Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Tuesday, January 21, 2020

Begini Cara Mengambil Foto/Video Status WA Teman Kita


Begini Cara Mengambil Foto/Video Status WA Teman Kita. WhatsApp (WA) merupakan salah satu aplikasi chat (mengobrol) yang paling saya andalkan saat ini baik untuk pekerjaan, berkomunitas, berteman, maupun pedekate. Berapa kali dalam sehari kita membuka aplikasi WhatsApp (WA)? Pasti sering! Saya pribadi tidak dapat menghitungnya. Karena, WA tidak saja dimanfaatkan untuk sekadar mengobrol melalui pesan teks tetapi juga dimanfaatkan untuk panggilan telepon dan video call. Bahkan, nomor regular saya khusus telepon dan SMS nyaris tidak berfungsi kecuali untuk mengisi paket data internet. Kebutuhan internet di luar rumah tentu saya tidak bisa mengandalkan We Land Before Time, nama jaringan Wi-Fi di rumah kami. Haha. Untuk keperluan sebulan, saya tetap mengisi paket data internet antara 50K sampai 100K.


Salah satu kegiatan yang paling sering saya lakukan ketika membuka WA adalah melihat status teman-teman: tulisan, foto, dan video. Tulisan dan foto tidak seberapa menarik perhatian saya karena biasa-biasa saja. Tetapi video, terutama video lucu, selalu membikin saya gemas pengen memasangnya juga di status WA. Video berdurasi 30 detik, sesuai kapasitas muatan status video di status WA, mampu membikin banyak orang tertawa. Bukankah itu baik? Hidup sudah susah, mari tertawa. Tertawa memang tidak mampu melunasi semua hutang, namun tertawa mampu menghibur perasaan bahwa hutang bisa dilupakan sejenak.

Cerita sedikit ... boleh?

Adalah Muksin, salah seorang teman WA, yang sering memasang video-video lucu di statusnya. Dan tentu, video-video itu membikin saya gemas. Pengen juga. Sekali dua saya meminta padanya. Iya, dia mengirimkan. Tetapi karena dia juga sibuk, tidak semua permintaan saya terpenuhi. Ya iyalah, siapa elu, Teh? Presiden? Kadang-kadang saya memburu video yang sama di Youtube, tapi tidak semua video lucu apalagi video lucu/kocak khas dari berbagai daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur diunggah ke Youtube oleh pemilik aslinya. Gigit jari.

Adalah saya, sebagai makhluk Tuhan yang paling seksi orang awam, benar-benar tidak tahu atau tidak pernah mau mencari tahu berbagai hal tentang WA. Sampai akhir November 2019 saya masih berusaha segera memencet tombol 'balas' dari status WA yang dilihat agar tidak lekas hilang. Yang baru saya tahu, kemudian, adalah bahwa status WA yang sudah kita lihat dari list status teman-teman, masih tetap bisa dilihat tetapi letaknya berpindah ke urutan paling bawah. Jadi, status itu tidak hilang sampai batas yang ditetapkan WA yaitu 24 jam. Koplak kan? Sayanya yang koplak. Tapi saya tidak malu, karena rasa-rasanya bukan hanya saja yang begini. Hihi *membela diri*.

Lantas, bagaimana caranya sehingga saya tahu cara mengambil foto/video status WA tanpa harus meminta pada yang memasangnya (di status mereka)?

Begini ...

Ehem ... *berdehem manja*.

Saya selalu punya kebiasaan membersihkan telepon genggam pakai deterjen, Xiaomi Redmi 5 Plus, agar media penyimpanan bisa lebih lega setiap kali saya hendak beraktivitas di luar rumah. Pertama: menghapus semua foto dan video di galeri yang sudah di-backup oleh Google Photos. Kedua: membersihkan segala sesuatunya menggunakan aplikasi Keamanan (pembersih, pindai virus, menghapus sampah, hingga meningkatkan kerja telepon genggam). Ketiga: mengintip File Manager untuk menghapus apa saja yang tidak penting diantaranya foto yang sudah terkirim ke teman (WA) hingga thumbnail. Dan ternyata, semua foto dan video status WA teman yang pernah saya lihat itu tersangkut di File Manager! Dan saya ... bisa menggunakannya, terutama video, untuk dipasang di status WA.

Kalau kalian bingung, coba lihat gambar-gambar berikut. Dengan catatan, ini adalah screen shoot dari telepon genggam saya sendiri, Xiaomi Redmi 5 Plus.

1. Buka File Manager


2. Pilih Mode Daftar/List


3. Pilih Folder WhatsApp


4. Pilih Media


5. Pilih Statuses


6. Daftar Status WA Milik Teman Yang Sudah Kita Lihat!


7. Contoh Saya Pilih Status Teman Yang Ini


8. Bagikan ke WA


10. Trada ...


Yang saya contohkan di atas adalah status berupa foto. Tapi cara yang sama berlaku juga untuk video. Pokoknya, untuk semua status WA teman yang sudah kita lihat, tersangkut di File Manager, menunggu untuk dibersihkan. Dengan cara ini, saya tidak perlu lagi menganggu aktivitas teman-teman dengan rengekan: minta videonya, boleh? Hehe.


Bagaimana dengan kalian kawan? Apakah kalian seawam saya, atau kalian justru sudah lebih dulu tahu, bagi tahu di komen. Bagi saya, berbagi itu tidak ada ruginya. Terutama tentang hal-hal yang sebelumnya tidak saya ketahui, kemudian saya tahu, rasanya gimanaaa begitu. Hehe. Dan ya, pada akhirnya saya tidak perlu merepotkan para pemilik status dengan rengekan meminta video mereka. Saya sudah tahu caranya *melet*.

#SelasaTekno



Cheers.

Monday, January 20, 2020

Antara Dua Patung Pahlawan dan Kerja Logika Manusia

Credit: Flores Pos

Antara Dua Patung Pahlawan dan Kerja Logika Manusia. Sebelumnya, saya mohon maaf, tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan/menghina pihak mana pun. Saya juga manusia yang tidak luput dari kesalahan. Sebagai manusia, adalah wajar jika kita selalu menganalisa segala sesuatunya. Misalnya, dalam menyelesaikan suatu perkara melalui sidang pengadilan, hakim bisa saja putusan hakim sesuai betul dengan amanat undang-undang, bisa lebih berat, bisa lebih ringan, bahkan bisa juga hakim menentukan putusan hukuman penjara seumur hidup. Kenapa hakim melakukannya? Bukan karena alasan kekuasaan kehakiman saja, melainkan karena adanya pertimbangan-pertimbangan oleh hakim. Pertimbangan ini yang kemudian dianalisa.

Baca Juga: Masih Banyak Cerita Menarik Dari Kabupaten Nagekeo

Hampir dua bulan terakhir Kabupaten Ende, khususnya Kota Ende sebagai Ibu Kota-nya, heboh dengan kemunculan dua patung pahlawan daerah. Yang pertama, patung Marilonga. Yang kedua, patung Baranoeri. Marilonga dan Baranoeri adalah dua pahlawan yang sangat kami hormati. Patung Marilonga berdiri gagah di entrance dari arah Timur menuju Kota Ende, tepatnya di tengah simpang empat: Jalan Gatot Soebroto, arah Ndona, arah Woloweku, dan arah Timur/Pasar Wolowona. Sedangkan patung Baranoeri berdiri gagah di entrance dari arah Barat menuju Kota Ende, tepatnya di antara Jalan Mahoni, arah Woloare, arah Kampung Kuraro, dan arah Timur/Pom Bensin Ndao. Kedua patung tersebut kemudian dirubuhkan karena hendak dibangun patung yang baru.

Berdasarkan informasi dari Pos Kupang, Dinas PU Kabupaten Ende mengalokasikan anggaran dari Dana Alokasi Umum (DAU) tahun 2019 sebesar Rp 227.482.000 untuk membangun patung Marilonga dan Baranoeri. Sebagai kontraktor pelaksana adalah CV. Elischa Jaya dengan jangka waktu kerja selama 128 hari. Informasi lebih lengkapnya, silahkan kalian baca pada tautan Pos Kupang di atas. Termasuk keterangan dari Kadis PU yaitu Bapak Frans Lewang.

Patung Marilonga kemudian selesai dibikin, dipasang pada tempatnya semula, dan dibuka penutupnya. Patung tersebut menjadi sorotan mata masyarakat Kabupaten Ende, terutama masyarakat Kota Ende. Media sosial, khususnya Facebook, kemudian heboh dengan keberadaan patung Marilonga yang baru ini. Heboh itu bisa terjadi karena dua sebab. Pertama: sesuai ekspetasi. Kedua: jauh dari ekspetasi. Ya, sebab kedua, yaitu jauh dari ekspetasi itulah yang menyebabkan masyarakat Kabupaten Ende heboh baik di media sosial maupun secara lisan. Protes itu ditujukan pada ukuran patung, bentuknya yang berbeda dari bentuk semula, hingga pakaian yang digunakan. Menurut masyarakat, Marilonga yang sebelumnya digambarkan sangat gagah melalui patung lama, kemudian menjadi sangat begitu itu pada patung baru.

Hal yang sama juga terjadi pada patung Baranoeri.

Ada kritikan.
Ada hujatan.
Ada hinaan.

Semua berbaur menjadi satu. 

Pemerintah kemudian mencabut, istilahnya sih memang begitu, patung Marilonga (yang baru) tersebut. Sedangkan patung Baranoeri (yang baru) masih terpasang/berdiri di tempatnya.

Menarik juga mengetahui perasaan masyarakat Kabupaten Ende yang diluapkan melalui Facebook baik status-status maupun komentar pada status-status tersebut. Kenapa menarik? Saya jadi tahu pemikiran banyak orang tentang Marilonga dan Baranoeri, dan betapa cintanya masyarakat Kabupaten Ende kepada dua pahlawan daerah tersebut. Saya pikir, sangat wajar jika masyarakat berkomentar pedas tentang patung pahlawan tersebut. Karena, pahlawan merupakan idola umat.

Hanya saja, saya kemudian otak saya menjadi sedikit eror ketika membaca tulisan bernada penghinaan terhadap pekerja seninya alias senimannya. Bagi saya pribadi, seniman tidak bisa disalahkan seratus persen atas kondisi yang terjadi ini. Secara logika, kita tahu bahwa pemberi order tentunya juga mempunyai konsep dasar bentuk patungnya, pakaiannya, ukurannya, dan lain sebagainya dari patung yang diorder. Secara logika, ketika seniman mengerjakan patung tersebut, dia pun tidak bisa berlari terlalu jauh dari konsep dasar yang disodorkan oleh pemberi order, termasuk anggaran biaya. Secara logika, masyarakat juga punya hak untuk memprotes. Jadi, kalau ditanya ini salah siapa? Bukan salah siapa-siapa.

Dari semua status dan komentar di Facebook, saya sangat tertarik dengan status Gusti Adi Tetiro tentang polemik patung para pahlawan daerah ini. Setidaknya apa yang ditulis Gusti membikin saya mengacung jempol. Inilah anggota masyarakat yang baik: mengkritik dan memberi saran sekaligus. Sama seperti Gusti, saya juga berpikir demikian.

Pertama: Kajian. Ini penting. Pahlawan, seperti yang saya tulis di atas, adalah idola umat. Lebih dari itu, pahlawan daerah melekat dengan budaya dan kebiasaannya pada masa mereka hidup. Sehingga, harusnya dilakukan kajiaan/telaah terlebih dahulu tentang fisik dari para pahlawan tersebut. Caranya? Kumpulkan keluarga/turunan dari kedua pahlawan baik Marilonga maupun Baranoeri, kumpulkan pula Sejarahwan dan Budayawan yang ada di Kabupaten Ende. Diskusikan. Rembug. Debat, bila perlu. Bagaimana rupa Marilonga dan Baranoeri? Bagaimana fisik mereka? Bagaimana pakaian mereka pada masa itu? Bagaimana seharusnya mereka digambarkan/diwujudkan pada sebuah patung? Kalau tahap kajian ini sudah dilewati, barulah bisa ditentukan wujud utuhnya kelak seperti apa.

Kedua: Penganggaran. Dalam hal ini, penganggaran harus dihitung sebaik-baiknya. Bukan saja menganggarkan bahan, tetapi senimannya. Kalian juga tentu tahu, profesional bekerja tanpa sekat untuk bisa menghasilkan mahakarya. 

Ketiga: Uji Kelayakan. Ini penting. Saya pernah menulis di Facebook, ketika kita membawa bahan kain ke penjahit tentu tubuh akan diukur terlebih dahulu oleh si penjahit, diskusi model bajunya, hingga jenis kancing yang mau dipakai. Ketika bajunya sudah jadi pun kita wajib mengetesnya terlebih dahulu, siapa tahu tubuh kita saat diukur dengan saat mengambil baju tersebut sudah berubah. Lebih kurus atau lebih gemuk, misalnya. Mengenai patung ini, tentu sebelum dipajang harus diuji/dilihat dulu oleh si pemberi order, apakah sudah sesuai atau belum. Kalau belum sesuai (pesanan), wajib memprotes dan meminta seniman mengubah ini itu.

Baca Juga: Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita

Menurut saya, tiga hal utama di atas yang perlu dilakukan terutama kajian. Untuk menghasilkan sesuatu sepenting patung pahlawan, kita memang harus melakukan kajian yang sangat mendalam. Ibarat melakukan penelitian untuk skripsi, tesis, dan disertasi. Butuh daftar pustaka sebanyak-banyaknya agar tulisan kita lebih bernas.

Apa yang saya tulis ini, sekali lagi, bukan bermaksud untuk mendiskreditkan pihak mana pun. Saya cuma ingin mengajak kita semua untuk lebih sedikit bijaksana dalam bersikap. Saya juga tidak ingin patung pahlawan kebanggaan saya diwujudkan seperti itu, tetapi setidaknya masih bisa menahan diri dan jempol untuk tidak menulis dengan terlalu keras dan pedas. Kita semua manusia, punya perasaan, sakit hati bisa timbul, terutama jika tulisan kita bernada menghina.

Semoga bermanfaat.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Thursday, January 16, 2020

Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati


Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati. Saya, kalian, mereka, mungkin sering fokus pada hasil akhir namun melupakan proses menuju hasil. Belakangan, saya sering menulis proses ini dengan proses kreatif. Menulis tentang proses kreatif, saya jadi ingat tentang perjalanan. Betapa gila-gilaannya saya tancap gas setiap kali ke luar kota karena pengen segera tiba di kota tujuan. Bahkan sering terlambat ngerem dan masuk lubang. Suatu kali, saya dan Deni Wolo sama-sama berangkat ke Kota Mbay untuk menyaksikan Festival Kuliner Nakeng Lebu (daging domba) di Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Deni tidak bisa tancap gas karena memang tidak mau dan tidak terbiasa. Mengikuti ritme perjalanan Deni, saya justru lebih menikmati perjalanan luar kota tersebut. Banyak yang bisa saya perhatikan, lebih detil, dan saya sadar bahwa menikmati perjalanan ya yang seperti ini.


Setiap hari saya melakukan dan/atau melewati proses kreatif seperti menulis konten blog, menyunting foto, membikin cover atau feature picture konten blog di Canva, sampai menulis novel. Kadang membikin produk #DIY. Dalam dunia pekerjaan pun demikian, karena untuk menghasilkan satu berita saya harus menulis berita, menggali fakta (agar faktual), hingga menyunting foto pelengkap berita. Dan ketika terjun dalam dunia Exotic NTT Community, saya sadar, proses kreatif itu lebih rajin terjadi baik dilakukan oleh saya maupun oleh teman-teman.


Suatu kali saya menyaksikan proses kreatif yang dilakukan oleh Oedin, videografer sekaligus tukang sunting video Exotic NTT Community. Waktu itu Oedin membikin konten untuk channel Youtube-nya. Kontennya berupa wawancara Oedin dengan salah seorang anggota Exotic NTT Community yang juga dikenal sebagai E.thical Young Entrepreneur Ende 2019 dan mahasiswi Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores (Uniflor). Namanya Natalia Mudamakin. Wawancara dan/atau proses kreatifnya dilakukan di ruang tamu Pohon Tua (rumah saya). Jujur, saya sangat menikmati proses kreatif itu berjalan terutama bagaimana cara Oedin menggali informasi dari narasumbernya. Jelas saya melihat, Oedin berusaha bisa memperoleh footage sebaik-baiknya untuk mempermudahkannya menyunting video tersebut.

Lain lagi cerita saat kami harus pergi ke beberapa tempat berbeda untuk syuting footage bekal video para Exoter (sebutan untuk anggota Exotic NTT Community).

Watu Zaja, Bukit Marsel


Di lokasi ini proses kreatif berlangsung meriah karena diikuti oleh lebih banyak Exoter. Saya, David, Oedin, Arand, Violin, dan Thika. Kami dibantu pula oleh Om Alan dari RCM. Proses kreatif berkaitan dengan kesabaran. Karena ada enam Exoter yang harus dibikin/syuting footage-nya masing-masing, tentu harus mengantri kan. Di sinilah saya menikmati proses kreatif itu. Sebagai videografer, Oedin mengarahkan satu per satu Exoter untuk bergaya sesuai renjananya masing-masing.


Saya, misalnya, footage-nya adalah membaca. Sebagai subyek, saya harus bisa lebih sabar bertahan pada satu aksi/gaya sampai Oedin benar-benar puas. Sumpah, suka sekali sama proses kreatif yang dilakukan oleh Exoter. Sungguh, saya banyak belajar untuk jauh lebih sadar dan memerhatikan detil yang sering terlewatkan. Contohnya, saya bisa lebih leluasa mengeksplor Watu Zaja ketika menunggu giliran disyuting.

Aigela: Check Point Tiga Kabupaten


Ini dia perjalanan gila-gilaan. Bayangkan saja, untuk dua footage Exoter kami harus pergi jauh-jauh ke Aigela sejarak sekitar 60 kilometer dari Kota Ende. Proses kreatif yang saya nikmati tidak saja ketika Oedin mengambil footage Yoyok dan Cahyadi. Lebih dari itu! Selain kehujanan, takut sama petir yang sahut-sahutan, saya disuguhi pemandangan seorang lelaki sedang melaksanakan shalat Dzuhur.



Subhanallah. Saya benar-benar jatuh cinta dengan lelaki di dalam foto. Sayangnya, karena hujan saya tidak sempat berkenalan dengannya, karena kami kemudian ngetem di lapak berbeda. Mungkin kalian bakal bertanya, memangnya saya berani berkenalan dengannya? Berani donk! Untuk lelaki seperti itu, saya pasti berani. Sekadar mengajaknya mengobrol, berteman, haha hihi, kenapa tidak? Di sini saya menjadi semakin percaya bahwa setiap perjalanan mempunyai ceritanya sendiri-sendiri. Alhamdulillah saya diberikan pemandangan indah begitu oleh Allah SWT.

Pelabuhan Ende, Samba, Simpang Lima


Proses yang satu ini juga sangat saya nikmati. Waktu itu kami terpisah di mana saya, Yoyok, Violin, dan Natalia pergi ke Pelabuhan Ende untuk syuting footage-nya Nata. Sedangkan Arand, Tri, dan Man, pergi ke Barai menjemput Oedin untuk kemudian bergabung dengan kami di pelabuhan. Jujur, sudah beberapa bulan saya tidak mengumpulkan footage, apalagi mengarahkan subyek video. Tapi saat Nata mulai menari, sesuai renjananya, saya jadi lebih bersemangat mengarahkannya. Setelah saya, gantian Yoyok yang merekam aksi-aksi Nata, sampai kemudian rombongan dari Barai tiba di Pelabuhan Ende.

⇜⇝

Jadi, jelas ... bagi kalian yang sering mengabaikan proses kreatif, coba deh mulai memerhatikannya. Bandingkan saat kalian tidak menikmatinya atau menganggapnya sebagai angin lalu, dengan saat kalian menikmatinya dengan sungguh.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita

Bakal banyak banyak yang kita perhatikan dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Bakal banyak yang kita pelajari dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Detil-detil yang sering terlewatkan, bakal menjadi suatu cerita tersendiri ketika kita menikmati proses kreatif. Ayo, berhenti terburu-buru, mari nikmati!

#KamisLegit



Cheers.

Wednesday, January 15, 2020

Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang


Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang. Sabtu, 4 Januari 2020, saya dan teman-teman Rumah'97 melaksanakan niat yang sudah lama tertunda yaitu reuni. Sayangnya, dari puluhan teman yang ada di WAG alumni itu, hanya lima orang yang bisa ikutan. Saya, Hilda yang pada tanggal 6 Januari 2020 sudah kembali ke Depok, Yusti si pemilik Kafe Hola, Ryan, dan Abah Yudin. Teman-teman lain sudah kembali beraktivitas sehingga mereka belum bisa bergabung. Tidak masalah. Tujuan kami hari itu adalah Dapur Jadul (baru) yang terletak di daerah Nangaba. Menurut Kakak Nona Eka, pemiliknya, itu disebut River Beach. Dulunya, Dapur Jadul terletak di Pantai Raba, sekitar 300 meter ke arah Barat dari lokasi baru.


Apa yang paling saya sukai dari Dapur Jadul? Desainnya yang luar biasa memikat dan menghibur mata. Begitu banyak spot instagenic dipasang di sana. Selain itu, ragam asesoris warna-warni juga membikin pengunjung terpesona. Nampaknya kreativitas tanpa batas memang bermain-main di tempat ini. Salut to the max. Oh ya, waktu kami pergi ke sana, masih banyak tukang bangunan sedang bekerja. Dapur Jadul di lokasi baru ini memang belum sepenuhnya jadi. Tapi itu tidak menyurutkan niat masyarakat untuk menikmati hari besama teman, keluarga, atau kekasih *perasaan teriris-iris menulis kekasih, hahaha*. Buktinya, Dapur Jadul masih ramai dikunjungi masyarakat: tua dan muda, meskipun pembangunan masih sedang berjalan.

Saat pergi ke sana bareng teman-teman Rumah'97 itulah saya memotret begitu banyak asesoris/pajangan di Dapur Jadul. Pernak-pernik, boneka, brojong bulat (semacam tiang bulat) dengan batu yang unik, botol-botol kaca, hingga wadah berisi beras warna-warni. A-ha! Saya ingat, dulu pernah pengen bikin beras warna-warni ini tetapi batal. Ini dia penampakan pajangan beras warna-warni dari Dapur Jadul.



Bagaimana kalau saya coba membikinnya? Bukankah saya sendiri juga punya kulit kerang dan siput yang dibawa Cahyadi dari Desa Kolipadan di Pulau Lembata?

Kali ini tidak boleh batal! Mari berkreasi!

Bahan dan Alat:
1. Beras. 
2. Pewarna.
3. Air untuk larutan pewarna.
4. Wadah untuk beras warna.
5. Kulit kerang/siput.

Pertama:
Jumlah beras tergantung keinginan/kebutuhan kalian. Bisa segenggam, bisa sekilo. Karena pewarna yang ada di rumah tinggal tiga warna: oranye, kuning, hijau, saya memisahkan beras ke dalam tiga wadah ukuran kecil. Bisa dilihat pada gambar di bawah:


Kedua:
Setiap wadah beras diisi air secukupnya untuk merendam atau mencampurnya dengan pewarna. Beri pewarna secukupnya pada masing-masing wadah beras yang telah diisi air, diaduk perlahan agar semua beras tercampur rata dengan pewarna. Silahkan lihat gambarnya:


Ketiga:
INGAT! JANGAN TERLALU LAMA! Sekitar tiga menit, saring airnya, dan beras yang sudah berubah warna itu disisihkan atau dikeringkan. Proses pengeringan bisa dengan cara alami yaitu dijemur di bawah sinar matahari. Bisa didiamkan saja semalam. Bisa juga dihadapkan di kipas angin. Dan saya menggunakan cara ketiga yaitu dihadapkan di kipas angin. Hehe. Tidak sabaran sih.


Keempat:
TRADA ... sudah jadi. Pokoknya kalau beras berwarna itu sudah kering, ya sudah jadi.


Bagaimana menjadikannya pajangan? Bisa berasnya dipisah, bisa digabungkan seperti pajangan beras berwarna yang saya lihat di Dapur Jadul. Seperti gambar berikut ini.


Maka saya bikin seperti ini:



Beras berwarna bisa diaplikasikan sendiri, bisa juga diberi pajangan tambahan. Seperti yang sudah saya tulis di atas, kebetulan saya juga punya kulit kerang dan siput yang dibawa Cahyadi dari Desa Kolipadan di Pulau Lembata. Ukurannya tidak besar, tapi lumayan kalau dibikin pajangan bersanding dengan beras berwarna. Oh ya, ini penampakan semula kulit kerang dan siput-siput itu. Terpaksa satu stoples kaca dikorbankan. Hahaha.





Selesai! Gelas piala berisi beras berwarna dan kerang serta siput itu kini telah menjadi pajangan cantik di meja-meja ruang tamu. Cantik kan? Cantik doooong, seperti yang bikin. Hehe.

Baca Juga: Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing

Bagaimana menurut kalian? Mudah sekali membikin pajangan cantik berbahan beras dan kulit kerang serta siput ini. Saya membikinnya hanya dalam waktu semalam. Tidak sampai sehari semalam! Tentu, untuk mengeringkan beras yang direndam air warna itu membutuhkan ketekunan dan keseriusan kipas angin *ngikik*. Sebenarnya, selain gelas piala, bisa juga beras berwarna ini diisi dalam wadah berupa bohlam lampu bekas. Tetapi zaman sekarang susah mencari bohlam lampu bekas, karena rata-rata lampu rumah itu umumnya sekarang berbentuk jari dan/atau spiral. Semoga nanti bisa menemukan bohlam lampu, terkhusus yang bening itu.

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian yang gemar berkreasi. Sampai jumpa minggu depan!

#RabuDIY



Cheers.

Tuesday, January 14, 2020

Add Watermark Aplikasi Andalan Para Tukang Pamer Foto


Add Watermark Aplikasi Andalan Para Tukang Pamer Foto. Saya pernah membaca status seorang teman di Facebook, Mbak Yeyen, pemilik Kedai Nagih. Mbak Yeyen jengah sama ulah pedagang makanan lain yang menggunakan foto-foto makanan dagangan Kedai Nagih yang dipos di media sosial Facebook. Zaman sekarang masih ada orang yang mengambil foto makanan/dagangan orang lain dan mengakui foto itu sebagai miliknya. Iya, masih ada. Padahal, meskipun fotonya sama, rasa makanannya kan beda. Pada Mbak Yeyen, saya menyarankan untuk memasang watermark alias tanda air pada setiap foto makanannya. Karena bagi saya, seburuk apapun sebuah foto, kita wajib menyertakan tanda air di dalamnya untuk menghindari penyalahgunaan foto tersebut oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Baca Juga: Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog

Masalah foto yang diambil seenak udel di media sosial ini memang menjadi polemik tersendiri. Pihak yang mengambil dengan tanpa rasa bersalah berdalih: foto itu dipajang di media sosial, tanpa dikasih tanda air, artinya milik umum! Tapi, hei, di mana tanggung jawab moralnya? Masa iya kita mau menjadi pencuri foto? Tidak ada seorangpun yang mau disebut sebagai pencuri kan? 

Tapi, bukankah tanda air juga bisa dihapus? Tentu bisa. Ada banyak aplikasi penghapus tanda air. Sebut saja Remove Unwanted Object dari BG.Studio, Watermark Manager oleh Arsal Nazir, dan Unwanted Object Remover: Touch Retouch 2019 dari Flip Soft. Menurut pendapat saya pribadi, hanya orang-orang serius yang ingin menghapus tanda air dari sebuah foto dan/atau video. Rata-rata pengguna media sosial, termasuk yang awam teknologi, tentu malas mencari tahu dan melakukan proses penyuntingan. Sehingga, untuk kelas media sosial seperti Facebook, sedikit tidaknya tanda air akan sangat menolong para tukang pamer foto agar fotonya tidak dicuri seenak dengkul.

Adalah David Mossar, Ketua Exotic NTT Community, yang memperkenalkan saya pada sebuah aplikasi tanda air Android bernama Add Watermark. Sebelumnya saya hanya menggunakan tanda air dengan menambahkan tulisan http://tuteh.web.id saja pada setiap foto. Kayaknya boleh juga aplikasi Add Watermark ini. Langsung saya unduh dan pasang di telepon genggam. Xiaomi Redmi 5 Plus yang legit itu. Setelah unduh dan pasang, mari kita cek bagaimana cara menggunakan Add Watermark.

1. Buka Aplikasi Add Watermark


2. Tampilan Add Watermark


Pada tampilan Add Watermark ini kalian bisa memilih apply on images, apply on video, create watermark, dan your creation. Bagi yang baru mau bikin tanda air bisa terlebih dahulu memilih create watermark. Silahkan bikin tanda air kalian sendiri baik dari template yang sudah ada atau dikreasikan macam-macam suka.

3. Pilih Gambar


Di sini saya mencontohkan menambahkan tanda air pada foto, bukan video. Panah kuning pertama adalah foto pilihan, panah kuning kedua adalah notifikasi bahwa sudah ada foto yang dipilih).

4. Pilih Tanda Air


Pada menu ini, kalian masih diberi pilihan untuk membikin tanda air, atau memilihnya dari galeri. Karena saya sudah membikin beberapa, saya bisa langsung pilih seperti panah paling bawah yang ditunjukkan oleh gambar di atas.


5. Done!


6. Simpan


7. Mudah


Ah, selesai. Tidak pakai acara ribet. Makanya saya menulis judul, aplikasi andalan para tukang pamer foto karena prosesnya sangat cepat.

Baca Juga: Warna-Warni Text Background Color Ciri Khas Pos Blog

Selain Add Watermark, ada banyak pilihan mudah memberi tanda air. Seperti yang sudah saya tulis di atas paling mudah tinggal menambahkan tulisan pada foto tersebut. Tetapi, Add Watermark memberikan banyak pilihan baik jenis huruf, template logo, warna, dan lain sebagainya, sehingga para pengguna Add Watermark lebih leluasa berkreasi sepuas-puasnya. Sekali lagi, jangan pernah meremehkan sebuah foto dan/atau video, seburuk apapun, karena itu adalah hasil jepretan kalian, kawan. Sama seperti saya. Bahkan foto kakipun tidak mau saya biarkan lolos kecuali saya memang memilih membiarkan sebuah foto tanpa tanda air, dan membiarkan orang lain menggunakannya.

Tetapi, tanggung jawab moral saya pribadi juga berlaku di sini. Apabila ada foto milik orang lain yang menurut saya unik, tidak mungkin saya mengeposnya tanpa menyertakan kredit/sumber. Salah satunya foto-foto unik dari situs Brightside. Tidak ada seorangpun yang mau disebut pencuri, termasuk saya.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Monday, January 13, 2020

Masih Banyak Cerita Menarik Dari Kabupaten Nagekeo


Masih Banyak Cerita Menarik Dari Kabupaten Nagekeo. Kamis, 9 Januari 2020, lagi-lagi saya tancap gas menuju Kabupaten Nagekeo. Sepertinya dari semua kabupaten yang ada di Pulau Flores khususnya dan Provinsi Nusa Tenggara Timur umumnya, Nagekeo merupakan kabupaten yang paling sering saya kunjungi baik untuk meliput kegiatan kampus maupun karena kepentingan pribadi. Keberangkatan saya kemarin itu karena hendak meliput kegiatan Uniflor Road Show 2020 oleh Panitia Panca Windu Uniflor 2020 yang diselenggarakan di Lapangan Berdikari, Kota Mbay. Uniflor Road Show 2020 diselenggarakan Sabtu, 11 Januari 2020, tapi saya memilih berangkat dua hari lebih awal karena diperbolehkan. Haha. Lagi pula saya juga harus pergi ke sekolah-sekolah untuk mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) bersama Kakak Shinta Degor dan Pak Anno Kean. Ya, kami masih menjadi bagian dari Tim Promosi Uniflor.

Baca Juga: Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita

Sebenarnya dari Ende saya hendak tancap gas sendirian ke Kota Mbay, Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, tetapi setelah japri sama Kahar yang kebagian jadi anggota panitia seksi perlengkapan, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat bersama. Terpaksa meninggalkan rombongan pertama lainnya yang masih siap-siap. Tancap gas tanpa jeda sedikit pun terbayarkan ketika mulut sibuk mengunyah butir jagung pulut rebus di Aigela, sebagai check point tiga kabupaten: Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, Kabupaten Nagekeo. Dari Aigela, perjalanan dilanjutkan ke Kota Mbay. Tiba Kamis sore menjelang maghrib, saya dan Kahar langsung menikmati mi ayam yang rasanya aduhai dan saya lupa nama warung kecil itu. Hehe. Lantas kami menuju rumah Novi Azizah di daerah Alorongga (masih daerah kota), alih-alih menginap di rumah keponakan saya di Towak.

Di Aigela.

Melepas lelah, ngopi, mengobrol, haha hihi, bersama Kahar dan Novi, rasanya sangat menyenangkan. Dari situ saya mendengar banyak cerita masa kecil mereka yang bahagia, karena Kahar juga pernah bersekolah (SD) di Kabupaten Nagekeo. Salah satunya: sarapan nasi disiram kopi-panas. Wow! Bagian ini bakal saya ceritakan di pos tersendiri. Haha. Bagi mereka kisah ini semacam aib, tapi bagi saya kisah ini merupakan sesuatu yang harus diceritakan karena unik.

Karena satu dan lain hal, beberapa teman panitia yang tiba Kamis malam, menginap pula di rumah Novi. Terima kasih yang luar biasa untuk Mama dan Novi yang sudah menerima kami semua. Hehe. Terkhusus empat teman lainnya itu: Om Evan, Sotter, Willy, Marten. Kalau Kahar sih menginap di rumah kakaknya yang memang berdomisili di Kota Mbay. Sedangkan saya sendiri memang sering menginap di rumah Novi atau di rumah keponakan. Meskipun baru keluar dari rumah sakit, tapi Mama begitu tulus menerima kedatangan teman-teman lain di rumah itu. Ah, serasa home sweet home.

Akhirnya saya punya banyak cerita dari perjalanan ini selain kegiatan Uniflor Road Show 2020!

Yuk mari kita cari tahu apa saja cerita menarik dari Kabupaten Nagekeo tercinta ini *kedip-kedip*.

Kebun Sayur


Jum'at, 10 Januari 2020, merupakan hari terbaik sekaligus tersibuk khusus untuk saya dan Novi. Hari itu saya dan Novi sudah punya rencana jalan-jalan. Jalan-jalan yang cukup panjang dan lama. Tapi, mengingat ada empat teman lain yang menginap di rumah Novi, kami kemudian memutuskan untuk terlebih dahulu pergi ke pasar dan memasak makan siang karena Mama belum kami ijinkan masuk dapur. Di pasar, kami hanya membeli ikan, tahu-tempe, dan bumbu, sedangkan sayurnya dibeli langsung di kebun sayur! Menurut Novi, lebih baik membeli sayur langsung di kebun karena bakal dapat banyak. Lha, saya pikir kebunnya itu jauuuuh banget. Karena kan judulnya 'kebun' begitu. Ternyata lokasi kebun sayur ini tidak sampai 500 meter dari rumah Novi. Uh lala. Manapula sepeda motor bisa langsung diparkir di depan rumah pemiliknya.


Namanya juga kebun sayur, areanya luas (sekitar satu hektar), dipergunakan oleh pemiliknya untuk menanam bermacam jenis sayuran seperti kangkung, sawi, terung, pucuk labu, bayam (juga bayam merah) dan lain sebagainya. Begitu tiba di depan rumah pemiliknya yang sepetak dua petak itu, Novi langsung bilang, "Beli sayur kangkung lima ribu, sayur sawi lima ribu, terung lima ribu." Saya pikir, dapatnya paling segitu-segitu juga, tidak super wow seperti yang dibilang Novi sebelumnya. Lantas mata saya mengekori si Mama yang mengambil parang dan pergi ke kebun. Seperti terhipnotis, saya menyusulinya. Ya ampun, cara si Mama menebas sayuran begitu semangat padahal kan kami hanya membeli 15K kalau ditotal!


Bagi saya pribadi yang tinggal di Kota Ende, melihat sayur seharga 15K dengan jumlah segitu banyaknya, sungguh di luar ekspetasi. Istilah orang pasar: kami membeli langsung dari tangan pertama. Ceritanya bakal beda kalau membelinya dari tangan kedua apalagi tangan ketiga. Noted.


Karena banyaknya sayuran itu, semua diletakkan di bagian depan motor matic saya. Dalam perjalanan pulang ke rumah saya merasa seperti pedagang sayur sungguhan ha ha ha. Tinggal teriak, "Sayur! Sayur!" Tiba di rumah, saya dan Novi langsung mengeksekusi segala bahan bekal makan siang: ikan, tempe-tahu, sayuran. Kami harus bergegas karena waktu semakin mepet. Jalan-jalan harus terlaksana! Saat sedang memasak, Oston dari kepanitiaan mengirim pesan WA pada saya, bersedia untuk bertemu band lokal yang bakal tampil sebagai band pembuka kegiatan Uniflor Road Show 2020. Nama band-nya Alf The Bond Band. Dan karena Novi yang merekomendasikan mereka, maka Novi pun meninggalkan saya untuk menemani anak-anak band bertemu Oston.


Begitu si Novi pulang kembali ke rumah, gantian saya yang ijin pergi bertemu para bedebah. Iya, saya menerima pesan WA dari Ruztam Effendi, sahabat masa SMA yang punya Nirvana Bungalow di Riung. Ajakan makan siang! Saya pamit pergi bertemu Ruztam di Rumah Makan Mini Indah. Masaknya gantian begitu ... ceritanya.

Bedebah Bertemu Para Bedebah


Adalah hal yang lumrah apabila saya sering memanggil teman-teman masa SMA dengan istilah bedebah. Hehe. Rasanya ada yang kurang apabila kata itu tidak terlontar. Dari rumahnya Novi menuju Rumah Makan Mini Indah, a la prasmanan, hanya memakan waktu sekitar lima menit. Ndilalah di sana sudah ada Ruztam, dan Bruno! Dua sahabat masa SMA yang masih ramai di WAG alumni ini sudah menanti dengan wajah sumringah. Ya Tuhan, saya kangen banget sama mereka. Terlebih Ruztam. Kalau Bruno kan pernah ketemu di akhir 2019, ditraktir sama dia di El Cafe - Mbay.


Makan siang kami diwarnai saling ngecap, saling mengumpat, saling menasihati (ini bagian paling sedikit), dan haha hihi gaje. Sebenarnya saya pengen mengajak mereka melanjutkan ngopi di rumah Novi (saya memang tamu kurang ajar, sudah menginap, bertingkah seakan rumah sendiri, hahaha), tetapi kedatangan Ruztam ke Kota Mbay adalah untuk berbelanja kebutuhan Nirvana Bungalow sehingga dia tidak bisa terlalu lama bersantai. Baiklah. Siang itu kami berpisah di depan Rumah Makan Mini Indah dengan janji bakal ketemu malam minggu di Lapangan Berdikari untuk menyaksikan Uniflor Road Show 2020, tetapi kemudian ... ya bisa kalian tebak ... kami tidak bertemu lagi karena kesibukan mereka juga berada di level galaksi.

Terima kasih, para bedebah!

Love youuuuu all!

Taman Wisata Hutan Mangrove


Balik ke rumah, Novi sudah selesai memasak dan bahkan empat teman kami sudah selesai makan siang. Beres semuanya, saya dan Novi melaksanakan rencana jalan-jalan. Sekitar pukul 14.00 Wita, kami meluncur ke Desa Marapokot yang selama ini dikenal karena adanya pelabuhan: Pelabuhan Marapokot. Waktu tempuh sekitar 15 sampai 20 menit dari pusat Kota Mbay. Tujuan kami ke Desa Marapokot tentu saja Taman Wisata Hutan Mangrove (bakau). Kalian mungkin bakal bertanya-tanya, apa sih menariknya hutan mangrove? Dan kenapa pula ada embel-embel 'taman wisata'? Makanya, baca sampai selesai. Haha. Jangan di-skip!


Adalah sekelompok anak muda di Desa Marapokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, yang berupaya untuk menggali dan memanfaatkan potensi hutan mangrove yang ada di wilayah mereka, yaitu wilayah pantai, menjadi destinasi wisata. Mereka kemudian membangun spot-spot instagenic antara lain jembatan dan tempat bersantai. Jembatan-jembatan dibuat bermaterial bambu dan kayu, tidak lupa hiasan lampion-lampion di atas jembatan, dan tempat bersantai/duduk bermaterial ban bekas, spot-spot instagenic dengan tulisan-tulisan menarik/kekinian. Tidak lupa cat warna-warni semakin memikat mata.


Baca Juga: Ngana Ate Sebuah Blog (Puisi) Baru Yang (Terpaksa) Dibikin


Inilah yang saya sebut dengan perpaduan antara wisata alam dan wisata buatan. Salut sama anak muda Desa Marapokot! Kalian hebat!



Puas foto-foto, saya dan Novi duduk mengaso di jembatan paling ujung yang berhadapan dengan perairan luas, dan mengobrol. Jujur, tempat ini bisa menjadi tempat 'melarikan diri' dari segala kepenatan dunia. Hehe. Nyamaaaaan banget. Jujur, saya bukan tipe orang yang suka 'melarikan diri' dari segala problematika hidup, paling parah ya menulis dan nge-game. Tapi bagi saya lokasi ini bisa jadi tempat merenung mikirin jodoh yang belum tiba juga. Andai kata ada secangkir kopi menemani, pasti lebih betah, malas pulang ke rumah!


Oh ya, biaya masuk Taman Wisata Hutan Mangrove hanya sebesar 5K. Murah sekali untuk kesenangan yang bisa didapatkan di sana. Dan saat datang ke sana pun, pengunjungnya hanya saya dan Novi. Berasa berada di hutan pribadi.


Taman Wisata Hutan Mangrove ini mengingatkan saya pada perjalanan tahun 2010 di Cilacap, Provinsi Jawa Barat, menyusuri labirin mangrove. Waktu itu kami menyewa perahu untuk menyusuri labirin mangrove tersebut.



Semoga saya masih bisa kembali ke tempat ini untuk sesi foto pre-wedding ... ngimpi boleh ya. Haha. Bagi kalian yang hendak pergi ke Kabupaten Nagekeo, khususnya Kota Mbay, jangan sampai lupa berkunjung ke Taman Wisata Hutan Mangrove.

Rumah Pohon


Dari Taman Wisata Hutan Mangrove, kami tancap gas ke Pelabuhan Marapokot yang jaraknya hanya sekitar lima menit berkendara. Tujuan kami adalah Rumah Pohon yang sejak lama sudah dipromosikan Novi tapi belum kesampaian ke sana. Rumah Pohon berlokasi di Pelabuhan Marapokot sekitar 10 meter sebelum pintu masuk pelabuhan di sisi kiri. Saya tidak tahu nama pohon yang dipakai sebagai base rumah pohon ini, tetapi sangat menarik melihat rumah pohon karena belum pernah melihat yang seperti ini.


Kata Novi, Rumah Pohon ini milik pamannya, jadi kami mah bebas jungkir balik di situ. Hanya saja saat kami datang kondisinya sedang terkunci sehingga harus naik melewati balok yang uh wow bikin gagal ginjal. Hehe. Novi saja yang bisa memanjat, saya menyerah!


Di Rumah Pohon tidak seberapa lama, kami memutuskan untuk pulang kembali ke Kota Mbay. Mendadak mengantuk euy.

Oh ya, yang juga harus kalian tahu bahwa malam harinya kami semua diundang makan bebek panggang dan ikan panggang di Towak, di rumah keponakan saya Iwan dan Reni. Aduhai! Meskipun sempat tunggu-menunggu, gara-gara Kahar ini mah, akhirnya tiba juga di rumah dinas Pustu Towak tersebut.


Dari penampakannya saja menggoda iman. Bagaimana dengan rasanya? Ya jelas bikin iman runtuh. Hehe. Selain bebek panggang, ikan panggang, ada pula ikan goreng, sayur merungge, dan sambal jeruk. Sudah ya, jangan diteruskan, nanti kalian ngiler. Hehe. Yang jelas menu ini selalu disiapkan oleh keponakan saya kalau berkunjung. Berasa jadi ratu. Jangan lupa, saya kan Presiden Negara Kuning.

Uniflor Road Show 2020


Ini kegiatan utama pada Sabtu, 11 Januari 2020. Sebelumnya, pagi hari, saya dan Tim Promosi Uniflor pergi ke SMA-SMA di Kota Mbay dan sekitarnya, termasuk ke Desa Marapokot dan daerah Aeramo! Sedangkan malamnya, saya wajib meliput kegiatan Uniflor Road Show 2020 tersebut, yang juga dihadiri oleh Bupati Nagekeo yaitu Bapak Don. Untuk kegiatan tersebut, kalian bisa membaca berita yang sudah saya unggah ke media sosial. Berikut, salah satu tautannya:



Silahkan dibaca. Inilah salah satu wujud dari pekerjaan saya selama ini. In case kalau ada yang kepo kok sepertinya saya jalan-jalan terus. Hehe.


Saya yakin masih banyak cerita menarik lainnya dari Kabupaten Nagekeo yang bisa ditulis di blog, tapi tentu saya harus mengeksplornya terlebih dahulu. Kalian sabar menanti kan? Sama, saya juga sabar menanti, menanti saatnya jalan-jalan lagi. Hehe.

Baca Juga: Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share

Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih kepada Mama, Mamanya Novi, yang meskipun dalam kondisi sakit, masih begitu perhatian dan peduli pada saya dan teman-teman lain yang menginap di rumah. Mama sudah kami anggap seperti Mama sendiri. May Allah SWT bless you always, Ma. Mama adalah yang terbaik bagi kami. Terima kasih juga untuk Novi, pada akhirnya niat jalan-jalan ke Taman Wisata Hutan Mangrove dan Rumah Pohon terlaksana juga minggu kemarin. Sungguh masih banyak hutang kita (saya) karena kita belum pergi ke Pulau Ri'i Taa dan pabrik garam itu ya, Nov. Insha Allah next time. Terima kasih, Nov. Terima kasih. Pun, terima kasih untuk keponakan saya: Iwan dan Reni, juga dua cucu saya: Andika dan Rayhan, atas segala pengertian kenapa saya belum bisa menginap di rumah kalian beberapa kali ke Kota Mbay. Nanti ya, Insha Allah.

Semoga saya masih bisa kembali ke Kabupaten Nagekeo untuk mengeksplor lebih banyak tempat wisatanya. Doakan! Kalian juga doooonk, main-mainlah ke Kabupaten Nagekeo, siapa tahu kita ketemu di jalan. Hehe.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.