Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Wednesday, September 19, 2012

Menggandeng Tangan Takita

Suatu hari, tepatnya beberapa hari yang lalu *nggak jelas semua, Teh :D* saya menerima email dari om Bisot yang isinya tentang IDbercerita dan Takita. Membacanya jadi terharu. Iya, membaca surat Takita tentang keinginannya! Keinginan mendengar cerita dari seluruh Indonesia, tentang dongeng, tentang masa kecil orang-orang yang begitu polos dan apa adanya, tentang apa yang memang seharusnya dialami dan dimiliki oleh perasaan seorang anak kecil.

Membaca surat Takita saya bilang : masa kecil saya begitu bahagia. Nggak kayak anak-anak jaman sekarang. Masih kecil direcoki lagu cintanya orang dewasa (damn! Ini mah salah orang dewasanya juga!). Masih kecil mainannya gadget yang bahkan belum seharusnya mereka menyentuhnya. Ditanyain soal dakon atau ular tangga mereka nggak tahu! Suer, mereka nggak tahu apalagi ludo de el el. Manapula kalau ditanya soal cerita Si Kancil, Timun Mas atau Malin Kundang. 
Masa kecil saya begitu anak-anak. Sangat anak-anak. Sangat normal, ketika saya memandangnya dari sudut padang saya sebagai orang dewasa sekarang (catat : bukan tua, tapi dewasa) haha. Saya bermain pasir, mengumpulkan kulit permen untuk dijadikan mata uang mainan, masak-masakan sama para kakak sepupu yang suka ngebully tapi justru di situ letak cintanya, main rumah-rumahan (dan saya punya mainan sampai 3 karung), main ular tangga, dakon (di Ende kami menyebutnya congklak), bermain behel (siput), main tali merdeka (main karet), main ogo, main boy, main kasti, kemudian mendengar Bapa bercerita, juga Mamatua. Sesekali saya dan para kakak sepupu pergi ke kompleks Misi (Nusa Indah) untuk memetik bunga. Dan yang paling saya suka ketika masih kecil adalah di Perpustakaan SDI Ende 11 tersedia begitu banyak buku yang bisa dipinjam! Buku-buku itu, buku cerita anak Indonesia. Mulai dari dongeng, fabel sampai hikayat. Belum cukup itu, di Perpustakaan pribadi Bapa pun tersedia begitu banyak buku cerita untuk anak-anak.
Waktu masih kecil keluarga kami punya band tapi saya dilarang bernyanyi di band itu ihihihi. Gantinya, Bapa selalu mengajak saya berlatih bernyanyi diiringi dengan piano kecilnya. Entah apa nama benda itu sebenarnya, yang saya tahu itu piano/orgen kecil yang bisa dibawa ke mana-mana merek Casio. Terus saya jadi sering tampil dengan Bapa yang mengiringi. Lagunya? Jelas lagu anak-anak. Mana boleh lagu orang dewasa seperti lagunya Meriam Belina atau Mukhlis Adi Putra waktu itu? Hahahaha. Lagunya mulai dari Ibu Kita Kartini, sampai dengan Naik Kereta Api. Saya jadi sering tampil dan kemudian menjadi BANCI TAMPIL setelah semakin berumur wakakakaka.

Menjadi banci tampil, sering bawain acara anak-anak, saya menegaskan diri untuk tidak membiarkan anak-anak tenggelam dalam dunia yang bukan milik mereka. Dalam kegiatan anak-anak, ketika anak-anak itu hendak mengisi acara dengan bernyanyi saya selalu bilang : lagunya harus lagu anak-anak yaaaaa... mereka awalnya garuk-garuk kepala karena bingung lagu anak-anak apa yang harus dinyanyikan? Tetapi kemudian pilihannya jatuh pada Bintang Kecil. Kemudian ada lagi yang mau nyanyi, lagunya Bintang Kecil lagi. Hadeh, wahai para Bapak dan Mama, kenapa lagunya Bintang Kecil melulu? Begitu banyaknya lagu anak di Indonesia, mulai dari yang kelasnya seperti Bintang Kecil, Naik Kereta Api, Balonku, dll, ada juga lagu anak a la Melisa, Meisya, Bondan, dllnya, kan?
Saya sering bilang, biarkan anak-anak berada dalam dunia mereka, bukan dunia orang dewasa!
Untuk Takita ... mungkin ini bukan balasan surat yang sesungguhnya, saya belum bisa fokus. Tetapi saya ingin Takita tahu bahwa dia tidak sendiri. Banyak yang ingin mengembalikan dunia anak-anak pada track-nya dan kita harus mendukung itu! Wajib! Ketika kita ingin bangsa ini menjadi lebih baik, mulailah dari anak-anak. Jangan tanya apa yang sudah saya perbuat untuk mereka. Dimulai dari Mamatua yang ngajarin anak-anak Bahsa Indonesia dan Matematika hingga saya yang nggak mau kalah ngajarin mereka bahasa Inggris, GRATIS. Intinya di rumah kami mereka tidak boleh menyanyikan lagu orang dewasa. Jadi mereka paling sering nyanyiin lagu-lagu perjuangan dan lagu anak-anak yang kami ajarkan.
Takita sebenarnya kita punya misi yang sama. Misi saya : mengembalikan anak-anak pada jalurnya.
Tunggu balasan surat saya yang lain ya, Takita  ;)) Love you!


Wassalam.

Wednesday, September 12, 2012

Tebing Berbatu di Nangekeo


Sepertinya hidup tidak akan lengkap tanpa jalan-jalan. Tanpa traveling. Hehe. Kalau ada yang protes saya jalan-jalan lagi, silahkan. 

Mila Wolo

Minggu, 9 September 2012, keluarga besar Universitas Flores mengadakan kegiatan piknik akbar di Pantai Nangekeo. Oia, mungkin ada yang bingung. Di Ende ada sebuah tempat bernama Nangekeo (juga ada pelabuhannya) sedangkan di Flores ada Kabupaten bernama Nagekeo. Lihat bedanya? Nangekeo dan Nagekeo *puhlease deh, T!* Piknik kali ini luar biasa heboh karena wajib diikuti oleh semua karyawan (terlihat juga beberapa dosen) dan wajib membawa serta keluarga. Artinya wajib membawa suami, istri dan anak-anak. Sedangkan yang masih pacaran, wajib membawa pacarnya. Catatan : pacar betulan, bukan pacar sementara! Hahahah *ngikik*. Bisa Anda bayangkan piknik akbar begini? Ya, sekitar 300-an manusia berkumpul dalam suasana hepi!

Wahahah keluarga besar!

Minggu pagi saya dikejutkan oleh telepon dari Om Frans Pitu yang mengabarkan rombongan Uniflor telah berangkat dari Kampus 1, lokasi berkumpulnya semua orang, menuju Nangekeo. Wah, buru-buru saya mengirim sms ke Mila. Dijawab : saya juga masih di rumah, kak. Kebetulan. Akhirnya saya dan Mila janjian pergi bersama menyusuli rombongan yang telah lebih dulu berangkat. Di tengah perjalanan kami bertemu Pak Satpam Yang Saya Lupa Namanya (PSYSLN). Bersama Psysln, kami memaju motor masing-masing ke arah barat. Psysln ini membonceng istrinya yang membawa 3 sisir pisang. Wew, pengeeen pisang!


Dalam perjalanan kami tidak menemukan satu pun mobil milik Uniflor. Wah, ke mana orang-orang? Sampai-sampai kami melewati Nangekeo, melewati Nangalala, sampai teruuuus dan perjalanan kami yang ngawur itu dibuyarkan oleh Psysln. Katanya : ibu, sepertinya kita sudah lewat terlalu jauh, mari kita balik saja dan menelepon orang-orang. Mengeluarkan HP, tidak ada sinyal. Terpaksa turun kembali ke dekat pantai baru deh ketemu sinyal *pukul sinyal* dan menelepon mom Poppy Pelupessy. Eh ternyata gila ajaaa itu rombongan Uniflor baru aja berangkat! Aduh Om Frans Pitu bikin kami ketar-ketir aja hahaha.


Lokasi piknik kali ini sebenarnya berdekatan sangat dengan Pelabuhan Nangekeo. Tipikal pantai di selatan Pulau Flores adalah pasir hitam dan tidak landai. Belum lagi waktu itu lumayan sih ombaknya gede. Saya, Mila, Ibu Yuli, Ibu Ina, berjalan bersama *tsah* foto-foto, sampai tiba di tebing. Saya sebut tebing berbatu karena kayak batu-batu disusun begitu. Lihat deh fotonya hehehe. Acara pikini akbar ini memang heboh. Makanannya super lengkap! Mulai dari nasi, ketupat, are gau, pisang rebus, ubi rebus, ikan bakar, ikan kuah, ayam goreng, ikan kering dibumbu, sambal goreng, sambal tomat, rujak, buah-buah, cemilan, es buah, keripik, dan lain-lain. Mak! Bisa dibayangkan betapa sengsaranya perut menampung ketidakseimbangan antara keinginan dan kerakusan? Hihihihi.

Tebing berbatu ...

Fiuh, tiduran di pantai, di atas kardus bekas air mineral yang dibentang di atas dedaunan kering (gara-gara katanya banyak kalajengking, kan saya takut :p) memang nikmat ya. Sempat nyenyak tapi terus kaget gara-gara hebohnya peserta piknik lomba tarik tambang! Waduh, tidak bisa dibayangkan betapa serunya!

Sekitar pukul 3 sore kami pun pulang. Rombongan masih melanjutkan acara menuju Kali Nangaba sedangkan saya memacu oiM hituP cepat-cepat ke rumah karena kaki kanan kejaaaaaaaaaang bukan alang kepalang. Kejangnya tidak biasa ... padahal loh ya, saya tidak berbuat apa-apa. Ya sudahlah. Yuk mari kita rencanakan jalan-jalan lagi.

Next trip KE MANA??????? *tanya pada diri sendiri*


Wassalam.

Saturday, September 08, 2012

Surga Itu Bernama Riung

Sudah baca postingan saya sebelumnya? Baca dulu deh baru baca yang satu ini ;))

Ini salah satu spot sebelum masuk daerah Mbay. Awww!
 
Setelah tiba di Mbay, tidur semalam, keesokan harinya menunggu rombongan FC dari Ende, sarapan di rumah Iwan-Reni, akhirnya kami pun berangkat ke Riung. Siapa-siapa saja? Saya, Ryan, Said, Fauwzya dan Oskar! Yuhu. Ada Oskar gituuuu gimana nggak seru?

 
Biru, hijau, kuning... Mbay di bawah sana!


Persawahan sebelum pompa-bensin Mbay

Jarak antara Mbay ke Riung diperkirakan 30 kilometer. Sekitar 10 kilometer lepas dari Mbay jalanannya berlubang. Itu sih di bulan Maret kemarin. Sekarang jalan-jalan berlubang sudah dilapisi kerikil-kerikil kecil sehingga spido lebih terjaga. Lepas dari 10 kilometer itu, jalanannya Masya Allah mulus abes! Kata Ryan kita mesti lebih kencang memacu spido. Hayo! Siapa takut? Di sini lah terjadi banyak jebakan batman karena ketika saya memimpin di depan dan mata saya rabun *tsah* jadi kalau saya masuk lobang atau menghajar gundukan, Said tidak bisa mengelak. Mau tak mau Said yang membonceng Fauwzya masuk jebakan batmannya saya *ngakak tebanting*.

Di depan rumah induk Nirvana Bungalow, Riung

Tiba di Nirvana Bungalow, Riung, sekitar 11.30 disambut Rustam dengan wajah kusut. Bukan! Bukan karena lagi marah, itu karena baru bangun tidur. Kayaknya sih *ehem* hihihi. Kita istirahat sebentar, ngopi-ngopi kan makan kue Lebaran, sembari menyiapkan segala sesuatunya. Rustam, lagi-lagi, membeli seabrek ikan untuk segelintir orang *ketawa senang*, tidak lupa membeli nasi, membawa snorkling equipment dan kaki katak, ubi tatas rebus, sambal-sambal racikan Fauwzya *ada bakat*, aneka cemilan dan air minum yang banyak! Karena perginya bersepatu saya harus membeli sandal. Sayang … tidak ada warna kuning. Hehe.

Sekitar pukul 12.30 kami sudah tiba di dermaga Riung. Jarak antara Nirvana Bungalow dengan dermana sangat dekat. Tapi bagi yang tidak biasa berolah gara *lirik Ryan, Said, Fauwzya* akan sangat melelahkan *kabuuurr*. Jarak segitu hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Setiap sisi jalan menuju dermaga berdiri kokoh pohon-pohon kelapa, berjejer bak pagar alam. Cantik. Secantik kitaaaa.

Ke arah dermana, sisi kanan... Nyiur Melambai!

 
Transaksi pelampung a la Oskar :D


Biaya masuk hanya Rp. 4.000 per orang. Di dekat dermaga ada yang menyewakan pelampung. Bagus! Ini perlu buat jaga-jaga. Siapa tahu Fauwzya mabok laut terus bikin oleh kapal hahaha. Perahu motor berukuran sedang yang kami tumpangi, membelah lautan tenang, hanya memuat saya, Rustam, Ryan, Said, Oskar dan Fauwzya juga seorang pemuda lokal yang menjalankannya bernama Amri. Kami memang sengaja tidak ingin mampir ke Pulau Kelelawar lagi, langsung menuju Pulau Tiga! Area snorkling!

 
Para Lelaki ;))

 
Oskar, So Free!

Cerita-cerita dulu soal Riung yuk. Secara administrasi Riung termasuk dalam wilayah Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada. Letaknya sekitar 70 kilometer bagian Utara Kota Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada. Sedangkan dari Mbay, ibukota Kabupaten Nagekeo, hanya berjarak sekitar 30 kilometer. Riung terkenal dengan taman lautnya; Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung. Pulau-pulau yang ada di Riung terdiri dari pulau besar dan kecil. Pulau terbesar bernama Pulau Ontoloe. Pulau-pulau yang paling sering disinggahi adalah Pulau Kelelawar, Pulau Rutong dan Pulau Tiga. Pulau lainnya ada Pulau Borong, Pulau Patta, Pulau Meja, Pulau Kolong, Pulau Dua, ada juga Pulau bernama Halima.

Nadine Candraditotok ;))

Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung merupakan tipe hutan kering dengan vegetasi campuran. Diantaranya ada Terminalia Catappa (Ketapang), Tectona Grandis (Jati), Santalum Album (Cendada), Mangivera Indica (Kayu Manis), Pandanus Tectorius (Pandan), Hibiscus Tiliacus (Waru), Aleuritis Molucana (Kemiri), Albizia (Sengon Laut), juga Cassia Siamea (Johar). Tak hanya itu, di seluruh pesisir pantai di pulau-pulau ditumbuhi Mangrove (Bakau) dengan jenis-jenis dominan seperti Rhizophora, Sonneratia, dan Bruquiera Gymnoriza.

Bagaimana dengan pesona bawah lautnya? Ini dia! Kami touchdown di Pulau Tiga. Rustam dan Amri langsung membuat api untuk membakar ikan. Sedangkan saya dan Oskar langsung cebur laut. Melatih Oskar dan Ryan menggunakan masker snorkel, bagaimana caranya bernafas dan mengeluarkan angin dan air yang masuk ke masker, dan lain-lain. Setelah itu Rustam ikut bergabung. Awalnya sudah mengenakan kaki katak tapi kemudian memilih untuk bertelanjang kaki saja. Memang sih daya dorong menjadi miskin tapi nggak apa-apa. Rustam memandu kami menuju spot taman laut. Beugh! Kalau dulu snorklingnya hanya 30-an meter sekarang 70-an meter bolak-balik hehehe.

 
Pak dokter sudah khatam belajar snorklingnya :D 
Snorkling memang menyenangkan. Saya mencintai yang satu ini. Bayangkan batas antara udara dan air itu hanya dengan cara membenam dan mengangkat kepala hihihi. Bermacam Acropora, Galaxea, Pavites, Echynophylla, Anemon, Lobophylla, Mawar Laut, Bintang Laut berwarna biru terang membuat saya berkali-kali saling mengacung jempol pada Rustam. Terdengar di belakang suara Oskar teriak-teriak kegirangan. Dan saya seperti bermain dalam animasi Finding Nemo karena hampir semua hewan dalam film itu berenang bebas di bawah tubuh kami, diantaranya Clown Fish yang berenang di sekitar Anemon, juga Moorish Idol. Sesekali Rustam menyelam, menunjuk terumbu karang unik yang lewat dari pandangan saya. Dan kami berdua sampai lamaaaa banget menatap ikan berwarna biru yang di sisi tubuhnya ada lingkaran besar ke kecil berwarna kuning. Di sini menyesal nggak punya kamera, apalagi kamera yang sudah dimodif untuk underwater *ngayal*

Terima kasih Allah SWT untuk bumi yang indah ini ;)) 

Saat snorkling bertemu dengan beberapa turis mancanegara (perahu motor mereka di samping perahu motor kami). Sempat saling ‘berbalas pantun’ tentang keindahan Taman Laut Riung. Biutipul!

Saya sarankan bagi yang mau snorkling, ayo rajin olahraga! Besarnya tubuh kita bukan ukuran kita mampu berlama-lama snorkling *bangga punya tubuh gendut tapi terlatih* hahaha. Ryan sampai terkena serangan kejang-kaki. Hihihi.

Kembali ke darat kami memutuskan untuk makan siang karena perut sudah lapar. Yaaa sebelum makan siang, itu camilan dihabiskan dulu deh hahaha. Makan siangnya berupa nasi, ikan bakar dan cumi bakar. Makjang! Terima kasih Fauwzya atas sambalnya yang super enak sampai-sampap para turis (yang kali ini datang lagi satu perahu motor) memuji. Ecieee. Makan di pinggir laut, dilihat oleh para turis dengan tatapan mupeng, ditemani jilatan air laut, apalagi di samping ada Oskar, adalah tingkat pertama surga. Btw ada yang cinlok nih yeeee sama Si Mike *bekep mulut sendiri*

Selesai makan saya gemas ingin mengabadikan Fauwzya dan Oskar dalam keindahan alam Riung. Saya suka memotret apalagi memotret pemandangan, apalagi kalau modelnya luar biasa kece dan kamera-face *sudah puji begini, besok dikasih apa ya sama Fauwzya dan Oskar?* Pulau Tiga ini, saking sepinya, sudah kita anggap sebagai private island. Bisa foto sepuasnya dengan gaya apapun dengan baju apa pun *sinyalhilang* hehe. Sementara itu Said dan Ryan sedang berusaha khatam latihan snorkling. Wah pak dokter yang awalnya malu-malu sekarang jadi keranjingan.

 
Pulang ke Kerajaan Neptunus! :D

Sekitar pukul 16.30 Rustam dan Amri mengajak kami untuk meninggalkan Pulau Tiga. Tujuan berikutnya adalah Pulau Rutong! Letaknya di depan Pulau Tiga. Dari semua pulau di gugusan ini nampaknya Pulau Rutong lah yang pernah dikelola oleh Pemda setempat, melihat beberapa saung yang saat ini dalam kondisi rusak. Dalam perjalanan ke Pulau Rutong kami melihat sebuah kapal pesiar di dekat pulau itu. Wah, asyik nih.

Tahukah kalian, teman? Baru saja minggu sebelumnya saat ke Pantai Maurongga Fauwzya punya mimpi untuk tiduran di pasir putih sambil menanti sunset. Dan hari Minggu kemarin impian itu terwujud untuk kami semua. Tiba di Pulau Rutong sudah pukul 17.00 dan kami pun tiduran di pasir putih yang halus muluuuuuus. Mak, nggak pengen pulang. Pengen terus berada di sini, di moment ini, mari lupakan waktu, mari kalau bisa kita hentikan saja waktu. Inilah yang saya sebut surga lapisan ke-6 karena lapisan ke-7 hanya ada ‘di atas’ sana.

Tak lama senja pun datang. Sunset! Bagaimana caranya saya melampiaskan surga ini pada kalian? Lihat saja fotonya! Hehehe.

 
 

Sunset Garden. Kami adalah F6! *ngikik*
Inilah Surga Lapisan ke-6 :D 

Matahari sudah pulang tapi langit masih terang. Kami kembali ke dermaga Riung. Dan lautnya masih saja berdamai dengan kami. Masih sangat tenaaaang. Kata Fauwzya : seperti kaca. 

Dari dermaga kami sempat membeli gorengan terus kembali ke Nirvana Bungalow. Malam yang indah diisi dengan obrolan, ngopi-ngopi, cemilan, aksi mati lampu sesaat, juga cekikik-cekakak. Hadeeeh... jujur saya tidak ingin pulang. Jadi pengen beli tanah di Riung, bangun rumah mungil, tiap hari ke laut. Pengen punya suami seorang laki-laki *tentu saja, masa suaminya perempuan?* yang bisa melaut. Sahdu kali yaaaa malam-malam berdua di tengah laut. Tinggal nunggu dihantam tsunami aja *horor!* hehehe.

Akhirnya selesai juga tulisan tentang Riung kali ini. Istimewa, se-istimewa perjalanan kali ini. Terima kasih Rustam for everything. Nggak kapok kan punya sohib seperti kami? Hahaha. Ke Riung, saya pasti kembali. Saya janji!

Keesokan harinya saat pulang, masih sempat foto-foto di savana yang menguning :)

Postingan ini untuk memuaskan hasrat orang-orang tentang Riung. Agar orang luar mengetahui keadaan daerah kita dari kita sendiri. Hyuk *mulai nggak waras nulisnya*
Bagi teman-teman yang ingin mengetahui Flores, silahkan bertanya via blog ini atau my twitter @tuteh atau my facebook Tuteh Pharmantara. Yang bisa dijawab ya dijawab. Yang tidak bisa dijawab akan saya cari jawabannya ;))

Noted : all the picture here taken with pocket camera and Blackberry (we are BlackberryGrapher & PocketGrapher!) *mulai tambah nggak waras* :D


Wassalam.

Friday, September 07, 2012

On The Way to Riung


Cerita perjalanan kali ini lumayan panjang. Hah? Jalan lagi? Iye, traveling the world start from your hometown lah. Tapi kali ini travelingnya digabung sama kerjaan. Kata siapa traveling dan kerjaan tidak bisa digabung? Buktinya saya bisa menggabungkannya dan tetap have fun go mad. So mad so fun. Fun banget sampai dikira mad sama yang lihat. Haha. Tulisan ini merupakan bagian pertama dari perjalanan kali ini.
Hari Jumat, 31 Agustus 2012 sudah bangun pagi-pagi sekali. Yaaa pagi-pagi sekali versi saya itu sekitar pukul 07.00 *maaf*. Tetapi karena mata masih lengket tubuh kembali jatuh dalam pelukan kasur. Tepat pukul 10.00 baru pergi mandi dan prepare perjalanan untuk 3 hari. Pukul 11.00 setelah sarapan telur ceplok dan secangkir kopi, juga mencium tangan mamatua, berangkatlah saya ke arah barat Pulau Flores. Memacu oiM hituP dengan semangat menyala-nyala. Ihiiir! Oia, bawaan tidak banyak. Hanya sebuah backpack andalan yang isinya : laptop, 4 buah charger, pakaian dalam kemasan anti air, daleman dalam kemasan anti air, perlengkapan mandi juga dalam kemasan anti air, cemilan ala kadarnya. Kalau ditanya : bagaimana seandainya perjalanannya memakan waktu 1 minggu? Bawaannya ya tetap segitu. My life in one backpack!

Spido saya jaga antara 60 sampai 80 saja. Tapi toh itu termasuk ngebut di tengah belantara jalanan antara kabupaten di Pulau Flores yang lebih banyak tikungannya ketimbang kendaraannya. Tumben kali ini tidak banyak kendaraan satu arah selain kendaraan dari arah berlawanan. Untungnya saya bukan penakut karena sebagian perempuan akan merasa ngeri nge-bike seorang diri di belantara jalanan Pulau Flores. Ah, ada Dia yang menjaga. Hanya satu kali saya merasa merinding saat melintasi tikungan yang ada pohon bambunya di daerah Nangaroro. Mungkin rumpun pohon bambu itu bertuah sedangkan rumpun pohon bambu lainnya ber … berbambu hehehe. 

  
Dari Ende melewati Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, lalu melintasi Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo. Emang tujuan saya ke mana? Itu, Desa Ulupulu 1 yang berada dalam wilayah Kecamatan Nangaroro dan Desa Raja Timur yang berada dalam wilayah Kecamatan Boawae. Tiba di Aigela sengaja tidak berhenti dulu *melirik jagung rebus dengan perasaan meradang* karena ingin segera menyelesaikan tugas terlebih dahulu.

Desa Ulupulu 1, Kecamatan Nangaroro, terletak sekitar 15-an kilometer dari pertigaan : Ende, Bajawa, Mbay. Jalannya mulus, kinclong, bikin ban motor terbahak-bahak. Asyik sekali karena pemandangan Gunung Abulobo (Thanks Lin Gadi atas koreksiannya) dan dataran Mbay terlihat jelas. Jelas-jelas menggoda iman seorang petualang hehe. Di Desa Ulupulu 1 bertemu dengan kelompok mahasiswa KKN dan ulai meliput. Lucunya inilah pertama kali saya bertemu Ninis, mahasiswi KKN, kontak saya di desa ini. Sesi tanya-jawab berlangsung cepat karena dengan senang hati mereka memberi informasi-informasi tambahan yang tidak ditanyakan. Informasi itu diantaranya kegiatan mereka selama pekan 17-an dan betapa susahnya mereka memperoleh air bersih yang hanya didapat setiap pagi 5 jerigen (ukuaran 5 liter) untuk masing-masing Kepala Keluarga! Tuhan, saya tidak sanggup … hiks. Setelah meliput, mendata, mencatat, memotret, saya pamit pada mereka untuk pergi ke Desa Raja Timur.


Perjalanan ke Desa Raja Timur, Kecamatan Boawae saya lebih ngebut lagi. Jalannya banyak yang lurus dan tetap mulus. Untungnya saya tidak kebablasan sampai di pusat kecamatan soalnya desa tujuan saya ini letaknya berdekatan dengan Desa Ulupulu 1. Ternyata, oh! Untungnya itu … si Ardian, kontak saya di Raja Timur, baru pulang Jumatan dan mengklakson saya. Haha. Kalau tidak? Buang waktu deh ih. Kelompok mahasiswa KKN di Desa Raja Timur jumlahnya lebih banyak akibat dari penolakan 3 desa lain (karena jarak 3 desa lain itu memang sangat sulit dijangkau). Dengan gamblang Ardian menjelaskan program kerja yang telah dilaksanakan oleh mereka. Ada satu program yang menarik minat saya yaitu Sekolah Alam. Konsep yang dijelaskan oleh Ardian memacu semangat saya tetapi sayang kegiatan Sekolah Alam itu baru akan dimulai minggu depan. Ardian berjanji akan memberikan informasi tambahan beserta foto-foto.

Wah, tidak terasa jarum jam telah menunjuk angka 14.15 dan saya harus pamit. Ardian dan bapak induk semangnya menahan saya untuk menginap semalam di situ karena malamnya akan ada pesta di Desa Raja Timur. Aduuuh … pengen sih tapi gimana yaaa … kan saya harus menginap di Mbay. Berat hati saya tinggalkan Desa Raja Timur kembali ke Aigela, dua desa untuk dua hari liputan saya selesaikan dalam sehari. Perut saya keroncongan, mak!

Di Aigela sekitar pukul 14.45 saya berleha-leha di sebuah saung-warung pinggir jalan. Aigela merupakan pertigaan Ende, Bajawa dan Mbay yang menjadi check-point para pengguna jalan. Saya menghabiskan 3 jagung rebus dan 2 telur busuk. Eh, dua telur rebus haha. Secangkir kopi jangan sampai lupa supaya mata awas. Human interest itu asyik. Mengobrol dengan penduduk lokal, bercanda dengan para bocah dan bercerita merupakan satu hal yang bisa kau lakukan di mana saja, teman. Asal kau tidak menganggap diri super higienis dan sempurna untuk dapat membangun komunikasi dengan orang lain. Hehe. Sayangnya check-point seperti Aigela tidak tersedia kamar mandi umum. Padahal kamar mandi umum itu penting. Penduduk juga tidak menyediakan kamar mandinya untuk digunakan khalayak. Ya iyalah yaaa.

Sekitar pukul 15.15 saya pamit. Tujuan saya selanjutnya adalah Mbay! Ini dia ibukota Kabupaten Nagekeo yang landscapnya paling unik se-Flores. Datar! Dari Aigela menuju Mbay jalanannya juga mulus dan menurun. Sesekali tanjakan. Pada beberapa titik sempat berhenti dulu untuk mengabadikan pemandangan. Jangan puas sama mata! Biarkan kamera merekam dalam gambar supaya banyak orang yang juga menikmati.

Pukul 16.00 tiba di Mbay, disambut dengan jalanan lebar, lebar dan lebar. Mulus, mulus, dan mulus. Selain itu persawahan dan gudang bawang merah juga menyambut saya. Aih aroma bawang merah bikin tambah lapar! Melihat sawah hijau saya langsung teriak histeris. Have fun go mad! Sampai ada yang melihat saya dengan tatapan orgil-dari-mana-sih-lu? Hihi. Habis histeris dengan kencang-kencang saya menyanyikan lagunya Adele : Someone Like You. Perfect. Tujuan yang paling utama adalah pompa-bensin. Selain mengisi bensin saya juga harus mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuh hahaha. Setelah semua urusan beres segera saya menghubungi Iwan. Iwan ini keponakan saya yang menikah dengan Reni. Reni bekerja sebagai bidan di Mbay, dia juga orang Mbay. 

Btw saya memang sial karena nomor HP yang utama tidak bisa dipakai. Sepertinya jaringan nomor tersebut eror ketika dibawa ke luar Ende. Untung saya membawa 2 HP cadangan. Begitu dihubungi Iwan langsung menjemput. Rencananya saya mau minta bantuan dia mencari hotel murah meriah ala backpack karena sesuai jadwal malam ini saya bermalam di Mbay menunggu besok pagi rombongan FC datang dari Ende untuk bersama-sama pergi ke Riung.

Iwan, as you know, tidak mengijinkan saya menginap di hotel. Saya diajak ke rumah mereka yang letaknya tidak jauh dari pompa-bensin. Tiba di sana, langsung leha-leha melepas lelah ditemani secangkir kopi yang rasanya aduhay bikin lidah meringis saking senangnya. Loh? Kolerasinya di mana? Hahaha. Ternyata malam itu Mbay lagi ada hajatan besar. Iya, ada acara Komuni Suci Pertama. Untuk daerah Danga saja ada 100 anak. Otomatis Iwan dan Reni harus pergi memenuhi undangan. Tidak masalah saya ditinggal di kamar sambil nge-game dan membuat laporan liputan. So fun, huh?

Tidur malam sudah pagi. Tidur malam yang kesiangan haha. Baru pukul 02.00 saya terlelap dan dibangunkan oleh alarm. Melihat-lihat sms, ada sms dari Oskar yang mengabarkan bahwa rombongan FC dari Ende sudah tiba di Nangaroro. Sudah dekat sekali dan artinya saya harus mandi. Selesai mandi, leha-leha, minum kopi pagi, sms dari Oskar datang lagi mengabarkan bahwa mereka sudah di pompa-bensin Mbay. Siap menjemput! Dari pompa-bensin kami : saya, Oskar, Ryan, Said (dokter hewan), dan Zya pergi ke rumah Iwan. Kami ditahan lagi untuk sarapan. Benar-benar keramahan orang Flores tiada dua. Kami tidak boleh berangkat ke Riung jika belum sarapan. Aw. Hehe. Beres sarapan, siap berangkat ke Riung! Pesan Iwan : harus mampir setelah pulang dari Riung.

Bagaimana perjalanan menuju Riung dan indahnya pesona alam Riung? Postingan berikutnya donk ;)

Noted : ngebike sendirian di jalanan lintas Kabupaten di Flores itu menyenangkan loh.


Wassalam.