I Write My All

LightBlog

Akhir tahun 2018 saya bertemu teman dosen yang sekarang sedang melanjutkan pendidikan S3 di Malang yaitu Mukhlis A. Mukhtar di ... d...

#EndeBisa Menggebrak SMKN 1 Ende



Akhir tahun 2018 saya bertemu teman dosen yang sekarang sedang melanjutkan pendidikan S3 di Malang yaitu Mukhlis A. Mukhtar di ... di rumah saya donk. Hehe. Ceritanya, Mukhlis sedang liburan di kampung halaman. Seperti biasa, kami mendiskusikan banyak hal. Mengenang masa-masa lampau saat begitu addicted to community and aktivisme sosial. Rasanya senang karena sejak belia *bueeeeh belia* kami sudah punya banyak cerita bekal hari menjelang uzur; bekal diceritakan ke anak-cucu. Dudududu. Saya dengan Komunitas Blogger NTT dan macam-macam lainnya, dia dengan Relawan Bung Karno Ende.

Baca Juga: Yellow Cakes Blast

Hangout bareng Mukhlis itu menghasilkan satu ide untuk membikin kegiatan #EndeBisa. Idenya dari Mukhlis, saya sih tim hore pom-pom saja. Kami berpikir, sumber daya yang ada, khususnya sumber daya manusia, sudah selayaknya dimanfaatkan untuk memberdayakan orang lain. Kami sudah terlalu lama tidur ... tidur panjang yang bikin perasaan meronta-ronta (bahasa saya ngeri-ngeri sedap haha). #EndeBisa punya banyak goals yaitu #EndeBelajarLiterasiDigital, #EndeBebasSampah, dan #EndeSocMed4SocGood. Next bakal dikembangkan dengan #EndeBerwirausaha.

Pertemuan kedua, teteup di rumah saya, sudah tambah personel seperti Abang Umar Hamdan dari Komunitas ACIL (Anak Cinta Lingkungan) dan Trash Hero, serta Ketua Komunitas Blogger NTT Cahyadi. Banyak yang dibahas dan tentu saja kita bertekad untuk memulai kegiatan di awal 2019. Malam itu juga, Abang Umar terjangkit virus blog hahaha. Saya mengajarinya membikin blog di Blogger. Voila, Abang Umar siap menulis tentang kegiatan Komunitas ACIL dan Trash Hero-nya. Oia, tentu saja e-poster ini sudah dibikin.


Setelah pertemuan kedua, saya pikir kegiatannya masih lama. Paling pertengahan Januari 2019. Ternyata waktu berjalan begitu lekas. Jum'at, 4 Januari 2019, saya menerima pesan WA dari Mukhlis. Ternyata kunjungannya ke SMKN 1 Ende menghasilkan mendadak dangdut haha. Menghasilkan keputusan bahwa #EndeBisa harus terealisasi Sabtu di sekolah tersebut. Wah, okay. Kebut kerjakan materi dari ICT Watch (creative common) dengan sedikit sentuhan ulang tanpa melepas logo ICT Watch, dan bersiap untuk jalan pagi bersama di kampus (tidur harus sesegera mungkin agar bisa duluan bangun dari si ayam).

Iwan Aditya, sahabat saya itu mengirim pesan ingin ikutan, serta beberapa yang lain, ya ayooo.

Foto bareng Kepsek SMKN 1 Ende di depan aula.

Pergi ke SMKN 1 Ende saya berpikir tentang aula atau laboratorium yang kecil. Ternyata saya salah. Ketika bertemu kepala sekolah dan diajak ke aula. Saya syok melihat begitu banyaknya murid yang duduk lesehan di aula itu. Ini di luar ekspektasi saya. Bukan sekali dua saya ke sekolah-sekolah untuk melatih blog atau seminar lainnya, tapi kali ini jumlahnya melebihi kemampuan saya menghitung. Haha. Lebay ... leday dah.

Bismillah.


#EndeBisa Goes to School perdana hari ini di SMKN 1 Ende menuai sukses. Sejumlah 1.300an murid dan guru memenuhi Aula SMKN 1 Ende menyimak materi-materi yang disajikan oleh pemateri dengan sentuhan lelucon segar, dipandu MC Iwan Aditya, serta ditemani Koordinator Relawan Bung Karno Ende Mukhlis A. Mukhtar.

Iwan, lulusan SMKN 1 Ende, yang pernah jadi partner setia siaran saya, dan sekarang bekerja di Swisscontact.

1. Pengantar tentang Relawan Bung Karno Ende oleh David Mossar


Memberikan motivasi tentang kegiatan aktivisme sosial seperti Relawan Bung Karno Ende, serta bagaimana lulusan SMKN 1 bisa menjadi entrepreneur dan/atau technopreneur.

David, fotografer kondang Kota Ende yang telah lama bergabung dengan Relawan Bung Karno Ende. Dia juga berkecimpung di dunia desain grafis.

2. Tuteh Pharmantara (Travel Blogger Ende) tentang Literasi Digital


Materi creative common dari ICT Watch tentang literasi digital dengan 3 kerangka utamanya yaitu: Proteksi, Hak-Hak, dan Pemberdayaan.


3. Ihsan Dato (SocMed4SocGood Ende) tentang Etika Informasi


Bermedia sosial itu harus memerhatikan etikanya, dengan jargon: Piki Ne Ote, Timba Ne Ate (pikir dengan otak, pertimbangkan dengan hati) sebelum mempos sesuatu di media sosial.

Ihsan Dato, KTU Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores serta penggiat #SocMed4SocGood Ende dan Lopo Cerdas.

4. Umar Hamdan (ACIL Ende) tentang Pengelolaan Sampah


Betapa hancurnya bumi karena sampah plastik, bagaimana mengatasinya, bagaimana mengelolanya. Abang Umar juga membawa serta barang-barang hasil daur ulang. Keren lah Abang.


Saya suka waktu Abang Umar menunjuk ke meja depan dimana begitu banyak botol minum berdiri. "Nah, kalian bawalah air minum dari rumah ketimbang membeli terus air minum kemasan botol dan gelas. Kalian lihat di depan, kami membawa sendiri air minum sebagai upaya sederhana mengurangi sampah botol plastik." Saya ngakak. Saya punya sembilan botol minum loh, dua botol minum selalu ada di jok sepeda motor untuk jaga-jaga agar tidak perlu membeli air minum kemasan. Keren kan haha *ngakak sendiri*.

Sesi tanya-jawab yang dipandu Iwan pun berlangsung seru, pertanyaan-pertanyaan dari murid begitu kritis, rasa keingintahuan mereka begitu besar. Sayang, waktu menyebabkan banyak murid yang hendak bertanya harus ditahan. Next time, ya. Saya paling suka sama si ganteng yang bertanya yang berdiri di samping saya ini; cara bicaranya sangat terstruktur dan berwibawa. Dia memenangkan hadiah pulsa Rp 50K. Saya bilang, "Kalau kamu nyaleg, saya pilih deh hahaha."


#EndeBisa (perdana) ini merupakan gebrakan dan upaya yang luar biasa dari Relawan Bung Karno Ende untuk Ende yang lebih baik. Berikutnya #EndeBisa akan berkembang dengan satu item #EndeBerwirausaha.

Sampai jumpa di sekolah dan kampus berikutnya.

Informasi lebih lengkap silahkan hubungi:

Mukhlis (085234543731)
Cahyadi (085238422726)
Aran Gunawan (081333310539)

#EndeBisa
#EndeKrearivitas
#EndeBelajarLiterasiDigital
#EndeBebasSampah
#EndeSocMed4SocGood
#EndeBerwirausaha


Saya trenyuh mendengar kisah Bapak Kepsek yang pernah memarahi tetangga sekitar sekolah yang membuang sampah di got depan sekolah. Padahal, got tersebut baru saja dibersihkan oleh para murid SMKN 1 Ende. Bagaimana menyadarkan masyarakat bahwa got bukan tempat sampah? Kapan masyarakat sadar untuk memilah jenis sampah - yangmana sampah plastik dapat mereka jual ke Komunitas ACIL? Susah memang, karena bicara soal masyarakat artinya bicara soal banyak orang dan banyak komentar ini itu. Jangan sampai kalau sudah kena banjir parah baru mulai panik dan menyalahkan diri sendiri: kenapa saya buang sampah di got dan di sembarang tempat ya ...

Gara-gara #EndeBisa perdana di SMKN 1 Ende, beberapa sekolah mengirimkan pesan meminta kami juga melakukan kegiatan serupa di sekolah mereka. Itu pasti, karena memang itu tujuannya: sekolah dan kampus. Ende pasti bisa lebih maju. Insha Allah.

***

Relawan Bung Karno Ende


Relawan Bung Karno Ende merupakan kelompok relawan (nirlaba) yang awalnya berkonsentrasi pada kondisi Taman Renungan Bung Karno Ende yang semakin memprhatinkan. Akan tetapi kondisi taman bukan tanggungjawab Relawan Bung Karno Ende semata kan, harus ada partisipasi/perhatian dari semua pihak. Lewat penjualan pin dan gantungan kunci kami sudah membelikan sapu-sapu, gerobak sampah, membuat tempat sampah, memperbaiki trotoar depan taman yang rusak, rompi untuk tukang sapu, dan lain sebagainya. Selanjutnya ... tanggungjawab kita bersama. 


Tapi apa yang dilakukan oleh Relawan Bung Karno Ende tak hanya itu. Bermitra/dibantu oleh Ibu Tirto dari Danone, lebih banyak lagi yang telah dilakukan seperti menyediakan meja-bangku untuk SDI Ratenggoji yang jarak tempuh dan kondisi jalannya sangat jauh dan tidak mulus, membantu bayi-bayi yang mengalami gangguan kesehatan, membantu para mama yang berjualan papalele (jualan kaki lima di pasar-pasar) dengan sumbangan payung, menyumbang mantel untuk anak-anak Komunita ACIL, dan lain sebagainya. Termasuk membantu pembangunan rumah-rumah adat. 

Apa alasan kami melakukan semua itu?

Senang saja hahaha. Karena jargon kami: SELAGI MUDA HARUS KREATIVE, KETIKA TUA PUNYA ARTI. Urusan uang bisa kami cari dari pekerjaan utama atau freelance, tapi urusan aktivisme sosial yang memberikan kesenangan batin yang tidak bisa dibeli dengan Rupiah ini ... harus dilakukan dengan suka rela dan ikhlas.

Terima kasih semuanya.

Mari, sama-sama berjuang.

Dan saya pun harus berjuang agar GA bisa tetap dapat tampil di blog ini ha ha ha *ngakak parah digodain dinosaurus*.



Cheers.
loading...

0 komentar:

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.