Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Wednesday, February 28, 2018

Merawat Laptop Itu Sederhana


Berdasarkan pengalaman pribadi, akhirnya saya menulis tentang tips merawat laptop. Laptop, barang yang sudah menjadi kebutuhan manusia kekinian karena praktis dan mudah dibawa ke mana-mana. Tentu, sudah banyak pula artikel yang mengulas tentang ini. Tapi yang saya tulis merupakan pengalaman pribadi. Dan terbukti benar.

Saya sering membaca keluhan teman-teman tentang laptop. Kebanyakan mengeluh laptop-nya lemot, laptop-nya rusak, laptop-nya terlalu cepat panas, dan sebagainya, dan seterusnya, dan kawan-kawan. Padahal, berdasarkan pengalaman pribadi, merawat laptop itu sederhana sekali bahkan untuk orang awam seperti saya. Saya tidak punya basic teknik, tidak tahu menahu soal barang elektronik, bahkan hanya tahu motherboard itu papan-ibu (ya iyalah!), tapi karena pernah mengalami hal buruk dengan laptop, saya jadi tahu caranya. Jadi, bahasa dan istilah yang saya gunakan di sini juga yang awam dan mudah dipahami.

1. Jaga Suhu Laptop

Yess! Itulah gunanya coolingpad atau fanpad atau apalah nama ilmiahnya. Benda yang satu ini terlihat sepele tapi cukup membantu stabilitas suhu laptop. Jika tidak punya fanpad, jangan letakkan laptop langsung di atas meja, apalagi langsung di atas tempat tidur. Berilah alas yang cukup, tidak sampai menutupi seluruh dasar laptop agar sirkulasi udaranya tidak terganggu. Untuk penggunaan luar ruangan, laptop sering dipangku. Kalian pasti merasakan panas dasar laptop, bukan? Nah, penggunaan luar ruangan harus dibatasi juga, beri ruang pada barang tersebut untuk istirahat. Ibarat tubuh manusia, terlalu panas bisa bikin kolaps.

2. Perhatikan Baterai

Pengalaman ini yang paling dahsyat mengingatkan saya untuk menjaga baterai laptop. Laptop lama, mereknya Toshiba Satelite (sudah corei5), RAM 2 giga, hardisk 600 giga, dibeli tahun 2012. Kalau sedang menggunakannya, tidak pernah saya mencabut baterainya. Alasannya? Malas dan lupa. Jadi, meskipun baterai sudah 100%, laptop tetap tercas. Sampai setahun kemudian, muncul notifikasi: plugged in, not charging. Wah, ketar-ketir lah saya. Walhasil laptop tersebut hanya bisa digunakan hanya ketika sedang tercolok ke listrik. Mau apa lagi? Baterainya pun, pada akhirnya, saya cabut.

Kondisi tersebut kemudian diperparah dengan kipas internal yang mati total. Dan laptop saya pun akhirnya mati total.

Tahun 2014 saya membeli laptop baru merek Acer Aspire E 14, masih corei3, RAM dari 2 giga saya naikkan menjadi 4 giga, Hardisk berkapasitas 500 giga. Pengalaman buruk dengan Toshiba membuat saya selalu menjaga suhu laptop dan selalu mengawasi baterainya. Memang sulit, sering lengah kalau sedang pakai laptop. Tapi saya selalu berupaya untuk memerhatikan indikasi baterai. Setiap ter-cas 98% saya cabut chargernya, dan akan kembali memasukkan daya ketika kondisi baterai tinggal 15% saja.

Sejak 2014 sampai sekarang, 2018, laptop Acer saya masih berfungsi dengan sangat prima. Suhu selalu oke. Baterai pun oke. Belum pernah suhunya overheat. Belum pernah notifikasi baterainya plugged in, not charging.

3. Minim Menyambungkan ke Internet

Saya selalu punya ketakutan besar dengan virus dari situs yang kita kunjungi di internet. Oleh karena itu, hampir tidak pernah saya menggunakan laptop untuk berinternet. Kebutuhan internet saya sudah terpenuhi di kantor dan di Android. Bahkan, aplikasi apapun saya unduh menggunakan Android, baru ditransfer ke laptop. Misalnya mengunduh CC Cleaner dari Filehippo, dan dikopi ke laptop, baru dijalankan. Dalam kebutuhan paling tinggi yang harus menggunakan laptop, barulah saya bukan wifi portabel dari Android dan menghubungkannya ke laptop. Baru terjadi dua kali saja hihihi.

4. Scandisk & Defrag

Dalam sebulan dua bulan, atau jika terlalu sering menggunakan laptop untuk bekerja dengan berkas yang diambil dari banyak drive dan folder (editing video misalnya), saya selalu men-defrag laptop. Kebayang kalau gurita menggunakan semua sulurnya untuk multi-tasking? Terbelit, pasti. Defrag membantu laptop kita mengurai yang berbelit-belit tadi agar kinerjanya lebih optimal. Setidaknya, itulah yang saya lakukan. Misalnya, jika saya bekerja menggunakan berkas dari banyak folder di drive D (misalnya), ketika men-defrag, drive D butuh waktu lebih lama dari drive lain saat analisa dan proses defrag.

5. Tumpah Ruah, No

Hindari isi drive tumpah ruah. Jika sudah ada peringatan warna merah pada kapasitas drive laptop, usahakan untuk menghapus semua berkas yang tidak perlu untuk melegakan ruang drive. Menghapus pun tidak saja menekan delete, tapi shift + delete agar tidak tersimpan di recycle bin. Bagaimana jika kejadian sudah shift + delete ternyata berkas tersebut masih dibutuhkan? Gampang, masih bisa dipanggil lagi menggunakan aplikasi lain seperti Recuva atau Undelete 360.

Lima tips di atas, yang merupakan pengalaman pribadi saya berkencan dengan laptop, rasanya cukup untuk bisa menjaga laptop agar tetap nyaman dipakai. Tidak lemot, tidak membingungkan. Karena saya sudah membuktikannya sendiri dengan Acer Aspire E 14, yang masih saya pakai sampai sekarang, bahkan saat menulis artikel ini.


Salam.

Tuesday, February 27, 2018

Hobi Fotografi Berpotensi Dollar



Tiga kali mengganti judul, akhirnya saya memilih judul di atas. Hobi fotografi berpotensi Dollar. Menggiurkan, bukan?

What?

Adalah Foap, sebuah aplikasi yang bisa diunduh di Playstore (pengguna Android) dengan sangat mudah. Pengguna iOS coba cari tahu ya, apakah tersedia aplikasi ini atau tidak. Kalau tertarik, buruan unduh.

How?

Cara kerja Foap juga mudah. Kalian hanya cukup mendaftar gratis. Sertakan alamat surel yang jelas, dan akun Paypal (yang juga merupakan alamat surel) karena pembayaran dilakukan melalui Paypal. Setelah mendaftar, silahkan unggah foto pilihan pada menu yang tertera di dashboard, memberi caption, tag, hingga legal answer untuk bisa menjadikan foto tersebut top ranked. Kalau tidak di-caption, apalagi sampai tidak menjawab legal answer-nya, rank foto kalian adalah very low atau low. Artinya, akan susah bagi foto kalian ditemukan oleh calon pembeli. Foto-foto dengan status top ranked lebih available. Masih ragu? Tidak masalah. Setelah mendaftar kalian dapat melihat-lihat terlebih dahulu apa saja yang terjadi di ranah Foap.

About Photos

Apakah foto yang diunggah itu harus super bagus? Harus merupakan hasil jepretan dengan
kamera super mahal? Harus berkomposisi oke? Pencahayaan memukau? Tidak juga, hehehe. Foto apapun boleh kalian unggah. Tapi, tentu saja, ada mutu ada harga. Foto berkualitas bagus dengan komposisi cahaya dan warna yang menawan, akan lebih menggoda para calon pembeli. Ukuran foto juga cukup menentukan. Ukuran yang terlalu kecil, tidak sesuai dengan standar Foap, tidak akan terunggah dengan sendirinya.

Album

Kalian bisa membuat Album foto di Foap. Album, seperti sebuah folder dengan tema khusus. Misalnya saya membikin tiga album dengan judul: Yellow Is The Colour of Hope yang berisi semua foto dengan warna kuning baik mayor maupun minor, The Sky of Blue yang tentu saja foto langit, dan Kiddos yang berisi foto anak-anak. Foto-foto di album ini tidak selamanya harus foto milik sendiri, bisa kok foto milik anggota Foap lainnya. Silahkan eksplor dan pilih foto yang kalian sukai, masukkan ke album. Foto-foto yang sudah diikutkan dalam misi tidak bisa dimasukkan ke album. Alasannya? Baca sampai selesai. Hahaha.

Mission

Di Foap, selalu ada misi, semacam lomba, yang ditawarkan. Silahkan pilih misi apa yang disukai. Tawaran misi bisa datang dari Foap, bisa juga datang dari brand tertentu seperti Nivea, bisa juga tentang liburan di sebuah negara (ya, negaranya ditentukan). Tema-temanya menarik. Misalnya yang saat ini sedang berjalan: #clash of colours!, dan Cats and Dogs in Real Life.

Price

Tentang penawaran harga, saya pikir cukup serius ketimbang bisnis PTC, PTD, dan lain sebagainya. Untuk foto regular, harga yang diperoleh adalah $5. Dirupiahkan menjadi Rp 50.000. Untuk foto orang lain yang ada di album, jika dibeli, pemilik album berhak mendapatkan $0.25 meskipun itu bukan fotonya dia sendiri hehehe. Sedangkan untuk foto yang diikutkan pada misi, harga sudah ditentukan oleh penawar dengan kisaran paling rendah $100 sampai $400. Inilah sebabnya saya bilang di Foap duitnya cukup serius.

Follow

Jangan lupa untuk follow. Dengan mengikuti orang lain, kalian bisa lebih kaya informasi. Lagipupa, orang yang kalian follow pasti akan followback. Jika kalian memberi nilai pada foto orang lain, dari 1 bintang sampai 5 bintang, tentu orang lain juga akan melakukan hal yang sama pada foto kalian. Rating tinggi yang diperoleh melalui nilai akan membuat foto kalian lebih mudah ditemukan oleh calon pembeli.

Jangan pesimis. Mulai saja dulu. Siapa tahu kalian sukses menjual foto di Foap. Awal tahun, pemenang salah satu misi berasal dari Indonesia. Fotonya adalah foto seseorang sedang memegang kembang api di depan wajahnya (yaaa agak jauh dari wajah ya, kalau tidak bisa kena bunga api). Komposisinya keren lah. Dia berhak mendapatkan $100 (kalau tidak salah).

Jadi, kalau kalian doyan foto, apalagi foto lanskap, kenapa tidak mencoba Foap? Yang penting hobi tersalurkan karena bakal kenal dengan banyak fotografer lainnya. Urusan foto dibeli atau tidak, adalah bonus.


Salam Foap!

Monday, February 26, 2018

Young Entrepreneur



Kewirausahaan sedang sangat digalakkan. Bahkan Universitas Flores punya Kantor Kewirausahaan, semacam lembaga yang mengurusi hal-hal berbau kewirausahaan. Kenapa kewirausahaan yang bahasa ketjenya entrepreneurship (CMIW) harus digalakkan? Karena biaya hidup semakin tinggi sedangkan lapangan pekerjaan semakin sempit, apalagi quota PNS yang semakin sedikit. Coba bayangkan angka lulusan SMA dan/atau perguruan tinggi yang begitu banyak, sangat tidak sebanding dengan lowongan pekerjaan yang ada. Ada pula lowongan pekerjaan, tapi tidak sesuai dengan jurusan pendidikan yang telah mereka tempuh.

Saya selalu tertarik dengan anak-anak muda (bukan berarti saya sudah tua :p) yang berwirausaha. Mereka, yang baru lulus SMA kemudian jadi mahasiswa, punya keinginan kuat untuk menghasilkan uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bukan karena orangtua tidak mampu menanggung biaya hidup mereka, tetapi mereka memang punya keinginan untuk berwirausaha. Sebut saja Susi, anak tetangga yang sudah ban hitam kempo, yang saat ini kuliah di Fakultas Ekonomi. Atau, sebut saja Thika Pharmantara, ponakan saya yang gemar nonton drakor yang kini kuliah di Fakultas Hukum Universitas Flores, jualan pulsa dan masih membantu saya nge-craft dan Tutela saya.

Saya, sebagai 'orangtua' yang hampir setiap hari menguping obrolan mereka di teras rumah, terharu. Anak-anak lain, di usia mereka, sedang gemar-gemarnya bersenang-senang, hura-hura, pergi ke kafe, atau berinternet untuk saling memaki. Sangat bangga menghabiskan duit orangtua. Mereka berdua, malah mengobrol di teras rumah, ngalor-ngidul, sambil jempol menari di layar gadget, mengecek pemesanan barang dan pulsa yang mereka jual lewat internet, tepatnya lewat Facebook. Susi bahkan lebih sibuk dari saya dalam soal bertelepon, karena ada saja yang menelponnya untuk bertanya posisi barang pesanan; apakah sudah tiba di Ende atau masih dalam perjalanan dari Surabaya atau Denpasar.

Tentu, saya sebagai orang yang sudah bekerja, tahu persis bagaimana berbelanja. Barang mahal itu tidak harus, tapi bermerek itu kalau bisa sih harus, karena ada harga ada kualitas. Saya tentu mau memakai barang yang meskipun mahal tapi bisa dipakai dalam jangka waktu yang sangat lama. Meskipun saya masih sering tergoda dengan barang-barang murah dan barang-barang second qiqiqiqi. Kadang kan orang bilang begini, "Wih sepatunya jutaan!" padahal mereka tidak tahu, bahwa lebih baik sepatu yang harganya jutaan tapi bisa dipakai nyaris seumur hidup, ketimbang sepatu yang seratusan tapi tiap enam bulan harus diganti sama yang baru. Pilih yang mana, hayo?

Barang yang dijual Susi tentu barang yang cocok dengan kantong pelajar/mahasiswa yang saya duga bisnis dropship. Misalnya sepatu dengan model terbaru seharga Rp 138ribu, atau paketan tas - selempang - dompet yang dihargai hanya Rp 100rb. Saya, tentu saja, suka sekali window shopping haha. Suka melihat-lihat dinding Facebook Susi atau Thika. Pada akhirnya saya juga memesan barang karena terharu. Bagaimana lagi cara kita mendukung wirausahawati muda ini kalau bukan dengan membeli barang dagangan mereka? Thika bakal joget-joget kalau barang dagangannya dari merek Oriflame saya beli satu atau dua.

Keuntungan seratus atau duaratus ribu bagi mereka sudah sangat besar. Kadang-kadang saya ingin memeluk mereka kalau melihat cara mereka menghitung keuntungan dari penjualan barang lewat internet itu. Mereka melakukan apa yang juga saya lakukan melalui toko online :D

"Susye, untungnya berapaan?"

"Lumayanlah, Encim. Bisa buat beli pulsa, buat beli barang, tidak minta lagi di Bapa Mama. Bisa beli sendiri."

Saya tertarik dengan anak-anak muda yang berwirausaha (bukan kalimat pengulangan loh ini) yang memulai semuanya dari nol atau dengan modal kecil. Janganlah kita berpikir tentang pengusaha kafe keren yang sejak lahir sudah naik mobil. Coba lihat Black Malaka, teman saya yang punya usaha kafe bernama Beth Black. Dari nol dia merintis usahanya itu, dan berkat dukungan teman-teman Beth Black bisa terus ada sampai sekarang, jadi tempat nongkrong sederhana bareng kawan-kawan. Lihat juga bagaimana Susi dan Thika memulai usaha mereka, bahkan Thika dimodali sama kakaknya yang bernama Indri untuk bisa memulai jualan produk Oriflame.

Andaikan saya punya banyak duit, saya tidak akan membantu mereka dengan memberikan pinjaman. Jangan. Saya membantu mereka hanya dengan membeli barang dagangan. Jika mereka meminjam, akan berat untuk mengembalikan apalagi usia mereka masih sangat muda. Ada baiknya mereka tekun dan ulet, agar tahu bahwa keuntungan biarpun sedikit harus disyukuri dan ditabung. Kalau hari ini hasilnya sedikit, berarti besok harus lebih giat. Bukan begitu?

Soal menabung juga penting. Saya selalu tekankan kepada mereka, jika sedang bergabung dalam obrolan muda mereka, bahwa menabung itu tidak perlu karena kelebihan duit atau harus banyak. Kalau banyak, bukan menabung namanya, tapi langsung mendeposito :p hahaha. Menabung itu banyak opsinya. Bisa nabung di bank, bisa nabung di koperasi, bisa juga nabung di Pegadaian. Iya, kan sekarang di Pegadaian juga sudah ada tabungan emas. Coba deh cari tahu bagaimana menabung emas, sebagai investasi jangka panjang, dan manfaat yang kelak diperoleh. Setidaknya Indra dan Thika sudah punya tabungan, salah satunya tabungan emas. Karena menabung itu penting.

Dari wirausaha sampai menabung. Ah, postingan saya memang galau, kadang-kadang. So, mari kita dukung yang muda-muda, mereka yang mau berwirausaha dengan modal nol, modal minim, atau bahkan modal nekat.

Salam wirausaha!

Saturday, February 24, 2018

This Is Us

Picture taken from Google.

Meskipun saya tergila-gila pada The Walking Dead dan Game of Thrones, juga terpesona pada Oppa-Oppa dari Drakor, tapi otak saya tidak semerta-merta melupakan serial yang satu ini. This Is Us. Serial yang menampilkan pilot yang super kuat, penuh koneksi, antara kronologis dan flashback halus banget transisinya.

Ini tentang kita.
Tentang kehidupan sehari-hari.
Tentang konflik bathin orangtua dengan anak.
Tentang konflik bathin antara kembar tiga, dengan segala dinamikanya.
Tentang bagaimana kita menyelesaikan masalah.

It's great!

Enjoy, weekend!

Thursday, February 22, 2018

137 Adalah Impian



Sesuatu yang tidak bisa saya percayai hari ini adalah, angka yang tertera pada alat GCU (abaikan mereknya, hahaha). Pada postingan sebelumnya tentang DEBM, kalian tentu tahu bahwa kadar gula dalam darah saya pada awal Januari 2018 adalah 400. Padahal sejak Oktober 2017 saya sudah menerapkan diet nasi. Hanya diet nasi bukan diet segala maha karbo yang ada di bumi. Diet nasi nampaknya tidak begitu berhasil menurunkan kadar gula dalam darah saya. Oleh karena itu, OKI, saya mulai ikut DEBM tanggal 7 Februari 2018. Pada tanggal 13 Februari 2018 (satu minggu setelah menjalankan DEBM) saya cek di Klinik Uniflor, kadar gula dalam darah saya menjadi 190 sedangkan BB menjadi 75. Wow, saya sudah hempaskan 210 angka glukosa hanya dalam waktu satu minggu.

Hari ini 22 Februari 2018, atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, alat GCU menghadirkan angka 137. Masih belum jelas?

SERATUS TIGA PULUH TUJUH!

Amazing!

Eh,

Emezing!

Saya loncat-loncat di Klinik Uniflor semacam katak kakinya dirubung semut. Astaga, belum pernah selama saya kencan dengan GCU angkanya 137 seperti itu. Ini adalah keajaiban yang nyata terjadi pada diri saya karena DEBM. Alhamdulillah. Pantasan, badan rasanya jauh lebih ringan, kaki sudah jauh jauh jauh berkurang rasa kebasnya, urat-urat di kaki kelihatan dengan jelas karena bengkaknya berkurang. Pencapaian luar biasa di awal tahun 2018 yang patut dirayakan dengan sop iga. Loh? Boleh memangnya? Boleh, doooonk! Di DEBM makan enak bisa bikin kamu kurus! Hehehe.


Salam 137

Wednesday, February 21, 2018

#PDL Bekal Rafting



Pernah. Saya pernah makan sepuasnya di sini, salah satu pondok inap-nya Caldera Citarik River Resort. Bekal buat keesokan harinya bakal rafting di Sungai Citarik. Pernah, saya pernah ... sebesar itu. Oh la la.

Ceritanya, tahun 2010 menang kompetisi ACI (Aku Cinta Indonesia) yang diselenggarakan oleh DetikDotCom. Kalau itu belum dibeli sama Transcorp Detik-nya. Program ini meloloskan 66 petualang dari seluruh Indonesia. 66 (Tak pakai petualang biar ringkas) dibagi per tim, masing-masing dua orang, diberangkatkan ke 33 titik di Indonesia untuk menjelajah potensi-potensi wisatanya. Report perjalanan langsung diunggah ke website sebagai bentuk promosi Indonesia. Agar lebih banyak yang tahu, lebih banyak yang eksplor Indonesia.

Saya mendapat jatah keliling Jabar bersama Acie (Yulastriani). Perjalanan kami dimulai dari Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah, hingga terakhir di puncak buat terbang paralayang. Perjalanan 14 hari keliling Jabar dengan mobil sewaan memang tidak mudah, tapi Alhamdulillah segalanya baik-baik saja sampai kemudian saya pulang ke Maumere (waktu itu saya tinggal di Maumere).

Kisah selanjutnya segera klik di sini : https://travel.detik.com/dtravelers_stories/u-1512373/caldera-citarik-river-resort (artikel saya dan Acie).



Salam Rafting!

Tuesday, February 20, 2018

Pemulung Rupiah

Tempat tissu berbahan koran, potongan karton, dan kertas kado.


Saya adalah orang yang gemar melakukan tindakan 'tahan sementara'. It means, ketika saya tidak punya pot bunga tapi punya banyak bibit daun sop, maka botol plastik bekas air mineral dapat dimanfaatkan sementara untuk bibit-bibit tersebut. Ketika Samsung Tab 3 teman kelindas fuso meninggalkan back-cover Tab yang masih utuh, maka back-cover itu saya gunakan sebagai alas pot kaktus berukuran mini yang terletak di atas meja ruang tamu. Contoh lain, ketika laci penyimpanan hijab begitu amburadul, saya menggunakan potongan kardus untuk membuat sekat-sekat yang dapat menyimpan gulungan hijab dengan sangat rapi. So, yang tadinya bermaksud 'tahan sementara' menjadi 'tahan seterusnya'. Karena, ketika sudah berfungsi dengan baik, maka gaya dapat menyusul kapan-kapan ... kemudian ... kalau ada uang.
Sudah lama saya insomnia. Gara-gara itu saya jadi susah tidur. Kenal Brightside sebagai pengantar tidur belum lama. Dulu-dulu, saya suka sekali membaca segala macam hal, dari yang remeh-temeh sampai yang digdaya, hanya agar bisa tidur (atau ketiduran). Salah satu yang paling suka saya kepo-in sampai kadang justru memperparah insomnia adalah tentang craft, tentang do it yourself alias DIY. Siapa yang tidak gemas coba, melihat orang-orang sukses mendaur ulang banyak barang bekas menjadi barang baru yang cantik! Modalnya cuma koran, botol, kardus, celana jin, kaos, pallet, karet, dan lain sebagainya. Tentu, satu modal utama adalah kreatifitas.

Menurut sebagian orang, menjadi kreatif itu tidak mudah karena kemudahan sudah disediakan oleh toko-toko yang menjual tas, hiasan dinding, keranjang, pot bunga, sofa, rak serbaguna, atau phone holder. Namun, mereka harus tahu bahwa kreatifitas membuat segalanya menjadi lebih mudah. Oh, tentu, saya tidak bilang saya adalah orang yang kreatif, sudah banyak orang lain yang lebih dulu melakukan apa yang kemudian saya lakukan. Tapi, sudah banyak hal yang saya lakukan untuk mempermudah hidup tanpa harus mengucurkan extra money gara-gara insomnia berujung situs craft dan DIY. Hahaha. Can you believe it? 

Dan saya, yang sudah terbiasa dengan tindakan 'tahan sementara', yang suka memanfaatkan apa saja barang nganggur untuk menyelamatkan situasi tertentu, akhirnya terarahkan. Haha. Bahasanyaaaaa ... terarahkan. Diarahkan oleh insomnia *LOL!*

Tidak mudah, memang. Kelihatannya gampang. Ah, cuma koran diplintir-plintir terus jadi gitu. Setelah dilakoni, susah juga. Namun karena sudah biasa, ya jadi terbiasa. Banyak hasil craft atau DIY saya yang dulu saya berikan secara gratis ke orang-orang. Udah, kamu mau dibuatin apa? Sini, kasih ke saya bahan baku atau barang bekasnya, nanti saya bikinkan desk-organizer, atau kotak cantik, atau tempat pinsil. Kemudian keahlian meningkat, karena kebiasaan itu, jadi banyak barang yang bisa saya bikin dari barang-barang bekas. Terutama yang paling saya sukai adalah anyaman koran; jadi keranjang, tempat tisu, atau tempat sampah.

Awalnya lucu. Mamasia geleng-geleng kepala setiap kali saya pulang kantor sambil menenteng kresek berisi koran, kardus, dan botol bekas. Dan Amak pasti bergarap isi kresek itu makanan favoritnya (kan awesome kalau Ratu Perak sekresek merah gede itu hahahaha). Awalnya selalu ada yang rusak. Semacam belajar bikin template blog pakai html jaman dulu, try and error lebih banyak terjadi hanya untuk dapatkan satu saja try and success. Dan masih banyak awalnya hingga akhirnya mulai ada yang minta dan membeli. Wah, senang itu pasti. Desk-organizer dihargai 10K padahal bahannya cuma dari bekas minuman kotak begitu. Sampai kemudian Rikyn Radja memesan tempat tissu berbahan koran, potongan kardus, dan kertas kado (kalau yang ini kudu beli). Nah... Orderannya menumpuk. Tapi karena saya bikinnya pakai cinta *tsah* jadi kudu antri. 

Sebulanan saya konsisten sama pesanan orang-orang, mencoba berinovasi, mengeluarkan Rupiah untuk modal membeli lagi amunisi seperti lem, isian cutter, gunting, dan lain sebagainya, juga untuk membeli bahan yang tidak bisa dipulung. Saya konsisten untuk amnesia sementara waktu pada game kesayangan. Menggunakan media sosial sebagai pasar utama untuk promosi, tidak duduk di lapak, tidak pula door to door marketing, kenyataan yang saya terima bahwa dalam sebulan keuntungan bersih mencapai Rp 1,5Jt. Kalian tidak percaya? Saya juga. Mana bisa kerja tidak ngoyo dan malas-malasan menganyam begitu bisa mendatangkan Rupiah yang lumayan banyak. Saya sampai mengelus-elus dompet mini tempat pemisahan Rupiah daur ulang dengan Rupiah kerja kantoran itu. Keponakan saya, yang kini sudah ahli memelintir, sampai ngakak guling-guling melihat tingkah Encim-nya yang macam singa membujuk rusa begitu.

Saya memang pemulung. Pemulung Rupiah. Selama kita bisa memanfaatkan apa yang ada ditambah kreatifitas, Rupiah bisa didapat. Barang bekas selalu menjadi sesuatu yang mewah bagi saya. Jadi, semisal ada yang bawain saya koran, nah yang saya lihat bukan koran melainkan keranjang cantik he he he.

Selain apa yang sudah saya lakukan di atas, mendaur ulang dan mendulang Rupiah, masih banyak kelakuan lainnya yang bisa ditiru. Tapi akan saya ceritakan di lain postingan. Tentu masih berkaitan dengan kreatifitas; bukan lagi tentang bagaimana memanfaatkan koran menjadi keranjang, tapi bagaimana jam dinding bekas bisa mempercantik kamar mandi pribadi kita :D 

Semoga post ini bermanfaat.


Salam pemulung!

Monday, February 19, 2018

DEBM

Salah satu menu DEBM saya, puding cokelat santan kara no sugar!


Semua orang pasti ingin sehat. Semua orang pasti ingin jarum timbangannya menunjuk pada angka yang diinginkan, sesuai dengan tinggi badan. Tapi perlu diingat, sehat tidak selalu sama dengan berat tubuh. Belum tentu semua yang gemuk itu penyakitan, belum tentu semua yang langsing itu sehat. Demikian pula sebaliknya. Intinya, harus memeriksa kesehatan pada mereka yang berkompeten seperti dokter (atau bidan dan perawat jika yang ingin diperiksa sekadar tensi darah, kadar gula, kadar kolesterol, yang bisa menggunakan alat GCU).

Sudah sejak lama, saya tidak menghitung tanggal pastinya, saya mengidap diabetes. Angka yang tertera pada alat ukur diabetes selalu berkisar antara 300 sampai 400. Angka tertinggi kadar gula dalam darah saya mencapai 454. Hal itu tentu tidak mudah untuk saya emban (wah, emban) hehehe. Kaki saya mengalami kebas berlebihan hingga pernah luka tanpa saya sadari. Ujung jari-jari tangan saya pun suka cenut-cenut. Kadang saya mengantuk dan pusing tanpa kenal waktu. Kalau luka, memang sembuh tapi butuh waktu yang lama dan bekas hitamnya tidak bisa hilang. Orang-orang di Klinik Uniflor bilang wajah saya sering sembab, padahal waktu tidur saya lebih dari 6 jam.

Saya pernah olahraga ketat. Setiap selesai Shalat Maghrib jalan kaki keliling Kota Ende. Lumayan, kadar gula dalam darah saya berkurang, bonusnya adalah bobot tubuh pun turut berkurang. Hanya saja, dikarenakan kondisi pekerjaan dan kesibukan ini-itu menyebabkan saya tidak lagi meneruskan olahraga tersebut. Jelas, itu salah, tapi saya pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi *pasrah pada keadaan hehe*

Bermacam diet sudah saya lakukan. Pernah diet nasi, tapi tetap makan singkong dan meminum minuman manis seperti kopi susu dan teh (pakai gula). Diet itu memang lumayan berhasil, tapi tidak terlalu bagus. Sampai kemudian saya membaca di media sosial Facebook tentang Diet Enak Bahagia Menyenangkan (DEBM). DEBM menerapkan penghilangan karbo dan gula dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Tapi makanan yang boleh dikonsumsi kok ya ... enak-enak *ngikik* seperti telur, keju, alpukat, santan Kara (Sun Kara), agar-agar plain, protein hewani (daging), sayuran. Pertama melihatnya saya langsung kepikiran soal kadar gula dalam darah. Jika saya tidak mengonsumsi karbo dan gula, maka bisa berkurang lah kadar gula dalam darah saya.

Rabu (7 Februari 2018) saya menjalankan DEBM. Saya langsung mulai dengan yang paling ketat; hanya mengonsumsi telur, alpukat, keju, santan kara, diselingi setiap hari saat sarapan dan makan malam. Sedangkan makan siangnya saya tetap makan sayur dan ikan atau daging. Kopi susu yang saya minum setiap pagi dan teh setiap sore masih saya minum tapi tanpa gula sama sekali (even I don't use corn sugar). Saya ingin melihat apakah kadar gula dalam darah saya dapat berkurang melalui DEBM ini. Rasanya memang berat. Kadang kepala saya pusing. Kadang perut merintih (hahaha, itu pasti). Kadang keinginan untuk selingkuh makanan juga besar. Oia, kalau hari Minggu saya boleh makan apa saja yang saya mau, tapi toh sama saja, Minggu kemarin saya hanya makan pentol goreng dan menu DEBM. Godaan nasi terlihat seperti laler ijo saja. Oia, omnivora di hari Minggu ini bukan dari DEBM, tapi dari diet lain yang saya padukan hahaha.

Selasa (13 Februari 2018), kurang satu hari genap satu minggu DEBM, saya mengecek kadar gula di Klinik Uniflor. Betapa terkejutnya orang di klinik ketika melihat hasilnya.

From 400 to 190 itu sangat luar biasa!

Dalam seminggu kadar gula dalam darah saya berkurang segitu banyaknya! Erna, petugas klinik, sampai terpesona melihat alat GCU. Saya dan Thika tertawa senang. Artinya DEBM yang dijalankan dengan tulus, tanpa selingkuh sama mantan (manakan, pola makan lama), pasti berhasil. Melihat polanya, maka pasti kadar gula dalam darah turun. Tinggal bagaimana nanti setelah normal, kadar gula dalam darahnya dipertahankan. Itu yang paling utama bagi saya mengikuti diet ini. Urusan kelak bobot pun ikut berkurang, itu mah bonus. Saya jadi berpikir tentang racun pagi hari yang masuk dalam tubuh saya. Maaf, kalau saya menyebutnya racun, itu untuk diri pribadi. Begini, coba dipikir, pepagi hari sudah makan nasi + kopi susu manis. Belum jam 12 siang sudah makan kue-kue manis, kadang bakso, kadang roti. Astajim! Begitu teganya saya pada diri sendiri. Pantes angka diabetesnya terus meningkat. Gimana bisa berkurang kalau pola makan saja masih hiperbola begitu.

Beberapa teman bertanya tentang kadar gula dalam darah yang berkurang sebanyak 210 angka itu. Saya bercerita tentang dietnya. Ada yang langsung mengikuti, ada pula yang merasa berat karena tidak mengonsumsi karbohidrat yang merupakan pasangan sehari-hari saat makan pagi, siang, malam. Saya hanya bisa bilang ke mereka, semua itu kembali pada diri masing-masing. Sejauh mana ingin mengurangi bobot tubuh dan/atau kadar gula dalam darah. Sekuat apa menahan godaan makanan yang selama ini sangat melekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Yang patut diingat, HASIL TIDAK PERNAH MENGINGKARI USAHA :D

Bagi teman-teman yang kepo, silahkan search grup atau laman Diet Enak Bahagia Menyenangkan di Facebook. Silahkan dibaca dulu semua postingan dan komentar. Komentar ini perlu dibaca karena rata-rata tips, trik, anjuran, nasihat, dan lain sebagainya dapat kita temukan di komentar. Jangan sungkan untuk bergabung dan/atau bertanya, mereka pasti akan menjawab dengan senang hati. Tapi yang terutama, dibaca dulu semuanya agar tahu seperti apakah DEBM itu. Be smart, please, sebelum bilang, "What? Diet kok ngemil keju? Diet kok boleh makan daging, telur, alpukat sepuas-puasnya, pokoknya jangan sampai lapar?"

Hehehe.

Bagaimana kalau saya bilang, diet ini juga, Insha Allah atas ridho Allah, sudah bikin banyak perempuan kemudian hamil? Eh, maksudnya, hamilnya sih atas peran suami, tapi dietnya membantu sangat :D

Untuk teman-teman yang sudah mulai DEBM, semangat!


Salam DEBM.

Saturday, February 17, 2018

The Intern(ship)

Gambar diambil dari Google donk.



There's two movies with similiar titles. The first one titled The Internship (2013) and the secon one titled The Intern (2015). Both of them talk about intern. Ya, tentu saja. Sudah ketebak dari judulnya. Sudah lama saya menonton keduanya, dan masih tetap ingin menonton lagi, lagi, dan lagi. Saya suka sama alur ceritanya yang sangat bersinggungan dengan dunia kerja. Eh, bukan sekadar bersinggungan dink, tapi betul-betul lebur tentang dunia kerja masa kini.

Kenapa saya mendadak menulis ini? Karena saya salah menebak pemeran dalam film The Internship yang dipost oleh Kakak Meity Mutiara pada laman Facebooknya. Saya pikir itu The Intern, maka dengan ringannya saya menulis Robert de Niro dan Anne Hathaway. Ternyata maksud Kakak Meity itu filem The Internship.

Let's talk about those movies.

THE INTERNSHIP

Mengambil skup yang lebih besar, The Internship berlatar sebuah perusahaan raksasa bernama Google. Haha, kapan coba kita bisa kerja di sana.

Filem drama komedi ini diperankan oleh si hidung aduhai Owen Wilson (berperan sebagai Nick Campbell) dan Vince Vaughn (berperan sebagai Billy McMahon). Alkisah dua pria oldskul Nick dan Bill yang bekerja sebagai salesman pada akhirnya tahu bahwa perusahaan tempat mereka bekerja sebagai salesman ... bangkrut. Cara mereka tahu pun sangat tidak keren, karena dikasihtahu sama klien saat sedang presentasi. Apa yang terjadi ketika kalian mengetahui bahwa perusahaan tempat kalian bekerja bangkrut? Cari kerja baru, dooonk, ketimbang jadi pengangguran sementara tubuh sehat sempurna. Itulah yang dilakukan Bill dengan mendaftarkan mereka berdua dalam program internship di Google.

Dua pria oldskul gaptek level antar galaksi ini harus bersaing dengan kaum muda yang punya skil di atas rata-rata. Istilahnya Nick & Bill sudah hepi banget bisa mengakses satu laman site, sedangkan saingan mereka pembuat site itu. Nah, para anak magang ini harus membentuk kelompok untuk saling bersaing, kelompok yang menang lah yang bakal diterima bekerja di Google. Kompetitif sekali kan? Coba pikir, perusahaan raksasa macam Google pakai gaya nepotisme. Bisa bahaya kalau yang bekerja di situ sama sekali tidak tahu apa-apa, he he he. Tapi jangan kuatir, menurut yang saya baca, banyak lowongan pekerjaan di Google kok, seperti menjadi pelatih tari, tukang pijat, juga penyusun menu makanan dan cemilan sehat bagi karyawan Google.

Singkat kata singkat cerita, Nick & Bill, dengan kemampuan konvensional mereka, akhirnya mampu bersaing dengan kelompok-kelompok magang lain (mereka sekelompok sama anak anak kekinian yang pada canggih), dan keterima bekerja di Google setelah memenangkan tantangan terakhir yang diberikan (soal marketing kalau tidak salah). Alhamdulillah yah, sesuatu :D saya saja daftar Google Adsense sampai sekarang belum keterima padahal udah dua abad. Qiqiqiqi.

THE INTERN

The Intern yang diperankan sama aktor gaek Robert de Niro (sebagai Ben Whittaker) dan Anne Hathaway (sebagai Jules) juga mengisahkan tentang anak magang, tapi kali ini anak magangnya berusia jauh lebih tua. Jadi, alih-alih mencari anak magang fresh graduated, perusahaan milik Jules yang bernama About the Fit (e-commerce fashion startup) membuka senior citizen intern program.

Bekerja di About the Fit bukan perkara sulit bagi Ben yang sudah malang melintang di dunia pekerjaan. Dia sangat rapi, teratur, disiplin, dan menjadi tempat bertanya pengalaman melunakkan hati wanita bahkan dia kemudian menjalin hubungan asmara dengan tukang pijit di About the Fit. Tapi tetap saja dia juga agak kesulitan menyesuaikan diri dengan pekerjaan yang notabene menggunakan teknologi (laptop, gadget, internet). Tapi pada akhirnya Ben berhasil melewati itu semua dan menjadi salah seorang kepercayaan Jules. Dia bahkan menjadi semacam penasihat Jules dalam mengambil keputusan.

Well done.

Dua filem ini, dengan judul mirip, sama-sama mengajarkan kita tentang anak magang oldskul dalam dunia pekerjaan masa kini. Teknologi, teknologi, teknologi. Mereka seperti zombie dari film China di tengah zombie dari film World War Z. Film ini mengajarkan kita tentang kerja keras dan orang-orang yang mau belajar dari nol hingga sukses. Mengajarkan kita tentang menghargai sepiring nasi yang sudah ada di tangan. Jangan sia-siakan pekerjaan kita. Jangan.


Salam Intern!

Friday, February 16, 2018

Gong Xi Fa Cai

Gambar dari Google, not mine.



Seperti kata Pak Mahfud MD dalam acara ILC, "Kemarin saya pakai baju koko, imlek, saya bilang Gong Xi Fa Cai, Selamat Tahun Baru Imlek 2569. Banyak juga yang marah ternyata, ini katanya sudah murtad! Mana pula murtad mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek. Tahun Baru Imlek itu sudah 2569 tahun ditemukan di China. Tahun Hijriah kan baru 1438 atau 39 baru. Tahun Masehi itu baru 2018. Itu bukan upacara keagamaan Imlek itu."

LIFE IS GOOD!

Thursday, February 15, 2018

#PDL Berdua



Meskipun tidak cinta mati tapi saya menyukai sunset. Lagipula, siapa sih yang tidak suka sunset? Fenomena alam saat pergantian siang ke malam itu begitu mempesona, selalu menghadirkan warna-warna yang tidak kita temui saat siang hari. Tentu *evil face*

Tahun 2012, masih berbekal kamera Sony DSC-W130 pinjaman, saya sering mengabadikan banyak momen. Salah satunya sunset. Setelah dilihat-lihat, ternyata banyak pula foto sunset yang terjepret baik oleh kamera Sony DSC-W130, kamera BlackBerry, kamera Samsung Tab 3, kamera Lenovo A6000, kamera Xiaomi Mi4LTE, dan kamera Canon 600D. Ada pula foto sunset yang menggunakan kamera milik teman. Karena saya bukan fotografer, jadi pakainya kamera standar saja. Tak punya uang buat beli kamera bagus berkualitas tokcer! Hihihi *dikeplak*.

Salah satu foto sunset yang saya sukai adalah yang saya beri judul "Berdua" (lihat foto di atas). Sony DSC-W130 lumayan bagus menangkap momen sunset kala itu. Yang menarik perhatian saya adalah kapal dengan dua tiang itu. Begitu kontras saat sunset tiba. Tidak menunggu lama, langsung saya jepret.

Mungkin, bagi fotografer, foto itu tidak bermakna sama sekali, atau tidak punya nilai sama sekali. Tapi bagi saya, foto itu luar biasa. Warna senja, bergradasi dengan warna biru langit yang memudar, dan siluet tiang. Tapi, tahukah kalian apa yang paling membikin saya gatal pengen menjepretnya? Bendera Merah Putih yang berkibar diantara dua tiang kapal! Bendera Merah Putih, kebanggaan kita semua warga Indonesia.

Bendera yang dipasang pada kapal memang biasa. Tapi ketika kita melihatnya, bahkan di pelabuhan yang tidak jauh dari rumah pun, kibaran bendera tersebut memberi makna tersendiri dalam diri kita.

Apa maknanya bagi kalian?


Salam #PDL

Wednesday, February 14, 2018

14 Valentine



Tidak jelas itu kunci apa 👻

*garuk-garuk gitar*

Btw, tahukah kalian? Seorang fotografer pernah memotret bagian dalam gitar menggunakan GoPro (kalau pakai Eos 600D kegedean), dan interior bodi gitar itu serupa apartemen mewah.

#LifeIsGood
#LifeIsGold

Saya tidak peduli dengan segala macam omongan soal halal-haram mengucapkan Valentine atau merayakan Valentine. Bagi saya, tidak penting sampulnya, yang paling penting adalah isinya. Percuma mengumbar ucapan Valentine tapi ternyata jiwa kita tidak mendukungnya. Lain di bibir, lain di hati. I prefer perbuatan dan bukti kasih sayang, bukan umbaran kasing sayang yang tidak jelas ujung-pangkalnya. 
#Eh.

Salam :D

Tuesday, February 13, 2018

#PDL Has Just Begun


What is PDL? Why there's a hashtag before it? PDL adalah Pernah Dilakukan. Oke, seharusnya cukup PD saja, tapi nanti orang berpikir itu singkatan nama depan saya: Pua Devi. So, I use PDL. Secara enak ditulis, enak didengar 😂

Semua bermula ketika saya mengecek foto-foto lama. Wah, ternyata banyak sekali foto saya itu! Apalagi foto selfie *ngikik* yang jelas-jelas bentuk tubuhnya tidak berubah. Lewatkan soal bentuk tubuh. Jadi, saya pikir kenapa tidak kembali saya share saja apa yang sudah saya lakukan seperti: melancong, makan-makan, kegiatan ini-itu, berbuat iseng bin jahil, foto-foto, atau mendaur ulang.

Mulai hari ini, bakal ada postingan dengan hashtag #PDL di blog ini. Ya, saya pikir itu perlu meskipun tidak penting.

Salam PDL.

Monday, February 12, 2018

Mengidolakannya

Foto diambil dari internet. Not mine.

Bapak Marianus Sae yang Saya sering tulis Mr. MS, Bupati Kabupaten Ngada, merupakan idola saya selain Bapak Marsel Petu dan Djafar Ahmad (Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Ende). Sepak terjang Mr. MS tertanam kuat di dalam benak saya. Bagaimana beliau menolak Tour de Flores, bagaimana beliau turun dari kendaraannya untuk membantu masyarakat yang berada di jalan, bagaimana beliau dengan gagahnya kendarai sepeda motor tril itu. Semua luar biasa. Bagi saya, entah bagi kalian.

Saya mengidolakannya. Sangat. Karena beliau ada di depan mata.

Mr. MS akan maju sebagai calon Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pendukungnya banyak, tak hanya warga Kabupaten Ngada saja. Banyak teman yang berkata, "Kau tidak ingat kah El Tari Memorial Cup, Ende dan Ngada final itu bagaimana?" Ah, itu kan pertandingan sepak bola, jangan dikait-kaitkan dengan pencalonan beliau sebagai gubernur, donk. Kita harus obyektif. Saya juga pernah membaca orang menulis soal ritual adat yang harus menyembelih hewan babi, lantas mulai menulis ini-itu. Apakah kau makan dagingnya? Tidak, bukan? Ritual, adat, budaya, harus tetap kita junjung tinggi tanpa mengganggu iman Kita pada kepercayaan (agama) masing-masing. Sekali lagi, jangan campurkan antara pertandingan olahraga dengan politik, jangan campurkan politik dengan ritual adat.

Lalu, kabar itu datang. Seperti petir di hari terang. Menusuk.

Ada perih yang terasa ketika media memberitakan beliau tertangkap OTT oleh KPK. Saat status Mr. MS masih tersangka, sudah banyak yang menghakiminya. Wajarlah, dari pendukung oposisi. Semua perbuatan baik beliau sebelumnya kemudian hilang seketika di mata mereka-mereka yang tidak mendukungnya. Namun, ketika melihat halaman Facebook yang dikelola oleh Relawannya, betapa terharunya saya. Di sini saya melihat loyalitas mereka (entah dalam bilik pemilihan nanti, karena bersifat rahasia). Mereka berdoa, menyatakan dukungan, simpati, dan lain-lain bernada positif kepada Mr. MS. Beruntungnya beliau!

Saya pernah bertanya, mengapa Mr. MS menempati tempat begitu besar di hati para pendukungnya? Figur pemimpin yang tegas (mirip Bapak Ahok), mungkin itulah jawabannya. Karena kita semua bercita-cita punya pemimpin yang seperti itu.

Saat menulis ini, saya hanya bisa berdoa agar Mr. MS tabah menerima cobaan ini. Dan tentu saja, secara obyektif, saya berharap proses hukum dapat berjalan dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya agar terang segalanya bagi Kita masyarakat awam. Siapapun kelak yang bakal memimpin NTT, tentu juga akan melakukan hal-hal positif demi kemajuan provinsi kita tercinta ini.


Salam Mr. MS!

Saturday, February 10, 2018

The Power of Cium Tangan



Jum'at, kemarin, kami dari UPT Publikasi dan Humas Universitas Flores mengikuti kegiatan Expo Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh SMAK Frateran Ndao - Ende. Ini merupakan kegiatan tahunan di sekolah itu.

Ada hal yang sangat menarik perhatian saya, yaitu budaya mencium tangan. Rata-rata semua murid di sana akan mencium tangan orang yang lebih tua yang mereka temui. Sudah saya posting juga sih di Facebook: Tuteh Pharmantara (in case ada yang belum tahu akun Facebook saya).

Here is the post:

THE POWER OF CIUM TANGAN

Jari gatal pengen nulis ini di sela-sela kegiatan Expo Perguruan Tinggi di SMAK Frateran Ndao Ende. Sambil menunggu giliran Universitas Flores persentasi di hadapan murid SMAK Frateran Ndao dan perwakilan murid dari SMKN 2 Ende dan SMAN 2 Ende.

Tentang status saya sebelumnya; tingkat kesopanan murid.

The power of cium tangan. Kalian tahu, kenapa kita mencium tangan/salim terhadap mereka yang lebih tua atau yang lebih kakak? Karena cium tangan adalah perilaku termudah untuk menunjukkan sikap hormat (dan sayang) kita terhadap mereka. Saya pikir semua orang pasti melakukannya, terlebih dalam lingkungan keluarga.

Bagi murid paling bandel pun, jika di sekolahnya diwajibkan kebiasaan mencium tangan, pribadi si bandel/bengal akan terasah (mungkin) sedikit lebih baik. Kalian percaya kan tetesan air dapat melobangi batu? Sama juga dengan cium tangan jika dijadikan kebiasaan harian di sekolah-sekolah, SD sampai SMA.

Karena, pendidikan akademik saja belum cukup. Harus dibarengi dengan pendidikan moral dan etika.

Tadi, selain salah 1 murid mencium tangan saya, salah satu guru muda lulusan Universitas Flores juga melakukannya.

Saya rasa, selama di dunia ini masih terus lahir generasi penerus, kita masih bisa menanamkan / meneruskan / menggalakkan budaya cium tangan di lingkungan rumah dan sekolah. Jangan pesimis dengan satu dua oknum murid yang kurang ajar sama guru. Masih ada begitu banyak yang sopan santunnya tinggi.

#CiumTangan
#Salim
#LifeIsGood

Semoga postingan di Facebook itu bermanfaat *ngarep*

Mari, Kita budayakan mencium tangan, dimulai dari lingkungan keluarga, karena dampaknya sangat besar! Masih ada harapan untuk generasi muda kita.

Salam cium tangan.

Monday, February 05, 2018

Korupsi Karena Miskin

Gambar diambil dari sini.


Saya tergelitik membaca berita dari beberapa media massa online seperti JawaPos.Com pada Kamis, 1 Februari 2018 berjudul "Zumi Zola Jadi Tersangka, Ketum PAN Singgung Gaji Kepala Daerah" (editor: Dimas Ryandi). Kemudian Jurnalpolitik.Id melansir berita berjudul "Zulkifli Bantah Pernyataan Soal Kecilnya Gaji Gubernur dalam Kasus Zumi Zola". Yang jelas di dalam berita terakhir pun masih tetap ada tulisan tentang pernyataan; saat ini gaji kepala daerah sangat kecil, hanya sebesar Rp 6,6 juta. Padahal untuk maju saja membutuhkan modal yang sangat besar.

"Jadi kalau seperti itu terus habis orang-orang baik di tanah air."

Are you serious, Mr. Zulkifli Hasan?

Menjadi kepala daerah adalah passion. Ada misi yang ingin dia lakukan demi kebaikan daerahnya sendiri, tempat dia lahir, besar, kawin, punya anak, dan seterusnya. Misalnya, dia gemas karena akses jalanan antar desa di daerahnya belum mulus, maka ketika menjadi kepala daerah, dia tentu berusaha agar jalanan antar desa di daerah kekuasaannya menjadi mulus. Atau, dia pengen di daerahnya ada banyak taman baca, maka ketika menjadi kepala daerah, akan dia bangun banyak taman baca di titik-titik strategis untuk menyokong minat baca masyarakat. Bukankah kita semua punya keinginan yang sama agar masyarakat kita terbiasa dengan budaya membaca?

Menjadi kepala daerah memang butuh modal, tapi modal itu tidak dikembalikan (padanya) melalui jalur korupsi. Kalau pemikirannya soal balik modal itu, daripada modal itu dipakai buat pencalonan diri sebagai kepala daerah, lebih baik buat berbisnis saja. Modal, Insha Allah, kembali dengan cara halal (keuntungan penjualan), ketimbang korupsi. Dengan perhitungan bisnis yang matang dan akurat, keuntungan pasti digapai. Pedagang kecil saja tahu bahwa membeli tomat langsung di petani jauh lebih murah untuk dijual dengan harga sesuai pasar. Laba diperoleh, bukan riba.

Masa sih, Bapak bisa berpikir menjadi kepala daerah karena mengeluarkan modal, jadi ya gitu deh, terjadilah korupsi.

Saya hanya bisa mengelus kepalanya Thika.

Gaji kepala daerah hanya ... HANYA ... 6,6 juta Rupiah. Masa iya gaji 6,6 juta dibilang kecil, apalagi jika itu gaji bersih yang belum ditambah tunjangan ini-itu. Perlu Bapak ketahui, banyak orang yang gajinya hanya 2 juta Rupiah tapi bisa hidup bahkan menyekolahkan anak sampai sarjana meskipun harus berhutang di bank, yang penting potongan jelas dan hutang bisa lunas. Banyak orang yang gajinya hanya 1,8 juta Rupiah tapi dengan hasil menabung sedikit demi sedikit mereka bisa membuka usaha sampingan yang menguntungkan. Dengan gaji 6,6 juta Rupiah, bukankah kepala daerah bisa menyisihkan sedikit untuk menjalankan bisnis? Bisnis bisa dijalankan oleh keluarganya, atau tetangganya yang kurang mampu dengan syarat keuntungan dibagi 70 - 30. Masih bisa makan nasi sehari 3 kali, masih bisa beli bensin, masih bisa sedekah dan infaq. Orang yang bisnis konter pulsa saja bisa menggaji 6 karyawan, masa seorang kepala daerah dengan gaji 6,6 juta tidak bisa melakukannya, dan memilih untuk korupsi. Emang nasi yang dimakan itu nasi berlian?

Apakah orang korupsi itu karena dia miskin? Tidak. Dia korupsi karena TAMAK. Karena TAMAK maka TAMAT pula riwayatnya. Yang masuk teve karena korupsi adalah pejabat yang punya mobil lebih dari satu. Pernahkah orang yang cuma naik sepeda pinjaman korupsi milyaran Rupiah? Kalau pernah, wow sekali *ngikik*. Yang masuk teve karena korupsi adalah mereka yang bisa makan di restoran dimana segelas kopi dihargai ratusan ribu. Pernahkah orang yang ngopi-ngopi di warkop korupsi milyaran Rupiah? Korupsi bukan karena dia miskin, apalagi karena gajinya hanya ... HANYA ... 6,6 juta.

Kalau dipikir 6,6 juta itu sedikit, sedekahkan. Karena dengan sedekah, Allah SWT akan membalas lebih banyak lagi yang telah dikeluarkan.

Orang baik tidak akan tega korupsi. Kalau Bapak bilang, "Jadi kalau seperti itu terus habis orang-orang baik di tanah air." Negeri ini memang lucu sekali. Kembali pada passion-nya dia sebagai kepala daerah. Jadi kepala daerah murni atau jadi kepala daerah bisnis. Orang baik tidak akan tega mengembat sesuatu yang bukan haknya. Banyak orang yang cuma mark-up dana tertentu yang sebatas 50 ribu Rupiah saja sudah tidak bisa tidur seminggu lebih dan akhirnya memilih untuk bersedekah, membersihkan hidupnya.

Dan kita pun jadi bingung dengan defenisi orang miskin. Orang miskin itu; apakah mereka yang naik mobil dan makan 3 kali sehari, atau mereka yang berpanas-panasan di pasar berharap dagangan tomatnya laku, sementara di rumah tak ada beras sebutir pun? Coba teman-teman jawab, mungkin saya yang salah berpikir he he he.

Salam tomat :p