Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Saturday, June 29, 2013

Workshop Teknik Fotografi & Menulis


 Hi there ... 

Mau cerita-cerita nih. Hehehe.

Bagi saya belajar tak pernah mengenal tempat. Bagi saya, kepuasaan hanyalah tembok yang mengekang gerak maju manusia. Apa hubungan antara belajar dan sebuah kekangan? Begini, teman … ketika saya merasa sudah cukup atau sudah hebat maka saya tidak akan pernah mau belajar apa pun lagi untuk menambah pengetahuan dan kemampuan diri. Jadi, saya perlu merasa haus, lapar, bodoh, bengal, agar saya mau belajar lagi dan lagi.

Yah, tulisan ini seharusnya sudah lama saya posting tetapi sayang baru kali ini dapat memostingnya. Mohon maaf bila date postingan ini saya edit hehehe.
 
Sekembali saya dari Jakarta untuk mengikuti kegiatan workshop sutradara Linimassa3, saya langsung disibukkan lagi dengan berbagai kegiatan kantor (yang sangat saya sukai) dan kegiatan-kegiatan lain. Diantaranya "Workshop Akademi Merdeka di Hotel Grand Wisata Ende" dan "Workshop Teknik Fotografi dan Menulis di BK3D". 

Workshop Akademi Merdeka
Dalam kegiatan ini saya menjadi Panitia Lokal bersama Ibu Ibnu. Tidak sangka juga waktu diajak Ibu Ibnu untuk jadi panitianya. Kegiatan berlangsung sukses selama 3 hari (17 - 19 Juni 2013) dengan 3 narasumber dari Akademi Merdeka, Jakarta. Sebagai panitia kami menyaring 24 peserta yang merupakan gabungan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Ende yaitu Universitas Flores, STTPM, dan ABA Saint Mary. Kegiatannya seru; paparan materi, diskusi, menyusun resume, menyampaian pendapat, dan lain-lain. Yang jelas kami berharap wawasan para peserta dapat terbuka, berkembang dan kaya. Itu intinya.

Workshop Teknik Fotografi dan Menulis
Nah, ini kegiatan kedua yang saya ikuti setelah Akademi Merdeka di atas. Dalam waktu yang sama; Rabu,19 Juni 2013, sekelarnya acara di Hotel Grand Wisata saya meluncur ke Aula BK3D untuk mengikuti kegiatan Workshop Teknik Fotografi dan Menulis yang diselenggarakan oleh Balai Taman Nasional Kelimutu. Ceritanya; Flobamora Community (Komuntias Blogger NTT) mendapat undangan untuk mengikuti kegiatan tersebut, diwakili oleh 5 anggota yaitu; Dokter Said, Fauwzya, Eddie, Djho dan Irwan (tapi Djho berhalangan). Saya juga ikut sebagai anggota yang sangat luar biasa karena di luar daftar peserta hahahaha.

Yang paling keren dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Balai Taman Nasional Kelimutu ini adalah pematerinya. Tidak tanggung-tanggung mereka mengundang dua pemateri dari National Geographic Indonesia (NGI). Wow! Kaget? Pasti. Hehehe. Dan saya lebih kaget lagi karena ternyata salah seorang pematerinya adalah sahabat, adik, traveler, teman Petualang ACI2010, fotografer keren, yaitu Yunaidi Joepoet. Uuuuh … long time no see, brother, tidak sangka kita ketemu di Ende setelah dia batal datang ke Ende beberapa waktu lalu waktu trip ke Labuan Bajo dan Bajawa. Terakhir ke Jakarta pun saya tidak sempat ketemu Yudi. Akhirnya ketemu di Ende.

Yunaidi Joepoet membawakan materi fotografi (kami dibagi dalam dua kelas) sedangkan Mas Bayu Dwi Mardana Kusuma membawa materi menulis. Selama 3 hari kami memperoleh ilmu-ilmu keren dari mereka. Selain teori, kami juga langsung disuruh praktek. Prakteknya di lokasi Tambang Batu, Sambas. Turun langsung ke lapangan untuk memotret dan kembali ke BK3D untuk menulis laporannya. Wow sekali deh pokoknya meskipun waktu turun lapangan ini saya tidak ikut serta. Dan intinya hidup saya tidak sia-sia karena setiap hari saya belajar hahaha.

Jumat, setelah acara di BK3D selesai saya, Yudi, Mas Bayu, om Apo (oleh karena beliau ini Flobamora Community dapat mengikuti banyak pula kegiatan-kegiatan keren), Yudit, adek Pyer, Nick, Said, pergi ke Pantai Ria untuk menikmati sunset khas Ende dan makan-makan. Dari Pantai Ria kami menuju ke Patung Bung Karno untuk foto-foto. Sudah berhenti? Belum! Dari lokasi Patung Bung Karno di Jalan Soekarno, rumah saja jadi incaran hahaha. Kebetulan pula teman-teman mau packing untuk Rokatenda Tahap 11 jadi ya sekalian ketemu dan ngobrol ngalor-ngidul.

Sabtu pagi, sebelum terbang ke Kupang, om Apo mengajak Yudi dan Mas Bayu untuk sarapan di kantin Universitas Flores (yang lokasinya hanya 5 langkah dari ruang kerja saya itu hahaha). Dan akhirnya harus pisah sama Yudi. Semoga kita dapat ketemu lagi, kopdar, makan, ngobrol sepuasnya :D

Terima kasih Balai Taman Nasional Kelimutu yang telah melaksanakan kegiatan keren ini. Dan terima kasih masih terus menggandeng Flobamora Community dalam kegiatan-kegiatan kerennya!

Wassalam.

Thursday, June 20, 2013

Kota Tua; Batavia



 Ojek Sepeda yang ngetop di Kota Tua

Jakarta. Dalam pelajaran sejarah pada jama dahulu kala saya dan teman-teman SD tahu bahwa Jakarta juga pernah punya nama lain yaitu Batavia. Batavia adalah nama yang diberikan oleh orang Belanda pada koloni dagang yang sekarang tumbuh menjadi Jakarta, ibu kota Indonesia (ini katanya Wikipedia loh). Batavia didirikan pelabuhan bernama Jayakarta yang direbut dari kekuasaan Kesultanan Banten. Sebelum dikuasai Banten, bandar ini dikenal dengan nama Kalapa atau Sunda Kelapa dan merupakan salah satu titik perdagangan Kerajaan Sunda. Dari kota pelabuhan ini lah VOC mengendalikan perdagangan dan kekuasaan militer dan politiknya di Indonesia.

Nama Batavia dipakai sejak sekitar tahun 1621 sampai 1942, ketika Hindia-Belanda jatuh ke tangan Jepang. Sebagai bagian dari de-Nederlandisasi, nama kota diganti dengan Jakarta. Sementara itu bentuk bahasa Melayu-nya yaitu Betawi, masih tetap dipakai sampai sekarang. So, Jakarta itu Batavia, Betawi, dan nama-nama lain yang pernah melekat padanya.

Sejak pertama kali kaki saya menginjak tanah Jakarta pada tahun 1999 saya belum pernah punya keinginan pergi ke sebuah tempat wisata bernama Kota Tua. Tapi kemudian saya memperoleh banyak informasi tentang tempat bersejarah ini. Kota Tua kemudian menjadi semacam obsesi saya setiap kali datang ke Jakarta. Obsesi yang tertahan lebih dari sepuluh tahun dan baru terwujud pada Sabtu, 8 Juni 2013, usai kegiatan workshop #Linimassa3 di Tebet. Ketika sedang berada di Jakarta otak saya selalu terarah ke Kota Tua. Ketika akhirya impian saya terwujud, Alhamdulillah yah huehuehue.

Kk Dahlia, Mas Gajah Pesing, saya dan Ika.
 
Adalah kk Dahlia Anas dan Mas Gajah Pesing yang sepagi itu telah menunggu di terminal busway Pancoran Timur. Saya meluncur ke sana. Ketemuan di terminal busway itu sesuatu ya hahaha. Sambil menunggu Ika Soewadji, akhirnya kami memutuskan untuk lebih dulu meluncur ke rumah kk Diaz soalnya sudah janjian. Di rumah kk Diaz kita sempat sarapan aneka cemilan yang wow sekali hahaha dan asyiiik dapat hadiah batik dan bolen Kartika dari si kk. Setelah itu, yuk mari kita meluncur ke Kota Tua!

Di Kota Tua sudah menanti Ika. Trus kita memulai perjalanan dengan menyewa ojek sepeda! Sumpah, saya baru tahu kalau di Kota Tua ada ojek sepeda-nya. Pertama-tama rada takut. Maklum, bodi segini gede diboncengin naik sepeda ontel itu rasanya bikin gigi rubuh hahaha. Ternyata menurut kk Diaz ojek sepeda ini lebih efisien ketika kita ingin berkeliling jadi tidak hanya mentok di pusat Kota Tua yang areal museum itu saja tetapi juga sampai ke tempat-tempat oke lainnya. Dari Kota Tua kita bertolak ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Di sana banyak sekali kapal-kapal kayu. Dari tukang ojek-nya saya jadi tahu bahwa bisnis kirim mengirim barang itu masih berlaku dan terjadi di Pelabuhan Sunda Kelapa. Masih ramai! 

 Jadi model itu tidak mudah :p

Puas foto-foto kita lantas meluncur ke Museum Bahari. Inilah mengapa saya bilang bangunan-bangunan sejarah itu jangan sampai hilang karena di tempat ini lah kita bisa narsis sesuka hati *plak* hahaha. Museum Bahari ini keren. Di sana banyak sekali replika kapal dari masa ke masa. Terpukau? Sangat! Soalnya tempatnya terawat dengan baik hanya dengan sekali membayar tiket kita sudah diajak berkeliling loh sama tukang ojek. Wah, orang pariwisata seharusnya berterima kasih nih sama tukang ojek sepeda-nya karena pelayanan yang sungguh dari mereka terhadap tamu/pengguna ojek sepeda.

Sakti, cuma ngeliatin, pot-nya langsung terbakar :p

Ke mana lagi kami setelah itu? Ke Pecinan! Aaaakkk tepatkah bila saya bilang pecinan? Ini tempat etnis China dengan kuil-kuil dan mereka sedang berdo'a. Wah, keren sekali. Saya disuruh foto di depan tong api yang sedang menyala wakakakaka berasa sakti itu. Btw siap-siap mata pergih karena asap hio dan kertas-kertas yang dibakar merajai tempat ini.

Puas jalan-jalan keliling menggunakan ojek sepeda saatnya mengisi perut. Berakhirlah perjalanan dibonceng dengan sepeda ontel di sebuah rumah makan masakan Padang (dan mereka ada di mana-mana hahahah). Makan siang saat benar-benar lapar itu tepat, teman. Sambil cerita-cerita tentang tempat-tempat oke yang layak dikunjungi traveler. Apalagi NTT! Ika paling semangat ceritanya. Jam terbang cewek yang satu ini jangan ditanya deh ... dia sudah ke mana-mana meski tubuh semungil itu *bwihik* digampar Ika :p

Meriam! Hahaha ...

Dari Kota Tua kami semua berpisah untuk bertemu kembali malam harinya. Saya dan Ika meluncur ke stasiun Kota untuk naik kereta ke Depok ... mengunjungi Mbak Ana sekeluarga hehehe. Sudah lama tidak ke Depok, ke rumah Mbak Ana. Kangeeeen!

Ceritanya masih berlanjut nih :p tapi nanti ...


Wassalam.


Wednesday, June 19, 2013

Passer Koeningan


Hola! Seperti yang sudah saya janjikan, ada beberapa postingan yang memang dipisah dari workshop #linimassa3 di Jakarta. Sekalian di Jakarta, kenapa tidak sekalian melakukan hal-hal keren? Aish ... keren dari mana, T? Hihihi.

Pasar Festival (Passer Koeningan). Sudah berapa kali saya ke sini? Sering! Soalnya ituuuu teman-teman Blogfam pun sering mengadakan kopdar di tempat ini. Hehehe. Saya ke sini pertama kali tahun 2010. Waktu itu saya menginap di Hotel Aston Koeningan, deketnya Bakri Tower, dan diputuskan kopdar Blogfam di tempat ini. Bagaiman pandangan saya tentang tempat ini? Biasa saja, umumnya mall, umumnya tempat orang nongkrong. Bahkan di foodcourt-nya biasa-biasa saja; di mana gerobak-gerobak berjejer menjaja berbagai kuliner *decak lidah*

Kapan ke sini lagi? Tahun 2011. Waktu itu gila aja yaaaa hehehe ke sini buat kopdar tetapi yang mau ditemui tak ada satu pun dan nekat nongkrong di foodcourt-nya. Saya sempat bingung karena kenapa ini foodcourt kok cuma setengah dari tahun 2010? Ternyata sedang ada renovasi. Oke, baiklah. 7 jam nongkrong sambil nungguin seseorang itu lumayan lah :D


Tahun 2013, ya baru saja minggu kemarin, saya pergi ke tempat ini lagi : Pasar Festival aka Passer Koeningan untuk ikutan kopdar Blogfam! Yipie! Semua nampak oke; tempat makan, tempat nongkrong dan foodcourt-nya berubah! Jeng jeng ... foodcourtnya jadi lebih keren dengan konsep tempo doeloe. Sangat Batavia! Saya suka sekali sampai-sampai nodong om Bisot kudu fotoin saya di tempat ini hahaha. Katrok? Default!

Passer Koeningan memuaskan hasrat saya akan dunia tempo doleloe yang unik dan bikin gemas. Yang semacam itu sudah jarang ditemui di dunia ini *mulai ngasal* semisal Kota Tua (wah, akan ada postingan lain tentang Kota Tua). Sebenarnya tempat-tempat yang mempertahankan atau mengadakan suasana jadul itu sekalian membeberkan pelajaran sejarah tentang bangsa ini yang pernah dijajah dan betapa bangsa ini pun punya milyaran cerita yang tak boleh hilang begitu saja -- anak cucu kita kelak jangan sampai kehilangan cerita-cerita ini.

Ke Jakarta saya pasti akan kembali.
Ke Passer Koeningan pasti saya akan kembali :D


Wassalam.

Thursday, June 06, 2013

Closing Workshop #Linimassa3

 Pedagang Kaos di Monas, Asal Madura :)

Pagi itu, karena malam sebelumnya saya telat tidur akibat satu dan lain hal, saya telat bangun. Mbak Manda, Ibu Tiri eh... Ibu Produser, sampai harus menjemput di beskem Internetsehat. Maafkan ya... saya mungkin satu-satunya peserta yang sulit diatur huehuehue.Tujuan sepagi itu kami pergi ke Monas adalah untuk syuting video crowdfunding #linimassa3 sekalian bagi yang video feature-nya belum OK, untuk merekam/praktek ulang di seputaran Monas. 

Mengambil gambar untuk video yang mungkin durasinya nanti hanya 1 menit memang susah, teman. Mas Rudi dari WatchDoc beserta mas Dhandy mengarahkan kami agar hasil rekamannya oke gitu. Hehehe.

Sepulang dari Monas kami segera sarapan dan siap-siap mengikuti sesi pelatihan editing bersama Mas Totok Sulistyo dan Mas Fandi. Bagi yang terbiasa dengan Ulead atau Movie Maker, akan mempelajari semua hal baru di Adobe Premiere. Software ini lah yang akan kami pakai untuk menyepadankan semua hasil editing video untuk #linimassa3. Doakan ya, teman, semoga saya dapat melakukannya dengan baik. Selesai sesi dari Mas Totok dan Mas Fandi, kami semua wajib menyetor video feature selama 3 menit (dipresentasikan). Wah ... pengalaman menarik ini. Dan tentu hasil video saya sangat jelek hahahaha... Tentang Potret Petugas Kebersihan Ibukota. Duh denger kisah si Ibu bisa keder saya.

Oke, setelah itu ya review tentang kegiatan selama 4 hari workshop ini dan ditambah dengan pesan-pesan dari Mas Dhandy. Selesailah sudah pembekalan para sutradara ini dan semoga dapat melakukan yang terbaik demi #linimassa3.

Mari kerjakan PR dari Mas Dhandy dan Ibu Produser :P


Wassalam.

Wednesday, June 05, 2013

Jadi Sutradara? TIDAK MUDAH!


Suasana Workshop #linimassa3 Hari ke-2


Seperti judul postingan ini; jadi sutradara? TIDAK MUDAH! Kesimpulan ini saya temukan setelah mengikuti workshop #linimassa3 di mabes Internetsehat di bilangan Tebet Barat, Jakarta Selatan. Seperti yang sudah teman-teman ketahui bahwa saya, bersama empat teman lainnya, lolos menjadi salah satu dari lima sutradara terpilih untuk pembuatan film dokumenter #linimassa3. Untuk itu kami wajib mengikuti pelatihan atau pembekalan di Jakarta. Langsung di kantor Internetsehat.

Sudah dua hari kami mengikuti workshop #linimassa3 (Selasa, 4 Juni 2013 dan Rabu, 5 Juni 2013) dengan pemateri Mas Dhandy Laksono dari WatchDoc (itu loh yang film-film dokumenternya langganan nongol di Kompas TV). Dari dua hari ini saya sadari bahwa untuk menjadi seorang sutradara sekaligus tukang syuting tidak semudah menjadi seorang fotografer. Selain feel, kita juga mesti menguasai teknik yang jauh lebih sulit dari sekadar menghasilkan tampilan gambar tidak bergerak. Itu baru proses syuting! Belum edit-nya.

Mas Dhandy, dengan segenap kesabarannya, mesti menghadapi saya (karena rata-rata para peserta lainnya sudah sangat berpengalaman dalam bidang sinematografi) yang katrok ini. Setelah pada Selasa mendapat bekal ilmu dari Mas Dhandy, pada hari Rabu subuh kami diwajibkan mengejar potret kehidupan Jakarta. Ya, pukul 04.00 subuh saya sudah bangun dan bersiap-siap. Pukul 04.45 saya sudah tiba di jalan, di depan Pasar Tebet Barat yang masih SEPI. Apa yang saya lakukan di tempat itu pagi-pagi buta? Menangkap momen, sesuai bekal ilmu yang saya terima. Insha Allah bisa. Perasaan saya sulit digambarkan. Mau menangis kok rasa diri sudah bangke. Hahaha.

Menangkap kehidupan Jakarta pada pagi hari memang banyak yang bisa kita 'sikat' tetapi tentu, seperti kata Mas Dhandy, harus berstruktur; harus ada ceritanya; harus mengikuti kaidah-kaidah yang telah ditetapkan dalam dunia sinematografi sehingga mempermudah urusan editing dan finishing nantinya. Bagaimana kita kudu mengatur panning, tilt, track, zoom in dan out, dan lain-lain teknik termasuk angle. Wah, inilah ilmu yang sehari saya dapatkan dan besoknya kudu dipraktekkan di lapangan. Dan kalian tahu, teman? Itu sangatlah sulit! Tidak semudah merekam video pernikahan saudara sepupu atau ulangtahun keponakan atau pengungsi Rokatenda di kamp-kamp mereka.

Karena kurang mendengar keputusan final soal keberangkatan menuju lapangan pengambilan obyek video contoh, saya malah berangkat sendiri ke jalanan hahaha. Lantas Mbak Manda mencari-cari dan ketemu deh. Oke, jadi kami akan diantar ke titik-titik OK untuk merekam gambar dan mencari cerita sendiri yang bisa diangkat. Kisah kencan saya bersama pemilik warung kopi pun terpangkas. Cerita video yang akan kami rekam yah paling tidak musti kuat dan mampu memberikan kesan tertentu kepada penonton karena ini film dokumenter *ehem*. Saya, sejak malam sebelumnya, memang pengen membuat feature tentang PETUGAS KEBERSIHAN di Jakarta. Makanya yang saya kejar memang petugas kebersihan. Kebetulan dari start point di Tugu Pancoran ada seorang ibu petugas kebersihan. Usai mengambil gambar lalu lintas dan tugu tersebut akhirnya saya menyeberang jalan menemui petugas kebersihan dan memulai sesi wawancara.

Tahukah kalian, teman? Ternyata mengangkat kehidupan petugas kebersihan itu bikin perasaan sendu. Betapa tidak? Si ibu ini gajinya cuma 23rb per hari dengan tugas berat sejak pukul 06.00 pagi hingga 12.00 siang. Tugasnya juga berat; pernah nyaris ketabrak kendaraan. Terus si Ibu ini pernah dihajar sama orang 'setress'; orang kayak yang turun mobil terus tiba-tiba menghajar tiga perempuan petugas kebersihan. Salah seorang teman si Ibu pahanya dirusak pakai obeng dan si Ibu ini sendiri dihajar hingga terjerembab di atas aspal. Nasib seperti itu mana dia tahu akan ditemui ketika pertama kali langkahnya meninggalkan rumah? Tragis ya. Tapi dia tetap bekerja karena dari situ lah dia dapat makan!

Video hasil rekaman kami tadi pagi itu akhirnya malamnya dibahas bersama Mas Dhandy. Wah video rekaman Bang Jafar dan Kakak Yayan begitu kerennya. Hihihi. Video saya hancur tetapi yah untungnya biar pun hancur masih ada strukturnya meski dikit. Bodohnya saya berani main zoom tetapi lupa sama teknik cut-to-cut. Wah besok saya akan berusaha memperbaikinya! HARUS! Saya percaya bisa membuat video yang baik dengan teknik cut-to-cut yang nantinya akan diselingi dengan cutaway. Nah ... saya sendiri saja belum hafal semua istilah-istilah yang diajarkan oleh Mas Dhandy Laksono; expert di dunia dokumenter. Ini adalah ilmu yang jauh berbeda saya temui. Bagi teman-teman yang merasa sudah jago bikin video pernikahan dan lain-lain, jangan dulu merasa jago deh ... ada ilmu-ilmu keren yang pantas dipelajari untuk menaikkan mutu.

Oia, saya juga mau cerita soal jalan-jalan ke Kota Tua, diajak Mbak Manda hahaha. Termasuk juga mengikuti Mbak Manda kerja; pergi mewawancarai anaknya Daud Beureuh, pahlawan dari Aceh. Ini pengalaman yang wow sekali deh pokoknya. Pokoknya soal Kota Tua dan Passer Kuningan (Pasfes) akan ada di lain postingan (tersendiri).

Well ... menjadi sutradara memang tidak mudah, teman. Itu nyata telah saya buktikan. Buktinya di Kota Tua saya malah asyik foto-foto saja hahaha bukan merekam gambar. Saya harapkan ilmu-ilmu yang saya dapatkan di Jakarta ini dapat saya sebarkan/share ke teman-teman di Ende, tak hanya teman-teman Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT). Karena ilmu adalah milik semua orang. Demikian kata Kk Beby-Be member Blogfam. 

Dan belajar itu tak kenal usia.


Wassalam.

Opening Workshop #Linimassa3


Senin, 3 Juni 2013 adalah hari pertama workshop bagi 5 sutradara #linimassa3 di mabes Internetsehat. Kegiatan hari pertama ini dimulai sekitar pukul 13.00 WIB usai makan siang. Mbak Manda membuka cara dan memperkenalkan tentang acara kita lantas datanglah tamu mbak Putri dari KONTRAS dan mbak Indri dari Elsam. Kontras dan Elsam adalah dua lembaga yang concern pada hak-hak perlindungan dan hukum terhadap warga Indonesia yang 'terlupakan' dan 'tertindas' dan hal-hal seperti itu lah hehehe. Silahkan buka website mereka, teman :

www.kontras.org
www.elsam.or.id

Setelah itu narasumber berikutnya adalah mbak Shita Laksmi yang cantiknya sangat cantik :D dari HIVOS dilanjutkan dengan perwakilan dari MIGRAN BURUH yang banyak berkonsentrasi pada nasib para buruh Indonesia di luar negeri : TKI dan TKW.

Malam itu juga ada acara kumpul-kumpul para blogger. Yang mau datang dipersilahkan karena ada tamu dari Kamboja. Mereka  penggiat/aktifis. Mereka adalah Mr. Pa Ngoun Teang dan Ms. Hok Narin Voice of Democracy (VOD), Cambodian Center for Independent Media (CCIM) yang tahu betul perkembangan informasi dan teknologi di sana. 


Oh iya, dari diskusi yang difasilitasi oleh kakak Urand atau Ndaru. Wah bahasa Inggrisnya mas Donnybu, mbak Manda dan kk Ndaru ini bikin iri. TOEFL-nya berapa yak? Diatas 600 mesti hak hak hak. Jangan tanya saya yang cuma plengasplengos nggak jelas. Hihihihi. Tapi diskusi itu saya jadi tahu soal perkembangan informasi dan teknologi di Kamboja bahwa saya masih jauh lebih beruntung dengan 40.000/bulan bisa online sepuasnya pakai Flexi. Beda dengan mereka yang susahnya minta ampun.

Di akhir kegiatan malam itu ada acara penyerahan kamera untuk 5 sutradara #linimassa3. Ih senangnya. Itu kameranya diperkirakan 13-an juta. Aye! Semoga dengan kamera sebagus itu saya bisa menghasilkan rekaman yang lebih baik dan tentu saja ditambah dengan ilmu dari mas Dhandy Laksono dari WatchDoc nantinya!

Hmmm ... *tarik nafas*


Wassalam.

Tuesday, June 04, 2013

Kopdar Blogfam

Ketua Komunitas Blogger NTT dan Presiden Blogger Family


Tidak pernah terlintas di benak saya menjadi praktisi sebuah proyek dokumenter oleh Internetsehat bernama Linimassa (kali ini Linimassa 3). Apalagi ternyata Linimassa 3 jauh lebih sulit dari Linimassa dan Linimassa 2 karena kami, 5 peserta, bukan menjadi artis Linimassa (yah begitulah istilahnya dulu) tetapi menjadi sutradaranya! Ini memang sulit tetapi tantangan apalagi bagi saya yang katrok huehueheuheu.

Berangkat ke Jakarta saat Ende menjadi Endenesia di mana peringatan 1 Juni (Kelahiran Pancasila) dirayakan nasional di kota kelahiran itu memang sesuatu. Tetapi itu momen yang bisa saya manfaatkan dalam perjalanan kali ini agar : tidak bermasalah dengan cuaca dan pesawat. Hei ... siapa sih yang mau Wapres batal datang ke Ende gara-gara hujan? Hahahaha cerdik kan saya? *krauk*

Oke, Tiba di Jakarta 1 Juni 2013, sudah malam. Dari Cengkareng dalam perjalanan malam saya prefer naik taxi karena yaaaah enak aja gitu ketimbang Damri hihihi. Dan kali ini, setelah terakhir supir taxinya rada genit, supir taxinya tukang kothbah yang sepanjang perjalanan ngomong tanpa henti soal pemerintah dan ini itu hal-hal berkaitan dengan hukum. Tumben. Eh ... pas banget ya ... tau aja si supir kalau saya mau masuk Hukum tahun ini ha ha ha ha. Oh ya, supirnya ini mengaku sehari-hari dipanggil Pak Tile. Setelah saya tela'ah dan ngintip kupingnya, dia memang mirip Pak Tile tapi beda nasib.

Tiba di Tebet saya masih mampir membeli nasi goreng dulu buat bekal makan malam bersama Frenavit. Maklum saya dalam proses pemulihan alergi (terhadap cowok) jadi kudu rajin minum obatnya. Malam itu ngobrol ngalor ngidul dengan Frenavit dan kami ternyata se-ide. Ish :p Saatnya tidur soalnya sudah ngantuk sekali dan rasanya gravitasi bumi kian meningkat. Tapi saya masih pengen online dulu soalnya sulit melewatkan koneksi di mabes Internetsehat yang kencangnya kayak balapan F1.

Dan akhirnya Minggu, 2 Januari 2013 sekitar pukul 15.00 WIB, setelah diajak makan siang sama Mas Donnybu dan Frenavit terus jalan-jalan di sekitar Pasar Tebet Barat, saya dijemput om Bisot. Yipie! Akhirnya setelah hanya melihat fotonya saya bisa naik juga itu Tiger keren hahaha yang udah melanglangbuana sampai Sulawesi segala. Oke, kita mau menghadiri kopdar Blogfam yang sejak awal sudah rusuh lokasinya : mulai dari bowling sampai akhirnya di Pasfes juga. Untuuuuung bukan di Sevel :p hehehe. Btw, Blogfam adalah rumah blogger pertama saya yang juga keluarga virtual terbesar saya. Tak akan pernah lupa pada Blogfam meski sekarang saya menjadi Ketua Flobamora Community - Komunitas Blogger NTT. Berada di dua keluarga blogger yang seperti ini membuat saya KAYA. Sangat!

 Ini saya dan om Bisot bajunya kembaran :D

Di Pasfes, di Bakmie GM, saat saya dan Om Bisot tiba juga sudah ada teman-teman Blogfam. Ada mbak Ajeng, kk Uyet, kk Meity Iskandar (Presidennya Blogfam), kk Sheed, kk Bengsin. Trus muncul deh Arifch dan Arie Haryana (master Kamera Lubang Jarum). Terus datang lagi Bunda Injul dan anaknya yang bernama Kayla. Daaaan datanglah Salman! Ini rame sekali karena Alwaysmami juga ikut. Kami akhirnya memilih untuk pintong; pindah tongkrongan, ke selasar/teras di lantai 2 Pasfes. Di sini datanglah Lea aka Macan Gadungan. Obrolan kami semakin seru apalagi saat Arie Haryana mulai share soal ilmu Kamera Lubang Jarum. Saya terpana dengan ilmu dasar fotografi tersebut, teman. Sungguh.

Belum cukup juga merusuh, kami pindah ke Inul Vista ditraktir mbak Ajeng. Eeeeeh akhirnya ketemu sama kk Itha Seal master diver kita xixixixi. Asyiiiik kita karaoke sampai pengsan :D

Juara 1, 2 dan 3 : The Voice of Blogfam

Kopdar Blogfam malam itu begitu seru begitu mengasyikkan. Dan saya merasa berada kembali dalam sebuah keluarga besar yang sangat besar. Selain nyanyi-nyanyi alias konser malam itu memuaskan hasrat terpendam, saya juga dapat ilmu keren banget dari Arie Haryana dan dikasih KAMERA LUBANG JARUM! Ini ilmu yang luar biasa keren dan pasti akan saya share ke teman-teman Flobamora Community. Why not?

Soal Pasfes sendiri  yang jelas berubah jauh .. bertambah cantik dengan jadul-nya ... akan saya cerita di lain postingan. Terima kasih kk Bengsin untuk foto-foto cantiknya. Kakak baik deh :D

Hidup Blogfam!

Hidup Flobamora Community ... juga donk hahahaha.


Wassalam.