Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Sunday, March 27, 2016

Bakat Bukan Takdir



 Gambar diambil dari Google.

Pengantar


Pertanyaan sekaligus tantangan tersebut dapat kalian temui pada lembar ke-empat sebuah buku berjudul Bakat Bukan Takdir, diterbitkan oleh Penerbit Buah Hati dan TemanTakita[dot]Com, yang ditulis oleh Bukik Setiawan dan Andrie Firdaus. Bakat Bukan Takdir merupakan seri dari buku lain yang ditulis oleh Bukik (Twitter: @bukik) berjudul Anak Bukan Kertas Kosong.

Menelaah pertanyaan siapkah anak anda berkarier cemerlang? mengingatkan saya pada semua kuliah umum dan seminar yang pernah digelar di Universitas Flores oleh narasumber lokal, regional, maupun nasional. Tema-tema yang disampaikan oleh para narasumber selalu bermuara pada bagaimana caranya mahasiswa mengembangkan potensi diri serta melihat peluang yang ada untuk menciptakan lapangan kerja baru yang tidak saja berguna bagi dirinya sendiri tetapi juga orang lain di sekitarnya. Bahkan Bupati Ende, Bapak Marsel Petu, dalam satu kesempatan kuliah umum pernah secara tegas mengingatkan mahasiswa untuk tidak PNS-oriented.

Umumnya para orangtua di daerah kami punya satu siklus dasar dalam hal kehidupan anak. Siklus tersebut adalah anak terlahir ke dunia, dibesarkan, memperoleh pendidikan PAUD hingga SMA, kuliah di kota besar agar terlihat bergengsi, kembali ke daerah kami, dan yang paling penting harus menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil), menikah, dikaruniai anak – sikluspun berulang. PNS ini ibarat dogma yang tertanam kuat hingga ke inti bumi. Satu-satunya karier yang harus dikejar karena menjamin hidup makmur hingga akhir hayat.
Dogma PNS itu membuat saya berpikir ke belakang tentang bagaimana penciptaannya. Siapapun yang terdogma-PNS jelas tidak open-minded. Dogma itu tercipta akibat dari kurangnya wawasan orangtua dan lingkungan keluarga akan karier-karier yang lain yang dapat dititi sejak dini berdasarkan potensi setiap individu. Jaman berubah, dogma PNS tergerus, dan kemudian di daerah kami begitu banyak orang-orang yang sukses tanpa punya pemikiran serius untuk menjadi PNS. Om Benny Laka begitu sukses mendulang Rupiah melalui pengembangan potensi dirinya sendiri: seorang seniman yang menghasilkan patung Yesus Kristus raksasa di depan Gereja Kathedral di Kota Ende, Taman Kota Reinha di Kota Larantuka, hingga dekorasi pelaminan pesta perkawinan. Atau, saya contohkan diri sendiri yang kemudian berkarier di ranah dokumentasi video bukan hanya karena bakat melainkan juga karena hobby.

Namun ... itu terjadi karena Om Benny Laka, atau saya, menyadari potensi diri dan berhasil membaca peluang yang ada. Dari diri kami sendiri. Apakah sudah terlambat? Tidak juga. Namun, alangkah lebih bagusnya jika setiap individu mengetahui potensi dirinya sejak usia dini. Caranya? Ini yang penting: orangtualah yang berkewajiban melakukannya dengan mengantongi panduan paling keren yaitu buku berjudul Bakat Bukan Takdir.

Bakat Bukan Takdir


Membaca pengantar yang saya tulis di atas bermuara pada sebuah jawaban paling masuk akal; buku berjudul Bakat Bukan Takdir. Ini merupakan buku yang memandu para orangtua untuk mengenali dan menstimulasi kecerdasan majemuk anak, mengenal dan memilih bakat anak yang perlu dikembangkan, mengembangkan kegemaran dan ketekunan belajar anak, dan membuat portofolio bakat anak yang menjadi modal bagi anak dalam berkarier (sumber: dari sini).

Kecenderungan yang terjadi selama ini adalah orangtua selalu memaksakan kehendaknya pada anak-anak. “Harus jadi Polisi seperti Ayah!” atau “Jadi PNS itu enak, terima pensiun sampai akhir hayat, Nak!” atau “Kau harus jadi perawat karena itu satu-satunya peluang paling memungkinkan saat ini untuk hidup baik.” Secara tidak sadar kalimat-kalimat itu merupakan borgol yang membelenggu potensi lain yang ada dalam diri seorang anak. Buku Bakat Bukan Takdir mengajarkan anda, para orangtua, untuk tidak memaksakan anak menjadi seorang polisi ketika ketika dia justru tertarik pada dunia masak-memasak. Quote halaman 87 buku Bakat Bukan Takdir berbunyi:

“Jangan minta buah mangga pada pohon rambutan, tapi jadikan setiap pohon buahnya manis.” ~ Mohammad Syafei, Tokoh Pendidikan Indonesia.

Saya rasa perkembangan jaman telah membuka wawasan para orangtua untuk tidak mencemooh anak laki-lakinya yang suka memasak. Melihat Bara, David Rocco, Miguel, atau tetangga saya yang bernama Agus, para orangtua tentu menyadari tidak selamanya anak laki-laki menjadi polisi dan anak perempuan menjadi chef.

Di dalam buku Bakat Bukan Takdir terdapat panduan latihan untuk para orangtua beserta kolom/form untuk mengisinya. Praktis hal tersebut mempermudah orangtua untuk melihat potensi pada diri anak—untuk kemudian membimbingnya. Untuk lebih membantu orangtua pada halaman 207 terdapat Daftar Contoh Pertanyaan Menggugah, yang dilanjutkan dengan Latihan Percakapan Apresiatif pada halaman 210, dan tabel pengisian hasilnya pada halaman 211 (topik bahasan, respon anak, dan hasil refleksi). Dari sini para orangtua akan melihat apakah anaknya lebih suka pelajaran tertentu dari pelajaran lainnya, atau kebiasaan tertentu, atau kegiatan tertentu, dan tentu saja bakat anak tersebut.

Mengulas buku Bakat Bukan Takdir tentu tak ada habis-habisnya, disertai dengan contoh yang sehari-hari saya amati, karena begitu banyak panduan dan pelajaran berharga yang bisa dilakukan dan dipelajari para orangtua dalam hal mengenal potensi anak dan membimbingnya ke arah pengasahan sebagai modal meniti karier yang sesuai dengan bakat, kemampuan, dan kesenangan. Jika pekerjaan menjadi hobby yang dilakukan dengan senang hati karena sesuai kemampuan maka kariernya pasti cemerlang.
Di mana membeli buku ini?

Mudah. Buku Bakat Bukan Takdir sudah tersedia di toko-toko buku di Indonesia. Selamat berburu buku Bakat Bukan Takdir, dan selamat menjadi orangtua yang keren!

Penutup

Sejak dulu saya paling benci hitung-hitungan. Tepat, saya selalu sakit hati setiap kali pelajaran Matematika tiba. Rasa malas mendadak muncul berlipat-lipat. Di rumah, saya menulis hal-hal yang saya amati sehari-hari di kertas dan buku tulis. Kakak ipar saya, Mbak Wati, sering menyaksikan saya menyapu rumah sambil mulut komat-kamit semacam orang membaca mantra. Padahal bukan mantra yang saya baca melainkan saya sedang bercerita pada sapu dan lantai. Kadang-kadang saya mengarang cerita impian kepada mereka. Fakta ini membuat Mbak Wati geleng-geleng kepala (ketika dia mendekat dan mendengar suara pelan saya bercerita).

Orangtua saya, yang keren itu, pernah berkata, “semua pelajaran itu harus dipelajari sungguh-sungguh!” tapi mereka selalu saja merecoki saya dengan buku, buku, buku, dan buku karena melihat minat saya pada dunia membaca dan menulis. Saat saya belum bersekolah di SDI Ende 11 (tempat Mamatua menjadi Kepsek) dan juga belum TK, Mamatua selalu membawa buku dari perpustakana sekolah untuk saya baca di rumah (karena orangtua guru, saya bisa membaca sejak belum TK). Bahkan Om Frans Wangge, sahabat Bapa, setiap kali bertemu saya bilang begini, “Haaa kau ini nih yang kalau Bapa pergi ke Surabaya pesanannya cuma buku!” Satu lagi, sejak SD pita mesin ketik Bapa selalu sering diganti karena setiap malam saya mengetik puisi dan cerpen.

Mungkin orangtua sudah tahu potensi saya memang bukan di dunia hitung-hitungan namun mereka belum tahu bagaimana caranya membimbing ke arah meniti karier cemerlang dengan melihat bakat. Untungnya orangtua saya juga tidak terdogma PNS karena bagi Bapa saya orang kreatif itu tidak akan pernah kelaparan sepanjang hidupnya. Tidak ada satupun anak Bapa saya yang menjadi PNS. Kakak pertama saya, Abang Nanu (suaminya Mbak Wati), sekolah teknik tapi bakat mengantarnya pada dunia advertising; dunia desain, dunia seni, dunia bisnis.

Ketika SMU saya memilih jurusan bahasa dan orangtua saya hanya bilang, “semua Kakak kau itu anak IPA tapi kalau kau suka masuk Bahasa ... itu pilihan kau.” Dan terbukti pekerjaan utama saya adalah bergelut dengan dunia berita, opini, artikel ilmiah, sampai dokumentasi. Tidak ada hitung-hitungan di dalamnya. Haha.

Buku Bakat Bukan Takdir benar-benar menginspirasi dan membuat saya flashback terhadap kehidupan saya sendiri dan bagaimana pola orangtua mendidik anak. Buku ini juga akan menjadi panduan saya dan Mamatua dalam mendidik para krutu (bocah tetangga) yang datang ke rumah untuk belajar. Fyi; rumah saya ini semacam tempat belajar luar sekolah bagi para bocah. Setiap hari mereka datang ke rumah membawa buku untuk belajar bersama Mamatua. Karena usia mereka masih SD, sambil merem pun Mamatua jago mengajari mereka hitung-hitungan, Bahasa Indonesia, sampai pengetahun umum. Dengan buku ini setidaknya kami jadi punya panduan baru menggali potensi para krutu meskipun mereka tidak berhubungan darah dengan kami.

Wassalam.

Thursday, March 24, 2016

Project #DIY

One of my desk-organizer.



Ketertarikan pada dunia DIY (Do It Yourself) mulai menggila sejak perasaan saya terketuk *syalala bahasanya* melihat begitu cantiknya keranjang anyaman berbahan kertas koran (lebih tepat disebut craft). Tertarik tidak akan menjadi apa-apa jika tidak coba membuatnya. Yess, berbekal lem takol berdaya rekat minim satuper satu benda cantik itu berhasil dibentuk meskipun tidak cantik-cantik amat. Ibarat manusia: banyak keriput, lemak bergelambir, full of selulit, dan harus terima kenyataan karena operasi plastik bikin miskin seketika.

Dari keranjang anyaman saya mulai berinovasi membuat desk-organizer. Awalnya saya membuat satu tempat alat tulis, single fighter, berbahan kartun berukuran agak-raksasa. Betul juga istilah: menjadi bisa karena biasa. Dari satu menjadi dua, dari dua menjadi tiga, dari tiga menjadi tak terhitung. Dan setiap kali membuat desk-organizer, semakin ada saja ide gilanya. Tidak susah membuat desk-organizer namun dibutuhkan ketekunan, which is saya yang tidak seberapa tekun akhirnya menjadi tekun, dan tentu harapan untuk dipuji.

Bermula dari permintaan Shinta Degor, dia menyediakan karton dan beberapa material lain *duileh, material*, berlanjut Mila Wolo, Grace, Yudith Ngga’a, Hepi, Melisa, Yohana, Mam Poppy, Dessy Daulika, Nona Florida, Ibu Rini, dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Well, ternyata banyak juga meja kerja di lingkungan Uniflor dihiasi desk-organizer buatan saya. Haha *ketawa bangga*. Dan kemudian barulah saya membuat desk-organizer untuk meja kerja saya sendiri *ihiks*. Oia, lemnya saya ganti. Dari takol menjadi walbergh. Eh, weber maksudnya. Seharusnya sih lem tembak.

Project #DIY masih terus berlanjut meskipun tidak intens. I mean, meskipun tidak setiap hari membuatnya namun saya masih membuatnya. Barusan saya coba membuat desk-organizer yang menggabungkan: kertas, karton, botol plastik, dan bekas gulungan bahan baliho (sejenis rol isolasi/lakban itu loh). Lumayan keren *manggut-manggut*. Dan terakhir saya membuat mini-wall-organizer yang cerah ceria karena pembungkusnya menggunakan kertas majalah (katalog) dengan gambar berwarna cerah. Rencananya bakal ditempel di dinding tempat saya bekerja. My workspace itu di kamar, jadi yah lumayan mempercantik kamar yang berantakan dipenuhi benda-benda mungil.

Next project saya bakal bikin kursi dari ban mobil. Pertama, beli mobilnya. Kedua, lepas bannya *ngikik*. Sudah dapat dua ban dari Abang Nanu setelah kakak pertama saya itu mengganti ban mobilnya. Mungkin bakal jadi dua bangku pendek atau satu bangku tinggi atau bisa juga cukup jadiin meja. Soalnya bahan-bahan untuk membuat bangku bahan ban ini lumayan juga menguras kantong. Hmmm *elus jenggot* entah bagaimana nanti bikinnya, saya optimis lah bisa. Om Fals juga sudah siap membantu. Insha Allah.

Yuk teman-teman, kita ber-DIY-ria :D