP Portrait, dan 2 MP makro. Sementara itu untuk fasilitas aplikasi kamera ini ada macam-macam: Video, Foto, Potret, terus ada pilihan foto Bentang Malam, Pano, Mode Pakar, Selang Waktu, Slo-Mo, dan Ultra Macro. Mode Wide sampai Penguat Kroma ada pada bagian atas layarnya.

Hasil Foto


Dan berikut hasil fotonya. Ini hasil foto kamera utama:


Yang ini hasil foto portrait (bokehnya itu):


Wide? Iya, ini hasil kamera wide-nya:


Dan yang berikut-berikut ini saya lupa mode apa hahaha.




Sementara saya belum mencoba foto di malam hari, di luar rumah, nanti deh bakal saya coba hehehe. Anyhoo, foto-foto di atas difoto tanpa harus mengatur ini itu dulu, jadi saya belum tahu seberapa bagusnya lagi hasil foto dan video dari Realme 5i.


Saya tidak membahas terlalu panjang tentang Realme 5i ini. Intinya telepon genggam ini asyik banget diajak foto dan merekam video. Hasilnya jauh lebih oke dari telepon genggam sebelumnya yaitu Xiaomi Redmi 5 Plus. Bagaimana jika dibandingkan dengan Redmi Note 8? Aaaaa, kata David, beda paling mendasar adalah pada kamera utama karena hasil kamera utama Redmi Note 8 punya resolusi 48 MP untuk kamera utama. Tapi hasilnya juga tidak berbeda jauh. Beda paling utama adalah warna hahaha. Seperti yang saya bilang, tone warna dari Realme 5i rada lebih tinggi dari tone sebenarnya.

Baca Juga: Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian

Menurut saya, untuk ukuran kantong missqueen seperti saya, ditambah kebutuhan untuk pekerjaan dan hobi, saya pikir Realme 5i sudah bagus sekali. Bagaimana menurut kalian? Komen di bawah. Hehe.

#SelasaTekno



Cheers.