Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Friday, November 30, 2018

#PDL Ngopi Tjakep


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Saya tinggal di kampung, meskipun namanya Kota Ende, yang tidak mengenal istilah V60 atau Aeropress. Yang saya tahu seduhan kopi terenak yang juga disukai (alm.) Bapa adalah takarannya yaitu 2:1. Dua butir gula, satu jumput kopi. Dua sendok gula dan satu sendok kopi. Karena bubuk kopi yang bakal kami minum itu disangrai sendiri di rumah sampai ketek basah dan digiling di pasar dengan biaya antara 5K-an sampai 15K-an, jadi urusan seduh-menyeduh kopi ini selalu dengan takaran yang sama 2:1. Kadang saya meminum kopi tanpa tambahan gula. Rasanya? Ya rasa kopi, masa iya berubah jadi rasa yang pernah ada? Hehe.

Baca Juga : #PDL Tas DIY Celana Jin

Dulu saya pecinta kopi hitam. Kopi memang hitam sih pada umumnya. Maksud dari kopi hitam ini adalah kopi tanpa campuran apa-apa. Tanpa susu, tanpa krim, tanpa kamu. Tapi masih pakai gula. Lama-kelamaan mulai kenal Nescafe. Terus balik lagi ke kopi hitam. Sekarang, setiap pagi saya selalu meminum kopi dicampur susu bubuk. Gara-gara kadar gula dalam darah drop sampai angka 50, saya kemudian kembali meminum kopi susu + gula. Tapi? Kok? Iya, nasinya yang dikurangi atau bahkan di-skip dalam sehari, dengan olahraga maksimal tiga puluh menit setiap hari diantaranya jalan kaki dan menari sendiri dalam kamar kayak orang teler habis negak anggur satu tong. 

Tentang ngopi tjakep ini, adalah istilah saya untuk ngopi yang tidak perlu di kafe tapi sensasi kenikmatannya tiada tara.

Ceritanya ...

Mamatua adalah seorang mualaf. Tidak heran keluarga kami terdiri dari dua kelompok agama besar yaitu agama Islam dari pihak (alm.) Bapa dan agama Katolik dari pihak Mamatua. Kondisi ini membikin kami kaya raya. Adalah setiap hari raya kami saling bersilaturahmi. Manapula open house itu fardhu'ain setiap kali hari raya. Setiap Hari Raya Natal saya pasti punya jadwal tetap bersilaturahmi ke rumah adik-adiknya Mamatua dan semua saudara/i sepupu! Haha. Perjalanannya panjang banget. Belum lagi ke rumah tetangga dan teman kantor. Beda kalau Hari Raya Idul Fitri, giliran saya yang jaga gawang.

Di Kota Ende setiap hari raya adalah milik semua umat beragama. Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Natal, dan Hari Raya lainnya dirayakan bersama tanpa sekat, tanpa dogma tentang surga dan neraka.

Suatu kali, pada Hari Raya Natal yang tahunnya saya lupa, kondisi tubuh sudah super letih. Setiap Natal jadwal terakhir perjalanan kami memang di rumah Kak Selvy Bata. Nah, hari itu tibalah kami di rumah terakhir perjalanan silaturahmi, di rumah Kak Selvy yang saat itu sedang direnovasi. Tidak ada yang bisa memulihkan tenaga saya ... saya pikir ... sampai mata saya menumbuk stoples kacang mente atau kacang mede. Perlahan mata redup mulai menyala. Dengan santainya saya bertanya: Kak, ada kopi Bajawa kah? Jawabannya membikin mata saya semakin menyala.


Tjakep bener kan!?

Mari ngopi tjakep! Ngopi pada saat paling tepat, versi saya, ketika tubuh sudah tidak sanggup menampung segala macam ketupat dan lauk-pauk, es sirup, minuman bersoda, dan kukis manis semanis saya. Hihi. Seperti penangkal racun lah ini. Melihatnya, Kakak Selvy dan Kakak Marsel (suaminya Kakak Selvy yang asli Orang Bajawa - Ngada) hanya bisa terkekeh sambil geleng kepala.

Baca Juga : #PDL Menjadi Hakim Anggota

Tahun lalu saya bahkan mengajak Susan untuk bersilaturahmi bersama hahah. Dia akhirnya merasakan perayaan Hari Raya Natal di Kota Ende.

Susan, paling kiri dari kalian (kelihatan dari wajahnya donk ya) entah mengapa mendadak minta dipakaikan pashmina sama si Thika (paling kanan). Si pemilik rumah, Kakak Selvy, yang pakai baju kuning tanpa jilbab. Hehe.

Pernah, saya pernah begitu. Ngopi tjakep di rumah kakak, maupun ngopi tjakep di kantor saat sedang suntuk sama pekerjaan yang menumpuk alias banyak liputan yang belum diberitakan di media sosial dan website kampus.


Yihaaaa! Nikmatnya hidup. Ngopi tjakep di kantor saat suasana sepi dan dengerin lagu-lagunya Kitaro. Eh, dengerin lagu-lagunya John Mayer, Fastball, Norah Jones, atau lagu-lagu yang di-vintage lembut. Kata Abdur, aduh Mama sayang eee eeeeh. Meskipun saya bukan penikmat kopi di kafe, tapi urusan ngopi ini ... kita sama :D

Baca Juga : Mengumpulkan Si Kuning

Soooo ... bagaimana dengan ngopi tjakep kalian?



Cheers.

Thursday, November 29, 2018

5 Peserta Favorit Kelas Blogging

Membuka kelas blogging, gratis, baik bersama Kanaz dan Om Bisot maupun sendirian membenturkan saya dengan banyak karakter (peserta kelas). Ada yang semangat belajarnya luar biasa membikin para mentornya jadi lebih bersemangat berbagi ilmu, ada pula yang duduk termenung di WAG sampai-sampai terpaksa dikeluarkan oleh Kanaz. No hard feeling. Karena aturan kelas blogging kita, termasuk yang terakhir yaitu Kelas Blogging Online, merupakan kelas tempat saling belajar dan berinteraksi. Harus ada proses yang bisa terlihat nyata lewat tampilan blog masing-masing. Jika tidak, terpaksa dikeluarkan. Saya rasa ini cukup adil. Bukan begitu? Begitu bukan?

Baca Juga : 5 Workshop Blogging & Social Media

Dari kelas-kelas blogging yang sudah berjalan melalui WAG, saya punya peserta favorit; kaitannya ya sama kalimat 'membenturkan saya dengan banyak karakter' seperti pada paragraf awal di atas. Yang menjadi favorit saya belum tentu menjadi favorit Om Bisot dan Kanaz. Vice versa. Apa syarat, haaaa? Syarat?, atau indikasi sehingga mereka berlima saya jadikan peserta terfavorit? Tentu saya tidak sembarang menentukan lah hehe. Setidaknya ada hal-hal yang membuat mereka terlihat lebih unggul dari yang lain. Thika Pharmantara dan Ocha, misalnya, tidak mungkin mereka menjadi favorit saya karena menulis saja masih celup-celupan. Mereka harus memotivasi diri sendiri kan, karena tugas kami sebagai mentor untuk kelas mereka yaitu Kelas Blogging NTT sudah selesai.

Baiklah ... jadi, selalu saya menulis jadi padahal tidak ada angin, dinosaurus, dan hujan siapa saja kah peserta favorit saya dari semua kelas blogging yang sudah berjalan dan/bahkan ada yang sudah selesai itu?

Mari kita cek.

1. Ludger

Awal mengenal Om Ludger ini via Twitter. Saling sahut-sahutan dan akhirnya saya mengajaknya mengikuti Kelas Blogging NTT Angkatan II. Semangatnya mengikuti kelas dengan kondisi sinyal celup-celupan naik-turun bikin nelangsa patut diacungi jempol dinosaurus. Maklum, meskipun berasal dari Wologai namun lokasi kerjanya berada di Lepembusu. Iya, Puskesmas Lepembusu namanya. Tentang puskesmas ini bakal saya bahas di lain pos dan di lain blog haha.

Om Ludger waktu kami kunjungi hahaha.

Yang menarik adalah konten blog-nya selalu membahas tentang budaya Wologai, daerah yang terkenal dengan kampung adatnya itu. Konten-konten orisinil seperti itu, apalagi tentang budaya, sudah jarang kita temui. Kebanyakan sih hasil kopas sana-sini yang bahkan tanpa merujuk penulis aslinya.

Terakhir PR/tantangan dari Kelas Blogging NTT yang diikuti oleh Om Ludger, berhadiah kaos. Demi penyerahan kaos ini saya pergi ke tempatnya bekerja hahaha.

Terakhir setelah saya, Mila, dan Santy mengunjungi Om Ludger di Puskesmas Peibenga dan berhasil mengacau di sana, saya baru tahu kalau dia sudah memakai domain sendiri. Selamat ya, Om. Semakin serius nampaknya. Insha Allah dapat menjadi blogger yang amanah demi terkenalnya daerah kita khususnya Wologai. Huhuy!


Saat menulis ini saya baru tahu kalau Aram, Kelas Blogging NTT Angkatan II, sudah memakai domain sendiri. Mentor macam apa saya ini hahaha. Selamat, selamat, selamat.


Mengenal Aram sudah lama saat dia masih menjadi mahasiswa Uniflor. Yang saya tahu dia adalah aktivis dengan segudang kegiatan. Kegiatannya yang padat jaya itu selalu bermanfaat bagi orang lain. Kenapa dia menjadi peserta favorit saya adalah semangat belajarnya yang sama tinggi seperti Om Ludger dan memang punya passion di dunia blog. Tinggal lebih rajin menulis konten, mantap jiwa.


Abang Iskandar saya memanggilnya. Orang baru di kelas blogging yang masuk dalam Kelas Blogging Online. Tapi kalau dalam dunia aktivis sampah, jangan ditanya lagi, dia sudah kesohor bareng Abang Umar Hamdan dalam komunitas bernama ACIL. ACIL adalah Anak Cinta Lingkungan yang sudah melakukan seabrek kegiatan demi pelestarian lingkungan termasuk salah satunya mendaur ulang sampah dan pembibitan ribuan tanaman. Kegiatan lainnya silahkan baca blog Abang Iskandar.


Paling senang baca WAG Kelas Blogging Online setiap Senin malam menjelang pukul 21.00 Wita. Pasti Abang Iskandar ini sudah mulai menulis: sebentar lagi kelas mulai. Hahaha. Semangatnya belajar nge-blog itu bikin saya terkejut-kejut. Kan sama sekali tidak menyangka dia bakal sesemangat itu. Abang Iskandar ini, saya jamin, setelah lebih dari lima kali pertemuan kelas, bakal jago banget nge-blog-nya. Ayo, Abang, harus bisa!


Tidak semua yang saya favoritkan datang dari Kabupaten Ende haha. Betul, tiga nama di atas memang Orang Ende. Mari cek yang berikutnya ... eng ing eng ini nggak perlu kan ya soalnya namanya sudah tertera di poin empat di atas ...


Seorang guru yang mulai nge-blog. Keberadaannya membikin saya teringat pada Pak Martin. Adalah pencapaian yang luar biasa apabila guru juga nge-blog dan memanfaatkan blog dalam pengajaran. Kakak Maya baru mulai, dan di tengah padatnya aktivitas beliau sebagai guru, semoga suatu saat nanti bakal lebih mengembangkan dunia ajar-mengajar melalui blog. Maju terus, Kak!


Kak Dian adalah peserta Kelas Blogging Online yang ternyata sudah lama nge-blog. Tujuannya untuk mengikuti kelas ini adalah agar semangat untuk nge-blog tetap terjaga. Kan asyik punya banyak teman, saling berbagi ilmu, saling bercanda ... jadi lebih semangat nge-blog kan? Sama juga, ketika saya dan kalian saling berinteraksi lewat komentar baik komentar di blog saya maupun di blog kalian, kita jadi lebih semangat nge-blog. Percaya lah.

Sayang, saya tidak menemukan foto Kak Dian. Nanti deh.

Karena ini #KamisLima, jadi itulah dia lima peserta favorit kelas blogging versi saya. Kayak On The Spot gitu haha.

Masih banyak peserta lain dari kelas-kelas blogging loh. Mari kita kenal, setidaknya, mengunjungi blog mereka satuper satu. Siapa saja kah mereka?


Tentu termasuk Thika dan Ocha yang sudah saya tulis di atas dan lima favoritnya.


Baca Juga : 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)

Saya kaum sama semangat mereka belajar nge-blog, berkecimpung di dunia blog, hingga suatu saat nanti mereka tahu nikmatnya mengelola blog hingga ke tahap pro. Wuih. Artinya adalah mereka tidak saja belajar tentang blog tapi juga belajar tentang bagaimana menulis yang baik; setidaknya tanda baca dan preposisi bisa ditulis dengan baik. Kalau tulisannya enak dibaca seperti pos Om Bisot yang membahas bagaimana membuat tulisan artikel atau konten yang enak dibaca, kan asyik kalau tulisan kita enak dibaca dan scannable. Orang bakal betah banget berlama-lama di blog kita untuk mengulik satu pos ke pos lainnya.

Semoga teman-teman yang baru belajar nge-blog ini dapat memicu lebih banyak semangat pada kita, saya, kalian, mereka, yang mengaku telah lama nge-blog.


Cheers.

Wednesday, November 28, 2018

5 Obat Wajib Perjalanan Jauh


Jum'at, 23 November 2018 kemarin saya menjalankan tugas liputan ke luar negeri kota tepatnya di Kelurahan Bokasape, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Meskipun masih dalam wilayah Kabupaten Ende tapi jaraknya lumayan jauh yaitu sekitar 65 (enam puluh lima) kilometer dari Kota Ende. Bagi kalian yang hidup di kota besar sebesar dinosaurus seperti Jakarta misalnya, jarak segitu mah tidak ada artinya. Tapi bagi kami yang tinggal di Pulau Flores, jarak segitu sangat berarti terutama karena kami harus melintasi jalan trans-Flores yang berliku seumpana kisah asmara Siti Nurbaya, melintasi hutan, perumahan penduduk lokal, daerah persawahan, tebing yang pada musim hujan melongsorkan batu-batu cadas, hingga harus mengalah sama hewan-hewan yang piknik di badan jalan. Pada titik tertinggi, kami harus memelankan laju kendaraan (sepeda motor) karena kabut yang turun hingga ke aspal menyempitkan jarak pandang yang tinggal satu sampai dua meter saja.

Baca Juga : 5 Manfaat Garam

Bersama Mila dan Santy, siang itu saya membelah jalanan trans-Flores dalam kondisi hujan tanpa henti. Itu perjalanan yang Rock'n'Rain selama hampir empat jam dengan jeda sekitar empat puluh lima menit ngopi cantik di Lepa Lio Cafe, di Kecamatan Detusoko. Baru kali ini saya melakukan perjalanan luar kota dengan kendaraan roda dua, Onif Harem, tanpa punya kesempatan melepas mantel dan kawan-kawan. Aduhai!


Kalian iri sama sepatunya? Beli sendiri doooonk. Murah kok, hanya empat ribu Rupiah! Haha.

Perjalanan jauh itu membikin saya tahu, sejak dari Kota Ende hingga pada saat kami telah ditempatkan di rumah salah seorang penduduk Kelurahan Bokasape, bahwa ternyata kami bertiga punya kebutuhan yang nyaris sama untuk urusan perjalanan luar kota ini. Minyak, obat, minyak, obat. Bahkan malam hari pertama, kami harus pergi mencari fresh care yang tanpanya Mila tidak dapat tidur lelap sambil ngorok dan ngiler. Dan karenanya indera penciuman saya rusak sesaat hahaha. Aromanya sungguh luar biasa aroma fresh care yang satu itu. Tobat seribu tobat. Saya sampai bingung jangan-jangan ada yang berubah dengan struktur penciuman saya haha.

For your information, Kelurahan Bokasape terletak di jantung Kecamatan Wolowaru, yaitu pusat lalu lintas trans-Flores sehingga banyak toko kelontong yang berdiri gagah di sekitarnya. Tidak sulit untuk sekadar mencari fresh care meskipun harus mengalah karena sudah tidak pilihan aroma lain. Huhuhu. Sayangnya, meskipun termasuk wilayah kecamatan tapi tidak ada pom-bensin di sana. Padahal Kecamatan Boawae di Kabupaten Nagekeo sana, punya satu pom-bensin yang selalu ramai. Kebutuhan bensin di Kecamatan Wolowaru ini disediakan oleh para penjual eceran yang dengan mudah ditemui sepanjang jalan.

Dari pengalaman perjalanan itu, tentu juga perjalanan lainnya ke wilayah lain di Indonesia, saya merangkum lima obat perjalanan jauh yang wajib dibawa oleh kalian, saya, mereka, siapa saja yang melakukan perjalanan jauh. Terlihat sepele, tapi pada kondisi tertentu akan sangat membantu meringankan beban ekonomi keluarga gejala dan/atau sakit yang dirasakan. Iya, tidak perlu harus langsung pergi ke dokter, atau dalam hal ini ke Puskesmas Wolowaru.

Baca Juga : 5 Manfaat Tertawa

Apa saja sih yang wajib dibawa?

Yuk kita intip ...

1. Minyak

Minyak ini ibarat nama internasional yang ampuh untuk perjalanan jauh. Sejak dulu Mamatua pun sering membawa minyak tawon ke mana pun pergi. Selain saya yang membawa minyak Varash, Santy membawa sebotol besar minyak kayu putih, Mila pun wajib mencari fresh care yang masih termasuk dalam kelompok minyak juga kan ya hahah *maksa*. Untung kita masih di jantung Kecamatan Wolowaru yang banyak toko kelontongnya. Kalau tidak? Bisa-bisa Mila menghantui kami setiap malam karena tidak bisa tidur. 

Kenapa saya memakai Varash? Untuk melindungi dan membikin kaki terasa lebih enak saat diajak tidur. Jadi hanya dioles ke telapak kaki dan kaki saja. Karena, ketika pergi ke tempat orang seperti itu kan belum tentu saya juga bisa JMKK. Varash juga membantu Mila dan Santy; dioles ke perut sebelum tidur. Sampai-sampai, pada malam terakhir tidur di Kelurahan Bokasape saya bilang begini pada mereka: lama-lama saya goreng kalian berdua. Seluruh badan diminyakin!

2. Pereda Nyeri

Pereda nyeri merupakan obat yang wajib dibawa oleh para pejalan karena kalian tidak akan pernah tahu kapan merasakan nyeri/sakit kepala atau perut. Pereda nyeri ini macam-macam. Bisa dimulai dari Menfentan / Asam Mefenamat sampai ranitidin (lambung). Tergantung kalian nyamannya pakai obat yang mana. Kalau saya sih untuk melekaskan hilangnya sakit kepala, sakit gigi, atau nyeri lambung, saya minum Menfentan. Ada baiknya kenali dulu pula alasan kepala kalian sakit, misalnya, karena alasan sakit kepala kan banyak banget, diantaranya karena terlambat makan. Kalau saya sih pasti sakit kepala kalau dompet menipis. Haha.

3. Penetral Asam Lambung

Obat yang satu ini wajib dibawa oleh kalian yang mengalami maag akut. Salah satunya bernama Antacid. Jadi, kalau perut/lambung sudah nyeri banget, langsung mengunyah satu Antacid, menunggu beberapa saat, lalu makanlah sepiring nasi (disertai lauk pauk penggugah selera seperti semur jengkol misalnya, atau sup sari kuku dinosaurus), dan lantas minum obat Ranitidine. Dua obat yang saya tulis ini; Antacid dan Ranitidine, adalah anjuran dari keponakan saya yang apoteker saat saya sudah nyerah sama nyeri/perih yang terasa di ulu hati. Jadi, menulis ini karena pernah mengalaminya. Tapi mungkin tidak sama berlaku pada setiap orang. Yang jelas, konsultasikan dulu lah sama dokter kalian sebelum menyiapkan obat-obat seperti pereda nyeri dan penetral asam lambung untuk perjalanan jauh.

4. Obat Luka/Antiseptik

Semua orang pasti tidak mau tubuhnya terluka apalagi hati yang terluka dan teraniaya. Tapi luka bisa terjadi kapan saja. Misalnya, kalau tidak hati-hati dengan jalanan yang licin, bisa tergelincir, terjatuh, dan menyebabkan luka pada kulit. Obat luka antiseptik yang umum dipakai antara lain Betadine dan Rivanol. Bawalah sebotol untuk jaga-jaga.

5. Obat Diare

Ini saya alami ketika berada di Kelurahan Bokasape. Entah mengapa. Padahal semua yang saya konsumsi normal. Kemungkinan perut saya tidak cocok dengan air minum yang ada di sana sehingga menyebabkan saya mengalami diare pada pagi hari terakhir pulang. Sayangnya saya tidak membawa obat diare jadi hanya bisa mengoles perut dengan Varash. Varash lagiiiii. Hehe. Mau minum air hangat tapi kuatir malah semakin menjadi diarenya karena kecurigaan saya ada pada air minumnya. Menggosok perut dengan minyak Varash sangat membantu menahan sampai saya tiba di Ende (rumah) ... parkir motor ... lari ke kamar ... masuk kamar mandi ... tamat.

Tempat tujuan perjalanan kita pasti punya puskemas, apotik, atau tempat praktek dokter, tapi menyiapkan obat-obat ini di dalam backpack rasanya wajib dilakukan untuk penanganan super cepat.

Baca Juga : 5 Manfaat Buah Sirsak

Setelah membaca lima obat wajib perjalanan jauh versi saya di atas, bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga pasti membawa obat-obat itu? Atau ada obat lain yang wajib dibawa? Bagi tahu donk di komen hehehe.

Semoga pengalaman saya juga dapat bermanfaat bagi kalian.



Cheers.

Tuesday, November 27, 2018

Plastik Berkualitas dari Tupperware


Selasa adalah #SelasaTekno. Tapi tidak selamanya Selasa harus semata-mata teknologi yang berhubungan dengan teknologi telepon genggam. Karena saya pernah menulis teknologi inovasi seperti tentang tenda lipat otomatis ini, atau proyektor keren ini, atau tentang situs tempat kita dapat membikin segala barang berbasis teknologi. Dan, bahkan saya pernah menulis tentang teknologi wadah makanan dan minuman yang bisa dilipat. Oleh karena itu, ijinkan saya menulis tentang Tupperware!

Baca Juga : Scootmatic

Kalian, terutama perempuan, pasti sering dengar tentang Tupperware. Tupperware sebagai wadah makanan di kulkas, Tupperware sebagai wadah bekal makanan dan minum ke kantor, Tupperware sebagai wadah saji prasmanan kala hari raya dan perayaan tertentu, Tupperware sebagai botol minum yang praktis dan bergaya dibawa saat berkegiatan, dan lain sebagainya. Apakah saya juga memakai Tupperware? Ya, tentu. Kenapa pakai Tupperware? Itu pertanyaan lain yang bakal saya jawab pada pos Kamis, nanti-nanti, hahaha. Hari ini saya pengen menulis tentang Tupperware yang kesohor yang mampu bikin kaum ibu tersenyum bangga apabila memakainya. Termasuk saya, meskipun saya belum jadi ibu qiqiqi. 

Perkenalan saya dengan Tupperware sudah sangat lama, sejak kakak ipar saya mulai membeli aneka wadah Tupperware yang biasa diajak piknik di era 90-an. Sejarah Tupperware sendiri jauh lebih lama dari itu. Tupperware pertama kali dibuat pada tahun 1946 oleh Earl Tupper di Amerika. Tupper membuat suatu wadah plastik yang dipergunakan untuk rumah tangga; untuk menyimpan makanan dan membuatnya kedap udara. Salah satu paten penting dari produk ini, menurut yang tertulis di Wikipedia, adalah seal penyekatnya yang dikenal dengan burping seal yang merupakan ciri khusus terkenal dari produk-produk Tupperware. Inilah yang membuatnya berbeda dari produk-produk sejenis.


Tapi apa yang membikin Tupperware ini begitu digandrungi adalah istilah 'aman' yang mengikutinya. 

Produk Tupperware terbuat dari bahan plastik berkualitas terbaik, tidak mengandung zat beracun, dan sudah memenuhi standard dari beberapa badan dunia seperti FDA (Food and Drug Administration) Amerika, European Food Safety Authority (Eropa), Japan Food Safety Commision (Jepang), sehingga selain aman digunakan berkali-kali untuk makanan dan minuman (food grade) juga ramah lingkungan. Kalau seperti ini adanya, tidak heran Tupperware menjadi merek nomor satu di dunia untuk barang-barang rumah tangga plastik.

Menurut saya, apa yang membikin Tupperware digandrungi bukan saja karena aman, tapi karena banyak faktor seperti misalnya pilihan jenis dan model produknya. Tupperware punya begitu banyak jenis produk seperti stoples, tempat bekal makanan, botol minum, hingga gelas. Uniknya, khusus untuk bekal makanan pasti dilengkapi dengan cover berupa tas mini. Pengalaman berkegiatan di Kecamatan Wolowaru hari Jum'at kemarin (sampai Minggu), saat saya membawa bekal nasi dari rumah sampai sore, makanannya masih segar karena tutupan tempat makannya punya lobang-lobang kecil agar uap makanan panas bisa keluar.

Baca Juga : The Pause Pod

Selain banyak pilihan jenis dan model, Tupperware ini selalu penuh warna. Contohnya stoples buat gula dan kawan-kawan berikut ini:


Pilihannya dan perpaduan warnanya selalu bikin mata segar. Yang macam begini juga pernah saya beli dahulu kala dalam bentuk kotak segi empat aneka warna (dan pastinya ada warna kuning), yang kini salah satu kotak itu dipakai Mamatua untuk mengisi barang-barang printilannya. Hayaaah hahaha.


Kotak biru di atas sering saya bawa ke kantor dalam kondisi kosong, di jalan kalau memang pengen beli cemilan, tinggal dikondisikan dengan kotak ini sehingga membelinya tidak terlalu banyak. 

Selain wadah makanan dan/atau kotak bekal makan, saya juga punya banyak botol minum Tupperware:


Yang ini dikasih sama Edwin Firmansyah hehe. Senang banget kalau bawa ini, bisa minum sepuasnya karena ukurannya cukup besar.


Jangan salah fokus ke sepatunya hahaha. Botol minum Tupperware yang satu itu memang paling sering ditemui baik yang asli Tupperware maupun yang kawe-kawean. Salah satu botol minum Tupperware sejenis itu tapi berukuran super besar hilang di Danau Kelimutu hiks. Waktu itu karena sibuk mengurus kamera dan tetek bengek lainnya, saya melupakan si botol dan si jaket anti air :( biarlah. Ikhlaskan saja. Semoga berguna bagi yang menemukannya. Lagipula sudah diganti, meski beda model, dengan pemberian Edwin Firmansyah di atas.

Plastik berkualitas dari Tupperware ini memang belum tergantikan dengan plastik dari produk lain. Teknologi dan inovasinya terus berkembang dari tahun ke tahun. Kebanggaan memilikinya bikin banyak orang bikin meme soal ibu-ibu dan Tupperware. Saya sendiri punya banyak wadah plastik, aneka rupa, macam merek, tapi memang harus diakui belum bisa menyamai Tupperware yang bahkan aman-aman saja jika saya membawa bekal makanan yang masih panas.

Baca Juga : Freestate, Sepatu Idaman Traveler

Bagaimana dengan kalian? Bagaimana status kepuasan kalian menggunakan/memakai wadah-wadah Tupperware? Yuk share :) *sambil saya becanda sama dinosaurus* haha.


Cheers.

Monday, November 26, 2018

Nggela Bangkit dan Membangun Kembali


Selasa kemarin adalah hari yang sangat mulia karena diperingati sebagai Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Junjungan kita, umat Muslim, yang mulia. Adalah bahagia karena pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW itu saya dan teman-teman yang tergabung dalam kegiatan amal #NggelaKamiLatu akhirnya berangkat menuju Kampung Adat Nggela. Keberangkatan kami ke Kampung Adat Nggela adalah untuk mengantarkan bantuan dalam bentuk Rupiah dan barang dari dua kegiatan serupa yang digelar di Kota Surabaya dan Kota Ende. Alhamdulillah.

Baca Juga : Kami Latu Untuk Miu

Dari Ende rombongan yang terdiri dari satu pick up dan lima sepeda motor berangkat sekitar pukul 10.45 Wita dari perjanjian waktu berangkat pukul 06.00 Wita. Bayangkan pergeseran waktunya jauh beud, haha. Saya malah masih bisa menghabiskan nasi kuning dan kopi susu di pinggir jalan sambil menunggu teman lain supaya berangkatnya beriringan; saya, Violin Kerong, David Mossar, Varis Gella, Carlos, Al, Xela (yang membawa bantuan barang dari Surabaya ke Ende), dan beberapa mahasiswa Prodi Arsitektur lain yang tidak hafal namanya.

Tiba di Kampung Adat Nggela sekitar pukul 13.00 Wita. Perjalanan kurang lebih tiga jam dengan beberapa kali berhenti memang terbilang cukup cepat mengingat jalanan yang dilewati sejak dari cabang Desa Moni (ke Jopu) menuju Nggela itu tidak semulus wajah Cinta Laura dan wajah saya *dikeplak semen*.


Di Kampung Adat Nggela tersebut ada sebuah rumah yang dijadikan posko; menjadi pusat semua bantuan dikumpulkan. Begitu tiba di posko ini kami disambut bapak-bapak mosalaki salah satunya Mosalaki Pu'u (mosalaki utama) Bapak Gabriel Mane dan tokoh masyarakat setempat. Setelah mengobrol sebentar dan melihat puluhan mahasiswa Universitas Flores berkumpul di lapak pasar yang datang bersama dosen Pak Charles dan Ibu Vero, kami memutuskan untuk langsung menyerahkan semua bantuan yang sudah dibawa dari Kota Surabaya (dikirim melalui kapal laut) dan Kota Ende setelah kopi dan teh disuguhkan. Luar biasa ya, kami Orang Ende sudah menganggap kalian saudara apalagi saat kopi sudah tersaji di atas meja. 


Jangan menangis, Bapak ... saya jadi sedih:



Nggela Kami Latu bukan sekadar kiasan. Kami, hanya segelintir orang dari ribuan masyarakat Kabupaten Ende, benar-benar ada dan secara bersama-sama untuk masyarakat Nggela, yang tentu punya harapan sama bahwa musibah kebakaran yang menghanguskan kampung adat tersebut tidak mematahkan semangat masyarakatnya yang kaya akan tradisi dan budaya. Nggela harus bangkit.

Dan Nggela memang sedang bangkit serta membangun kembali. Setelah penyerahan bantuan, kami pergi ke lokasi Kampung Adat Nggela yang hanya berjarak sepuluh meter dari posko. Syaratnya hanya satu: jangan menginjak batu (Kanga) yang ada di sana. Pemandangan yang tersaji sungguh miris. Yang tersisa hanyalah kubur-kubur batu, fondasi-fondasi batu rumah-rumah adat yang menghitam, kamar mandi kecil berbahan semen, serta pohon-pohon lontar yang berdiri gagah.


Terlalap namun bertahan hidup, demikian saya menulis caption saat menggugah foto pohon lontar hangus tersebut ke Facebook. Menurut Pak Mukhlis dosen Arsitektur yang berkonsentrasi pada rumah adat, setiap kampung adat pasti tumbuh pohon lontar, yang bermanfaat sebagai penangkal petir. Akan saya ulas di lain kesempatan.



Rumah-rumah panggung memang sedang dibangun kembali. Tapi itu bukan rumah adatnya, melainkah hanyalah rumah darurat sementara. Untuk membangun kembali rumah-rumah adat, berdasarkan klan masing-masing yang membentuk Kampung Adat Nggela, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, waktu, dan tenaga. Belum lagi ritus-ritusnya yang tentu tidak bisa dilakukan hanya begitu saja. Rumah adat adalah simbol setiap klan yang ada di Kampung Adat Nggela seperti Sa'o (rumah) Ndoja, Sa'o Ria, Sa'o Rore Api, dan sa'o-sa'o lainnya. Rumah-rumah panggung darurat itu dibangun di bagian luar dari fondasi rumah adatnya (di bagian belakangnya).


Selain tertarik dengan pohon lontar dan rumah-rumah panggung darurat yang sedang dibangun, saya tertarik dengan salah satu fondasi rumah adat yang terbakar. Jika dibandingkan dengan fondasi rumah adat lain, fondasi yang rumah adatnya sudah habis ini jauh lebih tinggi dari yang lain. Bisa dilihat di foto berikut:



Fondasi batunya itu besar-besar. Sedangkan untuk rumah adat lainnya, fondasinya sama dengan batu-batu kecil yang mengelilinginya.

Setelah berkeliling, mengambil beberapa foto dan istirahat, saya memutuskan untuk pulang. Adalah pamali, memang, ketika ditahan oleh mosalaki supaya jangan pulang dulu karena mereka telah menyiapkan makan siang (luar biasa memang persaudaraan ini) tapi saya bersikeras untuk pulang. Saya memang harus pulang duluan, karena satu dan lain alasan yang tidak bisa ditulis di sini, meninggalkan teman-teman lain yang masih istirahat. Maaf, ya. But you all already knew that I love you ... all.

Perjalanan pulang ini sangat menarik, dan akan saya bahas di Blog Travel saja hehe. Karena begitu banyak cerita; tentang masjid dan gereja yang berdampingan di Desa Pora, tentang pasar mini tenun ikat di Desa Mbuli, tentang pemandangan memikat di Ekoleta, tentang Lepa Lio Cafe, dan masih banyak cerita lainnya. Tapiiii boleh donk ya bikin kalian iri dengan satu foto pemandangan dari Ekoleta berikut ini hehehe.


Ngiknguk kan pemandangannya?

Pada pos ini, akhirnya, saya pribadi mengucapkan banyak terima kasih untuk semua teman-teman yang telah sama-sama bergerak dalam kegiatan #NggelaKamiLatu serta mengantarkan bantuan tersebut langsung ke posko Peduli Nggela yang ada di Kampung Adat Nggela. Semoga berkah. Semoga Tuhan mendengar do'a dan upaya tulus kita semua. Nggela harus bangkit.



Cheers.

Sarasehan di SMPN Satap Koawena


Akhirnya bertemu Jembatan Gantung warna kuning itu lagi. Jembatan yang membikin jantung berdegup lebih kencang. Padahal waktu pertama kali melintasi jembatan ini saya sudah bilang: tobat. Tapi setobat-tobatnya saya, siapa sangka bakal melintasinya lagi? Coba nonton video berikut ini supaya ikut merasakan guncangannya. Thika Pharmantara saja sampai nyeletuk: Baca Ayat Kursi dulu! Haha. Koplak memang anak itu.




Cuplikan cerita tentang kegiatan ini bisa dibaca di pos berjudul 5 Workshop Blog & Social Media. Sekarang saatnya bercerita panjang lebar tentang kegiatan yang digagas oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknologi Informasi (FTI) dari Universitas Flores (Uniflor). Saya menerima undangan dari Kepala Tata Usaha FTI yaitu Om Ihsan untuk menjadi pemateri dalam kegiatan sarasehan dimaksud pada Sabtu, 17 November 2018. Begitu tahu lokasinya, jantung saya berdegup kencang karena ... seperti yang sudah kalian lihat pada video di atas. Dududud.

Baca Juga : Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Kegiatan sarasehan dimulai pukul 10.30 Wita setelah saya tiba di lokasi pukul 08.00 Wita haha. Om Ihsan salah informasi nih. Tapi tidak mengapa. Sambil menunggu, sambil sarapan nasi kuning, sambil mengobrol dengan beberapa mahasiswa FTI yang sudah duluan datang. Kegiatan sarasehan berlangsung di ruang laboratorium SMPN Satap Koawena yang terletak di Kelurahan Rewarangga, Kecamatan Ende Timur, Kabupaten Ende.

Ada tiga narasumber yang dihadirkan pada kesempatan ini. Narasumber pertama Wakil Dekan FTI Maria Adelvin Londa, S.Kom, M.T., yang menyampaikan materi tetnang Manfaat Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Dunia Pendidikan diantaranya tentang software dan hardware yang sering digunakan sebagai instrumen pendidikan dalam dunia pendidikan. Narasumber kedua dari Komunitas SocMed Ende Ihsan Dato, S.Sos., yang menyampaikan materi tentang Etika Penggunaan Media Sosial dengan slogan Piki Ne Ote Timba Ne Ate (berpikir dengan akal dan pertimbangkan dengan hati) yang bermakna dalam bermedia sosial wajib berpikir dan menimbang terlebih dahulu bahan postingan sebelum diunggah ke media sosial. Kalau kalian pernah tahu soal Internetsehat atau ICTWatch, slogan seperti itu juga ada dalam bahasa Inggris yaitu: Wise While Online, Think Before Posting.


Sebagai pemateri ketiga (meskipun urutannya saya yang kedua), materi yang disampaikan adalah tentang Literasi Digital. Materi yang sama yang berasal dari Internetsehat. Saya mendapatkannya dari Kanaz di Kelas Blogging NTT. Sifat materi ini adalah creative common, artinya boleh disebarkan seluas-luasnya.

Hyess.

Yang menarik dari kegiatan ini adalah sesi tanya jawab. Awalnya saya pikir anak-anak SMP ini bakal enggan bertanya karena materi disampaikan sudah menjelang siang, lapar dan haus itu pasti, mana pula sudah kebayang bakal main sama teman-teman karena wiken. Tapi ternyata saya salah. Ketika Nata, moderator, memberikan kesempatan bertanya, malah begitu banyak tangan yang diangkat ke udara. Wah, luar biasa. Lucunya, lima penanya pertama, perempuan, punya nama depan dan nama tengah yang sama dengan si moderator: NATALIA! Luar bisa nama ini sakti banget sampai banyak dipakai hehehe.

Baca Juga : Kami Latu Untuk Miu

Pertanyaannya merata ditujukan untuk tiga pemateri. Senang sekali ketika salah seorang penanya berbisik pada moderator, "Mau tanya untuk Ibu yang pakai jilbab pink itu." Yang bikin saya ngikik dan balas, "Ini fushia bukan pink." LOL. Padahal mana saya tahu urusan warna begitu haha. Asal nyeletuk saja. Pertanyaan antara lain tentang contoh data pribadi itu seperti apa, tentang menjual hasil bumi lewat internet itu bagaimana, dan lain sebagainya.


Kegiatan berakhir pukul 13.30 Wita. Panjang juga kan? Iya, yang bikin panjang itu sesi tanya-jawabnya. Diakhiri dengan foto bersama, saya jadi pengen balik lagi ke sini dan ngasih materi soal blog dan kepenulisan. Semoga yaaa suatu saat nanti. Sekarang fokus sama kegiatan lain dulu.

Semoga, semua materi / informasi yang disampaikan dapat bermanfaat bagi peserta sarasehan, termasuk guru-guru, semoga kami dapat kembali ke SMPN Satap Koawena dengan jembatan gantung warna kuningnya yang cihuy itu.

Baca Juga : Dr. Zeus's Quote

Bagi saya, memberikan materi seperti kegiatan di SMPN Satap Koawena itu membangkitkan kenangan tentang kegiatan serupa. Salah satunya, saya pernah mengajari bapak-bapak petani (kelapa, kakao, vanili dan lain sebagainya) di Hotel Silvia - Maumere. Materinya tentang membikin e-mail, membikin blog di Blogger, membikin akun media sosial, dan bagaimana mensinergikan blog dengan media sosial. Kan luar biasa. Hehe. Mungkin, setelah agak terhenti sekian lama, akan kembali ada cerita-cerita tentang kegiatan serupa. Beda tempat, beda orang, beda materi. Yang jelas, bersedekah tidak selamanya harus dalam bentuk barang, dan berbagi tidak pernah merugi.


Semangat terus :)



Cheers.