I Write My All

LightBlog

Triplet adalah tulisan lawas saya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena ceritanya lumayan absurd. Saya memutuskan untuk mener...

Triplet ~ Part 16



Triplet adalah tulisan lawas saya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena ceritanya lumayan absurd. Saya memutuskan untuk menerbitkannya di blog, part demi part. Karena keabsurdannya, komentar kalian tidak akan saya tanggapi kecuali buat lucu-lucuan. Ini bukan pembelaan diri, ini bela diri dengan jurus menghindar. Selamat membaca Triplet.


***


PART 16


~ Ende ~
3 Juni 2015

“Pada alam kita memandang. Pandanglah dengan hati, maka kau akan melihat apa-apa yang tak terlihat oleh mata telanjang.” – Anonim.

“Dia sudah jera.”
Takjub, Atha menatap moyang bin moyang bin moyang dst-dkk-dll-nya yang bertubuh tinggi bak raksasa, tegap, brewokan, namun tatapan matanya lembut. 36 tahun hidup, baru tiga kali Embu Rembotu mengunjungi Atha. Hari ini, tanpa basa-basi, moyang bin moyang bin moyang dst-dkk-dll-nya ini datang mengabarkan perihal Ndoriwoi yang telah diberi pelajaran oleh para laskar.
“Jangan, Embu ... kasihan dia,” pinta Atha.
“Dia hanya disuruh tinggal di sumur ...”
“Tapi sumur itu ... banyak silumannya!”
“...”
“Embu ...”
“Bantulah sebanyak-banyaknya manusia. Tanpa itu, kemampuan yang kau punyai tidak berarti apa-apa. Kau harus ingat, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bisa memberi manfaat pada sesama,” ujar Embu Rembotu. Dia tidak ingin lebih jauh membahas Ndoriwoi karena tidak berfaedah.
“Baik, Embu.”
“...”
Keheningan senja di dalam kamarnya, usai menunaikan ibadah Shalat Maghrib, dipecah suara telepon genggam Atha yang berdering.
“Halo, Tanta Anita ...?”

xxXXXxx

Biasanya dia menolak untuk datang ke rumah klien. Alasannya bermacam-macam. Tapi alasan yang paling utama adalah keengganannya melihat sosok-sosok penjaga rumah atau tamu tak kasat mata lain yang menyadari kemampuannya. Mereka, sosok-sosok itu, justru sering memintanya menjadi mediator—penyampai pesan atau pembawa pesan, the messenger, kepada penghuni rumah. Mereka adalah klien di atas klien. Kejadian terakhir, enam tahun lalu, di rumah Tanta Lieke, cukup membuat Atha jera. Si penjaga rumah ngotot agar dia menyampaikan pesan kepada Tanta Lieke untuk menghentikan kebiasaan menggoda laki-laki muda. Pesan itu memperkeruh hubungan antara Tanta Lieke dengan suaminya. Atha dituding Tanta Lieke sebagai perusak rumah tangga.
Hari ini, dengan berat hati Atha terpaksa datang ke rumah Tanta Anita. Perasaannya sungguh tidak enak karena telah berkali-kali menunda dan membatalkan pertemuan. Dia mengajak Diba untuk menemaninya. Bagaimana pun dia butuh teman karena berkunjung ke rumah klien bisa jadi petaka jika para penjaga rumah berulah.
“Rumahnya besaaar,” celetuk Diba. Mereka dipersilahkan Tanta Anita untuk duduk di ruang tamu.
“Besar tapi sepi. Tiga anaknya berada di luar pulau. Yang sulung kerja di Kalimantan di perusahaan pengolahan kelapa sawit. Yang tengah dan bungsu masih kuliah di Denpasar dan Surabaya,” jawab Atha.
Tanta Anita kembali datang ke ruang tamu. Di belakangnya seorang perempuan muda mengekor sambil membawa nampan. Setelah meletakkan cangkir teh di atas meja, perempuan muda ini pamit ke belakang.
“Ayo, diminum dulu,” ajak Tanta Anita.
“Nanti saja, Tanta,” tolak Atha.
Tanta Anita tertawa. “Masih panas, ya? Maaf ... maaf ...”
Diba memerhatikan ruang tamu yang diisi perabotan kelas atas. Guci-guci berukuran raksasa berkilauan, lemari pajangan yang juga berisi benda-benda dari kaca dan tembikar dalam ukuran mini, karpet bulu yang nyaman di kaki, potret keluarga di dinding dalam pigura super besar dan super mewah, juga rosario dengan biji-biji sebesar bola pingpong terbuat dari kayu (cendana atau gaharu) tergantung di dekat pintu menuju ruang dalam.
“Om kerja di mana, Tanta?” tanya Diba. Melihat kemewahan yang ada di sini dia yakin suami Tanta Anita bukan sekadar karyawan tanpa jabaran, atau karyawan sekadar pengantar surat. Setidaknya suami Tanta Anita berkedudukan tinggi.
“Om ... kontraktor.”
“—ooh.” Diba mengangguk-angguk. Kontraktor yang kebanjiran proyek. Pastinya.
“Tanta mau minta bantuan saya ... untuk Om, atau?” tanya Atha.
Tanta Anita menghela nafas berat. “Begini, Atha ...” dia memejamkan mata sejenak. “Sudah berbulan-bulan, sejak ... sejak Tanta minta bantuan kau ... salah satu kamar di lantai atas sering ... sering apa ya istilahnya ... ah ... gaduh! Seperti ada barang yang dilempar ke dinding atau ke lantai. Tapi kalau kami cek, kamarnya tetap rapi. Tidak ada tanda baru habis diobrak-abrik.”
Pada saat yang sama seorang perempuan tua berdaster hijau muncul di ruang tamu, duduk di samping Tanta Anita. Atha cemberut. Penjaga rumah ini ternyata nenek-nenek.
Tanta Anita menggigil. “Agak dingin ya ...” dia berdehem lagi. “Kamar itu, kamarnya Abdur yang sekarang kuliah di Denpasar.”
“Jadi ...?” tanya Atha. Dia melirik pada si nenek yang jelas-jelas ingin menyampaikan sesuatu.
“Kira-kira Atha bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi? Kita ke kamar Abdur sekarang ...” ajak Tanta Anita, segera berdiri.
Mereka menaiki anak tangga menuju lantai dua. Ada empat kamar yang letaknya saling berhadapan. Tanta Anita menunjuk pintu berposter band rock Bon Jovi, “itu kamarnya Abdur. Ayo kita masuk,” ajaknya memimpin jalan.
Kamar Abdur sangat rapi. Atha yakin jika pemiliknya sedang berada di Ende tentu kamarnya tidak serapi ini. Tidak ada yang istimewa dari kamar ini selain poster-poster Bon Jovi di dinding.
“Kami kuatir terjadi apa-apa dengan Abdur. Beberapa kali kami meneleponnya ... dia selalu melapor sedang baik-baik saja,” lapor Tanta Anita. “Terus terang kami bingung dengan keadaan ini.”
Nenek duduk di ranjang Abdur, mengelus tepian ranjang.
“Dia terlalu percaya Abdur. Anak itu ...”
Atha memerhatikan si nenek. Melalui batinnya dia bertanya, “Anak itu kenapa, Nek?”
“Kasih hamil orang pung anak, suruh gugurkan. Kasih hamil lagi, gugurkan lagi ... anak kurang ajar!”
“Jadi nenek ... marah?”
“Iya! Itu namanya bikin malu keluarga! Bikin malu nenek moyang! Saya tidak pernah berpikir cucu saya akan bertingkah seperti itu.”
Atha mengangguk. “Tanta, apakah Tanta dan Om pernah menjenguk Abdur?”
“Pernah! Tapi dia tidak pernah ijinkan kami pergi ke kos-nya. Kami hanya bertemu di hotel, pergi makan, jalan-jalan, kembali ke hotel,” jelas Tanta Anita.
“Tanta, saya tahu ini menyakitkan. Tapi saya rasa lebih baik saya sampaikan dari pada tidak sama sekali. Saya mohon Tanta untuk hubungi Abdur. Dia ...” Atha ragu. Dia menoleh pada si nenek yang dibalas dengan anggukan kepala. “Dia harus segera menikah.”
Tanta Anita terkejut. “Dia harus segera menikah?”
“Iya, Tanta.”
“...”                               
“...”

xxXXXxx

Mira menatap pantulan tubuhnya di cermin. Dia tersenyum puas. Wajahnya cantik. Tubuhnya proposional—dia tidak sempat melahirkan janin yang bersarang di rahimnya. Rambutnya tergerai indah; tidak seperti rambut Diba yang sering dipangkas atau rambut Atha yang sering dikuncir. Meskipun hidung Atha dan Diba sedikit lebih runcing namun hidungnya tak kalah indah—melengkapi kecantikan wajahnya.
Cantik. Mira teringat kejadian dua hari lalu—alasan yang membuatnya berdandan malam ini. Laki-laki yang dilihatnya di keluar dari Hero Swalayan bersama Wawan itu juga cantik. Istilah yang tepat; tampan yang feminin. Tontonan di parkiran Hero Swalayan itu sempat membuat dia dan Wawan ribut. Masalahnya baru tigapuluh menit sebelumnya, dalam sambungan telepon genggam, Wawan mengaku sedang berada di luar kota. Terciduk.
“Berani-beraninya Mas bohong!”
“Maaf, Nduk. Aku kuatir kamu marah kalau tahu lagi jalan sama adikku. Nggak enak juga kalau aku tolak permintaan adikku temani dia ke Hero.”
“Adik? Bohong!”
“... sumpah, Nduk, dia adikku.”
“Adik dari mana? Selama kita kenal dan pacaran Mas tidak pernah cerita soal adik, soal keluarga, soal silsilah! Fotonya juga tidak ada di Facebook-nya, Mas!”
“Adik angkat, Nduk. Namanya Boy. Aku baru mau kenalkan kamu sama Boy.”
“Jangan bohong, Mas.”
“Nggak, Nduk ... dia anak sini, kok. Dan kalau kamu masih permasalahin keluargaku ... aku kan udah janji mereka bakal datang waktu lamaran nanti.”
“...”

Mira mengangguk-angguk. Apa lagi yang harus dia pikirkan?
“Kamu harus ketemu dia, Nduk. Kenalan sama dia. Kalau kita menikah ... dia juga akan tinggal sama kita.”

xxXXXxx

Shadiba’s Corner. Pukul 20.10. Kuping Diba laksana kuping kelinci yang tegak berdiri mendengar cerita Atha.
“Neneknya si Abdur?”
“Iya.”
“Jadi tadi itu ... kau sama sekali tidak pakai kemampuan kau?”
“Pakai.”
“Tapi kan kau tahu dari nenek itu!”
“Kalau saya tidak mampu berkomunikasi dengan arwah, lantas ...?”
Diba memukul kening. Dia ingat kemampuan Atha yang katanya ‘membelah diri’. Dari hanya melihat perempuan dalam hujan, menjadi psikometri. Dari hanya psikometri, menjadi mampu melihat makhluk gaib. Dari mampu melihat makhluk gaib ... entah apa lagi yang sudah terjadi pada Atha. Dia ngeri seandainya Pecinta Hujan adalah dirinya. Bisa-bisa setiap hari dia semaput.
G-Note Diba berdering.
“Siapa?” tanya Atha.
“MO-NO,” jawab Diba sambil mengulum senyum. “Halo Mono. Apa kabar? Saya kira kau sudah lupa saya.”
Dari seberang terdengar tawa kecil Mono. “Mana bisa aku lupain kamu, Dib?”
“Gombal.”
Mono tertawa. “Kamu sudah terima barang kiriman saya, Dib?”
“Barang apa?” kening Diba mengerut. “Kamu kirimi saya barang lagi? Aduuuh, Mono ... baik banget sih! Sering-sering, ya!”
“Ebusyettt ...”
“Ha ha ha. Tapi serius ... jangan lah terlalu rajin mengirim barang. Saya bisa mati berhutang budi.”
“Nggak apa-apa, Dib. Aku yang makasih sama kamu. Kamu, keluarga kamu ... baik banget sama kami bertiga.”
“Ah ... kau ini ...”
“Terima kasih, Dib, udah nganter kami ke Riung dan Danau Kelimutu. Farid sama Bandit bangganya minta ampun. Semua akun media sosial mereka masih saja dipenuhi informasi dan foto perjalanan ke Flores. Gila tuh anak dua ... kejangkit virus Pulau Flores! Aku curiga tiap malam kalau tidur mereka ngelindur Riung sama Danau Kelimutu.”
“Ha ha ha. Anyhoo, sama-sama, Mon. Coba kalau kau mau tinggal lebih lama barang sebulan dua bulan, pasti banyak tempat yang bisa kau kunjungi ... Nanti Juli saya bakal ke Larantuka mengantar tamu dari Denmark.”
Dari seberang terdengar erangan-tidak-jelas Mono. “Kamu harus janji tahun depan nganter saya ke Larantuka dan Labuan Bajo.”
“Hei hei ... kau pikir jarak Larantuka dan Labuan Bajo itu dekat macam Jogja-Solo?” protes Diba.
“Yaaa barangkali tahun depan aku bisa sebulan dua bulan di Ende.”
Yess! Itu baru pelancong kesasar namanya. Ha ha ha ...”
“Terima kasih, Dib.”
“Sama-sama, Mono ...”
 


***
Bersambung
loading...

2 comments:

  1. Mulai mengangguk angguk apaya yang mau di tulis di komentar ­čśŤ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bruakakakak baca dari part 1 baru ngeh :D *ngakak*

      Delete

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.