BlogPacker

I Write My All

LightBlog

5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik . Sampah lagi, sampah lagi. Plastik lagi, plastik lagi. Sampah plastik lagi, sampa...


5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik. Sampah lagi, sampah lagi. Plastik lagi, plastik lagi. Sampah plastik lagi, sampah plastik lagi. Memang sudah sering saya menulis tentang sampah terutama sampah plastik. Tapi rasa-rasanya hampir setiap hari muncul ide baru, atau temuan baru di kepala saya, untuk menulisnya kembali dalam sudut pandang berbeda. Seperti hari ini, saya kembali harus menulis tentang mengurangi sampah plastik. Tidak saja bersumber dari rasa gemas melihat sampah plastik berserakan di Kota Ende selepas hujan, melainkan sampah plastik sebenarnya bisa dikurangi dengan perilaku sederhana. 

Baca Juga: 5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa

Perilaku sederhana berarti untuk turut mengurangi sampah plastik di semesta ini kita tidak perlu mengawalinya dengan konser Lady Antebellum. Tidak perlu harus melakukan ritual seperti bertapa tujuh hari tujuh malam di goa tujuh penjuru mata angin. Tidak juga harus duduk di DPR RI terus diserang kantuk. Hehe. 

Marilah kita cek lima perilaku sederhana untuk mengurangi sampah plasti a la saya.

1. Membawa Botol Air Minum


Lagi. Kampanye membawa sendiri tumbler atau botol air minum ke manapun pergi. Apabila semua orang melakukan hal ini, tidak saja niscaya mampu mengurangi sampah plastik tetapi juga mampu menempatkan diri untuk hidup hemat. Hidup hemat? Ya donk!

Kalian bisa membayangkan apabila dalam sehari membeli maksimal dua botol air mineral ukuran sedang sejumlah Rp 10K maka dalam sebulan dana yang digelontorkan untuk urusan dahaga ini sebesar Rp 300K. Coba dipikir, Rp 300K itu bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain dan/atau ditabung. Saya selalu membawa botol air minum maksimal dua botol per hari karena urusan dahaga saya melebihi orang lain. Hehe. Satu botol air minum masuk tas, satu lagi masuk jok motor. Apabila keduanya habis, saya akan mengisi botol air minum itu dari dispenser yang ada di ruangan-ruangan di Universitas Flores (Uniflor) atau di Kantin dan Warung Damai. 

Membawa sendiri botol air minum sudah menjadi gaya hidup dan kebanggaan saya pribadi. Bagaimana dengan kalian?

2. Menolak Tas Kresek


Menolak tas kresek baru saya lakoni setahun terakhir. Apabila barang belanjaan itu termasuk belanjaan kering yang bisa masuk ke dalam backpack atau jok motor, maka saya menolak tas kresek. Untuk dua botol teh kotak, sebungkus roti iris, atau sekotak rokok, yang rata-rata dibeli di supermarket, ya masuk backpack saja lah. Saya belum sampai pada tahap memanfaatkan rembi. Memang ada sorot mata aneh dari kasir dan atau pedagang/penjual, tapi mereka harus tahu bahwa dengan demikian saya sudah mengurangi sampah plastik di semesta raya.

Bagaimana bila belanja ke pasar tradisional yang otomatis ada daging, ikan, sayuran dan bahkan bumbu dapur? Mudah! Thika Pharmantara selalu membawa tas kresek sendiri dari rumah. Seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwa belum sampailah pada tahap memanfaatkan rembi. Lagi pula pola belanja kami ke pasar tradisional adalah seminggu sekali (iya, belanja untuk kebutuhan makan seminggu). Mungkin suatu saat saya dan Thika bakal ke pasar membawa keranjang serta aneka kotak untuk mengisi ikan dan ayam yang biasanya dikasih wadah tas kresek.

3. Menggunakan Rembi


Ini yang sudah saya ulas pada pos Senin berjudul Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik? dan ada kaitanny sama poin nomor dua di atas. Saya pikir, pasti mampu! Karena, sebenarnya para mama sudah menggunakan keranjang berbahan plastik yang bisa dipakai berkali-kali, berbulan-bulan, bertahun-tahun, turun-temurun! Bagi yang belum menggunakan keranjang untuk berbelanja, khusus masyarakat Kabupaten Ende, tentu bisa menggunakan rembi. Optimis! Karena dengan berpikir dan bersikap optimis niscaya akan terwujud cita-cita bersama menggantikan tas belanjaan plastik/tas kresek dengan rembi.

4. Membawa Kotak Makan


Hampir sama dengan poin nomor satu di atas, membawa botol air minum sendiri, membawa kotak makan juga bisa dilakukan untuk mengurangi sampah plastik. Apakah saya sudah melakukannya? Sudah donk. Biasanya di dalam jok motor selalu tersedia satu kotak mungil tempat mengisi bekal/jajan dari rumah. Kotak itu juga bakal saya isi dengan makanan apabila ada makanan dari kantor/kampus yang perlu dibawa pulang ke rumah. Memang kita belum sepenuhnya melakukan ini, yaitu membawa kotak makan apabila hendak berbelanja ke warung, tetapi suatu saat pasti bisa terwujud. Mulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

5. Mendaur Ulang Sampah Plastik


Ini sudah pasti dan rasanya tidak perlu penjelasan lebih lengkap. Karena, dengan mendaur ulang sampah plastik otomatis akan mengurangi sampah plastik. Manapula sampah plastik yang didaur ulang itu alias barang hasil daur ulang sampah plastik itu bernilai ekonomis cukup tinggi apabila hendak dijual lagi. Ya, saya sudah melakukannya. Ya, saya sudah membuktikannya.

⇝⇜

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Sampah, terutama sampah plastik sudah semakin memberatkan bumi kita. Perilaku kita sendiri yang menentukannya: apakah bakal semakin berat ataukah sedikit lebih ringan? Tidak perlu berpikir terlalu tinggi untuk mengurangi sampah plastik di semesta raya, cukup dengan perilaku sederhana seperti lima poin di atas, saya pikir sudah sangat mampu.

Bagaimana menurut kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komen!

#KamisLima



Cheers.

Upin Ipin Adalah Serial Kartun Dengan Produk DIY Terbanyak . Kalian pasti sering menonton Upin Ipin . Serial yang diproduksi oleh Les&#...


Upin Ipin Adalah Serial Kartun Dengan Produk DIY Terbanyak. Kalian pasti sering menonton Upin Ipin. Serial yang diproduksi oleh Les' Copaque di Malaysia. Upin Ipin adalah filem kartun yang dibikin oleh Mohd. Nizam Abdul Razak, Mohd Safwan Abdul Karim, dan Usamah Zaid. Mereka bertiga adalah pemilik rumah produksi Les' Copaque *tunjuk atas* setelah bertemu dengan mantan pedagang minyak dan gas yaitu H. Burhanuddin Radzi dan isterinya yang bernama Hj. Ainon Ariff. Serial ini dirilis pada 14 September 2007 di Malaysia dan disiarkan di TV9. Upin Ipin sudah ditayangkan di tiga negara yaitu Malaysia, Indonesia, dan Turki. Mungkin negara lainnya juga? Kasih tahu di komen kalau ada informasi baru.

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

Apabila kalian sering menonton Upin Ipin, jeli, dan punya hasrat di dunia DIY, tentu akan sangat mudah menemukan produk-produk DIY dalam serial tersebut.

Apa?

Jadi hari ini tidak ada tutorial atau apa pun itu?

Ya, hari ini marilah kita tengok produk DIY yang saya maksudkan.

1. Pot Kaktus Untuk Mei Mei


Pada episode berjudul Untuk Prestasi merupakan episode ngiklan tentang produk susu SGM. Episode ini dibagi menjadi tiga bahagian. Pada bahagian dua kalian akan melihat adegan dimana Upin dan Ipin bertemu Mei Mei yang begitu ceria membawa pot berisi kaktus cantik. Kemudian muncul si Mail yang sedang bersepeda dengan kecepatan super tinggi. Ternyata Mail lagi balapan sama Ehsan (yang membonceng Fizi). Melihat itu Upin, Ipin, dan Mei Mei kocar-kacir menyelamatkan diri. Mereka memang tidak tertabrak sepeda Mail tapi Mei Mei tersandung batu, terjatuh, pot kaktus melayang ke udara, dan pecah.

Ngambek? Jelas! Nangis lah si Mei Mei. Tapi Upin Ipin yang saat itu sedang menyedot susu SGM kotak pun punya ide. Mereka beramai-ramai balik ke rumah. Saat itulah saya tersenyum senang. Upin Ipin kemudian membikin pot untuk kaktus milik Mei Mei dari kotak kemasan susu kotak tersebut. Betapa senangnya Mei Mei. Selain itu mereka juga membikin tempat alat tulis dan lain sebagainya. Tentu korban utama adalah cat minyak milik Kak Ross. Hehe.

2. Sepeda Gandeng


Kasihan juga menonton Upin Ipin karena mereka seringnya tidak bisa seperi teman-temannya. Seperti episode Basikal Baru. Mereka hanya bisa lari-larian menemani teman-teman yang mengayuh sepeda. Sampai kemudian Tuk Dalang ber-DIY-ria dengan menggabungkan dua sepeda bekas miliknya yang sudah super puruk menjadi sepeda gandeng. TDR 3000. Tuk Dalang Ranggi 3000. Haha, jadi ingat sapu terbangnya Harry Potter.

3. Roda Roda


Di Kabupaten Ende, anak-anak dulu sering banget main ban bekas yang dilajukan menggunakan sepotong kayu. Selain itu juga ada tutupan ember plastik yang dikasih kayu sebagai kemudinya. Apa nama mainan ini? Roda-roda? Atau dorong roda? Ah, entahlah. Yang jelas pada beberapa episode nampak Upin Ipin memainkan roda-roda ini, yang terbuat dari tutupan ember plastik ukuran sedang dipasangi kayu. Roda-roda ini pernah dipinjam Jarjit, tapi karena anak itu memang begitu itu, dia kesandung batu sehingga mainan itu pun rusak. Roda-roda ini jelas tidak dibeli di toko melainkan dibikin sendiri alias hasil DIY.

4. Layang-Layang


Ah suka sekali saya menonon episode ini. Seperti sedang mengalami sendiri. Siapa sih yang tidak tahu layang-layang? Bahkan urusan percintaan pun sering pakai istilah layang-layang. Jangan jadikan adinda layangan duhai kakanda, tarik ulur tanpa memikirkan perasaan adinda. Haha. Lagi-lagi TDR 3000 eh, lagi-lagi Tuk Dalang menjadi si pembikin layang-layang. Banyak macamnya pun. Ada yang sederhana seperti yang sering dibikin juga sama anak-anak kompleks sini, bermodalkan plastik, lidi, benang, dan benang gelas untuk mengudarakan si layang-layang. Sumpah, ngeri juga melihat mereka membikin benang gelas dengan tujuan memutuskan benang layang-layang lawan.

Layang-layang yang dibikin sama Tuk Dalang itu bagus-bagus, bahkan menginspirasi.

5. Perahu Kertas


Apa yang kita lakukan apabila tidak bisa membeli suatu benda? Ya bikin sendiri lah. Tapi, kadang, suatu benda itu memang tidak dijual di mana pun sehingga untuk memainkannya harus bikin sendiri terlebih dahulu. Salah satunya yang saya temui di Upin Ipin adalah perahu kertas. Hebatnya yang membikin Upin Ipin, mainan sesederhana pun dibikin jadi luar biasa melalui daya imajinasi tokoh di dalam Upin Ipin. Tontonlah, kalian pasti akan tahu.

⇜⇝

Baca Juga: Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah

Kalian pasti tidak menyangka bukan bahwa pos hari ini melirik tentang produk DIY yang terlihat saat menonton Upin Ipin. Itu belum semua loh. Masih ada lagi seperti papan yang dipakai sebagai penggantti raket saat bermain bulu tangkis. Itu kan kami bangeeeettt dulu waktu masih ana lo'o (anak kecil) haha. Papan pengganti raket, potongan tongkol jagung ditusuk bulu ayam (dicabut dari ayamnya Nene Sisi dulu) pengganti kok (shuttlecock). Bahagia itu memang sederhana Hehe.

Bagaimana menurut kalian, kawan?



Cheers.

Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik? Jum'at, 8 September 2019, Panitia Panca Windu Universitas Flores (Unifl...


Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik? Jum'at, 8 September 2019, Panitia Panca Windu Universitas Flores (Uniflor) kembali menggelar kegiatan menjelang hari baik di tahun 2020 nanti. Bakti sosial yang turut mendukung program Jum’at Bersih oleh Pemerintah Kabupaten Ende tersebut dilaksanakan di empat kelurahan pada wilayah Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende, yaitu Kelurahan Potulando, Kelurahan Kelimutu, Kelurahan Paupire, dan Kelurahan Onekore. Sejumlah dua ribu peserta bakti sosial yang dibagi lima ratus peserta per kelurahan diperkuat oleh dosen, karyawan, mahasiswa, perwakilan komunitas, dan masyarakat setempat. Untuk itulah saya harus bangun sedini mungkin sehingga gayung kamar mandi pun mengerut kening dan bertanya: benarkah kau bangun jam segini? Hehe.

Baca Juga: Parade Budaya Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya

Seremoni pembukaan kegiatan tersebut dilaksanakan di Perempatan Wolowona (sisi Timur) pada pukul 07.00 Wita, dihadiri oleh Bupati Ende Drs. Djafar Achmad, Sekretaris Daerah Kabupaten Ende Dr. dr. Agustinus G. Ngasu, Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A. beserta jajaran Wakil Rektor, Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Dr. Laurentius D. Gadi Djou, Akt., Ketua Panitia Panca Windu Uniflor Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum., Dekan se-lingkup Uniflor, Unsur Forkompinda, perwakilan ASN, POLRI dari Polres Ende, serta tamu undangan. Pada lokasi seremoni pembukaan juga dipajang beraneka rembi (tas/keranjang anyaman) yang diperkenalkan selain sebagai hasil karya kerajinan tangan juga sebagai wadah belanjaan yang harus mampu menggantikan tas belanjaan plastik atau tas kresek alias kalau diubek-ubek tas plastik ini menimbulkan suara: kresek.

Bapak Bupati Kabupaten Ende, Bapak Djafar, membeli tikar anyaman dan sebuah rembi mini, usai seremoni pembukaan.

Bapak Bupati Kabupaten Ende, Bapak Djafar, memakai rembi mini.

Kegiatan dibuka dengan sambutan oleh Rektor Uniflor dan Bupati Ende, dilanjutkan dengan penekanan tombol sirine sebagai tanda launching. Tema yang diangkat adalah Go Clean: Reduce, Reuse, Recycle, Re-Design, Re-Imagine.

Apa itu rembi? Dan mengapa benda ini dipercaya mampu menggantikan peran tas belanjaan plastik?

Marilah ... dibaca.

Rembi


Rembi merupakan nama dari wadah anyaman berbahan alami yang merujuk pada tas/keranjang. Abang Oir Rodja pernah menulis tentang Seni Anyam Ende Lio yang khusus membahas ... ya membahas seni anyaman Ende Lio donk. Hehe. Rembi merupakan salah satu dari seni anyaman tersebut. Bahan-bahan yang dipakai untuk membikin rembi dari yang saya lihat pada Jum'at kemarin itu antara lain daun lontar dan bilah bambu tipis (khusus untuk keranjag berukuran raksasa). Tapi dari blog Abang Oir saya membaca nama bahan lain yaitu kulit bambu muda, wunu re’a/daun pandan hutan; wunu koli/daun lontar; kulit bhoka ino; ngidho; ua; taga; tali eko



Selain rembi, seni anyaman ini banyak jenisnya dan yang saya tahu sejak dulu itu bernama wati sebagai wadah yang sering dipakai para ine/mama menyimpan sirih, pinang, dan lain-lain keperluan. Bahkan saya punya donk sejenis wati, tapi tanpa tutupan, buat menyimpan barang-barang kecil. Jenis lainnya yang saya baca dari blog Abang Oir antara lain mbola-mbola, kadhengga, kidhe, kadho, kopa, mboka wati, lepo, kiko, raga, wuwu, ola bau, kata, dan lain sebagainya. Saya pernah tahu kidhe ini, ketika kidhe menjadi salah satu tema yang diangkat dalam Lomba Mural Triwarna Soccer Festival awal tahun 2019. 

Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Pastik?


Ini pertanyaan penting karena punya tujuan majemuk. Pertama: rembi akan mengurangi sampah plastik di negeri ini. Kedua: rembi akan mendongkrak perekonomian masyarakat khususnya para pengrajin. Ketiga: rembi menjadi salah satu ikon (wisata) budaya yang diburu oleh wisatawan selain tenun ikat yang kesohor hingga penjuru dunia. Tapi, kembali ke pertanyaan awal tadi: mampukah?

Orang pesimis pasti akan bilang: tidak! Tapi orang optimis pasti akan bilang: ya, mampu!

Rembi Mengurangi Sampah Plastik


Jujur saja, sebelum kegiatan baksos dengan salah satu agenda mengangkat rembi sebagai tas/keranjang belanjaan pengganti tas belanjaan plastik, awal September 2019 saya sudah mendengar terlebih dahulu dari Bapak Bupati Nagekeo, Bapak Don, tentang kearifan lokal yaitu penggunaan tas anyaman alih-alih menggunakan tas plastik sebagai media untuk membawa barang belanjaan. Rembi, jika betul dimanfaatkan oleh masyarakat Kabupaten Ende khususnya para mama saat berbelanja di pasar, niscaya mampu mengurangi sampah plastik. Lagi pula rembi dibikin untuk dua jenis belanjaan. Ada rembi khusus belanjaan basah seperti ikan dan/atau daging, hingga sayuran. Ada rembi khusus belanjaan kering seperti aneka bumbu dapur. Tapi, tentunya para mama lebih suka membeli rembi khusus belanjaan basah karena bisa disatukan dengan belanjaan kering: bawang, cabai, lengkuas, merica, yang umumnya dibungkus ... plastik. Hiks.


Lagi, jujur saja, sebelum kegiatan baksos dengan salah satu agenda mengangkat rembi sebagai tas/keranjang belanjaan pengganti tas belanjaan plastik, menurut pengamatan saya, sudah banyak mama yang menggunakan keranjang plastik reuse yang kuat dan tahan banting sekaligus mengurangi pemborosan membeli tas belanjaan plastik. Artinya tas belanjaan plastik tidak terlalu banyak digunakan di pasar-pasar tradisional bukan? Lantas di mana? Di supermarket! Oleh karena itu, kampanye menggunakan rembi ini harus dilakukan di semua lapisan perbelanjaan baik yang tradisional maupun yang moderen. Suatu saat, pasti ada yang ke supermarket membawa rembi, dititip di tempat penitipan barang, kemudian saat selesai belanja semua belanjaan akan dimasukkan ke rembi alih-alih tas belanjaan plastik berlogo supermaret tersebut.

Salah seorang mama, baru pulang berbelanja dari Pasar Wolowona, melintas di lokasi seremoni pembukaan, menenteng keranjang belanjaan plastik.

Bisa?

Bisa donk. Saya sudah melakukannya. Bukan rembi, melainkan backpack. Kecuali belanjanya untuk keperluan satu bulan, itu memang butuh kardus. Haha.

Yang perlu diingat adalah, tas belanjaan plastik bukan satu-satunya penghasil sampah plastik di semesta raya. Masih ada botol dan gelas bekas minuman. Itu yang paling nyata terlihat saat hujan turun dan aliran air menghantar sampah hingga ke tepi pantai. Bagaimana untuk mengatasinya? Bawalah tumbler atau botol air minum sendiri dari rumah alih-alih membeli air minum kemasan. Selain keren sekaligus berhemat.

Rembi Mendongkrak Perekonomian


Keterkaitan ini jelas tidak bisa dibantah. Umumnya rembi dibikin oleh pengrajin yang tergabung dalam kelompok tertentu. Jum'at kemarin, rembi-rembi yang dipajang merupakan hasil kerajinan tangan dari Kelompok Karya Ibu. Kelompok ini juga sudah digandeng Dinas Koperasi Kabupaten Ende.


Apabila rembi betul mampu mengganti tas belanjaan plastik, otomatis perekonomian para pengrajin pun terdongkrak. Ini akan sangat bagus! Meskipun untuk mewujudkannya, memang, dibutuhkan kesadaran awal yaitu penggunaan plastik harus dikurangi meskipun plastik memang jauh lebih praktis.

Rembi Sebagai Ikon (Wisata) Budaya


Dari hasil status saya tentang rembi di Facebook, ada teman-teman yang bertanya tentang rembi, pengen punya juga. Soalnya kan selain disediakan rembi untuk belanjaan di pasar, ada pula rembi dengan model kekinian yang imut dan lucu bikin gemas siapapun yang melihatnya. Seperti yang dipakai Bapak Bupati Kabupaten Ende. Saya punya satu rembi yang dikasih sama pengungsi korban erupsi Gunung Rokatenda dari Pulau Palu'e.

Rembi hadiah dari pengungsi. Hehe.

Kalau yang ini wadah anyaman dari Pulau Sumba.

Rembi niscaya mampu menjadi ikon (wisata) budaya dari Kabupaten Ende karena siapa sih yang tidak mau punya oleh-oleh khas suatu daerah berharga murah, dapat dimanfaatkan sehari-hari, dan membikin pemakainya terlihat beda dan bergaya? Semua orang juga pasti mau! Termasuk saya. Sayangnya Jum'at kemarin saya tidak sempat membeli rembi karena sudah terlalu banyak orang berkerumun ingin membeli juga, dan saya toh sudah punya rembi sendiri hadiah dari pengungsi. Hehe. Oh ya, harga rembi bervariasi sesuai ukuran, model, dan tingkat kesulitan modifikasinya. Dipatok mulai dari Rp 50K hingga ratusan ribu.

⇜⇝

Baca Juga: Antara Saya, Trans Flores, dan Festival Daging Domba

Menjawab pertanyaan besar di tulisan ini, mampukah rembi menggantikan peran tas belanjaan plastik? Insha Allah mampu. Asalkan ada kesadaran dari kita semua, ada daya juang dari kita semua, untuk bersama-sama bertekad mengurangi sampah plastik yang secara masif sudah semakin menghancurkan bumi kita. 

Bagaimana menurut kalian, kawan?

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Kegiatan Keren Uniflor Go Clean Let's Reduce Reuse Recycle . Panitia Panca Windu Uniflor 2020 sudah di- launching . Kemeriahannya b...


Kegiatan Keren Uniflor Go Clean Let's Reduce Reuse Recycle. Panitia Panca Windu Uniflor 2020 sudah di-launching. Kemeriahannya bisa kalian baca pada pos berjudul Parade Budaya Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya. Rangkaian kegiatan Panca Windu Uniflor pun sudah terlaksana mulai dari sebelum panitia di-launching. Telah terlaksana beberapa kegiatan pre-event yaitu (1) Kuliah Umum bersama Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun, S.H., M.H., LLM. dengan moderator Agus Adi Tetiro dengan tema Membangun Potensi Diri Sebagai Mediator Budaya Mengawal Ideologi Melawan Radikalisme, Pancasila Dari Ende Untuk Nusantara telah diselenggarakan pada Sabtu (26/10/2019) di Auditorium H. J. Gadi Djou. (2) Misa, Shalat Jum'at, dan ziarah, dalam rangka launching Panitia Panca Windu Uniflor, Parade Budaya, opening ceremony, dan kegiatan olah raga EGDMC 2019 yang diselenggarakan pada Jum'at (1/11/2019).

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

Usai di-launching, kegiatan pertama yang akan dilakukan oleh panitia keren ini adalah bakti sosial. Bakti sosial dilaksanakan di Kecamatan Ende Tengah dengan empat titik/kelurahan yaitu Kelurahan Onekore, Kelurahan Paupire, Kelurahan Potulando, dan Kelurahan Kelimutu. Tema yang diusung adalah Go Clean, Let's Reduce Reuse Recycle. Saya mendengar masih ada penambahan untuk menjadi 5R: Reduce, Reuse, Recycle, Redesign, Reimage. Kegiatan tersebut bakal dilaksanakan pada Jum'at, 8 November 2019, bertepatan dengan program Pemerintah Daerah Ende yaitu Jum'at bersih.

Bakti sosial itu nanti tidak saja berwujud aksi bersih-bersih tetapi juga mengajak masyarakat untuk mengurangi, memakai ulang, dan mendaur ulang sampah terutama sampah plastik. Untuk mengurangi, panitia bekerja sama dengan Dinas Koperasi untuk memperkenalkan rembi, tas/keranjang anyaman khas Ende kepada khalayak. Rembi ini terdiri atas dua, rembi untuk belanjaan kering dan rembi untuk belanjaan basah. Rembi merupakan produk DIY yang dibikin oleh para pengrajin yang ada di Kabupaten Ende. Untuk memakai ulang, tentu barang plastik seperti tas plastik dapat dipakai ulang, terutama tas plastik yang disediakan oleh supermarket. Kita bisa membawa tas plastik sendiri apabila pergi ke supermarket untuk berbelanja. Untuk daur ulang, itu yang akan menjadi bagian saya kelak, sedang menyusun draf-nya, dalam seminar dan workshop.

Pertanyaannya sekarang, apa hubungan antara kegiatan pada Jum'at lusa dengan tema blog hari ini yaitu #RabuDIY?

Marilah saya jelaskan.

Dalam perkara 3R kita tahu satu kata yang jelas merujuk pada konsep DIY yaitu recycle. Recycle atau mendaur ulang artinya kita mengolah sampah menjadi suatu barang bernilai ekonomi lebih tinggi. Misalnya mendaur ulang koran menjadi keranjang seperti yang sudah sering saya lakukan. Kebetulan dalam kepanitiaan saya diberikan kepercayaan untuk beberapa tugas dan salah satunya adalah edukasi sampah. Sudah saya konsepkan tentang edukasi sampah ini. Tidak hanya seminar tentang sampah tetapi juga workshop. Rencana saya, setiap peserta nanti wajib membawa sampah plastik yang nantik bakal langsung dipraktekkan untuk membikin barang daur ulang saat workshop

Saya pikir penjelasan di atas sudah cukup jelas, hahaha.

Yang pasti, untuk edukasi sampah ini nanti saya bakal menggandeng Komunitas ACIL yang sudah terbukti telah mengedukasi masyarakat tentang sampah serta pengelolaannya.

Bagaimana menurut kalian, kawan?

#RabuDIY



Cheers.

Parade Akbar Ini Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya . Jum'at, mengawali Bulan November 2019, Universitas Flores (Uniflor) ...


Parade Akbar Ini Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya. Jum'at, mengawali Bulan November 2019, Universitas Flores (Uniflor) menggelar kegiatan launching Panitia Panca Windu Uniflor 2020 yang bertepatan dengan pembukaan turnamen sepak bola Ema Gadi Djou Memorial CUP (EGDMC) 2019. Rangkaian kegiatan Panca Windu Uniflor dibuka dengan Parade Budaya yang diselenggarakan besar-besaran dengan rute dimulai dari Kilometer 0 di Jalan Soekarno dan berakhir di Stadion Marilonga lokasi opening ceremony dan laga EGDMC dilaksanakan. Parade Budaya tersebut merupakan salah satu bukti dari visi dan/atau Uniflor menunjukkan dirinya sebagai mediator budaya. 

Baca Juga: Dari Kuliah Umum Sampai My Best Friend's Wedding

Seperti apa kemeriahannya? Cekidot!

16 Program Studi Menampilkan Yang Terbaik


Sesuai dengan namanya, Parade Budaya, maka enam belas program studi (prodi) yang ada di Uniflor telah berupaya menampilkan yang terbaik. Oleh panitia, setiap prodi diatur/dibagi berdasarkan etnis dan/atau kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pembagian ini tidak main-main, setiap prodi wajib menghiasi kendaraan yang rata-rata adalah pick up dengan ikon dari etnis yang sudah dibagi tersebut. Ada prodi yang mendapat jatah miniatur Gedung Rektorat Uniflor, ada pula yang mendapat jatah etnis dari seluruh Nusantara alias bukan dari etnis tertentu di Provinsi NTT. Selain pembagian jatah etnis, setiap prodi juga wajib mengikutsertakan mahasiswa/i sejumlah tujuh puluh lima, dosen, dan pegawai. Sebagian peserta mengenakan pakaian daerah dari etnis yang telah dijatahkan tersebut, sebagian lagi mengenakan kaos berwarna kuning.


Yaaaa sebagai Presiden Negara Kuning, saya akui bahwa tanggal 1 November 2019 menjadi moment pertama Hari Raya Kuningers. Hari Kemerdekaannya jatuh pada tanggal 12 Oktober. Haha.


Sungguh meriah Parade Budaya itu. Lihat saja, Prodi Ilmu Hukum dari Fakultas Hukum menampilkan ikon Kabupaten Manggarai Barat yaitu hewan komodo:

Komodonya yang di atas pick up, ya. Jangan salah fokus. Hahaha.

Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menampilkan ikon ikan paus dari Kabupaten Pulau Lembata:


Prodi Sastra Inggris dari Fakultas Bahasa dan Sastra menampilkan kuda dari Pulau Sumba:


Prodi Pendidikan Biologi dari FKIP menampilkan gading yang merupakan ikon dari Kabupaten Flores Timur dan tentu saja ada jagung titi yang saya embat juga:


Prodi lainnya seperti Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menampilkan Tarian Caci dari Kabupaten Manggarai, Prodi Agroteknologi selain menghias kendaraannya dengan berbagai hasil bumi pun menampilkan tarian modifikasi proses tanam pagi hingga panen, Prodi Teknik Arsitektur menampilkan miniatur Gedung Rektorat Uniflor, Prodi Teknik Sipil menampilkan topi Ti'i Langga khas dari Pulau Rote, dan lain sebagainya.


Pada beberapa titik penilaian yel-yel, yang dilombakan, beberapa prodi menampilkan atraksi tarian. Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menampilkan Tarian Caci di titik penilaian puncak Jalan Sudirman:


Prodi Agroteknologi, seperti yang sudah saya tulis di atas menampilkan tarian modifikasi:


Dan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dengan tarian berburu paus. Khusus tarian berburu paus ini, juga dijelaskan dengan bahasa adat dan bahasa Indonesia bahwa paus yang diburu itu ada klasifikasinya. Paus yang tidak boleh diburu antara lain paus biru dan paus yang sedang mengandung.

Saya lihat, apa yang sudah dilakukan oleh setiap prodi ini memang sungguh luar biasa. Bagi saya pribadi. Artinya, tidak ada yang main-main atau tidak ada yang ala kadarnya di Uniflor. Semua bertanggungjawab untuk bisa memberikan terbaik dan maksimal.


Belajar dari itu.

Percayalah, seperti nasihat Bapa Asmady: segala sesuatu yang setengah-setengah tidak akan membawa hasil kecuali karena keajaiban saja. Segala sesuatu yang dilakoni sungguh, membawa hasil yang supa amazing. Seperti kegiatan kemarin. Supa amazing.

Opening Ceremony Dengan 1.750 Penari


Pukul 18.30 Wita, kegiatan opening ceremony dimulai di Stadion Marilonga. Stadion kebanggaan kami Orang Ende. Berawal dari parade enam belas prodi beserta tim/klub yang ikut berlaga di turnamen EGDMC 2019 dan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang bendera-bendera dijaga oleh Resimen Mahasiswa (Menwa) Uniflor. Dilanjutkan dengan masuknya empa kain raksasa sebagai simbol empat penujur mata angin dan Tarian Caci. Usai Tarian Caci, dilanjutkan dengan tarian oleh 1.750 penari yang adalah mahasiswa/i Uniflor.

Credits: Youtube Komik Ende.

Credits: Youtube Komik Ende.

Para penari ini sungguh luar biasa. Mereka memakai pakaian daerah dan selendang/sarung tenun ikat diaplikasikan untuk ragam. Mereka dipimpin langsung oleh koreografer kondang Kabupaten Ende, yang telah berkiprah sampai tingkat internasional Rikyn Radja. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan laporan Ketua Panitia Panca Windu Uniflor 2020 dan penekanan bel oleh Bupati Ende Bapak Djafar Ahmad.

Saya sangat menyukai laporan panitia oleh Mama Emi Gadi Djou tersebut. Cekidot!

Latar belakang kegiatan ini adalah Pancasila yang perlu dipahami sebagai kesadaran kolektif bangsa dan ungkapan tentang nasionalisme. Untuk itu diperlukan perubahan mindset serta moral bangsa dalam memahami nilai-nilai budaya yang gayut dengan perkembangan. Hal ini selayaknya dapat dipahami sebagai jati diri bangsa untuk mengisi rumah kita di dalam kerangka Negara Kesatuan yang berdaulat, sejahtera, dan berkeadilan sosial. 

Dalam kaitan tersebut, kiranya perlu dilakukan kajian dari beberapa poin yaitu (1) Beragam budaya bangsa Indonesia harus dikenalkan kembali sebagai jati diri bangsa. (2) Pendidikan bangsa perlu diingatkan sebagai hakekat tujuan dari semangat Pancasila yakni mencerdaskan kehidupan bangsa untuk meningkatkan daya saing bangsa dan terwujudnya kesejahteraan bangsa tanpa melupakan kebudayaan yang dimiliki. (3) Peran serta Universitas Flores, masyarakat Kabupaten Ende, dan masyarakat pada umumnya serta para alumni sebagai kaum intelektual di dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan melestarikan budaya.

Untuk itulah dalam perayaan menyambut Panca Windu Uniflor diusung tema Rumah Kita Universitas Flores Membangun Kaum Intelektual Dalam Semangat Pancasila Merajut Persaudaraan Sebagai Mediator Budaya. 

Tujuan kegiatan ini antara lain (1) Mendapatkan berbagai konsep strategis yang berkaitan dengan pemaknaan kembali semangat Pancasila dan budaya dalam menjawab tantangan globalisasi para kaum intelektual. (2) Mempromosikan Uniflor. (3) Memupuk semangat kebersamaan di kalangan civitas akademika, alumni, masyarakat luas, dalam mempertahankan dan meningkatkan peran Uniflor sebagai mediator budaya. (4) Mendukung dan mengembangkan bakat dan kreativitas para kaum intelektual di wilayah Nusa Tenggara Timur.

*tepuk tangan paling meriah*

⇜⇝

Panitia Panca Windu Uniflor 2020 sudah di-launching. Selanjutnya, tugas berat menanti. Panca windu memang terjadi 19 Juli 2020 tetapi rangkaian kegiatannya sudah dimulai dari sekarang. Bahkan pre-event sebelum launching panitia tersebut.

Dalam menyambut Panca Windu Uniflor pada tanggal 19 Juli 2020 nanti telah terlaksana beberapa kegiatan serta agenda kegiatan antara lain (1) Kuliah Umum bersama Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun, S.H., M.H., LLM. dengan moderator Agus Adi Tetiro dengan tema Membangun Potensi Diri Sebagai Mediator Budaya Mengawal Ideologi Melawan Radikalisme, Pancasila Dari Ende Untuk Nusantara telah diselenggarakan pada Sabtu (26/10/2019) di Auditorium H. J. Gadi Djou. (2) Misa, Shalat Jum'at, dan ziarah, dalam rangka launching Panca Windu Uniflor, Parade Budaya, opening ceremony, dan kegiatan olah raga EGDMC 2019 yang diselenggarakan pada Jum'at (1/11/2019).

Baca Juga: Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp

Kerangka besar kegiatan menyambut Panca Windu Uniflor dibagi dalam empat pilar kegiatan yaitu Kerohanian, Pelanaran ilmiah, Olahraga dan Seni, dan Sosial Kemasyarakatan. Empat pilar kegiatan dengan sub-sub kegiatan tersebut telah dimulai sejak Oktober 2019 dan akan berakhir dengan Misa pada tanggal 19 Juli 2020.

Uh wow sekali kan?

Doakan semua rangkaian kegiatan kami sejak 2019 hingga 2020 dapat terlaksana dengan baik ya, kawan!

Satukan langkah, bulatkan tekad, menuju Uniflor bermutu.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini. ***  #PDL N...


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Nasi Bambu, Penghormatan Tuan Rumah Pada Tamu. Saya (dan kru, tentu saja) pernah berkesempatan meliput dan/atau dipercayakan membikin video dokumenter tentang Paroki Siaga. Sebelumnya proyek itu bernama Desa Siaga, tapi oleh si pemberi proyek kemudian diubah menjadi Paroki Siaga. Untuk kepentingan video tersebut saya harus pergi ke Laja di Kabupaten Ngada untuk bertemu Romo Sil Betu karena beliau lah yang menangani langsung Paroki Siaga ini. Tentang Paroki Siaga, bisa kalian baca pada pos berjudul #PDL Laja dan Toleransi.

Intinya adalah sore itu saat sudah selesai mengumpulkan materi, kami hendak pamit pulang, namun ditahan oleh Romo Sil Betu yang baik hati itu. Apa yang dikatakan Romo kira-kira begini: Kami sudah memasak nasi bambu untuk tamu, bagi kami Orang Ngada, kalau sudah disiapkan nasi bambu, tamu wajib makan terlebih dahulu. Artinya, tamu sudah dianggap sebagai saudara atau keluarga kami. Perasaan saya langsung haru ... sungguh luar biasa. Akhirnya kami harus makan terlebih dahulu baru kemudia diijinkan pulang. Hehe.

Semua Orang Flores, dari kabupaten manapun, punya budaya dan kebaikan hati yang luar biasa. Hubungan keluarga tidak saja harus dari darah yang mengalir, tetapi juga dari kebiasaan, adat, dan budaya. Nasi bambu adalah suguhan kekeluargaan yang pantang ditolak oleh tamu. Saya jadi ingat dengan kopi. Bagi kami, Orang Ende, apabila kalian sudah disuguhi segelas kopi ... kalian adalah keluarga kami. Nilai-nilai semacam ini harus terus tertanam dan harus dilestarikan ... harus terus ada dalam tubuh masyarakat (masyarakat manapun).

Kalian setuju?

#PDL
#PernahDiLakukan



Cheers.