Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Sunday, April 27, 2014

Lomba dari Bea dan Cukai


Ikuti lomba yang satu ini, khusus untuk BLOGGER dan TUIPS! Kapan lagi ada lomba yang dikhususkan untuk pemilik blog dan pengguna twitter? Saatnya kamu unjuk gigi. Saya juga nih, sedang mau unjuk gigi hahaha :D


Wassalam

Wednesday, April 09, 2014

STT



STT itu bisa jadi Surat Tanda Tolol. LOL *lagi pengen iseng* hehehe.

STT yang sesungguhnya adalah Sibuk Tingkat Tinggi. Semua orang punya kesibukan. Setiap hari pun saya sibuk dengan pekerjaan kantor dan kuliah. Tetapi akhir-akhir ini kesibukannya sungguh terlalu bikin pening. Mau ditinggalin, tidak mungkin. Satu-satunya solusi adalah mengesampingkan urusan media sosial *duileeeeh* demi urusan yang jauh lebih penting (jadi ingat asas lex specialis derogat legi generale ... halah!). Iya, apalagi perkara yang lebih penting bila bukan pekerjaan dan tugas kuliah *menumpuk macam gunung*. Belum lagi saya juga mengikuti sebuah kompetisi yang bikin jantung deg-degan.

Tapi STT bukan berarti sama sekali hilang dari peredaran, bukan? *membela diri* Yang pasti saya masih ingat update blog *loh?*

Hidup STT!

Catatan penulis :
Ini postingan paling aneh yang pernah saya tulis :p
Nggak mutu!


Wassalam

Wednesday, April 02, 2014

Samudera Cinta Ikan Paus

Bara dan bukunya "Samudera Cinta Ikan Paus"
Gambar diambil dari Sini.

Suatu hari saya diperkenalkan dengan seorang laki-laki berpenampilan menarik, dan berpostur tegap layaknya olahragawan, oleh keponakan saya, Azrul. Mereka datang ke ruang kerja saya untuk bertemu Pak Yohanes Sehandi, Kepala Lembaga Publikasi. Awalnya saya terkejut, merasa sedang bertemu dengan seorang chef ternama Indonesia. Ternyata nama mereka saja yang mirip. Bila chef ternama itu bernama Bara Pattirajawane, maka laki-laki ini bernama Bara Pattyradja. Sudah lama saya mendengar namanya, baru hari itu saya bertemu langsung dengannya. Tetapi kami hanya sekadar bertemu karena dia masih punya urusan lain dengan beberapa orang di kampus.

Next, ketika saya tidak ikut berangkat ke Pulau Adonara dalam kegiatan Dokar Uniflor, saya diberi oleh-oleh oleh Pak Mukhlis, seorang dosen Fakultas Teknik (Arsitektur). "Kak Tuteh, ini buku untuk Kakak. Saya tidak biasa baca buku puisi ... pasti Kakak suka." Dan buku itu adalah buku yang pernah saya lihat tetapi saya belum memilikinya. Judulnya "Samudera Cinta Ikan Paus", karya Bara Pattyradja. Saya langsung meloncat kegirangan! Ya, berikan saya sebuah buku ketimbang sekardus cokelat #eh hahaha.

Untuk melahap buku ini bukan perkara mudah soalnya masih ada tumpukan buku lain yang menunggu dengan cantiknya di atas meja. Apalagi saya mendapat buku-buku tulisan Ustadz Felix Siauw dari Yanuar Al, dan membeli beberapa buku di Gramedia (perpanjangan tangan dari Gramedia Maumere) Ende. Tetapi bila secara marathon saya membaca semua buku si ustadz, maka tentu akan bosan juga. Maka saya memutuskan untuk bijaksana. Satu buku ustadz, dan beberapa buku lain, untuk kemudian kembali membaca buku si ustadz. Cukup adil bagi otak saya. Saya rasa demikian :)

"Samudera Cinta Ikan Paus". Bagi saya, buku ini tidak sekadar berisi barisan kata yang kita sebut puisi. Sejak kecil, sejak belum sekolah, saya sudah berkenalan dengan puisi, membaca ratusan puisi, dan 'membentuk' ratusan puisi. Saya punya apresiasi yang tinggi terhadap buku "Samudera Cinta Ikan Paus" karena pilihan kata si penulis. Bara mampu meramu apa yang tidak terpikirkan oleh benak saya sebelumnya. Kata-kata pilihannya itu menurut saya sangat unik tapi tidak berat (ya, beberapa penulis memilih kata-kata yang unik yang bahkan saya sendiri tidak memahaminya, hahaha). Bara punya bakat luar biasa untuk hal yang satu ini.


Puisi Bara, unik dan sederhana, tetapi 'menikam'.

Puisi-puisi di dalam "Samudera Cinta Ikan Paus", menurut kacamata saya, merupakan apresiasi kecintaan Bara pada tanah kelahiran, tanah leluhur. Lamahala, Flores Timur, tempat itu mendominasi buku ini. Judulnya saja ada 'ikan paus'-nya, teman. Ikon wisata alam dan tradisi di sana. Tapi cinta, ya ... cinta ... masih menjadi topik utama yang tak pernah selesai dipuisikan. 'Sketsa Kelahiran', dan 'Adonara, Tanah Mahar Gading Tapi Tak Pernah Lahirkan Gajah', adalah dua puisi yang mengangkat tanah kelahiran Bara.

Salah satu puisi yang menjadi favorit saya berjudul 'Di Bawah Kibaran Rok Payungmu'.

berjalanlah dengan diam, ea
akan kueja warna takdir
di bawah kibaran rok
payungmu

dan takdir seperti kamus matematika

yang buntu. seperti hatimu
yang patah dikhianati
angka-angka ganjil
saat menggenggam honor

kau tau?

sekolah memang tak mengenal cinta
dan ampun
sekolah tak mengajarkan
harga hati manusia

ada hanya sepotong angan

yang bunting
dihamili kering cuaca

[from, Di Bawah Rok Payungmu]



Saya suka. Tepatnya, saya terharu.

Bagaimana uniknya seorang Bara memadukan 'bunting' dan 'cuaca' pada puisi di atas? Bagaimana bisa? Dan dia bisa. Dia bisa! Dia mampu berpikir sampai ke sana! Dan saat membacanya dalam hening di kamar saya yang bau tembakau, saya spontan berteriak sekencang-kencangnya : SOMPRET! Bukan karena marah, tapi karena kagum. Ya, kadang-kadang kita punya pilihan kata sendiri untuk mengapresiasikan sesuatu bukan?

Bagi kalian yang suka puisi (membaca, menulis), buku ini layak dibaca. Setidaknya akan memperkaya khasanah sastra di dalam benak kita bukan?


"Samudera Cinta Ikan Paus" diakhiri dengan puisi berjudul 'Wasiat'. Dan buku ini menjadi buku ke-9 yang saya baca untuk tantangan membaca 50 buku untuk tahun 2014 yang saya buat sendiri di Goodreads. Sayangnya, buku ini belum masuk ke database Goodreads. Seseorang harus memasukkannya. Hehehe.

#BacaBuku
#BudayaMembaca

Selamat membaca, teman!


Wassalam.