I Write My All

LightBlog

Saya tidak bisa mengingat sejak kapan kami sahabatan. Sudah lama saling kenal, just say hi , kemudian mulai dekat dan bersahabat. Suka,...

Dessy: Merayakan Natal di Vatikan Merupakan Berkat Berlimpah dari Tuhan


Saya tidak bisa mengingat sejak kapan kami sahabatan. Sudah lama saling kenal, just say hi, kemudian mulai dekat dan bersahabat. Suka, duka, haha, hihi, kadang di kafe, seringnya di Pohon Tua. Bagi saya dia adalah perempuan hebat, penyiar kece, MC kesohor, isteri dan ibu yang luar biasa. Dan ketika Natal 2018 kemarin dia mendapat kesempatan merayakan Hari Raya Natal di Vatikan, bahkan diberi kesempatan mencium tangan Sri Paus, saya hanya bisa bilang: bangga saya sama kau, Des.

Baca Juga: Don't Breathe

Saya lalu berpikir, ini berita luar biasa, sayang jika tidak diviralkan. Saya lantas menulis di Facebook sebagai berikut:


Natalia Desiyanti merupakan salah seorang jurnalis Radio Republik Indonesia (RRI) asal Kabupaten Ende. Selain suaranya dikenal lewat udara dalam frekuensi siar Pro 1 RRI Ende, Natalia Desiyanti yang sehari-hari disapa Desy, juga dikenal sebagai MC kesohor Kabupaten Ende dengan jam terbang tinggi. Perayaan Hari Raya Natal, 25 Desember 2018, merupakan momen berharga yang tidak akan terlupakan oleh wanita yang bersuamikan Jerro Larantukan dengan putera-puteri Dimitri, Queenza, dan Gavriel. Desy merupakan satu-satunya jurnalis RRI yang lolos seleksi reporter yang diselenggarakan oleh RRI dan berkesempatan meliput perayaan Hari Raya Natal di Vatikan. Ini adalah mimpi semua Umat Katolik untuk bisa merayakan Hari Raya Natal langsung di pusat Gereja Katolik seluruh dunia.


Prestasi yang diraih Desy sebagai satu-satunya yang terpilih dari seleksi ribuan angkasawan dan angkasawati seluruh Indonesia ini masih menghadirkan rasa tidak percaya dalam hatinya. Ia yakin berkat Tuhan yang berlimpah serta potensi diri telah mengantarnya pada pengalaman rohani ini. Bukan cerita baru lagi jika masyarakat Indonesia Timur sering dipandang (serta, kadang memandang diri sendiri) sebelah mata. Kalah sebelum bertempur bukan sifatnya, sehingga Desy optimis dapat bersaing dan berkiprah di kancah nasional dan internasional. Ia melawan pesimisme dari lingkungan sekitar dengan karya dan prestasi yang bertahap dibangun dari fondasi hingga puncak. Oleh karena itu, kesempatan emas yang merupakan kepercayaan lembaga tempatnya berkarya harus dijalani dengan penuh tanggung jawab, sekaligus sebagai pembuktian bahwa potensi Indonesia Timur mampu berkiprah di tingkat Internasional.

Rentang waktu 1 minggu bertugas di Vatikan, Desy tinggal di Rumah SVD bersama para Imam SVD. Di Rumah SVD itu selain bersama para tamu wisatawan rohani lainnya dari beberapa negara di dunia, juga bersama Orang Indonesia Pertama Asal NTT, yang menjadi superior general ke 12 serikat sabda allah (SVD) Pater Paul Budi Kleden, SVD, Pater Markus Solo Kewuta yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Relasi Lintas Agama Asia Pasifik di Vatikan, dan beberapa pastor asal NTT lainnya. Selama menjalankan tugas jurnalistik pun, Desy didampingi Romo Leo Mali, yang juga berasal dari NTT yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikan Doktor nya di Roma Italia. Hal inilah yang membuatnya semakin bangga menjadi Orang NTT sekaligus menjadi motivasi bagi Orang NTT lainnya untuk melakukan karya terbaik di bidangnya masing-masing.


Selama berada di Italia, Desy mengaku mengalami kendala antara lain penyesuaian suhu karena di Italia sedang musim dingin, penyesuaian menu makanan Italia, serta perbedaan waktu (7 jam) antara Italia dan Indonesia dimana waktu bekerja di Italia biasanya menjadi waktu istirahatnya di Indonesia, demikian pula sebaliknya waktu istirahat di Italia biasanya menjadi waktu bekerjanya di Indonesia. Namun kendala-kendala kecil itu lekas teratasi pada hari kedua tugasnya di sana.

Kembali ke Indonesia, ke Kota Ende, Desy dengan senang hati bercerita tentang pengalamannya bertugas di Vatikan kepada siapapun yang bertanya. Baginya, bercerita pengalaman bertemu orang-orang hebat asal NTT, mewawancarai Duta Besar RI untuk Tahkta Suci Vatikan, singgah ke tempat-tempat bersejarah di Roma dan di Vatikan, mengelilingi Basilika St. Petrus, dan menjadi satu-satunya jurnalis Indonesia yang diberi kesempatan beraudiensi dengan Sri Paus, merupakan kebanggaan serta dapat menjadi motivasi bagi siapapun untuk terus berusaha dan menjejakkan prestasi.

Terakhir, Desy berharap semoga pengalamannya dapat menjadi daya ungkit kepercayaan diri bagi sesama, bahwa tidak ada yang tidak mungkin , jika kita berusaha sungguh dalam nama Tuhan.

***

Ketika saya menulis ini, apalagi mengaku bahwa Desy adalah salah seorang sahabat saya, mungkin banyak yang mencibir.


Namun, sebagai seorang sahabat, apalah yang bisa saya lakukan selain menulis ini. Apabila Indonesia punya Good News From Indonesia, kenapa kita tidak punya Good News From Ende? Kabar baik harus diviralkan karena sesungguhnya saya bosan pada tsunami kebohongan yang menghantam negara ini.

Salam.


Pos/status di Facebook tersebut disukai 600-an Facebooker, dan masih terus bertamah. Tentu pos di Facebook tidak bisa menyelipkan foto seperti yang saya edit pada pos di blog ini. Di Facebook, pos tersebut hanya sebagai keterangan dari beberapa foto yang juga saya unggah.

Baca Juga: Sastra Indonesia di NTT dalam Kritik dan Esay

Seperti yang sudah saya tulis di atas, saya bangga padanya. Bersahabat dengannya menambah aura positif dalam hidup saya. Kami saling berbagi informasi, berbagi kesenangan, dan berbagi rejeki hahaha. 


Betul, seperti yang Dessy katakan sendiri bahwa perjalanannya ke Vatikan ini dapat menjadi daya ungkit bagi kita semua. Prestasi setiap orang beda-beda, tujuan tertinggi Insha Allah semua ingin meraihnya, yang perlu dilakukan adalah tetap optimis, tetap berusaha, dan tentu saja tetap berdo'a memohon ridho-Nya. 

Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua :)



Cheers.

0 komentar:

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.