Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Thursday, February 28, 2019

5 Yang Cantik


Tidak banyak foto pemandangan yang bisa saya abadikan dalam perjalanan ke sebagian Pulau Flores waktu kegiatan Tim Promosi Uniflor 2019 kemarin, baik ke Barat, Utara, dan Timur. Saya sendiri juga tidak membaca Canon Eos600D andalan karena berat lah di backpack dan cuaca sedang kurang bersahabat alias kuatir diguyur hujan tengah jalan. Lebih tepatnya saya tidak mau repot hahaha. Oleh karena itu saya hanya bisa merangkum lima yang cantik dari perjalanan kemarin-kemarin itu, dari perhentian demi perhentian yang bikin Violin rada bingung kok tiba-tiba sepeda motor di belakangnya menghilang. Haha.

Cekidot!

Baca Juga: 5 Keistimewaan Canva

1. Memasuki Kota Mbay


Kota Mbay merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo. Termasuk kabupaten tetangga yang bersinggungan langsung dengan Kabupaten Ende. Perbatasannya adalah Nangamboa (Kabupaten Ende) dan Nangaroro (Kabupaten Nagekeo). Beda dari kota-kota lain di Pulau Flores, Kota Mbay bertopografi datar dengan pemandangan alam yang memikat terutama padang sabana di sekelilingnya; termasuk pada saat hendak memasuki kota ini.


Ini fotonya pagi hari sebelum memasuki Kota Mbay. Adem banget ya melihatnya. Saya suka sekali foto-foto di lokasi ini (sebelum memasuki Mbay). Seperti sebelum memasuki surga *dikeplak*.

2. Rumah Impian


Bukit Weworowet yang terletak di Desa Waikokak di Kabupaten Nagekeo ini memang merupakan salah satu titik terlama wisatawan berhenti untuk sekadar mengabadikan pemandangan alamnya yang luar biasa bikin betah. Tentang Bukit Weworowet bisa kalian lihat videonya di Youtube. Nah, yang satu ini adalah foto sebuah rumah berlatar Bukit Weworowet.


Apa yang kalian lihat? Iya, bukit dan rumah, itu jelas. Saya melihat impian di foto ini. Impian bocah SD zaman dulu setiap kali menggambar pemandangan; gunung, rumah, sawah. Kalau yang ini; bukit, rumah, ladang. Saya mau donk punya rumah ini, sayang sudah ada yang punya, lagian belum kuat lah saya buat beli rumah hahaha.

3. Memasuki Desa Niranusa


Kecamatan Maurole terkenal akan garis pantai berpasir putihnya. Ketika hendak memasuki Desa Niranusa di Kecamatan Maurole, di dataran tingginya, kalian akan disuguhi pemandangan ini:


Pemandangannya itu seakan mengajak kita: nyebuuuuur, yuk! Kalau tidak mengingat berkas-berkas ini itu, sudah pasti saya nyebur dan pulang dalam keadaan basah kuyup hahaha. 

Saya punya banyak foto laut dari lokasi yang sama. Ini foto terbaru dua minggu lalu waktu pergi ke Utara untuk sosialisasi Universitas Flores. Pasir putihnya terdiri dari pecahan koral bercampur pasir putih itu sendiri. Beberapa teman traveler yang datang ke Kabupaten Ende, tepatnya ke Danau Kelimutu, pulangnya pasti saya racuni untuk pergi ke sini hehe.

Tanjung Kajuwulu


Namanya Tanjung Kajuwulu, terletak di Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. Daerah Magepanda sendiri merupakan daerah di pesisir Pantai Utara yang pemandangannya bakal bikin kalian tercengang!


Di bukit dekat Tanjung Kajuwulu ini dibangun menara pandang. Sayang saya tidak foto dari menara pandangnya. Pun tak jauh dari situ ada Bukit Salib, iya ada salib besar warna putih berdiri gagah di sebuah bukit yang untuk menuju ke sana disediakan anak-anak tangga.

Nikong Gete


Dalam perjalanan pulang dari Kota Larantuka ke Kota Maumere, saya melihat pemandangan ini. Sulit untuk tidak mengerem Onif Harem. Lantas bertanya pada seorang anak di situ nama daerah ini. Dia menjawab, "Nikong Gete." Nah, mungkin kuping saya kurang baik pendengarannya, apabila salah nama ini mohon dikoreksi hahaha.


Sunset-nya itu, mana tahan eyke ...


Kesimpulannya? Mari yuk ke Pulau Flores dan nikmati sendiri keindahannya. Karena Pulau Flores tidak hanya tentang Labuan Bajo, Danau Kelimutu, Pantai Anabhara, Magepanda, atau Puncak Konga di Titihena. Masih banyak daerah menarik lainnya yang bisa dieksplor ... dan tentu bagi kami anak daerah ... harus bisa menceritakannya pada dunia.



Cheers

Wednesday, February 27, 2019

Monotuteh


Kalian pernah main monopoli? Kalaupun tidak pernah main monopoli, saya jamin kalian pasti pernah mendengar tentang permainan ini kan? Ya, monopoli merupakan salah satu permainan papan seperti catur, halma, ludo, tapi tentu semua dengan aturannya masing-masing. Permainan yang bisa memakan waktu berjam-jam serta bikin lupa waktu ini terdiri atas kotak-kotak yang mengelilingi bagian tengahnya. Pada bagian tengah ada dua kotak yaitu Kesempatan dan Dana Umum. Sedangkan kotak yang mengelilinginya terdiri atas nama negara serta properti lain seperti bandara, listrik, air. Ada pula penjara. Jangan lupa, setiap permainan monopoli juga dilengkapi dengan uang mainan, dadu, hingga bidak berbentuk rumah, dan lain sebagainya.

Baca Juga: 5 Manfaat Klorofil

Kenapa mendadak saya menulis soal monopoli? Karena berkaitan dengan #RabuDIY yang merupakan tema baru di blog ini menggantikan #RabuLima yang sering mengulas tentang dunia obat herbal, kesehatan, dan olahraga. Uih ... hahaha. Ohlala banget ya.

Monopoli dan Krucil


Sejak dulu memang sudah suka main monopoli. Kembali main monopoli itu sekitar tahun 2017. Dari pada para krucil alias anak tetangga, mondar-mandir tidak jelas setelah belajar bareng Mamatua, mending saya ajak mereka main monopoli. Hyess, tentu ada si Meli yang sekarang sudah mulai genit hahaha, ada si Yoye yang kalau difoto susah senyum, ada si Nabil yang kudu disuruh mandi dulu sebelum bergabung di meja panjang tempat kami bermain, serta krucil lainnya sebagai pelengkap penderitaan. Sudah tahu kan ya kalau rumah saya memang jadi semacam 'panti asuhan' karena krucils ini paling doyan belajar dan main di rumah, sampai tiduran di terasnya yang luas dan sejuk itu.

Jadi, setiap malam setelah belajar dimana mereka belajarnya pun di rumah saya, kami bermain monopoli. Biasanya sih anggota permainan ada saya, Thika, Indra, dan Mely-Yoye. Tapi seringnya saya, Thika, Meli dan Yoye karena Indra malas-malasan atau memilih memegang bank saja. Suasana ramai semacam itu selalu menyenangkan. Kalau jam makan malam, ya kami makan bareng. Kalau lauknya kurang ya si Meli kudu menggoreng telur atau tahu/tempe yang ada di kulkas. Pokoknya harus makan bersama. Kadang, bersama krucils ini kami menyelenggarakan tea-time a la orang Inggris lengkap bergaya minum teh dengan kelingking diangkat ... LOL!

Monotuteh


Suatu malam ide untuk membikin sendiri monopoli ini tercetus di benak saya. Oh iya, meja panjang yang saya sebut di atas itu memang merupakan meja kerja kedua saya yang khusus untuk membikin aneka kerajinan tangan dari bahan bekas. Meja kerja utama tetap di kamar haha. Nah, melihat karton-karton di meja panjang itu saya menyeletuk, "Meli! Yoye! Ambil mistar dan spidol! Kita bikin monopoli sendiri!"

Awalnya mereka protes karena kan mistar dan spidol ada di hadapan saya (ini meja kerja panjang memang lengkap sih hahaha). Dengan senyum gokil dan alis dinaik-naikkan saya mulai memotong karton menjadi persegi empat. Membuat titik-titik, menarik garis, dan membuat kotak-kotak mirip monopoli. Tapi tidak sama persis baik ukuran papan/karton maupun kotak-kotaknya, karena ini adalah MONOTUTEH!

Yang tidak berubah itu adalah Kesempatan, Dana Umum, dan Penjara. Yang lainnya berubah semua.

1. Nama Daerah
Ini saya tulis nama daerah di NTT meskipun banyakan daerah di Kabupaten Ende seperti Labuan Bajo, Moni, Wolowaru, Danau Kelimutu, dan lain sebagainya.

2. Lagu Wajib Nasional
Pada kotak ini, yang berhenti di sini wajib menyanyikan salah satu lagu wajib Nasional yang dihafalnya. Asyik sekaliiii hehehe.

Tentu ada Bandara H. Hasan Aroeboesman, PLN, PDAM Ende, dan lain sebagainya. Uangnya sih tetap uang monopoli asli, termasuk dadu dan bidak. Ribet kan bikin uang lagi, apalagi uang Negara Kuning *ngikik*

Belajar Bersama Monotuteh


Bermain monotuteh juga bisa sambil belajar. Krucils bertanya, mengapa biaya membeli Labuan Bajo jauh lebih mahal dari Kota Ende? Bahkan Moni pun demikian. Saya menjelaskan kepada mereka bahwa Labuan Bajo dan Moni adalah daerah wisata yang unggul. Tanah-tanah di sana semakin ke sini semakin mahal karena menjadi telah daerah pariwisata yang pertumbuhannya sangat pesat. Sehingga otomatis di monotuteh harga membeli Labuan Bajo jauh lebih mahal dari membeli Kota Ende, misalnya.

Lainnya, kami belajar lagu-lagu wajib Nasional. Jadi, siapapun yang jatuh di kota itu wajib menyanyikan lagu-lagu wajib Nasional. Kadang-kala mereka berpikir dulu agar tidak terjadi pengulangan lagu (yang sama). Kalau mereka bingung, tinggal saya kasih tahu lagu lainnya. Suatu kali Yoan, adik si Meli yang masih kecil itu, menyeletuk lagu Pelangi-Pelangi. Hahaha. Dasar ana lo o (anak kecil), belum bisa bedakan lagu anak-anak denga lagu wajib Nasional.


Monotuteh dapat juga kalian bikin tergantung kebutuhan, terutama yang di rumahnya banyak anak-anak. Berempat, bareng orangtua, sudah bisa memainkan permainan ini. Tentu namanya tidak harus monotuteh donk, tergantung nama kalian atau nama keluarga yang mau dipakai, mana-mana saja. Karena menurut saya permainan ini sangat bagus apabila papannya kita bikin sendiri, dimodifikasi dengan yang lebih mengedukasi.

Bagaimana? Mau mencoba juga?


Cheers.

Tuesday, February 26, 2019

Adnow


Pasti ada yang bilang: getol banget si Tuteh pasang-pasang iklan di blog-nya. Sudah ditolak lagi sama GA gara-gara ganti domain blog utama di pertengahan jalan, sekarang gaya banget dia ikutan pasang Adnow Native Advertising Network atau disingkat Adnow. Yakin berhasil? Haha. Silahkan ... hak siapa pun juga untuk berpikir demikian. Namanya juga blog yang diatur untuk bisa dibaca oleh semua orang, dikritik atau diomongin itu biasa, sekalian melatih diri sebelum menjadi artis skala internasional *apa iniiii kok ada batako nyasar di kepala saya!?*

Baca Juga: Prynt, The Print Pocket

Kenapa Getol?


Jawabannya sederhana. Setiap kali menjadi narasumber atau pemateri dalam kegiatan seminar dan/atau pelatihan blog, Insha Allah masih akan terus berjalan, salah satu elemen yang selalu saya katakan kepada peserta sebagai magnet agar mereka mau nge-blog pun lebih rajin nge-blog adalah memperoleh penghasilan dari blog. Saat bilang begitu, mata para peserta jadi berbinar-binar indah dan kemudian menjadi redup saat saya tambahkan, "Asaaaaaallll ... konsisten nge-blog dan mau mencari tahu cara-caranya."

Caranya macam-macam:

1. Memasang iklan sekelas GA dan Adnow.
2. Menerima content placement.
3. Menulis untuk pemberi order.
4. Menjual produk sendiri.
5. Dan lain sebagainya.

Jadi, saya ingin apa yang saya katakan kepada audiens itu bukan isapan jempol belaka. Bukan omong kosong. Bukan sekadar mimpi. Untuk memperkuat apa yang saya katakan itu, tentu harus disertai contoh misalnya: saya memang pernah dibayar mendekati sejuta untuk menulis tentang destinasi wisata (by request), pernah juga menerima tawaran content placement, dan pernah juga menjual buku tulisan sendiri lewat blog, tapi dari iklan seperti GA? Belum bisa saya buktikan kepada para peserta. Lhaaa bagaimana bisa saya buktikan? Belum apa-apa sudah tragedi hehe.

Bakal lama donk untuk bisa membuktikannya terlebih baru saja mendaftar di Adnow? Jelas itu pemirsa! Mana ada yang instan? Mi instan saja butuh proses mendidihkan air terlebih dahulu kan. Jadi, kita lihat saja nanti proses dan hasilnya. Kelak. Kalau mendadak GA kembali membuka gerbangnya untuk blog ini, ya itu nanti baru saya pikirkan bagaimana caranya hahaha. Eh, boleh kan ya memasang dua sumber iklan pada satu blog

Apakah Adnow Dapat Dipercaya?


Itu belum bisa saya katakan sekarang karena belum membuktikannya. Akan tetapi mencari tahu tentang ini ada untungnya juga. Karena saya toh jadi tahu kalau Adnow betul-betul membayar para publisher-nya. Proses pembayaran yang paling banyak dipilih melalui Paypal. Iya, saya sudah lama juga sih punya akun Paypal dan sudah ada pula isinya ... siapa tahu akun Paypal saya menjadi sedikit berisi. Kelak.

Sulitkah Mendaftar dan Memasang Adnow?


Saya boleh ketawa dulu? Kenapa ketawa? Karena memasang Adnow terbilang sangat mudah dan cepat. Pada situsnya ditulis paling lama sekitar dua kali duapuluh empat jam kan? Nah saya mengalami hanya beberapa jam saja sudah diterima alias blog ini sudah aktif dan boleh memasang widget-nya. Memasang widget pun mudah saja. Kecuali kalau kalian ingin dikhususkan di bawah pos atau di awal pos atau di tengah pos (silahkan cari di Google karena banyak yang sudah mengulasnya). Untuk sekarang sih saya memilih memasangnya di side bar saja.


Saya tidak akan mengulas tentang tata cara mendaftar di Adnow serta memasang kodenya di blog. Sudah banyak blog yang mengulasnya dan bisa kalian cari sendiri lewat Google. Saya hanya ingin sampaikan bahwa memasang Adnow di blog ini bukan semata-mata karena ingin memperoleh penghasilan yangmana gaji bulanan saya jauh lebih besar dan tentunya pasti, sama dengan waktu memasang GA, saya juga ingin membuktikan (contoh) kepada para peserta seminar tentang membuat dan mengelola blog. Tentang salah satu cara memperoleh penghasilan dari blog.

Baca Juga: The Pause Pod

Seperti tadi siang di Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Flores saat saya mengulas dashboard blog pada mahasiswa di sana, tentang penghasilan ini juga saya bahas. Jelas, mereka yang sudah punya blog jadi lebih bersemangat. Ya, semoga masih diundang ke FTI untuk lebih meracuni mahasiswa dengan virus blog ini.

Itu dari saya ... bagaimana dengan kalian?


Cheers.

Monday, February 25, 2019

Arekune


Ketika Tim Promosi Uniflor 2019 tiba di Kota Maumere, perasaan saya jadi berbunga sedap malam, karena siapa sih yang tidak senang berada di kota tempat Toko Buku Gramedia berdiri gagah? Pasti senang lah. Akhirnya niat untuk mencari dan membeli agenda bekal (lanjutan) T-Journal terlaksana, dan alat tulis warna-warni. Tinggal di Kota Maumere selama satu tahun pada tahun 2010, dan sering masuk-keluar Toko Buku Gramedia yang jaraknya sangat dekat dari rumah, sudah membikin benak saya dipenuhi rak-rak agenda di bagian dalam toko buku itu.

Baca Juga: Konsisten Nge-blog Setahun

T-Journal


Apaan sih T-Journal? Tuteh Journal. Sederhana. Sejak dulu saya memang sudah karib dengan diary bersampul gambar boneka. Kenapa sampul bergambar boneka? Ya karena di tokonya cuma jual yang sampul boneka sih. Belum ada yang bersampul dinosaurus atau Gunung Everest, misalnya. Melihat kegemaran saya menulis; puisi, curhatan ngalor-ngidul, dan bahkan bikin scrapbook sederhana berbahan buku tulis tebal bareng teman SMP (scrapbook itu memang milik berdua saya dan Ida Laila Enga), maka orangtua mulai membelikan saya agenda. Agendanya luar biasa dewasa hahaha. Gaya agenda orang kantoran begitu, dengan sampul kulit berwarna hitam, ada juga yang sampulnya berwarna merah.

Agenda dari zaman purbakala masih tersimpan rapi.

Agenda yang ini yang paling saya suka ... waktu itu.

Ketika memasuki dunia kerja, saya malah suka sama agenda-agenda sejenis itu hahaha, terus mulai memanfaatkan agenda itu bukan untuk sekadar menulis yang tidak penting meskipun curhat itu penting. Halaaah. Dimulai dengan  menulis tentang perencanaan tentang apa yang akan saya lakukan keesokan hari. Ya hal-hal penting begitu deh. Salah satu contoh halamannya di bawah ini:


Kalian bisa melihat ada tulisan Pelatihan Blog, ada pula tulisan Akber Ende, ada juga Fanga. Ada tanda silang dan tulisan NO!, ada tanda centang dan tulisan OK, ada pula tanda tanya. Itu penanda bahwa task belum terlaksana, sudah terlaksana, atau masih jadi tanda tanya. Dan tentu saja tulisan saya tidak mengikuti tanggal yang ditetapkan di dalam agenda. Kebiasaan. Sedangkan tulisan Partikel itu ... kalau tidak salah nih ya - kalau salah ya maafkan haha ... saat saya membeli novel Partikel karya Dee Lestari. Iya, saya tergila-gila sama tulisan-tulisannya.

Agenda-agenda itu menjadi benda kesayangan jika ingin bernostalgia. Karena hampir semua kegiatan, bagian super inti, saya tulis di situ, sedangkan cerita panjang-lebar lebih suka saya tulis di blog. Saya bukan Mamatua yang masih rajin menulis pengertian Al Baqarah dalam buku khusus. Dan, kemudian, saya mulai rajin membeli buku-buku cantik, unik, dengan cara khilaf. Jadi, maksud ke toko untuk membeli yang lain, eh pulangnya pasti bawa buku atau notes imut warna-warni, terutama kuning, yang enak dilihat dan sayang kalau diisi tulisan.

Sampai sekarang keponakan saya pun masih memberi kado buku yang lebih cocok untuk diary, tentu warna kuning, meskipun buku atau agenda atau diary lainnya masih menumpuk alias masih baru belum tersentuh. Dududud.

Gara-Gara Mak Bowgel


Adalah Mak Bowgel, Evvafebri, yang membikin semangat saya meletup-letup lewat tulisan tentang Bullet Journal di blog-nya. Terima kasih, Mak Bowgel, dirimu sangat menginspirasi. Meskipun tidak bisa membikin BuJo tapi saya yakin pasti bisa terus dan terus dan terus dengan jurnal-jurnal saya pribadi terkhusus tentang task on a next day. Makanya saya mulai merapikan yang tercecer, mencari agenda kosong tapi berakhir di sebuah binder, dan kemudian membeli sebuah agenda khusus di Toko Buku Gramedia.


Harga agenda kuning yang langsung melekat di hati ini murah saja, tapi saya suka sama warna kuningnya, jenis sampulnya yang separuh kulit, dan kertas dalamnya yang tidak licin sehingga asyik sekali proses tulis-menulisnya. Sebenarnya, hanya saya atau kalian juga sih, lebih suka menulis pada halaman kosong yang sisi lainnya sudah ada tulisan? Hehe.

Arekune


Apa sih Arekune ituuuuu? Saya harus kembali pada kebiasaan sejak zaman megalitikum. Kembali pada kebiasaan memberi julukan untuk manusia, dan memberi nama pada benda mati. Sahabat saya Yudin, dengan seenaknya saya panggil Abah. Atau Bang Indobrad yang saya panggil Babang. Atau Cici Mawar yang saya panggil Cungkring. Suka-suka saya lah selama julukan itu tidak bersifat menghina atau kurang ajar. Porsi terbanyak saya membaptis ada pada benda mati, termasuk agenda. Saya punya agenda bernama LeBlanc karena sedang tergila-gila sama Matt LeBlanc dari serial Friends. Agenda merah hadiah dari orangtua saya beri nama Narita karena saat itu sedang sangat suka sama Oshin. Fanga yang kalian lihat pada foto isi agenda di atas adalah nama laptop yang pernah digondol maling tapi masih kembali ke pangkuan. Nama laptop lainnya adalah Fungi.

Baca Juga: Hello East, Nantikan Kedatangan Kami

Urusan nama benda mati ini tidak akan selesai ... jadi mari kita lanjut soal Arekune.

Arekune sebenarnya terdiri dari dua suku kata dalam bahasa Ende yaitu are dan kune. Are berarti beras/nasi sedangkan kune berarti kuning. Arekune, saya menulisnya tidak terpisah, adalah nasi kuning. Arekune adalah nama T-Journal baru yang bukunya saya beli di Toko Buku Gramedia yang penampakannya bisa kalian lihat pada sub Gara-Gara Mak Bowgel di atas. Sebelumnya T-Journal mengisi sebuah binder bernama Yellow Academy. Kenapa memberinya nama Arekune? Karena suka saja. Kadang, tidak perlu alasan khusus untuk memberi nama pada benda mati hehehe.


Bagi saya, menulis jurnal itu penting, setidaknya membikin task untuk keesokan harinya sebagai panduan berkegiatan. Saya suka melakukannya. Suka membaca-baca lagi. Apalagi jika dilengkapi dengan overview pada satu halaman khusus di akhir bulan. Saya jadi tahu apa-apa saja yang telah dilakukan, apa saja yang telah dicapai, dan apa saja yang gagal (PR). T-Journal membantu merapikan hidup saya sendiri. Sebenarnya. Jadi saya membutuhkannya untuk diri saya sendiri. Apabila kalian juga ingin melakukannya ... silahkan. Tidak ada ruginya, hehehe.

Semangat Senin :)



Cheers.

Saturday, February 23, 2019

Pembalasan Laut

Gambar diambil dari sini.

Ada lima perkara utama yang saya petik *semacam memetik buah naga di kebunnya dinosaurus begitu* usai menonton filem berjudul Aquaman dengan bintang utama mantan pacar saya. Tentu pendapat kita terhadap filem ini berbeda. Tapi berbeda itu indah bukan? Apalagi berbeda tetapi tetap satu ... Negara Kesatuan Republik Indonesia. Haha. Lima perkara yang saya maksudkan itu adalah:

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

1. Cinta Dua Dunia.
2. Pangeran Berdarah Campuran.
3. Perebutan Tahta.
4. Pembalasan Laut.
5. Kebaikan Selalu Menang.

Aquaman Starring By ...


Filem yang disutradarai oleh James Wan dan diproduseri oleh Peter Safran dan Rob Cowan ini diperankan oleh Jason Momoa sebagai Arthur Cury (si Aquaman), Amber Hard sebagai Mera dengan ciri khas rambut merahnya, Willem Dafoe sebagai Nuidis Vulko, Patrick Wilson sebagai Orm Marius, Yahya Abdul-Mateen II sebagai Black Manta, Temuera Morrison sebagai Thomas Cury, dan tentu saja Nicole Kidman sebagai Atlanna si Ratu Atlantis. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya bagaimana caranya Nicole Kidman menjaga keawetannya baik wajah maupun tubuh. Dududud.

Plot


Aquaman punya plot yang bercampur antara kronologis dengan flashback. Flashback ini terutama saat Arthur muda ditempa oleh Vulko melalui latihan-latihan fisik yang lumayan keras. Jujur, awal melihat wajah Willem Dafoe saya sudah berpikir dia adalah lawan Arthur sesungguhnya yang bersembunyi di belakang Orm, tapi ternyata ... dialah (bersama Mera) sejatinya pendukung Arthur. Karena mereka tahu Arthur adalah si Kakak, yang meskipun berdarah campuran, merupakan penguasa tahta Atlantis yang sebenarnya. Lagi pula secara watak dan perilaku, Arthur lebih unggul menjadi Raja Atlantis ketimbang Orm. Bayangkan jika sebuah kerajaan dipimpin oleh raja yang lalim, perang melulu jadinya.

Cinta Dua Dunia


Sejak awal, Aquaman sudah dibuka dengan kisah cinta dua dunia ketika Thomas Cury menyelamatkan Atlanna yang terdampar di tepi pantai pada malam badai, di dekat mercusuar tempat dia bekerja. Tak lama, hubungan mereka pun berakhir dengan kelahiran Arthur yang juga punya kemampuan hidup di laut warisan Ibunya. Demi keselamatan Thomas dan Arthur, Atlanna terpaksa kembali ke Atlantis, menikah dengan Komandan Angkatan Laut Atlantis, dan melahirkan anak bernama Tula dan Orm. Jika Arthur berdarah campuran, maka Tula dan Orm berdarah murni. Benar, kawan, kita jadi ingat sama Harry Potter. Haha. Apa yang dilakukan Atlanta merupakan bukti cinta yang sesungguhnya terhadap keluarga meskipun menyakitkan. Iya, menyakitkan melihat cara Thomas menanti Atlanna di ujung dermaga setiap harinya.

Pangeran Berdarah Campuran


Sepeninggalan Ibunya yang kembali ke Atlantis, dan kemudian dibuang di Trench (jarang ada yang selamat kalau sudah dibuang di tempat sadis ini), Arthur ditempa oleh Vulko sebagai bekalnya kelak untuk menjadi penguasan Atlantis. Si darah campuran ini juga menerima petuah-petuah bijak dari Ayahnya yang murni manusia. Dia tumbuh menjadi si ganteng yang jagoan. Sikapnya yang sering 'bermain gila' membikinnya sulit untuk menerima kenyataan bahwa dirinyalah Raja Atlantis yang harus merebut tahta dari Orm. Manapula untuk bisa menguasai lautan dia harus mencari Trisula milik Raja Atlan yang disembunyikan dengan cara misterius alias penuh teka-teki.

Perebutan Tahta


Merebut tahta bukan tujuan Arthur sejak awalnya, dia lebih suka menjadi pribadi yang bebas, bodo amat dengan kehidupan laut dan tahta yang menantinya. Tapi ketika Orm mulai mengumpulkan bala tentara serta menyerang daratan dengan hempasan tsunami yang membawa serta sampah ke daratan, mata Arthur terbuka. Bersama Mera dia sempat tertangkap dan menantang Orm yang bukan tandingannya saat itu dan kalah, lalu diselamatkan lagi oleh Mera. Lantas, bersama Mera pula dia mencari Trisula Raja Atlan.

Pembalasan Laut


Ini poin juara dari Aquaman. Pesan yang disampaikan pada poin ini sungguh membikin bulu kuduk merinding dan masuk akal, meskipun dilakukan oleh si antagonis Orm. Mungkin benar, mungkin loh ya, seseorang menjadi jahat karena sudah lebih dulu dijahatin. Hehe. Orm menjadi jahat karena lautnya sudah lebih dulu rusak dan penuh polusi sampah yang menghancurkan biota laut.

Bagaimana jika laut benar-benar marah pada manusia, penghuni daratan, yang seenaknya membuang sampah dengan laut sebagai muaranya? Ngeri! Sampah yang merusak laut dilempar kembali ke daratan pada serangan pertama Orm ini membikin saya berkata, "Rasa sudah! Kita buang sampah sembarang tuh!" hahaha. Sungguh ini poin juara dari Aquaman. Katakanlah setelah menonton filem ini kita kemudian mulai sadar; mengurangi sampah plastik, mengelola sampah, membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, dan lain sebagainya ... maka efek Aquaman benar-benar dahsyat terhadap para penontonnya dan dunia ini.

Kebaikan Selalu Menang


Ya, namanya juga filem superhero, kebaikan selalu menang. Apalagi kemudian Arthur dan Mera kembali bertemu dengan Atlanna di Trench.


Secara keseluruhan, Aquaman menyajikan kisah yang unik tentang seorang superhero. Biasanya kita melihat superhero di daratan. Tapi ini di dalam laut yang ... yang dalam sih ... hehe. Dan pemilihan tokohnya juga ngepas. Menurut pendapat pribadi saya: Jason Momoa melepas karakter Khal Drogo yang suram dengan mata penuh eyeshadow hitam, menjadi Arthur yang sering bercanda dan sorot mata yang lebih bersinar. Dan otot kekarnya itu membikin awwww sekali kan ya hahaha. 

Bagaimana pendapat kalian tentang filem ini, kawan? Bagi tahu yuk di papan komentar! Selamat menikmati akhir minggu yang bahagia :D



Cheers.

Friday, February 22, 2019

Timur Punya Cerita


Halo hola! Tidak terasa sudah tiga hari saya tidak nge-blog. Tidak menulis cerita. Tidak memperbarui konten blog. Pun lebih lama lagi; saya jarang blogwalking dan merusuh di blog kawan blogger sekalian. Sakau? Sedikit. Tapi lelah ini telah lebih dulu merenggut kesadaran sehingga perjalanan ke dunia mimpi menjadi begitu mulus tanpa jerawat. Saya bahkan tidak diijinkan untuk protes. Perjalanan ini, sesungguhnya, telah mengajarkan saya dan dinosaurus rasa rindu pada bantal dan guling. Haha. Maka hari ini, setelah 680an kilometer berkendara bersama Onif Harem, saya punya kesempatan yang begitu banyak untuk menulis, menulis, dan menulis.

Baca Juga: Hiasan Dinding DIY

Peringatan: pos ini akan sangat panjang tapi penuh cerita menarik terutama #JalanJalanKerja memberikan saya kesempatan untuk mencapai beberapa lokasi wisata.

Mari kita mulai cerita panjang ini.

Menyisir Timur Pulau Flores dari Kota Ende Menuju Kota Maumere


Senin, 18 Februari 2019. Sepagi itu, pukul 04.00 Wita saya dan Thika sudah bersiap. Rencananya kami, tim sepeda motor, berangkat pukul 05.00 Wita dari Kota Ende menuju Ibu Kota Kabupaten Sikka yaitu Kota Maumere. Malam sebelumnya tim bis Uniflor sudah duluan berangkat. Tim motor ini terdiri dari: Pak Anno Kean, Pak Us Bate, Ibu Violin Kerong, Cesar Sarto, Rolland, dan saya yang ditemani Thika. Meskipun saya memanggil mereka dengan embel-embel 'Pak' dan 'Ibu' tapi sebenarnya usia mereka masih muda. Ndilalah kami malah baru ngegas pukul 05.45 Wita karena masih menunggu Pak Us yang pada WAG menulis otw tapi baru tiba  di check point satu jam setelahnya. Haha.

Sepagi itu speedometer masih bergerak normal antara 60km/jam sampai 80km/jam. Saya tahu, tiga sepeda motor yang dikendarai para lelaki itu memang sengaja menahan gas agar sepeda motor yang dikendarai dua perempuan (saya dan Viol) bisa seirama dengan mereka. Tiba di Kecamatan Wolowaru sekitar pukul 07.30 Wita kami beristirahat sejenak untuk ngopi-ngopi di sebuah warkop yang pemiliknya ramah sekali. Tidak marah meskipun kami ributnya bukan main. 


Jarak dari Kota Ende ke Kecamatan Wolowaru adalah 65 kilometer. Betul, menuju Kecamatan Wolowaru kami melewati Kecamatan Detusoko.

Kelokan Antara Kecamatan Wolowaru dan Kecamatan Watuneso yang Bikin Mabuk



Inilah titik perjalanan paling membosankan; Kecamatan Wolowaru - Kecamatan Watuneso yang berjarak 28,1 kilometer. Membelah hutan, sekali dua bertemu rumah penduduk, dan kelokan (kadang kelokan kanan-kiri itu tidak ada jedanya sama sekali) tiada akhir. Viol memimpin di depan. Kepemimpinan Viol dalam iring-iringan ini membikin para lelaki sadar bahwa tidak ada gunanya mereka menahan gas dan speedometer. Haha. Tapi kelokan jelas membikin saya pusing bukan main dan percaya bahwa menjadi seorang Valentino Rossi itu tidak mudah. Tiba di SMA pertama dalam perjalanan menyisir ini, saya dan Viol saling mengeluh pusing. Thika? Aduhai keponakan paling setia itu cuma bisa menelan lidah getir.


Sekolah pertama yang kami kunjungi, yang merupakan bagian tugas saya dan Viol adalah SMA Karitas Watuneso. Sayangnya kami tidak dapat bersosialisasi karena murid-murid sedang punya kegiatan. Hiks. Menitip pamflet setelah bertemu kepala sekolah kami pun pamit.


Setelah pamit, tim sepeda motor berpencar. Pak Anno dan Pak Us melanjutkan perjalanan ke kecamatan lain di Kabupaten Sikka, kami yang tersisa menuju Kecamatan Paga.

Kecamatan Paga dan Pantainya


Kecamatan Watuneso dan Kecamatan Paga adalah dua kecamatan yang membatasi wilayah Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka. Jaraknya hanya 14,6 kilometer. 


Di Kecamatan Paga, tim sepeda motor berpencar lagi. Cesar dan Rollan segera meluncur menuju sebuah SMK di Kecamatan Lela. Di Paga, saya dan Viol berhenti untuk mengunjungi SMA Alvarez Paga yang dipimpin oleh seorang Romo. Kami diberi kesempatan untuk melakukan sosialisasi di salah satu kelas dalam jeda tryout sesi satu. 


Kecamatan Paga terkenal akan garis pantainya yang memukau, berpasir putih, mempunyai pemecah ombak, serta dari kejauhan nampak ombak bergelung meskipun bukan ombak besar untuk surfing itu. Di tepi pantai juga terdapat saung dan bale-bale untuk beristirahat. Memesan kopi? Silahkan. Fotonya nanti dalam perjalanan pulang hehe.

Mencari SMA Negeri Nita


SMA Negeri Nita tidak terletak di jalan trans Pulau Flores sehingga saya dan Viol harus bertanya sana-sini terlebih dahulu. Tapi ... a-ha! Kembali Thika memainkan Google Map. Ketemu! Di SMA Negeri Nita kami diijinkan melakukan sosialisasi kepada murid-murid. Rasanya senang sekali ketika mereka sangat menghargai perjalanan jauh kami dari Kabupaten Ende hahaha.



Ke mana setelah SMA Negeri Nita? Kami meluncur ke Kota Maumere sebagai Ibu Kota Kabupaten Sikka. Masih ada tiga sekolah tujuan kami yaitu MAS Muhammadiyah, SMKN 2 Maumere, dan SMA Negeri Magepanda.

Ikan Hiu dan I Love You


Inilah sekolah yang pemandangan lautnya saya pos Senin kemarin; Laut Belakang Sekolah. MAS Muhammadiyah terletak di wilayah Nangahure (arah Utara) dari Kabupaten Sikka. Sayangnya kami tidak dapat melakukan sosialisasi di sekolah ini karena murid-murid sedang bersiap untuk Shalat Duhur. Yang lucunya, Thika malah digoda oleh seorang murid laki-laki yang dengan nekatnya datang ke ruang guru dan berkata: 

Assalamu'alaikum, Kakak. Ikan hiu (ada lanjutannya tapi tidak kedengaran jelas), I love you!

Saya dan Viol menahan ngakak. Tuhaaaaan. Thika oh Thika, masih dianggap anak SMP atau SMA saja dirimu itu. Padahal sudah tahun kedua kuliah hahaha. Gara-gara itu, akhirnya kami memanggil Thika dengan julukan IKAN HIU.



Sungguh kalau saya diijinkan sekolah lagi, saya mau sekali sekolah di MAS Muhammadiyah ini, biar tiap hari sepulang sekolah bisa nyebur dan bergabung dengan para nelayan.

Alumni Uniflor Ada Di Mana-Mana


Sebenarnya kami sudah ingin menyerah dan pergi ke hotel tempat semua anggota tim menginap di Hotel El Tari Indah. Tapi kok sayang, karena letak SMKN 2 Maumere ini sudah cukup dekat dari MAS Muhammadiyah, lebih ke arah Utara. Maka kami pun tiba di sekolah yang ternyata sekolah pelayaran ini. Meskipun tidak sempat memberikan sosialisasi, hanya menyerahkan surat dan pamflet, tapi kami beruntung bertemu alumni Uniflor yang mengajar di sana.


Sebenarnya bukan hanya di sekolah ini terdapat alumni Uniflor yang mengabdi sebagai guru, hampir di semua sekolah yang dikunjungi juga ada alumni Uniflor, hanya saja tidak bisa bertemu karena mereka sedang mengajar sedangkan kami terburu waktu.

Bertemu Ocepp Rewell


Dari SMKN 2 Maumere kami memutuskan untuk pergi ke Hotel El Tari Indah yang terletak di Jalan El Tari Kota Maumere. Hotel ini terletak tepat di pinggir jalan. Di bagian depannya terdapat restoran mini yang juga dimiliki oleh si pemiliki hotel.


Usai makan siang, soto ayam kampung, saya memutuskan untuk segera check in dan beristirahat. Saya ngorok, Viol ke rumah saudaranya, Thika pergi jalan-jalan bersama keponakan lain bernama Vil yang memang tinggal di Kota Maumere bersama orangtuanya. Sebenarnya ada banyak orang yang ingin saya temui di Kota Maumere baik sahabat maupun keluarga. Tapi ... sumpah, tubuh saya butuh dicas utuh haha. Senangnya adalah si Ocha alias Ocepp Rewell berjanji akan datang ke hotel. Hore!


Ocha datang ke hotel tak lama setelah Thika pulang dari mengunjungi rumah-rumah keluarga termasuk ke Kantor Telkom untuk bertemu keluarga yang bekerja di sana. Dari Tanta Ella (mamanya Vil) Thika membawa cumi, ikan, sambal, dan peyek kacang. Ocha membawa burger, sukun goreng, dan martabak manis. Oalaaaah ... diet saya hancur sehancur-hancurnya pada hari itu. Mengobrol bersama Ocha menuntaskan rindu pada bawelnya dia hahaha. Kami masih haha-hihi sampai selepas maghrib, saatnya kami harus ke Tobuk Gramedia untuk bisnis Triwarna Soccer Festival terutama bagian pameran dan membeli buku pesanan Meli.

MoF Art Gallery (and Cafe)


Urusan bisnis di Tobuk Gramedia Maumere, dengan supervisor-nya karena manajer sedang tidak di tempat, belanja-belenji termasuk membeli agenda cover kuning bekal lanjutan T-Journal, kami merapat ke MoF Art Gallery (and Cafe) yang terletak di Pasar Senja.




Usai makan malam, kembali ke hotel, dan saya pun tidur. Tidur kesorean, karena toh Ocha dan Thika masih kembali ke Tobuk Gramedia untuk membeli novel dan Viol masih kembali ke rumah saudaranya. Pokoknya saya butuh tidur!

Sekolah Di Negeri Dongeng


Selasa, 19 Februari 2019, masih satu sekolah yang harus saya dan Viol kunjungi yaitu SMA Negeri Magepanda. Perjalanan menuju Magepanda sekitar 34,4 kilometer (pergi-pulang 68 kilometer) dengan bertemu dua kali jalan putus yang tentu tidak akan bisa dilewati saat hujan. Untung ... cuaca cerah! Google Map membantu kami menemukan sekolah ini karena memang tidak terletak di pinggir jalan utama.


Inilah sekolah di negeri dongeng, terletak di kaki bukit-bukit hijau yang mirip Bukit Teletubbies. Saya juga mau ah sekolah lagi di SMA ini hahaha. Manapula Kepseknya ramah sekali, suka guyon, dan banyak bercerita ini itu. Kami juga bertemu alumni Uniflor yang sudah lamaaaaa sekali lulus, dan dua alumni lainnya yang lulus di atas tahun 2000.


Kata Kepsek, "Ibu ... kalau sekarang mendung, saya terpaksa ibu pulang ke Maumere karena kalau mulai hujan, saya jamin ibu terpaksa menginap di sini! Hahaha!"

Dan inilah kondisi salah satu ruas jalan yang putus (sangat dalam) sehingga kalau hujan, dialiri air yang meluap:


Harus hati-hati dan pelan-pelan jika tidak ingin mencium tanah kering berdebu serta bebatuannya. Tapi pemandangan jalan putus ini ibarat secuil halangan karena pemandangan sepanjang jalan dari Kota Maumere ke Magepanda itu ausam sekali! 





Menuju Kabupaten Flores Timur


Pulang dari SMA Negeri Magepanda kami kembali ke hotel untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan ke arah Timur (lagi) yaitu ke Kabupaten Flores Timur dengan jarak 128 kilometer. Ada banyak sekali SMA yang menanti kami di sana hahaha. Gayanya menulis ini.


Perjalanannya jauh. Memang. Kami lebih dulu berangkat dari tim bis. Sempat istirahat di Boru dan Puncak Konga di Titihena sebelum menuju Kota Larantuka sebagai Ibu Kota Kabupaten Flores Timur.




Pokoknya, nanti ya akan saya ulas satu-satu lebih detail. Pos ini secara garis besar saja ... garis besar yang lumayan panjang *senyum malu*.

Papi Mami di Puumbao


Sayangnya kami tidak berlama-lama di rumah Pak Anno di Waibalun karena Papi Mami sudah menunggu di Puumbao, di Kota Larantuka-nya. Saya, Viol, dan Thika memang tidak menginap di Hotel Lestari Larantuka karena memang ingin menginap di rumah Papi Nani Resi dan Mami Dete yang dulunya tinggal di Kota Ende. Kedua orangtua yang baik ini sudah menunggu kami dan menyiapkan makan malam. Tak lupa kopi! Yuhuuuu. Kisah tentang Papi Mami di lain pos ya.

Ini fotonya waktu mau pulang. Wajah si Mami sedih begitu karena rumahnya kembali sepi.

Malam itu, Cesar dan Rolland bergabung, kami mengobrol ramai di rumah Papi Mami yang sejuk dan nyaman itu. Papi mendengarkan dan terbahak-bahak mendengar celoteh kami. Mami lebih memilih duduk di teras sambil mengunyah sirih-pinang. Sepulang Cesar dan Rolland pun, kami masih mengobrol di teras sambil Mami memijit Viol dan Saya. Ikan Hiu? Eh, Thika? Ngorok!

3 SMA di Larantuka

Rabu, 20 Februari 2019, ada tiga SMA yang wajib kami kunjungi sementara tim bis menuju Tanjung Bunga. Cesar dan Rolland pun mendapat jatah tiga SMA. Okay, mari jalan! Setelah menegak kopi yang dibikin Mami, kami pun berangkat.

"Jalan bae-bae, Oa eeee. Jangan makan di luar, pulang makan di rumah!" pesan Mami.







Dan tentu saja kami pulang makan siang di rumah karena Mami sudah memasak ... ikan goreng segar yang manis dan sambalnya itu cihuy banget! Aduhai Papi Mami, kalian begitu luar biasa, hati kalian lapangnya luar biasa. Saya belajar banyak dari kalian. Sungguh ... saya pengen nangis. Terima kasih Papi Mami; kami datang, kami ribut, kami kotorkan rumah, kami pulang. Hehe.

Kembali ke Kota Maumere


Ya, setelah makan siang dan dibekali pula pisang goreng dan sambal maknyus a la Mami, kami pun pamit pulang ke Kota Maumere, pamitan sama tim bus dan sebagian tim motor yang masih menginap semalam di Waibalun, di rumah orangtuanya Pak Anno. Perjalanan siang itu mengantar kami tiba di daerah Kabupaten Sikka pada senja hari. Tentu, kami mampir sebentar di Boru untuk ngopi dan menikmati pisang goreng serta sambal maknyus itu.




Kaki saya sungguh lelah karena mengendarai Onif Harem yang matic, kaki jarang diluruskan.

Tiba di Kota Maumere sudah gelap. Kami langsung ke rumah kakaknya Viol. Saya sudah tidak bisa bergerak lagi. Langsung tepat setelah mandi dan keramas (aduh ini kepala guatalnya tak tahan hahaha). Sampai keesokan harinya, pagi-pagi hari, saya dan Thika pergi ke rumah Tanta Ella di daerah Misir Kota Maumere, yang disusul Cesar dan Rolland.

Keluarga Adalah Segalanya


Kamis, 21 Februari 2019, di rumah Tanta Ella kami disuguhi kopi dan tentu ditahan untuk makan terlebih dahulu sebelum ngegas ke Kota Ende.


Sungguh, keluarga adalah segalanya. Berhubungan darah atau tidak, mereka akan selalu menanti kedatangan keluarga lainnya dengan wajah berseri-seri dan kelapangan hati yang luar biasa. Mereka tidak akan rela keluarga lainnya terkena hujan apalagi lapar! Tidak akan pernah terjadi hal semacam itu. Mereka, bahkan, akan mengomelimu kalau tidak mampir. Sungguh ... keluarga adalah segalanya.

Terimakasih Tanta Ella, Bapatua, dan Vil. Terima kasih.

Ngopi di Paga dan Persawahan di Detusoko


Mari pulang kampung. Perjalanan pulang ini berformasi: saya, Thika, Cesar, Rolland, dan Rudi. Viol masih bertahan di Kota Maumere mengurusi pekerjaannya sehingga sepeda motornya dibawa pulang oleh Rudi. Dalam perjalanan pulang ini, mungkin karena setelah makan siang, saya didera kantuk yang luar biasa hebat. Akhirnya menyerah dan berhenti di saung pinggir jalan di Paga (dan pinggir pantai) untuk ngopi sejenak.


Anak pemilik saung, namanya Cici. Dia begitu cantik dan membikin saya harus memotretnya saat itu juga hehe. Sedangkan Thika memilih pergi ke pantai untuk foto-foto di sana. Nanti deh hasilnya saya pamerkan di lain pos. Kuatir kalian iri hahahah.

Setelah ngopi-ngopi di sini, kami terus ngegas ke Ende tanpa berhenti karena saya sudah sangat merindukan Mamatua. Satu kali berhenti di daerah Detusoko untuk memotret pemandangan ini:


Terima kasih Allah SWT atas alam yang indah ini.


Senin - Kamis. Perjalanan panjang ke arah Timur Pulau Flores di dua kabupaten. Lelah tapi menyenangkan. Saya selalu suka #JalanJalanKerja begini. Karena ketika urusan pekerjaan sudah selesai, bisa sekalian jalan-jalan kan hehe. Pos yang panjang ini pun belum sempurna. Masih banyak yang ingin saya ceritakan terpisah ... karena memang harus dipisah. Semoga mata kalian tidak eror setelah membaca pos yang panjang ini hahaha *cubit dinosaurus*.

Perjalanan setotal 680an kilometer. Done!

Well, selamat berakhir pekan, kawan! 



Cheers.