BlogPacker

I Write My All

LightBlog

5 Kegiatan New Normal Saya Sebelum New Normal Diberlakukan . Saya sudah menulis pos berjudul  Sebenarnya Istilah New Normal Bukan Se...


5 Kegiatan New Normal Saya Sebelum New Normal Diberlakukan. Saya sudah menulis pos berjudul Sebenarnya Istilah New Normal Bukan Sesuatu Yang New. Dari sudut pandang saya sebagai awam. Karena sejak lahir hingga seterusnya, manusia mengalami atau merasakan atau menjalani yang disebut new normal itu. Silahkan baca pos melalui tautan di atas. Bagi saya pribadi new normal sudah dimulai sejak Maret 2020 saat work from home. Semua yang bukan kebiasaan kemudian menjadi kebiasaan. Senin kemarin new normal mulai diberlakukan, termasuk di Universitas Flores (Uniflor). Kami kembali bekerja seperti hari-hari kemarin tetapi wajib mengikuti protokol kesehatan yang berlaku. Kita ulangi ya: memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun minimal dua puluh detik dan/atau membersihkan tangan menggunakan hand sanitizer sebelum menyentuh wajah (mata, hidung, mulut), menyemprot cairan disinfektan pada benda/tempat sebelum kita menempati atau menyentuhnya, rajin olah raga, minum vitamin (jaga kesehatan tubuh).

Dan jangan lupa, kalau bisa di rumah saja ... ya di rumah saja (selain ke kantor) hehehe.

Baca Juga: 5 Kegiatan Yang Saya Lakukan Saat Di Rumah Saja

Berikut ini ada lima kegiatan new normal saya sebelum new normal diberlakukan Senin kemarin. Sekalian nostalgia prematur bahwa saya pernah menjalaninya sejak Maret 2020 hingga 15 Juni 2020.

Jadi, apa saja 5 kegiatan new normal saya pada masa pandemi Covid-19?

Cekidot!

1. Bangun Tidur Langsung Nyalakan Laptop


Kebiasaan yang benar-benar baru. Sebelum pandemi Covid-19 menyerang, pada hari kerja setiap bangun tidur saya harus menuju kamar mandi untuk mandi dan diteruskan dengan bersiap-siap berangkat kerja. Sejak #DiRumahSaja diberlakukan, setiap bangun tidur di pagi hari saya langsung memencet tombol power laptop. Laptop-nya masih loading, lalu saya ke kamar mandi. Untuk mandi? Tidak. Haha. Mandi bisa nanti. Menghadap laptop artinya bekerja (nge-game kalau pekerjaan sudah selesai). Memangnya apa yang saya kerjakan? Bukannya saya tidak pergi meliput, tidak memotret kegiatan kampus, dan lain sebagainya? Ini yang perlu kalian tahu. Hehe.

Pekerjaan saya di Universitas Flores (Uniflor) memang sebagai tukang cari berita, tukang liput, tukang publikasi. Tapi itu bukan berarti saya semata-mata memperoleh informasi dari 'turun lapangan'. Terima kasih pada internet di mana banyak informasi dan foto yang bisa saya peroleh melalui pesan WhatsApp (WA) untuk kemudian disusun menjadi berita. Selain kegiatan daring, ada juga kegiatan luring. Apabila membutuhkan informasi tambahan seperti pendapat petinggi/pejabat Uniflor, saya bisa memohon pada beliau-beliau melalui WA juga. Alhamdulillah, beliau-beliau sangat kekinian dan sangat membantu. Saya bersyukur karena petinggi/pejabat Uniflor semuanya ramah dan menganggap kami tidak sebagai bawahan tetapi juga sebagai keluarga (adik/kakak) sehingga suasana pekerjaan memang jauh lebih menyenangkan.

Oh ya, bekerja dari rumah artinya bisa memakai pakaian rumah. Hihihi.

Sekarang sih, sejak 15 Juni 2020, sudah kembali bekerja seperti biasa: memakai pakaian kerja dan harus bersepatu haha.

2. Ke Kantor Dua Hari/Kali Seminggu 


Diberlakukannya piket membikin saya punya dua hari penuh di kantor (pada jam kerja) yaitu Senin dan Selasa. Karena tidak ada apel/upacara bendera Senin, maka saya tidak perlu menabrak pintu lemari alih-alih masuk kamar mandi, hahaha. Ada kerinduan untuk apel/upacara bendera Senin, ada kerinduan nongkrong di kantin bersama kakak-kakak lainnya, ada kerinduan merasakan perasaan was-was karena terlambat bangun. Tapi selama Covid-19 masih lalu-lalang, semua harus ditahan. Nah, kalau saya ke kantor, saya berusaha untuk bisa memperoleh sebanyak-banyaknya informasi bakal berita.

Sisi positifnya dari piket-piketan ini adalah: hemat deodorant dan parfum *dikeplak Dinosaurus*.

Sekarang sih, sejak 15 Juni 2020, sudah kembali bekerja seperti biasa: Senin sampai Sabtu.

3. Menjaga Protokol Kesehatan (Ekstrim)


New normal! Protokol kesehatan pada masa pandemi Covid-19 ini harus diterapkan dengan sungguh. Bahkan teman-teman mengatakan saya ekstrim. Setiap kali keluar rumah saya wajib memakai masker, menyiapkan hand sanitizer, dan menyiapkan disinfektan. Disinfektan itu sudah disimpan di wadah bekas parfum jadi bisa disemprot kapan pun saya mau dan/atau merasa 'terancam'. Hehe. Sebelum pegang gagang pintu semprot disinfektan, sebelum duduk meja kursi di kantor semprot disinfektan, bahkan saat hendak pulang dari kantor pun disinfektan saya semprotkan pada sepeda motor Onif Harem dan helem. Saya pikir ini perlu dilakukan karena kita tidak pernah tahu di mana kah Covid-19 berada.

Setiap orang yang masuk ke dalam rumah wajib disemprotkan disinfektan dengan mereka menutup mata dan memutar badan. Ha ha ha. Setelah itu dilanjutkan dengan mencuci tangan di kamar mandi atau memakai hand sanitizer. Cahyadi dan Kahar paling suka ngakak setiap kali mereka datang ke rumah gara-gara disinfektan ini. Dan tentu, kami pun wajib menjaga jarak. Memang ekstrim, tapi itulah apa yang bisa saya upayakan untuk menjaga diri sendiri dan orang lain. Ayo ditiru! Jangan andalkan hand sanitizer saja.

Sekarang sih, sejak 15 Juni 2020, protokol kesehatan tetap berjalan dan tetap (dikatakan sama teman-teman) ekstrim.

4. Berkebun


Ya jelas. Berkebun merupakan salah satu cara untuk mengisi waktu luang saat masih work from home. Selesai mengetik berita, langsung ke kebun mini. Selesai memandikan Mamatua, langsung ke kebun mini. Pokoknya kebun mini yang tidak seberapa itu mendapat perhatian yang sama dengan hal-hal lainnya. Untuk cerita-cerita tentang kebun mini di beranda belakang Pohon Tua, silahkan baca pos-pos berikut ini:

5 Kegiatan Yang Saya Lakukan Saat Di Rumah Saja
Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua
Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy
5 Tanaman Kebutuhan Dapur Ini Sangat Mudah Ditanam

Sekarang sih, sejak 15 Juni 2020, sudah kembali bekerja seperti biasa: berkebun tetap berjalan! Bahkan saya juga kembali menanam bunga-bunga. Hehe.

5. Menonton Video di Youtube


Aaaah kembali lagi ke Youtube sebagai hiburan. Bagi bos-bos yang sering main ke blog ini pasti tahu bahwa saya berhenti menonton televisi. Itu bukan berarti saya sama sekali berhenti menonton video/gambar bergerak haha. Youtube masih menjadi pilihan sebagai pengantar tidur. Upin Ipin, Larva, Oggy, semuanya jelas. Tapi beberapa minggu terakhir saya keranjingan menonton Shaun the Sheep dan Jewel in the Palace. Selain menghibur, keduanya sama-sama meninggalkan makna dan nilai yang sangat dalam bagi penonton. Nanti akan saya ulas tentang keduanya dan alasan saya menonton ulang.


Bagaimana dengan kalian?

Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca

Menyoal new normal, kita wajib mematuhinya, untuk memulai kehidupan seperti sedia kala namun dengan memerhatikan protokol kesehatan. Ini bukan masalah siapa yang bertahan dialah yang hidup. Bukan. Ini masalah kepentingan kita masing-masing terutama para pekerja yang menopang perekonomian kehidupan rumah tangga. Cara-cara yang bisa kita lakukan agar tetap bisa bekerja tetapi juga menjaga diri dari Covid-19 adalah menjaga protokol kesehatan. Ingat, selain yang sering kalian lakukan (protokol kesehatan) selalu bawa disinfektan dalam kemasan kecil (botol parfum) agar bisa disemprot kapan pun kalian mau, atau seperti saya, menyemprotnya kapan pun saya merasa 'terancam'. Terlihat sepele tapi menurut saya ini tindakan yang bagus.

Semoga bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.

Ternyata Mudah Membikin Mangkuk Berbahan Koran. Hampir dua mingguan saya absen dari blog ini, dan itu menimbulkan kerinduan yang tera...


Ternyata Mudah Membikin Mangkuk Berbahan Koran. Hampir dua mingguan saya absen dari blog ini, dan itu menimbulkan kerinduan yang teramat sangat. Meskipun sudah berjanji pada diri sendiri untuk nge-blog setiap hari, tetapi ternyata ada masa-masa 'lumpuh'. Waktu yang Allah SWT berikan sehari dua puluh empat jam tidak cukup untuk memenuhi semuanya. Agar tidak depresi *hayah, gaya banget depresi* saya harus memerhatikan skala prioritas. Itu yang diajarkan oleh Bapa (alm.) dan Mamatua. Skala prioritas sangat membantu saya menyelesaikan semua pekerjaan, baik pekerjaan kantor maupun pekerjaan sampingan, dengan baik. Insha Allah. Setelah rentetan pekerjaan itu selesai, akhirnya saya bisa bernafas lega, dan mulai kembali membikin video untuk channel Youtube dan mulai menulis konten blog.

Baca Juga: Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat

Menjelang Lebaran kemarin saya mengajak Melly untuk membikin mangkuk koran. Mangkuk koran ini sudah lama saya ingin membikinnya tapi selalu terkendala ini itu. Akhirnya saya menitipkan Thika dan Melly untuk membeli lem sejenis Weber dan balon. Balon? Yakin? Iya, yakin. Karena memang itu bahan dasarnya. Bagi kalian yang mau membikinnya juga, karena sangat mudah, coba baca sampai selesai.

Apa yang perlu dipersiapkan?

Alat dan bahan:
1. Koran/kertas bekas.
2. Balon.
3. Lem Weber.

Cara membikin:
1. Gunting koran/kertas seukuran dua jari.
2. Tiup balon (besarnya sesuai keinginan).
3. Campurkan lem dengan air secukupnya.
4. Rendam potongan koran di lem, lalu tempelkan pada balon.
5. Jemur hingga kering.
6. Kempiskan balon.
7. Mangkuk koran sudah jadi.

Mudah bukan?

Saya tidak sempat memotret proses membikinnya. Melly pun demikian. Karena tangan kami berlumuran lem. Haha. Harus diingat: untuk memperoleh mangkuk koran yang tebal dan kuat, jangan pelit dengan lem dan harus tiga sampai empat lapis potongan koran. Bahkan ada yang sampai lima lapis untuk memperoleh hasil yang maksimal. Sedangkan untuk penampilan/estetika, mangkuk koran dapat dicat. Saya pribadi memilih untuk tidak mengecatnya agar bahan korannya tetap terlihat. Unik sekali.


Mangkuk koran bisa dipergunakan untuk berbagai keperluan antara lain tempat permen, tempat benang-benang dan jarum, tempat menyimpan segala sesuatu barang-barang mini agar tidak tercerai-berai. Dua mangkuk koran di atas merupakan percobaan pertama. Saya tidak menyangka percobaan pertama langsung sukses. Biasanya bakal gagal dulu. Haha. Alhamdulillah.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Saya selalu suka #RabuDIY. Tema ini tidak saja menjadi media saya berbagi tutorial dan hasil karya bikinan sendiri, tetapi juga sekaligus motivasi saya untuk tidak melupakan dunia DIY yang begitu saya gandrungi. Bahwa, begitu banyak barang bekas maupun barang baru yang bisa dikreasikan untuk menjadi barang lainnya yang punya nilai ekonomi lebih tinggi. Koran bekas mungkin tidak ada artinya bagi sebagian orang tapi bagi saya koran bekas sangat penting untuk dunia DIY. Balon pun demikian, mungkin sebagian orang hanya memanfaatkannya sebagai penghias dekorasi pesta ulang tahun, tapi ternyata balon punya banyak manfaat, termasuk pot dari semen! Nanti ya bakal saya bikin dan menulisnya untuk kalian.

Jadi, tunggu apa lagi? Ayo berkreasi sepuas-puasnya. Mumpung #DiRumahSaja. Hehe.

Semoga bermanfaat!

#RabuDIY



Cheers.

Ngoblog Soal Digital Marketing Bareng Nunik Utami di Live IG . Silahkan baca dulu pos berjudul  Mengintip Talkshow Keren a la Blogfam d...


Ngoblog Soal Digital Marketing Bareng Nunik Utami di Live IG. Silahkan baca dulu pos berjudul Mengintip Talkshow Keren a la Blogfam di Live Instagram. Ya, reborn kali ini Blogger Family (Blogfam) betul-betul mantul karena diisi dengan kegiatan talkshow yang dijadwal secara berkala di live Instagram. Baik narasumber maupun host-nya sama-sama anggota Blogfam. Materinya pun luar biasa. Mulai dari kepenulisan buku anak, foto pakai telepon genggam, hingga podcast. Itu berarti anggota Blogfam memang luar biasa karena untuk talkshow bergengsi pun belum perlu mengundang narasumber dari luar Blogfam. Sombong? Tidak. Kenapa sombong? Ini kan kenyataan yang tidak bisa dihindari lagi. Hehe.

Baca Juga: Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online

Sebagai salah seorang anggota Blogfam, saya pun menjadi host pada edisi ke-empat talkshow ini. Sementara itu sampai dengan saat ini talkshow masih berjalan, menghadirkan narasumber-narasumber kece badai tralala yang rugi banget kalau sampai kalian tidak menonton dan berinteraksi. Soalnya selain berbagi informasi ada juga doorprize-nya. Anyhoo mungkin kalian bertanya-tanya apa kaitannya Ngoblog (Ngobrol Bareng Blogfam) sama #SelasaTekno. Sangat berkaitan, gengs. Pertama: Ngoblog dilakukan melalui sistem digital/internet. Kedua: Kak Nunik Utami bicara tentang atau temanya adalah Ditigal Marketing.

Ngoblog waktu itu agak molor karena ternyata di rumah Kak Nunik listrik padam. Sambil menunggu, sambil saya menyapa teman-teman yang sudah siap menunggu materi digital marketing itu.

Berdasarkan hasil talkshow, izinkan saya membikin rangkuman berikut ini.

Pada zaman dahulu kita menjual segala sesuatu secara konvensional/tradisional: di pasar, di toko, dari pintu ke pintu, juga dari mulut ke mulut. Tapi sejak ada internet, kemudian menjamurnya media sosial, tren berjualan pun mengikuti perkembangan zaman (internet). Para pedagang dapat memanfaatkan internet, dalam hal ini media sosial untuk menjual barang dagangan mereka. Media sosial itu antara lain blog, Youtube, Facebook, Instagram, Twitter, Tumblr, dan lain sebagainya. Tidak lupa aplikasi mengobrol seperti WhatsApp, Telegram, dan sebangsanya. Meskipun hanya menjangkau para pengguna internet, tetapi digital marketing sangat ampuh. Ada unsur efektif dan efisiennya. Secara waktu, tentu lebih hemat. Secara biaya, bisa sekalian dengan biaya pribadi menggunakan internet dan tidak perlu membangun toko/kios fisik.

Selain menggunakan media sosial pribadi, para pedagang juga bisa memanfaatkan market place (e-commerce) seperti Lazada, Tokopedia, Blibli, Shopee, hingga Buka Lapak. Caranya: secara umum cukup mendaftarkan toko di market place tersebut dan mengikuti semua syarat yang ditentukan. Kalau tidak salah, sebagai penjual, kita baru boleh menerima uang pembelian barang dari pengelola market place setelah barang yang dikirimkan tiba di tujuan atau diterima oleh pembeli. Kalau saya salah, mohon koreksi.

Digital marketing tidak selamanya bermakna kita/pedagang menjual barang dagangan melalui internet (media sosial). Digital marketing juga bermakna mem-branding diri. Bagi para blogger dan youtuber, branding diri ini penting. Karena sejatinya bagi blogger dan youtuber yang hendak meraih keuntungan dari blog dan channel Youtube, harus pandai 'menjual diri'. Pedagang memang bisa menjual barang dagangan melalui blog dan Youtube, tetapi mereka juga bisa memperoleh keuntungan lain apabila blog dan Youtube-nya dikelola dengan baik. Semua blogger dan youtuber pasti tahu tentang hal ini.

Apakah tren digital marketing akan mengalahkan atau melumpuhkan pasar konvensional? Tentu tidak. Meskipun arah ke digital marketing semakin kuat, seperti beberapa petani menjual hasil panen melalui internet (dikelola oleh Bumdes), tapi begitu banyak orang masih memilih pasar konvensional. Buktinya Pasar Mbongawani Ende masih ramai setiap hari, toko-toko pun demikian, bahkan pedagang buah pinggir jalan masih dikerubuti pembeli. Karena apa? Karena masih banyak pedagang yang tidak menggunakan internet bahkan sama sekali tidak tahu soal internet, dan banyak pembeli yang juga tidak menggunakan internet bahkan sama sekali tidak tahu soal internet. Kata Mamatua, ada seni tersendiri berinteraksi dengan para pedagang di pasar. Seni tawar-menawar! Hahaha.

Jadi itu dia rangkumannya, gengs.

Baca Juga: Mengenal PhotoScape Untuk Keperluan Sunting Foto

Kak Nunik Utami adalah contoh paling nyata yang sukses berkiprah melalui digital marketing. Sebagai penulis buku, ia juga memanfaatkan blog dan media sosial untuk mempromosikan buku-bukunya. Sebagai pedagang hijab, ia memanfaatkan berbagai lini agar hijab dagangannya diburu pembeli. Tetapi ada yang harus dipelajari di sini yaitu pandai melihat peluang dan keinginan pasar. Niscaya berkat doa dan usaha insha Allah sukses. Kapankah itu? Mulai dari sekarang. Karena Kak Nunik tidak menunggu harus sempurna untuk memulai. Saya, kalian, mereka, pun juga harus begitu. Mulailah terlebih dahulu. Segala sesuatunya akan kita ketahui dan pelajari seiring berjalannya usaha.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Design on Canva . Sebenarnya Istilah New Normal Bukan Sesuatu Yang New . Halo kalian semua; bos-bos pembaca BlogPacker . Kita masi...

Design on Canva.

Sebenarnya Istilah New Normal Bukan Sesuatu Yang New. Halo kalian semua; bos-bos pembaca BlogPacker. Kita masih bertemu melalui kata dalam suasana yang masih sama; masih dipeluk oleh pandemi Covid-19. Tidak ada seorang pun dari kita yang pernah membayangkan kengerian ini sebelumnya. Bahwa dunia ini bisa kacau juga akibat Covid-19. Saya pribadi hanya pernah membayangkan dunia ini kacau karena perang yang terjadi antara negara yang satu dengan negara yang lain akibat perebutan kekuasaan suatu negara, hingga saingan teknologi mutakhir dalam urusan senjata. Kekacauan akibat Covid-19? Uh lala. Mana saya, kalian, mereka, bisa membayangkannya sebelumnya? Urusan mengingat filem bertema pandemi atau zombie, itu lain perkara. 

Baca Juga: Piknik Encim and The Gank di Tengah Pandemi Covid-19

Pada akhirnya kita tidak bisa terus-terusan work from home, kita tidak bisa selamanya berada di dalam rumah terkait kehidupan diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu diberlakukan sesuatu yang disebut new normal. Kehidupan baru yang mengharuskan manusia sebagai makhluk berakal untuk beradaptasi. Kehidupan new normal yang kita jalani sekarang adalah protokol kesehatan masa pandemi Covid-19 yaitu memakai masker, menjaga jarak dengan orang lain, mencuci tangan dengan sabun minimal dua puluh detik dan/atau membersihkan tangan menggunakan hand sanitizer sebelum menyentuh wajah (mata, hidung, mulut), rajin menyemprot disinfektan pada benda-benda mati yang sering tersentuh berjamaah antara lain gagang pintu dan meja.

New normal bagi para pekerja kantoran misalnya kalau sakit flu sebaiknya diam di rumah, apabila satu ruangan kantor terlalu banyak orang boleh dijadwalkan piket untuk menjaga jarak aman, apabila pekerjaan bisa dilakukan dan diselesaikan dari rumah sebaiknya dilakukan dan diselesaikan di rumah, dan lain sebagainya. Saya rasa sama juga new normal ini dengan mereka-mereka yang pekerjaannya tidak di satu ruangan (kantor) alias di luar rumah. 

Menulis tentang new normal, menurut saya pribadi, new normal bukanlah sesuatu yang new bagi umat manusia. Sejak lahir sampai sekarang kita mengalami begitu banyak new normal. Saya hanyalah orang awam yang coba melihat new normal dari kaca mata ... kaca mata awam juga ... tentu saja.

Ambil waktu dari saat Mama berhenti memberikan ASI karena sudah saatnya. Itulah new normal bagi umat manusia. Belajar meminum susu dan air dari botol (dot) bahkan gelas. Ho ho ho. Sudah paham sekarang? Saat manusia bisa berjalan, itu new normal yang lain dari tahapan kehidupannya. Bagi anak-anak dalam masa sekolah/pendidikan, hampir setiap tahun ada anak yang beradaptasi dengan new normal yang merupakan kehidupan/dunia sekolah. Sebelumnya bangun tidur boleh kapan saja, setelah sekolah bangun tidur harus lebih awal agar bisa mempersiapkan diri dan berbagai keperluan untuk sekolah. Sumpah, saat saya mulai bersekolah di TK, rasanya malas sekali membiasakan diri untuk bangun lebih awal. Huhuhu.

Bagi mereka yang menikah, kehidupan pernikahan merupakan new normal yang harus dihadapi dan dijalani hingga maut memisahkan, insha Allah. Yang sebelumnya hanya memikirkan diri sendiri, setelah menikah harus memikirkan dan mengurus rumah tangga (suami/isteri, dan anak). Yang biasanya makan di warung karena masih single, pada akhirnya demi penghematan dan kebersamaan dengan keluarga, harus memasak.

Kita juga harus sadar bahwa dunia digital/internet telah mengubah kita dan mau tidak mau memaksa kita menjalani new normal. Buku diary 'bermutasi' pada blog. Bekerja bisa dari mana saja selama ada koneksi internet. Surat tidak perlu berperangko jika dikirim melalui e-mail. Tugas-tugas siswa/mahasiswa dapat dikumpulkan melalui e-mail, WA, maupun blog. Dulunya melepas rindu bisa melalui telepon, sekarang video call saja! Rindunya lunas tuntas! Bahkan menonton video-video di Youtube merupakan new normal bagi saya setelah saya menjalani new normal yang lain yaitu tidak menonton televisi selama bertahun-tahun! Iya, new normal adalah kebiasaan baru yang kita jalani dalam hidup ini. Sesuatu yang dulunya dianggap bukan kebiasaan kemudian menjadi kebiasaan akibat daya dorong dari hal-hal lain.

Baca Juga: Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy

Covid-19 memang telah mengubah kehidupan umat manusia di dunia ini. Tidak pandang bulu. Entah kapan akan berakhir, itu yang kita belum tahu, oleh karena itu untuk menghadapi kehidupan kita sendiri haruslah kita beradaptasi dengan new normal ini. Itu menurut saya. Bagaimana menurut kalian? Yang jelas, salah satu new normal bagi saya saat ini selain mengikuti protokol kesehatan adalah berkebun hahaha. Covid-19, kita hanya bisa berupaya untuk menghindarinya ... 

Semoga bermanfaat.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Piknik Encim and The Gank di Tengah Pandemi Covid-19 . Halo semua! Sudah lama, lama, lama sekali kalian tidak bertemu tulisan baru di b...


Piknik Encim and The Gank di Tengah Pandemi Covid-19. Halo semua! Sudah lama, lama, lama sekali kalian tidak bertemu tulisan baru di blog ini. So sorry, keasyikan sama Horeday jadi lupa ngasih semacam notifikasi pada kalian. Hehe. Yang jelas, saya ingin mengucapkan Selamat Merayakan Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakannya, meskipun sudah lewat jauh, dan semoga puasanya pada Bulan Ramadan kemarin betul-betul membersihkan hati dan pikiran saya, kalian, mereka. Insha Allah. Amin.


Baca Juga: Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan

Sebenarnya sejak tahun lalu saya sudah berencana untuk close house (lawannya open house kan ya, haha). Rencananya Idul Fitri tahun 2020 ini saya bakal mengajak semua penghuni Pohon Tua termasuk Mamasia dan Mamalen untuk pelesir ke Riung. Kalau Riung terlalu jauh, menginap di hotel di Kota Ende pun boleh lah. Intinya kami tidak membikin kue, tidak memasak masakan khas Idul Fitri, serta tidak menerima tamu. Ndilalah, Covid-19 mewujudkan rencana itu *ngakak*. Kami memang tidak ke mana-mana alias #DiRumahSaja sekaligus tidak menerima tamu. Apakah dengan demikian pengeluaran terpangkas? Terpangkas sedikit, karena kami tetap membikin kudapan dan memasak meskipun jumlahnya sangat sedikit. Sesuai jumlah penghuni Pohon Tua dan anggota keluarga besar Pharmantara dan Abdullah Achmad (the only one kakak ipar laki-laki).


Hari kedua Idul Fitri saya pergi (untuk kedua kali) bersilaturahmi ke rumah Abang Nanu Pharmantara bersama Kakak Nani Pharmantara dan suaminya Ka'e Dul. Dari situ tercetus ide untuk piknik keesokan harinya. Selasa! Amboiiii rencana mendadak ini ... apakah terlaksana? Jelas! Melalui WAG Encim and The Gank, semua orang kebagian bekal bawaan. Piknik kali ini agak berbeda karena kami juga membawa tenda. Oh ya, bagi kalian yang penasaran dengan keseruan piknik Encim and The Gank ini, silahkan  nonton video berikut:


Sudah nonton videonya? 

Seru kan?


Nah, pasti ada yang bertanya mengapa kami 'berani-beraninya' piknik di tengah pandemi Covid-19 ini? Pasti kalian betul-betul emosi dengan keluarga kami kan? Hehe. Tidak apa-apa, setiap orang berhak untuk marah pada masa seperti sekarang ini. Inilah yang saya tulis pada deskripsi video tersebut:

Setelah sekian lama akhirnya keluarga besar kami, Keluarga Pharmantara dan Keluarga Abdullah Achmad, memutuskan untuk piknik. Kali ini pikniknya di Kali Nangaba. Meskipun piknik, kami tetap berusaha menjaga protokol kesehatan ya, gengs. Jangan marah atau menyalahkan keluarga kami karena piknik di tengah pandemi Covid-19. Yang perlu diketahui adalah bahwa Kali Nangaba itu panjaaaaang, dan area kering di sekitarnya sangat luas, sehingga jarak antara keluarga kami dengan orang lain lebih dari 10 meter. Tentu kami juga tidak ingin hal-hal buruk menimpa ... Insha Allah. Amin.

Tentu kami semua mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan. Semua kendaraan yang dipakai baik sepeda motor maupun mobil disemprot dengan disinfektan terlebih dahulu. Semua orang, sebelum berangkat, wajib mencuci tangan dengan sabun minimal dua puluh detik dan wajib memakai masker. Di Kali Nangaba (kami jarang menyebut sungai), jarak antara rombongan kami dengan orang-orang lainnya lebih dari sepuluh meter, bahkan lebiiiiiih lagi. Setiap orang tentu tidak mau terinfeksi Covid-19 bukan? 


Saya berharap kalian juga demikian ... masih bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga di tengah pandemi Covid-19. Amin.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Mengintip Talkshow Keren a la Blogfam di Live Instagram . Saya sudah menulis tentang Blogfam Reborn , tetapi belum sempat dipublis. N...


Mengintip Talkshow Keren a la Blogfam di Live Instagram. Saya sudah menulis tentang Blogfam Reborn, tetapi belum sempat dipublis. Nanti deh. Blogger Family (Blogfam) bukan nama baru di kancah komunitas blog Indonesia. Ada beberapa komunitas blogger yang terinspirasi dari Blogfam dan dibangun oleh anggota Blogfam itu sendiri. Meskipun sempat mengalami mati suri namun Blogfam tetap dan akan selalu ada. Kali ini Blogfam kembali dengan inovasi baru yang menurut saya ... sudah seharusnya dilakukan hehe. Karena apa? Karena anggota Blogfam itu hebat-hebat dan bolehlah berbagi cerita, informasi, ilmu, pengalaman, kepada orang lainnya.

Baca Juga: Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online

Meskipun bersifat daring, karena komunitas blogger pasti terjadi atau ada atau dibangun karena daring, tapi Blogfam sudah melaksanakan ratusan kegiatan luring. Itu dulu, ketika level kesibukan setiap anggota belum tiba di nirwana. Haha. Saat ini, setiap anggota super sibuk (termasuk saya, oih), ditambah lagi dengan Covid-19 yang mengharuskan kita lebih sering berada di rumah. Menyikapinya, maka bersingungan dengan Blogfam Reborn, dilakukan kegiatan keren yang tidak mengharuskan anggotanya keluar rumah. Cukup bermodalkan telepon genggam dan pulsa internet, voilaaaaa ...

Talkshow Live Instagram


Talkshow live Instagram dilakukan melalui aplikasi Instagram. Tajuk besar yang diambil adalah NGOBLOG: NGOBROL BARENG BLOGFAM. Kegiatan ini sudah berjalan? Sudah dong! Sudah dua kali malah.



Dan akan berlanjut pada yang berikut ini:



Jangan lewatkan, ya!

Teknisnya?


Nah ini dia, kita bicara tentang #SelasaTekno hehe. Awalnya saya juga bingung karena belum pernah melakukan live Instagram. Setelah saya cari tahu, ternyata mudah saja. Anyhoo, Instagram Live adalah fitur di Instagram Stories yang memungkinkan pengguna untuk mengalirkan video ke pengikut dan terlibat dengannya secara real time. Saat pengguna menyiarkan streaming video langsung di akun mereka, sebuah cincin menyoroti gambar profil mereka di Cerita Instagram untuk memperingatkan pengikut bahwa mereka dapat melihat siaran langsung. Selain itu, kita juga bisa mengundang pengguna Instagram lain bergabung ... makanya dapat tercipta talkshow.

Mudah saja:

Login pada akun Instagram yang akan melakukan live, kemudian setelah live kita bisa mengundang narasumber yang sudah disepakati (tentu sedang daring juga narasumbernya). Selesai.


Bagi kalian yang haus informasi-informasi keren, pastikan untuk mengikuti akun Blogfam di Instagram dan selalu memantau. Rugi lah kalau kalian melewatkan informasi-informasi keren itu. Hehe. Insha Allah akan bisa terus berjalan.

Baca Juga: Ternyata Ada Teknologi Self-Sanitizing Door Handle Loh

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua. Ingat selalu pada masa Covid-19 ini jagalah protokol kesehatan. Menjaga jarak (aman), memakai masker, mencuci tangan dengan sabun minimal dua puluh detik dan/atau mencuci tangan dengan hand sanitizer, menyemprot disinfektan. Salam semangat dan salam sehat untuk kita semua.

#SelasaTekno



Cheers.