Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Monday, April 30, 2018

Kartini Pendidikan

Pakai kebaya dan sarung Mangga yang hanya dilipat jadi mirip rok hahaha.

Pendidikan. Bukan hanya guru (di sekolah) atau dosen (di universitas atau perguruan tinggi) atau guru agama yang punya peran penting dalam dunia pendidikan. Setiap orang berperan dalam dunia pendidikan. Manusia yang lebih tua mendidik yang lebih muda. Manusia yang lebih cerdas mendidik yang kurang pengetahuan. Manusia yang berpengalaman mendidik yang kurang pengalaman. Tidak perlu menjadi guru atau dosen untuk kita bisa mengajarkan kepada anak muda tentang pentingnya sopan santun dalam bermedia sosial. Pun, tidak perlu menjadi seorang ulama untuk bisa mengajarkan kepada keponakan sendiri tentang shalat lima waktu, mengaji, dan sedekah.

Dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama kita memperingati tiga hari besar yaitu Isra' Mi'raj, Hari Kartini, dan Hari Pendidikan Nasional (besok, 2 Mei). Sedikit intermezo, saya ingin bercerita tentang Hari Kartini yang telah kita peringati minggu kemarin. Tanggal 21 April 2018 saya diundang sebagai pembicara dalam salah satu program RRI Pro 1 Ende. Tema program itu adalah tentang perempuan, jaman digital, dan melawan hoax. Karena diundang sebagai blogger, maka saya berbicara dari ranah perempuan dan ranah dunia menulis. Salah satu yang masih saya ingat waktu itu saya berkata, "Bagi saya, makna Hari Kartini adalah perempuan dan menulis. Coba kalian bayangkan kalau dulu Kartini tidak menulis surat, mana kita tahu apa yang dipikirkan dan dirasakannya? Surat-surat itu menjadi warisan untuk kita semua, Kartini masa sekarang dan Kartini masa depan. Maka, menulislah."

Agak lebay ya saya haha.

Karena saya tipe orang yang kalau bicara sering tidak terstruktur alias bisa lebar ke mana-mana, maka bekal berbicara di radi sore itu saya ketik dan print-kan. Ini dia tips melawan hoax dari saya.
BAGAIMANA MELAWAN HOAX?

Yang pertama: CEK-RICEK BERITA.
Ketika ada berita bernada provokasi yang melintas di lini Facebook, saya cek dulu itu situsnya terpercaya atau tidak? Meskipun tidak semua media besar bisa kita percayai. Tapi jika berita yang sama juga dimuat di lima situs terpercaya lainnya, saya pasti akan mempercayai berita tersebut, berdasarkan sumber data yang ada. Contoh: berita tentang anak kambing berkepala dua. Berita seheboh itu pasti bakal ramai juga di media besar, jadi saya bakal cross check dulu baru ikut bagikan. Tapi kalau tidak, ya saya tinggalkan. Yang saya herankan, di Twitter itu jarang ada berita hoax, mungkin karena saya memang hanya mem-follow media terpercaya, jadi soal berita lebih enak memang lihat di Twitter ketimbang Facebook.

Yang Kedua: TIDAK IKUT MEMBAGIKAN.
Mungkin teman-teman bisa melihat, bahwa status Facebook saya jauh dari berita-berita yang kurang berfaedah. Karena, menurut saya, dengan kita membagikan berita hoax ditambahi tulisan “jangan percaya, ini berita hoax” pun, kita sudah bikin berita hoax itu tersebar ke ribuan teman Facebook kita, misalnya. Yang belum tentu semuanya paham dengan maksud kita.

Yang ketiga: MELAPORKAN.
Melaporkan. Kalau kita sudah corss check dan ternyata itu benar-benar hoax, tidak usah ikut dibagikan dengan komentar macam-macam, cukup melaporkan pada Facebook, misalnya. Atau bisa melaporkan berita atau link-nya. Untuk media sosial Facebook, gunakan fitur Report Status dan kategorikan informasi hoax. Jika ada banyak aduan dari netizen, biasanya Facebook akan menghapus status tersebut. Saya pernah dimintai bantuan oleh Ilham Himawan untuk melapor di Facebook terkait membuatan akun palsu yang memakai nama dia dan foto profilnya memakai foto yang sama dengan akun Ilham yang asli. Tidak perlu menunggu waktu lama, Facebook langsung menghapusnya.

Untuk Google, bisa menggunakan fitur feedback untuk melaporkan situs dari hasil pencarian apabila mengandung informasi palsu. Twitter memiliki fitur Report Tweet untuk melaporkan twit yang negatif (provokasi, hoax, dan lain sebagainya), demikian juga dengan Instagram. Tapi secara umum semua orang yang pakai internet boleh melapor konten negatif seperti yang tersebut di atas kepada aduankonten@mail.kominfo.go.id

Yang Keempat: MENJADI HOAX BUSTER.
Melawan hoax itu sebenarnya mudah; yaitu dengan menjadi HOAX BUSTER. Bagaimana caranya kita bisa menjadi HOAX BUSTER? Ya, dengan menjadi jurnalis warga yang menulis tentang kebenaran. Orang menulis Danau Kelimutu ada di NTB misalnya, kan hoax itu. Caranya kita membalas tulisan itu menggunakan data dan fakta bahwa Danau Kelimutu ada di NTT tepatnya di Kabupaten Ende. Itu artinya kita sudah menadi hoax buster. Menjadi hoax buster itu paling baik kalau kita berada pada dua tangga teratas dari TEKNOGRAFI SOSIAL.Ada sebuah buku berjudul LINIMASSA: PENGETAHUAN ADALAH KEKUATAN, Nukman Lutfie menulis tentang Tangga Teknografi Sosial. Tangga Teknografi Sosial ini diperkenalkan oleh Forester Research. Di dalam buku itu Nukman menulis bahwa: Salah satu sisi positif social media seperti blog, Facebook, dan Twitter adalah menguatnya fenomena jurnalisme warga. Pertengahan tahun Duaribuan, blog melahirkan lebih dari sejuta blogger Indonesia, yang begitu aktif menulis apa pun di blog masing-masing dan rajin memberi komentar di blog teman-temannya. Tiba-tiba, jurnalisme warga, yang sebenarnya bukan barang baru di radio, menguat di dunia maya. Dan, tanpa bisa ditahan, kian meledak dengan semakin popularnya Facebook dan Twitter. Tutup tahun 2010, pengguna Facebook di Indonesia tembus angka tigapuluh dua juta dan Twitter sekitar sepuluh juta pengguna.
Tapi pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana kita menjadi bermakna di lautan jutaan pengguna blog, Twitter dan Facebook? Bagaimana kita tidak sekadar menjadi blogger, pengguna Facebook, Twitter dan media sosial lainnya? Bagaimana kita bisa memberikan kontribusi positif, membrandingkan diri menjadi jurnalis warga yang dikenal dan diakui di bidangnya, lalu mendapat benefit yang layak?

Nukman Luthfie menjelaskan tentang Tangga Teknografi Sosial yang diperkenalkan oleh Forester Research. Di tangga teratas, ada golongan yang disebut sebagai Creator. Ciri utamanya adalah memiliki blog atau website pribadi yang rajin diperbarui serta membuat dan meng-upload audio atau video karyanya ke blog dan website. Bisa ke Youtube juga misalnya. Khusus untuk Indonesia ciri ini bisa disederhanakan menjadi: memiliki blog dan rajin memperbaruinya.

Di anak tangga kedua ada Conversationalist. Mereka adalah para pengguna Facebook dan Twitter yang rajin menulis status. Meski bukan Creator, mereka cerewet. Apa pun mereka tulis di status, mulai dari barang yang mereka konsumsi, diri sendiri, hingga urusan kantor. Kalau boleh saya tambahkan dari tulisan Pak Nukman ini, urusan buang angin pun mereka tulis di Facebook dan Twitter.

Kita lanjut pada anak tangga ketiga yaitu Critics, yaitu orang-orang yang tidak punya blog, tidak meng-update status di Facebook dan Twitter, namun mengomentari blog atau tulisan orang lain.

Berikutnya adalah Collectors. Collectors adalah orang-orang yang menggunakan RSS, dan memanfaatkan tag.

Di tangga berikutnya ada Joiners. Joiners ... ini orang-orang yang menurut saya lucu juga. Mereka hanya sekadar bergabung ke jejaring sosial.

Berikutnya ada Spectators. Orang-orang yang membaca informasi di jejaring sosial tapi tidak mempunyai akun.

Dan yang terakhir Inactive.

Namun hanya dua tangga teratas yaitu Creators dan Conversationalist yang berperan besar dalam mempengaruhi publik atau konsumen pada umumnya mengambil keputusan. Oleh karena itu, jika ingin membangun citra diri dan bermakna di media sosial, syarat utamanya adalah harus berada di tangga teratas yaitu memiliki blog atau website pribadi, lantas menggunakan Facebook atau Twitter untuk penyebarannya.

Dan, menurut saya, jika ingin menjadi hoax buster, jadilah Creators dan Conversationalist. Terutama sih menjadi Creators. Dengan menjadi Creators, kita ditantang untuk menulis konten sendiri, yang berdasarkan fakta dan data, bukan asal bunyi. Jika ada berita hoax, kita lawan dengan konten yang kita tulis sendiri.

Selain itu, ijinkan saya bercerita tentang peringatan Hari Kartini di Universitas Flores pada Senin, 23 April 2018 kemarin. Semua dosen dan karyawan Universitas Flores yang perempuan wajib mengenakan kebaya dengan bawahan berupa tenun ikat (tidak mesti tenun ikat asli Ende). Yang hebat menurut saya bukan hanya karena Pembukaan UUD 1945 selalu diucapkan (bukan dibaca, kami memang diwajibkan menghafal Pembukaan UUD 1945) tetapi juga penggerek benderanya! Tiga perempuan cantik: Stevin, Vera, Ryan, mengenakan kebaya dan menggerek bendera dengan sempurna. Biasanya setiap Senin pagi yang bertugas adalah bapak-bapak sekuriti. Saya terharu melihatnya. Apalagi amanat Pembina Upacara waktu itu, Mama Emmi Gadi Djou, sangat mengena di hati. Terimakasih kepada semua perempuan yang ada di Universitas Flores. Kalian hebat, kalian adalah Kartini Pendidikan.




 
Universitas Flores, sebagai universitas pertama di Pulau Flores yang masih berdiri gagah dan terus berkembang, adalah gudangnya Kartini hebat. Mereka, Kartini Pendidikan yang sangat berdedikasi dalam bidangnya, dan punya visi yang besar seiring visi Universitas Flores yaitu menjadi mediator budaya. Visi Universitas Flores ini sudah jelas dapat kalian pahami, bahwa dunia pendidikan akan menjadi tempat pendidikan karakter anak yang mumpuni jika bersinergi dengan budaya. Harmoni.

Masih tentang Kartini Pendidikan. 



Bagi saya Amak (Mama, Mamatua) adalah Kartini Pendidikan yang patut saya sayangi dan hormati. Menjadi seorang guru di usia 16 (enambelas) tahun, penuh lika-liku menghadapi karakter murid dan teman guru, pernah mengajar di kampung dimana tanah becek dan kaki penuh lumpur adalah hal yang tidak boleh disesalkan, kemudian mengantarnya menjadi seorang kepala sekolah dan guru teladan. Selain menjadi guru, Amak juga menjadi mentor bagi ibu-ibu di sekitar lingkungan sekolah yang pada sore-sore tertentu akan datang ke rumah kami untuk belajar memasak, menjahit, dan mengetik (karena Bapa saya punya tempat kursus mengetik dan kursus akuntansi bernama Sapta Indria). Gratis! Pendekatan mengajar Amak pada murid-murid SD dan ibu-ibu sangat jauh berbeda. Salut saya pada Amak. Hehe. Tidak heran Amak begitu dicintai oleh orangtua atau wali murid di lingkungan sekolahnya, ya ibu-ibu itu!

Setelah pensiun pun Amak masih mengajari bocah di kompleks rumah kami. Karena usia para bocah itu bermacam-macam dan beda kelas, maka Amak mengajar mereka sesuai dengan kemampuannya. Misalnya si Melly bertanya soal PR Matematikanya, tentu tidak akan sama dengan Chika yang belajar tentang nama-nama bunga atau nama-nama pahlawan. Kadang-kadang saya nimbrung mengajarkan para bocah itu bahasa Inggris. Mereka antusias, mereka gembira, kami pun gembira. Tapi saya tidak akan bisa menjadi seperti Amak, seorang guru teladan. Mana mungkin ... meskipun sering mengajar, terkhusus mengajari blog serta konten (menulis kreatif), saya tidak akan pernah bisa menyamai Amak.

Masih banyak Kartini Pendidikan di lingkungan sekitar kita baik itu di lingkungan keluarga, lingkungan rumah, lingkungan kantor, lingkungan pergaulan, dan lain-lain. Mereka, Kartini-Kartini yang berjuang untuk mendidik orang lain agar dapat kelak menjadi lebih berguna bagi orang lainnya lagi. Mereka tidak perlu diulas majalah ternama, diwawancarai host program teve, atau diberi penghargaan setinggi langit. Mereka sudah sangat puas dan bahagia jika melihat kerja keras mereka berbuah baik. Misalnya, orangtua pasti sangat bahagia melihat kesuksesan anak-anaknya, guru akan puas melihat kesuksesan anak didiknya, atau saya akan puas melihat orang-orang yang belajar membuat blog itu pada akhirnya rajin menulis untuk konten blog. Mungkin pula Bapa saya yang sudah di 'langit' itu pun tertawa bahagia melihat anak didiknya dulu kini telah membuka lapangan pekerjaan sendiri.

Selamat Hari Kartini (yang telat).

Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Kita hebat.



Cheers.

Sunday, April 29, 2018

Triplet ~ Part 6




Triplet adalah tulisan lawas saya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena ceritanya lumayan absurd. Saya memutuskan untuk menerbitkannya di blog, part demi part. Karena keabsurdannya, komentar kalian tidak akan saya tanggapi kecuali buat lucu-lucuan. Ini bukan pembelaan diri, ini bela diri dengan jurus menghindar. Selamat membaca Triplet.

***

PART 6





“... kenapa mereka terus mencari black box? Mereka kan bisa meminta bantuan ...”
“Kau pikir dunia kita yang hina dina ini mau percaya begitu saja sama kemampuan supernatural macam begitu?”
“Tapi ... kemampuan itu ... bisa membantu ...”
“Seandainya ... seandainya saja ... kemampuan itu juga bisa membantu The Big Spirit, nama yang kau berikan pada kami ...”
“Tidak. Dunia bekerja dengan cara yang sangat misterius.”
“Hah! Itu lagi jawabannya.”

Molekul-molekul itu bergetar. Mereka hidup. Energi mereka dihasilkan oleh elektron-elektron atom yang berputar. Segalanya terekam, tersimpan, menunggu saat yang tepat untuk meledak dalam keberdayaan yang tidak disengaja. It’s a gift. Menurut Kakek Ucup, Embu Rembotu lah pusat dari semua kemampuannya. Menurut ilmu dunia dan agama, semua kemampuannya adalah pemberian Allah SWT. It’s a gift! Kemampuan ini, apakah anugerah atau malapetaka, semakin lama tidak saja semakin kuat namun juga membelah diri.
Dia ingin berkelana, kali ini atas kemauan sendiri, melewati lorong waktu, pusaran-pusaran hitam, tersedot ke tempat-tempat baru, bertemu segala keterasingan, atau menyaksikan episode demi episode yang tersimpan, membisu, dan—bisa jadi—membusuk. Kadang-kadang ketika dia terpaksa berjalan, telapak kakinya merintih di atas kerikil, atau lumpur sedingin es ... menyertakan kebekuan.
Sepanjang usia dia dipaksa untuk mencari tahu, dan mengetahui, rahasia-rahasia paling kelam. Kali ini dia memaksa dirinya sendiri untuk mencari tahu. Pertemuan pertamanya dengan laki-laki berparas rupawan itu telah meninggalkan bongkahan penasaran. Seperti bola salju yang berguling; kian lama kian membesar. Semakin banyak misteri muncul dan dia memaksa diri sendiri untuk tahu lebih dalam. Sayangnya dia tidak sanggup menelusuri misteri ini setiap hari karena energinya terkuras atas pemaksaan orang lain. Dia hanya merenggut potongan-potongan gambar yang masih sulit didefenisikan.
Kemarahan laki-laki itu. Saya harus bertemu dengan dia lagi. Malam ini ... mungkin? Atau minggu depan? Pantulan duka perempuan itu. Saya juga harus bertemu dengannya.
“Kak!” Ucup mengibas tangan di depan wajah Atha. “Aaaah ... ngelamun lagi.”
“Kau yakin saya sedang ngelamun?”
Ucup manyun. “Sampai kapan kita tunggu di sini, Kak? Apa tidak ada tempat lain yang lebih keren?” dia menatap jalanan yang sepi. Sesekali tatapannya mengikuti langkah turis menuju Rumah Makan Khalilah yang menyediakan makanan khas Ende seperti wa’ai ndota, alu ndene, ika soa, rumpu-rampe, jagung bose, dan lain-lain.
“Sampai orang itu datang,” jawab Atha, memerhatikan relief para pejuang kemerdekaan di bagian bawah Monumen Pancasila, Simpang Lima.
“Siapa sih, Kak?”
“Nanti juga kau tahu.”
“Saya pernah kenal dia?”
Atha menggeleng. “Belum.”
Sepanjang usia dia bertemu dengan beragam karakter manusia. Ada tipe malu-malu, ada tipe malu-maluin. Ada tipe sopan dan pandai memilih kata, ada pula tipe blak-blakan dan tidak sabaran seperti adiknya yang saat ini dengan tidak rela mengantar sekaligus menemaninya menunggu seseorang. Cukup kenyang dia belajar karakter manusia. Cukup kenyang pula dia terseret arus emosi yang berbeda-beda, dari satu peristiwa ke peristiwa lain, dari satu masa ke masa lain, dari alam nyata ke alam mimpi. Jika Ndoriwoi berani sebrangi lautan dan melanggar perbatasan maka Atha, sengaja sebrangi dimensi untuk mencari jawaban dari segala keingintahuan.
Dulu, pertama kali dia bertamu ke alam mimpi, dia bertemu Kakek Ucup. Malam itu adalah malam ke-7 setelah pertemuan pertamanya dengan perempuan dalam hujan; tujuh hari setelah dia mengetahui rahasia benda-benda mati. Dia ingat pertanyaannya pada si Kakek.
“... mereka macam batu.”
“Kau mae—jangan paksa. Biar suda—sudah.”
“Kenapa cuma mereka lima, Kek?”
“Itu misteri Allah SWT.”

Sepanjang usia dia terus mencari jawaban tentang pelindung itu—jika memang ada—sehingga kemampuannya mental seumpana melempar bola pingpong ke tembok. Dia menamai kelompok kecil itu The Big Spirit, orang-orang yang tidak bisa ditembus.
“Kenapa kau tidak bisa menembusi kami? Kenapa?”

Seandainya bisa, dia pasti menjawab. “Keparat, saya belum punya jawabannya ...”
“Apa, Kak?” tanya Ucup.
Atha terkejut. “—oh. Tidak apa-apa.”
Jemari Ucup mengetuk kemudi X-Trail. Dia ragu. Apakah sekarang waktu yang tepat untuk bertanya? Dia juga bingung jawaban apa yang akan dia berikan pada Pak Firman. Haruskah dia jujur? Atau memberikan kesempatan Pak Firman bertemu Atha—kakaknya, si penggemar Toothless?
Pelan, Atha memukul pundak Ucup hendak bertanya tentang kepergian Mira bersama laki-laki itu ke Maumere namun dirinya justru tersedot. “Siapa Pak Firman, Cup?”
Ucup menoleh. “Aaah! Kakak! Jangan suka pegang-pegang tanpa aba-aba begitu!”
“Siapa dia?” tuntut Atha.
Ucup menimbang-nimbang. “Nanti lah baru saya cerita.”
“Kenapa tidak cerita sekarang saja?”
Ucup menoleh, menatap wajah kakaknya lekat-lekat. “Dia pegawai baru di kantor, baru dimutasi dari kecamatan ke kabupaten. Tingkahnya sedikit aneh.”
“Aneh bagaimana?”
“Sering bicara sendiri. Kadang dia geleng-geleng kepala tanpa sebab. Pokoknya aneh lah, Kak!” Ucup membayangkan wajah brewokan Pak Firman. “Sebelum liburan Natal kemarin dia minta ketemu Kakak.”
“Terus ...?”
Ucup memonyongkan bibir. “Tuh ... macamnya tamu Kakak sudah datang.” Mata Ucup menangkap sosok perempuan berhijab warna merah muda mendekati X-Trail. Dia tidak menyesal telah sekian lama menunggu.
“Ah ...” desah Atha, masih ingin mendengar cerita Ucup.
Subhanallah, cantiknya ...” seru Ucup. Wajahnya berseri-seri.
“Pikir yang positif, Cup. Sudah punya suami.”
Mata Ucup terbeliak. “Semuda itu?” dia menebak usia perempuan berhijab warna merah muda itu setidaknya berusia duapuluh tahun.
“Semuda itu dia juga harus terima perlakuan tidak adil dari suaminya.”
Such as? Dianiaya?”
“Suaminya gay.”
Gay. Gay itu ...”
“Laki doyan laki.”
“Ya saya tahu, Kak. Tapi ...”
Atha membuka pintu mobil. “Halo, Wati. Ayo, masuk.”
Perlahan X-Trail membelah Jalan Ahmad Yani menuju barat. Ucup mengemudi dengan pikiran dipenuhi pertanyaan.
Kalau gay, kenapa dulu menikahi perempuan cantik ini? Untuk tujuan apa?



***
Bersambung.


Saturday, April 28, 2018

Ekowisata di Taman Nasional Kelimutu


Apa kunci seseorang bisa menulis dengan baik meskipun tidak selalu benar? Membaca. Banyak! Tidak cukup seratus. Tak terhingga kata, kalimat, paragraf, buku, yang dibaca untuk bisa menjadi pedoman dan bekal menulis dengan baik. Ya, membaca itu mudah dan sangat berfaedah, namun tidak banyak orang suka melakukannya. Padahal, membaca bukan pekerjaan berat seperti mencangkul sawah, menjinakkan bom, atau menganalisa perilaku manusia pada jaman digital. Sungguh sangat saya sayangkan jika masih ada kaum muda yang jarang membaca (dan menulis). Jangankan menulis skripsi, tesis, dan disertasi yang butuh banyak literasi, menulis novel pun harus ada literasinya, informasi dasarnya, dan lain sebagainya. Oleh karena itu saya mengatakan; novel adalah gabungan antara fiksi dan non-fiksi.

Beberapa bulan terakhir, saya tidak ingat tepatnya, karena sesuatu yang penting, maka saya membaca sebuah buku (disertasi) yang ditulis oleh Dr. Josef Alfonsius Gadi Djou. Disertasi tersebut berjudul “Ekowisata Berbasis Masyarakat di Taman Nasional Kelimutu Kabupaten Ende”. Pak Devi, demikian kami memanggil beliau, adalah dosen pada Fakultas Ekonomi di Universitas Flores sekaligus Kepala Pusat Studi Pariwisata Universitas Flores. Mendapat kesempatan membaca disertasi tersebut seakan menyuntik nutrisi lengkap ke dalam otak saya tentang konsep ekowisata dan Community Based Tourism (CBT) atau kita sebut pariwisata berbasis masyarakat. Analisis SEM yang digunakan di dalam penelitian ini termasuk mengukur keterlibatan masyarakat lokal dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pelestarian.

Dari disertasi tersebut saya jadi tahu konsep ekowisata dan CBT yang mengajak masyarakat untuk lebih berpartisipasi dalam dunia pariwisata. Puluhan literasi mendukung penelitian tersebut. Wawancara tidak saja dilakukan dengan pengelola (pemerintah) Taman Nasional Kelimutu tetapi juga dengan masyarakat desa penyangga Taman Nasional Kelimutu, dan wisatawan yang berkunjung ke sana (pandangan responden). Selain itu, penelitian ini juga mengutarakan tentang Taman Nasional Kelimutu itu sendiri seperti bentuk dan kondisi atraksi budaya masyarakat, atraksi alam, atraksi flora dan fauna, dan atraksi buatan. Salah satu bentuk atraksi buatan yang ada di Taman Nasional Kelimutu adalah Desa wisata, Arboretum, Insektarium, Herbarium, Agro-ecotourism, dan Rumah Pesanggrahan Belanda. Jujur, saya sendiri belum pernah ke Arboretum-nya, hehe. Nanti kalau ke Danau Kelimutu lagi, saya harus tiba di Arboretum ini.

Atraksi buatan ini mengingatkan saya pada salah satu seminar yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Pariwisata. Dalam Seminar Nasional bertema Melestarikan Budaya Lokal Sebagai Aset Pariwisata, dengan pemateri Dr. Bambang Suharto, M.M.Par. tersebut disinggung soal atraksi buatan ini. Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu Persada Agussetia Sitepu menceritakan tentang ledakan pengunjung saat hari libur tiba. Pak Bambang menyarankan dan menjelaskan tentang pembagian pengunjung agar tidak semua pengunjung secara serentak menuju Danau Kelimutu dan agar pengunjung tidak terlalu lama berada di Danau Kelimutu (untuk memberikan kesempatan pada pengunjung lainnya) dan menghabiskan lebih banyak waktu di lokasi atraksi buatan ini. Setidaknya yang saya tangkap dari omongan Pak Bambang adalah lokasi atraksi buatan harus dibuat ramah terhadap keluarga dan anak-anak, yang dilengkapi dengan rest area (meja kursi tempat duduk mengaso dan makan, permainan anak yang sederhana, kamar mandi, tempat ibadah, dan lain sebgainya) yang memadai, agar pengunjung betah.

Kembali pada disertasi “Ekowisata Berbasis Masyarakat di Taman Nasional Kelimutu Kabupaten Ende”, hasil analisis SEM, wawancara, dokumentasi, dan observasi, agak mengejutkan saya. Ternyata tidak semua kegiatan di lingkungan Taman Nasional Kelimutu (perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pelestarian). Padahal partisipasi masyarakat dalam ekowisata dan CBT merupakan elemen dasar. Kalau pelaksanaan, menurut saya, masih melibatkan masyarakat, salah satunya saya lihat dalam ritual Pati Ka Ata Mata (memberi makan orang mati/leluhur) yang dilaksanakan setiap pertengahan Bulan Agustus (masuk dalam kalender wisata/festival Kabupaten Ende).

Pendapat pribadi saya sebagai wisatawan yang berkali-kali berkunjung ke Danau Kelimutu adalah bahwa tujuan pergi ke Danau Kelimutu ya hanya untuk berada di puncaknya, melihat tiga kawah, foto-foto, dan pulang. Sepanjang perjalanan dari percabangan Moni - Danau Kelimutu sampai ke Danau Kelimutu, hanya ada Desa Agrowisata Waturaka saja yang ditandai dengan sepeda kayu raksasa. Bagaimana dengan masyarakat dari desa-desa lain di sepanjang jalan itu? Padahal ada persawahan dan perkebunan subur yang bisa dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat mengaso para wisatawan. Apa saja yang bisa dilakukan masyarakat di desa yang letaknya di pinggir jalan untuk menjadikan desa mereka juga diminati wisatawan selain Danau Kelimutu dan Desa Agrowisata Waturaka?

1. Saung Pinggir Sawah

Wisawatan bakal senang duduk mengaso di saung pinggir sawah yang adem itu sambil menikmati jagung rebus dan moke putih. Apalagi kalau ditambah dengan ikan asin dan ngeta. Sadap parskali lah itu. Konsep ini ada di beberapa wilayah di sekitar Kota Ende seperti di saung jagung KM 14.

2. Atraksi Bajak Sawah

Saat musim tanam padi, masyarakat bisa menjadikan kegiatan membajak sawah sebagai atraksi wisata yang menggiurkan. Wisatawan boleh membajak sawah (dengan kerbau) dan ditarik tarif Rp 20.000 per orang. Nando Watu, sahabat saya di Detusoko yang aktif dalam komunitas RCM Detusoko, sudah melakukannya. Kalau tidak salah waktu itu ada turis dari Jepang yang ikut keluarganya Nando membajak sawah menggunakan tenaga kerbau. Tentang sosok Nando Watu yang emezing bakal saya bahas di lain pos ya. Panjang soalnya. Hahaha.

3. Atraksi Menenun dan Menganyam

Tenun ikat merupakan salah satu cinderamata khas daerah NTT yang saya pandang sebagai hasil budaya yang disebut karya jenius. Masyarakat desa bisa menyiapkan saung tempat para ibu menenun. Yang mau menonton dan bertanya-tanya boleh ditarif tarif, apalagi yang mau mencoba ikut menenun. Kan asyik tuh. Kalau ada yang macam begini, saya orang pertama yang bakal coba hahaha. Selain tenun ikat, bisa juga atraksi menganyam daun pandan/lontar menjadi weti (kotak anyaman) yang oleh masyarakat biasa digunakan sebagai tempat menyimpan sirih pinang. Dijadikan tas selempang juga bagus loh.

Dan masih banyak hal lain yang bisa dimanfaatkan masyarakat lokal untuk memperkenalkan budaya lokal kita, yang berpotensi ekonomi (menghasilkan keuntungan). Yang saya tulis (3 poin) di atas mungkin ada, tapi tidak di pinggir jalan dan bukan atraksi harian (terkhusus poin 1 dan 3).

Itu ide saya pribadi, berdasarkan pengalaman dan pengamatan setiap kali pergi ke Danau Kelimutu. Lempeng-lempeng saja sih jalanan sepanjang cabang jalan hingga puncak Danau Kelimutu. Kita hanya melihat beberapa penduduk lokal berjualan jagung rebus, kacang rebus, dan cemilan pabrik, di depan tempat penjualan tiket. Tapi tidak di sepanjang jalannya. Padahal, setahu saya, banyak orang berusaha bukan karena produknya saja melainkan karena lokasinya. Oleh karena itu saya sering dengar orang bilang, "kafe itu sih bukan jual makanan tapi lokasinya". Karena secangkir kopi bisa kita seduh di rumah, tapi secangkir kopi dan pemandangan alam matahari terbenam, belum tentu tersaji di ruang tamu rumah kita.

Menurut kalian yang pernah datang ke Danau Kelimutu, apa lagi yang bisa dilakukan masyarakat lokal sepanjang jalan itu untuk menarik minat wisatawan terhadap desa mereka?

Setelah disertasi milik Pak Devi, saya jadi pengen membaca disertasi lainnya oleh para doktor di Universitas Flores. Saya rasa, semua disertasi (dan tesis) wajib untuk dibaca karena mengandung banyak informasi dan ilmu untuk memperkaya wawasan kita. Tentu hal itu harus didukung pula dengan pengalaman pribadi kita agar bisa melihat dan tahu perbedaannya, dan mungkin memberikan saran tertentu.

Selamat berakhir pekan!



Cheers.

Friday, April 27, 2018

#PDL Videoklip Buat Bulog Idol

Selesai ngesyut di sini, foto-foto dulu donk, hehe.

#PDL adalah Pernah Dilakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini, terutama tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***


Suatu hari seorang penyanyi ternama Kota Ende mendatangi saya. Perempuan imut berambut kriwil dan bersuara emas itu meminta bantuan saya untuk membikin video yang bakal diikutsertakan dalam Bulog Idol 2017. Saya bukan videografer profesional, hanya sekadar hobi saja. Dan hobi itu yang membikin saya langsung meng-iya-kan ketika Flora Wodangange meminta bantuan membikin video klip lagu yang dia nyanyikan untuk diikutsertakan pada seleksi awal Bulog Ido tersebut. Yay! Kerja kreatif lagi kite. 

Proses syuting video perkenalan dilakukan di empat lokasi. Di Kantor Bulog Ende, di Gudang Bulog Ende, di Situs Bung Karno, dan di Pantai Ria. Usai syuting di Situs Bung Karno, foto-foto dulu donk (lihat gambar di atas) hehe. Tapi yang utama bukan pada video perkenalan tersebut melainkan pada video klipnya itu sendiri. Duileeeeh.

Syuting video klipnya di beberapa lokasi juga. Di Mokka Coffee, di Pantai Mbu'u dekatnya Taman Firdaus, dan di Pelabuhan Bung Karno tempat kontainer ngetem. Tiga lokasi itu menurut saya bolehlah dimanfaatkan untuk latar video klipnya Oya (nama panggilan Flora) dan langsung di-iya-kan. Senangnya bekerja dengan penyanyi profesional adalah urusan wardrobe, make up, dan asesoris dia urus sendiri sehingga saya bisa lebih fokus pada proses syutingnya saja. Kan asyik kalau begini. Apalagi dia juga tidak perlu diarahkan terus-menerus karena sudah biasa di depan kamera.

Tidak perlu menjelaskan lebih jauh tentang proses syuting apalagi editing yang bikin kepala rada sakit, kalian bisa langsung lihat videonya. 

Song : Give Me One Reason to Stay Here
Singer: Tracy Chapman
Song cover by Flora Wodangange (For Bulog Idol)
Music by Noel Fernandez
Video by Tuteh Pharmantara

Bagaimana?
Sudah nonton?
Suaranya kece badai kan?

Di dalam video kalian bakal lihat seorang pria. Namanya Yoyok Purnomo, partner paling asyik kalau siaran di Radio Gomezone (dulu). Awalnya bukan Yoyok, melainkan Rikyn Radja si koreografer paling kesohor se-Ende bahkan NTT. Tapi karena Rikyn sedang ada kegiatan, akhirnya Yoyok lah yang jadi pria di dalam video klip ini ... eh jadi kalau bukan di video klip Yoyok itu perempuan? Hahaha. Maaf, Yok ... becanda. Yang jelas menyenangkan sekali bisa kerja sama dengan mereka semua.

Videonya biasa saja, tidak seperti ekspetasi orang lain tentang video klip itu, tapi setidaknya bisa lah diikutkan dalam seleksi awal Bulog Idol, dan ternyata lolos. Senangnya hati saya mendengar berita itu dari Oya. Oya pun berangkat ke Jakarta untuk mengikuti Bulog Idol. Meskipun tidak juara satu, tapi Oya telah memberikan yang terbaik saat tampil. Itu lah yang menjadi kebanggaan kami, Orang Ende. Bahwa kami juga bisa tampil di ajang nasional, bersaing dengan yang lainnya. Kalau kata teman saya, Orang NTT itu dengus nafasnya saja sudah merdu, apalagi kalau nyanyi.

Nah, siapakah Noel Fernandez? Dia adalah musisi Kota Ende, gitaris yang juga jago main keyboard. Dia adalah partner saya waktu dulu ngeband sama Cendaga Band. Kita sering nongkrong bareng, tiap hari malah, buat ngegitar atau bikin lagu. Waktu Cendaga Band bubar, saya dan Noel tetap berkarya lewat duo Notes (Noel and Tuteh Side Project). Album pertama kita tidak laku di pasaran karena memang tidak dijual bebas hahaha. Hanya untuk kalangan tertentu. Video klip di album pertama itu pun merupakan video klip paling kacau sedunia karena dibuat asal-asalan. Waktu itu saya belum terjun ke dunia videografi, hanya sekadar haha hihi geli-geli perut saja. Bagi saya, Noel dan Alimin bak saudara kandung yang paling paham apa mau saya dalam bermusik. Padahal kalau nyanyi pun suara saya ngepas banget kalau tidak bisa dibilang terlalu dipaksakan *ngakak guling-guling*

Pernah. Saya pernah begitu ... dan saya menikmatinya karena apalah artinya hidup jika tidak berkarya :)


Cheers.

Thursday, April 26, 2018

5 Media Sosial Pilihan

Gambar diambil dari sini.

Media sosial berarti media atau tempat bersosialisasi. Bermedia sosial artinya kita bersosialisasi dengan orang lain menggunakan media-media yang ada di internet. Media-media tersebut tentu saja rata-rata gratis sehingga kadang satu orang punya lebih dari satu akun media sosial; akun pribadi, akun jualan, atau bahkan akun siluman. Untuk apakah akun siluman itu? Biasanya untuk hal-hal yang kurang berfaedah, misalnya kepoin akun mantan, dijadiin akun kontroversi yang pos-nya bernada provokasi, atau buat ngerjain orang lain. Saya sendiri punya lebih dari satu akun media sosial Facebook dan Twitter. Kalau di Facebook, akun selain akun utama itu digunakan untuk ngajar-ngajar media sosial blog dan media sosial. Kalau di Twitter, itu jelas akun buat jualan tokotuteh. Saya pernah ngajarin bapak-bapak petani kakao tentang e-mail, media sosial Facebook dan Twitter, juga blog.

Sebenarnya geli juga menulis ini, tapi kok pengen. Jadi ditulis saja lah ketimbang ditahan-tahan nanti sembelit. Masih ada hubungannya sama pos kemarin soal lima kehebohan di Facebook, maka hari ini saya pengen menulis soal lima media sosial pilihan (saya) seandainya ada akun yang diblokir karena terjadi kebocoran data, atau pemerintah Indonesia benar-benar memblokir Facebook, atau seandainya akun kalian diblokir oleh pihak Facebook sendiri karena jarang aktif, atau seandainya yang lain ... yang belum sempat saya pikirkan. Bukan perkara maha dahsyat jika tidak lagi dapat menggunakan Facebook, bagi saya, karena setiap hari saya tidak hanya bermain-main di ranah sejuta umat itu, tapi juga di media sosial lain seperti Twitter dan blog ini, misalnya. Iya, blog itu konon merupakan media sosial sedangkan Facebook dan Twitter sering disebut micro-blog. Entahlah, karena bukan saya pencetus istilah-istilah itu. Lagipula pengunjung blog terbanyak saya bukan dari Facebook melainkan dari Twitter dan G+. Sudah saya buktikan dengan cara membagikan link pos blog. Jadi, kita harus pandai tes pasar.

Oke, tidak berpanjang-panjang kalimat, berikut ini lima media sosial pilihan saya yang bisa kalian coba sekarang juga. Jangan hanya bergantung pada Facebook ya ... kata orang kalau sudah kecanduan sama satu produk, bisa bahaya kalau produk itu mendadak ditarik dari peredaran. Kalian bisa sakau. Kalau sudah sakau, pasti galau.

Cekidot, yuk.


1. Twitter

Twitter adalah salah satu media sosial, atau jejaring sosial (mikro blog dalam jaringan) yang didirikan oleh Jack Dorsey. Sebelum marak kubu-kubuan di Indonesia yang kalian tahu persis apa maksud saya, bagi saya Twitter merupakan media sosial paling menyenangkan karena banyak twit bermutu yang meningkatkan intelejensia. Semacam nutrisi otak. Bahkan hanya dari kicauan di Twitter, manusia bisa menolong sesamanya melalui penggalangan bantuan bagi korban bencana alam, dan lain sebagainya. Hal ini sudah saya buktikan sendiri bertahun-tahun lampau.

Bagi kalian yang sudah biasa menggunakan banyak media sosial, saya yakin Twitter salah satu media sosial yang masuk agenda. Penggunaannya mudah dan kalau mengikuti banyak akun (following), linimassa bakal terus bergerak setiap kali ada twit baru. Yang menyenangkan dari Twitter ini adalah banyaknya Kultwit tentang topik tertentu. Kultwit ditwit secara runut karena keterbatasan karakter. Beda sama Facebook yang tidak membatasi jumlah karakter pos (bahkan menyediakan Facebook's Note), Twitter punya batasan sampai 140 karakter saja. Menurut saya justru di situlah uniknya Twitter, bagaimana penggunanya dapat menulis sesuatu yang singkat, padat, jelas, tepat sasaran. Selain tulisan, kalian juga dapat berbagi foto dan video di Twitter.

Hanya saja, kekurangan Twitter dibanding Facebook adalah saat kalian membagikan pos blog, Twitter tidak menyediakan pratinjau (preview) layaknya Facebook dan G+ (yang akan dibahas nanti); tidak ada fitur otomatisnya. Tapi, kenapa banyak situs yang bisa di-preview? Ya karena kode tertentu sudah disematkan di html blog atau situs mereka. Ini bisa disiasati dengan memasukkan kode Summary Card agar blog kita terkoneksi ke Twitter. Jadi setiap kali kita membagi link pos terbaru blog, pratinjaunya kelihatan. Twit akan terlihat lebih menarik.

Apakah bisa saling komentar seperti menggunakan Facebook? Tentu saja! Kalian bisa memfavoritkan twit, me-retwit, dan mengomentari twit.

2. Google Plus (G+)

Google Plus (G+) merupakan salah satu media sosial milik Google. Konon, kabarnya G+ dirilis akibat semakin banyaknya orang mendaftar di Facebook. Media massa seperti The New York Times telah menyatakan bahwa Google+ adalah upaya terbesar Google untuk menyaingi jaringan sosial Facebook, yang telah mempunyai lebih dari 750 juta pengguna pada tahun 2011 (Wikipedia). Kalau soal ini, saya sepakat, bahwa Facebook memang media sosial sejuta umat (istilah loh ini, penggunanya tidak hanya sejuta tapi berjuta-juta). Pakai G+ bagi saya lebih cocok untuk membagikan alamat blog terutama pos baru, supaya pos kita banyak dibaca sama orang ... begitu. Soalnya salam seperti Facebook, pratinjau link pos blog kita langsung kelihatan tanpa perlu fitur atau kode khusus. Tampilannya juga menyenangkan mata; kotak berdasarka pos kita di sana. Jadi terlihat rapi.

Menurut Wikipedia, G+ diluncurkan pada 28 Juni 2011 dengan sistem undangan untuk diuji coba. Di hari tersebut, pengguna Google+ diizinkan untuk mengundang teman di atas 18 tahun, untuk membuat akun. Namun, ini segera dihentikan sehari kemudian setelah pembuatan akun semakin membeludak. G+ mengintegrasikan layanan sosial seperti Google Profile dan Google Buzz, dan memperkenalkan layanan baru seperti Circles, Hangouts, Sparks, and Huddles.

Karena miliknya Google, sekali kalian punya akun Gmail, sekalian bisa menggunakan layanan yang satu ini.

Apakah bisa saling komentar seperti menggunakan Facebook? Tentu saja! Kalian bisa memberi nilai +1 pada pos, bisa pula mengomentari.

3. Path

Ini dia media sosial yang 'agak sombong' menurut saya karena pengguna hanya boleh berinteraksi dengan 150 orang saja. Beda sama Facebook yang sampai ribuan. Beda sama Twitter yang memakai istilah follow (follower dan following) pun bisa tembus angka jutaan.  Hal ini menjadikan akun dari Path eksklusif dan menjaga privasi dari pengguna. Selain itu, kelebihan path dalam hal privasi pengguna tidak memungkinkan pengguna yang tidak disetujui untuk mengakses akun yang ada. Tidak adanya kolom iklan dan promosi lainnya menjadikan Path lebih terfokus kepada pengguna sendiri (Wikipedia). Sudah lama saya menginstal Path di smart phone, sudah lama pula saya menghapusnya. Entahlah, malas saja memakai Path meskipun banyak teman yang menggunakannya. Ini soal pilihan saja. Path salah satu media sosial yang saya rekomendasikan untuk kalian selain Twitter dan Facebook.  

Dave Morin, salah satu dari pendiri Path dan CEO dari perusahaan tersebut berkata: "Yang menjadi visi utama kami adalah untuk membuat sebuah jejaring dengan kualitas yang tinggi dan menjadikan pengguna nyaman untuk berkontribusi setiap waktu."

Berpusat di San Fransisco, California, perusahaan ini didirikan oleh Shawn Fanning dan mantan Eksekutif dari Facebook, Dave Morrin. Path didirikan dengan tujuan membuat sebuah jurnal yang interaktif bagi penggunanya. Penggunaan Path berbeda dari jejaring sosial lainnya di mana hanya pengguna yang telah disetujui yang dapat mengakses halaman Path seseorang. Status privasi dari aplikasi ini menjadikan Path lebih eksklusif dari berbagai jejaring sosial yang ada. Path dapat digunakan di iPhone, iPad, iPod Touch, dan Android versi apapun. Aplikasi ini tersebar melalui Apple Application Store dan berbagai situs aplikasi lainnya.

Apakah bisa saling komentar seperti menggunakan Facebook? Tentu saja. Tidak bisa disebut media sosial kalau tidak bisa saling komentar hehe (namanya jadi media sosatu arah).

4. Forum

Meskipun bukan media sosial, tapi bagi saya forum juga merupakan tempat untuk bersosial dengan orang lain. Di Indonesia banyak forum yang bisa kalian ikuti. Terbesar, menurut saya, adalah Kaskus. Setelah mendaftar kalian bisa mencari topik yang disukai, sekadar membaca, memberikan tanggapan/komentar, dan lain sebagainya. Di Kaskus kalian juga bisa jualan. Pernah dengar Keluarga Tak Kasat Mata? Atau bahkan sudah menonton filemnya? Filem itu diangkat dari kisah nyata salah seorang Kaskuser yang mempos kisah horornya di forum tersebut.

Saya sendiri pernah mengikuti beberapa forum. Ada Forum Blogfam, ada pula duluuuu banget Forum Blogger NTT. Kesenangan di forum adalah kita bisa mempos apapun sesuai minat dan bakat. Misalnya ada ruang cerpen, puisi, foto, utak-atik blog, keluarga, dan lain sebagainya. Saya dan tiga teman Blogfam bahkan pernah membukukan sebuah cerfet (cerita estafet) berjudul The Messenger yang diterbitkan oleh Gramedia. Keren kan? Wah, jadi kangen bikin cerfet lagi ini! #KodeKeras.
Apakah bisa saling komentar seperti menggunakan Facebook? Tentu saja. Haha. Justru itu yang ditunggu di forum-forum; komentar!

5. Blog

Orang Ende bilang, "Mau apa lai!?". Blog gitu loh. Facebook, G+, dan Twitter saja disebut mikro blog. Kenapa blog bisa disebut media sosial? Karena ada kolom komentar tempat pembaca menyampaikan pendapat mereka tentang pos/konten blog yang bersangkutan, ada pula istilah blogwalking saat kita mengunjungi blog orang lain, dan dengan demikian kita berinteraksi/bersosial dengan orang lain. Sederhananya seperti itu. Intinya adalah sama-sama membagikan sesuatu kepada orang lain lewat tulisan, foto, dan video. Selebihnya kalian bisa lihat pos blog saya hahahah *promosi*. Sekarang sudah tidak saya temui yang namanya shoutbox, biasanya widget Twitter disematkan di sidebar. Tapi dulu, blog tanpa shoutbox rasanya kurang afdol. Salah satu shoutbox terpopuler pada masanya adalah Doneeh.
 
Nge-blog itu menyenangkan dan mengasyikan loh. Semua konten blog terarsipkan dengan sangat baik, runut menurut tahun, bulan, dan tanggal, serta mudah untuk mencari pos tertentu (bahkan sudah ada di sidebar, tinggal pilih tahun dan bulan saja), atau melalui layanan search. Rasanya punya blog itu seperti punya harta karun yang terjaga dengan sangat prima. Untuk memulai sebuah blog kalian tidak perlu berpayah-payah kayak sedang macul sawah. Saya pernah membahas tentang lima layanan blog terbaik versi saya. Coba deh dibaca, siapa tahu kalian mau mencobanya, sekalian klaim nama.
Jangan galau lagi, ya. Haha. Masih banyak layanan media sosial gratis lainnya yang patut dicoba. Sebut saja Instagram, Plurk, Snapchat, Linkedin, Weibo, dan lain sebagainya. Oia, sudah pernah cobain Plurk? Apa kabarnya para Plukers? Dulu sehari tidak main Plurk rasanya dunia kiamat, soalnya di Plurk ada sistem karma. Semakin rajin kalian nge-Plurk, maka semakin tinggi karmanya. Paling tinggi 100 kalau tidak salah. Plurk juga satu-satunya media sosial dengan laman yang digeser horisontal (ke kanan-kiri), bukan vertikal (atas-bawah seperti laman media sosial umumnya), apalagi diagonal, hehe. Cobain Plurk deh, rasakan sendiri sensasinya.
Selamat mencoba ... semoga senang :D




Cheers.