Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Friday, August 31, 2018

#PDL Datang, Makan, Ngerujak, Pulang

Mei dan Ocha di Saung Adat Kolibari.


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***
  

Rabu, 22 Agustus 2018, umat Muslim memperingati Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Saya juga menyebutnya Hari Kemenangan Atas Percaya dan Bakti serta pengorbanan pada Allah SWT yang waktu itu dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim AS terhadap anaknya yaitu Nabi Ismail AS. Percaya dan bakti Nabi Ibrahim AS ini lah yang wajib kita contohi. Sebagai gantinya, domba diberikan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS. Selain itu, saya juga menyebutnya Hari Raya Haji. Selamat kepada Bapak, Ibu, Saudara/i, semuanya yang telah menjalankan ibadah Haji. Insha Allah suatu saat nanti saya menyusul.

Baca Juga:

Sebenarnya hari libur Rabu kemarin itu saya tidak punya rencana ke mana-mana meskipun sudah diajak Kakak Pacar untuk makan siang di rumahnya. Permasalahan timbul setelah teman si Ocha yang bernama Mei datang ke rumah. Nampaknya mereka desperate karena dalam beberapa minggu belum pernah ke luar rumah untuk sekadar menikmati keindahan alam yang menakjubkan. Walhasil saya meminta Ocha menghubungi Akiem dan Effie; pasangan paling sering cek-cok se-dunia-kami. 

Pukul 14.00 Wita tiga motor matic berangkat menuju Kolibari. Mei memboceng Ocha, Akiem tentu dengan Effie, saya dan Thika. Sebelumnya saya sudah meminta Ocha menghubungi Kakak Pacar bahwa tawaran makan siang diterima dengan senang hati sekaligus membawa pasukan, hahaha.



Adalah sungkan yang tiada terkira ketika kami datang, kopi dan teh disuguhkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Inilah salah satu keistimewaan di Kolibari *tsah*. Lantas, tidak berapa lama, Kakak Pacar mengajak kami makan. Katanya, "Sudah dimasakin sama Kak Fitria tuh, sana gih kalian makan dulu sebelum dingin!" Hah? Jadi, mereka memasak hanya untuk kami berenam? Maluuuu *tutup muka tapi ngintip*



Makan siang yang kesorean itu disuguhi nasi merah dan aneka menu daging kambing. Ada semur, ada soto. Yang awalnya malu-malu, eh jadi kalap hahaha. Manapula dari rumah kakak ipar yang satu, mendadak kami mendapat kiriman sepiring semur lagi. Hah? Yang makan hanya enam orang tapi menunya untuk limabelas orang. Hehe. Pas lagi makan begitu, muncul makhluk bernama ngengat, berwarna kuning, hinggap di jari manis saya dan tak mau pergi.




Katanya sih itu pertanda. Pertanda apa saya tidak tahu. Mungkin pertanda bahwa ngengat juga butuh tempat untuk ngetem :D qiqiqiqi. Awalnya saya sudah pos di FB bahwa ini kupu-kupu, tapi Cahyadi mengoreksinya bahwa ini ngengat. Karena, sayap kupu-kupu akan terkatup apabila sedang hinggap/ngetem begitu.

Dan benar kata orang, membawa anak gadis itu adaaa saja ide dan kemauannya. Si Thika mengajak rujakan. Pepaya dan mangga pun langsung didatangkan dari kebun terdekat. Bahkan untuk cabe pun, di depan rumah kakak ipar ada pohon cabe lumayan gede:




Pengen angkut ini pohon cabe pulang ke rumah. Sore itu bermodal kacang, cabe, garam, dan gula sabu (gula kental asal Pulau Sabu), pepaya dan mangga dari kebun, maka jadilah rujaaaaak.




Habis ngerujak, eh si Kakak Pacar nawarin kelapa muda. Busyet dah. Anak-anak pada mau, tapi kelapanya masih dipetik sama si Arifin (adik si Arifin ini namanya Arif hahah), makanya mereka pada ngerusuh sama bocah setempat. Si Ocha main sepeda salah satu bocah. Thika, Mei, dan Effie malah main bulu tangkis. Sampai kemudian si Mei mengusulkan untuk mendaki ke bukit sebelah ke puncak Kezimara. Waaaa saya menyerah! Hiihi. Walhasil yang naik ke Kezimara cuma si Mei dan Ocha, Thika lanjut main bulu tangkis, saya dan Effie tidur, setelah saya menghabiskan satu kelapa muda nan segar.

Sekitar pukul 18.30 Wita kami pun pamit pulang. Ocha membawa oleh-oleh kelapa muda :D hehehe.

Pernah, saya pernah begitu, pergi ke rumah Kakak Pacar cuma untuk makan, ngerujak, pulang. Senang-senang di rumah orang belum ada hukum yang melarang. Boleh-boleh saja, sah-sah saja. Bagaimana dengan kalian?


Cheers.

Thursday, August 30, 2018

5 Contoh Fisik Tidak Selamanya Mewakili Usia

Tebak, berapa jauh perbedaan usia kami?

Hingga saat ini masih ada orang yang salah menebak usia saya. Catatan: tidak berlaku bagi mereka-mereka yang pernah melihat KTP dan/atau Akta Kelahiran saya. Pernah, ada teman-dari-teman yang menebak usia saya jauh lebih muda sepuluh tahun dari usia yang sebenarnya. Tidak bisa saya salahkan. Memang. Senang, iya! Karena, jangankan manusia, kamera depan buat swafoto itu pun terkecoh dan melakukan kesalahan fatal menebak angka usia saya. Sampai di sini saya ketawa puas dulu ... boleh?

Ha ha ha ha ...

Baca Juga:
 
Kondisi yang sama juga terjadi ketika saya menebak usia Mam Poppy Pelupessy. Rekan kerja yang juga si tukang jalan itu terbahak-bahak waktu saya salah menebak usianya. Tidak apa-apa, hukum karma berlaku *nyengir* Mam Poppy terlihat jauh lebih muda dari usianya atau dari perempuan seusianya.

Apa yang terjadi pada saya, juga Mam Poppy, membenturkan saya pada pos yang satu ini. Bedanya adalah kami selebritis lokal sedangkan mereka selebritis internasional. Tolong jangan berpaling dulu dari pos ini, haha, sesekali narsis itu perlu. Dari pos tersebut, ternyata banyak selebritis internasional yang sama usia tapi beda fisik; yang satu terlihat lebih muda sepuluh tahun, yang lain terlihat lebih tua sepuluh tahun. 

See? Tidak selamanya fisik mewakili usia!

Berikut saya pilihkan lima selebritis yang sepantaran usia tapi perbedaan fisiknya, terutama wajah, sangat signifikan. Semua foto bersumber dari sini.

1. Maisie Williams vs Bella Hadid


Ingat Arya Stark? Si pemberani dari klan Stark dalam Game of Thrones? Betul sekali, Arya diperankan oleh Maisie Williams (kiri). Di dalam foto ini Maisie Williams dan si super model Bella Hadid (kanan) sama-sama berada pada usia 21 tahun. Menurut saya, Maisie terlihat seperti ABG SMP belia belasan tahun, sedangkan Bella terlihat seperti sudah berusia 32 tahun. Sorry, Bella, sometimes pic can't cheat.

2. Tobey Maguire vs Kristian Nairn


Si bintang Spiderman, Tobey (kiri), terlihat lebih muda dari Kristian (kanan) yang berperan sebagai Hodor dalam Game of Thrones. Perbedaan fisik yang terrrrhakikiiii dalam usia 42 tahun. Apa!? Usia Tobey sudah 42 tahun!? You look so much younger, man. I can't believe it. Damn! Are you looking for a woman from Flores Island to be your ... your ... wife ... again? *dikeplak*.

3. Jennifer Lopez vs Cate Blanchett


Sudah separuh abad ini Jennifer Lopez (kiri) masih awet saja. Coba bandingkan dengan Cate (kanan) yang paling saya ingat sebagai Galadriel dalam The Lord of The Ring. Ajegile JLo ini awetnya minta ampun (49 tahun)! Mungkin karena selain main filem dia dikenal sebagai penari, penyanyi, produser, dan lain-lain. Loh, apa hubungannya? Penari, beb, penariiii. Orang yang rajin menari sama dengan rajin berolahraga dan punya bodi yahud macam JLo. Itu poinnya. Selain itu, dompet selalu tebal kan juga jadi salah satu faktor, hehe. Profesinya banyak begituuuu. Sukses semua pula! Go go go JLo! Bangga ane sama ente *ngarep uang sen*.

4. Meghan Markle vs Britney Spears


Seandainya dulu dia tidak mendadak kawin terus cerai, tidak terlibat narkoba, saya yakin Britney (kanan) bakal terlihat sama mudanya dengan Meghan (kiri), saat keduanya sama-sama berusia 37 tahun. Karir Britney Spears pada masa awal itu benar-benar cemerlang. Nasi sudah menjadi bubur. Tapi, untungnya Britney telah 'kembali'. Yess, she's back, dude! Come on, hit me baby one more time.

5. Selena Gomez vs Cara Delevingne


Saya akui Selena Gomez (kiri) memang terlihat lebih awet muda ketimbang Cara (kanan) pada usia 26 tahun. Jujur, sakit banget waktu tahu si Bibir menyakitimu, honey *apa nih? batu nyasar!*

Betul kan? Fisik tidak selamanya mewakili usia!

Dari kelima perbandingan di atas, yang mana yang paling terlihat stuntman stunning? Menurut saya, JLo, tentu saja! JLo di usia 49 tahun terlihat hampir sama dengan Bella di usia 21 tahun. Duh emak, kita harus rajin olahraga nih; jalan sehat maupun menari. Keduanya sama meng-olah-kan-raga. Seperti kata Etchon, menari bebas sendirian di kamar merupakan salah satu bentuk pembakaran lemak hehe.

Pertanyaan saya sekarang adalah apakah kalian juga punya foto seperti itu? Bukan, bukan foto bareng selebritis di atas, tapi foto kalian dengan teman yang se-usia tetapi perbedaan secara fisik, terutama wajah, sangat kentara? Yuk share sama saya :)


Cheers.

Wednesday, August 29, 2018

5 Obat Sederhana Penurun Hipertensi

Gambar diambil dari sini.

Hipertensi berarti tekanan darah tinggi. Lawan hipertensi adalah hipotensi yang berarti tekanan darah rendah. Orang sering bilang jangan banyak mengonsumsi garam nanti hipertensi. Itu benar. Dari situs Alodokter saya jadi tahu ada dua jenis hipertensi yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Sama seperti amonerhea yang juga diklasifikasi dalam primer dan sekunder. Kebanyakan penyebab hipertensi primer tidak diketahui tetapi faktor-faktor penyebabkan antara lain: usia, keturunan, obesitas, terlalu banyak makan garam, kurang olahraga, dan merokok. Sedangkan hipertensi sekunder disebabkan oleh penyakit ginjal, kehamilan, kecanduan alkohol, dan lain-lain.

Baca Juga:

Kakak saya yang nomor dua, Kakak Nani, adalah penderita hipertensi dan mengonsumsi catopril untuk mengatasinya. Ternyata catopril juga bagus dikonsumsi oleh penderita penyakit ginjal akibat diabetes. Bagaimana dengan saya? Saya pernah mengalami hipertensi tapi merupakan penyakit turunan dari penyakit lain bernama maag. Maag memang jangan diabaikan karena bisa berujung pada angin duduk, hipertensi, jantung berdebar lebih kencang, kepala pening/pusing/sakit hingga muntah. Ini yang saya alami, sehingga apabila rasa sesak di dasar hati diam tak mau pergi di ulu hati saya harus berusaha untuk sendawa dan/atau buang angin. 

Kalian tidak tahu betapa setiap hari saya sangat merindukan aktifitas buang angin ini. Semakin banyak angin yang dikeluarkan, semakin bahagia.

Jadi, kalau kalian mengalami gejala sakit kepala atau pusing kepala, jangan dulu minum obat sakit kepala. Yang perlu dilakukan adalah:

a. Mengecek sudah makan atau belum.
b. Mengecek isi dompet. Kalau tipis ... jawab sendiri.

Haha!

Makanya di rumah, kalau akhir bulan, si Indra dan Thika tidak bakal kebanyakan gaya karena kuatir Encimnya ngamuk *ngakak tiarap*.

Kembali ke ... ke ... ke saya saja ya. Oke, kembali ke saya, bahwa saya pernah mengalami hipertensi. Yang pertama gara-gara maag (tahun 2009), yang kedua gara-gara makanan (tahun 2010). Jelas saya kelimpungan. Sakit yang pertama itu saya pernah mengatasinya dengan ketimun tapi kemudian sampai di-UGD selama 8 (delapan) jam di RSUD Ende. Sakit yang kedua cukup diatasi dengan meminum teh rosela. Lantas entah dari mana, saya lupa sumbernya, saya meminum air es untuk mengatasinya. Apabila merasa sedikit tegang di leher maka saya meminum banyak air es dan menunggu panggilan alam. Setelahnya ... aman.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut, bercerita dan berbagi dengan orang lain, saya jadi tahu pertolongan pertama pada penderita hipertensi sebelum dibawa ke dokter atau ke rumah sakit. Mau tahu? Kan sudah saya kasih tahu di awal pos ini hahaha. Jadi, kalau saya kuatir sama hipertensi atau merasakan gejalanya (setiap orang pasti punya alaram tubuh untuk mendeteksi penyakit tertentu) maka yang saya konsumsi terlebih dahulu adalah:

1. Air es.
2. Ketimun.
3. Teh rosela.
4. Daun sop.
5. Alpukat.

Mungkin memang belum ada penjelasan yang lebih ilmiah mengapa kelima bahan minum/makanan sederhana di atas dapat mengatasi hipertensi. Bagaimanapun, saya tetap menyebutnya obat sederhana penurun hipertensi.

Based on true story of me.

Tapi yang perlu diingat adalah kalian harus tetap menemui dokter untuk mengatasi/mengobati hipertensi yang diderita. Dokter akan lebih tahu setelah mendiagnosa gejala hipertensi yang diderita karena hipertensi itu banyak gejala/alasannya sehingga pengobatannya pun mungkin berbeda untuk setiap orang.

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian.


Cheers.

Tuesday, August 28, 2018

Mesin Cuci Portabel Ini Keren Banget

Gambar diambil dari sini.

Sejak mesin cuci kami rusak, ritual mencuci dilakukan dengan mesin manual pemberian Allah SWT (baca: dua tangan) hehe. Karena tidak kuat, harus menyewa orang untuk mencucinya. Yang saya tahu, tidak semua orang puas memakai mesin cuci, karena mereka dengan terang-terangan berkata, "Cuci baju pakai mesin tidak bersih!" Oh, ya, mungkin untuk baju-baju tertentu seperti baju bocah usia aktif yang masih mau bermain permainan tradisional. Waktu masih kecil saya sering diomeli karena setiap sore pulang dari bermain kondisi baju saya (terutama celana pendek) kayak habis berendam di lumpur.

Baca Juga:

Sekarang di rumah saya sudah tidak ada lagi bocah. Otomatis sudah tidak ada lagi pakaian yang kotornya terhakiki di dunia. Baju-baju yang kotornya tidak seberapa, lebih didominasi keringat, tidak membutuhkan gerakan mengucak dan menyikat memakai tenaga Hulk. Mamasia tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengucak dan menyikat pakaian; kecuali celana jin yang memang kudu disikaaaat sampai puas.

Tapi bagi siapapun di luar sana, kondisi tidak adanya bocah di rumah bukan berarti tidak membutuhkan mesin cuci (bocah sekarang pun mainnya serba bersih dan resikonya bukan baju yang kotor tapi kesetrum :p). Beberapa rumah tangga masih sangat membutuhkan mesin cuci, terlebih jika semua anggota keluarga berkarir di luar rumah. Bukannya sombong, tapi mereka tentu sangat menghargai waktu. Jika mencuci manual membutuhkan waktu dan tenaga ekstra, maka mencuci menggunakan mesin cuci tentu menghemat waktu dan tenaga. Waktu berkualitas menjadi lebih banyak dengan anak-anak bila mencuci menggunakan mesin cuci. Tinggal setel, masukkan baju, pergi bermain dengan anak, beberapa jam kemudian baju tinggal dijemur. I am so fvckin crazy with that automatic machine wash!

Kira-kira demikian.

Kalau hidupnya masih ... errr ... single, Teh? Boleh juga pakai mesin cuci. Tapi kalau masih belum menemukan jodoh (ini lebih sopan kan bahasanya) dan/atau anak kos, kenapa tidak coba menggunakan mesin cuci portabel? Harganya lumayan mahal, bentuknya imut (banyak yang mirip droid), dan ukurannya kecil. Cukup untuk keperluan mencuci pakaian sehari-hari.


Yang pertama ada The EchoWash dari Avalon Bay. Sering lihat mesin cuci portabel yang pengoperasiannya menggunakan kaki? The EchoWash dioperasikan dengan tangan loh. Kayak mol daging begitu hehe. Waktu yang dibutuhkan untuk mencuci menggunakan The EchoWash hanya dua menit. Informasi lebih lengkap tentang mesin cuci yang satu ini, termasuk jumlah/berat pakaian serta takaran air dan cairan pencuci, silahkan kunjungi situsnya.


Kembali lagi ke mesin cuci portabel yang pengoperasiannya menggunakan kaki. Oke, ini yang kedua dalam pos ini, yaitu Drumi. Kenapa namanya Drumi? Menurut analisa ngawur saya; karena bentuknya mirip drom dan droid haha. Tata caranya sama dengan The EchoWash, hanya saja pengoperasiannya menggunakan kaki. Mirip ... mirip ... saat kita mengayuh pedal sepeda. Untuk dua kilogram pakaian (pakaian yang bahannya ringan/tipis) membutuhkan waktu mencuci hanya lima menit saja.

Dan yang berikut, oke yang ketiga, adalah Scrubba Wash Bag. Namanya saja tas mencuci, bentuk awalnya itu kecil banget:


Kalau dibutuhkan baru dibuka. Jadi Scrubba Wash Bag ini juga bagus untuk dibawa bepergian. 


Pilih mana: membawa banyak baju untuk dua minggu perjalanan atau membawa baju seperlunya untuk dua minggu perjalanan ditambah Scrubba Wash Bag? Pasti pilih yang kedua donk hehe. Praktis! 

Dari ketiga mesin cuci portabel di atas, saya lebih memilih Scrubba Wash Bag (meskipun tidak harus membelinya) karena sangat bermanfaat baik di rumah maupun saat bepergian. Terutama bepergian, ya itu tadi, dapat menghemat space karena tidak perlu membawa teralu banyak baju. Ya ya ya, kalau cuaca di tempat tujuan kita selalu cerah. Kalau mendung sih ... ke laundry saja cepat keringnya haha.

Semoga bermanfaat, kawan!


Cheers.

Monday, August 27, 2018

Cerita 7 Tahun Lalu di Asean Blogger



Gara-gara Asian Games 2018, saya jadi ingat Asean Blogger 2011. Sabar dulu. Itu Asian dan Asean, beda? Ya jelas beda, satunya pakai 'I' satunya pakai 'E'. Asian merujuk pada negara-negara di Benua Asia, sedangkan Asean merujuk pada negara-negara di Asia Tenggara sesuai kepanjangan Asean yaitu Association of Southeast Asia Nation (Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara). Jelas, Asian Games tidak sama dengan Asean Games / Sea Games. Asian tidak sama dengan Asean.

Baca Juga:

Balik lagi soal Asian Games 2018 yang mengingatkan saya pada Asean Blogger 2011 ...

Pada tahun 2011 Indonesia menjadi tuan rumah kegiatan Konferensi Asean Blogger Community (ABC) atau Asean Blogger Community Conference I. Pertama! Kalau di serial-serial istilah pertama ini disebut pilot (episode pilot). Kalau di komentar pos blog istilah komentar pertama ini disebut pertamax. Hehe. Kegiatan Konferensi ABC dilaksanakan selama dua hari di Museum Pasifika Nusa Dua - Bali, bersamaan dengan KTT Asean yang juga dilaksanakan di Nusa Dua - Bali. 


Hari pertama kegiatan Konferensi ABC 2011 dibuka oleh Menteri Kominfo saat itu yaitu Bapak Tifatul Sembiring dan dilanjutkan dengan sambutan oleh Duta Besar yaitu Bapak Hazairin Pohan. Kalimat terakhir Bapak Tifatul menutup speech kira-kira seperti ini: ikan hiu minum es puter, thankyou and see you later! Hehe. Tapi intinya adalah pemerintah mendukung para blogger dan ide-iden kreatif mereka demi perkembangan dan kemajuan IT di Indonesia.

Bunda Injul, Bang Agus, Nona Dita, Dari Kamboja, Ehem, Dari Malaysia.

Dimoderatori oleh Om Onno W. Purbo, Kegiatan dilanjutkan dengan perkenalan blogger dari setiap negara yang mengikuti Konferensi ABC terkhusus dari negara-negara selain Indonesia yaitu dari Thailand, Kamboja, Malaysia, Singapura, Brunei Darusalam, Myanmar, Philipina, Laos, dan Vietnam. Bagaimana dengan peserta dari Indonesia? Terlalu banyak untuk memperkenalkan diri satu per satu, gengs. Hehe. Rata-rata peserta Konferensi ABC memang dari Indonesia. Termasuk saya.


Selain materi dari Mas Donny BU dari ICT Watch Indonesia, peserta kemudian dibagi ke dalam tiga kelompok. 1 2 dan 3 kumulai membacaaaa surat cintaku yang pertamaaaa membikin hatiku berlomba. Masing-masing tiap tiga kelompok itu ditugaskan untuk mencari, menemukan, dan memberikan solusi dari setiap permasalahan yang dihadapi oleh para blogger. Waktu itu saya sekelompok sama Bang Agus Lahinta, teman ACI Detik Com 2010, dosen Universitas Gorontalo yang empunya Rumah Karawo itu.

Acara hari pertama Konferensi ABC 2010 memang padat banget. Setelah mempresentasikan hasil tugas masing-masing kelompok, dilanjutkan dengan talkshow dengan moderator Om Onno yang menampilkan banyak orang-orang hebat seperti Endah Nasution yang dikenal sebagai Bapak Blogger Indonesia, Mike Orgill dari Google yang gantengnya bikin baper setahun, Bapak Nukman Luthfie yang paling saya suka karena gayanya yang keren kalau menyampaikan materi, Shinta Bubu, sampai Mas Anggara Suwahju idola saya karena kalau bicara soal hukum paling senang saya sama paparan beliauuuuu.

Masih lanjut? Masih! Kan sudah saya bilang padat bangetttt. Masih ada deklarasi dan terakhir gala dinner. Oh Tuhan, keren sekali itu para penarinya! Yuhuuuu saya termehek-mehek.

Malam itu usai gala dinner saya dan beberapa teman dipandu oleh Mas Antonemus tidak kembali ke PopHaris Hotel melainkan ke sebuah lokasi/kafe di daerah Seminyak untuk menyaksikan pertunjukan maha kece di sana dan bertemu dengan Dialog Dini Hari. Oh, crappp di mana CD album Dialog Dini Hari itu sekarang?! Teman-teman lainnya memilih untuk pergi ke Pantai Kuta, beberapa lagi mungkin kembali ke hotel.

Hari kedua Konferensi ABC 2011 kami diajak berwisata ke Garuda Wisnu Kencana Cultural Park yang mana saat itu pengerjaan patungnya belum selesai. Nonton bermacam pertunjukan, makan-makan, haha hihi, foto-foto, sampai puas, lantas kembali ke hotel.


Masih banyak cerita dari Konferensi ABC 2011 tapi kalau ditulis semua jari saya menjerit kesal. Tapi saya masih ingin berbagi cerita lain ... bahwa dari kegiatan itu saya kembali bertemu Arie Pitax alias Goiq yang menghadiahkan saya kaos Mama Cake, saya bisa bertemu kembali Nike Rasyid yang pernah mengirimi saya buku Honeymoon with my Brother dan syal rajutan, pada akhirnya bertemu Ollie yang telah lama saya kagum padanya dan Nulis Buku *cie*, bertemu lagi sama Kang Iwok Abqary dan bisa haha hihi seperti biasanya kalau kami bertemu, bertemu sama Bang Agus Lahinta dan Nona Dita dari ACI Detik Com, jelasnya bertemu Bunda Injul, abang paling baik yang saya panggil Om Bisot, dan kakak paling baik Mami Vi3 yang rela menyeberang dari Banyuwangi ke Bali ha ha ha. Jadinya Kopdar Blogger Family donk kita :D

AWEEEEEESOME!


Makan malam di Pantai Jimbaran dan merusuhi pengamen itu paling seru lah *ketawa raksasa*

Demikianlah Asian Games 2018 mengingatkan saya pada Asean Blogger 2011. Padahal Asian dan Asean itu beda. Saya masih sempat bertemu kembali dengan teman-teman blogger dalam kegiatan-kegiatan lain seperti Blogger Nusantara di Makassar (kegiatan kedua) dan beragam FGD yang diselenggarakan oleh ICT Watch atau Internetsehat. Bahkan saya masih menjadi salah seorang sutradara dari video Linimassa 3 oleh ICT Watch.

Ollie, Nona Dita, Ehem, Goiq.

Dan ...

Waktu berjalan begitu cepat, bukan?


Cheers.

Sunday, August 26, 2018

Triplet ~ Part 22



Triplet adalah tulisan lawas saya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena ceritanya lumayan absurd. Saya memutuskan untuk menerbitkannya di blog, part demi part. Karena keabsurdannya, komentar kalian tidak akan saya tanggapi kecuali buat lucu-lucuan. Ini bukan pembelaan diri, ini bela diri dengan jurus menghindar. Selamat membaca Triplet.


***


PART 22


 
~ Ende ~
14 Agustus 2015


Karena alasan topografis, hampir semua ruas jalan negara yang menghubungkan kabupaten atau kota di Pulau Flores sangat sempit dan berkelok-kelok (mengitari bukit). Kondisi tersebut diperparah oleh letak jalan yang hanya semeter-dua dari tebing dan jurang. Jika pengendara kendaraan bermotor tidak tangkas dan jeli, pilihannya hanya dua: menabrak tebing atau meluncur bebas ke jurang. Sisi positifnya, pemandangan alam sepanjang jalan negara di Pulau Flores selalu menimbulkan decak kagum pada siapapun yang baru pertama kali melihatnya. Petak-petak sawah, air terjun, juga pantai, menjadi daya tarik tersendiri sehingga seringkali terlihat mobil sewaan atau bis berhenti di pinggir jalan untuk memberi kesempatan kepada wisatawan mengabadikan panorama alam Pulau Flores. Kadang-kadang satu-dua wisatawan lupa waktu karena terlalu asyik mengajak penduduk setempat yang kebetulan sedang melintas, sambil mengusung kayu bakar, berbincang menggunakan Bahasa Indonesia yang patah-patah.
Mobil travel yang ditumpangi Atha dari Kota Maumere memasuki Kecamatann Detusoko. Mereka beristirahat sejenak di depan Terminal Detusoko.
Sejak berangkat ke Maumere beberapa hari lalu, mengantar Wati pulang ke rumah orangtuanya, Atha terus diserang pusing kepala. Meski tidak berlangsung lama, paling lama dua menit, namun jelas sangat mengganggu. Belum lagi dalam perjalanan pulang ke Ende dentuman musik yang disetel Hepe, sopir mobil travel langganan Atha, ingar-bingar menganiaya kuping.
Tak lama beristirahat di Detusoko, Hepe kembali melanjutkan perjalanan.
OPPO R1011 Atha berbunyi. Dia mengeluarkan gadget-nya dari dalam tas. Panggilan dari Diba.
Assalamu’alaikum,” sapa Atha. “Ada apa, Dib?”
Wa’alaikumsalam. Masih lama kau di Maumere?” tanya Diba dari seberang.
On the way home.”
“Bagus. Kau ditungguin tamu dari Jakarta.”
“Ha?”
“Sudah, jangan nganga begitu!” hardik Diba.
“Tamu ... siapa, Dib?”
“Hati-hati di jalan!”
~ KLIK ~
“Dasar,” umpat Atha. Dia menyimpan kembali gadget-nya ke dalam tas.
Siapa yang menunggu saya?
Tamu? Tamu siapa?
Ndoriwoi? Ah, Ndoriwoi kan dari Pulau Ende.
Atha tersenyum membayangkan Ndoriwoi berani mendatanginya. Pertemuan terakhirnya dengan Embu Rembotu telah menegaskan satu perkara: Ndoriwoi tidak akan pernah muncul di hadapan Atha lagi untuk jangka waktu yang sangat lama.
Hebat juga Ndoriwoi ... bisa membuat Embu keluar dari sarangnya yang nyaman untuk bertemu saya ...
OPPO R1011 kembali berdering. Lagi, panggilan dari Diba.
Assalamu’alaikum.”
Wa’alaikumsalam. Langsung ke Shadiba’s Corner, Tha.”
“Oke.”
Atha membayangkan Toothless. Seandainya saja dia memelihara naga, mungkin saat ini dia sedang berada di atas naga yang terbang di atas petak-petak sawah, atap rumah penduduk, dan menyisir tebing.

xxXXXxx

Pukul 17.00 Hepe menghentikan mobil travel di depan Shadiba’s Corner. Ketika Atha menyebut Shadiba’s Corner saat melewati Pasar Wolowona tadi, Hepe tahu siapa yang akan dia antar paling akhir. Laki-laki yang telah belasan tahun menjadi sopir mobil travel dan kenyang dengan segala medan lintas Pulau Flores ini akan bersantai sejenak; ngopi-ngopi di kafe.
“Om Hepe, kalau mau minum kopi, nanti bilang ke kasir saya yang bayar, ya ...”
“Wah! Terima kasih!”
“Oh ya ... sekalian kalau mau makan ...”
“Iya, Atha. Terima kasih.”
Santai Atha berjalan melintasi galeri, menyapa Laila dan Imar yang sedang merapikan pajangan tenun ikat, menyapa kasir galeri Jenni, lantas membuka pintu ruang kerja Diba.
Assalamu’alaikum.” Selain aroma jeruk menyerang indera penciumannya, Atha juga diserang tatapan dua pasang mata yang seakan-akan hendak meloncat keluar dari rongganya, atau seakan-akan sedang melihat Malaikat Izrail. Melihat salah satu dari dua ‘tamu dari Jakarta’ itu, Atha tercekat.
Seketika suasana berubah hening.
Dejavu.
Wa’alaikumsalam,” jawab Diba dan Pram.
Senyum Atha mengembang. “Kau ...”
“Sharastha ...” bibir Pram bergetar. Bahkan tangannya pun bergetar saat bersalaman dengan Atha. Bertemu Atha, face to face, ternyata tidak berbeda jauh dari mimpinya. Atha: cantik, anggun, dan penuh misteri. Aroma tubuhnya pun seakan menyampaikan sesuatu yang terlampau dalam untuk dipahami oleh logika.
“Ini Pram,” Diba menjelaskan. “Dan ini ... Margaret! Margaret yang saya ceritakan itu, Tha.”
Atha melepas tangan Pram yang, masih, bergetar. Dia menyambut uluran tangan Margaret. “Halo, Margaret ...”
Pusaran menyedot Atha. Dia nyaris limbung jika tidak segera melepas tangan Margaret. Tanpa sadar dia berkata, “cinta bukan permainan. Cinta bukan sekadar kisah perjalanan ke tempat-tempat paling menawan di muka bumi ...”
Margaret tersentak. “... cinta adalah payung ...” ujarnya. “Bagaimana kamu tahu?”
Diba tergelak. “Karena dia dukun beranak, Margaret. Ha ha ha. Coba kau tanya sudah berapa orok yang dia tarik ke luar dari rahim?”
“Ha? Dukun beranak juga?” tanya Margaret.
“Bercanda, Margaret ... bercanda!” bentak Diba.
“Mau minum apa, Kak Atha?” Magda menawarkan minum untuk Atha.
“Air putih,” jawab Atha, lantas duduk di sofa.
Suasana hening sesaat membuat Diba tidak tahan. Bagaimana dia bisa tahan? Pram dan Margaret bertingkah mirip zombie insaf. Yang satu menatap Atha seakan-akan saudari kembar Diba itu baru saja selamat dari kecelakaan pesawat paling mematikan di atas udara Jerman. Yang satu lagi begitu terpana setelah melanjutkan kalimat Atha; cinta adalah payung ...
“Oke!” Diba menepuk tangan sekali, memberi efek ‘sadar’ pada Pram dan Margaret. “Ini dia Sharastha Pua Saleh. Kau sudah tanyakan dia sejak kalian masih di Jakarta,” katanya sambil menunjuk Margaret. “Dan kau,” dia menunjuk Pram “memang mencari dia untuk tujuan-tujuan mistik ... hik hik hik ... horor banget kan?”
“Hush!” Atha mengibas tangan.
Begitu banyak misteri tersebar di dunia ini yang membingungkan para ahli dan belum terungkap. Sebut saja Manuskrip Voynich, Patung Moai di Pulau Paskah, The Taos Hum di New Mexico, Segitiga Bermuda di Kepulauan Bermuda, Kapal SS Ourang Medan, bahkan senyum Monalisa pada lukisan karya Leonardo da Vinci. Semua misteri yang belum terungkap mengindikasi satu perkara dasar yakni keterbatasan manusia.
Begitu banyak misteri yang ditelusuri Atha, kemudian terungkap. Dia yakin hal ini mengindikasi satu perkara dasar pula yakni kekuasaan Allah SWT. Hanya Allah satu-satunya zat paling berkuasa yang menguasai keseluruhan jagad raya hingga sel makhluk hidup.
“Ada yang mau kau tanyakan, Pram?” tanya Atha.
“Kamu pasti sudah tahu apa yang mau aku tanyakan,” balas Pram.
Atha menggeleng. “Kau pikir setiap saat saya bisa melakukannya?”
“Tidak?”
“Tidak.”
“Tidak?” Diba nimbrung. “Bohong ...”
Atha tertawa kecil. “Kau itu, Dib.”
Pram mengusap wajah. “Kalau kamu punya kemampuan psikometri, tentu ada sesuatu yang membawa kamu pada aku, pada mimpiku,” tuduh Pram. Ketika tahu kemampuan Atha, dia memburu semua informasi tentang indigo, yang memperkuat pencariannya adalah cerita Diba soal kemampuan utama Atha. Psikometri.
Atha menghela nafas panjang. “Saya pikir tidak secepat ini karena belum tentu kau mau percaya. Hanya orang gila yang bertindak nekat memenuhi panggilan mimpi.”
Pram mendesah. “Sebenarnya ...”
“Ya, saya sudah tahu,” pangkas Atha.
Margaret cemberut. “Katanya tadi kamu nggak tahu.”
“Saya tahu ... bukan karena saya tahu. Saya juga bisa menggunakan kemampuan menganalisa, kok. Antara benda, mimpi, dan kenyataan,” balas Atha. “Tapi saya tidak yakin apakah kita harus membahasnya sekarang atau nanti. Apakah waktu bisa menunggu? Atau ... Apakah alam mampu men ...
“Jangan baca puisi, Tha,” pangkas Diba.
Refleks Atha mengeluarkan saputangan warna biru dari dalam tas. Benda ini selalu dia bawa ke mana pun dirinya pergi. “Kau kenal sapu tangan ini?”
Bagi Diba dan Margaret, saputangan yang dilambaikan Atha di depan Pram hanyalah secarik kain, tersedia hampir di semua toko pakaian, dan bukan benda penting. Setidaknya Situs Bung Karno yang terletak di Jalan Perwira, Ende, jauh lebih penting dari saputangan ini.
Bagi Pram, secarik kain yang dilambaikan Atha bermakna dalam. Paru-paru Pram sedang menuju ledakan paling dahsyat. “Itu sapu tanganku!”
Diba dan Margaret terjungkal.
“Yang kau berikan pada ...?” tanya Atha.
“Prita!” Pram menerima saputangan dari Atha. “Prita pasti ...” nafasnya memburu.
“Mas Wawan,” ujar Atha seakan dua kata itu merupakan kata ‘Amin’ dari semua do’a yang didaraskan manusia kepada Tuhan.
“Mas ... Wawan?” tanya Pram.
“Mas Wawan?” Diba mengerut kening.
“Aku kok nggak tahu siapa Mas Wawan ini ...” desis Margaret.
Semerta-merta Diba bangkit dari kursi di hadapan meja kerjanya. “Saya tahu! Saya tahu sekarang! Itu saputangan Pram yang dikasih pada Prita ... dan Prita memberinya pada Mas Wawan! Lantas ... hei, Tha, untuk apa Mas Wawan kasih kau saputangan itu?”
“Jatuh di ruang makan,” jawab Atha.
Diba menggaruk kepala. “Lantas, apa hubungan Prita dengan Mas Wawan?”
Astaghfirullah,” gumam Pram. Dia terbangun dari mimpi—nampaknya. “Wira itu ... Wawan?”
“Wirawan Susanto,” ujar Atha.
“Wirawan Siswanto,” ujar Pram.
“Dia membaptis dirinya sendiri!” seru Margaret. “Dia ganti identitas.”
Pram menutup mulut seakan hendak menahan arus darah hasil ledakan di dalam paru-parunya. “Kita tinggal selangkah lagi. Kita hanya tinggal mencari di mana si Wawan ini ...”
“Kok mencari?” tanya Diba.
Pram menoleh. “Kenapa kamu nanya begitu, Diba? Tujuan aku mengajak Margaret ke Ende memang itu. Mencari laki-laki yang udah bikin hidup Prita menderita! Ya, selain memenuhi panggilan mimpi.”
Diba terkekeh. Atha tergelak.
“Wawan itu calon IPAR kami!” balas Diba dengan volume suara dua tingkat lebih tinggi dari teriakan Ahmad Albar.
Pram dan Margaret saling pandang. “Maksud kamu, dia calon suami dari mantan istrinya Bang Elf?” tanya Margaret.
“Sayangnya ... kau benar.” Diba mengaminkan.
Perjalanan hidup manusia benar-benar misteri. Pram tahu apa yang diajarkan Tuhan padanya dalam pencariannya ini. Bahwa kata ‘nyaris’ itu benar-benar ada. Nyaris bertemu Wira—Wawan saat mereka berada di rumah Ibrahim Pua Saleh si Juragan Tigabelas.
Pintu ruang kerja membuka. Magda berdiri di situ. Di belakang Magda nampak seorang perempuan berwajah cantik (namun lusuh).
Laprita Bachtiar.
Margaret buru-buru bangkit, hendak pergi ke kamar mandi. Pram menahan tangan Margaret agar mantan kekasihnya ini tidak menghindari Prita.
“Lepaskan,” bisik Margaret.
Pram pura-pura tidak mendengar. Dia ingin Margaret tidak lari.
Assalamu’alaikum,” sapa Prita. “Maaf, apakah aku mengganggu kalian?” santun, dia bertanya.
Melihat Prita, Atha segera bangkit. “Hai, Prita. Maaf kalau kalimat yang bisa saya katakan pada kau hanya tigabelas Maret duaribu tigabelas,” katanya, seakan mereka adalah kawan lama.
Prita limbung. Dia menarik tangan Atha. “Kamu  perempuan yang datang dalam ...” nafasnya terengah.
“Dalam mimpi. Ya. Itu saya,” jawab Atha. Belum sempat dia melanjutkan omongannya, dirinya tersedot. Darah dan kegelapan bak dwi tunggal. Dia melepaskan tangan Prita. “Maaf ... saya tahu itu menyakitkan.”
Oleh Pram, Prita diajak duduk diantara dirinya dan Margaret. Jelas, perbuatan ini kembali membangkitkan kemarahan singa yang sedang tidur.
“Halo, Margaret. Apa kabar?” sapa Prita. Lembut.
Margaret melongo. Baru kali ini Prita kembali menyapanya dengan normal, dan ... lembut ... setelah Paman Igi memutuskan hubungan mereka. Ke mana kah si pretty high class woman yang angkuh itu?
“Eh ... kabar baik,” jawab Margaret canggung.
Dari balik punggung Prita, Pram menatap Margaret. Tatapannya seolah berkata: lihat, apa aku bilang? Prita nggak sejahat yang kamu sangka kan?
Diba, sekali lagi, menepuk tangan. “Karena kalian semua sudah berkumpul, dan kita sudah tahu siapa yang harus diburu ... sudah saatnya kita susun rencana.”
“...”
“...”

“Andai saya diijinkan memelihara naga, rasanya semua masalah boleh teratasi.” – Sharastha Pua Saleh.
 


***
Bersambung