Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Thursday, August 30, 2012

Maurongga Beach


Sampan tua di pinggir pantai... bicaralah...

Sebelumnya hanya ingin bilang, saya bangga menjadi seorang BlogPacker ;))

Saya bebas jalan-jalan yang tidak mesti ke puncak gunung. Saya bebas mengisi backpack dengan aneka barang kegemaran tanpa harus mikirin berapa kali ganti baju. Ahay! Dan yang paling penting saya bebas menulis perjalanan saya di blog. Begitu sederhana.

Okay. Kali ini saya mau cerita tentang Pantai Maurongga. Jalan-jalan lagi? Iya! Ngapain ngendon di rumah selama bisa jalan-jalan? Nah, pada hari Minggu, 26 Agustus 2012 yang lalu saya pergi ke Pantai Maurongga bersama Fauwzya, Yerry dan Afhiek. Perginya memang hanya berempat, dua motor, dua kaos hitam, dua kaos putih *loh?* hehe. Seumur-umur baru kali ini saya pergi ke pantai ini setelah Afhiek dengan suksesnya berkampanye. Awalnya Afhiek kampanye soal Pantai Batu Cincin di mana di bagian agak ke tengah laut ada batu besar dengan lobang di bagian tengah tetapi karena air sedang pasang dan untuk mencapai batu tersebut kita mesti basah-basahan sepinggang akhirnya diputuskan untuk pergi ke Pantai Maurongga.

Fauwzya dan Sandal Jepit ;))

Pantai Maurongga merupakan salah satu pantai unik di Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende. Letaknya sekitar 17 kilometer dari pusat kota Ende. Untuk mencapai pantai tersebut, dari Kota Ende, cukup menggunakan kendaraan bermotor. Tidak perlu pesawat *digampar* dan tidak dianjurkan untuk berjalan kaki karena sampainya pasti Lebaran tahun depan. Hehe. Kalau naik motor sekitar 30 sampai 45 menit, tergantung spido.

Lihat tebing di belakang sana...

Dari Ende kami berangkat sekitar pukul 10.00 setelah sebelumnya membeli bekal makan siang di Warung Atis, warung milik Sony. Wah, bekal yang dibawa Fauwzya juga tidak kalah banyak! Masih ada cookies cokelat (spekuk), sebotol Fanta dan mangga. Coba bayangkan kolerasinya hahaha. Motor kami kemudian memasuki jalan setapak (dugaan saya dibangun oleh PNPM atau gotong royong masyarakatnya) sekitar 700 meter dari jalan raya (jalan negara). Motor langsung diparkir di sebuah rumah tepat di pinggir tebing pendek yang view-nya laut! Masya Allah … saya mau donk punya rumah di sini.


Di Terowongan Alam

Jadi ingat film 127 (atau 172) Hours! Kejepit!

Pantai Maurongga. Tentunya di pantai ada pasir dan air laut *ini apa sih?* tapi di sini kami menemukan lebih dari sekadar pantai. Pertama-tama adamuara kecil. Airnya jernih tapi kata Fauwzya jelas airnya tidak higienis untuk dipakai membasuh muka apalagi untuk minum. Ada Pohon Ketapang yang gundul … autumn! Pasirnya hitam, tipikal pasir pantai selatan Pulau Flores tetapi banyak sekali bebatuan. Mungkin karena lokasinya masih berdekatan dengan Pantai Penggajawa (coba deh baca tulisan saya tentang Pantai Penggajawa). Terus di bagian baratnya ada batu besar yang menurut saya ini lebih mirip tebing batu super besar, menjulang tinggi. Uniknya di bagian tengah batu tersebut ada lorong yang menembusi sisi yang lain. Wah cuakep sekali! Kami memilih untuk makan siang di dalam lorong, menikmati laut. Ada yang iri? Hehehe. Wajib diabadikan!

Fauwzya in Silhuet

Sambil makan siang kami ditemani oleh empat bocah penduduk sekitar. Mereka begitu lugu dan sederhana. Main di pasir, tertawa-tawa, bercerita. Senangnya kalian, dek! Untuk para bocah itu, cookies dari Fauwzya difungsikan ;))

Their face so peace...

Setelah makan siang kami kembali ke bawah Pohon Ketapang, tidur-tiduran di atas bebatuan yang dilapisi dedaunan kering. Nikmat ya. Apalagi angin sepoi-sepoi berhembus. Kering yang sejuk. Entah apa jadinya isi perut kami karena setelah makan nasi, cookies cokelat, minum Fanta (bersoda), minum air putih, Fauwzya masih merecoki perut kami dengan mangga *ampus bon!* wkwkwkwk. Mangganya manis, semanis saya *digampar*

Pohon Ketapang yang Gundul

Tercetus ide untuk camping di pantai ini. Wah seru tuh! Doakan kami yaaaa hehehehe.

Sekitar pukul 14.00 kami pun kembali ke Ende soalnya langit mendung.
Well, jalan-jalan itu menyenangkan. Tidak percaya? Coba deh ;))


Wassalam.

Friday, August 24, 2012

Kelimutu Yang Penuh Cerita


 Lihat warna danaunya!

Sudah pernahkah Anda mendatangi Danau Kelimutu? Kalau sudah pernah, Alhamdulillah. Kalau belum pernah, pergi lah. Kalau Anda terlalu jauh dari Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Propinsi NTT, maka menabunglah yang rajin. Kalau sudah cukup duitnya, silahkan laksanakan niat Anda. Ya, #VisitFlores. Di Flores, selain Taman Nasional Komodo, ada Taman Nasional Kelimutu. Sedangkan kalau mau tahu Taman Nasional apa saja yang ada di NTT, ini nih bocoran dari bang Apo : Taman Nasional Komodo di Manggarai Barat, Taman Nasional Kelimutu di Ende, Taman Nasional Laiwangi Wanggameti di Sumba Timur, Taman Nasional Manupeu Tanadaru di Sumba Barat dan SBD.

Sepanjang tahun 2012 ini saya sudah beberapa kali pergi ke Danau Kelimutu. Diantaranya bersama bang Teknobolang dan wisata bersama teman-teman Flobamora Community. Selalu ada ketertarikan batiniah untuk kembali ke tempat itu. Saat Lebaran kemarin, saya di-BBM sama bang Apo Tupen, menunjukkan warna salah satu danaunya. Dan saya histeris. Danau itu, danau yang bernama Koo Fai Nuamuri (Tiwu Koo Fai Nuamuri), berubah! Pada Februari dan April kemarin saat pergi ke sana warnanya hijau tosca featuring warna kuning terang. Saat ditunjukin sama bang Apo itu warnanya mulai kesusu-susuan. Aih! Wajib pergi!

We are free!

Maka saya mengirimkan sms ke teman-teman yang bersedia pergi ke Danau Kelimutu bersama-sama, nge-bike. Yep, Lebaran ketiga kita pergi ke Danau Kelimutu untuk menyaksikan sendiri warna yang berubah itu. Siapa-siapa saja sih yang pergi? Ini memang bukan gawe Flobamora Community tapi banyak juga member yang ikutan. Saya, Yerry, Afhiek, Mila, Eddie, Pka Guru, Mom Poppy, Yo dan kakaknya Yo. Saya kudu mengebut karena kurang tidur. Kuatir terlalu pelan spido, bisa ngorok saya di motor. Hehe. Afhiek yang memboncengi Mila duluan tiba di Danau Kelimutu disusul saya dan Yery. Baru juga duduk, dapat kabar Mom Poppy beserta Yo kecelakaan. Nyelip pasir dan jatuh. Mau kembali sudah nggak mungkin. Jaraknya terlalu jauh. Mom Poppy beserta Yo dan kakaknya Yo kembali ke Ende dan kami teruskan perjalanan. Oia, tiba terakhir di Pos Balai TNK adalah Eddie dan Pak Guru.


 Afhiek, Ende Bawah Tanah :D

Well, ehem, terima kasih untuk Caca yang sudah menggratiskan kita. Sebenarnya nggak gratis sih, saya yakin Caca mengeluarkan duit pribadinya demi kita. Eaaa! *ketjup Caca ah* haha. Jadi tidak perlu bayar biaya masuk. Catat : khusus untuk kita.

Tiba di parkiran kita kaget bukan main. Banyak kendaraan : motor dan mobil, diparkir. Ini ajaib. Biasanya tidak sebanyak ini. Lantas kami pun naik ke tujuan kami datang ke tempat ini yaitu Danau Kelimutu. Dalam perjalanan kami bertemu banyak rombongan keluarga : bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, membawa bekal dalam tas-tas plastik. Tak kurang pula gerombolan-gerombolan anak muda. Bahkan ada seorang nenek (tentu sudah tua) yang jalannya sudah sangat tertatih masih semangat menuju puncak. Saya dan Mila sampai acungin jempol. Dengan kurang ajarnya kita mengambil kesimpulan bahwa nenek ingin bernostalgia di tempat ini. Siapa tahu dulu nenek ditembak oleh kakek di Danau Kelimutu. Hahaha. Romantisnya bukan main bikin iri. Di tengah perjalanan kami bertemu bang Apo. Alhamdulillah. Dengan senang hati bang Apo menemani kami naik ke puncak. Oia, bang Apo ini bekerja di Taman Nasional Kelimutu loh. Jadi saya senang sekali bisa memperoleh banyak informasi dari beliau. Buat yang belum tahu, bang Apo adalah suami dari member Flobamora Community : Yudith.

Yery & Afhiek. Anak Underground nih :D

Sepanjang perjalanan kami mendengar banyak cerita dari bang Apo. Tahukah kalian? Sejak beberapa tahun terakhir (kalau tidak salah sejak tahun 2004 – kalau salah ya maaf), sudah menjadi trend Lebaran hari kedua masyarakat berbondong-bondong datang ke Danau Kelimutu. Tak kenal usia, tak kenal sandal yang dipakai. Hehe. Dan Lebaran tahun ini luar biasa banyak pengunjungnya! Bisa mencapai 6.000 pengunjung dalam beberapa hari saja. Kami yang datang di hari ketiga saja masih bisa menyaksikan begitu banyak manusia di Danau Kelimutu.

“Kemarin-kemarin itu yang datang masih banyak dari Makassar dan Maumere,” kata bang Apo.

Lihat warna danaunya, berubah kesusu-susuan!

Saya sendiri tidak lagi secara khusus melihat Danau Ata Polo. Saya ingin cepat-cepat menuju puncak soalnya penasaran sama warna danau yang berubah itu. Lagipula dari puncak kan bisa melihat ketiga danau dengan jelas. Jalannya santai, nggak ngos-ngosan, yang penting asyik. Tiba di puncak, saya kuatir nggak dapat tempat buat foto-foto narsis secara manusia bergelimpangan *halah* :D Ada satu hal yang saya notis di sini bahwa para pedagang snack, minuman dan tenun ikat tidak terlihat di sekitaran tugu. Menurut informasi yang saya dengar bahwa para pedagang terlalu banyak sehingga perlu ditertibkan. Mereka hanya boleh berdagang di dekat parkiran saja, tidak boleh sampai ke puncak, memenuhi bagian bawah tugu. Boleh juga. Jadi yang mau naik ke puncak mesti sediakan air minum banyak-banyak apalagi yang tidak biasa berolah raga.

Wif Yery, Keponakan :D

Benar teman, danaunya berubah warna menjadi kesusu-susuan. Pokoknya warnanya pudar banget. Harus diabadikan. Dan bukan saya kalau tidak narsis gila sampai yang lihat rasanya pengen kemplang pakai sandal. Narsis boleh narsis tapi informasi yang disampaikan oleh bang Apo tidak boleh terlewatkan oleh kuping.

Tidak terlalu lama di puncak, pokoknya puas melihat warna danau yang berubah dan foto-foto, kita pun turun. Di dekat kamar mandi umum banyak rombongan keluarga yang ‘berpiknik’. Bekalnya banyak! Beda sama kita yang nyaris tidak membawa bekal kecuali sekotak kue tart dan sestoples kastengel. Hihi. Kita juga istirahat sih. Duduk di rumput, melepas lelah, sambil cerita-cerita. Senangnya karena bang Apo punya banyak cerita! Tepatnya informasi penting tentang Danau Kelimutu.

Plang Arah *apa coba* hehehe.

Di Flores ini masih ada beberapa gunung berapi yang masih aktif diantaranya Gunung Poco Ranaka di Ruteng, Gunung Inerie di Bajawa, Gunung Abulobo di Boawae, Gunung Ia dan Gunung Kelimutu di Ende, Gunung Rokatenda (Pulau Paule) dan Gunung Egon di Maumere, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Perempuan di Boru, Gunung Ile Boleng di Adonara. Gunung-gunung ini terkoneksi satu sama lain. Informasi lainnya adalah bahwa Gunung Kelimutu merupakan wilayah di Pulau Flores yang hutannya masih terjaga dengan baik. Sumber air bersih. Entah apa yang terjadi bila hutan ini tidak dijaga. Mari, kita tentu bisa menjaganya. Bukan begitu, teman?

Tuntutan perut yang lapar rupanya memang tidak bisa ditahan. Kami memutuskan untuk segera turun ke parkiran untuk melarikan perut ke Moni. Hehe. Terima kasih Caca yang sudah menggratiskan kita untuk biaya masuk. Terima kasih lebih banyak deh untuk bang Apo atas segala informasi mengenai Danau Kelimutu. Terkhusus bang Apo yang sudah begitu baik memberikan saya PIN Danau Kelimutu seabrek-abrek! Eh masih juga demen sama PIN besi yang dipakai oleh beliau. Hihih. Maruk is my middle name. Kayaknya sih.

Latarnya persawahan di Desa Agrowista, Waturaka

Dalam perjalanan turun ke Moni, kami sempatkan untuk foto-foto dengan latar persawahan. Inilah desa agrowisata Waturaka. Puas foto-foto (sebenarnya tidak pernah ada kata puas untuk urusan narsis) kami melanjutkan perjalanan ke Moni. Di Moni restoran yang dipilih adalah Restoran Al Hidayah. Ada Motel Al Hidayah juga loh. Pemiliknya dulu tetangganya saya di Ende hehe. Di restoran itu ada tiga bule yang sedang makan siang. Wah, bule-bule ini cuakep kep kep bikin mata segar. Nah pertanyaannya adalah apakah kami sempat berpose bersama mereka? Oia dooonk! Rugi aja kalau nggak foto bareng yang bening-bening hihihi.

Restoran Al Hidayan, Moni

Dari Moni kami kembali ke Ende. Perjalanan pulang sekitar 1,5 jam saja sih. Tiba di Ende terlebih dahulu menyempatkan waktu pergi membesuk Mom Poppy yang terluka di bagian bibir saat terjatuh. Tidak sempat ke rumah Yo. Maafkan ya, sista. Soalnya kami harus pergi mengantar Mila kembali ke Ndona sebelum kembali ke rumah masing-masing.

Itulah perjalanan kami. Kelimutu yang penuh cerita. Saya tidak pernah bosan mengunjunginya. Itu tadi, seperti tulisan saya di atas, bahwa selalu ada ikatan batin yang mengajak saya terus ke sana. Puas bisa tiba di puncak dan membiarkan alam menunjukkan kehebatannya. Ya, kehebatan Allah SWT, teman! Luar biasa. Saya jadi ingat di tahun 2006 saat pergi ke Danau Kelimutu bareng teman-teman Club BNML. Pedro, teman saya yang pernah ikutan Master Chef 2012 dan juga bekerja di Taman Nasional Kelimutu, mengajak saya duduk di salah satu sudut jauh dari tugu, menutup mata, mendengarkan suara alam. Apa yang dibilang suara alam itu sesungguhnya sulit didengar oleh kuping … gunakan batin kau, teman. Gunakan.

Semoga ada lagi perubahan di Danau Kelimutu. Jangan kuatir, saya akan tetap pergi ke sana. Masih ingin menulis lagi tentang Danau Kelimutu, hal-hal yang sebelumnya tidak pernah saya tulis. Semoga dapat. Masih berharap bang Apo membocorkan lebih banyak informasi yang dapat saya susun dengan baik. Amin.


Wassalam.

Monday, August 13, 2012

Ciptakan Santri Cerdas Dengan Membaca

Hi there!

Akhirnya lega. Kenapa lega? Karena eh karena sebuah tugas sudah selesai. Iya, itu loh … program kerja Flobamora Community untuk mengunjungi Ponpes Walisongo telah dilaksanakan. Informasi lengkapnya bisa dibaca di websitenya Flobamora Community. Klik aja.

Dalam kunjungan ke Ponpes Walisongo hari Minggu, 12 Agustus 2012 yang lalu, saya serius membaca tulisan yang sudah lama tertera di bangunan sekolah di ponpes tersebut. Tulisannya adalah : Ciptakan Santri Cerdas Dengan Membaca. Saya jadi teringat obrolan singkat dengan seseorang. Saat itu saya membuka topik tentang peringkat UN di Indonesia, NTT menempati urutan ke-33. Buntut. Dan orang itu bilang, “ya iya lah! Minat baca anak-anak kita rendah.”

Bersama santri di depan gedung sekolah.

Benar sekali. Minat baca anak-anak kita rendah, sudah dikuasai oleh Facebook sehingga buku tidak lagi menarik. Padahal, seperti jargon lama, membaca adalah jendela dunia. Kita dapat mengetahui apa saja lewat membaca. Bahkan sebuah novel cinta pun bila ditulis dengan serius, mengemukakan fakta-fakta, riset juga dilakukan, novel cinta tersebut memuat banyak informasi yang berguna bagi kita. Contoh novel milik Ayu Utami atau Remy Sylado. Kalau dari luar sih banyak, novel karya Sidney Sheldon, Agatha Christie, John Grisham atau Mary H. Clark yang lebih banyak berkutat di dunia medis. Jangan lupa Indonesia juga punya penulis yang kisahnya juga mengangkat dunia kedokteran, Mira W.

Bersama santri di depan masjid.

Membaca juga memecut kita untuk menulis. Tidak percaya? Cobalah membaca dan kamu akan berpikir begini kira-kira : menulis seperti ini saya juga bisa! Nah, mulailah menulis kalau merasa kamu juga bisa. Karena dengan menulis otak kita terasah untukmengingat banyak hal, terlatih untuk menggunakan banyak kosa kata sehingga perbendaharaan kata pun semakin banyak. Itu penting agar tulisan kita tidak membosankan. Jangan lupa untuk membiarkan orang lain membaca tulisan kamu. Tentu mereka akan memberi kritikan. Itu justru bagus. Dengan demikian kamu akan tahu di mana letak kekurangan sebuah tulisan. Bingung harus bagaimana agar tulisan dibaca dan dikomentari? Buatlah sebuah blog! So simple. It’s free!

 Eddie dan Umi-Umi.

Okay. Mari membaca. Membaca banyak manfaatnya. Mari menulis. Menulis juga banyak manfaatnya. Untuk menjadi pintar memang butuh biaya mahal. Jangan dilihat mahalnya tapi lihatlah nilai investasinya. Tapi untuk menjadi cerdas tak perlu banyak biaya. Bacalah!

Di makam Abah Mahmud Eka.

Dalam kunjungan ke ponpes hari Minggu kemarin itu saya juga menyempatkan diri untuk berpose di makam Abah Mahmud Eka. Seorang pemimpin, pempimpin Ponpes Walisongo, yang membaktikan dirinya bagi kaum duafa, anak yatim-piatu, mereka yang kurang mampu. Bukan hanya anak-anak di wilayah Kabupaten Ende saja melainkan juga dari kabupaten lain yang ada di NTT. Luar biasa, Abah! Semoga Allahmemberikan kebaikan untuk arwah beliau. Amin. Semoga santri (yang laki-laki) dapat segera menempati bangunan asrama sehingga tak perlu tidur di tingkat dua masjid. Masjid yang pengerjaannya sudah berapa tahun ini belum juga selesai. Masjid yang tidak berdinding, hanya pilar-pilar penyangga saja. Bisa dibayangkan santri-santri tidur ditemani udara malam yang menusuk? Masya Allah, betapa tegar dan tabahnya mereka.

 
Nah, bidadari yang kiri adalah Bidadari Badung! :P

Dengan selesainya kunjungan ke Ponpes Walisongo maka Flobamora Community mulai concern ke program kerja lainnya seperti penanaman bakau di Pantai Pu’urere dan Internetsehat Goes To School. Semoga dapat terlaksana!


Wassalam.

Saturday, August 11, 2012

Masyarakat Flores yang Ramah


KKN merupakan kegiatan wajib mahasiswa sebagai kegiatan nyata mereka mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah pada masyarakat. Saya menjadi anggota Panitia KKN Mahasiswa Universitas Flores periode 2012/2013 dalam bagian Seksi Dokumentasi dan Publikasi. KKN kali ini melibatkan 3 kabupaten di Pulau Flores yaitu Kabupaten Ngada, Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ende. Di dalam surat tugas saya ditugaskan untuk meliput kegiatan KKN di Kabupaten Nagekeo selama 2 hari. Dan 2 hari ini boleh saya pilih apakah beruturut-turut (menginap) atau dipisah. Dan 2 hari ini saya pun boleh memilih kecamatan dan desa tujuan liputan.


Sejak jauh-jauh hari saya memang sengaja meminta untuk ditugaskan ke Kabupaten Nagekeo, lebih dekat menurut pandangan saya, agar tidak perlu menginap.

Saya sengaja memilik Kabupaten Nagekeo, arah barat dari Kota Ende, karena saya bosan dengan perjalanan arah timur Kota Ende (untuk liputan Kabupaten Ende). Masalahnya ke arah barat dari Ende hingga Nangaroro yang saya temui adalah laut, laut dan laut. Sepanjang perjalanan pun rumah penduduk masih sering kelihatan. Sedangkan ke arah timur … bukan main hutannya. Hehehe.


Pada hari Senin lalu, tepatnya tanggal 6 Agustus 2012, mahasiswa KKN diberangkatkan. Acara pelepasannya dibagi di dua tempat. Untuk Kabupaten Ende, acaranya di Kantor Bupati Ende, dilepas oleh Bupati Ende, Bapak Don Bosco Wangge. Sedangkan untuk Kabupaten Ngada dan Kabupaten Nagekeo, acaranya di Auditorium Kampus 1 Universitas Flores, dilepas oleh Rektor Universitas Flores, Prof. Stephanus Djawanai, M.A. beserta Ketua Panitia KKN, Ibu Yulita Londa, S.E., M.Si., Akt.


Setelah mendapat kontak mahasiswa KKN tujuan Kecamatan Nangaroro (kecamatan dari Kabupaten Nagekeo yang jaraknya paling dekat dengan perbatasan Kabupaten Ende), saya pulang dulu ke rumah. Tepat pukul 10.30 Lin (mahasiswi KKN yang ditempatkan di Kecamatan Nangaroro) mengirim sms bahwa bis kayu yang mereka tumpangi bernama ‘Hasrat’ telah bertolak menuju barat. Okay. Saatnya berangkat.

Dari Ende saya mengejar waktu, istilah untuk mengebut, agar si Hasrat terkejar. Memang terkejar dan akhirnya kami tiba di Kantor Kecamatan Nangaroro. Sayangnya Bapak Camat sedang tidak di tempat. Rombongan ini disambut oleh Sekcam. Dua dosen pembimbing yaitu Pak Elias Beda dan Pak Stephanus, segera melapor kepada Sekcam. Kemudian mahasiswa yang terdiri dari 2 bis kayu ini dibagi per kelompok berdasarkan desa tujuan. Dan karena ada 5 desa dan 2 bis kayu, makanya ada acara antar-mengantar terlebih dahulu. Itu yang tidak saya sadari. Hahaha.


Setelah mengisi perut di sebuah warung di Nangaroro (well, saya muskafir :p), saya melanjutkan perjalanan menuju Aigela. Perjalanannya memang jauh dan ada badan-badan jalan yang sedang diperbaiki. Jalanan di Nangaroro banyak yang rusak, berlobang, berpasir, dan lain-lain. Penuh semangat saya tiba di Aigela. Desa yang menjadi tujuan saya adalah Desa Ulupulu 1, sekitar 20-an kilometer arah Bajawa. Sangat melegakan karena dari Aigela menuju Ulupulu jalannya bagus mulus bikin ban motor tertawa senang. Hehehe. Lebih senang lagi karena desa ini terletak di pinggir jalan negara, tidak ke pelosok.

Tiba di desa Ulupulu saya bertanya rumah Kades. Oleh masyarakat katanya “ke sana lagi, sedikit lagi,” haha jangan percaya bila orang di desa bilang “sedikit lagi sampai,” karena itu artinya masih 10 kilometer lagi. Tiba di rumah Kades Ulupulu, saya dibertahu bahwa mahasiswa KKN ditempatkan bukan di Desa Ulupulu melainkan Ulupulu 1 dan itu masih jauh ke depan. Hahaha. Great. Kembali motor saya melaju hingga bertemu segerombolan bocah. Mereka melihat saya dan memanggil, “halo mister!” hehehe.


Melihat bocah bergerombol seperti itu saya gatal pengen foto bareng sama mereka hhahaha. Setelah difoto, para bocah dengan senang hati bersedia mengantar saya ke rumah Kades. Sayangnya di rumah Kades Ulupulu 1 ini saya tidak melihat jas biru milik Universitas Flores. Ke mana kah para mahasiswa yang ditempatkan di sini? Para bocah kemudian mengajak saya pergi ke Polindes dan mereka bersedia mengantar! Wow. Luar biasa hahaha. Jalan menuju Polindes sangat merusak jiwa saya hihihi. Luar biasa parah itu jalan desa, lobangnya parah amit, belum lagi bebatuan besar mencuat. Tapi saya nekat ketimbang jalan kaki. Setelah melewati jalan desa itu saya bertemu dengan lapangan yang maha luas. Masya Allah melihat Gunung Inerie di kejauhan dengan langit biru dan awan putih, perasaan saya ingin selamanya berada di tempat ini.


“Tanta! Itu Polindes di depan!”

Teriakan seorang bocah mengagetkan saya. Kembali ke realita hahaha. Saya kira lapangan luas ini mulus, udah ngebut duluan ternyata tanah di lapangan ini retak semua! Saya seperti naik mesin getar hahaha. Memelankan motor akhirnya saya tiba di bangunan Polindes Ulupulu 1 yang terletak di ujung lapangan. Ternyata di sini juga tidak ada mahasiswa yang saya cari. Di Polindes sendiri sedang ada penyuluhan tentang woman traficking. Dari dalam saya mendengar suara, “jangan percaya kalau mereka bilang kalian punya anak kerja enak di Singapur, periksa baik-baik dulu baru percaya!”
Keren ya?


Kemudian Kades keluar ruangan dan bertemu saya. Dari obrolan kami Kades menegaskan belum ada mahasiswa yang tiba di desanya. Baiklah. Kami lama mengobrol dan menunggu hingga akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Ende. Kades yang baik hati itu malah menawari saya makan terlebih dahulu, kasihan melihat saya yang perempuan ini *ehek* mengendarai motor dari Ende. Tentu itu perbuatan nekat (bukan tercela sih :p) hahaha.


Saya kembali ke Aigela, ngopi-ngopi dulu di situ sambil menghubungi Lin yang ternyata tidak ditempatkan di Desa Ulupulu 1. Lin memberi kontak si Ninis, temannya yang ditempatkan di Desa Ulupulu 1. Dari sms Ninis saya ketahui bahwa kelompoknya Ninis ini mesti mengantar terlebih dahulu 2 kelompok lain ke 2 desa berbeda dengan jarak tempuh yang naujubileh. Kata Ninis, “udik ngeri kak dia pung jalan!” ya iya lah. Informasi dari Sekcam, itu desa-desa pemekaran dari desa utamanya. Jalanannya hancur berantakan. Tapi mungkin justru di situ tantangannya mahasiswa KKN yaaa. Semakin udik sebuah desa, semakin bagus untuk melatih mental mereka berada di tengah-tengah masyarakat.


Akhirnya saya putuskan liputan hari pertama cukup kegiatan di Kecamatan Nangaroro saja. Untuk desanya, mungkin saya pilih desa lain di Boawae yang letaknya memang lebih jauh lagi dari Ulupulu 1, sudah lebih dekat ke Bajawa sih, tapi desanya juga di pinggir jalan negara *lirik motor* hahaha. Si Ardian, kontak saya di sana sudah siap memberi informasi seandainya mereka hendak melakukan kegiatan yang akbar. Baiklah, saya tunggu. Sedangkan untuk desa berikutnya saya akan pilih desa yang terletak di dekat Kota Mbay, ibukota Kabupaten Nagekeo. Jadi lengkap sudah hutang dan tanggung jawab saya meliput kegiatan KKN mahasiswa di dua desa berbeda untuk dua hari kerja.

Well … saatnya saya pulang. Mengebut itu nikmat juga hahaha. Saya tiba di Ende sebelum waktu berbuka puasa.


Apa yang saya dapatkan dari perjalanan meliput ini? Bahwa masyarakat Flores itu sangat ramah. Terbayang para bapak dan ibu yang saya temui sepanjang jalan yang bersedia memberikan informasi, bahkan informasi tambahan tanpa diminta. Juga seorang ibu yang memberikan kamar mandinya untuk saya pakai, bahkan adik ibu ini meminjamkan sandalnya. Juga kepada Bapak Kades Ulupulu 1 yang telah sangat ramah hingga mengajak saya makan. Kita orang Flores sangat ramah. Pertahankan jiwa kita yang ramah ini … pertahankan dan tingkatkan!


Wassalam.