Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Friday, April 29, 2016

Civil War

Gambar diambil dari Google.

Captain America: Civil War, sebuah penantian yang telah terjawab tanggal 27 April 2016 kemarin ketika ditayangkan di bioskop di Indonesia.

Bleh!

Di Indonesia! Artinya, bioskop-bioskop yang ada di kota-kota besar di Indonesia! Sedangkan kami yang ada di Ende? Cukuplah menunggu ada yang berbaik hati berbagi file *muka datar*. But it's okay, selama kami di kota kecil ini masih bisa terkoneksi dengan dunia luar ... masih normal lah. Maka itu kalau dipikir-pikir masih beruntung, ketimbang tidak bisa mengakses apapun sama sekali?

*duduk di puncak Gunung Meja, abis itu berdo'a*

Menunggu Civil War tiba di laptop :p
Penasaran sekali bagaimana jadinya jika para superhero itu berantem satu sama lain. Keberpihakan mereka, antara Captain America dan Ironman, tentu ada sebab dan tujuannya. Penasaran? Sama. Apalagi kemunculan Spiderman di sini semakin bikin ... keren? Ah, tidak juga. Macamnya kemunculan Spiderman merupakan keanehan tersendiri di Civil War. Saya pernah membaca sebuah tulisan tentang kemunculan Spiderman di Civil War yang katanya banyak disayangkan karena merusak 'pemandangan' hahaha. Tapi bagi saya yang belum menonton, siapa tahu keberadaan Spiderman ini justru merupakan kunci dari pertarungan ini?

Ya siapa tahuuuu ... yang sudah nonton, bagi info dooooonk :D

Thursday, April 28, 2016

Police Movie Festival 2016

Ikutan yuk! Mumpung Masih banyak waktu :D
Saya... ikut nggak ya... ikut... nggak... ikut... nggak... auk ah :p

Wednesday, April 27, 2016

Intelegensi Embun Pagi

Cover Intelegensi Embun Pagi.



Penantian saya akan Intelegensi Embun Pagi (IEP) berakhir sudah. Kayaknya harus sujud syukur ini, sodara-sodara! Beberapa minggu terakhir cukup ngiler-bergembira melihat netizen pada foto-foto-cantik dengan novel karya Dee (Dewi Lestari) yang paling ditunggu setelah buku pertama Supernova yaitu Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh terbit pada tahun 2001. Terima kasih Gek Judith (Mam Pyer) yang rela travelbag-nya ditambah beban IEP setebal 700 halaman ini ... lintas pulau, lintas lautan.

*hela nafas panjang*

Sayang sekali. 700 halaman itu ternyata saya lahap hanya kurang dari sehari. Dan ... dan ... saya masih bertanya-tanya kenapa sebegitu cepatnya saya melahap Intelegensi Embun Pagi seumpama manusia makan tanpa melalui proses mengunyah tetapi langsung ditelan *blooom!* jatuh ke lambung. Ah, saya kehilangan esensi Supernova di dalam Intelegensi Embun Pagi! Terakhir, usai membaca Gelombang, saya pikir akan dibawa pada kisah peradaban yang gimanaaalah begitu. Eh, Intelegensi Embun Pagi malah menyajikan kejar-kejaran antara Sarvara dengan musuh-musuhnya yaitu Infiltran dan Peretas. Sudah? Hanya sebegitu saja? Iya, hanya sebegitu ketika siklus itu terjadi dan mereka harus menunggu Peretas Puncak ... nanti ... entah kapan (kalau memang akan ada buku yang ditulis khusus oleh Dee soal Peretas Puncak). Awalnya saya merasa "Ini buku bakal BERAT banget nih", eh ternyata ekspetasi saya meleset sangat jauh.

Apa yang membuat saya kecewa?

T O K O H.
Mereka, para tokoh yang karakternya diceritakan amat sangat kuat dan berakar dalam buku-buku sebelumnya menjadi terbang-tertiup-angin di dalam Intelegensi Embun Pagi. Saya tidak terlalu berharap pada Diva atau Elektra ya ... saya berharap Bodhi akan menjadi something-cool-and-superb di Intelegensi Embun Pagi. Harapan saya pupus. Bodhi adalah Peretas Kisi berkode Akar yang bisa melihat aura, kisi, garis-garis, atau apalah namanya itu dengan warna indikasi yang menandakan sosok itu adalah Infiltran, Sarvara, atau Peretas (selain betapa syoknya dia bisa bertemu kembali dengan Guru Liong dan si bawel Kell, tidak ada lagi yang bisa dilanjutkan dari karakter kuatnya dalam buku Akar). Yang artinya Bodhi menjadi semacam penunjuk jalan atau guide bagi teman-temannya. Dia akan mendeteksi orang-orang di sekitarnya ... keuntungannya adalah jika ada Sarvara yang mendekat mereka bisa lebih dulu mengantisipasi.

-oh.

Elektra. Tidak ada yang saya harapkan dari Peretas Memori berkode Petir ini. Untuk seorang Peretas yang lama berada di bawah asuhan Sarvara (Bu Sati) macamnya Elektra akan lepas dari gugusnya sendiri. Tapi, ya, tentu tidak seenak itu dia terlepas ... dia kembali lagi ke dalam gugus mereka (Gugus Asko) setelah dibantu oleh Toni Peretas Memori berkode Foniks dari Gugus Kandara. Hmmm, meskipun tidak ada yang saya harapkan dari Elektra, tapi sesungguhnya dia punya peranan sangat kuat. Sebagai Peretas dengan kekuatan listrik, atau petir, atau apakah yang efeknya bikin hangus itu, dia adalah pemicu.

Siapa lagi?
Alfa!
Aduh. Saya jadi malas mengulas Alfa. Dia adalah tokoh kunci yang mati begitu saja (baca dulu Intelegensi Embun Pagi untuk tahu bagaimana Alfa merencanakan kematiannya sebagai kunci hancurnya kekuatan para Sarvara yang ada/berkumpul pada saat itu). Dan karena dia mati maka Sarvara terkuat, Ishtar Summer, pun melemah dan kemenangan berada di tangan para Infiltran dan Peretas. Kok Star bisa melemah? Ya iya laaaah, melemah karena cinta. Star itu kan jatuh cinta sama Alfa dan akan melakukan apapun agar bisa bersama si Peretas Mimpi berkode Gelombang itu. Dan karena Alfa menolak menyeberang menjadi Sarvara, maka matilah dia.

-ah ...

Kegairahan saya membaca Intelegensi Embun Pagi bergolak adalah ketika Zarah pulang ke rumah orangtuanya. Bagaimana Gio membaca jurnal-jurnal Firas si Peretas Gerbang berkode Murai dari Gugus Kandara. Dalam hati saya berkata: akhirnya pencarian Zarah akan keberadaan ayahnya di dalam Partikel akan terjawab di dalam Intelegensi Embun Pagi. Tapeeee (tape nggak pakai ketan) saya salah lagi. Firas, ayah Zarah, secara jasad telah tewas dan dipaksa menyeberang menjadi Sarvara oleh Simon. Ya, itu memang kenyataan paling menyakitkan untuk bisa Zarah terima.

Di luar dari tokoh-tokoh Supernova yang di dalam Intelegensi Embun Pagi yang mengecewakan (apalagi si Bodhi), masih banyak hal lain yang menggelitik saya. Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh bercerita tentang Gugus Kandara dimana salah seorang peretas mereka yaitu Diva menginginkan percepatan siklus. Di dalam Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh ada kisah yang ditulis (kisah di dalam kisah) oleh Dimas dan Reuben, pasangan gay dengan hubungan hangat dan bikin iri. Iri karena mereka adalah pasangan yang menghasilkan obrolan-obrolan cerdas berkualitas. Oke, Reuben adalah seorang ahli fisika berdarah Indo-Yahudi lulusan Johns Hopkins Medical School yang punya cita-cita menjembatani semua cabang sains dan psikologi. Sedangkan dimas adalah sastrawan lulusan George Washington University, D.C. Kisah yang ditulis oleh Reuben dan Dimas tersebut dan kode jelasnya soal Ferre-Rana-Diva dan Gugus Kandara (ya, #Kode) dengan para peretas yaitu:

Diva Anastasia (dialah yang membangun Gugus Kandara), Peretas Mimpi, berkode Bintang Jatuh.
Ferre berkode Ksatria.
Rana berkode Putri.
Bong berkode Bulan.
Firas berkode Murai.
Dan Toni berkode Foniks. Dia yang terakhir ... apakah dia adalah si Peretas Puncak dari Gugus Kandara? Entahlah. Karena Gugus Kandara hancur atas inisiatif Diva (Bintang Jatuh) yang menginginkan percepatan siklus.

Pada buku kedua sampai kelima yaitu: Akar, Petir, Partikel, dan Gelombang, kisah yang tersaji adalah tentang para peretas dari Gugus Asko ... hanya saja Gio sebagai Peretas Kunci berkode Kabut justru punya hubungan kuat dengan Diva Anastasia dari Gugus Kandara dan sudah ada sejak Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh. Dari buku kedua sampai buku keempat, saya masih bermain dengan imaji tentang Bodhi, Elektra, dan Zarah. Sama sekali tidak ada kepikiran soal Gio apalagi si Mpret. Bahwa Elektra dengan kekuatan sengatan listrik ini pasti erat sekali kaitannya sama Bodhi dan Zarah ... mungkinkah mereka bertiga (dan jika ada tokoh inti baru lainnya) akan bertemu dan akan menghasilkan ledakan super dahsyat dari kekuatan-kekuatan mereka?

Ternyata tidak ... imaji saya berhenti.

Karena pada buku kelima, Gelombang, mulai muncul istilah Infiltran, Peretas, dan Sarvara. Peretas adalah mereka yang memutuskan untuk amnesia sampai saat harus dibangkitkan (untuk mengingat kembali). Mereka harus amnesia untuk melindungi penyamaran mereka di dunia. Infiltran bertugas untuk membantu peretas dalam melaksanakan rencana mereka sedangkan Sarvara bertugas untuk memburu peretas.

Dan berat memang ketika di dalam Intelegensi Embun Pagi saya membaca sebuah cerita ...

PENCARIAN; bagaimana para peretas dari Gugus Asko saling mencari di Indonesia.

PERKUMPULAN; bagaimana para peretas berkumpul dan mulai menjalankan rencana-rencana mereka, tentu dibantu oleh Infiltran.

PEREDUPAN; meredupnya para tokoh inti (yaitu para peretas yang dibahas per masing-masing buku) jelas mengecewakan. Tokoh inti dari dua gugus, man! Bagaimana Ferre, Bong, Rana, Diva, sampai si Firas yang kini dipanggil Bumi itu?

CINTA; bagaimana mungkin Gio yang selama ini mencari Diva tetiba jatuh cinta begitu dalam pada Zarah? Mungkin saja sih ... tapi ... absurd.

KEHILANGAN TIANG UTAMA? Ah, itu apa kabarnya lah si Reuben dan Dimas?

LATAR WAKTU; soal latar waktu ini pada akhirnya saya temukan juga komentar yang mirip di Goodreads. Bahwa, jika settingannya tahun 2003 (Akar, Petir, Partikel, Gelombang) maka sungguh aneh jika Alfa Sagala sudah memakai handphone touchscreen di dalam Gelombang. Yang ada di benak saya lain lagi ... soal Jakarta - Bandung - Jakarta - Bandung. Coba ada sedikit penjelasan tentang rentang waktu perjalanan si Mpret, maka lebih masuk akal. Toh Mpret bukan Infiltran yang bisa intervensi sesukanya. Mungkin benar, seperti komentar di Goodreads yang sempat saya baca ... rentang waktu yang panjang (15 tahun) antara buku pertama dan buku keenam, memang bisa bikin masalah ...

Sama seperti teman-teman lain yang kecewa dengan Intelegensi Embun Pagi, buku ini hanya layak dapat satu bintang (ala Goodreads). 

Satu lagi yang mungkin bakal kalian ketawain dari saya ...
Judul buku: Intelegensia Embun Pagi. Saya pikir akan ada tokoh final bernama Embun dengan kekuatan menyejukkan yang akan menenangkan Elektra dan Bodhi, sekaligus menemukan Diva dan Firas serta berusaha menghidupkan kembali Gugus Kandara, menyatukan Gio dan Diva dalam pernikahan sakral, memberikan terapi apa kek kepada Alfa supaya dia bisa tertidur, merestui hubungan Reuben dan Dimas ...

Ngocol sih ... memang ...

Tapi Embun, seperti namanya, adalah HARAPAN.


Wassalam.

Monday, April 25, 2016

Palmerston Festival

Screenshoot dari http://palmerston.nt.go.au


Seperti yang sudah saya janjikan ...
Inilah postingan terpisah, lanjutan dari postingan sebelumnya tentang Sanggar Cindy Go International.

***

PALMERSTON FESTIVAL ATAU
CITRA INDONESIA 2016
04 - 07 MEI 2016
DI NORTHERN TERRITORY AUSTRALIA
  
LATAR BELAKANG

Northern Territory Merupakan Negara Bagian Dari Pemerintah Federal Australia yang beribukota di Darwin  dengan jumlah penduduk sekitar 4000 s/d 5000 Jiwa dan 1000 diantaranya adalah masyarakat Indonesia yang terdiri dari Warga Indonesia Asli yang bekerja dan sekolah disana, Keturunan Indonesia, maupun warga Indonesia yang telah menjadi warga Negara Australia

Pada Bulan Mei Tahun 2016 akan diselenggarakan Festival Citra Indonesia atau Lebih Dikenal Dengan Palmerston Festival . Acara ini merupakan kegiatan Tahunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Palmerston (Semacam Kota Madya yang dipimpin Oleh Walikota ) dan mendapat dukungan dari Pemerintah Northern Territory Australia, Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) di Darwin dan Balai Indonesia Incorparated ( BI ) di Darwin dalam rangka: Berakhirnya Musim Hujan dan datangnya Musim Kemarau di wilayah Australia Utara; Memeperkenalkan Kebudayaan Indonesia yang Telah Ada di Australia Sejak 300-400 Tahun Lalu Ketika Pelaut-Pelaut Indonesia Berlayar ke Perairan Utara Australia Mencari Tripang; Lebih khusus tahun ini acara diadakan untuk memperkenalkan kepada publik pelataran baru untuk berbagai kegiatan di tengah pusat keramaian kota Palmerston yang lebih dikenal dengan CBD (Central Business District).

Pemerintah Palmesrton dan Balai Indonesia Incorparated (BI) di Darwin-Australia Sebagai Koordinator acara, Memilih Kabupaten Ende sebagai Pendukung Acara dengan pertimbangan Kabupaten Ende Pernah Menjadi Ibukota Flores, Danau Kelimutu Berada Di Kabupaten Ende, Pancasila Terlahir dari Kota Ende.

Sanggar Cindy Onekore Ende Telah dipercayakan sebagai salah satu dari group yang diundang untuk mengisi acara tersebut mewakili Kabupten Ende, Masyarakat Flores dan Indonesia Pada Umumnya selain dari Group Kulintang dan Angklung dari Jakarta

MAKSUD DAN TUJUAN 
Sebagai Salah Satu Wakil Indonesia dalam Festival Citra Indonesia / Palmerston Festival 2016, yang bertujuan untuk memPromosikan Aset Pariwisata Serta Seni budaya dari Kabupaten Ende dan Kabupaten Lainnya di Pulau Flores, Tentunya akan menjadikan Kabupaten Ende dan Pulau Flores lebih dikenal masyarakat Indonesia dan dunia Internasional, karena pagelaran ini akan di saksikan oleh ribuan Masyarakat Australia maupun Wisatawan Lain Yang Berada Disana. Sebagai catatan tambahan bahwa iklan untuk acara disebarkan Melalui Media Cetak dan Elektronik ke seluruh Benua Australia dan New Zeland bukan hanya terbatas untuk wilayah Northern Territory saja.

Memperkenalkan Kebudayaan Indonesia (Propinsi Nusa Tenggara Timur) secara umum dan Kabupaten Ende serta Pulau Flores khususnya pada Kegiatan ini sebagai persembahan karya cipta seni terbaik masyarakat untuk melestarikan, mengembangkan serta mempromosikan Kesenian dan Pariwisata Indonesia.Kegiatan ini tentunya bisa dilihat sebagai langkah  mempromosikan persahabatan dan saling pengertian serta terbukanya Hubungan Internasional antara Pemerintah Palmerston - Australia dan Pemerintah Kabupaten Ende serta elemen masyarakatnya yang saling menguntungkan pada Tahun - Tahun yang akan datang pada bidang Perdagangan, Investasi dan Pariwisata. 
Itu dia informasi tentang Palmerston Festival yangmana diselenggarakan di Palmerston (sekitar 20 menit dari Darwin).
Bagaimana dengan profil para penarinya? Tenaaaaang ... akan saya posting lagi untuk kalian semuanya. Mohon dukungannya ya, teman-teman untuk Sanggar Cindy :*

Saturday, April 23, 2016

Sanggar Cindy Go International

Foto oleh dr. Adel Riwu.

Sanggar Cindy Onekore adalah sanggar besutan Lin Rewa dan dengan koreografer Rikyn Radja yang beralamat di Jalan Udayana, Kota Ende, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Nama besar sanggar ini dan sepak terjang mereka tidak perlu diragukan lagi. Anggota sanggar alias para penarinya datang dari berbagai latar belakang (PNS, Polisi, Karyawan Swasta) dan bakat menarilah yang telah menyatukan mereka. Hampir semua pesta pernikahan mengandalkan Sanggar Cindy sebagai penari pengantar pengantin (menuju pelaminan), acara wisuda kemarin pun diramaikan oleh mereka, dan yang perlu kalian ketahui mereka pernah menang dalam Festival Budaya tingkat Provinsi NTT membawa nama Kabupaten Ende dan mewakili Kabupaten Ende dalam ajang Pekan Kesenian Bali di Denpasar.

Adalah sebuah kebanggaan jika kemudian mereka akan mewakili Negara Indonesia dalam ajang internasional di Darwin, Australia. Saya akan posting terpisah tentang kegiatan di Darwin tersebut, namun sekilas ... 

Pada Bulan Mei Tahun 2016 akan diselenggarakan Festival Citra Indonesia atau Lebih Dikenal Dengan Palmerston Festival. Acara ini merupakan kegiatan Tahunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Palmerston (Semacam Kota Madya yang dipimpin Oleh Walikota) dan mendapat dukungan dari Pemerintah Northern Territory Australia, Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) di Darwin dan Balai Indonesia Incorparated ( BI ) di Darwin dalam rangka: Berakhirnya Musim Hujan dan datangnya Musim Kemarau di wilayah Australia Utar, Memeperkenalkan Kebudayaan Indonesia yang Telah Ada di Australia Sejak 300-400 Tahun Lalu Ketika Pelaut-Pelaut Indonesia Berlayar ke Perairan Utara Australia Mencari Tripang. Lebih khusus tahun ini acara diadakan untuk memperkenalkan kepada publik pelataran baru untuk berbagai kegiatan di tengah pusat keramaian kota Palmerston yang lebih dikenal dengan CBD (Central Business District).

Postingan lengkapnya nanti ya ... saya juga akan mengangkat profil para penarinya satuper satu dalam postingan terpisah.

Ya, sebagai Orang Ende saya bangga pada sepak terjang mereka karena mereka tidak saja meroketkan nama Sanggar Cindy secara pribadi melainkan juga Kabupaten Ende, Provinsi NTT, dan Indonesia tercinta lewat tarian-tarian tradisional yang dimodifikasi dengan sentuhan-sentuhan cita rasa seni yang tinggi.

Maju terus Sanggar Cindy, go go go internasional!

Wednesday, April 20, 2016

Selamat Hari Kartini

Gambar diambil dari Google, search saja kata kunci: silhuet perempuan.

Besok tanggal 21 April.
Besok Hari Kartini :)
Dan di Ende kami ada bazaar yang diselenggarakan oleh Kelompok Widow-wati, yang diketuai oleh Oma Mia Gadi Djou. Bazaarnya keren, karena diselenggarakan oleh ibu-ibu usia lanjut. Semangat Kartini mereka ini patut kita contohi.
Yuuuk ke bazaar besoook!

Saturday, April 16, 2016

Komentar?

Ahahahaha. 
Okeh!
Setuju.

Wednesday, April 13, 2016

Benggong di Wisuda Periode April 2016

Salah satu pakaian adat dari Kabupaten Manggarai. Pakaian ini yang dipakai juga oleh para penari (perempuan) dalam kegiatan wisuda. Foto diambil dari sini.




 5 koma 3 (lima tahun, tiga bulan) saya bekerja di UPT Publikasi dan Humas (dulunya bernama Lembaga Publikas) Universitas Flores (Uniflor). Setiap tahun, Uniflor menggelar dua kali wisuda yaitu pada (akhir) Maret atau (awal) April, dan pada (akhir) Oktober atau (awal) (November). Sejak menjadi staff UPT P&H sampai dengan konten ini ditulis, saya selalu menjadi bagian dari kegiatan wisuda yaitu menjadi anggota Sie Dokumentasi dan Publikasi Wisuda Sarjana Universitas Flores yang tugasnya mengurus wartawan dalam kegiatan konferensi pers dan peliputan kegiatan wisuda, (dulu selama tiga tahun pernah) menghubungi RRI untuk siaran langsung kegiatan wisuda, memilah-milih fotografer dari sekian banyak proposal fotografer yang masuk dan membuat Surat Perjanjian Kerjasama, membereskan segala sesuatu yang berkaitan dengan Sie Dokumentasi dan Publikasi pada hari wisuda, hingga (satu bulan kemudian) melayani para Sarjana yang hendak mengambil foto pemindahan kucir.

Uniflor itu unik. Kenapa unik? Karena mahasiswa Uniflor datang dari semua suku/etnis yang ada di Pulau Flores dan sekitarnya; ada Orang Manggarai, Orang Bajawa, Orang Ende, Orang Maumere, Orang Larantuka, dan lain-lainnya. Kondisi ini yang menjadi pertimbangan pihak Uniflor dalam memilih tema wisuda sehingga setiap periode tema wisuda selalu berganti-ganti antara Manggarai, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur, Pulau Lembata, dan lain-lainnya. Pernah juga tarian dari Pulau Sumba namun belum pernah saya menyaksikan tema dari luar Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ini yang juga saya sukai dari kegiatan wisuda; menyaksikan para penari mengiringi wisudawan dari areal parkir menuju Auditorium H. J. Gadi Djou (Kampus I Uniflor), lantas sambil menunggu semua wisudawan masuk dan duduk para penari melanjutkan tarian mereka di panggung atau di depan audiens. Kadang-kadang saya suka mengabadikan tarian-tarian tersebut (video) tapi kadang-kadang saya hanya menonton (karena beberapa tarian menjadi sangat membosankan—monoton).

Sabtu kemarin (9/4) pagi-pagi sekali saya sudah siap ke Auditorium H. J. Gadi Djou karena wisuda akan dimulai pukul 09.00 Wita. Di dalam ransel (ransel baru nih :p haahaha) sudah duduk manis Nikon D5100 bekal foto dan handycam Sony bekal video. Sambil menunggu acara dimulai saya mulai mengecek kehadiran wartawan, tiras pesanan, teman-teman dari RRI, dan lain-lain. Hingga pada akhirnya acarapun dimulai. Wah, saya tidak boleh ketinggalan nih, karena ada yang unik dari kegiatan wisuda kali ini yaitu PENARINYA. Ya, biasanya penari pengiringnya ya yang seperti saya bilang (begitu-begitu saja) karena mungkin MEREKA TIDAK BISA MEMBEDAKAN ANTARA SENI PERTUNJUKKAN DENGAN RITUAL ADAT sehingga tariannya menjadi agak membosankan karena monoton. Seni pertunjukkan punya maksud untuk menghibur, bukan untuk sekadar memuliakan leluhur (dalam tatanan adat). Jadi, ada bedanya kan? Inilah yang belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat sehingga gunjingan mereka terbaca/terdengar melebihi prestasi yang pernah mereka berikan pada daerahnya sendiri *iya, ini kalimat sindiran paling pedas untuk orang-orang yang suka menggunjing prestasi orang lain*.

Adalah Rikyn Radja, penari kondang Kota Ende, bersama kelompoknya (Oh ya, mereka tergabung di dalam Sanggar Cindy besutan Kakak Lin Rewa yang beralamat di Kelurahan Onekore) menjadi penari pengiring wisudawan pada Sabtu kemarin. Luar biasa. Mereka sangat total baik itu dari pakaian, make-up, apalagi gerak-tubuh; seperti biasanya jika mereka sedang tampil. Bagi saya kehadiran para penari kece yang bakal berangkat ke Darwin mewakili Indonesia ini merupakan BOM paling dahsyat yang diledakkan di Uniflor. Saya baru melihat pada Sabtu kemarin betapa Auditorium H. J. Gadi Djou terlihat begitu meriah dengan tarian yang megah apalagi pada akhir lagu salah seorang penari wanita, Yoan, diangkat oleh para penari laki-laki dimana tangan Yoan memegang papan segi-empat bergolo Uniflor. Yay! Kejutan itu membuat Auditorium dipenuhi suara tepuk tangan. Kece lah. Saya suka lah. Saya rasa semua orang suka. Jikalau ada yang tidak suka, coba tolong cek lagi hatinya jangan-jangan tumbuh kanker.

Lagu yang dipakai oleh Rikyn untuk mengiringi tarian mereka berjudul Benggong. Sebuah lagu asal Manggarai yang kini menjadi lebih ngetop setelah diaransemen dan dinyanyikan ulang oleh Ivan Nestorman (kalau ada yang belum tahu siapa Ivan Nestorman, Googling sana :p). Waktu Rikyn memintai saya mengedit lagu bakal tarian mereka ini, kami sempat bertanya-tanya apakah arti dari Benggong tersebut? Pencarian pada peramban Chrome *gile, bahasa saya* mengantar saya pada sebuah blog *silahkan klik*. Banyak hipotesa tentang lagu Benggong di blog tersebut. Berikut ini saya kutip paragraf terakhirnya:


Sesungguhnya saat diskusi itu kami tidak dapat mencapai kata sepakat sama sekali mengenai penafsiran atas lagu tradisional Benggong ini. Tetapi kami tidak ngotot mempertahankan pendapat kami masing-masing. Mungkin karena kami sadar kami sedang berurusan dengan masa silam yang serba kelam. Selanjutnya dalam refleksi pribadi saya cenderung untuk tidak memilih salah satu hipotesis sebagai kebenaran. Saya cenderung untuk tetap mengakomodasi kedua penjelasan dan penafsiran itu karena saya beranggapan dan berkeyakinan bahwa kedua pendekatan itu pasti bisa dipakai dan berguna untuk memaknai dan menafsirkan kembali lagu klasik Manggarai ini. Saya berharap agar di masa depan hipotesis ini bisa ditingkatkan menjadi sebuah tesis, kalau boleh bisa menjadi sebuah teori sosial yang pasti. Saya berharap generasi muda Manggarai, dengan bekal hermeneutik yang lebih baik dari saya sekarang, bisa melakukan hal itu dengan lebih baik.


Terimakasih Ata Manggarai untuk penjelasan komplit di blog-nya tentang lagu Benggong ini. 

Benggong menjadi lagu paling favorit saat kegiatan wisuda periode April 2016 kemarin karena selain tarian pengiringnya menggunakan lagu ini, paduan suara juga menyanyikan lagu ini dengan harmonisasi yang tinggi. Kalau untuk urusan paduan suara, paduan suara Uniflor punya kualitas superb. Suka sekali mendengar suara para mahasiswa/mahasiswi dalam paduan suara tersebut. Osom lah.

Kita tunggu Oktober nanti ... tema apa yang akan diusung :)
Ah, semoga penarinya masihlah Rikyn Radja dan kawan-kawan.
*tulis Amen kalau setuju!* :p


Wassalam.

Monday, April 11, 2016

Fenomena Gagal Paham Ver. 1.0.

Gambar diambil dair sini.



Saya pernah menulis tentang kebiasaan setiap sebelum tidur malam yaitu membaca pelbagai artikel di internet. Jika ditanya lima kata kunci terfavorit maka jawaban saya adalah unik-aneh, teknologi, agama, misteri, dan rahasia. Pencarian informasi terkait kata-kata kunci tersebut menghantar saya pada website/blog popular, pemburu klik (ini semacam sebuah industri yang berkembang sangat pesat), hingga yang ecek-ecek (karena pemilik blog jenis ecek-ecek ini hanyalah plagiator tukang comot artikel).

Tahukah kalian apa yang paling menarik dari sebuah konten website/blog? KOMENTAR. Ya! Komentar. Berdasarkan pengamatan pribadi, para komentator itu dapat dibagi dua. Yang pertama: komentator cerdas. Yang kedua: komentator ngawur bin ndablek. Dua jenis komentator ini pun dapat ditemui di pelbagai micro-blogging contohnya seperti Facebook. Untuk komentator jenis kedua saya mengambil kesimpulan bahwa high-technology yang tidak diimbangi dengan smart-people akan membawa dunia pada jaman kemunduran. Perihal ini akan saya posting terpisah.

Bagaimana mengenal ciri dua jenis komentator tersebut di atas?

Komentator Cerdas
Ciri komentator cerdas adalah selalu membaca tulisan dengan seksama lantas menulis komentar yang sesuai dengan tulisan yang bersangkutan. Dia tidak menghakimi meskipun jika ada tulisan/sumber yang salah namun akan menulis (perbaikan/ralat sebagai masukan untuk pemilik tulisan) dengan bahasa yang enak sehingga tidak menyakiti kalangan manapun.

Komentator Ngawur bin Ndablek
Kalau saya bilang: PARAH! Komentator ngawur bin ndablek ini benar-benar bikin keki. Ciri umumnya ada dua. Ciri pertama: sok-tahu, sok meluruskan, padahal apa yang dia luruskan sudah tertulis dengan jelas hanya saja dia tidak membacanya dengan teliti. Ciri kedua: nah ciri kedua ini merupakan turunan dari ciri pertama yaitu postingan ke manaaaaaa, komentarnya ke manaaaaa. Beberapa yang saya temui justru membikin saya ngakak tengah malam dan tidak jadi tidur saking gelinya membaca komentar mereka.

Contoh 1:
Isi tulisan membahas tentang Katedral Palermo di Sisilia yang berkubah hijau dan bersanding dengan dua menara mirip masjid. Pada jaman Byzantium, ratusan tahun yang lalu, gereja itu adalah sebuah masjid (sumber dari buku Berjalan di Atas Cahaya oleh Hanum Salsabiela Rais).
Fulan: masa sich?
Falan: pada Allah SWT seharusnya kita percaya.
Filin: betul Mister Falan, tulisan-tulisan semacam ini menyesatkan.
Terlihat jelas Fulan tidak cukup punya pengetahuan atau tidak mau mencari informasi yang sama di buku-buku maupun internet untuk berkomentar yangmana komentarnya akan membuat orang lain memandang dirinya ndablek, komentar oleh Falan melenceng jauh dari tulisan karena semua umat beriman tentu percaya pada Allah SWT (Tuhan) dan bisa memicu ngawur yang lain oleh si Filin—sebenarnya yang sesat itu siapa sih?

Contoh 2:
Isi tulisan membahas tentang agama dari penulis; hari raya, dan lain-lainnya.
Fulan: kami tidak percaya Tuhan loeeeeeee!!!!!
Falan: di dalam kitab kami ... bla bla bla ... whuz whuz whuz ...
Filin: ngawur lu!!!! Berani-beraninya serang agama kami!!!
Dan komentar-komentar lainnya yang bikin merinding. Para komentator ngawur bin ndablek ini dasarnya memang buta huruf atau buta iman sih? Isi tulisannya ke manaaaa, komentarnya ke manaaaa.

Contoh 3:
Isi tulisan tentang review sebuah film yang diangkat dari kisah nyata. Penulis menulisnya dengan sangat apik dan dilengkapi dengan informasi dari literatur-literatur paling kompeten. Apakah masih ada komentar dari para komentator ngawur untuk tulisan bagus seperti itu? TENTU ADA! Haha.
Fulan: setahu saya tokoh Mister A di dalam film itu tersesat di dalam hutan karena lupa membawa kompas, bukan karena tidak bisa membaca peta. Coba nonton baik-baik lagi, bung!
Falan: review apaan nih? JELEK!
Filin: jual obat kuat aneka rasa bla bla bla ... whuz whuz whuz ...
Astaga. Fulan jelas-jelas tidak membaca keseluruhan tulisan atau hanya ingin terlihat paling tahu dan paling benar, padahal jelas-jelas di dalam tulisan itu terdapat kalimat “Mister A tersesat di dalam hutan karena lupa membawa kompas, dan karenanya dia bingung menentukan arah mata angin untuk bisa membaca peta.” Kalau Falan sih saya bingung bagaimana mendefenisikannya atas komentarnya tersebut. Sedangkan Filin adalah fenomena komentar blog pada jaman kekinian yang dipenuhi tawaran ini itu (spam comment).

Inilah yang saya sebut dengan fenomena gagal paham yang membuat mereka terlihat sangat ngawur dan ndablek. Mereka gagal memahami tulisan orang lain, maksud, dan tujuannya, sehingga seenak udel menulis komentar semacam itu. Mereka tak akan pernah memedulikan perasaan penulis maupun komentator cerdas (jika ada yang coba melerai jika terjadi perang komentar) karena menganggap diri merekalah yang paling benar, bahkan mereka akan membelokkan lagi komentar balasan dengan kalimat-kalimat yang tidak perlu. Dan yang membuat saya bertanya-tanya adalah siapa sih yang mensponsori mereka hingga tega berkomentar seperti itu? Ah, oke, pertanyaan saya memang salah ...  karena pertanyaan saya sepertinya mengarah pada konspirasi. Tapi kalau melihat komentar-komentar berbau SARA-gangbang seperti itu rasa-rasanya sedang ada dalang di belakang semua komentar itu.

Jika ada yang tidak percaya pada postingan saya ini, cobalah Googling dan temukan sendiri. Kalian pasti terbahak-bahak membaca komentar-komentar oleh para komentator ngawur bin ndablek yang kian hari kian menjamur.

Menulis ini saya jadi ingat masa-masa awal ngeblog (2002). Waktu itu semua blogger yang mengomentari tulisan kita adalah komentator cerdas. Mereka memberikan dukungan yang luar biasa, atau memberikan nasihat yang tidak terkesan menggurui atau sok-tahu. Esensinya jauh berbeda dengan jaman kekinian. Jujur, saya merindukan teman-teman blogger yang rela membaca tulisan kita dan memberi komentar yang pantas; kalaupun dikritik, tentunya kritikan tersebut bersifat membangun.

Saya juga pernah sekali salah komentar di postingannya Babang @indobrad. Waktu itu memang tergesa-gesa dan membuat saya jera untuk tergesa-gesa. Jika memang tidak bisa berkomentar, sebaiknya saya tidak berkomentar. Jika ingin berkomentar, sebaiknya saya pahami betul tulisan yang saya baca. Sederhana.

Wassalam.