Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Tuesday, November 11, 2014

Too Long I Bingung

Too long, I bingung ...
Bingung karena kenapa kok saya tidak update blog?
Bingung karena kok bisa saya tidak update?
Bingung sadar karena betapa malasnya saya!
Huh!
Baiklah ... mari kembali rajin :D
Dan ... bingung juga kenapa postingan pendek yang maha tidak berbobot ini tidak dilengkapi foto?
Ah ...
;))

Tuesday, June 10, 2014

#TripFCLabuanBajo 6 : Welcome to Cunca Wulang!

Percabangan menuju Desa Cunca Wulang

Kisah #TripFCLabuanBajo sebelumnya silahkan baca postingan-postingan sebelumnya mulai dari Labuan Bajo, Pulau Kanawa, Pulau Rinca, dan Pulau Taka.

Cunca Wulang adalah destinasi wisata berikutnya dari #TripFCLabuanBajo setelah Goa Batu Cermin, Pulau Kanawa, Pulau Rinca, dan snorkling di perairan Pulau Taka. Selasa, 27 Mei 2014, sekitar pukul 10.00 Wita kami sudah tiba kembali di Labuan Bajo dari Pulau Kanawa. Masih ada yang membekas di hati kalau ingat Pulau Kanawa hehehe. Berjalan kaki kami keluar dari pelabuhan, dan duduk mengaso di emper sebuah toko. Mam Poppy segera menghubungi temannya untuk urusan sewa-menyewa motor. Ada tiga motor matic yang kami sewa untuk urusan hari itu.

Karena perut sudah mulai meraung minta diisi akhirnya kami memutuskan untuk pergi makan siang terlebih dahulu. Pilihan kami adalah warung Bangkalan 4 (Abah Turi) yang terletak di depan BNI Labuan Bajo. Pemiliknya adalah adik-adik dari pemilik warung Bangkalan 1, 2, dan 3 yang berlokasi di Kota Ende. Ya dua laki-laki itu adalah Mustakim dan Boy, sahabat-sahabat saya masa SMP dulu. Tidak terasa waktu mempertemukan kami di Labuan Bajo. Usai makan siang Mam Poppy dan Kakak Ilham kembali ke kos-nya Imel untuk mencuci muka dan menyimpan backpack kami. Saya, Mas Sony, dan Kakak Etchon terlibat obrolan seru dengan Mustakim dan Boy. Teringat masa SMP dulu, kami keliling Kota Ende (sampai ke luar kota) dengan sepeda. Dulu belum ada komunitas sepeda tetapi kami sudah melakukan apa yang dilakukan oleh komunitas sepeda *tsah*

Sekitar pukul 12.30 Wita berangkatlah kami dari Labuan Bajo menuju Cunca Wulang. Arah yang kami tuju adalah ke arah Ruteng (Ibukota Kabupaten Manggarai). Jarak tempuhnya sekitar tiga puluh menit dari Labuan Bajo. Kakak Ilham gesit mengendarai motor matic padahal yang diboncengnya ini setingkat gajah hahaha. Tiba di percabangan menuju Cunca Wulang kami pun bergantian (koinnya Kakak Ilham habis, gantian koinnya saya hahaha), saya membonceng. Jalanan yang kami tempuh tidak bisa dibilang mulus karena wow wow wow penuh lubang, berbatu-batu dan sedikit ekstrim. Betapa tidak ekstrim? Kami harus melewati pula sebuah jembatan yang terbuat dari batang-batang pohon. Lumayan nih motor matic yang saya kendarai ... cocok buat jalanan off road *nyengir lebar* Bahkan dalam salah satu episode kami hampir melayang di udara *ngakak roboh*

Jalannya Ekstrim!

Begitu tiba di Desa Cunca Wulang (namanya pun sama dengan tempat air terjun keren itu), saya merasakan sesuatu yang aneh. Oh la la, ternyata benar palang merah privat itu telah datang. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak ikutan ke air terjun sementara teman-teman lain melanjutkan perjalanan. Oia biaya masuk ke Cunca Wulang adalah Rp. 10.000/orang sementara untuk ranger-nya Rp. 50.000/ranger. Satu kelompok biasanya satu ranger. Lantas apa yang saya lakukan di Desa Cunca Wulang? Human interest! Yess.

Setelah dibantu ibu pemilik kios membeli pembalut, memakai kamar mandi dengan air melimpah, saya pun duduk di depan kios sambil bercanda dengan para bocah yang menatap saya seakan saya ini makhluk planet. Kemudian seorang bapak pun menghampiri saya dan kami terlibat obrolan tentang peta politik Indonesia dan Pulau Flores *duileeeeeeeeeeeh!* hahaha. Saya suka dengan cara si bapak bercerita; tidak menggurui, tidak pula bersikap pura-pura bodoh meskipun orang desa. Saya suka caranya mengemukakan pendapatnya tentang para pemimpin daerah dan pemimpin negeri ini. Saat kami sedang mengobrol melintaslah sebuah truk kayu berisi gadis-gadis berjilbab. Cepat saya menyeletuk, "wah, ada yang muslim juga di sini, om?" Dan dengan bangganya si Bapak menjawab, "iya, ada. Saya juga muslim, Bu." Wow. Jadi yang namanya harmonisasi kehidupan umat beragama di NTT itu bekerja di titik mana pun. Saya bangga. Obrolan kami lantas berlanjut pada masa-masa si Bapak masih bekerja di kepulauan (mungkin berdagang) dari satu pulau ke pulau lainnya di Labuan Bajo.

Bocah di Desa Cunca Wulang

Sekitar tiga puluh menit kemudian si Bapak pamit karena ada suatu urusan, dan saya ditemani oleh Ibu pemilik kios, yang kemudian menawari saya kopi. Saat saya bilang merepotkan, si Ibu dengan ramah menjawab, "kita sama-sama orang NTT tidak boleh bilang merepotkan." Uwoh, saya tersentil. Ibu ini mengajarkan saya ilmu hidup yang luar biasa! Obrolan bersama si Ibu juga tak kalah seru, sambil menikmati kopi Manggarai yang enak itu. Kami bercerita tentang adat dan budaya dari masing-masing daerah sampai kemudian Mas Sony menelepon saya. What!?

Perjalanan mereka menuju air terjun, Foto : KK Etchon

Apa yang direncanakan manusia tidak akan terwujud bila tanpa seijinNya. Mami Poppy mengalami cidera kaki setelah berusaha meloncati batu-batu di sungai menuju Cunca Wulang. Baru saja berteriak happy, tau-tau Mam Poppy terjatuh. Walhasil perjalanan mereka pun batal padahal tinggal semenit lagi tiba di air terjunnya hehehe. Mam Poppy dibantu oleh beberapa turis mancanegara pun segera dikembalikan ke pangkalan alias ke kios tadi. Dengan kondisi jalan yang luar biasa sulit, butuh waktu lebih dari satu jam untuk kembali ke tempat saya istirahat, di depan kios itu. Lantas warga desa pun datang, seorang Ibu yang sudah berumur pun memijit kaki Mam Poppy, ternyata dia mertua Ibu pemilik kios. Alhamdulillah katanya tidak ada patah tulang, hanya keseleo saja. Kami pun bersiap-siap kembali ke Labuan Bajo.

Mam Poppy dibonceng ojek setempat yang fasih dengan medan seperti itu, saya sendirian, Kakak Ilham sendirian dan melesat terlebih dahulu karena hendak massage, Kakak Etchon memboncengi Mas Sony. Tiba di percabangan gantian saya memboncengi Mam Poppy pulang ke Labuan Bajo.

Hari sudah mulai temaram. Kami memutuskan untuk pergi ke rumah tukang pijit ternama yang anaknya masih temannya Kakak Etchon. Karena Bapatua ini adalah tukang pijit tulang ternama sehingga kami perlu mengantri di depan pendopo-samping-rumah-nya. Melihat ada seorang bocah usia 4 tahun yang kedua tangannya patah akibat jatuh dari pohon membuat hati saya miris. Tiga puluh menit kemudian Mam Poppy pun ditangani oleh Bapatua. Dengan gaya lucu dan funky, Bapatua ini benar-benar menyembuhkan pasiennya hahaha. Kami sampai tergelak-gelak dibuatnya! Terima kasih, Bapatua, karena telah menolong Mam Poppy. Terberkatilah tanganmu, Bapatua.

Kami pulang ke kos Imel, yang punya kos sudah gelisah menunggu kami tidak muncul-muncul. Usai mandi, kami pun bersantai sementara Mam Poppy dijemput untuk mengunjungi keluarganya, dengan langkah tertatih. Hihihi. Di kos Imel bersama teman-teman ini, rasanya tidak mau pulang. Ingin seperti ini terus; bercanda, tertawa, makan, mengomel, rebutan charger, baku cap, dan seterusnya. Saat Kakak Etchon main ke kamar sebelah, ke temannya, kami yang tersisa justru menghabiskan alpukat, nata de coco, dan susu, tanpa es batu. Jadi ceritanya mau bikin es buah tapi gagal. Acara masih dilanjutkan dengan penyerahan Pemilihan Anggota ter-WOW yang akan menerima Piala Tongsis hahaha *ngakak jungkir balik* roboh lah saya dalam tawa bersama Kakak Ilham, Mas Sony, dan Imel. Wow, kalian sangat wow, kawan.

Imut-imut :D

Akhirnya kami pun harus tidur karena besok pagi harus kembali packing, mengembalikan sepeda motor pinjaman, dan menuju Bandara Komodo.

Cerita lain, tunggu ya :D


Wassalam.

Saturday, June 07, 2014

#TripFCLabuanBajo 5 : Bye Kanawa Island!

Di belakang saya Pohon Kanawa berdiri gagah! Kisah tentang pohon dan Pulau Kanawa akan saya tulis di postingan berbeda.

Selasa, 27 Mei 2014, rangkaian #TripFCLabuanBajo pun kembali berlanjut. Ini adalah hari terakhir kami di Pulau Kanawa dan kami tidak boleh terlalu lama bersantai karena shuttle boat yang akan mengantar kembali kami ke Labuan Bajo akan berangkat pukul 08.00 Wita. Jadi sekitar pukul 07.00 Wita kami berlima sudah mandi, sudah selesai berkemas, dan pergi ke restoran.

Sarapan roti gandum, sramble egg, buah + kopi susu!

Kami berlima memutuskan untuk sarapan out door, di meja-meja yang diletakkan di bawah pohon depan restoran. Suasana sarapan pagi ini begitu heboh karena kami tak mau ketinggalan momen terakhir foto-foto di Pulau Kanawa. Mulai dari foto-foto dengan latar belakang pohon kanawa juga di papan nama tempat ini. Itu hukumnya wajib, cing!

Sarapan bersama keluarga besar yang WOW

Usai sarapan, kami pun melunasi hutang untuk mengajak Kakak Anggi untuk foto bersama. Kapan lagi coba bisa foto bareng manager Kanawa Island and Resort yang keren ini? Di sela-sela kesibukannya melayani tetamu yang hendak check out, Kakak Anggi mengiyakan ajakan kami. Soalnya sesi foto bersama Kakak Anggi kan seharusnya pada malam sebelumnya tetapi karena kami keasyikan ngobrol dan listrik keburu dipadamkan terpaksa mengganggu aktivitas Kakak Anggi di pagi hari deh hihihi. Maaf ya, Kak.
 
Foto bersama Kakak Anggi
 
Oke, sarapan sudah, foto bersama Kakak Anggi pun sudah, foto narsis juga sudah. Shuttle boat akan segera berangkat. Aduh ... ada perasaan tidak rela meninggalkan Pulau Kanawa (Kanawa Island and Resort) dan semua kebahagiaan yang telah kami kecap selama dua hari berada di pulau ini. Kaki saya semakin lama semakin berat menapaki jetty, berharap jadwal pulang ini adalah jadwal yang salah. Katakan ini jadwal yang salah, kakak! Rasanya mau menangis lagi tapi kok jadi keseringa nangis? Cengeng sekali saya ini ternyata!

Semua penumpang telah siap di boat, Kakak Anggi mengucapkan salam perpisahan kepada kami dan berangkat lah kami ke Labuan Bajo! Perjalanan menuju Labuan Bajo sedikit lebih cepat dari perjalanan kedatangan ke Pulau Kanawa. Mungkin karena kondisi laut tidak sedang berombak sedang, lebih terkesan tenang. 

Tiba di Labuan Bajo kami segera pergi ke depan pelabuhan sementara Mam Poppy sedang menghubungi temannya untuk menyewa sepeda  motor. Iya, kawan, hari ini kami punya jadwal ke Cunca Wulang, air terjun keren itu. Oh iya, di depan emper toko tempat kami menunggu datanglah gadis cilik ini sambil bilang, "itu tablet kan? Ada game tidak? Saya main donk, tante!" Adeh anak-anak jaman sekarang ini luar biasa otaknya bikin iri. 

Si anak gaul :D

Akhirnya kami memperoleh tiga sepeda motor sewaan untuk keperluan hari ini. Semuanya, sesuai permintaan, adalah motor matic. Sebelum menuju Cunca Wulang kami memutuskan untuk pergi makan dulu di Warung Bagkalan 4 (Abah Turi). Warung Bangkalan 1, 2, dan 3 berlokasi di Ende. Oia, saya juga sempat hubungi Imel karena ada teman-teman yang mau cuci muka dan menyimpan backpack terlebih dahulu tetapi si tuan rumah sedang pergi ke Pantai Pede, ramai-ramai sama teman kantornya. Pssttt tempat menyimpan kuncinya cukup kami saja yang tahu yaaa hahaha. Bahaya kalau dibocorin. Oia, makan siang kami ditemani oleh dua sahabat saya dan Mas Sony : Mustakim dan Boy. Mereka adalah pemilik rumah makan Bangkalan 4 tersebut. Takim menawari kami kopi. Nah, sambil kami ngopi-ngopi, Mam Poppy dan lham pergi ke kos Imel.

Sekitar pukul 12.15 Wita berangkatlah kami menuju Cunca Wulang. Peta perjalanan kami adalah Kakak Ilham hahaha. Kali ini Kakak Ilham membonceng saya, Etchon membonceng Mas Sony, dan Mam Poppy rock'n'roll sendirian.

Selamat menempuh perjalanan ke Cunca Wulang, Kaka!

Bagaimana kisah selanjutnya di Cunca Wulang? Sabar, kawan ... tunggu posting-an saya berikutnya ya!



Wassalam.

Thursday, June 05, 2014

#TripFCLabuanBajo 4 : Welcome to Taka Island!

Welcome to Taka Island! The Place For Your Healthy Soul :D

Masih pada hari yang sama #TripFCLabuanBajo, Senin, 26 Mei 2014, selesai bertemu komodo di Pulau Rinca, kami pun diajak om kapten ke titik snorkling. Tetapi atas permintaan sendiri, kami ingin snorkling di perairan sekitar gundukan pasir putih yang letaknya berdekatan dengan Pulau Mesa, dan tidak jauh-jauh dari Pulau Kanawa. Sekalian saja makan siang di situ. Ndilalah om kaptennya meng-iya-kan dengan senang hati. Bahkan kami ditawarkan untuk berkeliling Pulau Mesa dan mengenal penduduk setempat. Jarak dari Pulau Rinca ke Pulau Taka sekitar 1,5 jam saja. Ya, waktu tempuh dari Pulau Taka ke Pulau Kanawa pun hanya tigapuluh menit.

Pulau Taka, informasi dari om kapten, memang jarang dikunjungi wisatawan dikarenakan memang bukan lokasi snorkling apalagi diving. Perairannya sangat sangat sangat dangkal tetapi jangan salah, meskipun dangkal kami dapat menonton alam bawah laut yang memukau. Begitu tiba di Pulau Taka dan boat ngetem, kami berlima segera menghabiskan makan siang. Mam Poppy dan Kakak Ilham makan siang di boat sedangkan saya, Kakak Etchon, dan Mas Sony memilih makan siang di pantai dengan kaki terendam air laut, dan sebelumnya memang sudah nyebur duluan karena tidak tahan sama panggilan kesegaran air laut yang begitu bening. Nikmatnya makan siang kami! Oh iya, menu makan siang kami sesuai permintaan adalah nasi goreng dan telor ceplok. Semuanya satu paket Rp. 350.000/orang tur ke Pulau Rinca loh

Makan siang di Pulau Taka :D

Selesai makan siang, perburuan kesehatan mental pun dimulai. Saya, Kakak llham, Kakak Etchon, dan Mas Sony kembali menyatu dengan perairan Pulau Taka. Mam Poppy tetap di boat karena beliau tidak mau mencemari perairan yang bening ini dengan warna merah hahaha.

Picture tells you ...

Seperti yang sudah saya bilang tadi, meskipun perairan di Pulau Taka ini sangat sangat dangkal, bahkan kami dapat berdiri di tengah laut dengan tinggi air sebatas lutut, tetapi pesona bawah lautnya tidak bisa dianggurin begitu saja. Sudah sering saya snorkling di Riung yang perairannya cukup dalam, tetapi sensasi di tempat ini memang beda. Belum berapa meter lepas pantai, kami sudah dapat menikmati terumbu karang dan ikan-ikan yang berenang indah. Bermacam ikan ada di sana, tetapi saya tidak tahu nama-namanya hahaha paling-paling yang saya ingat itu ada ikan layang-layang. Ada juga tuh ikan mini berwarna biru yang seperti benderang di dalam air.

Pulau Pribadi :D

Snorkling memang membuat kami lupa waktu, bahkan kami sampai-sampai tidak jadi pergi ke Pulau Mesa hahaha. Tapi tidak mengapa, itu adalah peringatan bahwa kami harus kembali melakukan kembali perjalanan ini berlima, atau bahkan bersama-sama anggota komunitas yang lain, untuk dapat berkunjung ke Pulau Mesa. Semakin banyak orang, semakin seru!

"Ayo, Kakak Ilham, kita sapa ikan-ikannya!"

Sekitar dua jam kami bermain-main di Pulau Taka. Saat duduk di pasirnya, Mas Sony bilang, "Ncim, ini ada koral warna merah yang sudah hancur bercampur dengan koral putih. Mungkin ini ya yang membentuk Pink Beach di Pulau Komodo." Setelah saya perhatikan, pasir Pulau Taka sebenarnya tidak putih semuanya melainkan pink. Hehehe. Tuh kan, kalau mau eksplor, berasa kami sudah berada di Pantai Pink yang ngetop di Pulau Komodo itu.

Huft :D

Baiklah, baiklah ... sudah cukup membuat teman-teman iri *digampar* pokoknya bagi kalian yang ingin tahu informasi tentang tempat ini silahkan colek saya di Twitter @tuteh ya, sebisanya akan saya jawab.

Sudah selesai snorkling, mari kita kembali ke Pulau Kanawa! Perjalanan kembali ke Pulau Kanawa singkat saja. Begitu tiba, bukannya membasuh diri, kami malah berleha-leha di bale-bale dan menonton wisatawan snorkling. Saya sudah lelah dan memutuskan untuk tiduran saja sedangkan Kakak Ilham lanjut snorkling dan Kakak Etchon berjemur di dekat dua bule cewek hihihi. Rencananya kalau ada bola voli, Mam Poppy mau mengajak kru Kanawa Island and Resort bertanding tetapi yaaah batal deh. Lantas Mas Sony mencolek saya, "Ncim, kayaknya itu Aul deh, temen Ncim yang di Kupang itu." Wah, memang laki-laki yang hendak snorkling itu nampaknya seperti Aul tapi kok waktu saya panggil tidak menoleh? Mungkin salah orang atau itu kembarannya. Tak lama juga di bale-bale terbuka itu, kami pun memutuskan untuk kembali ke tenda. Oh iya, di hari ke dua di Pulau Kanawa ini, kaum lelaki pun pindah dari bale-bale ke tenda nomor 4 di dekat tenda saya dan Mam Poppy di nomor 5. Dalam perjalanan ke tenda ini lah seseorang memanggil saya, "Kak Tuteh!" Nah loh! Ternyata benar itu si Aul! Hihihi. "Maaf, Kak, tidak dengar tadi dipanggil," kata Aul waktu saya protes kok dipanggil-panggil tidak menyahut hehehe.

Teman-teman segera membasuh diri sedangkan saya membiarkan pakaian setengah kering di badan karena masih ingin menikmati sunset yang luar biasa dari depan tenda sambil membaca The Mountain Echoed milik Kakak llham. Mam Pop, Kakak Ilham, dan Kakak Etchon yang sudah mandi itu rela mendaki bukit di bagian belakang pulau sementara saya dan Mas Sony berleha-leha di depan tenda menikmati sepenggal hari yang sudah temaram *duileeeh bahasa gue* hahaha. Sunset sore itu begitu memukau sampai-sampai saya kehilangan kata-kata. Teringat si Kakak yang jauh di Ende *halaaah curcol tidak selesai-selesai*. Anyhoo, foto-foto dari puncak bukit itu luar biasa indah! Tapi sayang saya tidak punya foto-fotonya. Hihihi nanti deh minta ke Kakak Ilham dan Kakak Etchon.

Kisah kami #TripFCLabuanBajo masih belum berakhir, kawan, karena malam harinya kami pun pergi menikmati makan malam di restoran. Chef Heru punya masakan ini memang benar-benar enak. Menunya macam-macam loh mulai dari pasta sampai nasi goreng, mulai dari mie sampai gado-gado. Malam itu saya memutuskan untuk memakan nasi goreng ayam dan segelas es teh. Duh, beneran deh saya tidak bisa jauh-jauh dari ES TEH! Pesanan saya memang agak lama disajikan tapi karena sembari mengobrol dengan teman-teman rasanya asyik saja. Rama bergabung dengan kami tidak berapa lama kemudian. Lantas Aul pun datang juga ke meja kami. Oh iya, silahkan colek Aul di Twitter @atragung ya.

Psssttt ternyata Chef Heru ini temannya Yery dan si Kakak loh. Bahkan saya dapat bocoran dari Chef Heru kalau si Kakak bakal datang ke Pulau Kanawa -_- gitu deh si Kakak perginya tidak mau barengan ... hiks.

Kakak Anggi, manager Kanawa Island and Resort, datang ke meja kami dan bertanya tentang pesanan. Beliau sangat care dengan semua tetamu. Ternyata memang hanya tinggal pesanan saya yang belum tiba. Tetapi justru di situ lah letak 'kebetulan'nya karena Kakak Anggi malah mengobrol asyik bersama kami. Seru kan? Ketika pesanan saya sudah datang, Kakak Anggi masih melanjutkan obrolan bersama kami meskipun sekali-kali harus melayani tamu dan bisikan minta tolong para kru yang ramah-ramah itu. Satu hal yang kemudian membuat saya semakin kagum pada sosok Kakak Anggi adalah ... beliau sangat menikmati obrolan bersama kami!

"Saya tahu orang mana yang senang diajak ngobrol dan tidak ..."

Tuh kan, tampang kami memang tukang bicara semua hahaha. Obrolan malam itu sungguh luar biasa. Coba bayangkan, listrik di Pulau Kanawa akan dipadamkan sekitar pukul 22.00 Wita, demikian pula di restoran. Tapi dengan santainya kami melanjutkan cerita-cerita seru tentang perjalanan hidup Kakak Anggi diterangi nyala lilin. Ya, tinggal kami berenam : Kakak Anggi, saya, Kakak Ilham, Mam Pop, Kakak Etchon, dan Mas Sony. Rama dan Aul sudah pamit pergi tidur. Semakin lama kami bersama Kakak Anggi, semakin tinggi rasa kagum kami padanya. Perempuan yang rela melepas kehidupan mewah dan tinggal di pulau terpencil, dengan kehidupan sederhana, dengan nyali yang besar, dengan jiwa sosial yang tinggi terhadap pendidikan anak-anak di Pula Mesa ... saya terharu. Terima kasih sudah mau membangun salah satu wilayah NTT lewat langkah-langkah Kakak. May Allah Bless You all the time, Kak.

Lewat tengah malam 00.sekian, akhirnya kami memutuskan untuk pergi tidur. Bersama-sama Kakak Anggi kami kembali ke tenda karena rumah Kakak Anggi berdekatan dengan tenda kami. Lantas kami pun mengantri di kamar mandi, dimana terjadi tragedi saya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan CD kuatir ditinggal sama kawan-kawan *LOL* itu sungguh bikin Etchon pengen nge-frontal deh hihihi. 

Yah ... saatnya tidur. Malam terakhir di Pulau Kanawa. Besoknya kami harus kembali ke Labuan Bajo untuk perjalanan seru berikutnya. Dan postingan ini memang masih akan terus bersambung sampai saya puas hahaha.



Wassalam.

Tuesday, June 03, 2014

#TripFCLabuanBajo 3 : Welcome to Rinca!

Lajulah perahuku! (foto milik Kakak Ilham Himawan) Ini perahu yang kami temui dalam perjalanan dari Pulau Kanawa menuju Pulau Rinca.


Destinasi Day 3 #TripFCLabuanBajo adalah tur ke Pulau Rinca. Paket tur ini kami pesan sekalian di Kanawa Island and Resort yang juga menyiapkan paket tur ke Pulau Komodo dan sekitarnya. Asyik kan? Biaya yang kami keluarkan jika berlima hanya Rp. 350.000/orang, sudah dapat paket tur dengan kapten yang baik hati dan tidak sombong hihihi, juga lunch box sesuai pesanan (pilihannya ada nasi, atau mie, atau buah), dan masker snorkle. Di luar paket tur, bagi siapa yang ingin snorkling di perairan Pulau Kanawa, dikenakan biaya sewa masker snorkle.

Senin, 26 Mei 2014, pukul 07.00 Wita, kami sudah siap sedia untuk tur ke Pulau Rinca. Melihat langit cerah di atas sana, suasana hati saya menjadi lebih cerah dari semalam saat melihat langit bertabur bintang. Sebelumnya kami menikmati sarapan di restorannya dulu. Menu sarapannya adalah roti gandum, sramble egg, potongan buah semangka, pepaya, juga pisang. Minumnya silahkan pilih tersedia kopi, teh, atau mau dicampur susu juga boleh. Semuanya tersedia! Chef Heru memang luar biasa hehehe. Usai sarapan sekitar pukul 08.00 Wita salah seorang kru melaporkan bahwa boat kami telah siap. Masker snorkle pun dipilih di gudang di belakang restoran, dan yuk, berangkat!

Di atas boat

Boat yang kami tumpangi untuk tur Pulau Rinca ini berukuran sedang, sama seperti boat yang kami tumpangi saat berkeliling Taman Laut 17 Pulau di Riung. Boat-nya sangat bersih. Dipimpin oleh om kapten yang saya lupa namanya dan seorang kru, berangkatlah kami menuju Pulau Rinca. Langit biru, laut memantulkan birunya, laut yang jernih, melewati pulau-pulau, maka gadget kami pun tidak pernah bisa masuk ke dalam tas. Mana mungkin kami anggurkan saja pemandangan dan momen ini? No way! Jepret sana, jepret sini, pokoknya wajib jepret! Tapi aksi jepret-jepret pun harus ditahan karena kami tidak mau kehabisan baterai saat bertemu komodo nanti hehehe. Saya melihat Kakak Ilham sudah mengeluarkan Al Qur'an untuk mengaji (ODOJ) dan Sony mulai terkantuk-kantuk. Makanya saya mendekati kapten, dan membuat segelas kopi. Tetapi perjalanan yang ditempuh memang lama sehingga kantuk pun menyerang bertubi-tubi. Tanpa pikir panjang lagi saya merebahkan diri ... TERTIDUR SANGAT PULAS diiringi deru mesin tempel hahaha.


Kakak Ilham sedang ODOJ nih ...

Begitu mesin dimatikan, saya pun terbangun. Dua jam perjalanan pun berakhir. Lihat, itu jetty-nya! Selamat datang di Pulau Rinca, guys!

Selamat datang di Pulau Rinca!

Di depan Loh Buaya kami bertemu para ranger yang sedang mengaso. Mereka, ada yang baru saja selesai mengantar tamu, ada pula yang sedang menunggu tamu. Kami diantar oleh salah seorang ranger, yang saya lupa namanya (kebiasaan pikun sama nama orang ganteng, hihihi), menuju loket pembayaran. Perjalanan dari Loh Buaya hingga loket pembayaran hanya beberapa ratus meter saja. Kami sempat berpose di depan gerbang menuju loket pembayaran. Lihat, ada dua patung komodo sedang memuja langit hehehe. Mungkin do'anya adalah, "jangan punahkan kami ..."


 Di depan gerbang menuju loket pembayaran

Lokasi loket pembayaran/tamu berdekatan dengan kafe dan dapur. Dua petugas menyambut kami dengan senyum ramah. Total biaya masuk kami berlima hanya Rp. 144.000 saja. Sangat murah karena kami berlima loh. Aturan pergi ke Pulau Rinca dan Pulau Komodo adalah haram bagi perempuan yang sedang datang bulan. Makanya Mam Poppy disarankan untuk tidak ikutan tracking, tetapi atas satu dan lain hal Mam Poppy diperbolehkan ikut kita. 

Ranger mengantar kami ke bagian dapur Pulau Rinca. Kami pun bersorak girang karena akhirnya ketemu 'saudara lama' hihihi. Lihat itu, ada sekitar empat ekor komodo di sekitaran bangunan dapur. "Lihat komodo yang itu? Yang punggungnya ada tanda warna kuning? Itu komodo paling ganas makanya diberi tanda. Dia pernah menggigit dua ranger sekaligus!" tutur si ranger. Mak, saya bergidik ngeri tapi tidak bisa melepaskan bidikan handycam, mengikuti langkah si komodo ke sebuah pohon di mana ada tiga komodo lainnya sedang bersantai. Si komodo ganas kami beri nama Rocky. Wah, Rocky rebutan cewek sama komodo jantan lainnya! Tapi, kawan, itu belum masalah sampai kemudian Rocky mulai merangkak mendekati kami. Wah ... ada apa ini? Oh lala ternyata si Rocky mulai membaui amis darah *ngakak jungkir balik* dan mengikuti ke mana pun arah Mam Poppy melangkah. Kami pun terpaksa kembali ke kafe untuk istirahat sejenak sampai kemudian ranger kembali mengajak kami untuk tracking.

Di bawah pohon di belakang kami ada si Rocky :D

Jalur yang kami pilih untuk tracking adalah yang short. Mungkin ranger juga kasihan melihat tampang saya yang kelelahan ini *halah*. Terengah-engah kami mengikuti langkah ranger ... ehem ... maksudnya saya yang terengah-engah sembari ngesyut sana-sini *muka culun* sementara itu ada kekuatiran mendadak disergap komodo dari semak belukar di kanan dan kiri jalan untuk tracking itu. Jalanan kemudian menanjak, oalah, kami mendaki sebuah bukit. Payah-payah mendaki bukit ternyata membuahkan hasil yang aduhai! Look at the view! I do falling love with this island, cuy!

View Bukit
Sayangnya saya tidak sempat mengkopi foto view lautnya dari ketinggian hehehe. Padahal keren banget itu. Nanti deh, di upload di Facebook saja. 

Puas memanjakan mata, akhirnya kami memutuskan untuk turun kembali ke kafe. Tersedia minuman dingin favorit saya loh di kafe ini : teh pucuk! Hihihi. Agak lama di kafe untuk mengisi kemali tenaga yang telah terkuras *tsah* lantas kami memutuskan untuk kembali ke boat, menuju destinasi berikutnya, lokasi buat snorkling. Oh iya, kami juga harus mengisi perut yang mulai meraung minta diisi.

Dadah Pulau Rinca!

Terima kasih ranger ganteng yang telah menemani kami. Terima kasih wahai Rocky yang telah mengejar kami. Terima kasih wahai alam Pulau Rinca yang luar biasa keren sehingga lagi-lagi saya berikrar untuk dapat kembali lagi ke sini, sendirian maupun bersama teman-teman Flobamora Community. 

Kisah berikutnya tentang snorkling di sebuah pulau bernama Taka, akan saya posting. Duuuh tempat itu indah nian! Sabar yaaa ... *kecup basah*
Wassalam.

Sunday, June 01, 2014

#TripFCLabuanBajo 2 : Welcome to Kanawa!

Kemudikan, Kapten!

Destinasi day 2 #TripFCLabuanBajo adalah Pulau Kanawa. Bagi yang ingin mengetahui informasi lengkap tentang Pulau Kanawa dan Kanawa Resort, silahkan kunjungi KanawaIslandResort.Com ya, guys.

Saya mengetahui perihal Pulau Kanawa ini dari seorang pelancong keren bernama Tekno Bolang. Sapa beliau di Twitter @lostpacker. Langsung saja otak saya merencanakan perjalanan ke sana, entah sendiri, entah bersama kawan-kawan. Pulau itu seperti magnet yang menarik sulur-sulur otak saya setiap hari ketika saya memikirkan tentang cuti, atau tentang saat-saat melancong.

Minggu, 25 Mei 2014, pagi-pagi sekali kami sudah bangun dan sarapan, setelah malamnya kami puas tertawa-tawa gara-gara 'wow' dan tertidur pulas penuh kebahagiaan diiringi suara ngoroknya Sony. Imel memang tuan rumah yang luar biasa bagi kami. Lantas kami pun menunggu Mami Poppy memasak bekal kami *ngiler tumpah ruah*. Tetapi ada kekuatiran ketika langit masih hitam dan rintik hujan seakan enggan berhenti. Wah, bahaya ini jika kami tidak jadi berangkat ke Pulau Kanawa karena akan batal rencana-rencana selanjutnya sesuai itinerary, dan tentu saya akan menangis darah seandainya itu terjadi. Saya lantas menelepon Pak Robert di Kanawa Office menanyakan shuttle boat keberangkatan ke Pulau Kanawa. Betapa leganya mendengar jawaban Pak Robert, "kapal tetap berangkat, Bu. Tapi terlambat sekitar limabelas menit saja."

Pukul 11.30 Wita kami naik angkot menuju Kanawa Office (letaknya di dekat pelabuhan) untuk melapor diri. Meskipun rintik hujan masih awet, tekat tidak boleh surut dan tekat kami terpancar dari obrolan yang tetap mengocok perut. Entah obrolan di dalam angkot yang mana yang menyebabkan Sony pun menyeletuk, "yellow is the colour of WOW!" hahaha. Dasar.


Di dalam angkot

Di depan Kanawa Office, saat kami tiba, ada beberapa turis mancanegara sedang duduk dan dua laki-laki berwajah Indonesia sedang berdiri. Salah satu laki-laki itu bernama Rama, pelancong solo asal Surabaya (nanti kenalan di kapal), satunya lagi ternyata koki keren di Pulau Kanawa yang pernah nangkring di website-nya Gwyneth Paltrow bernama Heru. Usai menarik sejumlah uang di ATM dan membeli air minum, sekitar pukul 12.15 Wita kami pun berangkat menuju pelabuhan dengan berjalan kaki (jaraknya dekat) sementara semua backpack diangkut dengan mobil pick up milik Kanawa Office.

Perjalanan dari Labuan Bajo menuju Pulau Kanawa ditempuh selama sekitar satu setengah jam menggunakan shuttle boat milik Kanawa Resort. Biaya boat ini dijadikan satu dengan biaya penginapan di sana a.k.a. gratis. Semua ABK-nya ramah kepada kami. Kalau saya hitung di atas boat ada sekitar duapuluh wisatawan (domestik dan mancanegara). Cuaca masih seperti sebelumnya : rintik awet, dan laut bergelombang sedang. Saya berinisiatif duduk di ruang kemudi dan mengobrol bersama Bang Heru, di depan sana Sony ngorok hahaha, Etchon menikmati perjalanan dari balik kaca mata hitamnya, sedangkan Mam Poppy terlibat obrolan seru setelah saling kenal dengan Rama. Kakak Ilham sendiri memilih untuk mengetik draft postingan blog (bocorannya). Yang membuat saya lebih menyukai perjalanan ini adalah karena bayangkan saja di atas boat ini kalau tidak salah Kakak Ilham mengaji (ODOJ; One Day One Jus) hihihi. Betul-betul keren.

Aloha Kanawa! Hihihihi.

Sekitar pukul 14.00 Wita kami pun tiba di jetty milik Kanawa Resort. Wah, sambutannya sangat luar biasa! Semua awak dan pekerja di sana menyambut kami di jetty sambil bilang, "Selamat datang di Pulau Kanawa," dengan senyum ramah. Semua kebahagiaan itu semakin lengkap melihat pulau berpasir putih ini, dengan laut yang jernih luar biasa, sehingga kelihatan semacam anak hiu sedang berenang #eh hahaha. Aaaak keren deh pokoknya! Kalian tahu? Rasanya seperti kita sedang berada di pulau pribadi, and you can do anything here *senyum penuh arti*

Bersama Rama

Kami segera melapor diri di resepsionis yang letaknya di dalam restoran. Itulah untuk pertama kalinya saya bertemu sama manager kece yang juga ngetop : Kakak Anggi. Pertama diperkenalkan oleh Bang Heru (ternyata mereka masih kerabat), saya langsung 'klik' bahwa perempuan cantik yang satu ini pasti tangguh. Bayangkan saja, menjadi manager di sebuah resort yang notabene adalah satu pulau ... itu bukan perkara mudah, cing! Dan Kakak Anggi sendiri bukan Orang Flores loh. Di situ lah tantangannya. Teman-teman seperjalanan saya sampai bilang, "managernya keren, penampilan dan caranya bicara juga keren!" Tentang Kakak Anggi dan semua tentang Kanawa akan saya ceritakan di posting-an terpisah.


Untuk hari pertama di Pulau Kanawa para lelaki ditempatkan di bale-bale sedangkan saya dan Mam Poppy di tenda. Untuk dua jenis penginapan ini kami menggunakan kamar mandi umum. Kamar mandi pribadi hanya tersedia di bungalow. Usai berurusan sama resepsionis kami pun meluncur ke tempat peraduan masing-masing. Ketika melihat tendanya saya pun kembali berteriak, "WOW!" karena ada kasur ukuran double dan terlihat sangat cozy. Usai membereskan barang-barang di tenda, saya dan Mam Poppy pun bergabung dengan para lelaki di bale-bale, dan suasananya pun tak kalah menakjubkan. Bale-bale langsung menghadap laut! Bisa kalian bayangkan itu, teman? Oooh tidak bisaaaa *ngikik* ;)) karena keindahan itu tidak bisa dibayangkan melainkan dirasakan sendiri! Nah, karena malam sebelumnya saya kurang tidur, menjelang sunset saya malah kembali ke tenda untuk melunasi hutang tidur. Saya hanya meng-iya-kan saja saat Mam Poppy, Etchon, dan Sony memutuskan untuk pergi ngopi-ngopi di restorannya.

Hang out di Bale-Bale yang nyaman :*

                                                                  Dari dalam tenda ...

Malam hari saya terbangun, mandi, lantas kami semua + Rama memutuskan untuk kongkow di ujung jetty yang ada atapnya itu. Di bagian bawah jetty dipasangi lampu. Aduuuh itu lautnya jernih luar biasa! Kalau saja kami nekat, sudah nyebur deh hihihi. Ngobrol-ngobrol ramai sampai pukul 23.00 Wita kami memutuskan untuk pergi tidur. Tapiiii kami mampir dulu di restoran untuk memastikan kembali reservasi tour Rinca Island. Pada papan informasi terdapat informasi beberapa pelancong yang hendak tour Komodo Island "we need more people!" tetapi sayang tujuan kami justru ke Rinca.

Tidur di tenda, gelap-gelapan, bareng Mam Poppy, otak saya justru mengarah pada seseorang yang jauh. Halah! *kibas tangan* Cukup intermezonya. Pokoknya begitu pukul 01.30 Wita saya kebelet pengen ke kamar mandi, saya bangunkan Mam Poppy untuk temani *iya, saya penakut hihihi* bermodalkan lampu dari ponsel kami pergi ke kamar mandi dan betapa leganya saya begitu melihat BANYAK BINTANG DI LANGIT. Okay, artinya tour Rinca Island akan terlaksana. Yuk, mari tidur!

Cerita lain nanti yaaaaa :* Nantikan di postingan berikutnya :D

Wassalam.

Friday, May 30, 2014

#TripFCLabuanBajo 1 : Welcome to Labuan Bajo!



Welcome to Labuan Bajo!



Jangan mau keliling dunia sebelum keliling Indonesia. Jangan mau keliling Indonesia sebelum keliling Flores. Nyatanya, kaki kereta saya (dengan empat tahi lalat di kaki kiri) sudah melancong ke banyak tempat di Indonesia. Nyatanya, sampai sebelum tanggal 24 Mei 2014, kaki kereta saya masih punya hutang ke satu tempat paling menawan di Flores yaitu Labuan Bajo. Makanya pada Bulan April, ketika Ilham Himawan mengajak melancong bareng teman-teman Flobamora Community (FC) ke Labuan Bajo, ajakan itu langsung saya iya-kan tanpa pikir panjang. Karena, kapan lagi bila (tidak berani nekat) bukan sekarang? Saatnya saya mewujudkan impian saya pergi ke Labuan Bajo agar garis besar hutang saya keliling Pulau Flores LUNAS!


Hasil saling mengajak teman-teman FC akhirnya hanya kami berlima yang setuju melancong ke Labuan Bajo. Saya, Ilham Himawan, Poppy Pelupessy, Elison Naro aka Etchon, dan Sony. Ilham memberi pilihan tanggal liburan yang bisa disesuaikan dengan tanggal merah yang tertera pada kalender. Hasilnya kami memutuskan untuk melancong pada tanggal 24 – 28 Mei 2014. Karena gaya melancong kami adalah backpacker-an, makanya kami memutuskan untuk mencari tiket murah sebulan sebelumnya. Beruntung harga tiket yang kami peroleh pada Bulan April untuk keberangkatan Bulan Mei berkisar dari Rp. 345.000 hingga Rp. 370.000 saja. Urusan tiket kelar, kami mulai menyusun itinerary. Kakak Ilham lah yang paling berjasa menyusun itinerary kami berlima, termasuk membantu reservasi ulang ke Kanawa Resort. Selain itu kami juga menerapkan sistem one way out for money, dan kami harus mematuhinya.

 Ada palu buat menggetok yang bandel patungan duit (Part 2) hahahah ...

Tanggal 24 Mei 2014 berangkatlah kami dari Bandara H. Hasan Aroeboesman - Ende menuju Bandara Komodo - Labuan Bajo, diselingi acara ngos-ngosan a la Etchon yang merasa gadget-nya ketinggalan di ruang tunggu padahal benda itu tersimpan manis di dalam tas hahaha. Perjalanan menggunakan Aviastar (jenis BAE) hanyalah tigapuluh menit. Meski demikian perjalanan terasa lama soalnya sudah menahan hasrat sejak tiket terbeli. Oh iya, di dalam pesawat juga ada rombongan peserta MTQ Tingkat Propinsi dari Alor (pemenang pada tahun sebelumnya). Yup, MTQ tahun ini dilaksanakan di Labuan Bajo. Oh iya, Kakak Ilham itu keren looooh soalnya selama berada di dalam pesawat beliau senantiasa ODOJ (One Day One Jus, mengaji). Begitu pesawat landing, langsung acara foto-foto narsis dimulai. Saya sendiri di dalam hati berkata, "Alhamdulillah ya, Allah, akhirnya kaki kereta saya menginjak Labuan Bajo juga."

 View Labuan Bajo

Kami dijemput oleh member FC yang sekarang menetap di Labuan Bajo yaitu Imelda Marcos. Karena kami berlima sedangkan Imel hanya mengedarai satu motor sehingga kami memutuskan untuk menyewa taksi bandara dengan harga Rp. 50.000 saja. Sopirnya orang Makassar loh. Karena harus mampir terlebih dahulu di Kantor Kanawa Resort untuk memastikan reservasi, supir taksi menerima Rp. 60.000 (karena mau kami, bukan karena diminta oleh si sopir). Penginapan kami selama di Labuan Bajo adalah penginapan 'Bintang Lima' bernama "Imelda Komodo Lodge" *ngakak jungkir balik*. Kos Imel terletak di Jalan Gang Pengadilan, sebuah bangunan bertingkat dua berwarna hijau. Tiba di kos, kami langsung patungan uang (sebelumnya sudah patungan di Ende juga) dan makan. Imel memang patut mendapat penghargaan keren karena pelayanannya yang maksimal #jodho hahaha.

 Imel, berbaju garis-garis. Pelayanan prima :D

Selesai makan, kami istirahat dan mulai menyiapkan tenaga untuk perjalanan menuju Goa Batu Cermin. Beruntung ada teman Mam Poppy yang mau meminjamkan motornya (Kak Max), dan juga ada Vikram yang rela motornya dinaiki gajah (iye, saya itu maksudnya). Sekitar pukul 16.30 Wita berangkatlah kami ke Goa Batu Cermin yang jaraknya tidak sampai 3 kilometer dari kos Imel. Karena kami perginya sudah sore, sehingga Kak Max menyarankan untuk tidak memasuki goa tersebut. Tapi kami tidak kecewa karena acara foto-foto narsis tetap terlaksana dengan baik *senyum manis*. 

 Di depan papan nama Goa Batu Cermin

Destinasi berikutnya adalah sunset-an entah di mana. Saat itu masih dipikirkan. Tetapi Vikram melajukan motornya menuju Bukit Cinta! Wow. Pemandangannya bikin ngiler, bikin pengen berlama-lama di tempat itu. Tetapi karena di dalam itinerary sunset-an di Cafe bernama Tree Top, makanya kami tidak berlama-lama di Bukit Cinta. Hanya saja, selama berada di Bukit Cinta kami menemukan bungkusan kondom hahaha. Makanya Etchon menyeletuk : ini kalau lagi uhuk-uhuk terus muncul orang ketiga apa nggak oke? Iya, kawan, masalahnya bukit itu kan sepi sekali dan pasti sangat gulita saat malam *ngakak guling-guling*
 

 Pemandangan dari puncak Bukit Cinta

Kondom!

Dari Bukit Cinta, Imel maunya kami nongkrong sambil ngemil di Kampung Ujung yang adalah pusat kuliner malam hari dengan view laut. Semacam pujasera begitu. Tetapi dalam perjalanan ke sana kami melewati sebuah tempat yang langsung bikin saya HISTERIS GILA dan nyaris membuat Vikram mengamuk. Itu sunset sudah datang dan pemandangan yang ditawarkan sangat luar biasa! Vikram pun langsung memutar balik motornya, tidak jadi mengikuti dua motor di depan kami (Kak Max, Mam Poppy, Etchon, dan Sony). Sementara Ilham pun berpendapat sama dengan saya : kami harus menikmati momen ini dari tempat ini. Dermaga (jetty) yang telah rusak tempat kami menikmati sunset ini berada di daerah bernama Binongko. Ya, kawan, namanya sangat Sulawesi karena Labuan Bajo berpenduduk rata-rata dari Sulawesi dan Bima. Jangan heran jika menemukan tempat dengan nama Gorontalo, atau Binongko.

Beautiful!

Sunset di depan sana, mendengar lagu Homesick dari Kings of Convenience dari gadget Ilham, bikin saya menangis. Huh, mendadak cengeng di depan Vikram memang bukan tabiat yang baik, tapi saya sadar ternyata se-nggadhi-nggadhi-nya saya, saya tetaplah perempuan yang dapat mendadak dihinggapi perasaan melankolis. Teringat Mamatua dan berniat harus bisa mengajak Mamatua ke Binongko untuk melahap habis pesona sunset-nya.

Tidak ingin pergi dari tempat ini ...

Tapi waktu terus bergulir. Kami pun didera lapar sore. Akhirnya kami putuskan untuk ngemil di Kampung Ujung, tetapi pada akhirnya sekalian saja makan malam hehehe. Ikan bakar, cumi goreng, pelecing, sambal, dan lain-lainnya. Makan bersama keluarga besar ini sungguh lebih nikmat dari pada pacaran #eh hihihi. Usai makan dan mengobrol soal perjalanan besok menuju Pulau Kanawa, akhirnya kami pun pulang. Well, saatnya ngakak tidak jelas, dan muncul lah istilah WOW yang nanti akan saya ceritakan. Siapkan tenaga untuk perjalan besoknya, tanggal 25 Mei 2014.

Makan yuk!

WOW *suara datar* hahaha ...

Tunggu postingan berikutnya ya ...


Wassalam.