Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Saturday, July 30, 2016

Assalamu'alaikum Beijing



Film ini dirilis Desember 2015, nangkring di laptop saya pada Bulan Ramadhan kemarin, baru saya tonton beberapa hari yang lalu setelah menetapkan hati bahwa pada hari itu akan banyak film Indonesia yang saya tonton. Minat saya terhadap film Indonesia memang menurun drastis sejak beredar/bermunculan begitu banyaknya film hantu-hantuan yang kualitasnya jauh lebih bangke dari film dokumenter yang saya buat *iya, saya sadis sekali kalau mengomentari film hantu Indonesia*. Namun saya harus sportif mengacungkan jempol pada Assalamu'alaikum Beijing yang diangkat dari novel karya Asma Nadia. Sampai-sampai saya menulis: INI FILM INDONESIA TERBAIK YANG PERNAH SAYA TONTON. Berlebihan? Tidak. Bagi yang sudah nonton film ini mohon menyingkir jauh-jauh ya, ini khusus bagi yang belum nonton supaya terguga *tsaaaaah tergugah*.

Siapa para pemerannya? Kalian bisa lihat pada gambar di atas.

Dari semua nama pemerannya itu, awal mula kening saya berkerut ketika membaca nama Morgan Oey. Pertanyaan: apakah dia sanggup menandingi akting senior-senior di dunia perfiliman? Apakah imej dia sebagai anak band dapat dihilangkan? Apakah dia mampu memerankan tokoh Zhongwen yang oleh Sekar dipanggil CungCung. Namun ternyataaaa jeng jeng jeng Morgan mampu memerankan Zhongwen dengan sangat uh wow wow wow, sangat natural, sangat mempesona, dan sangat membuat saya kepingin punya suami seperti dia ... kelak. Hahaha.

Bicara soal ceritanya ...

Sebagai perempuan tangguh (maksudnya Asma yang tangguh, bukan saya) saya setuju pada Asma yang memutuskan untuk tidak lagi bersama Dewa. Maaaan, jaman sekarang masih ada laki-laki yang tak setia? Mainstraim! Laki-laki itu harusnya setia dengan alasan apapun, tahu! Hancurnya perasaan Asma itu jadi butiran styrofoam karena pengakuan Dewa terjadi sebelum pernikahan. Iya karena scene saat Dewa mengaku perbuatannya menghamili Anita terlihat orang-orang EO sedang setting lokasi untuk acara pernikahan (lha kan ada foto prewed gede yang mau dipajang kan?). Saya suka sekali adegan pertama ini ... sungguh girl power. Hihihi.

Asma kemudian terbang ke Beijing untuk bekerja sebagai koresponden sebuah media pemberitaan. Nah di sini dia bertemu sepasang suami-istri sahabatnya yaitu Sekar dan Ridwan yang sangat membantunya dalam hal mencari tempat tinggal dan memperkenalkan Beijing. Hingga suatu hari ketika Asma sedang bereksplorasi sendiri karena guide-nya sedang tidak bisa menemani, dia bertemu Zhongwen di dalam bis. Wah kejadian ini yang bikin saya mendadak merasakan asmara meletup di dada ... hahaha ... kan penonton juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh para tokoh di film :p Zhongwen memanggil Asma dengan Ashima, seorang tokoh legendaris perempuan dari Cina. Gimana-gimananye lu cari sendiri dah di Google soal tokon entu.

Singkat kata singkat cerita Asma dan Zhongwen saling jatuh cinta. Saya suka bagaimana cinta digambarkan dengan sangat santun di dalam film ini dimana norma-norma yang ada di dalam Islam betul-betul dijalankan. Saya sangat suka dialog-dialog antara Asma dan Zhongwen tentang Islam. Sayangnya Asma memutuskan untuk menolak Zhongwen (apalagi Dewa, pasti ditolak meskipun Dewa sampai mengejar Asma ke Beijing!) karena dia merasa tidak mampu menjadi pasangan yang baik akibat penyakitnya itu, penyakit yang dikenal dengan nama Antiphospholipid Syndrome. Ini sakit pengentalan darah yang bikin penderitanya bisa kena stroke, kebutaan, tidak bisa hamil (karena keguguran), dan lain-lain. Ini yang bikin semangat Asma pupus ... dia harus melupakan Zhongwen.

Pulang ke Indonesia kondisi Asma sangat parah ... 
Apa yang tidak dia ketahui adalah bahwa di Beijing sana si Zhongwen malahan menjadi mualaf (memeluk Agama Islam), lantas mengejar Asma hingga ke Indonesia.

So sweet.

Ya, masih banyak scene lainnya di dalam film ini tetapi pada intinya adalah ini film menggambarkan sesuatu yang saya percayai selama ini yaitu jangan mempertahankan laki-laki yang jelas-jelas telah mengkhianati kita dengan cara apapun dan dengan dalil apapun. Ingat, Allah SWT telah mengatur kehidupan kita dengan sangat baik. Jangan pernah bergantung pada laki-laki setipe Dewa. Lepaskan saja dia dan biarkan Allah SWT memberikan kepadamu seseorang yang layak, seseorang yang pantas, seseorang yang mau menjadi Imam-mu dengan baik. Setidaknya film ini sudah membuat saya menangis (yaaaah banci lagi deh saya) dan sudah membuat saya mengacungi jempol dan berkata: INI FILM INDONESIA TERBAIK YANG PERNAH SAYA TONTON!

Happy weekend semuanya ...

Cheers :)

Thursday, July 28, 2016

Orange Camping

Orange Camping, Moni.

Hari itu, Minggu ... hari terakhir liburan panjang Idul Fitri. Saya uring-uringan level galaksi karena selama liburan hanya di rumah saja. Tak apa juga lah di rumah saja, toh saya juga tidak berdiam diri karena begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan menjelang hari raya dan usai hari raya langsung memikul kamera demi sesuap nasi :p

Hari itu, Minggu ... hari terakhir liburan iseng saya memasang status BBM yang terjadi sebulan sekali gara-gara BBM sering eror. Eh, status saya disambar oleh Stanis dan dilanjutkan lewat chatting Facebook. Karena kami berdua sama-sama suntuk, maka janjianlah kami untuk pergi jalan-jalan. Pusing juga kalau hanya melihat kamar, laptop, gitar, mok kopi dan teh, juga Mamatua dan Tanta Sia ... eh ... kalau beliau berdua mah tak pernah bosan soalnya unik dan satu-satunya! Hehe.

Hari itu Stanis menjemput saya; kami sepakat mengendarai satu sepeda motor saja. Anehnya adalah kami belum punya rencana hendak pergi ke mana. "Ya sudah Tais, kita pergi ke jagung rebus kilometer sepuluh saja, yuk!" ajak saya. Di KM 10 arah timur Kabupaten Ende, kami menikmati jagung rebus panas, sambal jeruk, dan ikan asin dibakar. Wuih sadapnya. Sambil cerita-cerita, tertawa-tawa, muncul ide untuk melanjutkan jalan-jalan ini menuju Moni. "Ada Orange Camping tuh, Tais ... macamnya seru juga kalau kita ke sana!" celetuk saya berapi-api.

Mudah ditebak. Perut kenyang, hati senang, kami berdua melanjutkan perjalanan semakin ke timur. Sepanjang perjalanan yang ada cuma cerita-cerita-cerita tak ada habis-habisnya. Tidak sadar ... eh ... tahu-tahu kami sudah tiba di Moni! Yipieee. Mulailah kami mencari-cari Orange Camping yang fotonya pernah dipajang Oskar dan Etchon di Facebook. Tanya sana-sini, eh ketemu. Ada papan nama Orange Camping, di bok-mati menuju Moni yang bagian pojoknya berdiri kafe baru bernama Santiago Cafe.

Seorang pria duduk di atas batu di dekat kafe.

"Om, mau tanya ... Orange Camping di mana ya?" tanya saya dan Stanis.

"Oooh. Itu di bawah ... mari saya antar."

Ternyata pria yang masih muda tapi saya panggil om ini adalah penjaganya Orange Camping. Namanya Peter dan dia bercerita tentang tempat ini yangmana pemiliknya adalah Darno. Iya, saya kenal lab Darno. Dan saya baru tahu Orange Camping juga ada di Manggarai (atasnya sawah laba-laba). Tarifnya murah. Single 65ribu, double 100rb. Terletak di bekas sawah, di atas rumput hijau, udara bersih dan adem, tepat di samping DAM mini. Sementara itu makanan dan minuman silahkan cari di sekitaran Moni karena Orange Camping tidak sediakan. Lagian Cafe Santiago kan dekat, pesanan bisa mereka antar. Waktu itu setelah foto-foto dan tanya-tanya kami memesan kopi dan teh. Kopinya LUAR BIASA MAKNYUS!

Pukul 15.00 langit semakin berat akhirnya saya dan Stanis pun pulang ke Ende.

Next, kita rencana bakal ke Bena lagi dan menginap di Manulalu.

Cheers!

Monday, July 25, 2016

Yess, It's True


Yess, it's true.
Taken from Here.

Saturday, July 23, 2016

The Effect


Liburan kemarin sempat nonton dua film yang paling saya tunggu-tunggu kopiannya. Eh ... *nyengir*. Film yang pertama Batman Vs Superman, dan film yang kedua Civil War. Dua film ini saya sebut sebagai puncak pertempuran para super hero, meskipun pertempuran mereka belum kelar. Ya, pasti, saya yakin, masih banyak lagi pertempuran antara super hero di hari mendatang *yaelah bahasanya*.

Untuk mengulas betapa gelap aura Batman Vs Superman atau betapa ramai aura Civil War rasanya sudah sangat terlambat. Maklum lah ya, kami di Ende tidak ada bioskop sebangsa 21 begitu. Tapi untuk mengulas tentang betapa ada kemiripan antara kedua film ini saya rasa perlu ... mengingat ini dari perspektif saya sendiri, pendapat saya sendiri, apa yang bergejolak di dalam pikiran saya sendiri usai menonton kedua film super hero tersebut.

Super hero, dengan kekuatan super mereka, baik itu kekuatan super yang alamiah maupun yang buataniah, memang keren. Bayangkan saja kekuatan Superman, kebrutalan Hulk, atau kecanggihan Iron Man dan Batman. Mereka benar-benar dapat membuat bumi seperti mainan leggo. Di setiap film yang mengangkat tema super hero selalu terjadi kehancuran dan kerusakan dalam skala masiv. Ledakan boom boom, gedung-gedung perkotaan merata dengan tanah, monumen-monumen penting dunia hancur berantakan, jalanan lecet bak pipi kecabik cakar kucing, manusia ... mati dengan begitu mudahnya, trauma psikis, dan lain-lain, dan seterusnya, dan sebagainya. Kerusakan seperti inilah yang, menurut saya, diangkat di dalam kedua film tersebut, yang saya sebut dengan the effect.

*berasa keren banget menulis the effect, haha*

Batman Vs Superman dan Civil War tidak saja mengangkat kekuatan super masing-masing super hero seperti yang sejak jaman dulu sudah kita ketahui lewat komik-komiknya, tetapi juga mengangkat sisi humanis. Bagaimana sebuah gedung yang runtuh menyebabkan putusnya hubungan kasih sayang antara ibu dan anak, bagaimana reruntuhan menyebabkan seorang laki-laki kehilangan kaki dan menggunakan kursi roda sepanjang hidupnya, bagaimana negara betul-betul merasa dirugikan atas ulah super hero dengan kekuatan super mereka ... karena membangun kembali itu susah, bung! Harga material sekarang serba mahal :p

The effect ini sangat terasa (kental sekali malah) selama saya menonton kedua film tersebut. Inilah yang menyebabkan Lex memanfaatkan situasi untuk memfitnah sana-sini. Inilah yang menyebabkan The Avengers pecah dua kubu dan menyebabkan munculnya Spiderman :p

Efek, itulah inti dari dua film super hero Batman Vs Superman dan Civil War.

Tak ada yang lain.

Soal kemampuan masing-masing? Laaah kita sudah tahu.

Yang kemudian menari-nari di benak saya yang liar ini adalah apakah pada film-film berikutnya akan ada scene dimana para super hero sedang membantu kontraktor membangun kembali gedung-gedung yang hancur? Bayangkan saja kehancuran di dalam Batman Vs Superman itu ... luar biasa kiamat kan? Mungkinkah Batman mau membantu membangun kembali Metropolis dan Gotham yang rusak?
Mungkin saja :D
Okeh, demikianlah saja bekal weekend kali ini.
Selamat bersenang-senang, teman!

Friday, July 22, 2016

Dies Natalis Yang Ke-36

Vrup Vokal Puteri Kampus 3

Masuk liburan panjang usai Lebaran kemarin saya sudah janji bakal banyak cerita-cerita di blog kesayangan ini. Eeeh tapi ternyata banyak selakali yang harus saya lakukan sehingga lagi-lagi ingkar janji huehue. Tak apa lah yang penting tetap posting.

Oke, melihat foto di atas pasti kalian pangling *ngerasa nih gue* haha. Yang manakah saya? Rasanya aneh ya didandan semacam ini, dipakein baju keren, di-makeup tebal, dipakein hijab kece begini. Memang aneh ... tapi untuk apakah kami berpakaian seperti ini?

Setelah liburan panjang kemarin kami (karyawan dan dosen Uniflor, baik dari yayasan maupun Rektorat) disibukkan dengan kegiatan-kegiatan dalam rangka Dies Natalies Universitas Flores yang ke-36. Rangkaian kegiatan yang telah disusun adalah Misa Syukur Kampus yang diselenggarakan pada Jumat (15/7/2016), pelbagai perlombaan olahraga (voli, futsal, tarik tambang), pertandingan poker, hingga acara puncak yaitu Perayaan Dies Natalies Uniflor ke-36 dan Halalbihalal 1437 Hijriah.

Acara puncak tersebut diisi dengan pengajian atau pembacaan ayat suci Al Qur'an oleh seorang dosen bernama Ilyas yang suaranya sumpah kece berat! Saritilawah oleh Mila Wolo my soulmate itu, tausiah oleh Ustadz Alifudin, makan siang bersama, pemotongan tumpeng oleh Ketua Yapertif dan Rektor Uniflor, dan dilanjutkan dengan ... LOMBA VOKAL GRUP! Yahaha! Ini kece. Lomba vokal grup diikuti oleh enam kelompok masing-masing putera dan dan puteri dari Kampus 1, Kampus 2, dan Kampus 3. Dulunya Uniflor punya empat kampus loh *informasih kurang penting* Oia setiap kelompok beranggotakan delapan orang dan wajib diisi oleh empat dosen dan empat karyawan.

Kami, bisa dilihat pada foto di atas, merupakan Vokal Grup Puteri Kampus 3. Saya, berdiri paling depan dooonk, sangat senang dengan kegiatan seperti ini karena sangat melatih kesabaran hahaha. Oia lagu wajib yang kami bawakan adalah Mars Uniflor sedangkan lagu pilihannya Bermata Tapi Tak Melihat dari Bimbo. Yang keren dari lomba kali ini adalah kelompok kami untuk koreo khusus dilatih oleh Rikyn Radja, kostum oleh Rikyn Radja, make-up oleh Deth Radja, dan hijab stylist kami Yara Rasyid. Kece kan? Usai di make-up pada kaget deh sama wajah masing-masing dan ketika kami memasuki auditorium suasana langsung gaduh *berasaaaa artis!* haha.

Mengikuti lomba bukan berarti berambisi untuk menang. Intinya adalah kami berani tampil dan berpartisipasi, meramaikan kegiatan akbar ini, dan kami melatih diri untuk tidak egois dan bisa bekerja sama. Maklum, rata-rata di kelompok kami ini penyanyi semuanya jadi kudu mengatur suara agar tidak dominan antara satu dengan yang lain *cie*. Jika pada akhirnya juri memutuskan kami sebagai juara satu alias pemenang, itu adalah bonus. Hah? Menang? Iya, benar, kami menanggggg! Hehe. Terimakasih untuk Rikyn, Deth, dan Yara, yang sudah begitu semangat membantu kami sampai-sampai Rikyn tak masuk kerja, Deth terlambat buka salon, dan Yara terlambat buka butik D'Yara Boutique.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya pengen ngasih tahu, pada hari H alias perayaan puncak Dies Natalies ke-36 Uniflor tersebut, Pater John Balan, SVD (Pater Kampus) mengenakan pakaian Palestina. Keren sekali, Pater! Waktu bertemu saya Pater bilang begini, "Tuteh, ini baju dikirim oleh saudara saya yang bertugas di sana, jadi pas momen ini saya pakai."
Itu AWSOME, Pater.

Selamat ulang tahun yang ke-36 Uniflor tercinta!
Satukan langkah, bulatkan tekad, menuju Uniflor bermutu!

Nah kan ... masih banyak cerita yang belum saya posting di sini ... satu per satu deh ...

Cheers!

Monday, July 11, 2016

Back to Work!

Wif Stanis di Orange Camp, Moni.

Selamat kembali dari liburan panjang, semuanya! Yipie ... 

Oia, pertama-tama saya ingin mengucapkan Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri untuk semua teman-teman yang merayakannya, termasuk saya, yang telah meraih hari kemenangan nan fitri. Bagaimana suasana Idul Fitri di tempat Anda? Kalau di tempat saya, khususnya di rumah saya, Idul Fitri merupakan momen paling ditunggu-tunggu karena merupakan saat berkumpulnya keluarga besar Pharmantara usai Shalat Ied dan nyekar ke makam Bapak (Kak Toto, Kak Tuty, dan anak Wawan). Setelah sungkeman, saling toyor, saling hitung usia, makan-makan, dan tertawa-tawa, ramai-ramai kami pergi ke keluarga Ende (maksudnya keluarga dari pihak Bapak karena keluarga dari pihak Mamatua kan mayoritas Katolik) untuk bersilaturahmi. Nah, sekembalinya dari rumah keluarga Ende inilah kesibukan utama dimulai. Yaaaa karena open house so the madam must be standby at home hihihi. Terimakasih ya untuk sanak-family, tetangga, teteman, para krucil, yang telah datang ke rumah. Kalian baik!

Biasanya Idul Fitri dirayakan lebih dari dua hari (kalau kalender kan tanggal merahnya ada dua), seperti masa-masa lampau dimana rumah kami masih kebanjiran tamu sampai seminggu lamanya. Namun Idul Fitri kali ini benar-benar hanya dua hari bagi saya dan kru karena pekerjaan telah menanti. Orderan KuliKamera membawa saya dan Cahyadi menuju Salon Keyzha pada pukul 09.00 Wita kemudian ke Gereja Santo Yoseph di Onekore untuk pemberkatan perkawinannya. Untungnya ada empat pasang pengantin yang diberkat di gereja tersebut dan pengantin kami mendapat jatah pemberkatan kedua pada pukul 11.00 Wita sehingga saya masih bisa berleha-leha di kasur sampai pukul 08.00 Wita. Jika pengantin kami mendapat jatah pemberkatan pertama yaitu pukul 08.00 Wita, maka pukul 06.00 kami sudah harus tiba di salon tempat pengantin perempuan di-makeup hihihi.

Liburan panjang kali ini otomatis saya tidak bisa ke mana-mana. Selain open house (apalagi rumah kami, si Pohon Tua, adalah rumah induk) kali ini saya berusaha untuk tidak merepotkan orang lain soal panganan hari raya. Mulai dari cookies; based on recepies from CookpadDotCom, sampai olahan lauk-pauk temannya ketupat itu, semuanya saya kerjakan sendiri. Sampai-sampai banyak yang tidak percaya saya mampu melakukannya. But, hey, sebelum saya memanjakan diri beberapa tahun terakhir ini dengan memesan kue dan membayar bantuan koki untuk memasak lauk-pauk hari raya, dulunya saya juga perempuan-dapur yang gagah perkasa loh hahaha. Bahkan dulu itu belum ada yang jualan ayam potong sehingga ayam yang kami beli itu benar-benar masih hidup, disembelih, disiram air panas, dicabut bulunya, dipotong-potong, dimasak, dst. dsb. dkk. Kalian akan heran melihat saya, yang katanya terlalu macho masuk dapur, mampu berhadapan dengan dua kompor yangmana satunya memanggang kue dan yang lain menggoreng stik keju. Sudah semacam Chef Ramsey lah saya ini hahaha.

Pada akhirnya saya bertemu Hari Minggu dan itu membuat saya cukup suntuk jika tidak keluar rumah. Ajakan Abang Nanu sekeluarga untuk pergi ke Danau Kelimutu (dan juga ajakan teman-teman Mapala) tidak saya ladeni. Tapi kok bisa saya hanya di rumah saja? Walhasil saya dan Stanis pun pergi juga keluar rumah. Awalnya kami berdua bingung mau ke mana eeeh, akhirnya kami ngetem di Kedai Jagung Rebus di KM 10. Ada jagung, ikan asin bakar, dan sambel. Eh, tak lama kemudian kami pun melanjutkan perjalanan ke arah timur ... terus ke timur ... terussss ... akhirnya sampai di Moni. A-haaa memang benar ya kalau tidak ada rencana pada akhirnya jadi juga. Kami pun mencari yang namanya ORANGE CAMPING, tempat menginap yang konsepnya serba natural. Salah satu contohnya bisa dilihat di foto di atas. Bagaimana tentang Orange Camping ini? Akan saya ceritakan di lain kesempatan ya. Hanya saja tempat ini menjadi pilihan baru yang bakal ramai dikunjungi wisatawan sebagai alternatif tempat menginap ala natural-beauty.

Hari ini kita semua sudah kembali beraktifitas seperti biasa. Selamat bekerja teman-teman semua. Meskipun banyak yang tidak bisa move on dari liburan panjang tapi ingat, pekerjaan adalah yang utama yang harus kita lakukan agar bisa kumpulin duit dan jalan-jalan lagi! Hihihi.
Baiklah, minggu depan kami mau pergi ke Wologai (kampung adat/rumah adat yang sempat terbakar itu). Ramai-ramai dengan teman-teman tukang jalan alias Kaki Kereta. Setelah itu saya pengen pergi ke Manulalu untuk berleha-leha ... macamnya kami bakal tidur bersesak-sesakkan deh di sana hahahahaha ...

Cheers!