BlogPacker

I Write My All

LightBlog

Mengintip Talkshow Keren a la Blogfam di Live Instagram . Saya sudah menulis tentang Blogfam Reborn , tetapi belum sempat dipublis. N...


Mengintip Talkshow Keren a la Blogfam di Live Instagram. Saya sudah menulis tentang Blogfam Reborn, tetapi belum sempat dipublis. Nanti deh. Blogger Family (Blogfam) bukan nama baru di kancah komunitas blog Indonesia. Ada beberapa komunitas blogger yang terinspirasi dari Blogfam dan dibangun oleh anggota Blogfam itu sendiri. Meskipun sempat mengalami mati suri namun Blogfam tetap dan akan selalu ada. Kali ini Blogfam kembali dengan inovasi baru yang menurut saya ... sudah seharusnya dilakukan hehe. Karena apa? Karena anggota Blogfam itu hebat-hebat dan bolehlah berbagi cerita, informasi, ilmu, pengalaman, kepada orang lainnya.

Baca Juga: Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online

Meskipun bersifat daring, karena komunitas blogger pasti terjadi atau ada atau dibangun karena daring, tapi Blogfam sudah melaksanakan ratusan kegiatan luring. Itu dulu, ketika level kesibukan setiap anggota belum tiba di nirwana. Haha. Saat ini, setiap anggota super sibuk (termasuk saya, oih), ditambah lagi dengan Covid-19 yang mengharuskan kita lebih sering berada di rumah. Menyikapinya, maka bersingungan dengan Blogfam Reborn, dilakukan kegiatan keren yang tidak mengharuskan anggotanya keluar rumah. Cukup bermodalkan telepon genggam dan pulsa internet, voilaaaaa ...

Talkshow Live Instagram


Talkshow live Instagram dilakukan melalui aplikasi Instagram. Tajuk besar yang diambil adalah NGOBLOG: NGOBROL BARENG BLOGFAM. Kegiatan ini sudah berjalan? Sudah dong! Sudah dua kali malah.



Dan akan berlanjut pada yang berikut ini:



Jangan lewatkan, ya!

Teknisnya?


Nah ini dia, kita bicara tentang #SelasaTekno hehe. Awalnya saya juga bingung karena belum pernah melakukan live Instagram. Setelah saya cari tahu, ternyata mudah saja. Anyhoo, Instagram Live adalah fitur di Instagram Stories yang memungkinkan pengguna untuk mengalirkan video ke pengikut dan terlibat dengannya secara real time. Saat pengguna menyiarkan streaming video langsung di akun mereka, sebuah cincin menyoroti gambar profil mereka di Cerita Instagram untuk memperingatkan pengikut bahwa mereka dapat melihat siaran langsung. Selain itu, kita juga bisa mengundang pengguna Instagram lain bergabung ... makanya dapat tercipta talkshow.

Mudah saja:

Login pada akun Instagram yang akan melakukan live, kemudian setelah live kita bisa mengundang narasumber yang sudah disepakati (tentu sedang daring juga narasumbernya). Selesai.


Bagi kalian yang haus informasi-informasi keren, pastikan untuk mengikuti akun Blogfam di Instagram dan selalu memantau. Rugi lah kalau kalian melewatkan informasi-informasi keren itu. Hehe. Insha Allah akan bisa terus berjalan.

Baca Juga: Ternyata Ada Teknologi Self-Sanitizing Door Handle Loh

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua. Ingat selalu pada masa Covid-19 ini jagalah protokol kesehatan. Menjaga jarak (aman), memakai masker, mencuci tangan dengan sabun minimal dua puluh detik dan/atau mencuci tangan dengan hand sanitizer, menyemprot disinfektan. Salam semangat dan salam sehat untuk kita semua.

#SelasaTekno



Cheers.

Satu Minggu Yang Diam dan Senyap di Blog dan Youtube . Minggu kemarin saya sama sekali tidak menulis blog dan hanya satu kali mengu...


Satu Minggu Yang Diam dan Senyap di Blog dan Youtube. Minggu kemarin saya sama sekali tidak menulis blog dan hanya satu kali mengunggah video di Youtube. Benar-benar satu minggu yang diam dan senyap. Tetapi tentu saya ada alasannya. Meskipun diam dan senyap di blog dan Youtube, dalam kehidupan nyata justru sebaliknya. Terlalu banyak hal yang dilakukan sehingga untuk menengok blog pun sulit. Fokus, fokus, fokus. Kalau fokus terpecah, maka hari ini saya belum tentu bisa menulis blog. Haha. Tapi tentu saya

Baca Juga: Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan

Di Kota Ende selain marak berita tentang satu orang yang dinyatakan positif Covid-19, warga juga dikejutkan dengan berita penyiraman air keras terhadap seorang perempuan bernama Adi Nona hingga meninggal dunia (karena cairan tersebut katanya memasuki jalan nafas). Berita ini sungguh membikin perasaan saya hancur. Bagaimana mungkin ada orang setega itu terhadap orang lainnya? Di bulan suci Ramadan pula! Dan yang lebih sadis adalah netizen yang kemudian memosting foto jenazah bersangkutan saat masih di IGD. Ini kan nganu ... pengen marah-marah jadinya.

Saya menulis begini di Facebook:

Arogansinya Netizen +62

Bulan Agustus 2017 Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Flores (Uniflor) menggelar kegiatan bertajuk "Secangkir Kopi bersama Abang Frans Padak Demon". Abang Frans dari VoA Indonesia di Jakarta melempar quiz/pertanyaan. Kira-kira begini pertanyaannya: lebih mudah mana, pekerjaan wartawan zaman sekarang atau zaman dulu ketika belum ada internet? Saya sebagai orang yang menjawab dengan benar mendapat hadiah dompet VoA dan satu barang lagi yang saya lupa barang apa.

Jawaban saya waktu itu: lebih mudah pekerjaan wartawan zaman dulu karena saat sekarang wartawan bersaing dengan netizen yang selalu ingin lebih dulu menyiarkan segala sesuatunya tanpa memerhatikan akurasi data dan fakta.

Sejak mengenal Internetsehat (ICT Watch) dan kalimat "Jurnalis Warga" saya tahu bahwa netizen juga berhak untuk memosting apa pun, tetapi harus tetap memerhatikan kode etik online. Sayangnya arogansi netizen +62 jauh lebih besar menguasai besarnya bentuk otak di dalam tempurung kepala.

Pasal 4 PERATURAN DEWAN PERS Nomor: 6/Peraturan-DP/V/2008 Tentang Pengesahan SURAT KEPUTUSAN DEWAN PERS Nomor: 03/SK-DP/III/2006 Tentang KODE ETIK JURNALISTIK SEBAGAI PERATURAN DEWAN PERS berbunyi sebagai berikut:

"Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul."

Penafsirannya adalah sebagai berikut:

"Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan."

Tidak mengenal belas kasihan merupakan wujud dari arogan. Arogan berarti sombong, congkak, pongah, serta mempunyai perasaan superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa.

Wartawan tentu mematuhi aturan yang diberlakukan untuk mereka. Tapi netizen ...?

Netizen +62 itu arogan. Meskipun tidak semua. Kenapa arogan? Karena dengan penuh rasa percaya diri memosting foto jenazah/mayat di media sosial. Salah satu media sosial itu bernama Facebook. Karena apa mereka arogan? Karena ingin menjadi yang pertama menyiarkan berita dan foto tanpa menggunakan otak yang dilindungi tempurung kepala itu. Lebih sadis, foto jenazah yang diposting bukan keluarga mereka sendiri. Padahal, meskipun keluarga, sebaiknya menghindari melakukannya karena itu merupakan bentuk tidak punya rasa hormat terhadap jenazah.

Ini baru melihat dari peraturan Dewan Pers, belum lagi peraturan lain seperti Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Apakah memosting foto jenazah bisa terjerat hukum? Ya, bisa. Jangankan jenazah. Sebenarnya memosting foto orang lain tanpa izin yang bersangkutan pun bisa terjerat hukum. Pihak keluarga dari si jenazah bisa melakukan penuntutan terhadap netizen yang memosting foto korban yang bersangkutan. Bisa dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Siapa sih yang senang foto jenazah keluarganya diposting orang lain yang tidak ada sangkut-pautnya? Keluarga bukan, pihak berwajib juga bukan, tapi berani melakukannya.

Netizen yang berani memosting foto jenazah di media sosial itu:

TIDAK PUNYA NURANI.

Sebenarnya saya mau menulis BUTA HUKUM tapi toh zaman sekarang setiap orang bisa mengakses segala macam peraturan yang ada. Jadi lebih tepatnya tidak punya nurani karena AROGAN.

Menjadi yang pertama itu baik, tapi menjadi yang pertama tanpa memikirkan hak orang lain untuk dihormati adalah bo ...

#LifeIsGood

Tahan-tahan emosi. Postingannya jauh lebih sopan. Hehe.

Baca Juga: Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy

Saya harap netizen berhenti memosting foto jenazah dan/atau foto-foto bersifat sadis lainnya. Terutama foto jenazah, postinglah foto ketika beliau masih hidup dalam kondisi sehat dan penuh senyum. Biarkan semua orang mengenangnya dalam kondisi itu, bukan dalam kondisi yang buruk (setelah meninggal). Come on, kita orang-orang yang cerdas kan? I guess.

Semoga bermanfaat!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Menambah Wawasan Bersama Building A Ship While Sailing . Salah satu buku yang saya baca saat work from home demi menjalankan #DiRumahS...


Menambah Wawasan Bersama Building A Ship While Sailing. Salah satu buku yang saya baca saat work from home demi menjalankan #DiRumahSaja berjudul Building A Ship While Sailing. Sebuah buku yang dibagikan langsung oleh penulisnya usai kegiatan seminar sekaligus peluncuran buku tersebut di Auditorium H. J. Gadi Djou tanggal 25 Agustus 2017. Sudah lama diluncurkan kenapa baru dibaca sekarang? Karena saya baru saja memperolehnya dari Kakak Shinta Degor. Haha. Dan lumayan juga buku ini dibaca di masa pandemi Covid-19, mengisi waktu, sembari nge-blog dan berkebun mini di beranda belakang Pohon Tua. Dan yang namanya buku, tentu selalu baik untuk dibaca, selama buku itu memang merupakan buku yang bermanfaat.

Baca Juga: Menonton Ulang Suami-Suami Yang Masih Takut Sama Isteri

Bagi kalian yang penasaran, marilah kita kenalan sama buku ini.

Building A Ship While Sailing


Building A Ship While Sailing ditulis oleh S. D. Darmono, Chairman Jababeka Group. Buku bersampul hitam dengan foto sang penulis ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Sebanyak 222 halaman kita tidak saja disuguhi bermacam teori tetapi juga quote menarik, serta foto-foto. Menurut S. D. Darmono, judul buku ini diinspirasi oleh Prof. Dr. Emil Salim beberapa tahun lalu ketika meresmikan Botanical Garden yang dibangun Jababeka di Cikarang, Bekasi. Sambil bergurau Prof. Dr. Emil Salim mengatakan, kita ini membangun negeri seperti membangun kapal sambil berlayar.

Pengantar buku ditulis oleh Prof. Dr. Komarudin Hidayat, Ketua Tidar Heritage Foundation (THF). Menurut beliau:

Setelah membaca buku ini, kita akan semakin mengenal kesungguhan dan kedalaman berpikir Mas Darmono untuk mengabdikan diri kepada bangsanya. (Hidayat dalam Darmono, 2017:xvii).

Terhitung 10 Bab tersaji dalam Building A Ship While Sailing. Dan saya memaknainya sebagai pelajaran tentang sejarah membangun negeri dari banyak aspek. Perjuangan tidak akan pernah berhenti.

Bergerak Maju Tanpa Melupakan Sejarah


Pada bab-bab awal Building A Ship While Sailing pembaca diajak menelusuri sejarah bangsa ini. Mulai dari Indonesia di zaman purba, nusantara di era Mahapahit, kemudian Indonesia dan kesultanan, hingga meluruskan pandangan tentang pribumi. Membaca tentang keteladanan tokoh bangsa membikin jiwa patriot dalam diri saya memberontak pula. Apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia? Hiks. Tahunya cuma berkoar-koar di media sosial, mengeluh tentang hal-hal yang tidak penting. Sedangkan Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, hingga John Lie Tjeng Tjoan, alias Jahja Daniel Dharma; satu-satunya milisi Indonesia keturunan Tionghoa yang meraih pangkat Laksamana Muda dan diberikan gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia.

Mengapa sejarah dan tokoh-tokoh besar bangsa diulas di dalam Building A Ship While Sailing? Karena tidak ada yang namanya depan tanpa belakang. Tidak ada yang namanya masa depan tanpa sejarah. Seperti ... apakah itu masih disebut putih bila tidak ada hitam? Kira-kira seperti itulah. Pembaca diajak untuk memahami tentang pembangunan bangsa ini sejak awal mula, simpang-siurnya kondisi pada zaman perjuangan dulu, hingga perjuangan tak kenal ampun para tokoh besar bangsa ketika Indonesia diproklamirkan merdeka, bagaimana Indonesia harus bergaul dan bergaung di dunia/global, bagaimana sebuah kapal yang belum sempurna harus mengarungi lautan yang ganas. Ya, bagaimana kemudian kapal ini terus bertahan di lautan ganas tersebut.

Wisata budaya merupakan poin yang paling saya soroti dari Building A Ship While Sailing. Ulasannya lengkap dan luas. Menurut Darmono, pariwisata merupakan salah satu sektor utama yang harus mulai dikembangkan dan dikelola dengan sangat serius untuk meningkatkan pendapatan regional dan nasional di Indonesia. Ada beberapa alasan mendasar kenapa pariwisata harus ditempatkan sebagai salah satu sektor penting pembangunan ekonomi. Alasan yang pertama tidak terlepas dari perubahan dunia. Dunia tengah memasuki gelombang revolusi ketiga setelah dua revolusi sebelumnya, yakni revolusi politik dan revolusi industri. Revolusi ketiga ini berlangsung pada wilayah teknologi komunikasi-informasi dan transportasi. Situasi ini memberikan pengaruh yang sangat besar pada dunia pariwisata.

Sangat setuju!

Memulai Tidak Menunggu Sempurna


Ini garis besar yang saya tangkap setelah membaca Building A Ship While Sailing. Bagaimana kita memulai tanpa menunggu sempurna. Saya contohkan diri sendiri yang dulu ketika hendak berhijab selalu punya pernyataan: kumpulkan pakaian lengan panjang dan aneka hijab dulu, baru berhijab. Sampai kapan? Entah. Oleh karena itu pada suatu pagi saya menyingkirkan pernyataan sinting itu dan mulai berhijab. Hijrah yang terasa begitu menyenangkan karena justru setelah dilakukan, justru berjalan dengan mulus. Kendalanya ada ... kalau jilbab yang hendak saya pakai ternyata masih basah. Hahaha.


Baca Juga: Inilah Bukti Bahwa Takut Tidak Butuh Penampakan Setan

Bagaimana, kawan? Tertarik untuk membaca buku Building A Ship While Sailing juga? Silahkan. Saya jamin kalian tidak akan menyesal. Wawasan pasti bertambah. Apa yang saya tulis cuma sebagian kecil dari nilai-nilai yang diperoleh usai membacanya. Berjuanglah, blended dengan kondisi sekarang, dan naikkan layar meskipun kapal kalian belum sempurna terbentuk. Percayalah, banyak pelajaran yang bisa kita peroleh selama perjalanan ini dan pengalaman itu dapat menjadi penyempurna perjalanan.

Semoga bermanfaat.

#SabtuReview



Cheers.

#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini. *** #PDL Mem...


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

#PDL Mempromosikan Universitas Flores di Pulau Sumba. Saat ini Universitas Flores (Uniflor) sedang dalam tahap mempromosikan kampus dan menerima pendaftaran calon mahasiswa baru. Pada saat seperti ini saya selalu teringat masa-masa menjadi tim promosi Uniflor. Salah satunya adalah pergi ke Pulau Sumba. Pulau sabana. Pulau berjuta kuda. Pulau dengan adat dan budaya yang sangat kental di setiap jengkalnya. Kalau ditanya apakah saya ingin kembali ke Pulau Sumba? Tentu! Tidak saja untuk menyaksikan kembali Pasola, tetapi juga untuk mengkesplor setiap sudutnya. Semoga.







Pernah, saya pernah melakukannya, dan ingin melakukannya lagi. Bekerja sambil #KakiKereta. Semoga Covid-19 lekas berlalu agar kita bisa jalan-jalan lagi. Amin YRA. Hehe.

#PDL



Cheers.

5 Tanaman Kebutuhan Dapur Ini Sangat Mudah Ditanam . Halo semua. Masih #DiRumahSaja ? Tentu. Sudah mulai bosan? Jangan dong. Hehe. Bosa...


5 Tanaman Kebutuhan Dapur Ini Sangat Mudah Ditanam. Halo semua. Masih #DiRumahSaja? Tentu. Sudah mulai bosan? Jangan dong. Hehe. Bosan bisa bikin stres. Stres adalah salah satu sumber penyakit. Mari kita lawan kebosanan akibat Covid-19 dengan berkebun. Rajin-rajinlah menonton video berkebun di Youtube karena itu bisa menjadi sumber inspirasi berkegiatan selama masa karantina ini. Berkebun merupakan salah satu upaya untuk ketahanan pangan setidaknya ketahanan pangan di dalam rumah sendiri. Kalau kalian menonton serial The Walking Dead, kalian pasti tahu bahwa untuk mengatasi urusan makan dan minum, para penyintas itu berkebun dan memelihara ternak (babi) demi kelangsungan hidup mereka di tengah kepungan para zombie. Mungkin kalian bahal bilang, ini terlambat! Harusnya berkebun dilakukan sejak dulu sehingga sekarang, pada masa Covid-19, kita tinggal meneruskan dan bahkan memanen. Tapi bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali?

Baca Juga: 5 Manfaat, 5 Tips, 5 Quotes, dan Pos Rangkuman Lainnya

Berkebun tidak membutuhkan lahan besar berhektar-hektar. Namanya berkebun mini. Dilakukan di rumah. Lain cerita kalau kalian mempunyai pekarangan yang luas depan, belakang, samping kanan dan kiri dari rumah, tentu bakal banyak banget tanaman yang bisa ditanam sembari mengisi waktu ketika pekerjaan yang dilakukan di dan/atau dari rumah sudah selesai. Saya sendiri juga tidak punya lahan (tanah/pekarangan) yang banyak, sehingga memanfaatkan polybag merupakan pilihan tepat. Tanah yang diisi di polybag diperoleh dari Abang Umar Hamdan dan Cahyadi. Ada juga tanah dari pekarangan samping Pohon Tua (dekat jalan). Yang penting adalah keuletan dan ketekunan merawat tanaman-tanaman tersebut, termasuk memberi pupuk dan menyemprot cairan anti hama, serta memberi kesempatan kepada tanaman disentuh sinar matahari untuk perkembangannya.

Berkebun di masa Covid-19 merajalela ini harus melihat-lihat juga tanaman mana yang lekas tumbuh dan bisa dikonsumsi. Kalau kita memilih menanam pepaya, misalnya, tentu tidak bisa lekas panen dalam tempo minggu atau tiga bulan. Pepaya setidaknya membutuhkan waktu sampai sembilan bulan untuk bisa dipanen. Oleh karena itu, pintar-pintar memilih tanamannya ya. Kali ini saya bakal menulis tentang lima tanaman kebutuhan dapur yang sangat mudah ditanam dan boleh dibilang jangka waktu panennya cukup cepat. 

Marilah kita cari tahu!

1. Sorgum


Bagaimana bisa sorgum tumbuh di tanah sisa beranda belakang Pohon Tua yang cuma sebesar 1 x 1 meter itu, kalian bisa membaca pos berjudul Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy. Sorgum merupakan tanaman yang sangat mudah ditanam. Gali tanah, isi bibit sorgum, biarkan saja. Dalam waktu sebulan saja sudah mulai kelihatan bibitnya tumbuh. Jangan salah, penampakan pohon sorgum ini mirip pohon jagung tapi mereka berbeda. Hehe. Dalam waktu tiga bulan, sorgum sudah bisa dipanen. Bagaimana cara memanennya, kalian bisa membaca pos di atas, atau menonton video berikut ini: 


Sorgum yang sudah dipanen itu dirontokkan bulirnya, lantas dijemur. Bisa juga dijemur baru dirontokkan bulirnya. Tinggal pilih mana yang paling gampang. Saya mencoba mengelola biji sorgum ini. Pertama-tama digoreng layaknya jagung bunga. Bisakah? Bisa! Jadinya: sorgum bunga. Karena waktu itu hanya mencoba, ya tidak banyak ... hehe.


Keesokan harinya tiga genggam sorgum kami coba tanak layaknya menanak nasi menggunakan panci (bukan di magicom). Ternyata ... bisa! Amboi, bahagianya saya melihat sorgum itu di piring. Langsung saya tata, untuk keperluan foto, dengan bahan apa pun yang ada di meja karena saat itu si Thika masih memasak lauk-pauk bekal makan malam. Hehe. 


Tak ada daun sop, cabe ijo pun jadi *ngakak guling-guling*.

2. Cabe


Cabe termasuk tanaman kebutuhan dapur yang dimanfaatkan sehari-hari untuk membikin sambal. Tanpa tomat pun, cabe yang diulek bercampur garam dan bawang sudah bisa menemani nasi yang kita makan. Sejak ditanam, cabe mulai berbuah dan bisa dipanen/dipetik dalam jangka waktu yang lumayan singkat sekitar satu sampai dua bulan, dan seterusnya selama dia terus berbunga maka insha Allah berbuah.


Menanam cabe bukan baru pertama kali bagi saya. Dulu saya juga menanamnya dan setelah tumbuh besar hampir setiap hari kami menikmati cabe hasil tanam sendiri ini. Bibit cabe dibeli di Toko Sabatani. Saya suka sekali sama toko ini karena semua kebutuhan berkebun tersedia. Yang jelas, harus bawa duit! Haha. Pada foto di atas ada pohon cabe rawit dan pohon cabe keriting yang juga sudah berbuah. Dua anakan cabe ini saya peroleh dari Cahyadi.

3. Kangkung


Kangkung merupakan tanaman yang paling mudah tumbuh dan paling cepat dipanen. Bahkan, kalian tidak perlu membeli bibit kangkung, cukup memanfaatkan batang-batang kangkung yang daunnya sudah dipakai/dimasak. Tidak percaya? Kangkung yang kalian lihat pada gambar berikut ini merupakan hasil dari menanam kembali batang kangkung yang daunnya sudah kami konsumsi loh.


Dari saat menanam sampai dipanen hanya membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga minggu. Lumayan cepat kan? Saat ini saya juga sedang menanam kangkung tapi bukan batangnya melainkan bibitnya. Dari video di Youtube ada bermacam cara menanam bibit kangkung. Katanya bibit harus direndam terlebih dahulu dengan air sebelum ditanam. Oleh karena itu kami mencoba dua cara. Pertama: bibit langsung ditanam pada media tanam di polybag. Kedua: bibit direndam terlebih dahulu dengan air sebelum ditanam pada media tanam di polybag. Nanti kita lihat hasilnya. Mana yang duluan tumbuh. Soalnya baru dilakukan/ditanam kemarin.

4. Bawang Merah


Menanam bawang merah saya lakukan hanya karena ikut-ikut, gara-gara melihat video di Youtube. Cara menanamnya atau membudidayakannya pun bermacam-macam. Saya lantas mencoba menanam beberapa bawang di polybag yang ukurannya agak besar. Saya menanamnya pada tanggal 17 April kalau tidak salah. Saya pikir, sepertinya bawang ini tidak bakal tumbuh karena naga-naganya bakal tamat. Eh, tetapi suatu pagi saya dikejutkan dengan pertumbuhan daun bawangnya! Amboiiii ... bahagia hati saya melihatnya.


Gara-gara itu, saya kembali mencoba menanam bawang dengan teknik lain yaitu semacam hidroponik tapi ini yang super sederhana saja. Awalnya juga saya pikir bakal tamat generasi penanaman kedua ini. Tetapi ternyata ... tumbuh. Bawang ini saya tanam sekitar awal Mei.


Kalau kalian lihat ada penampakan kulit telur, iya, saya menghancurkan kulit-kulit telur dan menyiramnya di tanah tempat tanaman tumbuh. Apa manfaat kulit telur bagi tanaman ... nanti bakal saya ulas haha.

5. Toge


Toge (tauge) merupakan sayuran yang tidak perlu ditanam, sebenarnya, tetapi kalau kalian mau bolehlah menanam bibit kacang ijo (hijau). Hanya bermodalkan kacang ijo kemasan 5K kami bisa menikmati toge selama dua hari (dibagi dua).


Membikin toge sangat mudah. Tinggal direndam, lantas dibiarkan saja di wadah dengan ditutup kain. Hasilnya seperti yang kalian lihat di atas.


Selain lima tanaman di atas, ada juga bibit sawi yang kami tanam. Tetapi karena salah menanam, di mana saya menanam dalam jumlah banyak per polybag, sebagiannya mati, sebagiannya hidup. 


Katanya sawi sudah bisa dipanen setelah usia satu sampai dua bulan. Mungkin karena media tanam waktu itu belum dicampur bokasi, dan cara menanam yang salah, makanya sudah sebulanan lebih sawinya tetap begitu-begitu saja, alias pertumbuhannya sangat lambat. Tapi tidak mengapa. Ini menjadi pembelajaran bagi saya untuk ke depannya. Setidaknya sawinya tetap tumbuh meskipun sangat lambat.

Baca Juga: 5 Kegiatan Yang Saya Lakukan Saat Di Rumah Saja

Berkebun memang sangat menyenangkan terutama pada saat sekarang di mana kita lebih banyak berada di rumah. Setiap pagi saya selalu dikejutkan dengan perubahan tanaman-tanaman ini (saat mereka mulai tumbuh besar). Tanaman-tanaman yang sudah besar saya letakkan di luar beranda yang tidak beratap sedangkan yang masih kecil dikeluarkan setiap pagi dan dimasukkan kembali setiap sore. Tidak lupa untuk menyiramnya pagi dan sore, tapi tidak sama takaran air untuk setiap tanaman. Dikira-kira saja lah. 

Semoga bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.

Produk DIY Bertebaran di TK Uniflor dan Kober Yapertif . Kalau kalian membaca pos kemarin,  Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembela...


Produk DIY Bertebaran di TK Uniflor dan Kober Yapertif. Kalau kalian membaca pos kemarin, Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online, tentu kalian tahu bahwa kemarin saya berkegiatan di TK Uniflor dan Kober Yapertif. Sambil bekerja, mata saya memerhatikan ruang-ruang kelas yang ditata apik di mana ada pemilahan: area drama, area sains, area balok, dan lain sebagainya. Dinding-dinding ruang kelasnya dipenuhi gambar antara lain gambarnya murid-murid dan tulisan bergambar seperti pohon tema. Selain rak-rak berisi buku, juga ada kardus berisi aneka permainan edukatif dan meja tempat memajang aneka permainan dan hasil kerajinan tangan murid-murid. Bagi saya, tempat pendidikan anak ini sangat instagenic. Manapula tembok panjang (tembok taman bermain) di depan jejeran kelas dipenuhi lukisan tokoh-tokoh kartun.

Baca Juga: Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat

Menjadi guru TK dan guru Kober tentu harus kreatif. Senin kemarin waktu merekam footage bahan pembelajaran online-nya Ibu Gin (setelah merekam Ibu Efi), pada tema ajar rumah adat kan sudah ada rumah adat yang digambar (selain maket rumah adat), Ibu Efi berinisiatif mengumpulkan daun-daun kering bakal digunakan untuk ditempel bagian atap dan dindingnya, dan dipraktekkan oleh Ibu Gin. Ini kan super kreatif. Merangsang otak anak-anak untuk lebih kreatif, sekreatif guru mereka. Iya, saya kagum sekali pada mereka.

Kembali lagi pada tema hari ini #RabuDIY, maka ijinkan saya membagitahu kepada kalian bahwa di TK Uniflor dan Kober Yapertif bertebaran produk-produk DIY yang membikin saya berkata: wow! Saya harus menulis tentang ini.

Boneka Benang Wol


Benang wol dapat kita manfaatkan untuk berbagai kerajinan tangan. Saya pernah menulis Gelang Berbahan Benang Wol Yang Mudah Dibikin Sendiri. Umumnya orang-orang tahu benang wol sebagai bahan dasar membikin kerajinan tangan kristik. Selain benang wol, menyulam kristik juga membutuhkan media yaitu kain kristik, gambar (ada buku gambar khusus kristik ini), dan sebagian orang membutuhkan pemidang. Selain kristik, benang wol dimanfaatkan untuk merajut: membikin topi, kaos kaki bayi, bahkan gelang anyaman (bukan gelang seperti yang saya bikin tetapi ini lebih rumit). Benang wol juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan lilitan botol-hias. Macam-macam manfaat benang wol ini.

Di TK Uniflor dan Kober Yapertif saya menemukan kerajinan tangan dari benang wol, tanpa repot membikinnya. Ini dia penampakannya:


Asli, saya terkejut. Ternyata bisa juga benang wol dibikin boneka tanpa harus repot ini itu. Tinggak menyatukan dua benang wol, dikasih dasi dari benang wol lainnya, dikasih mata dan hidung. Jadi deh. Sepertinya saya ingin mencoba membikinnya juga. Imut dan unik ... bikin gemaaaaas. Seru juga kalau untuk rambut dipakaikan benang wol warna hitam hehehe. Tunggu tanggal mainnya! Saat ini saya masih serius mengurus kebun mini di beranda belakang Pohon Tua dulu ya. Hehe.

Boneka Berbahan Karton/Kardus Bekas


Saat sedang merekam footage bahan pembelajaran online-nya Ibu Efi, Pak Beldis datang membawa boneka berbahan kardus bekas yang dipakaikan pakaian adat Ende yaitu lawo lambu/zawo zambu. Awalnya boneka ini tidak mempunyai wajah, hanya kepala begitu saja. Tetapi tak berapa lama Pak Beldis kembali datang dan menempel wajah pada bonekanya! Amboiiiii kreatifitas seorang guru jangan diuji. Ha ha ha. Cantik kan bonekanya?


Sumpah! Bibir saya sudah hampir bilang: bonekanya untuk saya saja, yaaaaa. Hehe. Bagus sekali ini kalau dijadikan pajangan di rumah. Kebayang kan kalau di ruang tamu ada rak kayu yang memajang boneka-boneka hasil karya sendiri alias hasil DIY. Bangga. Itu pasti. Manapula unik begitu. Sungguh, saya terpesona.


Masih banyak produk DIY lain di TK Uniflor dan Kober Yapertif. Selain dua boneka di atas, saya juga melihat begitu banyak hiasan gantungan yang dibikin sendiri oleh guru-guru di sana yang mempercantik ruang kelas. Bahannya yang sederhana saja alias bisa juga dari barang daur ulang seperti sedotan dan gelas plastik yang digunting sedemikian rupa menjadi lebih cantik, lantas disatukan dengan benang dan dijadikan hiasan gantung. Saya juga melihat media pembelajaran seperti pasir, batu, dan air. Ini menarik. Selain mengenal benda alam, batu juga dimanfaatkan untuk belajar berhitung para murid.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Nah, bagian pasir, batu, dan air ini saya lupa nama areanya apa (kan ada area drama, area sains, area balok, dan lain sebagainya) tapi cantik sekali lantainya diletakkan aneka benda alam seperti itu. Nanti deh kalau ke sana lagi bakal saya foto hahaha. Maklum, memerhatikan sekeliling dilakukan sambil melaksanakan pekerjaan utama.

Bagaimana, kawan. Tertarik ingin membikin boneka seperti dua gambar di atas? Yuuuuk ... tidak pernah merugi mencoba hal-hal bermanfaat.

#RabuDIY



Cheers.