Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Saturday, February 22, 2014

Karaoke, Yuk!



Di depan ruangan karaoke... cantik ya? 

Awal mula ...
Sejak Selasa kemarin empat kampus Universitas Flores lebih sepi, berkebalikan dari hari-hari biasanya. Ya, teman-teman yang tergabung dalam komunitas Dokar (Dosen dan Karyawan Uniflor) sedang mengikuti kegiatan persahabatan di Pulau Adonara. Tidak tanggung-tanggung hampir duaratus orang (gabungan dosen dan karyawan) yang berangkat ke sana. Sebagian lagi tidak ikut ke sana dengan berbagai alasan : mabok perjalanan darat, mau naik sepeda motor tidak ada yang memboncengi, punya anak bayi, ada juga yang karena alasan orangtua tidak bisa ditinggalkan pada waktu yang ditentukan (seperti saya hahaha). Walhasil kami yang tertinggal di kantor berteman sepi. Bahkan Kantin Damai yang cuma lima langkah dari ruang kerja saya pun tutup! Aaaah ... saya merindukan mereka semua kembali dari Pulau Adonara! Terlebih agar kantin segera dibuka kembali agar kami tak perlu membawa bekal dari rumah.

Ada yang bertanya pada saya, "kenapa tidak ikutan? Katanya suka bertualang?"
Saya hanya bisa menjawab, "saya sudah pernah keliling Pulau Adonara dengan pick up sama teman traveler hehehe." Lagi pula saya mau pergi ke Larantuka saat Paskah nanti.

Dan sedikit rasa bersalah karena tidak ikutan ke sana ... kan saya tim hore dan penggembira hahahaha.

Ide pun datang ...
Mengisi kekosongan di kantor, kami sering mengobrol di ruangan LPM bersama Mila, atau di lobi bersama Melisa, Ida, dan Yudith. Akhirnya tercetuslah ide dari Mami Deber untuk kita pergi karaoke. Mami Deber pernah berkaraoke di Barata (sejenis mall mini) bersama adiknya. Katanya seru karaokean di sana. Harganya pun murah, cuma DUAPULUH RIBU per jam! MOSOK? Mata saya langsung membulat. Soalnya saya biasa karaoke di D'Twinz dengan harga yang setara dengan tempat-tempat karaoke di kota mana pun di Indonesia, seperti Inul Vista misalnya. Well, mari kita pergi.

Sabtu pagi saya sudah bangun tidur, eh terus tidur lagi, dan baru bangun pukul 10.30 WITA. Wah, telat! Akhirnya setelah telepon sana-sini, SMS, dan BBM, saya pun meluncur ke kantor. Dari kantor kami berlima meluncur ke Barata yang berada di daerah Wolowona.

Tiba di counter karaoke, kakak penjaga menjelaskan harga kepada kami, dan ruangan-ruangan yang kosong. Jadi untuk bulan ini, masih promo, setiap Senin - Jumat itu per jam dipatok Rp.24.000 dari pukul 10.00 - 15.00, setelahnya dipatok harga Rp.48.000 per jam. Sementara untuk Sabtu dan Minggu per jam dipatok harga Rp.48.000 per jam.Oalah, kirain benar-benar Rp.20.000 per jam. Hihihi. Murah bener kalau memang segitu harganya. Setelah membayar sejumlah rupiah untuk dua jam berkaraoke, membeli minum, kami pun memasuki ruang karaoke.

Ada yang saya catat di sini : ruang karokenya sangat banyak, saling berhadapan. Dan 'wajah'nya sangat menarik dengan warna-warna terang yang cantik. Saya sangat menyukainya. Di lorong antara ruangan disediakan kursi-kursi, buat jaga-jaga siapa tahu ada yang mengantri. Bagus lah pokoknya. Kalau di D'Twinz kan tempat buat mengantri itu di lantai bawah, di lobi-nya, sedangkan tempat karaokenya di lantai atas.

Oh, baiklah, mari kita karaoke kalau begitu. Sikat!

Ternyata ... ruang karaokenya sangat kecil. Saya syok, hahaha. Dalam bayangan saya ruang karaokenya persis yang ada di D'Twinz, Inul Vista, atau di Hotel Silvia Maumere. Eh, saya salah. Ruang seperti itu hanya muat dua sampai tiga orang saja. Lhaaa kami berlima (ditambah dengan Ircep nanti jadi berenam).

Perbedaan-perbedaan ...
D'Twinz : 
  1. Ruangan reguler-nya saja (bukan yang familly), muat sampai sepuluh orang. Ruangan familly bisa muat berapa hayooo :D
  2. Sofanya besar dan panjang. 
  3. Jarak  antara sofa dan televisi raksasa sekitar tiga meter.
  4. Audio-nya oke.
  5. Komputer song bank-nya masih pakai keyboard manual.
  6. Song bank-nya boleh juga.
  7. Alaram waktu masih manual, alias masih petugasnya yang datang mengingatkan.
Barata :
  1. Ruangannya sempit/kecil.
  2. Setiap ruangan itu sama. Tidak ada reguler maupun familly.
  3. Sofanya hanya muat tiga orang (empat orang kalau duduknya kayak di angkot).
  4. Jarak antara sofa dan televisi sekitar satu meter. Ah, kecil sekali. Rasanya kayak di box-karaoke murahan.
  5. Audio-nya oke.
  6. Komputer song bank-nya touch screen.
  7. Song bank-nya boleh juga. Cukup komplit.
  8. Alaram waktu sudah digital, langsung tertera di layar komputer/mesin karaoke.

Akhirnya setelah mengatur posisi, mengatur kamera (karena saya membawa kamera), menyimpan helem dan ransel di sudut-sudut, kami pun mulai berkaraoke. Lagu demi lagu dinyanyikan, semua genre pun kami habok, dan tawa canda tiada henti di dalam ruangan sesempit itu, hahaha. Mami Deber tak segan-segan bergoyang dangdut, Yudith mempraktekkan cara bernyanyi a la vokal grup, dan pada salah satu lagunya Viera, Mila loncat-loncat diiringi gaya drummernya Melisa, dan gaya gitarisnya saya. Hahaha. Kacau! Yang ada hanya ketawa, dan ketawa, tiada henti. Tak lama Ircep pun datang, semakin ramai saja ruangan sesempit itu.

Dua jam berkaraoke tidak terasa, kami pun harus pulang karena masih ada hal lain yang harus dikerjakan. Puas? Oh, pasti. Kapan lagi bisa ngumpul-ngumpul seperti ini di tempat karaoke? Kapan lagi bisa melihat Mami Deber goyang dangdut? Kapan lagi lihat Mila loncat-loncat bak vokalis band rock? Kapan lagi lihat Yudith bernyanyi dengan kekuatan vokal bak lagi vokal grup? Kapan lagi lihat Melisa bernyanyi dan memamerkan suara emasnya? Kapan lagi lihat Ircep menghentak-hentakkan tubuh? Hanya saat berkaraoke bersama hahaha. Kebersamaan seperti ini harusnya sering-sering dilakukan. Ealah, begitu selesai berkaraoke, sudah pada rencana buat karaokean lagi di D'Twinz. Sadap.

Bagi saya, bernyanyi adalah salah satu cara melepas segala rasa. Jatuh cinta, marah, sedih, senang, jengkel. Dan bagi saya, lagu adalah bahasa universal yang dapat menyatukan umat manusia.

Karaoke, yuk!


Wassalam.

Monday, February 17, 2014

Home is Heaven

Banner pasangan pemilik rumah & Pyer, si jagoan.

Home is heaven. Rumah adalah surga. Itu konsep saya. Jadi, jangan heran bila saya ingin rumah menjadi tempat saya 'pulang', tempat yang harus nyaman. Setelah saya ber-kaki-kereta sepuas hati, maka rumah akan menjadi tujuan saya berikutnya. Di situlah saya akan memeluk Mamatua erat-erat, bermain congklak dengannya, melucu dan terbahak-bahak karena sukses membuat pipi Tanta Sia merah jingga dengan guyonan jorok, atau berdiam diri di kamar untuk menonton teve, membaca hutangan buku, berjihad membunuh zombie, mendengarkan lagu (atau menciptakan lagu), atau menulis. Jarang sekali saya duduk 'ngaga' (istilah Orang Ende) karena menurut saya itu hanya membuang waktu. Saat saya berleha-leha pun itu otak saya sedang bekerja memikirkan sesuatu, atau merencanakan sesuatu. Tolong cabut baterai dari punggung saya, kakak. Hahaha.

Maka ketika ada yang datang ke rumah dengan tujuan menyewa kamar, kami menolak. Bukan apa-apa. Bukannya tidak mau menolong. Tetapi saya butuh kenyamanan untuk Mamatua (kos pun telah saya bongkar!). Bisa Anda bayangkan kami yang hanya tinggal berdua saja di rumah (Tanta Sia pulang setiap pukul 16.00 atau 17.00), kemudian dihebohkan dengan dunia rumah tangga lain yang tinggal bersama kami. Aduh, jangankan orang lain, keponakan saya saja mengerti arti nyaman itu : tidak ribut teriak-teriak atau berkelahi. Dunia cekcok rumah tangga seharusnya dijauhkan dari kami hueheuhue. Mamatua butuh ketenangan. Usianya sudah tak muda lagi, seharusnya memang Mamatua tidak dipusingkan dengan masalah orang lain (anak-anaknya saja tak mau membebani Mamatua dengan masalah).

Pada hari Minggu kemarin, 16 Februari 2014, kami mendapat undangan dari Om Apo dan Kk Yudith (Twitternya @a_tupen | @jouditha). Pasangan serasi ini pindah ke rumah baru di Perumnas Ende (sebelumnya masih tingga bersama orangtua, maklum Pyer masih kecil waktu itu). Alamatnya di Aster 10 Nomor 19. Wah, menyenangkan sekali menerima undangan tersebut. Dari semua teman-teman yang saya sms, hanya Kk Ilham (Twitter @ilhamhimawan) dan Mam Poppy (Twitter @PoppyPelupessy) saja yang bersedia ikut. Nando (Twitternya @FernandoWajong) katanya mau ikut, tapi ditunggu-tunggu malah tidak nongol. Jadilah siang itu, setelah mengganti ban di bengkel, kami meluncur ke Perumnas.

Rumah mungil itu berwarna hijau, diapit oleh rumah-rumah lain khas Perumnas. Tetapi ketika saya masuk (yang ditandai dengan meletusnya binen baru yang saya ganti di bengkel sebelum meluncur ke Perumnas, sungguh naas nasibna) waaaah ruang tamunya luas juga, tidak seperti ruang tamu rumah-rumah asli Perumnas. Kami pun mengobrol. Ada tuan rumah, Pyer (anak mereka), juga adik-adiknya Yudith, Pepenk (temannya Om Apo di @tnkelimutu), Ilham, Mam Poppy, dan saya. Kalian mau tahu rasanya? Rasanya seperti sedang berada di sebuah film Hollywood, dengan konsep kumpul sahabat di beranda belakang, mengobrol dalam suasana yang tidak bisa kau beli dengan Rupiah.

Tak lama salad khas Yudith pun keluar. Belum juga salad itu selesai dimakan, menu utama pun meluncur ke atas meja. Kata Yudith, "Kakah, kita makannya di ruang tamu saja e? Sekalian ngobrol." Wah! Boleh! Hahaha. Menu siang itu selain ikan kuah asam yang rasanya aduhai, ada pula plecing, ikan goreng tepung, dan tumisan sayur. Eh, jangan lupa sambalnya yang menggoda iman. Kami makan siang sambil mengobrol seru tentang banyak hal. Saya tidak menyangkan dalam suasana seperti itu saya merasa seperti sedang berada di rumah sendiri. Usai makan siang, kami lanjutkan obrolan sambil menikmati minuman rasa sirsak, dan beer. Topik obrolan pun meloncat-loncat, dinamis, banyak tertawanya. Untuk apa bersedih ketika kau masih bisa tertawa lepas dan menikmati hidup?

Saya sempat berkeliling rumah baru tersebut. Ada dua kamar. Satu kamar besar dan satu kamar sedang yang dijadikan kamar tidur pasangan ini. Kemudian ruang keluarganya juga luas, dilengkapi dengan teve dan kursi-kursi malam untuk bersantai. Ruang keluarga ini dibagi dengan space untuk meja makan dan kulkas. Masih ada space untuk menyimpan perkakas lain seperti lemari makan dan rak sepatu. Dilengkapi dengan satu kamar mandi dan fasilitas air bersih yang mengalir (lancar atau tidak ya? :D) hehehe. Oh iya, saya paling suka dapur + tempat cuci piring. Ada sebuah sofa di dapur, dan jika dilengkapi dengan meja, waaaah membayangkan tempat bersantai di dapur itu luar biasa, teman. Jelas-jelas seperti film Hollywood deh.

Iseng-iseng saya nyeletuk soal "kalau kopdar Flobamora Community di sini mantap nih!" dan disambut dengan riang gembira oleh tuan rumah. Dasarnya tuan rumah ini memang pasangan yang ramah, supel, dan pandai bergaul. Banyak teman, banyak saudara. Saya, jujur, sangat bersyukur mengenal mereka dalam hidup saya. Persahabatan yang tulus.

Bagaimana? Ada lagi yang mau mengundang kami makan-makan di rumah? Hihihi.

Pulang dari Perumnas saya dan Ilham terpasa mampir lagi ke bengkel untuk menganti (lagi!) binen ban belakang Oim Hitup. Astaga, dalam sehari saya mengganti dua binen ban belakang. Binen yang pertama mengalami kerusakan ventil yang parah. Ya sudahlah. Kalau tidak diganti, mana bisa saya pulang? Hehehe. Terima kasih Kk Ilham sudah mau temani saya di bengkel, melanjutkan obrolan kita yang tidak pernah mengulang topik hahaha. Mungkin satu-satunya topik yang kita ulang adalah Liburan Indie Flobamora Community ke Riung itu ya, Kk. Candaannya tak pernah basi diulang.


Wassalam.

Saturday, February 15, 2014

#Ngobras #Valentine

Ibu Ayu, Itu Lusi, terus itu si Viktor

Dari iseng-iseng obrolan di group BBM Fakultas Hukum Uniflor (dosen, karyawan dan mahasiswa/i Fakultas Hukum), akhirnya tercetuslah ide untuk kumpul-kumpul saat hari Valentine. Mama Emmi Gadi Djou pun mengetuk palu. Jadilah saya mengumumkan kepada siapa pun praktisi Fakultas Hukum untuk ikutan acara #Ngobras #Valentine yang bertempat di Pantai Ria, Ende. Hari? Hari Jumat, 14 Februari 2014. Setiap orang yang mau ikutan wajib menyetor sejumlah Rupiah dalam jumlah sangat kecil hihihi, dan wajib datang untuk ikutan mengobrol seru bersama-sama. Lagi pula rencananya kita bawa gitar dan nyanyi-nyanyi loh di Pantai Ria (dari rencana semual membawa sounsystem sendiri dan keyboard hahaha).

Pada hari Valentine itu, Ende hujan banget. Bahkan kami yang sedang makan di kantin (tanpa dinding agar view Kota Ende dari ketinggian nampak jelas) harus menyingkir kembali ke ruangan masing-masing. Saya pikir acara ini bakal batal. Eeeeh ternyata semangat ibu-ibu dosen memang luar biasa. Saya saja datang telat setelah janjian sama Viktor terlebih dahulu. Pukul 17.30 WITA, kami sudah di Pantai Ria. Mata saya menumbuk meja yang dipenuhi makanan. Perut saya langsung gelitik senang :D

"Masih tunggu Ibu Lisa dan Ibu Ayu bawa puding," kata Mama Emmi. Yang sudah ada : Ibu Titin, Mama Emmi, saya, Viktor, dan adik-adik (anaknya Mama Emmi dan teman-temannya). Wah ini acara bakal seru karena Tasya, anaknya Mama Emmi, membawa kamera milik Bapa Ai (suaminya Mama Emmi). Jadilah sore itu menjadi sore bernarsis-ria dalam suasana keakraban. Apalagi Ibu Ayu juga membawa kameranya. Kami, saya rasa, memang harus membangun suasana keakraban antara dosen, karyawan, dan mahasiswa. Dan sebagai karyawan dan mahasiswa pun kami juga patut menjaga diri agar tidak kelewatan ... apa ya istilahnya ... jangan sampai menjadi kurang ajar pada keramahan bapak/ibu dosen. Begitu, teman.

Sunset sore itu mistis, karena tertutup awan/mendung sisa hujan siang hari. Tetapi kami malah turun ke pantainya untuk berfoto-ria hhahaha.

Datang lah Mario, Ibu Lisa, Ibu Ayu, dan Endi. Teman-teman lain mengirimkan sms katanya akan menyusul. Tapi kalau menyusul jam 8 malam mah acaranya sudah bubar hahaha. Makanan bertebaran di atas meja : pisang goreng keju, aneka saos, pudding, jagung rebus + ikan asin dibakar, jagung bunga alias brondong, aneka jus, teh, kopi, dan lain-lain. Wah, perut kenyang! Belum lagi waktu Mario dan Endi bermain gitar, dengan cueknya kami bernyanyi. Mama Emmi semangat mencari lirik lagu, Ibu Ayu semangat mencari chord gitar. Saya siap menyanyi saja hahaha, sambil tangan comot sana comot sini, mulut kunyahless hihihihi. Puding racikan Ibu Lisa luar biasa enak. Belum lagi sambal khas ala Mama Emmi. Ini mulut dimanja sekali.

Puding-puding cantik :D

Pukul 20.00, sesuai perjanjian kami pun berkemas pulang. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu saat kita dibuai suasana keren seperti itu. Itu benar-benar #Ngobras #Valentine! Saya sudah biasa merayakan Valentine bersama teman-teman dalam bentuk pesta dan joged-joged sampai teler hihihi. Saya juga sudah sering Valentine bersama teman-teman dalam suasana ngobrol yang riuh. Baru kali ini saya Valentine-an sama ibu-ibu dosen yang ternyata menyenangkan sekali.

Terima kasih Mama Emmi, Ibu Titin, Ibu Lisa, Ibu Ayu, dan juga Bapa Ai. Terima kasih untuk Tasya si juru protret cilik yang cerdas. Dan terima kasih untuk semua teman-teman yang telah hadir dalam acara tersebut. Tahun depan harus lebih seru #eh :D


Wassalam.

Wednesday, February 12, 2014

Saya Kejam dan Berbahaya

J.K. Rowling (gambar diambil di sini)

"Casual Vacancy", sebuah buku yang diawali dengan kematian seorang 'berhati malaikat' dan ditutup dengan kematian dua anak dari pelacur yang kecanduan narkoba - T.

Setiap membaca buku, menonton film, atau mendengarkan musik (lagu), tentu ada best quotes yang menerjang indera kita begitu tajam bak aroma terasi dari penggorengan atau tungku. Mendadak saja kalimat-kalimat itu mengingatkan kita akan sesuatu, pada sepenggal cerita dari masa lalu. Lantas terucap kalimat, "ah, andai saja dulu saya membalasnya dengan kalimat ini." atau "Ya! Ini kalimat telak menghantam ulu hati nih!" atau "Penulisnya KECE!" atau "script writer-nya aduhai!" Kira-kira seperti itu lah jadinya ketika kita menemukan best quotes dari sebuah buku ... atau kadang-kadang saya menyebutnya mini moral of the story. Ya, mini moral of the story, karena moral of the story biasanya terangkum dalam paragraf-paragraf dan butuh pemikiran dari kita sendiri (dan tentu saja lebih mendalam, karena kita mengulasnya).

Buku terakhir yang saya baca (tapi tentu saya akan membaca buku berikutnya sesuai janji dan tantangan saya sediri di tahun 2014) berjudul "Casual Vacancy" karangan J.K. Rowling. Buku yang ketebalannya dapat membuat seekor bull dog pingsan itu memang beda dari karangan ternama Rowling lainnya : "Harry Potter". Meskipun bukan buku berseri tetapi "Casual Vacancy" menghadirkan tokoh-tokoh berkarakter kuat sekuat Hermione atau Dumbledore, mulai dari para tetua yang duduk di Dewan Kota Pagford hingga pelbagai tipikal kaum muda/remaja dengan ragam tingkah, pikiran, dan masalah. Kalau kau mau tahu bagaimana kehidupan yang sesungguhnya terjadi, semua ada di "Casual Vacancy" : kehidupan komunitas/masyarakat di sebuah kota kecil, tipu daya, kemunafikan, senyum palsu, pemberontakan anak-anak pada orangtua, orangtua yang sangat menyebalkan karena merasa dirinya dewa, perebutan 'kursi kosong', seks bebas, Facebook, narkoba, remaja dan perubahannya saat sedang jatuh cinta, hingga bagaimana para perempuan berpikir sesuai dengan kondisi/stratifikasi sosial mereka. Lengkaplah buku ini di mata saya.

Stuart Will, anak si Wakil Kepsek (juga anak guru konseling di sekolah yang sama), yang lebih sering dipanggil Fats oleh teman-temannya membuat saya mencatat beberapa kalimat-kalimat ... menurut saya penting. Dari Fats si pembangkang, dan Andrew si muka pizza, saya belajar tentang pola berpikir remaja, mengingat-ingat kembali apakah dulu sewaktu saya seumuran mereka pikiran seperti itu juga melintas di benak? Apakah diam-diam saya juga suka mengumpat? Nah! *senyum bungkus* itu rahasia. Hehehe.

Pada halaman 92 "Casual Vacancy" tertulis paragraf ini :

Menurutnya (menurut Fats - T), kesalahan dari sembilan puluh sembilan persen manusia adalah merasa malu menjadi diri mereka; berbohong, mencoba menjadi orang lain. Kejujuran adalah pegangan Fats, senjata dan pertahanannya. Orang-orang takut saat kau jujur; kau membuat mereka terkejut. Fats tahu bahwa orang-orang lain terkungkung dalam rasa malu dan kepura-puraan, ketakutan apabila kebenaran tentang diri mereka bocor. Tetapi, Fats justru tertarik pada segala sesuatu yang mentah, semua yang jelek tetapi jujur, pada hal-hal buruk yang dianggap oleh orang seperti ayahnya sebagai sesuatu yang memalukan dan menjijikkan.

And I love that ...

Yang satu ini lebih keren quotes-nya :

Hal yang sukar, sekaligus agung, adalah menjadi dirimu yang sebenarnya, bahkan jika kau kejam atau berbahaya, terutama jika kau kejam dan berbahaya. Ada keberanian dalam mengungkapkan kebinatangan yang ada dalam dirimu. Di sisi lain, kau jangan sampai berpura-pura menjadi lebih binatang daripada yang seharusnya.

Jujur, sukar sekali saya melupakan dua paragraf di atas. Sepertinya saya adalah Fats di dalam buku tersebut. Kejujuran itu yang paling utama, bagi saya (mungkin juga Anda), karena tanpa itu kita hanyalah daging dan rangka yang diberi nafas oleh Allah SWT. Masalahnya, kejujuran itu (apalagi kejujuran tentang orang lain) terkadang dapat menampar orang dengan keras sampai-sampai orang tersebut merasa perlu membangun perisai dengan kemunafikan dan fitnahan yang lain. Itu kalau kita berusaha jujur tentang orang lain. Belum lagi kalau jujur tentang diri sendiri. Biasanya orang/remaja akan malu mempunyai orangtua yang terlalu disiplin (kejam, orotiter, banyak doktrin), untungnya saya tidak malu hahaha. Oleh karena itu tidak heran jika dulu saya hidup dalam keteraturan yang sangat ketat dan terjaga : bangun jam berapa, jam malam diberlakukan, ranking di sekolah, tata krama, dan lain-lain. Dari itu lah saya terbiasa dengan kegiatan di dalam rumah : mengobrol bersama Mamatua, menonton televisi, membaca buku, beres-beres, dan bila memang sudah saatnya ... saya akan melancong. Tidak protes, karena hidup untuk dinikmati seburuk apa pun hal/karma yang menimpa kita. Selalu ada sisi baiknya. Makanya kadang-kadang saya merasa agak bagaimana yaaa melihat orang-orang yang selalu mengeluh dalam setiap helaan nafasnya. Apalagi mengeluh belum menikah #eh *bukan curcol loh ini* hahahaha.

Teori?
Mungkin ...
Tapi toh kita memerlukan teori selain praktek saat sekolah :D

Tentu masih banyak quotes lain dari buku-buku yang saya baca. Tetapi kalau dibahas semuanya di sini, terlalu panjang dan membosankan hahaha. Lagi pula saya khusus membahas "Casual Vacancy".

Hati-hati, saya orang yang kejam dan berbahaya bagi Anda #eh

Seperti tulisan di awal, "Casual Vacancy" memang diawali dengan kematian Barry Fairbrother, Ketua Dewan, dan diakhiri dengan kematian Crystal dan Robbie Weedon. Sejak kematian Barry hingga akhir cerita, dia hanyalah sosok yang muncul lewat kenangan tetapi kematiannya menyebabkan intrik demi intrik terkuak. Lucunya intrik demi intrik itu justru timbul oleh ulang para remaja yang meng-hack website Dewan Kota, sebagai bentuk protes atas sikap semena-mena orangtua mereka, atau rasa tertindas luar biasa karena orangtua mereka sangat tidak peka pada kejiwaan remaja. Padahal para orangtua itu bersikap sok tau, dan sok pintar.

Masih dengan gaya khas J.K. Rowling yang blak-blakkan dan tidak menyisakan sedikit pun kerutan di kening (ya, karena kisahnya begitu gamblang), saya menikmati buku ini. Bagi Anda yang belum membacanya, saya rekomendasikan "Casual Vacancy".



Wassalam.

Monday, February 10, 2014

Hutang Buku



Bacalah, meski hanya satu kalimat.
 
Berapa buku yang saya baca di tahun 2013? Astaga! Selalu gagal mengikuti reading challenge di Goodreads. Challenge yang saya buat sendiri. Dari 25 buku yang ditargetkan, yang terbaca paling-paling hanya belasan buku *ngikik geli-geli* Bukunya sih tersedia, baik itu yang dibeli sendiri maupun hasil peminjaman dari teman-teman dan perpustakaan kampus (koleksi perpustakaan kampus komplit juga loh), tetapi waktunya yang selalu terganggu dengan segala macam pekerjaan, urusan ini itu, dan lain-lain. Jadi, saya pikir saya harus lebih tegas pada diri sendiri. Tahun 2014, tidak tanggung-tanggung saya menargetkan 50 buku untuk dibaca! Keterlaluan? Iya, tapi saya harus menargetkannya segitu.

Buku pertama yang saya tamatkan di tahun 2014 adalah "Labirin Rasa" oleh Ekka. Mulai membacanya sudah dari tahun 2013 tetapi belum selesai juga. Karena daftar buku bacaan semakin menumpuk, saya harus menamatkan satu per satu buku yang sudah saya buka sampul plastiknya itu huehuehue. Sedikit review untuk kalian, "Labirin Rasa" itu keren karena memadukan kisah cinta yang unik dan kisah jalan-jalan/traveling. Sekarang, sembari membuka lembar demi lembar "Muhammad Al Fatih" karya Ustadz Felix Siauw, saya melirik "Casual Vacancy" dari J.K. Rowling. Dan pilihan saya adalah menyelesaikan dulu "Casual Vacancy". Doakan saya ya!

Buku-buku lain yang menjadi 'hutang' saya saat ini ada buku kumpulan cerpen dari Djho Izmail, teman blogger, deretan bukunya Ustadz Felix Siauw, buku skripsi yang mengangkat tema soal abjad Ende-Lio (ini penting), dan beberapa buku yang tersimpan di lemari. Ya, semoga saya tidak kehilangan semangat membaca. Sekali lagi, doakan saya ya! :D

Bagi saya membaca buku adalah sebuah kewajiban. Bila saya bilang, "menulis adalah tempat pikiran dan jemari saling merangkul," maka membaca adalah tempat/ruang bagi saya mengapresiasikan tulisan orang lain. Bagaimana saya menyimpulkan cerita dari sebuah buku tentu berbeda dengan orang lain, bukan? Pendapat itu tidak pernah sama. Kalau pun sama, tidak selamanya sama dalam detail. Dan membaca membuka cakrawala berpikir saya (saya rasa Anda juga sependapat). Banyak hal baru yang kita temui setelah membaca : buku, artikel, majalah, bahkan komik. Sayangnya budaya membaca masih sangat minim di Kabupaten Ende (pelajar dan mahasiswa/i). Mereka harus dipacu untuk mau membaca meskipun sebulan cukup satu buku. Ya, membaca itu penting oleh karena itu budayakanlah!

So ... mari mulai membaca, SEKARANG JUGA!


Wassalam.

Sunday, February 09, 2014

Penghijauan di Desa Mukureku

Tiba di Desa Mukureku

Saya pernah bilang akan kembali ke tempat ini : negeri di atas awan. Bukan saja karena di daerah ini lah makam nenek moyang dari garis keturunan Mamatua saya berada (Bata Gado, Gado Au), melainkan karena tempat ini memang layak untuk dikunjungi lagi dan lagi selama nafas masih dikandung badan, selama waktu masih mengijinkan, selama hasrat jalan-jalan masih membara.
Inilah Kecamatan Lepembusu-Kelisoke. Sebuah kecamatan dari Kabupaten Ende yang terletak di ketinggian, hingga kami menyebutnya negeri di atas awan, karena ketika saya berada di atasnya, saya dapat melihat awan berarak di bawah sana, juga di atas sana. Indah dan unik, memang! Dari Kota Ende berangkat ke arah timur, melewati ruas jalan yang sedang diperbaiki (dengan sisa reruntuhan di kiri-kanan jalan) sekitar KM 17, melewati daerah yang saya sebut check point bernama Detusoko (percabangan menuju Maurole / jalur pantura Flores arah timur) untuk sarapan dan mengisi bensin, melewati percabangan menuju Perkampungan Adat Wologai. Percabangan sebelum Nduaria itu lah percabangan menuju Lepembusu-Kelisoke (ya, kau harus belok ke kiri, teman).

Beberapa waktu lalu, setelah lamaaa sekali keluarga kami datang untuk peresmian rumah adat rang keluarga kami dari pihak Mamatua, saya datang ke Desa Kurusare (salah satu desa di Kecamatan Lepembusu-Kelisoke) untuk meliput kegiatan KKN Kelas Khusus. Kakak-kakak peserta KKN itu membangun rumah untuk Mama Sisi, sebagai bentuk pengabdian terhadap masyarakat. Dan pada hari Sabtu, 8 Februari 2014, saya kembali ke sana untuk mengikuti kegiatan penghijauan yang digelar oleh Lembaga Pengabdian Masyarakat - Universitas Flores. Ada sekitar 200-an dosen dan karyawan Uniflor turut serta dalam kegiatan penghijauan tersebut. Desa yang disasar kali ini adalah Desa Mukureku. Jaraknya kurang lebih sama dengan jarak ke Desa Kurusare dari percabangan Nggumbelaka.

Sabtu pagi saya dan Mila bertemu di rumah Kakak Niniek untuk mengambil kue pesanan bekal ke Desa Mukureku. Setelahnya kami bergegas ke Kampus I Uniflor untuk bertemu peserta lainnya. Suasana sudah ramai saja padahal baru pukul 07.00 WITA. Saya dan Mila memang memutuskan untuk menggunakan satu sepeda motor saja, Oim Hitup. Hehehe. Dari kampus kami bergerak ke arah timur, menuju Detusoko, terpisah dari rombongan karena saya memang kuatir bila berada di belakang truk kayu dan damtrek itu hahaha, kuatir getaran dari kendaraan-kendaraan besar akan menyebabkan longsoran kecil (dan saya memang sangat trauma melewati KM 17). Beberapa sepeda motor melewati kami karena saya memacu Oim Hitup dengan kecepatan sedang ... sambil mengobrol dengan Mila. Tiba di Detusoko kami memutuskan untuk sarapan, minum obat (saya minum obat gigi), dan mengisi bensin. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju percabangan Lepembusu Kelisoke.

Di percabangan seperti biasa saya menitipkan motor pada salah satu rumah warga setempat karena jalanan yang akan kami lalui menuju Desa Mukureku (dan desa-desa lainnya) tidak lah selamanya mulus. Berdasarkan pengalaman sebelum-sebelumnya. Rusak parah? Ya ... kira-kira begitu lah. Menanjak, banyak lobang, tanah liat, licin, dan bila hujan menyisakan kubangan lumpur. Teman-teman lain pada protes hahaha. Saya dan Mila memang telah disediakan mobil oleh Mami Yuli. Bertiga kami di mobil Mami Yuli bersama Om Frits (suami Mami Yuli). Perjalanan pun dilanjutkan menuju negeri di atas awan, melewati jalanan desa yang you know betapa tidak mulusnya.
 
 1.500 bibit mahoni

Kami tiba di Desa Mukureku sekitar pukul 08.30 WITA. Langsung di kantor desanya. Di balai desa diadakan pertemuan singkat sebagai pembuka kegiatan penghijauan ini. Hadir Kepala LMP, Mami Yuli, juga semua Pembantu Rektor (I - IV), semua dekan, kaprodi, dosen, karyawan, beberapa mahasiswa dari HMJ masing-masing, juga anak-anak SMA/SMK yang sedang praktek di Uniflor. Turut hadir pula Ketua DPRD Ende, Bapak Marsel Petu, yang adalah Bupati Ende terpilih untuk masa bakti berikutnya. Beberapa Mosalaki pun berdatangan dan acara dimulai dengan sambutan-sambutan.
 
 Bersama om Frans Pitu, KTU Lembaga Publikasi
 
Sekitar pukul 09.30 acara penghijauan dimulai dengan pemotongan ayam oleh Mosalaki di lobang pertama bekal bibit Mahoni ditanam, letaknya di depan kantor desa. Ayam berbulu putih tersebut disembelih lehernya menggunakan parang/golok yang besar. Dalam proses penyembelihan ayam tersebut Mosalaki menyuarakan bahasa-bahasa adat (yang tidak saya paham tetapi intinya bertujuan agar bibit pohon yang ditanam tumbuh baik), darah segar membasahi lobang, baru kemudian bibitnya ditanam. Setelah itu, setiap peserta mengambil dua bibit untuk ditanam di lobang-lobang yang telah disediakan oleh masyarakat setempat. Lokasi tanam memang bukan di lereng gunung/bukit karena sasaran utama dari penghijauan kali ini adalah tebing. Diharapkan bibit-bibit pohon yang ditanam tersebut tumbuh di sepanjang jalan desa sebagai penunjang tebing untuk menghindari bahaya longsor di musim penghujan.
 
Bersama salah seorang Mosalaki usai penghijauan
 
Pukul 11.00, karena pesertanya banyak dan acara penanaman pun cepat selesai, kami berkumpul di SD Mukureku untuk menikmati kopi, teh, ubi, ikan asin, juga kue-kue yang kami bawa dari Ende. Nikmat sekali, teman, duduk di rerumputan sambil bercanda dan ngopi-ngopi. Dilindungi hawa sejuk khas pegunungan. Setelah itu baru lah acara (semacam) tatap muka antara masyarakat desa dengan pihak Uniflor dan Ketua DPRD. Inilah yang membuat saya haru, saat kami sedang santai-santai di luar aula, datanglah sebuah mobil. Ya Allah! Itu Bapak Rektor Uniflor, Prof. Stephanus Djawanai. Beliau baru saja kembali dari check up kesehatan di Jogja dan dengan kondisi seperti itu masih semangat datang ke Desa Mukureku! I Love you, Bapak!
 
 Duduk mengaso bersama Mami Yuli dan Om Frits

Pukul 13.00 saatnya makan siang! Karena secara adat, masyarakat memasak daging babi sehingga kami yang muslim sendiri memang sudah siapkan bekal lauk dari Ende hehehe. Makan siang usai, ada lagi tuh yang namanya gawi bersama sebagai bentuk kegembiraan atas kegiatan hari ini. Para Mama menari menggunakan selendang di halaman SD Mukureku. Setelahnya, kami pamit menuju Nggumbelaka untuk menyaksikan pertandingan sepak bola antara Dokar (organisasi intra kampus yakni Dosen dan Karyawan) melawan warga setempat.

Pukul 16.00 ... pulang ke Ende.

Perjalanan yang menyenangkan sekali karena dipenuhi canda-tawa dan rasa kekeluargaan yang sangat kental dari semua dosen dan karyawan di Uniflor. Saya ingin kegiatan seperti ini dilaksanakan lagi tetapi untuk penghijauan masih menunggu tahun depan hahaha. Ya, kegiatan penghijauan akan menjadi agenda tahunan LPM (Lembaga Pengabdian Masyarakat).

Sampai ketemu Lepembusu-Kelisoke ... saya pasti akan kembali.


Wassalam.

Friday, February 07, 2014

Jangan Asal Copy Paste

Cover majalah dimaksud.

Dulu sekali, dan saya sudah lupa pada tahun berapa tapi yang jelas saat saya sudah ngeblog, ada satu gerakan bernama JACP yang kepanjangannya adalah JANGAN ASAL COPY PASTE. Tiba-tiba saya mengingat JACP ... sebuah gerakan yang mengajak kita untuk tidak sembarangan mengutip dan menempel tulisan orang lain, dari blog orang lain, ke blog kita. Karena hal itu, ketika tadi saya membaca twit-serial Kak @RisaHart sangat-sangat melanggar HaKI (Hak Kekayaan Intelektual). Dalam mata kuliah Pengantar Hukum Bisnis, HaKI (termasuk Merek dan Paten) dibahas mendalam oleh mahasiswa/i semester 1, selain belajar tentang Keagenan, Perusahaan Go Public, atau Asas Hukum Dagang.''

Dua hari yang lalu, ruangan saya kedatangan seorang mahasiswa. Dia, yang saya tidak ingat namanya, punya keperluan dengan Ibu Rosa. Maksudnya datang adalah untuk meminta (meminta karena dia tidak mempunyai foto kegiatan dimaksud) foto kegiatan Pementasan Drama di Auditorium Kampus 1 Uniflor oleh mahasiswa/i PBSI - FKIP. Kemudian mahasiswa tersebut mengaku sebagai wartawan sebuah majalah bernama "Cakrawala NTT". Saya memintanya untuk memperlihatkan majalah tersebut. Begitu dia memberikannya, otak saya langsung tertuju  pada Dicky Senda (Ketua Flobamora Community). Selama Dicky menjadi guru konseling di SMPK St. Theresia Kupang, ada banyak kegiatan yang dilakukannya bersama murid-murid di sana, dan salah satunya adalah meng-online-kan majalah dinding mereka. Tentu, foto itu adalah salah satu yang begitu melekat di benak saya.

Foto majalah itu lantas saya upload ke Instagram dengan cc ke Dicky. Eh, ternyata foto tersebut diambil, dipergunakan, dipublikasikan, tanpa sepengetahuan apalagi seijin Dicky! Wah! Saya kaget ... bukan main! Untuk sebuah majalah pendidikan, menggunakan foto hasil karya orang lain tanpa seijin pemiliknya. Oke, bila belum sempat ijin, seharusnya nama pemilik foto tersebut dicantumkan (foto cover : milik Dicky Senda). Saya rasa itu lebih sopan ketimbang seenaknya saja memajang foto milik orang lain tanpa ijin.

Kasus ini, bukan kasus pertama, teman. Sudah pernah terjadi cerpen Dicky dikopas seenak hati oleh harian lokal. Masih ada lagi foto Doddy Nai Botha yang juga diambil oleh sebuah harian lokal ... lagi-lagi tanpa ijin dari yang punya. Ini bukan masalah "siapa suruh kamu pajang karya kamu di internet?" tapi ini masalah "HaKI". Tidak kah kita punya moral untuk tidak bertingkah seenak hati? Bagaimana jika hasil karya kita yang dikopas seenak hati seperti itu?

Akhirnya Dicky menghubungi pemred dari majalah tersebut, dan semoga mereka memberikan jawaban yang baik. Misalnya, seperti tanggapan om Bisot, agar pada edisi mendatang pihak majalah dapat menyantumkan nama Dicky di sana. Semoga.

Untuk teman-teman onliners semuanya, ingatlah untuk JACP (Jangan Asal Copy Paste) karena itu sangat sangat sangatlah merugikan pihak mana pun yang hasil karyanya Anda kopas tanpa pemberitahuan, atau menyertakan source. Hasil karya tersebut dapat berupa tulisan, foto, dan lain-lain. Mulai membiasakan diri untuk lebih kreatif, membuat tulisan sendiri, menyertakan foto hasil jepret sendiri, bukan milik orang lain, agar diri kita lebih 'kaya'.

Saya harap ada radio-radio di NTT yang mau membahas masalah-masalah seperti ini. Dalam satu jam talkshow saya rasa banyak orang yang dapat tercerahkan.

Semoga hal-hal seperti ini tidak terulang kembali.


Wassalam.

Monday, February 03, 2014

#Ultah5FC Kemenangan 5 Tahun

Kegiatan workshopnya

Saya suka membaca postingan-postingan di web Flobamora Community tentang perayaan ulangtahun yang ke-5, dengan hashtag #Ultah5FC. Dimulai dari kegiatan pra ultah hingga perayaan puncaknya di Riung pada Sabtu, 1 Februari 2014. Ulangtahunnya sendiri jatuh pada tanggal 31 Januari 2014. Kepana perayaan puncak justru sehari sesudahnya? Soalnya kami semua harus menyesuaikan waktu antara waktu bekerja, liburan, ijin, dan lain-lain. Huehuehue.

Kegiatan donor darah "Darah Untuk Ende"

Bagi teman-teman sekalian ingin mengetahui report kegiatan-kegiatan kami, silahkan kunjungi http://bloggerntt.info yaaa ... semua yang mau saya ceritakan sudah ada di sana hueheuheu...

Kami selalu tertawa :D



Wassalam.