Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Monday, March 16, 2015

Buku Saku Orangtua; Anak Bukan Kertas Kosong

Anak Bukan Kertas Kosong
Penulis: Bukik Setiawan




“Wow, bukunya keren bingits!” goda Si Kambing saat melihat buku ini. Saya tahu dia menggoda demikian karena sejak Januari hingga Maret 2015 belum satu pun buku saya sentuh selain buku berjudul Kamus Hukum. Bagi dia, yang bukan Pembaca aktif, buku dapat dinilai hanya dengan melihat sampulnya saja. Tapi begitu dia merasa terabaikan beberapa saat, tangannya usil merampas buku ini dari tangan saya. Dia membaca sepuluh lembar pertama. 


“Bagaimana?” tanya saya.

“Ternyata buku ini benar-benar keren!”

“Tidak pakai bingits?”


Si Kambing menggeleng. Kebiasaannya untuk meluncurkan kalimat-kalimat semi-pedas pun lenyap. Astaga, ujar saya dalam hati, ini kali kedua dia menikmati buku (buku saya) setelah buku lain yang berjudul Dajjal Akan Datang Dari Segitiga Bermuda.

Ketika ingin tahu, anak akan bergerak dengan kemauannya sendiri. Ketika diperintah, anak bergerak mengikuti kemauan orang lain.
(Anak Bukan Kertas Kosong, Halaman 89)

Kenapa saya tulis Anak Bukan Kertas Kosong ini sebagai buku saku orangtua yang artinya setiap orangtua (kalau boleh) memilikinya? Karena saya, meskipun belum menjadi orangtua tetapi telah lama menjadi Encim (Tante) dari tigabelas keponakan dan Oma dari dua cucu, cukup paham tentang pendidikan anak sesungguhnya. Tahukah kau, kawan, tulisan-tulisan cerdas Mas Bukik di dalam buku ini telah menjawab semua omelan para orangtua dan guru tentang ...

Aduh ... anak itu nakal sekali! 
Kenapa anak saya kalau disuruh begini, malah buat begitu?
Kau nih! Tir bisa duduk diam saja kah?
Dasar anak malas! Cuma bisa diam saja di kelas!

Mas Bukik tidak menggurui Pembacanya tentang bagaimana mendidik anak, namun memberi jalan yang masuk akal tentang bagaimana memahami, mendidik, dan mengarahkan anak sesuai dengan oretan-oretan yang memang sudah tertoreh pada anak. Karena setiap anak itu unik, tentu oretannya pun tidak sama. Jadi bagi saya, setiap orangtua dan guru memang wajib memiliki buku ini. Saya jamin! Tidak ada seorang pun yang akan menyesal setelah membacanya.

Pendidikan itu bukan menanamkan, melainkan menumbuhkan. Pendidikan bukanlah mengubah beragam keistimewaan anak menjadi seragam, melainkan menstimulasi anak untuk menjadi dirinya sendiri.
(Anak Bukan Kertas Kosong, Halaman 46)

The Krucils adalah anak-anak tetangga yang saban hari belajar di rumah saya bersama Mamatua (mantan Kepala Sekolah dan Guru). The Krucils terdiri dari anak-anak usia TK hingga kelas 5 SD. Salah satu dari The Krucils adalah anak (maaf) cacat fisik, ada pula yang jumlah gerak tubuhnya dalam semenit melebihi kemampuan berhitung, ada pula yang sangat santun dan cerdas. Macam-macam lah! Membaca Anak Bukan Kertas Kosong, saya teringat bagaimana Mamatua meladeni The Krucils ini. Mamatua selalu bertanya pada mereka tentang jenis pelajaran apa yang mereka inginkan hari ini? Jawabannya tentu beda-beda. Buku-buku tulis yang mereka setorkan lantas mulai ditulis Mamatua. Jika ada delapan buku tulis, maka delapan buku tersebut memuat pertanyaan berbeda. Si Jeki akan mendapat lima pertanyaan yang jauh berbeda dengan Cika. Demikian pula Meli, Nabil, atau Yoye.

Terkadang ketika sedang mengerjakan tugas dari Mamatua, mendadak Cika berdiri dan bernyanyi, Mamatua malah menyuruh dia terus bernyanyi. Bukan, bukan karena Cika tipe anak yang tidak mampu mengikuti aturan, namun karena dia lah satu-satunya anak yang berkekurangan secara fisik namun selalu ingin tampil. Mamatua mengajarkan pada Cika bahwa kekurangan fisik bukan alasan untuk tidak berani tampil.

Benih padi tidak bisa menjadi tanaman jagung, benih jagung tidak bisa menjadi tanaman pagi. Pendidik bisa menuntun, tetapi tidak bisa mendikte apa yang sudah menjadi kodrat anak.
(Anak Bukan Kertas Kosong, Halaman 42) 

Ya, Mas Bukik! Ja'o setuju! 

Secara Sampul ...

Buku Anak Bukan Kertas Kosong ini sederhana saja, tapi menarik. Dasar putih, tulisan judul merah, dan yang pasti disertai warna kuning yang atraktif. Bukan karena saya pecinta warna kuning, melainkan karena memang warna kuning diletakan secara proposional dengan warna lainnya; merah, hijau, biru. Pentingkah ini? Ya, penting!

Secara Isi ...

MMeskipun dikatakan isinya tidak menggurui, bagi saya isinya mengajarkan banyak hal penting kepada Pembaca. Anak memang bukan kertas kosong yang kemudian diwarnai seenaknya saja oleh orangtua, sesuai dengan keinginan orangtua. Di dalam buku ini Pembaca akan mengetahui A sampai Z tentang 'menangani' anak. Mulai dari mengetahui profil anak, hingga pengembangan bakat anak. Hebatnya, pada Bab 9 buku ini berjudul Delapan Aktivitas Orangtua Yang Menumbuhkan Bakat Anak. Quote yang paling enak untuk bagian ini adalah Tinggalkan anggapan anak hanyalah kertas kosong, dan gantikan dengan anggapan bahwa anak adalah benih kehidupan yang utuh yang mempunyai kemampuan belajar luar biasa. Tugas kita bukanlah membuat anak belajar, melainkan merawat kegemaran belajar anak. (Anak Bukan Kertas Kosong, Halaman 167).

Secara Ilustrasi ...

Nah! Saya jadi ingat bukunya Ustadz Felix Siauw; Udah, Putusin Aja! karena ilustrasi di dalam bukunya sangat menyenangkan. Aaaah, seperti satu paket kenyang deh buku ini.

Masih banyak lagi yang mau saya tulis tentang Anak Bukan Kertas Kosong ini, tetapi nanti malah terbongkar semua isinya, malah tidak ada yang mau baca karena merasa sudah tahu semuanya. Sekali ini, bagi saya buku ini merupakan buku saku bagi semua orangtua dan guru. Panduannya akan membuat kita paham tentang banyak hal mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak. Terima kasih Mas Bukik untuk buku yang sangat membangun ini.

Seperti katanya Si Kambing ... KEREN!

Salam.

Tuesday, March 10, 2015

FlashMob Polres Ende

Terimakasih Bapak Kapolres Ende,
Yang telah mempercayai kami untuk menggarap videonya. Semoga berkenan.
Klarifikasi lagi ya ... keberadaan saya di lapangan Pancasila adalah sematamata untuk kepentingan Polres Ende, bukan ECR :D
Salam.

Thursday, March 05, 2015

Mari Mendongeng!


Foto postingan ini saya kopas dari #Instagram-nya Kakak Anazkia yang kesohor itu *batuk-batuk*

Ya, seperti postingan saya di Facebook beberapa jam sebelum ini, foto tersebut menyengat saya. Kayaknya semua serba tepat yang manis. Senin kemarin saya dicolek Ryan, guru Kober Yapertif (Yayasan Perguruan Tinggi Flores), dan tadi pagi dikasih surat resmi sama Pak Beldis terkait Lomba Mendongeng antar guru Kober pada Bulan Mei nanti.

Mendongeng bukan perkara sepele, butuh keahlian juga, karena pendengarnya adalah anak-anak. Dan dalam dongengan kita dapat selipkan elemen-elemen edukatif! Yess! Itu yang keren.

Saat ini saya betul-betul bahagia dengan suasana kondusif yang diciptakan beberapa kaula muda Ende. Pak Mukhlis misalnya, dengan mendirikan Rumah Flores, dan bagaimana mencari solusi untuk membantu sekolah-sekolah yang sangat butuh bantuan. Atau Martozzo dengan Lentera Ende-nya. Dan mereka independen! Itu yang utama. Saya bangga mengenal mereka semua, dan menjadi bagian dari aksi-aksi positif ini.

Sebarkan!

Seperti kata Pak Mukhlis, muda berkreatifitas, tua hidup penuh arti.

Ciaooo :D

Monday, March 02, 2015

Diklat SAR Flopala

Diklat SAR Angkatan I Flopala.
23 Feb - 6 Mar 2015.
Yipiiieeeee!

Sunday, March 01, 2015

RIP


Saya mengenal beliau sebagai sosok yang sangat cerdas, sangat ramah, sangat teratur dalam menyampaikan pemikirannya (ketika berbicara kerangkanya begitu teratur), dan santun pada siapa saja tak kenal pangkat atau golongan. 

Beberapa kali mewawancarai beliau dalam Suara Universitaria, juga saat penyusunan buku Sang Visioner, wawasan saya pasti bertambah (absolutely). Dan beliau selalu membagi rejekinya pada saya dengan tulus.

Terakhir mengobrol dengan beliau, dalam bahasa Inggris (Jum'at, English Day). Saat itu, seperti kebiasaan beliau, sedang berjalan dari FKIP menuju Gedung Rektorat. Kami tertawa-tawa, lantas berpisah jalan.

... ajal, datang seperti adanya ajal ...

Selamat jalan Bapak Dr. Pius Pampe, M.Hum.

Uniflor kehilangan tokoh pendidik, seorang olahragawan (dari cerita beliau saat penyusunan buku Sang Visioner), seorang sosok 'Bapak' yang rendah hati. Allah bless you.

Setiap orang akan mengenang beliau dengan caranya sendiri-sendiri...