Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Saturday, March 31, 2018

Kisah Bulan Madu yang Tidak Biasa

Saya punya bukunya, dikasih sama Nike aka @Dreeva. Tapi karena malas mencarinya di lemari, ya sudah, gambar saya ambil dari Google.

Masalah datang bukan untuk menghancurkan, sebenarnya. Adalah kita yang menentukan apakah masalah itu akan menjadi buldozer yang kelak menghancurkan hidup, ataukah masalah hanyalah salah satu mata pelajaran layaknya Matematika yang butuh untuk dipelajari (dan diselesaikan) dengan rumus-rumus pasti. Adalah kita yang menentukan apakah orang lain (orangtua, saudara, tetangga, teman) dapat menjadi tempat curhat terpercaya atau mereka justru harus dihindari agar memberi ruang pada kita untuk berpikir. Adalah kita, kita, diri kita sendiri. Bukan orang lain.

Sebuah buku jadul yang kali ini saya review, ulang, berjudul Honeymoon with My Brother. Belum semua orang membacanya dan saya rasa layak untuk dibaca oleh semua orang. Mengapa eh mengapa judi itu haram? Karena ada banyak pesan yang bisa kita petik di sini ibarat memetik bunga di taman. Seorang blogger, dedengkotnya Wongkito, memberikan saya buku ini. Namanya Nike. Pertama lihat langsung suka sama judulnya dan menebak-nebak isinya cem mana niiiiy. Ternyata pesan yang disampaikan oleh Honeymoon with My Brother lebih dari tentang pertahanan diri menghadapi banjir badang yang menyerang pada saat tak terduga. Semacam pas mau makan, nasinya disambar gajah. Padahal perut sudah merintih tak karuan. Begitu kira-kira.

Memangnya, apa pesan yang saya peroleh dari buku berdasarkan kisah nyata oleh Franz Wisner ini?

Sebelumnya, mari saya ringkas dulu ceritanya.

Franz Wisner adalah lelaki mapan yang berpacaran sama seorang perempuan bernama Annie selama sepuluh tahun. Mereka telah hidup bersama dan merencanakan pernikahan. Merencanakan pernikahan bukan perkara mudah kecuali saya soalnya saya berencana menikah di KUA saja agar tidak rempong. Franz dan Annie, seperti umumnya orang yang hendak menikah, merencanakan segala sesuatunya from A to Z. Tanggal pernikahan, lokasi pernikahan, tamu-tamu yang diundang, menu-menu lezat, bahkan rencana bulan madu usai pemberkatan nikah. Sayang sekali, ya, Annie memutuskan untuk TIDAK MENIKAH dengan Franz seminggu sebelum pernikahan. Pada saat itu, tamu-tamu dari luar kota sudah tiba dan menginap di hotel. Kecewa pasti iya. Tapi Franz adalah pribadi yang kuat. Meskipun kecewa dan malu (tentu ada rasa marah) dia memutuskan untuk tetap melanjutkan semua rencana pernikahan, kecuali pemberkatan, tanpa Annie. Pemberkatan memang tidak jadi, tapi acara resepsi terselenggara di Sea Ranch (California) dan bulan madu pun tetap dilewati bersama adik Franz yang bernama Kurt Oscar Wisner (sebenarnya mereka berdua tidak terlalu dekat).

Setelah resepsi/pesta di Sea Ranch, ditemani Kurt yang meninggalkan pekerjaannya di Seattle, Franz tetap pergi berbulan madu ke Kosta Rica. Boleh juga ini, karena pada akhirnya hubungan mereka yang renggang kembali baik. Di Kosta Rica, ide untuk melanjutkan perjalanan (traveling keliling dunia) pun tercetus. Franz resign dari tempat kerjanya di The Irvine Company, Kurt yang sudah menduda kemudian menjual rumahnya, semua barang miliknya disumbangkan, HP dan pager wajib ditinggalkan. Pertengahan Agustus 2000, setelah semuanya mantap, Franz dan Kurt memulai perjalanan mereka. Bahkan mereka mendapat dukungan penuh dari si nenek tiri yang bernama LaRue Bocarde Daulton. LaRue meminta mereka mengirimkan kartu pos dari semua negara yang disinggahi (termasuk Indonesia loh), dan akan memberi tanda paku pada peta dunia miliknya.

Ringkasan Honeymoon with My Brother di atas kiranya dapat memberikan bayangan pada kalian yang belum membacanya tentang status Franz, masalah yang dihadapi, dan apa yang dia lakukan untuk mengatasi/keluar dari kemelut tersebut. Hebat ya.

Lalu, pesan moral apa yang saya peroleh dari membaca buku ini? 

Cekidot!

1. Perasaan Manusia Seluas Samudera

Ketika membaca tentang Annie meninggalkan Franz seminggu sebelum pernikahan, saya hanya bisa bilang, perasaan manusia seluas samudera. Sulit ditebak luas dan kedalamannya. Menggunakan alat untuk mengukur pasti? Alatnya belum tercipta. Jadi, manusia adalah makhluk yang pikiran dan perasaannya dapat berubah-ubah kapan saja. Pikiran dapat mempengaruhi perasaan. VICE VERSA! Jangankan mereka yang baru pacaran sepuluh tahun, banyak pasangan yang sudah menikah puluhan tahun pada akhirnya pun memutuskan untuk berpisah. Hubungan adalah ketidakpastian yang butuh banyak elemen untuk mempertahankannya seperti iman dan logika. Jangan hanya andalkan perasaan. Tapi tetap saja saya merasa Annie keterlaluan teganya. Mending kan sekalian tidak usah merencanakan pernikahan sehingga duitnya bisa disimpan atau disumbangkan pada pihak-pihak yang lebih membutuhkan. Dalam pandangan saya.

2. Belajar Ikhlas

Dari Franz Wisner, belajarlah tentang ikhlas. Ikhlas adalah ilmu yang paling susah dikuasai manusia. Jangankan merelakan pernikahan batal, sepotong kukis selebar separuh telapak tangan saja enggan kita bagi pada orang lain. Bagaimana dengan Franz? Dia tidak hanya harus rela membagi sepotong kukis selebar separuh telapak tangan, tetapi harus rela melepas perempuan yang selama sepuluh tahun telah menjadi belahan hatinya, bagian hidupnya. That's life. Unpredictable. Mampukah kita seikhlas Franz? Yaoloh ... yang ada malah kita bakal ngamuk-ngamuk, mengacung tongkat sihir, dan mengutuk abrakadabra. Dari Franz kita belajar ikhlas, bahwa kehidupan kita mungkin sulit, tapi apakah sesulit Franz menghadapi perilaku Annie pada detik-detik menjelang pernikahan? Eh, seminggu menjelang pernikahan? Percayalah, di atas langit masih ada langit, permasalahan kita belum seberapa dibandingkan permasalahan orang lain.

3. Keluarga Adalah Supporter Terbaik

Memang benar, tidak selamanya keluarga punya pemikiran yang sama dengan kita. Banyak pasangan yang berpisah hanya gara-gara pendapat si paman yang mengatakan bahwa "Pacar kamu itu nggak bener! Putusin aja!" Kalau di Ende, urusan macam begini sering terjadi. Dua insan sudah cocok, keluarga cekcok, akhirnya terkocok-kocok. Tapi banyak juga kok keluarga yang tidak seberapa turut campur dalam urusan anggota keluarganya, terlebih mereka-mereka yang hidup di belahan bumi Barat, yang super open minded. Membaca perjuangan Kurt menemani Franz, dan dukungan LaRue, kita tahu bahwa keluarga dapat menjadi supporter terbaik. Berapa banyak jumlah kejatuhan kita dalam hidup? Berapa banyak jumlah pertolongan anggota keluarga terhadap kita? Ini penting, kawan. 

4. Traveling Is Remedy

Bukan cerita baru jika bepergian merupakan salah satu obat patah hati. Banyak lah cerita fiksi tentang hal ini, yang non-fiksi tentu lebih banyak lagi. Patah hati? Jangan menangis di dalam kamar, terus gigit-gigit ujung bantal, pukul-pukul guling macam orang kesurupan. Ambil backpack, packing, berangkat! Pergi ke tempat-tempat yang sudah lama ingin dikunjungi tapi selalu terkendala segala hal, mengenal orang-orang baru, menyenangkan hati. Yess, traveling is remedy.

5. Bulan Madu yang Tidak Biasa

Saatnya kita mengganti hal ini. Bulan madu adalah bulan kesenangan semanis madu. Tidak tertulis, memang, bulan madu haruslah dijalani oleh pasangan yang baru menikah, atau oleh sepasang kekasih (laki-laki dan perempuan). Come on, pergilah berbulan madu dengan siapapun yang kalian kasihi! Jika orangtua kalian sudah terlalu lama berada di dalam rumah saja karena usia atau sakit, ajaklah mereka berbulan madu, pergi ke tempat yang mereka inginkan, menginap di hotel, bersenang-senang, berbagi cerita. Apa yang salah dengan itu? Atau, pilihlah sahabat terdekat yang selalu berada di sisi ketika suka dan duka, bayarlah semua biaya perjalanan untuknya, bersenang-sedang dengannya. Apa yang salah dengan itu? Lakukan sekarang, selama masih ada kesempatan.

Lima pesan moral yang saya peroleh dari membaca Honeymoon with My Brother di atas cukup penting menjadi pelajaran hidup paling berharga. Kita bisa belajar dari pengalaman hidup sendiri, tapi kita juga dapat belajar dari pengalaman hidup orang lain. Siapapun yang berada pada posisi Franz mungkin akan mengalami trauma yang sulit sembuh; memilih tidak akan menikah selamanya, misalnya. Tapi ingat traveling is remedy, jadi bepergianlah, dan obati luka hati. Bergerak maju lah, karena menangis di kamar tidak akan mengembalikan dia yang telah pergi. Membaca Honeymoon with My Brother, saya belajar dari Franz tentang ikhlas, tentang mengobati kehidupan dan perasaan, tentang hubungan keluarga, dan masih banyak hal. Termasuk, belajar tentang perbedaan budaya dari setiap negara yang mereka kunjungi. Menarik bukan?

Liburan Paskah yang masih beberapa hari ini, cobalah untuk membaca Honeymoon with My Brother (jika belum membacanya) dan kalian akan merasa terlahir sebagai pribadi yang baru.


Cheers!

Friday, March 30, 2018

#PDL Selempang Unik dari Pengungsi


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini, terutama tentang perjalanan ke tempat-tempat di Pulau Flores dan di luar Kota Ende. 
 
Suatu kali saat Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT) mengantar bantuan kepada pengungsi korban erupsi Gunung Rokatenda di Desa Aewora - Kecamatan Maurole, bertemulah saya dengan seorang Bapak pengungsi yang memakai tas selempang mini seperti pada gambar di atas. Si Bapak sedang berdiri agak jauh dari lokasi pick up yang memuat beras dan segala macam kebutuhan pengungsi yang sudah kami packing per desa. Wah, cakep! Kata saya dalam hati. Bukan, bukan si Bapak yang cakep, tapi tas selempangnya. Jantung saya berdenyut lebih cepat saat melihat benda-benda seperti itu, rasanya ingin segera mendekapnya dan membawanya pulang. Bukan, bukan si Bapak yang ingin saya dekap dan bawa pulang, tapi tas selempangnya.
 
Dengan mata penuh ketertarikan, gestur yang cukup diketahui sebagai gestur ingin memiliki *tsah* saya menyatakan niat untuk membeli seandainya dijual. Dengan tatapan penuh haru si Bapak berkata, "Minggu depan kalau Ibu datang lagi, saya kasih saja. Sekarang ini penuh dengan sirih, pinang, kapur." Dan beliau berkata, "Betul kah Ibu suka tas jelek begini?" Saya pun mengangguk. Benda-benda unik, tradisional, selalu menarik minat saya jauh lebih besar ketimbang cowok-cowok cakep di luar sana. Kecuali cowok-cowok itu lebih cakep dari Ryan Reynolds.

Minggu berikutnya, selempang mini yang terbuat dari anyaman daun lontar (atau sejenisnya) berpindah tangan menjadi milik saya. Sepulang dari Desa Aewora, selempang ini saya bersihkan dan simpan di lemari untuk nanti dipakai sewaktu-waktu. Sesekali saya pakai jika sedang pengen, berganti-ganti dengan selempang lain seperti selempang khas dari Nagekeo berwarna biru yang dikasih oleh Benny Reo. Tidak ada niat sedikitpun untuk mengganti tali selempangnya, atau membikin si anyaman menjadi lebih kinclong. Biarkanlah seperti itu, apa adanya. Karena, yang berkilau belum tentu cocok untuk semua orang. Bukan begitu?

Saya pernah, pernah melakukan itu. Untuk apa yang saya inginkan. Tapi tentu saja bukan asal meminta. Selayaknya saya bertanya tentang kesediaan mereka menjualnya, atau orang atau tempat yang juga menjual barang yang sama. Jika seandainya mereka menawarkannya gratis, itu adalah berkah. Sama seperti secangkir kopi gratis yang selalu saya buru jika melakukan perjalanan ke luar kota masih dalam wilayah Pulau Flores. Apakah kalian pernah melakukan perbuatan yang sama?
 
Kok mendadak jadi ingin meneguk secangkir kopi gratis lagi?
Apakah ini kode untuk mengisi liburan dengan jalan-jalan lagi?
Maybe ...


Cheers.

Thursday, March 29, 2018

5 Ide Telur Paskah

Menggambarnya di Photoscape, jeleknya ... jangan ditiru. Hahaha.

Dalam hitungan hari, umat Katolik akan merayakan Hari Raya Paskah. Paskah, yang dirayakan setiap Hari Minggu, merupakan hari kemenangan, karena empatpuluh hari sebelumnya umat Katolik akan melakukan puasa (terlebih pada Hari Jum'at). Puasanya berupa pantangan pada kesenangan yang biasa dimakan dan/atau dilakukan sehari-hari. Misalnya kalau biasa makan daging dan sambal, maka pada Hari Jum'at akan puasa makan daging dan sambal, dan boleh makan makanan lain yang tidak biasa dimakan sehari-hari. Mama Sia (asisten Mamatua yang paling kami sayangi) kalau Hari Jum'at tidak makan nasi (makan siang) bersama kami, tetapi makan kacang ijo atau jagung bose atau singkong rebus dan ngeta (sejenis urap). Kalau sudah malam, ketika hendak pulang ke rumahnya, barulah Mama Sia makan nasi (makan malam).

Oh ya, kenapa saya tulis Hari Kemenangan? Karena pada Minggu (Paskah) adalah hari kebangkitan Yesus Kristus setelah wafat pada Hari Jum'at.

Lahir dan besar di Kota Ende yang multi-agama, saya jadi tahu bahwa yang paling dinanti oleh umat Katolik adalah pra-Paskah yang diperingati beberapa hari sebelum Paskah. Pra-Paskah yang saya maksudkan di sini adalah Jum'at Agung. Hari Meninggalnya Yesus Kristus di kayu Salib. Salah satu paroki di Kota Ende, yaitu Paroki Mautapaga, pernah melaksanakan tablo (visualisasi sengsara Yesus Kristus / jalan Salib) secara akbar pada Jum'at Agung. Luar biasa sekali kegiatan tersebut. Siapapun boleh menyaksikannya. Ini dapat menjadi salah satu wisata reliji di Kota Ende. Karena, kita semua tahu, wisata reliji paling memukau pra-Paskah diselenggarakan di Kota Larantuka (Ibu Kota Kabupaten Flores Timur).

Di Larantuka, pra-Paskah sudah dimulai dari Hari Rabu. Sehingga ada sebutan Rabu Trewa, Kamis Putih, Jum'at Agung, Sabtu Santo, dan Minggu Paskah (jika saya salah, mohon koreksi). Semuanya dirangkum dalam satu perayaan besar bernama Semana Santa. Tahun 2011 saya pernah mengikuti Semana Santa di Larantuka. Karena tiba di kota tepi pantai itu Rabu malam, saya baru bisa menyaksikan ritual-ritual pada Hari Kamis. Hari Kamis saya melihat ibu-ibu berpakaian warna hitam (karena inilah hari duka ketika Yesus diarak sambil memikul salib) menuju Kapela Tuan Ma (Bunda Maria). Di Kapela Tuan Ma ini ada Patung Tuan Ma yang sudah dikenakan jubahnya. Umat akan diberikan kesempatan untuk mencium jubah Tuan Ma. Setelah itu Tuan Ma diantar ke Gereja Kathedral. Pada Jum'at siang digelar Prosesi Laut mengantar Patung Tuan Meninu ke Gereja Kathedral, ada Jalan Salib malam hingga pagi hari yang luar biasa sahdu (biasanya dimulai pukul 21.00 sampai dini hari), dan lain-lain. Mungkin saya salah hari antara Kamis atau Jum'at ketika Tuan Ma diantar ke Gereja Kathedral. Sudah lama, agak lupa, hehehe.

Umat yang datang ke Larantuka pada Semana Santa itu dari penjuru dunia. Stasiun televisi yang meliput pun semua bikin mata terbeliak (apalagi waktu saya sempat melihat logo National Geographic). Dan keramahan penduduk Larantuka pada semua wisatawan yang datang pun jangan ditanya lagi. Sudah seperti peraturan daerah, ultimatum, bahwa penduduk Larantuka wajib menerima wisatawan yang tidak kebagian hotel untuk menginap di rumah mereka. Salah satunya sayaaaa hehehe. Waktu itu saya dan Acie (sahabat ACIdetikCOM) menginap di rumah Abang Paul Fernandez. Abang Paul menikah dengan Kakak Nona Fernandez, yang dulunya sebelum menikah adalah tetangga samping rumah.

Oke. Kembali ke soal Paskah. Sering saya membaca artikel luar, setiap Paskah selalu ada telur Paskah. Tapi sudah lama saya tidak melihat tentang telur Paskah ini di Kota Ende. Oleh karena itu, bagi teman-teman yang merayakan Paskah, berikut beberapa ide telur Paskah yang bisa ditiru. Kalau Natal selalu ada Pohon Natal, maka kali ini ada telur Paskah.

1. Kinder Joy

Bukibuk pasti sering dengar rengekan anaknya, minta dibeliin Kinder Joy, apalagi di depan kasir (di Ende Kinder Joy diletakkan di meja kasir). Isinya tak seberapa, harganya luar biasa. Tapi tahukah kalian, wadah Kinder Joy dapat dimanfaatkan sebagai pengganti telur sungguhan? Bentuk Kinder Joy kan oval dan sangat mirip telur. Bagian sisi perekat yang lebih ke luar shape, dapat dirapikan (digunting) sehingga membentuk oval sempurna. Urusan warna, bisa dicat warna-warni sesuai selera, atau bisa juga ditempeli stiker warna warni (karena wadah plastik ini aslinya berwarna putih kan). Kalau sudah jadi, gunakan keranjang rotan yang dialasi potongan kertas (memanjang) yang sudah dikusutkan, lebih bagus lagi kertas warna, dan letakkan telur buatannya.

2. Telur Raksasa

Pojok rumah yang kalau Natal diletakkan Pohon Natal, maka kalau Paskah dapat diletakkan telur raksasa. Ide saya untuk telur raksasa ini memang tidak mudah dilakukan. Kalian dapat mencoba dua cara. Cara yang pertama, yang paling mudah, gunakan papan setinggi 100 senti, lalu lukis papan tersebut dengan gambar telur. Bagian bawah papan, letakkan rumput-rumput buatan dan hiasi dengan elemen-elemen pendukung lainnya. Cara yang kedua, agak ribet. Kalian bisa memanfaatkan balon raksasa. Setelah ditiup, usahakan bentuk oval/telur, balonnya dilapisi dengan potongan kertas (satu per satu) menggunakan lem (pakai lem weber juga bisa) hingga semuanya tertutup kertas. Setelah kering, balonnya boleh ditusuk dengan jarum, atau dibiarkan saja pun tidak masalah. Lalu telur buatannya dicat warna-warni sesuai selera. Karena bentuknya oval, kalian bisa menggunakan keranjang rotan yang besar sebagai alasnya. Gunakan daya kreatifitas semaksimal mungkin!

3. Gantungan Telur

Out of the box. Itulah maksud saya. Setiap Natal pintu-pintu rumah digantungi wreath, kenapa tidak coba membuat semacam wreath tapi digantungi telur Paskah? Caranya, Teh? Sabar, pasti saya jawab *sedot kopi dulu* hahaha. Kalian siapkan bingkai kayu yang bentuknya semacam pemidang, boleh ditutupi dengan pita atau dicat, lalu telur Paskah yang terbuat dari Kinder Joy pada nomor 1 di atas, digantungi di sisi atas (sisi atas, terserah pilihan kalian). Gantunglah di depan pintu. Pilihan warna-warna cerah akan menjadikan Hari Raya Paskah menjadi lebih semarak dengan gantungan telur ini.

4. Telur Warna Warni

Tidak semua telur ayam berwarna putih. Lebih condong ke warna cokelat kan? Oleh karena itu, pilihlah telur yang warnanya cokelat paling muda (menuju putih :P). Oh iya, meskipun dengan merendam telur di cuka akan membuat kulit telur menjadi lembut dan telur bisa memantul kalau dibanting, sebaiknya telurnya direbus saja ya. Siapkan pewarna. Jika mau telurnya warna-warni, pilihan warnanya juga harus banyak. Misalnya wadah a pewarna merah, wadah b pewarna biru, wadah c pewarna hijau, dan seterusnya. Selain pewarna makanan, tambahkan air sebagai pelarut warna dan sedikit cuka di dalamnya. Silahkan rendam telurnya (usahakan semua bagian telur terendam ya). Lamanya merendam tergantung seberapa setrong warna yang kalian inginkan nampak pada telur. Kalau ide yang ini sih, sudah merupakan ide umum yang ada di mana-mana, qiqiqiq.

5. Telur Hadiah
Natal identik dengan kado Natal, bagaimana dengan Paskah? Mungkin bisa jadi ide untuk orangtua memberikan telur Paskah pada anak-anak. Sebenarnya ini kado berbentuk telur paskah. Jika memang kesulitan mencari kemasan kado berbentuk telur, artinya harus mencari. Tapi jangan kuatir! Kado ini bisa diganti dengan telur cokelat. Banyak sekali cokelat berbentuk telur sudah dijual di pasaran. Akan lebih bagus jika wadah kadonya juga berbentuk telur. Tapi jika tidak ada, rasanya tidak masalah jika wadahnya berbentuk kotak saja hehehe.

Itu dia 5 ide telur Paskah untuk teman-teman yang merayakan Paskah. Siapa tahu dengan ide telur Paskah ini, dapat menjadi momen yang paling tidak dilupakan oleh anak-anak. Bagaimana dengan telur sungguhan yang bisa dimakan? Kalau itu, sebenarnya sudah ada di benak saya. Jadi, ini bonus ide dari saya *ngikik* 

BONUS IDE!

Terlebih dahulu siapkan cetakan atau loyang silikon berbentuk telur (biasanya berbentuk setengah telur). Kalau sudah ada loyang ini, maka mudahlah bonus ide ini dilaksanakan. Caranya? Ambil telur (jumlah bebas sesuai selera), pecahkan dalam wadah, dikocok sampai halus, lalu dipisah sesuai banyaknya jumlah warna yang diinginkan. Setelah itu, telur yang sudah berwarna itu dituang di dalam loyang. Boleh dipanggang karena loyang silikon ini konon bisa bertahan hingga 200 derajat Celcius! Setelah matang, keluarkan dari loyang silikon, rekatkan potongan telur menjadi bentuk telur utuh, bisa menggunakan tusuk gigi. Hidangkan. Warnanya mungkin tidak semeriah warna kulit telur dicat, tapi setidaknya meja makan saat Hari Raya Paskah akan lebih unik dengan adanya menu tambahan ini.

Waaaaah, senangnya hati saya bisa berbagi ide ini dengan kalian semua. Siapa tahu bermanfaat bagi teman-teman yang merayakan Paskah. Jangan lupa, kalau idenya dipakai, kabari saya ya ... biar kita happy together.

Sya la la ...


Cheers!

Wednesday, March 28, 2018

5 Tempat Berlibur (Paskah) di Flores

Puncak Nggile. Foto oleh Ihsan Dato.


Libur ... Libur ... Libur. Kuping saya ini kalau dengar kata libur, langsung berdiri tegak. Siapa sih yang tidak senang waktu liburan tiba? Liburan bisa dimanfaatkan untuk melakukan banyak hal seperti membereskan rumah, menata ulang kamar, membersihkan dapur dan perkakas, belajar menjahit (sumpah, saya sudah lupa caranya menjahit hahaha), berkebun atau menanam tanaman di pot (beberapa bunga saya sudah mekar loh), melahap buku-buku dan filem-filem yang mengantri, menyelesaikan tulisan (novel, misalnya) yang terbengkelai, ngegitar sambil bikin lagu (sudah lama saya tidak bikin lagu), dan tentu saja bepergian ke tempat wisata idaman.

Tapi, liburan Paskah bukankah liburan akhir tahun yang memakan waktu lebih dari sepuluh hari. Biasanya liburan Paskah hanya lima hari, terhitung dari Kamis sampai Senin. Bagi kalian yang menetap di Pulau Flores, waktu liburan Paskah yang hanya lima hari itu amat sangat nanggung kalau berencana keliling Pulau Jawa apalagi keliling Galaksi Bima Sakti silaturahmi sama alien. Tapi, lima hari dapat digunakan untuk pergi ke tempat wisata yang ada di Pulau Flores dan sekitarnya dengan perhitungan waktu tempuh menggunakan kendaraan bermotor. Jelas, kalau jalan kaki tidak saya anjurkan di sini karena akibatnya akan sangat menyakitkan perasaan kalian. Lebih sakit dari pada ditinggal kawin sama mantan. Lhah ...

Ini dia 5 tempat berlibur Paskah yang saya rekomendasikan bagi kalian yang menetap di Pulau Flores. Termasuk saya.

1. Larantuka

Tentu saja! Pra-Paskah di Larantuka (Ibu Kota Kabupaten Flores Timur) yang dikenal dengan nama Semana Santa itu sangat luar biasa dan spektakuler untuk dilewatkan. Bagi kalian yang beragama Katolik, berlibur ke Larantuka bisa sekalian beribadah, mengikuti prosesi pra Paskah dari Kamis Putih, Jum'at Agung, Sabtu Santo, hingga Minggu Paskah. Bagi yang non-Katolik, jangan kuatir, Semana Santa sudah menjadi wisata reliji di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Siapapun boleh menyaksikannya. Jika hotel atau motel di Larantuka sudah penuh, penduduk Larantuka akan dengan senang hati menampung kalian di rumah mereka. Keramahan orang Nagi ini jangan ditanya lagi.

2. Pulau Adonara, Pulau Solor, Pulau Lembata

Kalau kalian memutuskan untuk mengikuti Semana Santa, terkhusus Jum'at Agung di Larantuka, maka kalian bisa memanfaatkan hari Sabtu untuk pelesir ke pulau-pulau terdekat. Dua pulau yang terletak tepat di depan Pelabuhan Larantuka adalah Pulau Adonara dan Pulau Solor. Satu pulau yang agak jauh adalah Pulau Lembata. Pengalaman saya tahun 2011 ke Larantuka, hari Sabtunya digunakan untuk berkeliling Pulau Adonara menggunakan pick up sewaan; dari Pelabuhan di Larantuka menuju Pelabuhan Waiwerang. Dari Pelabuhan Waiwerang, 'membelah Adonara' hingga ke Tana Merah. Bisa dilakukan seharian kok. Dari pagi sampai sore (kembali ke Larantuka).

3. Coconut Garden Beach Resort

Agar ke Barat dari Larantuka, inilah Coconut Garden Beach Resort. Tempat ini berada di bawah wilayah Kabupaten Sikka, tapi bukan di Ibu Kotanya (Maumere), terus ke arah Timur menuju Larantuka. Setelah melewati Geliting, kalian akan bertemu dengan tulisan atau penunjuk Coconut Garden Beach Resort. Menikmati liburan semalam dua malam di tempat ini cukup asyik untuk dicoba. Kamar-kamar hotelnya terpisah (bungalow) dengan desain interior yang ke-pantai-pantai-an, dan tentu saja Instagramable. Bagi yang doyan baca atau menulis, suasananya sangat mendukung aktifitas kalian melahap buku atau merangkai kata. Tempat ini dibangun dengan konsep yang sangat menarik. Misalnya, kalian bisa berfoto di depan celana jin yang dijadikan wadah tanaman, atau semacam dream catcher yang digantung di depan kamar.

4. Desa Agrowisata Waturaka

Di Kabupaten Ende, ada salah satu desa yang telah dijadikan desa agrowisata (desa agrowisata lain belum pernah saya kunjungi). Namanya Waturaka. Waturaka merupakan salah satu desa penyangga Taman Nasional Kelimutu (Danau Kelimutu). Jaraknya dari pusat Kota Ende sekitar dua jam menggunakan kendaraan bermotor. Lokasinya berada di pinggir jalan akses menuju Danau Kelimutu. Tidak perlu takut nyasar, selain ada papan nama penunjuk, kalian pasti akan melihat sepeda raksasa terbuat dari bambu di dekat pintu masuk Desa Waturaka. Yang ditawarkan desa ini kepada pengunjung adalah penginapan sistem live in, dimana kalian boleh memasak bersama tuan rumah. Agrowisatanya, kalian dapat mengikuti masyarakat setempat beraktifitas seperti memelihara ternak (babi, kambing, ayam), pergi ke kebun untuk menanam atau memanen, dan lain aktivitas. Menurut pendapat pribadi saya, Desa Agrowisata Waturaka dibangun sebagai alternatif pilihan menginap bagi para wisatawan yang berkunjung ke Danau Kelimutu karena pilihan tempat menginap utama terletak di Desa Moni yang jaraknya lebih jauh dari Danau Kelimutu.

5. Taman Laut Riung

Wisata Alam 17 Pulau Riung atau sering disebut Taman Laut Riung terletak di Kabupaten Ngada, meskipun menurut hemat saya lokasinya lebih dekat dengan Kabupaten Nagekeo (termasuk akses jalannya). Di Riung tersedia banyak penginapan dengan kelas yang rata-rata sama. Salah satunya Nirvana Bungalow yang dimiliki oleh sahabat SMA saya, Rustam (Oetamtam). Saran saya, jika kalian hendak berlibur ke Riung memanfaatkan waktu liburan Paskah, pergilah pada Hari Jum'at, menginap semalam, lalu Hari Sabtu-nya mengeksplor pulau-pulau yang ada di sana sekalian menikmati wisata baharinya seperti snorkling, diving, dan menjelajah pulau (Pulau Ruton dan Pulau Tiga, adalah pulau yang saya rekomendasikan). Hari Minggunya dipakai untuk perjalanan pulang agar Senin bisa beristirahat dan Selasa kembali beraktivitas.

Lima tempat berlibur (Paskah) yang saya rekomendasikan di atas cocok dilakukan oleh kalian yang menetap di Pulau Flores. Tapi bagi yang menetap di luar Pulau Flores, boleh kok dicoba, apalagi kalau waktu liburnya lebih panjang dari empat hari. Setelah liburan nanti kalian akan punya banyak cerita yang bisa dibagi pada orang lain lewat tulisan dan foto; di media sosial seperti Facebook dan Twitter, atau di blog, atau menulis artikel untuk situs lain.

Lalu, bagaimana dengan kalian yang menetap di Kota Ende dan tidak berencana ke luar kota? Selain beberes rumah dan menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, kalian bisa kok mengeksplor tempat wisata yang ada di Kabupaten Ende. Misalnya Puncak Nggile yang mulai diperkenalkan pada publik, yang terletak di Ndona. Dari puncak bukit ini kalian bisa melihat lanskap Kota Ende, sekaligus Pulau Ende, apalagi saat sunrise dan sunset. Konon di Puncak Nggile ini masih ada congklak (dakon) yang terbuat dari batu. Saya jadi penasaran sama tempat ini.

Semoga liburan kalian menyenangkan, dan jangan lupa untuk mempersiapkan diri kembali beraktifitas usai liburan.


Cheers.

Tuesday, March 27, 2018

Saphire OFX



Videografer adalah magician. Menurut saya. Karena videografer, apalagi videografer merangkap penyunting video, dapat mengubah video amatir sekalipun menjadi spektakuler melalui keahliannya menjahit video. Tentu saja, video spektakuler tidak terlepas dari aplikasi penyunting yang menyediakan banyak dukungan moril seperti tingkat ketajaman, korektor warna, kecerahan, dan lain sebagainya. Kita patut berterimakasih pada penyunting video yang beredar di dunia ini seperti yang paling mudah ditemukan Windows Movie Maker; yang lainnya adalah Ulead Video Studio, Sony Vegas yang dikenal juga dengan nama Sony Movie Studio Platinum, hingga yang paling keren macam Adobe Premiere (I'm so damn dead want this one but my laptop doesn't support it). Itu sih yang saya tahu, kenal, dan pernah gauli. Masih banyak kok aplikasi penyunting video lainnya. Tinggal dipilih dipilih.

Salah satu elemen dari aplikasi penyunting yang saya suka adalah transisi. Bagaimana antara satu scene ke scene lainnya dijahit menggunakan transisi ini, menjadi begitu penting, agar video tidak terlihat patah. Beberapa video memang tidak membutuhkan transisi, tapi beberapa video lainnya alangkah kecenya jika memakai transisi, apalagi video-video kreatif. Kadang-kadang, pekerjaan menyunting video, a la saya, lebih lama pada pilihan transisinya ketimbang menyetarakan warna.
Meskipun bukan videografer profesional, tapi saya sering merekam, dan menyunting video (hasil dari kegiatan ini lumayan banget loh, bisa buat jajan beberapa bulan). Macam-macam aplikasi penyunting sudah saya gunakan. Jaman dulu, sebelum tahun 2000 saya diajarin (alm) Kakak Toto Pharmantara menyunting video menggunakan aplikasi penyunting bernama Ulead Studio Video 1. Untuk memaksimalkannya, harus menggunakan aplikasi lain seperti VCD Cutter (adoh, tahun lampau banget ya!?) dan iFilmEdit. Buat nyari kesalahan rekaman (layar biru) atau rekaman yang tidak dibutuhkan (yang ngerekam lari-lari tanpa mematikan perekam), mata harus pantengin video itu, memotongnya/membuangnya. Musim bergulir, Ulead pun terus berinovasi hingga saya pernah memakai Ulead Video Studio 11 (tahun 2014).

Bolak-balik antara Windows Movie Maker dan Ulead Video Studio 11, pada akhirnya mendamparkan saya (duh, bahasanya) pada aplikasi peyunting bernama Sony Movie Studio Platinum Awards. Dulunya  lebih dikenal dengan nama Sony Vegas. Adalah Martozzo Hann, fotografer dan videografer Ende, yang sudah rela memperkenalkan aplikasi ini pada saya. Dia juga yang menggantikan Sony Movie Studio Platinum dari yang 12 ke yang 13 di laptop saya. Sebenarnya perbedaan dua versi ini tidak begitu signifikan. Mengapa saya tidak memakai Adobe Premiere? Dulu sih pernah diinstal di Toshiba (laptop yang pernah jebol itu) tapi kemudian karena jebol ya hilang lah programnya. Laptop yang sekarang masih corei3, berat banget sama Adobe Premiere padahal sudah diinstal dari seorang videografer kece juga yang namanya Alan (pemilik Rafa Media Creative) hahaha.

Semakin lama menggunakan Sony Movie Studio Platinum, semakin saya merasakan kekurangannya pada transisi. Transisinya yang itu-itu saja; 3D (Blinds, Cascade, Shuffle), Dissolve, Flash, Gradient Wipe, Iris, Page (Loop, Peel dll), Swap, Zoom. Benar-benar kurang. Oleh karena itu saya mencari transisi plugin yang bisa dipakai di aplikasi penyunting ini. Ada sih rekomendasi beberapa tapi setelah dicoba, gagal. Dari Alan, dengan transisi Chung Da (atau Sam Kholder) yang dipakai di Adobe Premiere, saya coba-coba ke Sony Movie Studio Platinum, gagal juga. Ini coba-coba nekat tanpa hadiah. Akhirnya saya coba mencari lagi, kali ini lebih serius, lebih fokus, lebih teliti. Betul kata orang, kalau lebih fokus, lebih mudah menyelesaikan segala sesuatunya. Maka, bertemulah saya dengan SHAPIRE OFX!

Serius? Itu batu safir?

Bukan batu safir. Itu Shapire OFX, sebuah plugin untuk transisi yang bisa dipakai di Sony Movie Studio Platinum. Cara instalnya mudah dan cepat. Banyak sekali transisi dalam paketannya seperti Bubble, Defocus, Glare, Luma, Puddle, dan lain sebagainya. Ibaratnya seperti menemukan harta karun. Tinggal bagaimana kita menggunakannya pada setiap sambungan scene. Cara pakainya pun sama dengan transisi bawaan. Shapire OFX sangat menolong saya ketika menyunting video-video kreatif. Rasanya kegiatan menyunting dan menjahit lebih menyenangkan dari sebelumnya karena banyak pilihan transisi. Kalau kata Orang Ende, jadi lebih makan puji dalam menyunting video. Kebetulan ada empat video yang menumpuk yang harus dikerjakan, dengan adanya Shapire OFX, sekalian uji coba.

Saya lega bisa menulis ini. Mungkin saja di luaran sana masih banyak videografer, pemula, yang kesulitan mencari transisi kece untuk Sony Movie Studio Platinum. Jangan kuatir, selalu banyak jalan menuju Roma. Shapire OFX adalah jawaban mudah untuk kita. Tapi bagi videografer profesional, postingan ini mungkin tidak bermanfaat apa-apa, hanya sebagai penggeli perut hahaha.


Cheers.

Monday, March 26, 2018

Happy Wedding

Hendrik & Indri ~ 25 Maret 2018
Photo by Eye Solution - Ende (Canon Santoso)


Menikah adalah persoalan cinta; umumnya laki-laki dan perempuan. Menikah adalah persoalan bathin. Menikah adalah persoalan ridho orangtua. Tapi yang lebih penting, MENIKAH ADALAH PERSOALAN IJIN ALLAH SWT. Alangkah bahagianya jika semua elemen ini bersatu padu. Ada cinta, ada kesiapan bathin untuk berbagi hidup dengan orang yang dicinta, ada ridho orangtua, dan ijin Allah SWT. Klop. Jika salah satu tidak berbanding lurus dengan ijin Allah SWT, belum tentu pernikahan dapat terjadi, dan belum tentu bahtera rumah tangga berjalan mulus. Bisa-bisa kandas di Alaska.

Siapkah kita menikah? Jawabannya maybe yess, maybe no.
Maukah kita menikah? Siapa sih yang tidak mau menikah? Melakukan segala yang dulunya haram melalui jalur halal? Semua orang waras pasti mau kalau halal kan? Halal = haknya.

Saya sering ditanya, kapan menikah? Pertanyaan ini sungguh milyaran kali dilontarkan. Jawaban saya selalu sama: semua ada waktunya. Karena bagi saya, menikah itu bukan karena gengsi. Gengsi banget gua sama si A, masa iya dia udah nikah dari taon kapanan, gua belum juga? Menikah bukan karena gengsi; yang usianya sudah banyak, gengsi sama yang usianya sedikit. Kok bisa gengsi sih? Contohi saja saya. Saya tidak pernah gengsi sama semua keponakan yang sudah menikah dan dikaruniai anak (yang otomatis anak mereka memanggil saya Oma). Nasib manusia sudah diatur sama Allah SWT. Ada yang nikahnya cepat/too young to be husband and wife, ada yang pas usia, ada pula yang sudah tua belum juga menikah. Jangan memaksa Allah SWT untuk segera menentukan tanggal pernikahan kita. Berdoa dan meminta pada Allah SWT sih wajib.

Loh, bukannya manusia harusnya BERUSAHA?

Jelas! Mana ada manusia yang diam-diam di rumah, pas kedip mata, eh sudah duduk di pelaminan. Itu hanya ada dalam dongeng. Tapi sekeras apapun manusia berusaha tapi kalau Allah SWT belum mengijinkan, ya tetap saja belum menikah juga.

Terus, harus ngapain?

Jalani saja hidup. Biasa saja. Bangun, mandi, ngantor, nge-game, hang out with friends, bertemu orang-orang baru yang mungkin akan mengubah hidup suatu saat. Kelak. Kalau bisa sih main kartu sama Indra dan Thika, kayak saya hahaha

Kalau sudah punya pacar? 

Sebenarnya kan di dalam Islam tidak ada soal pacaran. Tapi kadang kita juga tidak bisa menolak jaman. Jangankan jaman, menolak pintu rumah digedor sama mantan saja kadang tidak sanggup. Kalau sudah punya pacar, ya pacaran saja lah yang baik. Kenali dia, kenali keluarganya, berusaha belajar bahwa kelak kalau sudah menikah, hidup kalian tidak akan bisa seenak hati seperti saat masih sendiri. Perempuan pasti belajar, kelak kalau sudah menikah, setiap pagi dia tidak hanya membikin secangkir kopi untuk dirinya sendiri, melainkan dua cangkir kopi (atau teh?) bahkan bisa empat jika sudah dikaruniai dua anak. Laki-laki pasti belajar, duitnya kelak bukan duit sendiri tapi duit belanja buat makan sekeluarga. Jika Allah SWT sudah menentukan tanggalnya, Insha Allah menikah juga.

Saya selalu bersuka cita setiap kali melihat undangan pernikahan, atau melihat orang-orang menyiapkan pernikahan. Karena pernikahan adalah ibadah. Dan untuk keponakan saya, Indri, serta suaminya, Hendrik, saya mengucapkan selamat atas pernikahan kalian pada Minggu, 25 Maret 2018. Semoga menjadi keluarga yang bahagia dan terberkati. Selalu ingat Allah SWT dalam setiap langkah kalian. Mampu mendidik anak-anak menjadi anak-anak yang berbakti pada keluarga, agama dan negara. Semoga Allah SWT selalu meringankan langkah kalian ke depannya. 

Happy Wedding, Nak!

I love you so much!


Cheers!

Sunday, March 25, 2018

Triplet ~ Part 1


Triplet adalah tulisan lawas saya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena ceritanya lumayan absurd. Saya memutuskan untuk menerbitkannya di blog, part demi part. Karena keabsurdannya, komentar kalian tidak akan saya tanggapi kecuali buat lucu-lucuan. Ini bukan pembelaan diri, ini bela diri dengan jurus menghindar. Selamat membaca Triplet.

***

PART 1




Ceritakan padaku,
tentang cinta,
dan hati yang pernah ...
hatimu melabuh.



~ Ende ~
15 Desember 2014

“It is only as we develop others that we permanently succeed.” – Harvey S. Firestone.

Salah satu nasihat Ali Bin Abi Thalib—termasuk dalam golongan pertama pemeluk Islam, saudara sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW yangmana dia menikahi Fatimah az-Zahra—berbunyi: “Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang lebih terpencil dari pada seorang bakhil.” Penjelasan paling hakiki nasihat laki-laki yang pernah menjabat sebagai Khalifah pada tahun 656 – 661 tersebut tercantum di dalam Surat Ali ‘Imran 180: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Bagi Shadiba Pua Saleh—penggemar berat Ali Bin Abi Thalib yang selalu membayangan dirinya hidup di jaman Nabi Muhammad SAW—harta yang berbukit-bukit bukan semata-mata serupa emas, perak, titanium, atau uang. Buktinya banyak orang tidur di atas tumpukkan uang namun miskin kasih. Pengetahuan, informasi, adalah kekayaan yang sesungguhnya karena melalui pengetahuan manusia boleh bertindak untuk memperoleh harta. Manusia yang tidak berpengetahuan niscaya mustahil mampu melakukan perbuatan paling mudah sekalipun. Mengeluarkan upil dari lobang hidung ... misalnya. Namun, apa gunanya pengetahuan jika hanya mampu mengenyangkan diri sendiri?
Diba bersyukur dalam perjalanan hidupnya dia boleh berkenalan dengan manusia-manusia hebat yang tidak butuh penghargaan karena telah berbagi pengetahuan. Penghargaan dan gelar yang mereka terima diberikan oleh manusia lain, bahkan setelah waktu berlari sangat jauh dari masa kejayaan mereka, dalam ungkapan terima kasih. Ibnu Sina membagi pengetahuannya lewat salah satu buku berjudul Qanun fi Thib (Canon of Medicine). Bapak Kedokteran Moderen, George Sarton, menyebut Ibnu Sina sebagai “Ilmuwan yang paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu.” Manusia jaman moderen patut berterima kasih kepada Charles Babbage, pelopor komputer asal Inggris, atas jasa-jasanya sehingga setelah melalui evolusi panjang boleh menenteng laptop dan bekerja sembari ngopi-ngopi-manis manja di kafe. Dan jika manusia jaman moderen berterima kasih pada Alexander Graham Bell yang konon dikenal sebagai penemu telepon maka sejarah mencatat Antonio Santi Giuseppe Meucci yang telah menciptakan telepon pada tahun 1849 lantas mematenkan hasil karyanya pada tahun 1871. Pada masa kekinian evolusi temuan Meucci mengantar manusia moderen berkenalan dengan gadget—benda berteknologi canggih idaman umat.
Manusia-manusia hebat yang membagi pengetahuan kepada dunia itu menginspirasi Diba untuk tidak menggenggam erat pengetahuan dan informasi yang diperolehnya, diketahuinya, dipahaminya, dari banyak narasumber. Lewat berbagai cara dia rela merepotkan diri sendiri untuk berbagi informasi. Baginya, manusia bakhil justru merugi.
Adalah Indonesian ICT Partnership Association, atau ICT Watch, yang telah menggandeng netizen dari seluruh Indonesia (diantaranya para blogger) demi memberi pemahaman mendalam tentang media baru yang disebut internet. Bagaimana caranya manusia menggunakan internet dengan baik. Tulisan Donny B.U. dari ICT Watch berbunyi: “Pengakuan dan pujian diberikan oleh sejumlah peneliti dan aktifis bidang ICT (Information and Communication Technology) sesaat ketika saya usai memaparkan presentasi tentang penelitian perkembangan pemanfaatan media baru (Internet) dan kaitannya dengan kebebasan berekspresi di Indonesia. Salah satu poin yang saya paparkan adalah gerakan advokasi Internet Sehat Versi Rakyat (http://www.internetsehat.org) yang pro pada kebebasan berekspresi di Internet secara aman dan bijak, dengan pendekatan self-cencorship dan pemberdayaan masyarakat.”
ICT Watch mengajak pula Komunitas Blogger NTT, Flobamora Community, untuk memahami konsep Internet Sehat. Diba sering diutus oleh Flobamora Community untuk mengikuti focus group disscusion dan workshop yang diselenggarakan oleh ICT Watch di Jakarta—pengutusan ini berkaitan erat dengan julukan untuk Diba, si Kaki Kereta, si tukang jalan, si pelancong, dimana waktu kerjanya fleksibel dan finansial yang mumpuni. Dari kegiatan-kegiatan diskusi dan sharing tersebut dia memperoleh banyak pengetahuan tentang Internet Sehat Versi Rakyat yang disebut inspiratif karena program advokasi kepada publik dilakukan dengan menggunakan sejumlah media baru (Facebook, blog, crowdvine) digabungkan dengan kegiatan-kegiatan offline seperti workshop dan seminar, dan juga dilengkapi dengan ketersediaan booklet panduan dalam bentuk hardcopy dan softcopy, merchandise, hingga lomba blog sehat untuk meningkatkan awareness publik.
Untuk membagi kembali informasi yang diperoleh dari ICT Watch, Diba sering mengajak teman-teman komunitasnya berdiskusi. Pada akhirnya dia justru sering diundang oleh lembaga pendidikan untuk memaparkan materi tentang internet, dan tetek-bengek yang berkaitan dengan media baru tersebut. Sekali lagi, demi kemajuan intelejensia banyak orang, dia rela merepotkan diri sendiri. Seperti hari ini, dia berdiri di depan ratusan audiens yang sejak tadi—sepertinya—terbius pada paparan materinya tentang penggunaan internet secara sehat.
“... dari buku Linimassa, Pengetahuan Adalah Kekuatan, saya mengutip tulisan Anggara Suwahju ... Pertama, pengguna internet harus jujur dan adil dalam mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi. Kedua, pengguna internet memperlakukan sumber informasi sebagai manusia yang harus mendapatkan penghormatan. Ketiga, pengguna internet harus dapat terbuka dan bertanggung jawab. Itu syarat mutlak jika kalian tidak mau terseret jejaring hukum karena salah kaprah menggunakan internet sebagai tempat menganiaya nama baik orang lain lewat ... status Facebook contohnya,” tandas Diba usai menjawab pertanyaan Markus Rerio dari Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia.
“Baik, terima kasih Ibu Diba,” ujar Firman, sekretaris Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Flores, yang bertindak sebagai moderator. “Sebelum istirahat, kita akan buka sesi tanya jawab kedua ... untuk dua penanya. Silahkan.”
Seorang mahasiswa berdiri. “Nama saya Adolf dari Program Studi Ilmu Hukum. Dari tadi Ibu sudah menjelaskan tentang konsep internet sehat. Bagaimana kita dapat memanfaatkan media sosial untuk tujuan yang lebih positif dan mulia dari pada menggunakan Facebook untuk menghina kampus lain, saling memaki, dan lain-lain. Dalam salah satu penjelasan ibu tentang internet sehat, dikatakan bahwa banyak kaum muda di Indonesia yang telah sukses melakukan kegiatan-kegiatan positif di dunia nyata tapi dalam merintis kegiatan tersebut mereka menggunakan internet atau melalui jalur dunia maya. Mungkin ... Ibu dapat menjelaskan kepada kami contoh dari penjelasan tersebut. Terima kasih.” Adolf mengakhiri pertanyaannya dengan helaan nafas panjang.
Diba terkekeh. “Terima kasih untuk pertanyaannya, Adoi.”
“Adolf, Bu.”
“Ya, Adolf. Maaf saya salah menyebut nama saudara. Kita sama-sama belajar hukum, ya ... Anyhoo, apa kalian sudah pernah mendengar Gerakan Satu Mug Beras untuk pengungsi korban erupsi Gunung Rokatenda?” tanya Diba.
Audiens yang memenuhi Aula Kampus II Universitas Flores menggeleng. Diba menyayangkan hal ini karena gerakan tersebut justru terkenal dalam skala nasional. Kadang-kadang pepatah ‘semut di seberang lautan tampak tetapi gajah di pelupuk mata tak tampak’ benar adanya. Mendadak salah satu audiens mengangkat tangan.
“Ya!” Diba memberi ijin.
“Nama saya Kharisma Agung dari Program Studi Sastra Inggris. Yang saya pernah dengar, gerakan itu dilakukan oleh anak-anak muda NTT dari komunitas yang berbasis di Kota Ende, Bu!”
“Tepat sekali! Terima kasih!” Diba mengangguk. “Saya salah satu anggota Flobamora Community dan jelas ... saya tahu semua pergerakan komunitas itu.”
 Diba melanjutkan. “Gerakan Satu Mug Beras, untuk pengungsi Rokatenda, merupakan salah satu indikator yang menunjukkan bahwa kita semua dapat melakukan perbuatan-kecil-dan-terlihat-mustahil-terwujud untuk menolong orang lain tanpa embel-embel mengkritik kinerja pemerintah. Gerakan ini, seperti namanya, mengumpulkan satu mug beras, yang kemudian menjadi berkarung-karung beras, dilakukan melalui kampanye di dunia maya. Efek dari pengulangan kampanye di dunia maya ini luar biasa. Hasilnya, setiap minggu berkarung-karung beras dan kebutuhan pokok lainnya diantar ke lokasi para pengungsi yang berasal dari Pulau Palu’e itu. Dan terpenting, gerakan yang dilakukan oleh teman-teman dari Komunitas Blogger NTT atau Flobamora Community itu membuka mata kita semua bahwa teknologi internet dapat menjadi mata pisau yang tajam untuk mempengaruhi onliners atau orang-orang yang sedang online di internet seperti Facebook atau Twitter.
Tapi jauh sebelum Flobamora Community bergerak dengan Satu Mug Beras, teman-teman di wilayah lain Indonesia telah lebih dulu melakukannya lewat Jalin Merapi, yaitu menginformasikan kondisi daerah bencana dan pengungsi melalui media sosial sepeti Twitter dan Facebook untuk menjaring bantuan riil, baik itu bantuan dalam bentuk barang maupun tenaga dari para sukarelawan. Ada juga Blood For Life, dan lain-lain gerakan. Bagaimana, Adolf ... sudah paham?” tanya Diba.
“Sudah, Ibu. Terima kasih,” sahut Adolf, lantas mencoret-coret catatannya.
Kali ini tangan mahasiswi yang duduk di pojok kanan teracung. “Nama saya Debi, dari Program Studi Sejarah. Saya ingin tahu pendapat Ibu tentang Relawan Pecinta Taman Bung Karno Ende. Apakah mereka juga dapat dikelompokkan seperti Flobamora Community? Menurut informasi yang saya dengar, kegiatan mereka hanya menjual PIN Relawan, dan hasilnya dipakai untuk mengurus keasrian taman saja. Apa imbas paling nyata dari Relawan Pecinta Taman Bung Karno bagi masyarakat Kota Ende? Demikian pertanyaan saya, terima kasih.”
“Apakah Deba sudah berkenalan dengan dua penggagas Relawan Pecinta Taman Bung Karno?” tanya Diba.
“Nama saya Debi, Bu, bukan Deba. Saya memang belum bertemu langsung dengan dua penggagasnya, Bu,” Debi mengulum senyum. Ternyata Diba mengidap short-memory-syndrom pada nama orang.
“Maaf, ya, saya salah menyebut nama Debi. Baik ... kenapa tidak berkenalan saja? Dua penggagasnya adalah Dewi Sahrian dan Mukhlis A. Mukhtar. Pak Mukhlis itu kan dosen di Program Studi Teknik Arsitektur. Tanyakan pada beliau apa saja yang sudah dilakukan oleh Relawan Pecinta Taman Bung Karno Ende. Tapi kalau boleh saya menjelaskan ... Relawan Pecinta Taman Bung Karno adalah salah satu indikator bahwa kaum muda Ende punya kepedulian yang sangat besar dan apresiasi yang sangat tinggi terhadap Proklamator Indonesia. Selain membantu menjaga taman kota, mereka juga melakukan kegiatan-kegiatan lain yang merupakan program setiap divisi. Sebut saja, Divisi Peduli Pendidikan yang dikoordinir oleh David Mossar ... tahun depan mereka akan mengantar bantuan berupa meja, kursi, papan tulis, dan perlengkapan sekolah untuk SD Ratenggoji yang berada dalam wilayah Kecamatan Lepembusu-Kelisoke. Mereka juga telah menyediakan seratus payung yang akan dibagikan kepada para pedagang papa lele (istilah untuk pedagang kaki lima) di Pasar Wolowona, Pasar Mbongawani, dan Pasar Potulando. Apakah bantuan yang mereka dapatkan hanya diperoleh hanya melalui mulutgram saja? Tentu tidak. Mereka memanfaatkan internet untuk penyebaran informasi sehingga bantuan yang datang tidak hanya dari masyarakat Kota Ende saja tetapi juga dari luar Pulau Flores.
Imbas paling nyata ...
Taman kota atau Taman Bung Karno menjadi ruang publik yang dimanfaatkan oleh masyarakat kita dengan baik. Saya sering melihat anak sekolahan belajar kelompok di sana, ada juga yang duduk-duduk sambil membaca atau mengaji. Kadang saya bertemu satu keluarga besar yang memilih untuk makan siang di taman. Itu imbas paling nyata dari kita menjaga keasrian taman kota, juga kebersihannya ... karena ... secara logika siapa sih yang mau bersantai-santai di atas tumpukan sampah atau berpanas-panas di taman yang tidak ada pohonnya sama sekali? Coba bayangkan bagaimana mungkin satu keluarga besar yang sedang piknik bisa menikmati bekal piknik mereka di samping tumpukan sampah?
Imbas paling nyata yang lain dari Relawan Pecinta Taman Bung Karno ... pada akhirnya nanti murid-murid SD Ratenggoji akan belajar sambil duduk di kursi yang layak, menulis di atas meja yang layak, dan guru-guru mengajar menggunakan alat bantu yaitu papan tulis yang juga layak. Meskipun kondisi bangunan sekolah mereka sangat jauh dari layak.
Bagaimana, Debi ... sudah paham?”
“Sudah, Ibu. Tapi, Ibu ...”
“Ya?” Diba menunggu.
“Kerusakan yang terjadi di Taman Bung Karno itu fakta terjadi dari tahun ke tahun. Rumput-rumput meranggas, fasilitas penerangan dicuri, kamar mandi tidak terawat, pompa airnya pun sudah tidak ada. Di mana peran relawan itu dalam kasus-kasus ini?”
“Perlu diketahui pengertian relawan. Relawan atau volunteer mulai dikembangkan pata tahun 1755 oleh orang Perancis bernama Voluntaire ketika memberi pelayanan kepada tentara yang sedang berperang. Tugasnya adalah mengabdi secara ikhlas terkait kegiatan altruistik untuk mendorong, memperbaiki, dan meningkatkan kualitas kehidupan di bidang sosial, budaya, ekonomi. Relawan hadir membantu tidak dilandasi motif mencari keuntungan ekonomi dan posisi politik, namun lebih berupa kepedulian, komitmen, serta tanggung jawab bagi upaya memperbaiki kondisi yang ada. Relawan biasanya bekerja dengan tenggat terbatas, bertumpu pada network serta tidak tergantung pada organisasi dan komando maupun dari pihak lain.
Relawan Pecinta Taman Bung Karno terbentuk setelah, sekali lagi, SETELAH terjadi kerusakan pada rerumputan taman, sampah yang berserakan, dan sejumlah fasilitas yang rusak. Dari situ mereka berusaha menggalang bantuan untuk membuat tempat sampah permanen yang bagus, membeli rompi untuk sekuriti dan tukang sapu, membeli sapu, membeli gerobak, hingga memperbaiki trotoar depan parkiran yang pecah atau rusak. Mereka berusaha, semampunya, untuk memperbaiki dan berkampanye tentang Taman Bung Karno.
Namun, jika kerusakan di taman itu masih saja terjadi, apakah itu salah mereka?”
“Tidak, Bu,” jawab Debi. Dia lantas mencatat-entah-apa di bukunya.
“Betul. Bukan salah mereka. Kembali berkaca pada diri kita sendiri. Apakah taman kota tersebut hanya milik segelintir anak muda yang tergabung dalam Relawan Pecinta Taman Bung Karno?”
“Tidak, Bu ... taman itu, sebagai ruang publik, milik kita semua ...”
“Milik kita semua, masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab kita semua. Relawan bersifat membantu, menyisihkan waktu luang, untuk dapat membantu—lewat kampanye dan tindakan nyata. Pada hakikatnya Relawan Pecinta Taman Bung Karno tidak akan memasuki ranah politik dan hukum ... mereka hanya mau bekerja untuk memperbaiki, bertumpu pada jaringan mereka, dan tidak tergantung pada organisasi dan komando dari pihak lain ...”
“Nggg ...” Debi nampak ingin membantah.
“Saya ambil contoh ... jika ada manusia yang mati di rumah sakit karena kekurangan darah, apakah relawan pendonor darah yang akan disalahkan? Padahal sekuat tenaga mereka sudah berupaya mencari pendonor darah ...”
“Tidak, Bu. Saya sudah paham ... jika taman terus-menerus rusak, itu bukan salah relawan melainkan pihak-pihak yang membuatnya rusak karena ... nggg ... dalam hal ini taman tersebut berada di bawah pengawasan dan tanggung jawab pihak lain, bukan relawan.”
“Tepat!” Diba mengacung jempol. “Itulah relawan.”
“Terima kasih, Bu.”
“Ya. Jangan lupa, kenalan lah sama Pak Mukhlis, dan teman-teman relawan yang lain.”
Suasana seminar bertajuk ‘Mahasiswa Cerdas, Gunakan Internet Secara Sehat!’ semakin ramai oleh pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh audiens yang datang dari berbagai program studi setiap fakultas di Universitas Flores. Seminar ini dilaksanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Uniflor dalam rangka kegiatan akhir tahun.
“Kalian harus ingat kalimat ini ... mengutip Johann Wolfgang van Goethe, pengetahuan tidaklah cukup; kita harus mengamalkannya. Niat tidaklah cukup; kita harus melakukannya,” ujar Diba. “Apa pun informasi yang kalian peroleh hari ini, saat ini, di tempat ini, wajib kalian bagi pada teman-teman lain yang tidak berkesempatan hadir.”
Pada akhir seminar Diba menawarkan bantuannya untuk memperkenalkan blog kepada mahasiswa bila diberi kesempatan menjadi pemateri pada waktu yang akan datang.
“Terima kasih pada BEM Uniflor yang telah mengundang saya menjadi pemateri. Saya senang bisa berbagi informasi dan manfaat bersama kalian semua. Saya jadi ingat ... pertama kali mengenal internet, saya diajari oleh teman kuliah saya di Jogja. Sejak saat itu saya dan internet sulit dipisahkan ...” Diba sengaja menggantung omongannya karena dia tahu jika diteruskan tak akan cukup waktu sehari menceritakan pengalamannya mengenal internet semasa kuliah di Yogyakarta.
“Terima kasih, Ibu ...”
Pukul 13.10 Wita Diba keluar dari Aula Kampus II Uniflor disertai perasaan bahagia. Menjadi pemateri dalam berbagai seminar yang diselenggarakan oleh pihak SMP, SMA, hingga tingkat universitas, merupakan tindakan balas dendam terhadap masa remajanya dulu. Bedanya, balas dendamnya ini ... terasa sangat manis.
Anak Ende harus melek teknologi.
Anak Ende harus mampu membedakan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat sedang berselancar di dunia maya.
Anak Ende ... harus mampu menjadikan internet sebagai korban, bukan menjadi korban internet.
Mari melindas jaman!

***
Bersambung.