Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Monday, October 28, 2013

#SaveKotaTuaKupang



Kediaman Residen Kupang (1870 - 1910)
Gambar diambil dari Wikipedia

Dalam rangka pra-event besar HUT Flobamora Community yang ke-5 pada tanggal 31 Januari 2014 nanti, bermacam kegiatan telah diwacanakan, mungkin juga telah menjadi rencana yang perlu digodok hingga matang, oleh FCers seluruh NTT. Ya, mungkin tidak semua FCers terpeta di NTT yang luas ini tetapi di beberapa kota semangat pra-event ini mulai terasa seperti di Kupang, SoE, dan Ende. Tiga kota di NTT ini lah yang menurut pendapat pribadi saya, sangat kental nuansa ke-blogger-annya *apa coba bahasanya*

Di Kupang, FCers mulai menyusun kegiatan-kegiatan mereka seperti yang sering dibahas di inbox bersama di Facebook : Save Kota Tua Kupang dan Klinik Menulis. Kalau saya ceritakan semuanya, tidak cukup satu postingan saja, karena SoE pun akan menggelar kegiatan pra-event juga, hahaha. Yang sangat menarik perhatian saya adalah Save Kota Tua Kupang dalam hashtag #SaveKotaTuaKupang.

Blogger dan komunitasnya, tanpa disadari, merupakan sekelompok orang yang mempunyai visi dan misi untuk memajukan daerah mereka. Pemikiran-pemikiran jenius, ide-ide kreatif, dan gerakan-gerakan positif. Sebut saja Flobamora Community, komunitas ini telah mencetak garis-garis track-record yang luar biasa. Sebut saja Angingmammiri di Makassar, komunitas blogger yang mengadakan begitu banyak kegiatan bermanfaat baik itu untuk member maupun orang luar. Sebut saja Plat-M, komunitas blogger di Madura yang telah mengangkat event Karapan Sapi hingga lebih dikenal lagi oleh teman-teman di penjuru Indonesia (mungkin juga ke luar negeri).

Ketika mendengar FCers chapta Kupang hendak menggelar kegiatan #SaveKotaTuaKupang, saya begitu tertarik karena : saya sendiri belum pernah pergi ke Kota Tua Kupang, hahaha. Maklum, setiap kali menginjak Kupang jadwal sudah menanti untuk diselesaikan dan yaaaah terpaksa ujung-ujungnya saya nongkrong di Taman Nostalgia menikmati nasi goreng atau semangkuk bakso *kasihan sekali*. Sementara itu, saya sendiri punya minat yang sangat besar pada hal-hal peninggalan sejarah, atau yang berbau wisata, atau yang unik. Kota Tua Kupang! Itu yang membikin saya penasaran setengah mati. Kapan saya akan pergi ke sana? Kota Tua Jakarta (Batavia) saja telah saya jejaki, masa Kota Tua Kupang belum? Ya ya ya, Insya Allah next trip to Kupang deh.

Saya penasaran seperti apakah Kota Tua Kupang? Apakah di sana ada pusat museum? Apakah banyak bangunan bersejarah peninggalan Belanda/Jepang? (Eh, bangsa Indonesia belum pernah dijajah Rusia ya :D hahahah jadi ingat foto bangunan-bangunan cantik di Moskow). Seperti apa suasana di sana? Banyak kah penduduk lokal yang meraup keuntungan dengan berusaha di sana? Itu semua mendekam di dalam benak saya. Sumpah, saya ingin sekali bisa pergi ke sana dan membuktikan sendiri apa yang saat ini sedang saya pikirkan hehehe.

Saya sangat mendukung gerakan #SaveKotaTuaKupang karena itu merupakan bentuk kepedulian kita terhadap warisan tanah kita. Bila bukan kita yang melakukannya, siapa lagi? Menyelamatkan Kota Tua Kupang dari apa pun yang mengancam, sudah seharusnya menjadi tugas kita bersama. Kita semua! Bukan hanya teman-teman yang berada di Kupang saja. Sama seperti kita yang di Ende bicara soal Situs Bung Karno, itu bukan hanya milik kita, tapi milik semua rakyat Indonesia.

Bagaimana dengan FCers chapta Ende sendiri? Ya, kami juga akan melakukan ragam kegiatan pra-event besar nanti. Semisalnya dengan penyerahan beasiswa, pergi ke kamp pengungsi Rokatenda untuk mengantarkan bantuan Tahap 16, juga beberapa kegiatan lain yang psssttt masih rahasia hehehe.

Berdebar-debar juga yaaaa menjelang HUT Flobamora Community yang ke-5 ini. Karena tampuk pimpinan akan berpindah tangan *cieeee* aye!


Wassalam.

Sunday, October 27, 2013

#HariBlogger



Kemudian saya memutuskan untuk menulis ini karena jari saya sudah sangat marah. Bagaimana tidak marah? Itu tulisan tentang Riung, trip pada 21 Oktober kemarin, HILANG semua gara-gara salah pencet 'delete'. Tuhan, betapa bodohnya saya. Maaf ya, jari ... maaf. Nanti deh saya tulis ulang soal Riung. Sekarang mari kita bahas soal #HariBlogger.

Ya, Hari Blogger! Hari ini media sosial dipenuhi hashtag #HariBlogger karena memang ini Hari Blogger *digampar* hehe. Mengenai bagaimana Hari Blogger itu, silahkan baca postingan Ilham Himawan di sini *klik donk*. Tentang Hari Blogger yang lahir 27 Oktober 2007 dalam perayaan Pesta Blogger. Yang mau saya tulis adalah tentang apa yang telah terjadi setelah saya menjadi seorang blogger. Penting? Penting untuk saya, bila Anda merasa tidak penting huehuehue.

Tahun ini, tepatnya Oktober 2013, genap 10 tahun sayang ngeblog. SEPULUH tahun bukan waktu yang sedikit. Sepuluh tahun, banyak sudah yang saya dapatkan dari menjadi seorang blogger. Bermula dari Mami Yovita Atmadjaja, menarik saya hijrah dari mIRC ke Yahoo!Messenger kemudian blog, yang mengajak saya ngeblog, kemudian saya mulai mengeksplor segala hal dari tubuh Blogger.Com itu. Wah, menyenangkan ketika tulisan kita dibaca oleh orang lain, dikomentari, dan kita pun melakukan hal yang sama pada blog mereka. Bersosialisasi. Tapi intinya ngeblog adalah BERBAGI. Bersosialisasi adalah bonus yang dipetik setelah kita ngeblog.

Apa yang terjadi setelah saya menjadi seorang blogger? Kesempatan terbuka seluas-luasnya bagi saya menjadi saya yang sekarang ini. Mengenal banyak orang baru, orang-orang hebat, berdiskusi, bergabung dengan Blogfam, membentuk Flobamora Community bersama Ilham, Dedy dan PakDe, menulis buku, sampai gila-gila'an (saya sendiri yang gila, orang lain mah waras). Dan yang saya sadari dari sebuah komunitas blogger adalah kami dapat melakukan apa saja (positif, tentu) tak hanya melulu tentang dunia blog atau dunia online. Ini yang saya cari. Satu pintu menuju banyak taman.

So, jika kamu belum ngeblog, ngeblog lah. Jika kamu sudah punya blog tapi jarang update, update lah. Jika kamu lapar, makan lah. Karena blog itu sebuah kekuatan menuju dunia baru *tsah*

Selamat Hari Blogger, teman-teman ... 


Wassalam.


Friday, October 18, 2013

Mencatat

Gambar diambil dari Google

Saya mahasiswa baru *informasi yang tidak penting* dan sedang gemar sekali menulis setiap sesi perkuliahan (kuliah sore - malam). Sebuah binder cukup untuk memuat keras-kertas yang dibutuhkan menyimpan informasi dari dosen masing-masing mata kuliah.

Faktanya : 
Beberapa dosen mengijinkan materi perkuliahan mereka untuk dikopi (soft copy). Sebagian lagi tidak. Tetapi meskipun materi softcopy sudah bercokol di laptop, saya tetap mencatat materi yang sama saat dosen berdiri di depan kelas dan layar infocus sedang menayangkan materi tersebut. Aneh? Iya. Hahaha. Orang lain cari gampang, saya cari susah.

Fakta(nya lagi) :
Saya baru sadar ternyata huruf saya JELEK. Hahahaha *digampar yang baca*

Ada satu dua dosen yang meminta kami untuk mencatat. Tetapi karena segalanya berjalan begitu cepat, dan kemampuan menulis cepat saya akan menghasilkan huruf yang lebih jelek lagi *saya tidak terima! Hahaha* makanya saya lebih suka mencatat semuanya di layanan note Blackberry. Tak peduli kontrak perkuliahan yang menyatakan bahwa telepon genggam dalam bentuk apa pun dilarang beroperasi di kelas *muka polos* Saat waktu luang tiba, biasanya pukul 12.00 di kantor, saya akan memindahkan tulisan di note tersebut ke halaman-halaman yang bersatu di dalam binder. Aneh? Ember!

Kebiasaan mencatat, atau mencatat kembali, sebenarnya sangat menguntungkan. Alasannya? Otak kita secara tidak sengaja belajar dua kali. Itulah sebabnya saya sangat suka mencatat. Dan ternyata saya sangat suka mencatat segala sesuatunya (mungkin karena saya juga sering lupa akan sesuatu). Apakah Anda percaya kalau saya bilang buku-buku tulis yang dulu saya gunakan untuk mencatat curhatan Gomezoner (pendengar Radio Gomezone yang saat ini radionya mati suri), sekaligus solusi yang saya berikan untuk mereka dalam program curhat 'Jujur Aja', masih ada di lemari sampai sekarang. Anda harus percaya karena memang masih ada *yeeee* :D Rajin? Tidak juga. Beberapa hal tidak saya catat kok misalnya saat mimisan, batuk, atau saat saya sedang ngelamun ;)

Ada satu hal lagi yang ingin saya ceritakan bahwa saya juga masih menyimpan sekitar 4 diary jaman dulu dengan tulisan-tulisan aneh itu *telen ludah* Bahkan salah satu diary khusus (diary ini saya namakan Narita) saya tulis tentang serial Friends, saat saya benar-benar jatuh cinta pada Matt LeBlanc. Satu diary lagi dengan logo sebuah perusahaan besar saya namakan : LeBlanc. Sinting :D

Mencatat, suka atau tidak suka, menolong kita sih sebenarnya. Kadang tulisan kita jaman dulu itu menggelitik sampai sangat malu menyadari kita pernah menulis hal-hal remeh seperti : hari ini saya jalan-jalan keliling kota sama angkot ... BO!


Wassalam.

Wednesday, October 09, 2013

Membaca dan Pilihan Bacaan


Saat hunting Ryan Gosling buku di Gramedia Maumere.

Saya suka membaca. Anda juga? Baik sekali saat kita punya kebiasaan membaca. Membaca, jenis buku apa pun, memberi kita informasi tambahan dari informasi yang kita peroleh di bangku sekolah. Sejak masih TK (karena saya sudah bisa membaca bahkan sebelum TK) hingga saat ini saya membaca buku-buku yang dicetak. Sekali dua membaca e-book. Sebenarnya saya ingin seperti Pak Jaf, membaca menggunakan gadget dengan aplikasi tertentu. Tetapi karena gagdet tercanggih saya sekarang ini hanyalah BB yang layarnya kecil-mungil-penyebab-mata-keram jadi saya putuskan untuk tetap membaca buku yang dicetak.

Dulu saya suka melahap semua jenis buku apalagi novel. Maksud saya dengan novel adalah novel bergenre apa pun; teenlit, chicklit, epic, dan lain-lain. Tetapi sekarang saya mulai pilih-pilih ketika dihadapkan dengan setumpuk novel. Novel mana yang mau saya baca? Apakah saya membaca yang ini, atau yang itu?

Kenapa terjadi pergeseran seperti ini?

Saya berpikir tentang hasrat. Ketika membaca novel tema cinta yang mana saya sendiri juga sering menulis cerita tema cinta, hasrat untuk meneruskan ke lembar-lembar berikutnya mulai surut. Seperti kurang tantangan. Padahal, ketika orang membaca tulisan saya, mereka bisa saja bilang, "tulisan macam apa ini? Cerita seperti ini? Please deh!" hehehe. Tetapi ya itu tadi, kemampuan saya menulis seperti itu dan saya butuh bacaan di atas kemampuan menulis saya yang kaki lima ini. Aneh memang! Tetapi begitulah saya.

Dulu, setiap kali berkesempatan pergi ke toko buku, saya akan membeli buku dengan cover paling menarik bertema cinta. Tetapi sekarang beda. Saya akan berkeliling dulu, membaca sinopsis, meletakkan, mencari lagi, sampai saya menemukan buku yang memancing hasrat saya untuk membacanya. Biasanya sekarang setiap kali ke toko buku saya mencari dulu buku-buku yang telah saya catat sebelumnya *karena penasaran dengan review orang-orang*. Kalau tidak, saya akan membeli buku penulis luar yang beberapa bukunya sudah ada di lemari. Dan untuk itu saya butuh menabung juga karena harganya memang mahal hahahaha. Tapi sebanding lah antara menahan hasrat membeli cemilan dengan menabung demi buku-buku yang menurut saya patut dimiliki.

Pengalaman terburuk saya dalam dunia membaca adalah membaca karya Freddy S. seorang penulis muda yang memenangkan sayembara oleh merek cemilan. Itu buruk, teman. Di dalam cerita itu, seorang kakak yang idiot menyumbangkan berliter-liter darah untuk adiknya yang sekarat di rumah sakit. Buruk sekali karena penulis muda tersebut tidak melakukan riset. Sesungguhnya manusia tak boleh menyumbangkan darahnya lebih dari 2 kantong (2 kantong pun itu setelah si manusia dinyatakan boleh mendonor lagi oleh dokter!) dalam kurun waktu 3 bulan. Kenapa si kakak yang idiot ini diperbolehkan mendonorkan berkantung-kantung darah yang mengakibatkan si kakak idiot ini kemudian meninggal? Tidak kah editor juga mempertimbangkan hal ini?

Begini teman, berdasarkan pengalaman menulis saya yang kaki lima ini, menulis novel memang menulis tentang khayalan si penulis. Tetapi novel yang mengikutsertakan perkara-perkara krusial seperti donor darah, nama tempat, tarian daerah, tentang penyakit tertentu (seperti Aids dan HIV) itu tidak bisa seasal-asalnya penulis. Butuh riset juga. Tidak mungkin kan saya menulis : Danau Kelimutu itu terletak di Pulau Sumatera? Tapi mungkin saja saya menulis : di Kota Ende ada restoran bernama Familys meskipun di kota kami tidak ada restoran tersebut. Tidak mungkin kan saya menulis : merangkul orang dengan HIV akan membuat kamu tertular virus itu! Tapi mungkin saja saya menulis : keluarga Zulkarnain tinggal di Kompleks Perumahan Negara, arah selatan Kota Ende.

Lebih baik menulis cerita yang benar-benar khayalan, misalnya cerita-cerita seperti X-Files, Star War, atau Transformers. Xixixixi.

Kembali pada dunia membaca. Dua buku terakhir yang saya baca berjudul 'Amba' dan 'Wanita'. 'Amba' karya Laksmi Pamuntjak. 'Wanita' karya Paul I. Wellman (sedang membacanya). Sementara itu di samping bantal masih ada dua buku pinjaman milik Pak Yan, atasan saya di kantor. Judulnya : 'Matinya Sasando' sebuah kumpulan cerpen karya Sastrawan NTT, dan 'Senja di Kota Kupang' sebuah kumpulan puisi karya Sastrawan NTT. Nama besar para Sastrawan NTT ini memang sebanding dengan tulisan mereka yang wow, luar biasa. Saya berjanji akan membaca keduanya hingga tuntas karena baru beberapa cerpen dan puisi saja yang saya 'intip'. Harus selesaikan dulu 'Wanita'.

Semua tulisan di sini adalah pendapat saya pribadi. Jika Anda tidak setuju, tidak apa-apa dan janganlah saya (yang hanya menulis a la kaki lima) dicaci-maki. Hahahaha.


Wassalam.

Friday, October 04, 2013

Zombie yang IMUT!

Dancing Zombie yang IMUT! Mirip M.J. 

Pada suatu Malam Minggu saya ditegur sama Abang Nanu, "ngapain nonton film kayak gitu? Berulang saja ... dikejar zombie, mengejar zombie, terus ya gitu-gitu saja..." Mungkin itu merupakan kalimat lain dari, "ngapain Malam Minggu di rumah saja? Tir keluar cari angin kah? Pantas usia segini masih sendiri juga..."

*ngakak dulu*

Bukan salah kakak-kakak saya sih bila berkomentar seperti itu. Saat masih SMA pun Kak Didi pernah bilang, "kau ini dasar puber terlambat!" karena setiap Hari Minggu saya nongkrong di depan televisi menonton kartun (yang marathon). Masalahnya adalah kadang-kadang saya ini melawan mainstraimSaya melakukan sesuatu karena SUKA, bukan karena dipaksa atau untuk menyenangkan orang lain.

Oke. Mari kita tengok judul postingan kali ini. Zombie yang IMUT!

Sejak film 'Resident Evil' meneror bioskop-bioskop di dunia, saya mulai merasakan ketertarikan yang luar biasa pada makhluk bernama zombie. Mereka seperti magnet. Betapa tidak tertarik? Hanya lewat gigitan atau cakaran zombie, manusia sehat dapat berubah menjadi zombie pula. Seperti lingkaran setan yang terus melebar dan menguat. Zombie attack! Zombie ada di mana-mana, gara-gara Umbrella Corporation. Manusia harus berpikir keras untuk menghancurkan zombie-zombie tersebut. Dan ingat, sebanyak-banyaknya peluru/senjata tidak akan mempan membunuh zombie bila bukan otak mereka yang dihancurkan. Berhati-hatilah! Kenapa harus berhati-hati? Karena virus yang dapat merubah manusia menjadi zombie bisa saja bersarang di otak kita.

Salah satu parasit yang merubah manusia menjadi mindless, seperti zombie, bernama toxoplasma. Parasit ini menginfeksi tikus, tapi hanya bisa berkembangbiak di usus kucing. Parasit pintar ini menggunakan dua kali jalan; untuk masuk dan berkembangbiak ke usus kucing dia harus masuk ke otak tikus. Masih banyak lagi hal-hal lain menyangkut zombie ini, teman. Mulai dari yang berhubungan dengan dunia kedokteran hingga praktek perdukunan (tidak pakai cabul :P).

Kembali ke zombie. Setelah 'Resident Evil', saya mendengar kabar sebuah serial televisi berjudul 'The Walking Dead'. Para zombie di serial ini disebut Walkers. Mungkin maksudnya : the dead body that can walk around and bite you. Sayangnya waktu itu tidak konsentrasi menonton serial ini dikarenakan keponakan saya lebih suka menonton LBS *duh* mengalah untuk menang.

Zombie Datang, Mari Serang!

Mari tinggalkan 'The Walking Dead'. Kita menuju ke sebuah game produksi 'PopCap' bernama 'Plants vs Zombies'. Permainan ini luar biasa memuaskan hasrat menghancurkan zombie, lantas merasa jadi penyelamat dunia. Berulang-ulang saya memainkannya dan tidak pernah rasa bosan menyerang. Permainan ini saya sebut sebagai : permainan yang sukses memikat hati saya *najong*

'Resident Evil', 'The Walking Dead', Plants vs Zombies, what's next? Ada! Sebuah film berjudul 'World War Z(ombie)' yang diperankan sama Brad Pitt. Jangan berharap bertemu zombie yang lambat dan agak ngongo di film ini. Semua zombie menggila! Mereka agresif dan bergerak seumpama pelari cepat. Ampun! Bagaimana bisa? Ya, bisa. Namanya juga film :P Dan satu hal yang saya catat dari film ini adalah bahwa zombie itu mengejar/memangsa manusia sehat. Makanya di akhir film semua manusia disuntik macam-macam virus/penyakit. Ketika zombie tidak mendeteksi adanya inang/manusia sehat maka mereka tidak akan mengejar (mengejar kau, teman). Ya ampun ... gitu banget.

Setelah lama berselang, kini 'The Walking Dead' re-run di stasiun luar yaitu Fox. Khusus untuk session 2 dan session 3. Akhirnyaaaa puas-puasin saya memanjakan diri menonton Walkers setiap malam minggu selama TIGA JAM! Itulah kencan yang tidak bisa saya tinggalkan dan menyebabkan Abang Nanu dan Mbak Wati berkomentar seperti paragraf pertama di atas. Mbak Wati bahkan ngeri waktu saya bilang, "Zombie yang imut! Lucuuu ..."

GUBRAK!

Rupanya re-run 'The Walking Dead' tersebut merupakan re-opening dari kelanjutan serial keren tersebut! Session 4! Bagi kalian pecinta zombie, seperti saya, jangan lewatkan tanggal 20 Oktober nanti saat session baru tersebut dimulai di Fox Movies Premiere. Wah, ini bahaya. Saya pikir di Fox ... maklum sinyal Fox Movies Premiere suka kacau (tergantung sama yang nonton apa sudah mandi atau belum, hahaha :D), beda sama sinyal Fox yang stabil. Mari berdo'a semoga tanggal 20 Oktober segalanya lancar jaya. Karena itu saya juga butuh persiapan untuk menyambut Walkers seperti minuman, cemilan, cepuluh, cebelas :D xixixix.

Bagaimana? Zombie memang imut kan? Saking imut-nya kita jadi bernafsu buat membunuh mereka ... untuk kedua kali. Dan kalau kalian penasaran, zombie imut dapat dilihat di permainan Plants vs Zombies *muka polos 29inch*


Wassalam.

Wednesday, October 02, 2013

Karya Jenius dari NTT

Pernikahan Iwan dan Reni (Keponakan saya).
Paling kiri : Kak Ninik dengan Lawo Lambu, khas Ende.
Kedua dari kanan : Reni dengan Lawo Lambu modifikasi.
Ohya, paling kanan itu Kak Didi (Kakak saya yang paliiiiing :D)

Saya menyebutnya karya jenius dari NTT. Proses untuk menjadikannya lembaran-lembaran cantik tidak bisa dibilang mudah. Dalam sejarahnya tenun ikat di Kabupaten Ende (dari buku Pariwisata yang saya baca), orang dulu menggunakan kulit pohon sebagai penutup tubuh. Digivolve (apa coba :p), maksud saya metamorfosis yang signifikan menjadikannya terlihat seperti sekarang ini.

Tanggal ini, 2 Oktober 2013, Indonesia merayakan Hari Batik. Hampir semua Orang Indonesia mengenakan pakaian berbahan kain batik beragam corak. Saya bilang hampir semua karena ada Orang Indonesia yang hari ini tidak mengenakan pakaian berbahan kain batik, salah satunya saya. Alasannya? Karena hari ini saya diijinkan bekerja dari rumah untuk proyek video profile Uniflor *ngikik* Lagipula peraturan di kantor saya tidak ada satu pun yang menyatakan WAJIB MEMAKAI BATIK PADA TANGGAL 2 OKTOBER. Aturan pakaian kerja kami adalah : Batik Yayasan pada Hari Senin, kemeja berkerah pada hari Selasa - Kamis, kaos berkerah pada hari Jumat, pakaian bebas rapi pada hari Sabtu (yang pada Sabtu saya memilih kaos trendi *halah*).

Pada kesempatan ini saya mengacungkan jempol pada Pemda Ende yang menerapkan aturan bagi karyawan/karyawati yaitu : wajib mengenakan pakaian adat Ende pada Hari Senin pertama dalam satu bulan (laki-laki mengenakan Luka Lesu dan perempuan mengenakan Lawo Lambu), dan wajib mengenakan atasan (kemeja, atau stelan bagi perempuan) berbahan tenun ikat setiap Hari Kamis. Kecintaan pada daerah kita dapat berwujud macam-macam bukan? Diantaranya mengenakan tenun ikat dalam berbagai kegiatan.

Di Indonesia ada 2 tenunan khas yang memiliki keunikan : dapat dibolak-balik tanpa ketahuan mana bagian dalam dan mana bagian luar. Dua tenunan khas itu adalah TENUN IKAT dan SONGKET. Di Indonesia ada puluhan pakaian adat pula yang dapat dikenakan pada hari-hari tertentu tak menunggu event. Bila batik menjadi salah satu yang dijadikan momen khusus pada tanggal 2 Oktober, itu bukan menjadi alasan kita untuk tidak memperkenalkan tenun ikat pada dunia.

Mari saya perkenalkan cara membuat tenun ikat. Prosesnya tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Saya padukan dengan informasi dari Wikipedia.

Proses Menenun

Jaman dulu belum dijual benang untuk tenun ikat. Langkah pertama yang dilakukan oleh penenun adalah menyiapkan kapas yang hendak dipakai. Kapas diambil dari kebun mereka sendiri (jadi ingat pohon kepok di samping rumah yang telah tumbang). Kapas dipintal dengan alat tradisional. Waktu itu masyarakat tidak menggunakan benang yang dijual di toko. Hasil dari pemintalan biasanya tidak terlalu halus dan dan berakibat hasil yang tidak simetris pada corak tenun. Meski begitu hal itu yang menyebabkan keunikan tiap tenun sebab tidak ada tenun yang identik sama. Sesudah proses memintal selesai maka dilanjutkan dengan pencelupan benang pada pewarna. Meski tidak semua proses pewarnaan dilakukan ketika masih dalam bentuk benang namun pada umumnya pewarnaan dilakukan sebelum proses menenun. Pewarnaan dilakukan dengan menggunakan daun “Ru Dao” untuk mendapatkan warna nila dan akar pohon “Ka’bo” untuk mendapat warna merah, warna kuning didapat menggunakan kunyit dan daun “Menkude”. Setelah warna meresap dan dibiarkan mengering baru diikat pada mesin tenun tradisional yang dalam bahasa setempat disebut “Lana Her’ru”. Tidak seperti pada tenunan yang umum dijumpai di Indonesia dimana yang diikat pada mesin tenun ialah benang pakan, namun pada tenunan Nusa Tenggara Timur yang diikat ialah benang lungsin. Benang pakan dimasukan secara horizontal terhadap benang lungsin yang telah diikat secara vertical.

Kini proses membuat tenun ikat jauh lebih mudah meski dengan alat tenun yang tetap sederhana/tradisional. Para penenun dapat membeli benang di toko : warna putih, kuning, hitam. Kemudian juga membeli pewarna, satu dua penenun masih menggunakan pewarna asli dari tumbuhan. Proses selanjutnya kurang lebih sama. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk satu lembar tenun ikat tergantung ketelatenan penenun. Antara 1 - 3 bulan. Bayangkan betapa pinggang mereka begitu kuat karena saat menenun pinggang mereka 'menyatu' dengan alat tenun tradisional tersebut. Tenun ikat ini nantinya bisa pula dimodifikasi menjadi baju, tas, topi, dompet, gantungan kunci, sandal, sepatu, dan lain-lain.

Jenius. Corak tenun ikat dan cara membuatnya itu jenius. Hebatnya lagi dapat dipakai bolak-balik alias tidak ketahuan mana bagian dalam dan mana bagian luar. Keren bukan?

Pertanyaan saya sekarang; kapan tenun ikat diekspos besar-besaran? Tak hanya menjadi oleh-oleh 'mini' ketika para pelancong datang ke NTT. Selain saya, kita, tentu dibutuhkan kekuatan pihak lain untuk dapat mewujudkannya. Amin. 

Tidak berharap banyak, apalagi berharap akan ada 'Tenun Ikat's Day'. Tetapi setidaknya anak NTT harus memulai. Mulai mencintai tenun ikat karya daerahnya sendiri. WAJIB!

Tulisan serupa juga bisa diintip di :
Blognya Shanty Josephine.
Blognya Djho Ismail.

Wassalam.

Tuesday, October 01, 2013

Membantu Tak Perlu Muluk-Muluk

Yanuar Al

Suatu hari saya di-mention oleh seorang adik, saya panggil adik karena usianya lebih muda dari saya meski tampang saya sendiri masih imut-imut, berakun Twitter @YanuarAl.

Siapa dia? Kenapa dia mention saya? 
Rupanya hashtag #Rokatenda dan #1MugBeras yang wara-wiri di layar timeline Twitter oleh @Flobamorata atau akun pribadi kami, sejak bulan Februari 2013, telah menarik perhatian banyak orang. Yanuar termasuk dalam kelompok orang pertama yang langsung menghubungi saya dan bertanya, "apa saja kebutuhan pengungsi dan nomor rekeningnya, Kak?" Berdasarkan data awal dari kamp pengungsi, kebutuhan utama para pengungsi adalah beras, sedangkan kebutuhan lain adalah perahu motor dan pukat (agar mereka dapat melaut dan memperoleh nafkah meski sedikit).

Suatu hari Yanuar menelepon saya dan bercerita tentang usahanya agar teman-temannya mau menyumbang sejumlah dana untuk bekal membeli pukat dan perahu motor. Meskipun susah untuk memperoleh dana yang sangat banyak tetapi tekadnya tak pernah surut. Pada kesempatan yang lain Yanuar malah mengirimkan sejumlah uang. Via telepon ia berkata, "Kak, uang itu setengahnya buat pengungsi, setengah lagi buat operasional Flobamora Community ke tempat pengungsi karena saya tahu teman-teman semua pulang-pergi dengan dana sendri. Ya lumayan untuk konsumsi dan transportasi ..."

*mau senyum tapi malah nangis*


Saya pikir Yanuar akan berhenti sampai di situ saja. Ternyata tidak. Pengungsi #Rokatenda tetap mendapat bantuan darinya. Dan satu lagi hal yang bikin saya terharu adalah Yanuar mengajak Flobamora Community membantu segelintir anak-anak kurang mampu dalam bentuk beasiswa. Dananya dari Yanuar, Flobamora Community yang mengelola (menyerahkan dana beasiswa kepada anak-anak tersebut dan mengirim laporannya untuk Yanuar). Mak! Orang kayak gini kenapa nggak dibanyakin saja di dunia? Syok. Saya syok dengarnya. Tetapi kemudian saya mengajak teman-teman untuk mencari anak-anak kurang mampu dari beberapa titik di Kota Ende. Terjerat (duh bahasanya :P) SEPULUH anak yang menerima beasiswa tersebut. Setiap bulan menerima Rp.50.000/anak. Sudah berjalan 4 bulan dan akan berlanjut hingga setahun.
Belakangan baru saya tahu itu dana pribadi si Yanuar sendiri.

"Doakan semoga tahun depan ada teman-teman saya yang mau membantu, jadi semakin banyak anak-anak yang terima beasiswa dan mungkin jumlah dananya juga bisa ditambah," kata Yanuar.
Amin ya Allah ... Amin!
*jadi ingat om Bisot dan semua yang telah dilakukannya untuk Flobamora Community*

Minggu kemarin SMAK Syuradikara, SMA ngetop se-NTT bahkan di Indonesia, menggelar acara ulangtahun yang ke 60. Dan Yanuar pun datang ke Ende! Hore! Akhirnya setelah kontak-kontakan via Twitter dan SMS, kami pun kopdar. Malam itu rumah saya ramai sama kopdar Flobamora Community. Di situ lah pertama kali kami bertemu dengan orang yang selama ini membantu pergerakan komunitas kami ini. Rasanya? Menyenangkan. Diskusi-diskusi kami lebih kepada bagaimana membangun NTT lewat langkah-langkah kecil terlebih dahulu, yang nyata. Karena toh percuma bicara setinggi langit bila pelaksanaannya nol. Ternyata pola pikir Yanuar tidak jauh-jauh dari visi dan misi Flobamora Community selama ini : membangun NTT lewat langkah kecil, lewat cara yang kita bisa melakukannya.

Membantu tak perlu muluk-muluk. Maksud saya, membantu tak perlu berpikir tentang, "dananya harus TIGA TRILIUN INI!" karena kalau berpikir terlalu tinggi untuk hal seperti itu, kita justru tidak akan come on let's go alias hanya diam di tempat karena menunggu uang tiga triliun turun dari langit. Hahaha. Dan karena Flobamora Community adalah komunitas independen yang lebih banyak swadadaya dan swadana; kami tak pernah berharap ada sponsor dulu baru bergerak. Ah basi. Percuma kalau ada komunitas yang sepert itu. Bahkan kegiatan kami hanya satu dua saja yang bersponsor alias dibantu oleh pihak-pihak tertentu (Thanks to Internetsehat dan Balai Taman Nasional Kelimutu). Selebihnya? Kami usaha sendiri! Celengan ayam Flobamora Community atau menjual ayam panggang untuk biaya ulang tahun hahaha *kedip-kedip*

Sebuah kegiatan bermanfaat tidak akan mandek hanya karena kepentok dana.

Dari diskusi bersama Yanuar, justru semakin banyak rencana-rencana yang akan dilakukan. Dan semoga diberkahi alias berjalan dengan baik. Sisa tahun 2013 ini Flobamora Community akan serius menyelesaikan dana bantuan untuk pengungsi #Rokatenda sekaligus mengurus beasiswa dari Yanuar. Kemudian kami akan merancang ulang tahun yang ke-5, yang telah ada 2 perkara baik di dalamnya yaitu workshop teknologi (lirik Yanuar) dan workshop Internetsehat & Blog. Donor darah? Insya Allah. Terus ... hmmm ... malam api unggun? Yuk, swadana! Huehuehue.

Jadi demikianlah pemirsah. 3 kali kopdar dengan Yanuar selama ia berada di Ende membuka cakrawala berpikir semakin lebar.

Bila pun Yanuar jengkel karena saya menulis ini ... EPEN xixixixi *kabuuurrr*


Wassalam.