Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Monday, September 30, 2013

Rumah Baru Mama Sisi

Mama Sisi dan Rumah Lama yang MIRING

Namanya Sisilia. Kami memanggilnya Mama Sisi. Beliau tinggal di sebuah rumah panggung berukuran 2x2 meter, terbuat dari bambu cincang, dihuni bersama empat orang anaknya, dan kondisi rumah itu jauh lebih miring dari Menara Pisa di Italia. Saya pikir rumah panggung super-mini itu pasti roboh sekali angin kencang berhembus. Mama Sisi menetap di Desa Kurusare, Kecamatan Lepembusu Kelisoke, Kabupaten Ende. Lepembusu ... negeri di atas awan.

Sekelompok mahasiswa KKN Kelas Khusus yang diketuai oleh Pak Mansuetus Koro memutuskan untuk mengabdikan ilmu dan sedikit kelebihan mereka (karena semua anggota kelas ini semuanya telah bekerja) yakni membuat sebuah rumah baru untuk Mama Sisi. Rumah layak huni yang meski sederhana tetapi lebih dari cukup untuk menampung Mama Sisi beserta keempat orang anaknya. Mak! Nangis saja lihat rumah 2x2 meter ... dapur di situ, tidur di situ ...

Kegiatan pembangunan rumah Mama Sisi telah dimulai satu setengah bulan yang lalu. Program KKN Kelas Khusus ini juga didukung oleh Pemerintah Kecamatan Lepembusu Kelisoke, Pemerintah Desa Kurusare, Rektorat Uniflor, Yayasan Perguruan Tinggi Uniflor, juga LPM Uniflor. Dan akhirnya pada Sabtu, 28 September 2013, rumah baru tersebut diserahkan kepada yang bersangkutan. Hadir dalam kegiatan penyerahan rumah Rektor Universitas Flores; Prof. Stephanus Djawanai, M.A. (beserta Ibu Stephanus Djawanai), Kepala Lembaga Pengabdian Masyarakat Uniflor; Yulita Londa, S.E., M.Si., Akt., seluruh peserta KKN Kelas Khusus (yang bahkan pada malam sebelumnya menginap di sana), dan teman-teman yaitu Mila dan Vera. Saya juga hadir sebagai tim peliput hahaha.

Rumah Baru Mama Sisi. Biru yang manis...

Melihat wajah Mama Sisi yang sumringah, apalagi ketika diminta duduk di atas tempat tidur baru dengan seprei warna pink, rasanya sangat bahagia. Meskipun saya tidak terlibat langsung untuk membantu Mama Sisi, tetapi apa yang telah dilakukan oleh kakak-kakak peserta KKN Kelas Khusus telah membuktikan bahwa Orang Indonesia itu sebenarnya mau saling bantu-membantu hanya saja kadang-kadang bingung dengan 'how' atau benci dengan birokrasi. Sesuatu yang dilakukan secara langsung, umum, bebas, dan terpercaya (mungkin karena birokrasinya sangat pendek) justru terlihat lebih cepat hasilnya ketimbang yang ... ah jangan diteruskan *senyum simpul*

Sekarang Mama Sisi sudah dapat tidur nyenyak meski di luar sana hujan dan angin sedang mengamuk. Setidaknya ia tak perlu kuatir rumahnya rubuh atau anak-anaknya kedinginan.

Ohya, selain membuat rumah untuk Mama Sisi, Kak Ati (salah seorang peserta KKN Kelas Khusus) pernah berkata, "setelah Mama Sisi dan anak-anaknya tinggal di rumah baru, saya masih ingin kembali ke sana ... pendidikan anak-anak Mama Sisi juga perlu dipikirkan. Kita bisa berbuat sesuatu."
Sementara itu Mami Yuli Londa sendiri memang telah merencanakan untuk mengangkat si anak bungsu Mama Sisi. "Sebentar lagi rumah baru saya selesai dibangun. Dia akan tinggal bersama saya di Ende."

Si bungsu ini, anaknya Mama Sisi, punya kemauan keras untuk bersekolah. Coba kalian bayangkan ... karena Mama Sisi tak punya biaya untuk menyekolahkannya, ia pergi sendiri ke SD terdekat dan mendaftarkan diri tak peduli bila ditolak karena tiada biaya. Tekatnya itu menggerakkan hati orang-orang untuk membantu. Si bungsu yang mandiri dan berusaha sendiri agar bisa sekolah. Maaaak! Anak-anak di kota mana ada yang kayak getoooo!

Yah, saya masih akan membuat tulisan tentang kemauan sekolah, kesempatan, keberadaan, dan lain-lain. Tapi tidakdi sini :D Kan masih #PerangPostinganBlog hahahaha.


Wassalam.

Friday, September 27, 2013

Calon Ibu Bupati


Mak! Kira-kira begini ini ilustrasi percakapan antara Ika dan Pras, dengan murid SMA asal Kota Ende yang turut menjadi penari dalam ajang Sail Komodo beberapa saat lalu.

Murid SMA  :  Kakak dari mana?
Ika  :  Jakarta. Kalian?
Murid SMA  :  Kami dari Ende, Kak.
Ika  :  Oooh saya punya teman tuh di Ende, Ini mau ke sana.
Murid SMA  :  Oh ya? Siapa, Kak?
Ika  :  Kak Tuteh Pharmantara.
Murid SMA  :  Oooh itu calon Ibu Bupati, Kak.

GUBRAK!
*kurang oke*
GEDUBRAAAAAAAAAAKKK!
*oke, jatuhnya pakai memar?*

Ya amplop. Waktu mendengar mereka bercerita saya hanya ngakak karena merasa itu hanya canda'an Ika dan Pras. Ternyata saya salah. Percakapan itu benar-benar terjadi dan saya benar-benar disangka mencalonkan diri menjadi Bupati Ende. Mak! Ada apa dengan nama saya?

Dalam suatu kesempatan Ibu Eta Leha (Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Flores sekaligus Sekretaris Lembaga Publikasi) berkata, "Dek Tuteh, Adik saya suka sekali membaca novel kamu. Katanya nama kamu itu nama seorang Penulis."

Tuteh Pharmantara ... just a game. Eh, just a name :D


Wassalam.

Tuesday, September 24, 2013

Macet & Mengalah

Gambar diambil dari Google

Hola, masih dalam rangka #PerangPostinganBlog yang ikhlas *ngikik* saya mau bercerita tentang perjalanan yang sudah sering saya lakukan. Ya, perjalanan dari Kota Ende menuju Kecamatan Maurole. Sabtu, 21 September 2013 saya dan SKJ mengantar Ika dan Pras pergi ke Pantai Enabhara by request. Meskipun sudah sering ke sana tetapi setiap diajak ke sana saya tetap mau soalnya sekalian mengecek para pengungsi #Rokatenda tercinta. Cieeee hueuehue. Entahlah, rasanya mereka sudah saya anggap saudara sendiri.

Karena masih menunggu SKJ yang harus menyelesaikan pekerjaan kantor, akhirnya kami berangkat ke Pantai Enabhara pukul 12.30 WITA. Oke, itu sudah sangat siang. Artinya kami harus memacu kendaraan lebih cepat lagi *elus-elus Oip Hitup* Alhamdulillah jalanan yang sedang diperbaiki di KM 15 - 17 sedang dibuka soalnya jam makan siang. Yuhuuuu tak perlu menunggu eksavator itu bekerja hingga 1 jam lamanya mengantri huehuehue.

Memacu Oim Hitup dengan kecepatan 60km/jam hingga 80km/jam kami menempuh jarak 85 kilometer selama nyaris 2 jam. Tiba di puncak menuju Jitabewa saya menawarkan Ika untuk memotret. Awalnya ditolak tetapi begitu melihat keindahan pantainya, Ika setuju! Hihihi. Pras juga turun dari boncengan SKJ. Mereka lantas mengabadikan panorama *tsah bahasa saya* yang indah itu. Saya dan SKJ memilih untuk duduk mengaso di rerumputan kering *gleg* Jangan bergosip, kami hanya duduk-duduk saja kok.

Dari puncak dengan view menawan itu; gradasi air laut antara biru tua, biru, dan hijau tosca (karena pasir putih), kami meluncur ke Desa Mausambi. Saya berpesan pada Mama Muna untuk menyiapkan kopi soalnya mata saya sudah tak tahan lagi ngantuknya. Lalu kami melanjutkan perjalan ke Pantai Enabhara. Wah, tiba di sana masih terlihat sisa-sisat penjajahan waktu kemah minggu kemarin xixixixi. Puas foto-foto kami memutuskan untuk pulang. Mampir dulu di warung Padang langganan membeli nasi dan ... ya ampun lauk-pauknya habis! Hahaha. Kami membeli nasi dan telur rebus + sambal, dibungkus untuk dimakan di kamp tempatnya Mama Muna saja.

Makan siang di bawah pohon asam (yang juga langganan hahaha setiap kali ke Desa Mausambi), sambil bercerita dan ngopi-ngopi untuk menghilangkan kantuk. Sekitar pukul 16.00 kami meluncur ke Ende. Terima kasih Mama Muna yang sudah mau kami repotkan *selalu* hahaha.

Kami kembali menempuh 85 kilometer menuju Kota Ende. Harus cepat-cepat karena pukul 21.00 Ika dan Pras harus sudah di Pelabuhan Ippi. Mereka kan harus ke Kupang. Tiba di KM 17 semakin banyak kendaraan menuju Ende yang kami temui/berbarengan. Tetapi tiba di KM 16 sesuatu terjadi. Inilah yang mengacu pada judul postingan kali ini. 

MACET! TOTAL!

Pengerjaan dan pelebaran jalan di daerah itu telah usai pukul 17.00 dan semua pekerja pulang. Tidak ada lagi yang mengatur lalu-lalang kendaraan dan parahnya pada salah satu tikungan sempit (sebelahnya tebing yang dipenuhi tumpukan reruntuhan batu, sebelahnya lagi jurang dalam), tikungan yang sangat sempit dan berbahaya, dua mobil berpapasan. Keduanya stuck. Sama-sama maju? TIDAK AKAN BISA BILA SALAH SATU TIDAK TERLEMPAR KE JURANG. Masalah terbesarnya adalah di belakang masing-masing mobil itu sudah antri pula mobil lain + puluhan motor (mungkin ratusan!). Makjang! Kami berpacu dengan waktu karena Ika dan Pras belum packing.

"Kemungkinan terburuk, kalian turun, jalan kaki sampai ke antrian paling ujung dan cegat ojek," kata SKJ.

Stuck. Sama-sama butuh melintasi jalan. Sama-sama tidak bisa melintas karena tidak sesenti pun badan jalan yang bisa dipakai untuk melintas. 

"Oeh! Biar kita mengalah saja! Mundur!"

Ya, mobil dari arah yang sama dengan kami (menuju Kota Ende) itu sebenarnya ingin mundur agar mobil dari depan dapat jalan (karena untuk mobil di depannya itu mundur sangat tidak mungkin mengingat jalan tanjakan + tikungan tajam + berpasir) tetapi mobil itu tidak bisa mundur karena di belakangnya ada puluhan motor menyesaki. Keputusan pun diambil, kami yang harus mengalah karena dengan cara itu lah kemacetan ini dapat diatasi. Awalnya beberapa pengendara sepeda motor enggan mundur atau berbalik arah untuk sementara agar si mobil dapat mundur. Berkat laki-laki berseragam tentara semuanya mau mengalah.

Nyaris 1 jam kami stuck di tempat itu. Setelah semua sepeda motor mundur, mobil pun dapat mundur, sehingga mobil yang dari depan dapat maju. Ternyata bukan sekadar mobil biasa melainkan truk! Disusul kemudian dengan bis, bahkan fuso hahaha. Parah ... parah ... Alhamdulillah berkat mau mengalah kemacetan yang fatal itu pun dapat teratasi. Bila tidak? Bisa sampai besok pagi kami ngetem di situ!

Seorang Bapak bercerita, "tadi sore tu Ibu, kami sudah ke sini, tapi itu mobil dua tetap begitu ... akhirnya kami kembali ke rumah. Eh sekarang masih juga ... parah." Nampaknya jalanan menjadi lebih ramai dari biasanya karena banyak orang yang datang dari luar Kota Ende hendak ke Ende untuk : (1) Membawa hantaran Huru Mana, (2) Mau ke Kupang menggunakan KM Awu (3) Pulang dari bekerja dan urusan (seperti kami.

Saya menoleh ke kanan kiri, atas bawah, ya ampuuuun ramai sekali jalanan yang biasanya pada jam segitu sepi, soalnya kalau sudah malam jarang ada sepeda motor yang ke luar kota hahaha. Sepeda motor yang mengantri itu pun sudah dari sore. Ada sekitar 2 kilometer kemacetan terjadi. Mobil-mobil, sepeda motor, truk, fuso, bis, semua mengantri. Setelah beberapa kendaraan dari arah berlawanan melintas, kami pun boleh melintas, setelah beberapa dari kami nantinya kendaraan dari arah berlawanan melintas kembali ... BERGANTIAN. Dengan demikian macet teratasi.

Sepanjang jalan dari lokasi proyek itu sampai ke Kota Ende jalanan ramai sekali, teman. Saya terkikik sendiri dan bilang ke Ika, "malam ini sepertinya Jakarta pindah ke Ende."

Alhamdulillah tiba di rumah dengan selamat. Ika dan Pras segera mandi lantas packing dan saya KENCAN SAMA WALKING DEAD xixiixixix. Minggu kemarin kan tidak kencan soalnya ikutan kemah Uniflor's Family Day. Sekitar pukul 20.30 saya mengantar Ika dan Pras ke Pelabuhan Ippi dan pulang melanjutkan kencan.

Ada hikmah yang saya petik dari perjalanan kali ini. Bahwa dengan mengalah segala sesuatu dapat menjadi indah. Mengalah bukan berarti kalah. Mengalah berarti memberikan kesempatan terbaik pada orang lain dan diri kita. Belajar untuk mengalah memang tidak mudah karena sebagai manusia kita cenderung eogis. Tetapi belajar untuk mengalah itu penting karena sebagai manusia yang bersosial kita juga berhadapan dengan manusia lainnya; yang juga egois.


Wassalam.

Monday, September 23, 2013

Gantung Periuk!

Keponakan Saya dari Sepupu : Priska

Sebenarnya saya ingin sekali bercerita tentang perjalanan ke Pantai Enabhara, Kecamatan Maurole, pada Hari Sabtu kemarin, tetapi saya urungkan. Saya ingin sekali teman-teman mengenal yang namanya 'gantung periuk' di Kota Ende *senyum dikulum*

Di Ende ada sebuah istilah 'gantung baju' yaaaa artinya si laki-laki menyerahkan dirinya ke rumah perempuan. Ada juga istilah 'lari ikut' yaaaa artinya si perempuan menyerahkan dirinya ke rumah laki-laki. 'Gantung baju' atau 'lari ikut' itu punya satu tujuan yang sama yaitu KAWIN. Hahaha. Eh, maaf. Tapi ya begitulah cerita yang saya dengar dari orang-orang.

Lalu, apa itu 'gantung periuk'? Yang kita singkat menjadi GP.

Minggu, 22 September 2013, berlangsung acara Komuni Suci Pertama di beberapa Paroki di Kota Ende. Bagi teman-teman yang belum tahu; Komuni Suci Pertama merupakan momen paling penting seorang anak (ya, dalam ajaran Agama Katolik) layaknya khitanan bagi kaum Muslim. Anak-anak kelas IV (di beberapa tempat kelas V) saat Komuni Suci Pertama memasuki gerbang menjadi umat Katolik yang taat karena mereka telah menerima daging dan darah Yesus Kristus dalam bentuk Hostia (dan anggur). Sebelumnya saat mereka mengikuti Misa di Gereja, mereka belum boleh ikut Sambut (menerima Hostia). Nah, setelah Komuni Suci Pertama, mereka sudah boleh Sambut setiap kali mengikuti Misa di Gereja, atau di tempat lain yang menyelenggarakan Misa untuk suatu urusan seperti Misa malam ke-3 kematian, Misa Pernikahan Emas pasangan suami-istri, dan lain-lain.

Komuni Suci Pertama dilaksanakan serentak. Bisa kah kalian bayangkan dalam sebuah kelas terdiri dari berapa murid? Ya, ambil lah garis besar 40 murid. Dan di Kota Ende ini ada berapa banyak SD? Baik SDK, SDN, dan SDI? Dan (kebanyakan kata 'dan') bisa kah kalian bayangkan berapa banyak undangan yang datang ke rumah saya? Bukan cuma rumah, di kantor pun demikian! Hahaha. Tahun lalu saya menerima 25-an undangan dan tahun ini lebih dari 30 undangan. Jadi pada hari Minggu, saat Komuni Suci Pertama, saya boleh makan sepuasnya dari rumah ke rumah dimulai dari pukul 10.00 WITA (melirik undangan dengan waktu paling awal) hingga pukul 20.00 WITA. Karena sistemnya datang-dan-pergi jadi saya boleh datang pukul 20.00 meskipun waktu yang tertera di undangan adalah pukul 16.00 hihihi.

GANTUNG PERIUK!

Itulah istilah kami saat Komuni Suci Pertama tiba. Beramai-ramai kami menyusun itinerary untuk perjalanan selama nyaris seharian penuh dari rumah ke rumah se-Kota Ende. Jalan bersama teman-teman itu sangat menyenangkan karena bisa haha hihi dan berkomentar tentang puding atau salad suguhan tuan rumah/pesta yang rasanya enaaaak sekali. GP! Karena percuma juga bila kami memasak sedangkan perut kami telah begitu penuh ketika tiba di rumah sekitar pukul 23.00 ditambah kaki rontok akibat ikut bergoyang hahaha.

Tapi kemarin saya pergi sendirian saja soalnya kalau sama teman-teman mungkin waktu yang dibutuhkan untuk saya (sekitar 30 rumah) akan sangat lama sementara saya masih punya tugas merekam acara di rumahnya Priska (keponakan). Jadi pukul 14.45 saya sudah pergi ke rumah terjauh di daerah Ndona, anaknya Oom Hanes. Lanjut ke arah kota hingga semua 'hutang undangan' terpenuhi. Alhamdulillah. Dan kali ini saya hebat karena hanya berani makan di 1 rumah saja sementara rumah lain cuma datang dan jabatan tangan saja soalnya saya kuatir sama kondisi perut hahahaha. Kuatir menggemuk dalam sehari *lebay*, darah menggelegar, diabet ancur-ancuran *untung masih sadar*

Ya deh, ini saja ceritanya. Senin yang sibuk :D kerja dulu!
Selamat ya kepada adik-adik yang telah menerima Komuni Suci Pertama, termasuk salah seorang keponakan saya : Priska Mudamakin.


Wassalam.

Sunday, September 22, 2013

Situs Bung Karno, Kini


Sebuah pohon di dekat papan nama ini sudah tidak ada.

Pada postingan sebelumnya saya telah bercerita tentang kedatangan Ika dan Pras ke Ende. Salah satu agenda kami Hari Jum'at itu adalah mengunjungi Situs Bung Karno, salah satu tempat bersejarah saat Bung Karno diasingkan ke Kota Ende. Dalam tahun 2013 (setelah direnovasi) beberapa kali sebelumnya saya pergi ke sana, tetapi ketika kunjungan kemarin itu, banyaaaaak sekali perubahan yang terjadi. Perubahan-perubahan itu diantaranya : barang-barang Bung Karno selama di Ende kini disimpan di etalase baru yang cantik dengan plang keterangan dari masing-masing benda (dulunya hanya ditata di lemari kaca), meja kursi kayu untuk tamu sekarang sudah dilingdungi mika (transparan) dan diberi pembatas (dulunya hanya diletakkan begitu saja dan kami bahkan boleh duduk loh), tempat tidur kini dipasangi seprei dan kelambu putih (dulunya hanya tempat tidur kosongan saja). Dan semua diberi pembatas. Oh ya, lemari kaca tempat menyimpan barang-barang Bung Karno itu kini diletakkan di teras belakang dan berisi buku-buku tentang mantan RI-1 tersebut.

Berikut ini foto-fotonya :

Pras dan Ika di depan meja kursi ruang tamu.

Ilham sedang mengisi buku tamu *serius sekali!*

Dulang dan Alas Kuningan (Kuningers, donk :D) 

Biola.

Kami tidak sendiri sore itu. Ada rombongan ibu-ibu dan rombongan satu keluarga yang juga ingin menyaksikan bukti sejarah Bung Karno diasingkan ke Kota Ende. Saya sempat geram sama seorang ibu yang seenaknya saja meletakkan backpack-nya di atas etalase dengan wajah tidak bersalah. Maksudnya; ini adalah warisan sejarah milik kita yang telah dirapikan dan disimpan di etalase. Mbok ya jangan sampai bersikap seenaknya begitu. Langsung saya tegur dengan berpura-pura hendak memotret.

Satu hal yang mungkin tidak disadari adalah kotak amal. Tempat-tempat wisata yang pernah saya kunjungi di luar Pulau Flores selalu ada yang namaya retribusi (bahkan tempat wisata Danau Kelimutu saja ada retribusi/karcis-nya!). Tetapi di Situs Bung Karno hanya tersedia kotak amal bagi pengunjung yang mau merelakan lembaran Rupiahnya berpindah tempat, seikhlasnya. Jadi sebel karena dulu waktu mau ke Kawah Putih di Jawa Barat kami tertahan di pos penjagaan dan memutuskan untuk batal karena biaya mobil yang dihitung untuk memasuki wilayah tersebut lebih mahal dari hitungan biaya per manusia-nya.

Bila ada yang bertanya pada saya, masih mau ke Situs Bung Karno lagi? Ya jelas masih mau! Letaknya hanya sepelemparan batu dari rumah saya. Lagian sudah jelas saya tulis di blog travel saya : traveling the world, start from your hometown

Kalian sudah pernah datang ke Situs Bung Karno? *pertanyaan umpan* huehuehue.


Wassalam.

Saturday, September 21, 2013

Kaki Kereta

Kaki si Kaki Kereta

Belum lama saya terjun ke dunia backpakcer meskipun catatan perjalanan saya ke luar Pulau Flores telah dimulai sejak masih SMP. Dan pertama kali keluar dari Pulau Flores tempat yang saya kunjungi adalah Bali. Pertama kali melakukan perjalanan jauh oleh seorang bocah SMP memang ribet. Kala itu saya mengenal backpack sebagai tas sekolah berisi buku bukan sebuah alat yang menyenangkan diajak jalan jauh. Karena bepergian dengan orangtua maka koper merek Presiden lah yang selalu menjadi tempat kami menyimpan semua kebutuhan selama perjalanan. Ah, itu masa lalu. Mari kita tengok masa kini.

Saat SMA saya mulai menjejak kaki ke Pulau Jawa. Pulau tempat Bapa lahir dan dibesarkan. Darah Madura - Pulau Ende Bapa itu yang bikin kami langganan pergi ke Surabaya (my second homeland). Tetapi ketika ditanya; saya tetap menjawab Orang Ende, bukan Orang Jawa. Sejak saat itu saya mulai tertarik melakukan perjalanan sendiri tanpa orangtua. Lulus SMA saya pergi ke Jakarta bersama teman, kemudian ke Jogja, ke Kediri, ke Solo, dan lain-lain. Sayangnya masa itu saya hanya mengantongi kamera pocket merek Fuji yang bisa berfungsi jika ada roll film. Foto-foto jaman dulu itu entah di mana (sebagian ada di album foto) karena jaman itu belum ada blog dan media sosial tempat narsis diijinkan dengan ikhlas hahaha. Lagi pula saya sering melakukan perjalanan tanpa rencana. Ketika KM Kirana II bersandar di pelabuhan (Pelabuhan Ippi), diam-diam saya packing lalu menyium tangan Bapa dan Mama. TRADA! 48 jam kemudian saya sudah tiba di Pelabuhan Perak dan bersiap melancong ke kota-kota lain. Sekali lagi, tanpa kamera dengan memory card yang fotonya bisa disimpan di laptop.

Kata orang-orang saya ini Kaki Kereta. Istilah kami untuk orang-orang yang tidak bisa diam di rumah. Selain Kaki Kereta mereka juga menjuluki saya Tukang Jonda (jalan tak tentu arah) karena bisa saja di Minggu siang yang panas saya mengeluarkan motor dan berkeliling kota atau ke luar kota untuk sekadar membuat catatan bahwa pada hari itu saya tidak hanya berdiam diri di kamar dibuai kasur. Setelah bekerja dan mengantongi gaji sendiri, saya berkenalan dengan kata : cuti. Setahun bekerja untuk duabelas hari cuti itu mimpi yang saya rajut dari hari ke hari. Bahkan saya pernah sampai bertengkar dengan atasan gara-gara melebihkan sendiri masa cuti ke Banyuwangi, menghadiri pernikahan seorang Mami Vi3 di tahun 2006.

Adalah perkara yang dulu tidak saya sadari bahwa di luar sana begitu banyak orang yang menjalani hidupnya seperti saya. Mereka, para backpacker atau traveler keren, yang tergabung dalam komunitas-komunitas yang juga keren. Sampai kemudian saya menjadi salah satu Petualang ACI Detik Com ... semuanya seperti berulang. Rasanya seperti dulu ketika saya mendadak berada di atas KM Kirana II berulang-ulang hingga semua kru kapal roro itu hafal dan memberi saya bonus seperti cemilan *muka polos* Ajang ACI2010 itu membawa saya  pada lingkungan bernama backpacker. Saya mengenal banyak orang baru, pribadi-pribadi luar biasa, memperoleh ilmu, dan menambah keluarga.

Lingkaran setan adalah dua kata yang tepat untuk menggambarkan dunia para pelancong. Maaf, saya lebih suka menggunakan pelancong dan melancong. Ternyata si Ini kenal sama si Itu meski beda komunitas. Ternyata temannya si Itu mau datang ke Ende, lantas jadilah kami berteman. Temannya si Itu punya teman punya teman ... ternyata kenal sama temannya saya di komunitas nganu. Dan lingkaran setan ini tidak habis-habis.

Kemudian saya mengenal seorang perempuan bernaka Ika Soewadji. Saya mengenalnya dari si Amri. Saat  itu, tahun 2011 Ika, Amri, dan Reza datang ke Ende. Kami kopdar di Amazy, makan-makan, ketawa-ketawa, dan banyak cerita bergulir. Yang kemudian saya tahu ternyata Ika ini juga berteman sama Yunaidi Joepoet, Adhadi Wae, dan juga mengenal Bang Tekno Bolang dan Bang Yudi Kudaliarr. Payah, dunia memang sangat sempit hahaha. Tidak hanya satu kali Ika datang ke Pulau Flores. Saya akui betapa Flores memang indah dan seharusnya dikunjungi berulang kali hahaha *promosi*

Jum'at, 20 September 2013, Ika datang ke Ende bersama seorang temannya bernama Pras. Dari Jakarta mereka terbang ke Bali kemudian ke Labuan Bajo. Meskipun datang ke Labuan Bajo setelah acara Sail Komodo tapi masih banyak perkara cantik lainnya yang bisa mereka lihat dan abadikan dari kota dengan bandara bernama Komodo itu. Sayangnya Bang Tekno Bolang sudah balik dari Labuan Bajo usai perayaan Sail Komodo yang turut dihadiri oleh RI-1 tersebut.

Dari Labuan Bajo ke Ende, Ika dan Pras melewati rute panjang menggunakan kapal perintis : Labuan Bajo, Maurole dan melewati Pulau Palu'e, Maumere. Sekitar 18 jam mereka berada di atas kapal tanpa kantin tapi berkamar mandi bersih itu. Dari Maumere mereka menggunakan travel menuju Pos Penjagaan Balai Taman Nasional Kelimutu. Asyik! Di sana sudah ada Oom Hengky, petugas Balai, yang juga sudah menganggap Ika sepergi adiknya sendiri. Jadilah mereka menginap di sana dan keesokan harinya mengejar sunrise di puncak Kelimutu. What a great trip! Dari ujung barat Pulau Flores, ke timur, kemudian ke tengah.

Ilham dan Ika di Depan Lemari Buku Situs Bung Karno

Tiba di Ende hari sudah siang dan saya menyambut mereka dengan muka mengantuk level internasional. Dan yang namanya berbincang dengan backpacker itu memang mengasyikkan. Selalu banyak cerita mengingat track record mereka di dunia jelajah pun tidak main-main. Setelah saya SMS Ilham pun datang. Kami berencana untuk pergi ke Situs Bung Karno. Cerita tentang Situs Bung Karno akan saya tulis di postingan berbeda. Dari situs kami meluncur ke Pantai Ria untuk menikmati sunset dan panganan khas kami pisang goreng + singkong goreng + sambal. Fauwzya datang bergabung. Sebenarnya dari Pantai Ria saya ingin mengajak mereka foto-foto di Patung Bung Karno tetapi lokasinya sangat gelap! Ternyata sedang ada pengerjaan pembenahan. Baiklah, rumah Kak Nani Pharmantara pun jadi pilihan (karena Ika sudah duluan kenal dengan Ka'e Dul, kakak ipar saya) dan pulang ke rumah.

Pras, admin akun traveling sebuah komunitas besar Indonesia (Kaskus) langsung online. Saya cukup sibuk ditelepon teman-teman hahaha *calon Ibu Bupati!?*, dan Ika juga sibuk di telepon. Tetapi kemudian kami mengobrol, banyak cerita, hingga akhirnya kantuk memanggil. Kami punya rencana perjalanan ke Pantai Enabhara (lagi, untuk saya). Doakan semoga cuaca cerah.

Kaki Kereta. Saya dan Ika sama-sama ber-kaki-kereta. Senang sekali bila mendapat kesempatan pergi ke suatu daerah. Dan ternyata kami pun punya pemikiran yang sama : it's not about destination, it's about the trip. Bagaimana proses perjalanan/melancong itu lah yang terekam indah di benak kami. Bertemu orang baru, mendengar cerita mereka, menjalin persahabatan, pengalaman unik, dan lain-lain. Itu esensi kita melakukan perjalanannya. Jujur saya kadang iri dengan teman-teman yang masih bisa melakukan perjalanan jauh menggunakan kapal laut. Itu artinya mereka punya banyak waktu sedangkan saya? Jatah cuti selama duabelas hari sangat mepet untuk menggunakan kapal laut *sigh*

Saya, si Kaki Kereta. Bagaimana dengan kamu?


Wassalam.

Friday, September 20, 2013

Inilah #PerangPostinganBlog


Seperti kata Babang di blog-nya; ini kegilaan.

Iya, saya memang sudah gila. Tapi kalau gak gila sekarang, kapan lagi memacu diri, kan? Mumpung ini kompetisi seru-seruan tanpa aturan, sehingga tidak ada yang perlu ngambek kalau tidak dimasukkan ke daftar peserta dari panitia atau tidak menang kan?!

Awalnya, seperti yang diceritakan Ilham di blog-nya; saya dan dia hanya ingin perang-perangan setelah liburan. Saya kemah Uniflor's Family Day di Pantai Enabhara sedangkan Ilham pergi ke Danau Kelimutu dan sumber air panas baru. Kami lantas mengiming-imingin foto keren pada Kak Meity. Ternyata foto-foto itu kemudian berubah menjadi postingan-postingan blog. Dan kami kemudian mencetuskan #PerangPostinganBlog di mana kami berdua saling berlomba mengupdate blog semampunya.

Ide #PerangPostinganBlog ini kemudian berkembang. Ada teman-teman yang ingin ikut bergabung. Bunda Indah Juli, Babang, Nugroho (maaf, belum sempat ke blog-nya), juga tadi tertulis nama Rara. Wah, kami tidak menyangka ada yang tertarik dengan ide gila ini hahahaha.

Aturan mainnya, sudah ditulis Ilham :

Kita sepakat hingga akhir tahun, saling bertanding membuat postingan blog dengan tema apa saja. Tidak ada aturan baku terkait jumlah karakter, isi, tema, dan lain sebagainya. Kita kembalikan ke jati diri masing-masing, seperti apa sewajarnya kalian ngeblog.
Sebelum memposting tulisan, kalian harus mengunjungi blog lawan terlebih dahulu, dan meninggalkan jejak dengan berkomentar di postingan terbaru mereka sebagai bukti bahwa anda akan siap menyerang balik.
Setelah itu silahkan publish postingan baru anda. Tidak lupa pula untuk menginformasikan lawan via twitter atau facebook bahwa anda baru saja menyerang dengan postingan baru.
#PerangPostinganBlog berlangsung hingga akhir tahun. Tepat 1 Januari 2014, kita akan sama2 mengecek siapa peserta dengan jumlah postingan terbanyak sejak September 2013. Postingan yang dihitung adalah postingan yang tertera komentar dari pihak lawan.
Rewardnya adalah tergantung keikhlasan yang kalah sebagai apresiasi kepada pihak yang menang.  :D
- See more at: http://ilhamhimawan.com/2013/09/19/terjadi-perangpostinganblog/#sthash.EVUe4Hb0.dpuf
Kita sepakat hingga akhir tahun, saling bertanding membuat postingan blog dengan tema apa saja. Tidak ada aturan baku terkait jumlah karakter, isi, tema, dan lain sebagainya. Kita kembalikan ke jati diri masing-masing, seperti apa sewajarnya kalian ngeblog.
Sebelum memposting tulisan, kalian harus mengunjungi blog lawan terlebih dahulu, dan meninggalkan jejak dengan berkomentar di postingan terbaru mereka sebagai bukti bahwa anda akan siap menyerang balik.
Setelah itu silahkan publish postingan baru anda. Tidak lupa pula untuk menginformasikan lawan via twitter atau facebook bahwa anda baru saja menyerang dengan postingan baru.
#PerangPostinganBlog berlangsung hingga akhir tahun. Tepat 1 Januari 2014, kita akan sama2 mengecek siapa peserta dengan jumlah postingan terbanyak sejak September 2013. Postingan yang dihitung adalah postingan yang tertera komentar dari pihak lawan.
Rewardnya adalah tergantung keikhlasan yang kalah sebagai apresiasi kepada pihak yang menang.  :D
- See more at: http://ilhamhimawan.com/2013/09/19/terjadi-perangpostinganblog/#sthash.EVUe4Hb0.dpuf
Kita sepakat hingga akhir tahun, saling bertanding membuat postingan blog dengan tema apa saja. Tidak ada aturan baku terkait jumlah karakter, isi, tema, dan lain sebagainya. Kita kembalikan ke jati diri masing-masing, seperti apa sewajarnya kalian ngeblog.

Sebelum memposting tulisan, kalian harus mengunjungi blog lawan terlebih dahulu, dan meninggalkan jejak dengan berkomentar di postingan terbaru mereka sebagai bukti bahwa anda akan siap menyerang balik.

Setelah itu silahkan publish postingan baru anda. Tidak lupa pula untuk menginformasikan lawan via twitter atau facebook bahwa anda baru saja menyerang dengan postingan baru.

#PerangPostinganBlog berlangsung hingga akhir tahun. Tepat 1 Januari 2014, kita akan sama2 mengecek siapa peserta dengan jumlah postingan terbanyak sejak September 2013. Postingan yang dihitung adalah postingan yang tertera komentar dari pihak lawan.

Rewardnya adalah tergantung keikhlasan yang kalah sebagai apresiasi kepada pihak yang menang.  :D

Tujuannya? Tidak ada. Ini adalah untuk mengembalikan semangat nge-blog yang sepertinya terlibas media sosial yang kita gunakan sehari-hari untuk berkomunikasi/bersosialisasi seperti Twitter dan Facebook. Apa coba yang dulu menyatukan kita semua? BLOG! Ya! Blog! Bukan Twitter, bukan Facebook, bukan apa-apa. Blog lah yang menyatukan kita semua yang saat ini berjibaku di ranah Twitter and ngetwit almost every minute. Hahaha.

#PerangPostinganBlog ini berbanding lurus dengan ritual masa lalu yaitu blogwakling, baca tulisan teman, berkomentar dengan baik. Kapan terakhir kita blogwalking? Kapan terakhir kita dengan serius membaca tulisan teman? Saya, terakhir membaca tulisan Babang, itu dengan mata separuh mengantuk karena di WITA sudah menjelang pagi. Mata kriyep-kriyep tapi masih saja ingin membaca dan berkomentar. Hasilnya? Fatal! Hahaha.

Nge-blog dalam aura lomba memang bagus. Tapi kadang ada pesan sponsor yang nyelip. Dan saya pribadi kadang-kadang menjadi tidak merdeka pada diri sendiri karena harus mengikuti aturan ini itu bila menginginkan hadiah. A-ha, kenapa tidak ikutan #PerangPostinganBlog saja, teman? Kita kunjungi blog teman yang telah menyatakan "I'm in!", berkomentar sebagai tanda kita menyiapkan peluru untuk melawan postingan mereka, kemudian update blog! Jangan lupa, setelah blog di-update kita wajib mengabarkan keriangan ini pada 'musuh' kita via sosial media. Nah, itulah fungsinya sosial media (dalam hal ini kita menggunakan Twitter) untuk kasus ini hahaha.

Bagi yang mau ikutan, silahkan mention @tuteh @ilhamhimawan @IndahJuli dan @f_nugroho dan juga @indobrad :) hehehe. Cantumkan juga dengan link postingan blog, ya. Sekali teman-teman ikutan perang tanpa mesiu ini, kalian masih boleh berhenti. Maksudnya; kalian bisa saja tidak meng-update blog. Kembali pada ketersediaan waktu, kesenangan, dan keinginan untuk berbagi. Seperti saya bilang; kembali ke fitrah, kembali ngeblog. Lebih rajin menulis di blog, lebih banyak cerita yang kita bagi pada orang lain dan siapa tahu tulisan kita justru menginspirasi pembaca. Dengan perang tanpa komendan ini, mau tidak mau kita kembali jalan-jalan di kampung blog alias blogwalking! Hehehe. Simpeeeeeeel saja, teman.

Demikian, saya sudah membalas tembakan Babang yang sepagi tadi notifikasinya masuk di mention Twitter saya. Aye!


Wassalam.

Thursday, September 19, 2013

The Sitter; Sebuah Tanggung Jawab


Bukan karena sombong saya memilih stasiun televisi luar untuk dikonsumsi; meski tidak 24 jam berhadapan dengan layar kaca. Stasiun televisi luar (luar Indonesia) minim iklan dan tidak lebay. Itu yang membuat saya lebih suka berlama-lama pantengin Fox, Fox Crime, Fox Movies Premiere, StarWorld, atau Cartoon Network. Biaya tv kabel yang harus saya bayar setiap bulan berbanding lurus dengan kesenangan akan hiburan setelah letih beratifitas. Bayangkan betapa stress-nya saya ketika beban pekerjaan menyita begitu banyak perhatian, tenaga, dan pikiran, pulang ke rumah menonton infotainment, atau ajang pemilihan bakat dengan kuadran komentar-dari-komentator lebih tinggi ketimbang penampilan orang-orang berbakat tersebut. Booo!

Pilihan saya untuk menonton Fox jauh lebih tinggi dari Fox Movies Premiere (FMP) atau Fox Crime (demi Tuhan, saya hidup bersama tiga stasiun televisi itu hahaha). FMP lebih banyak menayangkan film-film lama dan terus berulang hingga akhir bulan. Tetapi pada siang itu saya terpaku pada FMP menonton sebuah film keluaran tahun 2011 berjudul : The Sitter.

The Sitter adalah film komedi yang bercerita tentang seorang mahasiswa bernama Noah yang hidupnya lebih sering diisi dengan masalah (demi masalah). Tubuhnya yang tambun menyebabkan ia sulit mendapat pacar dan dibodohi oleh seorang perempuan pemakai narkoba--yang kemudian akan sangat menyusahkan si Noah. Pada suatu malam mendadak Noah menjadi babysitter by accident. Maksudnya, demi kelangsungan asmara Ibu-nya yang baru saja mendapat pacar lagi setelah lama menjanda, ia rela menggantikan tugas menjaga 3 anak kecil. Tanpa persiapan, Noah menjalani malam yang penuh kisah antara cinta, hasrat, tanggung jawab, dan psikologi anak-anak.

3 anak yang dijaga oleh Noah punya pribadi unik. Putra sulung ternyata homo. Putri bungsu terobsesi dengan kehidupan malam a la ABG padahal usianya di bawah 10 tahun. Putra angkat sangat suka bermain-main dengan petasan. Dan pada malam Noah menjaga mereka, si pacar yang pemakai narkoba itu (yang tidak menyintai Noah) memintanya mengantar kokain ke lokasi pesta. Kocak? Iya! Karena Noah harus membawa serta 3 anak bermasalah yang sedang dijaganya itu. Ampun, saya ngakak sampai tertidur-tidur di sofa hahaha. Film yang disutradarai oleh David Gordon Green ini boleh jadi pilihan mengisi liburan, atau saat Anda sedang ingin bersantai di depan televisi hehehe.

81 menit kemudian The Sitter pun usai. Film yang dirilis 9 Desember 2011 ini menanamkan banyak moral of the story untuk saya : sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab menjaga 3 anak kecil, tanggung jawab pada perbuatannya, tanggung jawab pada keputusannya menjadi baby sitter dan memberikan kesempatan pada Ibu-nya untuk mengenal cinta dan membuka lembaran baru. Saya berpikir apakah saya juga bisa seperti Noah yang mau mengorbankan kesenangan demi Ibu? Apakah mau mengorbankan mental anak-anak kecil demi kesenangan saya pribadi? Betapa Noah memberi semangat pada putra sulung bahwa menjadi homo itu tak perlu malu karena pada saatnya nanti semua dapat dipahami.

Lebih dari itu, bagaimana seorang Noah menemukan jati diri dan cinta sejati. Bahwa cinta sejati tidak datang dari perempuan yang selama ini dikejar-kejarnya melainkan datang dari seorang teman SMA yang selama ini hanya berani menatapnya dari jauh karena malu untuk bertegur sapa. Noah, dengan rasa minder itu, dalam semalam mampu membangkitkan kembali rasa percaya diri yang super ... bahkan untuk berhadapan dengan lelaki tukang selingkuh (ya, dia pegang kartu As-nya) hahahaha.

Di dunia ini ada begitu banyak film dengan moral of the story yang dapat kita petik. Jangan memandang sebelah mata film-film yang tidak Anda sukai karena bisa jadi dibalik itu ada pesan-pesan hidup yang akan membuat mata Anda terbeliak. Itu benar ... damn, itu benar!



Wassalam.

Wednesday, September 18, 2013

Cerita dari Kamp Pengungsi



Teman, postingan sebelumnya bercerita tentang Uniflor's Family Day. Bahwa dalam kegembiraan kami kemah di tepi Pantai Enabhara, Yapertif pun menggelontorkan dana Rp 20.000.000 untuk para pengungsi di tiga desa yaitu Desa Mausambi, Desa Jitabewa, dan Desa Niranusa. Saat saya pergi ke Desa Mausambi untuk konfirm ke Mama Muna (Koordinator Pengungsi), banyak cerita yang bergulir dalam obrolan kami.

Hari itu anak-anak pengungsi yang berasal dari Desa Lidi, Kecamatan Pulau Palu'e, memperoleh beasiswa dari PNPM. Mereka didata oleh Om Patris Raga (Koordinator Pengungsi Desa Aewora) untuk kemudian diberikan beasiswa. Wah menarik sekali ini. Saya pun masih bertahan untuk berbincang dengan Mama Muna.

"Kami jengkel dengan anak-anak pengungsi yang di Desa Jitabewa, masa mereka lempar motornya Guru dengan batu?" tutur Mama Muna.

Wah, saya hanya bisa menghela nafas panjang. Kondisi sekarang berada di kamp pengungsi dan membutuhkan banyak bantuan baik itu bantuan sembako, pemulihan trauma, sampai dengan pendidikan. Kenapa motor seorang Guru dilempari batu? Seharusnya bila tidak mau sekolah, jangan motor pendidik yang dijadikan korban. Bukan begitu? Maaf bila saya salah :D

Pendidikan masih menjadi isu terbesar negeri ini selain kemiskinan dan keterbelakangan. Seharusnya anak-anak diarahkan tentang pendidikan. Setidaknya mereka memperoleh pendidikan yang layak : SD, SMP, dan SMA. Dalam salah satu wawancara saya degan peserta KKN yang ditempatkan di Desa Mausambi, Rusmini (peserta KKN dan PPL terpadu) mengatakan bahwa kesulitan terbesar mereka saat berada di kelas adalah berhadapan dengan murid-murid dari Pulau Palu'e, "mereka tidak bisa berhasa Indonesia dengan baik, Kak."

Bahasa itu paling utama di dunia. Tanpa bahasa bagaimana kita mempelajari ilmu pengetahuan lainnya? 

Semoga cerita tentang anak-anak yang melempari motor Guru dengan batu tidak terjadi lagi. Ini hal yang paling prinsip buat saya : tidak merugikan orang lain (apalagi seorang Guru). Semoga ada banyak orang di luar sana yang menyadari tentang perkara ini.


Wassalam.

Monday, September 16, 2013

Uniflor's Family Day

Pantai Enabhara, Taken by Mario

Saya bekerja di Universitas Flores (Uniflor) Ende sejak Januari 2011. Memang belum lama saya bergabung di Uniflor, tepatnya di Lembaga Publikasi, tetapi rasanya seperti sudah lama berada di sini. Kekeluargaan yang tinggi, yang selalu diutamakan, itu yang membuat saya begitu betahnya bekerja di Lembaga Publikasi. Suasana kerja yang kondusif yang membuat saya merasa kantor sebagai rumah kedua. My real second home huehuehue. Soalnya jobdesk saya saat ini sesuai dengan empat hobby : menulis, memotret, meliput ke luar daerah (artinya jalan-jalan hahaha) dan radio. Lagi pula saya juga ditempat sebagai tim kreatif yang diperbolehkan mendesain ini itu meskipun desain saya tidak bagus. Hehehe. Proses belajarnya tidak pernah berhenti sedikit pun.

Uniflor sering mengadakan kegiatan outing seperti piknik bersama dosen dan karyawan. Kegiatan ini menurut Bapak Dr. Laurentius Gadi Djou, Akt. (Ketua Umum Yayasan Perguruan Tinggi Flores) harus dilakukan untuk mempererat tali silaturahmi antara dosen, karyawan dan keluarga masing-masing. Kami pernah piknik bersama di Pantai Nagekeo. Kami juga sering menjadikan momen jalan pagi di Sabtu pagi sebagai ajang lebih mengenal satu sama lain. Kalian harus pahami, ada 4 kampus Uniflor dengan 250-an karyawan (belum lagi dosennya). Itu sangat banyak dan belum tentu setiap hari kami bertemu dengan yang dikampus lain, saya di Kampus IV, belum lagi ada penambahan karyawan-karyawan baru. Ya, kegiatan ini benar-benar mempererat tali silaturahmi kami semua.

Sudah lama rencana ini digaungkan di Universitas Flores (Uniflor). Rapat perencanaan dan kepanitiaan pun dilakukan. Masing-masing fakultas, lembaga, juga unit, wajib terlibat. Kegiatan ini : UNIFLOR'S FAMILY DAY. Kami berkemah di lokasi terkeren yaitu Pantai Enabhara, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende. Hampir setiap minggu saya ke sana untuk mengantar bantuan pengungsi bersama Flobamora Community. Tapi berkemah? Belum pernah! Yuk!

Mr. Leslie, dosen volunteer asal Kanada

Akhirnya Sabtu siang saya pun berangkat ke sana bersama Mam Poppy Pelupessy, Mila Wolo dan seorang dosen volunteer asal Kanada : Mr. Leslie Campbell. Rombongan lain telah berangkat lebih dulu : truk, bis, mobil, motor. Kami telat jadi ya ... menyusul. Tetapi ternyata kami berhasil menyusul rombongan karena ada sedikit masalah di salah satu ruas jalan : dua mobil beda arah menghalangi jalan karena salah satunya 'nyangkut' di lubang yang besar! Kami yang pakai motor bisa lewat duluan. Itulah kenapa sebabnya saya lebih suka pakai motor karena lebih fleksibel, selan karena saya mabok kalau naik mobil hahaha.

Tiba di Sokoria seperti biasa saya mengajak Mam Poppy dan Mr. Leslie mampir ke rumah Kak Teny Bata (kakak sepupu saya) untuk menghangatkan perut dengan kopi panas. Mila yang diboceng Om Iksan sudah lebih dulu meluncur ke lokasi. Hampir satu jam kami di Sokoria : ngopi-ngopi, dibikinkan sandwich sama Kak Teny, makan mie goreng, dan ngobrol bersama Om Lamber (suami Kak Teny). Menyenangkan mengobrol bersama Mr. Leslie karena orangnya juga familiar dan tidak sungkan-sungkan bergaul. Keren deh pokoknya.


Kami melanjutkan perjalanan dan tiba di lokasi kemah sekitar pukul 17.00 dan langsung pasang tenda. Pihak Uniflor menyediakan 3 tenda besar dan 2 tenda kecil untuk menampung dosen, karyawan, beserta keluarga dan teman-teman. Tetapi peserta juga boleh bawa tenda sendiri kok. Om Apo, suaminya Yudith, membawa 1 tenda lagi untuk kami. Asyik sekali. Tenda ini keren, memuat saya, Mam Poppy, Kak Yo, Kak Asti, Mam Uli dan Torez (anaknya), juga Selvi. Asyik kan? Usai memasang tenda, sunset pun datang. Aih Maaaaakkkk! Itu bikin bahagia sekali jalan hahaha. Langsung lari ke tepi pantai (banyak anak-anak yang sedang mandi laut), dan jepret sana sini, berusaha menangkap momen sunset di Enabhara.


Malamnya kami pergi mandi di Maurole, di rumah salah seorang teman dari Pak Yance Luciany. Naik mobil pick up yang ada tempat duduk di bagian belakang itu. Ah senang sekali. Sebenarnya ada 2 kamar mandi yang disediakan oleh panitia tetapi karena kebutuhan manusianya juga banyak dan kebetulan Om Ito Ubas bersedia mengantar ya kami pergi juga hehehe. Setelah mandi kami kembali ke perkemahan. Suasana sudah ramai. Listrik sudah dihidupkan, lampu-lampu menyala, musik terdengar, banyak yang nongkrong di pantai, ada juga yang bermain kartu, ada yang menyiapkan proses pelantikan pengurus Dokar (Dosen & Karyawan) yang baru. Sebuah organisasi intra kampus.

Pukul 22.00, setelah makan malam bersama, acara pun dimulai. Acara dibuka oleh MC : Mam Poppy dan saya. Sedikit guyon menghangatkan suasana. Acara pertama adalah pembacaan SK Pengurus Dokar yang baru oleh Melisa dilanjutkan dengan penandatanganan SK dan pelantikan. Biasanya orang pelantikan gitu di ruangan pakai pakaian resmi, kami di pinggir pantai pakai celana pendek juga boleh hahaha. KEREN sekali deh! Selamat Om Ismail Langga yang menjadi Ketua Dokar terpilih. Setelah penandatanganan SK acara dilanjutkan dengan do'a oleh Pastor yang datang dari Ende dan api unggun. Ini yang ditunggu-tunggu. Api unggun dinyalakan oleh Pak Lori dan diiringi dengan nyanyian Kemesraan oleh seluruh orang yang ada di Pantai Enabhara malam itu. Aduh, Mak! Air mata mau menetes rasanya! Ini, sekali lagi, KEREN!

Ada 1 acara susupan yang tidak diduga hahaha. Mam Poppy memang keren ide-nya. Mam Deti Bere, personil Double L, diminta maju ke tengah-tengah arena. Ah aaa Mam Deti ultah loh! Maka siraman air laut pun berdatangan dan ditambah pula dengan penyerahan kue pasir hahaha. Aduh eeee kalo saya bilang kico-kaco yang bikin bahagia tiada tara. Sony, pemain organ, memang keren dan tahu saja mau-maunya kami semua padahal TANPA LATIHAN.


Vocal Group : KOBER

Usai api unggun dan acara susupan itu, sesuai rencana, acara dilanjutkan dengan penampilan oleh 5 finalis Lomba Vocal Gourp Islami Uniflor 2013. Ada kami dari Double L (Lembaga-Lembaga), FKIP, KOBER, Teknisi dan Yayasan. Tampil pertama dari Kober. Mereka menyanyikan lagu daerah (semua harus lagu daerah) yang menghentak dan bikin kaki bergoyang. Kami pun tanpa dikomando lagi langsung terjun ke arena untuk bergoyang. Pemimpin Ja'i, Pak Lori, bahkan mengajak para penari dadakan ini keliling api unggun. Hahaha. Riang gembira pokoknya. Setelah itu tampil lah kami dari Double L membawakan lagu Gemufamire dari Maumere itu. Ah, keceriaan berlanjut! Bahkan Pak Lori mewakili Yayasan membawakan lagu Terajana hahaha. Setelah itu FKIP pun bikin heboh dengan medley lagu-lagu daerah yang bikin kaki gatal pengen goyang terus. Terakhir, dan paling bikin saya menggila, adalah penampilan Teknisi yang bernyanyi Lagu Santai yang reggae itu. 

Ini adalah THE REAL BEACH PARTY!

Saya tidak menyangka acaranya akan sekeren ini. Acara dan musik masih berlanjut. Saya, Mam Poppy, Kahar, Kak Didi da Costa, juga adek Mario memilih untuk duduk di pantai, menonton lukisan alam kala malam. Bulan dan pantulannya di laut. Karang-karang di pasir Enabhara itu sesuatu heuheuehue.

Pukul 02.00 mata saya pun kalah. Masuk tenda dan tidur. 

Keesokan paginya, Minggu, teman-teman yang beragama Katolik mengikuti Misa di pinggir pantai. Mak, kalian pernah? Pasti belum! Dan alangkah menyenangkannya hehehe. Sementara itu saya yang Muslim dan Mam Poppy yang Protestan pergi mandi ke Desa Mausambi di rumahnya Mama Muna (koordinator pengungsi). Di sana setelah mandi dan ngopi (dan saya pun makan), kami kembali ke perkemahan. Usai Misa, acaranya adalah makan pagi. Setelah itu anak-anak cebur ke laut dan dilanjutkan dengan permainan anak-anak dipimpin oleh Kak Didi. Sementara itu yang lain segera menuju Desa Aewora untuk bertanding volley bersama penduduk setempat. Saya sendiri bertemu Nurdin IHF dan menemani mereka mengantar bantuan ke Desa Aewora. Setelah itu saya pergi sendirian ke Desa Mausambi (lagi) untuk memberitahu Mama Muna bahwa agak siangan Pak Lori dan rombongan akan datang untuk mengantar bantuan.


Pukul 13.30 sebelum makan siang, Pak Lori, Ibu Sri, Pak Pius Pampe (Dekan FKIP) dan Pak Kristoforus Je (PR 4) bersama 2 mobil pick up yang memuat bantuan ke 3 desa : Desa Mausambi, Desa Jitabewa, dan Desa Niranusa. Ini yang saya sebut SANGAT KEREN karena selain kami bersenang-senang di pinggir pantai, Yapertif pun menggelontorkan dana Rp 20.000.000 untuk pengungsi di 3 desa tersebut. Itulah sebabnya saat Nurdin berkata bahwa Minggu itu pun tim mereka akan membawa bantuan ke Maurole, saya arahkan ke Desa Aewora saja. 

ALHAMDULILAH ... semoga diberkahi ALLAH SWT. Amin.

Akhirnya saya pun kembali ke Desa Mausambi karena sudah berjanji pada Mam Poppy, Kak Yo, dan Kak Hans untuk pulang bertolak dari sana. Kami makan siang nasi jagung dari Mama Muna dan racikan ikan jele yang enak dari Mam Poppy. Siap pulang? SIAP!

Tiba di Ende sekitar pukul 17.00 dan langsung tepar hahaha. Terima kasih Tanta Sia yang sudah menjaga Mamatua selama saya tidak berada di rumah dan juga telah menyediakan teh panas untuk saya dan Mam Poppy. Menolong perut dari rasa dingin yang menyerang.


Uniflor's Family Day menyisakan tawa yang tak pernah habis.
Menyisakan kesenangan yang kami bawa di otak kami bahwa keluarga Uniflor merupakan keluarga besar yang luar biasa besar dengan ragam manusia di dalamnya tetapi punya satu tujuan : saling mengenal lebih dekat karena kami adalah saudara, kami adalah keluarga.

Semoga bantuan untuk pengungsi pun membawa manfaat yang baik tidak hanya bagi pengungsi tapi juga keberkahan bagi kita semua.

Semoga pengurus Dokar yang baru pun dapat bekerja dengan baik, dan bermacam kegiatan yang menyenangkan dan menyehatkan huehuehue.

Semoga Om Apo Tupen masih mau meminjamkan tendanya untuk acara berikutnya oleh Flobamora Community hahahah :D

Demikianlah kisah Uniflor's Family Day. The real beach party hahaha. C ya!


Wassalam.


Tuesday, September 10, 2013

Pelatihan Blog, Nobar & Diskusi

Foto Bareng Flobamora Community & AkMer Ende

Sudah lama saya mengenal perempuan tangguh ini. Namanya Erick tetapi saya lebih suka memanggilnya dengan Bu Ibnu. Ya, suami beliau adalah mantan Kepala Lembaga Publikasi Uniflor; Pak Ibnu, yang saat ini mengabdi di Denpasar sebagai Om**** (karena saya kuatir salah nulis) hahaha. Dari Pak Ibnu lah saya mengenal Bu Ibnu. Saat itu saya diikutsertakan dalam studi banding ke Radio Swaragama, Jogja oleh Lembaga Publikasi Uniflor dan pada beberapa kesempatan dipertemukan dengan Bu Ibnu.

Awalnya hubungan saya dan Bu Ibnu memang tidak terlalu akrab tetapi kemudian kami menjadi akrab berkat ajakan Bu Ibnu pada saya. Iya, saya diajak untuk turut menjadi panitia lokal kegiatan workshop Akademi Merdeka (Ende) di Hotel Grand Wisata selama 3 hari. Mari kita singkat dengan AkMer Ende. So, sebagai panitia lokal (kala itu di bulan Juni 2013) saya sendiri juga baru balik dari Jakarta kegiatan workshop sutradara Linimassa3, juga mengikuti kegiatan workshop dari Balai Taman Nasional Kelimutu dan National Geographic. Kali itu saya benar-benar merasakan efisiensi kerja ketika panitia lokalnya hanya dua orang. Ternyata bila masing-masing menempatkan diri dan melaksanakan perannya dengan baik, segalanya menjadi lebih mudah.

Berawal dari keinginan untuk memajukan NTT, yang sama dengan niat Flobamora Community, maka saya menyambut baik ajakan Bu Ibnu untuk terus menghidupkan AkMer Ende. Salah satu caranya adalah dengan melakukan kegiatan berkesinambungan agar tali silaturahmi tidak putus dengan anak-anak AkMer Ende tersebut. Pantai Ria, pisang goreng, ubi goreng, teh panas, adalah teman kami ketika merundingkan kegiatan. Sounds 'just a game that we playing' but it's so serously. Kami memang nampak bak dua orang yang hanya sekadar mengobrol di Pantai Ria, menikmati sunset, tetapi sebenarnya apa yang kami bahas begitu seriusnya hahaha.

Akhirnya kami memutuskan untuk bekerjasama antara AkMer Ende dengan Flobamora Community.

Hari Sabtu, 7 September 2013 yang lalu Flobamora Community bekerja sama dengan Akademi Merdeka Ende mengadakan kegiatan "Pelatihan Blog, Nobar Linimassa 2, dan Diskusi". Kegiatan ini berlangsung di Aula Telkom Ende yang difasilitasi oleh Pak Hasyim dan Ilham Himawan. Sementara itu untuk pesertanya adalah anggota Akademi Merdeka Ende Angkatan I.

Hanya ada satu kalimat yang paling suka saya katakan di sini ...
"Step by step we can change the world, start from our home ... start from our brother and sister to #NTTCerdas! Blog salah satunya, karena dengan blog kita akan terbiasa membaca dan menulis. That's the point."
Teman-teman, atau adik-adik, dari AkMer Ende sejumlah 12 orang ikut menjadi peserta kegiatan ini. Apa yang paling menimbulkan semangat saya? Itu, antusiasme. Ketika peserta menunjukkan betapa tertariknya mereka dengan materi yang kita bawakan, in case ; blog, maka saya semakin menggebu-gebu ingin mereka berkarya lewat blog. Kakak Ilham menyebarkan virus kebajikan tentang betapa blog itu selalu punya lebih banyak nilai positif dari negatif. Kakak Djho Izmail pun turut membantu peserta; kesetiaan dan kesabarannya lolos uji! Kakak Fauwzya pun turut sibuk menyediakan es buah untuk kami semua di siang yang panas itu. Dan hadir pula Irwan, dokter Said dan Kakak Fandy.

Kegiatan ini juga didukung oleh PT. Telkom Ende, yang menyediakan fasilitas berupa Aula, infocus, dan koneksi internet WIFI ID yang keren. Terima kasih kakak Ilham Himawan yang telah bersusah payah membantu peserta agar koneksi internetnya tetap jalan, tetap aye! Dengan keadaan ini saya optimis langkah kita untuk #NTTCerdas dapat terwujud meski kita harus tertatih. 

Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti begitu saja. Peserta masih mau diajak untuk berkegiatan lagi misalnya dengan pelatihan menulis dan konten blog yang menarik. Amin.

Sampai ketemu di kegiatan selanjutnya, ya!


Wassalam.