Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Thursday, May 31, 2018

5 Quotes Ramadhan Unik

Gambar diambil dari sini.

Salah satu kegiatan mengisi waktu puasa seperti yang sudah saya tulis kemarin adalah nge-blog. Nge-blog ini tidak hanya menulis konten tapi juga blogwalking, utak-atik blog (ganti template), dan lain sebagainya alias browsing. Cari-cari, baca-baca, eh nemu quotes Ramadhan. Jumlahnya banyak sekali! Ada yang konvensional, ada yang unik. Yang unik ini bukan hanya kata-katanya tapi juga desainnya. Kepikiran buat bikin tapi lagi males. Hehe. Jadi dikopas saja. Selama mencantumkan sumbernya, saya pikir ini bukan plagiarisme. Klik saja tautan pada sub-judul.

Yuk dibaca, ini berfaedah.











Lima dari milyaran (nampaknya sih milyaran) hehe. Ramadhan itu tentang mengurangi dosa, bukan berat badan. Aish, betul sekali lah itu. Bobot yang berkurang adalah bonus yang diperoleh terkait fisik (kesehatan); atau kadar gula dalam darah yang berkurang karena berpuasa di Bulan Ramadhan adalah bonus. Intinya adalah ibadah puasa di Bulan Ramadhan ini adalah berkah yang harus digapai setinggi-tingginya oleh kita. Tinggi dalam hal ini adalah, ibadah yang lebih khusyuk.

Apakah kalian juga punya kumpulkan quotes Ramadhan favorit atau unik?

Share donk :D

Selamat melanjutkan puasa di Bulan Suci Ramadhan, kawan.


Cheers.

Wednesday, May 30, 2018

5 Kegiatan Mengisi Waktu Puasa



Halo, semua!

Lima kegiatan mengisi waktu puasa; saya tidak menulis tentang kerja atau pekerjaan harian atau aktifitas harian. Bagi orang-orang yang bekerja baik ladang/sawah, di toko kelontong, di gudang, di pasar, di kantor, di depan kamera, aktifitas harian itu tentu juga merupakan kegiatan mengisi waktu puasa. Tapi saya menulis tentang apa saja yang bisa kita lakukan saat sedang berpuasa dan sedang tidak melakukan aktifitas harian, agar tidak melulu memikirkan jarum jam yang semakin lambat bergerak menuju angka enam (sore) haha. Maklum, tantangan puasa terberat itu datang menjelang waktu berbuka puasa. Kok lama ya? Aduh udah bedug belum ini? Yaaah jarum jamnya mati!

Pernahkah kalian mengalaminya? Saya pernah.

Apa saja sih kegiatan mengisi waktu puasa yang bisa kita lakukan sekaligus menjernihkan pikiran dari kurma dan es degan? Cekidot!

1. Mengaji & Membaca Artinya
 
Di kantor, sibuk bekerja, pikiran tidak diteror sama kurma dan es degan. Pulang kerja (apalagi siang hari), sudah letih, akhirnya nggeblak di kasur atau lantai, pikiran bersih dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Meskipun seringnya tidur karena kantuk parah, tapi sebenarnya saya lebih suka membaca Al Qur'an dan membaca artinya. Dulu banget pernah beli Al Qur'an mini bersampul kuning (yess! haha), yang ada artinya. Jadi saya kadang membaca artinya saja, membaca sejarah Agama Islam. Love to do that.

Tahun ini belum tahu apakah bakal khatam lagi atau tidak. Doakan ya :)

2. Membuat Rencana

Kadang kalau mau Idul Fitri ada saja hal yang kita ubah di rumah; posisi sofa-sofa di ruang tamu, posisi pot tanaman di teras rumah, dapur direnovasi, dan lain sebagainya. Nah, salah satu hari / waktu luang di bulan puasa dapat dimanfaatkan untuk membuat rencana. Saya punya agenda rencana yang tersusun rapi mulai dari to-do list, sampai menu-list *tsah*. To-do list ini penting dikarenakan rumah kami lumayan besar dan bikin sakit kepala, jadi harus dari jauh-jauh hari sudah dicicil pengerjaannya.

Tahun ini bakal sedikit merenovasi dapur dan bakal membeli pot baru buat tanaman bambu hias yang bibitnya dikasih sama tetangga (Mama Meni). Yipie! Impian menjadi nyata. Sudah lama saya ngiler sama bambu hias itu hehehe.

3.Nge-craft & DIY

Ini juga saya suka dan sering lakukan. Mata mulai liar melihat barang-barang bekas dan terbengkelai di rumah, atau di rumah tetangga haha, terus dikreasikan. Kebanyakan menjelang Idul Fitri tahun lalu masih bikin keranjang dan tempat tisu pesanan orang. Tahun ini beberapa pesanan saya tolak dikarenakan ada tugas-tugas lebih penting yang harus diselesaikan. Tidak masalah lah, rejeki bisa datang dari pintu lain yang diijinkan Allah SWT.

Di rumah kalian banyak botol plastik bekas?
Di rumah kalian banyak kardus bekas?
Di rumah kalian banyak koran bekas?
Di rumah kalian banyak kaos dan jin bekas?

Di-craft/diy saja!

4. Menonton

Ya, ini sih aktifitas umum lah ya. Tapi hati-hati memilih filemnya, jangan sampai filem itu membatalkan puasa kalian. You know what I mean. Saya suka menonton filem kartun, atau Opera Van Java lewat Youtube. Lumayan sejam dua jam mengocok perut dan membuat lupa kalau sedang berpuasa. Eh, tapi jangan mentang-mentang membuat lupa kalau sedang berpuasa, puasanya malah batal. Kelupaan, malah minum! Hihihi.

5. Nge-blog

Oh tentu, nge-blog bikin kita bakal lupa waktu. Bukan hanya bikin/tulis konten, tapi juga mengutak-atiknya! Gonta-ganti template boleh juga tuh. Seperti yang saya lakukan saat ini hehehe. Setelah utak-atik blog orang lain yang atas ijinnya saya utak-atik, kemudian menulis konten, kemudian membaca-baca, dan lain sebagainya. Percaya, deh, kalau belum mencoba mungkin kalian bilang: tidak mungkin. Tapi kalau sudah dicoba ... ketagihan hehe.

Setiap orang pasti punya caranya masing-masing untuk mengisi waktu puasa di luar waktu kerja/kegiatan/aktifitas harian seperti misalnya nongkrong di kafe menjelang bedug Maghrib. Bagi tahu donk apa yang kalian lakukan (kata orang: ngabuburit).



Cheers.

Tuesday, May 29, 2018

Prynt, The Print Pocket


Akhir Desember 2017, tepatnya seminggu sebelum Natal 2017, datanglah teman traveler dari Bali. Mereka sekeluarga: Eko, Diana, dan Lala, mengendarai mobil alias jalan darat. Jadi mereka sudah keliling-keliling beberapa wilayah di sekitar Pulau Flores dan memutuskan untuk ngetem sehari dua di Ende. Keren lah keluarga ini. Bikin iri maksimal. Di Ende, mereka menginap di rumah teman saya Mukhlis A. Mukhtar yang kebetulan waktu rumah yang dibangunnya itu kelar, dia malah pergi ke Malang untuk melanjutkan kuliah S3 (doktor), diangkutnya pula istri dan anaknya (Lucy dan Auriel) hehe. Praktis rumah kosong itu dimanfaatkan untuk Eko, Diana, dan Lala.

Lalu, apa hubungannya sama Prynt?

Sabar donk ...

Hari terakhir Eko, Diana, dan Lala di Ende, kami pun memanfaatkan waktu tersisa untuk mengisi air di bak kamar mandi ahahaha. Bukan, bukan itu. Kami memanfaatkan waktu tersisa sebelum mereka berangkat ke Labuan Bajo dengan foto-foto. Keluarga ini memang memersiapkan kamera polaroid untuk setiap kesempatan dimana hasilnya bakal mereka serahkan ke orang lokal. Kemarin fotonya diberikan ke saya satu, dan satunya lagi ditempel di pigura foto di rumah Mukhlis. Tentu dengan sedikit ucapan bla bla. Dan itu amat sangat berkesan.

Bersama Eko, Diana, dan Lala ... Nyelip Thika juga haha.

Hasil fotonya, beserta tulisan tangan Lala, masih saya simpan di dompet. Pengalaman dan kenangan ini akan menjadi cerita seru untuk anak cucu kelak hihi.
 
Kamera polaroid itu mengingatkan saya pada Prynt. Eh ... kebalik dink! Prynt mengingatkan saya pada kamera polaroid itu. Bedanya adalah Prynt merupakan printer mini yang dapat langsung mencetak foto dari gadget (Android, ect). Fungsinya mirip dengan kamera polaroid, bedanya dengan Prynt, kita tidak butuh kamera polaroid karena fotonya tersimpan aman di gadget dan tinggal cetak saja. Dilansir dari situs resminya, Prynt mengubah gadget kalian menjadi kameran instan. Okay ... polaroid. Meskipun tidak penting-penting amat, tapi kita membutuhkannya juga. Hayo ngaku.
 
Bagi para traveler, Prynt kece badai dan sangat praktis. Apalagi traveler yang punya sistem seperti Eko sekeluarga. Kita tidak hanya membawa pulang momen dalam bentuk foto di kamera maupun telepon genggam, tapi juga dapat mencetaknya dan membagi momen itu dengan penduduk setempat; orang-orang di lokasi wisata, sahabat di kota tujuan, dan lain sebagainya. Kalau dulu kan biasanya kita bakal bilang, "Nanti fotonya saya cetak dan kirim ya!" atau "Sambungkan blututnya dulu!" Ya kalau penduduk lokalnya punya telepon genggam? Kalau tidak? Prynt bisa jadi solusi.

Kapan punya Prynt? Maunya sih sekarang juga. Tapi belum butuh hihihi. Kalau kalian berminat, harganya bervariasi dan bisa dilihat langsung di situsnya.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno


Cheers.

Monday, May 28, 2018

Yang Muda Yang Berkarya


Menjadi salah satu agen MI6 sangat sulit. Kesulitan yang pertama, MI6 di dalam kisah fiksi itu memang tidak membuka pendaftaran di dunia nyata. Kesulitan yang kedua, parahlah jika kita bersaing dengan Daniel Craig. Sejauh yang saya lihat, Daniel Craig masih belum tergeserkan baik dari sisi peran maupun kharismanya yang aduhai bikin mata menyala. Tapi, menjadi agen perubahan di dunia mudah dilakukan; asalkan semangat tidak boleh kendur. Ini sebuah cerita tentang kaum muda sebagai agen perubahan di kampung halamannya masing-masing. Mereka punya mimpi yang besar yang perlahan telah terwujud. Seperti konsep tiny house; living big in tiny house. Why not?

Sabtu kemarin, 26 Mei 2018, Pusat Studi Pariwisata Universitas Flores (Puspar Uniflor) menggelar kegiatan Diskusi dan Buka Bersama dengan tema Yang Muda Yang Berkarya. Kegiatan tersebut menghadirkan tiga pemateri yaitu Eka Raja Kopo dari RCM Detusoko, Sampeth Rua dari wisata Kolibari dan Kezimara, dan Mario Gesiradja dari Taman Baca Anak Merdeka. Bertiga mereka menghipnotis peserta yang terdiri atas mahasiswa, dan juga dihadiri oleh beberapa dosen. Diskusi kece tersebut digelar di rooftop (jadi ingat Drakor) Prodi Pendidikan Sejarah, Kampus II, Uniflor.

 Eka Raja Kopo

Eka Raja Kopo, penerima Grand Young Shoutheast Asian Leaders Initiative (YSEALI) merupakan anak muda yang tergabung dalam Remaja Mandiri Community (RCM), sebuah komunitas anak muda yang digagas oleh Nando Watu di Kecamatan Detusoko. Jarak antara Kota Ende dan Kecamatan Detusoko sekitar 30 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Nando Watu sendiri dikenal sebagai salah seorang penerima beasiswa AMINEF dan ditempatkan di Miami. Iya, itu di Amerika, kaks. Haha

 Nando Watu (paling kiri dari pembaca) memegang Koro Degelai-nya.



Kemasannya eksklusif!

Tentang seluk-beluk RCM dapat dibaca di sini. RCM mengajak kaula muda Detusoko untuk 'kembali ke desa', membangun desa, berkreativitas, dan menunjukkan bahwa hal besar tidak selamanya dimulai dari kota. Panjang perjalanan RCM, dari satu program ke program lain, dari satu kunjungan ke kunjungan lain, dari satu kesuksesan menuju kesuksesan lain. Mereka hebat. Setelah sukses dengan mengembangkan dan memperkenalkan produk mereka ke mata dunia seperti Koro Degelai (Lombok Tomat) yang dikemas eksklusif, Kopi Detusoko, Selai, juga menerima tamu dari luar negeri beraktivitas bersama di sana, dan lain sebagainya, mereka mengembangkan Decotourism.

Gambar diambil dari sini.

Membaca konsep Decotourism di situs resminya, mulut saya hanya bisa nganga-nutup-ngaga-nutup. Ngampung banget saya ini. Haha. Informasi dari situsnya: Detusoko Integrated Eco Village merupakan proyek sosial yang diinisiasi oleh alumni Indonesia dari program YSEALI E-Community Generation Workshop yang dilaksanakan di Hanoi, Vietnam (1-4 Agustus 2017). Program ini berisi kegiatan pemberdayaan petani di Desa Ende, Detosoko. Tujuan dari proyek ini adalah peningkatan kesejahteraan ekonomi, peningkatan utilisasi pariwisata dan kebermanfaatan bagi masyarakat sekitar dengan menonjolkan potensi agrikultur dan pariwisata. Informasi lanjutan, silahkan kunjungi situsnya.

Makanya, tidak heran jika peserta kegiatan diskusi dan buka bersama itu terhipnotis, bahkan tidak ada seorangpun peserta yang sibuk sama gadget-nya masing-masing. Kepala mereka tetap terangkat menuju panggung. Terimakasih Eka sudah berbagi begitu banyak pengalaman berharga dengan kami semua.

Pesan Eka; mengutip Tan Malaka, TERBENTUR, TERBENTUR, TERBENTUR, TERBENTUK.

Pemateri kedua adalah Syamsudin Rua atau lebih dikenal dengan Sampeth Rua.

 Sampeth Rua.

Dia adalah pemuda asal Kolibari, sebuah kampung kecil di puncak bukit sekitar 10 menit dari Kota Ende menggunakan kendaraan bermotor. Sampeth bercerita awalnya Kolibari sampai dikenal orang; bermula dari dirinya sendiri yang setiap hari saat pergi-pulang kuliah melihat Kota Ende dari kampungnya itu. Pemandangan seindah itu kenapa hanya dinikmati oleh mereka saja? Maka dia mengajak teman-temannya untuk mulai mempromosikan Kolibari. Mereka bahkan membangun lopo-lopo di bukit pandang agar pengunjung dapat beristirahat di situ. Saya sekeluarga pernah piknik di lopo-lopo itu. Hahaha.

Pemandangan Kota Ende dari bukit pandang Kolibari. Lopo-loponya sudah dibongkar. Dari tidak dikenal, sampai terkenal.

Adalah seorang pemuda Ende yaitu Johanes M. Bunyu, olahragawan paramotor dan paragliding, yang pada tahun 2009 melakukan observasi menggunakan paramotor. Saat sedang terbang di atas Bukit Kezimara (di sebelahnya Bukit dan Kampung Kolibari), dia menemukan spot yang paling cocok untuk terbang paragliding. Tahun 2015 dia mendekati Sampeth untuk bisa berinisiasi dengan masyarakat wilayah adat Kolibari. Tahun 2017, setelah perjalanan panjang diskusi, rembug, pro-kontra, Site Paragliding Kezimara mulai beroperasi. 

Sekarang orang-orang sudah mengenal Kolibari dan Kezimara sebagai lokasi wisata dalam Kota Ende yang patut diperhitungkan. Sampeth merangkul masyarakat (orangtua dan kaum muda) untuk 'sadar' bahwa inilah bekal yang akan mereka wariskan pada anak cucu ... kelak. Partisipasi kaum muda tidak terlepas dari peran Sampeth sebagai 'pelopor' yang 'suaranya' mau didengar. Itu semua merupakan buah dari pergaulannya selama ini yang tidak pernah mengkotak-kotakkan kelompok sosial. Kesempatannya untuk lebih didengar terbuka lebar setelah menjadi Ketua Karang Taruna Kelurahan Roworena Barat dan Ketua Remaja Masjid Nurul Sama'a Kolibari. Coba kalian cari di mana ada ketua remaja masjid yang rajin mengiringi paduan suara di gereja? Hehe. Sampeth salah satunya! Dia merangkul dan menyatukan masyarakat dalam harmoni yang indah.

Sampeth sedang terbang itu, ditandem sama Pak Jaki Para.

Perubahan yang terjadi dengan terkenalnya Kolibari, dan Kezimara menjadi spot paragliding pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur sangat dirasakan. Perekonomian masyarakat meningkat karena ibu-ibu menjual hasil tenun ikatnya langsung di tempat (tidak perlu ke pasar), ibu-ibu berdagang makanan dan minuman, anak-anak menjadi guide dan portir, bapak-bapak tidak perlu jauh-jauh menjual hasil kebun seperti kelapa muda dan ubi - pisang, anak-anak kecil yang kesehariannya menggunakan bahasa daerah (bahasa Ende) kini mau tidak mau harus belajar Bahasa Indonesia dengan baik, dan lain sebagainya. Perubahan nyata itu ada dan akan terus terjadi.

Pesan Sampeth: semangat jangan sampai kendor, apalagi kalau berhadapan dengan Mosalaki (ketua adat).

Yang ketiga, ini dia Mario Gesiradja.

Mario Gesiradja saat diwisuda di Universitas Bengkulu.

Mario bercerita tentang asal mula dia mendirikan Taman Baca Anak Merdeka di Kelurahan Onekore. Saya sendiri kaget bahwa di kelurahan itu ada taman baca sekeren ini. Taman bacanya sederhana, di atas bak sampah yang tidak terpakai lagi, dibangun menggunakan bahan-bahan bekas/sisa. Kata Mario, ada tetangga yang membongkar rumahnya, bahannya diminta untuk membangun taman baca. Tenaga/tukangnya adalah dirinya sendiri dibantu oleh beberapa teman yang punya pasion yang sama.


Buku-buku awal merupakan buku-buku milik Mario sendiri semasa merantau di Bengkulu sebagai mahasiswa. Sepuluh dos buku dikirim gratis menggunakan program Kantor Pos Indonesia yang menggratiskan kiriman buku setiap tanggal 17 untuk kepentingan taman baca dan perpustakaan. Menariknya, anak-anak tidak hanya membaca di Taman Baca Anak Merdeka, tetapi juga diajarkan banyak hal berfaedah oleh para pengasuh taman baca.


Taman Baca Anak Merdeka juga bekerjasama dengan Kelurahan Rewarangga yang terbuka dengan kegiatan-kegiatan semacam ini. Mereka bahkan sampai ke RT Nggonggo di Kelurahan Rewarangga yang lokasinya mendekati Nuabosi yang mana infrastrukturnya belum semuanya terpenuhi. Salut sekali sama kegiatannya Mario dan teman-teman di Taman Baca Anak Merdeka ini. Mereka punya aksi nyata untuk daerahnya, untuk melakukan perubahan.

Pesan Mario: ambilah satu dan bacalah aku!

Usai paparan materi dari Eka, Sampeth, dan Mario, acara dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Limabelas menit setelah buka puasa bersama, dilanjutkan dengan diskusi atau tanya-jawab. Dikarenakan waktu yang terbatas, penanya dibatasi sejumlah lima orang saja. Pertanyaan kritis mereka dijawab dengan penuh motivasi oleh Eka, Sampeth, dan Mario. 

Kegiatan semacam ini rencananya akan terus dilanjutkan oleh Puspar Uniflor, menjadi agenda bulanan, yang menampilkan kaum muda sebagai agen perubahan. Kaum muda yang tidak hanya bicara, tetapi telah berbuat, melakukan perubahan pada lingkungannya, meskipun melalui langkah kecil (kata saya sih kalau langkah kecil). Karena jika bukan kita, siapa lagi? Mereka menjadi inspirasi bagi para peserta yang rata-rata mahasiswa. Dengan rentang usia yang tidak terlalu jauh, masih dalam ranah anak muda, tetapi sudah menjadi agen perubahan. Mahasiswa pun pasti bisa. Kelak.

Jika mau menggabungkan pesan dari Eka, Sampeth, dan Mario, maka jadinya seperti ini:

"BENTURKAN DIRIMU AGAR TERBENTUK MENJADI KAUM MUDA DENGAN SEMANGAT YANG TIDAK PERNAH KENDUR SEDIKIT PUN."


Cheers.

Sunday, May 27, 2018

Triplet ~ Part 10



Triplet adalah tulisan lawas saya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena ceritanya lumayan absurd. Saya memutuskan untuk menerbitkannya di blog, part demi part. Karena keabsurdannya, komentar kalian tidak akan saya tanggapi kecuali buat lucu-lucuan. Ini bukan pembelaan diri, ini bela diri dengan jurus menghindar. Selamat membaca Triplet.

***

PART 10



~ Ende ~
14 Februari 2015

Love cannot be found where it doesn’t exist, nor can it be hidden where it truly does.” Kissing a Fool (a movie)

Pada tahun 496, Paus Gelasius I menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui perihal nama Valentinus yang konon merujuk pada tiga martir yang berbeda namun 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan Santo Valentinus yang kemudian dikenal dengan Valentine’s Day atau Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang. Sebagian penduduk bumi tidak peduli perihal Valentine’s Day yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari itu merupakan kesengajaan Paus Gelasius I untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang diselenggarakan pada tanggal 15 Februari oleh masyarakat Roma (kuno). Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus (dewa kesuburan) yang dilambangkan dengan laki-laki setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Pada jaman tersebut para pemuka agama pagan akan melakukan ritual penyembahan kepada Dewa Lupercus dengan mengorbankan kambing. Setelah melakukan ritual mereka akan merayakannya dengan meminum anggur, lalu berlari-lari di jalanan Kota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit kambing, dan akan menyentuh siapa pun yang dijumpai dengan kulit kambing tersebut. Pada jaman kekinian sebagian penduduk bumi yang merayakan valentine hanya tahu bahwa tanggal 14 Februari adalah hari raya internasional dimana kebaikan mengungguli kejahatan.
Bagi Diba, Valentine’s Day adalah salah satu hari dalam setahun yang ditetapkan untuk memanen Rupiah. Dia tidak melebur diri bersama keributan pro-kontra perihal perayaan valentine karena pada tanggal 14 Februari kafe Shadiba’s Corner disesaki pengunjung. Yang tidak kebagian tempat di kafe memilih mojok di Pojok Buku. Sebagian lagi terpaksa diajak Azul ke beranda belakang tempat kursi-kursi malas diletakkan. Jika masih ada pengunjung yang tidak kebagian tempat juga? Karpet-karpet akan digelar di halaman depan dengan kompensasi kebisingan Jalan Kelimutu.
5sekakikereta berkumpul di ruang kerja Diba, ditambah Atha, Ucup, Magda, Er, dan En. Kali ini Diba tidak bisa mengelak lagi karena setiap tahun mereka belum pernah melewatkan agenda kumpul-kumpul-cantik valentine. Pertemuannya dengan Er dan En malam ini adalah pertemuan pertama sejak Mira memutuskan untuk bercerai dengan Elf dan pulang ke Kota Ende.
“Ini namanya gyoza,” ujar Diba.
Meja kerja Diba disulap menjadi meja saji. Sebagian menu (cemilan) kafe tersedia di atas meja. Dijamin malam ini Among kelimpungan melayani pengunjung meskipun dibantu oleh Bibi Ani bersama tenaga sukarela: Azul, Laila, Imar, Feme, dan Petrus.
“Orang Ende bilang pastel,” sambar Poppy.
“Orang Sunda bilang karipap,” sambar Er.
Pura-pura tuli, Diba melanjutkan informasinya. “Naaah. Ini chocolate truffle, bread pudding, banana muffins, cupcakes, roll cake tiga rasa, dan resep baru kami yang diadaptasi dari Eat Street a la National Geographic People ... fried biscuits!” seru Diba bangga. Dia sengaja tidak menyajikan roti bakar dan sate pisang.
“Coba ada menu roti gandum,” celetuk Etchon.
“Roti gandum yang di Kanawa itu, ya?” tebak Atha. “Enak ... kata Diba.”
“Emang enak,” sahut Ilham dan Sony. “Bikin ketagihan,” lanjut Sony.
“Nah teman-teman, silahkan menikmati. Saya mau patroli dulu,” pamit Diba. “Oh ya, minumnya boleh pesan di Magda ...”
“Eh, itu di depan ramai sekali!” Poppy geleng-geleng kepala. “Tempat ini harus diperluas. Atau dibangun lantai atas!”
Diba terkekeh. “Usul yang bagus! Saya sedang pikirkan untuk menambah kesenangan baru di tempat ini. Dah semuanya!”
Tergesa-gesa Diba keluar dari ruang kerja. Ketika pintu menutup dan sengatan udara dingin AC menghilang, dia menghela nafas lega. Ya, dia harus menghindari Er dan En. Perasaannya mengatakan kakak-beradik itu punya rencana besar. Jika mempunyai mesin waktu, mereka pasti kembali ke masa lalu untuk mengubah sejarah keluarga Pua Saleh dan keluarga Moor.
Dalam perjalanannya menuju dapur, dia bertemu Ovi dan rombongan anak muda. Yang tidak kebagian bench, memilih duduk di lantai.
“Kak Diba!” sapa Ovi.
“Waaah Ibu Guru bersama para murid!”
Ovi tertawa. Dia bangkit, lantas cipika-cipiki dengan kakak sepupunya ini. Dalam silsilah keluarga, Ine dan Mama si Ovi bersaudari kandung. “Selamat Hari Valentine, Kak Diba,” bisik Ovi.
“Selamat Hari Valentine juga Ibu Guru hahaha. Enjoy your night, ya. Kapan-kapan datang lah bersama si dia, jangan ditemani murid-murid melulu,” goda Diba.
“Ada waktunya, Kak,” balas Ovi, mengedip mata.
“Ya sudah. Saya ke dapur dulu, ya ...”
Suasana dapur terbuka kafe sangat sibuk. Among tak henti-hentinya memberi perintah pada Feme dan Petrus. Azul, Laila, dan Imar hilir mudik mengantar pesanan. Bibi Ani membantu Among menyiapkan pesanan. Diba bergabung dengan tim Among.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Diba.
“Tidak usah, Kak,” jawab Among. Cekatan tangannya mengangkat fried biscuit dari penggorengan.
“Kau melarikan diri?” tuduh Bibi Ani sambil menata fried biscuit di piring.
“Serba tidak enak. Sebenarnya. Aduh, Bi, mana bisa saya berhadapan dengan mereka dua? Pertama, saya malu ... gara-gara Mira. Kedua, saya tahu ... mereka pasti mau ... ADOH! AZUL!” jerit Diba.
“Maaf, Kak,” ujar Azul sekilas. Dia segera berlalu mengantar pesanan nasi goreng.
“Bang Petrus, tolong bantu pecahkan es batu,” pinta Feme. “Meja duabelas ... hadeeeh ... sudah berapa kali mereka pesan chocolate milk shake!”
“Lai! Hei, Lai!” panggil Bibi Ani seraya melambaikan jepitan kertas. “Kasih ke Jessica!”
“Bi tolong siapkan pesanan dari teras belakang ini,” pinta Among, menyodor selembar kertas.
“Oke!”
“Mereka pasti punya maksud, Bi,” lanjut Diba.
Bibi Ani menggeleng. “Punya maksud atau tidak, jangan berburuk sangka dulu, Diba. Lagi pula apa pun yang terjadi dalam hidup, kita harus menghadapi ... jangan pernah lari.”
“Bi ... tolong saya ...” pinta Among.
“Sabar, Mong ...”
Diba sadar kehadirannya di dapur sangat mengganggu. Nampaknya hanya dia satu-satunya manusia di tempat ini yang tidak punya ‘kegiatan’. Akhirnya, meskipun tahu akan berada dalam suasana serba-tidak-menyenangkan, dia memutuskan untuk kembali ke ruang kerja.
“... toh sebenarnya kami juga tidak menyalahkan siapa-siapa. Pernikahan mereka memang sudah salah sejak awal,” suara Er terdengar sesaat setelah pintu ruang kerja membuka. Diba ingin mengkristal saat itu juga. Dia datang saat topik yang dihindarinya sedang dibahas. Sial. Suasana menjadi semakin serba-tidak-menyenangkan.
Atha mengangguk. “Ya, pernikahan mereka sudah salah sejak awal.”
“Selama ini kami ...” kalimat Er terhenti ketika melihat Diba berjalan memasuki ruangan. “Selama ini kami tahu Diba menghindari kami.”
Mata Diba terbeliak. Saya hanya tidak nyaman berada di zona canggung!
“Diba,” panggil En. “Tolong jangan menghindar lagi. Selama ini kami berusaha ketemu kau hanya untuk bilang ... jangan tersinggung kalau sikap Mami nanti berubah. Tolong maklumi. Namanya juga Mami.”
“Eh ... iya ... saya tidak menghindari kok,” jawab Diba. Kikuk.
“Serius kau tidak menghindar?” tanya Etchon yang dibalas dengan pelototan galak Diba.
“Apa pun yang terjadi nanti, apa pun keputusan dari Pengadilan Agama nanti, tolong jangan dicampur-aduk dengan persahabatan kita. Kita semua tetap bersahabat ... baik,” ujar Er.
“Amin ...” seru yang lain kompak.
“Oke. Oke. Oke. Sudah boleh makan berat?” tanya Etchon. “Saya lapar!”
“Tulis saja pesanannya. Biar Magda yang antarkan ke dapur,” anjur Diba.
“Ikan bakar saja!”
“Saya mau nasi goreng a la Bibi Ani!”
“Ikan bakar!”
“Bagaimana kalau ayam skripsi ...”
“Huuu ... crispy kaliiii ...”
Kumpul-kumpul-cantik valentine yang sudah mereka lakukan sejak masih SMA menghadirkan banyak cerita. En, misalnya ... perempuan yang gemar membagi-bagikan buku katalog ini bercerita tentang bonus-bonus yang diterimanya dari menjual produk Sophie Martin dan Paloma.
Etchon hanya melirik malas waktu En berkata, “saya bawa kok katalog-nya! Mau lihat-lihat?”
Pukul 23.10 satu per satu anggota kumpul-kumpul-cantik valentine mengundurkan diri. Shadiba’s Corner pun mulai sepi. Yang tersisa hanya sekelompok anak muda di beranda belakang yang nampaknya enggan beranjak dari kursi malas. Mereka justru semakin bersemangat memesan menu demi menu.
Petrus dan Azul membereskan karpet-karpet dari halaman depan. Laila dan Feme membereskan Pojok Buku dan kafe sedangkan tenaga yang lain membersihkan perabot dan dapur.
Diba, Atha, dan Ucup masih bertahan di ruang kerja, menonton Magda membersihkan meja kerja dari piring-piring makan.
“Malam yang indah untuk panen Rupiah,” celetuk Ucup.
Diba terkekeh. “Kipas-kipas duit ...”
“Kalau semua sudah beres, saya sekalian pamit ya,” ujar Magda.
“Oke,” sahut Diba. “Terima kasih!”
Magda keluar dari ruang kerja.
“Er dan En ...” Atha mendesah. “Kasihan keluarga mereka,” katanya. “Rumah kita dengan rumah mereka saling berhadapan. Mereka, atau salah satu dari anggota keluarga mereka, pasti sakit hati setiap kali melihat Mas Wawan menjemput Mira ...”
“Itulah, Tha. Itu yang bikin saya menghindari mereka. Malu, Tha. Bang Elf sudah selamatkan keluarga kita dan apa balasan Mira sekarang ...”
“Kak Diba yakin?” tanya Ucup.
“Maksud kau?” Diba balas bertanya.
“Kak Diba yakin alasan Kakak menghindari Kak Er dan Kak En karena malu atas tingkah Kak Mira?”
“Maksud kau, Yusuf Pua Saleh!?”
“Bukan karena Kakak kuatir mereka akan membahas Bang Elf? Menurut yang saya dengar, desas-desus, Bang Elf masih cinta sama Kak Diba.”
“Itu bukan menurut desas-desus, tapi kau dengar sendiri dari mereka berdua, Cup!” balas Diba. Refleks tangannya menyentuh dada. Kapan saya akan melepas barang ini?
Atha menghela nafas panjang. “Kalau benar Bang Elf masih cinta sama kau, dan melamar kau ... kelak ... bagaimana, Dib?”
“Heh? Apa? Kurang ajar! Memangnya saya tempat pembuangan sampah?” protes Diba. “Sudah dapat kakaknya, dapat adiknya pula!”
“Hahaha ...” Atha tertawa. “Kakak beberapa menit!”
“Bukan masalah tempat pembuangan sampah, Kak,” balas Ucup. “Dulu ... Bang Elf cint ...”
“Kau belum lahir!” hardik Diba. “Tahu apa kau soal masa lalu?”
Ucup mengangkat tangan, “sabar, Kak,” katanya. “Dulu Bang Elf cinta sama Kak Diba. Hanya demi selamatkan nama baik keluarga kita, dia bersedia jadi korban. Kalau saya lihat ... sampai sekarang pun Bang Elf masih cinta kok sama Kak Diba.”
Diba bungkam.
“The Big Spirit ... The Big Spirit ...” Atha geleng-geleng kepala. “Tembok apa yang begitu kuatnya sampai saya tidak bisa tembusi kalian berlima? Apakah hujan mampu menghancurkan segala kemurahan hati yang telah terpeta di seluruh muka bumi ...” dia bertanya pada dirinya sendiri.
“Jangan baca puisi, Tha,” ingat Diba. Atha punya kebiasaan menyambung kalimatnya dengan puisi.
“Eh ...”
“Rahasia Allah SWT, Kak,” sambar Ucup. “Rahasia Allah SWT yang tidak bisa kita pecahkan. Sama seperti ... kenapa kemampuan Kakak justru bertambah? Kenapa Ine melahirkan triplet? Kenapa dari ketiga triplet itu ... berbeda-beda pula nasibnya?”
“Pintar sekali kau bicara!” sambar Diba.
Atha terbahak. “Yang jelas salah satu dari triplet yang bernama Shadiba Pua Saleh ... sukses!”
“Sukses dari Hongkong?” sungut Diba namun wajahnya bersemu juga. “Semua ini kan berkat dukungan kalian ...”
“Kak,” panggil Ucup.
“Apa?” sahut Atha dan Diba.
“Kalau kemudian setelah bercerai Bang Elf memutuskan untuk pindah ke Ende juga? Menurut Kakak?” pertanyaan ini ditujukan untuk Diba.
“Kiamat sudah dekat!” sahut Diba. Dia pernah dimarahi Ine gara-gara celetukan yang sama. Menurut Ine jalan pikirannya mulai bengkok.
“Hahaha ... kalau Bang Elf juga pulang ke Ende, biarkan saja. Toh rumah orangtuanya juga di Ende,” Atha menengahi.
“Kira-kira bagaimana ya rasanya menikah dengan perempuan yang tidak dicintai?” tanya Ucup.
Diba berdiri, pergi ke meja kerjanya. “Rasanya kiamat sudah dekat ... juga.”
“Tujuhbelas tahun itu bukan waktu yang pendek. Kata orang ... cinta tumbuh seiring kebersamaan. Ah, tidak berlaku untuk Bang Elf dan Mira,” desah Atha.
“Bagaimana bisa cinta tumbuh diantara mereka?” sambung Diba. “Ibarat gadget nih, menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh. Boleh saja tiap malam mereka tidur seranjang. Tapi kalau Mira sibuk Facebook-an dan chatting sama Mas Wawan ... percuma.”
“Mas Wawan dan Mira kan baru saja kenalannya,” bantah Atha. “Menurut pengakuan Mira, mereka kenalan lewat Facebook pertengahan duaribu empatbelas kemarin.”
Diba mengedik bahu. “Mungkin saja selama ini dia Googling Bapak dari anak yang dia gugurkan itu ...”
“Hush! Dia keguguran ...”
“Iiih Kak Diba ini ...”
“Siapa yang tahu? Kita hanya dengar kabar dari Labuan Bajo ... Mira keguguran. Apa yang sebenarnya terjadi kan kita tidak tahu,” balas Diba.
“Jangan berburuk sangka, Dib,” sanggah Atha. “Kebencian tidak akan membawa kedamaian.”
“Kalian pikir saya membenci Bang Elf dan Mira?” tanya Diba. Dia lantas menjawab pertanyaannya sendiri. “Saya tidak benci mereka.”
“...”
“...”
x
Cukup lama perasaannya hampa. Jika kemudian perasaannya kembali bergetar itu karena hasrat yang maha dahsyat, bukan berlandaskan cinta. Namun setidaknya dia perlu memberi sesuatu kepada orang yang telah mengisi kehampaan hatinya, yang telah membangkitkan kembali semangat hidupnya. Bahwa hidup yang dia jalani ini, dimana rutinitas merupakan keharusan semata, berubah menjadi lebih bermakna.
“Mas Wawan ...”
“Kau suka?”
“Suka ... ini manis sekali.”
“Semanis hubungan kita kan?” dia bertanya. Klise dan norak.
“Iya ...”

***
Bersambung