Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Wednesday, March 27, 2013

#1MugBeras For #Rokatenda

Teman, Gunung Rokatenda sejak November 2012 terus meningkat aktifitasnya. Selain batuk berdahak dan batuk rejan *sori, keseringan nulis keseleo* gunung ini juga batuk awan hitam dan abu vulkanik. Saya ragu bahwa daerah sekitar gunung tersebut yaitu Pulau Palu'e, Kabupaten Sikka, masih dapat dipertahankan untuk hunian. But, we just can wait and see karena sebagian besar masyarakat Pulau Palu'e masih bertahan di sana entah sampai kapan padahal gunung itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Ini foto waktu bantuan tahap 1, 9 Februari 2013

Sejak minggu lalu diberitakan bahwa ada 2 pengungsi yang meninggal di kamp pengungsian di Kabupaten Sikka, rasanya miris sekali. Apalagi kemudian terdengar kabar ada 4 anak NTT yang meninggal tragis di Jogja. Saya, pribadi, tidak ingin masalah Rokatenda terabaikan dilibas kasus baru yang masih bisa diselesaikan oleh aparat yang entah bagaimana caranya. Saya, pribadi, ingin Rokatenda tetap diingat, bahwa masih banyak warga yang membutuhkan bantuan kita, terlepas dari mereka kelaparan sangat atau tidak.

Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT) yess, komunitas super keren itu, akhirnya menggagas aksi #1MugBeras For #Rokatenda. Saya pikir itu sangat logis. Saat hari gajian masih jauh sementara di setiap rumah masih ada stok beras, kenapa tidak menyumbang beras seikhlasnya saja? Bukankah dari 1 mug bisa jadi 1 karung? Ealah ... baru juga 3 hari berjalan, sudah ada 4 karung beras terkumpul dari aksi keren itu. Alhamdulillah.

*kemudian postingan ini terpangkas karena GEMPA* 
Gempa Mag:5.6 SR,27-Mar-13 00:23:59 WIB,50 Km,(25 km TimurLaut SUMBATIMUR-NTT)

Oke, kita lanjut *setelah getaran tidak berasa lagi*
Selain aksi #1MugBeras For #Rokatenda, Flobamora Community juga tetap menggalang dana bantuan untuk pengungsi lewat rekening. Sudah 3 kali komunitas ini mengantar bantuan ke Desa Mausambi, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, berupa beras, mie, obat-obatan, masker, susu, dan lain-lainnya. Dan untuk tahap ke-4, dana yang telah terkumpul sekitar 12juta. Wow. Ini langkah yang sangat baik dari sebuah komunitas blogger yang lebih identik dengan horehore. Eh, kami justru lebih banyak aksi sosialnya ketimbang ngajar internet dan blog *ngakak*

Well, #1MugBeras For #Rokatenda merupakan aksi kecil yang semoga berefek besar. Bukan lagi saatnya mempermasalahkan polemik antara pemerintah daerah dengan para pengungsi. Yang satu bilang ini, yang satu bilang itu. Lebih baik bagi kami untuk bergerak saja, membantu sebisanya. Itu lebih penting. Kami juga dituding begini begitu sama orang-orang (yang belum tentu juga mereka udah membantu para pengungsi), yang jelas kami tetap BEGONO! :P Hehehe. Tidak apa-apa dituding, tidak apa-apa dituduh, yang penting aksinya tetap jalan. That's it. Sorry, bagi saya pribadi tabu ngembat duit orang, amanat pula, limapuluh Rupiah sekalipun. You don't know siapa kami, jadi sebaiknya tutup mulut. Kami bukan kumpulan pengangguran yang punya maksud dibalik kerja sosial. Sorry, bung ... kami semua ini orang kantoran yang bergaji mungkin di atas gaji kau. Kami nggak 'buta' semudah itu. Insya Allah. Amin.

Yuk bantu Rokatenda! Kenikmatan di jiwa itu yang tiada terlukiskan!

Informasi rekening dan humas, juga report kegiatan mengantar bantuan ke pengungsi di Desa Mausambi dan kenapa ke desa itu, silahkan cek ke website Flobamora Community di http://bloggerntt.org yaaaa.


Wassalam.


Friday, March 08, 2013

Review CD Tuteh yang Warna-Warni


Pembatas Buku yang tidak ada di semua buku -_-! hiks...

Bila Dicky Senda menulis judul reviewnya : "Mengkritisi Sekaligus Mengapresiasi CD Tuteh Pharmantara", maka saya tulis judulnya : "Review CD Tuteh yang Warna-Warni". Memang sengaja, sengaja mengundang penasaran. Benarkah saya menggunakan CD warna-warni? Hahaha.
Tahun 2012 saya meluncurkan tiga buku sekaligus. Buku yang pertama berjudul "Indira Fedel" yang merupakan satu kisah utuh. Buku yang kedua adalah sebuah buku curhat berjudul "Curhat Donk!" yang berisi cerita-cerita konyol kehidupan sehari-sehari. Buku yang ketiga berjudul “3.tiga” yang merupakan antologi puisi dan prosa. “Curhat Donk!” inilah yang kemudian oleh Dicky disingkat menjadi CD *masih ngikik membaca tulisan di blog sastrawan muda NTT itu*
CD memang diniatkan menjadi buku gokil berisi curhatan-curhatan konyol saya. Saya ingin membuktikan kepada semua orang bahwa curhat itu tidak selalu identik dengan airmata. Kesedihan pun masih ada sisi konyolnya. Tidak percaya? Beli dan baca CD hahaha. Promosi nih ye.
Yuk kita simak apa kata Dicky tentang CD saya yang warna-warni.
Saya sengaja menulis ini tanpa embel-embel ka’e atau kakak, gak seperti biasanya. Hanya bermaksud menciptakan jarak. Eeaaa. Biar kritik dari saya nancap! *siap-siap mem-bully karya ka’e senior wkwkwkwk*
Buku yang saya maksudnya adalah Curhat Donk (dan selanjutnya akan saya singkat CD, bukannya cd siapa-siapa ini cd-ny Tuteh. Warna putih garis-garis pelangi, eaaa. Maksudnya bukunya berwarna demikian!). CD adalah sebuah kumpulan curhatan konyol yang dibagi ke dalam 4 sub―disebut edisi, masing-masing edisi radio (ditulis ketika Tuteh bekerja sebagai penyiar di radio Gomezone Ende—radionya sedang koma, sodara-sodari!). Berikutnya, edisi rumah (ditulis dengan perspektifnya sebagai ‘anak rumahan’ yang gokil, bersama sang mamatua, keponakan, anak kost, tetangga, saudara, ipar, semuanya gokil. Selanjutnya edisi gadget dan edisi umum (tentang pengalaman penulis sebagai salah satu petualang di ajang Aku Cinta Indonesia yang diselenggarakan detik.com). 
Namanya juga curhatan konyol, jadi bisa dipastikan 27 curhatan itu ditulis benar-benar dengan niatan untuk konyol-konyolan gak lebih apalagi berharap serius. Semua hal atau pengalaman yang dialami langsung oleh penulis di-create dengan otak, nafas, tangan, dan ‘bau’ yang konyoool. (tuh kan, saking menjiwai CD, saya jadi latah menulis review ini dengan gaya Tuteh).
Misalnya begini,  “saya menulis sambil korek tai idong membayangkan karakter Tuteh yang memang seru dan easy going.” Hahahaha... maksud saya adalah di CD, anda akan dengan mudah menemukan selipan kata-kata konyol yang berbeda konteks namun sengaja ditulis dan diberi ‘striketrough’ (dicoret, kayak mau bilang: abaikan! Tapi tetep ngarep minta dibaca) semuanya demi memunculkan kelucuan tadi. Dan memang lucu. Misalnya (lagi) nih, dalam cerita Ari Sihalaso, Tuteh menulis begini, “Suatu malam, saya diajak sohib, sodari, urat nadi saya yang bernama Sisi kanan sisi kiri untuk makam makan malam, temani seorang bule asal Australia..bla...bla”
Atau kalimat ini, “Peran kami (Tuteh dan Waldy, penyiar radio Gomezone) tiap pagi adalah menyuntik energi kepada Gomezoner dengan bermacam cara salah satunya ngelempar rumah Gomezoner pake kipas angin” dan benar saja, saya terhipnotis oleh gaya ini, lantas seperti orang kesurupan dan ngakak sendirian (buku ini saya bawa dan baca disela kegiatan menemani murid-murid kelas IX retreat di Belo. Sudah pasti ada murid saya yang terheran-heran melihat gurunya ngakak di pojokan saat tea break). 
Kedua, untuk menghidupkan suasana konyol, Tuteh sengaja menambah kata-kata dramatis –hiperbolis nan lebayyy bukan saja dengan ‘emoticon’ ̕J atau :p, misalnya pada cerita Panic Attack ketika rumah Ende tiba-tiba saja diserang badai. Ketika sedang badai dan mati lampu, mucullah percakapan lucu berikut, 
“Jangan-jangan tsunami,” kata mamatua. Horor kali ini pikiran mamatua.
“aduh jangan eee... kan belum kawin kita, ma.”
“Yang belum kawin itu kan kau! Mama sudah. Makanya orang suruh kawin itu ikut!”
“Memangnya kawin itu gampang kah?”
“Gampang kalo tidak pilih-pilih!”
*manyun bibir Donald Bebek* 
Angin ribut hujan + hujan deras + listrik padam + nyala lilin ngos-ngosan ngelawan angin = topik kawin. Ngotot. Sempurna. Yang kurang cuma tikar, kopi dan pisang goreng. Emangnya mau piknik? ... saya juga segera sms Indra (keponakan Tuteh) yang lagi belajar ngorok kelompok di rumah temennya.
Aduuuuh Tuteeeh. Niat saya untuk mem-bully masih berlaku gak sih?
Masih dong!
Buku ini menarik. Jika dunia perbukuan di NTT punya banyak sekali buku-buku ‘serius’ semacam buku puisi, cerpen, novel, esei, feature, dll maka Tuteh melengkapinya dengan jenis buku yang lebih ringan dan ngepop. Klop! 
Jika Mario Lawi (sastrawan muda NTT) misalnya menulis dengan kaidah berbahasa yang baku ditambah diksi-diksi indah, maka keindahan tulisan Tuteh tetap pada kejujurannya meramu pengalaman konyol dengan bahasa gaul ibukota tapi sering pula ia memakai ungkapan-ungkapan lokal khas Ende. Dan di CD Tuteh bisa seenaknya menjungkirbalikkan kaidah dan diksi tadi. Namanya juga kumpulan curhat konyol. Dimaklumi.
Di Novel pertamanya Indira Fedel (novel dengan genre yang sama dengan CD) Tuteh mengangkat isu utama Indira yang ngomong kawin/menikah melulu tapiii tetap saja ditipu para lelaki (meski endingnya manis) maka topik yang sama pula masih bisa kita jumpai dalam kisah-kisah konyol di CD. Bayangkan jika kalimat ‘belum kawin’ diulang berkali-kali dalam situasi gawat darurat sekalipun (namun dengan nada dan aura bercadaan?!) Oh Tuteeeh, please deh. Tapi sumpah, di situ letak  kelucunya. Sehingga kehadiran Orlando Bloom sebagai kekasih impian pun masih saja diplesetin juga. 
“Teh, udah dilamar Orlando Bloom?” Huh, namanya juga BLOOM. Coba namanya diganti Orlando Sudah.
Okeh, barusan itu puji-pujian dari Madah Bakti nomor 154 untuk CD. 
Membaca CD memang mengasyikan, namun cuma di awal hingga pertengahan saja. Di edisi Gadget saya kok merasa ‘sihir’ Tuteh mulai memudar hingga akhirnya agak antiklimaks di edisi umum. Kalo menurut hemat saya (karena saya rajin menabung di bank. Ups, jayus gak sih? lol) harusnya urutannya dirubah. Karena apa? Kekuatan CD ada pada mereknya  edisi radio dan edisi rumah. Sehingga akan lebih bagus jika kekonyolannya di taruh di tengah hingga ending CD. Jangan sampai pembaca seperti saya akan membabi buta di dua edisi awal, menguras energi karena ketawa ngakak lalu loyo (membosankan, red) di tengah hingga belakang. 
Rasa-rasanya perlu ada CD pertama, kedua atau ketiga yang harus diembat maling dari tali jemuran. Eh. Maksdunya, saya merindukan ada kelanjutan curhatan konyol lainnya. Secara ia dikelilingi banyak sekali makhluk ajaib. *apalagi para besi berani ituh*
Pada akhirnya saya harus mengakui lagi kehebatan Tuteh yang memang punya sense of humour yang luar biasa. Konon Tuteh juga punya kotak memori dengan kapasitas besar di otak, yang dipersiapkan hanya untuk mengisi cerita dan pengalaman-pengalaman lucu yang ia alami. Di dalamnya bahkan terkandung dua kata ajaib: Menikah dan Orlando Bloom.

Pengakuan saya atas kehebatan Tuteh yang lain adalah bahwa saya mendadak latah untuk menulis review ini (meski dengan agak maksa bukan terpaksa) menggunakan gaya kepenulisan Tuteh di CD. *Hayooo cd siapa yang mau ditulis kae Tuteh?*
Saya menulis review ini ditemani lagu Falling in Love-nya Tuteh dan Noel. Masih ada 3 utang yang belum saya lunasi, pertama menulis review CD lagu Notes (Noel Tuteh side project), nulis review kumpulan cerpen, puisi dan prosa pendek Tuteh, 3.Tiga (di buku ini, Tuteh menunjukkan sisi lainnya, menulis buku serius!), dan yang terakhir adalah membayar buku-buku dan cd lagu. Dan gak ngarep juga sih ketiganya digratiskan.

Ketika seorang sastrawan menulis review sedemikian untuk buku curhat konyol yang tidak ada bagus-bagusnya itu, saya TERSANJUNG. Ciyus! Ini di luar ekspetasi saya tentang CD ketika CD saya yang warna-warni itu direview oleh Dicky. Well, terima kasih banyak-banyak ya, Dicky untuk kritik dan sarannya. Saya terima … SAH! Eits, ini bukan akad-nikah loh *meski itu keinginan terbesar saya yang tersampaikan lewat CD* hahahaha.
Bagi yang ingin memperoleh CD, silahkan. Harganya hanya Rp.35.000 dan dapat dipesan via SMS ke nomor 085239014948.

Wassalam.

Friday, March 01, 2013

Review Album Notes - Untukmu

Review Album Notes


Huaiii :))

Selamat datang Maret. Kita tidak tahu kabar apa yang akan menghampiri sepanjang bulan ketiga dalam tahun 2013 ini. Tapi tentu banyak harapan berangkat menuju langit membawa pinta pada Dia agar segala permohonan dikabulkan. Termasuk agar album Notes (Noel and Tuteh SideProject) semakin dikenal. Tak perlu sampai ke negeri jiran, cukuplah se-Pulau Flores.

Semalam tadi saya terkejut membaca review tentang album Notes oleh Maria Pankratia. Perempuan dengan pemikiran hebat. Saya tidak perlu memberi pengantar, cukup baca saja tulisannya yang sudah saya quote di bwah ini.
 
Ini orang sudah tidak tau saya harus sebut dia apa e, Strong and Independent Woman seperti biasa kayanya su tidak pantas lagi. Lebih daripada itu saya memiliki keterbatasan bahasa. Hahaha, jago nulis, jago jalan-jalan, jago nyanyi, jago main gitar, jago ngomong, jago siaran, jago memotivasi, jago memimpin, jago berkreasi dan jago yang lain-lain. Beberapa kali ketemu tanpa kami sadari karena memang belum saling kenal, pertemuan pertama karena waktu itu masih duduk di kelas satu SMA dan pengen belajar Internet. Sejam masih 7ribuan di Warnet rumah Jl. Irian Jaya dan pertemuan2 tak terduga selanjutnya trus akhirnya bisa Kopdar di Nasi Gandul Tuban lalu percakapan mengalir deras tak terbendung. Arghhhhhhhhhhhhh…. Kangen suasana itu lagi bersama Umbu nababan dan Om Bisot juga disana (Member Flobamora Comm. Chapter Sumba dan Jakarta) hahahaha…
Dan sekarang VCD notes nangkring di kamar, sambil mengalun pula kemudian beberapa novel yang belum sempat saya baca karena saking maruknya saya ingin melalap segala bacaan mesti ngantri dulu. Wah Orang Ende tidak jauh beda kok dengan Orang-orang Indonesia lainnya. Bener dah sederhananya begini, tanggalkan segala latar belakang suku, budaya maupun agama. Manusia itu ditentukan dari Bagaimana Pribadi dan kemampuannya! Dan semua anak manusia dengan tau dan mau memiliki tanggung jawab serta keterampilannya mengasah segala yang dia punya. Buat Notes, saya tidak mau berkata muluk dulu akan tetapi dengan telah melakukan yang PALING BISA DILAKUKAN seperti yang telah dikerjakan sudah dimanakah levelnya? _Saya merasa jauh tertinggal benar, Iri akan tetapi terangsang berkompetisi_

Dari semua lagu satu conclusion : Easy listening

Lagu Untukmu – asik, teman saya pertama dengar yang notabene penyanyi juga langsung pengen bikin cover-nya. Hahaha
Lagu CintaCinta - hm… itu musiknya mengingatkan saya pada lagu-lagunya siapa yah jaman 90-an dulu, ada pokoknya
Lagu Falling In Love – seru gokil, bikin pengen ada juga dalam video klipnya. Wkwkkwwk
Lagu Jangan Salahkan Aku – Deuh, itu gua banget dah seturut pengalaman yang ada. Curcol!!!
Lagu Dewi – intro awalnya buat saya teringat instrument2 dayak seperti bunyi petikan sape mana liriknya yang bikin syahdu merinding dan ada bagian tertentu mengingatkan saya pada lagu-lagunya BIP dulu. Uwhhhh……

Dan lagu-lagu lainnya yang saya yakin bakal setia temani saya sejak saat ini.


Terima kasih, Marsi untuk review yang berapi-api dan membakar sekitar hehehe. Kalau Marsi suka, kami bahagia *ecieee*


Wassalam.