Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Wednesday, June 26, 2019

Violin Kerong Seorang Pelukis Sketsa Wajah Terbaik

Sketsa oleh Violin Kerong.

Bingung mau memasukan tulisan ini di tema #SelasaTekno atau #RabuDIY. Saya memilih di #RabuDIY saja; masih berhubungan dengan membikin sendiri dan melengket erat dengan kreativitas juga. So, selamat datang di #RabuDIY, harinya kita berkreasi sepuas-puasnya. 

Baca Juga: Cara Membikin Wadah Berbahan Semen dan Kaktus Batu

Namanya Violin Kerong, sering saya panggil Cio karena ikut-ikutan teman-teman seangkatannya yang memanggilnya dengan Cio. Mungkin Cio itu dari Viol. Panggilan manja. Hehe. Saya mengenal Viol sebagai dosen Prodi Arsitektur Universitas Flores (Uniflor) yang kemudian menjadi Kaprodi Arsitektur. Perempuan pemberani ini punya segudang talenta di lini seni. Alhamdulillah, Tuhan menganugerahi begitu banyak talenta padanya. Nyanyi, bisa. Main gitar, bisa. Bikin aneka produk DIY atau kerajinan tangan, bisa. Keliling Flores kendarai sendiri sepeda motor, bisa. Melukis sketsa wajah, bisa!

Bersama Viol di depan SMAK Alvarez di Paga.

Baru-baru ini saya dikejutkan oleh pesan WA-nya. Wow. Sampai takjub. Sudah lama saya mengirimkan foto padanya untuk disketsa. Harga ... harga teman ... LOL! Gratis dink. Kebakaran yang melahap rumahnya menyebabkan dia belum membikin sketsa wajah saya dan sungguh sayang galeri mininya yang dipenuhi sketsa wajah orang-orang yang memesan atau teman-teman, ikut hangus. Ada satu hal yang patut saya contohi dari Viol yaitu semangatnya. Sketsa wajah saya, yang dikirm via WA itu, termasuk sketsa-sketsa pertama setelah musibah kebakaran di rumahnya.

Ini dia hasil utuhnya:


Wow sekali kan? Saya suka!!! Detailnya itu ... ck ck ck. Jago bener orang ini ya. Terima kasih Viol untuk sketsa wajah saya ini. Sungguh tidak sanggup saya membalasnya hahaha. Bakal saya beli pigura 10R untuk menyimpannya/menggantung di dinding rumah. Terus berkarya, kawan. Jadilah mata air. Karena, mata air akan selalu hidup meskipun aliran air dibikin mati. Luv ya!

Baca Juga: Bunga Dinding

Sekali lagi terimakasih.



Cheers.

Monday, June 24, 2019

Balada: Lebih Baik Sakit Hati Daripada Sakit Gigi Ini


Kalau kalian lupa, judul pos ini tentu bakal segera mengingatkan kalian pada Meggy Z, hanya beda kata yang saya balik. Iya, Meggy Z bilang lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Kalau saya bilang, lebih baik sakit hati daripada sakit gigi! Sumpah, sakit hati masih bisa diredakan dengan jalan-jalan dan makan-makan. Biasa kan, supaya mantan tidak terlalu menguasai isi kepala kita. Kita? Hahaha. Sakit gigi tidak bisa diredakan begitu saja dengan jalan-jalan apalagi makan-makan. Saya mengalaminya saat pra-sedang-paska Idul Fitri kemarin. Sakitnya sudah tidak tertahankan dan sebaiknya dicabut saja. 

Baca Juga: Seorang Kapten Kebanggaan yang Gugur Saat Bertugas

Tapi apa daya, tempat praktek dokter gigi masih tutup. Saya harus menunggu. Sehari setelah Idul Fitri ke-dua yaitu Jum'at (8/6/2019) saya pun mengajak Kakak Nani Pharmantara untuk pergi ke dokter Bambang yang beralamat di samping Apotik Gatsu, Jalan Gatot Soebroto, Ende. Usai pulang dari Pantai Aeba'i di hari ke-dua Idul Fitri gigi saya memang kurang nyut-nyutan karena dikasih ramuan kumur tradisional oleh Ka'e Dul, suaminya Kakak Nani. Tapi penyakit jangan disimpan kan ya. Maka saya memutuskan harus pergi ke dokter!

Untungnya Thika Pharmantara sudah mendaftarkan nama saya pagi harinya, sehingga sore hari saya tinggal mendaftar ulang. Untung benar, karena hari itu dokter hanya bisa menangani lima pasien saja karena ada keperluan begitu, menurut petugas jaganya. Alhamdulillah.

Dokter:
Ini giginya masih bagus. Ditambal saja ya? Daripada dicabut.

Saya dan Kakak Nani (kompak):
JANGAN, DOK! DICABUT SAJA!

Dokter (meringis):
Ya sudah. Saya kasih obat. Senin sore datang buat dicabut ya. Dia sudah ada pembengkakan ini, nanah mulai berkumpul, jadi Senin nanti masih bengkak atau tidak tetap saya cabut, asal obatnya diminum teratur.

Siap! Obat yang saya minum itu terdiri dari antibiotik, obat pereda bengkak, dan pereda nyeri. Kata dokter, saya boleh melanjutkan Mefinal yang selama ini ada di dompet obat. Tidak perlu membeli lagi Katflam serbuk begitu. Oke, dok. Terima kasih. Lumayan berhemat karena Kataflam serbuk itu mahalnya juga bikin ngeri hahaha. Oh iya, untuk pemeriksaan dan resep dokter saya dicas 150K.

Senin (10/6/2019) hari pertama masuk sekolah kantor, sore harinya saya dan Kakak Nani kembali pergi ke tempat praktek dokter Bambang. Tentu, sebelumnya sudah didaftarkan dulu salam Thika. Tiba di sana, sudah ramai saja itu antrian pasien. Maklum, tempat praktek ini bukan cuma dokter Bambang seorang, tetapi ada dokter lainnya yaitu dokter anak yang saya lupa namanya. Hahaha. Ingat sih, tapi takut salah. Pokoknya lapor ulang nama saya yang sudah didaftarkan Thika, dan menunggu nama dipanggil.

Ada perasaan deg-degan ini. Terutama ketika nama saya dipanggil dan duduk di kursi dokter gigi hidrolik itu. Terus saya diukur tekanan darahnya dulu donk. Alhamdulillah masih tetap 120/90. Dokter Bambang lantas mulai menyuntik obat bius lokal sekitar gusi. Dua kali suntik, dites begitu, masih terasa sakit. Dokter menambahkan obatnya.

Dokter:
Saya gemas sama gigi ini.

Saya:
(Pengen ketawa cuma hwkhwk saja).

Dokter:
Yuk kumur dulu beberapa kali. Airnya itu.

Saya:
(Kumur, melihat darah).
Sudah dicabut, dok?

Dokter:
(Tidak menjawab).

Singkat kata, singkat cerita, terhitung hanya sekitar 7 menitan saja saya berada di ruang dokter gigi! Lantas asistennya menyerahkan gigi saya yang sudah dimasukin plastik klip. What? Are you kidding me? Kok cepat? Ini pengalaman cabut gigi tercepat yang saya alami dan tanpa sakit! Sungguh, Kakak Nani saja sampai tidak percaya kalau gigi saya sudah tercerabut dari gusi. Uh wow sekali kan dokternya. Kirain mau dipakai linggis sama hamar dulu begitu hahaha. Untuk cabut gigi dan obat-obatan saya dicas 450K. 

Dokter:
Ingat ya. Sepulang ini, kapasnya dilepas. Terus langsung makan dan minum obatnya supaya tidak sakit meskipun efek biusnya sudah hilang. Ini saya kasih yang bagus obatnya supaya tidak perlu sakit-sakit lagi. Setelah minum obatnya, ini saya kasih satu kapas lagi, ditempel di gusinya. Satu jam saja, langsung dilepas lagi. Sudah begitu saja. Yang penting obatnya harus dihabiskan. Tapi kalau sudah tidak sakit, obat anti nyeri tidak perlu diteruskan, cukup antibiotik saja.

Yay! Terima kasih, dokter!

Dan sejak sore itu sampai sekarang saya bisa ngakak sepuasnya.

Sekarang ... siapa bilang lebih baik sakit hati daripada sakit gigi? Sini saya bantu tusuk giginya pakai jarum panas *sadis* ahahaha. Soalnya saya sudah berkali-kali merasakannya, kawan. Beberapa gigi saya memang sudah dicabut pun. Dan lebih baik sakit hati ketimbang sakit gigi. Sakit gigi itu, apa-apa serba salah. Orang ngomong, salah. Orang ngakak, salah. Kita mau makan, salah. Dan seterusnya! Dududud.

Baca Juga: Konsisten Nge-blog Setahun

Semoga kalian tidak mengalami seperti apa yang saya alami, ya. Serius ini.



Cheers.

Saturday, June 22, 2019

Geser Dikit Halaman Hatimu dari Bara Patty Radja


Tidak bisa dipungkiri saya sangat mengagumi sosok yang satu ini. Bara Patty Radja. Nama seorang lelaki dari Pulau Adonara yang cerdas memilih dan bermain diksi. Apabila kalian melihat kue lapis, Bara berada di lapisan teratas ⇻ licin mengkilat, sedangkan saya masih berupa tepung yang belum direncanakan untuk bercampur dengan bahan-bahan kue lapis. Beruntungnya, saya boleh memiliki dua buah buku karya Bara. Buku kumpulan puisi. Membaca puisi-puisi karya Bara membikin saya dan, semoga, kalian mengalami pengalaman bak sedang traveling di sekitar Galaksi Bima Sakti. Di tangan Bara, puisi menjadi makanan kegemaran yang tidak akan pernah membosankan.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Pengalaman itu ingin saya bagi pada kalian. Karena, pengalaman adalah harta paling berharga yang tidak dapat dibeli Rupiah, Dollar, maupun Euro. Karena, pengalaman adalah guru paling nyata dalam kehidupan umat manusia, tanpa harus mandi, bercemong bedak, dan duduk di bangku kayu, menghadap papan hitam berkapur tulis.

Penyair Indonesia dari Lamahala 


Lahir pada tanggal 12 April 1983 di Desa Lamahala, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bara Patty Radja. Sekilas, namanya mengingatkan kita pada chef beken Bara Raoul Pattiradjawane. Keduanya sama-sama hebat. Dari perbincangan kami di Pohon Tua, silahkan baca tentang Tamu Spesial di pos ini, saya tahu Bara adalah seorang guru di Pulau Adonara, yang pernah 'membawa' Najwa Sihab ke Kabupaten Pulau Lembata, dan membangkitkan dunia literasi terkhusus aktivitas membaca di pulau itu. Awesome!

Mengobrol bersama Bara membikin saya berada dalam dunia puisi itu sendiri karena pilihan katanya saat mengobrol pun terdengar sangat puitis. Jago dan berkualitas benar orang ini, kata saya dalam hati. Jujur, mengobrol dengannya membikin pengetahuan saya menjadi lebih dan lebih, serta otak saya yang seakan terkunci itu mendadak membuka dengan sendirinya. Semua itu menjadi lebih lengkap dengan sikapnya yang low profile

Bersama Bara dan Mukhlis di Pohon Tua.

Bara adalah penyair Indonesia yang telah menerbitkan puisi-puisinya ke dalam beberapa buku antara lain: Bermula dari Rahim Cinta (2005), Protes Cinta Republik Iblis (2006), Samudra Cinta Ikan Paus (2013) , Pacar Gelap Puisi (2016), Aku adalah Peluru (2019) sebuah buku semi biografi. Terbaru dan terhangat, sebuah buku berjudul Geser Dikit Halaman Hatimu. Geser Dikit Halaman Hatimu merupakan buku kumpulan puisi Bara yang bertengger di #SabtuReview ini.

Geser Dikit Halaman Hatimu


Geser Dikit Halaman Hatimu, buku bersampul merah muda dengan gambar wajah perempuan menengadah dan rambut tergerai. Minimalis sekaligus manis. Buku ini lantas menjadi penghuni tetap backpack saya bersama buku lain berjudul The Book of Origins karya Trevor Homer.

Bersama manajemen GDHH, Bara penerbitkan buku ini melalui Penerbit Huruf. Harga yang dilempar di pasaran adalah Rp 50.000 (Lima Puluh Ribu Rupiah) saja. Beruntung saya mendapatnya gratis langsung dari si penyair! Dilarang syirik. Hehe. Geser Dikit Halaman Hatimu bukan sekadar buku kumpulan puisi biasa. Geser Dikit Halaman Hatimu, berdasarkan kutipan dari buku itu sendiri, dilengkapi dengan QR Code Audio Version Poetry Reading sehingga pembaca dapat langsung mendengarkan puisi-puisi itu. Tidak main-main, puisinya dibacakan oleh Olivia Zallianty, pegiat sastra Azizah Zubaer, dan oleh Bara sendiri. Saya belum mendengarkan suara-suara mereka saat membaca puisi-puisi dari Geser Dikit Halaman Hatimu. Tapi waktu membacanya saya larut. Betul, di tangan Bara, puisi menjadi makanan kegemaran yang tidak akan pernah membosankan.

Ini jenius!


Seperti wajah Louis Tomlinson yang tidak akan pernah membosankan mata saya.

Ah ... haha.

kupilih mencintaimu separuhnya
dengan akal sehat
sebab sepenuhnya dengan rasa
bikin gelap mata

[Pilih Apa, Geser Dikit Halaman Hatimu]

Cuplikan dari Pilih Apa di atas menginterpretasi tentang dunia asmara. Memang betul. Cinta yang sepenuhnya dengan rasa bakal bikin gelap mata. Membabi-buta. Alpa menimbang akibat kemudian hari. Maka, cintailah seseorang separuhnya dengan akal sehat. Sadaaaaap. Jadi pengen kirimin puisi ini untuk seseorang. Haha.

Kalau kalian belum punya bukunya, baik yang gemar puisi maupun tidak, saya sarankan untuk segera membeli Geser Dikit Halaman Hatimu. Karena, pengalaman yang akan kalian rasakan akan membikin kalian rela membolak-balik, berkali-kali membaca, hingga seperti saya bertanya sendiri: dari mana seorang Bara menemukan ilham mempertemukan diksi-diksi ini? Tidak hanya mempertemukan, tapi kemudian mengawinkan mereka sehingga pertemuan itu berakhir di pelaminan dan terlihat sempurna!

Kritik Dalam Diksi


Dulu, saat saya membaca buku Samudera Cinta Ikan Paus karya Bara, sungguh bergetar sendi-sendi tubuh dan labirin otak. Salah satunya berjudul Di Bawah Rok Payungmu. Puisi ini menghantarkan kritik pedas tentang betapa pedihnya nasib para guru honorer di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kalau kalian rajin membaca berita, bertebaran berita tentang kondisi yang satu ini.

berjalanlah dengan diam, ea
akan kueja warna takdir
di bawah kibaran rok payungmu

dan takdir seperti kamus matematika
yang buntu. seperti hatimu
yang patah dikhianati
angka-angka ganjil
saat menggenggam honor

kau tau?
sekolah memang tak mengenal cinta
dan ampun
sekolah tak mengajarkan
harga hati manusia

ada hanya sepotong angan
yang bunting
dihamili kering cuaca

[Di Bawah Rok Payungmu, Samudera Cinta Ikan Paus]

Menurut tuturan Bara, Geser Dikit Halaman Hatimu ditulis dengan sedikit lebih ringan ketimbang puisi di dalam buku-buku sebelumnya. Tapi tetap saja diksi yang disajikan, meskipun sederhana sungguh menikam. 

Puisi Bara, unik dan sederhana, tetapi 'menikam'.

Dan selalu, muatan kritik melalui diksi dalam puisi-puisinya itu membikin kalian tersenyum, kemudian merasa 'ini kok saya banget ya', mengangguk sependapat, dan bertepuk tangan. Iya, saya bertepuk tangan usai setiap kali membaca beberapa puisi, sampai teman yang ada di dekat situ terperanjat. Ibarat melepas angin setelah menahan nafas cukup lama. Membaca puisi-puisi Bara itu rasanya memang seperti menahan nafas yang nikmat: teknik nafas 4 - 7- 8.


Android adalah salah satu judul puisi di dalam Geser Dikit Halaman Hatimu. Kritik bermata tombak super tajam dan juga terpedas ada di puisi yang satu ini. 

betapa berat mencintaimu
di masa android
handphone mengubahmu menjadi paranoid
baru semenit lalu aku meninggalkan rumah
engkau sudah vicall

dengan layar sentuh
engkau sibuk memindai dunia
ketimbang menyentuh hatiku

betapa lain mencintaimu
di masa online
hari harimu kini tak lagi milikku sepenuhnya
tetapi milik facebook, twitter
whattsapp atau instagram

belati hatiku mencintaimu
di masa instant
untuk membeli tomat di warung sebelah saja
mesti engkau unggah

kau autis aku tak lagi puitis
benda mati mengubah kita
menjadi orang asing

kita bicara
tapi tak lagi beradu pandang
aku kehilangan tatapanmu
sebab yang kau tuju
bukan sorot mataku
tapi layar gadgetmu

betapa candu mencintaimu
tanpa kuota dan sinyal

[Android, Geser Dikit Halaman Hatimu]

Kalian setuju dengan saya kalau puisi ini bermata tombak super tajam dan memuat kritik terpedas? Harus donk! Fenomena zaman sekarang memang seperti itu, kawan. Engkau sibuk memindai dunia ketimbang menyentuh hatiku. Sebuah fakta yang sulit kita elak. Teknologi internet telah menjadikan saya, kalian, mereka, pengabdi gawai yang kaku seperti zombie di dunia fana, namun ingin terlihat lincah dan penuh perhatian di dunia maya. 

Tidak salah bukan jika saya mengajak kalian turut menggeluti dan menikmati Geser Dikit Halaman Hatimu? 

Baca Juga: The Book of Origins

Terima kasih, Bara. Untuk puisi-puisi yang indah ini. Untuk kesederhanaan yang menikam ini. Untuk membikin saya larut dalam dunia Geser Dikit Halaman Hatimu.

Terus berkarya!



Cheers.

Friday, June 21, 2019

#PDL Iseng Memotret Akim Tapi Hasilnya Bikin Senyum


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

⇜⇝

Akim adalah sahabat baik masa kuliah yang kemudian menjadi adek karena tidak mungkin dia menjadi kakak. Banyakan umur saya dari dia! Hehe.

Suatu sore yang iseng, karena iseng adalah nama tengah kami, sambil menunggu dosen yang belum datang juga, kami bermain-main di balkon lantai tiga Gedung Rektorat. Iya, pemandangan dari balkon ini luar biasa lah. Bisa melihat lanskap Kota Ende, bahkan kalau beruntung bisa melihat pesawat touch down dan take off. Sore itu, ketimbang saya melihat Akim memotret sana sini, saya suruh saja dia jadi model. Hasilnya ... bisa kalian lihat pada gambar di awal pos. Saya senyum ... senang. Bagus sih menurut saya meskipun tidak pakai kamera DSLR.

Tjakep kan?



Cheers.

Thursday, June 20, 2019

5 Tips Agar Kembali Semangat Ngeblog Setelah Liburan


Satu minggu, kira-kira, sebelum libur Idul Fitri 2019 tiba, saya sudah libur nge-blog. Alasannya? Ya ingin fokus ibadah dan membereskan banyak hal urusan perasaan rumah tangga, khas, menjelang Idul Fitri. Maklum, ada lembaran seng yang harus diganti. Haha. Kayak kuli bangunan dooonk. Ketimbang nge-blog-nya tidak fokus, lebih baik libur dulu kan. Saya yakin banyak dari kalian yang juga meliburkan diri dari ranah blog menjelang Idul Fitri kemarin. Terutama blogger perempuan. Tidak hanya melulu menyiapkan kudapan, tapi membersihkan rumah, mengganti gorden, membuat to do list termasuk membayar zakat, sampai belanja ini itu keperluan hari raya. Superwoman!

Baca Juga: 5 Patterns

Kapan kembali dari liburan nge-blog? Tergantung sih. Kalau saya memilih tepat di awal minggu. Jadi, Senin minggu kemarin saya sudah mulai kembali nge-blog dan mengisi blog ini dengan konten khusus HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday

Hampir semua orang pasti mengalami kemalasan tingkat akut setiap kali liburan selesai, baik libur umum yang ditetapkan oleh sekolah dan kantor masing-masing, maupun libur nge-blog yang ditetapkan sendiri melalu Surat Keputusan Libur Nge-blog. Saya termasuk di dalamnya. Setiap kali menghidupkan laptop, larinya pasti nge-game. Kalau tidak nge-game pasti nonton filem atau serial. Mau traveling, waktunya nanggung. Parah banget pokoknya. Kalau dibiarkan, saya yang merugi, karena kurang produktif menulis dan membikin otak sumpek. Hal ini tidak boleh dibiarkan! Harus dilawan!

Perlawanan itu kemudian menjadi bahan dasar tulisan ini ... hehe ... tips agar kembali semangat nge-blog setelah liburan.

1. Lebih Rajin Menengok Blog


Selama liburan, tidak bisa dipungkiri, kita menikmati kehidupan fana dan melupakan sejenak blog ini. Hayo unjuk jari yang juga begitu! Hehe. Saya sendiri lebih sering di rumah saja dan memeriksa to do list. To do list ini dipegang sama Thika Pharmantara dan Enu (teman si Thika yang tinggal di rumah). Setiap hari bakal nanya ke mereka: apa yang sudah, apa yang belum? Atau, mereka yang bakal bilang ke saya: hari ini jadwal kita membikin stik keju, Ncim. Yang seperti itulah.

Tapi, pada tanggal 7 Juni 2019, setelah Idul Fitri hari kedua, saya mulai membuka tautan blog sendiri. Mulai melihat banyaknya sarang laba-laba haha. Kemudian, saya juga mulai membuka e-mail untuk memeriksa pemberitahuan ini itu. Maka, menyuntik semangat nge-blog pada diri sendiri, saya mulai membikin daftar kegiatan selama liburan. Ini bermanfaat sebagai bahan dasar menulis/konten blog. Kalau bukan diri kita sendiri, siapa lagi?

2. Bikin Daftar Kegiatan Selama Liburan


Membikin daftar kegiatan selama liburan itu menyenangkan. Bagi saya, liburan Idul Fitri 2019 sangat penuh berkah dan cerita. Banyak sekali kegiatan bermanfaat selain menyiapkan ini itu untuk menyambut hari raya. Tidak perlu semua kita catat/daftar sebagai bahan menulis usai liburan, cukup yang penting-penting saja. Misalnya, saya harus menulis tentang tamu-tamu spesial yang datang ke rumah, piknik Idul Fitri hari kedua, sampai paket kiriman dari Ilham Himawan. Yang tidak perlu detail saya tulis adalah tentang kudapan tradisional/pasar yang juga disuguhkan di meja *ngikik*. 

3. Menulis Seri (Horeday)


Bukan rahasia lagi, blog saya mempunyai tema harian. Tapi tahun ini saya kembali dari liburan dengan cerita-cerita yang bukan tema harian. Kembali pada poin  nomor dua di atas, saya sudah punya daftar kegiatan selama liburan, daftar-daftar itu harus ditulis lah. Ibarat dunia stand up comedy, premisnya ada, tinggal bangun set up dan ciptakan punch line. Salah satu Horeday adalah tentang sharing public speaking dan dunia stand up comedy. Ya ya ya baiklah, saya sertakan saja semua seri Horeday di sini.

Horeday #1: The Legend Cookies Choco & Cheese Stick
Horeday #2: Sharing Public Speaking dan Dunia SUC
Horeday #3: Pharmantara Big Family and Happy Eid Raya
Horeday #4: Tamu-Tamu Spesial di Hari Super Spesial
Horeday #5: Piknik Encim and The Gank di Pantai Aeba'i
Horeday #6: Well Done! I Finished My Stone Project
Horeday #7: Rejeki Anak Solehah dari Makassar

Kisah-kisah Horeday memang sangat personal yang bahkan mungkin sangat tidak bermanfaat bagi kalian yang membacanya. Tapi saya suka. Hehe.

4. Kembali Pada Tema Harian


Hyess. Setelah menulis apa-apa di luar kebiasaan harian blog ini, saya kembali pada tema harian. Semacam prolog yang telah selesai dilanjutkan dengan cerita inti. Selamat datang kembali #SeninCerita, #SelasaTekno, #RabuDIY, #KamisLima, #PDL di hari Jum'at, dan #SabtuReview

5. Kembali Blogwalking


Inilah kegiatan yang belum sempurna saya lakukan. Ternyata tahun ini setelah Idul Fitri saya harus sedikit renggang blogwalking karena dinding dapur yang rubuh akibat perbuatan akar pohon yang jahat. Tapi, terima kasih akar pohon ... pada akhirnya dapur basah, bagian paling belakang rumah, kini memiliki wajah baru. Yuhuuuu.

⇜⇝

Semoga lima tips di atas dapat membantu kalian untuk kembali semangat nge-blog. Saya sendiri punya satu bonus yaitu Kelas Blogging Tuteh yang anggotanya mulai rajin menyetor tautan tulisan baru yang di pos di blog mereka. Kerennya lagi tulisan mereka sesuai dengan ilmu akademik yang dipelajari di bangku kuliah: antara budaya dan fisika misalnya. Kan bagus itu ... suka sekali pokoknya. Nanti saya bakal mengulas tentang mereka. Insha Allah.

Baca Juga: 5 Youtuber Ende

Bagaimana dengan kalian kawan? Tetap semangat nge-blog?



Cheers.

Wednesday, June 19, 2019

Cara Membikin Wadah Berbahan Semen dan Kaktus Batu


Hola! Ketemu lagi di #RabuDIY. Pada seri Horeday saya sudah menulis tentang Horeday #6: Well Done! I Finished My Stone Project. Rasanya kurang afdol bila di hari khusus proyek Do It Yourself (DIY) saya tidak menulis tentang cara membikinnya haha. Jadi, mari kita simak apa saja bahan dan tata cara membikin hiasan meja kaktus batu yang masuk dalam Stone Project, salah satu resolusi saya di tahun 2019.

Baca Juga: Tempat Alat Tulis

Membikinnya memang mudah. Siapkan dulu alat dan bahan yang bakal digunakan untuk proyek DIY yang satu ini.

Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang harus disiapkan adalah sebagai berikut.

Alat:
1. Gunting.
2. Pisau/cutter.
3. Lakban.


Bahan:
1. Semen.
2. Air secukupnya.
3. Wadah bakal proyek semen.
4. Batu pilihan.
5. Cat.
6. Tipeks bolpoin. 

Cara Membikin


Pertama-tama harus dibikin terlebih dahulu wadah berbahan semennya ya, kawan. Karena wadah itu yang bakal jadi tempat berdirinya si kaktus batu. 

Wadah semen:
Silahkan pilih dan siapkan wadah atau mal bakal wadah semen ini. Saya mengguakan tiga wadah yaitu kotak bekas teh kotak, botol plastik bekas Coca Cola yang bagian bawahnya berbentuk unik itu, dan tentu saja sarung tangan karet atau sering disebut handscoon. Kalian juga bisa menggunakan wadah seperti kain segi empat yang dicelupkan di adonan semen kemudian ditutup di gelas kertas/plastik. Tapi saya belum membikin wadah/pot yang seperti itu. Baru tiga bentuk saja seperti yang sudah ditulis di atas.

Langkah berikutnya: campurkan semen, saya memakai semen biasa yang bisa dibeli per-kilogram, dengan air secukupnya. Tanpa pasir! Karena kan kita tidak ingin membangun rumah tangga. Adonan semen ini tidak boleh terlalu encer karena bakal merusak hasilnya. Percaya lah, saya sudah mengalaminya jadi bisa menulis begitu. Haha. Setelah campuran semen dirasa oke, tidak terlalu encer, dan tidak terlalu padat. Semen sebanyak satu kilogram bisa menghasilkan enam wadah/pot loh.

Untuk kotak bekas teh kotak, setelah adonan semen dimasukkan ke kotaknya, bagian tengahnya diletakkan dua bungkus rokok yang sudah saya rekatkan (yang makan menghasilkan lubang). Karena rada susah kalau ditahan pakai batu, saya menahannya dengan lakban agar posisinya pas di tengah alias tidak miring.

Ini hasilnya yang sudah jadi.

Untuk botol plastik bekas Coca Cola, saya potong dulu setengah bagian botol plasti, lalu memakai bagian bawahnya yang diisi semen, dan untuk tengahnya saya tahan menggunakan gelas kertas atau gelas plastik. Untuk menahan gelas plastik di bagian tengah ini boleh dipakai pemberat batu atau barang lain yang bisa menstabilkan si gelas di tengah adonan semen di dalam botol.
Untuk sarung tangan karet, pertama-tama isi adonan di sarung tangan, kemudian diikat/tutup bagian atasnya. Agar hasilnya nanti si tangan dalam bentuk membuka begitu, letakkan di mangkuk kaca seukuran dan tetap ditahan dengan batu agar bentuknya bagus.

Setelah adonan dimasukkan ke dalam wadah/mol, diamkan seharian. Misalnya dibikin hari ini, besok baru boleh dibuka. Ditaksir saja adonan sudah kering begitu. Hehe. Membuka wadah tidak sulit. Pelan-pelan saja. Paling mudah memang membuka/melepaskan wadah kotak bekas teh kotak. Tinggal cabut bungkus rokoknya, terus sobek kotaknya, tradaaaa. Yang harus hati-hati yang botol dan sarung tangan karet. Ekstra hati-hati ya, jangan sampai pecah donk hasil kerja kita.

Kaktus batu:
Ini sih paling mudah bikinnya. Setelah batu dibersihkan, yang ukurannya kita sudah tahu pasti bakal muat di wadah/pot semen, lalu di-cat. Saya memakai cat minyak dua warna: hijau tua dan hijau muda. Cat salah satu sisinya dulu, lantas keringkan. Kalau sudah kering, cat lagi sisi satunya lagi. Kalau sudah kering semuanya, tinggal dibikin bunga kaktus menggunakan tipeks.

Kaktus Batu yang Menawan


Kaktus batu ini memang menawan dan saya letakkan di ruang tamu (tiga meja) satunya lagi saya letakkan di meja ruang keluarga.




TRADAAAAA ... Mudah bukan? Dua hari membikinnya, langsung jadi seperti ini, siapa yang tidak senang? Senang lah!

Baca Juga: Travel Booth

Ayo bikin! Kalian juga pasti bisa bikin. Asalkan jangan lupa memakai masker saat mencampur adonan semen supaya kalian tidak menghirup debu semen yang bertebangan di udara haha. Waktu itu saya lupa memakai masker jadinya ya bersin-bersin tak karuan. 

Selamat berkreativitas, kawan!



Cheers.

Tuesday, June 18, 2019

Teknologi Dasar yang Setidaknya Harus Dikuasai oleh Manusia


Saya pernah menulis tentang Teknologi Dasar. Inti dari pos itu adalah tentang bagaimana manusia zaman sekarang 'mereka-ulang' teknologi dan teknik dasar yang digunakan oleh manusia zaman purba untuk, misalnya, membangun rumah bahkan rumah bertingkat, membangun kolam renang dengan aliran air dari sumber mata air, membikin tempat pembakaran dan penyulingan tuak dari nangka dan beras, membikin api, memasak menggunakan batu dan bantuan panas matahari, dan lain sebagainya. Teknologi-teknologi dasar itulah yang menurut saya setidaknya memang harus dikuasai manusia. Terkhusus teknologi dan teknik membangun rumah.

Baca Juga: Re: Ease

Baru-baru ini dinding dapur belakang (dapur basah) rumah saya rubuh satu sisinya. Dinding itu tidak kuat menahan dorongan akar pohon yang tidak kami sangka terpeta diantara dinding dapur dengan tembok penyokong rumah tetangga sebelah atas. Tidak main-main akar pohon itu, setelah digali, besarnya bisa sepelukan tiga orang dewasa. Awwww. Pantas saja dinding rumah rubuh alias jebol. Tapi selalu ada hikmah dari setiap kejadian bukan? Alhamdulillah Mamasia yang saat itu sedang mencuci baju tidak tertimpa pecahan dinding. Alhamdulillah kami serumah jadi tahu teknologi dan teknik dasar membangun dinding.

Rumah Dua Musim


Pohon Tua, rumah induk keluarga Pharmantara, saya sebut sebagai rumah dua musim yang dikerjakan tidak secara bersamaan. Bagian belakang rumah terdiri atas ruang makan, ruang keluarga, dapur bersih, tiga kamar mandi (salah satunya kemudian berubah menjadi kamar), dua WC, dapur kotor, dan dua kamar tidur. Tembok bagian belakang ini dikerjakan sudah sangat lama oleh alm. Nene Linus (mertuanya Mamasia) tentu bersama alm. Bapa. Bentuknya temboknya 'bengkok' di mana-mana, dengan kayu-kayu penyangga yang simpang-siur serta tripleks-tripleks tua nan uzur. Sampai-sampai kami sering ngetawain rumah ini sambil guyon. Bagian belakang rumah dikerjakan pada 'Musim Harus Jadi' dengan lantai semen.

Bagian belakang: Musim Harus Jadi.

Bagian depan rumah, setelah direnovasi, terdiri atas teras, ruang tamu, dan dua kamar tidur. Bagian depan rumah ini dikerjakan juga masih oleh alm. Nene Linu dan dibantu (dimandori) oleh alm. Bapa, dengan tingkat kemiringan yang masih bisa mengelabui mata *ngakak guling-guling*. Bagian depan rumah ini dikerjakan pada 'Musim Jadilah Rumah yang Bagus' dengan lantai keramik dan atap yang lumayan tinggi.

Bagian depan: Musim Jadilah Rumah yang Bagus.

Jadi, kalau kalian datang ke Pohon Tua, akan menemukan rumah dua musim pengerjaan yang bentuknya secara estetika akan sangat jauh berbeda. Tapi, tetap saja rumah bagian belakang itu selalu menjadi tempat favorit untuk kumpul-kumpul karena rasanya hangat dan selalu penuh cinta *ditonjok dinosaurus*. Bukan berarti ruang tamu tidak nyaman dan hangat, tetapi kalian pasti tahu yang namanya ruang makan dan ruang keluarga selalu memberi perasaan nyaman yang 'lebih'.

12 Juni 2019


Pada tanggal keramat itu, saat saya sedang bekerja di kamar, terdengar suara gemuruh diiringi teriakan Mamasia yang kabur ke luar. Ternyata dinding dapur basah, paling belakang rumah, rubuh. Dinding yang rubuh itu hanya sekitar tujuh batako disusun sejajar saja tapi tetap lah membikin jantung kebat-kebit karena di sebelahnya ada dinding dengan bak air cuci piring menempel. Semua tenaga yang bisa diandalkan kemudian datang membantu memotong pohon ara yang berdiri, ternyata, diantara dinding dapur dan tembok penyokong tersebut.

Akar pohon ara ini sungguuuuh besar!

Keesokan hari, setelah dibersihkan, terlihatlah akar pohon yang super besar dan harus dipotong menggunakan mesin sensor. Parang biasa mah iwa negi, kata Orang Ende. Bisa kalian bayangkan, untuk memotong, membersihkan area pengerjaan, hingga sensor akar pohon membutuhkan waktu dua hari.

Kenapa Dikerjakan Sendiri?


Karena tukang yang seharusnya mengerjakannya ngambek dengan suatu alasan hahaha kemudian pulang ke rumahnya. Kata kakak ipar saya, Ka'e Dul, sudahlah kita kerjakan sendiri. Yang macam begini mudah saja asalkan tidak terburu-buru. Pasir, semen, batako, siap. Tenaga? Masa iya Ka'e Dul mengerjakannya seorang diri sedangkan Eda Tuke (suami Mamasia) sedang sakit? Maka hari Jum'atnya, tanggal 14 Juni 2019, kami serumah berganti profesi menjadi asisten tukang bangunan. Hahahaha.

Teknologi dan Teknik Dasar


Saya kira membangun dinding/tembok menggunakan batako itu mudah saja. Tinggal susun dan dilapisi campuran semen. Tidak begitu, kawan! Beruntunglah Ka'e Dul ini meskipun ASN tapi suka mengerjakan hal-hal semacam ini, yang sangat 'laki', jadi kami tidak susah hahaha. Mau memanggil tukang lainnya, dilarang Ka'e Dul, sudahlah dikerjakan sendiri saja. Aman saja. Ka'e Dul memang menguasai teknik menyusun dinding batako semacam ini, termasuk rumah mereka bagian belakang itu dikerjakan sendiri loh, hanya saja kondekturnya alias asisten yang tidak ada sehingga kami serumah bergotong-royong. Hyess, Encim and The Gank bahu-membahu dengan caranya masing-masing.

Misalnya pada hari pertama, Ka'e Dul dan Kakak Nani beserta calon anak mantu cs membantu membersihkan, termasuk Abang Nanu Pharmantara, Angga dan Mbak In, kemudian kami urunan untuk membeli material dan membayar biaya ini-itu. Have fun sekali.

Ayo, Thika!

Teknik dasar yang harus dilakukan adalah mengukur. Setelah mengukur, Ka'e Dulu mulai membikin mal dari kayu untuk menahan adonan awal/fondasi baru. Setelah itu baru diukur lagi rata atasnya, jangan sampai musim pertama terulang lagi hahaha. Tekniknya itu kadang kita yang awam tidak paham kenapa harus begini, kenapa harus begitu, kenapa ada selang pengukur, kenapa harus pakai besi, dan lain sebagainya. Pada akhirnya kami paham setelah dijelaskan oleh Ka'e Dul. Wah, sudah bisa nih kami jadi tukang bangunan.

Enu, si Serba Bisa.

Kerja bersama ini menjadi lebih ramai dan seru karena teman Thika yang tinggal bersama kami, namanya Enu, punya tingkah unik. Cewek bertubuh mungil ini ternyata ... luar biasa. Kerja apa saja bisa! Tapiiii posisi baju/atasan harus di dalam bawahan. RAPI JALI! Sumpah, saya ngakak guling-guling melihat tingkah si Enu yang serba bisa ini.

Tangan belepotan campuran semen, kaos tetap masuk dalam!

Urusan membangun dinding ini tidak terlepas dari campuran pasir dan semen yang takarannya sudah ditentukan oleh Ka'e Dul. Dan Kakak Nani tidak mau kalah membantu dengan kondisi tangan kirinya patah. Tangan kiri ini sudah dioperasi dengan memasang pen, tetapi harus dioperasi ulang karena pen-nya bergeser, tapi bergesernya bukan karena mencampur adonan semen ya hahaha.

Kakak Nani.

Dengan bangganya Kakak Nani bilang begini, "Biar saya yang campur adonan dengan air! Encim tugas siram-siram air saja. Untung saya bawa sekop mini andalan ini." Hahaha. Love you, Kak.

Dua cewek ini 'sudah tidak ada obatnya kalau ketemu kamera'.

Betul juga kata Ka'e Dul. Dikerjakan sendiri, pelan-pelan, jadi juga. Buktinya, meskipun asistennya rada-rada berotak miring semua, dinding itu berdiri juga dan sekarang hanya tinggal mengerjakan ini itu yang sedikit lebih detail.

Ini foto haru Jum'at kemarin sih. Sekarang sudah selesai.

Kerja bersama, ramai-ramai, memang selalu menyenangkan, apalagi bersama keluarga besar. Senangnya lagi, kami selalu ditemani dengan kopi/teh dan pisang-kapuk-mentah goreng dan sambal khas Enu! Yuhuuuu. Pisang mentah ini belum ada lawannya lah kalau sore hari duduk mengaso bersama keluarga. Selain itu, menu harian juga diatur bersama. Biasanya kan hanya saya dan Thika yang mengaturnya. Kali ini ditambah Kakak Nani. Misalnya hari ini sop buntut dan semur, besok ayam goreng tepung dan tumis sawi, besoknya ikan, dan seterusnya. Alhamdulillah ngidam saya pengen makan sayur nangka santan (gudeg tapi beda sedikit sih bumbunya) dicampur buntut sapi pun kesampaian. Hyess! Haha. Selama ini kan males banget masak yang repot begitu, seringnya lauk digoreng dan dibumbu sama sayur ditumis saja.

Baca Juga: Pemateri Blog

Selalu ada hikmah :D

Jadi demikian, kawan, pos #SelasaTekno sekalian curhat tentang dinding dapur belakang yang rubuh itu. Semoga tidak bikin kalian kesal ya hahaha. Setidaknya saya sudah paham betul tentang teknologi dan teknik dasar membangun dinding rumah. Jadi kepikiran membangun rumah mini ... lebih mini dari rumah tipe 36 yang mulai saya lirik meskipun harus mengangsur *dicipok dinosaurus*. 




Cheers.

Monday, June 17, 2019

Seorang Kapten Kebanggaan yang Gugur Saat Bertugas


Tahun 2014. Pilkada. Saya keluar dari kelompok yang disebut golongan putih. Masih sangat segar melintas di ingatan. Saya terjaga pukul 11.30 Wita. Terkejut! Dengan mata masih mengantuk parah alias setengah membuka, saya berlari ke kamar mandi, menabrak kipas angin, menabrak lemari pakaian, kepala menghantam kosen pintu kamar mandi, lalu mengumpat kenapa kuping saya tidak mendengar suara alaram. Saya mandi sekenanya, yang istilah alm. Bapa saya: itu mandi burung, lantas menggosok gigi. Saat menggosok gigi, mulut saya merasakan sesuatu yang aneh. Mata yang separuh membuka akhirnya membuka penuh. Tube itu bertulis: POND'S. Kampet! 

Baca Juga: Horeday #1: The Legend Cookies Choco & Cheese Stick

Tahun 2014 saya harus memilih karena saya yakin pada visi dan misi si calon Bupati dan Wakil Bupati pilihan, serta melihat track record mereka selama ini. Sesederhana itu. Visi, misi, dan track record calon pemimpin dapat mengubah saya yang awalnya termasuk dalam golongan putih dan bodo amat menjadi golongan pemilih. Tidak perlu menunggu sampai lima tahun untuk merasakan perubahan yang terjadi di Kabupaten Ende tercinta. Belum sampai satu tahun sudah banyak yang saya rasakan. Dimulai dari ragam festival bertema kebudayaan hingga nonton bareng Piala Dunia oleh masyarakat Kabupaten Ende di Lapangan Pancasila.

Saya tidak salah pilih.

Dwi-Tunggal


Dua yang satu. Bupati Ende Bapak Ir. Marsel Y. W. Petu, dan Wakil Bupati Ende Bapak Djafar H. Achmad. Satunya berasal dari Suku Lio. Satunya berasal dari Suku Ende. Satunya beragama Katolik. Satunya beragama Islam. Perbedaan itu justru membikin pasangan ini seperti mur dan baut. Mereka saling 'menemukan' dan bersatu. Semakin kuat dari hari ke hari bukan karena harta tetapi karena kerja. Rasanya saya tidak bisa membantah bahwa jiwa kerja keduanya demi Ende yang lebih baik sangat tinggi. Tapi, tidak adil jika saya hanya melihat dari sisi perbedaan saja. Ada kesamaannya? Ada. Keduanya ramah dan sangat murah senyum! Sikap mereka membikin masyarakat merasa tidak sedang berhadapan dengan pemimpin tertinggi kabupaten ini, melainkan dengan 'orangtua' yang mengayomi. Mereka adalah MJ. MJ yang saya kagumi!

Mereka Mengubah Ende


Saya tidak salah pilih.

Paslon Bupati dan Wakil Bupati yang saya pilih waktu itu benar-benar telah mengubah wajah Kabupaten Ende dari hari ke hari; wajah Kabupaten Ende yang terlihat oleh saya yang tinggal di Kota Ende. Mari kita mulai dari Pelabuhan Bung Karno yang dulunya bernama Pelabuhan Ende, dan Pelabuhan Ippi. Setelah KM Nusa Damai, sebuah kapal roro (roll in-roll out) tenggelam di Pelabuhan Ippi, roda perekonomian menjadi lumpuh. Lantas, setelah tahun 2014, armada-armada laut yang bertujuan Pelabuhan El Say (Kota Maumere, Kabupaten Sikka) setelah tenggelamnya KM Nusa Damai, mulai muncul satuper satu. Tidak saja kapal penumpang yang semakin lancar, tetapi juga kapal roro yang sangat mendukung roda perekonomian di Kabupaten Ende. Sirkulasi barang menjadi lebih lekas. Masyarakat senang.

Di masa jabatan MJ, dimulailah satu perhelatan akbar menjelang 1 Juni yaitu Parade Kebangsaan. Parade akbar yang diikuti hampir oleh seluruh masyarakat Kabupaten Ende. Dimulai dari perarakan laut (kapal-kapal) dari Pulau Ende ke Pelabuhan Bung Karno, lantas parade/pawai keliling Kota Ende dengan penghentian di titik-titik yang telah ditentukan, masyarakat mengenakan pakaian adatnya masing-masing (terkhusus pakaian adat Ende). Siapa yang tidak bangga? Di sini lah benih butir-butir Pancasila lahir. Di sini lah rahim Pancasila. Dan kami memaknainya dengan semakin khidmat!

Ritual pati ka ata mata (memberi makan leluhur di Danau Kelimutu) setiap Bulan Agustus dan festival kebudayaan dan bazaar yang dilaksanakan di Lapangan Pancasila merupakan salah satu bentuk penghormatan tertinggi terhadap adat dan budaya. Jujur, saya paling senang kalau mendengar Bapak Marsel berbicara menggunakan bahasa adat dalam perayaan-perayaan tertentu. Fasih, berkelas, dan berkharisma.

Salah satu yang harus juga saya akui dalam tulisan ini adalah tentang Stadion Marilonga. Stadion yang dulu diakui sebagai stadion kebanggaan itu sempat mengalami kondisi kritis. Hidup enggan. Mati kok sayang, yaaaa. Ketika Kabupaten Ende menjadi tuan rumah El Tari Memorial Cup, Stadion Marilonga disiapkan dengan sangat baik dan detail. Kabupaten Ende kemudian disebut-sebut telah membuat standar yang sangat tinggi untuk stadion sekelas kabupaten. Stadion itu diperbarui keseluruhannya; mulai rumput hingga ... lampu sorot stadion di empat sudutnya! Dengan adanya lampu ini, pertandingan sepak bola dapat dilakukan di malam hari. Daaaan tentu, kami sebagai Orang Ende sangat bangga.

Masih banyak perubahan yang saya rasakan sendiri. Ada nonton bareng Piala Dunia di Lapangan Pancasila (dulunya bernama lapangan Perse) serta berbagai hiburan, renovasi Situs Bung Karno, renovasi Taman Renungan Bung Karno, Renovasi Gedung Imaculata (lima langkah dari rumah saya), hingga pawai kendaraan dinas yang dihias. Terima kasih, MJ. Ini luar biasa.

Semua yang saya tulis di atas merupakan perubahan demi perubahan yang saya rasakan dan alami sendiri. Peristiwa perubahan lainnya saya baca dari ragam media seperti VoxNTT, misalnya, adalah peningkatan PAD dari Rp 800 Miliar naik menjadi Rp 1,3 Triliun, dan Ende menghasilkan produk beras dengan merek dagang Mautenda.

Mereka Semakin Mesra


MJ  adalah pasangan yang semakin ke sini semakin mesra. Keduanya kemudian menang (petahana) dalam Pilkada 2018 yang lalu. Otomatis MJ menjabat dua periode! Hyess! Kemenangan ini bukanlah milik mereka semata, tetapi milik semua masyarakat Kabupaten Ende baik masyarakat yang memilih mereka maupun masyarakat yang tidak memilih mereka. Karena, MJ jelas bekerja untuk seluruh masyarakatnya, bukan untuk kelompok pemilihnya saja bukan?

Kemenangan sudah di tangan. Siap melanjutkan perjuangan membangun Kabupaten Ende. Namun, Sang Kapten kemudian gugur ...

Kapten Ende yang Gugur Saat Bertugas


Minggu, 26 Mei 2019, kaki tangan saya lemas mendengar kabar Bapak Marsel Petu berpulang ke pangkuan Illahi. Sebenarnya itu belum disebut kabar, melainkan pertanyaan yang dikirimkan Kakak Nani Pharmantara melalui pesan WA, saat sahur. Benarkah? Kebetulan saya bekerja satu ruangan dengan adik ipar beliau yaitu Kakak Rossa. 

Ah ...

Saya semakin lemas.

Kapten! Ini terlalu cepat!

Bagaimana dengan mimpi-mimpi 'kita semua'?

Bagaimana dengan cita-cita 'kita semua'?

Tapi Tuhan lebih sayang padamu, Kapten.

Picture by David Mossar.

Di dalam peti kayu putih itu terbujur kaku jasadmu, yang telah sangat berjasa pada Kabupaten Ende, yang harus mengalah pada takdir usia saat hendak melanjutkan lima tahun perjuanganmu kemarin bersama Bapak Djafar. Syok dan sedih ini menusuk dalam hingga berhari-hari masih terus bertanya-tanya: benarkah? Dan berhari-hari masih terus berkata: terlalu cepat! Syok dan sedih ini mengiris-iris semua harapan yang tumbuh ... tapi irisan itu harus saya hentikan karena kehidupan akan terus berjalan, pembangunan akan terus berlanjut, dan saya yakin 'kekasihmu' yaitu Bapak Djafar mampu mengemban itu semua.

Kapten, hanya doa yang bisa saya panjatkan untukmu. Untuk Mama Nona agar diberi ketabahan dan kesabaran menghadapi ujian yang, sangat-super-terlalu, berat ini. Semoga dosa-dosamu luruh bersama doa-doa yang kami panjatkan, dan semoga Tuhan menerima semua amal kebaikanmu semasa hidup, dan menerimamu di sisiNya.

Baca Juga: Selamat, MJ!

Seorang Kapten Kebanggaan yang Gugur Saat Bertugas, Bapak Marsel Petu, saya mencintaimu hingga kapanpun. Terima kasih.




Hormat.

Saturday, June 15, 2019

Horeday #7: Rejeki Anak Solehah dari Makassar


Waktu dia mengirimkan foto kardus yang sudah di-pack rapi dan berkata hendak mengirimkan kompor gas agar saya lebih rajin masak, karena dia tahu dulu itu saya paling sering membeli lauk-pauk di warung, saya langsung ingat kompor gas Rinai yang dulu dihibahkan pada orang-orang yang membantu membersihkan dan membereskan dapur. Sebut saya kampungan. Tidak mengapa. Asalkan saya tidak memakai kompor gas di rumah. Lain perkara jika ditawari kompor listrik. Haha. Ada sih kompor listrik tapi tidak cukup besar memuat penggorengan (teflon) ukuran normal. Oleh karena itu di dapur Pohon Tua masih berdiri kompor Hock bersumbu yang selalu dirawat oleh Mamasia. 

Siapakah dia? 

Namanya Ilham Himawan. 'Adik' yang saya panggil Epin karena dia acap memanggil saya Kak Ross. Mungkin karena saya galak haha. Sahabat DMBC dan teman jalan yang satu ini dulunya berdomisili di Kota Maumere, lantas pindah ke Kota Ende, dan kemudian kembali ke Makassar. Lucunya, Ilham lebih dulu mengenal kakak saya, Toto Pharmantara, sebagai rekan kerja. Setelah itu baru lah kami berkenalan melalui Forum Blogger Family. Pada tahun 2009, bersama Ilham, Pak Deddy Suhendry, dan Dedy Isnandar, kami mendirikan Komunitas Blogger NTT yang dikenal dengan nama Flobamora Community. 

Nostalgia


Empat belas tahun yang lalu kami berkenalan lewat forum Blogfam (Blogger Family). Siapa sangka, tiga tahun kemudian, bersama dua founder lainnya, kami membentuk Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT). Tentu berkiblat pada dua komunitas besar yaitu Blogfam dan Angingmammiri. Dia sering memanggil saya Kak Ross, sedangkan saya memanggilnya Epin (kembaran ketiga Upin Ipin) haha.

Momen terbaik pertama kami adalah ketika kami sedang mengobrol berdua karena aturan mengobrol kami adalah tidak boleh ada cerita yang berulang. Coba hitung, sudah berapa banyak cerita kami selama ini? Topik boleh sama tapi cerita harus beda-beda. Mulai dari hidup, hidup di perantuan, hidup anak kos, hidup anak bungsu, dunia sekolah dan pendidikan, komunitas ini itu beserta lika-likunya, makanan (sampai mencoba resep-resep baru), traveling, buku-buku, blog, dunia tulis-menulis, filem, One Day One Juz, dan lain sebagainya.

Momen terbaik kedua adalah ketika dia sedang iseng. Semua omongan akan disambarnya dengan sangat sangat sangat iseng dan konyol. Dan tentu saja saat ramai-ramai di ruang karaoke!

Momen terbaik ketiga adalah ketika tingkahnya mengingatkan saya akan keponakan saya Indra Pharmantara. Gerak-gerik hingga ekspresinya itu loh ha ha ha.


Tapi jangan dikira kami tidak pernah berantem loh. Kami pernah saling diem-dieman begitu lama. Namun justru itu yang semakin mendewasakan dan mendekatkan kami *cieee* haha. 

Tentu saja satu dua paragraf tidak dapat mewakili semua hal yang pernah kami lakukan bersama (juga bersama teman-teman), makan-makan, jalan-jalan, diskusi, karaokean, pelatihan blog, bakti sosial, nongkrong sampai larut malam, tuker-tukeran buku (saya masih ngutang dua buku yang dibelinya hahaha), dia sering berbagi makanan hasil eksperimennya di dapur kos (enak loh soalnya gratis), ngetawain diri sendiri, nganterin dia ke dokter, dan masih buanyaaak lagi!

Tahukah kalian? Istilah WOW a la FC yang kesohor itu, yang dibahas berbulan-bulan kemudian bahkan menular, dicetus oleh dia loh. Dia juga pernah jatuh di tempat yang sama dengan tempat saya jatuh hingga dia harus patuh pada ramuan kunyit panas *ngakak guling-guling*. Bedanya saya jatuh dengan sepeda motor di tempat itu dan bermanuver 180 derajat saat berangkat, tengah malam, menuju Riung. Sedangkan dia jatuh di tempat yang sama saat kami jalan-jalan dari Riung ke bukit-bukit berhampar rumput hijau. Dan, dia selalu punya ide brilian pada last hour ketika acara hendak dimulai. 

Kiriman Itu Tiba


Usai Idul Fitri 2019 kemarin, saya menerima kiriman yang fotonya sudah duluan dikirim Ilham melalui pesan WA. Ketika ditimbang-timbang beratnya ... tidak mungking ini kompor gas! Haha. Sesuai pesannya, ada tiga paket untuk tiga karyawan tempat dia bekerja dulu di Kota Ende. Alhamdulillah amanatnya sudah tersampaikan. Selebihnya dikirimkan untuk saya ... yuhuuuu!






Betul-betul ini namanya rejeki anak solehah dari Makassar. Terima kasih Kakak Ilham, maaf apabila belum sempat membalas apapun, Insha Allah I will. Bagi saya intinya adalah bukan dari benda-benda mati ini, tetapi bagaimana silaturahmi itu tetap terjaga, dan kita tetap saling berkomunikasi melalui dunia internet, terutama WA.

Sepertinya harus 'merapatkan barisan' untuk bisa pergi ke Makassar bareng #5akiKereta!



Cheers.

Friday, June 14, 2019

Horeday #6: Well Done! I Finished My Stone Project


HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday merupakan seri Horeday yang saya tulis untuk minggu pertama setelah kembali dari libur nge-blog (libur Idul Fitri). Liburan kali ini sangat bermanfaat karena banyak kegiatan positif yang dilakukan selain beberes rumah dan menyiapkan kudapan. Rugi rasanya kalau tidak ditulis dalam seri/tema khusus Horeday. Oleh karena itu, bagi kalian yang sering main ke blog ini, jangan kaget kalau tema-tema harian seperti #SelasaTekno atau #RabuDIY atau #PDL khas Jum'at belum muncul. Mohon bersabar. Orang sabar disayang Tuteh ... dan dinosaurus! Hehe. 

Sebelumnya, silahkan baca seri Horeday lainnya tentang Eid Raya:

Horeday #3: Pharmantara Big Family and Happy Eid Raya 

Atau tentang tamu-tamu spesial berikut ini:

Horeday #4: Tamu-Tamu Spesial di Hari Super Spesial

Tulisan ke-enam Horeday adalah tentang satu proyek yang masuk daftar resolusi Tahun 2019 dan sudah tertulis di T-Journal sejak awal Januari 2019. Namanya: Stone Project. Sering melihat video tutorial proyek Do It Your-self (DIY) tentang kaktus hias yang terbuat dari batu, atau tempat lilin, atau hiasan batu berbentuk rumah. Saya sangat terinspirasi olehnya. Seperti biasa, untuk setiap hal yang beraroma DIY, selalu kalimat yang sama terucap: kalau orang lain bisa membikinnya, Insha Allah saya juga bisa bikin!

Menyiapkan Bahan Dasar


Bahan dasar dari stone project ini tentulah batu. Tapi batunya bukan sembarang batu. Batu yang saya pakai adalah batu yang dibeli di Pantai Penggajawa. Harganya cukup murah. Awal Januari 2019 membeli batu itu, saya mendapat dua kantung plastik merah dengan harga Rp 40.000 loh. Batu-batu itu bahkan boleh dipilih; ukuran dan warna. Asyiiiik. Dua kantung plastik berisi batu diletakkan begitu saja di sudut ruang makan, terus dipindah ke area tempat makan kucing, terus ditumpuk, dan saya curiga bakal dibuang sama Mamasia kalau tidak segera ditindaklanjuti. Alhamdulillah liburan pun datang. Stone project pun jalan.

Cement Project ... First


Saya sudah pernah membikin barang-barang DIY berbahan semen. Dua buah pot bunga berbahan semen itu mal-nya adalah botol plastik Coca-Cola yang punya bentuk unik bagian dasarnya. Untuk stone project ini pertama-tama saya harus membikin alas bakal tempat kaktus batu tersebut. Untuk satu kilogram semen saya bisa membikin enam pot unik berbeda bentuk (berbeda mal) dan ukuran.


Ada tiga bentuk yang saya pakai yaitu: botol plastik, kotak bekas teh kotak, dan handscoon atau sarung tangan karet. Ini dia bentuknya ketika sudah jadi.


Sayangnya percobaan pertama pada sarung tangan gagal karena adonan semen terlalu encer sehingga bentuk tangannya cacat begitu. Haha. Tapi tidak mengapa. Bukankah sebelum sukses memang umumnya harus gagal terlebih dahulu? Menyenangkan hati nih. Yang penting percobaan kedua sukses dan bikin happy. Ternyata saya juga bisa membikinnya!

Stone Project


Setelah pot-pot semen jadi, saatnya membikin kaktus batunya. Caranya cukup mudah. Batu-batu pilihan kemudian di-cat: hijau tua dan hijau muda. Setelah kering satu sisi, di-cat lagi sisi lainnya. Lantas, jika semua sudah kering, diberi bunga menggunakan tip-ex. Kalau sudah selesai, letakkan kaktus batu pada pot-pot semen. Hasilnya ... tradaaaaaa!




Tiga pot kaktus batu menghiasi tiga meja di ruang tamu sedangkan satunya lagi di meja ruang keluarga (di belakang). Sangat sedap dilihat bukan? Kaktus batu dari my stone project ini unik memang. Terlihat sangat manis di meja ruang tamu. Saya pikir kalian juga bilang manis kan? Makasih, saya memang manis *dikeplak*. Haha.

⇜⇝

Jadi demikian Horeday kali ini ... sangat menyenangkan. Pada akhirnya stone project, salah satu resolusi di tahun 2019 well done! Kalau saya yang tidak terlalu telaten ini bisa membikinnya, saya yakin kalian juga pasti bisa. Lagian, mudah ini kok. Siapa tahu tahun depan kalian pengen mengubah suasana ruang tamu. Silahkan dicoba stone project begini.

Sampai ketemu di Horeday berikutnya!



Cheers.

Thursday, June 13, 2019

Horeday #5: Piknik Encim and The Gank di Pantai Aeba'i


Hari kedua Idul Fitri masih diiringi lagu-lagu sendu dari email gigi yang rusak hingga ke pusat syarafnya (kata dokter Bambang setelah saya pergi ke tempat prakteknya di samping Apotik Gatsu). Kataflam serbuk yang dicampur air itu hanya mampu bertahan sekitar enam hingga tujuh jam. Setelah itu pilihan hanya dua: berusaha tidur dengan gigi yang konser non-stop atau kembali makan dan menegak pain killer itu lagi. Sumpah, apabila kalian mengalami sakit gigi, segeralah ke dokter dan mengobatinya. Waktu itu tempat-tempat praktek dokter gigi masih pada libur sehingga saya harus menunggu. Sangat menyiksa dan membosankan karena Idul Fitri tahun ini pun saya memilih untuk berdiam diri di rumah, tidak ke rumah teman-teman, apalagi traveling.

Hari kedua Idul Fitri. Duduk di sofa setelah makan bubur dan menegak Kataflam berharap keajaiban datang. Saya juga sedang menunggu pesan WA dari Stanis karena hari kedua Idul Fitri kita punya jadwal mengantar Harry dan Rojer ke pangkalan mobil travel. Mereka hendak bertolak ke Kota Bajawa. Tepatnya, kembali ke Manulalu, penginapan kece milik Jane Kambey dan suaminya yang letaknya berdekatan dengan Kampung Adat Bena. Lantas, mendadak pesan masuk di WAG Encim and The Gank. Ajakan piknik dari Kakak Nani Pharmantara! Ikan bakal dibakar sudah tersedia. Hwah. Saya tidak bisa menolak kalau piknik. Ajakan berubah menjadi ajakan. Saya lantas mengajak Stanis, Harry, dan Rojer untuk piknik bersama sambil, nanti, mencari mobil travel arah Kota Bajawa.

Tim Pemakaran. Hahaha.

Segera, Thika dan Enu meracik sambal, menyiapkan kotak-kotak berisi kudapan, dan mengeluarkan beberapa botol Coca Cola dari kulkas. Tak lupa baliho bekas bakal alas duduk. Pick up milik pacarnya Kiki, Solihin, tiba. Barang-barang dimuat duluan. Kloter pertama berangkat duluan ke Pantai Aeba'i. Dua puluh menit kemudian Thika dan Enu berangkat. Hampir satu jam kemudian baru lah saya berangkat setelah dijemput Stanis, Harry, dan Rojer. Saya sampaikan pada Harry bahwa 6 Juni merupakan hari ulangtahunnya Indah Abdullah yang saat ini masih duduk di bangku SMA (SMAK Syuradikara).

Feliz CumpleaƱos


Maaf kalau salah. Intinya ya happy birthday. Begitu kami berempat tiba di pantai yang sudah ramai itu, termasuk Ka'e Dul dan Solihin yang sedang bakar ikan, langsung saja kami menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuk Indah. Hwah, Rojer dan Harry lantas lanjut menyanyikannya dalam bahasa Spanyol. O-le! Haha. Betapa senangnya Indah. Kapan lagi coba ... untung dia video-kan, kalau tidak ... bisa-bisa dia minta Harry dan Rojer mengulangnya itu *ngakak tebanting*.

Cieee yang ultah (pegang piring) happy tuh!

Selamat ulang tahun ya, Indah. Semoga cita-citanya menyusul Kak Ical (jadi Polwan, bukan Polki, haha) tercapai, Amin. Yang penting latihan fisiknya pelan-pelan dari sekarang *petuah nih*.

Lepet dan Ikan Bakar


Menu utama piknik kali ini adalah ikan bakar. Teman menu utama ada beberapa sih seperti lepet (semacam ketupat), nasi, dan pisang bakar. Ada juga ubi bakar tetapi si ubi datangnya setelah Harry dan Rojer bertolak ke Kota Bajawa. Mungkin pisang bakar dan ikan bakar merupakan perpaduan yang baru pertama kali dirasakan Harry dan Rojer. Mungkin. Namanya juga bergabung dengan keluarga kocak, ya harus siap-siap kocak juga, termasuk lidah. Hehe.

Mari makan!

Usai makan kami mengobrol tentang banyak hal. Didominasi tentang Kabupaten Ende. Salah satunya adalah tentang legenda cinta antara Gunung Ia, Gunung Meja, dan Gunung Wongge. Kenapa jadi bercerita tentang legenda itu, ya karena Harry bertanya tentang perbukitan di samping Gunung Meja (berpuncak datar). Itu Gunung Ia, masih aktif, dan menurut legenda, Ia adalah perempuan yang terus menangis karena leher kekasihnya yang bernama Meja ditebas oleh Wongge. Sayangnya dari Pantai Aeba'i tidak kelihatan Gunung Wonggenya.

"Jadi ... kepala Meja terpelanting ke arah Timur dan jadilah Pulau Koa, dan parang yang dipakai Wongge dibuang ke arah Barat dan jadilah Pulau Ende."

Wow kan.

Lumayanlah masih bisa cerita-cerita disela-sela gigi yang nyut-nyutan.

Acara selanjutnya ya foto-foto donk. Soalnya jarum jam terus bergerak dan saya kuatir Harry dan Rojer ketinggalan mobil travel.

Ini dia Harry Kawanda yang saya sebut sebagai traveler of the century. Soalnya kerjanya keliling dunia teruuuuus. Huhu jadi iri.

Ini dia Rojer, teman Harry asal Chile. Sampai jumpa, Roj!

Three of us.

Saya dan Thika mengantar Harry dan Rojer ke pangkalan mobil travel. Alhamdulillah, mobilnya siap berangkat karena tinggal menunggu dua penumpang lagi. Pas mantap kan. Dadagh Harry dan Rojer. Selamat bergabung bersama keluarga Pharmantara. Ditunggu kunjungan berikutnya di Kota Ende. Sekalian tinggal di sini juga boleh. Asalkan lidah kalian dapat terbiasa dengan nasi dan garam *LOL!*. Terima kasih, ya, sudah menjadi tamu spesial keluarga kami.

Terima kasih, Harry. Candid saat bibir mencong haha.

Piknik hari itu masih berlanjut hingga sore, dimana saya tertidur cukup nyenyak di pantai, dengan kepala beralas helem milik Angga. Saatnya pulang ke rumahnya Ka'e Dul dan Kakak Nani. Loh? Iya, soalnya mau dikasih ramuan buat berkumur untuk mengurangi ngilunya gigi ini. Haha. Dan lagu-lagu sendu dari email gigi kembali terdengar. Dudududu ...

⇜⇝

Bagaimana dengan kalian, kawan? Liburannya di rumah saja atau sempat piknik/wisata bareng keluarga? Bagi tahu yuk di papan komentar. Dan nantikan saya bertamu ke blog kalian hahaha. Siapkan kudapan dan air hangat buat minum obat!



Cheers.