I Write My All

LightBlog

Iya yah, kenapa kita selalu pani k ? Okay, pani k memang perlu apalagi ketika usia kamu di atas 30 dan belum ada seorang laki-laki p...

Kenapa Kita Selalu Panik?



Iya yah, kenapa kita selalu panik?

Okay, panik memang perlu apalagi ketika usia kamu di atas 30 dan belum ada seorang laki-laki pun yang nembak #eaaa ini maksudnya apa ya? Yang jelas bukan iklan terselubung. Saya sendiri juga sering kok panik, tapi nggak lebay *membela diri*. Tapi benar loh, saya sering bertemu dengan orang-orang yang mengalami kepanikan berlebihan. Kalau kata saya pribadi, paniknya nggak banget! Kenapa sih harus panik dengan gaya lebay begitu? Karena kalau nggak lebay, bukan panik namanya. Yeeee nanya ndiri jawab ndiri.

Hari itu saya harus merelakan diri menunggu sebuah pesawat yang delay hampir dua jam. Baiklah, pilihan tidak banyak, artinya kita harus bersabar. Di ruang tunggu sudah banyak calon penumpang dengan bermacam mimik wajah dan aroma. Tak lama kemudian pengumuman pesawat datang pun terdengar. Akhirnya! Dalam hati saya berharap tidak ketinggalan pesawat lanjutan. Yess, beda pesawat, beda maskapai.

Di Ende biasanya itu pesawat touch down di macam-macam titik. Ada yang di bibir landasan ada pula di ¼ bandara. Pesawat yang satu ini mendarat tepat di tengah landasan dan itu menimbulkan kepanikan calon penumpang yang langsung teriak, “pesawat TABRAK!”

Saya syok.

Ini kenapa ya pada panik begini? Kenapa nggak bisa yaaa sabar gitu nungguin pesawatnya balik dari ujung sono … kesel jadinya.

“Itu orang-orang su kepana tu, ade? Macam ke panik sa!” keluh seorang ibu di samping saya.

“Ehehehe …” ember! Emang lagi panik banget tuh orang-orang.

Hanya bisa terkekeh. Beberapa menit kemudian ketika melihat wujud pesawat muncul, The Panicers langsung duduk kembali dengan wajah memerah. Oh gitu yah. Setelah menimbulkan kepanikan terhadap orang lain terus bisa duduk dengan santai begitu. Padahal jantung saya sudah hampir copot tadi, tahu!

Saya termasuk orang yang juga cepat panik. Misalnya dulu ada angin ribut disertai hujan, saya panik bukan kepalang sementara mamatua santai aja milin tasbih. Saya juga panik banget waktu ada yang tanya, “kapan nyusul?” ketika saya menerima undangan pernikahan. Well, kita manusia dan wajar bila panik tapi mungkin sebaiknya nggak panik-panik amat gitu. Hehehehe. Ehek … ini catatan untuk diri saya sendiri.


Wassalam.
loading...

0 komentar:

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.