Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Saturday, March 30, 2019

Relikui Kematian #2


Bagi pecinta Harry Potter yang sampai sekarang masih tersihir oleh kisah spektakuler dari dunia sihir a la J. K. Rowling, membicarakan perkara apa pun tentang dunia sihir itu, kapan pun waktunya, tentu selalu menyenangkan. Saya, sebagai pecinta kisah Harry Potter, masih bisa mengingat banyak hal dari novel maupun filemnya. Betapa tingkah sepupu Harry, Dudley Dursley, sama mengesalkannya dengan tawa Bellatrix Lestrange, misalnya. Atau, tentang timbulnya rasa bersalah di dalam diri kita ketika tahu bahwa Profesor Snape, si 'agen ganda' itu justru patuh pada Albus Dumbledore dan sangat menyayangi Harry. Atau tentang horcrux-horcrux yang harus dihancurkan.

Baca Juga: Survival Movies

Kembali menulis tentang Harry Potter, khusus Relikui Kematian, kisah tentang tiga benda keramat ini hadir dalam seri terakhir yang berjudul Harry Potter and The Deathly Hallows. Untuk tahu tentang Tongkat Elder, silahkan baca Relikui Kematian #1. Kenapa harus membacanya? Agar kalian, yang sama sekali tidak tahu tentang Harry Potter, punya petunjuk tentang tiga benda keramat peninggalan Paverell bersaudara. Hari ini saya akan melanjutkan tentang dua benda keramat dari Relikui Kematian yang lain yaitu Batu Kebangkitan dan Jubah Gaib

Batu Kebangkitan


Batu Kebangkitan merupakan salah satu benda keramat yang diberikan Kematian kepada Cadmus Paverell. Batu Kebangkitan diwariskan oleh Albus Dumbledore kepada Harry yang diletakkan di dalam snitch pertama yang ditangkap Harry saat pertandingan Quidditch. Apakah batu ini yang menyelamatkan Harry dari kutukan Voldemort di Hutan Terlarang? Ada dua teori, seperti yang saya janjikan sebelumnya, teori pertama sudah saya tulis tapi tidak ada salahnya mengulang agar tidak tercerai-berai.

Teori Pertama: 
Harry selamat dari kutukan Voldemort di Hutan Terlarang karena Tongkat Elder setia pada pemiliknya. Tongkat Elder, meskipun fisiknya berada di tangan Voldemort, sebenarnya merupakan milik Harry dari hasil Harry melucuti si tongkat dari Draco Malfoy. Ingat kata Ollivander, tongkatlah yang memilih tuannya. Kesetiaan Tongkat Elder menyebabkan serangan itu tidak 100% meskipun Voldemort yakin percaya itulah kekuatan paling imba darinya terhadap Harry.

Teori Kedua:
Batu Kebangkitan yang berhasil dikeluarkan Harry dari snitch lah yang menyelamatkan Harry dari kutukan Voldemort di Hutan Terlarang. Albus Dumbledore tahu bahwa Harry adalah salah satu horcrux; benda yang menyimpan potongan jiwa Voldemort. Untuk bisa melumpuhkan Voldemort atau melemahkannya, semua horcrux harus dihancurkan. Termasuk Harry. Tujuan Albus Dumbledore memberikan Batu Kebangkitan kepada Harry adalah agar setelah horcrux (Harry) mati, Harry dapat bangkit untuk melawan, kembali, Voldemort.

Teori pertama dan teori kedua ini sama-sama masuk akal. Karena, dalam dunia sihir, tongkat sihir loyal/setia pada pemiliknya yang sah. Karena, Batu Kebangkitan hanya membangkitkan satu orang, dan itu Harry, bukan James, Lily, Albus Dumbledore, dan lain sebagainya. Arwah-arwah orang mati yang ditemui Harry dalam 'alam antara' itu hanya sebagai penyemangat untuk Harry kembali dan melakukan pertarungan kedua dengan Voldemort.

Baca Juga: Sel-Sel Kelabu Hercule Poirot

Setelah digunakan, batu tersebut jatuh di Hutan Terlarang dan memang tidak ada niat Harry, kemudian, untuk mencarinya. Dia tidak ingin memiliki si batu, sama juga dengan dia tidak ingin memiliki si tongkat.

Jubah Gaib


Inilah benda keramat terakhir yang diberikan oleh Kematian kepada Ignotus Paverell, si bungsu dari Paverell bersaudara. Jubah Gaib ini sejak semula jadi sudah kita ketahui diberikan oleh Albus Dumbledore kepada Harry dari wasiatnya James Potter. Berbeda dengan proses kepemilikan Tongkat Elder dan Batu Kebangkitan, Jubah Gaib merupakan satu-satunya benda yang menjadi konektor antara Harry dan Ignotus. Bahwa, Harry merupakan turunan Ignotus. Artinya, Harry dan Voldemort pun masih punya hubungan darah (jauh).

Jubah Gaib merupakan satu-satunya benda dari Relikui Kematian yang disimpan Harry. Tidak ada kisah lanjutan dari Jubah Gaib, bahkan dalam Harry Potter and The Deathly Hallows pun, Jubah Gaib hanya memainkan sedikit peran (disebut-sebut).

Harry Potter adalah Kisah Tentang Paverell dan Horcrux


Itu memang kesimpulan yang dangkal. Tapi sejak dulu, setelah selesai membaca Harry Potter and The Deathly Hallows, saya sudah berpikir demikian. Pada akhirnya, enam seri Harry Potter, tercerahkan di buku ke-tujuh. Kebaikan melawan kejahatan; Harry melawan Voldemort. Voldemort bisa kalah apabila semua horcrux-nya hancur; termasuk Harry - yang kemudian bangkit kembali. Dan ambisi Voldemort adalah menguasai Relikui Kematian warisan Paverell bersaudara; hanya satu Relikui Kematian yang sempat dipegangnya, Tongkat Elder, itu pun si tongkat justru setia kepada pemiliknya yang sah.

Horcrux


Dari tadi menulis horcrux. Apa saja kah horcrux itu?

1. Diary milik Tom Riddle.
2. Cincin Gaunt.
3. Liontin Slytherin.
4. Piala Hufflecup.
5. Diadem Ravenclaw.
6. Nagini.
7. Harry Potter.

Dan yang terakhir adalah jiwa yang masih melekat pada Voldemort sendiri.


Setelah membaca Relikui Kematian #1 dan #2, bagaimana tanggapan kalian? Siapa tahu pendapat kita berbeda tentang hal ini. Feel free to write your mind on comment!

Baca Juga: Samudera Cinta Ikan Paus

Selamat berakhir pekan, selamat bernostalgia bersama Harry Potter.


Cheers.

Friday, March 29, 2019

Memen


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Meskipun tidak semua, tapi saya yakin sebagian besar orang-orang pasti punya nama samaran. Nama samaran ini juga bisa kita temui pada nama panggung/nama tenar. Nama samaran juga disebut alias, meskipun menurut saya keduanya tidak sama persis. Hampir semua berkas perkara yang saya baca tertera nama asli berikut nama samaran. Contohnya, Alaladun bin Alaladen alias Dinosaurus. Tidak bisa dipungkiri nama samaran ini jauh lebih ngehits dari nama asli yang tercantum di Kartu Keluarga, KTP, Passport, dan Buku Nikah. Charlie Chaplin, misalnya, punya nama asli Charles Spencer Chaplin. Atau Sunan Kalijaga yang punya nama asli Raden Said. Atau Peter Gene Hernandez yang kita kenal sebagai penyanyi kece Bruno Mars.

Baca Juga: Masak di Kantor

Nama samaran bisa diambil dari nama asli namun dipersingkat atau hanya memakai nama depan dan belakang dengan menghilangkan nama tengah, seperti nama Celine Dion yang aslinya Celine Marie Claudette Dion. Bisa juga nama yang benar-benar baru.

Alasan Memakai Nama Samaran/Alias


Ada bermacam sebab orang-orang memakai nama samaran atau nama alias ini. Alasan itu antara lain:

1. Daya Jual
Daya jual sebuah nama memang sangat berpengaruh pada apa yang dijual. Konon katanya begitu. Sehingga begitu banyak artis mengganti nama asli mereka dengan nama samaran/alias yang lebih pendek dan fenomenal agar mudah diingat oleh orang lain/penggemar. Ayu Ting Ting tidak memakai nama Ayu Rosmalina. Nama Ting Ting tentu lebih punya daya jual ketimbang Rosmalina. Sama juga dengan Bruno Mars yang terdengar lebih komersil ketimbang Peter Gene Hernandez.

2. Komunitas/Kelompok
Sunan Kalijaga mempunyai nama asli Raden Said. Dan kita tahu dalam Wali Songo atau Sembilan Wali, semuanya memakai nama depan Sunan untuk menunjukkan kedudukan beliau sebagai orang yang dihormati dan terhormat dari sebuah kelompok agung bernama Wali Songo. Seperti kita kenal Ariel sebagai Ariel Peterpan atau Ariel Noah (keduanya merupakan nama band). Bahkan sampai sekarang saya masih menyebut Anji dengan Anji Drive haha.

3. Identitas Plus
Saya menyebut alasan ketiga ini sebagai Google Plus identitas plus. Ada orang yang karena keberaniannya punya nama samaran Preman atau Brandal. Bahkan saya punya teman kantor punya nama samaran Bandel padahal nama aslinya Eman hehe. Kadang-kadang saya dipanggil Kepala Suku oleh orang-orang. Entah apa alasannya. Kalau kemudian saya dipanggil Putih sama si Yusti, mungkin karena kulit saya sedikit lebih terang dari kulitnya. Dududud ...

Mendadak Punya Nama Samaran


Waktu masih SD dan SMP saya tidak punya nama samaran ini. Kalau mengisi diary (buku bio-data) itu saya mengisi nama samaran dengan nama artis ha ha ha. Mulai punya nama samaran saat SMA. Gara-gara iseng bermain pesawat telepon sampai tagihan membengkak. Kebiasaan masa SMA yang bikin orangtua misuh-misuh.

Dan memang, keisengan saya itu sungguh bikin orang lain keki.

Suatu hari saya sedang sangat bosan. Wiro Sableng sudah tidak ada di rumah karena disumbangkan Bapa pada Perpustakaan Keliling. Komik Tiger Wong dan Tapak Sakti sudah dibaca ulang. Novel Agatha Christie pun demikian. Sementara saya malas menonton televisi. A-ha! Bapa sedang pergi, sehingga sore itu saya memutuskan untuk menggunakan pesawat telepon. Tumben kan kotak pesawat telepon tidak dikunci sama Bapa. Horeeeee!

Saya memilih menelepon Ryan, sahabat sejati, yang baru jadian sama Hilda, yang juga sahabat sejati saya he he he. Yang menerima panggilan adalah Bapaknya. Ketika ditanya, siapa yang menelpon, otak saya bekerja secepat kilat (dan saat itu lagi hitsnya Memes dengan lagu Terlanjur Sayang), dan menjawab: ini dengan Memen. Kalian bisa bayangkan betapa kagetnya Ryan waktu saya bilang saya mantan pacarnya dia yang sudah dia lupakan, pengen nyambung lagi, bla bla bla. Sumpah, menahan ngakak itu pekerjaan tersulit saat itu.

Usai menelepon Ryan, dan meninggalkan segudang tanda tanya, saya pun menelpon Hilda. Pada Hilda saya bilang bahwa saya mantan pacarnya Ryan dan kenapa Hilda merebut Ryan dari saya. Saya tahu semua rahasia Ryan, bla bla bla ...

Dunia sungguh indah ketika kita 'menciptakan skenario' gila :D

Memen


Keesokan harinya, Memen menjadi nama yang fenomenal. Meskipun berusaha mengelak tapi Ryan dan Hilda tahu persis bahwa Memen adalah saya. Mereka mengacak-acak jilbab saya kala itu dan pada akhirnya nama Memen masih bergaung sampai sekarang. Saya suka ... setidaknya kalau tidak bisa menjadi seperti Memes, jadi Memen saja.


Sampai sekarang, kapan pun dan di mana pun, rata-rata semua teman masa SMA masih memanggil saya dengan nama samaran: Memen. Nama ini tidak membawa keberuntungan apa-apa. Berbeda dengan nama samaran Tootyee dan Tuteh (untuk dua nama ini nanti deh ditulis). Meskipun Memen tidak membawa keberuntungan apa-apa pada saya, tapi saya suka karena Memen menjadi begitu terkenalnya *naik-naikin alis*.

Baca Juga: Angry Face

Bagaimana dengan kalian, kawan? Saya yakin Mas Djangkaru Bumi punya nama KTP yang berbeda. Sama juga dengan Om Bisot yang tentu punya nama KTP berbeda. 



Cheers.

Thursday, March 28, 2019

5 Gaya Zawo Zambu


Zawo zambu (dalam penyebutan oleh Suku Ende), atau lawo lambu (dalam penyebutan Suku Lio), merupakan pakaian tradisional/adat untuk perempuan Kabupaten Ende. Zawo/lawo berarti sarung tenun ikat sedangkan zambu/lambu berarti baju yang modelnya mirip Baju Bodo. Tidak semua perempuan Kabupaten Ende memakai zawo zambu setiap harinya, atau tidak setiap hari perempuan Kabupaten Ende memakai zawo zambu. Bagi yang tinggal di daerah perkotaan, zawo zambu dipakai saat acara-acara tertentu diantaranya acara adat pernikahan, acara kedaerahan oleh pemerintah, hingga acara-acara lainnya yang mewajibkan perempuan memakai zawo zambu.

Baca Juga: 5 Komoditas TSF

Saya suka memakai zawo zambu, meskipun tidak setiap hari, karena kebanggaan saya pada pakaian tradisional ini. Berbeda dari perempuan lain yang memadukan zawo zambu dengan selop, kelom, sandal cantik, hingga high heels, saya memadukan zawo zambu dengan sepatu kets atau boot. Alasannya karena kaki saya tidak bisa berkompromi dengan sendal dan/atau sepatu perempuan. Cantik selalu menyakitkan kaki saya ha ha ha.

Hari ini saya pengen ngama (pamer) foto-foto zawo zambu yang pernah saya pakai.

1. Zawo dan Zambu Cokelat


Umumnya zambu yang dipakai itu dapat dimasukkan ke dalam zawo, atau bisa juga dikeluarkan. Yang satu ini saya memakai zawo jenis Kembo milik Kakak Niniek dan zambu cokelat.


Ya, memang, selalu ada yang aneh bin gokil kalau urusan foto itu modelnya adalah saya *ngakak guling-guling*.

2. Zawo dan Zambu Pink


Sejak ada Thika Pharmantara di rumah, saya jadi suka juga memakai pakaian berwarna pink. Padahal, saya kan Presiden Negara Kuning! Haha.


Kali ini zambu-nya tidak dimasukkan ke dalam zawo. Oh ya, jenis zawo yang saya pakai ini bernama Mangga. Ditenun khusus sama calon kakak ipar sehingga ukurannya lebih besar dari ukuran normal. Maklum ... bodi segede parabola begini. Haha.

3. No Zambu!


Agak aneh menulis ini, karena kok malah no-zambu? Iya, ceritanya saya malas memakai zambu, jadi saya memilih kemeja yang mirip-mirip sama zambu. Lagi pula, ketika telah tertutup jilbab, zambu-nya jadi kurang menonjol kan *senyum kemenangan*.


Ini fotonya bareng Reynold yang memakai pakaian adat Sumba. Saya lupa acara apa, yang jelas hari itu kami wajib mengikuti upacara bendera memakai pakaian adat asal masing-masing. Oh ya, tas yang saya pakai itu tas rajutan oleh-oleh dari sepupu saya Pater Anang Bhara yang bertugas di Equador.

4. Zambu Berekor


Haha. Rikyn Radja merupakan orang tercerdas dalam urusan memodifikasi zambu model ini. Saya pernah memakainya saat pernikahan keponakan saya si Indri, dan Minggu (24 Maret 2019) kemarin saya memakai lagi yang modelnya sama tapi beda warna:

Ini waktu nikahannya Indri. 

Ini waktu nikahnya Angga, Minggu kemarin.

Zambu seperti ini memang paling bagus jika digunakan dalam acara pernikahan karena kecetarannya. Bahkan ada pengantin yang juga memakai zambu model begini tapi pastinya berwarna putih khas pengantin perempuan.

5. Modifikasi Habis-Habisan


Lagi-lagi Rikyn Radja mengkreasikan zawo zambu menjadi seperti ini:


Selain yang satu ini, ada lagi yang dimodifikasi menjadi mirip pakaian orang Jepang, ada obi-nya. Tapi masih belum berhasil saya temukan berkas fotonya. Nanti deh hehe.


Apa pun modelnya; asli maupun modifikasi, saya selalu suka memakai zawo zambu. Zambu-nya dimasukin ke zawo atau dikeluarin, sama saja. Tetap suka. Karena memakai zawo zambu itu langka, momen saat sedang memakainya harus terus diabadikan hingga memori telepon genggam penuh dan nyaris ngambek.

Presiden Negara Kuning dan Penduduknya. Haha. 

Keluarga Besar Pua Ndawa dan Pua Djombu.

Bagaimana dengan kalian? Pasti bangga juga donk ya memakai pakaian adat/tradisional daerah masing-masing. Adat yang fleksibel dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan kaidah/norma dasarnya.

Baca Juga: 5 Jawara Mural

Selamat Kamis, kawan ...



Cheers.

Wednesday, March 27, 2019

Travel Booth


Booth atau stan merupakan lokasi yang paling saya cari setiap kali menghadiri pesta pernikahan. Karena apa, saudara-saudara? Karena kalau tidak sempat foto bareng pengantinnya, dan kuatir pengantinnya lupa saya memenuhi undangan pesta pernikahannya, hasil foto di stan itu menjadi bukti terhakiki yang tidak bisa dibantah. Alasan itu mungkin terkesan terlalu dibuat-buat, padahal sebenarnya itu memang alasan yang saya buat-buat karena belum menemukan alasan lainnya *tertawa bahagia bersama dinosaurus*.

Baca Juga: Bunga Dinding

Semakin ke sini, wedding organizer dan/atau bahkan si empu acara, semakin kreatif dalam perkara membikin stan foto ini. Stan foto yang biasanya berlatar baliho bergambar si pengantin serta sanak keluarganya itu kemudian berubah lebih ceria seperti foto si Thika dan Evran di bawah ini:


Pada akhirnya pesta pernikahan, sekarang, menjadi tempat yang asyik untuk berburu stan foto dan spot-spot yang instagramable. Tidak percaya? Foto di bawah ini contohnya:



Lalu apa hubungannya stan foto dengan pos #RabuDIY kali ini? Mari simak ...

Awal Mula


Iwan Aditya, partner siaran saya yang uh wow lidahnya suka typo itu, mendadak punya gagasan brilian untuk membikin stan foto di kantor Radio Gomezone FM. Kantor itu lebih tepatnya disebut studio dua sebagai studio kerja, sedangkan studio satu adalah studio siaran. Gagasan Iwan itu: Ncim, bagaimana kalau kita bikin booth foto dari hasil menggabung gambar-gambar tempat wisata? Mata saya meliriknya ... malas ... lantas bertanya: Bikinnya pakai apa? Iwan tertawa dan membalas: Encim kan suka sama proyek-proyek DIY begitu, pasti Encim mau lah, kita bikin dari kalender-kalender lama dari kantor saya. Banyak sekali, Ncim!

A-ha! DIY! Gayung bersambut.

Baca Juga: Baskets

Fyi: saya dan Iwan memang partner siaran di Radio Gomezone FM, waktu itu, tapi kami sendiri juga punya pekerjaan tetap. Saya di Universitas Flores sedangkan Iwan di SwissContact. Di Radio Gomezone FM kami memegang Creative Show yang mengudara Senin sampai Sabtu, setiap malam, dengan mata acara berbeda seperti Focus, Review, Backpacker, hingga Tuwan Show (Tuteh Iwan Saturday Night Show) yang kocaknya tidak ketulungan.


Kembali ke gagasan si Iwan, kami akhirnya memutuskan bahwa stan itu bakal ditempel tepat di belakang meja kerja saya di studio dua. Huraaayyyy. Dan keesokan malamnya, Iwan menenteng satu kresek besar berisi kalender-kalender meja (spiral), seragam, yang tidak sempat dibagikan ke orang-orang. Ada hikmahnya juga qiqiqiq.

Proses Pembuatan


Pertama-tama kami melepaskan setiap lembar kalender dari spiralnya. Proses ini dibantu oleh Irwan. Hyess, jangan bingung, yang satunya Iwan, yang satunya lagi Irwan (dia waktu itu cuti kuliah, kuliahnya di Makassar).


Selama beberapa hari, kemudian, meja kerja saya menjadi milik mereka berdua. Semangat keduanya bikin saya menitikkan air mata. Halaaaaah hehe. Oh iya, dibalik map holder warna biru itu berdiri desk-organizer hasil #DIY saya sendiri dan mangkuk berbahan jin. Tapi soal ini dibahas lain waktu.

Setelah semua lembar kalender dilepas, proses selanjutnya adalah menggunakan lantai sebagai media terbesar untuk menyusun potongan gambar/halaman kalender. Iwan bertugas menyusun agar tidak ada gambar yang sama berurutan baik vertikal maupun horizontal, sedangkan Irwan bertugas memotong isolasi bening. Tugas saya sih cuma wara-wiri, sana-sini, tidak jelas, haha. Pompom girl lah. Hasil kerja keras ini ternyata bikin saya bahagia maksimal.

Travel Booth


Stan foto itu menjadi tempat favorit setiap kali ada tamu yang datang ke studio dua. Kan asyik bisa foto dengan latar belakang sekeren itu.


Mungkin bagi kalian, stan foto macam begini tidak ada magnetnya sama sekali, alias kalian mungkin tidak tertarik. Tapi bagi saya, Iwan, Irwan, dan para pecinta #DIY, ini adalah hasil karya yang memuaskan jiwa-raga. Kami menamainya travel-booth. Kata Iwan: cocok sekali, Ncim, kita berdua kan bawakan acara Blogpacker.

Another Ideas


Menulis #RabuDIY kali ini membikin ide lain muncul di benak saya. Apalagi sudah menjelang Ramadhan (dan Hari Raya Idul Fitri, hahaha). Memang ada niat untuk mengecat ulang dinding rumah. Tapi sepertinya salah satu dinding bakal saya bikin stan seperti travel booth itu deh. Gambarnya apa saja? Masih saya pikirkan soal gambar ini. Apakah bertema keluarga Pharmantara, atau bertema dunia traveling saya ... kita lihat saja nanti. Karena ini baru ide, jangan menagih janji ya, hehe.


Bagaimana, kawan, jadi kepikiran untuk membikin stan foto juga di rumah? Stan foto itu tidak selamanya harus sama dengan yang kami bikin ... .eh ... dibikin Iwan dan Irwan. Bisa juga stan fotonya berupa foto keluarga ditambah tulisan: Welcome to Pohon Tua. Pohon Tua adalah nama rumah saya. Atau tulisan: Travel Journey ditambah foto Himawan (kalau dibikin sama Himawan). Kak Rey, Kak Rohyati, Kak Iied, atau Kak Lantana pun bisa membikinnya. Kalau si Evvafebri si Mak Bowgel pasti seru karena punya banyak karakter bikinan sendiri.

Baca Juga: Monotuteh

Ber-DIY-ria memang selalu menyenangkan. Tidak peduli hasilnya rapi atau berantakan, sepanjang itu hasil karya sendiri, pasti menyenangkan dan ... puas.

Yuuuuuk dicoba :)



Cheers.

Tuesday, March 26, 2019

Re:Ease

Sumber gambar: Yanko Design.

Bagi saya, meja kerja, di kantor maupun di rumah, harus selalu rapi. Kenapa harus rapi? Karena kalau berantakan bakal bikin mood kerja kendor. Oleh karena itu, hasil craft dari Proyek #DIY saya salah satunya adalah desk-organizer. Desk-organizer buatan saya berbahan karton yang ditutup dengan kertas-kertas majalah bekas. Warna-warni dan penuh gambar. Iya. Tapi saya juga sering bikin yang bertema. Flora Wodangange bahkan pernah membawakan saya majalah yang beberapa halaman sudah dia tandai untuk dipakai menutup desk-organizer pesanannya; tema alam.

Baca Juga: Teknologi Dasar

Contoh desk-organizer buatan saya. Ini bukan hasil yang paling pertama sih. Yang paling pertama itu sampai sekarang masih duduk manis di meja kerja Kakak Shinta Degor. Sedangkan yang ini masih duduk manis di meja kerja Kakak Ully Ngga'a:


Pesanannya memang begitu, ada kotak untuk meletakkan amplop (memanjang), kotak alat tulis, kotak staples/hekter, dan lain sebagainya. Mereka bahkan suka kalau penutupnya menggunakan kertas/halaman majalah bekas. Bangga dan bahagian setiap kali melihat barang-barang kerajinan tangan ini masih dipakai oleh pemesan. Semakin ke sini desk-organizer tidak menggunakan halaman majalah bekas saja. Ada yang yang di-cat, ada yang saya padukan dengan keranjang mini, ada pula yang menggunakan kertas khusus (kertas kado) bertema. Suka-suka yang memesan.

Sebenarnya saya ingin sekali memotret meja kerja saya, namun desk-organizer di meja kerja saya entah hilang ke mana. Mungkin saat pindahan ruang kerja dari lantai dasar ke lantai tiga. Yang tersisa di meja kerja saya adalah komputer, tumpukan buku, map holder, dan foto keramat: Mamatua, saya, dan Rara. Itu foto tak boleh hilang! Tuh kaaaan, jadi kepingin bikin lagi desk-organizer untuk meja kerja sendiri. Supaya rapi dan cantik seperti pemilik meja kerjanya. Hihihi.

Karena hari ini bukan saatnya #RabuDIY melainkan #SelasaTekno, jadi saya tidak menulis tentang produk #DIY atau craft hasil buatan sendiri, melainkan tentang sebuah terobosan desk-organizer yang ciamik sekali. Seperti biasa, semua sumber baik informasi dan foto saya peroleh dari Yanko Design, saya tidak perlu menulis terus-menerus sumber gambarnya. Noted, ya.

Re:Ease


Sesuai judul pos ini, inilah teknologi yang bakal bikin meja kerja menjadi jauh lebih rapi dan terlihat sangat clean. Ini dia, Re:Ease.


Terlihat sangat menawan. 

Re:Ease dibikin oleh Marc Stueber dan Laurent Hartmann. Re:Ease merupakan desk-organizer yang cerdas yang terdiri dari enam modul yang berdiri sendiri namun juga dapat digandeng karena dilengkapi dengan magnet. Didesain sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan para pekerja dengan warna putih yang membikinnya terlihat so clean. Kalian lihat foto di atas ... siapa sih yang tidak ingin punya desk-organizer macam itu? Saya saja ngiler to the max *dicibirin dinosaurus*.

Fitur Re:Ease


Re:Ease mempunyai enam modul berbentuk geometris dengan fitur-fitur antara lain: 

1. Pelubang kertas.
2. Rautan.
3. Stapler.
4. Dispenser selotip.
5. Planter.
6. Dok pengisian daya untuk smartphone.
7. Dudukan pena untuk: pensil, stabilo, dan catatan.

Keenamnya dalam slot/unit individual, alias berdiri sendiri, namun dapat pula digandeng satu sama lain karena setiap unit mempunyai basis magnet untuk saling tarik-menarik. Haha! Uh wow sekali kan? Untuk lebih jelasnya, coba lihat gambar berikut ini:




Bisa dipisah, bisa disatukan. Sungguh fleksibel.

Untuk desk-organizer sekeren ini dibanderol harga sekitar 1,6 Juta. Entah kalau masuk ke Indonesia berapa harganya. Pasti lebih mahal.

Eits!

Jangan-jangan ada dari kalian yang sudah memakainya? Ih, bikin iri.

Baca Juga: Teknik Airbrush

Jadi itu dia Re:Ease yang saya bahas hari ini. Desk-organizer yang bikin meja kerja kita menjadi jauh lebih rapi dan tentu cantik!



Cheers.

Monday, March 25, 2019

Manis Akustik


Boleh ngakak dulu?

Ha ha ha ...

Suatu malam di Stadion Marilonga, di sela-sela pertandingan sepak bola dari Triwarna Soccer Festival, kami berkumpul di ruangan media center. Di pojok ruangan yang juga dijadikan tempat penyimpanan segala barang yang berhubungan dengan event ini, berdiri gitar listrik bass, gitar listrik melodi, gitar akustik, dan sebuah gendang berdiri. Saya sendiri sering memainkan gitar akustik tersebut, melatih jari-jemari yang selalu kesulitan dengan kunci seperti F, B, dan Bm. Jangan tanya lah. Saya cuma bisa G, C, D, Dm, A, Am, E, Em *diketawain dinosaurus*.

Baca Juga: TSF 'Story

Kembali pada suatu malam di ruangan media center ...

Kebetulan malam itu si Tino Tiba, anggota Seksi Acara tetapi terkenal sebagai musisi keren Ende, duduk bersama saya. Kami menemani Rikyn Radja yang sedang makan malam. Kami sendiri sudah duluan makan. Kebetulan ada musisi ini, si Tino, saya memperdengarkan lagu 100 Times Better dari The Willis Clan. Harapannya dia bakal nemu chord termudah dari lagu itu. Eh ketemu! Jadilah saya menyanyikan lagu favorit itu sambil membayangkan bisa melakukan gerakan dance-nya, hihihi. Waktu saya nyanyikan lagu itu, Rikyn sudah selesai makan, lantas mendengungkan semacam back-vocal begitu. Seru lah.

Setelah 100 Times Better, kita nyanyiin Love Yourself dari Justin Bieber. Waaaah asyiknya. Sampai-sampai salah seorang anak pedagang asongan yang kebetulan meloi (mengintip) bertahan di meja tempat kami berkumpul. Dia sangat menikmati. Busyet, dek! Bayar sini! Haha. Kalau kalian membaca pos #PDL Default Perusuh Pengamen ini, kalian pasti tahu saya sangat suka bernyanyi meskipun suara pas-pasan nyaris sesak.

Rikyn kemudian me-request lagu Yesterday dari The Beatles. Ayok, siapa takut? Ndilalah, setelah satu kali menyanyikan Yesterday, ide-ide gila mulai bermunculan. Kami harus merekamnya. What? Saya cuma ngakak melihat Rikyn memindahkan gendang berdiri ke dekat kami. Saya semakin ngakak waktu Tino mengajak si anak pedagang asongan, sebut saja namanya Boy, memukul botol bekas UC1000 dengan batu. Koplak benar. Lebih koplak karena yang murni musisi hanyalah Tino sedangkan kami? No no no. Kehancuran terjadi saat Rikyn dengan bebasnya menepuk gendang sehingga Yesterday dari The Beatles itu terdengar seperti lagu melayu!

Ha ha ha ...

Ternyata, hasilnya asyik juga. Asyik untuk lucu-lucuan. Dan semakin lucu ketika Rikyn berkata: KEMBALI LAGI BERSAMA KAMI CABUL-CABULAN AKUSTIK.


Rikyyyyyn! Please, deh. Cabul semua donk kita. Walhasil, dengan spontanitas yang luar biasa, muncul nama MANIS AKUSTIK dari bibirnya. Terberkatilah saya bersahabat baik dengan orang-orang ini. Mereka luar biasa ... luar biasa bikin pengen jitak haha.

Ini dia hasilnya. BURAM. Ya, saudara-saudara, penerangan di ruangan itu sedang sangat manja. Sebenarnya ini lagu pertama, tapi yang pertama tidak direkam kan, hehehe.



Hasil yang buram itu memang saya sengaja tidak mempermanisnya (baca: gagal mempermanisnya) menggunakan tools pengeditan video di laptop. Saya hanya menyuntingnya menggunakan telepon genggam dengan aplikasi KineMaster gratisan. Saya pikir, mau apa lagi yang diubah? Toh kami hanya ingin bersenang-senang, hehe, tidak ada niat untuk membikin video terbaik dan terbagus sama sekali. Kalau mau bikin video terbaik dan terbagus mah, tidak bisa dadakan begini, kudu diniatin sungguh-sungguh.

Tak cukup satu lagu, kami kembali beraksi di lagu berikutnya. Gang Kelinci. Dan hasilnya pun masih, tentu saja, buram to the max


Tapi kami gembira melihat hasilnya seperti itu. Karena yang penting adalah melewatkan waktu bersama sahabat dengan melakukan hal-hal gila adalah intinya.

Baca Juga: Konsisten Nge-blog Setahun

Tidak ada obsesi apa pun dari Manis Akustik, sumpah menulis nama itu saya ngakak membahana, murni kami hanya ingin bersenang-senang di tengah kegiatan menjadi panitia TSF. Lagi pula, meskipun profesi kami berbeda-beda, kami punya kaki yang sama-sama tertanam di lini musik. Tino Tiba adalah musisi. Rikyn Radja adalah koreografer sekaligus anggota Spiritus Sanctus Choir. Saya? Aaaah saya cuma perusuh pengamen yang doyan nyanyi meskipun modal suara pas-pasan nyaris sesak. Yang penting senang-senangnya itu kan ya. Hehe.

Jangan lupa nonton video-video saya di Youtube ya, ingat subscribe, ingat like *halaaah*. Hahaha. Mohon maaf, tidak ada video yang bagus yang bisa saya tawarkan di akun Youtube saya *menunduk dalam*.



Cheers.

Saturday, March 23, 2019

Relikui Kematian #1


Harry Potter memang telah lama selesai. Buku terakhir seri ini, Harry Potter and The Deathly Hallows, diterbitkan tahun 2007, sedangkan filemnya dirilis tahun 2010 (Bagian 1) dan tahun 2011 (Bagian 2). Meskipun telah selesai, kisah spektakuler dari dunia sihir a la J.K. Rowling yang pernah ditolak oleh penerbit ini masih terus menyihir kehidupan saya. Ketika prekuelnya yaitu Fantastic Beast and Where to Find Them serta Fantastic Beast The Crimes of Grindelwald dirilis, otomatis memori kita tentang Harry Potter muncul ke permukaan. Bagaimana tidak? Pernah dulu waktu masih hangat-hangatnya, saya sering sekali mengucapkan mantera-mantera dari serial tersebut seperti Stupefy.

Baca Juga: Survival Movies

Kisah utama buku ke-tujuh Harry Potter, sesuai judulnya, adalah The Deathly Hallows atau Relikui Kematian. Di dalamnya kalian akan menemukan pengembaraan tiga serangkai yaitu Harry, Ron, dan Hermione dengan misi mencari dan menghancurkan horcrux-horcrux milik Voldemort agar si penyihir terhitam dan terjahat itu melemah dan mudah dikalahkan. Misi yang tidak mudah karena Albus Dumbledore hanya menyisakan sedikit petunjuk setelah kematiannya. Selain itu, misi mereka lainnya adalah mencari tahu tentang simbol Relikui Kematian yang tergambar pada lembar demi lembar buku warisan Albus Dumbledore untuk Hermione. Buku itu berjudul The Tales of Beedle and Bard. Simbol Relikui Kematian juga dipakai oleh Xenophilius Lovegood (ayah Luna Lovegood) dalam bentuk bandulan kalung. Hermione juga melihat simbol Relikui Kematian pada makam Ignotus Peverell di Godric's Hollow.

Kisah Tiga Bersaudara Peverell


Relikui kematian adalah tiga benda keramat yang diciptakan dan diberikan oleh Kematian kepada tiga bersaudara yaitu Antioch Peverell, Cadmus Peverell, dan Ignotus Peverell. Kisah ini berada dalam buku The Tales of Beedle and Bard.

Alkisah ... ada tiga orang bersaudara berjalan jauh melalui jalanan sepi dan berkelok saat senja. Dalam perjalanannya mereka sampai di sungai yang berbahaya uuntuk diseberangi. Tapi mereka mempelajari ilmu sihir. Mereka dengan mudahnya melambaikan tongkat dan membuat sebuah jembatan. Akan tetapi sebelum mereka bisa menyeberang, jalan mereka dihalangi oleh seorang yang berkerudung. Itu adalah Kematian, dan dia merasa tertipu. Tertipu karena biasanya para pengelana akan tenggelam ke dalam sungai. Tapi kematian sungguh licik. Dia berpura-pura memberi selamat pada tiga bersaudara itu atas sihir mereka dan dan berkata bahwa masing-masing dari mereka mendapatkan hadiah karena cerdas menghindarinya.

Maka saudara yang tertua, Antioch, meminta tongkat yang lebih kuat dari tongkat lain. Lalu Kematian menciptakan tongkat buatnya dari Pohon Elder yang ada di dekat situ. 

Saudara yang kedua, Cadmus, memutuskan bahwa dia ingin menghina Kematian lebih jauh lagi dan meminta kekuatan untuk menghidupkan orang-orang yang dicintai dari kematian. Lalu Kematian mengambil sebuah batu dari pinggir sungai dan berikan itu padanya. 

Akhirnya, kematian bertanya pada saudara yang ketiga dan termuda yaitu Ignotus. Seorang pria yang sederhana. Dia meminta sesuatu yang dapat membuatnya pergi dari tempat itu tanpa diikuti oleh kematian. Dan kematian dengan sangat segan menyerahkan Jubah Gaib miliknya. 

Saudara pertama bepergian ke sebuah desa yang jauh dimana dengan Tongkat Elder di tangannya dia membunuh seorang penyihir yang bertengkar dengannya. Mabuk dengan kekuatan Tongkat Elder yang diberikan kepadanya dia membual akan kehebatannya. Tetapi di malam itu penyihir lain mencuri tongkat itu dan menggorok leher saudara itu sebagai tambahan. Dan Kematian mengambil saudara pertama itu sebagai miliknya.

Saudara kedua pulang ke rumahnya dimana dia membawa batu itu dan memutarnya tiga kali di telapak tangannya. Dia sangat senang ketika gadis yang dinikahinya yang keburu meninggal muncul di depannya. Namun sang gadis itu sedih dan dingin karena dirinya tak layak di dunia manusia. Gila karena kerinduan yang sia-sia saudara kedua membunuh dirinya agar bisa menyusul gadis itu. Dan Kematian mengambil saudara kedua itu sebagai miliknya.

Sementara saudara ketiga, bertahun-tahun kematian mencarinya namun tak bisa menemukannya. Hanya ketika ia sudah tua, saudara termuda itu memberikan jubah gaib itu pada puteranya. Dia menyambut Kematian bak teman lama dan pergi bersama Kematian dengan bahagia meninggalkan kehidupan ini.

Itulah kisah tiga bersaudara Peverell dengan Relikui Kematian.

Relikui Kematian


Ada tiga benda keramat Relikui Kematian. Jika seorang penyihir memiliki ketiganya maka akan dapat menjadi penguasa kematian. Dia dapat menjadi sangat mematikan dengan Tongkat Elder, dia dapat membangkitkan kematian dengan Batu Kebangkitan, dia pun dapat bersembunyi dari Kematian serta melindungi dua benda keramat lainnya dengan Jubah Gaib.


Siapa yang pernah memegang ketiga benda ini? Albus Dumbledore dan Harry Potter. Jubah Gaib telah menjadi milik Harry sejak lama, diserahkan oleh Albus Dumbledore atas wasiat ayah Harry yaitu James Potter. Batu Kebangkitan diwasiatkan oleh Albus Dumbledore kepada Harry, yang disembunyikan di dalam snitch wasiat tersebut. Sedangkan Tongkat Elder diperoleh Harry setelah melucuti Draco Malfoy di rumah penghuni Asrama Slytherin tersebut (kesetiaan tongkat kepada pemilik baru meskipun fisik si tongkat berada di tangan orang lain). Karena tanpa Draco sadari, dialah yang melucuti Tongkat Elder dari Albus Dumbledore sebelum Kepala Sekolah itu dibunuh oleh Profesor Snape.

Tongkat Elder


Tongkat Elder atau Elder Wand merupakan tongkat kepunyaan Albus Dumbledore. Inilah tongkat yang diminta Antioch Peverell kepada Kematian. Dalam dunia sihir, setiap penyihir mempunyai tongkat mereka masing-masing. Ada dua pembuat tongkat yaitu Ollivander dan Gregorovitch (di Bulgaria). Setelah dibunuh oleh penyihir lain, maka tongkat milik Antioch itu kemudian menjadi milik Gregorovitch. Si pembuat tongkat sihir yang bangga karena memiliki Tongkat Elder dan merasa puas karena bisa lebih populer dari Ollivander. Sayangnya tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Gellert Grindelwald. Entah bagaimana caranya. Mungkin Grindelwald mencuri setelah membikin pingsan si Gregorovitch.

Baca Juga: Sisi Lain Dunia Gulat Dalam Dangal

Karena ... menurut penuturan Ollivander ... sebuah tongkat sihir akan menjadi pemilik sah penyihir lain jika penyihir pemilik sebelumnya dilucuti, dipingsankan, atau dibunuh. 

Gambar diambil dari sini.

Pemilik Tongkat Elder selanjutnya adalah Albus Dumbledore setelah mengalahkan Gellert Grindelwald. Lalu menjadi milik Draco tanpa dia ketahui, setelah melucuti Albus Dumbledore, sebelum Kepala Sekolah bijak itu dibunuh oleh Profesor Snape. Dan ketika Harry melucuti Draco, tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Harry.


Demikianlah perjalanan panjang Tongkat Elder sebelum kemudian dicuri oleh Voldemort dari makam Albus Dumbledore. 

The Last Duel


Pertarungan terakhir antara Voldemort dan Harry tidak dapat terelakkan. Terutama setelah semua horcrux Voldemort dihancurkan. Fyi, horcrux adalah wadah tempat penyihir hitam menyimpan sobekan/pecahan/bagian dari jiwanya untuk mencapai keabadian. Horcrux terakhir yang dihancurkan adalah Nagini saat si ular hendak menyerang Ron dan Hermione. Adalah Neville Longbottom yang melakukannya, menggunakan Pedang Gryffindor. Voldemort membagi jiwanya menjadi delapan; tujun disimpan pada horcrux dan satu pada dirinya sendiri.

Pada pertarungan terakhir itu, Voldemort menggunakan Tongkat Elder, sedangkan Harry menggunakan tongkat milik Draco Malfoy. Namun, lagi-lagi mengingat siapa kepemilikan sah Tongkat Elder, tongkat itu tentu loyal kepada pemiliknya yang sah. Maka ... Voldemort kalah total dan Tongkat Elder, fisik si tongkat, berada di tangan si pemilik yang sah yaitu Harry. Luar biasa, sungguh, penggambaran pertarungan terakhir itu.

Menariknya tentang Tongkat Elder yang loyal pada Harry ini juga bisa terlihat pada pertarungan di Hutan Terlarang. Saat itu harusnya Harry mati lah. Diserang begitu rupa sama penyihir terjahat, terhitam, terkuat. Tapi loyalnya Tongkat Elder pada Harry tidak mampu membuat si tongkat mengikuti kehendak Voldemort. Harry hanya dibikin pingsan sesaat (rohnya bertemu Albus Dumbledore serta orang-orang mati lainnya) dan kembali bernafas. Ada juga yang menyebutkan bahwa semua itu karena perlindungan Lily Potter pada sang anak ajaib ini.

Kasihan juga si Voldemort. Dia berpikir Profesor Snape lah yang menjadi pemilik Tongkat Elder karena si profesor lah yang membunuh Albus Dumbledore. Tidak dia ketahui bahwa Draco lah yang seharusnya dia bunuh, bukan Profesor Snape, karena Draco lah yang melucuti Albus Dumbledore.

Baca Juga: Bodo Amat

Bagaimana dengan Batu Kebangkitan? Bukankah kalau Harry mati saat di Hutan Terlarang, toh dia bisa bangkit lagi? Bukankah Albus Dumbledore pasti punya tujuan tertentu memberikan Batu Kebangkitan pada Harry? Ada dua teori tentang hal ini yang akan saya tulis minggu depan. Haha. Nantikan, ya!


Tongkat Elder pada akhirnya tidak menjadi milik siapa-siapa. Karena Harry mematahkannya dan membuang ke jurang. Maka satu-satunya benda keramat Relikui Kematian yang masih berada di tangan Harry adalah Jubah Gaib. Bagaimana kisah dua benda keramat lainnya? Nanti ya, kita lanjut di pos #SabtuReview minggu depan!

Selamat berakhir pekan, selamat menonton ulang Harry Potter.



Cheers.

Friday, March 22, 2019

Masak di Kantor


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Di ruang kerja saya, oleh KTU yang lama yang itu Mila Wolo, tersedia berbagai barang yang sering kalian lihat di rumah tangga. Mulai dari dispenser, piring, mangkuk, gelas, stoples kopi, stoples gula, stoples teh, stok kopi kemasan (sachet), ember dan sabun cuci piring, sampai kompor listrik mini! Jadi jangan heran, ide-ide untuk menyenangkan diri kala bosan melanda selalu saja datang. Oia, di ruang kerja mana pun di Universitas Flores, siapa yang mengotorkan gelas, dia wajib mencuci. Layani diri sendiri. Cleaning service tidak bertugas mencuci piring dan/atau gelas kotor. Mereka hanya bertugas membersihkan jendela, kusen, menyapu, mengepel, merapikan, dan lain-lain.

Baca Juga: Fobar

Kompor listrik mini ini menjadi salah satu andalan kami apabila kantin tutup. Waktu masih di lantai bawah (lantai dasar) hampir setiap hari saya ke kantin sih. Tapi setelah pindah ke lantai tiga, duuuh rasanya beraaaat ke kantin. Berat kembali ke lantai tiganya! Oke, kita lanjutkan. Jadi, suatu kali, Kakak Rosa Budiarti membawa mie, telur, dan cabai dari rumah karena kantin disinyalir bakal tutup selama beberapa hari. Saya kebagian juga donk. Maka kami memanfaatkan si kompor listrik.


Uh la la. Cetartos rasanya. Karena membikinnya di kantor, bukan di rumah, dan dinikmati saat masih panas. Lidah boleh melepuh yang penting kebosanan lenyap *halah*. Yang utama adalah memasak di kantor ini tidak dilakukan saat rush hour. Sekitar pukul 12.00 Wita lah baru kami mulai mengeluarkan bahan baku dan si kompor listrik mini.

Hyess! Pernah, saya pernah melakukannya. Memasak di kantor dan untung tidak ketahuan boss. Hihi. Bagaimana dengan kalian?


Cheers.

Thursday, March 21, 2019

5 Komoditas TSF


Berbicara tentang Triwarna Soccer Festival memang tidak ada habisnya. Selalu ada cerita, selalu ada bahan bekal pos blog. Boleh saya bilang ini tempat berburu dengan konten terkaya. Kali ini saya menulis tentang komoditas andalan yang rajin wara-wiri di sekitar Stadion Marilonga tempat event ini berlangsung. Komoditas yang dijual baik oleh para papa lele (pedagang kaki lima), pedagang asongan, maupun UMKM. Tapi sebelumnya, mari kita simak apa itu komoditas?

Baca Juga: 5 Jawara Mural

Menurut Wikipedia, komoditas adalah sesuatu benda nyata yang relatif mudah diperdagangkan, dapat diserahkan secara fisik, dapat disimpan untuk suatu jangka waktu tertentu dan dapat dipertukarkan dengan produk lainnya dengan jenis yang sama, yang biasanya dapat dibeli atau dijual oleh investor melalui bursa berjangka. Secara lebih umum, komoditas adalah suatu produk yang diperdagangkan, termasuk valuta asing, instrumen keuangan dan indeks.

Oleh karena itu, tidak salah jika setiap kali kata komoditas melintas di kepala saya, yang terbayang adalah hasil bumi (pertanian/perkebunan), hasil laut, dan hasil peternakan. Dan, tentu saja, sesuai judul pos ini, ada lima komoditas yang paling rajin wara-wiri di sekitar Stadion Marilonga pada hari-hari TSF berlangsung. Apa sajakah komoditas itu?

Cekidot!

1. Kopi


Kopi adalah komoditas dari hasil bumi yang paling utama dibutuhkan oleh orang-orang baik Panitia TSF, pengunjung pameran, maupun penonton pertandingan sepak bola. Jadi yang namanya kopi ini tidak pernah kehabisan stok. Thika Pharmantara yang tidak biasa ngopi pun akhirnya doyan.


Penyajian kopi berbeda-beda, tergantung siapa penjualnya. Apabila penjualnya pedagang papa lele, maka kopi disajikan di gelas kaca, tapi pembeli dapat meminta mengganti gelas kaca dengan gelas plastik (lagi-lagi gelas plastik) untuk dibawa alias tidak minum di tempat. Apabila penjualnya dari Komunitas Kopi Sokoria atau Komunitas RMC Detusoko maka mereka menyajikan kopi menggunakan gelas kertas lengkap dengan tutupannya. Sama juga dengan gelas dari brand TOP (Kopi TOP) yang umumnya menggunakan gelas kertas (panitia dapat gratisan ini setiap harinya, hahaha).

Selain kopi yang telah diseduh, ada pula kopi kemasan yang siap dibeli (sudah dalam bentuk bubuk). Komunitas Kopi Sokoria dan Komunitas RMC Detusoko menyediakannya. Berjenis umumnya Arabika dengan macam-macam merek lokal. Tapi jangan salah, merek lokal ini sudah sampai ke daerah lain di Indonesia bahkan luar negeri. Menariknya, di tenda pameran Komunitas Kopi Sokoria, pengunjung bisa turut menumbuk kopi cara manual, serta penjaga tendanya pada setiap Malam Minggu mengenakan pakaian adat Ende.

2. Jagung


Siapa yang tidak suka jagung? Di TSF jagung merupakan komoditas yang turut mewarnai proses penambalan perut hehe. Ada dua macam olahan jagung yaitu jagung rebus dan jagung bunga atau disebut brondong. Umumnya jagung rebus yang dijual itu kami sebut jagung manis. Karena rasanya maniiis banget! Namun, saya belum melihat penjual jagung rebus selama ini.


Seorang pedagang asongan dan keranjang dagangannya.

Entah berapa banyak kilogram jagung yang terjual setiap harinya. Yang jelas, tiada hari tanpa jagung baik rebus maupun brondong dan laris manis!

3. Telur Rebus


A-ha. Ini dia yang paling saya cari kalau lagi pengen makan Pop Mie. Sedap, tahu, Pop Mie ditambah telur rebus. Jadi, salah satu pala lele langganan saya itu hafal betul permintaan saya dari setiap event. Iya, kan kami nge-date terus dari El Tari Memorial Cup, EGDMC, sampai TSF ini. Makanya dia khusus siapkan Pop Mie dan telur rebus serta mencari saya untuk ngasih tahu kalau kesukaan saya itu sekarang ready stock di lapaknya.


Suatu kali dia bilang begini: Pop Mie telur tersedia, Ibu. Saya balas: Dangdut mie ada? Dia tergelak sambil geleng-geleng kepala.

4. Keripik


Di TSF keripik termasuk yang paling dicari. Orang Ende bilang: keripik enak untuk Oma Ami. Dan dua komoditas kripik utama yaitu keripik pisang dan keripik ubi/singkong. Khusus keripik ubi/singkong ada varian rasa. Balado? Ada! Keju? Ada juga dooonk. Eh, saya belum sempat memotret keripik. Nanti ya hahaha.

5. Kacang Ijo


Satu gelas (ya, plastik lagi) seharga lima ribu. Siapa sih yang tidak mau? Saya? Pasti mau lah! Tapi anehnya saya lebih suka kacang ijo yang isiannya lebih banyak mutiara ketimbang si kacang haha. Daaaan saya suka meminta es batu kepada penjualnya meskipun sedang hujan.


Ah sedapnya.

Baca Juga: 5 Mural Favorit

Berbicara tentang TSF memang tidak ada matinya! Selalu ada cerita, hehehe. Dan harapan saya, kalian tidak bosan membaca pos-pos di sini. Siapa tahu terhibur. Bahwa di kota kecil nun jauh di Timur, selalul ada hal-hal yang menarik untuk diketahui *halaaah* haha.

Oia, ada satu foto yang pengen saya pos juga kali ini. Ini fotonya waktu saya secara sengaja memotret Kakak Rikyn Radja yang sedang mengumumkan laga berikutnya serta aturan-aturan yang wajib diketahui oleh para supporter maupun penonton. Yang tidak disengaja adalah KILAT SAMBAR POHON KENARI yang muncul di jauh sana:


Momen yang pas, tapi tidak disengaja :D hehe.

Selamat mempersiapkan akhir minggu ya, kawan. Semoga apa yang kita lakukan setiap hari selalu bermanfaat.


Cheers.

Wednesday, March 20, 2019

Bunga Dinding


Hola! Ketemu lagi di #RabuDIY. Harinya kita berkreasi sepuas-puasnya. Hehe. #RabuDIY kali ini akan membahas tentang bunga hiasan dinding. Saya sering melihat bunga hiasan dinding atau bunga dinding ini di rumah orang-orang; keluarga, tetangga, teman. Bunganya menempel pada rangka dan biasanya sepasang. Rangka bunga dinding ini ada yang berbahan kayu tetapi kebanyakan berbahan plastik, sama seperti bahan bunga itu sendiri. Ya, plastik memang ada di mana-mana.

Baca Juga: Baskets

Suatu kali, saat sedang menganyam keranjang-keranjang pesanan, saya dikirimi gambar oleh Mila Wolo. Gambar itu adalah gambar bunga hiasan dinding dengan rangka terbuat dari kayu. Dia bertanya apakah saya bisa membikinnya? Saya menyanggupi tapi dengan satu syarat: tidak sama persis dengan gambar yang dia kirimkan. Gambar itu kira-kira seperti di bawah ini yang saya ambil dari Ali Express:


Awalnya saya memikirkan kayu sebagai bahan rangkanya karena besi tidak lah mungkin. Tapi demi memperoleh kayu-kayu itu saya harus pergi ke bengkel kayu untuk meminta atau membeli kayu-kayu bekas berukuran panjang dua puluh sampai tiga puluh senti meter dengan lebar sekitar lima senti meter. Putar otak ke kanan ke kiri, dibantu dinosaurus yang jungkir balik sampai giginya rontok, nonton ragam video tentang proyek-proyek DIY di Youtube, maka ... TRING! Muncul ide itu. 

Mari simak ... bagaimana membikin si bunga dinding ini.

Peralatan


1. Gunting.
2. Cutter.
3. Lem PVA (Webber).
4. Lem tembak (hot glue).
5. Mistar.
6. Alas kaca/keramik supaya mejanya tidak terluka.

Bahan-Bahan


Bahan-bahan untuk membikin bunga hiasan dinding ini sebagian besar merupakan barang bekas (yuk didaur ulang).

1. Botol plastik bekas air mineral.
2. Kardus.
3. Pipa kertas.
4. Cat.
5. Benang kasur.
6. Kertas HVS.

Cara Membuat


Potong botol plastik bekas air mineral dengan keutamaan bagian bawah/pantat botolnya. Ikuti bentuk bintang pada bagian itu, dan gunakan gunting untuk membentuk kelopak bunga. Ini hal yang mudah, menurut saya, hehehe. Penampakannya seperti pada gambar di bawah ini:


Jumlah bunganya tergantung kebutuhan. Silahkan dibikin sebanyak-banyaknya karena siapa tahu kalian bakal bikin banyak. Setelah selesai dengan membentuk bunga-bunga ini, langkah berikutnya adalah memberi warna. Saya menggunakan cat minyak/kayu warna merah dan pink:


Pada foto di atas, belum saya beri warna pink pada bagian garis/bintangnya. Biarkan cat mengering. Karena bahannya plastik, jelas tidak bisa menggunakan kipas angin, jadi dikeringkan secara alami dan lebih bagus lagi jika di bawah sinar matahari.

Baca Juga: Monotuteh

Urusan bunga beres, mari bikin rangkanya. Sayang waktu itu saya tidak memotret proses membikin rangka. Yang jelas saya membikin rangka berbahan karton bekas kardus yang dipotong sama ukuran. Karena karton bakal kardus yang saya gunakan itu tipis, maka dipertebal dengan menyatukan dua sampai tiga buah. Lalu dibungkus kertas HVS. Bakal 'kayu tipuan' ini di-cat cokelat, sesuai warna kayu dalam bayangan saya. Apabila cat kayu telah mengering, maka dapat dibentuk rangkanya.

Langkah terakhir adalah menempelkan bunga-bunga plastik ke rangka kayu menggunakan lem tembak. Penampakan hasil akhirnya seperti gambar berikut ini:


Gambar di atas sudah saya beri nomor:
1. Bunga plastik.
2. Rangka kayu tipuan :p.
3. Pemanis.
4. Tali.

Pemanis ini terbuat dari pipa kertas yang digulung, di-cat, dan ditempelkan. Awalnya saya tidak memikirkan soal ini, tapi dalam perjalanan pengerjaan, muncul ide-ide baru. Hehe.

Bunga dinding ini tidak saja dapat kita buat menggunakan botol plastik bekas tetapi juga berbagai bahan yang ada di rumah sesuai keinginan. Misalnya, bunga plastik dapat diganti dengan gulungan koran yang ditumpang-tinding dari besar ke kecil (bisa dua, bisa tiga, jangan lebih nanti terlalu berat). Bisa juga bunga-bunga dari koran yang membikinnya sangat mudah!

Yang menyenangkan hati adalah bunga hiasan dinding pesanan Mila ini masih tergantung manis di dinding ruang tamu rumahnya. Melihat bunga itu, ada kepuasan terhakiki. Hasil karya kita, meskipun dia memang membayar, dihargai dengan terus dipakai. Tak hanya bunga dinding itu saja, masih banyak barang hasil daur ulang yang saya bikin yang masih dipakai oleh teman-teman. 

Baca Juga: Hiasan Dinding DIY

Bagaimana, kawan? Menarik bukan? Saya yang tidak seberapa telaten ini bisa membikinnya, saya jamin kalian juga pasti bisa membikinnya. 


Cheers.

Tuesday, March 19, 2019

Teknologi Dasar

Sumber: Youtube.

Kehidupan umat manusia melaju pesat. Dalam kehidupan sehari-hari kita telah melupakan caranya membikin api menggunakan gesekan kayu atau batu karena bermodalkan Rp 500 kita sudah dapat membawa pulang korek api dari kios/warung. Lebih praktis lagi, tinggal membeli pemantik seharga Rp 1.000! Kita juga tidak perlu pusing memikirkan cara menyuling air besih dari air yang disediakan alam karena sudah ada PDAM yang menyediakannya. Listrik? Mana perlu kita repot berpikir membikin obor karena sejumlah uang telah membikin token listrik kita terpenuhi daya.

Baca Juga: Teknik Airbrush

Tapi, akan sangat menyenangkan apabila kita menonton video tentang teknologi dari dunia lampau yang ditulis primitif. Lalu tanpa sadar kita menyeletuk: oooh begitu ternyata caranya. Menarik sekali menonton video-video tentang kehidupan primitif yang beredar di Youtube. Tentu orang-orang di dalam video tersebut adalah orang-orang zaman sekarang. Hehe. Mereka punya daya kreativitas yang tinggi: memikirkan konsep dengan kembali pada teknologi dasar, membikin video, dan membagikannya dengan kita semua.

Ada beberapa video tentang teknologi primitif yang saya sukai. Diantaranya membangun gubuk berbahan tanah liat, membikin api, membikin anggur dari nangka, menyuling air, hingga memasak ikan/daging dengan mengandalkan batu ceper. 

Mari kita simak beberapa teknologi dasar yang terlupakan ini ... yang utama, yang kita butuhkan sehari-hari.

1. Membikin Api


Di dalam filem Castaway, betapa putus asanya Chuck Noland (Tom Hanks) saat membikin api. Api tidak kunjung menyala, tangannya terluka parah. Tapi niatnya sungguh genap. Atas dorongan Wilson (sahabat halu; sebuah bola yang tercap darah dari tangannya), Chuck berhasil membikin api melalui gesekan kayu pada kayu lainnya. Salah satu rahasianya adalah beri ruang pada angin! Video membikin api bisa dilihat pada video karya Primitive Technology Idea yang satu ini. Yang jelas, seperti kata Chuck dalam Castaway, jangan lupakan angin! Berilah ruang pada angin untuk menghasilkan api.

2. Menyaring Air


Pada video milik Survival Skills Primitive kalian akan tahu bagaimana caranya menyaring air (kotor/alam) menjadi air bersih. Ada beberapa lapisan yang dibutuhkan untuk menyaring air ini: ranting, batu, pasir, yang ditumpuk. Silahkan lihat sendiri videonya. Nah, air ini bisa dimasak menggunakan api yang dibikin sendiri seperti pada poin nomor satu di atas. Tapi, bagaimana dengan panci memasak? Untuk memasak air, orang zaman baheula menggunakan pot tanah liat. Bagaimana membikinnya? Mudah saja ... mudah bagi mereka ... sulit bagi saya. Haha.

3. Membikin Pot Tanah Liat


Membikin pot tanah liat atau clay pot membutuhkan bahan dasar tanah liat itu sendiri. Pada video milik Primitive Skills ini kalian akan melihat teknologi membikin pot tanah liat dengan teknologi yang lebih canggih. Mereka sudah bisa membikin pot tanah liat menggunakan alat putar yang juga dibikin sendiri menggunakan kayu. Pot tanah liat pada zaman baheula punya banyak manfaat. Kalau zaman sekarang sih setiap masakan ada alatnya masing-masing: panci kukus, panci rebus, wajan dalam, wajan dangkal (Teflon sangat ternama).

4. Membikin Gubuk


Ada banyak macam gubuk yang dibikin. Ada yang berbahan kayu ada pula berbahan batu dan tanah liat. Salah satu channel yang sangat saya sukai adalah Tube Unique Wilderness. Video membikin rumah dari bambu dan tanah liat dapat dilihat di sini. Gubuk adalah kebutuhan papan manusia, tempat berlindung dari hujan, badai, panas. Yang paling saya sukai dari Tube Unique Wilderness adalah tokoh yang bekerja di dalam video itu. Terlihat sangat primitive dan penuh kebisuan kecuali natural sound. Indah sekali hidup mereka; banyak aksi, nyaris tidak bicara.


Zaman sekarang, masih adakah kita yang menggunakan teknologi dasar? Tentu tidak. Sesekali, mungkin, teman-teman yang berkemah di alam bebas melakukannya. Tapi rasa-rasanya untuk memasak pun sudah dibawa kompor portabel dari rumah. Mengetahui teknologi dasar yang dilakukan para leluhur kita, adalah pengalaman jiwa yang luar biasa, bahwa betapa beruntungnya kita yang hidup pada zaman sekarang. Semua serba mudah.

Baca Juga: Paper Bed

Bagaimana dengan kalian, kawan? Pernahkah menonton video-video seperti tersebut di atas? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.