Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Sunday, February 05, 2017

Seword



Seword.com, sebuah situs opini yang tidak pernah bermaksud menggiring opini masyarakat, namun justru mencerahkan siapapun yang membacanya (jika, seperti istilah para penulis di sana, si pembaca tidak bersumbu pendek, qiqiqiq). Kenapa simbolnya kura-kura? Saya tidak pernah bertanya pada para founder-nya. Tapi menurut hemat saya, kura-kura melambangkan kebijaksanaan seperti yang digambarkan di dalam film Kungfu Panda.

Bagi saya, menjadi penulis adalah berkah. Selama ini saya agak ragu untuk menulis opini dikarenakan kekuatiran ini-itu. Saya lebih nyaman dengan tulisan tentang pengalaman #KakiKereta ke tempat-tempat wisata di Indonesia, terkhusus di Kabupaten Ende. Kabupaten Ende yang kaya akan pesona wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, wisata kuliner, hingga wisata religi. Saya suka menulis tentang dunia melancong.

Apakah lantas gara-gara itu saya lebih memilih kanal travel di Seword?

Itu salah satunya.

Tapi ... tidak selamanya saya bermain di kanal Travel. Kadang-kadang saya juga menulis tentang dunia politik di Indonesia, tapi lebih sering tidak saya publish karena enggan. Kuatir dicap sok tahu. Hari ini saya berani menulis dalam kanal Sosial Budaya ... saya mencoba :D Semoga tulisan itu layak untuk mejeng di situs Seword.

Bagi kalian yang ingin tercerahkan ... bacalah Seword.Com :)

Monday, January 30, 2017

#KakiKereta: Desa Manulondo

Gunung Meja tertutup awan ...


Masih ingat Desa Manulondo kan? Kalau lupa, kisah soal Sarasehan yang dilakukan oleh Komunitas SocMed Ende di Desa Manulondo bisa dibaca di sini. Saya suka sama mindset Kepala Desa Manulondo, Bapak Aris Bagi, bahwa meskipun mereka berada dalam lingkup desa tapi harus mampu berpikir internasional. Salah satu perbuatan dari Bapak Aris yang saya acungi jempol adalah kerjasama beliau dengan Komunitas SocMed Ende menggelar kegiatan sarasehan tentang pentingnya beretika dalam menggunakan media sosial.

***

Kemarin pagi mendadak saya dihubungi Evran, salah seorang siswa SMAK Syuradikara yang saya sebut sebagai Young Tallented Videographer, yang bertanya, "Hari ini kita ke mana, Encim?" Bagi saya, pertanyaan itu adalah ajakan. Dan pada akhirnya kami pun berencana untuk pergi ke Desa Manulondo. Seperti biasa, KakiKereta ini dilakoni oleh orang-orang dari program Backpacker dan teman-teman Zigizeo yang didalangi oleh Martozzo. Sayangnya, kemarin itu Mamas Yoyok dan Iwan tidak bisa ikutan, sedangkan pihak Zigizeo begitu banyak partisipan! Hahaha. Rata-rata mereka masih duduk di bangku kelas tiga SMAK Syuradikara.

Benar kata orang, kalau sudah niat, rintangan apapun tidak dapat menghalangi. Rencananya kami berangkat pukul 13.00 tapi ternyata hujan mengguyur Kota Ende dengan dahsyatnya. Saya pikir, mungkin perjalanan hari ini bakal batal. Tapi saya salah ... setelah hujan agak reda, mendadak satu per satu anak-anak Zigizeo muncul di rumah. Pukul 14.30, Bro Kiki Albar, salah seorang sahabat kami yang dan sering jalan bareng, yang paling pertama muncul, "Ncim, si Tozzo suruh saya ke sini ... katanya kita mau ke mana gitu?"

Wah, kalau begitu mari kita jalan! 

Sepanjang jalan menuju Desa Manulondo kami dihadang gerimis dan sesekali hujan. Tapi kami tetap tancap gas. Kebetulan saya diboncengi sama Bro Kiki Albar, jadi rada aman. Kalau saya pakai Oim Hitup, bisa agak bahaya soalnya si ban mulai berulah. Saya sendiri sudah menghubungi Om Ihsan Dato tentang kedatangan kami ini. Awalnya, rencana kedatangan kami ke Desa Manulondo adalah untuk menyaksikan secara langsung proses pencelupan yang merupakan salah satu dari rangkaian pembuatan tenun ikat. Sayangnya, kalau Hari Minggu para ibu-ibu penenun libur ... walhasil kami pun berencana untuk pergi ke spot yang cukup tinggi di Desa Manulondo dimana bisa menyaksikan lanskap Kota Ende dari ketinggian. Dengan senang hati Om Ihsan mengantar kami ke sana.

Kamera ready, everything is okay, yuk kita ngesyut!

Dari atas bak air Desa Manulondo (orang-orang biasa menyebutnya bak air Aekipa), kami dapat melihat lanskap Kota Ende dengan leluasa! Sayangnya, kemarin sore cuaca sedang sangat tidak bersahabat. Kota Ende tertutup awan dan/atau kabut ... kesan mistisnya luar biasa 'dapet'. Qiqiqiqi. Kami tetap action, merekam gambar, ngomong ini-itu a la host (ngakak), dan meminta Om Ihsan untuk menjelaskan beberapa hal penting tentang lokasi bak air Desa Manulondo ini, termasuk apakah pemerintah setempat sudah memikirkan untuk menjadikan tempat ini sepat lokasi wisata di Desa Manulondo?

Meskipun sama seperti Kolibari, tempat tertinggi kita bisa melihat lanskap Kota Ende, tapi jelas pemandangan ini dari sisi yang berbeda. Akan berbeda pula jika dilihat dari puncak Wolotopo.

Dari lokasi tertinggi tersebut, kami pun meminta Om Ihsan untuk mengantar ke lokasi berikutnya yaitu tempat Bung Karno biasa bersemedi (di masa pengasingan dulu). Lokasinya di dekat jalan raya, jarak dari jalan ke sungainya pun dekat, hanya sayang banyak sampah (musim hujan) dan tidak terawat. Tempat Bung Karno biasa bersemedi itu adalah sebuah batu ceper besar di tengah sungai kecil. Om Ihsan banyak bercerita tentang bagaimana sampai mereka menemukan bahwa tempat itu merupakan tempat yang bersejarah selain Situs Bung Karno, Taman Renungan Bung Karno, dan Gedung Imaculata. Sayangnya saya pakai sepatu. Kalau pakai sandal, saya sudah dudul pula di atas batu ceper itu dalam posisi semedi hehehe.

Sekitar tiga jam kami menghabiskan waktu di Desa Manulondo dan akhirnya harus mengakhiri KakiKereta-nya. Hihi. Sepertinya virus untuk berKakiKereta ini semakin luas menyebar dan minggu depan kami berencana untuk pergi ke Kecamatan Nangaroro yang masih merupakan bagian dari Kabupaten Nagekeo. Ada apakah di sana yang bisa kami eksplor? Yang jelas, kami selalu berbagi videonya dengan teman-teman semua hehehe.

 
Mari kita ber-KakiKereta!




Cheers!

Happy 50 Birthday, Bapa Lori


Happy 50 Birthday Bapak Lori ... wish you all the yellow best. Tapi ini vector bukan dari saya seorang loh yaaa ... bareng Mila dan kawan-kawan lain juga. Semoga beliau suka. Oia, pesta pantai ulangtahun Pak Lori (tanggal 22 Januari 2017) berlangsung meriah di Taman Firdaus, di Pantai Mbu'u.

Saturday, January 21, 2017

Insting: Komputer vs Manusia

Picture taken from Google. Picture is not mine!



Kata Cahyadi, "Dari film ini, ternyata tidak semua niat baik dianggap baik." Oh, betul sekali itu. Ketika teman kita pacaran sama seseorang yang menurut kita 'kurang baik', maka niat baik kita untuk menasihati pun bisa jadi dianggap tidak baik. Apalagi untuk seorang Sully, seorang pilot yang telah 40 tahun menjadi pilot, ketika dia terpaksa harus mendaratkan darurat U.S. Airways di Sungai Hudson, maka perbuatannya itu dianggap 'permainan berbahaya' yang harus dipertanggungjawabkan.

Film Sully diangkat dari kisah nyata pendaratan darurat U.S. Airways oleh Kapten Sully dan ko-pilot Jeff. Sesaat setelah pesawat mereka lepas landas dari Bandara LaGuardia, sekawanan burung menabrak pesawat tersebut, masuk ke mesin, hingga menyebabkan kedua mesin mati. Bagi teman-teman yang sudah pernah menontonnya, pasti tahu bahwa kemudian Sully yang dianggap sebagai pahlawan ini kemudian harus melewati serangkaian penyidikan oleh tim investigasi (NTSB). Singkat kata, Sully dituduh macam-macam dengan melakukan pendaratan darurat tersebut, karena menurut NTSB pesawat tersebut masih dapat kembali ke Bandara LaGuardia, atau ke Teterborro.

Saya rasa, tidak perlu mengulas lebih panjang lagi soal film ini, tapi langsung ke inti cerita, bahwa Sully menghadirkan "Insting: Komputer vs Manusia". Bagaimana simulasi dua pendaratan darurat yang awalnya sukses, ketika diminta extend waktu reaksi hingga 35 detik, justru mengantar dua simulasi itu pada kecelakaan fatal. Yang satu menabrak jembatan, yang satu menabrak gedung-gedung (seperti penglihatan yang mengganggu Sully - pasca trauma). Unsur manusia-nya, itulah yang penting, yang harus menjadi sebuah pertimbangan di dalam kasus-kasus serupa.

Jika Sully tidak menggunakan instingnya, semerta-merta mengikuti perintah dari ATC, sudah tentu dia tidak dapat menyelamatkan 155 nyawa di dalam U.S. Airways tersebut.

Insting, sesuatu yang dapat kita asah, dapat pula terlantar begitu saja. Tapi saya yakin, dalam kondisi apapun (apalagi dalam kondisi darurat seperti yang dialami oleh Sully dan Jeff), insting manusialah yang menang. Kita semua punya insting untuk tetap hidup, oleh karena itu kita percaya padanya.

Saya suka film ini,
Bagaimana dengan teman-teman lain?


Cheers!   

Monday, January 16, 2017

#KakiKereta: Kolibari dan Bukit Kelimara

Suguhan kakak ipar hahaha :p


Yipieeee! #KakiKereta lagi. Minggu kemarin, tanggal berapa ya ... oh (padahal nggak perlu nulis begini hihihi) tanggal 15 Januari 2017, saya dan teman-teman berangkat ke Kolibari. Pukul 14.00 berangkat duluan saya dan Mamas (Mas Yoyok). Saya sudah ngikik duluan membayangkan Mamas kaget sama kondisi jalan menuju rumah calon mertua saya itu hahaha. Dan ternyata, saya yang diketawain. Huhu. Oim Hitup (nama motor saya) yang malah ngadat.

Sampai di Kolibari kita langsung ke rumahnya Kak Ibrahim, di depan rumahnya mamak calon mertua *ngikik* dan disuguhi kopi. Walah, siapa sih yang bisa menolak suguhan kopi? Tak lama Martozzo dan Gibran pun tiba. Jadilah kami, yang seharusnya berencana bersenang-senang dengan drone Mamas di bukit pandang Kolibari, malah pergi mendaki Bukit Kelimara! Makjaaang! Saya sudah menolak sih, tapi mengingat "kapan lagi?" maka nekatlah saya ikutan mendaki Bukit Kelimara. 

Pendakian bukit, kami berempat dikawal oleh belasan bocah di bawah 10 tahun, dan seorang mamak yang hendak mencari kayu bakar. Tuhan, sudah berapa lama saya tidak naik gunung? Sudah berapa lama saya tidak olahraga? Kaki sudah tak sanggup, betis kejang, paha kejang, tapi kemauan keras mengalahkan semua keletihan. Saya bertekad harus sampai puncak bukit itu, yang menurut waktu normal bisa ditempuh selama 40an menit. Sayangnya, saya memang sampai puncak tapi tidak sampai di tepi bukit yang landai, yang dari tempat itu bisa melihat jalanan Kota Ende dengan leluasa. Sayang banget yaaa ... saya harus turun (bersama mereka yang sudah kembali dari daerah lapang tepi bukit) dan terjatuh beberapa kali.

Lucunya, dua bocah perempuan, yang menjadi dayang-dayang saya itu, merasa mampu menahan dan menarik saya alias menggiring saya mendaki dan turun gunung! Oh My God! Saat saya nyaris terpeleset, mereka berdua dengan sigap menahan tangannya di bokong hahahaha "Hei kalian berdua, Dinda dan Tuty, kalau saya jatuh kalian berdua gepeeeeng!" Dan, setiap kali saya berhenti untuk menghela nafas, mereka berdua berkata, "Jalan sudah, jalan sudah!" menggunakan bahasa Ende. Mereka kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa karena sudah diamanatkan untuk menjaga saya harus selamat. Ini yang ngasih amanat keterlaluan banget!

Pulang dari Bukit Kelimara, yang mana nafas sudah ngos-ngosan, kami disuguhi ubi goreng, sambel, dan ikan. Aaaah ini yang saya butuhkan. Bahkan, kami disuguhi berceret-ceret es kelapa muda! Yuhuuuu, guys, tidak ada yang bisa menghiburmu ketika turun bukit selain es kelapa muda ala kakak-kakak ipar di Kolibari. Berkatilah mereka ya, Tuhan :D

Wah, dalam Bulan Januari sudah dua kali saya ber-#KakiKereta ... meskipun masih di dalam kabupaten. Karena bagi saya, #KakiKereta itu tidak perlu harus jauuuuh ... di dalam kota juga kok.

Nanti ke mana lagi yaaaaaa ...

Ada ide? :p


Cheers!

Sunday, January 15, 2017

#KakiKereta: Jembatan Bambu

Photo by David Mossar. Di Jembatan Bambu Kilometer 9.

Masih, dari cerita #KakiKereta dadakan ke Kecamatan Detusoko tanggal 12.1.2017 kemarin, inilah penampakan jembatan bambu di kilometer 9 tempat kami mampir untuk foto-foto. Karena saya kepengen difoto di jembatan ini, maka saya harus mau merasakan jantung jatjut gegara kondisi jembatannya.

Jembatan ini dibangun menggunakan kayu dan bambu (untuk pijakannya terbuat dari bilah bambu yang disusun rapi), juga kawat-kawat untuk jembatan. Yang seru adalah ketika berjalan di atasnya, otomatis jembata akan berayun dengan sangat dahsyat. Dan yang paling seru adalah sore itu kami harus bergantian dengan seorang Mama yang memikul kayu dari daratan sebelah ke daratan sebelahnya. Hehe. Setiap kali saya sudah siap hendak difoto, mendadak jembatan bergoyang dahsyat, lihat di ujung sana si Mama sedang berjalan dengan cepatnya sambil mengusung ikatan kayu bakar di atas kepala. Adow, tanpa ba bi bu, saya segera bangkit, dan lari ke ujung sebelah menyelamatkan perasaan yang teraniaya hahaha.

Seru juga sih ... untuk menghasilkan satu foto saja perlu perjuangan bolakbalik seperti itu, dan lutut gemetar ... bagaimana jadinya puluhan foto? Duh, tak sanggup ane jadi model haha. Lagipula, tak cocok pun.

Tapi pemandangan jembatan ini bagus ... saya suka. Apalagi kita ketemu sama teman-teman Zigizeo yang didalangi sama Martozzo Hann itu. Seru lah yaaa, videonya dapat dilihat di Facebook maupun Youtube.

Pengen segera #KakiKetera lagi ah ... ke arah barat Kota Ende ... mungkin?



Cheers.

Saturday, January 14, 2017

Mereka Ada Di Sekitar Kita

Photo by David Mossar. Om Wangga, ODGJ yang dipasung.


Intro:
Sejak Bulan September 2016 saya membantu Oma Mia Gadi Djou untuk menuangkan tulisan beliau (dari sebuah buku catatan) ke lembar-lembar dokumen word. Itu merupakan buku kumpulan tulisan tentang para ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) yang pada tanggal 9 Januari 2017 di-launching kecil-kecilan oleh Kelompok Arisan Widow-wati. Di dalam buku yang berjudul "Mereka Ada Di Sekitar Kita" tersebut, memuat kisah beberapa ODGJ yang sebagian saya kenal seperti Mese, Oa (Tanta Ramanda), hingga yang tidak saya kenal seperti Sitti, Maria Bi, atau Usi Kuji. Kata Oma, hasil penjualan buku tersebut akan disumbangkan untuk ODGJ yang pengelolaannya dilakukan oleh KKI (Kelompok Kasih Insani) dengan pimpinan Pater Avent Saur.

Seorang Oma Mia, yang sudah berusia lanjut, masih punya kemauan keras untuk membantu orang lain yang nasibnya sangat jauh dari kata beruntung. Bagaimana dengan kita yang (mengaku) masih muda? Kita yang masih kuat tangan dan kaki ini? Coba pikir, dan ini sangat mengganggu saya, salah satu ODGJ perempuan bahkan ada yang hamil dalam pengembaraannya. Yang gila si ODGJ atau laki-laki yang tega menghamilinya? Dunia ini kejam yaaa ... bukannya membantu malah menghamili.

Sebelumnya, saya juga sudah sering mendengar tentang KKI, tentang perjuangan mereka untuk membantu para ODGJ baik dari makanan maupun obat, juga dari segi pendampingan. KKI memang bisa 'jalan sendiri' tapi tentunya mereka membutuhkan juga dukungan dari kita semua. Kita, masyarakat Ende yang mengaku bangga pada kota tempat butir-butir Pancasila direnungkan oleh Bung Karno. Saya pikir, kalau kita mau - kita pasti bisa. Kalau kita mau mendukung dan membantu KKI, kita pasti bisa mencari tahu bagaimana caranya dan apa saja yang bisa kita lakukan.

Come on ...
Kita pasti bisa.

***

Gara-gara Kamis kemarin sepulang dari Detusoko saya dan David mampir di rumah dua ODGJ, lantas David meng-uplad foto-fotonya, maka timeline di Facebook semakin ramai dengan obrolan tentang ODGJ ini. Dan hasil komen-mengomen, pada akhirnya saya pun sepakat untuk mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh KKI. Senang sekali kemudian melihat teman-teman lain menyatakan keikutsertaan mereka seperti Abang Arifin Sudrasman, Abang Muhammad Nurdin, Armando Abdullah, dan tentu saja David Mossar juga heheh. Saya terharu.

Hari ini, Sabtu 14 Januari 2016, saya mengikuti kegiatan KKI (Kelompok Kasih Insani) yang dipimpin oleh Pater Avent Saur. Check point di Toko Centro untuk mengambil logistik (nasi bungkus yang akan dibagikan untuk para ODGJ dalam kunjungan hari ini). Karena terlambat maka saya harus menghubungi Abang Arifin dulu untuk bertanya lokasi mereka. Maklum, saya sendiri belum menyimpan kontak teman-teman soalnya gadget andalan mati total dan nomor kontak ngikut gadget andalan itu.

Dari Toko Centro, ketika saya tiba teman-teman ternyata sudah berangkat menuju titik pertama yaitu di Pasar Wolowona. Di Pasar Wolowona, arah timur Kota Ende, pada bagian belakang pasar, ada dua ODGJ yang sehari-hari ngetem di situ. Salah satunya bernama Om Rafel (kalau saya tidak salah dengar). Teman-teman KKI membagikan nasi bungkus, bahkan menyuapi mereka makan, kemudian mengobrol. Jika diajak mengobrol, mereka lumayan nyambung. Namun kalau tidak diajak mengobrol, mereka berbicara pada diri sendiri (ada juga yang diam saja). Kondisi mereka? Ya, seperti itulah ODGJ yang ada di jalanan ini. Mereka jarang (atau hampir tidak pernah?) mandi, compang-camping, dan terkesan tidak peduli pada sekitar.

Perjalanan kami lanjutkan ke Simpang Lima. Di sana juga ada dua ODGJ. Satunya berpakaian mirip tentara, memakai topi, dan dia lebih komunikatif ketika Pater Avent mengajaknya mengobrol. Saya melihat dari jauh karena sudah banyak teman yang mengerumuninya. ODGJ satunya lagi duduk di samping tempat sablon (masih di titik yang sama). Dia, agak berbahaya, memegang parang (golok). Agak takut saya melihatnya. Namun, dengan penuh kesabaran Pater Avent mendekatinya dan mengajaknya mengobrol. Nasi bungkus dibagikan. Si ODGJ pergi ke taman bagian tengah Simpang Lima untuk berteduh. Beberapa teman menyusulinya ke sana dan Alhamdulillah parang yang dia pegang bisa diamankan oleh David.

Berdekatan dengan Simpang Lima, di Jalan Ahmad Yani, ada seorang ODGJ yang satu kakinya dirantai. Hans, nama ODGJ ini, dirantai di dalam sebuah kamar yang bersih di bagian belakang rumah orangtuanya. Orangtuanya menyambut kedatangan kami dengan ramah. Bagi teman-teman KKI ini bukanlah kunjungan pertama sehingga mereka telah saling kenal. Lagi-lagi saya tidak masuk ke kamar karena sudah banyak teman di sana. Di luar kamar saya berkesempatan mengobrol dengan Bapaknya Hans. Bapak bercerita awal mula Hans mengalami gangguan ini, "Hanya karena lambung (maag), dia muntah-muntah, besoknya sudah begitu ..."

Hans mengalami muntah-muntah. Diperiksa lengkap secara medis, tidak ada satupun penyakit, hanya maag saja. Setelah hari itu hidup Hans berubah. Padahal waktu itu dia masih SMA, kuat, sehat, dan masa depannya masih panjang. Bapak bercerita, bahwa Hans pernah sembuh selama tujuh bulan. Lantas, kenapa kambuh lagi? "Dia diajak mancing sama Om-nya, besoknya dia langsung kena lagi." Saya sempat bertanya saat si Hans kambuh, yaitu mengamuk sampai membawa parang segala, apakah ada keluhan yang keluar dari bibirnya? Misalnya ada suara-suara di kepala atau apalah ... kata Bapak, "Tidak ada ... dia begitu saja ... mengamuk tidak jelas."

Ada tetangga yang mengeluhkan sikap Hans yang berkeliaran, kadang mengamuk, apalagi sambil membawa parang, kepada Bapak. Dan Bapak pun menjadi kuatir jika harus meninggalkan rumah untuk waktu yang lama. Oleh karena itu, dengan hati yang sangat berat Bapak harus merantai Hans. Awalnya kedua tangan-kaki Hans dirantai tapi sekarang hanya salah satu kakinya saja yang dirantai. Tadi saya lihat ruangannya bersih, dan si Hans sendiri juga bersih sekali.

Di rumah Hans ini, pertahanan saya bobol.

Mata saya memanas.

Tuhan, hidup saya jauh lebih beruntung. Otak dan jiwa saya masih bisa diajak berkompromi. Tapi mereka? Para ODGJ itu tidak mampu berkompromi bahkan dengan dirinya sendiri. Dunia mereka adalah dunia pengembaraan yang tidak tentu arah. Dunia mereka adalah dunia yang kadang tidak dapat kita maklumi. Tapi, kita yang dianugerahi kehidupan yang layak ini, apakah tega melihat mereka dan berdiam diri? Bukankah kita punya tangan-kaki yang masih dapat dipergunakan untuk kebaikan? Bahkan, jemari kita pun masih bisa dipakai untuk membagi kisah mereka lewat tulisan?

Kawan, saya memang bukan orang super kaya apalagi dermawan. Saya hanyalah orang biasa yang perasaannya seperti diperas ketika melihat para ODGJ, apalagi jika ODGJ dipasung di dalam bilik yang berdekatan dengan kandang babi? Atau melihat ODGJ yang salah satu kakinya dipasung seperti foto di dalam tulisan ini? Mari, kawan, kita bantu mereka. Lewat donasi juga boleh, lewat kunjungan langsung juga boleh. Kita peduli, saya yakin itu ... Nanti rekening KKI akan saya tanyakan pada Pater Avent. Siapa tahu teman-teman mau membantu, berapa pun itu, dapat langsung ditransfer ke rekening yang ditentukan oleh KKI.

Saya pikir kita harus mengucapkan Alhamdulilla atas segala hal yang kita alami, apalagi jika kita masih waras, apalagi jika kita pun bukan orang-orang yang hidupnya terzolimi akibat negaranya masih berperang.

Mari ...


Cheers.  

Friday, January 13, 2017

#KakiKereta: Pematang Sawah di Detusoko

Photo by Dadiv Mossar. Di Detusoko.


Sudah sering saya melihat David Mossar, fotografer Ende, memosting foto-foto perjalanannya ke Kecamatan Detusoko. Kecamatan Detusoko yang terletak sekitar 30-an kilometer dari pusat Kota Ende memang menawarkan pemandangan menakjubkan dan bikin ngiler. Bikin penumpang mobil travel teriak-teriak, "Om sopir eee, bisa kah kita foto dulu di sini!?" Sebagai masyarakat Kabupaten Ende, tentunya saya sendiri sudah sering melintasi Kecamatan Detusoko untuk sekadar lewat, atau untuk beristirahat setelah perjalanan panjang dari luar kampung halaman, atau untuk menikmati sepiring nasi ayam di warung yang saya lupa namanya tapi ayam bumbunya menyengat lidah! Hehe. Warung ini terletak tepat di depan Terminal (bus) Detusoko.

Kamis, 12.1.2017, saya dan David pergi ke Kecamatan Detusoko. Awalnya sih hanya iseng saling komentar (menyambar status David soal perjalanan ke Detusoko), eh keterusan kami janjian untuk pergi ke sana. Sekitar pukul 13.00 David menjemput saya berbekal backpack kameranya. Maka, terpaksa Xeon milik David harus memuat saya yang bobotnya lumayan bikin ban dalem menangis sedih. Oke, kita berangkat!

Memasuki wilayah Kecamatan Detusoko, mata kita langsung menyaksikan hamparan petak-petak sawah. Kebetulan musim panen sudah selesai, dan proses pembajakan pesawat terbang sawah sudah selesai, maka yang kami temukan adalah para petani yang sedang sibuk menanam padi di lahan mereka. Dari ketinggian (badan jalan) dan melihat ke arah pematang sawah, mulut saya ngilernya minta ampun pengen motret. Tapi sayang, gadget andalan saya, si Lenovo itu, sudah rusak parah alias Wassalam. Jadi, terpaksa saya hanya bisa memotret menggunakan SG Tab 3 yang kualitas gambarnya buram bin bahrun :p Untunglah dua kamera DSLR David menyelamatkan keadaan *halaaaah* hahaha. Foto-fotolah kita ... sempat juga mencegat *kayak preman mencegat ibu-ibu pulang pasar* seorang Mama yang baru pulang dari sawah dengan tubuh berlumpur.

"Mama! Foto, yuk!" ajak saya.

"Jangan ... saya raki, kamu bersih." balas si Mama. Raki itu bahasa Suku Lio yang berarti kotor.

Ah, si Mama ... jangan kuatir. Lebih kotor yang terlihat mata, ketimbang kotor yang tidak terlihat.

Berhasil merayu si Mama, David pun mulai pencet shutter-nya. Berusaha meminta Mama tertawa, tapi nampaknya agak sulit. Hahaha. Tapi ketika akhirnya si Mama say good bye sama kita, dia tertawa lepas, dan syukurnya David tak kehilangan momen berharga itu.

Melanjutkan perjalanan dalam kondisi rintik-rintik yang disusul dengan hujan, kami acuh saja. Perjalanan kami kemarin, ber-#KakiKereta, diteruskan hingga ke pusat Kecamatan Detusoko (di terminalnya). Tapi sebelum memasuki pusat kecamatan, kami foto-foto lagi pematang sawah yang luar biasa kece! Untungnya hujan sudah reda sehingga tidak masalah jika kamera-kamera dikeluarkan dari sarangnya. Puas foto-foto, tujuan kami berikutnya adalah makan siang. Karena saya sudah makan, David makan sendirilah :)

Sebenarnya perjalanan kami masih akan diteruskan ke Ekoleta, wilayah pusat penghasil beras juga, tapi sayang hujan dari arah timur sangat deras sehingga kami harus balik arah kembali ke Ende. Sepanjang perjalanan ke Ende kami mengobrol tentang banyak hal ... salah satunya yang paling kencang diperbincangkan saat ini di Ende yaitu ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). David berjanji akan mengantar saya ke lokasi beberapa ODGJ searah jalan pulang ke Ende. Oia, dalam perjalanan pulang ini kami masih mampir lagi di salah satu spot pematang sawah dan foto-foto di sana ... pantulan langit dan awan di pematang sawah yang masih baru akan ditanami padi tersebut luar biasa mempesona!

Oke, mari pulang ke Ende!

Setiba di Ende, masih di wilayah Roworeke, kami mampir di rumah dua ODGJ yaitu Om Noel dan Om Wangga. Om Noel adalah ODGJ yang dipasung dan dikurung di dalam sebuah bilik kecil, bilik ini berbentuk panggung. Saat kami datang dia sedang tiduran tanpa baju. David memintanya memakai sarung, barulah saya boleh menengok ke dalam biliknya lewat sebuah jendela super mini. Ah Om Noel, perasaan saya teriris melihatmu.
Dari Om Noel, kami menuju rumah Om Wangga yang letaknya berdekatan. Om Wangga lebih miris lagi, dia dipasung di luar rumah, kaki sebelang di atas pasungan, kaki sebelah di tanah ... kalau mau tidur atau duduk dia tinggal nak ke atas bale-bale kecil yang disiapkan oleh pihak keluarga. Om Wangge menyambut kami dengan tertawa-tawa dan berkali-kali bilang, "Ini saya sementara sadar ni!" Aduh, Amaaaaak ... harus bagaimana saya ini? Saya pusing melihatnya ... pusing memikirkan bagaimana kalau dia mau makan dan minum, bagaimana kalau hujan, bagaimana kalau dia ingin ke kamar mandi, bagaimana ... bagaimana ... bagaimana!?

Mereka berdua, Om Noel dan Om Wangga, sama-sama dipasung karena pada kondisi tertentu sering mengamuk tak sadarkan diri dan membahayakan orang-orang di sekitarnya. Malamnya, timeline mulai ramai, dan bersama pentolan KKI Ende yaitu Pater Aven, kita berencana untuk pergi mengunjungi para ODGJ sambil menginisiasi kegiatan selanjutnya yang mana kegiatan tersebut dapat menolong para ODGJ. Kita bisa kampanye di media sosial, bikin buku yang keuntungannya untuk para ODGJ, atau melakukan hal-hal lainnya.

Selalu ada hikmah dibalik setiap #KakiKereta :D

Semoga semangat ini tetap membara.
Tetap bahagia yaaa semuanya :*


Cheers.  

Wednesday, January 11, 2017

Kangen #KakiKereta

Memandang Perkampungan Adat Bena, di Kabupaten Ngada.


Kangen ber-#KakiKereta lagi. Sangat! Padahal November 2016 kemarin saya baru saja mengajukan cuti untuk ber-#KakiKereta ke Kabupaten Sikka, dan sempat mampir ke Coconut Garden Beach and Resort-nya yang terletak di dekat Geliting. Dan menjelang akhir tahun saya dan keluarga besar Pharmantara malah menjadwalkan piknik, piknik, dan piknik, seperti piknik di wisata KM14 dengan jagung rebusnya, Pantai Ria, atau ke puncak Kolibari untuk menikmati lanskap Kota Ende dari ketinggian.

8 Januari 2017 kemarin, Universitas Flores (Uniflor) tempat saya bekerja, mengakan kegiatan Uniflor Goes To Lembata. Kegiatan di Pulau Lembata itu akan berlangsung sampai tanggal 13 Januari. Sayangnya, saya tidak bisa ikutan kegiatan dimaksud karena saya sedang punya tugas penting yang harus diselesaikan sebelum tanggal 22 Januari. Ya Allah, 10-an hari lagi. Semoga tugas penting ini dapat diselesaikan ya ... saya kuatir mengecewakan beliau yang memberikan saya tugas ini.

Mungkin setelah 22 Januari, jika tidak ada halangan, saya pengen bisa ber-#KakiKereta sebelum kembali menggarap proposal skripsi yang terbengkelai hampir 2 bulan. 2 bulan!? What!? Sudah dua bulan saya menganggurkan proposal skripsi itu! Oh My God, padahal seharusnya dalam jadwal, saya minta seminar proposal skripsi pada Bulan Februari. Alamaaaak *jujur saat menulis ini, saya baru sadar soal proposal skripsi*. 

Oke, pertanyaannya sekarang adalah, jika ada waktu untuk ber-#KakiKereta, maka ke mana kah saya akan pergi? Sepertinya, saya pengen pergi ke Desa Argowisata Waturaka di Moni sana, saya pengen bisa menginap di sana yang punya sistem live in, dan menonton pertunjukkan budaya yang dilakukan oleh penduduk lokal kepada para pengunjungnya. Harganya, kata si Iwan Aditya sih, kalau belum naik masih 125.000/malam/kamar. Itu kan luar biasa ... manapula yang ditawarkan adalah penginapan live in, kita bisa berkebun sama penduduk lokal, dikasih pertunjukan tarian, bisa melihat mereka menenun, dan lain sebagainya. Komplit!

Desa Agrowisata Waturaka ini benar-benar bikin saya gemas, setelah si Iwan cerita soal pengalamannya ke sana. Iya juga, Iwan kan salah seorang pendamping dari sebuah LSM yang concern ke bidang wisata. Jadi, apa-apa soal yang baru dari dunia pariwisata, tanya saja ke Iwan Aditya! Setidaknya dia bisa ngasih informasi untuk kita.

Oke, ini baru rencana. Kalau tidak dapat terwujud, kita lihat saja nanti ke mana kaki mau membawa saya *tsah*


Cheers!