Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Saturday, November 30, 2019

Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar


Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar. Pada pos Sabtu berjudul Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa saya sudah berjanji untuk menyelesaikan proses membaca buku-buku itu. Belum semuanya tuntas terbaca, pasal pekerjaan bertubi-tubi tidak dapat ditunda, datang lagi satu buku berjudul Filosofi Teras. Demi tekad menuntaskan tiga buku self improvement, para nutrisi otak dan makanan jiwa, saya tidak berani menyobek plastik pelindung Filosofi Teras meskipun hasrat terus meronta. Buka! Ayo, buka! Saya harus patuh pada komitmen sendiri. Alhamdulillah, salah satu buku self improvement itu selesai dibaca, then. Meskipun tulisan tentang Firebender sudah siap dipublis lebih dahulu, saya justru mempublis salah satu buku itu terlebih dahulu. Hari ini.

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Tiga buku self improvement itu berjudul: 

1. Mendaki Tangga Yang Salah.
2. Bicara Itu Ada Seninya.
3. Seni Hidup Minimalis.

Saya memulai dari Seni Hidup Minimalis, tetapi justru menyelesaikan Mendaki Tangga Yang Salah. Seni Hidup Minimalis lantas dipinjam teman. Mendaki Tangga Yang Salah merupakan buku yang membikin saya tidak bisa berhenti sejak halaman pertama. Berbeda dari buku self improvement lainnya, buku ini tidak menggurui secara langsung, tetapi mendidik secara tidak langsung melalui kisah-kisah inspiratif lainnya hingga beragam teori, penelitian dan hasil penelitian tersebut. Bahkan banyak hal-hal konyol pula di dalamnya.

Mendaki Tangga Yang Salah


Sekilas, sampul buku ini mirip dengan Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Mirip, tapi tidak sama. Mendaki Tangga Yang Salah bersampul merah dengan tulisan besar warna hitam dan siluet/gambar tangga sederhana dan tagline(?) Barking Up The Wrong Tree. Correct me if I'm wrong. Atau tulisan di atas judul yang jadi tagline-nya? Oh ya, tulisan lain di atas judul itu adalah Sebagian Besar Hal yang anda Ketahui tentang Kesuksesan Adalah Salah Besar. Tulisan itu seperti bom yang meledak di dalam kepala orang-orang patuh seperti Chatur 'Silencer' Ramalingam (Omi Waidya) ketika tahu bahwa big boss-nya adalah Rancho (Aamir Khan) alias Phunsuk Wangdu. Dalam filem 3 Idiots kita tahu Chatur adalah si cerdas yang mengikuti sistem sekaligus penjilat yang selalu membenci Rancho saat masih kuliah.

Di dalam buku Mendaki Tangga Yang Salah pun kalian akan membaca kata 'penjilat' dalam lingkungan pekerjaan. Kita memang tidak bisa terlepas dari para penjilat, di manapun berada, termasuk di lingkungan pekerjaan. Mereka itu seperti makhluk astral. Tidak terlihat mata tetapi ada.


Well, buku ini ditulis oleh Eric Barker dan diterbitkan oleh P.T. Gramedia Pustama Utama pada tahun 2019. Sebanyak 360 halaman mengajarkan pembacanya tentang banyak hal untuk lebih mengenali diri sendiri. Istilahnya: mau jadi apa kita kelak? Kenali diri sendiri! Dan, ah ya, saya tidak bisa untuk melewatkan yang satu ini: buku Mendaki Tangga Yang Salah diberikan oleh Ibu Rosalin Togo atau lebih dikenal dengan panggilan Mami Ocha yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Kota Surabaya. Terima kasih, Mami ... Pahlawan Intelektual saya! Hehe.

Inspirasi Dalam Balutan Konyol


Eric Barker tidak berusaha menggurui, sudah saya tulis di atas, dia lebih condong pada memberikan contoh perilaku, kesuksesan orang-orang besar dunia, hingga beragam teori, serta penelitian dan hasil penelitian para profesor dan/atau para pakar. Garis besar, benang merah, Mendaki Tangga Yang Salah adalah kenali diri sendiri. Kalau kita tidak sependapat, biarkanlah ketidaksependapatan itu menjadi nilai demokrasi dalam me-review buku. Haha. Apabila manusia mengenali diri sendiri maka dia akan tahu tangga mana yang harus dinaiki. Bukan begitu poinnya? Bayangkan saja jika kita tahu, tidak pandai, atau tidak berbakat membikin sketsa tetapi terus-terusan memaksakan diri hingga akhir hayat. Apa yang kita capai? Nothing.

Sebanyak 6 bab disuguhkan oleh Mendaki Tangga Yang Salah. Setiap bab mempunyai keunikannya masing-masing tentang bagaimana cara orang-orang bisa sukses. Ambil contoh pada bab 1.

Bab 1 Mendaki Tangga Yang Salah memoroskan kalimat judul Jika Ingin Sukses, Haruskah Kita Bermain Aman dan Melakukan Apa Yang Diperintahkan Kepada Kita? Dalam ranah agama, ya harus donk. Hehe. Eric menulis tentang orang-orang tersaring dan orang-orang yang tidak tersaring. Orang-orang tersaring selalu mengikuti sistem, juara kelas atau setidaknya punya nilai akademis di atas rata-rata, dan kemudian masuk pada jaringan birokrasi atau bekerja mengikuti sistem yang ada, mungkin juga menjadi pemimpin. Orang-orang tidak tersaring cenderung eksentrik dan melakukan segalanya sekehendak hati, kadang pula dikenal bodoh, tapi mereka sangat terkenal di dunia ini. Eric Barker mengambil contoh William Churchill yang eksentrik dan selalu beranggapan Hitler sebagai ancaman. Dan paranoid Churchill dan sikapnya yang nyaris menghancurkan karirnya pada awal mula telah 'menyelamatkan' rakyat Inggris.

Kalau boleh saya tulis, pembangkang sangat tidak disukai dalam lingkungan kerja, tapi atasan yang bijak harus mampu merangkul si pembangkang dan memanfaatkan enerji berlimpahnya untuk kemajuan perusahaan. Pembangkang identik dengan orang-orang kreatif yang tidak puas pada sistem dan memandang sistem sebagai borgol kreativitas. Apabila kalian adalah atasan, janganlah mendepak para pembangkang begitu saja. Mungkin saja pembangkang itu berada pada unit yang salah sehingga dia merasa bosan dan terus-terusan membikin Anda emosi jiwa. Hehe.

Churchill memang telah menyelamatkan Inggris dari NAZI, tapi sikap eksentrik dan fanatisme Churchill tidak bisa diaplikasikan pada perkara-perkara lain bukan? Oleh karena itu Eric Barker tidak saja menulis tentang keberhasilan atau sisi positif segala sesuatu tetapi juga sisi negatifnya. Seperti sisi negatifnya manusia dengan gen SCN9A.

Semua orang tentu ingin menjadi seperti Ashlyn Blocker yang tidak pernah merasa nyeri. Ashlyn memiliki gen SCN9A dimana sinyal-sinyal nyeri tidak bisa mencapai otaknya. Super hero! Tentu. Siapa sih yang tidak mau seperti Ashlyn? Dane Inouye menulis bahwa pasien Congenital Insensitivity to Pain with Anhidrosis (CIPA) bisa dianggap Superman karena mereka tidak merasakan nyeri ragawi, tetapi ironisnya, apa yang memberi 'kekuatan super' kepada mereka juga merupakan kryptonite mereka. Pasti kalian bertanya: kok bisa? Ya bisa. Tidak merasakan nyeri dapat menghancurkan karena bayangkan saja kalau tulang kaki atau tulang tangannya patah tanpa dia rasakan dan kerusakan tulang itu kemudian merusak ke jaringan sehat lainnya? 

It's like ... BHOOOMMM!

Ternyata Ashlyn tidak baik-baik saja bukan?

Salah satu orang hebat yang sangat menarik perhatian saya dari Mendaki Tangga Yang Salah adalah tentang pidato Steve Jobs. Inti pidatonya adalah apa yang ingin kita capai dalam hidup ini bisa dilakukan dengan memikirkan kematian. Apakah saat mati nanti kita ingin dikenang sebagai pecundang, pemenang, orang baik, atau tukang fitnah? Kita yang pilih. Apabila menginginkan kematian kita menjadi momen bertemunya banyak manusia hidup yang mengenang kebaikan, jasa, perbuatan kita selama hidup, maka jalanilah hidup yang seperti itu. Seperti yang kita inginkan yaitu dikenang orang (tentang kebaikan) saat kita mati. Saya terbahak-bahak membacanya. Logika yang luar biasa nancap dalam kepala.

Masih banyak hal lainnya yang perlu kalian ketahui dari Mendaki Tangga Yang Salah tetapi tentu saya tidak boleh menulis semuanya di pos ini. Ketahuilah, Churchill, Ashlyn, dan Steve Jobs hanyalah tiga contoh kecil dari contoh lain, kisah inspiratif lain, di dalam buku Mendaki Tangga Yang Salah. Contoh-contoh itu, kisah orang-orang di dalam buku itu, tidak saja mendidik pembacanya tetapi secara tidak langsung sekaligus menghibur. Kapan lagi kita tahu sejarah orang-orang hebat, atau kisah inspiratif orang-orang yang tidak pernah menyerah?

Kalau begitu ... apakah kita harus mendaki tangga yang benar?

Mendaki Tangga Yang Benar


Membaca buku Mendaki Tangga Yang Salah mengarahkan pikiran saya pada mendaki tangga yang benar tetapi tidak selamanya harus selalu tangga yang benar dari awal. Kita bisa berpindah tangga apabila tahu bahwa tangga pertama itu salah. Oleh karena itu sampul buku Mendaki Tangga Yang Salah disertai gambar/siluet dua tangga kayak tangga lapangannya karyawan PLN atau P.T. Telkom. Tangga dua kaki, tangga teleskopik, atau apapun namanya. Kalau bukan tangga yang kanan, berarti tangga yang kiri. Kira-kira seperti itulah yang ingin disampaikan Eric Barker. Jangan terus-terusan memaksakan diri pada sesuatu pekerjaan yang tidak akan membawa kita pada kesuksesan.


Saya mencerna tentang tangga yang benar ini.

Pertama, jangan sampai salah memilih tangga. Tetapi, apabila tangga itu salah, kita masih bisa bermanuver mengganti tangga yang lain. Ini berkaitan dengan bakat dan hasrat. Apakah ada yang mau selamanya berada dalam lingkaran setan yang membosankan? Tentu tidak. Kenali tangga yang sedang kalian, atau saya, naiki saat ini. Kalau tangganya sudah benar, berusahalah semaksimal mungkin mencurahkan segala daya upaya untuk menaiki tangga itu hingga puncak. Mencapai puncak, tidak harus menjadi penjilat, tetapi jadilah yang paling bersinar.

Kedua, kenali diri sendiri untuk mencapai sesuatu. Jangan sampai kita menjadi orang yang tidak mengenali siapa dan apa diri kita sendiri sehingga sulit untuk menentukan arah. Kalau kata Bapa saya, maju satu langkah mundur dua kali. Itu filosofinya sangat dalam. Dan saya sadari, filosofi itu mirip dengan apa yang disampaikan Eric Barker dalam Mendaki Tangga Yang Salah. Hal serupa juga pernah diaktakan oleh Esty Durahsanty dari Konsulat Jenderal AS di Talkshow Pameran Wirausaha Berkelanjutan oleh E.thical yaitu Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali. Orang-orang yang mendengarnya dan menangkapnya secara lurus akan menertawai. Maklumi saja, mereka tidak membiarkan logika bekerja.

Ketiga, bekerja keras itu wajib. Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Bahkan seorang ahli matematika pun bekerja keras sepanjang hidupnya meskipun telah meraih begitu banyak penghargaan dan menghasilkan ahli matematika lainnya. Bekerja keras harus dibarengi dengan optimisme yang kuat. Perpaduan keduanya akan membikin kalian terkejut.

Satu pesan yang juga menarik dari Mendaki Tangga Yang Salah, untuk kita bisa mendaki tangga yang benar adalah tentang kemampuan mengelola. Mengelola sesuatu yang membosankan menjadi permainan yang menyenangkan. Mengelola sesuatu yang kita benci menjadi, tetap, permainan yang menyenangkan. Kita yang pilih, seperti yang dikatakan oleh Steve Jobs bukan? Dengan menjadikan segala sesuatu sebagai permainan yang menyenangkan kita akan membikin target dan berupaya memenuhi target dimaksud. Bukankah permainan adalah tentang target dan pencapaian (kemenangan)? Bukankah permainan dipenuhi tantangan yang membikin kita geregetan kalau tidak bisa melewatinya dengan gemilang? Cobain deh mengubah sesuatu yang menjengkelkan menjadi permainan (otak) yang menyenangkan.

⇜⇝

Alhamdulillah sudah menyelesaikan Mendaki Tangga Yang Salah dan sudah berbagi dengan kalian. Semoga bermanfaat.

Baca Juga: Setelah Upin Ipin Yang Mengedukasi Terbitlah Larva

Saya yakin kita semua ingin mendaki tangga yang benar untuk mencapai tujuan (hidup). Tapi jangan pernah merasa menjadi orang yang kalah ketika kalian (atau saya) sadar bahwa ternyata kita sudah mendaki tangga yang salah. Gantilah segera tangga itu secepatnya setelah tersadar. Karena, bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali? Yang setuju, komen di bawah. Hehe.

#SabtuReview



Cheers.

Friday, November 29, 2019

#PDL Menikmati Instagenic-nya Restoran Pari Koro di Ende


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

Menikmati Instagenic-nya Restoran Pari Koro di Ende. Restoran yang satu ini sudah lama dibuka di Kota Ende, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sudah lama pula saya pergi ke sana untuk menikmati ... I Just forgot what I ate at that time. Kalau tidak salah ayam bakar lalapan atau ayam goreng lalapan. Minumnya jus alpukat. Pos hari ini bermula dari keisengan saya mengecek foto-foto lama, karena memang pengen ngepos sesuai tema di Jum'at ini yaitu #PDL, dan setelah dipikir cukup lama serta mengecek ternyata saya belum pernah menulis tentang Restoran Pari Koro.

Baca Juga: #PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu

But I don't wanna write all the thing about that restaurant. Jadi ini sama sekali bukan review resto. Ini hanya tentang foto-foto yang pernah saya jepret (dan dijepret teman) saat kami ke sana.

Let's go.

Pari Koro paling dikenal dengan kursi unik di bagian depannya, seperti yang kalian lihat pada foto di awal pos, tapi karen kepotong saya pos lagi:


Hyess, kursi itu menjadi semacam ikonnya Pari Koro. Saya bukan satu-satunya pengunjung yang pernah foto di kursi itu hehe.


Jelasnya saya, dan teman-teman memang menikmati instagenic-nya Pari Koro. Mulai dari desain interiornya, penataannya, jenis barang yang dipakai, menu yang ditulis menggunakan papan hitam, hingga ornamen di atas meja.



Ada satu hal menarik dari Restoran Pari Koro yaitu mushola-nya! Ini unik, karena tidak semua tempat makan di Kota Ende menyediakan mushola.


Kenapa ketersediaan mushola ini saya tulis unik? Karena pemilik Restoran Pari Koro beragama Katolik tetapi mereka sangat memahami kebutuhan saudara-saudara mereka yang Muslim dengan menyiapkan mushola. Lagi pula, konsep salah satu ruang di restoran ini adalah sebagai tempat meeting. Setidaknya banyak yang pernah meeting di situ. Pengunjung Muslim tidak perlu mencari masjid atau pulang ke rumah untuk menunaikan shalat kan?

Bagi kalian yang datang ke Ende, jangan lupa untuk mampir ke Restoran Pari Koro yang terletak di Jalan El Tari. Saya pribadi sangat menikmati suasananya, pun makanan dan minumannya.

#PDL



Cheers.

Thursday, November 28, 2019

Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita


Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita. Sebagai manusia, kita seringkali dihinggapi rasa marah akibat kehilangan sesuatu. Sesuatu itu dapat berupa benda mati, dapat pula berupa benda hidup. Kita bisa saja dilanda amarah besar karena kehilangan alat tulis, atau sepotong pizza di kulkas. Kita bisa saja mengamuk karena bunga kesayangan digondol maling berikut wadahnya yang berharga ratusan ribu. Dan, kita juga bisa murka ketika kehilangan seseorang baik itu yang berhubungan darah maupun yang berhubungan emosi. Saya pernah murka pada diri sendiri karena tidak berada di Kota Ende ketika Allah SWT memanggil Bapa pulang ke surga. Saya juga pernah mengamuk pada anak badung yang melewati jalan depan rumah sambil sengaja merepetisi tarikan gas sepeda motor sehingga menimbulkan suara knalpot racing yang memekakkan kuping. Semua murka, amuk, amarah, adalah lumrah sebab kita hanyalah manusia.

Baca Juga: 5 Perkara Yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan

Menulis kata 'manusia' berarti menulis tentang diri saya sendiri, dia, kalian, mereka. Kita. Manusia-manusia penghuni alam raya. Makhluk ciptaanNya yang dilengkapi dengan akal dan perasaan. Bahkan, in case you forget about this, Allah SWT dengan penuh kasih sayang menciptakan manusia dan kita mengenalNya sebagai Maha yang penuh kasih sayang. QS Al Fatihah : 1 berkata "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang". Dan sudah seharusnya manusia saling mengasihi dan menyayangi dalam konteks universal. Dalam konteks privat, mengasihi dan menyayangi, akibat dari anugerah 'perasaan' itu, tercipta ketika ada percikan listrik. Antara seorang lelaki dengan seorang perempuan, tentu saja umumnya begitu. Tapi janganlah menutup mata bahwa konteks privat kasih sayang ini juga terjadi antara lelaki dengan lekaki, antara perempuan dengan perempuan. Gay. Lesbi. Lesbi, bukan let's be. Hehe.

Ketika lelaki dan perempuan, ambilah contoh yang umum, saling mengasihi dan menyayangi, atau saling cinta, ada desakan untuk harus memiliki. Apakah hanya saya saja yang berpikir begini atau kalian juga? Komen di bawah. Harus memiliki ini kemudian menjadi motivasi untuk berusaha melakukan yang terbaik bagi pasangan. Yang terbaik, dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah menjadi diri sendiri. Cara kedua adalah menjadi seperti yang diinginkan oleh pasangan. Tentu kalian sudah bisa menebak cara mana yang paling ampuh dan bertahan selamanya.  

Menjadi diri sendiri untuk membahagiakan pasangan, meskipun terasa sedikit pahit, memang paling mujarab untuk sebuah hubungan. Tidak ada manusia yang ingin terus-terusan bermain opera di hadapan pasangannya. I guess. Seperti para pelakon di panggung, capek itu pasti. Belum lagi dosa. Maka bermain aman melalui kejujuran, menurut saya, mutlak dilakukan. Kejujuran pasangan pada awal suatu hubungan mungkin tidak dilakukan atau dialami oleh semua orang. Bisa jadi kejujuran seorang lelaki akan membikin seorang perempuan syok. Demikian pula sebaliknya. Tapi percayalah, kejujuran pasti selalu bisa diterima karena masih banyak manusia yang sangat menghargai sebuah kejujuran.

Menjadi seperti yang diinginkan oleh pasangan, meskipun manis, bukanlah sesuatu permulaan yang baik. Setidaknya menurut saya begitu. Karena, pasangan tidak akan melihat dan menerima diri kita seutuhnya. Yang dia lihat dan terima adalah sosok imajiner yang ada dalam pikirannya. Mau sampai kapan terus-terusan menjadi sosok imajiner pasangan kita? Oh, no. Membayangkannya saja saya sudah duluan capek, lelah, letih. I can't! Saya tidak bisa menjadi barbie, Elsa dari animasi Frozen, Upik Abu, atau menjadi Lara Croft yang super seksi. Bahkan saya tidak bisa menjadi seperti Mamatua yang begitu dipuja oleh Bapa. Tapi percayalah masih banyak yang melakoninya dengan pasal tidak ingin kehilangan pasangannya.

Kehilangan saja sudah bikin dada kita sesak. Apalagi kehilangan pasangan. Saya mengalaminya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Entah. Pasangan yang betul-betul disebut pasangan. Pasangan yang baru mulai atau hendak menjadi pasangan. Semoga kalian paham maksudnya. Pada suatu titik didih saya sadari bahwa kehilangan pasangan bukanlah perkara terbesar ranah asmara

Melepaskan sesuatu. Berat. Memang! Harus disikapi dengan seni sehingga yang tertinggal kemudian adalah tawa. Menertawai diri sendiri. Tidak menangis? Ah, sebagai manusia menangis merupakan perbuatan paling manusiawi. Tapi menangis tidak boleh menjadi bagian terbesar dari hidup kita. Jadi, kalau ditanya apakah saya menangis ketika kehilangan? Iya, saya menangis. Sejadinya. Sendiri. Kemudian otak saya mulai mencerna tentang kehilangan ini. Saya mengingat ketika bunga berikut wadahnya digondol maling. Murka. Lantas membiarkan. Siapa sangka saya dihadiahi bunga yang baru oleh orang lain? Saya juga ingat ketika uang saya hilang sekian ratus ribu. Mencari ke mana? Susah sekali kalau jatuh perkaranya soal uang yang hilang. Saya membiarkan saja. Siapa sangka rejeki lain datang dengan cara tidak terduga?

Melepaskan sesuatu itu memang berat. Apalagi ... sesuatu yang sudah kita anggap sebagai hak milik ternyata bukan milik kita. Lelaki. Seorang sahabat bercerita tentang lelaki yang pergi. Lelaki yang telah mengucapkan janji-janji manis di awal, berusaha meyakinkan dalam perjalanan hubungan itu, kemudian memutuskan pergi. Lelaki yang sudah si sahabat anggap sebagai hak milik. Namun, ada ketidakberdayaan yang menyebabkan si sahabat tidak mungkin mempertahankan lelaki(nya). Sementara itu, perasaan sudah mulai bermain-main dalam hubungan itu. Berat. Memang. Ketika mendengar cerita itu, otak saya mulai mencerna. Mungkin lelaki tidak mampu menerima kejujuran sahabat saya, meskipun si sahabat mampu menerima kejujuran lelaki(nya). Bagi lelaki, mana ada perempuan seterbuka dan sesantai itu terhadap masa lalu seorang lelaki yang kelam? Makhluk astral! Maka, kemudian sahabat saya ditinggalkan.

Pada sahabat saya mulai menceritakan tentang perbuatan-perbuatan yang menyenangkan: traveling, mengenal masyarakat di daerah lain, menikmati sunset, nongkrong di kafe, atau sekadar membaca buku self improvement. Sahabat saya tertawa saat saya bercerita tentang teman-teman terbaik di kelas yang berakhir menjadi pengabdi negara, dan teman-teman terburuk di kelas yang menjadi pengusaha sukses. Ah, melihatnya tertawa, saya tahu dia masih sedih tapi setidaknya cerita-cerita konyol saya mampu menguranginya walau hanya sedikit.

Saya pernah berada dalam posisi si sahabat. Ditinggalkan. Kehilangan. Menangis sejadinya. Sendiri. Tapi saya bukan tipe manusia yang bergembira dalam larutan kesedihan. Saya ingin menjadi yang berbeda. Mulai dengan mencerna bahwa setiap kehilangan niscaya akan diganti dengan sesuatu yang baru meskipun tidak harus sesuatu yang jauh lebih baik. Bunga dan wadahnya yang digondol maling itu diganti dengan bunga lain meskipun bukan mawar (bunga yang hilang itu adalah mawar). Saya mencerna bahwa desakan untuk memiliki seseorang adalah kesalahan fatal. Oleh karena itu desakan memiliki saya ganti dengan desakan untuk bersama-saja. Dan seseorang yang telah bersama kita, tanpa harus dimiliki itu, kemudian memutuskan pergi, saya harus melepaskan karena itu bukan milik saya. Seseorang itu adalah milik Allah SWT.

Apakah saya coba menulis tentang ikhlas di sini? Ah, tidak. Ikhlas adalah ilmu tertinggi yang belum bisa saya capai. Mencoba-ikhlas, itu dia. Mencoba-ikhlas dan menjalani kehidupan saya seperti semual jadi. Menikmati keajaiban demi keajaiban yang dicurahkan Allah SWT untuk saya. Menderita maag tapi masih bisa menegak kopi itu adalah keajaiban. Kadar gula dalam darah sangat tinggi tapi masih bisa menikmati cake manis tanpa keluhan adalah keajaiban. Neuropati tapi masih mampu naik-turun tangga tiga lantai adalah keajaiban. Setiap hari mendengar celoteh riang Mamatua bersama Mamasia adalah keajaiban. Pun diberi kesempatan merawat dua keponakan adalah keajaiban. Saya membuka pintu pandangan yang lain ketika pintu asmara saya rusak.
Terakhir, seni untuk melepaskan sesuatu atau seseorang yang bukan milik kita adalah dengan menyadari bahwa itu milik Allah SWT. Itu milik Tuhan. Dan urusan sama Allah SWT itu tidak boleh ada protes. Semakin memprotes, semakin berat yang akan kita pikul. Seni untuk melepaskan sesuatu atau seseorang yang bukan milik kita adalah dengan membiarkan atau mencoba-ikhlas. Seni untuk melepaskan sesuatu atau seseorang yang bukan milik kita adalah dengan membuka pintu pandangan yang lain ketika pintu asmara rusak. Bahwa apa yang dialami bukanlah end of the world. Jangan memikul apa yang tidak perlu dipikul. Biarkanlah.

Kita hanyalah manusia yang diciptakan Allah SWT bukan untuk memikul segalanya dalam hidup.[]



Cheers.

Wednesday, November 27, 2019

Taman DIY di SMPSK Kota Goa di Kecamatan Boawae


Taman DIY di SMPSK Kota Goa di Kecamatan Boawae. Seperti yang sudah saya ceritakan pada pos Senin kemarin di #CeritaTuteh dan #SeninCerita, saya dikejutkan oleh banyak hal dari sebuah kecamatan di Kabupaten Nagekeo, yaitu Kecamatan Boawae. Mulai dari talenta di bidang tarik suara dan bidang seni lainnya oleh para murid SMP dan SMA, kafe ketje bernama R-Musth yang wajib kalian cobain menu-menunya, sampai sebuah Sekolah Menengah Pertama Swasta Katolik bernama Kota Goa. Ya, di SMPSK Kota Goa tempat kegiatan seminar dan workshop (knowledge service) dilaksanakan oleh Prodi Sastra Inggris pada Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Flores (Uniflor) dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat bertajuk English Week, kemudian saya menemukan kejutan lain yaitu taman dengan barang-barang Do It Yourself (DIY).

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

SMPSK Kota Goa terletak di Kilometer 1 Jalan Raya Boawae - Soa (baca: So'a). Bangunan sekolahnya memang sama dengan bangunan sekolah pada umumnya. Ada gedung-gedung, ruang perpustakaan, kamar mandi yang bersih, kantin, semacam pondok bersantai, hingga taman. Sekolah ini nyeni banget, menurut saya pribadi, karena hampir setiap dinding diberi mural dan/atau tulisan penyemangat, motivasi, dan inspirasi kepada para murid, dengan warna-warna ceria. Meskipun tidak bertanya langsung, tapi saya secara pribadi menganalisa bahwa sekolah ini adalah sekolah unggulan. Lihat saja, 7 November 2019 kemarin, mereka baru saja melaksanakan kegiatan Kota Goa Expo 2019 dengan mata acara pagelaran seni, pameran, dan bazaar.


Tjakep kan?

Analisa saya itu tidak saja karena melihat bangunan sekolah yang nyeni dan warna-warni saja, atau karena sekolah ini menerapkan full-day, tetapi perilaku murid-muridnya yang sangat santun terhadap tamu dan/atau orang yang lebih tua. Melihat saya mondar-mandir, terus ke kamar mandi, mereka menegur dengan sopan santun kelas tinggi, bahkan ada yang mencium tangan. Saya jadi ingat SMPK Frateran Ndao di Ende. Saya pernah menulis tentang sekolah itu dengan judul pos The Power of Cium Tangan. Silahkan dibaca juga. Perilaku murid yang baik, sopan santun, tidak terlepas dari sistem pendidikan yang diterapkan baik akademik maupun non-akademik yang termasuk di dalamnya tentang pendidikan karakter.

Yang menarik dari SMPSK Kota Goa, sesuai dengan tema pos hari ini, adalah konsep tamannya. Taman berada di area bangian tengah dikelilingi oleh gedung-gedung (termasuk kantin dan pondon santai atau serbaguna). Di tepi-tepi taman tumbuh pohon yang entah apa namanya, menaungi bangku-bangku taman di bawahnya. Di sekolah ini, taman dimanfaatkan pula oleh para guru untuk kegiatan belajar-mengajar outdoor alias di luar ruangan. Meskipun judulnya outdoor, tapi keseriusan murid menerima transferan ilmu pengetahuan dari guru hukumnya fardhu'ain!

Kembali ke taman. 

Saya tidak menulis panjang lebar pos hari ini. Cukuplah kalian melihat foto-foto berikut ini:



Taman ini digunakan untuk belajar outdoor juga oleh penghuni sekolah:


Andaikan bisa, saya mau lah kembali ke masa SMP dan bersekolah di sini. Hahaha. Eh tapi SMP saya dulu di SMP Negeri 2 Ende termasuk sekolah unggul loh.

Baiklah, demikian pos hari ini, semoga bermanfaat. Siapa tahu kalian juga pengen bikin taman dengan bangku serta angsa-angsa putih bermaterial ban bekas? Siapa tahu kan?

#RabuDIY



Cheers.

Tuesday, November 26, 2019

Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog


Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog. Bulan lalu saya bertemu dengan Pak Stephen, dosen Prodi Pendidikan Ekonomi (PDU) pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Flores (Uniflor). Pak Stephen bertanya apakah saya bisa memberikan pelatihan blog kepada mahasiswa/i PDU. Tentu! Kenapa tidak? Terakhir saya mengajarkan tentang blog pada mahasiswa/i Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pada pertemuan berikutnya, Pak Stephen menjelaskan bahwa mahasiswa/i PDU rata-rata sudah mempunyai blog tetapi belum pada tahap mengelola dengan baik. Selain itu, Pak Stephen juga meminta agar mereka bisa diajarkan membikin vlog. Setidaknya dasar-dasarnya. Saya menyetujuinya.

Baca Juga: Ini Cara Keren Saya Merayakan Hari Blogger Nasional

Maka kemudian saya membikin materi baru berjudul How to Manage Blog and Make Vlog. Masih mengambil beberapa poin dari materi lama berjudul Blogging is Fun and Easy. Materi baru tersebut memang cukup panjang karena memuat dua hal yaitu blog dan vlog, tetapi alhamdulillah tepat waktu sebelum hari H. Pada Pak Stephen juga saya meminta agar semua peserta sudah memasang aplikasi Filmorago di smartphone masing-masing. Oh ya, untuk keperluan kegiatan ini, PDU sendiri mempunyai jaringan wifi yang bisa diakses oleh para peserta baik menggunakan laptop maupun smartphone.

Peserta Yang Antusias


Mahasiswa/i PDU sejumlah tujuh puluhan dan dibagi dalam dua kelas. Kelas pertama mengikuti kegiatan pada Senin 18 November 2019 sedangkan kelas kedua pada Selasa 19 November 2019. Kelas pertama tentu harus mengikuti seremoni pembukaan terlebih dahulu dihadiri pula oleh Kaprodi PDU yaitu Pak Saiful, selain Pak Stephen. Usai seremoni pembukaan, kegiatan langsung dimulai dengan: bagaimana mengelola blog atau how to manage blog.


Seperti yang sudah saya tulis di atas bahwa rata-rata peserta sudah mempunyai blog dan blog tersebut didaftarkan pada platform Blogger dengan keluaran induk-semang Blogspot. Jadi, saya langsung pada flashback singkat tentang apa itu blog, kenapa orang nge-blog, apa keuntungan nge-blog, kenapa pakai Blogger alih-alih Wordpress, dan contoh blogger seperti Raditya Dika yang kini lebih dikenal sebagai sekorang Komika. Sayangnya saya lupa mencontohkan Mark Manson, seorang blogger yang menulis buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Setelah itu barulah dimulai dengan cara mengelola blog: mengenal panel-panel pada dashboard sebagai inti blog. Panel-panel itu antara lain postingan, statistik, tema, halaman, hingga pengaturan.


Dan mereka sangat antusias untuk tahu lebih detail, tahu lebih banyak, tentang dashboard. Sesuatu di balik tampilan blog yang ciamik. Meskipun yang membawa laptop hanya segelintir peserta, tetapi yang menggunakan smartphone ini juga super antusias! Kalian, para blogger, tentu tahu bahwa nge-blog menggunakan laptop itu memang jauh lebih mudah dari menggunakan smartphone, setidaknya saya mengalami itu. Tetapi, pada kesempatan itu saya melihat peserta yang menggunakan smartphone ini matanya berbinar-binar, jemari lincah di atas layar smartphone, bahkan bertanya apabila ada yang tidak mereka pahami.

Sebagai pemateri, ada perasaan bangga melihatnya. Puas juga. Untuk dua kelas pada dua hari yang berbeda itu.

Melihat betapa antusiasnya peserta, saya menyarankan pada mereka, apabila ada pertanyaan yang ingin ditanyakan di luar waktu kegiatan, silahkan mengirimkan pesan WA. Karena Insha Allah saya selalu online dan pasti dibalas. Saya juga katakan pada mereka bahwa pernah membuka kelas-kelas blogging melalui WAG, serta mengajarkan blog secara personal pada beberapa orang melalui WA. Dan, apabila mereka kesulitan akses internet, mereka boleh datang ke rumah saya untuk menggunakan wifi gratis. Mereka tertawa, saya juga tertawa. Tapi itu serius. Seserius kami kemudian membikin grup/WAG bernama Kelas Blogging PDU.

Usai memperkenalkan cara mengelola blog melalui panel-panel yang ada di dashboard, saya melanjutkan materi selanjutnya yaitu membikin vlog. Di sinilah saya melihat antusiasme yang lebih lagi dan lagi dan lagi dari para peserta. Sebelumnya, semua smartphone peserta sudah saya minta untuk dipasangkan aplikasi Filmorago. Ini bukannya tanpa alasan. Saya jelaskan pada mereka, bahwa dari semua aplikasi sunting video di smartphone yang sudah pernah saya coba, Filmorago lebih friendly baik interface-nya maupun penggunaannya. Sore itu peserta langsung praktek menyiapkan vlog mentah. Ramailah ruang kelas itu! Haha. Masing-masing bergaya a la vlogger.


Video mentah itu kemudian disunting menggunakan Filmorago. Satu per satu langkah menggunakan Filmorago tampil di layar, mereka memerhatikan layar, lantas memerhatikan dan mengutak-atik smartphone. Kenalanlah mereka dengan Filmorago dan fitur-fiturnya seperti fitur tema, transisi, musik, audio tambahan, memotong durasi, memotong gambar, mengisi judul, dan lain sebagainya. Kemudian, tentu keluaran Filmorago seperti langsung mempublis di berbagai media sosial dan aplikasi mengobrol, hingga menyimpannya saja dulu di smartphone. Dan ketika selesai, tidak mereka sangka bahwa membikin vlog semudah itu! Hehe.

Content is King


Content is King, Konten Adalah Raja. Itu yang saya jelaskan pada mereka. Blog dan vlog sama-sama membutuhkan konten (raja). Hal ini yang harus mereka pahami. Sehingga dalam kegiatan itu saya menampilkan slide dengan tiga hal utama: Konten, Konsistensi, dan Promosi.


Apa yang diinginkan netizen ketika berkunjung ke blog atau melihat video kita di Youtube, misalnya? Tentu kontennya. Konten yang terus diperbarui akan menarik rasa penasaran mereka, apa yang ditampilkan kali ini? Konten yang terus diperbarui akan memuaskan rasa ingintahu mereka dan membuktikan bahwa kegiatan mereka mengunjungi blog dan vlog di channel Youtube kita tidak sia-sia. Mereka memperoleh informasi baru, hal baru, cerita baru. Konten ini berkaitan dengan konsistensi serta trafik pengunjung.

Mengapa konsistensi menampilkan konten dan trafik itu penting?

Iseng saya bilang pada mereka: kalau kalian ingin memperoleh uang dari blog dan vlog, perkuat kontennya dan tingkatkan trafiknya. Pengunjung akan berhenti mengunjungi blog dan channel vlog di Youtube apabila setiap kali berkunjung mereka hanya bertemu konten lama, konten yang itu-itu saja.

Para peserta mengangguk paham. Setidaknya mereka tahu bahwa untuk memperoleh penghasilan dari internet, melalui blog dan vlog, tidak dilakukan dengan sekejap atau sekedip mata. Ada perjuangan yang juga cukup berat yang harus dilakukan oleh mereka. Bukannya sombong, saya mencontohkan diri sendiri yang nge-blog sejak tahun 2002, mengalami begitu banyak perubahan dalam hal menulis atau konten blog. Dari yang alay bikin malu diri sendiri sampai yang menurut saya cukup baik dan mudah dipahami oleh banyak orang. Jadi jelas, waktu dan latihan merupakan proses yang tidak dapat diabaikan untuk blog, demikian pula vlog.


Tidak ada yang instan di dunia ini. Bahkan untuk membikin mi instan saja kita membutuhkan proses seduhan pada air panas.

⇜⇝

Apresiasi tertinggi setiap kali saya menyampaikan materi blog atau mengajar blog adalah bagaimana tanggapan mereka terhadap proses belajar itu sendiri.

Baca Juga: Blog It! Pilihan Nge-blog Pakai Smartphone

Ketika mereka bertanya tentang proses kegiatan itu pada peserta, mereka menjawab: sangat menyenangkan dan mereka paham. Itu apresiasi tertinggi. Menurut saya pribadi. Karena, apalah artinya bicara berjam-jam di depan peserta, mulut berbusa, kadang muncrat, tapi peserta sendiri tidak paham dengan apa yang saya sampaikan?

Pada kegiatan bersama PDU ini saya juga katakan bahwa dalam rangka Panca Windu Uniflor nanti di tahun 2020 bakal ada Lomba Blog, Lomba Vlog, dan Lomba Foto. Saya berharap para peserta mampu mengelola blog mereka, setidaknya, dan mengikuti lomba dimaksud. Mereka mengangguk (setuju kan hahaha) dan saya melihat wajah-wajah penuh harapan di sana. Tidak perlu memusingkan menang atau kalah, yang penting adalah partisipasi dan pengalaman yang diperoleh. Itu jauh lebih berharga!


Dari kegiatan bersama PDU itu pula, insha Allah akan ada kegiatan-kegiatan serupa lainnya, karena lomba-lomba dalam rangka Panca Windu Uniflor itu pesertanya adalah mahasiswa/i Uniflor. Mantap jaya. Hehe.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Monday, November 25, 2019

Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae


Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae. Kamis, 21 November 2019, saya bertemu Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Flores (Uniflor) yaitu Pak Roni di depan pintu ruang kerja Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif). Baru saya tahu kalau Prodi Sastra Inggris pada fakultas yang beliau pimpin hendak melakukan kegiatan English Week di Kelurahan Natanage, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Pak Roni bertanya apakah permintaan meliput harus mengirimkan surat kepada UPT Publikasi dan Humas? Untuk situasi yang mendesak, karena rombongan akan berangkat dua jam lagi, saya bilang surat boleh menyusul dan saya akan berangkat ke sana namun beda waktu alias menyusul.

Baca Juga: Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik?

Hari itu saya masih harus menyelesaikan dua berita untuk dipublis, menyelesaikan satu dua pragraf proposal yang hendak diambil, serta menyimpan beberapa foto. Tapi sebelumnya, saya sudah selesaikan packing pakaian dan keperluan lainnya, dan Thika Pharmantara sudah membantu saya mengganti oli serta mengisi bensin Onif Harem. Pukul 14.35 barulah saya berangkat ke arah Barat Pulau Flores. 

English Week


English Week merupakan kegiatan rutin Prodi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Sastra, Uniflor. Ini merupakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pada fakultas lain, kegiatan PKM rutin ini punya nama berbeda, misalnya Fakultas Hukum menamai kegiatan PKM dengan Study Tour. Meskipun judulnya week (minggu atau seminggu) tapi kegiatannya tidak penuh seminggu alias tujuh hari. English Week dimulai Kamis dan berakhir Minggu. Dan baru kali ini saya meliput langsung kegiatan English Week. Alasan paling utama adalah kegiatan ini ditetapkan sebagai bagaian dari kegiatan menyongsong Panca Windu Uniflor di tahun 2020 nanti.


Setelah perjalanan yang mulus, karena sebagaian besar ruas jalan yang kemarin-kemarin diperbaiki sudah selesai, saya tiba di Kantor Kelurahan Natanage pukul 16.30 Wita. Iya, perjalanan saya tempuh sekitar dua jam. Penyambutan dan pembagian tempat tinggal peserta English Week dilakukan di Aula Lantai II Kantor Kelurahan Natanage. Setiap mahasiswa dibagi per Rukun Tetangga (RT) beserta dosen dan karyawan. Setiap RT menampung enam hingga sembilan peserta. Sedangkan saya memilih untuk menginap di Wisma Nusa Bunga yang letaknya sangat dekat dengan Kantor Kelurahan Natanage, tepat di depan Kantor BRI.


Kegiatan-kegiatan English Week antara lain: diskusi, kerja bakti, knowledge service, pentas seni, dan berbagai lomba lainnya. Saya sangat menyukai kegiatan-kegiatan English Week tersebut. Inilah yang dinamakan bekerja dan bersenang-senang sekaligus. Haha. Terutama pada kegiatan knowledge service itu, selingan antara satu materi dengan materi lainnya diisi dengan nyanyian oleh murid-murid SMPSK Kota Goa. Dan mereka sungguh mengejutkan saya!

Kejutan #1: Sistem Belajar Outdoor


Jum'at, 22 November 2019, saya meliput kegiatan seminar dan workshop atau disebut knowledge service yang diselenggarakan di SMP Swasta Katolik (SMPSK) Kota Goa, tepatnya di ruang perpustakaan. Letak sekolah ini sekitar dua kilometer dari Kantor Kelurahan Natanage. Oh ya, peserta kegiatan knowledge service adalah perwakilan guru SMP dan SMA yang ada di Kecamatan Boawae dengan pemateri salah satunya Rektor Uniflor Bapak Dr. Simon Sira Padji, M.A. Yang mengejutkan saya saat berjalan dari parkiran menuju perpustakaan adalah sekelompok murid dan guru yang sedang melakukan kegiatan belajar-mengajar di bawah pohon rindang yang dilengkapi dengan bangku-bangku taman. Ausam!


Ini mengejutkan saya, pribadi. Sungguh. Murid-murid, meskipun belajar di luar ruangan, terlihat tetap serius mendengarkan informasi yang disampaikan oleh guru mereka. Tertib! Saya memang belum menggali lebih dalam informasi tentang SMPSK Kota Goa. Tetapi kalau boleh saya simpulkan, sekolah ini semacam sekolah favorit, sekolah contoh, dengan sistem pembelajaran yang luar biasa, serta didikan kedisiplinan yang sangat tinggi terhadap peserta didik.

Kejutan #2: Penyanyi Bersuara Berlian


Mana pernah saya sangka bahwa di daerah seperti Kecamatan Boawae tersimpan talenta dalam dunia tarik suara. Usai materi dari Rektor Uniflor, dua murid perempuan tampil di hadapan peserta knowledge transfer membawakan dua lagu keren. Saya sangat terkejut karena lagu yang dinyanyikan itu bukan lagu-lagu yang sering dipilih oleh murid SMP dan SMA yang umumnya lagu-lagu Indonesia yang rata-rata mudah dinyanyikan a la akustik. Banyangkan saja betapa senangnya saya ketika mereka dengan sempurna menyanyikan Something Just Like This dari The Chainsmokers! Disusul Mahadewi dari Padi.


Suara mereka, kata saya, kalau saya juri The Voice, langsung pencet tombol biar kursinya langsung berputar! Hehe. Sayangnya saya tidak sempat memotret waktu mereka bernyanyi, adanya cuma video, hehehe.

Lagu berikutnya, setelah materi tentang Edmodo yang disampaikan oleh Pak Roni, adalah ... 2002 dari Anne Marie, Brave-nya Sara Bareilles, dan satu lagu lama milik Obbie Mesakh berjudul Kisah Kasih di Sekolah. Saya, sekali lagi, terkejut pada pilihan lagu mereka yang tidak biasa. Mereka tidak memilih lagu-lagu yang sendang hits saat ini dan menampilkannya dengan sempurna. Siang itu saya bersyukur karena telah melakukan pilihan tepat: meliput kegiatan English Week! Meskipun jauh dari Kota Ende, tapi sepadan dengan apa yang saya alami.


Boleh saya simpulkan, selain sistem pembelajaran yang luar biasa bagus, murid-murid juga digembleng melalui ekstrakurikuler, tentu sesuai minat dan bakat, dengan super serius sehingga menghasilkan penampilan yang supa amazing

Kejutan #3: R-Musth


Kejutan yang satu ini memang tidak berasal dari kegiatan English Week melainkan kegiatan pribadi saya hahaha. Di Kecamatan Boawae, di depan Kantor Kelurahan Natanage, saya bertemu Raiz Muhammad yang aslinya berdomisili di Kota Mbay. Heran juga, kenapa Raiz berada di Boawae? Ternyata Raiz sedang membantu kakaknya mengelola usaha si kakak, karena si kakak sedang ke luar kota. Sedangkan usaha Raiz yang berada di Kota Mbay dijagain oleh adiknya. Wah, keluarga mereka sungguh menerapkan sistem tolong-menolong. Hahaha. Dari situ kami janjian untuk nongkrong di sebuah kafe, rekomendasinya Raiz. Nongkrongnya malam hari donk, setelah kegiatan liputan selesai dilakukan. 


Kamis malam, iya malam Jum'at, saya dibonceng Viktor mengekori Raiz menuju kafe bernama R-Musth. R-Musth terletak di pinggir jalan utama, Trans-Flores, dengan papan nama yang memudahkan kalian jika ingin pergi ke sana juga, serta berkonsep setengah dinding. Karena berkonsep setengah dinding, tidak dibutuhkan jendela apapun. Hehe. Pemilik R-Musth bernama Mustofa/Mustafa, lelaki berwajah Jawa dengan ciri khas topi fedora atau bowler begitu. Orangnya ramah pun. Kata Raiz, meskipun berdarah Jawa tapi Mustafa dan keluarganya sudah dianggap sebagai Orang Boawae. Mustafa sendiri lahir dan besar di situ.


R-Musth menawarkan aneka kopi, khas kafe a la anak muda, tetapi tidak lupa makanannya juga. Salah satu makanannya adalah nasi goreng. Favoritnya Raiz nih! Hehe. Saya dan Raiz memesan cappucino (espresso dengan susu dan busa susu yang tebal), sedangkan Viktor memesan susu panas. Penambal perut, kami memesan nasi goreng. Yuuuuhhhh nasi gorengnya enak sekali sampai saya bilang: kalau si Thika Pharmantara menetap di Boawae, setiap malam dia pasti makan di R-Musth! Haha. 



Kejutan ke-tiga ini masih berlanjut ketika setelah Raiz pamit pergi membeli rokok dan kembali bersama seorang lelaki bernama Sam (Sampeth). Ndilalah, Sam adalah adik kandungnya Ruztam, sahabat karib saya sejak zaman SMA, si pemilik Nirvana Bungalow di Riung! Sepertinya dunia memang sangat sempit. Dan malam itu kami mengobrol dan mendiskusikan banyak hal. Saya selalu suka berdiskusi, dengan siapapun, terutama dengan anak muda yang 'bergerak' demi kemajuan, baik kemajuan diri sendiri maupun kemajuan lingkungannya. Dan saya sangat bersyukur malam itu bisa melakukannya bersama Raiz, Viktor, dan Sam. Anyhoo, terima kasih Raiz atas traktirannya!

⇜⇝

Kegiatan English Week masih berlanjut hingga Sabtu, 23 November 2019. Hari Minggu, 24 November 2019, peserta berwisata ke Ae Sale Mengeruda atau dikenal dengan nama Air Panas Soa (baca: So'a). Sedangkan saya sendiri pada Jum'at sore sudah ngegas ke Kota Mbay untuk suatu urusan dan kembali ke Kota Ende pada Sabtu pagi. Tentu, di Kota Mbay saya bertemu Bruno Rae, sahabat karib masa SMA (sama kayak Ruztam) dan ditraktir di El Cafe.

Well, ini perjalanan pekerjaan yang menyenangkan bukan? Termasuk yang penuh kejutan.

Mau lagi?

Mau donk ... akhir November! Haha.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Thursday, November 14, 2019

5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik


5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik. Sampah lagi, sampah lagi. Plastik lagi, plastik lagi. Sampah plastik lagi, sampah plastik lagi. Memang sudah sering saya menulis tentang sampah terutama sampah plastik. Tapi rasa-rasanya hampir setiap hari muncul ide baru, atau temuan baru di kepala saya, untuk menulisnya kembali dalam sudut pandang berbeda. Seperti hari ini, saya kembali harus menulis tentang mengurangi sampah plastik. Tidak saja bersumber dari rasa gemas melihat sampah plastik berserakan di Kota Ende selepas hujan, melainkan sampah plastik sebenarnya bisa dikurangi dengan perilaku sederhana. 

Baca Juga: 5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa

Perilaku sederhana berarti untuk turut mengurangi sampah plastik di semesta ini kita tidak perlu mengawalinya dengan konser Lady Antebellum. Tidak perlu harus melakukan ritual seperti bertapa tujuh hari tujuh malam di goa tujuh penjuru mata angin. Tidak juga harus duduk di DPR RI terus diserang kantuk. Hehe. 

Marilah kita cek lima perilaku sederhana untuk mengurangi sampah plasti a la saya.

1. Membawa Botol Air Minum


Lagi. Kampanye membawa sendiri tumbler atau botol air minum ke manapun pergi. Apabila semua orang melakukan hal ini, tidak saja niscaya mampu mengurangi sampah plastik tetapi juga mampu menempatkan diri untuk hidup hemat. Hidup hemat? Ya donk!

Kalian bisa membayangkan apabila dalam sehari membeli maksimal dua botol air mineral ukuran sedang sejumlah Rp 10K maka dalam sebulan dana yang digelontorkan untuk urusan dahaga ini sebesar Rp 300K. Coba dipikir, Rp 300K itu bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain dan/atau ditabung. Saya selalu membawa botol air minum maksimal dua botol per hari karena urusan dahaga saya melebihi orang lain. Hehe. Satu botol air minum masuk tas, satu lagi masuk jok motor. Apabila keduanya habis, saya akan mengisi botol air minum itu dari dispenser yang ada di ruangan-ruangan di Universitas Flores (Uniflor) atau di Kantin dan Warung Damai. 

Membawa sendiri botol air minum sudah menjadi gaya hidup dan kebanggaan saya pribadi. Bagaimana dengan kalian?

2. Menolak Tas Kresek


Menolak tas kresek baru saya lakoni setahun terakhir. Apabila barang belanjaan itu termasuk belanjaan kering yang bisa masuk ke dalam backpack atau jok motor, maka saya menolak tas kresek. Untuk dua botol teh kotak, sebungkus roti iris, atau sekotak rokok, yang rata-rata dibeli di supermarket, ya masuk backpack saja lah. Saya belum sampai pada tahap memanfaatkan rembi. Memang ada sorot mata aneh dari kasir dan atau pedagang/penjual, tapi mereka harus tahu bahwa dengan demikian saya sudah mengurangi sampah plastik di semesta raya.

Bagaimana bila belanja ke pasar tradisional yang otomatis ada daging, ikan, sayuran dan bahkan bumbu dapur? Mudah! Thika Pharmantara selalu membawa tas kresek sendiri dari rumah. Seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwa belum sampailah pada tahap memanfaatkan rembi. Lagi pula pola belanja kami ke pasar tradisional adalah seminggu sekali (iya, belanja untuk kebutuhan makan seminggu). Mungkin suatu saat saya dan Thika bakal ke pasar membawa keranjang serta aneka kotak untuk mengisi ikan dan ayam yang biasanya dikasih wadah tas kresek.

3. Menggunakan Rembi


Ini yang sudah saya ulas pada pos Senin berjudul Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik? dan ada kaitanny sama poin nomor dua di atas. Saya pikir, pasti mampu! Karena, sebenarnya para mama sudah menggunakan keranjang berbahan plastik yang bisa dipakai berkali-kali, berbulan-bulan, bertahun-tahun, turun-temurun! Bagi yang belum menggunakan keranjang untuk berbelanja, khusus masyarakat Kabupaten Ende, tentu bisa menggunakan rembi. Optimis! Karena dengan berpikir dan bersikap optimis niscaya akan terwujud cita-cita bersama menggantikan tas belanjaan plastik/tas kresek dengan rembi.

4. Membawa Kotak Makan


Hampir sama dengan poin nomor satu di atas, membawa botol air minum sendiri, membawa kotak makan juga bisa dilakukan untuk mengurangi sampah plastik. Apakah saya sudah melakukannya? Sudah donk. Biasanya di dalam jok motor selalu tersedia satu kotak mungil tempat mengisi bekal/jajan dari rumah. Kotak itu juga bakal saya isi dengan makanan apabila ada makanan dari kantor/kampus yang perlu dibawa pulang ke rumah. Memang kita belum sepenuhnya melakukan ini, yaitu membawa kotak makan apabila hendak berbelanja ke warung, tetapi suatu saat pasti bisa terwujud. Mulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

5. Mendaur Ulang Sampah Plastik


Ini sudah pasti dan rasanya tidak perlu penjelasan lebih lengkap. Karena, dengan mendaur ulang sampah plastik otomatis akan mengurangi sampah plastik. Manapula sampah plastik yang didaur ulang itu alias barang hasil daur ulang sampah plastik itu bernilai ekonomis cukup tinggi apabila hendak dijual lagi. Ya, saya sudah melakukannya. Ya, saya sudah membuktikannya.

⇝⇜

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Sampah, terutama sampah plastik sudah semakin memberatkan bumi kita. Perilaku kita sendiri yang menentukannya: apakah bakal semakin berat ataukah sedikit lebih ringan? Tidak perlu berpikir terlalu tinggi untuk mengurangi sampah plastik di semesta raya, cukup dengan perilaku sederhana seperti lima poin di atas, saya pikir sudah sangat mampu.

Bagaimana menurut kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komen!

#KamisLima



Cheers.

Wednesday, November 13, 2019

Upin Ipin Adalah Serial Kartun Dengan Produk DIY Terbanyak


Upin Ipin Adalah Serial Kartun Dengan Produk DIY Terbanyak. Kalian pasti sering menonton Upin Ipin. Serial yang diproduksi oleh Les' Copaque di Malaysia. Upin Ipin adalah filem kartun yang dibikin oleh Mohd. Nizam Abdul Razak, Mohd Safwan Abdul Karim, dan Usamah Zaid. Mereka bertiga adalah pemilik rumah produksi Les' Copaque *tunjuk atas* setelah bertemu dengan mantan pedagang minyak dan gas yaitu H. Burhanuddin Radzi dan isterinya yang bernama Hj. Ainon Ariff. Serial ini dirilis pada 14 September 2007 di Malaysia dan disiarkan di TV9. Upin Ipin sudah ditayangkan di tiga negara yaitu Malaysia, Indonesia, dan Turki. Mungkin negara lainnya juga? Kasih tahu di komen kalau ada informasi baru.

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

Apabila kalian sering menonton Upin Ipin, jeli, dan punya hasrat di dunia DIY, tentu akan sangat mudah menemukan produk-produk DIY dalam serial tersebut.

Apa?

Jadi hari ini tidak ada tutorial atau apa pun itu?

Ya, hari ini marilah kita tengok produk DIY yang saya maksudkan.

1. Pot Kaktus Untuk Mei Mei


Pada episode berjudul Untuk Prestasi merupakan episode ngiklan tentang produk susu SGM. Episode ini dibagi menjadi tiga bahagian. Pada bahagian dua kalian akan melihat adegan dimana Upin dan Ipin bertemu Mei Mei yang begitu ceria membawa pot berisi kaktus cantik. Kemudian muncul si Mail yang sedang bersepeda dengan kecepatan super tinggi. Ternyata Mail lagi balapan sama Ehsan (yang membonceng Fizi). Melihat itu Upin, Ipin, dan Mei Mei kocar-kacir menyelamatkan diri. Mereka memang tidak tertabrak sepeda Mail tapi Mei Mei tersandung batu, terjatuh, pot kaktus melayang ke udara, dan pecah.

Ngambek? Jelas! Nangis lah si Mei Mei. Tapi Upin Ipin yang saat itu sedang menyedot susu SGM kotak pun punya ide. Mereka beramai-ramai balik ke rumah. Saat itulah saya tersenyum senang. Upin Ipin kemudian membikin pot untuk kaktus milik Mei Mei dari kotak kemasan susu kotak tersebut. Betapa senangnya Mei Mei. Selain itu mereka juga membikin tempat alat tulis dan lain sebagainya. Tentu korban utama adalah cat minyak milik Kak Ross. Hehe.

2. Sepeda Gandeng


Kasihan juga menonton Upin Ipin karena mereka seringnya tidak bisa seperi teman-temannya. Seperti episode Basikal Baru. Mereka hanya bisa lari-larian menemani teman-teman yang mengayuh sepeda. Sampai kemudian Tuk Dalang ber-DIY-ria dengan menggabungkan dua sepeda bekas miliknya yang sudah super puruk menjadi sepeda gandeng. TDR 3000. Tuk Dalang Ranggi 3000. Haha, jadi ingat sapu terbangnya Harry Potter.

3. Roda Roda


Di Kabupaten Ende, anak-anak dulu sering banget main ban bekas yang dilajukan menggunakan sepotong kayu. Selain itu juga ada tutupan ember plastik yang dikasih kayu sebagai kemudinya. Apa nama mainan ini? Roda-roda? Atau dorong roda? Ah, entahlah. Yang jelas pada beberapa episode nampak Upin Ipin memainkan roda-roda ini, yang terbuat dari tutupan ember plastik ukuran sedang dipasangi kayu. Roda-roda ini pernah dipinjam Jarjit, tapi karena anak itu memang begitu itu, dia kesandung batu sehingga mainan itu pun rusak. Roda-roda ini jelas tidak dibeli di toko melainkan dibikin sendiri alias hasil DIY.

4. Layang-Layang


Ah suka sekali saya menonon episode ini. Seperti sedang mengalami sendiri. Siapa sih yang tidak tahu layang-layang? Bahkan urusan percintaan pun sering pakai istilah layang-layang. Jangan jadikan adinda layangan duhai kakanda, tarik ulur tanpa memikirkan perasaan adinda. Haha. Lagi-lagi TDR 3000 eh, lagi-lagi Tuk Dalang menjadi si pembikin layang-layang. Banyak macamnya pun. Ada yang sederhana seperti yang sering dibikin juga sama anak-anak kompleks sini, bermodalkan plastik, lidi, benang, dan benang gelas untuk mengudarakan si layang-layang. Sumpah, ngeri juga melihat mereka membikin benang gelas dengan tujuan memutuskan benang layang-layang lawan.

Layang-layang yang dibikin sama Tuk Dalang itu bagus-bagus, bahkan menginspirasi.

5. Perahu Kertas


Apa yang kita lakukan apabila tidak bisa membeli suatu benda? Ya bikin sendiri lah. Tapi, kadang, suatu benda itu memang tidak dijual di mana pun sehingga untuk memainkannya harus bikin sendiri terlebih dahulu. Salah satunya yang saya temui di Upin Ipin adalah perahu kertas. Hebatnya yang membikin Upin Ipin, mainan sesederhana pun dibikin jadi luar biasa melalui daya imajinasi tokoh di dalam Upin Ipin. Tontonlah, kalian pasti akan tahu.

⇜⇝

Baca Juga: Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah

Kalian pasti tidak menyangka bukan bahwa pos hari ini melirik tentang produk DIY yang terlihat saat menonton Upin Ipin. Itu belum semua loh. Masih ada lagi seperti papan yang dipakai sebagai penggantti raket saat bermain bulu tangkis. Itu kan kami bangeeeettt dulu waktu masih ana lo'o (anak kecil) haha. Papan pengganti raket, potongan tongkol jagung ditusuk bulu ayam (dicabut dari ayamnya Nene Sisi dulu) pengganti kok (shuttlecock). Bahagia itu memang sederhana Hehe.

Bagaimana menurut kalian, kawan?



Cheers.

Monday, November 11, 2019

Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik?


Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik? Jum'at, 8 September 2019, Panitia Panca Windu Universitas Flores (Uniflor) kembali menggelar kegiatan menjelang hari baik di tahun 2020 nanti. Bakti sosial yang turut mendukung program Jum’at Bersih oleh Pemerintah Kabupaten Ende tersebut dilaksanakan di empat kelurahan pada wilayah Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende, yaitu Kelurahan Potulando, Kelurahan Kelimutu, Kelurahan Paupire, dan Kelurahan Onekore. Sejumlah dua ribu peserta bakti sosial yang dibagi lima ratus peserta per kelurahan diperkuat oleh dosen, karyawan, mahasiswa, perwakilan komunitas, dan masyarakat setempat. Untuk itulah saya harus bangun sedini mungkin sehingga gayung kamar mandi pun mengerut kening dan bertanya: benarkah kau bangun jam segini? Hehe.

Baca Juga: Parade Budaya Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya

Seremoni pembukaan kegiatan tersebut dilaksanakan di Perempatan Wolowona (sisi Timur) pada pukul 07.00 Wita, dihadiri oleh Bupati Ende Drs. Djafar Achmad, Sekretaris Daerah Kabupaten Ende Dr. dr. Agustinus G. Ngasu, Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A. beserta jajaran Wakil Rektor, Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Dr. Laurentius D. Gadi Djou, Akt., Ketua Panitia Panca Windu Uniflor Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum., Dekan se-lingkup Uniflor, Unsur Forkompinda, perwakilan ASN, POLRI dari Polres Ende, serta tamu undangan. Pada lokasi seremoni pembukaan juga dipajang beraneka rembi (tas/keranjang anyaman) yang diperkenalkan selain sebagai hasil karya kerajinan tangan juga sebagai wadah belanjaan yang harus mampu menggantikan tas belanjaan plastik atau tas kresek alias kalau diubek-ubek tas plastik ini menimbulkan suara: kresek.

Bapak Bupati Kabupaten Ende, Bapak Djafar, membeli tikar anyaman dan sebuah rembi mini, usai seremoni pembukaan.

Bapak Bupati Kabupaten Ende, Bapak Djafar, memakai rembi mini.

Kegiatan dibuka dengan sambutan oleh Rektor Uniflor dan Bupati Ende, dilanjutkan dengan penekanan tombol sirine sebagai tanda launching. Tema yang diangkat adalah Go Clean: Reduce, Reuse, Recycle, Re-Design, Re-Imagine.

Apa itu rembi? Dan mengapa benda ini dipercaya mampu menggantikan peran tas belanjaan plastik?

Marilah ... dibaca.

Rembi


Rembi merupakan nama dari wadah anyaman berbahan alami yang merujuk pada tas/keranjang. Abang Oir Rodja pernah menulis tentang Seni Anyam Ende Lio yang khusus membahas ... ya membahas seni anyaman Ende Lio donk. Hehe. Rembi merupakan salah satu dari seni anyaman tersebut. Bahan-bahan yang dipakai untuk membikin rembi dari yang saya lihat pada Jum'at kemarin itu antara lain daun lontar dan bilah bambu tipis (khusus untuk keranjag berukuran raksasa). Tapi dari blog Abang Oir saya membaca nama bahan lain yaitu kulit bambu muda, wunu re’a/daun pandan hutan; wunu koli/daun lontar; kulit bhoka ino; ngidho; ua; taga; tali eko



Selain rembi, seni anyaman ini banyak jenisnya dan yang saya tahu sejak dulu itu bernama wati sebagai wadah yang sering dipakai para ine/mama menyimpan sirih, pinang, dan lain-lain keperluan. Bahkan saya punya donk sejenis wati, tapi tanpa tutupan, buat menyimpan barang-barang kecil. Jenis lainnya yang saya baca dari blog Abang Oir antara lain mbola-mbola, kadhengga, kidhe, kadho, kopa, mboka wati, lepo, kiko, raga, wuwu, ola bau, kata, dan lain sebagainya. Saya pernah tahu kidhe ini, ketika kidhe menjadi salah satu tema yang diangkat dalam Lomba Mural Triwarna Soccer Festival awal tahun 2019. 

Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Pastik?


Ini pertanyaan penting karena punya tujuan majemuk. Pertama: rembi akan mengurangi sampah plastik di negeri ini. Kedua: rembi akan mendongkrak perekonomian masyarakat khususnya para pengrajin. Ketiga: rembi menjadi salah satu ikon (wisata) budaya yang diburu oleh wisatawan selain tenun ikat yang kesohor hingga penjuru dunia. Tapi, kembali ke pertanyaan awal tadi: mampukah?

Orang pesimis pasti akan bilang: tidak! Tapi orang optimis pasti akan bilang: ya, mampu!

Rembi Mengurangi Sampah Plastik


Jujur saja, sebelum kegiatan baksos dengan salah satu agenda mengangkat rembi sebagai tas/keranjang belanjaan pengganti tas belanjaan plastik, awal September 2019 saya sudah mendengar terlebih dahulu dari Bapak Bupati Nagekeo, Bapak Don, tentang kearifan lokal yaitu penggunaan tas anyaman alih-alih menggunakan tas plastik sebagai media untuk membawa barang belanjaan. Rembi, jika betul dimanfaatkan oleh masyarakat Kabupaten Ende khususnya para mama saat berbelanja di pasar, niscaya mampu mengurangi sampah plastik. Lagi pula rembi dibikin untuk dua jenis belanjaan. Ada rembi khusus belanjaan basah seperti ikan dan/atau daging, hingga sayuran. Ada rembi khusus belanjaan kering seperti aneka bumbu dapur. Tapi, tentunya para mama lebih suka membeli rembi khusus belanjaan basah karena bisa disatukan dengan belanjaan kering: bawang, cabai, lengkuas, merica, yang umumnya dibungkus ... plastik. Hiks.


Lagi, jujur saja, sebelum kegiatan baksos dengan salah satu agenda mengangkat rembi sebagai tas/keranjang belanjaan pengganti tas belanjaan plastik, menurut pengamatan saya, sudah banyak mama yang menggunakan keranjang plastik reuse yang kuat dan tahan banting sekaligus mengurangi pemborosan membeli tas belanjaan plastik. Artinya tas belanjaan plastik tidak terlalu banyak digunakan di pasar-pasar tradisional bukan? Lantas di mana? Di supermarket! Oleh karena itu, kampanye menggunakan rembi ini harus dilakukan di semua lapisan perbelanjaan baik yang tradisional maupun yang moderen. Suatu saat, pasti ada yang ke supermarket membawa rembi, dititip di tempat penitipan barang, kemudian saat selesai belanja semua belanjaan akan dimasukkan ke rembi alih-alih tas belanjaan plastik berlogo supermaret tersebut.

Salah seorang mama, baru pulang berbelanja dari Pasar Wolowona, melintas di lokasi seremoni pembukaan, menenteng keranjang belanjaan plastik.

Bisa?

Bisa donk. Saya sudah melakukannya. Bukan rembi, melainkan backpack. Kecuali belanjanya untuk keperluan satu bulan, itu memang butuh kardus. Haha.

Yang perlu diingat adalah, tas belanjaan plastik bukan satu-satunya penghasil sampah plastik di semesta raya. Masih ada botol dan gelas bekas minuman. Itu yang paling nyata terlihat saat hujan turun dan aliran air menghantar sampah hingga ke tepi pantai. Bagaimana untuk mengatasinya? Bawalah tumbler atau botol air minum sendiri dari rumah alih-alih membeli air minum kemasan. Selain keren sekaligus berhemat.

Rembi Mendongkrak Perekonomian


Keterkaitan ini jelas tidak bisa dibantah. Umumnya rembi dibikin oleh pengrajin yang tergabung dalam kelompok tertentu. Jum'at kemarin, rembi-rembi yang dipajang merupakan hasil kerajinan tangan dari Kelompok Karya Ibu. Kelompok ini juga sudah digandeng Dinas Koperasi Kabupaten Ende.


Apabila rembi betul mampu mengganti tas belanjaan plastik, otomatis perekonomian para pengrajin pun terdongkrak. Ini akan sangat bagus! Meskipun untuk mewujudkannya, memang, dibutuhkan kesadaran awal yaitu penggunaan plastik harus dikurangi meskipun plastik memang jauh lebih praktis.

Rembi Sebagai Ikon (Wisata) Budaya


Dari hasil status saya tentang rembi di Facebook, ada teman-teman yang bertanya tentang rembi, pengen punya juga. Soalnya kan selain disediakan rembi untuk belanjaan di pasar, ada pula rembi dengan model kekinian yang imut dan lucu bikin gemas siapapun yang melihatnya. Seperti yang dipakai Bapak Bupati Kabupaten Ende. Saya punya satu rembi yang dikasih sama pengungsi korban erupsi Gunung Rokatenda dari Pulau Palu'e.

Rembi hadiah dari pengungsi. Hehe.

Kalau yang ini wadah anyaman dari Pulau Sumba.

Rembi niscaya mampu menjadi ikon (wisata) budaya dari Kabupaten Ende karena siapa sih yang tidak mau punya oleh-oleh khas suatu daerah berharga murah, dapat dimanfaatkan sehari-hari, dan membikin pemakainya terlihat beda dan bergaya? Semua orang juga pasti mau! Termasuk saya. Sayangnya Jum'at kemarin saya tidak sempat membeli rembi karena sudah terlalu banyak orang berkerumun ingin membeli juga, dan saya toh sudah punya rembi sendiri hadiah dari pengungsi. Hehe. Oh ya, harga rembi bervariasi sesuai ukuran, model, dan tingkat kesulitan modifikasinya. Dipatok mulai dari Rp 50K hingga ratusan ribu.

⇜⇝

Baca Juga: Antara Saya, Trans Flores, dan Festival Daging Domba

Menjawab pertanyaan besar di tulisan ini, mampukah rembi menggantikan peran tas belanjaan plastik? Insha Allah mampu. Asalkan ada kesadaran dari kita semua, ada daya juang dari kita semua, untuk bersama-sama bertekad mengurangi sampah plastik yang secara masif sudah semakin menghancurkan bumi kita. 

Bagaimana menurut kalian, kawan?

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.