Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Saturday, June 30, 2018

Berpolitik Pada Semua Lini

Gambar dari Wikipedia.

Fungi adalah nama laptop lama, merek Toshiba, core i5, yang dipakai hanya untuk menonton filem dan mendengar musik. Sedangkan saya bekerja mengedit video, mengedit lagu, mengetik ini-itu memakai Acer yang core i3. Kan kampret itu. Haha. Intinya malam itu saya menghidupkan Fungi gara-gara pengen nunjukin ke Ocha filem Castaway on the Moon, filem lucu versi konyol dari Cast Away-nya Tom Hanks. Ndilalah si Ocha tertidur dan saya memilih filem apa yang akan dinonton selanjutnya. Tangan saya meng-klik filem berjudul Invictus. Filem yang sudah lama nongkrong di Fungi tapi belum pernah saya tonton.

Friday, June 29, 2018

#PDL FGD Kode Etik Online


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***

Tergoda kembali menulis ini, karena melihat panasnya linimassa Facebook di Kota Ende akibat ulah pengguna media sosial yang sudah keliwat batas menyerang nama baik dan membunuh karakter pengguna lain. Tidak tanggung-tanggung yang diserang adalah profesi, harga diri, dan keluarga dari pengguna lainnya itu. Di dunia ini tidak ada seorang pun yang rela atau berdiam diri jika harga dirinya, orangtua dan/atau saudaranya diserang membabi-buta di media sosial. Sungguh terlalu pihak yang menyerang ... hanya karena bersembunyi dibalik akun palsu dan/atau anonim, merasa bisa bertindak seenaknya. 

Baca Juga:
Berinternet Ada Kode Etiknya!
5 Layanan Blog Terbaik

Tanggal 16 September 2011 saya mengikuti kegiatan Focus Group Discussion di Hotel Haris, Jakarta. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Internetsehat a.k.a. ICT Watch Indonesia. Kegiatannya seru dan sangat berfaedah. Pengalaman yang tidak terukur Rupiah. Dan kalau ditanya apakah saya mau lagi mengikutinya? Tentu saja saya mau! Kenapa tidak? Lagi pula pengalaman dan ilmu dari berbagai FGD yang saya ikuti bukan untuk dimakan sendiri tetapi dibagi-bagi juga ke teman-teman lain, komunitas lain, bahkan kelompok-kelompok kecil pelajar dan mahasiswa.

Hasil FGD kala itu menghasilkan Kode Etik Online atau Online Ethics. Apa sih Kode Etik Online itu? Silahkan baca di bawah ini:

Acuan Umum Etika Online
(Naskah Tebet – RFC* 1.0)

Bahwa kegiatan penggunaan Internet dapat membantu mencari, mendapatkan, mengelola dan mendistribusikan banyak informasi yang positif dan bermanfaat bagi individu maupun masyarakat luas.

Bahwa kegiatan penggunaan Internet ternyata membuka peluang bagi diri sendiri terkena dampak negatif ataupun menghadapi perkara dari pihak lain yang dirugikan atau merasa dirugikan.

Bahwa dampak negatif ataupun perkara yang timbul akibat penggunaan Internet, dalam batas-batas tertentu dapat diselesaikan secara musyawarah, namun seseorang tetap dapat terkena konsekuensi hukum secara perdata dan/atau pidana.

Untuk itu maka kami, atas nama perwakilan organisasi/komunitas berjejaring (network society) dari berbagai kota di Indonesia bersepakat menyerukan kepada seluruh masyarakat luas pada umumnya dan pengguna Internet pada khususnya, agar bijak dalam pengunaan Internet.

Untuk itu pula maka kami secara bersama telah merumuskan acuan etika online (menggunakan Internet) yang bersifat konsep umum, tidak mengikat, bebas diadopsi siapapun dan diadaptasi sesuai kebutuhan masing-masing, yang berbunyi:

Siapapun tanpa terkecuali, ketika online (menggunakan Internet), harus menjunjung tinggi dan menghormati:
1. Nilai kemanusiaan.
2. Kebebasan berekspresi.
3. Perbedaan dan keragaman.
4. Keterbukaan dan kejujuran.
5. Hak individu atau lembaga.
6. Hasil karya pihak lain.
7. Norma masyarakat.
8. Tanggung-jawab.

Sebenarnya mudah untuk menjalankan Kode Etik Online, jika kita menggunakan media sosial untuk hal-hal yang positif dan berfaedah. 

Mengenyam pendidikan di jalur hukum, banyak orang yang bertanya pada saya tentang akibat hukum yang bakal diterima oleh pengguna media sosial jika melakukan pelanggaran dan/atau tindak pidana di ranah maya. Tentu urusan dunia maya kita berpedoman pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), meskipun masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dari rumusannya. Tapi bagaimana jika pelaku menggunakan akun palsu dan/atau akun anonim? Masyarakat awam tentu sulit melacaknya dikarenakan aturan privasi dari layanan media sosial (Twitter, Facebook, dan lainnya). Oleh karena itu, segera screen shoot dan laporkan kepada pihak kepolisian agar segera diusut tuntas. 

Akan tetapi, berbicara soal media sosial di dunia maya sama dengan bicara soal bersosial di dunia nyata. Ada norma masyarakat yang harus dipatuhi oleh kita semua.

Menyerang harga diri, profesi, keluarga, pengguna media sosial lain sangatlah melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat. Sebagai masyarakat, apalagi merupakan bagian dari masyarakat adat, perbuatan semacam itu dilarang oleh ajaran agama dan tradisi leluhur. 

Pertanyaannya; mengapa ada pengguna media sosial yang menggunakan akun palsu dan/atau akun anonim yang tega menyerang pengguna media sosial lainnya?

Jawab saya:

1. Besar Nafsu, Kurang Tenaga

Menurut saya, pengguna media sosial berakun palsu dan/atau akun anonim yang suka menyerang pengguna lain itu dikarenakan besar nafsu tapi kurang tenaga. Ini bukan leksitas ya. Artinya, dia tidak berani menyerang pengguna media sosial lainnya di dunia nyata karena apabila dia menyerang face to face di dunia nyata dampaknya bisa sangat fatal. Padahal di dunia maya pun dapat berdampak sama hanya tinggal menunggu waktu.

Saran saya: hindari pengguna media sosial bertipe ini karena tidak berfaedah sama sekali.

2. Setres dan Hidupnya Berantakan

Menurut saya, pengguna media sosial berakun palsu dan/atau akun anonim yang suka menyerang pengguna lain itu dikarenakan setres dan hidupnya berantakan. Orang-orang setres dan yang hidupnya berantakan butuh pelampiasan. Kenapa? Karena dia pengen ngajak orang lain juga ikut-ikutan setres dan berantakan hidupnya. 

Saran saya: hindari pengguna media sosial bertipe ini karena kalian tentu tidak mau menjadi seperti dia kan? Mana ada orang rela hidupnya berantakan dan setres.

3. Merasa Hebat Dengan Cara Itu

Menurut saya, pengguna media sosial berakun palsu dan/atau akun anonim yang suka menyerang pengguna lain itu dikarenakan dia merasa hebat dengan cara itu, apalagi jika ada pengguna lain yang sepaham dengan dia atau setuju dengan semua pernyataannya. Sedangkan di dunia nyata dia tidak ada apa-apanya. Istilah Orang Ende, "dia tidak ada ta*i-ta*inya!". Oleh karena itu dia mencari panggung di dunia maya dengan cara tidak terhormat seperti itu. Kan kasihan. Hehehe.

Saran saya: kasihanilah pengguna bertipe ini karena tidak sebanding dengan kita yang berani. Hahaha. Iya, kita berani karena tidak memakai akun palsu dan/atau anonim.

Menurut yang saya baca di Kompas : Dari penelitian seorang guru besar David R. Hawkins melalui disertasinya berjudul Qualitative and Quantitative Analysis and Calibration of The Level of Human Consciousness disebutkan, menghina atau merendahkan orang lain, level energinya rendah yakni 10 pangkat 175 lux (satuan energi cahaya).

Lantas bagaimana dengan respons orang yang dihina. Jika setelah dihina yang muncul adalah perasaan malu, maka energinya akan sangat rendah yakni 10 pangkat 20 lux. Sementara jika yang muncul perasaan bersalah, energinya 10 pangkat 30, atau perasaan putus asa energinya 10 pangkat 50 lux. Maka, jika dihina atau direndahkan, hindari perasaan malu, putus asa atau rasa bersalah. Sebab ini akan menjadikan diri sendiri semakin drop, dan si penghina tentu energinya masih lebih besar dan merasa menang. Untuk bisa mengalahkan si penghina, maka tumbuh perasaan yakin akan kemampuan sendiri, energinya akan langsung naik menjadi 10 pangkat 250 lux.

Benar itu. Jangan merasa malu dan drop, justru tunjukkan kebahagiaan kalian di media sosial agar si pengguna yang tukang hina dan tukang menyerang harga diri pengguna lain itu yang menjadi hina dan drop. Karena apa? Karena perbuatannya tidak mempan, tidak ngaruh, tidak ngefek.

Mudah bukan?

Semoga bermanfaat ya, guys.


Cheers.

Thursday, June 28, 2018

5 Peristiwa Saat Pilkada

Gambar diambil dari Detik.

Beberapa tahun yang lalu pada momen Pilkada saya terjaga pukul 11.30 Wita. Terkejut! Dengan mata masih mengantuk parah alias setengah membuka, saya berlari ke kamar mandi, menabrak kipas angin, menabrak lemari pakaian, kepala menghantam kosen pintu kamar mandi, lalu mengumpat kenapa kuping saya tidak mendengar suara alaram. Saya mandi sekenanya, yang istilah alm. Bapa saya itu mandi burung, lantas menggosok gigi. Saat menggosok gigi, mulut saya rasanya kok aneh? Mata yang separuh membuka akhirnya membuka penuh. Tube itu bertulis: POND'S. Kampet! 

Beberapa tahun lalu, saya harus pergi ke TPS karena saya berhenti menjadi si bukan pemilih. Saya harus memilih karena saya yakin pada visi dan misi si calon Bupati dan Wakil Bupati serta melihat track record mereka selama ini. Sesederhana itu. Visi, misi, dan track record calon pemimpin dapat mengubah saya yang awalnya termasuk dalam golongan putih menjadi golongan pemilih. Dan saya akui, paket yang saya pilih waktu itu benar-benar telah mengubah wajah Kabupaten Ende dari hari ke hari; wajah Kabupaten Ende yang terlihat oleh saya yang tinggal di Kota Ende. Setelah bertahun-tahun mari suri, Pelabuhan Ende yang berubah nama menjadi Pelabuhan Bung Karno telah kembali beroperasi dengan arus kapal-kapal penumpang dan kapal roro (roll in-roll out) yang mendukung perekonomian, parade kebangsaan setiap 1 Juni, ritual pati ka ata mata (memberi makan leluhur di Danau Kelimutu) setiap Agustus, ada nonton bareng di Lapangan Pancasila (dulunya bernama lapangan Perse) serta berbagai hiburan hingga bazaar, renovasi Situs Bung Karno, renovasi Taman Renungan Bung Karno, Renovasi Gedung Imaculata, hingga pawai kendaraan dinas yang dihias. Itu yang nampak oleh saya yang tinggal di Kota Ende. Di wilayah lainnya di Kabupaten Ende, pasti juga ada perubahan tapi saya tidak punya data jadi tidak bisa asal menulisnya di sini. Hehe.

***
  
Maaf ya, kemarin tidak sempat pos #RabuLima. Pasti pada nungguin pos #RabuLima kaaaaan hahaha *dikeplak*. Soalnya kemarin saya fokus sama Pilkada di daerah kami yaitu pemilihan Bupati dan Wakil Bupati serta pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur. Siapa yang menang? Pasti kalian bertanya-tanya. Informasi sementara untuk Gubernur NTT masih unggul paket Viktori-Jos. Sedangkan untuk Bupati Ende masih unggul paket MJ. Siapa pun yang menang nanti setelah rilis resmi dari KPU, akan menjadi pemimpin kami di Kabupten Ende dan di Provinsi NTT. Baik pendukung/pemilih atau bukan pendukung mereka, tetap menjadi warganya kan? Hehehe.

Kemarin itu setelah mencoblos saya pulang ke rumah soalnya libur nasional *horeeee*. Sedang asyik main game, datanglan si Stanis More, konduktor ngehits Kota Ende. Jadilah kami pesta demokrasi di rumah saja berbekal kuaci merek Rebo, Potabee, donat Jessi Bakery yang nyumi itu, dan Coca Cola. Hancur berantakan diet DEBM saya. Tapi tak apalah, namanya juga pesta hahaha *jurus ngeles*. Ditambah satu personil lagi, si Ocha, cukup lengkaplah pesta demokrasi a la kami kemarin. Masih kurang si bungsu frontal Etchon dan si tukang ngorok dan tukang umpan Sony.

Diet hancur berantakan :D

Mari bercerita tentang lima peristiwa yang terjadi kemarin saat Pilkada baik di daerah saya, khususnya di tempat saya mencoblos.

1. Pilkada adalah Ajang Meraup Rupiah

Ketika saya sedang bersiap-siap di rumah yang mana tidak terlambat bangun sehingga menggosok gigi menggunakan pasta gigi bukan sabun muka, dan masih sempat ngopi dulu, saya berpikir tentang jajanan. Apakah di sekitar TPS nanti ada orang jual jajanan? Karena, heiiii, kemarin itu libur, dan orang-orang juga pasti enggan pulang ke rumah, mereka pasti suka nongkrong di sekitar TPS sambil menunggu penghitungan suara. Ternyata setelah saya tiba di TPS, kakak sepupu saya, yaitu Kakak Ermi Bata, berjualan es buah dan es cendol. Nah! Peluang ini dibaca dengan sangat jelas oleh kakak saya yang jago masak itu. Sayangnya, tidak ada yang jualan makanan semacam nasi kucing dan kudapan. Padahal peluangnya masih terbuka loh.

Di beberapa tempat, seperti kafe dan restoran, juga di Prodia, memberikan diskon kepada pengunjung yang datang setelah memilih (dengan jari ada noda tintanya). Asyik sekali ya. Yang macam begini hanya terjadi lima tahun sekali.

2. Pilkada adalah Ajang Reuni

Ya, Pilkada adalah ajang reuni. Kemarin setelah menunaikan hak sebagai warga, saya masih sempat nongkrong di luar TPS bersama pemilih lainnya. Bertemu teman-teman sekompleks yang dulu waktu masih kecil saban hari main bareng. Ada Irma Sella, ada Sony Larantukan, ada juga si Fiany. Mengobrol lama bareng Irma yang datang bersama suami dan anaknya, bercerita ini-itu, saling menggoda, dan sadar bahwa rumah kami hanya sepelemparan batu saja tapi kami jarang bertemu! Ha ha ha. Bercerita tentang masa kecil memang tidak pernah ada habisnya. Terima kasih Pilkada, gara-gara Pilkada kami reunian!

3. Pilkada adalah Ajang Melirik Tanaman

TPS kami itu di Lapangan Rumpis, di tengah pemukiman warga. Salah satu rumah warga - tetangga saya yaitu Om Miki Mudamakin. Saya terpesona oleh tanaman yang ada di teras rumahnya. Tertanya itu namanya kelapa bonsai (CMIIW). 
 
 
Bagus kan? Saya jadi pengen punya juga. Maunya sih tanya-tanya sama Om Miki apakah tanaman tersebut dijual? Tapi yang bersangkutan sedang sibuk karena menjadi panitia di TPS kami.
 
4. Pilkada adalah Ajang Quality Time Keluarga
 
Poin nomor dua di atas, reuni, ada kaitannya sama poin ini. Karena libur, saya lihat teman-teman datang ke TPS bersama anak-anak mereka. Setiap keluarga pasti punya quality time-nya masing-masing kan, tapi kemarin itu berdasarkan apa yang saya lihat, benar-benar menjadi ajang quality time banyak keluarga. Misalnya teman saya Sony Larantukan dan istrinya yang sama-sama bekerja; kemarin mereka datang dalam gaya santai bersama anaknya. Usai mencoblos, ketika orangtua mengobrol, anak-anak bermain bersama. Menurut saya ini bagus sekali. Sayang ... Pilkada tidak terjadi setiap bulan hahaha.
 
5. Pilkada adalah Ajang Pamer
 
Apa saja yang dipamerkan? Jari yang ada noda tintanya? Itu pasti. Tapi yang paling dominan, Pilkada adalah ajang pamer opini. Semua orang menjadi lebih pintar bicara politik. Semua orang jadi pandai memprediksi hahaha. Pokoknya seru lah membaca apa saja yang ditulis orang-orang di media sosial, khususnya Facebook (karena dominan Facebook sih yang dipakai sama teman-teman di Ende). Ya, semua orang boleh bersuara asal jangan lupa turut sumbang suara untuk memilih jagoannya ya.
 
Itu dia lima peristiwa yang terjadi saat Pilkada. Hebatnya, karena bertepatan dengan ajang piala dunia sepakbola, yang diomongin tidak melulu soal politik, tapi soal Argentina dan Korea Selatan hahaha. Ah, seru sekali.
 
Bagaimana dengan kalian? Apa peristiwa yang terjadi di lingkungan / TPS kalian? Cerita yuk :)
 
 
Cheers. 

Tuesday, June 26, 2018

Tenda Otomatis

Gambar diambil dari sini.

Bagi para pecinta aktvitas luar ruangan, tenda bukan lagi barang baru. Ya kan? Apalagi yang suka mendaki gunung (dan camping di puncaknya). Macam-macam tenda yang ditawarkan di toko-toko penyedia barang kebutuhan aktivitas luar ruangan, tak kalah toko-toko online. Saya pribadi bersama Kakak Pacar punya wacana untuk membuka camping ground buat para pecinta alam, berlokasi di lereng Bukit Kezimara. Yang punya lahan si Kakak Pacar, saya sih apa laaaah hahaha. Hanya saja untuk mewujudkannya kami harus saling bekerja sama.

Baca Juga:
Si Seterika Mini Collar Perfect!
Instructables, How to Make Anything
Prynt, The Print Pocket

Dulu banget kalau berkemah sama teman-teman Pramuka, tendanya bukan seperti yang sekarang. Kita tendanya itu pakai terpal, bambu, kayu, dan tali. Pertama-tama dipasang dulu bambu penyangga baru dibentang terpalnya dan setiap ujung diikatkan tali dan pasak yang ditanam kuat. Alasnya juga pakai terpal dan bantal dari backpack masing-masing. Voila! Waktu itu memang sudah ada tenda-tenda jadi, tapi kan umumnya hanya memuat 4 orang saja sedangkan satu regu Pramuka itu bisa 12an orang bahkan lebih. Jadi, tenda terpal buatan sendiri itu jauh lebih luas untuk menampung kami semua. Itu dulu ... sekarang sih beda.

Sekarang telah banyak tenda-tenda jadi yang kapasitasnya bermacam-macam. Ukuran menentukan harga a.k.a. harga ditentukan oleh ukuran. Bagaimana dengan bahan? So so lah menurut saya. Bagi saya tenda jadi itu harus betul-betul praktis, makanya saya menemukan tenda ini di internet, namanya Camping Trekking Outdoor Automatic Tent. Mungkin ada nama mereknya, ya. Tapi di situsnya tidak ditemukan. Tenda otomatis ini bisa memuat sampai empat orang, kalau dipaksakan mungkin bisa lima, he he he.

Apa yang unik?

Pengepakannya di dalam tas itu mirip pianika (tas pianika yang mungil itu). Tinggal dikeluarkan dari tasnya, kemudian diletakkan di tanah yang hendak dibangun tenda. Setelah diletakkan posisi berdiri, buka pengait atas maka tendanya bakal membuka semacam payung (lihat gambar di bawah ini). Setelah itu, tarik sambungan besinya, dia akan mengembang menjadi tenda.

Benar-benar seperti payung kan?

Praktis? Sangat! Saya sempat melihat videonya di Youtube. Wah, benar-benar tenda impian. Apalagi untuk saya yang malas rempong dengan bermacam tutorial memasang tenda. Tenda ini wajib dipunyai oleh mereka-mereka yang gemar beraktivitas di luar ruangan. Oia, cara menyimpannya pun mudah, tinggal mengikuti langkah mundur dari saat membukanya. Namanya juga tenda otomatis.

Tenda ini juga bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang membuka penginapan a la tenda. Di Pulau Kanawa (Labuan Bajo) yaitu Kanawa Island and Resort, salah satu jenis penginapan yang ditawarkan selain bungalo dan bale-bale adalah tenda. Harganya pun jauh lebih murah. Di Kabupaten Ende sendiri juga ada penginapan a la tenda ini, yaitu Orange Camp yang terletak di daerah wisata Moni. Jadi kalau punya lahan dan lokasi lahannya punya potensi wisata, kenapa tidak coba membuka usaha penginapan tenda? Saya pernah membaca di internet ada itu penginapan tenda yang a la tenda Apache begitu. Keren pokoknya.
Doakan ya kawan-kawan, semoga saya dapat memiliki tenda otomatis ini :D
Cheers.

Monday, June 25, 2018

Memilih Dengan Bijak


Pilkada sudah di depan mata. Pesta demokrasi di daerah untuk pemilihan Bupati & Wakil Bupati serta Gubernur & Wakil Gubernur yang ditunggu-tunggu pun akhirnya akan tiba pada Rabu, 27 Juni 2018. Ini pesta demokrasi, ini pesta kita semua. Jika memilih untuk golput, itu hak anda, tapi satu suara pun dapat menjadi penentu siapa yang bakal memimpin daerah kita. Artinya, kalau bisa, pergunakanlah hak suara anda untuk memilih. Ini bukan iklan layanan masyarakat. Hehe. Saya pernah golput, tapi kemudian saya pikir tidak ada gunanya pun golput. Pilih saja lah.

Di Ende sendiri kampanye terakhir untuk Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati, yaitu kampanye akbar, telah selesai dilaksanakan. Untuk paket MJ (Marsel Petu dan Jafar Ahmad) dilaksanakan pada Jum'at, 22 Juni 2018 sedangkan untuk paket WM (Don Wangge dan Munawar) dilaksanakan pada Sabtu, 23 Juni 2018. Kedua kampanyenya meriah dan sama-sama dilaksanakan di Lapangan Pancasila. Meskipun saya tidak ikut menonton dan mendengarkan langsung visi dan misi setiap paket, tapi dari pos berupa foto dan video teman-teman di Facebook, saya jadi tahu bahwa kedua kampanye itu sama-sama ramai dan meriah dengan hiburannya masing-masing. Itu data. Kita tidak bisa meng-klaim sepihak bahwa paket ini lebih ramai dari paket itu. Obyektif saja lah.

Memilih Bupati dan Wakil Bupati, serta Gubernur dan Wakil Gubernur, memang bukan perkara mudah. Saatnya kita memilih dengan bijak. Meksipun bukan kewajiban apalagi paksaan; tapi kita dianjurkan untuk memilih dengan bijak tanpa beban ini-itu, karena toh suara kita bersifat rahasia antara kita dan bilik suara. Memilih dengan bijak artinya memilih bukan karena faktor kedekatan emosi atau karena hubungan kekerabatan, memilih bukan karena teman se-geng, memilih bukan karena iming-iming, dan memilih bukan karena secara fisik kegantengannya. Hahaha. Tapi memilih dengan bijak memang sulit dilakukan. Menurut saya.

Ada baiknya sebagai pemilih, kita memilih dengan bijak karena memperhatikan visi dan misi dari masing-masing paket, dan bagaimana mereka mempresentasikannya di muka publik. Jangan pikirkan soal janji, karena janji calon pemimpin saat kampanye adalah sesuatu yang sulit diwujudkan dan/atau sulit untuk mewujudkan semua janji. SEMUA TIDAK MUNGKIN TERWUJUD. Paling-paling selama masa menjabat, hanya beberapa janji saja yang bisa terwujud. Tapi visi dan misi itu penting. Membawa perubahan yang lebih baik, tentunya itu yang kita harapkan bersama. Soal janji ini, memang sering dikoar-koarkan oleh pendukung; maupun sanggahan oleh pihak oposisi. Kalau saya boleh bilang; sudahlah, janji itu urusan manusia, tapi untuk mewujudkannya harus ada campur tangan masyarakatnya juga dan tentu saja Tuhan.

Sejauh saya memperhatikan, karena saya lebih suka jadi penonton ketimbang pelakor pelaku, pendukung masing-masing paket sudah mulai saling adu argumentasi dan data tentang kehebatan dan ketangguhan paket calon pemimpin yang didukung. Paket MJ misalnya. Sebagai petahana, pendukungnya mempresentasikan keberhasilan yang sudah dicapai selama memimpin Kabupaten Ende. Apabila Paket WM adalah paket yang benar-benar 'baru' dalam panggung politik, tentu sulit juga untuk meyakinkan masyarakat yang sudah merasakan perubahan yang dilakukan oleh Paket MJ. Akan tetapi, Paket WM bukan tokoh baru. Bapak Don Wangge sendiri pernah menjabat sebagai Bupati Ende sebelum digantikan oleh Bapak Marsel Petu. Selama menjabat Bupati Ende pun Bapak Don Wangge pernah melakukan perubahan yang baik untuk masyarakat. Oleh karena itu, menurut saya kali ini posisi masing-masing paket sama-sama kuat. Masing-masing punya pendukung akar rumput yang sulit digoyang.

Siapa yang akan menang?

Pertanyaan ini bersifat prediksi. Kalimat 'yang akan' itu bersifat masa depan. Siapa yang tahu apa yang terjadi di dalam bilik suara nanti? Bisa saja dari rumah hendak coblos paket MJ tapi di dalam bilik suara mencoblos paket WM. Vice versa a.k.a. sebaliknya. Jadi, dari pada kita ribut soal ini-itu, mendingan kita saling merangkul dalam damai. Karena siapa pun yang kelak menang pada Rabu nanti akan menjadi pemimpin kita semua. Dan ingat, memilihlah dengan bijak.

Sebelum saya mengakhiri pos yang ngalor-ngidul ini, saya pengen kelak pemimpin Kabupaten Ende dapat memperhatikan:

1. Pariwisata

Dunia pariwisata Kabupaten Ende yang geliatnya sudah berubah menjadi gerak-tari-dahsyat ini harus didukung dengan perbaikan infrastruktur. Kita tahu bahwa semakin ke sini semakin banyak lokasi wisata baru yang beredar di dunia maya; Tiwu Kea, Tiwu Ape, Kezimara, Pantai di Arubara, dan lain-lain. Akses jalan menuju tempat wisata baru tersebut belum maksimal mulusnya. Artinya, pemimpin Kabupaten Ende kelak melalui dinas-dinas terkait dapat lebih 'kekinian' terhadap aset wisata baru baik wisata alam maupun wisata buatan. Urusan promosi, percayalah ... masyarakat Kabupaten Ende yang menggunakan Blog, Facebook, dan Twitter tidak perlu diragukan lagi. Pos-pos mereka merupakan salah satu bentuk promosi wisata Kabupaten Ende yang patut diperhitungkan. Bahkan pemerintah dapat menggunakan pos-pos masyarakat di Blog, Facebook, dan Twitter untuk dikompilasikan dan di-pos di media online milik pemerintah sendiri. Atas ijin yang punya.

2. Komunitas & Pelatihan UKM

Kepada pemimpin terpilih kelak, perhatikanlah komunitas anak muda & UKM yang ada. Bikinlah pelatihan untuk masyarakat di desa-desa tentang UKM yang mudah dilakukan oleh mereka. Banyak sekali potensi ini ... potensi yang bisa digali dan memberi solusi menguntungkan. Saya jadi ingat filem tentang Afrika Selatan (Afsel) saat Nelson Mandela memimpin, di filem itu diceritakan bagaimana Nelson Mandela memanfaatkan ajang piala dunia rugby untuk mengangkat nama Afsel. Artinya, banyak cara untuk lebih mengenalkan daerah kita pada publik. Melalui komunitas & pelatihan UKM salah satunya.

3. Daerah Bebas Sampah

Sampah lagi, sampah lagi. Memang sulit, selama manusia masih hidup, sampah pasti ada hehehe. Di Ende sudah ada Bank Sampah, tapi mungkin perlu lebih digaungkan lagi kepada masyarakat. Dan saya jadi ingat Cilacap yang bersihnya naujubileeeeh. Masyarakatnya sadar sampah. Semoga ini bisa terwujud di Kabupaten Ende.

Demikian ... hehehe.

Mari kita rayakan pesta demokrasi di daerah kita!


Cheers.

Sunday, June 24, 2018

Triplet ~ Part 13



Triplet adalah tulisan lawas saya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena ceritanya lumayan absurd. Saya memutuskan untuk menerbitkannya di blog, part demi part. Karena keabsurdannya, komentar kalian tidak akan saya tanggapi kecuali buat lucu-lucuan. Ini bukan pembelaan diri, ini bela diri dengan jurus menghindar. Selamat membaca Triplet.

***

PART 13



~ Ende ~
April 2015

The past is not a package one can lay away.” – Emily Dickinson.

1 April. Tanggal yang penting. Penting bukan karena April Mop melainkan karena sidang perceraian Elf dan Mira mencapai garis akhir. Keletihan selama proses persidangan akan terbayar setelah mereka berstatus duda dan janda usai menandatangani surat cerai. Perceraian memang bukan kejadian yang diharapkan oleh pasangan suami-istri namun pada akhirnya perceraian menjadi solusi agar tumpukan dosa tidak semakin menggunung. Jika tidak bercerai, seorang istri bertipe Mira akan melebur bersama perbuatan zina—sepanjang hidupnya. Jika tidak bercerai, seorang suami bertipe Elf akan menjadi korban kemaksiatan yang dilakukan oleh si istri sekaligus menjadi sasaran tudingan masyarakat, “suami loyo! Tidak mampu mendidik istri!”. Posisi dilematis seperti ini jarang mudah dipahami oleh ‘orang luar’ yang tidak tahu pangkal persoalan. Mereka tidak tahu bahwa mendidik Mira jauh lebih sulit dari pada mendadak menikahinya.
Mira, amat disayangkan oleh keluarga besar Pua Saleh dan Bata, akan menikah lagi dengan biang segala musabab perceraian ini terjadi. Elf, juga amat disayangkan oleh keluarga besar Moor, akan menduda entah sampai kapan. Meskipun En pernah menjelaskan panjang lebar, yang pasti dua keluarga yakni Pua Saleh dan Moor, akan menghadapi hari-hari penuh adegan canggung karena rumah mereka di Kompleks Enarotali saling berhadapan.
“Menurut Mas ... saya pakai baju warna apa?—selain warna hitam.”
“Terserah kamu, Nduk. Aku nggak tahu ...”
“Biru saja kali ya ...”

Bukan maksud Atha jika semalam kupingnya menangkap obrolan Mira dan Wawan. Dia hanya tidak sengaja melintas di ruang makan, hendak pergi ke dapur mengambil air minum—lagi pula Mira bersikap masa bodoh. Topik obrolan pasangan kasmaran itu menerbitkan rasa muak. Bagaimana mungkin seorang perempuan membicarakan perceraiannya dengan laki-laki yang baru dikenal seperempat tahun? Bagaimana mungkin perempuan itu menimbang warna baju yang hendak dikenakan untuk menghadiri sidang perceraiannya, dari pada perasaan orang lain?
Dia tidak sadar, dia sudah melukai perasaan banyak orang. Poor Mira ...
Tadi pagi Atha menolak ajakan Baba dan Ine untuk pergi ke Pengadilan Agama di Jalan El Tari. Dia enggan menyaksikan drama demi drama yang diperankan oleh pelakon tunggal yang mahir mengeluarkan air mata itu. Kemampuannya atas The Big Spirit memang mental-bola-pingpong. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, tanpa campur tangan kemampuannya, dia tahu Mira adalah pembohong besar. Yang ingin dia tanyakan pada Mira hanya satu pertanyaan: apa kau tidak takut dosa? Bukankah semua yang kau lakukan adalah dosa?
Alih-alih menghadiri persidangan, Atha memutuskan untuk bertemu Pak Firman. Dia penasaran apa yang ingin ditanyakan, atau disampaikan, oleh teman sekantor Ucup itu. Sayangnya dia harus menunggu karena dua laki-laki yang bekerja pada pemerintah daerah itu masih banyak pekerjaan. Sejak tadi dia menolak ajakan Diba untuk ngetem di ruang kerja. Alasannya dia tidak mau mengganggu pekerjaan Diba dan Magda. Tepatnya, dia enggan menjadikan perceraian Elf dan Mira sebagai topik obrolan.
Bagi Atha, Elf adalah laki-laki paling baik yang pernah dia kenal setelah Kakek Ucup dan Baba. Masa kecilnya diisi dengan pemandangan Diba yang terbungkuk-bungkuk memikul ransel Hello Kitty di halaman belakang, berkeliling, bicara sendiri, tertawa sendiri, bahagia sendiri. Elf yang sering mendatangi Diba, mengobrol, dan terkadang berantem, adalah pemandangan setiap Minggu pagi yang tidak pernah Atha lewatkan. Hingga mereka beranjak remaja, meski tidak sanggup menembusi, dia tahu Elf menyukai Diba. Hanya saja cinta belum sempat terucap ketika Mira melempar tahi babi ke wajah orangtua mereka: keluarga besar Pua Saleh dan keluarga besar Bata.
Biasanya setelah lelah berkeliling halaman belakang dan berlagak persis turis mancanegara,  Diba melepas lelah di bawah pohon mangga. Lantas Elf datang membawa setangkai permen Hello Kitty yang dibeli di Kios Baba Hoi. Ini adalah rutinitas yang mereka lakukan sejak Diba diramal menjadi Pecinta Bantal oleh Kakek Ucup dimana Diba ingin membuktikan bahwa dirinya bukan Pecinta Bantal yang tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa ngorok. Sebanyak pertanyaan yang Elf lontarkan, sebanyak itu pula Diba menjawab. Sesekali Elf mengacak rambut Diba—dan dia senang bukan main diperhatikan oleh Elf, sesekali oleh Kakek Ucup. Elf, permen, dan kalung Hello Kitty-nya menghadirkan perasaan paling gembira untuk Diba. Ternyata itu bukan sekadar gembira, melainkan cinta. Cinta pertama.
Atha pernah, secara tidak sengaja, mendengar percakapan mereka.
“Adek harus bisa keliling Indonesia …”
“Iya, Bang! Adek mau!”
“Bagus.”

Dan cinta itu terus tumbuh. Tahun demi tahun.
Atha memejam mata, mengingat cerita Diba ... suatu sore sepulang latihan basket di sekolah, SMP Negeri 2 Ende, Diba bertemu Elf di dekat gerobak bakso dagangan Mas Kume. Diba tersenyum simpul, dia merasa yakin Elf tidak akan mengenalinya, mungkin menyangka dirinya Mira atau Atha. Karena hanya Kakek Ucup, Baba, dan Ine, yang bisa membedakan mereka bertiga dengan cepat, dan tepat.
“Kalungnya dipakai, Dek?”
Diba terkejut. “Dari mana Abang tahu saya ini Diba?”
“Tahu saja. Kalungnya tidak dipakai?” balas Elf ringan.
“Pakai. Ini …” Diba mengeluarkan kalung  perak Hello Kitty dari dalam kaos. Elf tersenyum dan mengacak rambut Diba di depan umum. Saat itu, saat sedang bergeloranya perasaan seorang siswi SMP, perbuatan Elf membuat pipi Diba bersemu. Padahal waktu itu Diba bukan lagi murid SD yang setiap Minggu siang berkeliling halaman belakang sambil memanggul ransel Hello Kitty yang isinya menganiaya pundak, sambil berpura-pura sedang melancong.
“Jangan dilepas, ya, kalungnya,” pesan Elf  sebelum berangkat kuliah ke Jakarta. Kalung itu memang tidak pernah lepas dari leher Diba sekalipun hatinya tersakiti.
Jakarta. Atha menghela nafas panjang. Jakarta. Laki-laki dari Jakarta itu ...
Tahun 1998, liburan semester ganjil membawa Elf pulang ke Ende. Teman kuliahnya, Firdaus, turut serta. Era 90-an, kiblat segala kesenangan kaum muda masih Jakarta. Kehadiran Firdaus, cowok ganteng anak Jakarta berpenampilan keren, di kota sekecil Ende, membawa dampak bagus untuk penampilan gadis belia di sekitar Kompleks Enarotali: Mira, Er, En, Indira, Inggi. Mereka berlomba-lomba menjadi yang paling cantik, dan paling menarik. Mira yakin pangerannya, meski tidak berkuda putih, telah tiba. Hanya dalam tempo dua hari Mira telah berubah menjadi perangko dan Firdaus amplopnya. Tidak sampai tujuh hari Mira mendepak anak kepala sekolah, Diono, dan mengumumkan pacar barunya: Firdaus dari negeri antah-berantah.
Elf tahu ada yang salah. Bahkan saat Diba mendatanginya, dia tahu sesuatu yang sangat salah sedang terjadi. Tidak seharusnya Mira dan Firdaus menjalin hubungan asmara. Cinta lokasi? Tidak.
“Semalam Baba marah-marah. Itu … Mira dan Bang Fir pulang larut!”
“Iya. Nanti Abang bilang sama Firdaus.”
“Jangan hanya janji!”
“Iya, Dek ...” tangan Elf, seperti robot pemasang onderdil mobil yang telah disetel, mengacak rambut Diba. “Abang tanggung jawab, deh. Percaya, Abang juga tidak mau terjadi apa-apa dengan Mira.”
Cinta tidak buta. Manusia yang sering buta karena cinta. Oleh Firdaus, omongan Elf hanyalah angin lalu. Tidak penting. Dan Mira terang-terangan menyatakan permusuhan pada siapa pun yang melarangnya berhubungan dengan Firdaus saat Atha dan Diba berusaha mengingatkannya.
Dua bulan menjelang ujian EBTANAS SMU, Firdaus dan Mira berencana jalan-jalan ke Danau Kelimutu. Hanya berdua. Kekuatiran Diba dan Atha memuncak. Jelas pasangan baru itu pergi tanpa sepengetahuan Baba dan Ine. Namun ancaman Mira menyurutkan niat Diba untuk mengadu.
“Berani kau lapor sama Baba dan Ine, saya bongkar rahasia kau dengan foto porno itu!”
Diba naik pitam. Foto itu sama sekali bukan foto porno. Dia lebih melihatnya sebagai seni. Siska, teman kelasnya yang paling badung, dengan berani meminta difoto hanya mengenakan celana jins dan bra warna hitam. Duapuluh empat foto Siska dari roll film itu pun dicuci-cetak di Bali, bukan di Ende.
Mira tersenyum. Dia menang. “Sebaiknya kau dan dukun itu tidak macam-macam!
“Saya bukan dukun!” balas Atha. Namun protesnya tidak digubris Mira.
Atha dan Diba tahu, dengan membiarkan Mira pergi bersama Firdaus ke Danau Kelimutu, maka mereka telah bersikap sangat tidak bijaksana. Namun mereka akhirnya memilih untuk bungkam ketika Minggu pagi Mira pamit, “Baba, saya pergi ke rumah Rani … kami mau piknik di Bitta Beach.”
Dua bulan setelah dirinya di-cap sebagai dukun, setelah ujian EBTANAS, saat Diba sedang tidur siang dan bermimpi kapal milik Vasco da Gama menabrak paus biru (dan Atha membangunkannya dengan ganas), aib itu terbongkar. Baba nampak seperti patung Liberty dalam kondisi syok habis dihantam limaribu meteor, Ine menangis tersedu-sedu, sedangkan si trouble maker duduk diam dengan ekspresi lugu tidak bersalah.
Atha masih ingat betapa histerisnya Diba di KBU—Kamar Bicara Umum—di Kantor Telkom, berteriak marah pada Elf dalam sambungan interlokal. Buku-buku tangannya memutih akibat terlalu kuat menggenggam gagang telepon. Dia hanya bisa mematung mendengar raungan Diba, “Sekarang, di mana dia!?”
Yang tidak diketahui Atha dan Diba, di seberang sana nafas Elf nyaris putus. Dua minggu sebelumnya Firdaus terbang ke Kanada, dan hilang kabar. “Abang yang akan tanggung jawab, Dek.”
“Tanggungjawab? Dulu juga Abang janji mau tanggungjawab! Mau nasihati Bang Firdaus untuk jauhi Mira! Tapi buktinya Mira bunting!
“Dek … Abang benar-benar akan bertanggungjawab.” Elf tahu, hatinya teriris-iris. Dia sendiri yang menyebabkannya.
Kesediaan Elf untuk menikahi Mira pada 23 Juni 1998 adalah tindakan paling heroik bagi keluarga besar Pua Saleh. Meskipun menimbulkan efek kebencian Er dan En pada Mira, juga sakit hati Diba, pesta pernikahan tetap dilangsungkan. Meriah, mewah, dan mengundang decak kagum. Hanya keluarga Pua Saleh, keluarga Bata, keluarga Moor, dan tetangga dekat saja yang tahu mengapa Mira segera kawin setelah menerima STTB dan NEM, dan Elf belum menyelesaikan kuliahnya di Jakarta. Elf mengawini Mira untuk menutup aib keluarga Pua Saleh. Itu sebabnya foto pernikahan mereka dihiasi wajah murung Elf.
Atha ingat cara dia membangunkan Diba yang sedang tidur siang, persis manusia kesetanan. Dia begitu syok, dan begitu malu pada diri sendiri karena kemampuannya atas The Big Spirit bukanlah apa-apa.
OPPO R1011 Atha berdenting. BBM dari Ucup.
Kak, sabar ya ... agak lama ... sabar ...
Atha meletakkan kembali gadget-nya ke atas meja. Dia menggigit fried bisccuit yang Kedua.
Ucup, si bungsu, bernama lengkap Yusuf Pua Saleh. Baba sengaja memberikan nama mendiang Ayahnya untuk si bungsu. Bedanya Ucup tidak punya kemampuan meramal seperti Kakek Ucup. Ucup lahir setelah Kakek Ucup meninggal, pun setelah Kakek Ucup meramal Ine akan melahirkan seorang bayi laki-laki yang usianya terpaut jauh dengan ketiga kakaknya.
Bagi ketiga cucunya, Kakek Ucup adalah pahlawan keluarga dan gudang informasi. Atha hampir tidak percaya celoteh Baba perihal kakeknya yang tukang ngambek sampai mendengar sendiri obrolan Baba dan Kakek pada suatu hari ... dulu ... sungguh konyol tingkah Kakek.
“Ayah, kalau Ayah mau marah ... silahkan. Tapi jangan diam begitu. Kasih tahu apa kesalahan saya.”
“...”
“Ayah ...”
“...”
“Ayah ...”
“Saya tidak suka makan itu. Kalau pagi saya maunya fizu atau wajik! Jangan yang lain!”
“—ooh ... itu ...”
“Kau kasih saya roti lagi ... saya pulang ke Paupanda. Atau sekalian pulang ke Pulau Ende! Saya tidak mau tinggal dengan kau lagi!”
“Iya, Ayah ...”

Kakek Ucup adalah laki-laki tangguh yang lahir-besar di Pulau Ende dan bersama Nenek Fatimah pindah ke daerah pinggir pantai Kota Ende setelah dua bulan menikah. Nama daerah pinggir pantai itu Paupanda. Rumah mereka di Pulau Ende didiami hanya oleh Bibi Meda dan sepupunya: Bibi Ani, karena tiga anak laki-lakinya memilih untuk tidak menetap di Pulau Ende.
Rata-rata mata pencaharian masyarakat Paupanda adalah melaut dan berdagang meski tidak sedikit pula yang bekerja kantoran, menjadi Pegawai Negeri Sipil. Kulit Kakek Ucup gelap, lebih tepatnya gosong akibat sering terpapar sinar matahari, diperoleh sejak masih muda, dan kuat saat laut masih menjadi sahabat terbaiknya, pagi, siang dan malam. Ya, dia seorang nelayan tradisional yang menghidupi keluarganya dari hasil melaut. Memang benar melaut dilakukan pada malam hari namun sejak siang hingga sore dia akan berjemur di bawah sinar matahari untuk memperbaiki pukat, sekadar mengecek perahu, atau bersenda-gurau bersama teman-temannya berdialog tentang topik pengeboman ikan penyebab rusaknya biota laut. Tidak seperti turis mancanegara yang terobsesi pada kulit cokelat eksotis yang rela menyediakan waktu libur khusus, dan sejumlah uang, untuk berjemur di pantai, Kakek Ucup melakukannya setiap hari tanpa menunggu liburan, dan gratis. Kulitnya bukan lagi cokelat eksotis melainkan gosong memikat.
Wajah Kakek Ucup sangat jenaka. Menurut Atha, “jenaka yang maut!” karena meski Kakek Ucup selalu tersenyum, menghadirkan kerutan di sudut mata, sorot matanya begitu keras dan tajam. Perpaduan yang akan membuat siapa pun ngeri melihatnya. Senyumnya sedikit misterius tapi membius. Pantas saja Nenek Fatimah begitu mencintainya hingga akhir hayat. Meskipun tidak berlangsung lama, ketiga cucunya masih sempat menyaksikan kehidupan dua orangtua usia lanjut yang begitu damai, penuh cinta, penuh fizu dan kue wajik.
Setelah Nenek Fatimah meninggal dunia, Baba memaksa Kakek Ucup untuk tinggal bersama mereka. Rumah Kakek Ucup di daerah Paupanda dirawat oleh kerabat. Bibi Meda memaksa Kakek Ucup untuk kembali pulang ke Pulau Ende namun posisi Baba sebagai kakak jauh lebih berkuasa.
Berbeda dari ketiga cucu yang selalu terbius oleh setiap ceritanya, Baba dan Ine menganggap Kakek Ucup sangat cerewet karena tidak pernah kehabisan topik untuk dibicarakan. Kakek Ucup hanya akan berhenti bicara ketika sedang shalat, mengaji, dan tidur. Suaranya yang berat dan sedikit serak itu terdengar sangat indah. Menurut Diba dengan suara sebagus itu Kakek Ucup pantas jadi penyanyi. “Seperti Mel Shandy! Jago mengaji, jago nge-rock!”
Mira, Atha, dan Diba, sangat suka mendengar Kakek Ucup bercerita. Ibarat ensiklopedia, itulah dirinya. Ensiklopedia masa lalu yang menyimpan potongan-potongan sejarah. Nyaris semua hal diketahuinya. Masa perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan penjajah, menjadi kepercayaan kepala desa sebagai pengantar surat, jatuh berkali-kali ketika berlatih naik sepeda onthel, saksi pembangunan Ende ketika Bupati Herman Josef Gadi Djou, Drs.Ekon menjabat sebagai bupati, betapa Kakek Ucup sangat menentang penangkapan ikan menggunakan bom, permasalahan ekonomi, jatuh cinta pada Nenek Fatimah dan susahnya mereka mengurus pernikahan karena ditentang orangtua gara-gara nyaris tak sanggup membayar belis, membaca bintang dan arah angin, adat istiadat masyarakat Ende, pernikahan Baba dan Ine yang ditentang keluarga besar Bata, hingga turunnya nilai mata uang Rupiah. Bagian favorit Atha adalah soal mata uang itu.
Satu catatan yang perlu diingat, beberapa orang Ende berusia lanjut akan berbicara menggunakan Bahasa Indonesia yang sedikit aneh karena kurang huruf pada satu-dua kata. Itulah sebabnya nama Bupati Eman (panggilan dari nama depan beliau: Herman) menjadi Bupati Ema. Kira-kira seperti ini bila Kakek Ucup sedang bercerita, “kalian pung nenek dulu suka pake mola.” Molang adalah sejenis ramuan tradisional (terdiri dari beras dan kencur) untuk masker yang berkhasiat memuluskan kulit wajah. Merek ternama yang dulu menjajah wajah perempuan bernama Berastagi. Untuk pola kata yang disingkat bisa dilihat pada: punya menjadi pu atau pung, sudah menjadi su, pergi menjadi piatau pigi, tidak menjadi ti atau tir, kau menjadi ko, dengan menjadi deng, kayak menjadi ke. Rancu akan terjadi pada penggunaan ‘macam ke’ atau ‘macam kayak’ atau ‘seperti kayak’.
Ko pi mana?”
Sa pi pasar.”
Di NTT setiap wilayah mempunyai bahasa daerah dan dialek masing-masing. Jangan pernah berpikir Orang Ende berbicara menggunakan sonde atau beta layaknya orang-orang dari Pulau Timor. Tidak. Sangat jauh berbeda. Bahkan di Kabupaten Ende pun terdapat dua bahasa: bahasa Ende (bagian pesisir) dan bahasa Ende Lio.
Salah satu cerita Kakek Ucup yang paling fenomenal dan paling disukai oleh Mira, Atha, dan Diba, adalah tentang kelahiran mereka. Mira dan Atha gemar meminta Kakek Ucup mengulang hingga hafal detail-detailnya. Detail-detail yang kemudian membuat Diba hanya bisa pasrah menerima ramalan.
Mereka lahir pada 13 Maret 1979.
“Kalau ada bulan tigabelas, kelahiran kita sempurna,” celetuk Atha.
Hari ketiga setelah Ine melahirkan Mira, Atha, dan Diba, Kakek Ucup datang ke Kota Ende. Ngambeknya gara-gara urusan nama usai. Lagi pula dia merindui rumahnya yang di Ende karena tinggal di rumah orangtuanya di Pulau Ende tidak senikmat tinggal di rumah sendiri. Kakek Ucup mendatangi Rumah Sakit S.Sp.S. membawa pasukan yang cukup banyak. Menunggu jam bezuk rumah sakit dibuka, Kakek Ucup, Nenek Fatimah, Bibi Meda, dan dua kerabat lain dari Pulau Ende memadati pintu rumah sakit. Uniknya, Orang Ende punya kebiasaan berbicara menggunakan ‘Do’ tinggi. Lima orang berkumpul saja terdengar seperti limapuluh orang. Sambil menunggu suster penjaga membuka pintu rumah sakit, mereka menikmati biskuit dan kopi panas yang tersimpan di termos. Mereka piknik.
Saat itu lah Kakek Ucup merasa sesuatu yang aneh. Cuaca yang cerah berubah muram. Mendung bergelayut entah kapan datangnya. Kakek Ucup and the genk, juga pengunjung yang lain, menyelamatkan diri dari serangan hujan dengan berdiri di bawah naungan tepian atap rumah sakit. Namun hujan hanya sebentar menit karena langit kembali cerah dan matahari bersinar garang. Kakek Ucup membaca tanda-tanda itu. Salah satu dari bayi Baba dan Ine pasti akan sangat mencintai hujan. Terlalu cinta hingga dianggap sinting. Saat matahari bersinar terik Kakek Ucup merasakan sesuatu yang aneh, “Kakek rasa macam ke senja. Mustahil, masi jam delapa pagi!” dan menurutnya salah satunya akan sangat mencintai senja.
“Tanda ketiganya  apa, Kek?” tanya Diba.
Itu aneh. Tiba-tiba Kakek rasa macam malas sekali. Kakek tidu di atas bangku semen depa ruma saki,” jawabnya sambil mengulum senyum. “Salah satu dari kamu tiga ... cinta bantal. Kamu tiga macam makhluk aneh yang Tuhan kirim. Kakek su bisa rasa ... betu-betu istimewa.”
“Kenapa saya punya nama ini ... Sharastha, Kek?” tanya Atha.
Kakek Ucup cemberut. “Tanya kau punya Baba tu. Kasih anak nama yang aneh-aneh.”
Saat Mira, Atha, dan Diba, duduk di bangku kelas 3 SD, sesuatu terjadi. Sore itu langit mendung. Mereka bertiga duduk di beranda depan ditemani Kakek  Ucup yang sedang bercerita tentang Marilonga (dengan jargon: Mariloga, Topo Doga), pahlawan Ende yang gagah berani, dan diabadikan dengan monumen Marilonga di daerah Wolowona. Mereka tahu Kakek Ucup tidak pernah bertemu Marilonga namun caranya bercerita seolah-olah saat itu dia berada di belakang Sang Pahlawan menantang musuh sebagai pemikul air minum. Betapa bersemangatnya dia bercerita dan betapa seriusnya cucu-cucunya mendengar hingga tak sadar langit mulai memuntahkan isi perut. Perlahan rintik lantas menjadi hujan. Mira dan Diba tidak menyadari bergesernya Atha dari posisi duduknya. Atha mendekat pinggiran atap seng rumah lantas mengulurkan tangan. Atha terkekeh geli merasakan air hujan memenuhi tangkupan tangannya yang tengadah. Perhatian Mira dan Diba pada cerita Kakek Ucup teralih seiring dengan berhentinya kata-kata yang sebelumnya meluncur lancar tanpa jeda. Tingkah Atha mengalihkan perhatian mereka semua karena setelah terkekeh geli Atha lantas termangu seperti orang terhipnotis. Tatapan mata Atha kosong seakan sedang menatap sesuatu yang sangat jauh. Mira dan Diba tersentak. Kakek Ucup tersenyum dengan sorot mata tajam tertuju pada Atha. Bibirnya memainkan pipa tembakau-nya naik-turun.
Su mulai. Pecinta Hujan,” desis Kakek Ucup.
Mira dan Diba bergidik ngeri. Cerita Kakek Ucup pada tahun-tahun sebelumnya terbukti. Cerita yang mungkin hanya dipercayai anak sekecil mereka. Tapi cerita itu terbukti! Mereka menemukan jawabannya. Atha, Pecinta Hujan.
Atha menghela nafas panjang. Dia masih ingat wajah perempuan pertama dari dunia lain yang dilihatnya kala hujan mengguyur itu.
Kakek hanya bilang saya pecinta hujan. Kakek tidak bilang sejak saat itu saya sudah bisa menembusi banyak orang, banyak benda, bisa melihat arwah dari manusia yang telah mati, bertemu Konde Ratu ...
Sejak kejadian dirinya bersama hujan, Mira dan Diba mulai saling menebak. Siapakah yang akan menjadi Pecinta Senja? Lebih buruk, siapakah yang akan menjadi Pecinta Bantal? Mereka baru kelas 3 SD tapi mereka begitu kuatir akan tanda-tanda yang dibaca Kakek Ucup tiga hari setelah mereka lahir. Bila Atha sudah mengambil posisi Pecinta Hujan, tak lama lagi tentu akan ketahuan siapa Pecinta Senja dan Pecinta Bantal.
Saat liburan kenaikan kelas, suatu sore keluarga Pua Saleh pergi ke Taman Rendo, taman bermain kanak-kanak di pinggir Pantai Ende. Tentu saja Kakek Ucup turut serta! Sudah lama dia tidak ke pantai menyapa laut. Pantai Ende berpasir hitam dan kata Baba: banyak ‘candi’nya. Mereka tidak mengerti. Candi? Bukankah tidak ada candi di kota Ende? Dari pelajaran Geografi yang mereka peroleh di sekolah, candi banyak terdapat di Pulau Jawa. Tapi di Ende? Benarkah? Melihat ekspresi bingung si kembar tiga, Baba, Ine, juga Kakek Ucup terbahak-bahak. Ternyata candi yang dimaksud Baba adalah hasil pembuangan manusia akibat dari tidak tersedianya MCK di rumah-rumah penduduk tepi pantai. Mereka terkejut mendengarnya. Bagaimana mungkin masyarakat sebuah kota seakan hidup jauh dari peradaban? Untungnya sekarang MCK umum sudah tersedia, pun di rumah-rumah penduduk.
Sore itu matahari sangat cantik. Diba suka warnanya apalagi saat matahari turun perlahan menghilang dibalik Pulau Ende. Diba terpana. Indahnya! Warna emas, merah, seperti pink, berpendar di langit. Dia menatap senja itu dengan takjub.
Suara Kakek Ucup terdengar, “Su tau sapa yang cinta senja? Liat su di sana …”
Mira pergi menjauh dari mereka, mendekati bibir pantai, duduk bersila di sana sambil menatap senja dan tersenyum. Mira bahkan tidak mendengar teriakan Ine yang kuatir pakaiannya basah terjilat air laut.
Diba kalah. Tidak. Diba tidak kalah hanya saja tanda-tanda yang dibaca Kakek Ucup setelah hujan dan senja cukup menohok. Pecinta Bantal.
Ko su kasih tunjuk tanda-tanda sangat cinta bantal tapi ko tir sadar,” celetuk Kakek Ucup sambil mengulum senyum.
“Maksud Kakek?” tanya Diba, separuh tidak rela menerima julukan Pecinta Bantal.
Tir bisa bangun sholat Subuh, selalu terlambat bangun mo pi sekolah, kadang ketidura di kelas karena tadi malam ko asyik baca komi.” Yang dimaksud Kakek Ucup dengan komi adalah komik.
Kau pecinta bantal yang sukses, Diba.
Atha meneguk teh melati. Menikmati sendiri di kafe yang sepi sangat jarang bisa dia lakukan. Teringat saputangan warna biru ... segera dia mengeluarkan saputangan warna biru dari dalam tas.
Biru ... mata Atha terpejam.
Terobos ... lorong waktu ... meloncati dimensi ... tidak. Belum saatnya dia meloncati dimensi ... sesiang ini?
“Kau ...”
“Saya Sharastha ... kita pernah bertemu.”
“Ya ... kau benar ... aku akan datang.”
“Benarkah? Kau yakin akan temukan jawabannya?”
“...”
“Harusnya kau yakin. Jika tidak, untuk apa saya datang?”
“Kau?”
“...”
Dirinya kembali tersedot. Seseorang mengguncang tubuhnya.
“Kak!”
Mata Atha membuka.
“Cup? Sudah berapa lama kau di sini?”
“Baru saja ... Kakak ... sedang ...”
Atha tersenyum. Dia sengaja tidak memuaskan Ucup dengan penjelasan tentang apa yang baru saja dia alami. Lagi pula ada orang lain di tengah mereka. “Dan ini ... Pak Firman?” tebaknya sambil menatap laki-laki paruh baya yang hampir seluruh wajahnya ditutupi bulu. Terlalu mahal kah pisau cukur?
Pak Firman menyodor tangan. “Kenalkan, saya Firman.”
Atha menyambut tangan Pak Firman ...
3 ...
2 ...
1 ...
Ledakan terjadi. Tak terelakkan. Dahsyatnya memusingkan kepala Atha.
Precognition?” desis Atha.
Not only psichometry. You ... also ... clairvoyance? And ... many more!” Pak Firman terpana.
Bergantian Ucup menatap kakaknya dan Pak Firman. “Jadi ... ada apa ini?”
“Kami hanya manusia biasa ...” Atha tersenyum.
“... yang kebetulan bisa melihat masa lalu, masa depan ... dan mungkin ...” Pak Firman mengangguk-angguk, masih terpana. Baru kali ini dia bertemu manusia dengan kemampuan saling bertumpuk.
“Mengunjungi mimpi orang lain ...” sambung Atha.
Ucup menepuk kening. “Jadi dalam hidup saya yang sudah sengsara ini, saya masih harus berhadapan juga dengan Pak Firman?” keluhnya.
“Kau mau saya ramal, Cup?” goda Pak Firman, lantas tersenyum jenaka.
“Jadi ini jawaban dari ... dari sikap Pak Firman yang kadang aneh ...” Ucup mengangguk-angguk.
“Betul, Cup. Saya sendiri juga harus menguasai diri. Saya sering melihat masa depan yang ... kau tahu lah ...” Pak Firman mengangkat bahu. “Tidak semuanya bisa saya ceritakan.”
“Astaga ...” Ucup menepuk kening. “Dan untuk apa Pak Firman ketemu Kak Atha?”
“Untuk mencari pasangan,” jawab Pak Firman. Pasti.
“Pasangan?” Ucup terbeliak. “Pak Firman, jangan paksa Kak Atha untuk pacaran sama ...”
Atha tergelak. “Bukan pasangan itu, Cup.”
“Maksudnya?” tanya Ucup.
Atha mendesah. “Kami selalu merasa sendiri, Cup,” ujarnya. “Siapa pun tidak akan tahu bagaimana perasaan saya setiap malam.”
So ...?” kejar Ucup.
“Sudah lama saya dengar kabar tentang Atha,” sambar Pak Firman sebelum Atha sempat menjawab. “Sudah lama saya ingin bertemu Atha. Namun pekerjaan dan dinas ke luar kota membuat saya belum sempat mencari waktu yang pas seperti siang ini. Lagi pula dulu saya sungkan ... kita kan belum seberapa dekat, Cup.” Pak Firman tersenyum. “Saya dan Atha akan saling memahami. Tidak seperti orang lain memahami diri kami masing-masing.”
“Itukah alasannya Pak Firman masih ...” Atha menggigit bibir. “... membujang?”
Pak Firman tergelak. “Tidak. Saya membujang karena masih ingin membujang.” Dia menggaruk kepala. “Sudah sangat tua, ya?”
“Tidak,” sanggah Atha.
“Mulai sekarang saya harus hati-hati. Saya kuatir kau tahu rahasia-rahasia saya,” seru Pak Firman lantas tergelak.
“Aaah. Saya juga harus hati-hati. Masa depan saya sangat mudah diterawang,” balas Atha.
Diba berlarian dari arah Pojok Buku. “ATHAAA! ATHAAA!”
“Heh?” Atha menyerngit kening. “Kenapa lagi Kakak kau tuh, Cup,” godanya.
“Mono, Tha! Mono!” Diba, masih menjerit, menyerahkan G-Note pada Atha.
“Halo?” sapa Atha. “Astaga! Saya pikir kau sudah mati ... ha ha ha ... eh maaf. Iya ...”
“Kak Mono yang di Jogja itu?” tanya Ucup. Diba mengangguk, membiarkan Atha mengobrol dengan Mono melalui sambungan telepon.
“Tamunya Atha?” Diba bertanya pada Pak Firman. Yang ditanya hanya membalas dengan anggukan kepala. “Minta di ... dilihat?” tanya Diba lagi.
“Kakak mau minta dilihat sama Pak Firman?” tanya Ucup.
“Eh? Maksudnya?” Diba berbisik, “Pak Firaun sama kayak Atha?”
Pak Firman menggeleng. “Nama saya Firman, bukan Firaun. Dan ... saya precognition ...”
Bibir Diba menyatu, monyong dan, “WOW! Atha past, Pak Firaun future! Disertai lain-lainya!”
Ucup benci kalau kakaknya yang satu ini mulai bertingkah aneh.
“Siapa jodoh saya?” tanya Diba.
“Ha?” Pak Firman melongo.
“Ah ...” Diba mengibas tangan. Dia menerima kembali gadget-nya dari Atha. “Bulan depan kau bisa temani saya ke Riung, Tha? Nganter si Mono and the gank.”
Insya Allah,” jawab Atha. “Anak itu ya ... ya Tuhan ... kau masih ingat waktu dia ajarin kita internet? Duileh, gayanya macam dosen wali kau itu!”
Diba terkekeh.

“Keajaiban adalah milik Tuhan, sama seperti keajaiban tongkat Nabi Musa yang terjadi atas kehendakNya.” – Anonim.

***
Bersambung.