Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Saturday, April 27, 2013

Pelatihan Internet, Blog, SocMed Untuk LSM dan Petani



10 tahun saya ngeblog, mengenal dunia blog dan menjadi seorang blogger, telah berkali-kali memberikan pelatihan blog pada siapa pun yang mau belajar : teman-teman, anak sekolah, keponakan, mahasiswa, beberapa dosen yang adalah juga teman, dan lain-lain. Akhirnya pada tanggal 22 - 23 April 2013 saya memberikan materi : INTERNET, E-MAIL, BLOG dan SOCIAL MEDIA kepada para Petani dan LSM. Pesertanya ada Petani ada orang LSM dan mereka berasal dari beberap tempat di Pulau Flores : Nangapanda, Ende, Sikka, Larantuka, dan lain-lain. Setelah mengantar bantuan untuk pengungsi Rokatenda, saya dan Randy pun berangkat ke Kota Maumere via jalur Utara (Pantura).

Menyenangkan ketika mengajarkan hal-hal diatas kepada mereka. Ada yang memang belum tahu sama sekali tentang internet, ada yang sudah tahu, ada yang ingin tahu banyak, ada yang berusaha untuk mengejar pelajaran. Semuanya berjalan meriah di tengah celetukan-celetukan lucu yang bikin saya merasa sangat bahagia.

Job memberikan pelatihan blog ini diberikan oleh Mas Anton Muhajir dari LSM VECO. 

Semangat terus ya kakak-kakak semua! Belajar lah tanpa kenal lelah dan jangan pandang usia orang yang memberikan materi hihihihi kita semua sama-sama belajar kok. Saya sendiri juga terus dalam proses belajar. Yang penting kita have fun saja.

Semangat untuk om Albert, om Gon, om Paul, om Mikel, om Abidin, om Theo, om Zul, om Kosmas. Semoga kita dapat bertemu di lain waktu.

Wassalam.

Thursday, April 18, 2013

Kembali ke Fitrah, Kembali ke Blogsphere





Flobamora Community yang biasa kami sebut FC (Komunitas Blogger NTT) adalah perkumpulan para Blogger Hore. Saya sebut demikian karena di dalam FC tidak pernah ada paksaan yang memberatkan membernya. Semua dilakukan atas dasar cinta. Makanya saya sering bilang, “semua member FC itu saling jatuh cinta!” Siapa pun kami terima menjadi member : sudah punya blog atau yang bahkan belum kenal internet sama sekali. In case : Encyk. Bagi FC, Encyk adalah contoh sukses perempuan yang sehari-hari hanya tinggal di rumah kemudian sukses mengenal internet, tahu blog, tahu bergaul, bahkan penampilannya pun dipermak oleh FC, dan yang paling utama dengan bangga Ency berkata, “gara-gara FC sekarang rasanya gampang untuk bicara dan mengutarakan pendapat.”



FC tidak pernah lari dari track sebagai komunitas blogger. Kegiatan-kegiatan FC rasanya selalu 50:50 antara dunia internet dan dunia nyata. Kami mau mendonorkan darah, tapi juga mau menjelaskan pada murid-murid di dua SMA di Kecamatan Maurole yang jauhnya 85 kilometer dari kota kami tentang internet dan memaksimalkan pemanfaatan TIK. Kami mau menanam bakau (sudah dua kali dan dua kali pula gagal, dan tidak jera), tapi juga mau menjelaskan pada para murid di SMAK Syuradikara tentang manfaat ngeblog dan berkomunitas. Kami mau mengadakan lomba mewarnai untuk para bocah, tetapi juga mau mengajarkan membuat akun Twitter kepada para member yang menginginkannya. Kami mau mendukung kegiatan Akademi Berbagi Ende, tetapi juga mau menjelaskan tentang blog kepada sekelompok mahasiswa Universitas Flores. Kami mau jalan-jalan dan mem-boosting tempat-tempat wisata, tapi kami juga mau menggelar acara seminar yang didukung oleh Internetsehat. Dan terlalu banyak kegiatan bakti sosial yang telah dilakukan seperti misalnya mengunjungi panti asuhan yang ada di Kota Ende hingga menggalang bantuan bagi korban terbakarnya 19 Rumah Adat di Desa Adat Wologai.



Dan FC tidak pernah dibayar oleh siapa pun untuk melakukan semua kegiatan tersebut. FC indepen! Kecuali … seperti contohnya Yanuar Al … yang menyumbangkan sejumlah dana dengan pesan, “kak, ini dana untuk komunitas. Saya tahu komunitas selalu punya kegiatan dengan dana swadaya member, saya sumbangkan dana ini untuk biaya operasional.” Karena rata-rata member FC adalah manusia-manusia ber**ji yang mau membangun komunitas atas dasar cinta. Cinta. Cinta!



Kadang-kadang saya berpikir tentang … butuh kegilaan untuk menyatukan manusia-manusia gila yang doyan berkegiatan ini.



Sejak Gunung Rokatenda meletus dini hari 3 Februari 2013, dengan kekuatan social media FC berhasil menggalang dana bantuan bagi pengungsi korban Rokatenda. Kami pada dasarnya hanya ingin membantu sesuai kemampuan. Alhamdulillah banyak teman-teman dari seluruh Indonesia; blogger maupun non-blogger, yang turut menyumbangkan rejekinya untuk para pengungsi. Tercatat sudah 6 kali kami menyalurkan bantuan tersebut secara sistematis, terfokus dan sangat teliti. Kami bahkan membuat program-program mandiri untuk para pengungsi seperti menanam sayur dan membuat pukat. Tetapi kami tidak dapat lari dari hulu kami sebagai komunitas blogger. Oleh karena itu lah disela-sela kesibukan mengurusi pengungsi kami masih mau menerima undangan Pelatihan Blog yang mampir ke sekretariat maupun contact person komunitas.



Sepanjang tahun 2013 tercatat kami melakukan pelatihan/seminar yang berkaitan dengan dunia internet dan blog :

Seminar Manfaat Blog & Komunitas di SMAK Syuradikara Ende pada tanggal 1 Februari 2013.

Seminar Pengenalan Internet, Blog & Pemanfaatan TIK di dua SMA yaitu SMAN Maurole dan SMAK Dharma Bakti Maurole pada tanggal 11 Maret 2013.

Dan kemudian kami menerima undangan dari PMKRI Cab. Ende untuk memberikan materi Pelatihan Blog bagi anggota-anggota mereka yang rata-rata mahasiswa pada tanggal 13 April 2013.

Terakhir, baru saja, kami memenuhi undangan dari (semacam) Bagian IT GMIT untuk memberikan materi blog kepada pewakilan GMIT dari seluruh Pulau Flores pada tanggal 17 April 2013.


 



Saat memberikan materi membuat blog di Aula Gereja Syalom Ende tersebut, tercetus kalimat : kembali ke fitrah, kembali ke blogsphere. Begitu banyak kegiatan FC yang kami sebut intermezo-agar-tak-jenuh dan buntut-buntutnya kembali ke fitrah kami sebagai komunitas blogger yang punya misi : memasyarakatkan blog. Jargon : ‘Talk More, Do More’ benar-benar kami aplikasikan dalam kegiatan-kegiatan komunitas. Saat kopdar Anda akan bingung begitu mendengar kami bicara persis burung mencucut sana-sini. Tetapi dari hasil kopdar itu lah kemudian kami bergerak. Tidak ada kegiatan yang tidak di-kopdar-kan terlebih dahulu … sepanjang empat tahun ini.


Dengan semakin banyaknya undangan untuk kami memberikan Pelatihan Blog, maka kami selalu kembali ke fitrah. Tanpa undangan pun kami tetap berbagi pengetahuan tentang blogsphere pada sesama member yang membutuhkan bantuan. Kembali ke fitrah, kembali ke blogsphere. Kami tidak pernah mau terintimidasi dalam melakukan semua kegiatan : blog maupun non-blog. Itu sebabnya kami bahagia dan penuh cinta. Apalagi kami tidak pernah menutup koneksi dengan komunitas-komunitas lain yang notabene tidak bergelut dengan dunia blog. Kenapa tidak? Bukankah di sini justru ada crossing pengetahuan? Mungkin itulah yang membuat saya pernah berkata, “FC ini komplit. Anggotanya dari segala kalangan, dari ragam profesi, bahkan ada anak sekolah, pun kegiatannya sangat kaya. FC ini kaya karena di dalamnya punya MC handal, penyanyi kece, perawat, wartawan kampus, dokter, guru, penulis, sastrawan muda, traveler, pecinta alam, dan lain-lain. FC lebih kaya lagi karena mau berkoneksi dengan komunitas lain.”



Saya pribadi menyebut FC sebagai komunitas yang tidak keren, tetapi keren sekali. Hanya dengan satu komunitas (terlepas dari kata ‘blogger’) banyak yang dapat dilakukan tanpa melupakan tujuan awal komunitas ini dibentuk. Saya bangga berada di dalamnya. Saya bahagia bersama mereka semua … mereka semua yang saya cintai.



Kembali ke fitrah, kembali ke blogsphere. Kita dapat melakukan apa pun kegiatan di luar dunia blog tetapi tak pernah lupa ‘gara-gara’ yang telah menyatukan kita semua : BLOG! Saya pribadi takkan pernah lupa ‘gara-gara’ apa yang telah membawa saya sejauh ini : BLOG! Tanpanya belum tentu FC terbentuk.



Mungkin karena sudah pagi, saya meracau terlalu malang-melintang. Intinya : ketika saya adalah seorang blogger, saya tidak boleh buta terhadap isu-isu sosial yang terjadi di sekitar saya. Dan ketika saya sedang melakukan kegiatan sebagai tanggapan terhadap isu-isu sosial tersebut, saya tidak boleh lupa pada asal saya sebagai blogger.



Wassalam.


Monday, April 01, 2013

Sebuah Cerita

1 April 2013. Dini hari. Menunggu apakah akan ada gempa? Ternyata tidak ada. Tidak bisa tidur, banyak alasan. Salah satunya wajah bocah yang ngemil mi instan. Kelebihan MSG? Pasti. Tapi itu yang mereka punya, simpanan orangtua dari hasil pembagian jatah mie oleh Ketua Posko atau Kepala Desa atau Koordinator Pengungsi Pulau Palu'e di titik yang bersangkutan. Mereka korban meletusnya Gunung #Rokatenda.

Tim 2

Jumat, 29 Maret 2013, bersama teman-teman Flobamora Community : Fauwzya Dean, SKJ, Irwan, juga dua teman dari KPA Laskar Ambruk : Vicky Mohammed dan Ichan, berangkatlah Tim Relawan Flobamora Community menuju Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende. Jaraknya dari Kota Ende adalah 80 kilometer. Kami berangkat dari Kota Ende sekitar pukul 02.00 PM menunggu teman-teman yang Katolik pulang Jalan Salib dan teman-teman yang Muslim selesai Sholat Jumat. Jalanannya tidak mudah, teman. Berkelok-kelok dan berlubang-lubang, tapi kami menikmatinya dengan penuh. Tiba di Sokoria, hujan menghantam kami tanpa aba-aba. Basah? Pasti. Gara-gara itu rencana untuk tembus ke Maumere untuk mendata satu atau dua titik pengungsi di sana pun batal. Kami memang sukarela tapi bila kami sakit siapa lagi?

Kami terbagi dalam 3 tim. Tim 1 : Fauwzya dan Irwan membawa bantuan #1MugBeras ke Posko Keliwumbu - Uludala. Tim 2 : Vicky dan Ichan menuju Ropa. Tim 3 : saya dan SKJ menuju Desa Mausambi. Ternyata Tim 1 dan Tim 2 pun terpaksa bergabung dengan Tim 3 karena semua pengungsi di Ropa telah disatukan di Posko Keliwumbu - Uludala dan sore itu mereka semua sedang mengikuti Misa Jumat Agung. Baiklah, kami berkumpul di Desa Mausambi. Di desa ini saya merekam begitu banyak obrolan dengan para pengungsi hingga ke dapur umumnya yang miris sekali. But life must go on in every situation ... they must survive! So do us.

Dari Desa Mausambi kami bergerak 20 kilometer lagi menuju Desa Aewora. Hari sudah senja tetapi semangat tak boleh kendur. Di Desa Aewora kami harus bolak-balik mencari rumah Kepdes dan Kantor Desa. Beruntung segalanya terselesaikan termasuk pendataan dan penyerahan bantuan #1MugBeras. Lalu kami kembali ke Maurole, dan sudah malam. Perut kami, nampaknya kami lupa, mulai menangis minta diisi. Fauwzya saya tugaskan untuk lebih dulu ke Maurole; membeli 10 karung beras @ 59 kg untuk Posko Keliwumbu - Uludala yang memang jumlah pengungsinya lebih banyak, sekaligus mengajak supir pick up berserta konjak, Irwan, Vicky dan Ichan untuk makan terlebih dahulu.

Saya dan SKJ berhenti untuk memotret sebuah kamp pengungsi di Desa Aewora. Ternyata kami bertemu para pengungsi yang tertarik dengan aksi kami malam-malam memotret. Tapi itu waktu yang bisa kami punyai untuk Desa Aewora. Mengobrol sekitar 30 menit dengan beberapa pengungsi di situ, merekam, mendata, Tuhan ... begitu banyak PR ini. Saya hanya bisa menghela nafas panjang. Beruntung kami berdiskusi dulu untuk pengeluaran donasi. Kami harus menggunakannya secara bijak untuk tiga titik pengungsi yang telah didata dan diberikan bantuan bukan?

Sekitar pukul 07.30 PM kami tiba di Posko Keliwumbu - Uludala. Kami menurunkan beras agar Tim 1 segera dapat pulang ke Kota Ende. Permasalahannya; mobil pick up itu kami sewa. Tim 2 dan Tim 3 (kebetulan ini tugas Tim 2), menunggu datangnya Ketua Posko. Di sini lah kami lama berbincang sambil mendata. Ya, PR semakin banyak.

Dan teman, pukul 09.00 PM kami baru meninggalkan Maurole! What a day! 2 motor beriringan menuju Detusoko sejauh 50-an km. Gelap, hutan, sendiri, saya memberanikan diri untuk menyanyikan sebuah lagu dangdut : Dangdutlah Kita, untuk menghibur diri yang diselimuti gelap. Maaf ya teman-teman bila kuping kalian sakit. Di tengah perjalanan kali ini, lagi-lagi bertemu ular. Hewan melata itu saya jumpai sebanyak 3 kali dari 5 kali perjalanan ke Maurole. Salah satu ular bahkan pernah terlindas ban motor saya. Ah ... tapi untungnya langit begitu bersahabat. Baju kami yang kuyup, kering, kuyup, tidak bertambah kuyup karena bulan penuh dan para bintang terlukis di langit. Malam yang indah.

Kami tiba di Kota Ende pukul 10.30 PM, itu karena speedometer melaju tanpa hambatan karena jalanan sudah sangat sepi pada jam segitu, dan segera mengisi perut lagi di sebuah kafe. Kami lapar, teman. Perjalanan bolak-balik yang ditotal 200 km itu menguras energi. Usai ngopi-ngopi di kafe kami kembali ke rumah masing-masing.

Banyak catatan pada 29 Maret 2013 itu. Bahwa pengungsi masih sangat membutuhkan bantuan kita semua. Bahwa aksi #1MugBeras harus tetap berjalan beriringan dengan donasi yang masuk lewat rekening. Bahwa PR ini semakin banyak untuk kita semua, Orang Indonesia, karena di Indonesia pada saat yang bersamaan pun terjadi banyak bencana. Salah satunya di Papua. Tuhan, lindungilah kami semua. Amin.

Minggu depan saya harus kembali ke Maurole. Bila perlu menginap. Agar lebih banyak titik yang bisa saya data. Bila seandainya teman-teman berhalangan, mungkin saya berangkat sendiri. Oim Hitup masih OK untuk diajak keliling Flores. Hehehe. Motor kesayangan itu terpaksa ganti veleg gara-gara masuk lubang saat mengantar bantuan untuk #Rokatenda tahap pertama. Dan ya, saya masih punya keinginan untuk menyeberang ke Pulau Palu'e dengan cara yang masih saya pikirkan. Tuhan, semoga rejeki nomplok datang untuk rencana-rencana saya yang begitu banyak dan agak tidak masuk akal.

Kepuasan. Teman, kau tidak tahu, mungkin juga tahu, bagaimana rasanya kenikmatan itu datang ketika dapat mendata secara lengkap kondisi pengungsi dan melihat mereka tertawa karena kegokilan saya terhadap obrolan-obrolan dengan mereka. Kepuasan. 

Informasi lain tentang bantuan HARUS kalian cek di http://bloggerntt.org 

Terima kasih Ngga'e. Ini 1 April 2013, Pukul 03.15 AM, dan saya belum dapat tidur.


Wassalam.