I Write My All

LightBlog

Senyum yang sama, jangan-jangan kami kembar yang lahir beda tempat. Dia di Denmark, saya di Ende. Haluuuuu ... haha. #PDL adala...

#PDL Sheena dan Bananaque

Senyum yang sama, jangan-jangan kami kembar yang lahir beda tempat. Dia di Denmark, saya di Ende. Haluuuuu ... haha.



#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

15 Oktober 2014 saya di-mention oleh beberapa akun di Twitter antara lain akun @DuaRansel dan akun @LostPacker. Ceritanya Kakak @DuaRansel punya seorang teman traveler bernama Sheena, wisatawan asal Denmark, yang semacam terdampar di Kota Ende karena bis yang seharusnya dia tumpangi menuju Kota Bajawa telah berangkat meninggalkannya di Terminal Ndao (terminal Barat dari Kota Ende). Bang Tekno si pemilik akun @LostPacker merekomendasikan nama saya kepada @DuaRansel. Kebetulan waktu itu saya juga sedang lowong, jadi gayung pun bersambut.


Baca Juga: #PDL Mimpi yang Terwujud

Akhirnya saya dan Sheena terhubung melalui jalur telepon dan pesan singkat. Saya menjelaskan padanya bahwa saya akan menjemput menggunakan motor matic dan kondisi Pohon Tua (rumah saya) tidak seperti kondisi rumahnya di Denmark sana jadi mohon dimaklumi. Bagi Sheena semua itu no problem dia justru berterimakasih karena saya mau menyediakan Pohon Tua sebagai tempatnya bermalam. Pohon Tua memang bukan istana, kondisinya pun biasa-biasa saja, dengan kamar terbatas sehingga kalau ada tamu saya yang tidur di ruang tamu haha, tapi Pohon Tua telah lama menjadi tempat menginap para traveler yang berkunjung ke Ende. Selama mereka menerima kondisi Pohon Tua, ayo saja lah.

Sheena: Mahasiswi asal Denmark yang Santun


Saya menjemput Sheena di Terminal Ndao. Dia tidak seorang diri melainkan ada satu dua supir mobil mobil travel yang menawarkannya paket transportasi ke Kota Bajawa. Tapi Sheena sudah bertekat untuk bermalam di Kota Ende, tepatnya di rumah saya. Saya maklumi kalau ada satu dua supir yang betah mengobrol dengannya, menawarkan paket transportasi ini itu, karena Sheena ini good looking banget! Ditambah dia sendirian. Tapi jangan kuatir, Orang Ende sopan dan ramah kok, kalau mereka suka mengobrol berlama-lama dengan Sheena anggap saja sekalian menyegarkan mata hahaha.

Singkat kata tibalah kami di rumah. Setelah kenalan sama Mamatua dan Mamasia, Sheena malah betah mengobrol bersama dua anggota International Congklak Tournament itu meskipun Mamatua kebanyakan bilang yess dan no sedangkan Mamasia hanya melongo dengan wajah ngomong-apa-sih-mereka. Kesempatan itu saya manfaatkan dengan meminta ijin Sheena untuk Shalat Ashar terlebih dahulu sebelum dia bebersih dan istirahat.

Tapi Sheena memilih untuk tidak beristirahat. Kami mengobrol tentang rencana sore itu serta mencari kontak supir bis rute Kota Bajawa. Satu hal yang membikin saya mengangkat jempol adalah ketika Sheena berkata bahwa dia perlu membeli celana jin satuuu saja karena celana yang dibawanya itu celana pendek dan/atau legging. Masalahnya perjalanan selanjutnya akan mengantar dirinya ke Provinsi Nusa Tenggara Timur dan menurutnya mayoritas masyarakat di sana itu Muslim sehingga sangat tidak sopan jika dia memakai celana pendek. Saya sampai mengorek kuping kuatir salah dengar. Hahaha. Saya menjelaskan bahwa di Kota Ende pun demikian adanya; bagian pesisir pantai dihuni oleh mayoritas kaum Muslim. 

Ketika remaja kita berlomba-lomba memakai celana umpan (celana super pendek atau hot pants), kadang tidak kenal situasi dan kondisi, Sheena malah berpikir sebaliknya.

Sore itu kami pergi ke toko pakaian membeli satu celana jin untuknya. Sheena mengucapkan banyak terima kasih hahaha padahal kan dia yang bayar sendiri. Lalu saya mengajaknya ke Kampus III Uniflor, tepatnya di puncak Gedung Rektorat, untuk melihat lanskap Kota Ende dari ketinggian. Betapa senangnya Sheena. Tawaran menikmati sunset di Pantai Ende pun di-iya-kan dengan lekas. Setidaknya dia tidak hanya ngetem di dalam rumah kan. Di Pantai Ria kami ditraktir oleh teman-teman yang lagi nongkrong pula di sana: pisang goreng + sambal dan teh. 


Malam hari kami sudah tiba di rumah dan Mamatua mulai ribut karena berpikir saya belum mengajak Sheena makan malam. Kata Mamatua, "Tuan rumah itu harusnya ajak tamunya makan, jangan sampai tamunya kelaparan!" Duh Mamatua ini hahaha. Maka kami pun makan malam bersama dan meneruskan upaya mencari bis untuk Sheena agar besok pagi-pagi sekali dia bisa berangkat ke Kota Bajawa. Untunglah supir bis kemudian bisa dihubungi. Urusan bis pun beres. Dipastikan Sheena bakal dijemput di rumah saya. Tapi saya lantas teringat ini bule sarapan apa besok pagi. Saya menawarkan roti seribuan untuk sarapannya dan dia mengangguk cepat sambil bilang terima kasih. Mungkin kata ucapan terima kasih sudah mendarah daging jadi sedikit-sedikti dia pasti bilang terima kasih. Kenapa roti seribuan? Karena malam sudah larut dan tetangga saya hanya menjual roti yang seribuan itu hahaha. Roti saya beli Rp 10.000. Karena Sheena tidak minum kopi maka saya tawarkan saja teh panas.

Sebelum tidur malam itu kami bercerita banyak hal. Sheena adalah mahasiswi di Denmark yang juga punya keluarga di Filipina. Dia bercerita tentang kehidupan keluarganya di Filipina serta olahan pisang yang sering dibuat di sana; gara-gara sorenya makan pisang goreng. 

Bananaque


Bananaque, menurut penjelasan Sheena merupakan panganan asal Filipina dengan proses pembuatan yang super gampang. Pisang dikupas, lantas digeprek, dan dibakar/panggang. Untuk memakannya tergantung selera. Bisa kosongan, bisa disiram madu, bisa disiram cokelat dan keju, mana-mana suka. Saya bilang pada Sheena kalau pisang olahan seperti itu mirip sama panganan pisang Epe khas Makassar (CMIIW). Karena saya pernah membikinnya juga bersama Pedro, teman asal sana. Yang enak itu kuah pisang Epe-nya. Wuih gurih-gurih gimana gitu.

Baca Juga: #PDL Menulis Tentang Toleransi

Saya pernah bikin bananaque, kemudian, dan menyiramnya dengan susu cokelat. Rasanya? Ya tetap rasa pisang dooonk, mana mungkin berubah jadi rasa yang pernah ada. Haha.

Always Connected


Keesokan pagi, pukul 06.30 Wita, setelah sarapan bis pun datang menjemput. Dadagh Sheena, sampai ketemu di lain waktu. Kami masih terus berhubungan lewat pesan singkat sampai dia tiba di Kota Bajawa dan lantas melanjutkan perjalanan terus ke arah Barat Indonesia, hingga dia pulang ke negaranya. Sampai sekarang kami masih terhubung lewat media sosial Facebook hahaha. 

Yang lucu, di Ende tepatnya di daerah Ndona ada sebuah desa bernama Koponio. Oleh teman-teman yang berasal dari Koponio, nama itu diganti dengan Copenhagen. Suatu saat teman saya, Mila Wolo, membuat status sedang berada di Copenhagen bersama Tuteh Pharmantara. Secepat kilat Sheena mengirim inbox pada saya, mengira saya betul sedang berada di Copenhagen, dan dia bakal menjemput ... saya ngakak sejadi-jadinya. Untunglah Sheena ini mudah memahami penjelasan saya yang kebanyakan muter sana sini (ngomong bahasa Inggris memang tidak mudah haha). Saking muternya, urat mata nongol satu satu.


Pernah, saya pernah melakukan itu, menjemput seorang traveler mancanegara dan mengajaknya menginap di rumah kami. Efeknya untuk Mamatua adalah kalau ada teman saya yang datang ke rumah mendadak Mamatua (tak ada angin tak ada hujan) bertanya, "Non eee, kau pu teman yang dari Denmark nama Sheena tu apa kabar e dia sekarang?" Huhuhu demi kai fonga ozo imu ja'o ne Ende mbe'o, ja'o zatu ozo imu mai Denmark mogha. Hahaha. 

Bagaimana dengan kalian, kawan? Pernahkah kalian mengalami hal serupa? Bagi tahu yuk di komen.



Cheers.

0 komentar:

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.