BlogPacker

I Write My All

LightBlog

Tempat Cincin DIY Untuk Pernikahan Deasy Daulika . Tahun 2018 saya sudah mulai pasif ber-DIY-ria. Mulai jarang bikin barang DIY bukan b...


Tempat Cincin DIY Untuk Pernikahan Deasy Daulika. Tahun 2018 saya sudah mulai pasif ber-DIY-ria. Mulai jarang bikin barang DIY bukan berarti tidak ada yang memesan, tapi saya meminta maaf kepada para pemesan apabila barang yang dipesan tidak bisa lekas dibikin. Maklum, ternyata banyak pekerjaan lain yang membutuhkan skala prioritas. Menulis skala prioritas kesannya gaya banget gitu ya hahaha. Ya begitulah, aktivitas bergumul dengan kertas koran lantas betul-betul berhenti. Eiiiitssss tapi saya akan kembali memulainya. Setidaknya masih ada satu dua barang DIY yang saya bikin lah dalam setahun. Hiasan meja kaktus batu, misalnya.

Baca Juga: Mangkuk Serbaguna Berbahan Celana Jin

Tahun 2018, saat sedang sibuk membersihkan rumah, saya diminta oleh sahabat - teman kantor bernama Deasy Daulika. Deasy sedang mempersiapkan pernikahan dan meminta saya membikin tempat cincin untuknya. Meskipun sedang sibuk persiapan Hari Raya Idul Fitri, saya tetap meng-iya-kan permintaan Deasy, karena kapan lagi coba bisa membantu sahabat sendiri? Ya kan? Lagi pula membikin tempat cincin tidak serepot membikin keranjang anyaman berbahan koran yang banyak tahapnya itu.

Bingung Dengan Tema


Waktu sudah meng-iya-kan, saya malah bingung dengan temanya. Pengen banget bisa bikin tempat cincin yang unik untuk Deasy dan suaminya (waktu itu masih calon pengantin ya mereka berdua haha). Misalnya tempat cincin yang berbentuk dompet, tempat cincin berbahan bambu, tempat cincin dari kotak anyaman, dan lain sebagainya. Tapi waktu tidak mencukupi. Tema apa ya yang cocok? Ya sudah, yang biasa saja memakai kardus mini. Hanya saja ... saya sendiri yang membikinnya merasa tidak puas. Bagaimana dengan yang memesan, ya?

Alkisah, tahun 2018 itu saya membeli barang dari Kiki Arubone. Barang itu adalah satu set kotak-kotak plastik berbagai ukuran: dari yang paling besar sampai yang paling kecil. Tiba-tiba ide itu datang begitu saja. Membikin tempat cincin pernikahan menggunakan kotak plastik terkecil. Ya! Itu bisa sekali, kawan. Saya lantas meminta Thika Pharmantara untuk membeli kain dan pita serta beberapa hal lainnya yang dibutuhkan. Mari bekerja!

Alat dan Bahan


Alat dan bahan untuk tempat cincin DIY ini, seperti biasa, adalah:

1. Gunting/pisau cutter.
2. Lem tembak/hot glue.
3. Kain satin (warna biru).
4. Pita (secukupnya).
5. Spons.
6. Kotak plastik (kotak bumbu).

Cara Membikin


Cara membikinnya:

Pertama:
Gunting spons dua bagian sama ukuran. Kedua spons ini ukurannya harus ngepas sama kotak plastiknya: bersisian. Bagian tengahnya itu yang bakal jadi tempat meletakkan cincin (dua cincin). Setelah itu dibungkus dengan kain. Kalau sudah oke, direkatkan ke dalam kotak menggunakan hot glue.

Kedua:
Bagian atas spons dilingkari/hiasi dengan pita. Hal yang sama juga dilakukan: melilit badan kotak dengan pita.

Ketiga:
Untuk tutupannya, lingkari tutupan dengan pita. Lantas, gunting kain berbentul bundar sebanyak sembilan atau sepuluh lembar. Kain berbentuk budar ini disatukan, kemudian bagian tengahnya disisip jumputan kain kecil, kemudian diikat. Kalau dibalik, trada, jadi bunga. Hehe. Sederhana ya.

Keempat:
Sudah jadi *ditabok dinosaurus*.


Itu dia penampakan utuhnya. Sederhana tapi bikinnya pakai hati, eh pakai tangan dink, hehe, dan Alhamdulillah waktu itu Deasy suka sama hasilnya. Diambil dua hari sebelum pernikahan. 

Baca Juga: Stoples Kertas

Bagaimana, kawan? Sederhana tapi cantik kan? Yang pasti tempat cincin bikinan saya ini turut menjadi saksi janji pernikahan mereka berdua. Dan saya bangga. Dengan sangat jelas saya memang tidak mau menerima bayaran untuk tempat cincin ini. Ikhlas saya memang mau membuatnya untuk Deasy. Seperti yang sudah saya tulis di atas, kapan lagi bisa membantu teman di hari bahagianya? Membantu membeli sapi kan tidak mungkin. Hahaha.

Kalian juga pasti bisa bikin. Atau, apabila kalian juga pernah membikin tempat cincin berbeda bahan dan model, bagitahu donk tutorialnya ... terima kasih.



Cheers.

Sumber: Top Ten Zone . Tenda Pop Up Super Simpel Anti Air Vitchelo . Akhir-akhir ini saya sering jalan, ber-KakiKereta, di sekitar...

Sumber: Top Ten Zone.


Tenda Pop Up Super Simpel Anti Air Vitchelo. Akhir-akhir ini saya sering jalan, ber-KakiKereta, di sekitar Pulau Flores. Sudah dimulai sejak Bulan Februari saat turut menjadi Tim Promosi Universitas Flores (Uniflor) ke tiga kabupaten yaitu Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Sikka, dan Kabupaten Flores Timur. Usai pekerjaan mempromosikan Uniflor, aksi jalan-jalan ini tidak berhenti begitu saja. Alasannya ada dua. Pertama: selalu diajak sama teman jalan Akiem, Effie, Thika, dan Enu. Kedua: ada saja lokasi wisata baru yang baru terekspos atau baru dibikin (atraksi wisata buatan). Kalau sudah begini, saya bisa apa?

Baca Juga: Sudah Saatnya Proses Belajar-Mengajar Lebih Mudah

Dalam perjalanan itu, sering sekali saya memikirkan tentang tenda, terutama waktu terakhir jalan ke Embung Boelanboong di Dusun Resetlemen. Sekitar Embung Boelanboong memang merupakan camping ground. Saya berpikir tentan tenda camping praktis yang mudah dipasang atau bahkan tanpa harus letih berjamaah alias bisa dipasang sendiri. Seperti biasa, saya kemudian mulai berburu informasi di Youtube tentang tenda camping selain menonton video tentang tiny house dan motor home. Masih? Ya masih, donk! Menonton video-video itu selalu membikin otak jauh lebih segar setelah seharian bekerja membajak sawah empat hektar.

Vitchelo


Saya pernah menulis tentang dua tenda camping keren. Yang pertama: Camping Trekking Outdoor Automatic Tent. Yang kedua: The Pause Pod. Keduanya sama-sama otomatis dan bagus, tetapi kalau The Pause Pod cuma khusus untuk satu orang dan lebih sering digunakan indoor saat istirahat siang di kantor karena memang ruang gerak di dalamnya sangat terbatas. Dari hasil menjelajah Youtube itu, saya lantas menemukan informasi dari akun Top Ten Zone di Youtube tentang beberapa tenda otomatis, pop up, yang super simpel! Salah satunya bernama Vitchelo. Penampakannya bisa kalian lihat di awal pos ini. 

Dari situ saya kemudian menemukan situs milik Vitchelo. Silahkan kunjungi situsnya untuk menemukan informasi lebih lengkap. Kalau dari situsnya, tenda ini bernama Vitchelo Easy Up Automatic Pop Up Tent. Vitchelo adalah sebuah perusahaan yang didirikan oleh James Lissaint. Banyak produk yang diproduksi oleh Vitchelo antara lain travel bag, headlamp, hingga dry backpack, tapi tenda ini bikin saya geregetan. Kalian juga?

Informasi: semua gambar berikutnya di pos ini diambil dari situs Vitchelo.

Kenapa sih saya tulis tenda pop up super simpel? Karena kalau melihat videonya, saya pasti bilang: buka, keluarkan, lempar, jadi. Coba lihat gambar berikut ini dengan alur terbalik nomor 9 menuju nomor 1:


As simple as that. Dalam kondisi belum dibuka/dipasang, Vitchelo tersimpan di dalam tas/kantong khusus dan berbentuk bundar. Besarnya tas/kantong penyimpanan ini sama dengan besarnya tas selempang yang sering saya pakai kalau sedang bosan memanggul backpack. Ya, kecil doooonk! Hihihihi. Melihatnya, saya langsung angkat jempol. Setelah tendanya dibuka alias berdiri di atas tanah, tugas kita hanyalah memasang hook-nya ke tenda dan ditanam di tanah. Tradaaaa ...


Tidak perlu memasang besi-besi penyangga? Tidak perlu! Semuanya sudah built-in. Siapa yang tidak ngiler cobaaaa. Mengenai spesifikasi dan fasilitas lain yang disiapkan oleh Vitchelo, silahkan lihat pada keterangan gambar-gambar berikut ini:




Sudah baca harganya? Sekitar Rp 800K. Kalau di Indonesia mungkin kisaran harganya sekitar Rp 1KK ke atas. Sudahkah dijual di Indonesia? I don't know. Coba kalian cari sendiri informasinya, terutama kalian yang gemar beraktivitas di luar ruangan.

⇜⇝

Bagi saya, tenda camping memang belum menjadi kebutuhan utama, ada orang-orang yang bisa meminjamkan atau menyewakan. Tetapi terpercik juga keinginan untuk mempunyai tenda camping sendiri yang ringan dengan penyimpanan yang praktis dan bisa dibawa kapan saja tanpa harus memikirkan space ini itu karena yang sejenis Vitchelo ini bisa disimpan di bagian depan Onif Harem, si motor matic, misalnya. Insha Allah pengen punya satu hahahaha *ditabok dinosaurus*.

Baca Juga: Tungku Kemping Mini yang Praktis dan Keren

Dua minggu terakhir #SelasaTekno diisi sama yang disebut dengan camping gear. Ya mau bagaimana lagi, saya suka sih hahaha. Sedang tergila-gila setiap hari menonton video-video DIY, lifehacks, tiny house, camping gear, dan sejenisnya.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Sudah punya tenda? Banyak kah? Kalau banyak, bagi saya satu donk tendanya. Haha.



Cheers.

Sabtu kemarin, 13 Juli 2019, saya kembali pergi ke Towak di Kabupaten Nagekeo . Ceritanya saya diundang oleh keponakan, Iwan dan Reni,...


Sabtu kemarin, 13 Juli 2019, saya kembali pergi ke Towak di Kabupaten Nagekeo. Ceritanya saya diundang oleh keponakan, Iwan dan Reni, untuk menghadiri ritual pembangunan fondasi rumah pribadi mereka yang lokasinya masih terbilang dekat dengan rumah dinas Pustu Towak. Berangkat dari Ende pukul 08.00 Wita. Saya sendirian, seperti biasa, dududud. Thika membonceng Enu. Perjalanan pagi itu adalah perjalanan saling kejar dengan bis antar kabupaten, truk ikan (kalau kami sebut oto ikan), mobil pribadi, mobil travel, hingga pegawai koperasi *auto ngakak*. Sabtu pagi, meskipun banyak yang libur, tapi masih banyak juga orang yang punya kepentingan di jalan raya dan/atau jalan trans-Flores.

Baca Juga: Belum Musim Liburan Tapi Jalan-Jalan Terus

Kami beristirahat cukup lama di Aigela untuk menikmati jagung rebus dan kopi panas. Sekitar tigapuluh menitan begitu. Pokoknya setelah bibir kepedisan gara-gara sambal maknyus a la salah satu lapak (langganan) jagung di Aigela, barulah kami tancap gas ke arah Kota Mbay

Fondasi Sudah Dibangun


Tiba di lokasi rumah Iwan dan Reni, sudah banyak orang di sana yang sedang beristirahat. Ternyata alat molen (untuk mengaduk campuran semen) sedang eror dan sedang diperbaiki sama yang punya (si pemilik akat). Tapi, fondasi sudah dibangun. Pengerjaan tertunda karena si molen eror. Kata Kakak Nani Pharmantara, orang-orang baru selesai sarapan dan mengajak kami sarapan. Tapi perut kami sudah penuh! Tidak bisa menampung apa-apa lagi.


Sekilas fondasi yang sudah dibangun, lalu molennya eror. Lokasi rumah ini menempati kaki bukit sehingga kaki bukit itu dikeruk dulu/diratakan. Tetapi tetap saja fondasi bagian depan lebih tinggi dari bagian belakang.

Gotong Royong Itu Masih Hidup


Di Kabupaten Ende, ketika ada yang hendak membangun rumah, pekerjaan kepala tukang dan tukang bangunan akan sangat ringan pada hari-hari pertama (terutama membangun fondasi) karena pasti dibantu oleh banyak orang, khususnya laki-laki. Hari membangun fondasi merupakan hari spesial karena ada sedikit ritual yang dilakukan: do'a pada malam sebelumnya, peletakan batu pertama, hingga elemen apa yang mau turut ditanam bersama fondasi tersebut (biasanya di empat sudut). Karena spesial, semua orang baik keluarga, teman, hingga tetangga, pasti turut membantu. Kadang-kadang, meskipun pada hari-hari berikut pengerjaan rumah sudah menjadi tugas si tukang bangunan dan anak buahnya, tetap saja masih ada yang datang untuk membantu.


Saya memperhatikan para lelaki yang bekerja. Mereka rata-rata keluarga (Reni, Orang Mbay), teman, dan tetangga. Bahu-membahu mereka mengikuti arahan kepala tukang bangunan. Mulai dari campuran semen, mengangkut campuran, mengakut batu, dan lain sebagainya. Yang letih, istirahat. Tidak ada paksaan. Yang haus, silahkan minum. Yang lapar, silahkan makan lagi (nasi maupun kudapan) karena meja makan tidak boleh dikosongkan. Luar biasa, menurut saya. Yang seperti ini yang harus terus dipelihara dan diwariskan pada anak cucu.

Menariknya, saya melihat ada dua laki-laki yang mengangkut batu menggunakan kayu yang dibikin mirip tangga. Penampakannya pada gambar berikut ini:


Teknologi sederhana yang mempermudah pekerjaan bukan? Hehehe. Bisa juga sih diangkut pakai karung, tapi mereka memilih memakai alat sederhana itu. Tidak bisa menggunakan gerobak sorong karena medannya tidak memungkinkan. Ada juga yang mengangkut batu menggunkan tangan. 

Kalau melihat foto-foto di atas, kalian pasti tahu bahwa cuaca memang sangat terik! Saya hanya bisa berdoa semoga para lelaki yang bekerja ini terus diberi kekuatan dan kebahagiaan untuk membantu keponakan saya hahaha. Orang lain mungkin tidak akan mau membantu dalam pekerjaan berat seperti itu. Mengangkut campuran semen, mengangkut batu, langsung di bawah sengatan sinar matahari. Tapi inilah yang menjadi kekayaan kita rakyat Indonesia. Gotong royong! Hidup dalam nuansa kekeluargaan yang kental.

Tidak hanya dalam urusan pekerjaan. Apabila ada keluarga yang membangun rumah, sekaya apapun keluarga itu, tetap saja ada saja yang datang membawa ini itu seperti kudapan, teh - kopi - gula, kambing, semen, dan tentu saja ada pula yang menyelip amplop berisi uang. Yang membangun rumah tidak meminta, tapi hukum tidak tertulis di dalam masyarakat memang seperti itu. Biar sedikit, yang penting ada. Demikianlah.


Gotong royong tidak saja berlaku untuk kaum lelaki, tetap juga kaum perempuan. Di halaman samping bakal tetangga Iwan dan Reni (masih keluarga juga sih) banyak kaum perempuan yang sedang memasak ini itu. Hebatnya adalah semua daging tersedia ... kecuali bebek dan domba ... hiks. Ikan, ayam, kambing, sapi ... harus ada! Uh wow sekali qiqiqiq.

Moke Putih


Moke/tuak merupakan minuma tradisional. Kalian bisa membaca tulisan saya tentang moke di sini. Moke adalah minuman tradisional yang wajib ada dalam upacara atau acara tertentu terkhusus yang berkaitan dengan adat. Makanya saya juga menyebutnya minuman adat. Moke adalah minuman persahabatan, katanya. Asalkan tidak diminum berlebihan karena bakal mabu dan efek mabuk sangat menjengkelkan orang lain.

Moke putih merupakan moke asli dari pohon lontar/nira yang belum disuling menjadi moke 'keras'. Rasanya enak sekali terutama dicampur es manis haha. Dulu ada yang menjual moke putih keliling kampung dengan memanggul dua tabung bambu gede-gede. Saya girang bukan main kalau melihat si penjual, langsung lari ke luar rumah, sambil teriak ... OM, BELI MOKE! Haha. 

Kemarin juga ada moke putih.


Saya mencobanya segelas. Warnanya tidak putih mirip susu, tapi ada kuning-kuningnya. Pasti sudah dicampur 'sesuatu'.

Saya:
Enak e, Om, moke putih ni. Campur apa?

Om:
Campur obat.

Saya:
*tampang nganu*

Om:
Obat bagus itu.

Saya:
ENAK!


Hahaha. Terus, setelah itu saya berkeliling lokasi rumah hingga ke atas bukit. Pemandangannya bagus sekali apalagi kalau terus sampai ke puncaknya. Rumah ini bakal keren sekali. Terutama kalau sore-sore menikmati kopi dari puncak bukit (bagian belakang rumah). Semoga ... suatu saat nanti.

⇜⇝

Gotong royong yang saya perhatikan hari Sabtu kemarin merupakan cerminan masyarakat Indonesia itu sendiri. Kita berbeda agama dan suku tapi akan tetap bersatu dalam gotong royong, dalam contoh paling sederhana: membangun rumah. Saya pasti akan kembali ke Towak, Nagekeo, karena pembangunan rumah ini akan memakan waktu beberapa minggu/bulan, sehingga masih ada waktu untuk melihat proses demi prosesnya. Doakan semoga lancar, ya, kawan!

Baca Juga: Berburu Spot Foto Instagenic di Dapur Jadul di Raba

Terus ... kalian kapan ke Flores? Hehe.



Cheers.

Hola! Ketemu lagi di #KamisLima . Apakah lima hal yang bakal saya tulis kali ini? Yaaaa sudah ketahuan dari judulnya *dijitak dinosauru...


Hola! Ketemu lagi di #KamisLima. Apakah lima hal yang bakal saya tulis kali ini? Yaaaa sudah ketahuan dari judulnya *dijitak dinosaurus*. Kali ini saya mau menulis tentang liima lokasi terdekat untuk berwisata di sekitar Kota Ende. Kenapa menulis ini? Karena ada beberapa tempat wisata ter-update, baik atraksi wisata alam maupun atraksi wisata buatan, yang wajib kalian ketahui jika hendak datang ke Ende. Atraksi utama, Danau Kelimutu, tentu tidak akan saya bahas di sini. Atraksi wisata sejarah di dalam kota pun tidak akan saya bahas karena sudah pernah ditulis di pos berjudul 5 Wisata di Dalam Kota Ende.

Baca Juga: 5 Keistimewaan Canva

Jadi, apa saja lima lokasi terdekat untuk berwisata di sekitar Kota Ende? Mari kita cari tahu *suara gong guedeeee banget*. Semua ini gara-gara aksi jalan-jalan padahal belum musim liburan lagi. Haha.

1. Dapur Jadul, Pantai Raba


Pos tentang Dapur Jadul di Pantai Raba selengkapnya bisa kalian baca di blog travel pada pos berjudul Dapur Jadul, Bukan Dapur Biasa. Dapur Jadul menawarkan atraksi wisata alam yaitu pantai yang dipadu dengan atraksi wisata buatan yaitu spot-spot instagenic. Selain itu kalian juga bisa bersantai di beanbag-nya, menikmati suasana dan makanan serta minuman! Ingat, es tiramisu itu enaknya luar biasa bikin kangen. Cihuy!


Jaraknya hanya 10-an kilometer dari Kota Ende, arat Barat. Dekat lah :)

2. Embung Boelanboong, Wologai Tengah


Embung ini dulunya bernama Embung Resetlemen sesuai nama dusunnya. Namanya kemudian berubah menjadi Embung Boelanboong. Di sekitar embung ini dibangun saung-saung untuk bersantai, spot-spot instagenic, taman bunga dengan bibit-bibit bunga yang sedang tumbuh (waktu saya ke sana), serta kalian bisa memesan kopi, teh, dan jagung rebus! Suka sekali sunset-an di embung ini, meskipun yaaaa ... pulang ke Kota Ende pasti dingin banget dalam musim yang sedang sangat dingin ini. Jaraknya sekitar 45 kilometer dari Kota Ende.


Kalau kalian mau tahu lebih detail tentang embung ini, silahkan baca pos berjudul Sunset di Embung Boelanboong, Wologai Tengah.

3. Kampung Adat Saga


Kalau dari Kota Ende menuju cabang menuju Desa Adat Saga ini hanya sekitar 20 kilometer. Sayangnya saya belum ke sana. Jadi, belum bisa lah saya menulis sedikit panjang tentang kampung adat yang satu itu. Tapi tenang saja, rencananya baru Hari Minggu depan, atau depannya lagi. Tapi yang jelas saya pasti menulisnya di blog travel.

4. Jalur Trekking


Jalur trekking yang satu ini sebenarnya berada di dekatnya Embung Boelanboong juga, di sisi Barat. Ada gapura besar yang menandainya.


Jalur trekking dari Wologai Tengah menuju Danau Kelimutu. Kalau kalian masih kuat jalan, tidak seperti saya yang sudah uzur, boleh dicoba jalur yang satu ini. Selamat berjuang dan menikmati alam! Hehe. Jarak dari Kota Ende ke lokasi gapura ini hanya sekitar 45 kilometer saja.

5. Pantai Aeba'i


Kalau kalian rajin main ke blog travel saya, pasti sudah tidak asing lagi dengan Pantai Aeba'i, pantai favorit keluarga kami berpiknik! Encim and the gank wajib ke sini hehe.

Bersama Harry Kawanda, traveler of the century. Haha.

Piknik mah tidak perlu jauh. Apalagi piknik sekeluarga. Jaraknya hanya sekitar 3 kilometer dari pusat Kota Ende. Pantai, laut, Pulau Ende Kota Ende ... komplit pemandangannya.

⇝⇜

Itu dia lima lokasi terdekat untuk berwisata di sekitar Kota Ende. Tentunya selain atraksi utama yang selalu kami banggakan, Danau Kelimut, pun wisata sejarah jejak Bung Karno ketika diasingkan ke Kota Ende. Semoga suatu saat nanti kalian akan datang ke sini dan ikut menikmati semua yang sudah saya tulis di sini, termasuk di blog travel.

Baca Juga: 5 Blogger Kocak

Ditunggu di Ende, ya!



Cheers.

Hola! Ketemu lagi di #RabuDIY, harinya kita berkreasi sepuas-puasnya, baik dalam ranah DIY maupun dalam ranah lifehack . Sebelumnya sa...


Hola! Ketemu lagi di #RabuDIY, harinya kita berkreasi sepuas-puasnya, baik dalam ranah DIY maupun dalam ranah lifehack. Sebelumnya saya mau tanya dulu, adakah barang-barang DIY yang kalian bikin sendiri? Kalau ada, bagi tahu donk. Siapa tahu kita bisa bertukar tips untuk membikinnya. Atau, adakah barang-barang DIY yang kalian bikin sendiri setelah membaca pos-pos #RabuDIY di blog ini? Semoga ada ya. Setidaknya apa yang saya tulis berdasarkan pengalaman maupun hasil karya orang lain dapat bermanfaat. 

Baca Juga: Travel Booth

Hari ini saya mau mengajak kalian membikin mangkuk berbahan celana jin bekas. Gambar hasil jadinya bisa kalian lihat di awal pos. Sebelumnya, kalian bisa membaca pos Percobaan Gagal. Pada pos tersebut saya menulis tentang membikin mangkuk berbahan celana jin bekas tetapi gagal karena salah mengaplikasikan *tsah*. Yaaaa kan harus ada yang pertama, gagal, untuk kita belajar agar bisa memperbaiki dan Insha Allah sukses. Memangnya sukses? Sukses donk hehe. Meskipun bikinnya cuma satu ... the one and only.

Membikin mangkuk berbahan celana jin ini sudah sangat lama, dan waktu itu tidak kepikiran untuk memotret langkah demi langkah, sehingga saya tidak bisa menyertakan foto lain. Ya, mohon maaf hanya satu foto saja. Tetapi melihat foto pada awal pos, saya pikir kalian sudah bisa mengira-ngira seperti apa proses membikinnya. 

Mari kita simak ...

Bahan dan Alat


Bahan dan alatnya seperti biasa ...
1. Celana jin bekas.
2. Gunting dan/atau cutter.
3. Lem tembak/hot glue.
4. Mangkuk sebagai mal.

Cara Membikin


Pertama:
Gunting celana jin hingga menjadi helai agar bisa dibentuk di mal (mangkuk).

Kedua:
Lilitkan kain jin tersebut sepenuh mangkuk hingga bentuknya mengikuti ukuran mangkuk. Agar rapi, bagian bawahnya dilipit ya. Untuk menyatukannya pakai lem tembak.

Ketiga:
Bagian bawah mangkuk ditempeli kain jin berbentuk bundar sesuai dengan ukuran bawahnya itu. Lagi-lagi pakai lem tembak.

Keempat:
TRADAAAAA ... mangkuk celana jin sudah jadi.

Semudah itu? Iya. Super mudah. Kalau kalian gagal membikinnya saat pertama, jangan langsung mundur atau berhenti. Coba lagi sampai jadi. Saya saja pernah gagal kan, tapi saya tidak berhenti, harus putar otak bagaimana caranya mangkuk ini jadi. Akhirnya ya jadi juga. Saya tidak menghiasnya dengan bunga-bunga kain atau lilitan pita. Kalau kalian membikinnya, bolehlah dipermanis dengan bunga-bunga mini, dililit pita, dan lain sebagainya sesuai keinginan.

Mangkuk berbahan kain jin dari celana jin bekas ini tentu tidak bisa diisi sop buah *digampar dinosaurus* tapi bisa dipakai untuk barang-barang tanpa kuah *digampar lagi sama dinosaurus. Misalnya kalau diletakkan di meja kerja bisa diisi barang-barang printilan seperti kotak anakan staples, peniti, gelang, jam tangan, serutan pinsil, dan lain sebagainya. Tapi untuk kebutuhan di meja ruang tamu, mangkuk ini bisa dipakai sebagai wadah permen! Atau ... suka-suka kalian mau dipakai untuk apa. Lumayan kan ... unik dan dibikin sendiri. Membikinnya pun mudah.

Baca Juga: Cara Membikin Wadah Berbahan Semen dan Kaktus Batu

Itu dia #RabuDIY kali ini. Tidak panjang-panjang karena toh membikinnya juga mudah. Semoga bermanfaat!



Cheers.

Saya masih ingat. Sangat-sangat ingat *sambil ngelus kuku dinosaurus*. Dulu, Kakak Toto Pharmantara (alm.) berkata: Non, nanti itu anak...


Saya masih ingat. Sangat-sangat ingat *sambil ngelus kuku dinosaurus*. Dulu, Kakak Toto Pharmantara (alm.) berkata: Non, nanti itu anak sekolah jarang pakai buku tulis karena semua catatan disimpan di komputer dan tugas dikumpulkan lewat e-mail. Kakak Toto bilang begitu pada saat menghadiahkan saya seperangkat komputer yang masih menggunakan DOS. Kalian yang pernah berada pada zaman itu pasti tahu bentuk disket. Waktu itu saya cuma angguk-angguk sambil membuka game Prince of Persia dan menghafal dua tiga jurus pedangnya. Hahaha! Djafar sungguh jahat di situ.

Baca Juga: Tungku Kemping Mini yang Praktis dan Keren

Saya tahu, hingga lulus SMA Negeri 1 Ende (zaman saya SMU), menyimpan catatan di komputer apalagi mengirim tugas melalui e-mail tidak terjadi. Zaman itu, bisa mencetak tugas makalah yang diketik di Lotus123 menggunakan printer pita yang gede saja sudah girang bukan main! Senangnya adalah saya boleh bersombong-ria karena sudah punya komputer sendiri sehingga tidak kesulitan mengetik tugas berbentuk makalah. Dududu, sombong! Haha. Masih juga saya ingat makalah pertama yang saya ketik menggunakan Lotus123 itu tentang pembedahan novel Siti Nurbaya (Kelas 3 Bahasa sih).

Waktu kuliah, belasan tahun kemudian, baru saya rasakan yang namanya belajar, katanya, berbasis digital. Meskipun yang dilakukan belum seratus persen digital. Contohnya, bahan kuliah dari dosen bisa dikopi menggunakan flashdisk. Kalau pun saya tidak membawa flashdisk, dosen memperbolehkan (setidaknya waktu itu tidak melarang) saya memotret tampilan slide di layar. Loh, kenapa difoto? Karena saya bisa melakukan proses belajar dua kali. Pertama: saat mendengar pemaparan dosen, sambil memotret materinya. Kedua: saat mengetik ulang materi kuliah di dokumen Word. Sip kan?

Zaman sekarang ... proses belajar-mengajar menjadi jauh lebih mudah. Waktu saya menjadi pemateri blog yang diselenggarakan oleh PBSI Uniflor kemarin, nyata-nyata saya tahu bahwa ternyata ada dosen yang menggunakan WAG untuk proses belajar-mengajar tambahan selain di kelas. Uh wow sekali itu menurut saya. Bapak Yohanes Sehandi menjelaskan bahwa mahasiswa di kelasnya itu mengumpulkan tugas melalui WAG yang dibikin khusus untuk menyetor tugas-tugas kuliah. Jadi, pertemuannya di kelas, kemudian mahasiswa diberi tugas, tugasnya dikumpulkan via WAG tersebut. Senang sekali mendengarnya. Ternyata kami tidak ketinggalan kan? Proses pengumpulan tugas via WAG itu membikin proses belajar-mengajar jauh lebih mudah. Dan tentu saja, menghemat waktu.

Menurut saya, apa yang dilakukan oleh Pak Yohanes Sehandi, atau oleh dosen lain yang menggunakan Google Classroom sudah sangat bagus. Google Classroom terutama apabila dosen yang bersangkutan berhalangan hadir. Tetapi ada satu hal yang juga akan sangat mendukung proses belajar-mengajar ini ... salah satunya menggunakan media blog.

1. Pertemuan di kelas.
2. Dosen memberikan tugas.
3. Tugas dikumpulkan menggunakan tautan blog.

Seandainya saya menjadi dosen atau pengajar, saya bakal mengoptimalkan blog untuk mempermudah proses belajar-mengajar.

Pertama: materi kuliah atau bahan ajar secara umum bakal saya pos di blog. Tugas mahasiswa adalah membacanya dengan teliti dan menyiapkan pertanyaan untuk bahan diskusi saat pertemuan berikutnya.

Kedua: waktu pertemuan di kelas, rata-rata dua jam, tidak digunakan untuk pemaparan materi lagi, melainkan untuk tanya-jawab dan diskusi. Mahasiswa boleh bertanya sebanyak-banyaknya. Atau, mahasiswa dibentuk beberapa kelompok untuk berdiskusi kemudian mereka dipersilahkan berdebat. Hwah, terbayang asyiknya. Hahaha.

Ketiga: tugas yang diberikan pun harus dikumpulkan melalui pos blog. Mahasiswa silahkan mengirimkan tautan tugas yang disetorkan dan dosen menilainya dari situ. Tentu dalam hal ini, tugas-tugas yang membutuhkan analisa ... misalnya anak hukum menganalisa tentang undang-undang atau bagaimana implementasi undang-undang tersebut di masyarakat.

Menghayal boleh kan hahaha.

Pertanyaannya sekarang adalah: kenapa harus blog yang menjadi pilihan saya?

1. Mahasiswa senang punya blog. Artinya mereka tidak ketinggalan zaman.
2. Sekalian belajar menulis dengan baik dan benar/menulis tulisan kreatif.
3. Sekalian belajar tentang monetize.

Baca Juga: Gate: Rak Serbaguna

Yang jelas, ketika orang-orang berkata sudah saatnya proses belajar-mengajar lebih mudah dengan dunia digital, dosen-dosen di Uniflor sudah ada yang melakukannya. Ada yang menggunakan WAG, ada pula yang menggunakan Google Classroom, dan sebagian menggunakan blog. Kami di Ende sudah maju juga. Sama seperti kalian.

Bagaimana dengan di daerah kalian? Bagi tahu yuk di komen!



Cheers.