Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Tuesday, April 30, 2019

Menyiapkan Materi


Meskipun tidak semua, saya yakin ada dari kalian para pembaca yang tutehman, yang pernah membikin materi untuk kegiatan pelatihan ini itu. Om Bisot dan Kanaz, misalnya, dua blogger yang saya kenal paling rajin menjadi pemateri bertema blog, baik latihan membikin blog maupun manfaat lain dari nge-blog. Kami pernah menjadi BAT-man (Bisot, Anazkia, Tuteh) berkolaborasi demi terlaksananya Kelas Blogging NTT dan Kelas Blogging Online. BAT-man yang satu ini tidak ngeronda di Kota Gotham melainkan di WAG.


Tahun 2009, sejak Komunitas Blogger NTT dibentuk, and I don't know how the condition of this community now, saya sudah rajin wara-wiri di kancah pelatihan blog antar galaksi. Saya sadari, banyak orang yang kepo sama dunia blog, tapi setelah belajar bikin blog, banyak pula yang meninggalkannya karena tidak mampu konsisten menulis. Jangankan mereka, saya sendiri pernah tidak konsisten nge-blog. Alhamdulillah tahun 2018 kembalilah saya, si anak hilang, ke ranah per-blogger-an internasional *diseruduk dinosaurus*.

Baca Juga: Smartphone vs DSLR

Kancah pelatihan blog menggiring saya pada malam-malam yang dingin, duduk manis di depan laptop, menyiapkan materi. 

Materi tentang blog yang saya sudah susun itu bejibun! Bayangkan, sudah berjalan sejak tahun 2009. Perlu diingat, saya tidak pernah kopas materi orang lain yang sileweran di internet, karena itu perbuatan yang merugikan diri sendiri. Saya juga tidak menggunakan materi yang sama di setiap kesempatan. Lihat dulu audiensnya (dengan demikian saya tahu materi seperti apa yang bakal disusun, menggunakan karikatur atau tidak, dan lain sebagainya), apa kebutuhan mereka, barulah saya mulai menyusun materinya.

Baru-baru ini saya dihubungi pihak Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Uniflor. FTI bekerjasama dengan Prodi Sejarah dan Prodi Fisika dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) untuk kegiatan yang berhubungan dengan multimedia. Dan saya kebagian memberikan pelatihan blog kepada para pesertanya. Oleh karena itu, kali ini saya bakal mengajak kalian mengintip cara saya menyiapkan materi kegiatan yang berkaitan dengan pelatihan blog. Seperti yang sudah saya tulis di atas, saya tidak pernah menggunakan materi yang sama. 

Setiap kegiatan pelatihan blog punya nyawanya masing-masing ... Mari kita cek ...

Judul


Judul ini penting. Meskipun materinya sama-sama tentang belajar bikin blog atau pelatihan blog, tapi judulnya pasti beda. Pernah saya memakai judul: Mengenal Blog dan Manfaatnya. Pernah juga memakai judul: Apa Itu Blog? Klasik sekali kan ya hahaha *terdengar irama Sonata No 11*. Untuk kegiatan kerjasama FTI dan Prodi Sejarah dan Prodi Fisika, saya menyusun materi baru. Menyusunnya pun tidak selekas jadi, melainkan per tahap, agar hasilnya baik.

Judul apa yang saya pakai kali ini?


Blogging is Fun and Easy. Itu judul yang saya pakai untuk materi baru ini. Alasannya? Karena peserta rata-rata adalah mahasiswa, sehingga perlu menentukan judul yang menarik minat mereka, semacam shock therapy melalui judul. Kenapa pakai bahasa Inggris? Karena lebih singkat saja.

Memilih Template dan Kustomisasi


Sudah pasti saya menyiapkan materi menggunakan Power Point. Ini bagian tersulitnya. Karena apa? Karena template merupakan jalan panjang menuju akhir pelatihan sehingga harus 'bersih' dan 'menarik'. Sudah sering saya berburu template gratisan di internet. Bahkan di laptop pun ada folder khusus template Power Point. Tapi toh ... tetap saja saya kembali ke hutan belantara internet untuk berburu haha. Semacam ada kepuasan tersendiri, sekalian cuci mata, setiap kali berburu template Power Point.

Baca Juga: LED For Camera

Tahukah kalian? Template yang bertema blog itu sangat sulit didapat. Entah saya yang menggali kurang dalam atau memang demikian adanya. Kalaupun ada template tentang blog, sudah pasti berbayar. Oleh karena itu, biasanya saya akan mengkustom template unduhan. Mengganti huruf, mengganti tata letak, dan mengganti gambar, agar sesuai dengan materi kita. Alhamdulillah saya menemukan template bernama Jaques - Slide Carnival. Meskipun bukan template tentang blog, tapi kebutuhan saya bisa dipenuhi oleh template yang satu ini. 

Beberapa hasil mengkustom:

Halaman profil. 

Halaman sub-materi.

Halaman materi (dengan gambar berbeda-beda). 

Saya jatuh cinta sama template ini. Banyak ikon-ikon/gambar yang disediakan pada dua halaman terakhir. Jadi tinggal pilih mau pakai ikon/gambar yang mana, dari bawaan template. Pun gambar dari luar template.

Gambar Pendukung


Sebuah materi tentu membutuhkan gambar pendukung. Bukan gambar materi, itu beda, melainkan gambar pendukung. Contohnya karikatur. Kenapa harus pakai gambar pendukung? Karena sesungguhnya materi pada Power Point itu dasarnya cuma gambar-gambar saja, dengan penjelasan panjang-lebar dari si pembawa materi. Tapi karena you know lah, materi saya juga banyak tulisannya, haha. Saya belum mencapai tahap materi bergambar only. Nantilah ... belajar.

Materi Itu Sendiri


Menyiapkan materi gaya saya ... setelah tiga hal di atas sudah terkumpul dalam satu folder, barulah saya mulai menyusun materinya baik materi tulisan maupun materi gambar. Mungkin beda dengan gaya kalian yang menyusun materinya terlebih dahulu baru kemudian mempercantiknya. Mana-mana suka, sih ... kembali pada kenyamanan masing-masing.

Khusus materi blog, bisa saja saya mengkustom materi lama, tapi bisa juga saya membikin materi baru melalui proses screen shoot dan croping untuk menghasilkan gambar berformat JPG seperti contoh di bawah ini:


Menyiapkan materi tidak bisa sekali jadi, mungkin karena saya kuatir ada kurang sana sini, makanya sering banget ngecek dari halaman pertama meskipun proses sudah mencapai halaman duapuluh. Tapi itu menyenangkan. Sungguh.


Jadi demikian cara/gaya saya menyiapkan materi bakal pelatihan blog. Urutannya selalu sama. Mulai dari judul, kemudian rempong mencari template Power Point dan mengkustomisasi, lantas mencari gambar-gambar pendukung, dan terakhir menyusun materi intinya. Ada kepuasan tersendiri ketika selesai. Tapi, tidak berhenti di situ. Saya masih melatih ulang diri ini untuk membawakan materi itu alias latihan sendiri. Kadang lucu juga ... sambil lihat materi sambil ngomong sendiri seakan-akan laptop adalah peserta pelatihan. Haha.

Jadi ingat, hampir semua hal saya berlatih terlebih dahulu. Berlatih siaran gaya kocak, Berlatih siaran berita, berlatih ngemsi, berlatih bawakan materi, berlatih ini itu. Saya ingat, suatu masa saat saya ngemsi konsek Anima Band di Kota Ende, saya pernah dimarahi EO dari Kota Kupang, karena sebagai MC tidak satu pun kertas yang saya pegang. Iya, saya dimarahi karena katanya; sejago-jagonya seseorang ngemsi, dia butuh contekan. Betul ... malam itu saya dua kali sesi lupa menyebut sponsor makanya dimarahi qiqiqiqi. Pengalaman yang seru.

Baca Juga: Re:Ease

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian semua.



Cheers.

Monday, April 29, 2019

Lomba SUC Endenesia


Stand up comedy (SUC) bukan hal baru di Indonesia. Mulai dari zamannya Ernest Prakasa, Panji Pragiwaksono, Raditya Dika, Abdur, Fico, sampai Ridwan Remin dan Dana. Saya selalu suka menonton SUC. Siapa sih yang tidak suka? Satu orang di panggung bisa bikin satu Indonesia tertawa itu luar biasa. Karena, satu orang di dunia politik bikin satu Indonesia berantem itu sudah biasa. Oleh karena itu, ketika tahu bahwa salah seorang pemuda Ende begitu pandai membikin joke-joke segar dengan muatan lokal, saya pikir itu luar biasa. 

Baca Juga: Politik Itu Abu-Abu

Sudah lama saya mengenal Udo, Facebook: Udo Jee Petruz, mahasiswa Prodi Sastra Inggris Universitas Flores. Minatnya pada dunia stand up comedy didukung bakat ngelucunya yang selalu bisa menghidupkan suasana. Saya dan Iwan Aditya pernah mengundang Udo sebagai bintang tamu dalam program Tuwan Show di Radio Gomezone Flores tahun 2016 dan suasana malam itu pecah sepecah-pecahnya. Saya memang sering melempar joke dan pasti tertawa setiap kali mengudara, tapi malam itu otot perut saya kram maksimal. Baik joke dari Udo, joke dari saya, maupun joke typo bibir ciri khas Iwan. Haha.

Beberapa kali Udo menghubungi saya dan mengutarakan rencananya untuk menggelar acara stand up night. Acara itu bakal menghadirkan para komika asal Kota Ende dan Kota Maumere. Belum tahu perkembangan tanggapan dari komika asal kota lainnya. Tapi tentu stand up night membutuhkan waktu, tenaga, juga dana, yang lumayan besar. Ya kan? Lagi pula stand up comedy merupakan sesuatu yang masih baru di Kota Ende. Bagaimana cara menarik perhatian sponsor, itu yang harus dipikirkan, karena rata-rata sponsor selalu tertarik dengan event musik yang massa-nya ugh wow.

Lalu, suatu hari di awal April 2019 saya dihubungi Udo. Dia meminta bertemu di Miau-Miau Cafe milik Andi Ginta. Oh ya, saya pernah mengajari blog kepada mahasiswa yang memilih lokasi di kafe ini karena akses internetnya kencang. Siang itu kami membicarakan tentang rencana membikin Lomba Stand Up Comedy Endenesia yang super sederhana karena dananya hanyalah modal pribadi Andi seorang. 

Modal Pribadi


Andi Ginta, yang selain memiliki Miau-Miau Cafe juga Hotel Satar Mese, menyediakan dana pribadi untuk menggelar lomba tahap awal ini. Jumlahnya tidak banyak, tapi cukuplah untuk memulai sesuatu yang sudah seharusnya berjalan sejak lama. Saya pikir, kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kapaaaan dunia stand up comedy ini bergerak di kota kecil kami? Apakah cuma Udo saja yang tampil di acara-acara untuk open mic? Andi sendiri meminta lomba ini diselenggarakan setiap bulan atau setiap tiga bulan. Dia bakal tetap menanggung dananya meskipun kelak, kalau sukses, sudah ada sponsor.

Saya terkesiap.

Baca Juga: Jaga Waka Nua

Andi Ginta loh, darah asli yang mengalir di tubuhnya adalah Manggarai, tetapi dia mau berbuat untuk kota ini, Kota Ende. Itu kan seperti ditampar halus bolak-balik hahaha. I'm in! Saya setuju. Apa yang harus kami pikirkan? Dana (untuk hadiah) ada, lokasi gratis di Miau-Miau Cafe, soundsystem secukupnya, juri saya dan Udo, dokumentasi si Cahyadi sudah oke untuk merekamnya menggunakan kamera saya. Bukankah sudah siap tancap gas? Maka bermodal Canva saya pun membikin e-pamflet.


Bahkan, setelah e-pamflet ini beredar di media sosial, banyak juga mau terlibat. Misalnya Armando, sahabat saya yang adalah penyiar RRI bersedia menjadi MC, dan Kiss dan Ampape Sablon pun bertanya-tanya apakah dia bisa ikut berpartisipasi dengan menyumbangkan kaos, dan Habibie dari SUC Jogja (anak Ende yang kuliah di sana) pun bersedia berpartisipasi. Lhaaaa tidak disangka kan? Dari ide dan langkah kecil kemudian, Insha Allah, menjadi besar.

Quota Yang Terpenuhi


Kami optimis meskipun hadiahnya kecil. Kalau tidak optimis ... ya tidak jalan lah. Untuk kegiatan perdana ini, dibuka slot untuk sepuluh pendaftar pertama saja. Kalau masih ada yang mau mendaftar, kami simpan untuk kegiatan berikutnya (tiga bulan berikutnya). Tidak disangka, sejak dikeluarkan e-pamflet itu, menerima banyak inbox dan pesan WA, pada akhirnya pada Jum'at, 26 April 2019, quota-nya terpenuhi. What!? Are you kidding me?

SEPULUH PENDAFTAR!
7 LAKI-LAKI, 3 PEREMPUAN.

Mata saya berkaca-kaca. Terbukti para calon komika ini membutuhkan wadah, bukan hadiah. Dan Alhamdulillah wadah itu sudah terbentuk dan tinggal diisi saja.


Menjadi juri Lomba Stand Up Comedy Endenesia, kalau boleh disebut Episode 1, membikin saya belajar untuk melucu hahaha. Kalian bisa lihat video di Youtube saya, tentang hal-hal absurd. Tapi baru tiga video saja. Selain itu saya pun harus membekali diri dengan apa-apa yang berkaitan dengan dunia stand up comedy. Misalnya apa itu premis, punchline, blue material, timming, ripping, act-out, artikulasi, sampai mic-ing. Ya, bagaimana seorang komika mampu menampilkan komedi yang lucu bagi semua orang yang menontonnya. Mama eee sa pikir mudah ternyata uzu roooo.

Satu yang saya pinta dari kalian. Bukan suara, karena saya tidak nyaleg dan Pemilu sudah berakhir. Yang saya minta hanyalah doa dan dukungan agar kegiatan ini berjalan dengan baik dan lebih berkembang ke depannya.

Baca Juga: Fair Play Flag

Salam ngakak :p



Cheers.

Saturday, April 27, 2019

Pita's Life


Suatu malam di minggu ini, saat DMBC (Datang Makan Baku Cap) sedang ngumpul di ruang tamu rumah saya, salah satu topik yang dibahas adalah tentang betapa sabarnya Deddy Corbuzier menghadapi seorang penyanyi dangdut yang diduga serta dituduh transgender. Kalau saya jadi Deddy, mungkin kesabaran saya sudah wassalam dan jadinya malah perang berkepanjangan macam Perang Teluk zaman dahulu. Tapi Deddy Corbuzier sungguh gentle meskipun emosinya sudah terpicu begitu rupa. Kendali dirinya bagus. Haha.

Baca Juga: Searching

Untungnya topik itu segera berakhir. Yaaa topik DMBC kan selalu meloncat-loncat kayak kanguru dan pocong. Etchon lantas menyeletuk tentang Pita's Life. Saya pikir Lupita Nyong'o. Ternyata bukan! Hari-hari berikut, ya kemarin-kemarin, hampir setiap siang saya menonton video-video Pita di Youtube dan sangat terhibur karenanya. Kalau saya boleh bilang, Pita adalah vlogger dengan konten unik karena begitu apa adanya. Dia punya dialeg tidak berubah. Pun kalau bicara bahasa Inggris sangat fasih dan enak didengar. Amboi. 

Tentang Pita


Sejak kecil Pita sudah tertarik dengan bahasa Inggris karena Bapaknya adalah seorang Pendeta yang sering membawa bocah-bocah bule ke rumah. Sambil bermain dengan bocah bule itu, sambil belajar bahasa Inggris. Ketertarikannya pun semakin menjadi saat menonton filem Titanic dan terpesona sama lagu My Heart Will Go On yang dinyanyikan oleh Celine Dion. 

Tahun 2011 Pita kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing di Manado. Dosennya memberi tugas untuk hunting bule dengan tujuan bisa langsung bicara dan berinteraksi dengan bule-bule itu. Sebagai bukti hunting, harus ada tanda tangan supaya dosen percaya. Selain tanda tangan, kontak yang diberikan berupa e-mail pun boleh. Adalah teman Pita, Medi, yang kemudian menyarankan sebuah situs pada Pita. Apabila ingin lebih fasih belajar bahasa Inggris melalui percakapan langsung dengan bule, bisa kok dilakukan melalui situs tersebut. Nama situsnya Asian Dating. Di situs itulah Pita bertemu Travis. Dan mereka pun pacaran.

Singkat kata singkat cerita, Travis datang ke Indonesia untuk bertemu Pita, dengan sebelumnya mengirimkan baju agar dipakai Pita saat menjemput Travis di bandara. Selanjutnya Pita diminta berlibur ke Amerika dengan drama visa yang luar biasa bikin kesal. Daaaan mereka menikah. Dua anak mereka adalah Zachary dan Rachel. 

Kenapa Video Pita Menarik?


Ya, memangnya ada apa dengan video-video Pita sehingga saya sampai meluang waktu menulis ini? Boleh dibilang ini adalah respon positif saya terhadap perempuan Indonesia yang tidak kehilangan jati diri meskipun sudah memperoleh green card dan menetap di Amerika. Dialeg Maluku-nya begitu kental ketika dia berbicara baik Bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Pun banyak sekali istilah-istilah Maluku/Manado yang terucap. Perempuan ini benar-benar bikin ngakak. Manapula dia suka sekali menertawai dirinya sendiri.

Vlog Pita sangat apa adanya. Saat bangun tidur, make up, memasak, jalan-jalan, menjemput anak, nongkrong di tempat makan bareng keluarga, hang out bareng mertua, bahkan saat harus temani Travis ke kantor/pangkalan (waktu Travis naik jabatan atau apalah itu wuih keren sekali). Cara dia berbicara itu sungguh roto (istilah Orang Ende untuk orang yang bicaranya lancar jaya tanpa titik koma) terutama kalau sedang bicara dalam Bahasa Indonesia. Dia tidak malu mengakui kekurangannya, tapi pun tidak merasa kehidupannya lebih baik dari orang lain.

Baca Juga: The Willis Clan

Pada salah satu vlog, saya terpingkal-pingkal waktu Pita nyerocos tentang perempuan Indonesia yang menikah dengan bule. Belajar masak dari sekarang karena tidak ada orang jual nasi goreng dan gorengan lainnya di sana kapanpun kalian ingin. Harus bisa masak sendiri. Uh she uuuup!

Yang juga membikin saya suka berlama-lama menonton vlog si Pita adalah informasi-informasi baru. Perlu dicatat, menonton vlog Pita juga memperluas wawasan. Apanya yang memperluas wawasan? Melihat video perempuan Indonesia yang menikahi bule dan tinggal di Amerika itu memperluas wawasan, are you sure? Ya, saya yakin. Layaknya blogwalking dan membaca blog kalian semua, itulah yang saya peroleh saat menonton video Pita. Diantaranya adalah tentang toko baju bekas di Amerika, tutorial make up, serta cara Pita mendidik dan merawat kedua anaknya dengan berani bilang, "No!" pada permintaan si anak. Saya lihat, Pita sangat tegas pada anak-anaknya, punya aturan yang diterapkan dengan sangat 'halus' tapi super 'tegas'.

Jadi, Ingin Menjadi Seperti Pita Juga?


Siapa yang tidak ingin? Subscriber banyak, iklan pun wara-wiri di vlog-nya. Tapi menjadi vlogger tidak semudah itu. Konten harus yang berkualitas, setidaknya menurut saya, dan mengundang ke-kepo-an orang lain terhadap konten kita. Pita berhasil membangunnya, karena ... siapa sih yang tidak ingin tahu tentang kehidupan di Amerika? Disajikan dengan cara yang sangat Indonesia pula. Jujur, saya tidak bisa menghasilkan konten berkualitas seperti konten berkualitas milik Ewafebri misalnya hahaha. Jadi, ingin menjadi seperti Pita boleh-boleh saja, tapi harus siapkan konten unik yang kita yakin bakal diburu banyak orang.

Ah ... apalah saya yang bicara konten video Youtube ... subscriber saja masih bisa dihitung dengan jari. Sudahlah ...


Semoga akhir minggu kalian menyenangkan ya ... kalau bosan, nonton saja Pita's Life. Sudah pasti kalian bakal terhibur, ngakak sendiri, sekaligus menambah wawasan.

Baca Juga: Bodo Amat

Yuk ah ...



Cheers.

Friday, April 26, 2019

Percobaan Gagal


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Masih berhubungan dengan DIY tapi saya tidak menulisnya di #RabuDIY melainkan dalam #PDL.

Ketika saya melihat aneka video di Youtube tentang proyek-proyek DIY, terkhusus tentang memanfaatkan jin dari dalam botol bekas atau jin yang tidak terpakai lagi, salah satu karya yang menarik perhatian adalah mangkuk. Bagaimana mereka, dengan lihainya, membikin mangkuk berbahan jin. How can? Karena antusias, malam itu juga saya mencoba membikinnya. Ah, mudah. Cuma menyatukan potongan-potongan jin pada mangkuk yang diolesi lem PVA.

Baca Juga: Kubur Batu di Lamboya

Ternyata ... oh lala. Hasilnya sungguh buruk. Gambar hasil yang buruk itu bisa kalian lihat di awal pos. Tapi saya tidak menyerah. Mari mencobanya lagi. Dan ... gagal lagi.

Akhirnya, pada percobaan yang ke-sekian, saya berhasil membikin mangkuk jin tapi sedikit mengubah tata caranya. Tidak seratus persen sesuai dengan yang ditonton di Youtube. Oh, ternyata kegagalan bukan berarti sama sekali tidak bisa membikinnya, melainkan pelajaran untuk berusaha dan kreatif. Benar kan? Pengalaman yang sama juga saya alami saat menulis baik fiksi maupun non-fiksi. Percobaan itu selalu terpeta pada paragraf pertama.


Percobaan yang gagal adalah pelajaran paling berharga. 

Oh iya, bagaimana dengan hasil mangkuk jin itu? Eitsss sabar dulu. Tidak sekarang. Bakal saya pos di #RabuDIY! Hehe.

Baca Juga: Foto Kreatif #1

Bagaimana dengan kalian kawan? Pernah mencoba dan gagal, tapi tidak menyerah? Never give up, dibalik percobaan yang gagal, ada kesuksesan yang menanti.



Cheers.

Thursday, April 25, 2019

5 Swafoto Terfavorit


Dari pos tentang Lomba Selfie Pemilu 2019, kalian tentu sudah tahu bahwa pada hari pencoblosan Rabu 17 April 2019 kemarin telah diselenggarakan Lomba Selfie Pemilu 2019 oleh KPU Kabupaten Ende. Foto yang dilombakan adalah foto hasil swafoto baik selfie maupun wefie yang dikirim ke halaman Facebook PPID KPU Kabupaen Ende. Total hadiah sejumlah Rp 12.000.000 untuk sepuluh pemenang itu lumayan kan. Peserta lomba bahkan tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun. Hanya bermodal swafoto di TPS dan memenuhi syarat lainnya, kreatif dan unik, dikirim ke halaman Facebook PPID KPU Kabupaten Ende, dapat hadiah.

Baca Juga: 5 Patterns

Bersama Om Eddy Du'e dan Willy Zino, dua fotografer profesional, saya turut menjadi juri lomba ini. Proses penjurian berlangsung sejak Rabu hingga Minggu (lima hari), termasuk pada hari Minggu itu juri dan EO bertemu Bapak/Ibu Komisioner KPU Kabupaten Ende. Banyak perkara yang dibahas, mulai dari para juara lomba yang sudah ditentukan oleh juri serta alasan dibalik kemenangan mereka, hingga perkara lain yang bersifat rahasia alias tidak boleh saya tulis di blog haha. 

Dari tiga puluh foto yang dipilih, melalui diskusi yang alot kemudian tersaring sepuluh foto juara, dengan rincian Juara I sampai Juara Haparan III, dua Juara Foto Tergenic, dan dua Juara Foto Terunik. 

Tapi, seperti biasa, saya punya lima foto terfavorit dari sepuluh foto para juara. Kenapa itu menjadi foto favorit saya ... mari kita simak.

1. Anastasia Lawera dan Kawan-Kawan


Puluhan kali saya harus bolak-balik me-reload lini massa PPID KPU Kabupaten Ende demi melihat foto unggahan baru. Yang jelas, semua foto yang terpilih harus diunggah pada hari Pemilu tersebut, dikirim bukan di-tag, swafoto, ada nuansa TPS, dan unik. Sampai batas waktu yang ditentukan saya sudah menyetor foto-foto pilihan saya pada anggota juri lainnya. Oh, tentu, pada akhirnya saya memilih foto ini sebagai foto terfavorit versi saya.


Ide orisinil. Paling unik dari yang terunik. Sungguh luar biasa. Niat banget kan? Pakai roll-rambut (sudah lama banget tidak melihat perempuan pakai roll-rambut), panci, baskom, wajan, dan lain sebagainya. Kalau boleh saya berpendapat temanya adalah: Genk Hebring dan Hak Pilihnya. Haha. Pada akhirnya mereka pun meraih Juara I dari Lomba Selfie Pemilu 2019 ini.

2. Izha Umar Ra'i Se'a


Pertama melihat foto ini, dibanding foto-foto lainnya, satu elemen yang paling menonjol adalah selempangnya. Elemen kedua yang menonjol dan saya suka adalah kaos yang dipakai si jilbab hitam yang bertulis Kelimutu National Park. Kalian tahu kan, Kelimutu National Park merupakan salah satu identitas Kabupaten Ende.


Melihat selempangnya ini, saya pikir ini termasuk peserta yang juga niat banget mengikuti Lomba Selfie Pemilu 2019. No golput! Sesuai pesan KPU untuk para millenials. Memilih dan menjadi bijak bukan hanya milik orangtua, kaum muda pun demikian. Uh she up kata Thika mah hahaha.

3. Anggreany Renata Huki


Aaah. So clean. So fresh. So white. So happy. Begitu melihat foto ini, perasaan jadi adem gitu, manapula gigi gingsulnya bikin iri, haha. Ini foto punya komposisi yang serba pas untuk sebuah swafoto, menurut saya. Pemilik foto pun sangat good looking.


Wajah cerianya seakan mengajak orang lain untuk turut ceria, bersama-sama, merayakan Pemilu, yang merupakan pesta rakyat Indonesia. Sehari-hari saya memanggilnya Ar. Eits, tapi bukan karena kami saling kenal dan dia lantas menjadi juara. Oh no no no. Obyektifitas adalah poin pertama saat menjadi juri. Kelayakan dia menjadi juara pun diakui oleh anggota juri lainnya.

4. Anjelina Seda


Ini termasuk foto favorit saya karena apa saudara-saudara? Siblings in dominant blue! Kalau dipikir, ini foto unik dan langka. Karena, kapan lagi ada swafoto pas Pemilu dengan anggota keluarga baik kandung dan sepupu ngumpul heboh begini? Makanya, menurut saya ini foto ciamik, termasuk dalam terfavorit versi saya.


Warna-warna di dalam foto ini saling merangkul. Dimulai dari kursi-kursi di TPS. lantas saudara/i yang baju biru mengapit yang berbaju merah dan kuning. Kan asyik ini. Sudah pasti niaaaatttt.

5. Ve Joseph Tena


Yess! She's so metal! Hehe. Sejak mula, gayanya yang metal begini sudah menjadi perhatian para juri. Unik kan ya. Karena dari semua peserta lomba ini, yang foto dengan gaya jari metal ya si Ve.


Terima kasih, Ve, sudah memberi warna lain pada Lomba Selfie Pemilu 2019. Saya percaya dia punya segudang ide apabila lomba-lomba semacam ini digelar ... di tahun-tahun mendatang. Sumpah, saya sangat percaya.


Bagaimana dengan kalian, kawan? Apakah kemarin ada lomba semacam ini di daerah kalian? Kalau ada, pasti seru ya, dan jurinya juga pusing memilih karena diikuti oleh lebih banyak orang, terutama untuk kabupaten yang jauh lebih besar/luas dari Kabupaten Ende. Kalau ada lagi lomba semacam ini, saya memilih untuk jadi peserta ah. Soalnya Juara I saja mendapat hadiah Rp 2.500.000 loh. Hahaha. Penyerahan hadiah dilakukan Kamis, 25 April 2018 di kantor KPU Kabupaten Ende.

Baca Juga: 5 Gaya Zawo Zambu

Nah, lepas Lomba Selfie Pemilu 2019, pada akhirnya rencana sejak 3 April 2019 harus kami laksanakan. Saya, Udo Petruz, dan Andi Ginta. Lomba Stand Up Comedy ENDEnesia. Seharusnya lomba ini digelar tanggal 27 April 2019 tapi diundur hingga 5 Mei 2019. Soal ini bakal saya bahas di lain kesempatan. Tentu, selain sebagai penyelenggara, saya juga sebagai jurinya. Uuuuh she upppp.

#LifeIsGood
#ItMustBe



Cheers.

Wednesday, April 24, 2019

Tempat Surat


Ketika hendak menulis judul First #DIY, saya ingat my first #DIY yang dibikin di atas tahun 2000-an bukanlah ini, jadi batal. Judulnya berganti menjadi Tempat Surat. #RabuDIY kali ini, hari dimana kita berkreasi sepuas-puasnya, saya mau menulis tentang tempat surat yang dibikin sendiri berbahan majalah lama. Kalau di rumah kalian menumpuk majalah dan koran lama, jangan dibuang, siapa tahu selepas membaca pos ini, kalian mau mencobanya, dan bahkan menghasilkan satu barang yang tentunya bermanfaat.

Baca Juga: Monotuteh

Meskipun zaman sekarang interaksi antar umat manusia lebih banyak tercipta di dunia daring, salah satunya surat berganti e-mail, tapi tempat surat masih terpajang di meja-meja kerja. E-mail memang praktis dan cepat, tapi surat jauh lebih tertancap di hati. Eaaaa. Hehe. Selama stempel perusahaan masih ada di meja kerja, selama itu pula surat (konvensional) akan hidup menemani kehidupan umat manusia. SK Kepegawaian saya, seperti kenaikan pangkat dan berkala, disampaikan ke saya dalam bentuk surat, bukan e-mail.

Oke, jadi apa saja bahan, alat, dan bagaimana cara membikinnya?

Bahan dan Alat


1. Majalah lama.
2. Lem tembak (hot glue).
3. Lem PVA.
4. Cutter.
5. Gunting.

Cara Membikin


Pertama:
Bikinlah pipa kertas. Caranya, bagi dua halaman majalah lama, lantas digulung membentuk pipa kertas. Berapa banyak yang harus dibikin? Bikin sebanyak-banyaknya! Apa lagi kalau pas ada waktu luang, bikin banyak, simpan di kaleng dalam posisi berdiri, kapan pun dibutuhkan tinggal ambil.


Kedua:
Pipa kertas tadi digulung membentuk lingkaran. Besarnya lingkaran tergantung mal yang dipakai. Misalnya pinsil, tube, atau tutup botol plastik.


Ketiga:
Membentuk tempat surat. Besarnya tempat surat tergantung pada selera masing-masing. Berapa banyak lingkaran kertas yang mau dipakai? Kalau saya sih bikin yang kecil-kecil saja. Hasilnya seperti yang di bawah ini:


Lumayan buat menyimpan satu dua surat yang belum dibaca atau surat yang masih dibutuhkan, sebelum disimpan di map berkas.

Baca Juga: Enchyz's Desk Organizer

Awal membikin tempat surat seperti ini, lamanya minta ampun! Karena tangan belum terbiasa memelintir kertas majalah menjadi pipa kertas kan. Manapula masih mencari mol untuk memelintir ini: lidi atau alat tulis berbodi kecil. Tapi lama-kelamaan jari saya menjadi terbiasa dan dalam semalam bisa menghasilkan puluhan pipa kertas. Tidak sadar sih, sambil mengobrol sambil membikinnya. Untuk membentuk pipa kertas menjadi lingkaran pun tidak sulit. Cukup pakai lem PVA saja demi merekatkannya. Sedangkan membentuknya menjadi tempat surat, harus pakai lem tembak (hot glue) supaya rekatnya erat dan lebih cepat.

Bagaimana? Mudah bukan? Yuk bikin!



Cheers.

Tuesday, April 23, 2019

Smartphone vs DSLR


Pada pos #SelasaTekno yang lalu yaitu LED for Camera, Kakak Vika dari Ratutips berkomentar bahwa dirinya pun lebih suka bikin video pakai smartphone atau handphone atau telepon genggam ketimbang pakai kamera. Kamera di sini maksudnya bisa kamera khusus video bisa pula DSLR. Alasannya pun sama: ribet kalau harus membawa kamera dengan tas khususnya itu. Kadang-kadang, apabila diperlukan, saya terpaksa mengeluarkan DSLR dari tasnya dan menyimpan di backpack meskipun dudukannya di dalam backpack tidak compact.

Baca Juga: Cetak Saring

Jadi hari ini saya menulis tentang perbandingan penggunaan hingga hasil antara smartphone dengan DSLR. Menulis DSLR karena memang saya memakai kamera single lens reflex yang digital. Dengar-dengar zaman sekarang banyak fotografer yang kembali pada SLR dengan mencetak hasil jepretannya sendiri di kamar gelap (manual). Kalau saya pribadi sih, karena memang bukan fotografer, dan gairahnya tidak seratus persen di dunia fotografi, yang praktis saja lah yang dipakai. Hehe *toss sama dinosarus*.

Praktis


Ya jelas, bagi saya si awam yang bukan fotografer, telepon genggam selalu lebih praktis ketimbang menenteng DSLR. Kenapa lebih memilih telepon genggam? Karena saya hanya perlu satu Xiaomi Redmi 5 Plus untuk memotret, merekam kegiatan melalui catatan suara, menulis flashnews-nya, hingga memberitakannya di ragam media sosial. Dan semua dapat saya lakukan di lokasi kegiatan tanpa harus kembali ke ruang kerja. Praktis, saya masih bisa meliput kegiatan lainnya, apabila dalam sehari ada lebih dari satu kegiatan kampus yang harus diliput.

Menggunakan DSLR jelas menguntungkan dari sisi kualitas foto yang dihasilkan. Tapi pekerjaan menjadi sangat tidak praktis dan cenderung lama karena menunda. Setelah memotret kegiatan (karena DSLR saya tidak punya Wi-Fi) saya harus kembali ke ruangan untuk memindahkan foto-foto dari kamera ke komputer, menulis flashnews, dan mempublikasikannya. Permasalahannya, kalau dalam sehari ada lebih dari satu kegiatan dan waktu kegiatan itu kadang-kadang melebihi batas waktu kerja, saya terpaksa menunda pekerjaan. Rajinnya sih saya menuntaskan pekerjaan di rumah.

Kecepatan Pemberitaan


Sebagai wartawan kampus yang tugasnya mempublikasikan hampir semua kegiatan kampus, baik kegiatan Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif), kegiatan Rektorat Uniflor, hingga kegiatan mahasiswa, saya membutuhkan akses super cepat ke berbagai media sosial. Oleh karena itu, demi kecepatan pemberitaan saya harus menggunakan telepon genggam. Kembali pada poin Praktis di atas. Kecepatan pemberitaan ini pun tidak saja berlaku di media sosial, tetapi juga di situs Uniflor, dan WAG-WAG kampus.

Kualitas


Kalau dilihat dari besarnya ukuran foto antara telepon genggam dan DSLR, menurut saya tidak berbeda jauh. Kalian bisa lihat perbedaannya pada dua foto berikut ini:

 Menggunakan Canon EOS 600D. Ukuran 10,9MB.

Menggunakan Xiaomi Redmi 5 Plus. Ukuran 5,64MB.

Waktu mengunggah keduanya foto asli tidak di-resize, tapi demi pos blog ini sama-sama berukuran large setelah diunggah. Perbedaan akan timbul jika di-zoom. Tingkat zoom yang sama, hasil foto menggunakan Canon EOS 600D masih jauh lebih baik ketimbang hasil foto menggunakan Xiomi Redmi 5 Plus yang mulai blur. Oleh karena itu, demi keperluan kalender kampus, misalnya, saya harus mau menenteng DSLR (meskipun tidak setiap hari) pada acara-acara dan/atau perayaan besar kampus.

Kesimpulan


Mau pakai telepon genggam atau DSLR, kembali pada diri kita masing-masing, nyamannya mau pakai yang mana dan untuk kebutuhan apa. Saya pribadi, orang awam di dunia fotografi, tentu lebih nyaman memakai telepon genggam untuk berbagai keperluan seperti pekerjaan kantor yang membutuhkan kecepatan pemberitaan pun untuk pos blog. Seperti kata Om Bisot dalam WAG Kelas Blogging NTT dan Kelas Blogging Online, foto untuk keperluan pos blog tidak perlu harus foto resolusi tinggi, foto harus di-resize serta diberi nama.

Baca Juga: Teknik Airbrush

Lagi pula, untuk momen yang terjadi super cepat, kejadian apapun yang kita temui dalam perjalanan misalnya, kita bisa langsung memotretnya menggunakan telepon genggam.


Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.

Monday, April 22, 2019

Politik Itu Abu-Abu


Pemilu serentak telah selesai dilaksanakan pada Rabu 17 April 2019. Pencoblosan tercepat adalah pencoblosan surat suara pertama, untuk calon Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, termasuk penghitungan suaranya. Karena kita tidak dipusingkan dengan begitu banyak pilihan. Hanya ada nol satu dan nol dua. Hanya ada kiri dan kanan. Beda dengan empat surat suara lainnya; begitu banyak foto, begitu banyak nama, begitu banyak pertimbangan. Dan, meskipun banyak lembaga telah merilis hasil quick count, tapi tetap kita harus menunggu, serta menghormati keputusan dan pengumuman resmi dari KPU. 

Baca Juga: Jaga Waka Nua

Politik itu fifty shades of grey abu-abu. Semua orang pun tahu. Fulan pun harusnya demikian. Oleh karena itu, apabila Fulan bukanlah orang yang terjun berkuyup-kuyupan dalam politik, jagalah baik-baik jari (media sosial yang punya rekam jejak digital) dan lisan (perkataan). Karena, kadang Fulan tidak sadar, saat sedang hanyut ke hilir seturut arus politik dengan begitu bergairahnya, orang-orang yang awalnya bersama Fulan turut ke hilir, satuper satu kembali ke hulu. Bahkan, ada yang berbalik menertawai Fulan yang kebingungan di hilir. Kan asyeeeem itu. Qiqiqiq ;)

Tidak ada lawan dan kawan abadi dalam politik. Saya sering membaca tulisan ini. Siapa yang mencetusnya? Kancah perpolitikan itu sendiri. Prabowo mendukung Jokowi-BTP menuju DKI 1 dan DKI 2, kemudian pecah kongsi ketika Jokowi-Kalla maju sebagai paslon Presiden dan Wapres pada tahun 2014, karena saat itu pun Prabowo-Hatta pun maju sebagai paslon Presiden dan Wapres. Ngabalin berada di kubu siapa tahun 2014? Kemudian, Ngabalin bekerja di Kantor Kepala Staf Kepresidenan. Masih banyak contoh lain yang membuktikan bahwa tidak ada lawan dan kawan abadi dalam politik.

Sebagai warga negara, warga negara yang tidak kuyup terjun dalam dunia politik, tentu kita boleh-boleh saja menulis opini tentang para politikus bangsa ini. Si Ini kalau ngetwit tidak berpikir terlebih dahulu dan seringnya memprovokasi, Si Itu suka bikin statement yang merugikan kredibilitas politikus lain, Si Anu gemar pindah-pindah partai, dan lain sebagainya. Tapi haruslah disampaikan dengan bahasa yang sopan. Karena, apabila tidak sopan, apa bedanya kita dengan Si Itu yang ngetwit tidak berpikir terlebih dahulu dan seringnya memprovokasi? Yang harus diingat adalah, setelah musim terpanas politik ini berakhir, kita tetap bekerja di perusahaan yang sama dengan gaji yang sama (bisa jadi naik), dan Insha Allah punya teman yang sama (bahkan bertambah).

Politik itu abu-abu, tapi janganlah yang abu-abu ini memecahkan persaudaraan dan persahabatan. Politik itu abu-abu, tapi pilihan tidak. Maksudnya, karena bingung dengan abu-abu ini, jadi malah golput. Jangan donk he he he. Saya yakin kalian semua juga tidak mau berada di area abu-abu sehingga memutuskan untuk tidak memilih. Ya kan? Politik itu jangan keliwat pakai urat, nanti stroke.

Baca Juga: Fair Play Flag

Mari kembalikan media sosial dengan warna-warna cerah kehidupan ...



Cheers.

Saturday, April 20, 2019

Searching


Sebenarnya saya sudah sangat ingin menulis tentang Shutter Island, sebuah filem thriller yang diperankan oleh Leonardo Di Caprio, Mark Ruffalo, dan Ben Kingsley. Rasa gatal untuk menulisnya sampai tidak tertahankan dan meninggalkan ruam ganas. Namun, setelah menonton Searching, yang menurut saya juga sebuah filem thriller, saya pikir Shutter Island bisa menunggu dan kembali masuk dalam bucket list's review. Sementara Searching tidak bisa menunggu. Karena, jika terlambat, the missing girl could be dead.

Baca Juga: Nostalgia Alanis

Menggaruk demi memuaskan rasa gatal akan Shutter Island ... nanti. Sekarang mari kita simak seperti apa rupa Searching ini.

About Searching 


Searching adalah filem (drama) thriller yang diperankan oleh tiga pemeran utama yaitu John Cho sebagai David Kim, Michelle La sebagai Margot Kim, dan Debra Messing sebagai detektif Rosemary Vick. Filem yang dirilis komersil pada Agustus 2018 ini disutradarai oleh Aneesh Chaganty. Konon, filem ber-budget 1 Juta Dollar ini meraup keuntungan berlipat ganda yaitu 75,5 Juta Dollar. It's a wow! Keadaan itu yang menjadikan Searching salah satu box office yang patut diperhitungkan pada tahun 2018. Sekadar informasi bahwa sebuah filem dikatakan box office apabila keuntungan yang diraup melebihi biaya produksi.

Overview


Semoga ini tidak dianggap spoiler hahaha. 

Kisah Searching dibangun dari kehidupan rumah tangga David Kim, saat isterinya yaitu Pam masih hidup, bersama puteri mereka yang bernama Margot. Hampir semua momen kehidupan keluarga David Kim disimpan dalam bentuk foto dan video. Mulai dari saat Margot mulai duduk di bangku sekolah dari tahun ke tahun, Margot mulai mengenal alat musik piano dan membantu Pam memasak, saat David memperkenalkan Pokemon pada Margot, hingga Pam terserang kanker dan dirawat di rumah sakit dan meninggal dunia. Kesemuanya itu disimpan di sebuah komputer jadul yang masih memakai Widows XP. Ya, siapa pun yang pernah memakai Windows XP pasti kenal betul background dan bentuknya. Mulai dari user komputer itu hanya David seorang, hingga ditambah dua user lainnya yaitu Pam dan Margot. 



Setelah Pam meninggal, praktis David hanya tinggal bersama Kim, sesekali mengontak saudaranya yang bernama Peter Kim (diperankan oleh Joseph Lee). Kronologisnya adalah Margot telah masuk SMA dan masih kursus piano, life must go on, sementara David yang berusaha menjadi ayah yang baik bagi Margot masih 'hidup' bersama kenangannya tentang Pam melalui foto dan video keluarga mereka.

Suatu hari, selepas menghubungi Margot melalui FaceTime saat Margot sedang belajar kelompok di rumah salah seorang temannya, mengingatkan Margot akan sampah yang belum dibuang, David kehilangan kontak dengan Margot. Dia bingung, ke mana kah anaknya itu? Semua pesan chat tidak dibalas. Dihubungi di FaceTime pun tidak diterima. Nalurinya mengatakan ada yang salah, tapi dia masih menahan diri untuk tidak melaporkan pada pihak yang berwajib. Sampai 24 jam kemudian, David pun melaporkan kepada pihak kepolisian San Jose, California, tentang orang hilang. Dia kemudian menerima telepon dari seorang perempuan yaitu detektif Rosemary Vick. Si detektif meminta semua data Margot pada David demi menemukan puteri semata wayang David-Pam itu.


Siapa sangka ... jawabannya justru ada pada MacBook milik Margot yang ditinggal di rumah.

It's About Technology


Searching benar-benar filem tentang teknologi masa kini yang sehari-hari bersentuhan dengan umat manusia, dengan kita. Filem ini 90% didominasi oleh layar komputer tempat David berinteraksi dengan Margot, Peter, detektif Vick, hingga orang-orang yang disangkakan punya kaitan dengan hilangnya Margot. Saat David membuka MacBook milik Margot pun, saya langsung teringat pada tata cara pemulihan password. Untungnya e-mail yang digunakan Margot untuk mengembalikan akunnya bila melupakan password adalah e-mail milik Pam. Tentunya David tahu persis password e-mail milik Pam itu.


Dari situ, David mulai mengeksplor isi MacBook tersebut. Memasuki akun-akun media sosial milik Margot seperti Facebook, Instagram, Tumblr, hingga layanan video YouCast. Saat David mencoba daring di YouCast, dia ditonton oleh sebuah akun yaitu fish_n_chips yang langsung luring seketika. Ternyata, semua video di YouCast dapat disimpan. Gara-gara itu David jadi tahu bahwa Margot pun menyimpan semua video YouCast-nya.


Sementara itu, di e-mail, David menerima tawaran dari MemorialOne, sebuah situs yang menawarkan untuk menyiarkan pemakaman dalam bentuk video dan foto dari orang yang meninggal tersebut. Setelah akhirnya orang yang mengaku telah membunuh Margot bunuh diri, David mengunggah semua video dan foto Margot ke YouCast.

Ah, filem ini benar-benar tentang teknologi hahaha.

So Many Suspect


Sejak awal Margot hilang, terlalu banyak tersangka yang memenuhi benak penonton. Mulai dari teman-teman Margot yang ternyata begitu itu, teman lelaki yang bikin David meradang, adik David si Peter yang saya curigai sengaja membunuh Margot karena kuatir 'hubungan asmara' mereka terbongkar dan ternyata oh nooooo, hingga Hannah alias fish_n_chips yang ternyata akun palsu. 

Twist Plot


Ini yang sungguh ausam dari Searching. Twist plot! Hadir di akhir cerita, twist plot Searching sungguh tak terduga. Lahir dari wajah Hannah si fish_n_chips di YouCast yang ternyata sama dengan wajah ambassador MemorialOne. Oh, ampun, sampai di sini saya berpikir Hannah lah yang membunuh Margot. Bersemangat, David menghubungi kepolisian untuk melapor temuannya pada detektif Vick. Ternyata detektif Vick hanyalah seorang volunteer yang mengajukan dirinya untuk turut menangani kasus hilangnya Margot.

Trada ...

Ah ... tidak semudah itu menebak, kawan. It's not just about detektif Vick.


Pada akhirnya saya harus angkat topi untuk Aneesh Chaganty dan Sev Ohanian yang menulis filem ini. Otak mereka canggih betul. Dan apabila kalian bingung menentukan akhir cerita ini hanya berdasarkan review ini, artinya saya berhasil membikin kalian bingung sebingung saya sendiri saat menontonnya haha. 

Bila kalian mencari filem yang bisa membikin akhir minggu menjadi rada gimanaaa gitu, tonton Searching sekarang juga!


Cheers.

Friday, April 19, 2019

Dikunjungi Legolas


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Saya sudah pernah cerita bahwa rumah saya, si Pohon Tua, merupakan tempat yang cukup ramai di Planet Bumi dikarenakan para krucil tetangga. Ramainya bisa jadi karena mereka datang belajar bersama Mamatua. Ramainya bisa jadi karena dulu pun di rumah saya ada tempat penyewaan Play Station alias PS. Kasus kehilangan flashdisk game PS bukan barang baru tapi toh biarkan saja, namanya juga anak-anak. Kadang keinginan yang super untuk memiliki membikin mereka terpaksa mencabut flashdisk, dan dibayang-bayangi sedikit rasa berdosa.

Baca Juga: Nokia 5300

Berkaitan dengan pos ini, saya pikir aksi cepat memotret yang menjadi kebiasaan saya selama ini ternyata ada manfaatnya juga pos serupa #PDL. Karena, pada suatu hari saat sedang duduk nganga di rumah menyaksikan tingkah krucil yang sedang bermain PS, tahu-tahu datang anak ini, berdiri menghalangi pandangan saya. Busyet!

SAYA DIKUNJUNGI LEGOLAS!


Siap mencabut anak panah dan memanah mobil-mobil di dalam game PS. Haha. Sumpah, ini salah satu foto terbaik krucil yang pernah main di rumah saya. Tinggal cek kupingnya mirip kuping para elf atau tidak *ngikik*. 

Pernah, saya pernah begitu, langsung potret ketika melihat hal-hal seunik ini. Bagaimana dengan kalian?



Cheers.

Thursday, April 18, 2019

5 Momen Paskah


Hari Raya Paskah jatuh pada hari Minggu, 21 April 2019. Berbeda dari Hari Raya Natal, suasana menjelang Paskah atau Pra Paskah sudah dimulai empat puluh hari sebelumnya, yang pada setiap Jum'at dikenakan puasa dan ritus Jalan Salib. Pra Paskah merupakan persiapan sebelum Minggu Suci atau Pekan Suci. Minggu Suci dimulai dari hari Minggu, 14 April 2019, yang dinamai Minggu Palma. Ada yang menyebutnya Minggu Daun-Daun. Minggu Suci ini berlanjut pada (Rabu Trewa - di Kota Larantuka), Kamis Putih, Jum'at Agung, Sabtu Santo, dan Minggu Paskah. Tanpa membaca dari sumber manapun saya tahu persis tentang hal ini karena saya tinggal di lingkungan dimana keluarga kami adalah satu-satunya Muslim. Bahkan jarak Gereja Kathedral Ende hanya tiga menit berjalan kaki dari rumah saya.

Baca Juga: 5 Patterns

Paskah merupakan hari tentang bangkitnya Yesus Kristus setelah disalib pada Jum'at Agung. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Paskah dirayakan secara akbar di semua daerah, terutama di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur dengan Semana Santa. Para peziarah datang dari penjuru dunia. Ada yang seorangan, ada yang berkelompok. Saya pernah menyaksikan Semana Santa di Kota Larantuka, pada tahun 2011, bersama seorang sahabat petualang bernama Acie. Kisah perjalanan itu bisa dibaca di pos Long Journey.

Entah dengan daerah lainnya, tapi kalau di Provinsi Nusa Tenggara Timur, semua sekolah dan institusi libur sejak Kamis sebelum Jum'at Agung. Kemarin, liburnya sudah dimulai dari hari Rabu bertepatan dengan momen Pemilu. Libur, siapa yang tidak senang? Tapi, libur yang tidak sampai dua minggu itu membikin kami tidak mungkin pergi terlalu jauh sampai ke luar tata surya, kuatir masih belum tiba di rumah saat waktu liburan usai. Iya, liburnya hanya sampai tanggal 22 April 2019. Rekomendasi tempat menghabiskan waktu libur Paskah bisa dibaca di pos 5 Tempat Berlibur Paskah di Flores.

Hari ini saya mau berbagi cerita dengan kalian tentang 5 momen (menjelang dan saat) Paskah yang terjadi di Pulau Flores. Yuk baca ...

1. Latihan Paduan Suara


Sejak memasuki masa puasa menjelang Paskah, setiap Hari Jum'at dilaksanakan Jalan Salib, termasuk juga di kantor saya, diikuti oleh teman-teman yang merayakannya. Selain itu, hampir setiap malam saya mendengar tetangga kompleks yang tergabung dalam 'lingkungan' latihan paduan suara. Latihan paduan suara atau koor untuk Misa di Gereja.

Salah satu gereja yang ada di Kota Larantuka. Di dekat gereja ini, berseberangan jalan, berdiri Patung Mater Dolorosa (Bunda yang berduka).

Menariknya mendengar teman-teman dan/atau tetangga latihan koor adalah kita jadi tahu prosesnya. Dari mengenal sebuah lagu, proses, hingga betul-betul fasih menyanyikannya dalam harmonisasi paduan suara.

2. Going Back East


Kembali ke Timur, kembali ke Kota Larantuka, sebagai kota pusat perayaan akbar Paskah yaitu Semana Santa dilaksanakan. Momen perjalanan ke Kota Larantuka merupakan sesuatu yang menyenangkan. Jalan sendiri maupun bersama teman-teman, mana-mana suka. Tahun ini banyak teman saya yang berangkat ke Kota Larantuka.

Patung Mater Dolorosa di Taman Doa Mater Dolorosa.

Saya sih pengen ke sana lagi untuk menyaksikan kemeriahan dan khidmatnya Jum'at Agung di Kota Reinha itu, tapi sayang ... Februari kemarin kan saya baru saja ke Kota Larantuka. Hiks. Kasihan Onif Harem kalau diajak jalan jauh terus-terusan.

3. Mencium Jubah Tuan Ma


Di Kota Larantuka, tepatnya di Kapela Tuan Ma, tersimpan patung besar Bunda Maria yang disebut Tuan Ma. Setiap tahun, umat setempat dan peziarah, akan pergi ke Kapela Tuan Ma untuk mencium jubahnya. Ritus ini dilakukan pada Jum'at Agung (pagi hingga siang hari) sebelum Prosesi Laut. Usai prosesi laut, Tuan Ma akan diarak menuju Gereja Kathedral.

Ritual mengarak Patung Tuan Ma menuju Gereja Kathedral untuk persiapan malam Jum'at Agung (Jalan Salib).

 Prosesi Laut.

4. Tablo

Tablo adalah treatikal Jalan Salib yang dilakukan pada Jum'at Agung. Tidak semua gereja melaksanakan tablo, tapi setiap tahun pasti ada tablo. Melaksanakan Jalan Salib dengan betul-betul melakukan apa yang dulu dialami Yesus. Ada pemuda terpilih yang akan memikul Salib dan disiksa layaknya yang dialami dulu oleh Yesus. Inilah perayaan Jum'at Agung.

5. Minggu Paskah


Dari pengamatan saya, Minggu Paskah merupakan perayaan kemuliaan atas bangkitnya Yesus. Di setiap kota di Kabupaten Ende, tidak ada yang terlalu istimewa dari Minggu Paskah, karena keistimewaanya terutama pada Jum'at Agung tadi. Tapi teteup lah di setiap rumah pasti ada acara makan-makan sekeluarga.


Menulis ini, bukan berarti saya yang paling tahu tentang momen-momen (menjelang dan saat) Paskah. Teman-teman yang beragama Katolik tentu lebih tahu. Saya menulisnya dari sudut pandang awam yang menyaksikan sendiri keadaan di sekitar tentang momen-momen Paskah ini.

Baca Juga: 5 Steps to Marriage

Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.

Wednesday, April 17, 2019

Lomba Selfie Pemilu


Karena hari ini momen Pemilu Presiden dan Legislatif, #RabuDIY ditiadakan. Haha. Ya, hari ini Rabu, 17 April 2019, Indonesia memilih. Siapa pun pilihan saya, kalian, mereka, semua tentu demi kebaikan negeri ini. Semoga yang terpilih kelak mampu membawa perubahan pada bangsa ini. Tentunya perubahan yang baik. Itu doa kita bersama. Dengan dilaksanakannya Pemilu, bukan berarti lini massa media sosial langsung sepi ... keriuhan antara kubu sana kubu sini masih akan terjadi sampai pelantikan. Percayalah. Hahaha. Banyak sabar yaaaaa.

Di Kabupaten Ende, KPUD menyelenggarakan lomba. Lomba Foto Selfie Pemilu 2019. Dengan persyaratan sebagai berikut:


Tidak disangka saya pun turut menjadi juri bersama dua fotografer lain yang sudah malang melintang di dunia fotografi dan terkenal sebagai fotografer andal: Om Edi Due dan Willy Zino. Sedangkan saya diminta menjadi juri mungkin karena ... errr ... suka foto saja haha. Malu sebenarnya saya menjadi juri begini, karena kemampuan fotografi saya di bawah standart, tapi karena sudah dipercayakan, ya harus bisa. Insha Allah.

Bagaimana dengan di daerah kalian? Ada lomba semacam ini kah? :)



Cheers.