BlogPacker

I Write My All

LightBlog

Boleh ngakak dulu? Ha ha ha ... Suatu malam di Stadion Marilonga, di sela-sela pertandingan sepak bola dari Triwarna Soccer Fes...


Boleh ngakak dulu?

Ha ha ha ...

Suatu malam di Stadion Marilonga, di sela-sela pertandingan sepak bola dari Triwarna Soccer Festival, kami berkumpul di ruangan media center. Di pojok ruangan yang juga dijadikan tempat penyimpanan segala barang yang berhubungan dengan event ini, berdiri gitar listrik bass, gitar listrik melodi, gitar akustik, dan sebuah gendang berdiri. Saya sendiri sering memainkan gitar akustik tersebut, melatih jari-jemari yang selalu kesulitan dengan kunci seperti F, B, dan Bm. Jangan tanya lah. Saya cuma bisa G, C, D, Dm, A, Am, E, Em *diketawain dinosaurus*.

Baca Juga: TSF 'Story

Kembali pada suatu malam di ruangan media center ...

Kebetulan malam itu si Tino Tiba, anggota Seksi Acara tetapi terkenal sebagai musisi keren Ende, duduk bersama saya. Kami menemani Rikyn Radja yang sedang makan malam. Kami sendiri sudah duluan makan. Kebetulan ada musisi ini, si Tino, saya memperdengarkan lagu 100 Times Better dari The Willis Clan. Harapannya dia bakal nemu chord termudah dari lagu itu. Eh ketemu! Jadilah saya menyanyikan lagu favorit itu sambil membayangkan bisa melakukan gerakan dance-nya, hihihi. Waktu saya nyanyikan lagu itu, Rikyn sudah selesai makan, lantas mendengungkan semacam back-vocal begitu. Seru lah.

Setelah 100 Times Better, kita nyanyiin Love Yourself dari Justin Bieber. Waaaah asyiknya. Sampai-sampai salah seorang anak pedagang asongan yang kebetulan meloi (mengintip) bertahan di meja tempat kami berkumpul. Dia sangat menikmati. Busyet, dek! Bayar sini! Haha. Kalau kalian membaca pos #PDL Default Perusuh Pengamen ini, kalian pasti tahu saya sangat suka bernyanyi meskipun suara pas-pasan nyaris sesak.

Rikyn kemudian me-request lagu Yesterday dari The Beatles. Ayok, siapa takut? Ndilalah, setelah satu kali menyanyikan Yesterday, ide-ide gila mulai bermunculan. Kami harus merekamnya. What? Saya cuma ngakak melihat Rikyn memindahkan gendang berdiri ke dekat kami. Saya semakin ngakak waktu Tino mengajak si anak pedagang asongan, sebut saja namanya Boy, memukul botol bekas UC1000 dengan batu. Koplak benar. Lebih koplak karena yang murni musisi hanyalah Tino sedangkan kami? No no no. Kehancuran terjadi saat Rikyn dengan bebasnya menepuk gendang sehingga Yesterday dari The Beatles itu terdengar seperti lagu melayu!

Ha ha ha ...

Ternyata, hasilnya asyik juga. Asyik untuk lucu-lucuan. Dan semakin lucu ketika Rikyn berkata: KEMBALI LAGI BERSAMA KAMI CABUL-CABULAN AKUSTIK.


Rikyyyyyn! Please, deh. Cabul semua donk kita. Walhasil, dengan spontanitas yang luar biasa, muncul nama MANIS AKUSTIK dari bibirnya. Terberkatilah saya bersahabat baik dengan orang-orang ini. Mereka luar biasa ... luar biasa bikin pengen jitak haha.

Ini dia hasilnya. BURAM. Ya, saudara-saudara, penerangan di ruangan itu sedang sangat manja. Sebenarnya ini lagu pertama, tapi yang pertama tidak direkam kan, hehehe.



Hasil yang buram itu memang saya sengaja tidak mempermanisnya (baca: gagal mempermanisnya) menggunakan tools pengeditan video di laptop. Saya hanya menyuntingnya menggunakan telepon genggam dengan aplikasi KineMaster gratisan. Saya pikir, mau apa lagi yang diubah? Toh kami hanya ingin bersenang-senang, hehe, tidak ada niat untuk membikin video terbaik dan terbagus sama sekali. Kalau mau bikin video terbaik dan terbagus mah, tidak bisa dadakan begini, kudu diniatin sungguh-sungguh.

Tak cukup satu lagu, kami kembali beraksi di lagu berikutnya. Gang Kelinci. Dan hasilnya pun masih, tentu saja, buram to the max


Tapi kami gembira melihat hasilnya seperti itu. Karena yang penting adalah melewatkan waktu bersama sahabat dengan melakukan hal-hal gila adalah intinya.

Baca Juga: Konsisten Nge-blog Setahun

Tidak ada obsesi apa pun dari Manis Akustik, sumpah menulis nama itu saya ngakak membahana, murni kami hanya ingin bersenang-senang di tengah kegiatan menjadi panitia TSF. Lagi pula, meskipun profesi kami berbeda-beda, kami punya kaki yang sama-sama tertanam di lini musik. Tino Tiba adalah musisi. Rikyn Radja adalah koreografer sekaligus anggota Spiritus Sanctus Choir. Saya? Aaaah saya cuma perusuh pengamen yang doyan nyanyi meskipun modal suara pas-pasan nyaris sesak. Yang penting senang-senangnya itu kan ya. Hehe.

Jangan lupa nonton video-video saya di Youtube ya, ingat subscribe, ingat like *halaaah*. Hahaha. Mohon maaf, tidak ada video yang bagus yang bisa saya tawarkan di akun Youtube saya *menunduk dalam*.



Cheers.

Harry Potter memang telah lama selesai. Buku terakhir seri ini, Harry Potter and The Deathly Hallows , diterbitkan tahun 2007, sedan...


Harry Potter memang telah lama selesai. Buku terakhir seri ini, Harry Potter and The Deathly Hallows, diterbitkan tahun 2007, sedangkan filemnya dirilis tahun 2010 (Bagian 1) dan tahun 2011 (Bagian 2). Meskipun telah selesai, kisah spektakuler dari dunia sihir a la J.K. Rowling yang pernah ditolak oleh penerbit ini masih terus menyihir kehidupan saya. Ketika prekuelnya yaitu Fantastic Beast and Where to Find Them serta Fantastic Beast The Crimes of Grindelwald dirilis, otomatis memori kita tentang Harry Potter muncul ke permukaan. Bagaimana tidak? Pernah dulu waktu masih hangat-hangatnya, saya sering sekali mengucapkan mantera-mantera dari serial tersebut seperti Stupefy.

Baca Juga: Survival Movies

Kisah utama buku ke-tujuh Harry Potter, sesuai judulnya, adalah The Deathly Hallows atau Relikui Kematian. Di dalamnya kalian akan menemukan pengembaraan tiga serangkai yaitu Harry, Ron, dan Hermione dengan misi mencari dan menghancurkan horcrux-horcrux milik Voldemort agar si penyihir terhitam dan terjahat itu melemah dan mudah dikalahkan. Misi yang tidak mudah karena Albus Dumbledore hanya menyisakan sedikit petunjuk setelah kematiannya. Selain itu, misi mereka lainnya adalah mencari tahu tentang simbol Relikui Kematian yang tergambar pada lembar demi lembar buku warisan Albus Dumbledore untuk Hermione. Buku itu berjudul The Tales of Beedle and Bard. Simbol Relikui Kematian juga dipakai oleh Xenophilius Lovegood (ayah Luna Lovegood) dalam bentuk bandulan kalung. Hermione juga melihat simbol Relikui Kematian pada makam Ignotus Peverell di Godric's Hollow.

Kisah Tiga Bersaudara Peverell


Relikui kematian adalah tiga benda keramat yang diciptakan dan diberikan oleh Kematian kepada tiga bersaudara yaitu Antioch Peverell, Cadmus Peverell, dan Ignotus Peverell. Kisah ini berada dalam buku The Tales of Beedle and Bard.

Alkisah ... ada tiga orang bersaudara berjalan jauh melalui jalanan sepi dan berkelok saat senja. Dalam perjalanannya mereka sampai di sungai yang berbahaya uuntuk diseberangi. Tapi mereka mempelajari ilmu sihir. Mereka dengan mudahnya melambaikan tongkat dan membuat sebuah jembatan. Akan tetapi sebelum mereka bisa menyeberang, jalan mereka dihalangi oleh seorang yang berkerudung. Itu adalah Kematian, dan dia merasa tertipu. Tertipu karena biasanya para pengelana akan tenggelam ke dalam sungai. Tapi kematian sungguh licik. Dia berpura-pura memberi selamat pada tiga bersaudara itu atas sihir mereka dan dan berkata bahwa masing-masing dari mereka mendapatkan hadiah karena cerdas menghindarinya.

Maka saudara yang tertua, Antioch, meminta tongkat yang lebih kuat dari tongkat lain. Lalu Kematian menciptakan tongkat buatnya dari Pohon Elder yang ada di dekat situ. 

Saudara yang kedua, Cadmus, memutuskan bahwa dia ingin menghina Kematian lebih jauh lagi dan meminta kekuatan untuk menghidupkan orang-orang yang dicintai dari kematian. Lalu Kematian mengambil sebuah batu dari pinggir sungai dan berikan itu padanya. 

Akhirnya, kematian bertanya pada saudara yang ketiga dan termuda yaitu Ignotus. Seorang pria yang sederhana. Dia meminta sesuatu yang dapat membuatnya pergi dari tempat itu tanpa diikuti oleh kematian. Dan kematian dengan sangat segan menyerahkan Jubah Gaib miliknya. 

Saudara pertama bepergian ke sebuah desa yang jauh dimana dengan Tongkat Elder di tangannya dia membunuh seorang penyihir yang bertengkar dengannya. Mabuk dengan kekuatan Tongkat Elder yang diberikan kepadanya dia membual akan kehebatannya. Tetapi di malam itu penyihir lain mencuri tongkat itu dan menggorok leher saudara itu sebagai tambahan. Dan Kematian mengambil saudara pertama itu sebagai miliknya.

Saudara kedua pulang ke rumahnya dimana dia membawa batu itu dan memutarnya tiga kali di telapak tangannya. Dia sangat senang ketika gadis yang dinikahinya yang keburu meninggal muncul di depannya. Namun sang gadis itu sedih dan dingin karena dirinya tak layak di dunia manusia. Gila karena kerinduan yang sia-sia saudara kedua membunuh dirinya agar bisa menyusul gadis itu. Dan Kematian mengambil saudara kedua itu sebagai miliknya.

Sementara saudara ketiga, bertahun-tahun kematian mencarinya namun tak bisa menemukannya. Hanya ketika ia sudah tua, saudara termuda itu memberikan jubah gaib itu pada puteranya. Dia menyambut Kematian bak teman lama dan pergi bersama Kematian dengan bahagia meninggalkan kehidupan ini.

Itulah kisah tiga bersaudara Peverell dengan Relikui Kematian.

Relikui Kematian


Ada tiga benda keramat Relikui Kematian. Jika seorang penyihir memiliki ketiganya maka akan dapat menjadi penguasa kematian. Dia dapat menjadi sangat mematikan dengan Tongkat Elder, dia dapat membangkitkan kematian dengan Batu Kebangkitan, dia pun dapat bersembunyi dari Kematian serta melindungi dua benda keramat lainnya dengan Jubah Gaib.


Siapa yang pernah memegang ketiga benda ini? Albus Dumbledore dan Harry Potter. Jubah Gaib telah menjadi milik Harry sejak lama, diserahkan oleh Albus Dumbledore atas wasiat ayah Harry yaitu James Potter. Batu Kebangkitan diwasiatkan oleh Albus Dumbledore kepada Harry, yang disembunyikan di dalam snitch wasiat tersebut. Sedangkan Tongkat Elder diperoleh Harry setelah melucuti Draco Malfoy di rumah penghuni Asrama Slytherin tersebut (kesetiaan tongkat kepada pemilik baru meskipun fisik si tongkat berada di tangan orang lain). Karena tanpa Draco sadari, dialah yang melucuti Tongkat Elder dari Albus Dumbledore sebelum Kepala Sekolah itu dibunuh oleh Profesor Snape.

Tongkat Elder


Tongkat Elder atau Elder Wand merupakan tongkat kepunyaan Albus Dumbledore. Inilah tongkat yang diminta Antioch Peverell kepada Kematian. Dalam dunia sihir, setiap penyihir mempunyai tongkat mereka masing-masing. Ada dua pembuat tongkat yaitu Ollivander dan Gregorovitch (di Bulgaria). Setelah dibunuh oleh penyihir lain, maka tongkat milik Antioch itu kemudian menjadi milik Gregorovitch. Si pembuat tongkat sihir yang bangga karena memiliki Tongkat Elder dan merasa puas karena bisa lebih populer dari Ollivander. Sayangnya tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Gellert Grindelwald. Entah bagaimana caranya. Mungkin Grindelwald mencuri setelah membikin pingsan si Gregorovitch.

Baca Juga: Sisi Lain Dunia Gulat Dalam Dangal

Karena ... menurut penuturan Ollivander ... sebuah tongkat sihir akan menjadi pemilik sah penyihir lain jika penyihir pemilik sebelumnya dilucuti, dipingsankan, atau dibunuh. 

Gambar diambil dari sini.

Pemilik Tongkat Elder selanjutnya adalah Albus Dumbledore setelah mengalahkan Gellert Grindelwald. Lalu menjadi milik Draco tanpa dia ketahui, setelah melucuti Albus Dumbledore, sebelum Kepala Sekolah bijak itu dibunuh oleh Profesor Snape. Dan ketika Harry melucuti Draco, tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Harry.


Demikianlah perjalanan panjang Tongkat Elder sebelum kemudian dicuri oleh Voldemort dari makam Albus Dumbledore. 

The Last Duel


Pertarungan terakhir antara Voldemort dan Harry tidak dapat terelakkan. Terutama setelah semua horcrux Voldemort dihancurkan. Fyi, horcrux adalah wadah tempat penyihir hitam menyimpan sobekan/pecahan/bagian dari jiwanya untuk mencapai keabadian. Horcrux terakhir yang dihancurkan adalah Nagini saat si ular hendak menyerang Ron dan Hermione. Adalah Neville Longbottom yang melakukannya, menggunakan Pedang Gryffindor. Voldemort membagi jiwanya menjadi delapan; tujun disimpan pada horcrux dan satu pada dirinya sendiri.

Pada pertarungan terakhir itu, Voldemort menggunakan Tongkat Elder, sedangkan Harry menggunakan tongkat milik Draco Malfoy. Namun, lagi-lagi mengingat siapa kepemilikan sah Tongkat Elder, tongkat itu tentu loyal kepada pemiliknya yang sah. Maka ... Voldemort kalah total dan Tongkat Elder, fisik si tongkat, berada di tangan si pemilik yang sah yaitu Harry. Luar biasa, sungguh, penggambaran pertarungan terakhir itu.

Menariknya tentang Tongkat Elder yang loyal pada Harry ini juga bisa terlihat pada pertarungan di Hutan Terlarang. Saat itu harusnya Harry mati lah. Diserang begitu rupa sama penyihir terjahat, terhitam, terkuat. Tapi loyalnya Tongkat Elder pada Harry tidak mampu membuat si tongkat mengikuti kehendak Voldemort. Harry hanya dibikin pingsan sesaat (rohnya bertemu Albus Dumbledore serta orang-orang mati lainnya) dan kembali bernafas. Ada juga yang menyebutkan bahwa semua itu karena perlindungan Lily Potter pada sang anak ajaib ini.

Kasihan juga si Voldemort. Dia berpikir Profesor Snape lah yang menjadi pemilik Tongkat Elder karena si profesor lah yang membunuh Albus Dumbledore. Tidak dia ketahui bahwa Draco lah yang seharusnya dia bunuh, bukan Profesor Snape, karena Draco lah yang melucuti Albus Dumbledore.

Baca Juga: Bodo Amat

Bagaimana dengan Batu Kebangkitan? Bukankah kalau Harry mati saat di Hutan Terlarang, toh dia bisa bangkit lagi? Bukankah Albus Dumbledore pasti punya tujuan tertentu memberikan Batu Kebangkitan pada Harry? Ada dua teori tentang hal ini yang akan saya tulis minggu depan. Haha. Nantikan, ya!


Tongkat Elder pada akhirnya tidak menjadi milik siapa-siapa. Karena Harry mematahkannya dan membuang ke jurang. Maka satu-satunya benda keramat Relikui Kematian yang masih berada di tangan Harry adalah Jubah Gaib. Bagaimana kisah dua benda keramat lainnya? Nanti ya, kita lanjut di pos #SabtuReview minggu depan!

Selamat berakhir pekan, selamat menonton ulang Harry Potter.



Cheers.

#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama i...


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Di ruang kerja saya, oleh KTU yang lama yang itu Mila Wolo, tersedia berbagai barang yang sering kalian lihat di rumah tangga. Mulai dari dispenser, piring, mangkuk, gelas, stoples kopi, stoples gula, stoples teh, stok kopi kemasan (sachet), ember dan sabun cuci piring, sampai kompor listrik mini! Jadi jangan heran, ide-ide untuk menyenangkan diri kala bosan melanda selalu saja datang. Oia, di ruang kerja mana pun di Universitas Flores, siapa yang mengotorkan gelas, dia wajib mencuci. Layani diri sendiri. Cleaning service tidak bertugas mencuci piring dan/atau gelas kotor. Mereka hanya bertugas membersihkan jendela, kusen, menyapu, mengepel, merapikan, dan lain-lain.

Baca Juga: Fobar

Kompor listrik mini ini menjadi salah satu andalan kami apabila kantin tutup. Waktu masih di lantai bawah (lantai dasar) hampir setiap hari saya ke kantin sih. Tapi setelah pindah ke lantai tiga, duuuh rasanya beraaaat ke kantin. Berat kembali ke lantai tiganya! Oke, kita lanjutkan. Jadi, suatu kali, Kakak Rosa Budiarti membawa mie, telur, dan cabai dari rumah karena kantin disinyalir bakal tutup selama beberapa hari. Saya kebagian juga donk. Maka kami memanfaatkan si kompor listrik.


Uh la la. Cetartos rasanya. Karena membikinnya di kantor, bukan di rumah, dan dinikmati saat masih panas. Lidah boleh melepuh yang penting kebosanan lenyap *halah*. Yang utama adalah memasak di kantor ini tidak dilakukan saat rush hour. Sekitar pukul 12.00 Wita lah baru kami mulai mengeluarkan bahan baku dan si kompor listrik mini.

Hyess! Pernah, saya pernah melakukannya. Memasak di kantor dan untung tidak ketahuan boss. Hihi. Bagaimana dengan kalian?


Cheers.

Berbicara tentang Triwarna Soccer Festival memang tidak ada habisnya. Selalu ada cerita, selalu ada bahan bekal pos blog . Boleh say...


Berbicara tentang Triwarna Soccer Festival memang tidak ada habisnya. Selalu ada cerita, selalu ada bahan bekal pos blog. Boleh saya bilang ini tempat berburu dengan konten terkaya. Kali ini saya menulis tentang komoditas andalan yang rajin wara-wiri di sekitar Stadion Marilonga tempat event ini berlangsung. Komoditas yang dijual baik oleh para papa lele (pedagang kaki lima), pedagang asongan, maupun UMKM. Tapi sebelumnya, mari kita simak apa itu komoditas?

Baca Juga: 5 Jawara Mural

Menurut Wikipedia, komoditas adalah sesuatu benda nyata yang relatif mudah diperdagangkan, dapat diserahkan secara fisik, dapat disimpan untuk suatu jangka waktu tertentu dan dapat dipertukarkan dengan produk lainnya dengan jenis yang sama, yang biasanya dapat dibeli atau dijual oleh investor melalui bursa berjangka. Secara lebih umum, komoditas adalah suatu produk yang diperdagangkan, termasuk valuta asing, instrumen keuangan dan indeks.

Oleh karena itu, tidak salah jika setiap kali kata komoditas melintas di kepala saya, yang terbayang adalah hasil bumi (pertanian/perkebunan), hasil laut, dan hasil peternakan. Dan, tentu saja, sesuai judul pos ini, ada lima komoditas yang paling rajin wara-wiri di sekitar Stadion Marilonga pada hari-hari TSF berlangsung. Apa sajakah komoditas itu?

Cekidot!

1. Kopi


Kopi adalah komoditas dari hasil bumi yang paling utama dibutuhkan oleh orang-orang baik Panitia TSF, pengunjung pameran, maupun penonton pertandingan sepak bola. Jadi yang namanya kopi ini tidak pernah kehabisan stok. Thika Pharmantara yang tidak biasa ngopi pun akhirnya doyan.


Penyajian kopi berbeda-beda, tergantung siapa penjualnya. Apabila penjualnya pedagang papa lele, maka kopi disajikan di gelas kaca, tapi pembeli dapat meminta mengganti gelas kaca dengan gelas plastik (lagi-lagi gelas plastik) untuk dibawa alias tidak minum di tempat. Apabila penjualnya dari Komunitas Kopi Sokoria atau Komunitas RMC Detusoko maka mereka menyajikan kopi menggunakan gelas kertas lengkap dengan tutupannya. Sama juga dengan gelas dari brand TOP (Kopi TOP) yang umumnya menggunakan gelas kertas (panitia dapat gratisan ini setiap harinya, hahaha).

Selain kopi yang telah diseduh, ada pula kopi kemasan yang siap dibeli (sudah dalam bentuk bubuk). Komunitas Kopi Sokoria dan Komunitas RMC Detusoko menyediakannya. Berjenis umumnya Arabika dengan macam-macam merek lokal. Tapi jangan salah, merek lokal ini sudah sampai ke daerah lain di Indonesia bahkan luar negeri. Menariknya, di tenda pameran Komunitas Kopi Sokoria, pengunjung bisa turut menumbuk kopi cara manual, serta penjaga tendanya pada setiap Malam Minggu mengenakan pakaian adat Ende.

2. Jagung


Siapa yang tidak suka jagung? Di TSF jagung merupakan komoditas yang turut mewarnai proses penambalan perut hehe. Ada dua macam olahan jagung yaitu jagung rebus dan jagung bunga atau disebut brondong. Umumnya jagung rebus yang dijual itu kami sebut jagung manis. Karena rasanya maniiis banget! Namun, saya belum melihat penjual jagung rebus selama ini.


Seorang pedagang asongan dan keranjang dagangannya.

Entah berapa banyak kilogram jagung yang terjual setiap harinya. Yang jelas, tiada hari tanpa jagung baik rebus maupun brondong dan laris manis!

3. Telur Rebus


A-ha. Ini dia yang paling saya cari kalau lagi pengen makan Pop Mie. Sedap, tahu, Pop Mie ditambah telur rebus. Jadi, salah satu pala lele langganan saya itu hafal betul permintaan saya dari setiap event. Iya, kan kami nge-date terus dari El Tari Memorial Cup, EGDMC, sampai TSF ini. Makanya dia khusus siapkan Pop Mie dan telur rebus serta mencari saya untuk ngasih tahu kalau kesukaan saya itu sekarang ready stock di lapaknya.


Suatu kali dia bilang begini: Pop Mie telur tersedia, Ibu. Saya balas: Dangdut mie ada? Dia tergelak sambil geleng-geleng kepala.

4. Keripik


Di TSF keripik termasuk yang paling dicari. Orang Ende bilang: keripik enak untuk Oma Ami. Dan dua komoditas kripik utama yaitu keripik pisang dan keripik ubi/singkong. Khusus keripik ubi/singkong ada varian rasa. Balado? Ada! Keju? Ada juga dooonk. Eh, saya belum sempat memotret keripik. Nanti ya hahaha.

5. Kacang Ijo


Satu gelas (ya, plastik lagi) seharga lima ribu. Siapa sih yang tidak mau? Saya? Pasti mau lah! Tapi anehnya saya lebih suka kacang ijo yang isiannya lebih banyak mutiara ketimbang si kacang haha. Daaaan saya suka meminta es batu kepada penjualnya meskipun sedang hujan.


Ah sedapnya.

Baca Juga: 5 Mural Favorit

Berbicara tentang TSF memang tidak ada matinya! Selalu ada cerita, hehehe. Dan harapan saya, kalian tidak bosan membaca pos-pos di sini. Siapa tahu terhibur. Bahwa di kota kecil nun jauh di Timur, selalul ada hal-hal yang menarik untuk diketahui *halaaah* haha.

Oia, ada satu foto yang pengen saya pos juga kali ini. Ini fotonya waktu saya secara sengaja memotret Kakak Rikyn Radja yang sedang mengumumkan laga berikutnya serta aturan-aturan yang wajib diketahui oleh para supporter maupun penonton. Yang tidak disengaja adalah KILAT SAMBAR POHON KENARI yang muncul di jauh sana:


Momen yang pas, tapi tidak disengaja :D hehe.

Selamat mempersiapkan akhir minggu ya, kawan. Semoga apa yang kita lakukan setiap hari selalu bermanfaat.


Cheers.

Hola! Ketemu lagi di #RabuDIY . Harinya kita berkreasi sepuas-puasnya. Hehe. #RabuDIY kali ini akan membahas tentang bunga hiasan dindi...


Hola! Ketemu lagi di #RabuDIY. Harinya kita berkreasi sepuas-puasnya. Hehe. #RabuDIY kali ini akan membahas tentang bunga hiasan dinding. Saya sering melihat bunga hiasan dinding atau bunga dinding ini di rumah orang-orang; keluarga, tetangga, teman. Bunganya menempel pada rangka dan biasanya sepasang. Rangka bunga dinding ini ada yang berbahan kayu tetapi kebanyakan berbahan plastik, sama seperti bahan bunga itu sendiri. Ya, plastik memang ada di mana-mana.

Baca Juga: Baskets

Suatu kali, saat sedang menganyam keranjang-keranjang pesanan, saya dikirimi gambar oleh Mila Wolo. Gambar itu adalah gambar bunga hiasan dinding dengan rangka terbuat dari kayu. Dia bertanya apakah saya bisa membikinnya? Saya menyanggupi tapi dengan satu syarat: tidak sama persis dengan gambar yang dia kirimkan. Gambar itu kira-kira seperti di bawah ini yang saya ambil dari Ali Express:


Awalnya saya memikirkan kayu sebagai bahan rangkanya karena besi tidak lah mungkin. Tapi demi memperoleh kayu-kayu itu saya harus pergi ke bengkel kayu untuk meminta atau membeli kayu-kayu bekas berukuran panjang dua puluh sampai tiga puluh senti meter dengan lebar sekitar lima senti meter. Putar otak ke kanan ke kiri, dibantu dinosaurus yang jungkir balik sampai giginya rontok, nonton ragam video tentang proyek-proyek DIY di Youtube, maka ... TRING! Muncul ide itu. 

Mari simak ... bagaimana membikin si bunga dinding ini.

Peralatan


1. Gunting.
2. Cutter.
3. Lem PVA (Webber).
4. Lem tembak (hot glue).
5. Mistar.
6. Alas kaca/keramik supaya mejanya tidak terluka.

Bahan-Bahan


Bahan-bahan untuk membikin bunga hiasan dinding ini sebagian besar merupakan barang bekas (yuk didaur ulang).

1. Botol plastik bekas air mineral.
2. Kardus.
3. Pipa kertas.
4. Cat.
5. Benang kasur.
6. Kertas HVS.

Cara Membuat


Potong botol plastik bekas air mineral dengan keutamaan bagian bawah/pantat botolnya. Ikuti bentuk bintang pada bagian itu, dan gunakan gunting untuk membentuk kelopak bunga. Ini hal yang mudah, menurut saya, hehehe. Penampakannya seperti pada gambar di bawah ini:


Jumlah bunganya tergantung kebutuhan. Silahkan dibikin sebanyak-banyaknya karena siapa tahu kalian bakal bikin banyak. Setelah selesai dengan membentuk bunga-bunga ini, langkah berikutnya adalah memberi warna. Saya menggunakan cat minyak/kayu warna merah dan pink:


Pada foto di atas, belum saya beri warna pink pada bagian garis/bintangnya. Biarkan cat mengering. Karena bahannya plastik, jelas tidak bisa menggunakan kipas angin, jadi dikeringkan secara alami dan lebih bagus lagi jika di bawah sinar matahari.

Baca Juga: Monotuteh

Urusan bunga beres, mari bikin rangkanya. Sayang waktu itu saya tidak memotret proses membikin rangka. Yang jelas saya membikin rangka berbahan karton bekas kardus yang dipotong sama ukuran. Karena karton bakal kardus yang saya gunakan itu tipis, maka dipertebal dengan menyatukan dua sampai tiga buah. Lalu dibungkus kertas HVS. Bakal 'kayu tipuan' ini di-cat cokelat, sesuai warna kayu dalam bayangan saya. Apabila cat kayu telah mengering, maka dapat dibentuk rangkanya.

Langkah terakhir adalah menempelkan bunga-bunga plastik ke rangka kayu menggunakan lem tembak. Penampakan hasil akhirnya seperti gambar berikut ini:


Gambar di atas sudah saya beri nomor:
1. Bunga plastik.
2. Rangka kayu tipuan :p.
3. Pemanis.
4. Tali.

Pemanis ini terbuat dari pipa kertas yang digulung, di-cat, dan ditempelkan. Awalnya saya tidak memikirkan soal ini, tapi dalam perjalanan pengerjaan, muncul ide-ide baru. Hehe.

Bunga dinding ini tidak saja dapat kita buat menggunakan botol plastik bekas tetapi juga berbagai bahan yang ada di rumah sesuai keinginan. Misalnya, bunga plastik dapat diganti dengan gulungan koran yang ditumpang-tinding dari besar ke kecil (bisa dua, bisa tiga, jangan lebih nanti terlalu berat). Bisa juga bunga-bunga dari koran yang membikinnya sangat mudah!

Yang menyenangkan hati adalah bunga hiasan dinding pesanan Mila ini masih tergantung manis di dinding ruang tamu rumahnya. Melihat bunga itu, ada kepuasan terhakiki. Hasil karya kita, meskipun dia memang membayar, dihargai dengan terus dipakai. Tak hanya bunga dinding itu saja, masih banyak barang hasil daur ulang yang saya bikin yang masih dipakai oleh teman-teman. 

Baca Juga: Hiasan Dinding DIY

Bagaimana, kawan? Menarik bukan? Saya yang tidak seberapa telaten ini bisa membikinnya, saya jamin kalian juga pasti bisa membikinnya. 


Cheers.

Sumber: Youtube . Kehidupan umat manusia melaju pesat. Dalam kehidupan sehari-hari kita telah melupakan caranya membikin api mengguna...

Sumber: Youtube.

Kehidupan umat manusia melaju pesat. Dalam kehidupan sehari-hari kita telah melupakan caranya membikin api menggunakan gesekan kayu atau batu karena bermodalkan Rp 500 kita sudah dapat membawa pulang korek api dari kios/warung. Lebih praktis lagi, tinggal membeli pemantik seharga Rp 1.000! Kita juga tidak perlu pusing memikirkan cara menyuling air besih dari air yang disediakan alam karena sudah ada PDAM yang menyediakannya. Listrik? Mana perlu kita repot berpikir membikin obor karena sejumlah uang telah membikin token listrik kita terpenuhi daya.

Baca Juga: Teknik Airbrush

Tapi, akan sangat menyenangkan apabila kita menonton video tentang teknologi dari dunia lampau yang ditulis primitif. Lalu tanpa sadar kita menyeletuk: oooh begitu ternyata caranya. Menarik sekali menonton video-video tentang kehidupan primitif yang beredar di Youtube. Tentu orang-orang di dalam video tersebut adalah orang-orang zaman sekarang. Hehe. Mereka punya daya kreativitas yang tinggi: memikirkan konsep dengan kembali pada teknologi dasar, membikin video, dan membagikannya dengan kita semua.

Ada beberapa video tentang teknologi primitif yang saya sukai. Diantaranya membangun gubuk berbahan tanah liat, membikin api, membikin anggur dari nangka, menyuling air, hingga memasak ikan/daging dengan mengandalkan batu ceper. 

Mari kita simak beberapa teknologi dasar yang terlupakan ini ... yang utama, yang kita butuhkan sehari-hari.

1. Membikin Api


Di dalam filem Castaway, betapa putus asanya Chuck Noland (Tom Hanks) saat membikin api. Api tidak kunjung menyala, tangannya terluka parah. Tapi niatnya sungguh genap. Atas dorongan Wilson (sahabat halu; sebuah bola yang tercap darah dari tangannya), Chuck berhasil membikin api melalui gesekan kayu pada kayu lainnya. Salah satu rahasianya adalah beri ruang pada angin! Video membikin api bisa dilihat pada video karya Primitive Technology Idea yang satu ini. Yang jelas, seperti kata Chuck dalam Castaway, jangan lupakan angin! Berilah ruang pada angin untuk menghasilkan api.

2. Menyaring Air


Pada video milik Survival Skills Primitive kalian akan tahu bagaimana caranya menyaring air (kotor/alam) menjadi air bersih. Ada beberapa lapisan yang dibutuhkan untuk menyaring air ini: ranting, batu, pasir, yang ditumpuk. Silahkan lihat sendiri videonya. Nah, air ini bisa dimasak menggunakan api yang dibikin sendiri seperti pada poin nomor satu di atas. Tapi, bagaimana dengan panci memasak? Untuk memasak air, orang zaman baheula menggunakan pot tanah liat. Bagaimana membikinnya? Mudah saja ... mudah bagi mereka ... sulit bagi saya. Haha.

3. Membikin Pot Tanah Liat


Membikin pot tanah liat atau clay pot membutuhkan bahan dasar tanah liat itu sendiri. Pada video milik Primitive Skills ini kalian akan melihat teknologi membikin pot tanah liat dengan teknologi yang lebih canggih. Mereka sudah bisa membikin pot tanah liat menggunakan alat putar yang juga dibikin sendiri menggunakan kayu. Pot tanah liat pada zaman baheula punya banyak manfaat. Kalau zaman sekarang sih setiap masakan ada alatnya masing-masing: panci kukus, panci rebus, wajan dalam, wajan dangkal (Teflon sangat ternama).

4. Membikin Gubuk


Ada banyak macam gubuk yang dibikin. Ada yang berbahan kayu ada pula berbahan batu dan tanah liat. Salah satu channel yang sangat saya sukai adalah Tube Unique Wilderness. Video membikin rumah dari bambu dan tanah liat dapat dilihat di sini. Gubuk adalah kebutuhan papan manusia, tempat berlindung dari hujan, badai, panas. Yang paling saya sukai dari Tube Unique Wilderness adalah tokoh yang bekerja di dalam video itu. Terlihat sangat primitive dan penuh kebisuan kecuali natural sound. Indah sekali hidup mereka; banyak aksi, nyaris tidak bicara.


Zaman sekarang, masih adakah kita yang menggunakan teknologi dasar? Tentu tidak. Sesekali, mungkin, teman-teman yang berkemah di alam bebas melakukannya. Tapi rasa-rasanya untuk memasak pun sudah dibawa kompor portabel dari rumah. Mengetahui teknologi dasar yang dilakukan para leluhur kita, adalah pengalaman jiwa yang luar biasa, bahwa betapa beruntungnya kita yang hidup pada zaman sekarang. Semua serba mudah.

Baca Juga: Paper Bed

Bagaimana dengan kalian, kawan? Pernahkah menonton video-video seperti tersebut di atas? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.