Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Wednesday, May 29, 2013

Bung Karno dan Ende

 Ada kanopi dan teras dari papan, juga rumput yang subur...

Bulan lalu setelah akhirnya pemugaran Situs Bung Karno di Jalan Perwira (Ende) selesai, saya dan Lieke pergi juga ke sana. Ini sebenarnya si Lieke yang pengen melihat Situs tersebut. Saya sih hanya mengantar. Tetapi selain mengantar saya sendiri memang ingin tahu seperti apa kondisinya setelah dipugar selama berbulan-bulan.

Situs Bung Karno ternyata tetap seperti adanya. Dan saya menyintai kondisi itu karena jika dirubah nilai historisnya ke mana donk hehehehe. Hanya ada beberapa tambahan seperti lantai kayu di beberapa bagian dan ada penyiram rumput otomatis (apa ya namanya :p) hehehe.

Pemugaran Situs Bung Karno ini dalam rangka HUT Kelahiran Pancasila di Ende. Bagi kalian yang belum tahu, saya kasih tahu yaaaa bahwa Pancasila dikandung di Ende dan dilahirkan di Jakarta. Uhuy!

Penasaran sama perayaan 1 Juni di Ende yang diselenggarakan secara nasional di mana Bapak Wapres : Budiono, turut hadir beserta banyak lagi pejabat dari seluruh Indonesia.


Wassalam.

Monday, May 27, 2013

CSI vs Criminal Mind




Dari dulu saya suka nonton televisi. Bagi saya televisi itu salah satu jendela dunia selain buku. Tentu saja. Tayangan televisi favorit saya pun berubah-ubah. Kadang suka sinetron tapi ketika ceritanya mulai tidak masuk akal, saya tinggalkan. Kemudian saya malah tidak pernah nonton sinetron sama sekali hahaha. Tayangan favorit saya masa SMU adalah MTV. Tiada hari tanpa MTV berkumandang di rumah. Saya hafal betul semua VJ dan program MTV; salah satu terfavorit adalah MTV Most Wanted yang merupakan cara request terkeren masa itu. Selain MTV saya juga tergila-gila pada dua tayangan RCTI apalagi kalau bukan film bertema vampir Cina dan Ketoprak Humor. Bahkan setiap hari Sabtu saya ijin ke Guru BP dengan bermacam alasan agar dapat cepat pulang pada pukul 11.00 teng teng! Ahahaha. Tapi aksi busuk saya itu harus berakhir karena toh ketahuan juga. Alasan-alasan saya sudah tidak dapat ditolerir lagi sama Guru BP. Walhasil saya pun pernah bolos demi menonton televisi. Untungnya saya boleh lulus SMU dengan nilai suram.

Lama sekali saya tidak terkontaminasi dengan televisi hingga muncul TransTV dan Trans7. Wah, siapa sih yang rela melewatkan aksi para wayang di Opera Van Java? Luar biasa menarik. Saya akui semua acara dua stasiun televisi itu sangat menarik dan sangat edukatif. Menonton televisi masih kurang kuadrannya dengan membaca dan menonton film di laptop. Kan saya juga harus membagi waktu dengan pekerjaan di Lembaga Publikasi Universitas Flores, hangout sama kegiatan-kegiatan Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT), keluarga, waktu saya juga terbagi untuk urusan-urusan lain yang memang butuh diperhatikan. Belum lagi saya juga harus menyiapkan suara untuk proyek Notes (Noel & Tuteh Sideproject) untuk lagu-lagu kami. Masih kurang? Iya! Saya juga harus menulis sebagai terapi hidup. Hahaha. Makanya kadang saya bilang dalam sehari itu kudunya lebih dari 24 jam. Yaoloh.

Setelah Telkomvision boleh masuk ke Kota Ende, aktifitas menonton televisi saya masih sama. Masih duduk di sofa yang sama, meja dengan cangkir teh dan asbak, pun juga laptop di pangkuan. Karena saya tidak suka sinetron makanya saya memilih stasiun luar. Bukan karena apa-apa tetapi karena saya menemukan tayangan yang sesuai dengan rasa penasaran saya. Yup; serial misteri dan detektif itu KEREN sekali, teman. CSI, NCSI, Castle, Criminal Mind, Law & Order, Psych, dan seterusnya dan seterusnya.

Beberapa hari lalu saya membuat status soal CSI vs Criminal Mind hahaha. Bahwa CSI memang jauh lebih canggih dari Criminal Mind. Di CSI semua menjadi mudah dengan tes DNA, finger print, merek sepatu, dan lain-lain. Sekuat apa pun alibi si pembunuh dia pasti bakal tertangkap tanpa banyak cing-cong! Beda dengan Criminal Mind yang semuanya serba manual. Bahkan jarang saya melihat adanya pengecekan finger print di serial ini. Setelah menonton CSI dan kemudian menonton Criminal Mind rasanya dari tahun 2013 terlempar ke tahun 1980 hahaha. Tapi justru di situ letak hebatnya Criminal Mind >> lebih masuk akal dari segi cerita dan settingan.

Setiap pulang kerja, bila tak ada acara sore dan malam, maka saya akan berada di sofa yang sama dengan isi cangkir yang terus disuguhi oleh Tanta Sia sampai 8 jam. Tetapi jangan dibilang saya sia-sia menonton televisi loh. Karena sambil menonton televisi saya bisa sambil membaca buku atau dengan laptop di pangkuan. Kok laptop di pangkuan? Ya karena saya juga sambil ngadmin akun Blogfam untuk program-program seperti #BincangNgeblog atau #SharingIsCaring hahaha. Bagaimana bisa saya membaca buku saat sedang menonton televisi yang nyaris tak ada iklan? Aaaah itu rahasia yang hanya saya sendiri yang tahu.

Bagaimana dengan kalian, teman? Suka yang mana? Saya sih tetap suka semuanya hahahaha.


Wassalam.

Sunday, May 26, 2013

Eat, Play & Twitter



Ide, seremeh apa pun nampaknya, merupakan sesuatu yang layak disimpan dan ditindaklanjuti. Demikian pula dengan ide tentang : Eat, Play & Twitter. Ide ini datang dari om Bisot waktu saya sedang berada di kamp pengungsi membagikan bantuan untuk para pengungsi korban erupsi Gunung Rokatenda di 4 posko/desa di Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende. 

Gara-gara om Bisot saya jadi pengen ide itu terlaksana! Makanya saya sudah membuatkan prolog untuk cerita berjudul : Eat, Play & Twitter. Ide ini sungguh keren, hahahah. Pasti datangnya dari Eat, Pray & Love yang dimainkna sama Julia Roberts itu. Semoga nanti ceritanya bisa selesai karena seperti biasa saya suka stuck tanpa aba-aba hahaha.

Eat, Play & Twitter ... keren ya judulnya? Makasih om B *kedip2*


Wassalam.

Wednesday, May 22, 2013

Ganti Template



*sedang ramai di rumah, ada kopdar untuk #Rokatenda #Tahap10*

Sambil mendengarkan teman-teman Flobamora Community mengobrol soal ini-itu dan ketawa-ketawa senang, sambil menyenggol Sibair dalam #BincangNgeblog-nya Blogfam, sambil memerhatikan tampilan blog yang WOW sekali. Aduh, saya harus mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada om Bisot yang telah merubah tampilan blog saya sehingga menjadi seperti sekarang ini. Sangat minimalis dan menawan hati. Sangat 'T' kan ya? Hahaha.

Saya masih ingat dulu di awal ngeblog tahun 2003, rajin sekali saya mengganti template, merubah layout blog. Dalam sebulan bisa dua kali ganti. Dan mami vi3 itu paling banyak templatenya yang saya pakai hueheuheu. Saya sangat gila mengganti template, guys. Dan jauh sebelum saya menyintai warna kuning, Balung Gundul sudah pernah membuatkan saya template kuning dengan ornamen jeruk yang menyegarkan mata hihihi.

Serajin-rajinnya menggonta-ganti template tapi akhirnya saya tiba pada titik jenuh. Apakah semua blogger juga mengalami hal ini atau tidak, bukan kuasa saya untuk membuat pernyataan hahaha. Tetapi toh saya merasakan kejenuhan itu. Sudah berapa tahun saya tidak mengganti template/tampilan blog? Sudah sangat lama! Nyaris 6 tahun! Aaaaak itu lama sekali, teman. 

Pada masanya, ketika dulu saya ingin semua hal saya tampilkan di blog, kemudian merasa sepertinya tidak perlu. Saya perlu meminimalis semuanya. Ehem ... banyak hal yang tidak perlu ditampilkan di blog dan menjadikannya sangat lama ketika di-loading. Dan saya rasa ini lebih profesional.

Kenapa mengganti template kemudian setelah nyaris 6 tahun setia pada template yang kemarin? Karena pada suatu waktu saya melihat tampilan blog milik om Bisot, kemudian saya terpana dan merasa itu sangat 'T' dan kemudian saya meminta om untuk menggantinya dengan yang serupa dengan tampilan blog beliau. Karena om itu baik banget, maka dengan senang hati om mengganti template blog saya sesuai dengan yang saya inginkan dan ini SANGAT KEREN. Minimalis yang cantik meski tidak kuning hahahaha.

Demikian laporan saya *uhuk*

Wassalam.

Tatap Matamu Bagai Busur Panah


 Her eyes ...

Bagi saya, tatapan adalah bahasa tanpa suara. Tatapannya seperti berkata, "Kak, saya ingin hidup yang lebih layak. Bagaimana caranya bila rumah orangtua saya hancur?"

Tatapannya bagai busur panah. Menancap di jantung. Kemudian saya bertanya-tanya, apa lagi yang bisa kami lakukan untuk kalian wahai anak-anak pengungsi? Kami ingin kalian dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, kami ingin kalian sekolah, kami ingin kalian ... kami ingin kalian bahagia.

Wassalam

Sunday, May 19, 2013

Bermuka Dua; Bertopeng

 Topeng, Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah

*mendengarkan suara kipas angin mungil yang riuhnya persis raksasa sedang bersendawa*

Dunia-dunia ini sama saja. Dunia ini, dunia itu, dunia sini, dunia sana, banyak manusia bertopeng. Menurut pendapat #Monyonglogi saya, para manusia bertopeng ini adalah manusia yang kuatir akan sesuatu. Kuatir kehilangan kesempatan (padahal kesempatan datangnya dari Allah SWT, bukan dari manusia lainnya), kuatir kehilangan nama (tolong yaaaa nama samarannya diperbanyak), kuatir kehilangan perhatian dari manusia lainnya (so what?), dan yang paling mengerikan adalah kuatir tidak dapat keuntungan materi.

Manusia bermuka dua. Apakah di gundukan besar itu mereka hidup dengan ketakutan akan hal-hal remeh seperti ini?

Ada apa? Kenapa harus mengenakan topeng? Sulit kah menjadi orang yang jujur? Atau, setidaknya, sulitkah menjadi orang yang bijak saat diberi kesempatan menanggung-jawabi hal yang lebih besar? Kenapa justru menebar bibit busuk dan berbau? Tahukah efeknya? Manusia-manusia bertopeng tak tahu efeknya, barangkali, bahwa kebenaran dan ketulusan tidak pernah dapat digeser oleh kepongahan dan fitnah. Bahwa ketika manusia bertopeng mulai beraksi; neraka dan surga itu ada kok. *gile, mulai religus saya, hahaha*

Adalah sifat dasar saya untuk tidak pandai memakai topeng. Ketika tidak suka, ya tidak suka. Saya merasa hina ketika bermanis mulut di depan orang yang jelas-jelas memakai topeng lebih dari empat lapis. Emangnya kenapa saya harus bermulut manis dengan orang yang jelas-jelas memakai topeng dan menebar fitnah tentang saya? Kenapa, hah? Kenapa? *mencak-mencak laptop* :p huehuehue.

Dan yang semakin membuat saya agak ngeri adalah ... manusia lainnya (yang mungkin memakai topeng, mungkin juga tidak) terbawa arus. Mentah-mentah mereka percaya, mentah-mentah mereka melakukan reaksi, mentah-mentah mereka makan ikan mentah yang sudah dihinggapi ulat itu. Lantas saya ... ngapain saya? Aaaah biasa saja. Toh saya cari makan sendiri, tak pernah menadah tangan ke mereka, bahkan mereka yang pernah saya tolong. Toh saya juga bernafas sendiri, tak pernah ada yang ngasih bantuan nafas buat saya. Toh semua itu justru menjadi boomerang untuk manusia-manusia bertopeng dan kroni-kroni-nya atau sahabat bergosipnya *bwihik*

*kemudian ada kokok ayam*

Aaaaah sudahlah *kata Babe* 

Mungkin memang benar. Kehidupan gaya-gayaan itu telah membuat manusia-manusia bertopeng menjadi manusia yang tidak berkepribadian dan masuk keluar geng mafia. Sementara saya dan sahabat-sahabat yang menetap di gundukan yang lebih kecil lebih memaknai tentang sesuatu yang kami sebut; cinta, tulus, pribadi yang kuat dan berprinsip, dan tanggung jawab. Mungkin karena darah kami adalah darah timur yang garang. Huehuehue. Ini semakin tidak jelas arah tulisannya.

*kemudian kokok ayam tambah sering... ternyata sudah hampir jam 4 pagi*

Ya sudah *garuk-garuk kepala* mungkin besok saya keramas saja supaya cara berpikir saya lebih jernih huehueheue.

*beneran sudah pagi, terdengar kepok-kepok suara pedagang daging babi di Jalan Irianjaya mulai bekerja*


Wassalam.

Wednesday, May 15, 2013

Terima Kasih Om Lamber, Ma Teny & Jein



Dalam hidup kita sering melupakan detail. Warna tali yang digunakan pembunuh untuk mencekik leher korbannya, atau, merek sepatu yang dipakai seorang perempuan karena mata semua lelaki tertuju pada wajahnya yang cantik atau dadanya yang sempurna. Ah ... mari kita bicarakan hal yang lebih mudah dipahami; orang yang menolong di saat kita sangat membutuhkan bantuan.

Om Lamber, saya mengenalnya sebagai suami dari Kakak sepupu saya bernama Teny Bata. Kemudian setelah Kak Teny menikah dengan Om Lamber saya memanggilnya Ma Teny. Mereka adalah pasangan yang ideal; bertemu saat kuliah, menikah ketika mulai mapan, bekerja di Sumbawa dan kemudian memilih untuk pulang ke tanah kelahiran. Keduanya menjadi guru di Sokoria. Kemudian Ma Teny memilih untuk menjadi pedagang warung kelontong dan berjualan pulsa HP serta pulsa listrik. Usaha mereka berjalan mulus sementara Om Lamber sukses menjadi guru di Sokoria.

Sokoria, daerah yang harus saya dan teman-teman Flobamora Community lewati ketika kami hendak pergi ke kamp pengungsi korban erupsi Gunung Rokatenda. 9 kali kami ke kamp pengungsi, tak setiap kali pula kami mampir di Sokoria, di rumah Ma Teny. Tetapi akhir-akhir ini kami jadi sering merepotkan mereka. Ya, mengingat kondisi fund komunitas yang terbatas dan swadaya, kami harus akal-akalan bagaimana caranya semua rewalan dapat makan dengan baik setelah/sesudah (tergantung jam keberangkatan) mengantar bantuan.

Ma Teny, saya tidak akan pernah melupakan jasa-jasanya; menyiapkan kopi, tergopoh-gopoh mengeluarkan minuman dingin dari kulkas, menawarkan roti dan kue, mengirimkan SMS meminta saya untuk mampir sekadar menikmati jagung muda rebus, dan juga menyiapkan makanan untuk kami. Kami! Ya Tuhan, betapa tulus dan mulia hati kakak sepupu saya itu.

Ma Teny, Om Lamber, adek Jein, terima kasih ya selama ini sudah kami repotkan dan selalu bilang, "harus mampir kalau ke kamp pengungsi lagi." kalian, tanpa kalian sadari, adalah mata rantai dari penyaluran bantuan untuk pengungsi korban erupsi Gunung Rokatenda ini. Kalian begitu berjasa dan melakukan sesuatu dengan cara kalian sendiri. Love it.

Terima kasih adalah kalimat terbaik yang saya milik saat ini untuk kalian sekeluarga. Untuk keluarga Bata, dari pihak Mamatua, yang selalu bilang, "heh! Apa tuh omong terima kasih! Kita kaka ade! Tir pake terima kasih segala!"

Ya Allah ... saya bahagia dalam perbedaan agama kami. Saya bahagia bersama keluarga-keluarga saya. Semuanya.

Wassalam.

Saturday, May 11, 2013

#1MugBeras on "Linimassa 3"



Terima kasih untuk semua donasi yang masuk, offline dan online, demi membantu para pengungsi korban meletusnya Gunung Rokatenda. Bentuk cinta dan perhatian terhadap sesama dari kalian telah membawa kami sejauh ini.

Sekali lagi, terima kasih!

Wassalam.

360 on Metro TV



Jujur, saya belum pernah menonton tayangan ini sebelumnya because everyday only Fox or Fox Crime yang terpampang di layar televisi produksi tahun 1995 di ruang keluarga rumah saya. Tadi malam akhirnya saya menonton program Metro TV bertajuk 360.

Mas Heru, ini orang paling lucu-kering sedunia, datang ke rumah membawa daftar film yang saya minta ihihihi dan pas banget dengan tayangan 360 tersebut. Kami menontonnya sambil saya live twit tentang tayangan tersebut. Saya merasa wajib live twit karena apa yang disampaikan oleh 360 merupakan hal-hal yang kami off-record-kan selama ini. 

Tentang Camat Pulau Palu'e yang lebih dulu 'mengungsi' ke Kota Maumere, tentang penanganan pemda yang lambat, tentang hal-hal lainnya. Semua dikupas tuntas oleh 360.

Terima kasih 360, Metro TV, yang telah menampilkan tayangan sebegitu bagusnya untuk masyarakat Indonesia. Saya sampai mengabaikan Fox Crime demi menonton 60 menit kisah para pengungsi akibat meletusnya Gunung Rokatenda. 

Eh ... ada Mama Muna.
Eh ... ada Om Raymundus.

Yang kurang hanya Desa Aewora saja ya ... tidak tercover hehehe.


Wassalam.