BlogPacker

I Write My All

LightBlog

Kastau Kastau Yang Ko Mau Jang Sengaja Putar Jauh . Kabupaten Ende dan pesta merupakan kesatuan utuh. Bahkan sampai ada istilah cungkil...


Kastau Kastau Yang Ko Mau Jang Sengaja Putar Jauh. Kabupaten Ende dan pesta merupakan kesatuan utuh. Bahkan sampai ada istilah cungkil matahari. Haha. Dulu orang bilang saya ini muka pesta. Pesta apa sih yang tidak saya hadiri? Asal ada undangan, hajar! Kenapa saya suka ke pesta? Karena di pesta ada kegembiraan, ada sahabat, ada senda gurau, ada canda tawa. Selain itu, menghadiri pesta merupakan bentuk penghormatan kita kepada yang punya hajat. Bagaimana dengan makanan yang disuguhkan? Itu perkara ke-sekian. Lalu, apa hubungannya kastau kastau yang ko mau jang sengaja putar jauh dengan pesta? Baca dooonk supaya tidak penasaran.

Baca Juga: James Veitch Menghadirkan Stand Up Comedy Super Cerdas

Dari Timur negeri ini lahir begitu banyak musisi. Ada yang memang lahir di Timur seperti Utha Likumahuwa yang lahir di Ambon, Obbie Messakh yang lahir di Pulau Rote, atau Dewiq (mantan isterinya Pay BIP) yang lahir di Makassar. Ada yang lahir di tanah rantau tetapi berdarah Timur seperti seperti Ruth Sahanaya, Harvey Malaiholo, atau Glen Fredly. Nama-nama itu memang nama yang sudah terdengar di kuping sejak lampau. Bagaimana dengan sekarang? Lebih dahsyat. Musisi dari Timur Negeri tidak perlu terlalu memusingkan biaya transportasi dan akomodasi demi mengantar demo lagu ke produser yang rata-rata berada di Jakarta. Selain Reverbnation, Youtube adalah gerbang merdeka setiap insan termasuk di dalamnya para musisi.

Foto bareng Ivan Nestorman! Musisi kece!

Semakin ke sini musisi dari Timur negeri semakin kreatif. Youtube merupakan media paling mudah dan murah bagi mereka untuk memperkenalkan karya kepada khalayak. Tidak saja musisi seperti Luis Thomas Ire dengan lagu-lagu ciptaannya yang menurut saya sangat agung, tetapi juga musisi yang membaca peluang dari pesta-pesta. Di Kabupaten Ende, lagu pesta itu terdiri dari banyak jenis. Ada lagu khas daerah pengiring tarian adat yang terus lestari dalam dunia moderen yaitu Gawi, Rokatenda, Ja'i, hingga lagu buat bergoyang hasil karya musisi dari Flores, Timor, Ambon, Papua, dan lain sebagainya. Sadhaaaaaap!

Kekuatan lagu buat bergoyang ini tidak saja pada musiknya itu sendiri tetapi juga lirik yang ditulis. Lirik yang lucu, konyol, tetapi sangat Timur. Oleh karena itu kalian harus mengenal Zuyd Boyz dan lainnya.

Zuid Boyz, Anak Selatan


Suatu malam, sedang ada pesta di rumah tetangga, saya yang sedang bekerja kemudian menangkap salah satu lagu yang musiknya enak banget didengar. Bikin kaki gatal pengen bergerak. Haha. Perlu kalian ketahui, pesta di Kabupaten Ende itu kalau lagunya banyak yang suka bakal diudarakan berkali-kali. Seperti lagu dari Zuid Boyz yang berjudul Ena Ena. Tidak hanya pada pesta malam itu, tetapi pada pesta-pesta seterusnya. Amboiiii semakin didengar, semakin asyik. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari lagu ini di Youtube tapi harus bertanya dulu pada Thika dan Indra. 

Saya:
Aduh eee ini lagu pung enaaaa lai. Di Youtube ada tidak eee?

Indra:
Cari saja, Ncim. Tulis ena ena, langsung muncul.

Astaga ... ternyata video Ena Ena ini sudah sekitar tiga jutaan kali ditonton! Tentu kemudian saya adalah salah satu penyumbang terbanyak. Gara-gara di rumah internetnya tanpa batas jadi malas men-download. Haha. Sombooooooong *dikeplak dinosaurus*. Pertanyaannya: kenapa saya baru tahu sekarang? Karena saya sudah berhenti menjadi si muka pesta jadi baru tahu dari lagu-lagu yang terdengar dari pestanya tetangga saja.

Ini dia video Ena Ena itu:


Dari Grup Facebook Zuid Boyz, mereka adalah grup hip hop dari Papua Selaan. Zuid dalam bahasa Belanda berarti Selatan. Zuid Boyz berarti Anak (Papua) Selatan. Lagu-lagu mereka bisa kalian dengarkan di akun Reverbnation Zuid Boyz dan akun Soundcloud Zuid Boyz. Silahkan ikuti mereka di IG @zuidboyz_40squad dan Twitter @Zuidboyz. Memang hanya itu informasi yang ada di Grup Facebook mereka. Kalau ada lagi nanti bakal saya tambahkan di pos ini ... kelak.

Baca Juga: Geser Dikit Halaman Hatimu dari Bara Patty Radja

Gara-gara menonton video Zuid Boyz, Indra Pharmantara yang lebih jadul soal pesta dari saya itu bisa-bisanya merekomendasikan sebuah lagu berjudul Jaga Orang Pu Jodoh dari Near. Walhasil saya mengobrak-abrik Youtube dan memburu lagu-lagu pesta yang sering saya dengarkan itu. Haha. Kocaaaaaak.

Lirik yang Kocak dan Sangat Timur


Merdeka rasanya mendengar lagu-lagu musisi dari Timur ini. NTT, Papua, Maluku, Sulawesi, semuanya. Selain musik, liriknya pun menggelitik. Salah satu liriknya itu yang menjadi judul pos ini. Ya, itu lirik lagu Ena Ena dari Zuid Boyz. Yuk bercengkerama dengan lirik lagu-lagu ini (beberapa tidak sampai selesai satu lagu karena panjang hahaha).

1. Ena Ena, Zuid Boyz

Kemarin sa sudah bilang,
Kalo sa ini sudah sayang
Rupanya oh ada yang kurang,
Ado sip ya sayang sa atur jam tayang

Kalo memang sa tra bisa, Kasih tahu caranya
Untuk dapat yang ena, biar ko juga suka
Gayung mandi su pica bakalai tra jeda
Jujur sudah ka biar tong sama-sama ena
Ena ena ena

Oh mulai ada pertikaian,
Dan sekarang sa yang jadi korban
Sa pu maitua kayanya de mulai gila
Mara tra tau waktu e, Sa pusing ado mama e
Yeskon e sa mo lari sudah, Dosa apa sio dewa

Sante pele mace, Kurang enak coba pake kode
Tadah ko sa ingus malele, Susah bujuk ah bage boleh
Bah salah bah, Mau apa sa bingung ah celaka
Jang begitu juga cinta, Pisah ah ko gertak sa

Dear love, Mace sa love
Sakarang sadar diri saja sa tra bolos
Ritual tiap hari harus panggil ko boss
Siap 86 juga trakan lolos
Sip sa cinta sa bingung harus bagaimana
Tra dapa slak untuk ko jangan marah
Sa su bore, ado pele, 
Sa cium juga mungkin mace ko tra yoe

Gas to gas to iyo iyo,
Ena to ena to iyo iyo
Stay cool baru kiss itu boleh,
Ko tau sa nni love ado pele
Dari hari ke hari ko marah sa please,
Ko sante ko manis sip ya pedis
Kastau kastau yang ko mau, Jang sengaja putar jauh

2. Jaga Orang Pu Jodoh, Near

Su lama dekat hampir masuk minta,
Hati su hancur mo kas salah sapa
Ado mama ini palilng sial ow,
Su jaga bae-bae orang pu jodoh

Su jaga bae bae, jaga bae bae,
Nona pu hati sa jaga bae bae
Tapi di akhir baru putus sa menyesal
Su jaga bae-bae orang pu jodoh


Waktu muda sama sama tapi su tua beda
Waktu muda berdua tapi dua ko deng dia
Muda ko nginap tapi cuma sebentar
Akhir te enak orang lain yang datang lamar

Susah sa buka halan su lama sa tahan dan
Sudah sa buka lahan tapi dia yang tanam
Sumpah sa jaga dari gelap sampe terang
Sia sia percuma saya jaga jodoh orang

3. Pantun Rakat (Kapthen Pureq, Kanser PMC, Gusti Senda)

He lele le le le ha
Mari goyang pantun Heleha
He lele le le le ha
Pantun rakat he le le le ka


Biar sa hitam rambut kariting
Mo omong apa juga te penting
Mo bilang, bilang apa lai
Nanti ko pusing tujuh keliling

Kopi hitam rasanya pahit
Tambah gula manis sekali
Kulit hitam su pasti pahit
Sa pu senyum manis sekali

⇜⇝

Kalau kalian tidak ikut bergoyang dan terpingkal-pingkal mendengar lirik lagunya ... coba cari artinya. Haha. Sebenarnya yang dipakai bukan bahasa daerah, melainkan Bahasa Indonesia yang sudah di-Timur-kan. Maksud saya adalah kami terbiasa dengan singkatan yang bikin enak mulut kalau bicara menggunakan Bahasa Indonesia. Misalnya di Kabupaten Ende orang bakal tanya: ko pi mana? Yang artinya kau pergi ke mana. Dijawab: sa pi pasar. Yang artinya saya pergi ke pasar. Ya, kami penyingkat kata. Hehe. Kata 'tidak' bisa menjadi 'tir' atau 'tra' atau 'te'. Asyik kan?

Baca Juga: Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island

Di akhir pos hari ini, #SabtuReview, yang lumayan panjang karena banyak lirik lagunya, kalian juga pasti bingung dengan istilah cungkil matahari dan muka pesta. Sebelum menutup pos hari ini dengan penjelasan.

Cungkil matahari merupakan istilah pesta sampai pagi.
Muka pesta merupakan istilah untuk orang-orang yang paling rajin ke pesta.

Simple ... qiqiqiq.

Selamat berakhir pekan, kawan.
Selamat bergoyang!



Cheers.

Masyarakat Harus Sadar Pentingnya Administrasi Hukum . Ya, sudah saatnya masyarakat harus sadar tentang hal yang kadang tidak tampak da...


Masyarakat Harus Sadar Pentingnya Administrasi Hukum. Ya, sudah saatnya masyarakat harus sadar tentang hal yang kadang tidak tampak dan sepele seperti ini, tapi sebenarnya memegang peranan penting bagi Warga Negara Indonesia (WNI) itu sendiri. Lahir dan besar di Kota Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan kewarganegaraan default tertera pada KTP yaitu WNI, tentu saya tidak perlu repot seperti yang dialami oleh Otavio Dutra, dan Gloria Natapradja Hamel. Saat membaca ini kalian mungkin bertanya-tanya siapakah gerangan Otavio atau Gloria? Mengapa pula nama mereka terseret dalam pos kali ini? Baca sampai selesai! Hehe.

Baca Juga: Antara Pengakuan Sosial dan Yuridis

Semakin ke sini, masalah kewarganegaraan semakin menjadi sorotan. Gloria, gadis blasteran Perancis-Indonesia yang lolos seleksi menjadi salah satu anggota pasukan pengibar bendera saat Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-71 terpaksa gigit jari. Gloria batal bertugas karena statusnya bukan WNI. Otavio yang dikenal sebagai pesepakbola dari Persebaya yang berdarah Brazil harus rela dicoret namanya dari Timnas Indonesia karena proses naturalisasinya belum kelar. Masih kurang? Ada lagi nih, namanya Beny Wenda, orang yang diduga tokoh separatis Papua ini dicabut kewarganegaraannya karena sudah tinggal lebih dari lima tahun di negara lain tanpa melapor. Betapa beruntungnya saya, si pemilik KTP seumur hidup dengan kewarganegaraan WNI! Entahlah kalau nanti saya ikut Brad Pitt ... bakal ganti kewarganegaraan kali ya ha ha ha.

Sebenarnya, untuk mengurus status kewarganegaraan itu cukup mudah, menurut saya pribadi, asalkan kita tahu tata cara, alur, serta persyaratannya.

Direktorat Jendral Administrasi Hukum Umum


Untuk mengurus kewarganegaraan, yang berangkutan harus tahu dulu tentang Direktorat Jendral Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU) karena mengurus kewarganegaraan ya memang di situ tempatnya!


Ingat, mengurus kewarganegaraan bukan di Direktorat Jenderal Imigrasi Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Ditjen Imigrasi Kemenkumham). Ditjen AHU merupakan pemekaran dari Direktorat Jenderal Hukum dan Perundang-Undangan. Selain Ditjen AHU, hasil pemekaran ini adalah Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-Undangan. Untuk lebih jelasnya, lihat gambar di bawah ini:


Ditjen Peraturan Perundang-Undangan fokus tugasnya adalah pada penyusunan peraturan perundang-undangan. Sedangkan Ditjen AHU yang bakal dibahas ini tugasnya adalah pada pelayanan hukum pada masyarakat, mencakup hampir semua bidang hukum secara umum.

Melihat luasnya cakupan pelayanan hukum pada masyarakat yang merupakan tugas dari Ditjen AHU, maka pimpinannya yang berjabatan Direktur Jenderal AHU (Dirjen AHU) yaitu Cahyo Rahadian Muzhar, dibantutugas oleh satu orang Sekretaris Jenderal dan lima orang Direktur. Tugas para direktur tersebut adalah mengurusi pelayanan untuk bidang Pidana, Perdata, Otoritas Pusat Hukum Internasional, Teknologi Informasi, dan tentu saja Tata Negara yang berkaitan erat dengan urusan kewarganegaraan. Semua itu dilakukan demi mencapai visi "masyarakat memperoleh kepastian hukum".

Kepastian hukum ini penting di semua lini kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai orang yang pernah dan masih belajar seluk-beluk dunia hukum, serta melakukan beberapa penelitian, saya tahu persis banyak masyarakat yang belum paham betul tentang hak mereka memperoleh kepastian hukum.


Salah satu contohnya, lihat saja persoalan jaminan fidusia, dimana masyarakat rela sepeda motor kreditannya ditarik oleh kolektor karena terlambat membayar tiga bulan. Padahal, pada barang jaminan fidusia itu terdapat hak dua pihak yaitu kreditur (perusahaan leasing) dan debitur (masyarakat). Penarikan sepeda motor pun harus melalui surat dari pengadilan negeri, kemudian barangnya dilelang secara umum, dan hasil lelang itulah yang bakal dibagi. Dibagi: berapa hak kreditur, berapa hak debitur. Yang terjadi, masyarakat yang sepeda motornya ditarik oleh para kolektor cuma bisa pasrah membiarkan sepeda motornya diangkut, padahal pembayarannya tersisa beberapa bulan saja. Rugiiii bandar! Oh ya, jaminan fidusia ini juga merupakan bagian pelayanan dari Ditjen AHU.

Jadi jelas ya, bagi kalian atau siapapun yang kalian tahu hendak mengurus, salah satunya, tentang kewarganegaraan, paling pertama harus tahu tentang Ditjen AHU. Untuk mengurus kewarganegaraan di Ditjen AHU pun sudah bisa dilakukan secara online, yang sudah mulai berlaku sejak tahun 2017. Sehingga yang bersangkutan alias pemohon kewarganegaraan sudah bisa memulai melakukan pendaftaraan secara online.

AHU Online: Pasti Cepat


Dari situsnya http://ahu.go.id, ada beberapa layanan administrasi hukum yang sudah bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat melalui online. Untuk itu masyarakat bisa mengakses langsung melalui situs tersebut, dan bisa juga menggunakan aplikasi AHU Online


Pasti cepat!

Selain tentang kewarganegaraan dan jaminan fidusia, Ditjen AHU melalui AHU Online juga sudah melayani 47 bidang secara online, sedangkan 43 bidang layanan lainnya masih dilakukan secara manual (total 93 bidang pelayanan). Apa saja sih yang dilayani secara online? Beberapa diantaranya ... cekidot:


1. Aneka Administrasi Penunjang Kemudahan Berusaha


Salah satu kontribusi Ditjen AHU adalah mempercepat pembentukan badan usaha. Melalui layanan AHU Online, pendirian dan pengintegrasian Comanditaire Venootschap (CV) dan Perseroan Terbatas (PT) bisa dilakukan secara online/digital. Tidak hanya mendaftarkan badan usahanya, andaikata yang bersangkutan mau memesan nama perseroannya juga bisa melalui AHU Online. Kita tahu kan beberapa tahun belakangan pemerintah terus menggenjot kinerja kemudahan berusaha (ease of doing business). Layanan aneka administrasi penunjang kemudahan berusaha merupakan salah satu wujudnya.


2. Membangun Organisasi atau Perkumpulan


Selain CV dan PT, bagi warga negara Indonesia yang hendak membangun organisasi, profit maupun non-profit, bisa mendaftarkan secara online. Semua jenis perkumpulan seperti yayasan, koperasi, hingga partai politik, boleh mendaftar melalui AHU Online ini. 

3. Pengurusan Wasiat


Amboiiii. Wasiat dan warisan merupakan permasalahan yang juga sering terjadi dalam masyarakat. Bagi siapapun yang anaknya hanya satu, ya mungkin tidak masalah. Bagi anaknya banyak serta berasal dari suku tertentu dan beragama tertentu, pasti bingung juga andaikata orangtua meninggal kelak mau pilih pembagian warisan menggunakan hukum adat, hukum Islam, atau KUHPerdata? Dari pada bingung, urus saja wasiatnya lewat AHU Online. Wasiatnya tetap dibikin di hadapan notaris, tetapi sebaiknya dilengkapi dengan pelaporan melalui AHU Online. 


4. Pelayanan Notaris


Ditjen AHU juga berkaitan degan para notaris. Mulai dari pendaftaran notaris dan pendaftaran ujian pengangkatan notaris. Saya jadi ingat anaknya Dekan Fakultas Hukum yang baru-baru ini sah menjadi notaris. Uhuuuuu. Iri. Hehe.

⇜⇝

Bagaimana? Sudah paham tentang Ditjen AHU? Sudah paham juga tentang AHU Online? Insha Allah paham ya. Bagi saya pribadi, ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Penyebaran informasi tentang Ditjen AHU termasuk AHU Online wajib dilakukan demi membantu masyarakat Indonesia, agar bebas dari buta hukum, dan masyarakat memperoleh kepastian hukum. Karena, masyarakat tidak hanya wajib taat hukum, tetapi haknya untuk memperoleh kepastian hukum pun harus terpenuhi.

Baca Juga: Special Victims Unit

Semoga pos ini bermanfaat tidak saja bagi kalian yang hendak mengurus kewarganegaraan dan fidusia, tapi juga bagia kalian yang hendak membangun usaha. 



Cheers.

Kreativitas Peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Rumah Baca . Sepertinya sudah berabad saya tidak menulis tentang dunia Do It Yourself (DIY)...


Kreativitas Peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Rumah Baca. Sepertinya sudah berabad saya tidak menulis tentang dunia Do It Yourself (DIY) di #RabuDIY. Padahal, banyak yang ingin ditulis, baik hasil kreasi sendiri maupun orang lain. Maklum lah ya, padatnya jadwal liputan ditambah keasyikan kembali memainkan Virtual Villagers 5, membikin saya jadi begini. Halaaah. Haha. Sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak nge-game tapi tetap saja masih bisa dipengaruhi sihir game. Pekerjaan meliput sana-sini hingga ke luar kota itu memang menguras energi dan nge-game sebenarnya salah satu remedy selain nge-blog. Membela diri.

Baca Juga: Pesanan Barang DIY yang Berkembang Biak dan Senada

Waktu Jum'at kemarin meliput kegiatan di Desa Ngegedhawe, kalian bisa baca pos berjudul Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe, saya menemukan barang-barang alias asesoris yang dibikin sendiri oleh para peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di sana. Bahkan sambil menunggu kedatangan Bupati Nagekeo, beberapa peserta masih membikin papan tulis mini! Kreatif sekali mereka, dan itu menginspirasi saya menulis pos hari ini.

Papan Tulis Mini


Orang sering menyebutnya mini blackboard. Sudah sering saya mengimpikan papan tulis mini semacam ini. Dari hasil berselancar di dunia maya, oh tentu Youtube punya porsi terbesar, suka sekali saya melihat berbagai fungsi papan tulis mini. Selain penataan rumah yang menggunakan papan tulis mini, kafe-kafe juga sering menggunakannya untuk menulis berbagai menu yang tersedia pada hari bersangkutan. Sering nonton video tentang food truck? Hyes! Papan tulis mini sangat berguna untuk menginformasikan kepada calon pembeli tentang makanan yang ready serta harganya.

Papan tulis mini ini semacam marka yang sebenarnya tidak perlu, tetapi dibutuhkan untuk mempercantik rumah. Karena bagaimanapun orang yang datang ke rumah kita pasti sudah tahu fungsi setiap ruangan: ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, dapur, kamar mandi, dan lain sebagainya. Orang tidak perlu harus melihat keterangan pada papan tulis mini itu terlebih dahulu. Tetapi ada sensasi estetika yang membikin papan tulis mini mengimbuh aura positif di dalam rumah kita. Iya, itu pendapat pribadi saya. Hehe.

Di Rumah Baca Sao Moko Modhe, papan tulis mini mengisi ruang dalam tempat buku-buku tersimpan di rak. Pada hari itu pun beberapa mahasiswa masih membikin papan tulis mini ini (sudah saya tulis di atas, tetapi harus diulang, hahaha).


Melky, salah seorang mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019, terkejut waktu saya menghampiri dan bertanya: kalau dijual, berapa harganya per buah? Mungkin dia dan teman-temannya tidak menyangka saya bakal bertanya demikian. Mungkin mereka belum melihat peluang usaha dari papan tulis mini hasil bikinan sendiri itu. Menurut Melky, saya bisa membeli papan tulis mini dengan harga sekitar Rp 25K/buah. Hwah, murah lah menurut saya. Langsung pesan sepuluh papan tulis mini yang nanti bakal dia antar ke rumah kalau sudah selesai pengerjaanya. Hurayyyy!

Aneka Hiasan Dinding


Yang juga tidak kalah menarik dari Rumah Baca Sao Moko Modhe adalah aneka hiasan dindingnya. Jelas itu semua dibikin sendiri oleh mereka. Bisa kalian lihat pada gambar di bawah ini:





Sederhana namun indah kau mencintaiku. Eh, itu lirik lagunya Anji haha. Sederhana namun indah untuk menghiasi sebuah rumah baca di pelosok. Bahkan yang tulisan Let's Read itu mengingatkan saya pada zaman dahulu kala, saat saya masih SD, membantu (alm.) Kakak Toto Pharmantara membikin logo Telkom (logo lama) menggunakan kertas hasil dari alat pelubang kertas itu. Dominasi warna biru: biru tua, biru muda, dan putih. Saya betul-betul menginspirasi saya untuk membikinnya juga nanti, sekalian bernostalgia. Seperti akan sangat keren kalau tulisan BlogPacker dibikin seperti itu. Tulisan yang diisi dengan potongan kertas. Potongan kertasnya bisa berbentuk serampangan bisa juga hasil dari kertas hasil alat pelubang kertas.

Baca Juga: Andaikan Ada Seorang Saja Thomas Dambo di Kota Ende

Yang lupua saya foto adalah gantungan hiasan pada bagian teras rumah baca ... yang terbuat dari gelas plastik bekas minuman. Nanti deh kalau sempat ke sana lagi. Insha Allah.

⇜⇝

Dunia kreativitas, dunia seni, adalah dunia tanpa batas. Selalu ada yang bisa dihasilkan oleh orang-orang kreatif meskipun dengan bahan seadanya. Bahkan dalam konsep DIY, bagaimana kita bisa memanfaatkan apa yang ada, menjadikannya barang berdaya guna lebih, bahkan bisa mendatangkan Rupiah. Jangan salah, saya sudah pernah menikmati jutaan Rupiah hanya dari barang bekas semacam kertas koran, majalah, kardus, botol plastik, gelas plastik, dan lain sebagainya. Seperti yang sudah sering saya tulis: yang dibutuhkan hanyalah percikan kreativitas.

Selamat mencoba!



Cheers.

Hola, jumpa lagi di #SelasaTekno . Harinya berbagi informasi tentang teknologi, baik teknologi paling sederhana dari peradaban umat m...



Hola, jumpa lagi di #SelasaTekno. Harinya berbagi informasi tentang teknologi, baik teknologi paling sederhana dari peradaban umat manusia, hingga teknologi canggih yang sudah sangat membantu kehidupan umat manusia. Selasa kemarin saya menulis tentang teknologi dari lini pertanian hasil meliput kegiatan pembuatan pupuk dan pestisida oleh mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Dusun Detubapa, Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Termasuk, bagaimana cairan petrogenol yang bahenol, yang mampu memikat lalat jantan sehingga tujuan merusak buah-buahan di pohon gagal arah hahaha.

Baca Juga: 1 Video 3 Aplikasi

Hari ini, dari hasil liputan (kalau yang ini liputan proyek pribadi bukan kantor haha) kegiatan PID dua minggu lalu di Desa Watusipi, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende, saya terinspirasi untuk menulis tentang alat pemeras sederhana yang sering dipakai masyarakat. Oh ya, seperti biasa kalau ada proyek video seperti ini, maka videografernya sudah pasti Cahyadi, saya hanya bagian menyunting saja, agar tidak mengganggu pekerjaan utama. Tentang si alat pemeras, bukan baru pertama kali saya melihatnya, bahkan dulu waktu masih SD di SDI Ende 11, sering sekali menonton para ine (mama dalam bahasa Suku Ende) di kompleks sekolah memeras wa'ai ndota.

Seperti apa teknologi sederhana ini? Cekidot!

Alat Pemeras Sederhana


Saya sarankan kalian untuk membaca pos berjudul Wa'ai Ndota, Makanan Pokok Pengganti Nasi yang dipos di blog travel. Alat pemeras sederhana terdiri atas:

Dua kayu yang dipatok/tanam di tanah.
Dua kayu bakal penjepit.
Tali (lebih bagus tali karet).

Jarak dua kayu yang dipatok di tanah disesuaikan dengan panjang dua kayu yang bakal dipakai untuk menjepit. Jangan lupa, dua kayu untuk menjepit ini bagian salah satu ujungnya diikat dengan tali berbahan karet yang biasanya berasal dari binen atau ban dalam yang digunting agar menyerupai tali. Jadi modelnya seperti capit makanan.

Selain itu, bisa juga seperti pada gambar berikut ini:



Ada tonggak yang dipakai, terus satu kayu untuk memeras, dan satu kayu pendek dilapisi seng untuk menahan. Hasil perasan, pada gambar di atas adalah CCO alias minyak kelapa, ditampung di basko. Unik ya hehe.

Berbeda dari proses memeras wa'ai ndota yang menggunakan dua kayu sama panjang, bungkusan wa'ai ndota diletakkan di bagian dekat tali pengikat terus diduduki hingga airnya lebih banyak yang keluar karena bobot menekan saat memeras dengan tangan dan bobot tubuh itu beda. Kenapa air perasan wa'ai ndota disimpan juga di baskom? Karena air perasan ini bakal jadi makanan turunan lain yaitu alu ndene. Untuk lebih jelasnya, kalian wajib membaca pos berjudul Ini Dia Alu Ndene Yang Disebut Pizza Ende. Agar kita sepemahaman.

Baca Juga: Gate: Rak Serbaguna

Mungkin di tempat kalian sudah memakai alat pemeras super canggih untuk memeras ampas minyak (setelah kelapa parut digoreng) bakal minyak goreng atau memeras apapun yang perlu diperas, haha. Tapi di daerah kami, alat pemeras sederhana ini masih dipakai bahkan oleh kelompok ibu-ibu di desa yang bergerak di dunia usaha pembuatan/pengolahan minyak goreng. Dari teknologi sederhana, dapat membantu perekonomian keluarga mereka. 

Bagaimana dengan di daerah kalian, kawan?



Cheers.

Foto bersama Bupati Nagekeo Bapak Don, dan Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe...

Foto bersama Bupati Nagekeo Bapak Don, dan Dosen Pendamping Lapangan (DPL).


Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe. Jum'at, 6 September 2019, saya kembali memacu Onif Harem ke arah Barat Pulau Flores. Tujuan saya apalagi kalau bukan Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Alhamdulillah, cuaca sudah tidak seberapa dingin, dan pagi itu meskipun masih mampir di Aigela untuk menikmati jagung pulut rebus sekalian melemaskan otot kaki, haha, saya (ditemani Thika Pharmantara) tiba di lokasi lebih mula dari waktu kegiatan.

Baca Juga: Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga

Memangnya, ada apa lagi di Desa Ngegedhawe? Kalau kalian sering membaca blog ini, pasti tahu bahwa saya ini si tukang liputnya UPT Publikasi dan Humas Uniflor. Tujuan saya ke sana adalah meliput kegiatan peresmian rumah baca yang dibangun oleh mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang ditempatkan di Desa Ngegedhawe.

Rumah Baca Sao Moko Modhe


Saat tiba di dusun terluar dari Desa Ngegedhawe, mata saya menangkap sebuah rumah mini, nampak baru, dengan hiasan warna-warni, terletak di tanah lapang luas. Saya pastikan itu adalah rumah baca dimaksud setelah melihat mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang mengenakan kaos biru khas mereka. Perlu diketahui Rumah Baca Sao Moko Modhe dibangun oleh mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang ditempatkan di Desa Ngegedhawe atas proposal yang menerima dana  hibah Kemeristekdikti tahun 2019 (ada tiga proposal, tiga desa lokasi pengabdian, yang lolos mendapat dana hibah tersebut).


Menurut informasi yang saya peroleh tanah tempat dibangunnya rumah baca ini merupakan tanah lapang milik Pemerintah Desa Ngegedhawe. Boleh dikatakan ini merupakan tanah lapang serba guna tempat masyarakat desa melakukan aktivitas bersama selain di kantor desa mereka sendiri. Di tanah lapang ini sebelumnya sudah ada aula-tanpa-dinding dan lapangan voli. Sekarang sudah ditambah dengan rumah baca dan rencananya bakal dibangun lapangan futsal. Menurut saya pribadi, tanah lapang ini bakal jadi pusat kreativitas masyarakat Desa Ngegedhawe. Kenapa? Nanti akan saya jelaskan di bawah, hehe.


Saya tidak sempat menanyakan ukuran rumah baca, tapi kalau dilihat, ukurannya sekitar 4 x 8 meter. Kalau salah, maafkan. Dibagi sepertiga untuk ruangan tempat menyimpan rak buku serta buku-buku yang sementara sudah disiapkan oleh mahasiswa dan DPL. Sedangkan sisanya merupakan teras berdinding setengah yang dihiasi gantungan cantik hasil Do It Yourself (DIY) berbahan gelas plastik. Halamannya juga cukup luas, ditanami tanaman ini itu, serta dibangun sekitar empat permainan anak-anak yang juga hasil DIY. Jangan lupa, pagar dan gerbangnya juga keren. Kreatif!

Kembali ke dalam ruangan, selain rak buku dan buku-buku, juga nampak hiasan hasil DIY mahasiswa. Masih minim, tapi sudah sangat membantu masyarakat Desa Ngegedhawe khususnya anak-anak usia TK dan SD, serta orangtua. Orangtua? Iya, di sana ada juga buku-buku edukasi khusus misalnya untuk pertanian, spiritual, dan lain sebagainya.


Sementara itu yang juga sangat menarik perhatian saya adalah jalan masuk dari gerbang menuju rumah baca yang dibikin semacam setapak mini menggunakan bata merah. Lihat gambar di bawah ini:


Pada akhirnya saya bertemu tiga DPL yaitu Pak Gusty, Pak Usbat, dan Ibu Helen. Dari Pak Gusty saya mendapat informasi tentang arti dari moko modhe. Menurut Pak Gusty moko modhe berarti teman baik. Sehingga jika digabung dengan rumah baca maka Rumah Baca Sao Moko Modhe merupakan teman baik semua orang, siapapun, yang ingin lebih tahu tentang banyak hal, ingin lebih tahu tentang dunia, lewat aktivitas membaca buku. Ya, buku pun merupakan teman baik kita semua. Tidak pernah berkhianat si buku itu! Hehe.

Diresmikan Oleh Bupati (Keren) Bapak Don


Bupati Nagekeo, Bapak Johanes Don Bosco Do, yang juga seorang dokter, datang meresmikan Rumah Baca Sao Moko Modhe. Gayanya santai dan gaul. Makanya saya menyebut beliau keren. Keren sekali malahan. Saya sering melihat bupati dikawal serta ditemani belasan bahkan puluhan orang yang sibuk ini itu sehingga terkesan masyarakat heh jauh-jauh sana jangan terlalu dekat! Tapi ini ... kok sepi? Aaah ternyata menurut teman-teman yang tinggal di Kota Mbay, Bapak Don memang tidak terlalu suka kawalan berlapis hahaha. Makanya suasana waktu itu sangat bersahabat. Bapak Don seperti kawan lama yang sowan begitu.


Bahkan, pihak Bagian Humas dan Protokol Setda Kabupaten Nagekeo tidak terlalu mempermasalahkan masyarakat yang ingin mengambil video dan foto. Semua punya hak yang sama, tidak ada yang bertindak: heh minggir! Hahaha. Saya takjub melihat Kabag Humas dan Protokol yang betul-betul menjalankan tugas beliau.



Dua foto di atas ... santai kan gaya Bapak Don?

Baca Juga: Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling

Dalam sambutannya, dengan sering menyelip istilah dan bahasa daerah Nagekeo, serta guyonan yang bikin masyarakat ngakak, Bapak Don menggunakan banyak analogi sederhana yang mudah dipahami. Selain menekankan bahwa rumah baca hanyalah pemicu sedangkan selanjutnya adalah tergeraknya hati masyarakat untuk memanfaatkan rumah baca tersebut, Bapak Don juga menyelip pesan tentang kearifan lokal yaitu penggunaan tas anyaman alih-alih menggunakan tas plastik sebagai media untuk membawa barang belanjaan.

Pesan lain yang disampaikan adalah tentang rumah tangga. Kalau membangun rumah tangga, atau setelah berumah tangga dan punya rumah, jangan mengutamakan membeli kasur pegas kalau fasilitas MCK serta bak air belum dibangun. Karena itu adalah dasar agar masyarakat hidup sejahtera.


Lagi, dari informasi yang saya dengar dari teman-teman yang tinggal di Kota Mbay seperti Noviea Azizah, Bapak Don kalau berkunjung ke desa itu tidak mau ada acara pengalungan selendang untuk penyambutan. Terus, masyarakat juga jangan sampai ada yang menyembelih hewan ternak untuk acara makan siang kegiatan kunjungan dimaksud. Makanya kemarin itu kami kudapannya sangat sederhana tapi kok bikin lidah ketagihan ya? Kopinya pun bikin Thika Pharmantara ketagihan. Haha. Ini dia kudapan kami saat acara diskusi santai:


Sungguh saya sangat beruntung dan bersyukur bisa bertemu langsung Bapak Don yang rendah hati dan ramah dengan semua orang. Terus bangun Nagekeo, Bapak! Saya sih ... hanya pengunjung yang sering menikmati keindahan Nagekeo dan bertugas menulisnya di blog. Hahaha.

Mengumpulkan Buku


Dari kegiatan di Rumah Baca Sao Moko Modhe tersebut di atas, resmi ya nulisnya hahaha, maka saya mengajak teman-teman semua untuk berpartisipasi dengan cara menyumbangkan buku untuk Rumah Baca Sao Moko Modhe. Bukunya tidak saja buku sekolah untuk anak usia TK dan SD tetapi juga buku cerita anak dan majalah untuk orangtua (apalagi kalau majalah Intisari begitu). Bisa dikumpulkan melalui saya, yang nanti bakal saya antar sendiri ke sana. Bisa juga diantarkan sendiri ke sana nanti bisa tanyakan kontak Sekdes Ngegedhawe pada saya. 


Sudah berapa buku yang terkumpul? Belum ada kalau di saya mah ... haha. Masih dalam tahap kampanye sana sini. Doakan semoga banyak buku yang bisa terkumpul ya! Amin!

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe

Salam literasi untuk kita semua.



Cheers.

Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru. Hal itu saya saksikan sendiri saat meliput kegiatan mahasiswa KKN-PPM di Du...


Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru. Hal itu saya saksikan sendiri saat meliput kegiatan mahasiswa KKN-PPM di Dusun Detubapa, Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Sungguh menyenangkan menjadi tukang liput kampus, karena selain  tidak diam di ruangan dan bisa jalan-jalan ke luar kota, tambah ilmu itu berhukum fardhu'ain. Ya memang tambah ilmu lah, karena saya harus turut menyaksikan dan mendengarkan seluruh proses kegiatan, baik itu seminar/workshop hingga pelatihan ini itu, bahkan bisa memperoleh data yang disusun dalam bentuk slide maupun hardcopy, untuk bisa menulis berita yang bakal dipos di ragam media sosial dan website-nya Universitas Flores (Uniflor). Berita adalah tentang fakta yang harus berimbang. Bukan begitu?

Baca Juga: Terminal Stopkontak Ini Bisa Berotasi dan Mengecas HP

Sebelum melanjutkan tulisan ini, kalian boleh membaca pos Senin kemarin.

Baiklah.

Dari dua puluh mahasiswa, sejumlah lima belas peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang ditempatkan di Desa Wolofeo berasal dari Progi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Uniflor. Sebagian lagi yaitu lima mahasiswa berasal dari tiga program studi di Fakultas Ekonomi. Program kerja mereka di Desa Wolofeo pun tidak jauh-jauh dari dunia para petani yang mengelola lahan seperti sawah, kebun kopi, kebun kakao, kebun sayur, kebun cabai, dan lain sebagainya. Bahkan di Dusun Detubapa terpeta satu kebun contoh milik pemerintah daerah. Keren kan? Lebih keren lagi adalah Fakultas Pertanian juga punya satu perkebunan contoh di daerah Lokoboko! Makanya kuliah di Uniflor saja. Haha.

Kenapa saya menulis teknologi pertanian itu sangat menarik dan seru? Karena mendengar penjelasan mahasiswa maupun penjelasan Ibu Yus sebagai Dosen Pendamping Lapangan (DPL) dalam menjawabi pertanyaan warga Dusun Detubapa sangat luar biasa. Ibarat sedang menonton filem favorit. Ada dua hal paling menarik dan seru bagi saya. Yang pertama: menekan angka hama pada buah kakao. Yang kedua: cara memerangkap lalat pengganggu tanaman.

Anyhoo, sudah tahu filem favorit saya sekarang?

UPIN IPIN!

Menekan Angka Hama pada Buah Kakao


Saya tidak tahu nama hamanya. Bisa lalat, bisa juga yang lain. Yang jelas seorang bapak warga Dusun Detubapa, dengan topi kupluknya yang khas karena berposisi miring, bertanya tentang buah kakaonya yang rusak. Rusak di sini, si buah masih terlihat hijau sebagian pada bagian tangkai, dan kuning sebagian. Kadang buah kakaonya terlihat matang/masak tetapi ternyata busuk di dalam. Gara-gara itu, produksi kakaonya menurun dari tahun ke tahun. 

Menurut Ibu Yus, buah kakao yang terserang hama ini memang sulit karena induk melepas telur pada lekukan kulit buah kakao, lantas telur itu menjadi ulat, dan ulat itu yang bakal menggerogoti kulit buah hingga ke dalam. Ternyata teknologi yang digunakan untuk menekan angka hama dimaksud sangat sederhana. Oleh karena itu apabila pohon kakao berbuah dan buahnya hendak matang, buah tersebut dibungkus dengan plastik gula dan diikat pada bagian tangkai sedangkan bagian bawahnya tidak perlu diikat. Mengapa bagian bawah tidak perlu diikat? Melihat dari pola terbangnya induk yang sudah pasti menukik (ke bawah ya haha).

Dengan membungkus buah kakao dengan plastik gula tersebut, otomatis saat si induk sedang menukik hendak menyerang Negara Api langsung menabrak plastik. Hehe. 

Mengenai plastiknya, kami menyebut plastik gula, bisa dibeli di toko dalam bentuk roll dan dipakai sesuai kebutuhan (ukuran panjangnya). Harganya relatif murah. Murah tapi bisa membantu petani menekan angka hama pada buah kakao. 

Daya Tarik Seksualitas Palsu Lalat Betina


Ini menarik sekali. Saya sampai senyum-senyum sendiri. 

Ketika tanaman diserang hama lalat, terutama buah, memang sangat menjengkelkan para petani karena berpengaruh pada hasil panen. Oleh karena itu ketika ada warga Dusun Detubapa yang bertanya perihal lalat ini, seorang mahasiswa dibantu Ibu Yus menjelaskan cara membikin perangkap lalat jantan yang teknologinya super sederhana. Yang dibutuhkan hanyalah botol plastik bekas, sejumput kapas, kawat untuk mengikat botol plastik di tonggak, serta sebuah cairan bernama Petrogenol

Saya menyebutnya Petrogenol yang bahenol karena mampu memikat lalat jantan dengan daya seksualitas palsunya!

Botol plastik diberi lubang dua buah pada badannya, lalu diisi sedikit air, dan sejumput kapas tadi disuntik sekian cc (ukuran pastinya saya lupa, yang jelas sedikit saja) dan diletakkan di dalam botol, kemudian botol diikat dengan kawat di tonggak, horisontal. Posisi horisontalnya sedikiiiiit miring. Petrogenol inilah daya seksualitas palsu yang bakal menarik lalat jantan yang hendak menyerang Negara Tanah buah. Saat hendak menyerang buah, mencium aroma si betina palsu, langsung berbalik arah ke botol plastik dan masuk perangkap.

Baca Juga: Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan

Amboiiii. Begitu sederhananya teknologi membikin perangkap lalat yang bisa membantu petani agar hasil panennya tetap berlimpah.

⇜⇝

Bagaimana dengan kalian kawan? Pernahkah kalian berurusan langsung dengan dunia para petani? Pernahkah kalian juga menyaksikan betapa menarik dan serunya teknologi (sederhana) pertanian itu? Bagi tahu donk di komen hehehe :)


#SelasaTekno



Cheers.