Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Friday, May 30, 2014

#TripFCLabuanBajo 1 : Welcome to Labuan Bajo!



Welcome to Labuan Bajo!



Jangan mau keliling dunia sebelum keliling Indonesia. Jangan mau keliling Indonesia sebelum keliling Flores. Nyatanya, kaki kereta saya (dengan empat tahi lalat di kaki kiri) sudah melancong ke banyak tempat di Indonesia. Nyatanya, sampai sebelum tanggal 24 Mei 2014, kaki kereta saya masih punya hutang ke satu tempat paling menawan di Flores yaitu Labuan Bajo. Makanya pada Bulan April, ketika Ilham Himawan mengajak melancong bareng teman-teman Flobamora Community (FC) ke Labuan Bajo, ajakan itu langsung saya iya-kan tanpa pikir panjang. Karena, kapan lagi bila (tidak berani nekat) bukan sekarang? Saatnya saya mewujudkan impian saya pergi ke Labuan Bajo agar garis besar hutang saya keliling Pulau Flores LUNAS!


Hasil saling mengajak teman-teman FC akhirnya hanya kami berlima yang setuju melancong ke Labuan Bajo. Saya, Ilham Himawan, Poppy Pelupessy, Elison Naro aka Etchon, dan Sony. Ilham memberi pilihan tanggal liburan yang bisa disesuaikan dengan tanggal merah yang tertera pada kalender. Hasilnya kami memutuskan untuk melancong pada tanggal 24 – 28 Mei 2014. Karena gaya melancong kami adalah backpacker-an, makanya kami memutuskan untuk mencari tiket murah sebulan sebelumnya. Beruntung harga tiket yang kami peroleh pada Bulan April untuk keberangkatan Bulan Mei berkisar dari Rp. 345.000 hingga Rp. 370.000 saja. Urusan tiket kelar, kami mulai menyusun itinerary. Kakak Ilham lah yang paling berjasa menyusun itinerary kami berlima, termasuk membantu reservasi ulang ke Kanawa Resort. Selain itu kami juga menerapkan sistem one way out for money, dan kami harus mematuhinya.

 Ada palu buat menggetok yang bandel patungan duit (Part 2) hahahah ...

Tanggal 24 Mei 2014 berangkatlah kami dari Bandara H. Hasan Aroeboesman - Ende menuju Bandara Komodo - Labuan Bajo, diselingi acara ngos-ngosan a la Etchon yang merasa gadget-nya ketinggalan di ruang tunggu padahal benda itu tersimpan manis di dalam tas hahaha. Perjalanan menggunakan Aviastar (jenis BAE) hanyalah tigapuluh menit. Meski demikian perjalanan terasa lama soalnya sudah menahan hasrat sejak tiket terbeli. Oh iya, di dalam pesawat juga ada rombongan peserta MTQ Tingkat Propinsi dari Alor (pemenang pada tahun sebelumnya). Yup, MTQ tahun ini dilaksanakan di Labuan Bajo. Oh iya, Kakak Ilham itu keren looooh soalnya selama berada di dalam pesawat beliau senantiasa ODOJ (One Day One Jus, mengaji). Begitu pesawat landing, langsung acara foto-foto narsis dimulai. Saya sendiri di dalam hati berkata, "Alhamdulillah ya, Allah, akhirnya kaki kereta saya menginjak Labuan Bajo juga."

 View Labuan Bajo

Kami dijemput oleh member FC yang sekarang menetap di Labuan Bajo yaitu Imelda Marcos. Karena kami berlima sedangkan Imel hanya mengedarai satu motor sehingga kami memutuskan untuk menyewa taksi bandara dengan harga Rp. 50.000 saja. Sopirnya orang Makassar loh. Karena harus mampir terlebih dahulu di Kantor Kanawa Resort untuk memastikan reservasi, supir taksi menerima Rp. 60.000 (karena mau kami, bukan karena diminta oleh si sopir). Penginapan kami selama di Labuan Bajo adalah penginapan 'Bintang Lima' bernama "Imelda Komodo Lodge" *ngakak jungkir balik*. Kos Imel terletak di Jalan Gang Pengadilan, sebuah bangunan bertingkat dua berwarna hijau. Tiba di kos, kami langsung patungan uang (sebelumnya sudah patungan di Ende juga) dan makan. Imel memang patut mendapat penghargaan keren karena pelayanannya yang maksimal #jodho hahaha.

 Imel, berbaju garis-garis. Pelayanan prima :D

Selesai makan, kami istirahat dan mulai menyiapkan tenaga untuk perjalanan menuju Goa Batu Cermin. Beruntung ada teman Mam Poppy yang mau meminjamkan motornya (Kak Max), dan juga ada Vikram yang rela motornya dinaiki gajah (iye, saya itu maksudnya). Sekitar pukul 16.30 Wita berangkatlah kami ke Goa Batu Cermin yang jaraknya tidak sampai 3 kilometer dari kos Imel. Karena kami perginya sudah sore, sehingga Kak Max menyarankan untuk tidak memasuki goa tersebut. Tapi kami tidak kecewa karena acara foto-foto narsis tetap terlaksana dengan baik *senyum manis*. 

 Di depan papan nama Goa Batu Cermin

Destinasi berikutnya adalah sunset-an entah di mana. Saat itu masih dipikirkan. Tetapi Vikram melajukan motornya menuju Bukit Cinta! Wow. Pemandangannya bikin ngiler, bikin pengen berlama-lama di tempat itu. Tetapi karena di dalam itinerary sunset-an di Cafe bernama Tree Top, makanya kami tidak berlama-lama di Bukit Cinta. Hanya saja, selama berada di Bukit Cinta kami menemukan bungkusan kondom hahaha. Makanya Etchon menyeletuk : ini kalau lagi uhuk-uhuk terus muncul orang ketiga apa nggak oke? Iya, kawan, masalahnya bukit itu kan sepi sekali dan pasti sangat gulita saat malam *ngakak guling-guling*
 

 Pemandangan dari puncak Bukit Cinta

Kondom!

Dari Bukit Cinta, Imel maunya kami nongkrong sambil ngemil di Kampung Ujung yang adalah pusat kuliner malam hari dengan view laut. Semacam pujasera begitu. Tetapi dalam perjalanan ke sana kami melewati sebuah tempat yang langsung bikin saya HISTERIS GILA dan nyaris membuat Vikram mengamuk. Itu sunset sudah datang dan pemandangan yang ditawarkan sangat luar biasa! Vikram pun langsung memutar balik motornya, tidak jadi mengikuti dua motor di depan kami (Kak Max, Mam Poppy, Etchon, dan Sony). Sementara Ilham pun berpendapat sama dengan saya : kami harus menikmati momen ini dari tempat ini. Dermaga (jetty) yang telah rusak tempat kami menikmati sunset ini berada di daerah bernama Binongko. Ya, kawan, namanya sangat Sulawesi karena Labuan Bajo berpenduduk rata-rata dari Sulawesi dan Bima. Jangan heran jika menemukan tempat dengan nama Gorontalo, atau Binongko.

Beautiful!

Sunset di depan sana, mendengar lagu Homesick dari Kings of Convenience dari gadget Ilham, bikin saya menangis. Huh, mendadak cengeng di depan Vikram memang bukan tabiat yang baik, tapi saya sadar ternyata se-nggadhi-nggadhi-nya saya, saya tetaplah perempuan yang dapat mendadak dihinggapi perasaan melankolis. Teringat Mamatua dan berniat harus bisa mengajak Mamatua ke Binongko untuk melahap habis pesona sunset-nya.

Tidak ingin pergi dari tempat ini ...

Tapi waktu terus bergulir. Kami pun didera lapar sore. Akhirnya kami putuskan untuk ngemil di Kampung Ujung, tetapi pada akhirnya sekalian saja makan malam hehehe. Ikan bakar, cumi goreng, pelecing, sambal, dan lain-lainnya. Makan bersama keluarga besar ini sungguh lebih nikmat dari pada pacaran #eh hihihi. Usai makan dan mengobrol soal perjalanan besok menuju Pulau Kanawa, akhirnya kami pun pulang. Well, saatnya ngakak tidak jelas, dan muncul lah istilah WOW yang nanti akan saya ceritakan. Siapkan tenaga untuk perjalan besoknya, tanggal 25 Mei 2014.

Makan yuk!

WOW *suara datar* hahaha ...

Tunggu postingan berikutnya ya ...


Wassalam.

Saturday, May 24, 2014

Melancong Yuk!



Akhirnya melancong lagi. Akhirnya di 2014! Awal Februari kemarin saya dan teman-teman Flobamora Community melancong ke Taman Laut Riung 17 Pulau. Dua minggu yang lalu saya melancong ke Desa Moni dan Danau Kelimutu untuk keperluan taping video klip "Putera Puteri Matahari". Kali ini saya kembali melancong bersama teman-teman Flobamora Community ke ... LABUAN BAJO! Yipieee.

Doakan kami ya ... semoga kami tidak kalap sama alam menawan di sana hihihi.


Wassalam.

Friday, May 23, 2014

Putera Puteri Matahari Dari Timur Negeri



Luis Thomas Ire, si "Low Profile"

Adalah Luis Thomas Ire, putra Ende tetapi berdarah Manggarai (I mean, dia tumbuh kembang di Kota Ende, hehehe), yang terkenal sangat jenius dalam berkarya di bidang musik. Sudah sangat lama saya mengenalnya, terlebih saya adalah murid Ayahnya yang guru bahasa Inggris itu, dan selalu salut maksimal atas karya-karyanya. Salah satu karya Uis, demikian ia disapa, saya gunakan sebagai backsound dalam film dokumenter "1 Mug Beras Untuk Rokatenda" yang diikutsertakan dalam #Linimassa3, dan film dokumenter "Tenun Ikat, Karya Jenius Dari Ende" yang diikutsertakan dalam Lomba film dokumenter tentang HKI yang diselenggarakan oleh Kementrian Hukum dan HAM. Sebenarnya saya juga menggunakan salah satu lagu Uis untuk backsound video pribadi hasil liputan pribadi "Ritual Pati Ka Ata Mata". Saat masih menetap di Kota Ende, Uis juga dikenal sebagai musisi keren yang maju bersama Voldemort Band.

Saat ini Uis menetap di Surabaya, dan terus berkarya. Apa yang paling membuat saya salut padanya adalah komitmennya untuk mengajak anak muda Ende maju bersama talentanya yang luar biasa dalam bermusik tersebut. Biasanya, ketika semakin tinggi seseorang berdiri di tangga (anggap saja begitu) maka semakin 'buat diri inti' alias semakin sombong, 'mentang-mentang', dan tidak mau menghargai karya orang lain. Tetapi Uis berkebalikan dari semua itu. Beberapa karyanya sebut saja lagu yang berjudul "Berpestalah Seluruh Alam" yang diciptakan Uis dan dinyanyikan oleh Mami Beyo...eh, maksudnya dinyanyikan oleh Oskar Kapa. Lagu lainnya dinyanyikan oleh Elison Naro berjudul "Debu di Bawah Matahari" dan kebetulan saya yang membuat video klipnya. Karena basic saya bukan video klip tetapi video dokumenter *tsah* (maha guru saya kan Mas Dhandy Laksono), jadi yaaa sederhana saja tetapi kami semua puas. Oh iya, selain itu Uis juga pandai mengaransemen kembali lagu-lagu favoritnya, dan menyanyikannya. Untuk tahu lebih banyak tentang Uis dan karya-karyanya silahkan meluncur ke Google dan Youtube, ketik LUIS THOMAS IRE. Pasti ketemu! Kalau tidak ketemu, berarti Google dan Youtube-nya kuno *digampar*

Putera Puteri Matahari Dari Timur Negeri

Proyek terbaru Uis adalah sebuah lagu berjudul "Putera Puteri Matahari Dari Timur Negeri". Lagu ini dinyanyikan oleh 32, ya TIGA PULUH DUA, penyanyi yang semuanya terkoneksi dengan Kota Ende. It's a wow! Bukan karena saya adalah salah satu yang turut bersuara dalam salah satu bait lirik, tetapi karena lagu ini selalu membuat saya merinding. Uis itu, menurut saya, jago sekali membuat saya merinding hehehe. 32 penyanyi tersebut 5-nya menetap di Surabaya dan sisanya menetap di Ende. Nah, bagaimana mungkin Uis membuat lagu tersebut dapat dinyanyikan oleh demikian banyak orang dengan domisili di dua kota berbeda? Jawabannya adalah TEKNOLOGI. Adalah Meky Sega, pemilik Mosalaki Studio di Ende, yang siap merekam suara para penyanyi di Kota Ende setelah minus one-nya dikirimkan oleh Uis. Jenius kan? Lagu yang telah setengah jadi itu kemudian dikirim kembali ke Surabaya untuk proses pengisian vokal 5 penyanyi di sana.

Bagian saya di sini hanyalah membantu membuat video klip. Bukan perkara mudah membuat video klip yang isinya 32 penyanyi. Bisakah kalian bayangkan bagaimana kami membagi waktu untuk semua penyanyi? Harus bisa! Hahaha karena kami sudah melakukannya. Dibantu oleh make up artist yaitu Oskar Kapa, dan komentator frontal yaitu Elison Naro, saya bekerja dengan riang gembira, taping satu set demi set di lokasi berbeda, bahkan ada yang di luar kota. You know, ketika kita melakukan sesuatu dengan ikhlas dan tanpa beban, kebahagiaan adalah sesuatu yang akan kita rengkuh (bagi orang lain, mungkin materi lah yang ingin mereka kejar ... sayangnya jika punya niat seperti itu, rejeki tambah menjauh). Setidaknya itulah yang saya rasakan selama 70% proses pembuatan video klip "Putera Puteri Matahari Dari Timur Negeri". Kami ingin orang tahu tentang Ende, juga tentang kami, bahwa kami tidak seperti anggapan orang-orang (meski tidak semua orang menganggap kami dalam kacamata negatif), bahwa kami dapat melakukan sesuatu yang baik karena kami bersatu (padu ... jadi ingat GERPADU). Hahaha. Entah apa jadinya saya tanpa Oskar dan Etchon. Jujur, saya tidak mungkin dapat berpikir sendiri melihat situasi dan kondisi, meskipun untuk urusan nge-draft dan konsep saya tinggal mengedip mata *mulai songong, terus dilempari botol minuman*

Saat ini saya sedang menunggu beberapa hal dari Uis untuk final editing, juga menunggu waktu dari dua penyanyi yang berdomisili di Ende untuk proses taping. Semoga menjadi baik ... segalanya. Amin.

Ya, itulah sebabnya akhir-akhir ini saya mendadak semacam 'hilang' dari timeline Twitter, atau saya menjadi semacam 'hiatus sementara' dari blog. Tidak, tidak, tidak, saya tidak menghilang, teman. Saya selalu ada. Saya selalu memantau. Saya selalu melakukan hal-hal yang menurut orang lain itu bukan saya hahaha. Tenang ... saya bukan tipe manusia yang mangkir pada fitrah saya sebagai seorang blogger, aktivis informasi (kata orang sih begitu), dan seorang tukang sampah di ranah maya *senyum polos* Buktinya saya masih mau mengabarkan pada teman-teman tentang proyek yang sedang kami garap bersama.

Demikian, teman. Mohon doanya demi kelancaran proyek video klip ini. Amin.

Apa yang saya lakukan hari ini, bukanlah tindakan mencari muka, bukan pula mimpi yang ketinggian. Bagi saya, ini bukan dosa ketika saya mau membantu teman-teman, karena ketika kita ingin maju, kita harus bersatu *padu, gerpadu* :D *tim sorak yang luar biasa kece*


Wassalam.