I Write My All

LightBlog

#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama in...

Memen


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Meskipun tidak semua, tapi saya yakin sebagian besar orang-orang pasti punya nama samaran. Nama samaran ini juga bisa kita temui pada nama panggung/nama tenar. Nama samaran juga disebut alias, meskipun menurut saya keduanya tidak sama persis. Hampir semua berkas perkara yang saya baca tertera nama asli berikut nama samaran. Contohnya, Alaladun bin Alaladen alias Dinosaurus. Tidak bisa dipungkiri nama samaran ini jauh lebih ngehits dari nama asli yang tercantum di Kartu Keluarga, KTP, Passport, dan Buku Nikah. Charlie Chaplin, misalnya, punya nama asli Charles Spencer Chaplin. Atau Sunan Kalijaga yang punya nama asli Raden Said. Atau Peter Gene Hernandez yang kita kenal sebagai penyanyi kece Bruno Mars.

Baca Juga: Masak di Kantor

Nama samaran bisa diambil dari nama asli namun dipersingkat atau hanya memakai nama depan dan belakang dengan menghilangkan nama tengah, seperti nama Celine Dion yang aslinya Celine Marie Claudette Dion. Bisa juga nama yang benar-benar baru.

Alasan Memakai Nama Samaran/Alias


Ada bermacam sebab orang-orang memakai nama samaran atau nama alias ini. Alasan itu antara lain:

1. Daya Jual
Daya jual sebuah nama memang sangat berpengaruh pada apa yang dijual. Konon katanya begitu. Sehingga begitu banyak artis mengganti nama asli mereka dengan nama samaran/alias yang lebih pendek dan fenomenal agar mudah diingat oleh orang lain/penggemar. Ayu Ting Ting tidak memakai nama Ayu Rosmalina. Nama Ting Ting tentu lebih punya daya jual ketimbang Rosmalina. Sama juga dengan Bruno Mars yang terdengar lebih komersil ketimbang Peter Gene Hernandez.

2. Komunitas/Kelompok
Sunan Kalijaga mempunyai nama asli Raden Said. Dan kita tahu dalam Wali Songo atau Sembilan Wali, semuanya memakai nama depan Sunan untuk menunjukkan kedudukan beliau sebagai orang yang dihormati dan terhormat dari sebuah kelompok agung bernama Wali Songo. Seperti kita kenal Ariel sebagai Ariel Peterpan atau Ariel Noah (keduanya merupakan nama band). Bahkan sampai sekarang saya masih menyebut Anji dengan Anji Drive haha.

3. Identitas Plus
Saya menyebut alasan ketiga ini sebagai Google Plus identitas plus. Ada orang yang karena keberaniannya punya nama samaran Preman atau Brandal. Bahkan saya punya teman kantor punya nama samaran Bandel padahal nama aslinya Eman hehe. Kadang-kadang saya dipanggil Kepala Suku oleh orang-orang. Entah apa alasannya. Kalau kemudian saya dipanggil Putih sama si Yusti, mungkin karena kulit saya sedikit lebih terang dari kulitnya. Dududud ...

Mendadak Punya Nama Samaran


Waktu masih SD dan SMP saya tidak punya nama samaran ini. Kalau mengisi diary (buku bio-data) itu saya mengisi nama samaran dengan nama artis ha ha ha. Mulai punya nama samaran saat SMA. Gara-gara iseng bermain pesawat telepon sampai tagihan membengkak. Kebiasaan masa SMA yang bikin orangtua misuh-misuh.

Dan memang, keisengan saya itu sungguh bikin orang lain keki.

Suatu hari saya sedang sangat bosan. Wiro Sableng sudah tidak ada di rumah karena disumbangkan Bapa pada Perpustakaan Keliling. Komik Tiger Wong dan Tapak Sakti sudah dibaca ulang. Novel Agatha Christie pun demikian. Sementara saya malas menonton televisi. A-ha! Bapa sedang pergi, sehingga sore itu saya memutuskan untuk menggunakan pesawat telepon. Tumben kan kotak pesawat telepon tidak dikunci sama Bapa. Horeeeee!

Saya memilih menelepon Ryan, sahabat sejati, yang baru jadian sama Hilda, yang juga sahabat sejati saya he he he. Yang menerima panggilan adalah Bapaknya. Ketika ditanya, siapa yang menelpon, otak saya bekerja secepat kilat (dan saat itu lagi hitsnya Memes dengan lagu Terlanjur Sayang), dan menjawab: ini dengan Memen. Kalian bisa bayangkan betapa kagetnya Ryan waktu saya bilang saya mantan pacarnya dia yang sudah dia lupakan, pengen nyambung lagi, bla bla bla. Sumpah, menahan ngakak itu pekerjaan tersulit saat itu.

Usai menelepon Ryan, dan meninggalkan segudang tanda tanya, saya pun menelpon Hilda. Pada Hilda saya bilang bahwa saya mantan pacarnya Ryan dan kenapa Hilda merebut Ryan dari saya. Saya tahu semua rahasia Ryan, bla bla bla ...

Dunia sungguh indah ketika kita 'menciptakan skenario' gila :D

Memen


Keesokan harinya, Memen menjadi nama yang fenomenal. Meskipun berusaha mengelak tapi Ryan dan Hilda tahu persis bahwa Memen adalah saya. Mereka mengacak-acak jilbab saya kala itu dan pada akhirnya nama Memen masih bergaung sampai sekarang. Saya suka ... setidaknya kalau tidak bisa menjadi seperti Memes, jadi Memen saja.


Sampai sekarang, kapan pun dan di mana pun, rata-rata semua teman masa SMA masih memanggil saya dengan nama samaran: Memen. Nama ini tidak membawa keberuntungan apa-apa. Berbeda dengan nama samaran Tootyee dan Tuteh (untuk dua nama ini nanti deh ditulis). Meskipun Memen tidak membawa keberuntungan apa-apa pada saya, tapi saya suka karena Memen menjadi begitu terkenalnya *naik-naikin alis*.

Baca Juga: Angry Face

Bagaimana dengan kalian, kawan? Saya yakin Mas Djangkaru Bumi punya nama KTP yang berbeda. Sama juga dengan Om Bisot yang tentu punya nama KTP berbeda. 



Cheers.
loading...

0 komentar:

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.