Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Tuesday, June 08, 2021

Mengetahui Peristiwa Masa Lampau Melalui Patung Kuda

 

Patung Kuda di Simpang 4 (Kelimutu Atas dan Bawah-Patimura-Diponegoro).

*Draf tulisan ini sudah lama ngetem, baru sekarang saya tuntaskan.


Mengetahui Peristiwa Masa Lampau Melalui Patung Kuda. Hewan merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang acap digunakan untuk melambangkan atau mewakili citra suatu klan, suatu daerah, bahkan suatu negara. Kota Surabaya dilambangkan dengan Patung Sura dan Baya. Sura (ikan hiu) dan baya (buaya) merupakan dua hewan yang menginspirasi nama Ibu Kota Provinsi Jawa Timur itu. Provinsi Lampung terkenal akan gajah Sumatera yang dilindungi di Taman Nasional Way Kambas. Kabupaten Manggarai Barat di Provinsi Nusa Tenggara Timur juga punya satu hewan khas yaitu komodo. Dari negara seperti China kita mengenal naga sebagai lambang atau semangat keberanian: gagah dan berani. Dan di dunia ini, negara yang menggunakan naga pada bendera mereka adalah Bhutan dan Negara Bagian Wales, Inggris.


Baca Juga: Kehadiran Alfamart Merupakan Pecut Bagi Pedagang di Kota Ende


Bagaimana dengan kuda? Kuda ada hampir di setiap negara karena hewan ini utamanya merupakan kebutuhan transportasi. Seperti kata Wikipedia: Kuda adalah salah satu dari sepuluh spesies modern mamalia dari genus Equus. Hewan ini telah lama merupakan salah satu hewan peliharaan yang penting secara ekonomis dan historis, dan telah memegang peranan penting dalam pengangkutan orang dan barang selama ribuan tahun. Bayangkan saja perdagangan antar negara sedaratan/se-benua pada masa lampau, kalau tidak ada kuda, susah juga. Paling sering kita melihat di dalam filem-filem kesayangan, kuda digunakan sebagai tunggangan pasukan perang-elit, yang diikuti oleh pasukan pejalan kaki. Dalam The Lord of the Ring, Gandalf memilih kuda Shadowfax. Dalam Mulan, Mulan memiliki kuda bernama Khan (nama yang cukup kontroversial, sebenarnya). Kembali ke dunia nyata, sampai sekarang Kerajaan Inggris masih mengandalkan kuda (kereta kuda) untuk acara-acara tertentu. 


Bersama salah seorang peserta Pasola. 2015.


Pulau Sumba di Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan pulau yang terkenal akan kuda Sandelwood. Dalam perjalanan saya di Pulau Sumba, pernah melihat orang naik kuda di jalan raya di Kota Waikabubak di Provinsi Sumba Barat, bersanding dengan kendaraan bermotor. Saya juga menyaksikan sendiri acara budaya/adat: Pasola. Dan tentu, saya harus berfoto di Patung Kuda di Kota Waingapu yang merupakan Ibu Kota Provinsi Sumba Timur.


Patung Kuda di Kota Waingapu. 2015.


Tapi seperti yang sudah tulis di atas, kuda ada hampir di setiap negara, kuda ada hampir di setiap wilayah di Indonesia. Peristiwa masa lampau yang berhubungan erat dengan kuda ini, kemudian diabadikan melalui patung-patung kuda. Kota Waingapu punya Patung Kuda, Kota Jakarta punya Patung Kuda Arjuna Wiwaha, Kota Purwokerto punya Monumen Jenderal Gatot Subroto (yang sedang menunggang kuda), Kota Manado punya Patung Kuda Paal Dua, Kota Wates di Kulonprogo punya Patung Nyi Ageng Serang (yang sedang menunggang kuda dan memegang tombak), Magelang punya Patung Pangeran Diponegoro (yang sedang menunggang kuda sambil tangannya sedang menunjuk), bahkan Maros punya Patung Kuda Maros atau Patung Tubarania Maros.


Bagaimana dengan Kota Ende?


Awal tahun 2021 saya melihat sebuah patung kuda di simpang 4 (empat) antara Jalan Kelimutu (atas), Jalan Kelimutu (bawah), Jalan Patimura, Jalan Diponegoro. Singkatnya oleh kami simpang ini disebut Simpang Apollo karena sejak dulu ada sebuah toko bernama Apollo di salah satu sudutnya. Dalam hati saya bertanya-tanya: mengapa pemerintah Kabupaten Ende membangun patung kuda ini? Ah, mungkin tujuannya hanya untuk mempercantik kota saja. Dan perdebatan di media sosial pun bergaung keras. Seperti umumnya, ada yang pro, ada yang kontra. Yang pro mengatakan bahwa patung kuda itu bagus dibangun untuk mempercantik kota. Yang kontra mengatakan bahwa patung kuda dibangun di Kota Ende(?), apakah tidak salah? Kalau patung kuda dibangun di Pulau Sumba ... wajar ... karena Pulau Sumba memang terkenal dengan kuda.


Bagaimana dengan saya?

Jujur saya masih berpikir dulu, karena segala sesuatu yang dilakukan oleh pemerintah pasti ada alasannya. 


Saya kemudian teringat pada sebuah momen ketika membikin video untuk lomba tentang HaKI oleh kementrian. Saat itu saya sangat beruntung karena dapat melihat semua koleksi sarung tenun ikat milik Ibu Yulita Londa, S.E., M.Si., Akt. Mulai dari lawo (sarung tenun ikat) Lepa, lawo Pundi, lawo Luka, dan lain sebagainya. Salah satunya bernama lawo Jara (kuda). Iya, sarung tenun ikat itu bermotif kuda yang ditunggangi atau orang naik kuda. Menurut Ibu Yulita, kalau ada orang yang memakai lawo Jara, sudah pasti dia orang Nggela karena lawo Jara memang hanya ditenun oleh orang dari daerah Nggela. Menurut sepemahaman saya, artinya ada kaitan erat antara kuda dengan masyarakat Nggela sehingga sampai dijadikan motif sarung tenun ikat. Tapi hal itu tidak segera menuntaskan dahaga saya akan pertanyaan: mengapa pemerintah Kabupaten Ende membangun patung kuda ini?


Asyik juga melihat perdebatan yang ada di media sosial, karena dari situ kemudian saya memperoleh informasi penting salah satu alasan dibangunnya patung kuda di Simpang Apollo. Informasi ini memang tidak bersumber langsung dari pemerintah, melainkan dari masyarakat itu sendiri. Mari kita cek informasinya.


Komentar pada status Facebook Kak Ucep Rago.


Dari komentar di atas, saya jadi tahu bahwa di Kota Ende pada masa lampau terjadi peristiwa balapan kuda yang dilakukan di Jalan Kelimutu dan pernah di Jalan El Tari.


Noted.


Lalu, saya menemukan penjelasan lain yang mirip seperti yang berikut ini (sayangnya saya tidak sempat menyimpan tautannya, jadi cuma hasil screenshoot):




Karena terbagi dua, jadi saya tulis ulang isi status Facebook tersebut:

IKON "JARA WOLO" DI SIMPANG APOLLO KOTA ENDE

Mengenang kembali olahraga pacuan kuda tradisional "Paru Papa Ndore Jara" Pertama Di Flores Pada Masa Pemerintahan Kolonial Belanda yang diselenggarakan di Ende. Yang juga adalah salah satu "Turnamen Politik Masa Itu Antara Masyarakat Lokal Dan Kolonial Belanda Di Flores". Turnamen pacuan kuda mendatangkan banyak penonton masyarakat lokal, sehingga Belanda mencatat poin sensus penduduk secara gelap. Turnamen ini tidak kalah pentingnya bagi masyarakat lokal sehingga mengenal banyak tentang pemerintahan Belanda dan kekuatan-kekuatan Batalionnya. Turnamen ini diselenggarakan sejak jauh sebelum pertempuran Marilonga dan Baranuri hingga usai masa penjajahan Jepang. Sejarah melukis tentang turnamen pacuan kuda pada masa Penjajahan Jepang ("Bani Ata Nipon") yang salah satunya membawa tradisi judi-judian di Ende dan Flores umumnya. Selain itu Bani Nipon juga banyak menekan kekerasan psikologi. Banyak anak-anak gadis lokal yang diperkosa sehingga masih dalam usia muda gadis-gadis lokal sudah bertatto guna untuk melindungi diri dari perhatian tentara Jepang. Perjudian sangat marak berkembang ke masyarakat seperti dadu dan domino. Dengan berjudi masyarakat lokal dengan mudah dibodohi. Salah satunya adalah perampasan tanah dengan delik kalah judi.

Saya tidak mengenal siapa pemilik akun ini, tapi penjelasannya sangat masuk akal. 


Jadi, patung kuda itu dibangun berdasarkan peristiwa masa lampau. Gara-gara patung kuda itu, saya jadi tahu tentang balapan kuda yang dilaksanakan oleh Kolonial pada masa itu. Ini benar-benar seperti granat meledak di otak saya. Hehe. Kalau tidak ada perdebatan di media sosial, belum tentu saya tahu tentang balapan kuda zaman penjajahan dulu. Tapi yang perlu dicatat: semua informasi ini saya peroleh dari media sosial, bukan dari pemerintah, jadi tunggu saja informasi selanjutnya. Insha Allah ada informasi lebih jelas/langsung dari pemerintah tentang si patung kuda.


Baca Juga: Ternyata Bisa Juga Saya Membikin Video Tutorial Blogging


Sedangkan Patung Marilonga dan Patung Baranuri merupakan patung pahlawan lokal yang menjadi ikon pintu masuk Kota Ende dari arah Timur dan arah Barat



Dengan demikian, tuntas sudah tulisan saya tentang Patung Kuda yang satu ini. Kalau siang hari dia nampak berwarna putih (besi/rangkanya) sedangkan malam hari akan terlihat cahaya warna-warni dari rangka/tubuhnya. Menarik. Menambah warna di Kota Ende. Sayangnya, karena simpang empat lokasi si Patung Kuda merupakan jalur ramai, saya belum sempat berpose di depannya! Hhahaha.


Semoga bermanfaat.


Cheers.

Sunday, June 06, 2021

Bangkit Dari Cengkeraman Covid-19

 


*Membuka tulisan sambil mendengarkan Tequila, cover by Music Travel Love (Dan & Shay).


Malam Minggu. Berbeda dari malam Minggu lainnya, saya keluar kandang. Perkara keluar kandang ini tidak terlepas dari seorang perempuan cantik bernama Indri. Teman binti teman. Saya mengajaknya nongkrong di street food center (saya menyebutnya begitu) di Jalan Soekarno, Kota Ende, setelah Sabtu pagi mengajaknya ke Desa Randotonda untuk meliput kegiatan pengolahan kripik singkong oleh Tim Program Pengembangan Desa Mitra Universitas Flores (Uniflor). Karena malam Minggu, street food center penuh pengunjung. Tempat favorit di depan jagung bakar Om Manto dan gerobak es rainbow tidak menyisakan ruang barang satu senti pun pada kami. Tidak mau kalah cepat dari pengunjung lain, kami nongkrong cantik di depan gerobak Siomay Suko Wati yang menempati area tengah street food center.


Siomay, jagung bakar, es rainbow. Sudah cukup menambal perut meskipun tampilan kebab dari gerobak tetangga cukup menggoda iman.


Baca Juga: Saya Kembali Karena Neraka Semakin Sesak


"Saya baru tiga bulan, Mbak, di sini," ujar Narni. Perempuan cantik asal Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Narni dan suaminya, Suhardi, adalah perantau asal Pulau Jawa yang sebelumnya selama 24 (dua puluh empat) tahun menetap di Pulau Bali. Wajah ceria pasangan suami isteri ini berbanding terbalik dengan kisah hidup mereka saat (bahkan sebelum) Covid-19 mulai merayapi Indonesia. "Bali sepiiiii, Mbak!" seru Narni sambil membersihkan piring.


Satu setengah tahun sebelum tahun 2020, Suhardi mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kelumpuhan pada sekujur tubuhnya. Guncangan sedikit saja memicu rasa sakit yang luar biasa. Praktis, kelumpuhan Suhardi menjadi titik di mana Narni harus berjuang sendiri mengais rejeki untuk menopang perekonomian keluarga. Berbagai macam pengobatan telah dicoba, namum masih jauh kesembuhan yang diharapkan oleh mereka. Suhardi masih saja sulit menggerakkan anggota tubuhnya. Jika berjalan tangan Suhardi bergerak seperti robot dengan kaki diseret-paksa. Tapi, Allah SWT memang selalu memberi jalan bagi umatNya yang selalu berikhtiar dan berdoa. Alhamdulillah, berkat pengobatan tradisional, Suhardi sembuh total dari kelumpuhan. Satu sayap keluarga mereka yang cidera telah kembali sehat.


Pandemi Covid-19 yang awal 2020 merayapi Indonesia, mulai bertingkah, mencengkeram setiap jengkal yang dirayapinya dan enggan melepaskan cengkeramannya itu. Baru tiga bulan Suhardi sembuh dan beraktivitas seperti semula, keluarga mereka berhadapan dengan virus mematikan ini.


"Kalau suami saya sakit, saya masih bisa bekerja, mencari uang. Tapi kalau Covid-19 ... saya menyerah, Mbak. Ndak bisa berbuat apa-apa."


Baca Juga: Sejuta Pesona Desa Detusoko Barat


Perekonomian Suhardi dan Narni menjadi lebih kacau. Waktu berdagang dibatasi. Kalaupun berdagang, tidak seramai biasanya. Pariwisata di Pulau Bali yang lumpuh, turut melumpuhkan lini lainnya. Bantuan dari pemerintah tidak kunjung datang. Gigit jari? Iya! Suhari dan Narni gigit jari. Putar otak, mereka harus hijrah. Tidak bisa tidak. Jika peluang di Pulau Bali sudah sesempit itu bagi perekonomian keluarga, mereka harus berani melangkah ke 'hutan belukar'. Pasangan suami isteri ini kemudian datang ke Pulau Flores, tepatnya di Kota Ende. Tentu, ada sanak keluarga yang sudah lebih dulu merantau ke Kota Pancasila ini.


"Saya dulunya ndak jualan siomay, Mbak. Ini baru aja jualan siomay pas pindah ke sini," tutur Narni sambil menata siomay ke dalam piring. Indri terkejut. Saya ... lebih lagi. Ini namanya act by accident. Ha ha ha. "Soalnya jualan parfum isi ulang kurang laku."




Gerobak siomay Suko Wati menempati area tengah street food center Ende. Di sini lah Suhardi dan Narni kembali menggantungkan mimpi-mimpi mereka melalui Rp 15.000/porsi siomay. Mereka bukan satu-satunya 'pelarian' dari Pulau Bali. "Itu yang sana, Mbak, yang jualan burger ... itu juga dari Bali," kata Narni. Dan sepertinya saya pernah mencicip burger yang ditunjuk Narni itu. Semakin larut, obrolan semakin seru. Tapi kami harus pamit karena harus diakui kami lelah. Dan saya masih punya hutang berita kegiatan di Desa Randotonda.

Apa yang saya pelajari hari ini dari Suhardi dan Narni?

Selalu ada jalan bagi orang-orang yang berusaha. Keluarlah. Keluar dari kandang agar lebih banyak pengalaman dan cerita dalam hidup ini. Hijrahlah. Hijrah ke hutan belantara agar kalian tahu seperti apa kehidupan di dalam hutan belantara itu.

Terima kasih Indri, teman baru yang asyik, karena seumuran! Ha ha ha. Gara-gara Indri, malam Minggu saya jadi lebih bermakna. Belajar dari Suhardi dan Narni, jangan pernah berhenti berdoa dan berikhtiar! Allah SWT tidak tidur. Allah SWT punya rencana indah untuk setiap umatNya. Dan, Bangkit dari Cengkeraman Covid-19 merupakan judul yang tepat untuk tulisan ini. Sepertinya saya harus menutup tulisan ini dengan lagu milik Des'ree. Life!

Lifeeee ... doo doo doo doo

I'm a superstitious girl,
I'm the worst in the world
Never walk under ladders,
I keep a rabbit's tail
I'll take you up on a dare,
Anytime, anywhere
Name the place, I'll be there,
Bungee jumping, I don't care!


Cheers!

Saturday, June 05, 2021

Uang Dingin Untuk Mata Uang Kripto

 


Apa itu mata uang kripto? Saya tidak perlu menulisnya panjang lebar karena kalian bisa membaca ragam artikel yang membahas tentangnya. Wikipedia membahas secara rinci mulai dari sejarah, defenisi formal, ekonomi, hingga legalitasnya. Masih kurang? CNN juga membahas mata uang kripto dalam artikel Sejarah Mata Uang Kripto dan Perkembangannya. Pada dua artikel di atas kalian akan menemukan nama David Chaum, seorang Matematikawan asal Amerika. Dialah penemu algoritma khusus yang dikembangkan hingga pada era 1990-an lahirlah mata uang digital bernama DigiCash. Sedangkan Bitcoin merupakan mata uang kripto yang pertama terdesentralisasi, diciptakan pada tahun 2009 oleh Satoshi Nakamoto, menggunakan SHA-256, fungsi hash kriptografi, sebagai skema pembuktian kerjanya.


Baca Juga: Falling In Love with "Pak Hadi"


Sudah lama saya membaca artikel tentang Bitcoin, bahkan ketika nilai tukarnya belum menyentuh angka Rp 100.000.000 (Seratus Juta Rupiah). Pada masa lampau, sama sekali tidak ada ketertarikan untuk menggali lebih banyak informasi tentang Bitcoin. Frekuensi saya belum sampai pada ranah mata uang kripto yang ngehits itu. Tahun 2019 barulah saya ngeh dengan mata uang kripto setelah diajak Mas Chandra bermain Libra Dragon. Libra Dragon adalah permainan naga-naga pengumpul mata uang kripto bernama Libra yang diusung oleh Facebook. Pada saat itu juga saya mendaftarkan diri ke Indodax. Berhenti sampai di situ, segalanya tidak saya teruskan. Bahkan, saya belum memverifikasi akun Indodax yang wajib dilakukan jika ingin menggunakan pasar mata uang kripto terbesar di Indonesia itu. Fyi: tahun 2020 Libra diganti nama menjadi Diem.


Awal tahun 2021, tepatnya Bulan Februari, saya diperkenalkan dengan lebih banyak mata uang kripto. Mungkin ini merupakan efek berlanjut dari tahun 2020 di mana orang-orang yang 'dirumahkan' akibat Covid-19 mulai mencari alternatif lain mengisi waktu sekaligus mengais cuan sedikit demi sedikit. Selain dipertemukan dengan banyak informasi tentang pertambangan cloud mata uang kripto, saya juga bermain-main dengan beberapa situs pengumpul koin di mana koin tersebut dapat ditukarkan atau ditarik ke Indodax seturut mata uang kripto favorit. Oleh karena itu, akun Indodax segera saya verifikasi. He he he. Jujur, menambang (cloud) dan mengumpulkan koin ini adalah cara paling sederhana dengan hasil yang sangat sedikit. Kalau rajin, hasilnya bisa cepat dan banyak. Tapi karena saya hanya iseng mengisi waktu, ya hasilnya memang belum apa-apa.


Tentang Indodax, awalnya saya berpikir pasar mata uang kripto terbesar di Indonesia ini hanya boleh digunakan oleh para cukong, yaitu mereka-mereka berduit melimpah. Ternyata tidak. Di Indodax, deposito Rp 50.000 (Lima Puluh Ribu Rupiah) pun boleh (menggunakan akun virtual). Dipotong biaya admin Rp 3.000 (Tiga Ribu Rupiah). Bermodalkan Rp 47.000 (Empat Puluh Tujuh Rupiah) kalian sudah bisa trading (membeli dulu ya, baru menjual, tergantung peluang hehehe). Jangan ragu, sampai saat saya menulis ini, masih banyak mata uang kripto bernilai kecil, jika kalian ingin coba-coba bermain di pasar mata uang kripto ini, sambil mempelajari segala sesuatunya termasuk grafik dan sinyal-sinyal yang bertebaran di internet. Huhuy! Intinya, ketika nilainya turun silahkan dibeli, nilainya naik silahkan dijual. Ini merupakan hukum umum jual-beli.


Lalu, apakah saya pernah mendapatkan untung dari trading mata uang kripto? Kasih tahu atau tidak yaaaa ... ha ha ha. Sedikit cuan itu pasti ada, terutama saat Doge melesat hingga hampir menyentuh Rp 11.000 (Sebelas Ribu Rupiah) per koin, sementara saya membeli masih dengan harga Rp 800 (Delapan Ratus Rupiah). Ini hanya intermezo, jangan baper. 


Tapi, bukankah akhir-akhir ini banyak mata uang kripto yang nilainya turun drastis fantastis? Sebut saja Bitcoin yang pernah mencapai Rp 800.000.000 (Delapan Ratus Juta Rupiah)-an bahkan lebih, sekarang merosot ke angka Rp 500.000.000 (Lima Ratus Juta Rupiah)-an. Oleh karena itu, saya menulis ini. Bagi kalian yang masih pemula seperti saya, jangan gelap mata. Gunakan uang dingin untuk bermain mata uang kripto. Apa sih uang dingin itu? Itu istilah saya untuk uang yang tidak ada kebutuhan apa-apa. Artinya jangan menggunakan uang belanja, uang sekolah anak, atau uang transportasi bulanan, untuk didepositokan ke Indodax. Selain uang dingin, jangan pernah berharap untuk meraup cuan sebanyak-banyaknya karena jika mata uang negara saja mengalami fluktuasi maka demikian pula dengan mata uang kripto. Harus bisa bersabar melihat pergeraan. Dan harus bisa rela jika terjadi hal paling parah yaitu mata uang kripto yang kalian beli ternyata terus merosot ... sampai dasar jurang.


Bagi yang mentalnya kurang sehat, jangan bermain mata uang kripto. Hehe.


Baca Juga: Sejuta Pesona Desa Detusoko Barat


Saya menulis ini bukan untuk menggurui siapa pun. Di luar sana banyak orang-orang yang sudah lebih dulu terjun dalam ranah mata uang kripto, bahkan ada yang sudah meraup banyak cuan. Saya menulis ini hanya ingin berbagi informasi saja bahwa siapapun bisa membeli/punya mata uang kripto, meskipun sedikit. Dari sedikit itulah, kalian bisa belajar pergerakan mata uang kripto ini untuk bisa menentukan mau membeli yang mana, mau menjual yang mana. Dus, jangan lupa bergabung dengan grup-grup yang membahas tentang mata uang kripto. Yang terpercaya ya, jangan yang abal-abal.


Setidaknya dalam hidup ini ada hal baru yang kita pelajari.


Semoga tulisan ini bermanfaat!


Cheers.

Thursday, June 03, 2021

Sejuta Pesona Desa Detusoko Barat

 

Salah satu sudut Lepa Lio Cafe.

*Memulai tulisan ini sambil mendengarkan Lukas Graham, Love Someone.


Rabu, 2 Juni 2021 saya berkesempatan meliput kegiatan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Flores (Uniflor) di Desa Detusoko Barat. Desa ini berada di bawah wilayah administratif Kecamatan Detusoko yang berjarak 33 (tiga puluh tiga) kilometer dari Kota Ende. Terlepas dari kegiatan kampus di Desa Detusoko Barat, dan tulisan lain yang pernah saya publis di blog travel, dinamika desa tersebut layak untuk ditulis (kembali). Apakah kalian setuju dengan saya? Kalau setuju ... cekidot! 


Baca Juga: 5 Manfaat Kopi Selain Dijadikan Minuman Favorit


Di tangan Kepala Desa Detusoko Barat Ferdinandus Watu, S.Fil. atau karib disapa Nando, Desa Detusoko Barat semakin meruncingkan taringnya. Jika dulu saya mengenal Nando sebagai aktivis muda dengan segudang kegiatan bersama Remaja Mandiri Community (RMC) Detusoko dan Decotourism-nya, sekarang saya mengenalnya sebagai seorang kepala desa yang ramah dan visioner. Pendiri Lepa Lio Cafe ini sudah terlebih dahulu merintis perubahan di daerahnya. Nando, anak petani yang pernah mengenyam pendidikan di Amerika berkat beasiswa Fullbright, adalah pemimpin yang sudah lebih dulu memberikan bukti tanpa harus merecoki janji kepada masyarakat. Inilah pemimpin yang kita harapkan bersama bukan? Kalau pemimpin yang kebanyakan janji sampai lupa menepatinya sih ... bejibun. Oh ya, saya mengenal Nando sudah sangat lama, saat ia masih menjadi wartawan untuk media online Flores Bangkit


Nando, pribadi yang ramah dan cerdas.

Lantas, apa saja yang sudah dilakukan Nando untuk Desa Detusoko Barat? Mari dibahas satu per satu. Kita mulai dari ...


BUMDES AU WULA


Saya tidak tahu kapan tepatnya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Ae Wula didirikan. Yang jelas pada tahun 2020 nama BUMDes ini melejit lewat lapak online-nya. Silahkan akses Dapur Kita. Saya pernah berbelanja di situ, diantarkan langsung ke rumah paket yang sudah dipilih, pembayaran di tempat. COD. Haha. Kalau ingat kasus COD akhir-akhir ini jadi tertawa sendiri.


Noted.

Silahkan berbelanja ...

BUMDes Ae Wula menempati bangunan lama Lepa Lio Cafe, tepat di depan Kantor Desa Detusoko Barat. Iya, kafenya pindah lebih ke arat Timur. Masih sama, di kiri jalan.


BUMDes yang semakin maju ini sejalan dengan visi Desa Detusoko Barat yaitu mewujudkan masyarakat Desa Detusoko Barat yang berkarakter lokal, berdaya saing, mandiri berbasis pertanian terpadu dan eco-wisata dengan mengedepankan teknologi dan informasi menuju masyarakat adil dan sejahtera. Visi tersebut dijalankan dengan misi membangun infrastruktur ekonomi masyarakat dan menciptakan aneka produk dan jasa unggulan dari desa dengan berpijak pada pertanian dan pariwisata melalui BUMDES sebagai penggerak ekonomi warga. Tidak heran BUMDes Ae Wula mendapat penghargaan dari Presiden.


Salah satu produk yang dijual di BUMDes Ae Wula selain hasil bumi adalah gelang biji kopi. Gelang beraroma kopi yang abadi ini pernah diberikan Thika Pharmantara selepas syuting Laptop Si Unyil di Desa Detusoko Barat. Menjelang Idul Fitri kemarin saat beberes rumah gelangnya hilang. Akhirnya saya beli lagi haha.


Gelang biji kopi. Keren!

Gelang ini kembali menjadi 'jimat' di tangan kanan saya. 


Jadi jelas, memberdayakan masyarakat melalui BUMDes itu sangat baik. Masyarakat tidak perlu menjual sendiri ke pasar, tetapi cukup dipasarkan melalui BUMDes. 


LEPA LIO CAFE


Saya pernah menulis tentang kafe yang satu ini. Tapi, saat itu Lepa Lio Cafe masih menempati bangunan lama yang kini menjadi markas BUMDes Ae Wula. Digeser lebih ke Timur, Lepa Lio Cafe terletak di pinggir jalan sekaligus di pinggir sawah (lebih tinggi dari area persawahannya). Semi panggung? Boleh dikatakan demikian. Kafe ini memang belum sebesar kafe dalam benak kalian, tetapi konsep dan pemandangan yang ditawarkan sungguh memikat terutama saat sedang menghijau! 



Suatu saat jika sawah ini kembali menghijau, saya wajib kembali datang. Semoga. Hahaha. Biasanya hanya selesai di janji, soalnya pekerjaan juga kadang tidak bisa diajak kompromi. Lepa Lio Cafe, dari foto-foto yang beredar di media sosial, hampir selalu penuh/ramai. Kemarin saat ke tempat ini pun demikian. Karena kami sudah disuguhkan makan siang oleh Kepala Desa Detusoko Barat dan jajarannya, akhirnya saya hanya memesan jus pepaya. Bisa kalian bayangkan kalau duduk santai di sini, sambil membaca buku, menikmati kopi ... amboi. Surga.


DUKUNGAN LEMBAGA ADAT


Kalau visi dan misi Nando didukung oleh masyarakat, khususnya kaula muda, itu sudah biasa. Kita tahu kalau Nando berangkat dari kelompok muda. Pada kegiatan kemarin, dengan mata kepala sendiri saya melihat dukungan ketua adat/mosalaki yang menjadi pemimpin lembaga adat memberikan dukungan kepada kepala desa mereka. Ini luar biasa. Kadang saya melihat kaum muda yang lebih mengutamakan modernisasi dengan meninggalkan kearifan lokal yang sejatinya merupakan kekayaan yang hakiki. Hyess, jempol banyak-banyak!


MEMBUKA DIRI


Membuka diri itu penting. Dari sambutan Nando kemarin, saya tahu pasti bahwa Desa Detusoko Barat senantiasa membuka diri untuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Salah satunya Uniflor. Ada simbiosis mutualisme di sini. Di satu pihak Uniflor harus mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah duanya penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Di pihak lain, desa membutuhkan akademisi untuk melakukan penelitian terkait potensi desa yang bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi. Bukti nyata hubungan seperti ini sudah saya saksikan di banyak lokasi, salah satunya di Desa Randotonda, Kecamatan Ende. Ubi Nuabosi yang dipanen menjadi lebih berisi, lebih banyak, dan meningkatkan pendapatan masyarakat hampir 100%! Win-win solution for everybody.



Sejuta pesona Desa Detusoko Barat rasanya tidak berlebihan. Pesona desa ini tidak saja bersumber dari keindahan alamnya tetapi juga dari budaya dan masyarakatnya. Berbagai inovasi terus dilakukan oleh kepala desanya demi mencerdaskan, memajukan, dan mensejahterahkan masyarkat. Nando tidak saja memimpin kaum muda seperti waktu dulu, tetapi juga memimpin masyarakat yang di dalamnya juga terhimpun orang tua hingga bocah. 


Salut maksimal.


Mari, jalan-jalan ke Desa Detusoko Barat, di mana senyum ramah masyarakatnya akan membuatmu merasa seakan sedang berada di rumah.


Cheers.

Tuesday, June 01, 2021

Saya Kembali Karena Neraka Semakin Sesak

 


Judul yang sangat 'tidak banget' tapi asyik juga ha ha ha. Hello! Apa kabar kalian semua? Semoga bebaek sa. Masih belum mood menulis di blog. Tepatnya karena ada saja pekerjaan yang harus diselesaikan. Tapi, gara-gara Sabtu kemarin mentutor perwakilan mahasiswa program studi di Universitas Flores (Uniflor) belajar blog, ada kerinduan yang menendang-nendang. Begitu log in di Blogger, langsung kepikiran mengganti tema/template. Bagaimana kelihatannya? Sangat ramai bukan? Sesekali lah. Nanti kalau mata sudah sakit, saya ganti lagi ke tema yang lebih clean.


Sejauh ini banyak yang terjadi dalam hidup saya. Kita mulai dengan kebencian pada Covid-19 yang mengakibatkan permusuhan. Tetapi saya sadar, kita tidak bisa memusuhi Covid-19 melainkan harus berdamai dengannya. Bagaimana caranya? Klise, sudah kalian ketahui sejak tahun 2020. Patuhi protokol kesehatan! Jaga jarak aman, memakai masker, rajin mencuci tangan, dan seterusnya. Ini memang remeh, sekali lagi ... remeh, tetapi maha penting. Jangan lupa berdoa pada Tuhan, semoga Covid-19 lekas pergi. Doa yang sama sejak 2020, tapi jangan bosan, ya!


Kemudian, adanya pembatasan ini itu menyebabkan saya tidak mungkin bepergian terlalu jauh sehingga blog sebelah menjadi lebih sepi. Giliran ada liburan panjang, perbatasan antar kabupaten dijaga dengan maha ketat. Tetapi itu cukup menguntungkan karena saya bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang tertunda, membikin vlog Mari Makan! dan bermain gitar sepuasnya.



Antara Januari sampai Mei 2021, saya diminta untuk menjadi pemateri Literasi Digital oleh Ende Creative Millenial yang digawangi dua mahasiswi Fakultas Teknologi Informasi (FTI): Dorte dan Ria. Karena masih dalam masa pandemi, maka kegiatan itu dilakukan secara daring melalui aplikasi Zoom. Terus, saya juga diminta oleh BEM FTI untuk menjadi juri Lomba Vlog. Bolehlah hihihi. Sama juga, karena masih pandemi ngejuri a la daring juga. Cukup menonton video yang diunggah ke Youtube, dan memberikan penliaian. Sedangkan pelatihan pengelolaan blog prodi dilakukan secara luring, tetapi tetap memerhatikan protokol kesehatan.


Masih banyak orang yang terus belajar blog. Sampai dengan saat ini.


Menjadi Koordinator Tim Kreatif Uniflor 2021 berimbas pada kemampuan mendesain flyer yang cukup meningkat meskipun masih memakai template milik Canva. Asyik juga ternyata bisa memodifikasi banyak hal dari template bawaan. Oh ya, salah satu tugas tim kami adalah merekam Cerita Dari Serambi Uniflor outdoor. Foto setelah kegiatan, nampang di awal pos ini.


Nah, Ramadhan kemarin, beberapa hari sebelum Idul Fitri, akhirnya saya mewujudkan impian membikin Pojok Baca/Buku di rumah. Letaknya tepat di depan kamar. 



Tidak semua buku muat di rak mini itu, tapi setidaknya lemari pakaian mulai dapat diisi lebih banyak baju karena buku-buku sudah dipindah ke sini, sebagiannya. Hehehe. Yang membikin saya senang melihat Pojok Baca ini adalah setiap kali ada orang yang datang ke rumah, mereka pasti melihat-lihat dan bahkan duduk membaca selembar dua lembar. Untuk meminjamkan masih saya pikir-pikir dulu karena banyak orang yang masih belum bisa menghargai buku kalau meminjam: ada lipatan halaman, kucel, bahkan hilang. 


Apa lagi yang ingin saya ceritakan? Secara garis besar sih sudah. Urusan perasaan biar saya, Maha Patih Gajah Mada, dan dinosaurus saja yang tahu. Ha ha ha. Yang jelas, saya masih mempertimbangkan apakah tema harian masih akan terus saya pakai ... atau ... tidak. Nantilah setelah selesai semedi. Yang jelas, saya tidak mungkin tidak nge-blog. Untuk konsisten, kadang tidak bisa memegang janji, tapi saya akan berusaha untuk terus memperbarui tulisan/artikel di blog ini.


See ya!


Cheers.

Wednesday, March 17, 2021

Tips Memilih Coklat Batangan yang Tepat

 


Coklat mempunyai rasa manis yang disukai oleh banyak orang. Walaupun tidak semua cokelat mempunyai rasa manis, karena juga ada cokelat rasa pahit yang biasanya digunakan untuk diet dan lebih sehat. Coklat bisa dimanfaatkan untuk banyak hal mulai dari untuk olahan dibuat makanan kering, makanan ringan, kue, dan juga minuman.Salah satu jenis coklat yang dapat dipilih untuk dibuat berbagai olahan tersebut adalah cokelat batangan. Coklat ini mempunyai tekstur padat dan merupakan jenis yang paling mudah ditemukan. Bagi yang ingin membeli coklat batangan, di bawah ini ada beberapa tips yang bisa digunakan sehingga bisa mendapatkan bahan kue terbaik:

 

1. Memilih Tempat Pembelian

Tips pertama yang dapat digunakan ketika akan membeli cokelat batangan adalah dengan memilih tempat yang tepat. Anda bisa membeli cokelat dengan mudah, seperti mendapatkan di pasar, toko kue terdekat, minimarket, supermarket, ataupun bisa dibeli secara online.Berbagai tempat tersebut menawarkan keuntungannya masing-masing.Sehingga pastikan untuk memilih tempat yang menawarkan keuntungan beragam yang bisa didapatkan.

 

2. Pilihan Tempat yang Menawarkan Banyak Merek

Tips mudah selanjutnya yang bisa digunakan adalah dengan memilih tempat yang menawarkan banyak merek. Cokelat batangan mempunyai banyak merek yang bisa dipilih di pasaran. Hal tersebut bisa dipilih mulai dari kualitas merek yang ditawarkan, rasa cokelat batangan, dan juga kandungan lain yang bisa diperhatikan. Hal tersebut juga akan mempengaruhi tekstur dan rasa cokelat batangan yang diperoleh. Salah satu tempat yang menawarkan banyak merek cokelat batangan yang bisa dipilih misalnya ada di tokowahab.com yang menawarkan merek mulai dari Colatta dan Tulip dengan variasi yang lengkap.

 

3. Bandingkan Harganya Terlebih Dahulu

Tips terakhir yang bisa diperhatikan ketika akan membeli cokelat batangan adalah dengan membandingkan harganya terlebih dahulu. Harga cokelat batangan bisa dipengaruhi dari merek coklat yang akan dipilih. Selain itu juga di tempat membelinya dan ukuran yang akan dibeli. Ketika membeli di Tokowahab yang menyediakan berbagai bahan kue lengkap seperti mentega dan bahan lainnya. Anda bisa memilih coklat batangan dengan harga yang kompetitif.[]