Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Thursday, October 31, 2019

5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa


5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa. Banyak orang tidak tahu tentang Ae Sale Mengeruda. Tapi kalau Air Panas Soa (baca: So'a) semua orang pasti tahu. Sejak dulu saya pengen bisa pergi ke obyek wisata yang satu ini. Selalu gagal. Selalu batal. Akhirnya keinginan untuk berendam kaki di lokasi wisata yang terletak di Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada itu pun terwujud pada Minggu, 27 Oktober 2019. Sayangnya waktu pergi ke sana saya hanya merendam kaki, bukan seluruh badan. Sengaja sih ... tidak bawa pakaian ganti pun. Hehe. Yang penting saya sudah ke sana, memenuhi keinginan lama itu.

Ada banyak catatan penting dari perjalanan menuju Air Panas Soa hingga suasana di obyek wisata tersebut. Tapi, seperti biasa, di pos blog ini saya hanya merangkum lima saja. Mau tahu apa-apa saja? Marilah dibaca sampai selesai.

1. Jalur Dari Timur yang Bagus


Menuju Air Panas Soa ada dua jalur yang bisa ditempuh. Karena kami datang dari Timur, jalur yang ditempuh adalah Ende - Boawae - Soa. Untuk tiba di obyek wisata ini kami tidak perlu memutar dan/atau pergi terlebih dahulu ke Kota Bajawa yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Ngada. Cukup ke Kecamatan Boawae yang merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Nagekeo, lantas mengikuti jalur, jalan aspal selebar sekitar dua meter, menuju Desa Piga, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada.



Jalur Boawae - Soa ini sangat bagus: jalan aspal dan minim lubang. Tidak terlalu lebar, memang, tapi sepadan dengan kendaraan yang juga tidak seberapa ramai. Berasa seperti jalur/jalan privat. Akan sangat jauh berbeda jika mengikuti jalur utama Trans Flores: Boawae - Bajawa, silahkan berlomba-lomba dengan aneka kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil, truk, fuso, tanki minyak, dan lain sebagainya.

2. Entrance dan Parkiran yang Tertata Rapi


Saya suka entrance dan parkiran Air Panas Soa. Parkirannya tertata rapi, dengan pohon-pohon rindang menaungi pengunjung bersantai sejenak, disertai baliho dengan gambar informasi tentang obyek-obyek wisata yang ada di Kabupaten Ngada.



Rata-rata obyek wisata yang ada di baliho itu merupakan obyek wisata 'baru' sehingga jangan cari Kampung Adat Bena, kemungkinan tidak ada. Justru yang ada adalah Watunariwowo di Perbukitan Langa.

3. Jejeran Kios


Ini yang cukup penting dari suatu tempat wisata, terutama jika tempat wisatanya sangat jauh dari daerah perkotaan.


Jejeran kios ini sangat membantu pengunjung dari jauh, seperti kami, yang mengendarai sepeda motor. Maklum, cuaca sedang sangat panas-panasnya. Kalau melihat foto di atas, kalian akan melihat papan informasi karcis masuk. Tidak hanya di situ, di loket pembelian/pembayaran karcis pun ada kertas yang ditempel, kertas itu berisi informasi tentang karcis juga.

4. Pemetaan Lokasi di Dalam Air Panas Soa


Ini keren. Jadi, pemerintah tahu banget soal kebutuhan masyarakat atau pengunjung. Di dalam lokasi Air Panas Soa ada tiga pemetaan utama. Pertama: gazebo. Kedua: taman bunga dan taman buah. Tiga: tempat berendam/pemandian. Ketiganya dihubungkan dengan jalan setapak yang cukup rapi. Tetapi hari itu sedang ada pengerjaan/perbaikan sehingga kami harus memutar ke sana sini hehe.



Selain itu, disediakan pula kamar mandi tempat menyalin pakaian. Maklum, kami masih sangat teguh memegang adat ketimuran sehingga sangat sulit bagi kami memamerkan bodi dengan memakai bikini. Haha. Rata-rata orang yang berendam di Air Panas Soa, kalau lelaki mengenakan celana pendek, kalau perempuan mengenakan kaos dan celana pendek. Kalau yang berhijab tinggak disesuaikan saja. Yang jelas, semua masih sangat sopan untuk sebuah tempat pemandian umum seperti itu. Ingat, ngeres itu datangnya dari diri sendiri *ngikik*. Tempat menyalin baju di mana lagi kalau bukan di kamar mandi?

5. Memegang Adat


Di Air Panas Soa, bagian dekat loket penyerahan karcis masuk, berdiri gagah ngadu.


Ngadu merupakan simbol leluhur lelaki. Sedangkan simbol leluhur perempuan itu bernama bagha yang berbentuk rumah adat mini (ibu sebagai tempat penyimpanan makanan). Menariknya, ngadu yang ini berbeda dengan ngadu yang pernah saya potret di Kecamatan Aimere. Di Kecamatan Aimere, ngadu-nya tanpa tangan.

⇜⇝

Itu dia lima catatan penting saya saat berkunjung ke Ae Sale Mengeruda atau Air Panas Soa. Jelas ya, tempat wisata ini dikelola dengan sangat baik, semuanya serba teratur, jadi malu juga untuk buang sampah sembarangan. Hehe. Tempat sampah ada di mana-mana, makanya kesannya bersih sekali obyek wisata ini. Semua sama-sama menjaganya.
\

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Yang jelas, kalau kalian pergi ke Air Panas Soa melewati jalur dari Timur, jangan lupa untuk mampir foto-foto di perbukitannya yang ausam! Informasi lengkap tentang perjalanan saya, Thika, dan Yusti ke Air Panas Soa, bisa kalian baca di pos berjudul Merendam Kaki di Obyek Wisata Ae Sale Mengeruda.

Yuk ah ...

#KamisLima



Cheers.

Wednesday, October 30, 2019

Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende


Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende. Senin kemarin, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91, saya berkesempatan meliput kegiatan keren yang diselenggarakan atas kerjasama Pemerintah Daerah Ende, E.thical, Rikolto, Universitas Flores (Uniflor), dan RRI Ende. Kegiatan dengan spirit Hari Sumpah Pemuda ini mengusung tema Dengan Semangat Sumpah Pemuda Kita Dorong Peran Orang Muda dalam Ekonomi Berkelanjutan dari Desa untuk Ende. Berlangsung di dua lokasi: Aula Lantai II Kantor Bupati Ende dan di halaman samping Kantor Bupati Ende, kegiatan ini menjadi momen memperkenalkan wirausahawan/i muda Ende dalam berinovasi: memikirkan tema, membangun brand, membikin prototype, hingga memamerkan dan memasarkan.

Baca Juga: Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel

Sebelumnya, sekitar satu bulan, telah diselenggarakan kegiatan Kewirausahaan Pemuda Berkelanjutan kerja sama E.thical, Ricolto, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Informasi Uniflor. Pesertanya berjumlah (24) dua puluh empat orang. 8 (delapan) peserta berasal dari Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores (Uniflor), 5 (lima) peserta berasal dari Fakultas Pertanian Uniflor, sedangkan 11 (sebelas) peserta lainnya merupakan anak muda kreatif dan berdaya juang tinggi yang berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ende. Satu bulan kegiatan dengan berbagai bekal ilmu tersebut telah membentuk karakter wirausaha di dalam diri mereka. Sesuatu yang menurut saya supa amazing, apabila melihat output-nya.

Pasar E.thical


Hasil penggemblengan dua puluh empat peserta tersebut kemudian digelar pada Hari Sumpah Pemuda dengan tiga mata acara yaitu Presentasi Proposal, Pasar E.thical, dan Talkshow. Presentasi Proposal dilaksanakan di Aula Lantai II Kantor Bupati Ende, dimulai pukul 13.00 Wita, dimana masing-masing peserta diberi waktu sekitar tiga hingga lima menit untuk memperkenalkan brand dan produk mereka. Pukul 16.00 Wita, kegiatan dilanjutkan dengan Pasar E.thical dan Talkshow yang disiarkan secara langsung oleh RRI Ende.


Ethical Market Day atau Pasar Ethical merupakan pasar yang memamerkan hasil karya dua puluh empat peserta Kewirausahaan Pemuda Berkelanjutan dalam sembilan belas brand, yang sebelumnya telah memperoleh ilmu dan bekal untuk berwirausaha oleh tim dari Ethical yang bekerjasama dengan Rikolto, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Informasi Uniflor. Pada pasar itu berdiri stan-stan tempat peserta memperkenalkan usaha dan/atau brand, memamerkan produk, serta menjual produk mereka. Setiap stan dilengkapi dengan profil singkat wirausahawan/i muda tersebut serta nama serta penjelasan produk yang diproduksi. Selain itu juga hadir stan dari Lepa Lio Cafe asal Remaja Mandiri Community Detusoko.



Natalia Mudamakin, salah seorang mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi, merupakan wirausahawati muda yang mendirikan brand Palapa Rasa dengan motivasi kuat untuk menyediakan tempat bagi anak muda Ende untuk bekerja dan berdaya. Palapa Rasa merupakan brand snack buah organik khas pertama di Kabupaten Ende yang mengangkat cita rasa kuliner khas Flores. Natalia Mudamakin dengan brand Palapa Rasa meraih Juara 3 Ethical Entrepreneur Ende.


Credits: David Mossar. 

Elok merupakan brand yang dibikin oleh alumni Uniflor dari Fakultas Bahasa dan Sastra yaitu Cahyadi, yang melihat potensi dari lahan tidur terlantar di pekarangan rumah tangga-rumah tangga di Kota Ende. Melalui Elok, Cahyadi berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat lokal dan lahan tidur secara optimal demi terciptanya kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan. Sebagai bahan makanan alternatif rendah gula, Elok yang berbahan sorgum merupakan pilihan alternatif yang terjangkau, dan merupakan pilihan tepat penderita diabetes dan bagi siapa saja yang mencari alternatif karbohidrat sehat. Cahyadi dengan brand Elok meraih Juara 2 Ethical Entrepreneur Ende.



Ine Lawo merupakan brand usaha yang dibentuk oleh Karolina Dua Oga dan mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi Maria Yasinta Mau Rema dengan motivasi untuk mencegah punahnya keterampilan menenun. Visi Ine Lawo adalah melihat regenerasi pengrajin tenun muda di Kabupaten Ende. Fashion tenun moderen yang membangkitkan kecintaan pada budaya Ende, Ine Lawo memanfaatkan kain sisa tenun menjadi busana moderen untuk membangkitkan kembali kecintaan pada tradisi dan budaya menenun. Karolina Dua Oga dan Maria Yasinta Mau Rema dengan brand Ine Lawo meraih Juara 1 Ethical Entrepreneur Ende.

Pasar Ethical dikunjungi oleh masyarakat umum Kabupaten Ende yang tertarik dengan inovasi yang dilakukan oleh para wirausahawan/i muda Ende tersebut, salah satunya yang baru saja membuka usaha kafe Sahabat Kopi. Selain Elok, Ine Lawo, dan Palapa Rasa, brand lainnya antara lain Tamiimah, FloCo., Frame Culture, Famous De Flores, Poly Deli, Pemuda Berdikari, Teka Uta, Oster, Plastic Reduce Initiative, Daur Ulang Kreatif, Rae Chili Flores, Ende Creative Millenials, Able, Ecodes, Ecocamp, dan Briona Flower.


Pada acara Talkshow yang dimoderatori oleh Kakak Rossa Domingga dengan narasumber dua diantaranya Nando Watu dan Karolus Naga, saya mendengar kalimat inspirasi yaitu 3C: Content, Colaborate, Community. Artinya seorang wirausahawan/i harus mampu menyiapkan kontennya sendiri, tapi harus mampu pula berkolaborasi dan berkomunitas. Kolaborasi sebagai daya dongkrak brand, komunitas agar brand lebih banyak dikenal (seperti efek domino). Bahkan diberikan pula contoh dari ranah Youtube oleh para Youtuber.


Sebelum Talkshow pun saya sudah paham betul bahwa berbisnis butuh 3C itu. Dan perkara 3C saya temukan pada salah satu brand baru yaitu FloCo. Dua anak muda ini yaitu Petronela Ina dan Diana Segu memilih brand bernama FloCo. sebagai brand cokelat batang organik pertama di Ende yang menggunakan 100% bahan alami. Diolah dari biji cokelat pilihan, FloCo. adalah pilihan oleh-oleh yang tepat untuk para wisatawan baik domestik maupun internasional. Tujuan mereka mendirikan FloCo. adalah memutus tengkulak dengan meningkatkan kesejahteraan petani kakao.


Yang menarik dari FloCo. justru pada kemasannya yaitu sejenis wati yang cantik dengan tutupan. Kemasan ini dibikin oleh keluarga mereka. Ini salah satu contoh kolaborasi yang baik. Satu produk, tapi ada dua keuntungan yang diperoleh oleh pembeli kelak (karena yang dipamerkan kemarin masih prototype). Saya bilang pada mereka, "Cokelat itu biasa, di mana-mana ada, dan mungkin orang juga bakal memburu cokelat ini sebagai oleh-oleh. Tapi kalau melihat dari sisi oleh-olehnya, tentu kemasannya ini yang diburu." Iya, konten mereka adalah cokelat, kolaborasi mereka dengan pihak lain adalah kemasannya. Komunitas? Mereka sudah tergabung dalam komunitas wirausahawan muda tersebut, bersama 22 peserta lainnya. Supa amazing!

Konsep DIY


Ini keutamaan yang mau dibahas. Ketika tidak ada sesuatu yang memuaskan keinginan, maka harus bisa membikinnya sendiri. Pasar E.thical mengenyangkan jiwa DIY (Do It Yourself) saya. Rata-rata hampir semuanya memang berkonsep DIY.

Elok dari Cahyadi menggunakan wati serta kantong serut untuk mengisi sorgum sebagai produk andalannya. Saya sangat menyukai kantong serut yang dijahit sendiri oleh Cahyadi, atau oleh Mamanya. Terlihat unik karena tali serutnya menggunakan bahan goni. Kemudian, Cahyadi memberikan saya satu kantong serut ini:


Ine Lawo, saya setuju mereka jawara, membikin produk DIY dari kain tenun sisa. Kalau boleh saya bilang: Ine Lawo itu 100% DIY. Kain tenun sisa ini bisa diminta di penjahit. Tapi bisa juga sih meyiapkan kain tenun khusus untuk dikreasikan ini itu. Kain tenun sisa tidak saja diaplikasikan pada pakaian, seperti celana jin sobek yang ditambal tenunan atau kemeja, tapi mereka juga membikin aneka asesoris seperti bandana, anting-anting, kalung, dan lain sebagainya. Seperti foto di bawah ini, salah satu hasil DIY-nya Ine Lawo:


Dari brand Daur Ulang Kreatif (atau Plastic Reduce Initiative, saya lupa) saya menemukan tas daur ulang seperti pada foto di bawah ini:


Bagaimana tali rafia dibikin tas seperti foto di atas, itu adalah ketekunan, keuletan, dan daya kreativitas yang luar biasa!

Masih banyak barang DIY yang saya temui kemarin di Pasar E.thical. Selain wati sebagai kemasan cokelat FloCo., ada pula tas-tas kertas DIY yang ditempeli brand/logo, yang pastinya dibikin sendiri sama para wirausahawan muda Ende tersebut. Selain itu, kalau kalian melihat foto di awal pos, itu dari Frame Culture! Dia membikin frame dan aneka asesoris yang biasa dipakai orang-orang buat menghasilkan foto yang instagenic. Frame-nya jelas dibalut kain tenun ikat.

⇜⇝

Dari semua yang ditulis di atas, saya jadi ingat sama diri sendiri, yang meraup keuntungan belipat ganda hanya dengan mendaur ulang sampah. Brand saya waktu itu Rumah Kreatif Tuteh. Aneka produk sudah saya bikin, baik karena pengen bikin, maupun karena dipesan sama pelanggan *duhaaaiii, pelanggan* hehe. Tapi karena tuntutan pekerjaan lain yang membutuhkan skala prioritas, karena saya juga punya pekerjaan utama, usaha itu tidak saya teruskan. Padahal keuntungannya supa amazing. Karena kegemaran ber-DIY-ria itulah maka setiap Rabu tema pos ini adalah DIY. Hehe.


Credits: Ihsan Dato.

Bagaimana, kawan? Suka kan sama pos kali ini? Menambah informasi sekaligus cuci mata sama foto-fotonya *kedib*, karena saya sendiri juga suka sama foto-foto yang cuma dijepret menggunakan telepon genggam tersebut. Salah satu foto memang saya minta pada David Mossar, karena saya lupa memotret stan-nya Cahyadi. Dan satu foto dijepret oleh Om Ihsan Dato.

Semoga para peserta dapat melanjutkan apa yang sudah mereka rintis pada Hari Sumpah Pemuda tersebut.

Mari kita dukung!

#RabuDIY



Cheers.

Tuesday, October 29, 2019

Inilah Cara Keren Saya Merayakan Hari Blogger Nasional


Inilah Cara Keren Saya Merayakan Hari Blogger Nasional. Setiap tahun Hari Blogger Nasional dirayakan pada tanggal 27 Oktober. Tahun 2019 Hari Blogger Nasional jatuh pada Hari Minggu. Kalian tahu kan, Hari Minggu merupakan hari liburnya BlogPacker. Bertepatan dengan Hari Blogger Nasional pada hari Minggu kemarin saya malah pergi traveling ke lokasi wisata yang sudah lama bikin saya mupeng: Obyek Wisata Ae Sale Mengeruda atau lebih dikenal dengan nama Air Panas Soa (dibaca So'a) yang terletak di Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada. Tapi itu bukan berarti saya melupakan hari keramat ini. Karena, setiba di rumah, saya justru langsung mengajari seorang adik mengenal dan membikin blog! Hebat kan saya *dikeplak dinosaurus*.

Baca Juga: Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android

Adalah Ny Sargaling, salah seorang lulusan Universitas Flores (Uniflor) yang baru diwisuda kemarin dan meraih IPK tertinggi dari Prodi Pendidikan Fisika. Tidak main-main 3,91 adalah IPKnya. Tetapi atas pertimbangan ini itu, maka Teresia Wali yang juga meraih IPK 3,91 lah yang maju sebagai lulusan terbaik, sedangkan Ny diberi kehormatan memberikan sambutan mewakili wisudawan/i.

Ny - Teresia - JLo, eh, saya.

Tanggal 22 Oktober 2019 kami terlibat obrolan awal melalui inbox Facebook. Itu karena saya rasanya gatal banget waktu melihat foto-foto yang dia pos di Facebook tentang event Tarian Caci di Kabupaten Manggarai sana. Sejak lama saya pengen bisa menghadiri event semacam itu tetapi selalu terkendala dengan waktu. Begitu ambil cuti, malah event-nya sudah lewat. Padahal bagus kan kalau ditulis di blog agar lebih banyak orang bisa membacanya. Kegatalan saya itu berlanjut sampai hari Minggu kemarin saat saya tiba di rumah setelah ratusan kilometer, pergi-pulang, antara Kota Ende dan Soa. Bukannya mandi dan istirahat, saya malah melanjutkan obrolan melalui inbox Facebook tersebut. Ny pun berhasil saya racuni! Haha. Obrolan kami lantas pindah dari inbox Facebook ke WA.

Kenapa harus pindah ke WA? Karena saya lebih familiar dengan WA terkhusus untuk mengirim foto dan lain sebagainya. Ini hanya soal kebiasaan saja. Teknologi memang canggih kan.

Mengenal dan Membikin Blog


Bukan barang baru bagi saya memperkenalkan dan mengajar orang membikin blog melalui WA. Bersama Om Bisot dan Kak Anazkia, sudah banyak grup kelas blogging yang dibuka. Sebut saja Kelas Blogging NTT Angkatan I dan Angkatan II dan Kelas Blogging Online. Selain itu saya juga membuka Kelas Blogging Tuteh yang berisikan mahasiswa yang pernah mengikuti workshop blog dimana saya menjadi pematerinya. Tentu materi saya tetap berjudul Blogging is Fun and Easy. Alasan membuka kelas blogging di grup WA, bisa kalian baca pada pos berjudul 5 Alasan Membuka Kelas Blogging NTT.

Balik lagi ke Ny.

Ny sudah punya modal awal sebagai blogger yaitu suka menulis. Sayang banget kalau dia menulis di layanan catatan Facebook. Saya jelaskan padanya bahwa menulis di blog itu jauh lebih baik karena semua tulisan terarsip dengan sangat baik, kita bisa mencarinya kembali dengan memasukkan kata kunci di blog, dan tentu tautannya bisa dibagi ke berbagai media sosial sebagai aksi promosi blog. Maka melalui pesan WA kami berdua berusaha yang memberi pengajaran (saya) dan memahami pengajaran (Ny). Hanya dalam waktu sepuluh menit saya sudah memperkenalkan pada Ny tentang konsep awal blog, ragam platform blog, contoh blog gratisan dan berbayar, hingga kenapa membikin blog di platform Blogger.

Dua menit kemudian, Ny sudah mendaftarkan blog di Blogger menggunakan nama keluarganya yaitu Sargaling. Saya bilang padanya bahwa nama Sargaling itu unik, pasti langsung jadi begitu didaftarkan ke Blogger, dan ternyata benar adanya. Blog Ny sudah jadi tetapi belum ada isinya karena dia harus menulis pos (pertama) terlebih dahulu. Selamat nge-blog ya, Ny! Terus menulis dan berbagi ragam kisah, terutama tentang Kabupaten Manggarai, di blog. Saya yakin akan banyak pembaca karena tulisan tentang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT): adat, wisata, budaya, kehidupan beragama yang harmonis, jadi buruan para pembaca.

Sebenarnya selain Ny, ada Facebooker lain yang juga menghubungi saya lewat inbox Facebook dan sangat tertarik untuk punya blog juga. Namanya Salsabila Salsa. Saya sudah memberikan nomor WA sih, tinggal menunggu dia menghubungi. Dan Insha Allah akan hadir blog baru lagi di dunia ini. Dududud. Terbukti teknologi memang memudahkan banyak hal, termasuk memudahkan orang-orang yang ingin belajar blog.

Hari Blogger Nasional


Siapa sangka apa yang saya dan Ny lakukan, mengajar dan mempelajari, merupakan cara keren (saya akui itu keren, hahaha) untuk merayakan Hari Blogger Nasional. Ternyata, sepanjang saya nge-blog, hanya ada satu pos tentang Hari Blogger Nasional. Padahal sudah tujuh belas tahun lebih saya nge-blog. Ditambah dengan pos ini, jadi dua.

Sebenarnya, sebelum berangkat ke Soa saya sudah memikirkan apakah hari Minggu (malamnya) akan menulis tentang Hari Blogger Nasional atau tidak? Karena Minggu adalah hari libur nge-blog dan hari bershanthaaaiii. Namanya juga blogger, sebagai blogger saya kan harus bisa membikin sesuatu yang beda berhubungan dengan Hari Blogger Nasional ini. Apakah pos di blog, atau status di media sosial, dan lain sebagainya. Ndilalah, gara-gara Ny yang pengen belajar blog, akhirnya saya bisa merayakan Hari Blogger Nasional dengan sangat keren. 

Merayakan Hari Blogger Nasional dengan Mengajar Blog!

Baca Juga: Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik

Sebagai blogger, belum banyak yang bisa saya perbuat untuk Indonesia *tsah* tetapi melalui kampanye terselubung maupun terbuka di media sosial tentang manfaat blog yang luar biasa, alias supa amazing, saya berharap akan semakin banyak pula orang-orang khususnya masyarakat NTT yang membikin blog. Karena, ada begitu banyak perkara tentang Provinsi NTT yang dapat digali, diolah, ditulis, dan dibaca oleh orang lain. Blog merupakan salah media promosi wisata juga. Kalian harus percayai itu, dan Ny ... juga harus percaya itu.

Salam Hari Blogger Nasional!

#SelasaTekno



Cheers.

Monday, October 28, 2019

Dari Kuliah Umum Sampai My Best Friend's Wedding


Dari Kuliah Umum Sampai My Best Friend's Wedding. Minggu lalu saya dihubungi oleh Kakak Ida yang membantu Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang hendak mengundang blogger untuk acara Gotong Royong, Bakti Negeri +62 di Tanggerang. Dalam perkara ini, blogger dimaksud adalah saya sebagai blogger asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Semua ditanggung oleh panitia (transportasi, akomodasi, konsumsi). Kegiatannya dimulai 26 Oktober hingga 30 Oktober 2019. Dengan berat hati saya menolak. Sumpah! Berat bangettttt menolak undangan tersebut. Menolak karena tanggal 26 Oktober adalah tanggal keramat. Keramat pertama: kegiatan kuliah umum. Keramat kedua: pernikahan sahabat yang sudah saya anggap adik sendiri Mila Wolo dan Ismail Harun. Sumpah, lebih mengerikan dicakar Mila ketimbang dipeluk Abang. Eh, maksudnya ya begitu. Haha. Tolong bagian dipeluk Abang jangan dibahas, ya. Haha!

Baca Juga: Antara Saya, Trans Flores, dan Festival Daging Domba

Sebagai manusia penghuni semesta raya saya harus rela mengorbankan yang satu demi menunaikan yang lain. Tentu, saya sudah mengorbankan tidak pergi ke Tanggerang, meskipun penolakan itu seharusnya bukan pengorbanan tetapi keikhlasan. Tsaaaah. Hehe. Bagaimana dengan dua kegiatan lainnya? Mana yang saya pilih untuk dihadiri? Kalian pasti kepo kan? Baca donk sampai selesai.

Kuliah Umum Menyambut Panca Windu Uniflor


Sudah saya ceritakan sebelumnya pada pos berjudul 5 Rencana Kegiatan Keren Menuju 40 Tahun Uniflor bahwa dalam rangka menyambut usia panca windu, Universitas Flores (Uniflor) bakal menggelar begitu banyak kegiatan, salah satunya kuliah umum dan/atau seminar yang cakupannya lokal, nasional, hingga internasional (internasional, masih dalam wacana). Panca windu, dan tahun emas nanti, memang merupakan momen spesial yang ditunggu-tunggu. Meskipun panca windu baru akan terjadi pada Juli 2020 namun persiapannya sudah dimulai sejak tiga tahun lalu. What!? Tiga tahun lalu? Ya, kepanitiaan ini sudah dibentuk tiga tahun lalu, kemudian mandek, kemudian bulan lalu kembali disetrum dan lantas setiap koordinator menyusun begitu banyak rencana kegiatan. Hebatnya, Panitia Panca Windu Uniflor bakal di-launching pada tanggal 1 November 2019 bertepatan dengan launching event tahunan Ema Gadi Djou Memorial Cup. Bapak Ema Gadi Djou adalah our founding father. Launching-nya pun dirancang supa amazing! Nantikan ceritanya, ya. 

Credits: Edwin Firmansyah.

Kuliah umum merupakan salah satu kegiatan awal, pre-event, Panca Windu Uniflor. Kuliah umum tersebut bertema: Membangun Potensi Diri Sebagai Mediator Budaya "Mengawal Ideologi, Melawan Radikalisme" Pancasila dari Ende untuk Nusantara. Tema yang menarik. Tapi yang lebih menarik adalah Pemateri Utama yaitu Bapak Dr. Refly Harun, S.H., M.H., I.L.M. yang dikenal sebagai Pakar Hukum Tata Negara, Pemateri Pendamping yaitu Ibu Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum. yang adalah dosen Fakultas Hukum Uniflor, serta Moderator kece yaitu Gusti Adi Tetiro yang dikenal sebagai novelis dan jurnalis BeritaSatuTV.

Hadir dalam kegiatan kuliah umum yang dilaksanakan di Auditorium H. J. Gadi Djou di Kampus I Uniflor tersebut Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A., Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Dr. Laurentius D. Gadi Djou, Akt., Wakil Rektor dan Dekan se-lingkup Uniflor, Pasi Pers Kodim 1602/Ende Lettu Inf. Ilham Amir, Camat Ende Utara Kapitan Lingga, Pastor Rekanan Paroki St. Yosef Onekore/Pastor Kampus Ministry RP. John Ballan, SVD., Ketua FKUB Rd. Sipri Sadipun bersama anggota FKUB Kabupaten Ende, para dosen dan karyawan Uniflor, para guru di wilayah Kabupaten Ende, mahasiswa dan pelajar dalam Kota Ende. Jumlah peserta yang hadir diperkirakan 2.500 orang. Bisa saya bayangkan betapa penuhnya auditorium kebanggaan kami itu.

Credits: Edwin Firmansyah.

Dalam sambutannya Rektor Uniflor mengatakan bahwa Kota Ende terletak di tengah Pulau Flores dengan cuaca yang sejuk, masyarakatnya secara sosiologis kondisinya sangat manis. Kota Ende semacam menjadi pertemuan budaya sedaratan Flores dan sampai saat ini tidak ada gejolak seperti yang terjadi di tempat lain. Di Kota Ende Pancasila dikandung. Konsep awalnya Pancasila ada di Kota Ende. Mungkin Bung Karno melihat betapa manisnya Orang Ende. Semoga Pancasila tetap menjadi dasar penyejuk semua Agama, RAS, dan Budaya di Indonesia, dan ini menjadi harapan besar Orang Ende. Lebih lanjut Rektor Uniflor mengatakan, "Pada momen panca windu kami ingin membulatkan tekad untuk mengawal Pancasila yang dikandung di Kota Ende ini. Maka kami mengundang Pak Refly Harun untuk memberi pemahaman kepada kami agar kejadian dan gejolak tidak menggerus nilai Pancasila yang dikandung di Ende ini karena dia adalah mutiara indah yang dikandung di Ende dan dipersembahkan untuk mempersatukan Nusantara."

Kegiatan kuliah umum sebagai pre-event panca windu Uniflor sungguh luar biasa!

Credits: Edwin Firmansyah.

Pertanyaannya: bagaimana saya yang memutuskan untuk menghadiri pernikahan sahabat baik saya tahu tentang kuliah umum ini, termasuk sambutan Rektor Uniflor? Jawabnya hanya satu: jaringan. Haha. Pokoknya jaringan mempermudah segalanya. Terima kasih Om Edwin. Selain itu, untuk kepentingan publikasi Uniflor sudah ada Kakak Rossa yang berbaik hati memberi ijin saya mendokumentasikan pernikahan Mila dan Aram, dan meliput sendirian di auditorium. Sungguh, saya dikelilingi oleh orang-orang sangat baik.

Yuk ah ... tepuk tangan yang meriah.

My Best Friend's Wedding


Mila adalah sahabat yang sudah saya anggap adek sendiri, kami mulai menjalin persahabatan sejak tahun 2011. Pernikahannya dengan Aram merupakan momen terbaik tahun ini yang saya tunggu-tunggu. Sudah dimulai dengan mengatur proses foto pre-wedding, hingga membikin video undangan online. Yang jelas, demi kepentingan Mila, malam sebelumnya Cahyadi sudah membantu mendokumentasikan Malam Deba, sedangkan Thika Pharmantara menghias tangannya dengan hena. Pada hari pernikahan pun saya siap bangun lebih awal, karena biasanya iler sudah banjir baru bangun, demi bisa mendokumentasikan proses ijab-kabul, soalnya Cahyadi harus mengikuti kegiatan lain bersama Ethical.



Adalah air mata haru ketika melihat Bapa Anwar Wolo menikahkan puteri semata wayangnya dengan lelaki pilihan. Mata saya berkaca-kaca melihatnya. Bapa dan Mama, tunai sudah tugas kalian untuk Mila. Kalian adalah orangtua saya juga, yang selalu bisa membikin saya lebih bersemangat menjalani hidup, hanya dengan melihat perilaku kalian yang mulia. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan berkatNya untuk Bapa dan Mama. Semoga panggilan ke Tanah Suci kelak dapat terwujud. Amin ... Amin ... Amin. Jangan lupa, sebut nama saya kalau ke Tanah Suci Mekah, ya. Haha. Siapa tahu menyusul. Menyusuk ke Tanah Suci, bukan menyusul Mila dan Aram melenggang ke pelaminan. Eh tapi kalau itu juga didoakan ... Amin!




Saya dan keluarga Wolo memang tidak berhubungan darah. Kami hanya didekatkan oleh persahabatan saya dan Mila, yang kemudian persahabatan saya dan Deni. Tapi bagi saya, persahabatan dapat berujung pada persaudaraan apabila kita mampu membawanya pada tahap itu. Persahabatan juga dapat berujung pada permusuhan apabila kita membawanya pada tahap itu. Intinya adalah, semua sahabat saya adalah saudara. Karena, saudara tidak musti di tubuh mengalir darah yang sama.

Baca Juga: Karena Setiap Manusia Pasti Tergelincir dan Berbuat Keliru

Well, untuk Mila dan Aram ... selamat yaaaaa.

⇜⇝

Meskipun saya belum memperoleh materi dari Pak Refly secara keseluruhan, tetapi saya yakin nanti bisa memperolehnya dari Kakak Rossa, atau dari Ibu Emmi. Materinya pasti bagus sekali: tentang menjaga Pancasila yang sangat kita cintai. Tapi yang jelas, Sabtu kemarin itu saya sangat puas dengan apa yang sudah saya pilih dan lakukan. Karena, sekali lagi, saya harus bisa mengorbankan yang satu untuk dapat menunaikan yang lain.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Saturday, October 26, 2019

Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa


Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa. Akan? Artinya ... belum. Betul sekali. Saya bahkan baru dalam tahap membaca salah satunya. Me-review tanpa membaca keseluruhan buku merupakan perbuatan pamali dan pengkhianatan pada diri sendiri karena yang tertangkap hanyalah keping-keping yang belum boleh dipamerkan. Tapi, dalam lini sombong, boleh donk saya pamerkan tiga buku yang dikirimkan oleh Kakak Rosalin Togo a.k.a. Mami Ocha? Bolahlah! Ini kan blog saya! Malah ngegas. Haha. Mungkin ini yang disebut, bermimpilah setinggi langit karena siapa tahu ada orang lain yang akan mewujudkan mimpi itu.


Ceritanya ...

Adalah salah seorang teman Facebook, saya lupa siapa, yang mengepos sebuah foto buku berjudul Mendaki Tangga Yang Salah. Foto buku itu mengingatkan saya pada buku lain berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Kok bisa? Iya, karena sampulnya mirip. Kalau Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat bersampul oranye, maka Mendaki Tangga Yang Salah bersampul merah. Sekilas, sama-sama oranye. Itulah kerja otak manusia yang suka memiripkan sesuatu. Hehe *cubit otak sendiri*.

Lalu foto dari pos Facebook itu saya keep alias simpan, dan saya pos lagi di status WA dengan caption: pengen punya buku ini. Siapa sangka, status itu justru direspon sama Mami Ocha yang menulis: Mami sudah punya. Mau? Dengan cepat saya balas: mau leeeee. Kata Mami: Jum'at meluncur Ende. Tapi Jum'at siang harus diingatkan lagi. Kawan, kalau urusannya sama buku, tidak ada kata saya lupa, harus ingat dengan berbagai cara! Tidak lama berselang, Mami Ocha malah mengirim foto sebuah buku lain berjudul Bicara Itu Ada Seninya dengan pesan: Ini sudah punya?

Bisa kalian tebak, kawan. Pada akhirnya Mami Ocha menyiapkan tiga buah buku untuk saya.

1. Mendaki Tangga Yang Salah.
2. Bicara Itu Ada Seninya.
3. Seni Hidup Minimalis.

How lucky I am!

Oh ya, Mami Ocha ini adalah dosen Uniflor yang sedang mengenyam pendidikan S2 di Kota Surabaya.

Nah, pada foto sampul pos ini kalian melihat tiga buah buku bersama kotak mangga dan kotak buku lainnya. Mangga itu dikirim sama Noviea Azizah dari Kota Mbay. Kotak buku itu adalah kotak yang sama dengan tiga buku kiriman Mami Ocha, dan buku-buku lainnya itu adalah buku-buku yang akan disumbangkan untuk Rumah Baca Sao Moko Modhe. Kami memang sedang dalam tahap pengumpulan buku untuk rumah baca yang dibangun oleh mahasiswa KKN-PPM Uniflor di Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo tersebut.

Baca Juga: Pembalasan Laut

Saat ini saya baru membaca buku berjudul Seni Hidup Minimalis. Bukan karena buku itu bersampul kuning, warna kecintaan saya, tetapi karena buku itu memang harus dilahap terlebih dahulu. Tetapi, tumpukan pekerjaan tambahan memang tidak bisa diabaikan. Sehingga bacanya pun baru beberapa lembar. Seperti apa isinya? Tunggulah setiap Sabtu di #SabtuReview!

Semoga dalam minggu ini bisa menyelesaikan salah satunya. Amin.

Terima kasih Mami Ocha, Pahlawan Intelektual saya. Tidak bisa saya balas kebaikan Mami. Sungguh. Bagi saya siapa pun yang memberikan buku untuk saya adalah Pahlawan Intelektual sejati.

#SabtuReview



Cheers.

Friday, October 25, 2019

#PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu. Mengarungi Pulau Flores memang butuh ketangguhan, terutama jika kalian adalah perempuan yang mengendarai sepeda motor, bukan mobil mewah ber-AC. Infrastruktur jalan Trans Flores memang sudah sangat baik. Tetapi, topografi Pulau Flores yang didominasi perbukitan, menyebabkan Trans Flores harus sering diperhatikan kondisinya. Saat musim hujan tiba, longsor (batu dan tanah) bisa saja terjadi, memenuhi sebagian badan jalan. Hujan juga bisa mengakibatkan putusnya jalan akibat aliran air super deras memangkas badan jalan. Kecuali jika sedang ada proyek pelebaran jalan, di luar musim hujan, kondisi Trans Flores baik-baik saja alias sangat sehat. Haha.

Baca Juga: #PDL Mengumpulkan Si Kuning

#PDL kali ini adalah tentang dua kondisi yang harus kalian ketahui. Penting? Tidak juga sih, haha. Pernah, saya pernah melakukan dan mengalaminya. 

Gantung Sepatu


Dalam perjalanan ke arah Utara, ke daerah Maurole di awal tahun kemarin saat mempromosikan Universitas Flores ke seluruh SMA se-Pulau Flores dan sekitarnya, musim hujan menyebabkan jalur yang satu ini 'putus'. Putus bukan berarti sama sekali tidak bisa dilewati, melainkan aliran air memangkas badan jalan sehingga pengendara harus lebih berhati-hati. Biasanya saya selalu membawa sepatu karet petani kalau sedang musim hujan, tapi hari itu saya lupa! Walhasil, harus rela sepatu dan kaki celana kuyup. Maunya sih tidak usah menurunkan kaki, tetapi batu-batu di dasar aliran air ini cukup besar sehingga pilihannya hanya dua: turunkan kaki atau jatuh.


Ada dua kondisi jalan yang mirip seperti foto di atas, yang satunya tidak seberapa dalam. Oh ya, yang memotret saya adalah Kakak Shinta Degor yang waktu itu seperjalanan sama saya ke wilayah Utara.

Gara-gara sepatu kanvas itu basah, saat tiba di Maurole saya terpaksa membeli sandal. Sungguh, memakai sepatu basah itu tidak enak sekali rasanya di kaki. Setelah mencuci kaki menggunakan air minum kemasan, saya memang sombong hahaha, baru sepatu diikat di sepeda motor dan kami pergi mencari warung untuk makan siang. 



Selang beberapa bulan, lagi-lagi saya harus menggantung sepatu, hanya karena salah perkiraan. Iya, saya berpikir aliran itu sudah lenyap, ternyata masih ada. Terpaksa sepatu saya jemur di atap dagangan bensinnya penduduk Desa Tana Li, hingga kering!


Dalam perjalanan pulang, waktu itu bareng Thika Pharmantara, kami membeli dua kresek merah buat membungkus kaki saya. Alhamdulillah sepatu tetap kering, setelah dijemur itu, sampai kami tiba kembali di Kota Ende.

Terjebak Debu


Kayaknya keren banget begitu menulis 'terjebak debu' haha. Musim kemarau seperti akhir-akhir ini, dimana mendung hanyalah screensaver yang tidak boleh terlalu dipercaya bakal turun hujan, para pejalan seperti saya harus menyiapkan ekstra masker. Sebagai pengendara sepeda motor, masker merupakan barang wajib pakai/bawa. Sesekali dibuka kalau udara sudah terlihat/terasa bersih. Tapi jika ada proyek pelebaran jalan, jangan sampai masker dilepas dari wajah (hidung dan mulut).




Awas nyasar! Karena pada jalur darurat Mbay - Riung yang maha luas ini, nampak begitu banyak jalur alternatif yang dipilih pengendara sepeda motor agar tidak makan debu dari kendaraan yang melaju di depannya. Kalian tahu? Roda sepeda motor saya sampai tertanam nyaris setengah akibat tebalnya tanah/pasir.

⇜⇝

Baca Juga: #PDL Menjadi Hakim Anggota

Trans Flores merupakan jalur yang asyik dilintasi. Karena saya pengendara sepeda motor, jelas menurut saya Trans Flores merupakan jalur yang asyik dilintasi oleh para pengendara sepeda motor. Kalau pengendara mobil, ya terserah, karena saya tidak suka naik mobil. Alasannya cuma satu: kalau naik mobil di Trans Flores usus saya bisa keluar dari lobang hidung. Iya, jalannya yang berkelok-kelok itu sangat memelintir isi perut! Haha.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Adakah yang pernah mengarungi Pulau Flores? Yuk bagi tahu di komen!




Cheers.

Monday, October 21, 2019

Antara Saya, Trans Flores, dan Festival Daging Domba


Antara Saya, Trans Flores, dan Festival Daging Domba. Alhadulillah, dua jadwal yang baru direncanakan menjelang akhir tahun, jadwal serba mendadak dangdut, telah tunai. Yang pertama adalah menghadiri Festival Literasi Nagekeo 2019 pada 28 September 2019 di Lapangan Berdikari Kota Mbay. Yang kedua adalah menghadiri Festival Daging Domba 2019 pada 19 Oktober 2019 di Bukit Weworowet. Kedua festival keren itu diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo. Bagaimana caranya kabupaten muda ini mampu menyelenggarakan dua event besar dalam tempo yang berdempetan, itu menjadi rahasia yang harus dicaritahu, sekaligus merupakan motivasi bagi kabupaten lainnya yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Yang jelas, dua event itu telah mendongkrak dunia literasi, budaya, serta pariwisata di Kabupaten Nagekeo.

Adalah jauh jarak antara Kota Ende sebagai Ibu Kota Kabupaten Ende, tempat saya tinggal, dengan Kota Mbay sebagai Ibu Kota Kabupaten Nagekeo. Biasanya saya selalu mampir mengaso sebentar di percabangan Aigela, menikmati jagung rebus dan segelas kopi, yang dijual di lapak-lapak oleh penduduk setempat, baru kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kota Mbay.


Bagi kalian yang bermukim di kota besar, jarak 90-an kilometer tidak menjadi persoalan, karena akses jalan raya yang luar biasa di kota besar sering membikin kami yang tinggal di Pulau Flores terpesona sekaligus iri. Jalanan lebar, lurus, mulus, trafic light di mana-mana, merupakan makanan kalian sehari-hari. Bukan persoalan mudah, memang, menghubungkan setiap kabupaten di Pulau Flores. Topografinya yang ekstrim membikin jalan penghubung antar kabupaten juga ekstrim. Meskipun demikian, saya bersyukur karena untuk menghubungkan setiap kabupaten di Pulau Flores, sudah ada mediatornya.

Mediator Itu Bernama Trans Flores


Trans Flores merupakan mediator/penghubung setiap kabupaten yang ada di Pulau Flores dari ujung Barat ke ujung Timur. Topografi Pulau Flores itu berbukit-bukit (ekstrim menurut sebagian orang), disertai jurang baik jurang dengan sungai atau batu karang dan ombak menunggu di bawah sana, membikin Trans Flores otomatis menjadi ekstrim. Bayangkan saja, selain jalanan itu mengitari bukit, ribuan kelokan, dan naik turun, pun ada bukit yang dibelah demi keberlanjutan Trans Flores ini.

Salah satu titik favorit, arah Barat dari Kota Ende, sebelum Kecamatan Nangapanda. Sisi perbukitannya nampak bak lukisan abstrak.

Trans Flores sudah ada sejak zaman dulu-dulu, dan terus diperbaiki demi kelancaran lini transportasi antar kabupaten. Bahkan, sampai saat ini pun Trans Flores masih terus diperbaiki, antara lain perbaikan titik-titik berlubang hingga pelebaran jalan. Apabila terjadi pengerjaan proyek pelebaran jalan maka para pengguna Trans Flores harus mempersiapkan diri dengan sangat baik, terutama para pengendara sepeda motor. Seperti saya. Hehe. Karena, proyek pelebaran jalan selalu berkaitan dengan pengerukan bukit, dan kombinasi keduanya pasti menimbulkan debu setiap ada kendaraan yang melintasi. Jangan pernah lupakan masker!


Proyek perbaikan dan/atau pelebaran jalan memang bakal membikin perjalanan lintas Pulau Flores menjadi sedikit terganggu karena harus saling mengalah saat melintasi jalan sempit terutama di kelokan yang sebagian badan jalan dikuasai material, serta debu yang berterbangan. Tapi jangan kuatir. Saya sudah pernah mengalaminya ratusan ribu kali. Proyek perbaikan dan/atau pengerjaan jalan ini tidak memakan waktu terlalu lama. Paling-paling tiga bulan ke depan, kalau ke luar kota lagi, kondisinya sudah semakin bagus. Bukankah perbaikan dan pelebaran jalan ini dilakukan demi kelancaran transportasi antar kabupaten? Jadi, mari kita rayakan!

Karena saya tinggal di Kota Ende, perjalanan ke arah Barat dan ke arah Timur Pulau Flores selalu memberi kesan tersendiri. Arah Barat, identik dengan tebing, hutan, jurang, dan laut, selalu menyuguhkan pemandangan seperti ini:




Sedangkan arah Timur yang identik dengan tebing, hutan, jurang, dan sungai, juga tak kalah, selalu punya pemandangan seperti ini:



Kondisi jalan yang baik antar kabupaten, suguhan pemandangan supa amazing sepanjang perjalanan, hingga menawannya keramahan masyarakat Pulau Flores, membikin wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara kini lebih suka mengendarai sendiri kendaraan sewaan terutama sepeda motor matic. Bila dulu sering bertemu mobil rental/travel atau bis pariwisata dipenuhi wisatawan mancanegara, maka sekarang saya lebih sering bertemu wisatawan mancanegara mengendarai sepeda motor matic. Ada yang sendiri, ada yang berkelompok. Sayangnya, dalam perjalanan menuju Kabupaten Nagekeo minggu kemarin, saya lupa memotret rombongan sepeda motor matic yang dikendarai oleh sekelompok wisatawan mancanegara.

Urusan sewa-menyewa sepeda motor matic ini sudah saya ketahui sejak lama. Sejak saya pergi ke Kota Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat, tahun 2014. Waktu itu dari Kota Labuan Bajo menuju Air Terjun Cunca Wulang, kami juga menyewa sepeda motor matic. Pun waktu sahabat saya Yunaidi Joepoet pergi ke Kabupaten Ngada mengabarkan dirinya menyewa sepeda motor matic. Jangan kuatir, sepeda motornya pasti halal: STNK pasti diberikan oleh pemilik penyewaan, plus dua helem standar nasional.

Menurut saya pribadi, apa yang terjadi di Pulau Flores, di lini transportasi yang turut mendongkrak dunia wisatanya, merupakan pencapaian yang luar biasa oleh Kementrian Perhubungan Republik Indonesia. Dirilis di sini, dikatakan bahwa Program Indonesia Sentris yang dicanangkan pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla telah membuka akses keterisolasian serta dapat meningkatkan perekonomian suatu daerah. Dalam kurun waktu lima tahun belakangan dilakukan pembangunan infrastruktur transportasi dengan pendekatan Indonesia Sentris untuk membuka keterisolasian yaitu dengan memberikan dukungan aksesibilitas terhadap daerah 3TP (Terluar, Terdepan, Tertinggal, dan Perbatasan).

Jadi kalau ditanya apa kaitan antara lini transportasi, lini pariwisata, dan lini ekonomi, siapapun pasti bisa menjawabnya. Lini transportasi jelas mendukung lini pariwisata yang berimbas pada lini ekonomi. Karena Trans Flores pula saya rajin wara-wiri se-Flores dan terakhir terdampar di kaki Bukit Weworowet mengikuti kegiatan Festival Daging Domba.

Festival Daging Domba


Awalnya saya menyangka Festival Daging Domba baru akan dilaksanakan Bulan November, sudah siapkan waktu cuti pun, tetapi saya salah. Festival Daging Domba dibuka dengan resmi oleh Bupati Nagekeo Bapak Don Bosco Do pada Senin, 15 Oktober 2019. Kabarnya baru saya tahu hari Rabu saat sedang mengobrol tentang sampah bersama Abang Umar Hamdan dan Cahyadi. Uh wow, saya harus ke sana! Itu adalah jadwal yang harus ditunaikan. Karena saya punya kewajiban pekerjaan utama, sehingga baru bisa berangkat ke Kota Mbay pada Sabtu, sepulang kerja.

Sebenarnya, Festival Daging Domba ini sudah dimulai pre-event-nya justru sebelum Festival Literasi Nagekeo 2019 diselenggarakan. Sudah dibuka restoran daging domba di sekitar Bukit Weworowet oleh masyarakat/pemuda dari Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Setelah selesai Festival Literasi Nagekeo 2019, barulah Festival Daging Domba benar-benar dimulai.

 Dalam perjalanan memasuki Kota Mbay, bertemu papan aturan ini. Wah, ini bagus sekali!

Sabtu, 19 Oktober 2019, berangkatlah saya ke Kota Mbay bersama Deni Wolo. Kami mengendarai sepeda motor masing-masing. Mampir sebentar di Aigela untuk istirahat, perjalanan dilanjutkan, dan tiba di Kota Mbay sekitar pukul 15.30 Wita. Mampir lagi di rumah Novi, blogger dan aktivis muda Kota Mbay, barulah kami ngegas menuju Towak. Towak? Iya, Towak. Towak merupakan sebuah wilayah di Kabupaten Nagekeo yang letaknya berada di jalan Trans Flores; Mbay - Riung. Untuk diketahui, Riung yang terkenal dengan Taman Laut 17 Pulau Riung itu, berada di wilayah Kabupaten Ngada bukan Kabupaten Nagekeo. Di Towak ada keponakan saya, Iwan, yang isterinya, Reni, bekerja di Pustu Towak sebagai bidan, serta dua cucu saya Andika dan Rayhan. Karena jembatan utama Trans Mbay - Riung sedang diperbaiki, kami harus melewati jalur darurat yang berdebu ini, haha.


Tiba di Towak, istirahat sebentar sambil mengobrol, saya dan Deni lantas pamit duluan pada Reni untuk bisa menangkap momen sunset di Bukit Weworowet. Bukit yang bentuknya unik dan menjadi lokasi Festival Daging Domba tersebut. Jarak antara Towak dan Bukit Weworowet sekitar 10 sampai 15 menit perjalanan saja.

Bukit Weworowet senja itu.

Sunset dari balik bukit yang berhadapan dengan Bukit Weworowet.

Kami lantas mencoba memesan sate domba, seporsi saja dulu, karena toh saya dan Deni belum terbiasa dengan daging domba. Resto ini terletak di samping panggung utama, sedangkan jejeran resto lainnya menghadap panggung utama. Selain daging domba, juga dijual jagung rebus, dan gorengan. Sayangnya sore itu jagung dan gorengan belum ada. Dalam bahasa Nagekeo, daging domba disebut nake lebu atau nakeng lebu.



Karena masih sore, suasana belum ramai. Itu yang membikin saya dan Deni merasakan sensasi ketenangan dan kenyamanan yang luar biasa. Menikati sate domba sambil menonton Bukit Weworowet yang tegak diam begitu, wuih, surga. Sampai-sampai Deni bilang: kalau saja bukit ini dekat Ende, setiap sore ke sini saja. Kami bertahan hingga matahari benar-benar menghilang. Akhirnya saya mengirim pesan WA pada Reni untuk menyusul ke lokasi ini. Ketimbang saya dan Deni harus pulang ke Towak, terus kembali lagi ke Bukit Weworowet. Malam itu kami makan malam dengan menu nasi (beras) merah, sate dan soto daging domba, serta ada gorengan pesanan yang dibawa Iwan dan Kota Mbay. Saya dan Deni memang memutuskan untuk tidak lagi menikmati daging domba karena punya alasan sendiri-sendiri haha.



Malam itu, selain menikmati daging domba, kami juga menonton pertunjukan seni oleh murid SD, SMP, dan SMA yang ada di Desa Nggolonio.


Menurut Iwan dan Reni, beberapa malam sebelumnya justru paling ramai wisatawan mancanegara di festival ini. Mereka bahkan memesan begitu banyak sate daging domba! Sampai-sampai para pengelola resto kewalahan. Hehe. Wisatawan itu kebanyakan datang dari Riung. Ya jelas, jalan Trans Flores Mbay - Riung kan mulus begitu, mana jaraknya dekat pula. Rugilah kalau sehabis snorkling di perairan Riung yang mempesona, terus tidak menikmati daging domba.

Yang tertangkap pandangan mata saya malam itu adalah Festival Daging Domba merupakan kegiatan yang sangat positif, karena selain memperkenalkan domba sebagai salah satu kuliner khas dari Kabupaten Nagekeo, kegiatan ini membuka ruang kepada masyarakat untuk memperoleh penghasilan tambahan, juga memberikan hiburan kepada masyarakat Desa Nggolonio dan sekitarnya pada khususnya, dan wisatawan pada umumnya. Kaum muda, khususnya anak sekolah, pun diberi ruang melalui panggung seni. Di sepanjang jalan saya juga melihat begitu banyak sepeda motor diparkir berjejer dan anak-anak muda sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Kata Iwan: sinyal terkuat adalah di kaki Bukit Weworowet sehingga siapapun yang ingin komunikasi digitalnya lancar, harus ke sini. Oh la la.

Sekitar pukul 22.00 Wita kami pun pulang kembali ke Towak dan mengobrol hingga pukul 03.00 Wita.

Ikan Bakar yang Dua Kali Gagal Disuguhkan


Dan ikan bakar itu baru disuguhkan pada waktu makan ketiga. Sebenarnya Reni sudah menyiapkan ikan untuk dibakar sebagai lauk makan malam kami pada Sabtu (malam Minggu). Tetapi karena malam itu kami sudah makan malam dengan menu sate dan soto daging domba di Festival Daging Domba, maka ikan ini kemudian dibakar pagi hari sebagai bekal sarapan. Sayangnya Deni Wolo masih pulas dan tak enak pula jika sarapan sendirian. Pada akhirnya ikan bakar yang dua kali gagal disuguhkan ini, sukses pada suguhan (waktu makan) ketiga yaitu makan siang di Hari Minggu! Amboiiii. Hehe.



Usai makan siang, berisirahat sebentar, saya dan Deni pun pamit pulang kembali ke Kota Ende. Karena, Senin telah menunggu dan kami harus bekerja! Kembali ke Kota Ende, kembali melewati jalur darurat ini:


Saya yakin, kunjungan berikutnya ke Kabupaten Nagekeo, sudah boleh melintasi jembatan yang menghubungkan Kota Mbay dengan Riung. Dan jalur darurat ini pasti sudah ditata sesuai peruntukkan utamanya yaitu sebagai lahan persawahan masyarakat. Semoga.

⇜⇝

Pada akhirnya, sebagai Orang Ende - Orang Flores, saya harus mengakui banyak perkara yang telah terjadi di pulau kami ini. Yang pertama: infrastruktur (sarana dan prasarana transportasi) yang semakin ke sini semakin membaik telah menolong saya dalam bekerja dan traveling keliling Pulau Flores. Ya, pekerjaan saya itu salah satunya ya keliling Pulau Flores. Yang kedua: infrastruktur (sarana dan prasarana transportasi) telah mendukung dan mendongkrak lini pariwisata. Karena, apalah artinya sebuah tempat wisata jika untuk menjangkaunya sulit sekali? Yang ketiga: dengan terdongkraknya lini pariwisata, tentu lini ekonomi rakyat lebih terbantu. Saya pikir, dengan membaca pos ini utuh dari awal sampai akhir, kalian pasti memahaminya.

Sampai jumpa di festival-festival berikutnya!




Cheers.