I Write My All

LightBlog

Stand up comedy (SUC) bukan hal baru di Indonesia. Mulai dari zamannya Ernest Prakasa, Panji Pragiwaksono, Raditya Dika, Abdur, Fico, ...

Lomba SUC Endenesia


Stand up comedy (SUC) bukan hal baru di Indonesia. Mulai dari zamannya Ernest Prakasa, Panji Pragiwaksono, Raditya Dika, Abdur, Fico, sampai Ridwan Remin dan Dana. Saya selalu suka menonton SUC. Siapa sih yang tidak suka? Satu orang di panggung bisa bikin satu Indonesia tertawa itu luar biasa. Karena, satu orang di dunia politik bikin satu Indonesia berantem itu sudah biasa. Oleh karena itu, ketika tahu bahwa salah seorang pemuda Ende begitu pandai membikin joke-joke segar dengan muatan lokal, saya pikir itu luar biasa. 

Baca Juga: Politik Itu Abu-Abu

Sudah lama saya mengenal Udo, Facebook: Udo Jee Petruz, mahasiswa Prodi Sastra Inggris Universitas Flores. Minatnya pada dunia stand up comedy didukung bakat ngelucunya yang selalu bisa menghidupkan suasana. Saya dan Iwan Aditya pernah mengundang Udo sebagai bintang tamu dalam program Tuwan Show di Radio Gomezone Flores tahun 2016 dan suasana malam itu pecah sepecah-pecahnya. Saya memang sering melempar joke dan pasti tertawa setiap kali mengudara, tapi malam itu otot perut saya kram maksimal. Baik joke dari Udo, joke dari saya, maupun joke typo bibir ciri khas Iwan. Haha.

Beberapa kali Udo menghubungi saya dan mengutarakan rencananya untuk menggelar acara stand up night. Acara itu bakal menghadirkan para komika asal Kota Ende dan Kota Maumere. Belum tahu perkembangan tanggapan dari komika asal kota lainnya. Tapi tentu stand up night membutuhkan waktu, tenaga, juga dana, yang lumayan besar. Ya kan? Lagi pula stand up comedy merupakan sesuatu yang masih baru di Kota Ende. Bagaimana cara menarik perhatian sponsor, itu yang harus dipikirkan, karena rata-rata sponsor selalu tertarik dengan event musik yang massa-nya ugh wow.

Lalu, suatu hari di awal April 2019 saya dihubungi Udo. Dia meminta bertemu di Miau-Miau Cafe milik Andi Ginta. Oh ya, saya pernah mengajari blog kepada mahasiswa yang memilih lokasi di kafe ini karena akses internetnya kencang. Siang itu kami membicarakan tentang rencana membikin Lomba Stand Up Comedy Endenesia yang super sederhana karena dananya hanyalah modal pribadi Andi seorang. 

Modal Pribadi


Andi Ginta, yang selain memiliki Miau-Miau Cafe juga Hotel Satar Mese, menyediakan dana pribadi untuk menggelar lomba tahap awal ini. Jumlahnya tidak banyak, tapi cukuplah untuk memulai sesuatu yang sudah seharusnya berjalan sejak lama. Saya pikir, kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kapaaaan dunia stand up comedy ini bergerak di kota kecil kami? Apakah cuma Udo saja yang tampil di acara-acara untuk open mic? Andi sendiri meminta lomba ini diselenggarakan setiap bulan atau setiap tiga bulan. Dia bakal tetap menanggung dananya meskipun kelak, kalau sukses, sudah ada sponsor.

Saya terkesiap.

Baca Juga: Jaga Waka Nua

Andi Ginta loh, darah asli yang mengalir di tubuhnya adalah Manggarai, tetapi dia mau berbuat untuk kota ini, Kota Ende. Itu kan seperti ditampar halus bolak-balik hahaha. I'm in! Saya setuju. Apa yang harus kami pikirkan? Dana (untuk hadiah) ada, lokasi gratis di Miau-Miau Cafe, soundsystem secukupnya, juri saya dan Udo, dokumentasi si Cahyadi sudah oke untuk merekamnya menggunakan kamera saya. Bukankah sudah siap tancap gas? Maka bermodal Canva saya pun membikin e-pamflet.


Bahkan, setelah e-pamflet ini beredar di media sosial, banyak juga mau terlibat. Misalnya Armando, sahabat saya yang adalah penyiar RRI bersedia menjadi MC, dan Kiss dan Ampape Sablon pun bertanya-tanya apakah dia bisa ikut berpartisipasi dengan menyumbangkan kaos, dan Habibie dari SUC Jogja (anak Ende yang kuliah di sana) pun bersedia berpartisipasi. Lhaaaa tidak disangka kan? Dari ide dan langkah kecil kemudian, Insha Allah, menjadi besar.

Quota Yang Terpenuhi


Kami optimis meskipun hadiahnya kecil. Kalau tidak optimis ... ya tidak jalan lah. Untuk kegiatan perdana ini, dibuka slot untuk sepuluh pendaftar pertama saja. Kalau masih ada yang mau mendaftar, kami simpan untuk kegiatan berikutnya (tiga bulan berikutnya). Tidak disangka, sejak dikeluarkan e-pamflet itu, menerima banyak inbox dan pesan WA, pada akhirnya pada Jum'at, 26 April 2019, quota-nya terpenuhi. What!? Are you kidding me?

SEPULUH PENDAFTAR!
7 LAKI-LAKI, 3 PEREMPUAN.

Mata saya berkaca-kaca. Terbukti para calon komika ini membutuhkan wadah, bukan hadiah. Dan Alhamdulillah wadah itu sudah terbentuk dan tinggal diisi saja.


Menjadi juri Lomba Stand Up Comedy Endenesia, kalau boleh disebut Episode 1, membikin saya belajar untuk melucu hahaha. Kalian bisa lihat video di Youtube saya, tentang hal-hal absurd. Tapi baru tiga video saja. Selain itu saya pun harus membekali diri dengan apa-apa yang berkaitan dengan dunia stand up comedy. Misalnya apa itu premis, punchline, blue material, timming, ripping, act-out, artikulasi, sampai mic-ing. Ya, bagaimana seorang komika mampu menampilkan komedi yang lucu bagi semua orang yang menontonnya. Mama eee sa pikir mudah ternyata uzu roooo.

Satu yang saya pinta dari kalian. Bukan suara, karena saya tidak nyaleg dan Pemilu sudah berakhir. Yang saya minta hanyalah doa dan dukungan agar kegiatan ini berjalan dengan baik dan lebih berkembang ke depannya.

Baca Juga: Fair Play Flag

Salam ngakak :p



Cheers.
loading...

0 komentar:

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.