I Write My All

LightBlog

Kemarin, Senin 4 Februari 2019, sekitar pukul 06.10 Wita, Onif Harem saya pacu menuju arah Barat Pulau Flores. Di belakang saya Thika...

Di Nagekeo Hati Saya Tertambat



Kemarin, Senin 4 Februari 2019, sekitar pukul 06.10 Wita, Onif Harem saya pacu menuju arah Barat Pulau Flores. Di belakang saya Thika Pharmantara, keponakan cantik itu huhuhu, duduk manis di boncengan dengan tenang sambil berharap Encimnya tidak mendadak diserang kantuk. Perjalanan ini adalah perjalanan dinas, pekerjaan khusus mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) kepada murid kelas 12 atau Kelas 3 di SMA-SMA se-Pulau Flores dan sekitarnya. 

Baca Juga: 1 Video, 3 Aplikasi


Sarapan Jagung Pulut Rebus


Tiba di Aigela sekitar pukul 07.00 Wita, percabangan menuju Kabupaten Ngada dan menuju Ibu Kota Kabupaten Nagekeo (Kota Mbay), kami memutuskan untuk beristirahat sejenak demi menghangatkan perut yang terasa dingin dan kesepian. Sebenarnya Thika membawa bekal nasi dan nugget, tapi entah dia lebih memilih jagung pulut rebus. Saya sendiri lebih membutuhkan secangkir kopi panas. Beruntung satu lapak sudah dibuka sehingga bisa menikmati jagung pulut rebus dan secangkir kopi yang rasanya ... tidak ada lawan. Sambalnya ini yang bikin Thika tidak nyenyak tidur, terbayang-bayang di lidah. Haha.


Rombongan yang menggunakan bis Tim Promosi Uniflor 2019 telah tiba di Kota Mbay. Artinya kami harus bergegas. Jalanan dari cabang Aigela menuju Kota Mbay telah jauuuuh lebih bagus. Ngebut? Pasti. Tapi hati-hati hewan seperti anjing dan kambing yang piknik pagi di jalanan. Kalau mendekati Kota Mbay (sampai menuju Riung) itu lebih banyak kambing dan sapi.



Memasuki Ibu Kota Nagekeo ini sekitar pukul 07.45, dari ketinggian tempat bukit-bukit sabana terlihat menawan, Kota Mbay yang bertopografi datar terlihat jelas. Kami hampir saja ditilang di dekat Kantor Bupati Nagekeo, untung mata saya masih bisa awas, lantas mencari jalur belakang yang memutar. Haha.

Tiba di rumah Pak Selis, salah seorang dosen Uniflor, koordinator lapangan yaitu Ibu Juwita mulai membagi tugas. Siapa yang ke sekolah A, siapa yang ke sekolah B, dan seterusnya. Tetapi karena minimnya kendaraan, tim tidak bisa dipecah begitu saja. Hitung-hitung, hanya ada dua kendaraan yaitu bis Tim Promosi Uniflor 2019 dan Onif Harem milik saya. Akhirnya saya (ditemani Thika) yang adalah penyusup untuk Tim Barat ini mendapat jatah tiga sekolah di luar Kota Mbay yaitu di Kecamatan Aesesa dan Marpokot, sedangkan anggota tim yang lain mendapat jatah tiga sekolah di wilayah Kota Mbay.

Okay. Mari berangkat!

SPBU Yang Dijual


Di Tengah jalan saya bertemu dengan Tim Kreatif, Cesar dan Roland, yang akhirnya mereka berdua mengikuti saya ke Aesesa dan Marpokot.


Usai kunjungan ke tiga sekolah yaitu SMKN 1 Aesesa, SMAS Katolik Stella Maris, dan MAS, kami kembali ke rombongan untuk makan siang. Padahal kami sudah duluan makan sih, soalnya Cesar dan Roland benar-benar sakau kopi. Karena rombongan  masih menunggu makan siangnya, saya pergi ke rumah keponakan di wilayah Towak (arah menuju Riung). Oia, foto SPBU yang dijual di atas, membikin saya memaksa Cesar dan Roland untuk mengekori hahaha, pengen difoto di situ pokoknya! Unik sih hehe, karena kan biasanya yang dijual itu bensin dan solar, bukan SPBU. Sayang ya SPBU ini dijual. Entah kenapa.

Pustu Towak


Towak merupakan wilayah Kabupaten Nagekeo yang letaknya berada di jalan Trans Mbay - Riung. Untuk diketahui, Riung yang terkenal dengan Taman Laut 17 Pulau Riung itu, berada di wilayah Kabupaten Ngada bukan Kabupaten Nagekeo. Rumah keponakan saya Iwan, dan istrinya Reni, merupakan rumah dinas dari Pustu Towak karena Reni adalah bidan yang bertugas di situ. Di sana sudah menanti pula dua cucu saya yang luar biasa bikin kangen Andika dan Rayhan *peluk-peluk*. Begitu melihat saya dan Thika mereka langsung teriak, "Oma Enciiiimmm!!!!" Haha.

Rumah ini berada di tengah ladang milik masyarakat dengan jarak rumah lumayan jauh-jauhan. Mulailah kami mengobrol ngalor-ngidul, saya terkaget-kaget waktu ada tetangganya yang datang mengantar ikan segar hasil memancing di laut, terpikat sama rasa kopinya, dan direcoki sama dua penjahat cilik Andika dan Rayhan. Saat sedang mengobrol (obrolan yang super lama dari pukul 13.00 Wita sampai sekitar pukul 15.00 Wita), Iwan pamit membantu tetangganya yang sedang mengumpulkan kembali padi (yang dijemur) untuk disimpan di gudang. Maklum, cuaca sedang mendung. Dari Iwan pula saya peroleh banyak cerita tentang dirinya yang tidak pernah kesulitan beras karena selalu dibagi sama tetangga yang punya sawah berhektar-hektar. Kata Reni, "Encim, kami tidak pernah susah beras dan sayur. Ikan pun sering dapat murah."


Di atas, foto saat nyaris selesai menyimpan padi (tepat di depan rumah Iwan dan Reni). Untung masih sempat fotoin hehe. Saya pergi ke tempat ini setelah Cesar dan Roland menyusuli kami ke Towak karena mereka bosan di hotel; penginapan tim kami yaitu Hotel Pepita.


Ada yang tahu nama tanaman ini? Saya pernah memotretnya di Ende, di wilayah Nangaba. Kalau di sekitar rumah Iwan dan Reni, tanaman ini tumbuh subuuuurrrrr dan super banyaaaaak. Selain itu, pohon marungge/kelor pun jangan ditanya, di belakang rumah juga tumbuh pohon marungge. Makanya Reni bilang beras dan sayur tidak pernah kesusahan. Jadi iri maksimal! Sayangnya Reni tidak sempat memasak sayur marungge untuk kami.

Bukit Weworowet


Noviea Azizah adalah puteri Mbay yang adalah lulusan Prodi Sastra Inggris Uniflor tahun 2018. Novi tiba di rumah Iwan dan Reni sekitar pukul 16.30. Kami lantas pamit pada Iwan, karena Reni sedang pergi ke Posyandu, untuk pergi ke Bukit Weworowet. Ini memang sudah niat. Jarak tempuh menuju Bukit Weworowet ini hanya sekitar duapuluh menit dari Towak. Bukit Weworowet terletak di Desa Waekakok, masih wilayah Kabupaten Nagekeo.


Dulunya bukit ini saya tulis Bukit Robert ternyata saya salah ha ha ha. Anggap saja kesalahan telah diperbaiki ya.




Saya sering foto-foto di sini, zaman dahulu, waktu masih rajin ke Riung buat mengantar teman-teman traveler. Weworowet semacam ikon antara Mbay - Riung yang sulit diabaikan karena keindahannya. Dulu, dari sudut tertentu bukit ini nampak seperti lelaki yang sedang tidur. Dan kalau beruntung, kalian bisa menikmati bunga-bunga kuning yang tumbuh di kaki bukit.

Silahkan nonton video berikut ini:


Dari sudut lain, Bukit Weworowet akan terlihat seperti gambar di bawah ini:

Ini sih rumah impian!

Ausam sekali, kawan. Tak terbantahkan! Kata Novi, dia dan komunitas kreatifnya memang hendak membangun kafe di spot tempat kami memotret si bukit. Aduuuuh saya bakal jadi orang pertama yang ngopi-ngopi di situ!

Dari Bukit Weworowet kami diajak ke sebuah embung yang saya lupa namanya haha.


Puas melihat-lihat, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Soalnya matahari juga sudah mulai tenggelam. Mari pulang, marilah pulang, marilah pulang, bersama-sama ...

Bebek dan Ikan Panggang


Tiba di Towak saya melihat Iwan sedang mengangkat kayu-kayu ... ternyata di belakang rumah sedang terjadi pembakaran haha. Reni sedang meracik bumbu. Mari membantu supaya lekas selesai. Diiringi dengan listrik padam (sekitar setengah jam), dan Iwan menjemput Deni di Hotel Pepita, jadilah malam itu kami menikmati suguhan yang luar biasa memikat lidah. Orang Flores memang luar biasa kalau sama tamu, apalagi kalau tamunya itu masih berpangkat Encim hahaha.


Wah, lupa foto bebek panggangnya (kelihatan paling sudut tuh). Tak apalah. Oia, kata Iwan, "Encim, untung sekarang belum musim domba, kalau tidak ... Encim harus rasakan daging domba sini ... wuih!" Tenang saja, anak ... ke Towak saya akan kembali! Haha *ketawa raksasa*.

Selesai makan malam kami masih mengobrol tentang yang horor-horor bikin ngeri karena sekitar rumah Iwan kan gelap gulita (ladang), terus balik ke Hotel Pepita, sekitar pukul 23.00 Wita. Tapi di Kota Mbay masih lumayan ramai karena sedang ada pasar malam. Sayang saya tidak mampir ke pasar malam padahal sudah diajak Novi. Lelah cuy!

Hotel Pepita


Nanti ya baru saya menulis tentang hotel ini. Yang jelas hotel ini bagus, pelayanan bagus, sarapan enak ... dan nyaman lah.






Saatnya pulang ke Ende!

Sebenarnya, sebagai anggota susupan di Tim Barat, saya diperbantukan dari Kabupaten Nagekeo hingga Kabupaten Ngada tepatnya di Mataloko. Tapi karena mengingat SMA-SMA di Kota Ende sendiri sangat banyak (apalagi Kabupaten Ende -  kecamatan di luar kota), saya harus segera pulang ke Ende supaya Rabu bisa melaksanakan tugas utama. Kan tidak lucu, tugas bantuan terselesaikan dengan baik, tugas utama malah keteteran. Dududud.

Selasa, 5 Februari 2019, Hari Raya Imlek, saya dan Thika kembali ke Ende sedangkan bis Tim Promosi Uniflor 2019 berangkat ke Mataloko untuk meneruskan tugas hingga ke Labuan Bajo. Sepulang mereka dari Labuan Bajo nanti, kami akan sama-sama pergi ke Kota Maumere dan Kota Larantuka bersama Tim Timur (jika berkenan) sedang tim yang 'menjelajah' Pulau Lembata dan Pulau Adonara telah melaksanakan tugas pada hari yang sama.


Seperti yang sudah saya tulis di pos sebelumnya, karena kondisi sedang dalam masa tugas, saya tidak mengepos seperti biasanya (tema harian). Supaya ide dan cerita tidak menguap dari benak. Dan tentu saja akan lebih banyak foto hahaha. Namanya juga Jalan-Jalan Kerja *ngikik*. 

Baca Juga: Inovasi Joseph Joseph

Semua yang saya tulis hari ini masih general saja, belum bisa mengulas satu-satu, belum mengulas lebih detail, tentu juga tentang Presiden Kuning yang 'menemukan' kerajaannya. Nanti deh kalau sudah punya lebih banyak waktu. Yang jelas, hati saya tertambat di Nagekeo, sejak dulu dan belum berubah sampai hari ini. Kabupaten ini menawarkan sejuta pesona ... dan saya terpesona sungguh.

Terima kasih masih menyempatkan diri main-main ke blog ini :D



Cheers.
loading...

0 komentar:

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.