Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Monday, December 31, 2018

Yellow Cakes Blast



Sabtu, 29 Desember 2018, sekitar pukul 09.00 Wita saya sudah bangun tidur. Tumben? Memang! Saya menikmati kopi susu pagi dengan wajah masih belepotan kapuk. Baru seteguk kopi susu melewati kerongkongan, keponakan saya yang kami panggil Bunda Rara sudah muncul di rumah dengan wajah cemas. "Ncim! Minta tolong Thika temani saya antar si Rara ke UGD. Asmanya kambuh. Dia harus dinebu (nebulizer)!" Saya terkejut, kayak kena bom nuklir pagi hari, lantas bilang, "Segera ke UGD! Jangan dibiarkan! Ini pasti gara-gara dia main sama anak kucing."

Mereka pun berangkat diiringi tarian chacha dari dinosarus.

Baca Juga: Penjurian Lomba Kandang Natal

Tapi insting saya tidak membaui adanya hal-hal buruk. Iya, kadang insting saya benar, seringnya salah. Hahaha. Selepas mereka pergi, Tante Lila sudah datang ke rumah, haha hihi bareng.

Tidak perlu menunggu dinosaurus belajar menari salsa, saat saya dan Tante Lila sedang mengobrol seru, dari pintu depan terdengar suara ramai menyanyikan lagu: 

HAPPY BIRTHDAY TO YOU! HAPPY BIRTHDAY TO YOU!


AWWWWW!

Insting saya tepat. Bunda Rara, Thika, Rara, dan Mely, bergerombol jalan ke belakang rumah tempat saya sedang bersantai sambil membawa sepiring cake warna kuning. Oalaaah. Ritus ini ... eh ... tradisi ini tidak pernah punah dalam keluarga kami. Maklum, semuanya pada jago bikin cake sih. Kecuali saya. Saya ingat, Bunda Rara pernah membikin puding kuning khusus untuk saya pada ultah beberapa tahun lampau. Haha.






Sepanjang hari itu, setelah mandi yang tumben, saya tiduran di kamar sambil nonton The Mentalist (oh tentu, serial favorit ini bakal saya bahas di Sabtu). Eh, mendadak ada yang muncul di kamar sambil membawa ... cake kuning! Again!? Kali ini keponakan yang lain yang punya usaha cake and bakery juga. Namanya Indri atau lebih sering kami panggil Mbak In, beserta suaminya Hendrik, dan anak pertamanya si Syiva. Hwah. Meskipun setiap tahun pasti selalu ada cake, tapi mereka selalu punya cara-cara mengeZuDkan yang berbeda setiap tahunnya.




Belum cukup itu, mendadak Thika yang akhir-akhir ini mengeluh sakit gigi pamit hendak ke apotik. Saat saya bilang saya punya stok Menfentan, dia galau setengah mati, pokoknya dia harus pergi ke apotik! Ya sudah ... lagi pula saya pikir mungkin dia juga sedang ada keperluan lain. Mampir ke Roxy dan membeli cemilannya. Barangkali begitu.


Baca Juga: Stik Keju Legendaris

Saat sedang ramai foto-foto sama Mbak In sekeluarga, si Thika muncul lagi sama Mely sambil membawa CAKE KUNING again!!!



Excuse me, is this the yellow cakes blast's day?

Saya, Presiden Negara Kuning yang menjabat abadi, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua cake kuning yang telah memenuhi kulkas hingga kami harus menyingkirkan beberapa kotak makanan *ngikik*.

Saya pikir sudah selesai kejutan-kejutan ini. Mbak In sekeluarga sudah pulang, Thika dan Mely sudah santai di kamar sambil nonton Upin Ipin. Sekitar pukul 21.00 Wita, si Indra pulang kerja, mendadak dia muncul di kamar sambil senyum-senyum nista dan menyerahkan sebuah kotak.

Saya:
Apa ini?

Indra:
Hhaha kalau tidak mau, tidak apa-apa, saya bawa lagi.

Saya:
Dasar!!!!


Terimakasih Indra, meskipun bukan kuning, tapi engko masih inga Encim jo No ... *mulai sembarangan dialek Flores Timur. Terima kasih untuk selalu mendengar nasihat Encim, dan masih setia ber-#QualityTime dengan mendiskusikan banyak hal. Mulai dari pekerjaan masing-masing, sampai filem favorit.


Meskipun Hilda Wangu, sahabat saya yang pulang libur ke Ende karena dia bekerja di Jakarta, mengajak makan (traktir nih ceritanya) di Hari Minggu (kemarin), saya terpaksa menolak karena hari Minggu-nya kami ada acara keluarga, Aqiqah-nya Azka (cucu saya, adiknya Syiva). Dududu. Soalnya kan Kakak Nani Pharmantara sedang berada di Kupang, jadi sebagai satu-satunya tante yang ada di Kota Ende, saya tidak dapat menghindar. Hahaha. Lagian saya tidak berani dipelototin Abang Nanu Pharmantara.


Baca Juga: Buku Pelulu



Don't ask how old I am because I definitely answer; I am 17 years old plus a few years into UZUR.






Cheers.

Saturday, December 29, 2018

Corn Island

Gambar diambil dari Wikipedia.


like to laugh. So much. Also, I like to make other people laugh. Often I laugh at myself. Come on, laughing at yourself is not a sin. It's a remedy! And for this laugh stuff (Oh, stuff!?) I have partners.

Baca Juga: Ngelawak Bersama Mamatua

Adalah Martozzo Hann, Kiki Albar, dan Kakak Pacar, yang menjadi teman saya terbahak-bahak. Kami sering menertawai suatu peristiwa lucu berulang-ulang, bahkan hal-hal yang menurut orang lain sepele atau tidak lucu kemudian menjadi sesuatu yang super lucu untuk kami tertawai bersama. Tapi bukan berarti kami menghina orang lain loh, tidak sama sekali, kami takut kena tulah. Dinosaurus saja takut kena tulah, tentu kami juga.

Suatu malam kami berkumpul di ruang tamu sambil mengobrol ngalor-ngidul. Kebanyakan sih topiknya tentang proyek tukang syuting. Iya, saya sering mengajak mereka bergabung, apalagi untuk proyek video yang membutuhkan banyak sudut pandang (wide, medium, close up, details, dan lain sebagainya). Biasanya untuk video dokumenter tertentu kami memakai lima sampai enam kamera dan empat tripod.

Malam itu kami menertawai sebuah filem berjudul Duyung Melayu. Sebuah filem fantasi asal Malaysia yang kocak parah. Kami mengingat adegan-adegan lucu antara Jimmy, Berug, dan tentu saja terus-terusan berkata: ASPALELA BINTI PAGEEEEEEK!

Hihi.

Lalu Martozzo bertanya, "Encim sudah nonton Corn Island? Ini filem paling baguuuus!" Sebenarnya saya sudah merasa ada yang aneh ketika mendadak roman wajah Kiki menjadi a-ha-korban-baru. Karena saya penasaran, "Mana? Kopi rooo!"

Singkatnya, malam itu juga setelah mereka pulang, saya menonton Corn Island. Amunisi semacam Chitato dan kopi susu sudah tersedia manis di samping laptop.

Mari nonton!

Sunyi.

Su-nyi.

Se-nyap.

Sejak awal sampai akhir SENYAP. Jadi, sebelum ada A Quiet Place, sudah duluan ada Corn Island. Martozzo dan Kiki mengirim pesan ha ha ha. Sialan, kena kerjain ini sayanya.

Tapi, sebenarnya Corn Island merupakan filem bermakna dalam. Buktinya filem yang dirilis di Festival Film Internasional Karlovy Vary ke-49 pada Juli 2014 ini memenangkan Crystal Globe serta the Award of Ecumenical Jury. Corn Island juga dipilih sebagai filem dari Georgia untuk dipertimbangkan sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik dalam Penghargaan Academy Awards ke-87.

Baca Juga: TIKIL, Kami Antar Kami Nyasar

Corn Island bermula dengan adegan seorang pria tua yang menemukan pulau kecil tak berpenghuni dan tak berempu. Pulau ini muncul di tengah danau setelah banjir. Pria tua yang diperankan oleh Ilyas Salman itu kemudian mulai menanami biji jagung di pulau tersebut. Setelah membangun gubuk kecil di tengah pulau yang mulai ditumbuhi jagung, pria tua itu mengajak cucunya untuk tinggal bersamanya. Untuk datang dan pergi mereka menggunakan sebuah sampan kecil. Mereka adalah etnis Abkhazia dan bertukar anggukan dengan melewati tentara Georgia.

Saat jagung-jagung mulai dewasa (uhuy) datang seorang prajurit yang terluka. Si pria tua menyelamatkan dan melindungi si prajurit dari kejaran prajurit lain. Sampai kemudian si prajurit sembuh dan meninggalkan mereka. Terakhir, ketika panen jagung dimulai, musim hujan datang dan menyebabkan banjir parah yang sewaktu-waktu dapat menenggelamkan pulau tersebut. Pria tua itu menyelamatkan cucunya dengan sesampan penuh jagung. Sedangkan dirinya sendiri ... hanyut terbawa banjir. Ya, tamat riwayatnya di filem itu.

That's all.

Filem tanpa percakapan ini, kalau pun ada percakapan hanya terjadi sekali dua, yang membikin Martozzo dan Kiki terbahak-bahak. Kata Martozzo begini, "Filem apa iii, lihat pulau, tanam jagung, pas panen dia mati."

Sampai Corn Island ternyata menyabet penghargaan pun saya pikir mungkin karena makna-makna lain dari filem ini. Makna itu antara lain:

1. Cinta


Cinta yang indah dari seorang kakek kepada cucunya. Cinta itu yang membikin si kakek melindungi si cucu yang yatim-piatu, memberinya makan, mengajarinya tentang jagung, dan lain sebagainya.

2. Prinsip


Ketika pria tua di dalam Corn Island berprinsip untuk melindungi si prajurit, dia akan melindunginya meskipun nyawa sendiri menjadi taruhannya (jika ketahuan para prajurit yang mengejar).

3. Sacrifice


Pengorbanan. Ini luar biasa. Pria tua ini berkorban asalkan cucunya selamat dari banjir. Saya jadi ingat pengorbanan Constantine yang dianggap bunuh diri lagi oleh Lucifer dalam filem Constantine. Pengorbanan itu sesuatu yang langka.

Baca Juga: The Nun

Bagi kalian yang belum menonton filem ini, cobalah menontonnya. Bagi kalian yang sudah menonton filem ini, bagi tahu donk makna lain yang kalian tangkap dari filem senyap ini. Siapa tahu pendapat kita berbeda.

Liburan masih panjang ... mari berdoa agar mendung segera pergi agar rencana jalan-jalan dapat terwujud hehe.



Cheers.

Friday, December 28, 2018

#PDL Ini Bukan Cyber Crime



#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Tahun 2010 saya tergoda membikin blog di BlogDotCom. Judulnya Ini Bukan Cyber Crime. Kisah di dalam blog itu adalah tentang kelucuan dan kekonyolan yang terjadi di sebuah tempat berkumpulnya banyak orang bernama warnet. Bagi kalian yang pernah bekerja di warnet pun pasti tahu bahwa kalau mau haha hihi cukup nongkrong di warnet saja, pasti terhibur.

Baca Juga: #PDL Menulis Tentang Toleransi

Ratusan tahun-tahun yang indah bergelung dalam gelombang industri warnet, saya merasa jadi karyawati warnet terfavorit dan terabadi sepanjang masa. Mulai dari jaman kuda gigit DIAL UP ampe kuda lari secepat SPEEDY, saya udah di sini … di tempat ini … war-net.

W.a.r.n.e.t

Satuper satu kisah asmara terjadi di tempat ini. Mungkin karena saya ini rajin, jadi saya merangkumnya dalam dokumen Word agar mudah mengenangnya kembali. Eh, benar saja, blog yang itu sudah tidak bisa dibuka. Tak apalah, lagi pula bahasa yang saya pakai di blog itu sungguh jauh dari kesempurnaan terhakiki. Haha.

Salah satunya adalah kisah Mister Hallo.


Mister Hallo


Awalnya saya tidak begitu peduli pada si Bapak yang satu ini. Dia termasuk yang paling rajin datang ke warnet. Gejala alam yang terjadi setiap kali dia datang adalah bergetarnya seluruh bumi gara-gara suaranya kencang banget, dan membahana, padahal dia cuma sedang mengobrol sama lawan bicaranya di henpon (handphone). Gara-gara itu saya menjulukinya Mister Hallo. Jiji, teman kerja, cuma bisa ngikik kalau Mister Hallo muncul di warnet. Artinya, kesabaran kita bakal diuji. Lagi dan lagi.

Suatu hari batang hidung Mister Hallo muncul di warnet.

Mister Hallo:
Masalah itu kan sudah saya bilang nggak secepatnya bisa diurusi. Saya masih ngurus beberapa blah blah bleh.

Dia berdiri di depan meja kami (saya dan Jiji), menatap kami dengan tatapan saya-mau-ngenet-nih. Dan lewat gerakan tangan yang naujubileh, karena dia tidak mau meninggalkan obrolannya di henpon, saya menunjuk komputer Nomor 1. Dia langsung menuju ke komputer itu, lantas menjepit henpon diantara dagu dan bahu, lantas mulai mengetik. Duileeeh ... pakai headset atau handsfree kan bisa.

Tidak berapa lama berselang, tangan Mister Hallo terangkat, melambai-lambai kayak nyiur ditiup topan, tapi still sibuk berbicara di henpon. Warrrggghhh! Kalau didatangi pun dia cuma menunjuk ke layar monitor sambil pasang tampang ini-gimana-sih-ngopinya-ke-flashdisk? Lantas, dia pun selesai mengobrol di henpon. Terus dia cabut flashdisk dan datangi kami sambil bilang, "Mbak, mau nge-print!

Saya:
Nama file-nya apa, Pak?

Mister Hallo:
(Menatap ke arah saya dan Jiji. Heran. Bingung. Kening berkerut). Hmmm tadi saya simpan pakai nama apa ya? Coba saya lihat dulu ...

Saya dan Jiji mulai tidak ikhlas karena bersamaan datang pula dua mahasiswa yang hendak mencetak tugas kuliah mereka. Nampanya mereka sedang terburu-buru karena harus menyetor tugas ke dosen. Sementara itu Mister Hallo masih berkutat dengan komputer kami, mencari file yang disimpannya tadi dari komputer Nomor 1.

Saya:
Tadi simpan file-nya pakai nama apa, Pak?

Mister Hallo:
Tadi saya simpan pokoknya. Hmmm. He eh. He eh. Iya. Uuuummmm. Nama file-nya apa yaaaaa. Saya juga lupa ini file-nya. Namanya apa yaaaaa.

Ya mana saya tahu!!!!!

Saya: 
Pak, bisa ke komputer client lagi dan ngecek di sana? Kami mau ...

Lalu Mister Hallo terkejut parah, saya pikir karena sudah ketemu file-nya, eh ternyata karena henponnya berdering. Dia terus meninggalkan kami yang sedang menunggu otaknya bekerja normal mengenali file sendiri, dan menempelkan henpon ke kuping: Halloooooo Pak Candraaaaa ...

Doh, naseb!


Mister Hallo hanyalah satu dari sekian banyak tingkah konyol para pelanggan warnet yang bisa bikin otak saya cenat-cenut. Kalian juga pasti bakal kesal banget kalau mendadak datang seorang perempuan yang mengenakan pakaian super lengkap sampai sarung tangan di tengah cuaca panas menyengat lantas menyodorkan flashdisk sambil bilang, "Kak, tolong print, semuanya ada di FLEDI."

Saya langsung membayangkan Hogwarts dengan Profesor Snape sedang mengayunkan tongkat sambil bilang, "Fledi!"


Pernah, saya pernah melakukannya, menulis kisah konyol yang terjadi di warnet, dan menyimpannya dalam dokumen Word. Buat dibaca-baca lagi haha. Ternyata, ada untungnya juga menyimpan kembali tulisan dari blog itu, karena sekarang blog yang bersangkutan sudah tidak bisa diakses.

Selamat melanjutkan liburan, kawan ...


Cheers.

Thursday, December 27, 2018

5 Dari 2018 dan Akan 2019



Hari Raya, baik Idul Fitri maupun Natal, di Kota Ende tidak berpatokan pada kalender apalagi pada emosi dinosaurus yang tidak stabil. Maksud saya adalah, silaturahmi dan/atau open house, akan terus berlangsung sampai satu minggu lamanya. Waktu masih kecil saya bingung melihat orang-orang masih datang ke rumah pada hari ketiga, keempat, kelima, setelah Idul Fitri. Setelah dijelaskan sama Mamatua baru saya paham. Bahwa terkadang dua hari tidak cukup untuk bersilaturahmi ke semua rumah keluarga, tetangga, teman-teman, dinosaurus, hingga Isla Nublar.

Baca Juga: 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)

Dengan berlalunya tanggal 25 Desember 2018, kini giliran kita semua menantikan Tahun Baru 2019. Telah banyak teman blogger yang menulis resolusi 2019. Saya pun termasuk, menulis ringan tentang 2019 Tetap Nge-blog. Tentu saja 2019 saya tidak hanya tetap nge-blog. Tetap bersahabat dengan dinosaurus salah satunya.


Inilah tahun kebangkitan dinosaurus. Api dari ritus kebangkitan ini masih terus menyala. Saya pikir lucu juga, setelah lama bermain gila dengan blog ini, kemudian baru mulai mengajaknya serius ke pelaminan menyongsong masa depan yang lebih baik. Duileeeeh haha. Semua peristiwa yang terjadi dalam hidup manusia itu pasti penting. Namun, tentu saja selalu ada yang lebih menonjol. Peristiwa yang benar-benar membahagiakan maupun yang sangat menampar (memotivasi).

Mari kita mulai:

1. Semangat Nge-blog


Nomor satu. Semangat nge-blog. Sekitar Februari 2018 saya dan dinosaurus kembali ke peradaban ranah blog setelah ritus kebangkitan dilakukan. Anggap saja sebagai pelunasan hutang karena sebelumnya sering sekali saya mengabaikan blog ini. Bukankah perasaan yang diabaikan itu jauh lebih sakit ketimbang ditinju? Haha. Eh, bukan pengalaman pribadi yaaa. Bukaaan.

Gara-gara kembali (rajin) nge-blog, jadi punya banyak teman baru. Mengenal Risna dengan Sukaraja-nya, Himawan Sant dengan Trip of Mine, Pak Martin di Kaka Vila, ada pula Mamak Bowgel Ewafebri yang fokus menulis tentang Bullet Journal, serta teman-teman lainnya dari Komunitas Blogger Perempuan. Tentu tetap menjalin hubungan baik dengan teman blogger sejak zaman purba seperti Om Bisot dan Kak Anazkia.

2. DEBM


Diet Enak Bahagia Menyenangkan atau DEBM. Kalian bisa mencari tahu tentang diet ini di Facebook. Gara-gara diet ini gula darah saya bisa turun, bobot pun berkurang, bahkan kondisi mata menjadi lebih baik karena setiap hari saya mengkonsumsi telur.

3. Kelas Blogging


Tahun 2018, bersama Kak Anazkia dan Om Bisot, membuka kelas blogging melalui WAG. Pertama Kelas Blogging NTT (Angkatan I dan Angkatan II), lalu ada Kelas Blogging Flopala, Kelas Blogging dan Fotografi Menwa, dan terakhir Kelas Blogging Online. Di kelas blogging saya tidak saja menjadi salah seorang mentornya, tetapi juga turut belajar lagi dan lagi. Rasanya senang sekali kembali berinteraksi dengan banyak orang yang mau belajar blog. Jadi ingat zaman dulu, dari sekolah ke sekolah, dari komunitas ke komunitas, mahasiswa hingga dosen, saya menjadi pemateri untuk belajar membikin dan mengelola blog. Seperti CLBK. Hahaha.

4. Olah Raga


Hyess! Olah raga ini penting. Tahun 2018 saya kembali melakukan JMKK (Jalan Malam Keliling Kota) yang kadang diganti dengan menari sendirian di dalam kamar. Kalau menari sendirian di luar kamar nanti dihina sama Thika hahaha. Olah raga ini penting karena sehari-hari pekerjaan saya lebih lengket sama kursi dan laptop atau komputer.

5. Wisuda


Akhirnya. Setelah menunggu selama satu tahun usai ujian skripsi, hari wisuda pun tiba. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Hehe. Mengejar S2 bukan prioritas sih, tapi kalau ada kesempatan ... boleh lah ... kelak.


Baca Juga: 5 Alasan Kenapa Harus Nge-blog

Terima kasih Allah SWT atas semua peristiwa di tahun 2018. Yang baik, Alhamdulillah. Yang buruk, pun Alhamdulillah. Keduanya sama-sama mengajarkan kita pelajaran yang tidak diperoleh di bangku sekolah. Pelajaran yang mahal karena dibayar dengan waktu.

Sampai jumpa nanti di KALEITUTEHSKOP!


Hai 2019 *lambai-lambai tangan* kita akan berjumpa, Insha Allah, dalam suasana yang lebih baik dan penuh harapan. Apa saja resolusi saya di tahun 2019?

1. Tetap bersyukur pada Allah SWT.
2. Tetap nge-blog.
3. Mencoba berkreasi dengan batu.
4. Rajin ngantor :D
5. Beli mobil.

Mohon maaf, yang nomor lima itu terketik oleh jari tanpa konfirmasi ke otak. Kata si jari, "Siapa tahuuuu Abang Nanu Pharmantara serius menjual mobil lamanya untuk kau tooo. Judulnya beli mobil bekas." 

HA HA HA ...


Bagi saya, resolusi mungkin dapat berubah, namun resolusi merupakan panduan dasar langkah kita ke depan.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Apa pencapaian kalian di tahun 2018, dan apa yang hendak kalian lakukan di tahun 2019? Pencapaian di tahun 2018, seremeh apa pun itu, patut kita rayakan. Resolusi untuk tahun 2019, sesederhana pun, boleh kita tulis sebagai pengingat bahwa kita pernah berharapan ... andaikata tidak terwujud ya tidak apa-apa. Selama Allah SWT masih memberi kesempatan untuk mewujudkannya, lakukan di lain kesempatan.

Baca Juga: 5 Tanaman Dapur di Rumah

Selamat menikmati Kamis yang manis :)



Cheers.

Wednesday, December 26, 2018

Natal di Ende



Rabu kali ini tidak ada tips hidup sehat haha. Mari kita nikmati saja suasana yang baik ini.

Sebelumnya saya mohon maaf apabila tidak akan mengijikan seorang pun berkomentar tentang perdebatan boleh atau tidak mengucapkan Selamat Hari Raya Natal kepada saudara/saudari yang merayakannya. Karena, di Kabupaten Ende kami tidak memikirkan hal-hal semacam itu. Yang kami tahu, semuanya bersaudara, dan sesama saudara sudah selayaknya saling menghargai perbedaan dan bertoleransi antar umat beragama yang telah hidup sejak kami lahir. Deal ya hehe.

Baca Juga: 5 Manfaat Bernyanyi

25 Desember 2018, Hari Raya Natal. Seperti yang sudah kalian ketahui, apabila sudah sering main blog ini, bahwa keluarga besar Mamatua merayakan Natal. Sejak pagi saya dan Thika Pharmantara sudah beberes rumah karena Mamasia tidak masuk kerja soalnya beliau kan juga merayakan Natal. Setelah beberes kami masih bersantai main game, haha, sampai akhirnya sadar bahwa begitu banyak rumah yang harus dikunjungi. Mengajak Mely, keponakannya Mamasia, dia mau. Ya sudah, yuk bersiap.

Baru hendak bersiap, Tante Lila Lamury sudah datang membawa sepiring kudapan khas Hari Raya Natal. Horeee. Terimakasih Tante yang baik hati. Padahal baru kemarin saya mengantar sestoples stik keju dan kue tart untuk si Tante yang terjadwal selalu mengantar puding untuk kami saat Hari Raya Idul Fitri.


Kue sagu dan kukis itu favorit lah haha. 

Perjalanan bersilaturahmi kali ini berpacu dengan cuaca. Soalnya langit mendung dan dinosaurus sedang kurang enak bodi, jadi kita harus tahu diri untuk tidak duduk berjam-jam di rumah keluarga, pun di rumah Oma Gita, adiknya Mamatua. Meskipun berpacu dengan waktu, seperti biasa by default, kita selalu makan siang di rumah Kakak Selvy Bata, anaknya (alm.) Bapa Frans Bata, adiknya Mamatua. Sudah menolak, tapi dipelototin hahah.

Kakak Selvy Bata. Kaka sepupu yang baik hati, yang bekerja di Dinas Pariwisata Ende.

Setelah perjalanan siang yang super panjang, malamnya pun kami masih sempat mengunjungi beberapa rumah. Melintasi Jalan Melati, ini dia pemandangan yang tersaji:


Kurang bagus ya hasil fotonya. Tak apalah. Nah, pemandangan seperti ini dapat dilihat di beberapa jalan seperti salah satunya di Jalan Garuda. Rata-rata masyarakat berlomba-lomba memasang ornamen Natal seperti Pohon Natal dan lampu-lampu sepanjang jalan. Seni sekali kalau kata Orang Ende hehehe.

Baca Juga: 5 Manfaat Berpikiran Positif

Berangkat menuju rumah Effie Rere sahabat saya, saya lebih dulu mengirim pesan WA untuk meminta secangkir kopi hitam dengan sedikit gula. Rasanya begitu enak. Dan saya yakin itu kopi yang disangrai dan digiling sendiri (olahan rumah) karena menemukan satu biji kopi ini:


Satu rumah terakhir yang kami kunjungi adalah rumah Kakak Yuni Turu, salah seorang anak perepuannya Oma Gita. Eh, di sana ketemu Abang Nanu Pharmantara dan Mbak Wati.


Yang rencananya hanya sebentar, jadi berlama-lama mengobrol ngalor-ngidul. Maklum, meskipun Kota Ende ini kecil, tapi kami bersaudara tidak mungkin kan mengobrol setiap hari karena semuanya punya kesibukan masing-masing.

Selesai sudah haha. Mari pulang.

Demikian cerita Natal kemarin. Cerita seru yang belum tentu dapat tersaji seru juga di tulisan ini. Biar kami yang merasakannya saja *senyum manis*. Bagaimana dengan kalian? Cerita yuk di papan komentar.



Cheers.

Tuesday, December 25, 2018

Selamat Hari Raya Natal



Kepada keluarga, tetangga, teman-teman, pun teman-teman blogger sekalian yang merayakannya, saya mengucapkan:

Selamat Hari Raya Natal
25 Desember 2018
Joy to the world!



Cheers.

Monday, December 24, 2018

Stik Keju Legendaris



Kami menyebutnya mol-mie. Itu penggiling manual yang bisa kalian lihat di gerobak-gerobak dagangan gorengan pisang molen. Mol-mie itu lah yang telah lama menjadi andalan saya jika ingin membikin stik keju. Stik keju saja kah? Tidak dooonk. Mol-mie itu juga kami pakai untuk menggiling bakal kulit pastel. Tergantung kebutuhan.

Baca Juga: Manfaat Mengaktifkan Hotspot Pribadi

Saking tuanya usia mol-mie itu, bagian penahannya sudah longgar dan harus dialas menggunakan bantalan kertas (kertas yang dilipat). Belum perlu membeli yang baru karena tidak setiap hari membikin stik keju, dan laju roda-rodanya juga masih oke.

Sabtu kemarin, setelah pulang ke rumah dalam kondisi lelah bersama dinosaurus saya memutuskan untuk segera membikin stik keju karena Hari Raya Natal sudah di depan mata dan stik keju ini adalah pesanan Irma Pello, sahabat saya yang sedang hamil muda. Andaikan Irma tidak dalam kondisi itu, sudah pasti saya ... eh ... menolak ... tapi tidak enak ... ya saya tetap terima lah. Soalnya saya juga pasti bikin stik keju untuk diantar ke rumah saudara dan tetangga.



Jadi, apa saja bahan-bahannya?

1. Tepung terigu.
2. Keju chedar (Craft).
3. Masako.
4. Garam.
5. Telur.
6. Margarin.
7. Bibit roti.

Cara membikin:

SAYA SUSAH MENJELASKANNYA.



Karena saya bukan si jago masak atau si tukang kue, jadi semua bahan tidak pernah ditakar menggunakan timbangan.

Baca Juga: Belajar Literasi Digital

Campurkan saja lebih dulu dua setengah kilogram tepung terigu yang artinya dua setengah bungkus, dua keju chedar parut, dua bungkus masako, garam sesuai feeling so strong, satu telur (boleh dua asal jangan duapuluh), bibit roti sesuai hati nurani. Setelah itu, masukkan sekitar sepuluh sendok margarin cair. Sudah tercampur semuanya? Ya sudah, tambahkan air, diadon sampai kalis. Lalu dijadikan ganjalan lemari. Ya tidak dooonk hehe. Lalu adonan tadi disimpan di wadah, tutup rapi dengan kain, tunggu sampai tigapuluh menit sampai adonan mengembang.



Setelah itu ... silahkan gunakan mol-mie dan keterampilan tangan untuk membikin stiknya. Dan ... goreng sampai sedap dilihat. Jangan lupa diangkat, nanti gosong.

Selesai.

Silahkan menikmati stik keju yang renyah dan bikin lidah menagih. Huhuy!

Selain stik keju, ada satu lagi andalan saya yaitu kukis. Kukis tanpa telur yang rasanya uh wow sekali hahaha. Sayangnya saya sedang tidak ingin membikin kukis cokelat ini. Malas saja.

Semoga bermanfaat. Siapa tahu kalian juga mau membikinnya :D



Cheers.