Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Tuesday, May 31, 2016

Webs




Sudah menjadi kebiasaan saya merugikan bandar free-blog-service :p
Blog saya yang terdaftar di Blogger saja bisa belasan. Pada akhirnya banyak pula blog yang terpaksa saya tutup. Lantas blog saya di layanan lain pun banyak! Sebuh saja Tblog, Blogdrive, Blog, Livejournal, dan lain-lainnya.

Jadi tadi coba-coba search blog-blog saya yang terdaftar di mana-mana itu ... bukannya ketemu (karena saking lamanya tidak aktif akhirnya blog saya diblokir :p) eh ketemu satu layanan dengan nama inang yang super singkat. WEBS! Lah, kalian sudah pernah cobain Webs belum? Saya baru mau coba nih ... entah nanti untuk apalah isinya, yang penting klaim akun terlebih dahulu.

Mungkin bagi teman-teman yang baru mau ngeblog, silahkan dicobain akun gratisan ini. Lumayan loh nama inang singkat ini lebih memudahkan dan memantapkan eksistensi kita di dunia per-blogger-an. 

Ah, bahasanya komik lagi :p 

Cheers!

Monday, May 30, 2016

Dr. Zeus's Quote

Oh yess ,,,

Happy Monday, folks!

Cheers.

Saturday, May 28, 2016

Deadpool

Picture taken from here.


Totally brutal.
Crazy, brutal, and dirty-word super hero movie.

Weekend lagi. Cerita-cerita soal film lagi. Dan ini adalah film yang sangat tidak saya rekomendasikan untuk anak-anak karena dipenuhi adegan dan dialog/monolog yang niscaya menghancurkan masa depan anak-anak #eh hahaha. Pokoknya yang masih di bawah 17 tahun jangan menonton film ini. WARNING! Banyak kata yang tidak tercantum di dalam kamus baik itu kamus Indonesia-Inggris maupun Inggris-Indonesia ... xixixi.

Film ini direkomendasikan oleh seorang teman, Kiky Albar, dengan kalimat "itu filim paling kocak dan kacau balau sudah, Ncim!"
Setelah menonton Ant-Man saya pikir bakal terhibur oleh satu film super hero lagi. Ternyata tidak. Saya menjadi lebih sangat sangat sangat terhibur sekaligus tersedak. Deadpool memberi efek kejut maha dahsyat. From nothing to something. Yea, siapa sih Deadpool ini? Siapa sih Wade Wilson ini? Selama ini macamnya dia memang tidak diniatkan untuk menjadi ngetop. Kenapa tiba-tiba dia muncul menjelang Civil War? Ada konspirasi apa ini? *halaaah dikit-dikit konspirasi lu, Teh*

Kalau ada yang pernah nonton X-Men Origin Wolverine, pasti sudah pernah lihat si Deadpool. Ciri khasnya pakai kostum merah mirip-mirip Barry yang jadi The Flash itu haha. Eh, tapi ada yang bilang kostumnya mirip Spiderman loh. Tapi, coba lihat baik-baik deh merah-merahnya Deadpool itu lebih mirip kostumnya The Flash. Deadpool (dari keluarga Marvel) ini diperankan oleh Ryan Reynolds. Dibilang cocok-tidakcocok, ya cocok saja sih menurut saya. 

Bagaimana seorang Wade Wilson (diperankan oleh Ryan Reynolds) menjadi Deadpool? Kalau ini sih akar kuat alasannya karena cinta ta ta ta ta ta (((echo))). Cinta memang dahsyat. Wade mengenal seorang perempuan bernama Vanessa (diperankan oleh Morena Baccarin). Mereka pasangan yang cocok, sehati, sejiwa, segila, haha. Maksud saya adalah betapa lucunya di awal perkenalan mereka ... saya pikir mereka itu ke kamar *uhuk* eh ternyata main bar-room-game. Tapi seterusnya urusan ranjang mereka menyajikan keindahan yang luar biasa. Woo-hoo, maksud saya vulgar sih vulgar tapi tidak jorok. Cinta ... itu alasannya? Iya. Karena pada suatu ketika Wade ternyata ketahuan menderita kanker paru-paru. Sungguh terlalu. Itu semacam rumah kita kejatuhan pesawat padahal sedang ada pesta ultah gitu.

Wade akhirnya didekati oleh sekelompok orang yang konon dapat menyembuhkan penyakit lewat cara memicu sel-sel mutan di dalam tubuh si sakit. Nama programnya Weapon X (ternyata Weapon X ini juga yang menciptakan Wolverine). Untuk memicu sel-sel mutan ini memang dibutuhkan ketahanan tubuh yang luar biasa karena kelihatan di film-nya itu sakitnya minta ampun *bergidik* Tapi ternyata ada alasan-alasan dibalik semua itu yang membuat si Wade menyimpan dendam pada orang-orang dari Weapon X tersebut karena penyakitnya memang sembuh tapi seluruh kulitnya hancur dan dia menjadi bingung bagaimana caranya untuk bisa kembali pada Vanessa dan malam-malam seru merekaaa ka ka ka (((echo))). Selain itu, Weapon X memang harus dihentikan sebelum dunia semakin hancur karena ulah mereka. Aaaah tapi jangan lupa kan masih ada super hero lainnya? Tuuuh ada Ant-man, ada Spiderman, ada Thor, ada Ironman, ada Iron mas (mas-mas yang tukang seterikaan).

Haha.

Alur cerita Deadpool serba twist; antara jaman kekinian dengan jaman keduluan; antara sebelum menjadi Deadpool dan setelah menjadi Deadpool. Tapi yang jelas film ini penuh dengan monolog si Wade yang suka mengomel ini-itu, mengkritik ini-itu dengan gaya lugas dan cerdas, belum lagi bagaimana dia menghina lawan lainnya lewat guyonan-guyonan konyol. Ada banyak film, lagu, musisi, aktor lain di dalam film ini yang muncul lewat celetukan atau omelan si Deadpool. Huehehe. Lumayan kan? Bukan saja menghibur tapi sangat sangat sangat menghibur karena Anda seperti sedang menonton rapper yang sedang menjadi super hero akibat pengen nyembuhin penyakitnya dan semua ... GARA-GARA CINTAAAA :p

Tapi ini memang betul film yang sangat sangat sangat brutal, kocak, kacau, adult, penuh dengan kata-kata jorok alias makian dan hinaan ... oleh karena itu, janganlah sekali-kali anak-anak di bawah 17 tahun menontonnya.

Cheers!

Friday, May 27, 2016

Start from Al-Baqarah

Picture taken from here.

Start from Al-Baqarah again.
Ini bukan euforia karena Kabupaten Ende (Kota Ende) menjadi tuan rumah kegiatan MTQ Tingkat Propinsi Nusa Tenggara Timur. Tapi sudah lama rasanya setelah khatam terakhir ... pengen khatam lagi huehuehue.

Saya pengen cerita-cerita soal MTQ, tapi nanti dulu lah ya. Sekarang mari kita fokus pada Al-Quran dan semoga bisa selesai tepat waktu (berakhirnya Ramadhan) kalau tidak tepat waktu yaaa tak apalah :D

Cheers.

Wednesday, May 25, 2016

Konser Nidji & Musikimia

Ini caption dari akun Twitter-nya @Nidji.


Kalau Jum'at saya melewatkan TDF maka Sabtu saya melewatkan Konser Nidji dan Musikimia.

W-H-A-T???

WHAT!???

ARE YOU CRAZY OR SOMETHING ...?

Okeh. I love Nidji. I Love Padi (Musikimia now) ... too. Tapi rasa kangen saya sama si Kambing tak terbendung lagi sehingga malam Minggu kemarin saya lebih memilih haha-hihi sama Kambing di rumah ketimbang pegi-pegi. Kalian tahu kan pasca perang dunia biasanya negara-negara itu butuh untuk ngeteh bareng dalam suasana damai agar dapat tercapai kesepakatan-kesepakatan pelaminan. Eh, kesepakatan perdamaian.

Saya: kita keluar tidak?

Sampeth: pergi nonton Nidji?

Saya: iya sih, rencananya kan mau nonton pembukaan MTQ eh ternyata Senin.

Sampeth: ah sudahlah, di rumah saja ...

Saya: horeeeee!

Dan kami pun mengobrol ngalor-ngidul, nonton film, sibuk masing-masing (saya main game, dia browsing), ngeteh, sambil membayangkan betapa ramainya Lapangan Birmob tempat konser dua band papan atas Indonesia itu. 

Meskipun saya tidak menontonnya, tapi ... terima kasih Nidji dan Musikimia ... kalian telah meramaikan Kota Ende dengan cinta. Kalian telah membawa dan menghadirkan suasana terdahsyat di Kota tempat lahirnya Pancasila ini. Kalian telah memberikan arti menonton konser musik sesungguhnya *yea yea yea terakhir saya menonton konser Mr. Big yang maha dahsyat itu*

Cheers!

Tuesday, May 24, 2016

Tour De Flores

Picture taken from HERE.



Siang itu (Jum'at) saya terburu-buru pulang ke rumah untuk lanjut bermain game padahal ada setitik keinginan untuk berhenti (dari si Oim Hitup), berdiri di pinggir jalan dan berdesakkan dengan masyarakat Kota Ende, menanti satu per satu peserta Tour De Flores (TDF) melintas. Saya terpengaruh oleh iming-iming kalimat: akan menjadi event tahunan di Flores. Artinya tahun depan saya dapat menontonnya *pasang muka polos tak bermakna*. Memang sangat menjengkelkan ketika kalian tahu pun bahwa saya tidak menonton gelaran gala dinner (yang merupakan rangkaian dari kegiatan TDF ini) di Lapangan Pancasila yang diisi dengan bermacam aksi budaya Ende tercinta. Maklum, saya sudah punya janji kencan dengan dua sahabat Etchon dan Sony. Malam itu saya, Etchon, dan Sony berkumpul di ruang tamu Pohon Tua, cerita-ceriti, tertawa-tawa, dan saling ngecap. Oh tak lupa cemilan-cepuluh-cebelas menemani kebahagiaan kami *tsah*

Dari website TDF saya membaca kalimat berikut ini:

TOUR DE FLORES (TDF) Akan menjadi event tahunan pariwisata di Flores yang menghadirkan kegiatan balap sepeda jalan raya bertaraf internasional (di bawah regulasi Union Cycliste Internationale) sebagai salah satu sarana untuk mengangkat pariwisata Flores ke pentas Dunia.

Bagi saya, kutipan dari website TDF tersebut boleh direvisi menjadi:

TOUR DE FLORES (TDF) Akan menjadi event tahunan pariwisata di Flores yang menghadirkan kegiatan balap sepeda jalan raya bertaraf internasional (di bawah regulasi Union Cycliste Internationale) sebagai salah satu sarana untuk LEBIH mengangkat pariwisata Flores ke pentas Dunia.
Karena, TDF bukanlah ajang yang menjadi pionir dalam hal mengangkat pariwisata Pulau Flores ke pentas dunia. Jaman kekinian, ketik saja kata "Flores" di Google, Wikipedia, atau Lonely Planet, maka informasi instan tentang pulau yang juga disebut Nusa Nipa (Pulau Ular) ini tersedia begitu banyaknya. Logikanya, jika mengangkat pariwisata Pulau Flores ke pentas dunia baru dilakukan (untuk pertama kali) oleh TDF, maka belum tentu Pulau Flores dibanjiri wisatawan mancanegara (sejak jaman baheula). Sebagai orang awam, pemahaman saya akan kalimat mengangkat pariwisata Flores ke pentas dunia ya seperti itu. Saya sedikit tersentil pula dengan komentar (di FB) adik saya soal status TDF ini: dunia memang sudah tahu soal Flores, Kak, tapi Orang Indonesia sendiri ada yang tidak tahu Flores!

I-ro-ni.
Memang.
Seperti kata pepatah: gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan kelihatan (ya meskipun kita tahu bahwa kalau sampai gajah beneran ada di pelupuk mata, riwayat kita pasti tamat :p), 

Okeh, kembali ke TDF. Yess, ajang ini memang akan LEBIH mengangkat pariwisata Flores ke  pentas dunia. Di luar dari gonjang-ganjing soal dana (Rp 1,2M oleh masing-masing kabupaten) persiapan dan penyambutan TDF ini (oh, ada banyak sekali pro-kontra perihal dana yang bikin kepala saya pusing usai membacanya), saya pikir ajang ini memang memberi keuntungan lebih kepada Pulau Flores. We are not talking about Ende, Labuan Bajo or Adonara Island ... we are not talking about Semana Santa, Anabhara Beach, or Kanawa Island ... we are talking about Flores! Ada banyak keuntungan ...

Pertama.
Tingkat pembelanjaan yang meningkat. Apakah wisatawan mancanegara akan berfoya-foya pada hari H? Kalian kan tahu, kita ... kalau sedang pegi-pegi buat nonton acara begituan ... pasti belanja Aqua, permen-permen, biskuit, es centong :p haha. Ehem. Jadi, bukan wisatawan mancanegara melainkan masyarakat Pulau Flores itu sendiri yang pada hari H mengalami peningkatan pembelanjaan. Yang biasanya Rp 1.000 menjadi Rp 10.000 karena segelas Aqua saja tidak cukup (berdiri berdesakan di bawah sengatan sinar matahari setidaknya butuh dua botol Aqua ukuran sedang, kalau bisa yang super dingin).
Selain itu, dengan adanya persiapan ini-itu, tentu akan memberi keuntungan kepada penyedia jasa (pihak swasta) lainnya yang dibutuhkan oleh pemda seperti jasa penyewaan tenda, jasa penyewaan kursi, jasa kuliner, jasa olah tari, jasa fotografi, jasa videografi, jasa air bersih (buat siram-siram Lapangan Pancasila), dan lain-lain.Kalau jasa penonton tidak diperlukan karena pada umumnya hiburan merupakan sesuatu yang langka di kota kami.

Kedua.
Pulau Flores akan menjadi destinasi para groufie. Omaigat, menulis ini saja saya sudah gemetaran. Maaf kalau ada yang tersinggung sama tulisan ini tapi groufie memang sudah menjadi fenomena horor di Indonesia. Groufie lah yang telah menghancurkan taman bunga Amarrilys di Jogja (sebenarnya lebih tepat selfiers namun karena habis satu, yang satu foto, habis itu yang lain foto, ya sama saja dengan ulah groufie), groufie lah yang telah merobohkan Jembatan Layang di Aceh, groufie pula yang telah merusak taman Light Festival of Kaliurang di Jogja. Okeh, memang tidak semua groufie tergolong kaki-tangannya Rhamses, tapi groufie penghancur ini selalu ada di mana-mana ... karena mereka merupakan anak dari pasangan: narsisisme dan Rhamses. 
Saya agak-agak kuatir jika groufie tipe ini tetiba datang ke Danau Kelimutu :p

Ketiga.
Pemberitaan yang dahsyat tentang TDF akan berdampak pada satu kalimat singkat: I WANNA GO THEREEEEEE! Dunia memang sudah tahu soal Pulau Flores. Banyak traveler tipe backpacker yang rela memikul carrier puluhan kilo untuk berkeliling Pulau Flores dan menikmati keindahan alamnya. Lebih banyak lagi penduduk dunia yang menyimpan rapi-rapi niat untuk datang ke Pulau Flores karena masih terikat pekerjaan yang belum tuntas (atau alasan lainnya) ... dengan pemberitaan yang jor-joran, niat yang tersimpan rapi itu memberontak dan tiket menuju Indonesia pun tergenggam.
Ah, gile ini bahasa saya komik banget :P

Keempat.
Penjual kacang tanah-kulit. Setiap kali ada perhelatan yang digelar di Lapangan Pancasila (atau sampai sekarang masih saja saya menyebutnya Perse) saya selalu teringat kepada para ine/mama penjual kacang tanah sekumpul seribu Rupiah. Dengan adanya perhelatan di Lapangan Pancasila maka akan memberi keuntungan kepada penjual kacang tanah-kulit (yang digoreng menggunakan pasir di atas tungku). Seperti apapun impian kita untuk makan pizza atau burger, tetap saja ketika kacang tanah-kulit ada di depan mata ... sikat!
Haha.
Keuntungan yang keempat ini hanyalah intermezo, kawan. Jangan terlalu serius membacanya.

Semoga tahun depan saya dapat menyaksikan TDF 2017 ...

Berita-berita soal TDF 2016 dapat dilihat di ...


Antaranews.

Republika.
Okezone.
BeritaSatu.

Cheers!


Monday, May 23, 2016

Theresa's Quote

She is world's mother. Picture from Google.

Actually, I have a lot of story to share ... but ... I've been so so so busy last week. But I promise to share everything all this week!
Yipie ...

Monday, May 16, 2016

Gandhi's Quote

From Google.



Wise quote today is from Gandhi. 

Mahatma Gandhi, salah seorang tokoh dunia yang terkenal karena perjuangannya untuk kemerdekaan India. Laki-laki yang peduli pada perjuangan hak asasi manusia ini lahir di Porbandar, India, 2 Oktober 1869. Meskipun telah berpulang pada tahun 1948 namun Gandhi tetap 'hidup' di hati penduduk dunia lewat quotes bijaknya.

:)

Saturday, May 14, 2016

The Pirates

The Pirates!


Review?
Tidak.
Setahu saya review dilakukan oleh para reviewer atas sesuatu yang masih baru, hangat, alias sedang hot-hotnya di jagad ini. Lha film ini dirilis tahun 2014 ... jadi kalau dibilang review sih ... sudah pasti saya menggeleng. Lagipula karena ceritanya terdiri dari beberapa puzzle, saya sendiri juga bingung harus mulai dari mana *lirik Om Bisot*. Dan saya sendiri sebenarnya bukan penikmat film atau drama dari Korea sehingga ketika ada yang menyebut; pemeran ini pernah main di drama itu ... saya hanya bisa angguk-angguk tanda tidak paham. Hehe.

Mumpung weekend, yuk cerita-cerita soal film ini.

Judulnya: The Pirates.
Ini film Korea dengan pelakon hebat dan ngetop dari negara tersebut. Dari sejumlah artikel yang saya baca di internet, menyebutkan demikian. Dalam pandangan saya, The Pirates merupakan gabungan dari film Pirates of Carribean, In The Heart of The Sea, dan The Admiral: Roaring Currents. Ada laut, ada kapal bertenaga manusia, ada layar, ada ikan paus, ada bajak laut, ada bandit pula. Jika aura dalam In The Heart of The Sea dan The Admiral: Roaring Currents lebih serius, maka The Pirates mirip-mirip Pirates of Carribean yang mengetengahkan tokoh konyol-kocak baik itu tokoh utama maupun tokoh pembantu.

Kisah ini dimulai dengan pertengkaran di dalam kelompok bajak laut dimana Yeo Wol (bos kecil diperankan oleh Song Hye Jin) tidak terima perlakuan So Ma (bos besar diperankan oleh Lee Geung-young) terhadap para anak buah. Bos besar ini rela menjadikan anak buahnya tumbal (maksudnya dijadikan kambing hitam ke pihak kerajaan - Dinasti Joseon) alias mengkhianati kesetiaan anak buahnya. Di dalam alur yang ini, Chul Boong (diperankan oleh Yu Hae Jin) yang adalah anggota kelompok bajak laut tersebut mengetahui maksud So Ma, lantas melarikan diri. Yaelah, Chul Boong juga mending pergi deh dari laut, lha wong dia mabok laut begitu *ngikik*. Makanya saya pernah menulis: apa jadinya jika seorang bajak laut justru mabok laut?

Sementara itu, di lain tempat, kapal laut yang membawa stempel kerajaan ditabrak ikan paus raksasa dan stempel kerajaan tersebut dengan bangga ditelan oleh ikan paus. Horeeee ikan pausnya jadi Kerajaan Ikan Paus! Hehehe. Kerena kuatir raja akan marah dan menjadi gunjingan masyarakat *nista sekali stempel kerajaan ditelan ikan paus* maka antek-antek kerajaan menyusun strategi, melapor kepada raja, bahwa kapal kerajaan tersebut diserang oleh penjahat dimana yang menjadi kambing hitamnya adalah para bajak laut dan bandit gunung. Namun, di sisi lain antek-antek ini membebaskan salah seorang tahanan paling berbahaya dan menjalankan aksi berburu ikan paus demi memperoleh kembali stempel kerajaan tersebut. It's a wow kan? Inilah yang membuat saya sejak sebulanan lalu tidak jadi mengulas film ini karena banyak puzzle :D

Lantas, bagaimana dengan Chul Boong yang melarikan diri itu? Dia pergi ke gunung untuk menjadi anggota bandit gunung yang diketuai oleh Jang Sa-Jung (diperankan oleh Kim Nam Gil). Nah ... adegan demi adegan konyol, kocak, tolol, mulai sering bermain di sini. Bagaimana Jang Sa-Jung selalu gagal setiap kali menjalankan aksinya, bagaimana kemudian berita pencarian stempel kerajaan ini kemudian dilakukan oleh pihak antek-antek kerajaan, para bajak laut, dan para bandit, bagaimana cinta mengalir di antara mereka *tsah*, dan bagaimana kemudian So Ma dan si antek-antek kerajaan hancur bersama kapal mereka yang meledak. Ah, ada lagi yang lucu ... bagaimana seorang ketua bandit gunung mengatakan ikan paus itu keciiiiillll bahkan anak buahnya hendak menangkap ikan paus menggunakan jaring. Masya Allah :p

Oke, karena saya tidak mau ngakak sendirian, maka saya menyarankan kepada siapapun yang belum nonton untuk menontonnya. Mumpung weekend ini.


Selamat menonton!

Thursday, May 12, 2016

Kualitas Teh



Foto: Yulastriany (Acie).





Foto di atas merupakan hasil bidikan Yulastriany atau Acie; teman seperjalanan saya satu tim (saya lupa nomor tim-nya, yang saya ingat kami masuk dalam keberangkatan Kloter II dan menamakan tim ini Ninja Hatori) di Perkebunan Teh milik PT. Perkebunan Nusantara VIII yang beralamat di Jalan Sindangsirna No. 4 Bandung di Jawa Barat, ketika memenangkan kompetisi Petualang Aku Cinta Indonesia (ACI) besutan DetikDotCom. Di Pengalengan sendiri setidaknya ada 7 pabrik pengolahan teh milik PT. Perkebunan Nusantara VIII dan yang kami kunjungi adalah Perkebunan Teh Malabar. Saya masih ingat komentar Acie waktu itu, “Saya suka hasilnya, Teh. Banyak warna ... hijau, biru, merah, putih!”



Apa maka (istilah Orang Ende untuk: memangnya kenapa) tiba-tiba saya memajang foto tersebut? Ini sih gara-garanya Mamatua dan Tanta Sia (asisten Mamatua yang pali setia, sesuai dengan namanya Siatia #eh) yang berkomentar pedas soal kualitas teh yang kami minum sehari-hari. Oke, saya mengaku, asal-muasalnya memang dari saya ... si pencari cahaya gara-gara.



Saya:  Tanta Sia eee. Ini teh baru atau lama?

Maksud pertanyaan saya adalah apakah Tanta Sia setega itu menyeduh teh bekas pakai untuk saya?



Tanta Sia:  Heee jangan cari gara-gara eee. Itu teh baru.



Saya:  Kenapa warnanya begini niiiii????



Mamatua:  Jaman sekarang kualitas teh-nya rendah!



Saya dan Tanta Sia:  *saling pandang*



Keluarga kami adalah keluarga peminum. Bukan peminum moke (tuak khas daerah timur) melainkan peminum teh dan kopi. Dulunya kami selalu punya ritual minum teh atau kopi pagi dan sore, tentu ditemani cemilan-cepuluh-cebelas khas pabrik (baca: Khong Guan) atau pisang goreng. Sekarang, setelah rumah ini hanya dihuni oleh Mamatua dan saya, ritual minum teh (kopi hanya sesekali jika saya sedang ingin) pagi dan sore tetap berlangsung meskipun sudah tidak bersama-sama. Maksudnya dengan tidak bersama-sama adalah saya minum teh sambil bekerja di studio sedangkan Mamatua minum teh sambil main congklak di meja andalannya.



Merek teh yang kami minum pun bermacam-macam. Dulunya wajib teh rendam Golpara dan Bandulan. Saya sendiri lebih memilih Golpara karena rasanya lebih nendang gimanaa gitu. Lagipula dedaunan teh Golpara lebih besar ketimbang Bandulan yang serpih-serpih itu sehingga memudahkan saya yang malas ini dalam menyaring (alesyan!). Seiring berjalannya waktu, tanpa hitam di atas putih, Mamatua dan saya kompak memilih teh celup merek Sari Wangi. Alasannya? Karena kios-kios langganan di sekitar kompleks rumah dengan kejam meniadakan teh merek Golpara dan memasok teh Sari Wangi. Haha. Sesimpel itu sih alasannya. Dan ... lidah kami pun terbiasa.



Sayangnya, seperti kata Mamatua, seakan-akan kualitas teh itu menurun. Dulunya untuk satu mug teh saya cukup saja dengan satu kantung teh, tapi sebulan terakhir saya harus menyelup dua kantung teh (yang dibiarkan terendam di dalam mug sampai tegukan terakhir). Kuping saya sudah kebal sama omelan Tanta Sia soal stok teh di stoples yang selalu lebih cepat tandas, “Minta uang ... daun teh habis!” begitu Tanta Sia kalau bete ketika hendak menyeduh teh, eeeh teh-nya wassalam. Maklum, perempuan baik hati itu harus rela pergi ke kios untuk membeli stok teh lagi.



Sebagai orang awam (eits, jangan dibaca orang gila ... tulisannya ‘awam’ bukan ‘gila’ :P) saya tidak tahu apakah dan bagaimanakah kualitas teh. Yang saya tahu, warna teh-nya tidak sekental dulu sehingga untuk mendapatkan teh-hitam a la saya, tak cukup lagi sekantung teh celup Sari Wangi melainkan dua. Namun, sebagai orang awam saya cukup tahu soal proses pembuatan teh karena pernah berjalan-jalan di perkebunan dan pabrik pembuatan teh itu sendiri. Lantas, bagaimanakah proses pembuatan teh hingga sampai ke dalam mug teh kita? Boleh ya saya bercerita sedikit, berdasarkan hasil pandangan mata *tsah* dan wawancara sama Pak Agus dari perkebunan dan pabrik teh Malabar.



Cekidot!



Daun teh yang telah dipetik (lihat foto, oleh ibu-ibu bertopi itu), awalnya melewati proses pelayuan yang memakan waktu 18 jam di sebuah tempat berbentuk persegi empat panjang bernama withered trough. Setiap 4 jam daun teh dibalik secara manual. Masing-masing withered trough memuat 1 - 1,5 ton daun teh. Fungsi dari proses pelayuan ini adalah untuk menghilangkan kadar air sampai dengan 48%. Daun-daun teh yang sudah layu kemudian dimasukkan ke dalam gentong dan diangkut menggunakan monorel ke tempat proses berikutnya. Dari monorel, daun-daun teh dimasukkan ke mesin penggilingan. 1 mesin memuat 350 kg daun teh dan waktu untuk menggiling adalah 50 menit. Setelah digiling, daun teh dibawa ke tempat untuk mengayak. Proses untuk mengayak ini terjadi beberapa kali dengan hasil hitungan berdasarkan jumlah mengayak: bubuk 1, bubuk 2, bubuk 3, bubuk 4 dan badag.



Proses berikutnya adalah fermentasi. Bubuk 1 sampai bubuk 4 difermentasi dalam waktu berbeda :

Bubuk 1 = 120 menit

Bubuk 2 = 80 menit

Bubuk 3 = 60 menit

Bubuk 4 = 50 menit



Sementara itu hasil ayakan terakhir yaitu badag tidak melewati proses fermentasi. Badag dan bubuk-bubuk yang telah melewati proses fermentasi kemudian dibawa ke ruangan berikutnya untuk dikeringkan. Lamanya proses pengeringan adalah 23 menit dengan suhu 100 derajat Celcius. Bahan bakar untuk proses pengeringan ini adalah kayu dan batok kelapa untuk rasa yang lebih enak. Nah, ini saya jadi ingat bedanya memasak menggunakan tungku berbahan bakar kayu api dengna memasak menggunakan kompor berbahan bakar minyak tanah. Jelas, menggunakan tungku menghasilkan citarasa yang lebih maknyus!



Usai dikeringkan daun teh dibawa ke ruang sortasi. Ada 3 jenis pekerjaan yang dilakukan di ruang sortasi. Pertama; memisahkan daun teh yang hitam dan yang merah dengan menggunakan alat yang disebut vibro. Kedua; memisahkan yang besar dan yang kecil. Ketiga; memisahkan yang berat dan yang ringan. Setelah semua proses selesai dikerjakan maka daun-daun teh harus diperiksa dulu (quality control). Bila daun teh tersebut memenuhi standar maka akan dikemas di tempat penyimpanan sementara (disimpan di dalam tong plastik berukuran besar). Bila sudah siap untuk dipasarkan, contohnya diekspor, maka daun teh yang siap dipasarkan tersebut akan dikemas ke dalam papersack.



Yang perlu diingat adalah dari semua pengolahan teh, selalu ada arsip atau contoh untuk menghadapi klaim dari pihak luar atau konsumen.



Informasi Pak Agus, proses pengolahan teh secara keseluruhan adalah 24 jam. Dimulai dari proses pelayuan hingga pengepakan. Dan, Anda tidak perlu ragu karena teh hasil olahan dari Perkebunan Teh Malabar berkualitas baik. Hal ini dibuktikan dengan standarisasi yang mereka ikuti saat ini; sistem ISO 9000. Bila ada kenaikan standarisasi lagi, Perkebunan Teh Malabar pasti akan menurutinya.



Tulisan soal pengolahan teh ini juga pernah dimuat di DetikTravel waktu masa-masanya ACI2010 dulu.



Ini pengalaman saya meminum teh ... apakah Anda juga merasakan hal yang sama? Bahwa (sekarang ini) satu kantung teh saja tidak cukup? Kalau saya lihat-lihat lagi, sepertinya mug teh saya yang kegedean ... memang :P



Aaaah ... jadi kangen keliling Jawa Barat lagi!

Ada yang mau bayarin saya ... lagi?

:D