BlogPacker

I Write My All

LightBlog

Credits : GQ . Knives Out Bukan Sekadar Filem Drama Misteri Sederhana . Sudah lama tidak menonton aksi Daniel Craig, begitu melihat s...

Credits: GQ.

Knives Out Bukan Sekadar Filem Drama Misteri Sederhana. Sudah lama tidak menonton aksi Daniel Craig, begitu melihat sosoknya dalam Knives Out, saya langsung bersorak gembira. Satu-satunya aksi Daniel Craig dalam James Bond yang saya nonton di bioskop hanyalah Skyfall. Waktu itu nontonnya di XXI Kota Kasablanka. Aksi lainnya saya nonton di laptop. Kangen sama sosok Daniel Craig yang kharismatik. Haha *dikeplak dinosaurus*. Kehadirannya dalam Knives Out sebagai Detektif Benoit Blanc berpikiran tajam sungguh tepat. Tidak bisa saya bayangkan jika yang berperan sebagai detektif Benoit Blanc adalah Tom Cruise. Tapi kalau Jack Sparrow, eh, Johnny Depp, boleh lah. Anyhoo, apabila ada dari kalian yang pernah atau sudah menonton Knives Out, pasti kalian setuju kalau filem ini memang bukan sekadar drama misteri sederhana.

Baca Juga: Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama Has Fallen

Overall, Knives Out ber-genre misteri/thriller dengan sedikit bumbu komedi, dirilis di Indonesia pada tanggal 10 Desember 2019. Filem berdurasi dua jam sepuluh menit ini disutradarai oleh Rian Johnson. Boleh dibilang Knives Out bertabur bintang. Selain Daniel Craig, kalian bisa melihat wajah-wajah lama antara lain Jamie Lee Curtis, Michael Shannon, Chris Evans, Don Johnson, Ana de Armas Toni Collette, Lakeith Stanfield, Katherine Langford, Jaeden Martell, dan Christopher Plummer. Ngelihat Jamie Lee Curtis, dalam hati saya cuma bisa bilang: orang ini awet muda. Haha. Segitunyaaaaaa.

Marilah kita cek seperti apa ketidaksederhanaan Knives Out.

1/4 Durasi Pertama


Di awal filem penonton disuguhkan kematian seorang lelaki, penulis novel misteri, bernama Harlan Thrombey (Christopher Plummer). Harlan ditemukan meninggal dunia oleh asisten rumah tangga bernama Fran (Edi Patterson) dalam posisi tidur di sofa ruang kerjanya. Berdasarkan posisi  dan kondisi saat ditemukan, diketahui bahwa Harlan bunuh diri dengan menyayat sendiri lehernya menggunakan pisau. Tetapi hal ini kemudian menjadi aneh karena malam sebelumnya Harlan dan keluarga besarnya (ibu, anak, menantu, cucu) baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-85. Everything was looks so good. Adalah di luar nalar seorang yang bahagia memutuskan untuk bunuh diri. Mungkin ada, tapi secara umum dan logika, itu tidak masuk akal.

Maka, dua polisi setempat yaitu Letnan Detektif Elliot (Lakeith Stanfield) dan Trooper Wagner (Noah Segan) melakukan interogasi dan investigasi di kediaman Harlan, sekitar satu minggu setelah kematiannya. Kediamannya ini semacam kastil pribadi yang terletak di tengah hutan begitu. Orang kaya mah bebas mau rumahnya kayak apa dan letaknya di mana. Haha. Elliot dan Trooper dibantu oleh investigator profesional yaitu Detektif Benoit Blanc (Daniel Craig). Adalah suatu misteri ketika Benoit mengatakan bahwa kehadirannya di rumah itu karena dia disewa oleh seseorang. Artinya ada orang yang berpendapat bahwa kematian Harlan bukanlah bunuh diri melainkan dibunuh.

1/4 durasi pertama penonton disuguhkan dengan potongan-potongan investigasi antara Elliot, Trooper, dan Benoit, dengan anak-anak, menantu-menantu, cucu-cucu. Setiap orang yang diinvestigasi menceritakan alibi mereka masing-masing pada malam perayaan ulang tahun Harlan (a little flashback). Oleh karena itu saat investigasi itu penonton juga bakal tahu tentang ibu Harlan. Menurut saya, potongan-potongan investigasi ini merupakan cara sutradara untuk memperkenalkan dengan lugas semua tokoh di dalam Knives Out. Nama, status, pekerjaan, hingga ambisi masing-masing. Mari kita berkenalan dengan mereka.

Harlan Thrombey, sudah kalian ketahui, lelaki kaya raya yang meninggal konon karena bunuh diri. Linda Drysdale-Thrombey (Jamie Lee Curtis), anak Harlan yang digambarkan tegas serta punya rasa percaya diri yang kuat. Suami Linda bernama Richard Drysdale (Don Johnson). Anak Linda bernama Ransom Drysdale (Chris Evans) - hyup Captain America. Hehe. Walter "Walt" Thrombey (Michael Shannon) si anak 'gagal' yang beristerikan Donna (Riki Lindhome) dan punya seorang anak lelaki ABG bernama Jacob Thrombey (Jaeden Martell). Joni Thrombey (Toni Collette) adalah menantu Harlan dari anak Harlan yang bernama Neil Thrombey (tidak ada di dalam filem karena diceritakan sudah meninggal); tapi apakah dia masih boleh memakai marga Thrombey? Ah, sudahlah. Joni punya anak perempuan bernama Meg Thrombey (Katherine Langford). Great Nana Thrombey (K Callan) adalah ibu Harlan. Satu-satunya pemeran yang tidak punya hubungan darah dengan Harlan di dalam rumah itu adalah Fran dan Marta Cabrera (Ana de Armas) yang adalah perawat pribadi Harlan.

Kenapa poin ini saya beri judul 1/4 durasi pertama? Karena pada 1/4 durasi pertama penonton yang tidak sabar bakal langsung kecewa karena sudah ketahuan siapa yang menyebabkan Harlan meninggal dunia. Jadi, Harlan tidak bunuh diri? Hyess. Dia dibunuh. Pertanyaannya ... oleh siapa? Kalian akan merasakan ketegangan twist-plot ketika menontonnya dengan sungguh. Oleh karena itu Knives Out bukanlah sekadar filem drama misteri sederhana.

Plot yang Mengarahkan


Siapa pun yang menonton Knives Out pasti tahu bahwa sutradara memang sengaja mengarahkan segalanya pada Marta, si perawat pribadi, karena memang seperti itulah kisahnya. Marta salah menyuntik obat pada Harlan pada malam usai perayaan ulang tahun, dia tersadar tetapi terlambat menyelamatkan serta Harlan pun tidak mau diselamatkan. Harlan tahu dalam sepuluh menit dia bakal mati, lantas dia menyusun skenario agar Marta tidak dipenjarakan. Upaya penyelamatan Marta. Maklum, Harlan kan penulis novel misteri. Segalanya berjalan dengan mulus, bahwa Harlan bunuh diri, sampai satu minggu kemudian investigasi dilakukan. Marta harus berhadapan dengan Benoit yang berpikiran super tajam.

Nampaknya terlalu sederhana jika perkara ini beres begitu saja. Marta memang menyembunyikan rahasia obat yang disuntiknya itu, serta apa saja yang diperintahkan oleh Harlan agar dirinya tidak menjadi tersangka. Tetapi sosok misterius yang meminta Benoit ikut campur harus digali lebih dalam. Inilah hebatnya Rian Johnson mengaduk emosi penonton. Oh jadi si Fran. Eh? Bukan Fran? Loh ... kenapa jadinya begini?

Marta semakin tidak berdaya ketika ternyata Harlan mewariskan semua harta kepadanya. Dia semakin terseret arus permainan Ransom, cucu Harlan, yang sejak awal jarang dipertontonkan. Mempercayai Ransom adalah tindakan yang keliru, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan Marta. Hingga akhirnya, ketika Marta nyaris membocorkan obat yang salah disuntiknya pada Harlan di hadapan keluarga besar Thrombey, Benoit membatalkan niatnya tersebut. Menurut Benoit, ibarat donat, perkara ini tidak ada lubangnya. Dan di menit-menit terakhir dia menemukan lubang tersebut. Ya, Ransom adalah biang dari segalanya. Meskipun sejak lepas dari 1/4 durasi pertama penonton bertanya-tanya ... karena semua orang bisa jadi tersangka. Dan penonton harus menahan hafas pada 1/4 durasi terakhir. Seperti bermain gasing.

Mari, tepuk tangan yang meriah untuk Rian Johnson. Kenapa? Karena saya sampai tidak bisa menceritakan lebih banyak saking terlalu banyaknya detail di dalamnya. Termasuk identitas keluarga Marta yang masih menjadi imigran gelap. Byuuuuh.

Game of Thrones


Apakah saya saja yang memikirkannya atau kalian juga? Knives Out mengingatkan saya pada serial Game of Thrones. Mungkinkan Rian Johnson sengaja mengajak penonton bernalar dan menganalisa tentang perebutan kekuasaan yang dalam hal ini adalah kekayaan Harlan? Dari mana saya bisa mengambil kesimpulan seperti itu?

1. Kursi Berlatar Pisau-Pisau


Pada kursi tempat detektif melakukan interogasi, terdapat latar bulatan besar dengan pisau-pisau (buanyak!). Kalian tentu masih ingat dengan singgasana maut dari Game of Thrones bukan?

Credits: Deadline.

Lihat gambar di atas. Singgasana maut. Hehe.

2. Setiap Orang Punya Kepentingan


Ini sangat jelas terlihat sejak awal Knives Out dimulai. Linda tentu menginginkan harta Harlan. Walter menginginkan usaha penerbitan Harlan dan sayangnya pada malam perayaan ulang tahun Harlan justru memecat Walter. Joni melakukan penggelapan biaya sekolah Meg dan dia langsung dikonfrontir oleh Harlan. Richard harus berhati-hati karena Harlan mengetahui perselingkuhannya. Ransom juga termasuk orang yang terkejut ketika tahu Harlan mewariskan semua hartanya pada Marta. Dan lain sebagainya. Setiap orang punya kepentingan dan berusaha agar Harlan mau bermurah hati pada mereka. Sama juga, kita menemukannya di Game of Thrones. Semua orang ingin duduk di singgasana maut itu.

3. Game of Thrones Dalam Dua Jam Sepuluh Menit


Kalau boleh, saya menulisnya begitu. Berapa banyak intrik di dalam Game of Thrones? Kita mungkin harus meminjam jari tangan orang lain untuk menghitungnya. Berapa banyak season? Berapa panjang durasinya? Kalian hitung sendiri. Tetapi Game of Thrones menyingkat semuanya hanya dalam dua jam sepuluh menit. It's a wow.

Anyhoo ...

Anyhoo ...

Jangan emosi dulu. Saya tidak membandingkan Knives Out dengan Game of Thrones. Jadi, bagi pecinta Knives Out maupun Game of Thrones jangan marah-marah, ya. Haha.


Setelah menonton Knives Out sebanyak dua kali, baru saya bisa menulis review yang cukup panjang ini. Artinya saya sungguh niat. Haha. Sebagai penikmat filem, terutama filem misteri, Knives Out merupakan filem misteri terbaik yang pernah saya tonton, saking kuatnya! Apanya yang kuat? Plot, karakter, twist-plot yang masuk akal, dialog, dan lain sebagainya. Ibarat makanan, Knives Out berporsi besar, lambung penuh, tidak tersisa sedikit pun ruang untuk angin bertengger. Rian Johnson memainkan detail dengan sangat sempurna. Detail yang tidak saya duga pada 1/4 durasi awal filem ini. Sekali lagi, mari kita tepuk tangan untuk sang sutradara!

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Bagi kalian yang akhir minggunya di rumah saja, dan belum menonton Knives Out, silahkan dicari filemnya dan buktikan apa yang sudah saya tulis di sini. Tapi, apabila pendapat kita berbeda, jangan saling menghujat, ya. Silahkan sampaikan pendapat kalian tentang filem ini di blog sendiri, maupun di komentar di bawah. Yang jelas, saya jamin kalian tidak akan merasa rugi atau membuang-buang waktu dengan menonton Knives Out. Ini filem super bagus!

Have a great weekend, guys!

#SabtuReview



Cheers.

5 Ranah Hukum di Indonesia yang Wajib Kalian Tahu . Apa saja ranah hukum di Indonesia yang kalian ketahui? Kalau kalian hanya tahu tenta...


5 Ranah Hukum di Indonesia yang Wajib Kalian Tahu. Apa saja ranah hukum di Indonesia yang kalian ketahui? Kalau kalian hanya tahu tentang Hukum Pidana, Hukum Perdata, dan Hukum Adat, sudah sangat bagus! Karena itu merupakan ranah hukum yang paling sering berhubungan dengan masyarakat Indonesia setiap harinya. Tetapi tentu masih banyak ranah hukum yang patut kalian ketahui seperti Hukum Agraria karena berhubungan dengan tanah dan/atau kepemilikan tanah, sampai tata cara mengurus sertifikat di Kantor Pertanahan. Masih ada yang lain? Banyak! Ada Kompilasi Hukum Islam, ada Hukum Lingkungan, dan lain sebagainya. Itu pun belum termasuk hukum beracara (di pengadilan). Semua ada aturannya, semua ada tata caranya. 

Baca Juga: 5 Alasan Kalian Harus Melakukan Flores Overland Sekarang

Setelah melihat, memikirkan, dan menimbang, pada akhirnya saya harus menulis ini. Orang bilang: akhirnya tidak tahan juga. Bukan, bukan karena saya adalah pakar hukum. Tetapi sebagai orang yang pernah belajar hukum ada keinginan untuk menulis tentang dunia hukum juga, meskipun hanya materi seringan ini. Saya berpikir teman-teman yang tidak belajar hukum pun membutuhkan sedikit pengetahuan agar tidak salah kaprah. Dalam skala yang lebih luas, masyarakat umum pun sudah seharusnya tahu semua ranah hukum yang ada termasuk peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Karena, faktanya masih ada masyarakat yang belum tahu tentang Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Atau, masih ada yang belum tahu Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Makanya masyarakat pasrah saja setiap kali kolektor menyita kendaraan yang merupakan barang fidusia. Byuuuuh. Enggak boleh segampang itu barang fidusia disita. Huhu.

Sekarang, mari kita coba lihat lima ranah hukum yang menurut saya wajib diketahui oleh kalian semua. Cekidot!

1. Hukum Pidana


Hukum Pidana termasuk dalam hukum publik dan secara umum diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Ringkasnya Hukum Pidana mengatur hubungan antara masyarakat dengan pemerintah agar terwujud tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik. Oleh karena itu kita sering mendengar kata pelanggaran dan/atau melanggar. Memaki teman di media sosial, apalagi sampai menyebut nama, melanggar apa yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Dan itu ranahnya Hukum Pidana. Mencuri, membunuh, memperkosa, memanfaatkan anak di bawah umur untuk mencari nafkah, hingga menipu, semuanya berada dalam ranah Hukum Pidana. Dan ada undang-undang yang mengaturnya. Saya menyebutkan undang-undang turunan karena undang-undang tersebut disusun secara khusus dari apa yang sudah diatur di dalam KUHP.

2. Hukum Perdata


Disebut juga hukum privat dan secara umum diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPdt). Ringkasnya Hukum Perdata mengatur hubungan antara sesama manusia. Haha. Apa saja yang diatur di dalam Hukum Perdata? Banyak! Antara lain waris, anak, dan perjanjian/perikatan. Banyak pula undang-undang turunan dari KUHPdt ini. Ada saudara kalian yang ingin menguasai semua harta warisan orangtua? Larinya tentu ke Hukum Perdata. 

3. Hukum Adat


Saya paling suka berdiskusi tentang Hukum Adat. Apabila kalian tinggal di Kabupaten Ende, maka pasti sering mendengar istilah wale. Wale semacam pengembalian harkat dan martabat manusia setelah dilecehkan. Ambil contoh, ketika Fulan memperkosa Fulana, maka kasusnya dapat diteruskan ke ranah Hukum Pidana. Tetapi rembug kedua keluarga dapat saja menghasilkan: diselesaikan secara kekeluargaan. Disebut wale. Ada jumlah harta/benda tertentu yang harus diserahkan Fulan kepada Fulana sebagai wujud wale. Kalau wale sudah dilakukan maka kasus pemerkosaan tersebut tidak diteruskan ke ranah Hukum Pidana. Hukum Adat masih sangat kuat dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia terutama Masyarakat Hukum Adat. Apa saja yang diatur oleh Hukum Adat? Banyak! Selain tentang wale, ada tentang waris, ada tentang perkawinan, dan lain sebagainya.

4. Hukum Agraria


Ini dia hukum yang mengatur segala urusan tentang tanah. Kalian pasti akan berurusan dengan Kantor Pertanahan sebagai pihak yang mengeluarkan sertifikat tanah. Apabila ada tanah kalian yang belum bersertifikat, segera diurus, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Tapi kalau tanahnya merupakan tanah kerukan bakal bangun rumah, jangan coba-coba. Hahaha. Sebelum menerbitkan/mengeluarkan sertifikat tentu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh masyarakat. Tapi jangan kuatir, semua syaratnya itu adalah perkara-perkara dasar seperti KTP, rekomendasi ini itu, sampai dengan sertifikat asli dan/atau surat jual-belinya, sampai pada pengukuran ulang.

5. Hukum Lingkungan


Andai saja hukum lingkungan juga mengatur tentang sanksi terhadap masyarakat yang membuang sampah di sembarang tempat, saya bakal setuju sekali. Hehe. Hukum lingkungan mengatur banyak hal, salah satunya tentang lokasi tambang hingga jarak antara lokasi tambang dengan rumah penduduk. 


Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat pasti berhubungan dengan lima ranah hukum di atas, apabila dibandingkan dengan Hukum Tata Negara. Setiap hari pasti terjadi pencurian, penipuan, pelanggaran lalu lintas, pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, sampai emosi meledak-ledak di media sosial. Setiap hari pasti terjadi perjanjian/perikatan antara orang per orang atau orang dengan kelompok tertentu, perkawinan, sampai perebutan harta warisan. Setiap hari pasti terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh anggota Masyarakat Hukum Adat, seperti menggunakan tanah hak ulayat untuk membangun rumah pribadi. Setiap hari pasti terjadi kerusakan lingkungan oleh Bahan Berbahaya dan Beracun (3B).

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Menjadi warga negara yang baik, tentu merupakan harapan setiap orang. Tapi bagaimana bisa terwujud apabila masih ada masyarakat yang tidak tahu tentang hukum, serta peraturan yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara? Memang bukan tugas saya, tetapi setidaknya saya juga tergelitik untuk bisa membagi informasi kepada masyarakat umum/awam tentang dunia hukum. Alhamdulillah, meskipun bukan advokat (ngimpi) tapi saya masih bisa menyarankan ini itu kepada orang-orang yang dimulai dari anggota keluarga sendiri. Dan saya pikir, dengan mengetahui hukum yang mengatur kehidupan kita, setidaknya kita jadi lebih tahu diri dan lebih berhati-hati dalam bertindak. Bukan begitu? Begitu bukan? Hehe.

Semoga pos ini bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.

Ini Dia Produk Do It Yourself Pertama yang Saya Bikin . Apa nama yang tepat untuk kerajinan tangan yang satu ini? Huruf timbul kah? Ata...


Ini Dia Produk Do It Yourself Pertama yang Saya Bikin. Apa nama yang tepat untuk kerajinan tangan yang satu ini? Huruf timbul kah? Atau ...? Kalau kalian tahu, tolong komen di bawah. Haha. Katakanlah namanya huruf timbul. Maka, huruf timbul ini saya bikin berbahan barang bekas yaitu karton super tebal, kardus bekas, dan kalender lama. Alat-alatnya tentu gunting, pisau cutter, dan lem. Membikinnya memang tidak lama. Saya hanya mengandalkan tulisan tangan untuk membentuk huruf-huruf tersebut. Hanya saja saya masih aneh sama huruf r-nya. Tapi tetap bisa kalian baca kan? BlogPacker. Sampai dengan menulis ini, saya masih ingin membikin lagi huruf timbul serupa. Semacam penyempurnaan. Tapi ... entah.

Baca Juga: Membikin Sendiri Rak Kue Susun Tiga Bertema Marshmello

Bagaimana dengan kalian? Pernah membikin produk DIY yang seperti ini juga? Dan ya, sekali lagi, apabila kalian tahu nama yang tepat untuk kerajinan tangan ini, mohon komen di bawah.

That's all.

Selamat berkreasi!

#RabuDIY



Cheers.

Pen Fan yang Asyik Dikantongi oleh Para Bullet Journalist . Menulis bullet journalist membikin perasaan saya hancur berkeping-keping...


Pen Fan yang Asyik Dikantongi oleh Para Bullet Journalist. Menulis bullet journalist membikin perasaan saya hancur berkeping-keping. Pertama, sampai dengan saat ini saya masih belum bisa membikin bullet journal. Jelas, saya masih menyimpan rasa iri pada Mak Bowgel si Ewa Febri. Blogger super kreatif yang menciptakan banyak karakter ucul salah satunya bernama Bowgel. Tapi dia lebih dikenal sebagai bullet journalist Indonesia. Selain blog, channel Youtube-nya juga memuat banyak informasi tentang bullet journal. If you wannabe a bullet journalist, learn from her! Iya, karena dia dengan tabah sabar bakal ngasih tahu step by step. Apa pasal sampai saya belum bisa membikin bullet journal? Salah satunya karena buku khusus untuk itu tidak dijual di Ende. Ini memang alasan paling mengada-ada. Salah duanya karena saya tidak konsisten. Huhu.

Baca Juga: Mendesain Quote-Quote Menarik, Lucu, dan Unik di Canva

Saya tidak menulis dari sisi seorang bullet journalist, dikarenakan saya bukan seorang bullet journalist, tapi menulis dari sisi seorang yang punya Are Kune: buku catatan rencana harian. Buku itu T-Journal lah. Menulis T-Journal sudah saya lakukan sejak tahun-tahun kemarin, berganti-ganti buku, sampai kemudian mandek gara-gara sering kelupaan. Tuh kan ... pelupa. Tetapi pengalaman bersama Are Kune mengajarkan saya bahwa agar tulisan kita di buku menjadi lebih menarik tentu dibutuhkan begitu banyak alat tulis! Dan yaaaaa saya punya satu dompet khusus yang memuat alat-alat tulis tersebut. Sebut saja pinsil dan setip. aneka bolpoin, stabilo, sampai satu set spidol warna-warni. Uh wow sekali kan ... amunisi lumayan lengkap, malah sering mengabaikan Are Kune karena lupa.

Untuk seorang yang hanya menulis jurnal biasa saja punya amunisi seperti itu, bagaimana dengan bullet journalist? Tentu dibutuhkan lebih dari itu! Manapula Ewafebri itu kan juga menciptakan karakter-karakter uculnya sendiri. Sumpah saya iri sama bakatnya. Kalian bisa melihat sendiri di blog dan channel Youtube-nya, apa saja amunisi seorang bullet journalist itu. Sekarang saya mau melanjutkan tentang Pen Fan

It's funny.

Hyeeeep.

Gara-gara melihat-lihat di Yanko Design, jadi ingat bullet journal dan Ewafebri. Haha.

Dari situs Yanko Design dikatakan bahwa Pen Fan dikreasikan sebagai persilangan antara kartu pantone dan seperangkat/set alat tulis. Kalian tahu kartu pantone? Itu loh kartu warna yang mirip kipas. Makanya Pen Fan juga disebut menyerupai kipas a la Orang Jepang. Pen Fan merupakan spidol bertubuh pipih/tipis yang bagian ujungnya serupa ujungnya stabilo. Terdiri dari delapan warna berbeda yang bisa dipisah-pisah dan bisa disatukan seperti kipas mini. Nanti kalian bisa melihat pada gambar-gambar yang saya ambil dari Yanko Design di bawah. Pen Fan ini merupakan salah satu dari beberapa item yang dipilih sebagai Stationery Design to Kick Start Your Bullet Journaling Journey. Jadi bukan hanya Pen Fan, tetapi ada juga barang-barang lainnya untuk para bullet journalist.

Kenapa saya memilih menulis Pen Fan saja? Karena ini cukup unik dan dibutuhkan oleh hampir semua orang baik bullet journalist maupun cuma penulis diary seperti saya. Delapan warna yang dihadirkan oleh Pen Fan merupakan warna-warna yang cukup rajin dipakai oleh kita seperti merah, oranye, kuning, hijau, biru muda, biru tua, ungu tua, ungu muda. Apa ya nama yang tepat. Nanti deh kalau kalian melihat gambarnya, berikan komentar. Desain Pen Fan sangat unik. Meskipun kalian bukan tipe orang yang suka menulis atau mencoret-coret ini itu dengan spidol, tapi pasti pengen punya juga. Seperti saya. Pengen itu belum dikategorikan dosa. Haha. Tapi kalau pengen mencuri, ya jelas dosa.

Pen Fan dibikin oleh Arman Emami dari EMAMIDESIGN. Hebatnya lagi Pen Fan memenangkan Red Dot Design Concept Award for the year 2019. Tuh kan. Memang keren sih. 

Tidak perlu banyak cing-cong, silahkan ngiler sama gambar-gambar berikut ini.




Menggemaskan!
Yaaa siapa tahu Pen Fan sudah dijual di kota kalian, saya siap menerima kok seandainya kalian mau mengirimkannya ke Kota Ende. Haha. Maunyaaaa. Tapi benar loh ya, para bullet journalist pasti pengen punya Pen Fan. Bukan begitu, Mak Bowgel? Hehe.

Semoga bermanfaat, kawan.

#SelasaTekno



Cheers.

Jangan Biarkan Anak-Anak Kecanduan Telepon Genggam . Sudah lama, dan sudah sering, saya mengingatkan kepada semua keponakan untuk menja...


Jangan Biarkan Anak-Anak Kecanduan Telepon Genggam. Sudah lama, dan sudah sering, saya mengingatkan kepada semua keponakan untuk menjauhkan anak-anak mereka dari telepon genggam. Sabar dulu ... anak-anaknya keponakan. Artinya ... cucu? Iya, saya sudah punya cucu. Haha. Sudah, jangan dibahas! Tapi zaman sekarang, hiburan untuk anak-anak tidak hanya bersumber dari televisi dan majalah sekelas Bobo. Bahkan kalau boleh saya bilang sumber hiburan anak-anak justru telepon genggam: menonton kartun di Youtube dan nge-game. Tentunya telepon genggam tersebut sudah terkoneksi dengan internet. Oleh karena itu, saya menjadi biasa saja ketika melihat para bocah menonton kartun di telepon genggam. Tetapi saya menjadi sangat tidak biasa ketika melihat para bocah kecanduan telepon genggam.

Baca Juga: Membikin Konten Youtube Memang Harus Tekun dan Ulet

Di sini kita memang harus sepemahaman dulu. Bocah memegang telepon genggam, menonton kartun atau nge-game, boleh? Iya, boleh. Tapi kalau mereka kecanduan, itu tidak boleh. Saya pikir sebagai orang tua kita tidak boleh egois. Ingat zaman dulu? Kita memang bermain di luar rumah bersama teman-teman, tetapi kita juga boleh menonton televisi.

Lalu, bagaimana caranya agar anak-anak tidak kecanduan telepon genggam? Yang paling utama adalah aturan yang ketat di dalam rumah. Keponakan saya, Thika Pharmantara, memang bukan bocah lagi. Tapi mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Flores (Uniflor) itu kecanduan telepon genggam. Pagi, siang, malam, hiburan hidupnya bersumber dari telepon genggam. Tetapi kemudian saya menjadi sangat keras sehingga dipanggil Bu Renggo sama dia. Pada tahu Bu Renggo? Itu karakter ibu dalam serial zaman baheula di TVRI berjudul Kisah Serumpun Bambu. Saingan sama Bu Subangun. Ha ha ha. Pokoknya sikap apapun yang termasuk kejam dan bikin suasana tak menyenangkan bakal dibilang renggo: dasar, kelakuannya renggo banget. Renggo berubah dari nama karakter menjadi kata sifat.

Kembali ke Thika. Anak itu kemudian saya berikan tugas: membaca buku setiap hari. Jadi, selain kuliah dan memasak, Thika juga wajib membaca buku. Pada akhirnya frekuensi Thika memegang telepon genggam agak berkurang. Saya tahu, awalnya pasti sulit bagi orang-orang yang kecanduan untuk lepas dari candunya. Oleh karena itu pada hari-hari awal, saya memantau, saya bertanya sudah sampai halaman berapa, dan apa isinya. Alhamdulillah, dia bisa menceritakan bahkan dengan detail isi buku Belum Kalah yang ditulis oleh Pater Avent Saur. Kisah tentang ODGJ yang selama ini ditangani ole Pater Avent Saur dan KKI.

Dari Thika, mari bergeser ke Yoan. Yoan, bocah kelas 2 SD, adiknya Melly, anaknya Mama Len dan Om Sius. Karena setiap hari Mama Len pasti berada di rumah untuk membantu kami menjaga Mamatua, maka Yoan pun pasti ikut. Sebenarnya, sebelum Mama Len membantu kami menjaga Mamatua, Melly sudah lebih dulu bermain dan menginap di rumah kami (tetangga dekat). Dua bulan lebih saya perhatikan, setiap hari Yoan bakal ribut sama Melly perihal telepon genggam. Jadi ceritanya, setiap siang dia bakal tiduran di lantai ruang tamu yang adem itu, sambil menonton video di Youtube, dan tidak boleh ada seorang pun yang boleh mengambil telepon genggam itu darinya. Bayangkan. Haha. Awalnya saya bingung melihat tingkah bocah ini, tapi lama-lama saya paham bahwa dia sudah kecanduan telepon genggam.

Bayangkan saja bocah SD kecanduan telepon genggam. Mungkin sudah banyak bocah di dunia ini yang mengalaminya tapi yang nyata di depan mata saya ya si Yoan. Bahkan kalau disuruh, dia bersikap seakan tidak mendengar, sampai saya mengancam dengan mematikan Wi-Fi, barulah dia bergeser dan bergerak. Ugh, telepon genggam memang bikin mager kan ya *ngikik*.

Apa doooong yang harus dilakukan agar anak-anak tidak kecanduan telepon genggam? Seperti yang sudah saya tulis di atas, yang paling utama adalah aturan yang ketat di dalam rumah. Kalau untuk Thika, aturan ketat ini berjalan tanpa harus dikomando dua kali. Tapi bagaimana dengan anak-anak yang terbiasa kemauannya dipenuhi dan suka membantah orangtua? Itu sulit, karena faktor kebiasaan memang sulit diubah. Yang kedua, setelah adanya aturan yang ketat di dalam rumah, kita perlu merangsang anak-anak melakukan kegiatan lain yang bermanfaat. Ya itu tadi, kembali pada faktor kebiasaan di dalam rumah. Kegiatan bermanfaat antara lain membaca, menulis, berkebun, hingga mengobrol (tentang sekolah, tentang do and don't, tentang aturan agama, dan lain sebagainya). Yang ketiga, bikin papan tugas dengan kuadran. Bocah suka dengan hadiah, cokelat misalnya. Berikan hadiah apabila kuadran waktu tugas-dalam-rumah dikerjakan dengan baik.

Zaman dulu, waktu saya masih kecil, waktu luang harus diisi dengan kegiatan bermanfaat seperti pergi ke rumah Ustadz untuk belajar mengaji, membaca, dan menulis. Bahkan waktu masih berlangganan majalah Bobo, saya baru boleh membaca majalah yang diantar Om Tino setelah menyapu rumah dan mencuci piring. Tentu saya juga diijinkan bermain di luar rumah: bermain tanah, bermain masak-masak, bermain siput, bermain dakon, juga bermain wayang dan gundu! Pokoknya boleh bermain di luar rumah asalkan harus ingat aturan yang sudah diberlakukan. Itu namanya tanggung jawab sama diri sendiri.

Baca Juga: Menulislah Dengan Baik Meskipun Tidak Selalu Harus Benar

Well, semoga pos ini bermanfaat bagi kalian semua. Bukan hanya untuk Bapak/Ibu yang sudah dikaruniai anak, tetapi bagi semua orang karena anak adalah tanggung jawab kita bersama. Dan ingat, ini bukan menggurui tetapi berdasarkan pengalaman pribadi saja.




Cheers.

Universe -nya Gerard Butler Itu Bernama Has Fallen . Pertama tahu Gerard Butler dari sebuah filem berjudul Law Abiding Citizen . Filem...


Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama Has Fallen. Pertama tahu Gerard Butler dari sebuah filem berjudul Law Abiding Citizen. Filem itu betul-betul sedap, menurut saya, karena menghadirkan pembalasan dendam seorang laki-laki atas kematian isteri dan anaknya. Dia tidak hanya membalas dendam pada si penjahat tetapi juga pada para aparat penegak hukum yang telah bertindak tidak adil padanya. Hebatnya lagi dia membaca buku hukum, kalau di Indonesia setingkat Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, termasuk semua amandemennya. Kalau itu masih belum hebat, dia hafal dan/atau mengingat semua isi buku hukum tersebut. Dalam dunia nyata, menghafal isi sebuah buku setingkat novel bukanlah perkara sulit. Tetapi jika buku itu adalah buku hukum, pasti sulit. 

Baca Juga: Kalau Kalian Pemberani Coba Nonton Nerorrist by Nessie

Terlepas dari Law Abiding Citizen nan sedap, Gerard Butler juga dikenal lewat filem-filem lain. Tiga diantaranya merupakan fransais dari Has Fallen atau Fallen.

Tahun 2013, sepanjang dua jam kita betul-betul larut dalam kisah Olympus Has Fallen. Gedung Putih yang dikodekan dengan nama Olympus, hancur berkeping-keping karena ulah kelompok teroris dari Korea Utara. Serangan bertubi-tubi datang dari darat dan udara, jutaan peluru ditembakkan, hampir tanpa jeda untuk memberi efek kejut yang luar biasa kepada penonton. Kalau penonton sampai menahan nafas dan ngos-ngosan, filemnya sukses. Haha. Anyhoo, Olympus Has Fallen menceritakan tentang Mike Banning (Gerard Butler) yang keluar dari Secret Service gara-gara merasa bersalah atas kematian Margaret Asher (Ashley Judd), isteri Presiden Amerika Serikat Benjamin Asher (Aaron Eckhart). Pada saat Gedung Putih diserang, Mike Banning terpaksa harus 'kembali' untuk menyelamatkan Benjamin Asher dari bunker tempat si Presiden disekap bersama pejabat-pejabat penting lainnya. Pengalaman menonton Olympus Has Fallen terulang saat menonton No Escape di tahun 2015, serangan tanpa jeda, menahan nafas, dan memaki.

Olympus Has Fallen tentu bakal bikin siapa saja mengingat filem White House Down. Selain ceritanya sama, dirilis pada tahun yang sama pula! Bedanya, White House Down punya Presiden berkulit hitam bernama James Sawyer (Jamie Foxx) yang diselamatin sama anggota baru Special Agent bernama John Cale (Channing Tatum), dan kehancuran Gedung Putih dikarenakan ulah 'orang dalam' yang justru adalah Kepala Special Agent yang hendak pensiun yaitu Martin Walker (James Wood). White House Down masih diisi lagi dengan kisah anak perempuan John Cale yaitu Emily Cale (Joey King) yang saat itu sedang mengikuti tur Gedung Putih. Yang jelas, karena tidak disekap, Presiden di dalam White House Down punya usaha untuk ikut menyelamatkan keadaan bersama John Cale.

Kembali ke Has Fallen.

Olympus Has Fallen meraup keuntungan berlipat ganda dan disebut sebagai filem box office karena biaya pembuatan filem hanya 70 Juta Dollar sedangkan keuntungannya mencapai 170,3 Juta Dollar. Fantastis. Itulah sebabnya saya selalu suka menonton filem-filem yang menjadi box office. Penasaran, pengen tahu sehebat apa jalan cerita, sutradara, dan para pemerannya sampai-sampai bisa menjadi box office. Oh ya, kalian sudah tahu kan alasan sebuah filem disebut filem box office? Sebuah filem disebut box office apabila keuntungan yang diraup berlipat ganda dari biaya pembuatan filemnya hanya beberapa hari saja.

Tiga tahun setelahnya, tepatnya tahun 2016, London Has Fallen dirilis. Awal menonton London Has Fallen pikir saya sih bakal biasa saja karena sudah punya pengalaman menahan nafas saat menonton Olympus Has Fallen. Ternyata saya salah. Karena apa? Karena kedahsyatan efek kejut yang disajikan pada setiap menitnya. Tembakan peluru, ledakan bom, kejar-kejaran di darat dan di udara, sampai meninggalnya tokoh yang tidak sentral tapi penting yaitu Direktur Secret Service Lynne Jacobs (Angela Bassett) saat helikopter yang mereka tumpangi untuk menyelamatkan diri jatuh ditembak. Kematian Perdana Menteri Inggris membikin semua pemimpin negara dunia datang melayat, setidaknya kita melihat beberapanya, meninggal karena bom di jembatan, ditembaki rudal di kapal pribadi, bom di puncak menara, dan lain sebagainya. London lumpuh dalam waktu tidak sampai satu jam. Semua aparat pengamanan disusupi teroris. Semua. Kalian bisa bayangkan kelumpuhan yang dialami? Uh wow sekali menurut saya.

Dan tentu saja, London Has Fallen lagi-lagi menjadi box office. Dengan biaya hanya 60 Juta Dollar (lebih sedikit dari Olympus Has Fallen), dan meraup keuntungan 205,8 Juta Dollar. 

Lagi-lagi tiga tahun setelahnya, yaitu tahun 2019, Angel Has Fallen dirilis. Apakah Angel Has Fallen mampu menjadi box office? Tentu saja. Biaya pembuatannya hanya 40 Juta Dollar dengan keuntungan 147,5 Juta Dollar. Bedanya di dalam Angel Has Fallen, Presidennya adalah Allan Trumbull (Morgan Freeman) yang pada dua filem sebelumnya menjadi juru bicara. Kalau boleh saya bilang sisi manusiawi seorang pahlawan lebih ditonjolkan di dalam filem ini. Mau tahu? Mari simak.

Mike Banning tidak kuasa melawan apalagi memerintah trauma fisik yang dideritanya untuk berhenti. Stop, saya masih pengen jadi pengawal presiden nih! Pada akhirnya seorang 'pahlawan' harus pensiun juga. Ini yang rasa-rasanya tidak saya temui dalam filem misi-tidak-mungkin yang 'pahlawan'nya selalu fine-fine saja. Haha. Mike Banning diposisikan lebih manusiawi: sebagai manusia dia juga merasakan trauma fisik yang luar biasa dan fokus yang mendadak nge-blur. Oleh karena itu dia memang ingin mengundurkan diri. Tetapi lagi-lagi negara api teroris menyerang. Dibuka dengan waktu bersantai Presiden di sebuah sungai: memancing. Serangan ini jauh lebih dahsyat karena menggunakan teknologi super canggih yaitu ribuan drone. Lepaskan drone-nya, cari mangsanya, tembak-mati. Sayangnya, Mike Banning harus menjadi korban. Dia justru menjadi tersangka utama yang dicurigai berniat membunuh Presiden Allan Trumbull. 

Benarkah? 

Tentu saja tidak. Ada bumbu persahabatan, kepentingan, dan pengkhianatan di dalam Angel Has Fallen. Ketiga bumbu itu yang menyebabkan Mike Banning menjadi buronan, harus pandai mencari tempat aman dari kejaran orang-orang, dan lain sebagainya usaha dia untuk mengembalikan nama baiknya. Jadi ingat waktu Tony Stark terdampar di sebuah kota. Hehe. Satu-satunya benang merah dari filem ini adalah Mike Banning harus bertemu Allan Trumbull saat si Presiden sudah siuman agar tahu jalan cerita yang sebenarnya. Bahwa bukan Mike Banning yang berniat membunuh si Presiden. Itu memang terjadi di akhir cerita. Saya bahkan harus memutar ulang beberapa kali untuk melihat muslihat ruangan jadi-jadian yang menyembunyikan Presiden Allan Trumbull di gedung sebelah rumah sakit itu. Deg-degan sekali.

Kalian deg-degan juga? Kalau begitu toss. Kita sama. Haha.

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Melihat fransais Has Fallen yang kerap dirilis setiap tiga tahun sekali, saya jadi bertanya-tanya apakah tahun 2022 bakal ada filem ke-empat? Indonesia Has Fallen, misalnya, dengan cerita Presiden Amerika Serikat berlibur ke Indonesia terus diserang teroris lagi, terus chaos. Lebih seru lagi kalau lokasi penyerangan itu adalah Kabupaten Ende saat si Presiden sedang mengunjungi Danau Kelimutu. Pasti legit. Andaaaaai. Haha. Berandai-andai kan boleh. Uih, itu saya yakin bakal jadi box office hanya dalam satu hari. Bioskop penuh. Terutama bioskop di Indonesia. Tapi yang jelas pemerannya harus tetap Gerard Butler, karena Has Fallen bakal jadi Has Falling kalau pemerannya diganti *ngakak guling-guling*.

Sudah ah.

Weekend ini ... selamat menikmati akhir pekan, ya. Kalau akhir pekan kalian hanya di rumah saja, cobalah menonton kembali tiga Has Fallen yang sudah saya bahas di atas. Kalau mau menonton ulang Law Abiding Citizen juga oke-oke aja *gaya Yuvi Phan* haha.

#SabtuReview



Cheers.