Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Tuesday, July 31, 2018

Memeras Pasta Gigi Bukan Persoalan Sulit

Gambar diambil dari sini.

Menurut saya semua orang pasti pernah berhadapan dengan masalah yang satu ini: pasta gigi di ambang batas tapi sayang kalau dibuang. Solusi paling gampang adalah dengan membelah tubuh tube-nya dengan konsekuensi tube tidak dapat didaur ulang menjadi dompet koin atau pinsil. Padahal kan unik tuh dompet koin berbahan tube pasta gigi. Oleh karena itu kali ini saya bakal ngepos soal alat pemeras pasta gigi. Ada yang buatan pabrik ada pula yang bisa kita bikin sendiri atau menggunakan barang yang ada di rumah.

Baca Juga:

Pemeras pasta gigi yang satu ini dapat kalian lihat di sini. Dengan warna-warna yang cerah, pemeras pasta gigi ini bakal bikin kamar mandi kalian meriah (cie, bahasanya). Mudah dipakai dan tidak bakal ada pasta gigi yang tersisa di tube-nya. Coba lihat gambarnya di bawah ini:


Atau bisa juga kalian pada gambar di bawah ini:


Tapi, tahukah kalian ... kita juga bisa membikin sendiri pemeras pasta gigi ini menggunakan barang-barang yang ada di rumah, ketimbang membelinya. Contohnya bisa dilihat pada gambar berikut ini:


Gunakan binder clip! Tapi bisa juga menggunakan dua kayu kecil yang ujungnya disatukan menggunakan karet gelang. Tidak percaya? Ini buktinya:


Mudah bukan?

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian, apalagi bagi yang suka kesal sama pasta gigi yang 'rasanya masih ada' tapi kok tidak keluar-keluar juga. Sekalian bisa berhemat kan meskipun hanya beberapa Rupiah hehe. Asli kalau tubuh tube-nya dipotong, memang tidak bisa atau sulit untuk didaur ulang menjadi dompet koin.

Bagaimana? Mau mencobanya? Jangan lupa bagi tahu saya yaaaa hasilnya qiqiqiiq :D



Cheers.

Monday, July 30, 2018

Jembatan Gantung yang Cihuy

Jembatan gantung yang cihuy!

Adalah hal yang paling menyenangkan bisa bekerja sebagai kuli-tinta-kampus di Universitas Flores (Uniflor) sejak awal sampai saat ini. Saya ditempatkan di UPT Publikasi dan Humas yang tugasnya meliput ragam kegiatan kampus, membuat berita untuk dipublikasikan di koran lokal Flores Pos (yang sekarang kerjasamanya belum diperpanjang) serta di website dan akun media sosial Uniflor seperti Facebook dan Twitter, mendokumentasikan kegiatan sekaligus mengarsipkannya, termasuk berhubungan dengan wartawan-wartawan untuk kegiatan Uniflor yang butuh publisitas besar-besaran. Selain saya, ada Kakak Rossa (asal Solo tapi menikah dengan Orang Ende) sebagai rekan seperjuangan malang-melintang di dunianya UPT Publikasi dan Humas. Selain yang sudah saya tulis di atas, tugas kami masih banyak, diantaranya menerima ragam artikel ilmiah yang bakal dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Indikator, mewawancarai para doktor dan disertasi mereka, serta kadang-kadang memecah disertasi menjadi beberapa buku. 

Baca Juga:

Sabtu (28/7/2018) saya bertugas meliput kegiatan peserta KKN Universitas Flores T.A. 2017/2018 di SMPN Satap Koawena, Kelurahan Rewarangga, Kecamatan Ende Timur, Kabupaten Ende. Ini atas permintaan Ross, salah seorang peserta KKN di Kelurahan Rewarangga, tapi juga sekaligus tugas saya sebagai anggota pantia KKN bagian publikasi dan dokumentasi. Awalnya saya pikir sekolah ini berada di pinggir jalan dalam bayangan perjalanan menuju KM 14 tempat saung jagung manis rebus dijual. Jadi ... aman saja lah. Kamera ready, HP ready, dan Oim Hitup (motor matic andalan saya) juga ready. Mari kita berangkat! Eh, maksudnya, saya pun berangkat!



Pukul 08.30 Wita saya memacu Oim Hitup cukup santai, sambil menikmati udara pagi dan pemandangan sepanjang perjalanan yang ... kalau kalian pernah ke Pulau Flores pasti tahu sepanjang jalan itu banyak kebun, sawah, hutan, dan perkampungan. Lagipula masih pagi ini, tidak seru kalau ngebut. Asyik lah perjalanan santai begini. Tiba di cabang menuju sekolah tersebut saya bertemu beberapa peserta KKN yang sedang menunggu teman lainnya. Perasaan saya menjadi mendadak dangdut tidak enak. Eh ... betul ternyata.

SMPN SATAP KOAWENA ITU BERADA DI SEBERANG SUNGAI YANG DIHUBUNGKAN DENGAN JEMBATAN GANTUNG!

Ngeri mendengarnya. Tapi ini tugas alias pekerjaan kan, jadi harus dijalani. Maka saya memacu Oim Hitup menuju si jembatan yang penampakannya bisa kalian lihat di awal pos; jembatan gantung warna kuning. Duh Tuhan, lutut sudah gemetar duluan karena ini jembatan gantung yang kalau dipakai jalan kaki saja pasti berayun-ayun menggetarkan kalbu. Bismillah. Menarik gas Oim Hitup dengan mantap, melaju di atas jembatan, rasanya tempurung lutut pindah ke ulu hati karena jembatan berayun kencang! Semakin ke tengah semakin kencang diiringi suara gemuruh beradunya papan kayu dan besi yang ngalah-ngalahin suara emak-emak kalau duitnya hilang. Ada pikiran: bagaimana kalau jembatannya rubuh? Memang jatuhnya ke bawah, tapi jatuh dari ketinggian seperti itu tentu menghasilkan cerita tersendiri. Hahaha.

Bagi masyarakat setempat dan para guru di sekolah itu, jembatan gantung bukan sesuatu yang horor karena mereka menyeberangi si jembatan setiap hari. Tapi bagi yang baru pertama kali, betul-betul pengalaman seru. Kalian harus mencobanya sendiri.

Tiba di sekolah tersebut kegiatan belum dimulai. Sempatlah hang out sebentar ke sana kemari, memerhatikan murid cowok yang lagi mengobrol. Saya perhatikan, meskipun mereka tinggal jauh dari kota tapi mereka sangat bersih dan cukup bergaya. Tutur bahasa pun bagus. Salut.

The cowoks yang tidak kalah sama anak kota.

Sekolah ini terletak di lereng bukit sehingga kondisinya naik-turun, ada bangunan yang di atas, ada bangunan yang di bawah. Dan di sampingnya ada sebuah sekolah dasar. Mungkin ini yang membikin namanya jadi satu atap (Satap) tadi. Saya membayangkan jika upacara, bagaimana formasi mereka berdiri? Lahan yang lapang hanya sedikit di bawah pohon mangga. Pasti sulit mengaturnya. Ini yang membikin saya selalu bangga sama sekolah-sekolah yang ada di luar Kota Ende, guru dan murid tidak mengeluh tentang kondisi topografinya, kalau mengeluh paling mengeluh kondisi bangunan sekolah dan perangkat belajarnya. Tapi yang saya lihat tadi, kondisi bangunan sekolah bagus loh, meja dan bangku di ruang kelas juga dalam kondisi baik dan terawat.

Kegiatan (diadakan di laboratorium IPA; sepertinya begitu) kemudian dimulai dengan acara pembukaan: Menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengheningkan cipta, sejumlah sambutan, dan kemudian sosialisasi tentang LKTD: Latihan Kepemimpinan Tahap Dasar. Saya suka melihat cara mahasiswa berkomunikasi dengan para guru dan murid, juga menyampaikan materi dengan gaya yang mudah dipahami oleh para murid. Bagus sekali. Oia, peserta KKN di Kelurahan Rewarangga merupakan peserta KKN kelas pekerja. Dulu sekitar tahun 2013 kelas pekerja yang KKN di Desa Kurusare, Lepembusu-Kelisoke, malah membangun rumah baru untuk salah satu penduduk di sana. Duh jadi kangen sama Mama Sisi si pemilik rumah hehehe.

Ross: si MC. Dia karyawati Uniflor yang juga kuliah, istri seorang Perwira Polisi yang sudah dikaruniai 3 anak. Tapi masih cantik dan berjiwa muda. Salut!

Selain sosialisasi banyak sudah yang dilakukan oleh peserta KKN ini diantaranya kerja bakti (ini paling utama dilakukan), membikin tempat sampah, dan lain sebagainya. Usai meliput saya pun kembali ke kampus. Tapi mata sulit menolak melihat pemandangan di bawah ini:


Karena lapar, saya mampir di Warung Damai (Wede) dulu, mengisi perut dengan telur dadar spesial. Ini telur dadar andalan Pak Devi yang bikin saya ketularan; secara selaras sama diet DEBM kan.

Telur dadar spesial; irisan bakso, daging ayam suwir, dan ditabur keju.

Telur dadar ini hanya bisa saya makan setengah porsi hahaha. Harganya Rp 25.000 dan bikin kenyang maksimal!

Akhirnya selesai juga kegiatan hari Sabtu kemarin. Semacam balas dendam karena Jum'at-nya hanya bisa tepar gara-gara kaki mengalami ke-ngilu-an yang dahsyat. Jadi, kalau ada yang tanya apa pekerjaan saya ... saya hanya anak bawang di Uniflor yang disebut kuli-tinta-kampus. Hehehe.

Semangat Senin, kawan!


Cheers.

Sunday, July 29, 2018

Triplet ~ Part 18





Triplet adalah tulisan lawas saya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena ceritanya lumayan absurd. Saya memutuskan untuk menerbitkannya di blog, part demi part. Karena keabsurdannya, komentar kalian tidak akan saya tanggapi kecuali buat lucu-lucuan. Ini bukan pembelaan diri, ini bela diri dengan jurus menghindar. Selamat membaca Triplet.


***


PART 18



~ Labuan Bajo ~
10 Agustus 2015

“Cuma badut yang bisa membuat manusia terbang ke awan, bukannya para politikus tukang berkelahi.” – Charlie Chaplin.

Garuda ATR72 seri 600 touch down di Bandara Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Suara kaku-terstruktur perempuan dari pengeras suara mengabarkan bahwa penumpang lanjutan diperbolehkan menunggu di terminal keberangkatan karena waktu take off menuju Bandara H. Hasan Aroeboesman masih tigapuluh menit lagi.
“Wah!” keluh Pram, memasang sunglasses.
“Kenapa?” tanya Margaret sembari menuruni anak tangga. Dia mengenakan kaos dan celana selutut warna cokelat. Sunglasses yang sebelumnya bertengger di kepala dia turunkan ke posisi normal.
“Panas sekali ...”
Margaret terkekeh mengejek. “Hampir sama panasnya dengan Kupang dan Maumere,” katanya. “Kamu sih ... terlalu sering bertapa di ruangan ber-AC!”
Sepanjang perjalanan menuju ruang tunggu tak henti-hentinya Margaret mengoceh tentang gedung baru bandara yang kini terlihat lebih moderen dan futuristik: bertingkat dan berdinding kaca. Jika dibandingkan dengan bandara lama saat dia datang ke Labuan Bajo pada tahun 2012, ibarat khayangan dan bumi.
Bergerombol bersama penumpang lain mereka melewati dua pintu keamanan, lantas menuju ruang tunggu keberangkatan.
“Duduk di sana, yuk,” ajak Margaret, menunjuk ke bagian selatan ruangan besar dengan pendingin udara maksimal ini. Mereka duduk bersisian dengan seorang laki-laki yang sedang membaca buku berjudul Muhammad Al-Fatih 1453.
Margaret mengeluarkan botol dan menegak air mineral hingga tandas.
Duduk berdiam diri di ruang tunggu ini Margaret mengingat perjalanan-perjalanannya selama ini. Dia menoleh menatap Pram yang sedang memerhatikan ruang tunggu dan seisinya. Kini mereka bukanlah sepasang manusia buta yang coba meraba-raba dalam gelap, coba melangkah dalam ketidakpastian, coba mencari tahu jawaban dalam ketidaktersedianya jawaban. Kini mereka tahu. Langkah mereka pasti untuk mencari jawaban.
“Pram, kalau ternyata informasi dari Subhan dan Avila ... salah?” Margaret tahu ini bukanlah pertanyaan yang tepat. Mereka berada ribuan kilometer jauhnya dari Jakarta. Tidak mungkin juga meminta pilot Garuda untuk memutar balik pesawat hanya untuk mengembalikan mereka ke Bandara Ngurah Rai, lantas kembali menumpang airbus menuju Cengkareng. Lagi pula ATR72 yang tadi membawa mereka dari Denpasar ke Labuan Bajo sedang dipersiapkan untuk perjalanan berikutnya menuju Kota Ende.
Insya Allah nggak salah.”
I hope so ...” desah Margaret. “Nanti kita harus ceritakan semuanya sama Diba. Dia itu serba tahu. Tahu banyak hal, kenal banyak orang, punya koneksi di mana-mana. Shadiba’s Corner itu tempat informasi datang dan pergi ... katanya sih ...”
Mendadak mereka dikejutkan oleh laki-laki yang tadi nampak serius membaca Muhammad Al-Fatih 1453.
“Maaf,” tegur laki-laki itu.
“Ya?” Margaret menoleh.
“Maksud Adek ... Shadiba Pua Saleh?” tanya laki-laki itu lagi.
Berikutnya Pram dan Margaret hanya bisa membeliakkan mata. Dunia sungguh menyimpan begitu banyak misteri.

xxXXXxx

Langkah perempuan berambut cepak itu begitu pasti, memimpin seorang laki-laki berparas menawan, menuju ke arahnya. Elf memerhatikan mereka sejenak, lantas kembali membaca Muhammad Al-Fatih 1453 tulisan Felix Y. Siauw. Buku ini dihadiahkan oleh Eriana, atau Er, salah seorang adik perempuannya, bersama buku lainnya yang berjudul Beyond The Inspiration.
Elf tenggelam dalam paragraf yang mengisahkan tentang galangan kapal yang pertama diaktifkan oleh kaum Muslim adalah di Alexandria di Mesir pada masa Abdullah bin Sa’ad dan Acre di Suriah pada masa Muawiyah. Dua kota ini merupakan basis armada laut Muslim dalam menandingi hegemoni Byzantium di lautan selama lebih dari 300 tahun.
“Pram, kalau ternyata informasi dari Subhan ... salah?” suara si perempuan berambut cepak.
Elf berusaha untuk lebih fokus membaca namun suara si perempuan ber-volume tinggi sehingga sulit untuk mengabaikannya. Kupingnya seakan menerima undangan untuk menangkap obrolan mereka: tentang nama seorang laki-laki, Subhan, yang ditugaskan untuk memata-matai keluarga seorang laki-laki lain, si buruan, tentang seorang perempuan bernama Avila yang bertugas menyusup ke dalam keluarga itu dengan berpura-pura menjadi kekasih saudara sepupu dari si laki-laki buruan.
Sudah semacam film detektif ...
Namun detik berikutnya kepala Elf refleks menoleh ketika si perempuan berkata, “nanti kita harus ceritakan semuanya sama Diba. Dia itu serba tahu. Tahu banyak hal, kenal banyak orang, punya koneksi di mana-mana. Shadiba’s Corner itu tempat informasi datang dan pergi ... katanya sih ...”
“Maaf,” tegur Elf.
“Ya?” si perempuan menoleh.
“Maksud Adek ... Shadiba Pua Saleh?” tanya Elf.
“Betul. Kakak kenal Diba?” tanya Margaret.
“Kenal. Sangat kenal.” Dia menyodorkan tangan. “Saya Elf. Saya mantan kakak iparnya Diba. Itu pun kalau ada istilah mantan kakak ipar ...” Elf tersenyum.
“Ha?” Margaret bingung. “Diba dan kembarannya kan anak sulung. Mereka cuma punya adik laki-laki. Maksud Abang ... Atha sudah nikah?” tanya Margaret.
“Bukan Atha, tapi Mira.”
Mata Pram terbeliak. “Mereka triplet?”
“Ya.”
“Bukan twin?” kejar Margaret. Sekadar memastikan.
“Bukan.” Elf menggeleng.
Margaret rasa dia butuh bergalon-galon air putih. “Dan yang sekarang jadi mantan istrinya Abang itu ...”
“Mira. Dia triplet yang lahir pertama.”
Dengan bodohnya Pram bertanya, “apa hubungan antara mereka bertiga dengan Danau Kelimutu?”
“Pram!” hardik Margaret.
Just ... asking ... simply stupid question ...” Pram menyesal.
“Tidak ada,” jawab Elf. “Mungkin karena jumlah mereka sama dengan jumlah kawah di Danau Kelimutu. He he he. Tapi setahu saya, Kakek Ucup meramal nasib yang berbeda-beda untuk mereka. Beberapa ramalannya sudah terbukti.”
“Oh ya?” Pram antusias. “Misalnya?”
“Atha. Sharastha. Dia diramal akan sangat mencintai hujan. Dan dia ... dia tidak hanya mencintai hujan tapi juga punya kemampuan lain. Rasa-rasanya seluruh masyarakat Ende tahu kemampuannya itu.”
“DIA BISA BERTAMU KE MIMPI KITA?” Pram tidak sanggup menahan diri lagi. Bibirnya sulit untuk dikunci.
“Sebrangi dimensi? Mungkin. Setahu saya dia punya kemampuan psikometri,” jawab Elf.
“Dan si Diba itu ... apa ramalan Kakek Ucup untuknya?” tanya Margaret iseng. Bisa jadi bahan godaannya kelak.
“Pecinta Bantal. Tapi gara-gara itu dia giat berusaha agar tidak dikata-katai sebagai Pecinta Bantal.” Elf tersenyum. “Dia suka bertualang. Masa kecil ... setiap Minggu pagi Diba pasti berkeliling halaman belakang. Ransel dipakainya. Isi ranselnya macam-macam! Dia berlagak persis turis sedang berkelana ...”
“Dan ... maaf ... mantan istri Abang itu? Apa yang diramal Kakek Ucup?”
“Pecinta Senja,” jawab Elf. Lantas terdiam lama. Dia lantas menyeletuk. “Oh ya, obrolan kalian tadi ... maaf bukannya saya menguping tapi kalian bicara cukup keras ... soal mencari seseorang?”
Pram dan Margaret saling menatap. Mereka percaya Elf adalah kakak iparnya Diba namun apakah mereka boleh begitu saja menceritakan pencarian ini pada Elf? Seberapa jauh Elf dapat dipercaya? Seberapa jauh Elf, mungkin, dapat membantu?
“Iya ... kami mencari seseorang. Laki-laki.”
Jawaban Margaret mengejutkan Pram karena sebelumnya Margaret bersikap tertutup pada Elf.
“Oh ya? Siapa namanya?” tanya Elf.
Mulut Margaret hendak mengeluarkan suara lagi namun terdengar suara perempuan dari pengeras suara yang menginformasikan bahwa pesawat Garuda yang akan membawa mereka ke Ende, boarding.
“Ah ... boarding!” seru Elf.
“Bang Elf kursi nomor berapa?” tanya Pram.
“Sepuluh A.”
“Ah ... kami Tujuh C dan D. Ya sudah, nanti kita lanjut deh ceritanya,” ujar Pram.
Bersama penumpang lain mereka berjalan kaki menuju pesawat.
 
***
Bersambung

Saturday, July 28, 2018

Jeff Dunham dan Puppet-nya

Gambar diambil dari sini.

Tidak semua orang menyukai Jeff Dunham, bahkan orang-orang super serius mengata-ngatai dan menghinanya gara-gara karakter Achmed. Anyhoo, terlepas dari pendapat orang lain, saya pribadi sangat mengagumi si Jef-fa-fa. Dia cerdas dan menyajikan penampilan paling brilian untuk para penonton.

Baca Juga:
 
Dunham adalah seorang ahli bicara perut atau ventriloquist asal Amerika yang sangat hebat dan fenomenal. Kalau kalian bingung dengan istilah ventriloquist, bayangkan saja Ria Enes dan boneka Susan. Bedanya, jika Ria Enes hanya terkenal dengan Susan dan beberapa buah lagu, maka Dunham terkenal bersama semua puppet-nya dengan aneka jokes segar nan cerdas. Tunggu dulu, Teh ... jadi dia punya banyak karakter puppet? Iya, dan punya suara serta aksen yang berbeda-beda pula untuk setiap puppet. Jeff Dunham berhasil membuat saya rela menghabiskan paket data internet bergiga-giga hanya untuk menonton ulang semua videonya di Youtube (untung ada Youtube Go). Orang Ende bilang: kau menang banyak, nara Jeff! Haha.

Karakter puppet-nya antara lain: Peanut, Jose Jalapeno, Walter, Bubba J, Achmed (and Achmedina), hingga AJ alias Achmed Junior dan Jeff Dunham Junior.

Tiga karakter puppet yang paling saya suka adalah:
1. Peanut.
2. Jose Jalapeno (on the stick).
3. Achmed the Dead Terorrist. 

PEANUT

Ini dia karakter fenomenal beraksen Amerika yang bawel, kritis, kepo, suka menganalisa, dan paling suka memancing kemarahan Dunham. Lucu kan? Bagaimana Dunham sampai gemas sama karakter yang dia perankan sendiri. Itu bikin panggung menjadi lebih gerr. Entah bagaimana Dunham bisa bersuara perut begitu cepat dan bawel. Kecepatan otaknya luar biasa si Dunham ini. Dan Peanut, selain tampil solo, sering dipasangin sama Jose Jalapeno (si cabe gede) yang diceritakan berasal dari Meksiko. O-LEEEEE!

Hi, Peanut!

Dalam suatu sesi, betapa Peanut begitu menjengkelkannya karena dia menyebut nama Dunham dengan DUNHAM bukan DANHEM. Malah, dia menganalisa dan mengatakan bahwa nama Jeff itu punya huruf F yang tidak perlu (pendobelan), makanya dia kemudian memanggil Dunham dengan Jef-fafa. 

Peanut:
Now, am I pissing you off, Fafa? Jef-fafaaa ... Dunham. Fa-fa. You know, the weird part is I am actually pissing him off. And he would like to kill me! But he will not because that would be a form of suicide. 
You want to kill me!

Dunham:
No!

Peanut:
Yess!

Dunham:
No!

Peanut:
It's your feeling Jef-fafaaaaa.


JOSE JALAPENO

Ini dia karakter puppet yang paling sering di-bully sama Peanut, tapi sesekali kalau dibales, Peanut hanya bisa ternganga. Jose punya aksen Meksiko yang kental dengan suara yang dalam. Peanut paling suka mengejek cara bicara si Jose Jalapeno.

Jose on the stick.

Dunham:
How are you, Hose (Jose)?

Jose:
I'm fine Senyor Heff (Jeff).

Peanut:
What the F is HEFFFFF? It's Jeff! Not Heff! What the F is Hose Halapenyo? You ... Josie ...

Kalau kalian menonton videonya di Youtube, kalian harus siap tertawa terpingkal-pingkal, siap perut mendadak kejang gara-gara kebanyakan ketawa. Apalagi klau Jose membalas Peanut dengan "Ask your mother." yang bikin Dunham berteriak "Stop!"


ACHMED THE DEAD TERORRIST

Dari semua bonekanya si Dunham, saya jatuh cinta sama Achmed The Dead Terorrist yang punya jargon "Silence! I kill you!" dan "Infadel". Bagaimana dia bercerita tentang bom-nya, kematiannya, bidadarinya, lantas membedakan istri yang satu dengan istri yang lain, bagaimana dia kemudian sadar bahwa dia sudah mati, betapa kagetnya dia dipertemukan dengan si anak (AJ; Achmed Junior) yang juga sudah mati dan bilang "My bad", dan lain sebagainya. Jeff punya riset yang sangat mendalam untuk menghidupkan karakter Achmed ini. Tentu, didukung dengan boneka rangka yang ucuuuulll hihihi meskipun dibuat horor.


Dunham:
Good evening, Achmed!

Achmed:
Good evening, infadeeeel (suara berat nakut-nakutin).

Dunham:
So you are a terorrist.

Achmed:
Yess I am a terorrist.

Dunham:
What kind of terorrist?

Achmed:
A terrifying terorrist. Are you scared?

Dunham:
Not really. No.

Achmed:
WHOOAAA! And now?

Dunham:
Not really. No.

Achmed: 
WHOOO WHOOAAAAAAA! How about now?
(sampai di sini, ngelihat tampang si Achmed, perut saya kejang)

Dunham:
So a .. Achmed.

Achmed:
No no it's AKKKHHHMEEDDD.

Achmed, si teroris yang sudah mati dan dipresentasikan melalui rangka tulang manusia dengan sorban putih di kepala, punya aksen Irak yang kental. "No no no! It's AKKKKHHHMMMEEEDDD, no Ahmed!" Hahaha. Kalau penontonnya ketawa dia bakal bilang, "Silence! I kill you!"


Demikianlah betapa saya tergila-gila pada Jeff Dunham dan puppet-nya. Percakapan cerdas dan konyol yang ditampilkan sulit untuk membuat kita tidak tertawa. Tapi bagi orang-orang yang super serius, mereka tidak bakal ketawa apalagi ketika Achmed naik panggung. Mereka merasa Achmed itu melecehkan bla bla bla. Baca saja ragam komentar di Youtube. Saya jadi semakin tertawa membaca komentar-komentar yang mengata-ngatai Dunham menghina agama tertentu. Tidak, Dunham tidak menghina, dia mengangkat realitas yang ada di bumi ini, bahwa teroris memang selalu merasa paling benar dan menganggap orang lain itu infadel.

Bagi kalian yang penasaran dengan video-video Jeff Dunham, silahkan subscribe channel Youtube-nya untuk video-video terbaru, atau nonton saja lah. Saya yakin kalian bakal ngakak tiarap kalau paham sama jokes-nya.

Semoga akhir pekan kalian menyenangkan.

Kemarin tidak sempat update, soalnya kaki kiri saya bermasalah hahaha. Ngilu to the max and have to bedrest.


Cheers.