I Write My All

LightBlog

#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini. *** Tahu...

#PDL Piknik Setiap Minggu



#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Tahun 2013 merupakan tahun tersibuk bagi saya karena setiap hari Minggu saya harus, wajib, pergi piknik. Lokasi piknik adalah desa-desa yang berada di Kecamatan Maurole tempat tenda-tenda pengungsi berdiri. Mereka adalah pengungsi dari Pulau Palu'e, sebuah pulau sekaligus gunung berapi aktif bernama Rokatenda. Meskipun secara administratif Pulau Palu'e merupakan bagian dari Kabupaten Sikka namun letak geografisnya lebih dekat dengan Kabupaten Ende; tepat di depan pantai Kecamatan Maurole.

Baca Juga: #PDL Sheena dan Bananaque

Menggalang bantuan dan mengantarkannya langsung ke lokasi pengungsian memang bukan perkara mudah namun semua dilakoni dengan riang-gembira bersama Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT). Setiap Minggu pagi membelah jalanan trans-Flores ke arah Timur lalu ke Utara, pergi-pulang sejumlah 180 sampai 200-an kilometer (terutaman ketika kami menemukan desa terjauh yaitu Desa Aewora), kehujanan sepanjang jalan, menabrak-melindas ular yang menyeberang, hingga malam-malam pukul 22.00 Wita baru kembali dari Kecamatan Maurole dengan kondisi jalan luar biasa horor, karena harus selesaikan pendataan pengungsi tambahan, semua merupakan berkah ... bagi saya. Setidaknya saya tidak nganga di depan laptop hanya bermain game saja atau ketiduran di depan televisi (waktu itu masih nonton televisi) haha.

Rasti adalah anak pengungsi favorit saya. Pertama kali bertemu kondisinya kayak baru keluar dari lumpur. Saya bilang pada Rasti dan anak-anak pengungsi lain yang ada di Desa Aewora itu: Minggu depan Ibu datang, sudah harus mandi bersih, sudah pulang dari Gereja ya! Berikut-berikutnya setiap Minggu dia sudah mandi bersih dan menunggu kami datang ... ada sekotak Ultramilk yang diharapkannya. Busyeeettt ingat masa itu jadi berkaca-kaca mata saya hahaha. Lebih sedih lagi ketika suatu kali datang SMS ke telepon genggam jadul saya dengan isi: IBU, KAMI BERAS HABIS.


Sumpah, menulis ini saya jadi kangen sama Rasti! Sudah hampir lima tahun, apa kabarnya dia ya sekarang. Jadi pengen pergi ke sana lagi, dari desa ke desa ...


Saya dan komunitas kami berhenti pergi ke Kecamatan Maurole setelah semua dana bantuan diserahkan. Setiap hari Minggu kami menyewa satu pick up untuk mengangkut paket-paket sembako dan kebutuhan wanita yang sudah di-packing dalam kresek sejumlah kepala keluarga yang terdata dengan sangat lengkap.

Jadi, kalau mau dirunut, pertama kali terjadi letusan Gunung Rokatenda itu, kami hanya mengumpulkan dana sejumlah Rp 1.750.000 saja. Kami belikan apa saja yang sekiranya dibutuhkan terutama sembako. Setelah itu, pergerakan ini meluas menjadi #1MugBerasUntukRokatenda. Ini gagasan saya gara-gara kesal melihat orang beraksi seribu lilin (di Monas) untuk korban anak NTT yang tewas dalam suatu peristiwa di Jogjakarta. Bukannya saya tidak peduli pada nyawa manusia, tapi yang sudah meninggal alangkah baiknya didoakan, yang masih hidup alangkah baiknya diperhatikan kebutuhannya bukan? Sambil tiduran siang saya tidak menyangkan hashtag itu kemudian viral se-Indonesia bahkan hingga ke mahasiswa asal NTT di Australia yang mengumpulkan bantuan hingga 60juta.

Berikutnya, hanya melalui media sosial saja bantuan yang terkumpul mencapai ratusan juta. Kami memutuskan untuk tidak memberikan sumbangan berupa uang, melainkan kebutuhan dasar dan kebutuhan lanjutan dari para pengungsi. Cara pertama adalah mendata setiap desa ada berapa kepala keluarga, berapa perempuan, berapa anak-anak, dan berapa manula. Setelah itu setiap malam minggu kami bergelut dengan beras, minyak, gula, sampai keperluan kebersihan dan pembalut! Rumah saya jadi beraroma deterjen. Hahhaha. Sumpah! Setiap dos sudah berisi tas kresek yang berisi beras sejumlah kepala keluarga, di luar dos ditulis Desa Niranusa sampai Desa Aewora.

Baca Juga: #PDL Menjadi Hakim Anggota

Selain itu, kami juga menyumbang kebutuhan lain seperti:

1. Benang bakal tenun ikat.
2. Bibit sayur dan cabe.
3. Bahan membuat pukat (untuk melaut).
4. Pakaian (bekas).
5. Kompor, penggorengan, panci, tikar, hingga ceret dan selimut.

Dan tentu saja, untuk stress healing kami punya Oskar Kappa yang adalah pengasuh Sekami Gereja Kathedral Ende, yang punya segala cara untuk menghibur anak-anak pengungsi dengan beragam permainan edukatif. Jadwal saya berubah hampir selama setahun: setiap Jum'at atau Sabtu pagi ke toko grosir milik sahabat saya Peny Kamadjaja untuk membeli semua kebutuhan, dan setiap malam Minggu bergulat dengan pengepakan.


Masih banyak kisah tentang para pengungsi yang ingin saya ceritakan tetapi tentu tidak cukup satu pos saja. Saya sedih, kawan. Sangat sedih. Sampai kemudian kisah ini diterima sebagai salah satu kisah inspiratif untuk Linamassa 3, saya tahu bahwa kita semua dapat melakukan perubahan yang baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Tidak perlu harus menadah tangan ke pemerintah, tapi secara mandiri melalui sebuah komunitas blogger pun bisa. Kami bisa, kenapa kalian tidak bisa? Harus bisa juga dooonk *ditimpuk*. Tapi setiap orang pasti punya caranya masing-masing. Komunitas kami selalu punya slogan: lewat langkah kecil yang kita bisa lakukan.

Yang paling tidak terlupakan sampai menulis ini pun saya menangis (hari itu pun demikian sepanjang jalan saya menangis) adalah setiap kali selesai membagikan bantuan dan kami hendak pamit, mereka menatap kami terharu dan berkata: Semoga Tuhan selalu melimpahkan kebaikan untuk kalian semua, selalu hati-hati di jalan karena perjalanannya jauh, semoga kita bisa ketemu lagi. Saya dan salah seorang anggota Komunitas Blogger NTT yang saya bonceng waktu itu menangis sepanjang jalan sampai kami tiba di sebuah rumah makan langganan untuk mengisi perut yang keroncongan.

Oia, selain mengantar bantuan, kami juga mendekati SMA di Kecamatan Maurole untuk seminar tentang blog dan internet.


Pernah, saya pernah melakukannya, piknik setiap hari Minggu di lokasi pengungsian, menanti segelas kopi yang ditawarkan oleh Mama Muna si koordinator pengungsi, dan menolak ikan dari pengungsi karena mereka lebih membutuhkan.

Baca Juga: #PDL Menulis Tentang Toleransi

Akan ke sana lagi ... apa kabar Rasti?



Cheers.
loading...

0 komentar:

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.