I Write My All

LightBlog

Hari ketiga HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday . Saya memang mengkhususkan seminggu ini untuk bercerita hari-hari liburan seru, tak sela...

Horeday #3: Pharmantara Big Family and Happy Eid Raya


Hari ketiga HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday. Saya memang mengkhususkan seminggu ini untuk bercerita hari-hari liburan seru, tak selamanya tentang Hari Raya Idul Fitri itu sendiri, yang saya alami baik bersama keluarga maupun bersama teman-teman. Kisah lainnya bisa kalian baca (di bawah ini):


⇜⇝

Idul Fitri. Hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Muslim. Hari kemenangan setelah sebulan penuh, terutama laki-laki, menjalankan puasa mengalahkan segala hawa nafsu. Hari yang mempertemukan semua anggota keluarga Pharmantara! Asyik! Hehe. Seperti yang sudah sering saya tulis, kami memang tinggal di Kota Ende yang kecil, tapi masing-masing punya kesibukan dan aktivitas harian/rutin. Otomatis tidak setiap hari kami bisa berkumpul haha hihi. Selain piknik setiap dua minggu sekali, Idul Fitri merupakan momen yang mempertemukan kami semua. Sayangnya Idul Fitri tahun ini keluarga Abang Nanu Pharmantara liburan ke Kota Kupang. Yah ... kurang ramai karena tidak ada Syiva haha.

Idul Fitri dimulai dengan sakit gigi. Ya, salah satu geraham atas gigi saya itu bermasalah. Pertama, berlubang. Kedua, sejak kepentok sikat gigi, jadi sering eror. Tapi meskipun malam sebelum Idul Fitri saya hanya tidur satu jam, pergi ke Lapangan Pancasila untuk Shalat Eid itu tetap dijalani. Alasannya? Ketimbang berusaha tidur dengan gigi nyut-nyutan, lebih baik tetap shalat dengan gigi nyut-nyutan. Setidaknya khusyuk selama sekitar sepuluh menit itu jauh lebih baik. Menurut saya. Haha. Gigi ini sungguh terlalu.

Sebagian dari kami, usai Shalat Eid.

Usai Shalat Eid kami mulai saling mencari-cari anggota lainnya untuk sama-sama berangkat ke pemakaman umum di Jalan Perwira. Sudah menjadi rutinitas setiap kali Idul Fitri; shalat ↠ ke makam Bapa, Kakak Toto, dan Wawan ↠ pulang ke Pohon Tua ↠ sungkem dan makan bersama ↠ pergi ke rumah Paman dan Bibi. 

Empat penghuni utama Pohon Tua.

Meskipun gigi sedang nyut-nyutan saya tetap menikmati makanan khas Idul Fitri yang kali ini agak berbeda. Tidak ada opor dan ketupat! Haha. Kami menyiapkan nasi, sup ayam, ayam tomat, sayur tumis, kering tempe, kerupuk, dan sambal. Betul-betul di luar kebiasaan. Memang sengajaaaa. Hal yang sama juga terjadi dengan beberapa kudapan; dua kudapan adalah kudapan tradisional.


Encim and The Gank, assshiaaap, yang memang hebring dan heboh ini membikin Pohon Tua yang biasanya sepi menjadi supeerrrrr ramai! Mengobrol, haha hihi, makan minum, saling ejek, tingkah para cucu, sampai yang pedekate *uhuk*, pokoknya momen itu selalu bikin kangen. Keluarga besar ini memang kocak, terutama saat sungkeman ke Mamatua. Banyak kali itu wejangan dan doa-doa serta tiupan-tiupan ke ubun-ubun *LOL!*. 

Shalat, sudah.
Nyekar, sudah.
Sungkeman, sudah.
Makan-makan, sudah.
Saatnya silaturahmi ke rumah Paman Bibi!

Di rumah Bibi Hawa dan anaknya Rudi Pua Ndawa (dan Aynun).

Kalian lihat tawa saya yang lebar itu? Itu palsu. Karena sesungguhnya gigi saya sedang berada di puncak tertinggi rasa sakit.

Mengunjungi rumah Paman dan Bibi diteruskan ke rumah orangtua anggota keluarga baru, yaitu orangtuanya Titin (isterinya Angga). Luar biasa di rumah orang para cucu membikin acara sendiri yang super heboh sampai semacam terjadi ledakan bom nuklir di rumah itu hahahahaha. Sumpah, saya hanya bisa tertawa sambil menahan sakit gigi. Sakit gigi yang luar biasa ini mengantar saya tidur di sofa ruang tamu rumah calon mertuanya Kakak Nani Pharmantara. Qiiqiqiqi. Sampai tuan rumah cukup repot pula melihat saya. Ah ... penuh cerita Idul Fitri kali ini.

Pulang ke Pohon Tua, setelah menegak salah satu pain killer, saya tepar sampai malam hari. Alhamdulillah Kakak Didi Pharmantara mau berlama-lama di Pohon Tua untuk menemani tamu. Katanya saya kerjain dia hahaha. Maklum lah, ketimbang saya memaksakan diri duduk bersama tamu dengan kondisi begini? 

Clue, salah seorang tamu: traveler of the century! Haha.

Keajaiban terjadi ketika Stanis datang ke rumah dan menyarankan Kataflam bubuk sekaligus dua sachet. Ini namanya kebetulan yang manis. Karena ... saya punya dua orang tamu, traveler, yang baru tiba dari Moni. Nah, mereka bakal menginap semalam di Ende (Stanis menyiapkan rumahnya, dan terima kasih banget untuk itu). Ketika mereka tiba, saya baru selesai menegak Kataflam bubuk itu (dicampur air donk) ... dan efeknya cukup cepat! Nyeri hilang. Sekitar pukul 21.00 Wita akhirnya saya dan Stanis menjemput sang tamu dan mengantar mereka beristirahat di rumah Stanis. Tentang tamu-tamu ini, nantikan kisahnya besok!

⇜⇝

Keluarga kami, Pharmantara beserta  keluarga lain akibat dari kawin-mawin yaitu keluarga Abdullah (suami Kakak Nani Pharmantara) memang selalu heboh dan kocak di setiap kesempatan. Bukan berarti kami tidak mengalami susah dan sulitnya hidup. Kami mengalaminya juga, termasuk berantem dan saling diam! Tapi darah yang kental ini tidak dapat encer hanya karena berantem kan ya. Dan saya bahagia memiliki mereka semua dalam hidup ini. Love them all.




Cheers.
loading...

0 komentar:

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.