Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Monday, December 30, 2019

Sebuah Catatan Akhir Tahun Untuk Saya, Kalian, Mereka


Sebuah Catatan Akhir Tahun Untuk Saya, Kalian, Mereka. Sebelumnya, ijinkan saya mengucapkan Selamat Natal untuk semua saudara/i yang merayakannya. Semoga damai Natal senantiasa memberikan kedamaian dan bersemayam pula dalam hati. Bagi teman-teman yang sudah menerima kiriman video ucapan Natal dari saya, perlu diketahui, foto kandang Natal di dalam video itu merupakan kandang Natal yang saya bikin tahun 2018 saat mengikuti Lomba Kandang Natal di Universitas Flores (Uniflor). Sayangnya tahun 2019 tidak ada lomba apapun yang diselenggarakan oleh Uniflor. Padahal sudah banyak ide berkeliaran dalam kepala saya. Haha. Gemas, pengen bisa jadi juara lagi seperti tahun 2017. Tidak adanya lomba ini dikarenakan sepanjang tahun 2019 hingga Juli 2020 nanti, Uniflor sudah mempunyai seabrek kegiatan menyongsong Panca Windu-nya.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita

Sebentar lagi kita bakal say goodbye sama tahun 2019. Kalian sudah bikin resolusi? Saya sendiri belum bisa membikin resolusi karena sepertinya resolusinya tidak jauh berbeda dengan resolusi yang saya bikin tahun lalu. Terutama, masih tetap nge-blog! Ya, ya, ya, meskipun tidak banyak bolongnya, tapi saya akui aktivitas nge-blog saya di tahun 2019 ada bolongnya sehari dua. Maklumi, kesibukan itu ternyata memang terlalu banyak mengambil waktu saya dalam sehari. Terutama kesibukan mengalahkan clan Lotus, Serphent, dan Wolf, karena saya pemakai Dragon. Haha. Cuma anak Battle Realms yang paham *ngakak guling-guling*. Jangan terlalu serius membaca tulisan saya, banyak jumpscare dan twist-plot-nya.

Mari kita mulai catatan akhir tahun ini ...

Revolution


Pada tahun 2018 saya menulis resolusi. Pada tahun 2019 resolusi itu dijalankan dengan bumbu revolusi. It's like make a resolution, do revolution, then. Dalam arti yang sesungguhnya, revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Dalam kehidupan saya sepanjang 2019, revolusi terjadi dengan satu cara saja yaitu tanpa kekerasan. Saya menyebutnya revolusi hidup. Saya pikir semua orang pasti punya revolusi hidup. 

Revolusi hidup yang saya maksudkan ini adalah menjadi seseorang yang bisa menerima. Apapun yang terjadi, saya harus berusaha untuk bisa menerimanya. Terima kasih, hidup. Telah mengajarkan saya untuk lebih mengenali diri sendiri, untuk lebih tahu diri, untuk lebih bisa menerima apapun yang digariskan Tuhan untuk saya. Kalau kata Sheila On 7, Terima Kasih Bijaksana.

Responsibility 


Seiring dengan bertambahnya usia (ini tulisan ikut orang-orang, biar kelihatan bijak) maka mengikuti pula tanggung jawab besar yang harus dipikul. Tanggung jawab ini tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan utama, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan sekitar, pergaulan, dan perasaan.

Di awal tahun saya diberikan tugas dan tanggung jawab mempromosikan Uniflor di semua SMA sedaratan Flores dan sekitarnya (ada anggota Tim Promosi Uniflor yang bahkan ke Pulau Lembata, Pulau Adonara, dan Pulau Solor). Senang? Tentu. Bekerja sekaligus jalan-jalan, pun mengumpulkan materi untuk blog travel I am BlogPacker. Menyusulinya, masih banyak tanggung jawab lain yang alhamdulillah mampu dikerjakan-diselesaikan dengan baik, baik itu tanggung jawab pekerjaan di sekitar kampus maupun pekerjaan kantor yang mengharuskan saya ke luar kota. Bagi saya pekerjaan adalah hobby. Dan, tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak menyukai hobby-nya sendiri kan? Saya pikir kalian juga sependapat dengan hal ini. Insha Allah masih terus bisa melakukannya di tahun-tahun yang akan datang.

Dari dunia komunitas, dimana saya sendiri sudah berjanji untuk tidak mau berkomunitas lagi, saya menyeret diri sendiri untuk turut membangun dua komunitas. Ada kata 'turut' sehingga kalian salah kalau berpikir saya sendiri yang membangunnya. Yang pertama, Stand Up Comedy Endenesia. Yang kedua, Exotic NTT Community. Keduanya punya gaya yang berbeda. Berbeda dari lini komunitas yang sebelumnya saya bangun dan/atau ikuti. Bukan komunitas blog, bukan komunitas self improvement, bukan komunitas charity, dan lain sebagainya. Stand Up Comedy Endenesia dan Exotic NTT Community mengantar warna baru dalam hidup saya yang ringih ini. Sayangnya, karena kesibukan yang lagi-lagi menyita begitu banyak waktu, saya agak abai dengan Stand Up Comedy Endenesia. Tidak mengapa, yang pasti masih tetap bersama mereka semua. Sementara itu, Exotic NTT Community yang baru seumur jagung, lebih mudah bersamanya karena base camp sementara masih di rumah saya. Haha.

Bagaimana dengan ranah asmara? Banyak yang menulis resolusi #2019GantiStatus (dari belum kawin menjadi kawin) sementara saya menulis #2019TetapNge-blog. Mungkin karena feeling saya mengatakan bahwa 2019 status KTP masih akan sama (itu KTP seumur hidup, hiks). Saya bukan tipe manusia yang suka memburai-burai kehidupan pribadi terutama asmara di muka publik. Yang jelas, saya cukup bertanggungjawab terhadap perasaan sendiri sehingga tidak perlu terjadi silang-sengketa dengan pihak manapun. Termasuk mantan. Ahaaayyy!

Lingkungan keluarga besar Pharmantara juga semakin mendewasakan saya sebagai bungsu dari pasangan kesohor *ngikik* Asmady Pharmantara dan Regina Bata. Meskipun di dalam keluarga kami harus ada yang berpisah tetapi banyak yang semakin erat. Di akhir tahun 2019, tepatnya 30 November, my Mom lost her sight. But it's okay. Believe or not, I'm much better prepared for this condition than 2009 when stroke attacked her. Kami semua mencintainya. Tentu. Dan sebagai bungsu yang masih belum mandiri, karena masih tinggal bersamanya di Pohon Tua, saya benar-benar siap melayaninya. Dia adalah ratu. Kalau dipikir-pikir, ini juga sekalian latihan. Latihan mengurus baby seandainya Allah SWT menganugerahkannya pada saya. Haha. Laki saja belum punya, malah memikirkan baby. Psssttt! Mengkhayal itu perlu kan yaaaaa.

Reborn


Tahun 2020, bagi saya pribadi, akan menjadi tahun dimana saya (merasa) terlahir kembali. Terlahir kembali setelah begitu banyak tempaan pengalaman hidup di tahun 2019. Kalau tidak ada tempaan, tidak ada cerita. Bukan begitu? Ya, begitu! Hehe. Konsep terlahir kembali merupakan konsep paling sederhana; mencerminkan aura positif. Tidak ada orang yang mau terlahir kembali sebagai penjahat. Kira-kira begitu. Sama juga, terlahir kembali tanpa harus mati terlebih dahulu, bermakna kita ingin menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Menjadi lebih baik berarti harus mengubah apa yang selama ini dalam pandangan kita: tidak baik. Sederhana memang. Tapi, mungkin untuk mewujudkannya butuh langkah-langkah yang besar.

Terlahir kembali menjadi manusia yang sabar.
Terlahir kembali menjadi manusia yang bisa menekan ego.
Terlahir kembali menjadi manusia yang lebih penyayang.
Dan lain sebagainya.

Ah, menulis tentang ego. Saya memang masih belum sepenuhnya mampu mengendalikannya. Egobender wannabe. Hahaha. Makanya tahun 2020 harus bisa menekan ego sedapat-dapatnya. Karena apa? Karena seorang bungsu terbiasa mendapatkan apapun yang diinginkan. Kalau kalian bilang tidak, saya bilang iya. Karena saya adalah bungsu. Ingin dimanja? Iya. Ingin diperhatikan? Apalagi! Dan satu keinginan yang paling absurd dari seorang bungsu bercampur Capricorn adalah ingin orang lain tahu apa yang diinginkannya tanpa dia harus meminta atau bicara. Itu kan koplak. Hehe. Iya, saya harus mengakui bahwa saya ego dan koplak sekaligus. Padahal orang lain bukan dewa yang punya kemampuan membaca perasaan. Dududu.


Semua yang ditulis di atas semata-mata tentang saya, sedangkan judulnya adalah Sebuah Catatan Akhir Tahun Untuk Saya, Kalian, Mereka. Di mana kolerasinya? Kolerasinya terletak pada pembelajaran. Apa yang saya alami selama tahun 2019, bisa menjadi pembelajaran untuk diri saya sendiri, kalian, dan mereka. Karena, sebagai penghuni semesta kita akan terus belajar terutama dari pengalaman masing-masing, dan tentu belajar dari pengalaman orang lain. Kenapa kita harus belajar dari pengalaman? Karena pengalaman akan membikin kita melakukan revolution yang responsibility dan menjadikan kita manusian yang reborn.

Punchline-nya asyik juga. Hahahaha.

Baca Juga: Bisakah Saya Berhenti Berpikir dan Bersikap Konyol?

Terakhir, untuk kalian semua yang membaca tulisan ini. Marilah kita terus menjaga tali silaturahmi, apapun kondisinya, karena itu salah satu hal yang ingin terus saya upayakan di tahun-tahun yang akan datang. Termasuk, memperbaiki tali silaturahmi yang rusak. Ijinkan saya menutup tulisan ini dengan mengucapkan: selamat menikmati akhir tahun yang legit bersama keluarga, teman-teman, tetangga, orang-orang tersayang. Jangan lupa berdoa agar tahun depan kita masih dapat menikmati akhir tahun yang sama legitnya.

Selamat tinggal 2019.
Terima kasih 2019.

Dan ya, #2020TetapNge-blog!



Cheers.

Thursday, December 19, 2019

Bisakah Saya Berhenti Berpikir dan Bersikap Konyol?


Bisakah Saya Berhenti Berpikir dan Bersikap Konyol? Suatu kali ada seseorang, entah siapa saya lupa, yang bilang ke saya: sudah, stop diet, kamu itu jelek banget kalau kurus! Omongan itu semacam kalimat ampuh yang terlontar dari bibir pengacara kondang. A-ha! Mari makan, mari ngemil, karena kalau kurus saya jelek *digampar dinosaurus*. Tapi bukan karena omongan itu kemudian tubuh saya menjadi sulit mengempes. Mengempes atau mengempis? Dasarnya tulang saya yang gemuk. Haha. Yang jelas, porsi makan saya normal seperti rakyat jelata pada umumnya, porsinya sedikit tapi tambah terus *muka serius*. Hei kamuuuu yang mau pedekate jangan mundur doooonk. Seriusnya, yang jelas porsi normal atau sedikit lebih banyak, tubuh saya begini-begini saja.

Baca Juga: 5 Perkara yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan

Ketika suatu kali saya memasang wajah super serius, ada yang menyeletuk: tidak cocok! Haha. Mau tidak mau saya tertawa mendengarnya. Nampaknya wajah saya ini dari keluaran pabrik memang tidak digariskan untuk menjadi terlalu serius. Sama seperti otak saya yang sering sekali keluar dari jalur. Maksudnya sering banget otak saya ini mendadak mengalami jalur sibuk dimana orang lain sedang ngomong serius ke saya tetapi otak saya fokus memikirkan hal lainnya yang bisa jadi penting bisa jadi sangat remeh. Jadi, tidak ada salahnya kalau sedang mengobrol dengan saya kalian bertanya: lu dengerin nggak, Teh!? Sumpah, saya tidak akan tersinggung kalau kalian bertanya begitu, karena saya sendiri juga tidak kuasa menahan otak saya memasuki jalur sibuk.

Sama juga, untuk peristiwa-peristiwa penting lainnya, seringkali saya berulah konyol sampai pernah dikeplak sama Kakak. Tapi sebenarnya konyol ini bukan disengaja. Lhaaaa bemana lagi ... saat sedang Yassin-an sekeluarga besar mendadak saya tertidur begitu saja. Duhai, entah apa yang merasuki saya saat itu. Kepala saya dikeplak *ngakak guling-guling*. Atau, saat sedang santai bersama teman-teman, saya menyumpal kedua lobang hidung dengan tisu sampai yang melihat terkejut. Untungnya mereka sudah tahu perihal kekonyolan ini sehingga tidak sampai lah mereka mengeplak kepala saya.

Ternyata, urusan berpikir dan bersikap konyol ini merembet ke ranah nyaris-asmara. Pasti kalian bakal bilang: kok bisa? Ya, bisa. Jangan diikuti jejak konyol ini, karena kalau iman kalian tidak kuat, resiko silahkan tanggung sendiri.

Pada dasarnya saya suka berkhayal. Menulis fiksi memang butuh khayalan tingkat tinggi. Konyolnya, kalau sedang berkhayal saya tidak mengenal tempat. Kakak ipar saya, Mbak Wati, cuma bisa mengelus dada waktu melihat saya menyapu rumah sambil mulut komat-kamit. Dikiranya saya sedang membaca mantera, ternyata saya sedang bercerita. Coba kalian bayangkan, sambil menyapu rumah saja otak saya menyusun cerita asmara (fiksi)! Paling parah, saya menyusun fiksi saat sedang kendarai sepeda motor, terutama ke luar kota. Makanya, kalau hendak ke luar kota mengendarai sepeda motor sejak dari rumah sudah saya mulai Ayat Qursi agar keterusan dan otak saya tidak liar ke arah jalur sibuk.

Balik lagi ke urusan berpikir dan bersikap konyol yang merembet ke ranah nyaris-asmara. Otak saya itu sering banget ngelantur ke mana-mana. Waktu ada yang pedekate, baru pedekate nih, otak saya sudah menampilkan seseorang (lelaki dong) datang ke rumah secara mendadak, bawa batako buat lemparin kepala saya terus bilang pengen ngelamar. Tidak berhenti di situ! Cerita fiksi itu mulai dirangkai satu per satu. Mulai dari pedekate, pacaran, proses lamaran, menikah, punya anak, cek-cok, sampai manajemen emosi saya dan dia. Ya ampuuuun! Itu konyol sekali kan, kawan? Belum berhenti sampai di situ! Saat si dia berhenti pedekate alias menghilang pun otak saya masih melanjutkan cerita fiksi itu. Berulang-ulang.

Konyol to the max.

Nampaknya berpikir dan bersikap konyol sulit sekali terurai dari pribadi saya. Entah mengapa, otak saya begitu saja bermain liar, berkhayal, mengarang cerita fiksi. Untungnya, saya tidak terbawa pada kerja otak yang seperti itu. Maksudnya, saya tidak sampai berhalusinasi apalagi mengalami delusi. Hahaha. Bisa dibayangkan kalau itu terjadi? Tingkat konyolnya di atas pencapaian maksimum standar hidup manusia *ngakak guling-guling*.

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Apakah kalian juga mengalaminya? Kalau iya, artinya saya tidak sendiri. Tapi berpikir dan bersikap konyol ini ada manfaat positifnya. Misalnya, saat ini saya harus lebih intens merawat Mamatua karena kedua matanya kehilangan penglihatan. Pola berpikir dan sikap yang konyol ternyata sangat membantu menghibur beliau yang sangat kami sayangi itu. Misalnya selalu bertanya tentang biodata-nya beliau sendiri, mengajaknya bernyanyi, mencoba menggodanya dengan kalimat-kalimat konyol, dan lain sebagainya. Bagi saya, orang sakit tidak butuh dikasihani. Orang sakit butuh dihibur, terutama dengan hal-hal konyol-positif, agar semangat mereka tetap membara untuk menjalani hidup. Setidaknya, meskipun saat ini Mamatua praktis harus diurus a to z, tapi otak dan bibirnya tidak berhenti bekerja. Mamatua masih bisa bercerita tentang masa lalu, masih bisa meraba-raba kami yang duduk di dekatnya, masih bisa bercerita, berkomentar ini itu, bahkan menggoda Mamasia dan Mamalen yang senantiasa membantu kami mengurusinya.

Hati yang gembira adalah obat ~ H. J. Gadi Djou.

Life is good!

Kembali ke judul; bisakah saya berhenti berpikir dan bersikap konyol untuk semua lini kehidupan saya? Belum bisa. Kalau saya berhenti berpikir dan bersikap konyol ... bukan saya namanya. Haha.

Semoga bermanfaat!

#KamisLegit



Cheers.

Wednesday, December 18, 2019

Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing


Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing. Do it yourself a.k.a. DIY selalu mampu membikin saya berdecak kagum. Hebatnya, itu berefek domino. Decak kagum itu berujung pada aksi membikin sendiri juga. Iya dooong. Prinsip saya, kalau orang lain bisa melakukannya, saya juga harus bisa. Kalau ternyata setelah dicoba berkali-kali gagal, artinya saya harus berhenti mencoba membikinnya. Selama ini gagalnya cuma sekali dua, selebihnya alhamdulillah sukses. Benar, hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Kecuali usahanya setengah-setengah. Haha.

Baca Juga: Ruang Tamu Pohon Tua Kini Punya Galeri Mini Sketsa VK

Salah satu benda yang acap dipakai untuk berkreasi adalah kancing (baju). Saya melihat di internet, kancing baju dipakai untuk membikin lukisan (dahan dan ranting pohon), ada juga yang berbentuk hewan (gajah), dan lain sebagainya. Ndilalah, saya justru lebih terinspirasi ketika melihat gantungan kunci ruangannya Kakak Shinta Degor di kantor. Maka, dengan semangat 45 pergilah saya membeli aneka kancing baju di toko. Seharusnya kancing yang dipakai merupakan kancing dari baju-baju atau kemeja lama yang sudah tidak dipakai. Tetapi menurut saya tidak ada salahnya membeli saja kancingnya ketimbang menunggu baju-baju atau kemeja tersebut afkir.

Ayo siapkan!

1. Kancing baju.
2. Benang.
3. Ring gantungan kunci (kalau ada).

Caranya? Mudah. Cukup satukan kancing seperti pada gambar di bawah ini, dan jadi.


Unik dan keren kan? Iya dooong, bikin sendiri ini. Barang itu, sekalipun murah, pasti bagus asalkan dibikin sendiri. Haha.

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

Untuk berkreasi tidak perlu terlalu pusing memikirkan ini dan itu. Yang penting ada ide, ada kemauan, pasti ada jalan. Kalau ide hanya sekadar berputar saja di kepala, barang impian tidak bakal jadi sampai kiamat. Ide itu sama seperti niat. Kalau tidak dijalankan ya percuma. Saya yakin kalian juga bisa bikin, mudah ini kok. Siapa tahu kalian bisa membikin tidak hanya gantungan kunci super sederhana, tapi bisa juga bikin gelang, anting, kalung, atau hiasan dinding! Ayo berkreasi sepuas-puasnya.

#RabuDIY



Cheers.

Tuesday, December 17, 2019

Warna-Warni Text Background Color Ciri Khas Pos Blog


Warna-Warni Text Background Color Ciri Khas Pos Blog. Bagi kalian yang nge-blog, setiap hari berhadapan dengan dashboard, pasti selalu ada keinginan untuk mengutak-atik dashboard dengan tujuan agar tampilan blog menjadi lebih baik/menarik. Sama. Saya juga begitu. Awal nge-blog menggunakan platform Blogger, tahun 2002/2003, saya tidak seberapa peduli dengan tombol-tombol yang mejeng di bawah bagian judul dan/atau di atas bagian isi. Saya juga tidak terlalu memusingkan gaya bahasa. Yang penting menulis dan ngepos. Selesai. Makanya, kalau saya membaca kembali pos blog zaman prasejarah itu, jadi ketawa sendiri, betapa buruk tampilan tulisan dan supa alay! Yakin, banyak pembaca yang kurang paham dengan tulisan-tulisan zaman prasejarah tersebut. Itu pun kalau ada yang baca. Haha.


Tetapi, lama-kelamaan, keinginan untuk mengutak-atik dengan tujuan agar tampilan blog menjadi lebih baik/menarik itu muncul. Gaya bahasa dan tata cara penulisan juga diperbaiki. Betul orang bilang: pengalaman mengajarkan segala hal dengan tujuan agar kita menjadi lebih baik, meskipun kita tidak perlu menjadi menarik. Lihat saja gaya tulisan. Awalnya kacau-balau, sekarang bolehlah dibilang jauh lebih baik. Awalnya menulis sama dengan bicara, belepotan, bahkan tanpa aturan, semakin ke sini semakin tertata. Perubahan-perubahan yang terjadi pada blog saya selama dua tahun terakhir antara lain:

1. Menambahkan judul pada paragraf pertama.
2. Memiringkan kata dan/atau kalimat yang menggunakan bahasa asing dan bahasa daerah.
3. Membikin sub judul.
4. Membikin list (kadang-kadang).
5. Memberi nama pada setiap foto milik sendiri.
6. Membikin (semacam) logo blog.
7. Menambah text background color.
8. Membikin deskripsi penelusuran.
9. Menebalkan kata/kalimat tertentu.

Yang betul-betul belum bisa saya bikin alias selalu lupa membikinnya adalah tautan permanen. Kalau tulisan sudah dipos, bakal susah mengubah tautan permanennya. Jadi, tautan pos blog tetap mengikuti judul. Kalau judul kepanjangan, ya ... dipangkas otomatis sama sistem.

Salah satu perubahan pada list di atas adalah menambah text background color.

Mungkin bukan hanya saya. Banyak blogger yang memanfaatkan text background color ini. Awalnya saya memakai text background color hanya sebagai penanda tautan yang disertakan di dalam pos. Untuk menekankan kepada pembaca bahwa ada tautan yang bisa mereka klik bila ingin memperoleh informasi lebih dan/atau tautan rujukan. Warna tautan rujukan itu selalu KUNING. Tidak usah dijelaskan lagi ya kenapa warnanya kuning. Hehe. Saya pikir ini penting dilakukan karena tampilan tautan pada pos blog ini abu-abu. Tidak semua orang paham tentang tautan yang disertakan di dalam pos blog, oleh karena itu, text background color berwarna kuning cukup membantu dan memuaskan rasa penasaran para pembaca *dikeplak dinosaurus*.

Tapi, text background color khusus tautan itu bukan clickbait! Paham? Hehe.

Text background color kemudian menjadi ciri khas pos blog ini. Nama kota, nama kabupaten, nama provinsi, kadang nama orang, sesuatu yang harus dipahami oleh pembaca pasti saya beri text background color. Dan rata-rata terjadi pada paragraf pertama. Untuk pengulangan, tidak lagi saya beri text background color agar pembaca tidak mendadak dangdut pusing. Ciri khas pos blog dengan text background color kemudian melekat pada blog (saya) ini.

Menurut Susan Gunelius, (mantan) penulis Lifewire yang fokus menulis soal dunia blogging, pada artikel tentang Psikologi Warna, psikologi warna memberitahu bahwa warna memiliki makna. Dengan kata lain, warna secara tidak sadar memunculkan perasaan dan pikiran ketika orang melihatnya. Menurut Susan, psikologi warna dapat memengaruhi cara orang berpikir dan merasakan tentang blog atau situs web. Setiap warna mempunyai makna berbeda dan mempunyai aura tersendiri untuk menarik dan/atau mempertahankan pengunjung blog kita. Susan menulis: hal terakhir yang ingin Anda lakukan adalah kehilangan pengunjung karena efek bawah sadar warna dalam blog Anda.

Ugh. Serem. Hehe.

Pada pos ini saya hanya mengambil dua warna yang ditulis oleh Susan. Pertama warna putih, kedua warna kuning. Apa pasal? Karena putih merupakan warna utama blog ini, dan sebagai Presiden Negara Kuning, kalian pasti paham *kedip-kedip*.

Putih
Ada alasan mengapa produk pembersih seringkali berwarna putih atau dikemas dalam wadah putih. Psikolog warna melaporkan bahwa putih adalah simbol kemurnian dan kebersihan. Putih menarik perhatian orang dan bekerja dengan baik sebagai warna latar belakang dengan teks gelap di blog dan desain web.

Kuning
Ketika Anda membutuhkan warna untuk mengomunikasikan kepositifan dan kehangatan, kuning adalah pilihan yang sempurna. Ini juga telah ditemukan dalam penelitian untuk menjadi warna pertama yang dilihat orang. Kuning adalah pilihan yang sempurna untuk menarik perhatian ke bagian terpenting dari blog atau situs web Anda.

Baca Juga: Edmodo Salah Satu E-Learning Yang Mirip Media Sosial

Kemurnian dan kebersihan yang dipadu dengan kepositifan dan kehangatan merupakan pasangan yang cocok. I guess. Tapi itu bukan berarti kalian yang memakai warna lain untuk tampilan blog maupun text background color itu tidak baik. Ini hanya masalah kebiasaan, masalah selera. Semua warna itu baik. Karena warna membikin hidup manusia menjadi lebih ausam. Kaitannya dengan pos blog, warna membikin pos blog terlihat lebih menarik. Setidaknya itu menurut saya. Bagaimana menurut kalian? Silahkan komen.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Monday, December 16, 2019

Ngana Ate Sebuah Blog (Puisi) Baru Yang (Terpaksa) Dibikin


Ngana Ate Sebuah Blog (Puisi) Baru Yang (Terpaksa) Dibikin. Kalau Jum'at kemarin kalian main-main ke sini, pasti tahu bahwa saya menulis tentang blog puisi yang itu. Yang judulnya Suara Hati. Adalah Eko Saputra Poceratu seorang Penyair dan/atau Sastrawan muda asal Maluku yang mengambil tempat begitu besar dalam suntikan inspirasi. Saya memang suka menulis puisi, tetapi puisi-puisi itu kebanyakan curhat dan seringkali hanya saya pribadi yang memahami. Padahal pakai Bahasa Indonesia! Bagaimana seorang Eko menulis dan menyuarakan puisi-puisinya yang kebanyakan menggunakan bahasa pergaulan sehari-hari Orang Maluku disisip bahasa daerah sana, dan dipahami secara universal, itu yang patut kita beri standing applause. Terima kasih, Eko, untuk karya-karyamu yang amazing.

Baca Juga: Sinyal Itu Sudah Ada Namun Awam Tak Pandai Membacanya

Memperbarui konten blog puisi itu sungguh mengasyikkan. Terutama jika memang ingin mengikuti jejak Eko. Menjadi seperti Eko jelas tidak mungkin. Namun, tanpa harus malu-malu, mengikuti jejak Eko itu se-su-a-tu yang mengasyikkan! Sumpah. Gara-gara itu, timbul pula keinginan untuk sekalian mengganti template lama yang dibikin khusus oleh Om Bisot itu, yang dikustom dengan tampilan wajah saya. Hehe. Alamaknya, karena memang sudah menyimpan begitu banyak template hasil unduhan, bertubi-tubi saya mengganti template, ibarat membombardir perasaan dengan luka. Tsaaaah. Haha haha haha. Dan pada akhirnya saya harus gigit jari. Blog puisi itu kemudian rusak parah. Semua posnya tidak terbaca.

What the...?

Konsultasi sama Om Bisot, coba cari solusinya di sana sini, pada akhirnya diputuskan untuk membikin blog puisi baru. Terpaksa harus dilakukan karena otak saya sudah penuh sama diksi-diksi itu alias diksi-diksi itu harus segera keluar dari otak saya (menjadi tulisan). Saran Om Bisot, bikin dulu blog puisi baru, ekspor semua konten dari blog puisi lama ke blog puisi baru, barulah blog puisi lama dihapus. 

Okay, noted!

Maka saya mulai membikin blog (puisi) lagi. Lagi-lagi karena kata 'sekalian', kenapa tidak sekalian saya bikin blog puisi yang syarat bahasa daerah Ende atau Lio? Bertanyalah saya pada Om Ihsan, Achul, dan Kiki Arubone. Apa bahasa Ende, atau Bahasa Lio, dari kalimat: menyulam rasa? Kiki menjawab pesan WA dengan sangat lekas. Tetapi kemudian dia perlu berpikir agak lama untuk mencari padanan kata/kalimat yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan saya itu. Tentu saya menunggu. Karena, saya juga tidak mau salah menggunakan bahasa daerah pada blog. Lantas, jawaban dari Kiki itu datang bersamaan dengan suara Albus Dumbledore "good luck, Harry Potter" yang jadi ringtone pesan WA.

Ngana Ate!

Done. Judul blog Ngana Ate. Tautannya pun nganaate

http://nganaate.blogspot.com


Pertama-tama yang saya lakukan setelah Ngana Ate jadi, atau terdaftar di Blogger, adalah mengisinya dengan satu puisi baru dan mengambil tiga puisi dari blog puisi lama. Lantas, saya membikin semacam ilustrasi atau gambar untuk setiap puisi di Canva. Ini hampir tidak pernah saya lakukan di blog puisi lama. Biasanya cuma puisi saja tanpa gambar apapun. Berikutnya, saya coba mengganti template bernama Elegance. Aslinya, Elegance yang dibikin sama Way2Themes dan didistribusikan sama Gooyabi ini khusus untuk blog kecantikan. Tapi ketika saya melihat Elegance, rasanya cocok banget untuk jadi tampilannya Ngana Ate.

Angkut!

Alhamdulillah Elegance bisa dipakai di Ngana Ate. 

Langkah berikutnya, seperti biasa, mulai mengutak-atik tata letak dan elemen-elemen pendukung lainnya termasuk logo atau header. Canva sangat membantu saya pada proses kreatif membikin header (dan ilustrasi-ilustrasi setiap puisi). Voila! Begitu lekas publik dapat mengakses Ngana Ate. Memang saya promosikan hahaha. Tapi ... bagaimana dengan puisi-puisi di blog puisi lama? Apakah jadi saya mengekspor semuanya ke blog puisi baru?

Tidak. 

Saya tidak mengekspor semuanya. Saya hanya mengambil beberapa saja yang menurut saya bagus, dan tidak murni curhatan perasaan yang teraniaya *ditonjok dinosaurus*. Proses mengambil puisi lama itu memang cepat, tinggal kopi tempel, tapi proses mencari gambar yang cocok (di Canva) untuk dijadikan ilustrasi itu yang lama. Makanya kalau sekarang kalian berkunjung ke Ngana Ate, paling baru ada tiga puisi baru dan tiga puisi lama. Semoga kalian bisa menikmatinya.

Baca Juga: Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share

Pada akhirnya, saya harus kembali mengucapkan terima kasih pada Eko Saputra Poceratu, sang inspirator muda. Silahkan kalian nikmati juga karya-karyanya, agar jangan hanya saya saja yang terinspirasi, tapi kalian juga. Semoga blog puisi saya yang baru, Ngana Ate, pun dapat bertahan dan bisa terus saya perbarui seperti blog ini dan blog travel. Amin. Karena, berbagi itu tidak pernah merugi, dan berbagi itu indah. Hehe. Ayok, tuangkan diksi-diksi indah kalian dalam puisi! Ditunggu karyanya.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Saturday, December 14, 2019

Urusan Firebender Ini Remeh Tapi Cukup Menyita Perhatian

Credits: GNFI

Urusan Firebender Ini Remeh Tapi Cukup Menyita Perhatian. Sudah saya tulis pada pos-pos sebelumnya bahwa saya termasuk orang yang paling suka menonton video-video di Youtube. Apa pasal? Ya, karena video-video di Youtube itu menghibur dan menginspirasi, tergantung video dan/atau kanal mana yang kalian tonton. Kanal-kanal yang paling sering saya tonton adalah kanal milik Kirsten Dirksen dengan video tentang rumah-rumah unik seperti tiny house, 5 Minutes Craft, Insider, TED, Brightside, Living Big in a Tiny House, The Voice Global, hingga video-video yang teka'e alias nyangkut alias video yang direkomendasikan waktu saya menonton video dari kanal-kanal tersebut di atas. Menontonnya bisa berjam-jam, tapi bukan pada saat hendak tidur. Karena, saat hendak tidur, saya punya video andalan tersendiri.

Baca Juga: Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa

Proses menuju alam mimpi saya memang cukup sulit. Insomnia. Iya. Kadang saya harus menegak obat untuk bisa berdamai dengan kantuk. Oleh karena itu saya butuh prolog tidur yang menyenangkan. Dan prolog tidur yang menyenangkan itu saya temui pada filem kartun Upin Ipin. Terhibur, iya. Ngakak, iya. Tambah ilmu, juga iya. Setelah Upin-Ipin, terbitlah Larva dengan dua karakter larva crazy Yellow dan Red. Kedua filem kartun/animasi yang sudah saya tonton sejak dahulu kala itu memang dibatasi oleh season dan episode, tapi belum pernah rasa bosan muncul meskipun menonton semua season dan semua episode berulang-ulang! Bagaimana yaaaa ... can't descibe by words pokoknya. Bahagia lah karena saat terjaga, tahu-tahu, eh, sudah pagi.

Tidak pernah saya sangka, kemudian, menemukan prolog lainnya. Avatar! Avatar, The Legend of Aang, The Last Airbender. Menonton Avatar memang bisa membikin saya berdamai dengan rasa kantuk sekaligus membikin saya digerogoti pertanyaan demi pertanyaan. Prolog tidur yang satu ini memang menyenangkan, membikin saya berdamai dengan rasa kantuk, lantas tertidur pulas, tetapi juga membikin saya harus mencari tahu tentang sesuatu yang mungkin dianggap remeh oleh kalian, dia, mereka. It's about firebender.

Marilah kita cek ...

Aang, The Last Airbender


Tentang Avatar sudah dijelaskan secara singkat pada setiap opening episodenya. Dahulu kala, di semesta raya berdiri empat bangsa besar yaitu Water Tribe (Suku Air), Earth Kingdom (Kerajaan Bumi), Fire Nation (Negara Api), dan Air Nomads (Pengembara Udara). Dari setiap bangsa tersebut, dikenal istilah bender atau pengendali, yaitu orang-orang yang mampu mengendalikan elemen lambang masing-masing bangsa. Waterbender, earthbender, firebender, dan airbender. Tapi, tidak semua penduduk bisa menjadi bender. Artinya, menjadi bender itu karena alasan gift atau karunia dan/atau berkat latihan (khusus Negara Api). Lihat saja Katara dan Sokka yang berasal dari Suku Air Selatan. Katara dikenal sebagai waterbender yang kemudian menjadi master-nya waterbender, sedangkan Sokka tidak.

Apabila menjadi bender adalah karunia dan juga berkat latihan, maka Avatar adalah manusia dengan karunia paling tinggi karena ditakdirkan (harus) bisa menguasai keempat elemen tersebut. Kalau boleh saya tulis, Avatar adalah katrol yang mengendalikan semua elemen agar semesta raya tidak timpang. Karena, sebagai manusia fana tentu selalu ada rasa ingin menguasai. Dalam hal ini menguasai bangsa lainnya. Terbukti pada Negara Api yang menghancurkan begitu banyak bangsa, bahkan bangsa Pengembara Udara habis tidak tersisa, kecuali Aang.

Bagaimana caranya tahu bahwa si manusia tersebut adalah Avatar?

Avatar itu bereinkarnasi. Apabila Avatar meninggal dunia, maka dia pasti akan bereinkarnasi pada manusia lainnya. Caranya untuk tahu bahwa manusia itu adalah Avatar adalah dengan menyuruhkan memilih mainan! Sederhana bukan? Saat kecil, Aang disuruh memilih empat mainan dari ribuan mainan yang ditawarkan. Aang memilih seruling kura-kura dari tanah liat (melambangkan air), baling-baling yang digerakkan dengan benang (melambangkan udara), babi-monyet dari kayu (melambangkan tanah), dan genderang tangan dari kayu (melambangkan api). Kehidupan Aang di kuil berubah setelah rahasia dirinya adalah Avatar terkuak. Anak berusia dua belas tahun itu tidak kuat dengan berbagai tekanan, salah satunya harus belajar tiga elemen lainnya di Kuil Udara Timur, lalu memutuskan untuk melarikan diri dari kuil bersama bison terbang bernama Appa. Dalam pelariannya, Aang dan Appa diserang badai, dalam 'kondisi Avatar', Aang kemudian menyelimuti dirinya dan Appa dalam gelembung udara yang kemudian menjadi es selama seratus tahun, sampai kemudian ditemukan oleh kakak-beradik Sokka dan Katara.

Itulah mengapa Aang menjadi the last airbender, pengendali udara terakhir, karena dia sedang membeku saat bangsa Pengembara Udara dihancurkan tanpa sisa oleh Negara Api.

Ketika ditemukan itu seharusnya Aang sudah berusia seratus dua belas tahun, tetapi karena pengawetan es, dia tetap menjadi anak berusia dua belas tahun yang masih suka bermain-main. Dari situlah perjalanan Aang, Katara, Sokka, bersama Appa, bermula. Perjalanan untuk mencari guru bender tiga elemen lain yang dipercaya bisa mengajari Aang. Sampai kemudian teman perjalanan mereka bertambah yaitu si lemur terbang bernama Momo, dan pengendali tanah (buta) yang luar biasa kuat sekaligus anak bangsawan yaitu Toph Beifong.

Enaknya Menjadi Firebender


Bender dari tiga bangsa yaitu waterbender, earthbender, dan airbender diperoleh melalui karunia. Tidak semua penduduk setiap bangsa otomatis menjadi bender. Toph adalah earthbender hebat tetapi orangtuanya tidak. Katara adalah waterbender hebat tetapi Sokka tidak. Pertanyaan tentang firebender ini baru muncul setelah saya menonton ulang; menjadikan Avatar prolog tidur. Mari kita lihat pada opening-nya.

Opening episode Avatar selalu sama: Avatar terakhir, yang menghilang itu, sedang mengendalikan empat elemen. Api muncul begitu saja dari tangannya. Ya selain karena Avatar terakhir itu memang berasal dari Negara Api, apalagi ...?

Airbender mengendalikan udara karena udara selalu ada kapan pun dan di mana pun. Makanya pengendali udara termasuk paling kuat dan kerajaannya dihancurkan Negara Api tanpa ampun sehingga di semesta ini tersisa Aang. Satu-satunya pengendali udara. The last airbender. Waterbender hanya bisa mengendalikan air apabila di sekitarnya ada air. Terakhir, Waterbender Master bisa mengendalikan darah dalam tubuh manusia yang adalah cairan pula. Earthbender, bumi, jauh lebih sulit. Tanpa tanah atau unsur tanah, misalnya batu bara, ya dia do nothing. Kecuali Bumi, si Raja, yang bisa mengendalikan tanah dengan pikirannya. Itu pun sulit juga kalau dikurung di penjara yang semuanya terbuat dari besi.

Bagaimana dengan firebender? Ini yang menarik!

Firebender, menurut saya, paling enak. Tanpa api, dia bisa mengeluarkan api dari dalam tubuhnya sendiri. Enak bener! Dan ini tidak adil! Bayangkan, ketika pengendali lain butuh media: udara, air, tanah, firebender cukup jentik jari, maka jadilah api. Makanya, tidak heran Negara Api menyerang. Karena mereka kuat.

Urusan firebender yang remeh ini saya pertanyaan di Facebook. Syukurnya saya memperoleh penjelasan dari salah seorang teman Facebook, Gusty Mbao: api yang seakan tercipta begitu saja itu diperoleh dari Chi dan ada hubungannya dgn avatar pertama (Wan), kura-kura Singa, dan Dark & Light Soul of The Avatar.

Dari situs ini saya peroleh penjelasan lengkapnya, jujur saya pakai Google Translate, tidak ada yang saya ubah satu pun hahaha.

Selama era Raava, orang-orang menerima unsur api dari kura-kura singa api yang merupakan penjaga kota mereka, yang akan memberi mereka kekuatan dengan pembengkokan energi. Mereka dapat memintanya kapan pun mereka pergi ke Spirit Wilds dan mengembalikannya ketika mereka kembali. Namun, Wan mencuri kekuatan untuk memperbaiki hidupnya dan teman-temannya yang miskin, tetapi ditangkap dan dibuang. Dia diizinkan untuk menjaga kekuatan api untuk melindungi dirinya sendiri dan akhirnya berteman dengan arwah. Dengan demikian, dia berhasil mengasah keterampilannya dengan mempelajari cara yang tepat untuk membungkuk dari naga yang hidup di Spirit Wilds. Dia mengembangkan gayanya sedemikian rupa sehingga apinya menjadi perpanjangan dari tubuhnya, bukan hanya alat untuk perlindungan seperti yang dirasakan orang lain. Yang lain mengetahui tentang keselamatannya dan juga berangkat ke Roh Liar dengan kekuatan api, tidak lagi ingin hidup dalam kondisi buruk yang mereka miliki di kota.

Pada tahun-tahun berikutnya, orang-orang belajar firebending dari naga yang pernah menghuni tanah itu. Orang pertama di era Avatar yang belajar dari naga adalah Prajurit Matahari, yang memahami hubungan antara api jiwa mereka, api naga, dan matahari. Dalam sisa-sisa peradaban besar mereka, Zuko dan Aang menemukan bahwa api merupakan energi dan kehidupan, sebuah konsep yang telah hilang bagi hampir semua api di Perang Seratus Tahun. Arti sebenarnya dari firebending dilupakan sebagai kemarahan, kemarahan dan keinginan untuk mendominasi mulai menggantikan cita-cita kehidupan dan energi, dan bagaimana mereka terhubung ke matahari. Keluarga Kerajaan mendorong ini untuk membantu dalam propaganda bahwa api dapat digunakan sebagai alat untuk menghancurkan dan bahwa Perang Seratus Tahun dibenarkan.

Firebender menarik kekuatan mereka dari matahari dan benda-benda matahari lainnya, seperti komet, serta inti api planet ini. Gerhana matahari memiliki potensi untuk sepenuhnya meniadakan kekuatan penghasut api, yang merupakan hasil dari koneksi langsung antara matahari dan firebending. Selain itu, setelah mengalahkan Katara saat matahari terbit selama Pengepungan Utara, Zuko menyatakan bahwa dia naik bersama bulan, tetapi dia naik bersama matahari, lebih jauh merujuk pentingnya matahari pada firebending. Firebender juga dikatakan mengambil daya dari energi vulkanik dan kilat.

Dia (Wan) mengembangkan gayanya sedemikian rupa sehingga apinya menjadi perpanjangan dari tubuhnya, bukan hanya alat untuk perlindungan seperti yang dirasakan orang lain.

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Jadi, itulah sebabnya, api dapat muncul begitu saja dari tubuh firebender. Melalui latihan sehingga jurus/gaya itu dikembangkan oleh Wan sehingga api menjadi perpanjangan dari tubuhnya.

Done!

Pertanyaan saya akhirnya terjawab!

Dan akhirnya pos ini diunggah juga ha ha ha setelah menulis tentang sebuah buku keren berjudul Mendaki Tangga Yang Salah. Epilognya begini banget ya. Tidak apalah. Silahkan bagi kalian yang penasaran, tonton ulang deh The Last Airbender.



Cheers.

Friday, December 13, 2019

#PDL Pernah Menulis Begitu Banyak Puisi di Blog Puisi


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Pernah Menulis Begitu Banyak Puisi di Blog Puisi. Saking alay-nya sampai-sampai saya begitu malu mengakui blog yang satu ini, hahaha.

http://puisituteh.blogspot.com


Baru hendak saya sentuh lagi meskipun tidak bisa intens seperti blog lainnya. Template-nya kembali ke template klasik punya Blogger, itu pun masih harus saya utak-atik tata letaknya. Entah kenapa hari ini saya malah fokus pada blog puisi. Mungkin karena tadi saya mendadak menulis puisi ala ala Eko Poceratu yang inspiratif itu! Sumpaaaaah, Eko, aku padamu!

Oh ya, ini puisi terbaru saya:

Cinta Bukan Untuk Main-Main

Kemarin ja'o baca de pung status WA
"Tidak Pernah Dihargai"
Ja'o langsung tertawa
Karena, kapan de pernah menghargai?

Ja'o pukul mundur ke Bulan September
Waktu de datang bawa rayuan seember
Belum apa-apa de su umbar
Cinta, de koar-koar

De belum tahu ja'o tapi su bilang cinta
Ja'o belum tahu de tapi layani de pung cinta
De sadar de pung cinta itu palsu
Dan, ja'o tahu

De pung irama macam orang menari gawi
Ada hentakan ke bumi, ada tarikan kaki kembali
De muncul, de hilang, macam orang belajar berenang
Ja'o tahu, tir lama de pasti menghilang

Ja'o pukul mundur ke Bulan November
Waktu de 'telanjangi' de pung ego
Aduh sayang e, de macam anak kober
De pikir de su paling jago

He, ja'o kastau e ...
Ko bukan apa-apa
Duduk diam di situ e ...
Belajar jadi manusia

Karena, cuma manusia yang bikin cinta bukan untuk main-main.

Aiah ...



Cheers.

Thursday, December 12, 2019

Gempa 12-12-92 Mengajarkan Kami Tentang Evakuasi


Gempa 12-12-92 Mengajarkan Kami Tentang Evakuasi. Sebelumnya saya mau menjelaskan, lagi, kenapa akhir-akhir ini sering banget tidak update pos di blog. Selain karena kesibukan yang maha tinggi, Selasa kemarin saya mendadak sakit. Serangan itu begitu mendadak, saat sedang berada di Ruangan Rektorat, tubuh seperti ditiban langit. Anehnya, ketika sudah terkapar di kasur di rumah, tubuh saya meriang hebat tapi saya sama sekali tidak kedinginan. Itu kipas angin malah 'menghantam' diri ini tanpa belas kasih. Dududu. Sampai-sampai saya menulis di Facebook, jangan-jangan ini anomali cuaca karena panas yang luar biasa akibat 'banyaknya proyek pengerjaan jalan'? Dosa, memang, kalau curigation begitu. Tapi kalau kalian berada di Kota Ende, kalian pasti bakal memikirkan hal yang sama. Ini sudah menjadi pemikiran berjamaahnya kami. Haha.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita

Mari kembali ke judul.

12 Desember 1992, atau banyak yang menulisnya 12-12-92, tanggal cantik bagi siapapun yang ingin melepas masa lajang. Ada dua 12 di situ. Tapi siapa sangka tanggal itu menjadi tanggal yang tidak akan pernah kami lupakan seumur hidup. Hari itu saya pulang lebih awal dengan dua alasan. Pertama: ujian. Kedua: demam. Bapa (alm.) dan Kakak Toto Pharmantara (alm.) sedang bermain Nintendo, game Tetris. Karena mereka sedang menguasai Nintendo maka saya memilih tidur saja. Demam ini. Tidak berapa lama saya mendengar suara Mama baru saja pulang dari sekolah, Mama menegur Bapa dan Kakak Toto untuk shalat, lantas terdengar suara air wudhu di kamar mandi. Iya, kamar saya waktu itu dekat sama kamar mandi utama tempat ember wudhu (dikasih keran dan penyangga sehingga letaknya lebih tinggi) terletak.

Kalau perhitungan saya tidak meleset, Mama baru selesai rakaat ketiga begitu, lalu bumi bergoncang sangat hebat! 

Saya pernah menulis tentang gempa ini di dua pos. Jangan bingung, pos tahun 2006 posisi bahasa saya super alay. Saya pikir kalian bakal lebih paham membaca pos pada tahun 2018.


*aku panik... banged*

Kenapa aku panik? Karena AKU PERNAH MERASAKAN YANG NAMANYA GEMPA DENGAN SKALA 7 RICHTER, MAN!! Gimana ngeliat rumah tetangga rata ama tanah!! Gimana ngeliat orang mati tertimpa rumah mereka sendiri!! Gimana orang2 yang lagi mandi lari TELANJANG keluar kamar mandi dengan panik! Saat itu, 12 DESEMBER 1992, aku yang sedang demam tinggi gak bisa manja2 sama mamah karena keadaan genting banged, tauuu!

By Tuteh Sunday, May 28, 2006 10 komentar


Saya masih kelas 2 SMP. Baru pulang ujian. Tubuh panas (sakit). Tetapi ketika bumi bergoncang yang dapat saya lakukan hanyalah meloncat dari kasur berlarian membabi-buta ke luar rumah. Perasaan kacau-balau melihat orang-orang memukul panci berteriak "Kami latu! Kami latu!". Teriakan itu berarti "Kami ada! Kami ada!" dan ditujukan kepada 'penjaga' bumi agar bumi tidak 'dia' goncangkan.

By Tuteh Monday, August 13, 2018 0 Comments 5 komentar


Semua orang berhamburan ke luar rumah, termasuk Bapa dan Kakak Toto yang sedang asyik bertarung angka Tetris, dan melihat tetangga yaitu Nene Rae (alm.) memukul panci sambil berteriak "Kami latu!". Mamatua adalah penghuni terakhir yang keluar rumah. Mamatua menyelesaikan shalat Dzuhur-nya. Ah, Mamatua ... Menurut pengakuan Mamatua, di tengah kepanikan orang-orang di sekitar halaman rumah, saat sedang hendak menuruni tangga rumah, Abang Nanu Pharmantara mengulurkan tangan dan berkata, "Mari, Ma, pegang saya punya tangan!" Malamnya, saat cerita-cerita, baru Mamatua paham yang menolongnya turun tangga itu bukan Abang Nanu karena posisi si anak sulung sedang bersama isteri dan anaknya. Lantas, siapa? Entahlah.

Pada 12 Desember 1992, gempa berkekuatan 7,8 SR mengguncang Kabupaten Ende, Kabupaten Sikka, dan daerah sekitarnya seperti Kabupaten Ngada dan Kabupaten Flores Timur. Di Kabupaten Ende gempa tidak berpotensi tsunami, tapi di Kabupaten Sikka tsunami setinggi 30-an meter yang menenggelamkan Pulau Babi dan menghancurkan daerah tepi pantai (apalagi di Kabupaten Sikka itu pantainya landai tipikal pantai Utara). Keesokan harinya Kakak Toto yang bekerja di P.T. Telkom mengabari kami yang sedang berkumpul di teras rumah dengan perasaan cemas, bahwa CNN mengabarkan Pulau Babi tenggelam. Informasi hanya kami peroleh dari Kakak Toto karena listrik padam total - kalau gempa tersebut disiarkan pun kami tidak dapat menyalakan televisi. Betul-betul saya merasakan suasana yang begitu mencekam.

Rumah kami yang waktu itu bermaterial papan (bagian depan) dan tembok (bagian belakang) tidak rubuh. Meja pimpong dibuka dan dibentang di ruang tamu. Kompor-kompor dipindah ke teras sebagai dapur sementara. Kami melatih diri sendiri untuk:

1. Evakuasi selekasnya.
2. Mandi dan buang air besar selekasnya.

Evakuasi selekasnya: kami beramai-ramai tidur di ruang tamu agar mudah berlarian ke luar apabila terjadi gempa susulan, dan iyess gempa susulan terjadi terus-menerus bahkan sampai sebulan dua bulan. Setiap kali gempa susulan, Kakak Didi Pharmantara bakal berlari hingga ke jalan besar dengan wajah pucat pasi. Kata Mamatua, wajar saja, Mama sedang mengandung Kakak Didi saat bencana alam Gunung Ia meletus dulu. Hehe. 

Mandi dan buang air selekasnya: kami tentu tidak ingin menjadi korban, dan harus berupaya untuk menyelamatkan diri, salah satunya dengan tidak latihan olah vokal di kamar mandi dan membaca novel Wiro Sableng saat sedang buang air besar. Haha.

Dua atau tiga hari kemudian saya ijin pada Bapa untuk jalan-jalan keliling kompleks. Bapa mengijinkan tapi dengan syarat kalau terjadi gempa jauhi rumah atau bangunan apapun serta jauhi tiang listrik alias carilah lapangan terdekat. Noted. Miris sekali perasaan saya melihat rumah tetangga pada rubuh rata dengan tanah. Rumah Ibu Imam, ibudannya Mas Yoyok sekeluarga, atapnya menempel dengan tanah. Ya, Tuhan. Sungguh ... menyakitkan. Saya juga melihat tenda-tenda didirikan sebagai tempat berlindung masyarakat. Banyak tenda berdiri di halaman-halaman rumah. Banyak lelaki yang bekerja membersihkan puing-puing, mungkin masih ada barang yang bisa diselamatkan. Terutama pakaian, kasur, bantal, selimut. Maklum, tidur di tenda tidak sama dengan tidur di rumah. Udara dingin tentu sangat menusuk. Sama juga seperti kami sekeluarga yang tidur di ruang tamu dengan posisi pintu membuka lebar. Angin malam menjadi sahabat karib selama berbulan-bulan.

Bantuan mulai berdatangan. Ada yang dari pemerintah seperti pembagian selimut, mie instan, hingga pembagian air bersih. Ada yang dari kantornya Kakak Toto. Ada pula dari keluarga besar kami di Surabaya. Alhamdulillah ... mengingat toko-toko belum semuanya dibuka. Di mana kami bisa membeli sembako waktu itu? Sekeping kerupuk sangat berarti. Hehe. Tapi yang jelas, semua informasi tentang gempa ini kami peroleh dari Kakak Toto. Setiap hari ada saja informasi baru atau berita baru yang dibawa pulang oleh Kakak Toto.

Saya lupa, sebulan atau tiga bulan, kemudian anak sekolah sudah kembali masuk sekolah. Syarat dari sekolah adalah: memakai celana panjang atau celana selutut dan membawa tikar. Kami bersekolah di bawah pohon rindang di sekitar sekolah, SMPN 2 Ende. Asyik juga belajar outdoor. Tapi belajar outdoor kami bukan karena kurikulum melainkan karena force majeur. Satu pelajaran yang paling saya ingat saat belajar outdoor adalah Klitika, pelajaran Bahasa Indonesia, oleh Ibu Siti.

Tapi ... di manakah Petrus?

Ini pertanyaan sejak hari pertama gempa mengguncang. Petrus adalah anak dari suatu desa yang tinggal bersama kami. Sejak hari gempa, dia menghilang. Kata Bapa, kemungkinan Petrus pulang ke desanya bertemu orangtua. Tapi, bukankah banyak kendaraan umum yang tidak beroperasi? Seminggu kemudian pertanyaan kami terjawab. Petrus kembali ke rumah sambil membawa sekarung sayuran dan seekor ayam. Dengan wajah lugunya dia bercerita bahwa berjalan kaki dari Ende ke desanya (sekitar 20 kilometer) memang melelahkan. Kadang dia berlari agar lekas tiba. Dia kuatir pada kedua orangtuanya. Alhamdulillah orangtuanya baik-baik saja. Kondisi mereka di desa jauh lebih baik karena untuk urusan makan-minum selalu ada: kebun dan sumber mata air. Jangan-jangan inilah yang menyebabkan saya punya impian tinggal di desa? Haha.

Baca Juga: 5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik

Gempa mengajarkan kami banyak hal. Salah satunya tentang evakuasi. Di rumah, sejak Mamatua stroke (tahun 2009) dan sejak sering terjadi gempa-gempa kecil, kami belajar mengevakuasi Mamatua. Instruksi dan latihannya lancar jaya. Tetapi suatu malam saat hujan dan gempa kecil terjadi, pada prakteknya begitu sulit karena Mamatua kan juga bertubuh besar dan posisi saat itu belum kami pakaikan kursi roda. Hehe. Indra dan Thika sudah berupaya membimbing Mamatua keluar rumah, kena hujan, eh gempanya berhenti. Latihan evakuasi akan menjadi lebih mudah, kini, karena kami tinggal mengangkat Mamatua ke kursi roda dan mendorongnya ke luar rumah. Tapi yang jelas, selalu berdoa memohon perlindungan Allah SWT.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Pernah kah kalian mengalaminya juga? Pernahkah gempa bumi terjadi di daerah kalian? Bagi tahu di komen.

Mengenang 27 tahun gempa Flores.

#KamisLegit



Cheers.

Monday, December 09, 2019

Sinyal Itu Sudah Ada Namun Awam Tak Pandai Membacanya


Sinyal Itu Sudah Ada Namun Awam Tak Pandai Membacanya. Suatu saat mendadak saya menulis pos berjudul Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita. Meskipun tujuan utama tulisan itu terpanah pada ranah asmara namun ternyata tulisan itu berbentur dengan semua ranah kehidupan umat manusia. Saya sendiri terkejut ketika paragraf pertama mulai tertera kata 'bunga'. Bunga yang dicuri berikut wadahnya, tapi kemudian diganti dengan bunga lainnya. Bagian akhir dari tulisan itu adalah tentang mencoba-ikhlas alih-alih menulis tentang keihlasan. Karena, ikhlas merupakan ilmu paling tinggi dan saya masih belum bisa disebut ikhlas. Mencoba iklhas itu mudah dilakukan. Percayalah. Jauh lebih mudah dari ikhlas.


Kembali pada persoalan sesuatu yang bukan milik kita, yang kesemuanya adalah milik Allah SWT, manusia bisa apa? Manusia hanyalah penghuni semesta raya, bagian kecil dari ciptaanNya, yang bahkan menembus galaksi lain pun masih sulit dilakukan, kecuali di dalam filem. Kadang-kadang jadi kangen alien, haha. Manusia bahkan kadang sulit membaca sinyal kehidupannya sendiri. Setelah kejadian baru ngeh bahwa oooh ternyata kejadian ini pertandanya itu. Kalian sering bilang begitu? Selamat, kalian tidak sendirian. Ada saya juga haha.

Kalau saya menceritakan sinyal yang satu ini, kalian pasti bakal bilang, ah cuma mengaitkan saja lu, Teh. Tapi kalau saya pikir-pikir, sinyal ini memang merupakan sesuatu yang harusnya bisa saya baca sejak September 2019 kemarin, hanya saja karena saya ini awam, mana bisa mengejawantahkannya. Beuuuugh bahasanya. Andai saya punya indera ke-enam macam Cecilia Theresiana atau Naomi, kan asyik.

Sinyal yang saya maksudkan ini berkaitan dengan tugas. Percayakah kalian bahwa setiap manusia yang mengembara di dunia ini diberikan tugasnya masing-masing oleh Allah SWT? Tugas setiap manusia itu ibarat DNA, tidak sama pada setiap manusia. Misalnya tugas Claudio Valentino Dandut, adik angkat saya itu, adalah menjadi musuh bebuyutan saya. Setiap hari kerjaan kami di WA itu berantem melulu, curhat melulu, bagi permen melulu (saya), minta di-download-in video melulu (saya), bangunin saya setiap Senin pukul 05.30 Wita (dia), dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain. Ada pula Mas Yoyok Purnomo, yang tugasnya adalah menelan kejengkelan demi kejengkelan gara-gara tingkah resek saya.

Sama juga, sebagai manusia saya juga diberikan tugas oleh Allah SWT. Kalian tahu konsep sebuah tugas kan? Melaksanakan tugas artinya meninggalkan hal-hal lain yang bakal mengganggu tugas itu. Saya percaya bahwa tugas saya di dunia saat ini adalah untuk menjaga Mama dan dua keponakan yang tinggal bersama kami di Pohon Tua. Tugas itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya apabila ingin mendapat nilai menuju-sempurna. Tugas itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Oleh karena itu, ijinkan saya membagi catatan ini. Catatan yang saya bikin dengan segenap jiwa (ini bahasanya kayak orang bakal pergi perang).

Catatan 8 Desember 2019

Tumpeng nasi kuning dengan potongan-potongan ayam bakar, telur, tahu tempe, jumputan urap, dan aneka topping yang mengitari tumpeng itu, sudah terbayang di depan mata saya sejak Bulan November 2019. Pun sudah terbayang pula betapa lebar tawanya kalau cake ulang tahun berbentuk Ka'bah atau Silverqueen itu muncul dengan lilin menyala minta ditiup. Ah, beliau juga pasti bakal memeluk hadiah daster (pakaian kesukaannya) sambil mengelus si daster dengan gembira. Tapi saya tahu, kebahagiaan terbesarnya adalah dikelilingi oleh anak, cucu, dan cece. Mana pula dua cecenya, si Rara dan Syiva, pasti berulah konyol memantik tawa sekeluarga besar.

Bahkan, saya pernah menulis status, butuh pacar sewaan sehari saja pada tanggal 8 Desember 2019 untuk menghindari pertanyaan 'itu' dari keluarga besar yang Insha Allah selalu kumpul di Pohon Tua (nama rumah kami) pada tanggal kelahiran beliau. Saya ingin 8 Desember 2019 menjadi momen terbaik kami semua.

Baru-baru ini saya menulis tentang Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita. Tulisan yang saya ingat, saat 30 November 2019 beliau kehilangan satu-satunya indera penglihatan, setelah indera penglihatan yang lain direnggut pada tahun 2016 silam. Tulisan yang baru saya sadari bahwa sudah sejauh itu saya paham konsep semesta. Kita tidak bisa mempertahankan apapun yang bukan milik kita. Karena semuanya adalah milik Allah SWT. Termasuk penglihatan.

30 November 2019 beliau kehilangan penglihatannya. Sedih, iya. Tapi kami sekeluarga harus bisa menerimanya. Saya pribadi memandang ini sebagai apa yang bukan hak milik. Pasrah? Tidak. Kami sekeluarga tentu berupaya demi beliau yang kami panggil Mama, Amak, Mamatua, Oma. Sekecil apapun kemungkinan pulih, manusia tidak boleh berhenti berikhtiar dan berdoa.

Beliau memang kehilangan penglihatannya. Namun, beliau dianugerahi begitu banyak mata: anak, cucu, cece. Bahkan orang-orang lainnya. Saya menulis: she can't see us. Tapi adek saya Tino menulis: she can't see you all with her eyes, but heart do. Demikian pula ... Beliau mampu merasakan 'mata' itu lewat sentuhan dan elusan pada pundaknya. Juga suara yang bergema saat berbicara.

Melangkahkan terus, Ma. Bahkan seratus ribu langkah lagi. Jangan pernah takut jatuh. Karena, Mama punya banyak mata yang menuntun. Karena, Mama punya banyak tangan yang menopang. Melangkahlah terus, Ma. Meskipun tidak akan sama persis dengan saat Mama melatih kami berjalan dulu, tapi kami akan selalu ada untuk Mama. Menuntun dan menopang. Dan, Allah SWT tentu akan selalu melindungi Mama.

Life is good.

Isn't it?

Baca Juga: Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae

Catatan di atas juga sudah saya pos di Facebook dan share di WAG keluarga. Keponakan saya Mbak In, dan sahabat rasa saudari saya si Mila Wolo, bahkan sudah lebih dulu mengeposnya di media sosial mereka. Ya, di Facebook. Mungkin banyak yang bakal bilang saya lebay. Tapi percayalah, menjauhnya sekian banyak prince-not-charming dalam waktu berdekatan, tsaaaaaah, saya anggap sebagai sinyal yang tidak mampu dibaca oleh saya sebagai awam. Saya percaya, tugas saya masihlah yang saat ini diberikan oleh Allah SWT dan itu merupakan anugerah. Jadi, itu tidak saya anggap sebagai tugas saja, melainkan sebagai anugerah.

Semoga kalian paham hahaha.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Wednesday, December 04, 2019

Ruang Tamu Pohon Tua Kini Punya Galeri Mini Sketsa VK


Ruang Tamu Pohon Tua Kini Punya Galeri Mini Sketsa VK. Menulis VK rasanya seperti menulis CK, atau LV. Perasaan itu tidak salah, karena VK merupakan salah seorang artist yang sudah lama malang-melintang di dunia sketsa. VK, Violin Kerong. Saya pernah menulisnya di pos berjudul Violin Kerong Seorang Pelukis Sketsa Wajah Terbaik. Silahkan dibaca. Menulis VK sebagai pelukis sketsa terbaik bukan karena dia pernah mensketsa wajah saya gratis, haha, tapi karena ketika mendengar ceritanya berproses menghasilkan suatu sketsa, itu luar biasa. Hei ... ternyata bukan hanya make up artist saja yang membutuhkan beragam kuas, seorang sketch artist pun demikian adanya. Bahkan pelukis sketsa mempunya lebih banyak pensil alis ketimbang make up artist.

Baca Juga: Taman DIY di SMPSK Kota Goa di Kecamatan Boawae

Suatu hari Viol, atau lebih sering disapa Cio, bertanya tempat atau lokasi yang bisa dipakai untuk memajang hasil sketsanya. Kalian mungkin bertanya, bukankah Viol bisa memajang semua hasil sketsa itu di rumahnya sendiri? Ada kisah yang belum kalian ketahui, tentang kebakaran yang menghanguskan rumahnya, termasuk galeri mini miliknya. Trauma itu pasti. Tapi alhamdulillah Viol bangkit dan terus berkarya menghasilkan sketsa-sketsa terbaik. Dan sketsa wajah saya adalah sketsa pertama yang dia bikin setelah bangkit. Kalau tidak salah sih begitu. Hahahah.

Back to that question. Maka saya menawarkan ruang tamu Pohon Tua sebagai galeri mininya. Banyak dinding yang masih kosong dan bisa dimanfaatkan untuk memajang hasil sketsa Viol. Why not kan? Maka pada suatu sore muncullah Viol membawa sketsa-sketsa yang kebanyakan masih subyek wajahnya sendiri. Saya meminta bantuan Eda Tuke, suaminya Mamasia, untuk memasang paku-paku lantas memajang sketsa-sketsa itu.


Terakhir, yang saya tahu, selain pesanan sketsa wajah Mamanya Ross, teman kantor, untuk ultah Mamanya itu, Viol membikin sketsa Harley Quinn. Margot Robbie. Hwah! Betapa senangnya saya melihat itu. Artinya, my baby love Joker juga harus ada donk. Aduhai, tidak sabar. Haha. Mungkin setelah Joker, bolehlah Viol mengsketsa Lucifer dari filem Constantine, si Peter Stomare! Gila lu, Teh.

Yang jelas saya bangga bisa mengenal seorang Viol yang penuh talenta. Oh ya, in case you didn't know, Viol merupakan dosen pada Prodi Arsitektur sehingga jelas nyeni kan ya dia. Dia juga dikenal sebagai penyanyi alto pada Spiritus Sanctus Choir yang kesohor itu. Viol juga dikenal sebagai orang yang begitu banyak menghasilkan kerajinan tangan. Lebih banyak dari saya! Bahkan, kerajinan tangannya itu kelasnya pro banget dibandingkan saya. Haha. Tempat tisu, aneka boneka gemesin (nanti saya ngepos soal boneka-boneka ini juga), bingkai, dan lain sebagainya. Bukan cuma Viol, kakaknya juga jago! Keluarga mereka memang keluarga nyeni.

Tadi di atas sudah tulis 'terakhir' ya haha, ya sudah ... semoga bermanfaat dan siapa tahu kalian mau disketsa juga. Per person 250K only.

#RabuDIY



Cheers.

Tuesday, December 03, 2019

Edmodo Salah Satu E-Learning Yang Mirip Media Sosial


Edmodo Salah Satu E-Learning Yang Mirip Media Sosial. Mungkin saya salah menulis judul? Mungkinkah Edmodo memang berbasis media sosial seperti Facebook? Entah. Yang jelas hari ini saya bakal bercerita tentang aplikasi/layanan yang satu ini. Semua bermula saat saya meliput kegiatan knowledge service yang merupakan salah satu mata acara dari kegiatan English Week oleh Prodi Sastra Inggris pada Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Flores (Uniflor) di Kelurahan Natanage, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Secara umum saya sudah bercerita tentang kegiatan tersebut dan bisa kalian baca pada pos berjudul: Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae.

Baca Juga: Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog

Lalu, apa itu Edmodo dan mengapa Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra yaitu Bapak Marianus Roni, S.S., M.App.Ling. menyampaikan materi tentang Edmodo? Untuk itu kita harus mulai dengan e-learning.

E-Learning, Perlukah?


E-learning, menurut saya, merupakan terobosan dalam dunia pendidikan dimana jarak dan waktu dapat diakali oleh para pendidik terhadap peserta didik. Waktu masih Sekolah Dasar di SDI Ende 11, Kakak Toto Pharmantara (alm.) pernah berkata bahwa di masa depan saya tidak membutuhkan buku untuk mencatat pelajaran. Semua bisa dicatat di komputer menggunakan Lotus 123. Waktu itu memang belum ada MS Office dengan aplikasi pengolah kata semacam Word. Itu bagus! Menurut saya waktu itu, karena bakal mengurangi penggunaan kertas alias paperless. Artinya, pohon-pohon di hutan tidak terus-menerus menjadi obyek penderita. Masa demi masa, kemudian, setelah adanya internet, dunia mengenal e-learning ini.

Dalam pemahaman saya, e-learning artinya belajar secara elektronik. E adalah electronic atau elektronik, learning artinya (sedang) belajar. Apabila e-mail diterjemahkan sebagai surat elektronik (surel) maka e-learning dapat diterjemahkan sebagai berel (belajar elektronik). Itu menurut saya pribadi. Haha. Dalam pengertian yang lebih luas e-learning berarti belajar menggunakan media elektronik yang terhubung dengan internet. Artinya harus ada perangkatnya seperti laptop, komputer/desktop, atau telepon genggam. Dan harus ada koneksi internetnya. Tanpa internet e-learning tidak mungkin terjadi karena konsep dasar e-learning adalah belajar online.

Aplikasi pertama e-learning yang saya tahu itu bernama Google Classroom. Mengetahuinya dari kegiatan tentang belajar online dan bikin blog serta vlog oleh Fakultas Teknologi Informasi Uniflor kepada Prodi Sejarah pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Uniflor. Ternyata beberapa dosen Uniflor seperti Bapak Deni Wolo pun juga sudah menggunakan Google Classroom apabila beliau sedang bertugas di luar kota sementara ada mata kuliah yang harus dipenuhi. Lalu saya mendengar aplikasi Moodle. Saya tahu tentang Edmodo dari kegiatan knowledge service dari kegiatan English Week itu. Lucunya, paling akhir saya baru tahu soal SPADA yang dikeluarkan oleh Belmawa Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Haha.

Perlukah e-learning? Berdasarkan SPADA dan peraturan yang menjadi dasar hukumnya, maka e-learning yang disebut juga hybrid learning itu perlu. Melalui SPADA terjadi sistem dan/atau pemerataan pembelajaran secara nasional. Maksudnya dosen tidak saja mengajar mahasiswa pada perguruan tinggi/universitasnya saja tetapi juga mengajar mahasiswa dari perguruan tinggi/universitas lain dari seluruh Indonesia melalui materi kuliah yang diunggah di SPADA. Mengenai SPADA kalian bisa mencari tahu lebih lengkap di situs milik Belmawa Kemenristekdikti.

Well, apa dan bagaimana Edmodo itu?

Edmodo


Dari situs Edmodo dan Wikipedia saya menemukan banyak informasi. Edmodo adalah perusahaan teknologi pendidikan yang menawarkan alat komunikasi, kolaborasi, dan pembinaan untuk guru dan sekolah K-12. Jaringan Edmodo memungkinkan guru untuk berbagi konten, mendistribusikan kuis, tugas, dan mengelola komunitas dengan siswa, kolega, dan orangtua. Pada tahun 2013 Edmodo dimasukkan ke dalam daftar "Aplikasi Teratas Untuk Guru" oleh PC Magazine. Di tahun yang sama Edmodo mengakuisisi startup Root-1 dalam upaya untuk menjadi toko aplikasi untuk pendidikan. Vibhu Mittal, Co-founder dan CEL Root-1 menjadi CEO Edmodo pada tahun berikutnya.

Pada tahun 2014, Edmodo meluncurkan Snapshot, seperangkat alat penilaian untuk mengukur kemajuan siswa pada standar pendidikan. Edtech digest memberikan penghargaan untuk Edmodo Snapshot dalam Cool Tool Award sebagai Solusi Penilaian Terbaik. Perusahaan ini telah bermitra dengan dua penerbit besar di Inggris, Oxford University Press dan Cambridge University Press untuk menyediakan akses ke konten pendidikan di Edmodo Platform dan membawa Edmodo Snapshot ke Inggris.

Edmodo sendiri didirikan oleh Nic Borg dan Jeff O'Hara pada tahun 2008. Dan saya baru mengetahuinya pada tahun 2019. Pernah dengar, tapi tidak terlalu menanggapinya secara serius. Edmodo didukung oleh Index Ventures, Benchmark, Greylock Partners, Learn Capital, New Enterprise Associates, Union Square Ventures, Glynn Capital Management, Tenaya Capital, SingTel Innov8, dan KDDI. Pada Agustus 2016 Edmodo diklaim memiliki lebih dari 66.900.000 pengguna di seluruh dunia. It's a wow kan? Dan pada bulan Maret 2015, Noodle menyebut Edmodo sebagai salah satu dari "32 Alat Pendidikan Daring Paling Inovatif".

Oke, itu semua informasi yang berhasil saya kumpulkan/rangkum dari dua situs yaitu situs milik Edmodo sendiri dan dari Wikipedia.

Pada kegiatan knowledge service di English Week, Pak Roni menampilkan Edmodo melalui tayangan infocus. Pada layar itu jelas sekali saya melihat Edmodo yang mirip dengan tampilan Facebook. Makanya saya menulis judul seperti di atas, karena tampilannya yang mirip media sosial. Tapi, media sosial yang satu ini bersifat privat. Interaksi dalam sebuah status hanya terjadi antara pendidik dengan peserta didik yang telah terkoneksi.

Pada kesempatan itu Pak Roni tidak saja menyampaikan materi tentang Edmodo tetapi peserta langsung mempraktekkannya juga. Peserta yang terdiri dari perwakilan guru-guru dari SMP dan SMA di Kecamatan Boawae memasang aplikasi Edmodo pada telepon genggam mereka sedangkan mater dari Pak Roni terpampang jelas di layar infocus, dimana Pak Roni menggunakan Edmodo versi desktop. Belajar menggunakan Edmodo asyik juga. Pak Roni memberikan tugas atau pertanyaan dan peserta yang sudah terkoneksi dengan akunnya kemudian mengirimkan jawaban. Akan terlihat peserta yang sudah terkoneksi dalam 'kelas' Pak Roni tapi tidak mengerjakan tugas. Hwah, transparan sekali kan? Bahkan, Pak Roni dapat memberikan nilai dan komentar dari tugas yang dikerjakan/dijawab tersebut.

Jadi jelas, Edmodo telah menjadi sebuah 'ruang kelas' tempat pendidik dan peserta didik berinteraksi.

Kemudian, ada pertanyaan yang butuh jawaban langsung. Entah dengan guru, tetapi setiap dosen diwajibkan untuk mengisi daftar hadir peserta didik (mahasiswa) dalam BAD. BAD biasanya dicetak oleh prodi kemudian setelah diisi dikembalikan ke prodi. Bagaimana jika proses belajar mengajar terjadi di Edmodo?

Absensi / BAD


Ketika saya mewawancarai Dekan Fakultas Teknologi Informasi Bapak Ferdinandus Lidang Witi, S.E., M.Kom. tentang SPADA yang disosialisasikan pada dosen-dosen Uniflor, beliau mengatakan bahwa BAD dari sistem belajar atau kelas online dapat dilakukan dengan screenshoot. Dapat dicetak dan diserahkan kepada pihak prodi.

Ah, I see.

Dunia sudah semakin canggih, kenapa harus mempersulit segala sesuatunya? Kalian setuju? Komen di bawah. Hehe.

⇜⇝

Apa yang bisa saya simpulkan dari pos hari ini? Paling pertama: bahwa Kakak Toto (alm.) benar. Paperless memang telah terjadi meskipun belum pada semua lini kehidupan manusia. Kedua: bahwa e-learning merupakan sistem belajar yang baik diterapkan di sekolah maupun universitas; tidak saja karena dosen yang bersangkutan sedang berhalangan untuk hadir di kelas tetapi merupakan salah satu wujud nyata dari Industri 4.0. dimana peserta didik pun harus mampu mengenal tentang sistem pembelajaran seperti ini. Mahasiswa tidak boleh mengenal internet dengan Facebook saja sebagai tujuan utama *setelah menulis ini, dijumroh mahasiswa, hahahah*. Ketiga: dari sisi kepraktisan jelas e-learning itu se-su-a-tu.

Baca Juga: Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android

Tetapi, meskipun saya setuju dengan e-learning, dengan Edmodo misalnya, tetap saja tatap muka itu penting. Saya memang bukan guru apalagi dosen, saya hanyalah seorang manusia yang terlahir dari dua orang guru-besar-pribadi dan bergaul di tengah para pendidik (dosen). Tetapi, ijinkan saya menulis bahwa belajar konvensional, tatap muka di dalam kelas, merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan karena berhubungan dengan psikologi. Peserta didik datang dari ragam latar belakang. Pendidik perlu untuk tahu tentang psikologi peserta didik agar tahu bagaimana melakukan pendekatan (persuasif) bila terjadi sesuatu. Misalnya peserta didik mendadak malas belajar, jarang masuk kelas, atau peserta didik mungkin sedang depresi. Pendidik punya tugas besar, selain mengajar ilmu akademik, untuk memahami kondisi psikis peserta didik agar mampu menciptakan peserta didik yang berkarakter (baik).

Dan untuk mengenal peserta didik lebih dekat, Edmodo tidak bisa menjadi medianya. Ruang kelas lah medianya. Kalau kalian tidak setuju, komen di bawah, heheeh, tapi yang sopan ya!

Terakhir, semoga pos ini bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Monday, December 02, 2019

Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share


Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share. Sudah sering saya tulis, emoh alias berhenti untuk bergabung sama komunitas manapun juga. Saatnya solo karir. Komunitas terakhir yang saya ikuti, termasuk founder, adalah Stand Up Comedy Endenesia. Ternyata jiwa saya memang belum bisa sepenuhnya terurai dari komunitas. Terus, kapan membina komunitas bernama rumah tangga, Teh? Ketika diajak untuk membentuk komunitas baru, saya fine-fine saja, bahkan sangat antusias. Ya, selama tujuan komunitas itu baik, dan rata-rata semua komunitas bertujuan baik, kenapa tidak? Hari ini saya mau bercerita tentang komunitas baru yang satu ini. Namanya Exotic NTT Community. Jargonnya: Travel. Explore. Share.

Baca Juga: Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae

Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa saya mau bergabung bersama komunitas dengan fokus pada wisata? Bukannya saya sendiri sudah punya blog niche traveling/wisata? Kalian kepo kan? Marilah dibaca. Karena membaca adalah makanan intelektualitas. Ha ha ha ha *ditabok dinosaurus*.

House of Creative People


Suatu malam saya dihubungi David Mozzar. Konon David, Oedin, dan Arand bakal datang ke  Pohon Tua (rumah saya). Ada sesuatu yang harus dibahas. Ketika kami sedang saling tatap penuh cinta di ruang tamu, haha, tersampaikanlah maksud kedatangan mereka. Intinya: kami membentuk komunitas yang dapat mewadahi orang-orang kreatif baik orang-orang yang sedang berjuang maupun yang sebenarnya sudah expert di bidangnya masing-masing. Why not? Pikir saya. Ini bakal keren sekali. Ada satu wadah besar yang bakal menampung semuanya. Sub-sub yang bakal berada dalam wadah itu datang dari lini videografi, fotografi, mural dan sketsa, MC, media and digital issues, stand up comedy, dan lain sebagainya.

Nama yang dipilih, dan dirasa pantas, untuk komunitas tersebut adalah House of Creative People. Alasannya? Kalian tentu sudah tahu. Kami mulai merancang ini itu, termasuk orang-orang yang direkomendasikan untuk duduk pada sub-sub dimaksud. Tetapi dalam perjalanan nama itu kemudian harus diganti sesuai dengan fokus komunitas. Karena, House of Creative People itu too large. Eh, pokoknya begitulah. Sehingga diperkecil lah komunitas itu menjadi Exotic NTT Community. Sebuah komunitas dengan lokus pada wisata. Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk bergerak di lini lainnya sesuai tujuan awal House of Creative People. Insha Allah.


Sampai di sini, kita sepemahaman ya, bahwa House of Creative People telah berganti menjadi Exotic NTT Community. Sebuah nama yang untuk menetapkannya membutuhkan waktu berjam-jam, diskusi dan debat ringan, termasuk untuk jargonnya. Travel. Explore. Share. Dan empat sub yang ditetapkan adalah Tim Kreatif, Videografi, Fotografi, dan Publikasi.

Exotic NTT Community


Exotic NTT Community baru berumur sekitar dua mingguan. Sambil menyelesaikan beberapa perkara, kami memulai geliat komunitas melalui berbagai media sosial. Youtube, IG, Twitter, dan Facebook. Tentu saja. Kami memulai dengan caption berikut ini:

Tergerak dari keinginan untuk mempromosikan lini pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur, serta menggeliatnya Pemerintah Provinsi NTT dalam meningkatkan kualitas dan promosi pariwisata, sekelompok anak muda yang berbasis di Kabupaten Ende, Pulau Flores, membentuk komunitas. Komunitas tersebut bernama Exotic NTT Community. Geliat pariwisata ibarat birahi yang tak terbendung dan membutuhkan lebih banyak pelaku pariwisata, salah satunya Exotic NTT Community, dengan lokus memperkenalkan dan mempromosikannya pada dunia.

Semesta wisata NTT kaya raya. Wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, wisata rohani, wisata kuliner, wisata bahari, wisata buatan. Tak hanya dua ikon kesohor Danau Kelimutu dan Pulau Komodo saja, masih banyak yang harus diketahui dunia dari Provinsi NTT. Desa Nangadhero di Kabupaten Nagekeo yang terkenal dengan wisata kuliner (seafood), Neren Watotena di Pulau Adonara yang berpasir putih memesona, Bukit Wairinding di tanah Sumba, wisata religi Semana Santa di Kabupaten Flores Timur, padang sabana Gunung Mutis di Mollo Utara, hingga Alu Ndene kuliner khas Suku Ende yang legit.

Exotic NTT Community akan menghadirkan semuanya, dalam detail informasi yang dibutuhkan oleh penikmat wisata.

Ikuti Kami!

IG: @ExoticNTTCommunity
Twitter: @ExoticNTTCommunity

#ExoticNTTCommunity
#NTT
#Wisata
#Pariwisata

Selain itu kami memulai WAG yang menjadi semacam tempat diskusi untuk kegiatan-kegiatan komunitas selain di rumah saya atau di rumah member lainnya. Memangnya sudah ada kegiatannya? Iya dooonk. Mengunggah foto dan informasi ke media sosial merupakan kegiatan yang patut diapresiasi karena untuk melakukannya kami harus berdikusi panjang lebar terlebih dahulu tentang konten yang bersangkutan. Foto, tentu di luar video yang bakal tayang di Youtube.

Diskusi?

Iya.


Komunitas ini bukan dilandasi oleh keinginan untuk sekadar ikut-ikut ramai di lini pariwisata. Kami ingin lebih serius, bahkan bisa sampai detail akan sesuatu, misalnya detail ukiran pada rumah adat itu apa makna atau fisolofinya. Setiap kami juga gemar traveling dan mempunyai begitu banyak stok foto dari daerah pariwisata yang pernah dikunjungi. Oleh karena itu kami selalu melempar pertanyaan dasar: mau pos apa hari ini? See? Kami tidak asal-asalan, misalnya melihat foto bagus, langsung unggah ke media sosial. Pertanyaan dasar itu kemudian berlanjut pada sahutan: Ende, Nagekeo, TTS, Sumba, atau ...? Dari situ foto tentang daerah/kabupaten yang dipilih kemudian dilempar ke WAG. Tinggal pilih mau yang mana, diberi tanda air, dan caption disiapkan dengan, insha Allah, sebaik-baiknya.

Tidak ada yang main-main di Exotic NTT Community. Setiap orang punya perannya masing-masing dan berupaya semaksimal mungkin memberikan yang terbaik pada khalayak. Sehingga kami tidak terburu-buru, tidak ingin langsung besar, tetapi ingin melewati proses. Nikmat kan? Hehe.

Untuk saat ini kalian bisa menikmati foto dan informasi pariwisata NTT melalui akun IG, Twitter, dan Facebook. Youtube, terutama kontennya, sedang dipersiapkan, baru tampil video intro saja. Selain berlandaskan pada pengalaman traveling masing-masing member, kami juga telah membikin program kerja. Untuk program kerja, setiap sub yaitu Videografi, Fotografi, dan Publikasi, harus berkomunikasi dengan satu sub lagi yang bernama Tim Kreatif. Program kerja komunitas ini tidak melulu tentang apa yang bakal dipos di media sosial saja melainkan juga tentang mau ke mana kita dalam kaitannya memproduksi konten baru. Ah, membayangkannya saja sudah bikin saya bahagia. Haha.


Doakan, rencana-rencana ke depan, jauh lebih besar, dapat terwujud. Karena, komunitas ini sudah kami anggap sebagai investasi jangka panjang yang perlu dirawat. Semua member merupakan orang-orang hebat, kecuali saya. Saya tidak hebat, tapi biasa saja, hahaha. Dan orang-orang hebat dapat bersatu mewujudkan harapan apabila ego disingkirkan jauh-jauh. Saya pikir kalian juga setuju. Ego itu kadang mampu menghacurkan. Termasuk menghancurkan hubungan asmara. Eaaaaa. Haha.

Travel. Explore. Share.


Secara pribadi saya suka jargon yang satu ini. Sempat berpikir, kenapa dulu waktu saya membikin blog travel, tidak memakai jargon ini saja ya? Hihi. Ini jargon: singkat, padat, jelas, tersampaikan. Seperti veni, vidi, vici, dalam makna positif. Kita tahu kan veni, vidi, vici itu jargon perangnya Julius Caesar, jenderal dan konsul Romawi pada tahun 47 SM. Julius Caesar menggunakan kalimat ini dalam pesannya kepada senat Romawi menggambarkan kemenangannya atas Pharnaces II dari Pontus dalam pertempuran Zela. Tapi, waktu saya mencetus travel, explore, share, tidak ada keinginan untuk mengalahkan siapapun dalam konteks negatif dan/atau persaingan, tetapi murni hanya ingin mengalahkan rasa ingin tahu orang lain tentang pariwisata NTT.

⇜⇝

Bagi kalian semua, bos-bos tercinta yang senantiasa membaca tulisan saya di blog ini, mari dukung Exotic NTT Community. Ikuti kami di Youtube, Instagram, Twitter, Facebook.


Baca Juga: Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Terakhir, mari sama-sama dukung semua pihak yang mempromosikan pariwisata NTT dengan namanya masing-masing, dengan caranya masing-masing, karena semua itu bertujuan baik. Demi NTT tercinta.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.