I Write My All

LightBlog

Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita . Tahun 2019, karena satu dan lain hal, saya terlambat mengajukan cuti. Tapi cuti ...

Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita


Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita. Tahun 2019, karena satu dan lain hal, saya terlambat mengajukan cuti. Tapi cuti saya justru sangat panjang karena diselingi dengan libur panjang yang dimulai 23 Desember 2019 hingga 3 Januari 2020. Saya sendiri baru akan kembali beraktivitas di kantor pada tanggal 7 Januari 2020 setelah cuti yang dimulai tanggal 10 Desember 2019. Cuti yang seharusnya hanya 12 hari (dengan 2 hari minggu menjadi 14 hari), ditambah perpanjangan waktu libur akhir tahun, menjadi nyaris sebulan penuh. Uh wow sekali. Haha. Dan dinosaurus pun lantas ngetawain karena waktu cuti yang panjang itu justru tidak berjalan sesuai rencana: explore Kota Bajawa dan Kota Ruteng. Jika kalian juga mengalami apa yang saya alami, jangan mengeluh, karena hidup memang penuh warna dan cerita.

Baca Juga: Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya

Cerita cuti saya dimulai dengan sakit. Pasti kalian langsung bilang: kasihan anak ini. Hehe. Sakit itu tidak lama. Saya percaya vitamin dan keinginan untuk sehat sangat membantu proses penyembuhan. Hanya saja, anomali cuaca Kota Ende membikin sakit saya sedikit menyimpang dari kebiasaan. Biasanya orang sakit meriang itu kedinginan, saya justru kepanasan. Beruntung, sakitnya tidak lama, dan saya kembali beraktivitas tidak seperti biasa. Kok tidak seperti biasa? Iya, karena kan saya cuti, sehingga tidak ada acara pasang alaram lalu bangun dan mandi serta bersiap-siap ke kantor, dan tidak ada acara nongkrong di kantin menguping informasi. Betul-betul aktivitas yang tidak seperti biasa. Pada hari-hari cuti saya bangun lebih terlambat dari biasanya, langsung merusuh di belakang, bermain Battle Realms, menulis blog, lantas memandikan Mamatua.

Tidak ada seorangpun yang menyukai sakit. Tapi sakit merupakan sinyal penting untuk manusia tahu bahwa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Bersyukurlah ketika Allah SWT masih memberi kita sakit. Seperti sakitnya Mamatua.

30 November 2019 Mamatua kehilangan satu-satunya penglihatan yang tersisa (mata kiri). Praktis ratu kami itu tidak dapat melihat. Adalah tanggung jawab besar untuk merawatnya. Tetapi saya tidak memandang itu sekadar sebuah tanggung jawab saja, melainkan sebagai anugerah. Kawan, adalah perkara lumrah jika orangtua merawat anak-anak yang dilahirkan. Tetapi tidak semua anak diberi kesempatan untuk merawat orangtuanya. Saya memandang itu sebagai anugerah. Merawat orangtua. Sakitnya Mamatua memberikan begitu banyak waktu untuk kami bersama; Mamatua, saya, Thika, Indra, Mamasia, Mamalen, dan Meli. Kuantitas berbanding lurus dengan kualitas. Memandikan Mamatua selalu diselingi dengan gurauan dan godaan yang membikin kami terbahak-bahak. Menyuapi Mamatua makan sambil mengobrol itu se-su-a-tu. Peristiwa yang tidak dapat ditukar dengan Rupiah, Dollar, Euro.

Kalau begitu, cuti saya hanya begitu-begitu saja?

Tidak.

Saya selalu punya pemahaman sendiri tentang waktu (cuti): manfaatkan dengan sebaik-baiknya, bahkan untuk memainkan game favorit!

Kembali pada judul. Seberapa sering saya, kalian, mereka, mengeluh? Berapa kali dalam sehari kita mengeluh bahkan mengeluhkan hal-hal sederhana seperti: mau makan tapi nasi belum matang sempurna di magicom. Atau, ketika hendak meminum air dingin (air es) tapi semua botol di kulkas kosong-melompong. Atau, ketika ingin pergi ke pantai untuk bersenang-senang tetapi bensin sepeda motor malah sekarat. Dan kita mengeluh begitu hebatnya seakan-akan tidak angin menerbangkan semua seng di atap! Padahal menunggu sedikit waktu untuk nasi matang sempurna mengajarkan kesabaran luar biasa pada kita, meminum air tanpa embel-embel dingin/es mengajarkan kita untuk merasakan sensasi yang berbeda di kerongkongan, bensin yang sekarat di sepeda motor mengajarkan kita untuk sadar bahwa tidak semua keinginan dapat terpenuhi.

Sadarkah bahwa itulah sejatinya hidup yang penuh warna dan cerita?

Konsep hidup penuh warna dan cerita selalu saja identik dengan menikmati keindahan dan kebahagiaan. Membaca buku saat hujan ditemani secangkir kopi panas disebut hidup yang penuh warna dan cerita. Traveling ke tempat wisata idaman disebut hidup yang penuh warna dan cerita. Nongkrong bersama teman-teman di kafe favorit disebut hidup yang penuh warna dan cerita. Padahal, itu biasa-biasa saja. Karena, siapa sih yang tidak mau membaca buku bermanfaat, traveling, dan nongkrong di kafe dengan teman-teman? Kalau keinginan itu terwujud, ya biasa saja jadinya. Toh saya sendiri juga sudah sering melakukannya: membaca buku sambil ngopi, traveling, dan nongkrong di kafe. Ceritanya ya itu-itu saja.

Hidup akan menjadi lebih berwarna dan penuh cerita apabila ada pembedanya. Putih akan lebih memikat jika ada percikan hitam, merah, atau kuning di atasnya.

Sakit, mengurus orangtua yang sakit, menunggu nasi matang di magicom, menatap botol kosong di kulkas, hingga bensin sepeda motor yang sekarat, merupakan warna dan cerita hidup. Ijinkan saya menulis ilustrasi ini:

Rawam:
Bagaimana perjalanan kemarin ke Mbay?

Mawar:
Menjengkelkan! Antri di daerah Ndao nyaris satu jam! Kan kesal. Sudah tahu sedang antri, ada saja yang klakson-klakson. Mana debu ... betul-betul menjengkelkan.

Mawar tidak sadar, bahwa apa yang disampaikannya pada Rawam adalah warna hidupnya. Warna perjalanannya. Seandainya saja tidak ada proyek pelebaran jalan di daerah Ndao (arah Barat Kota Ende) bisa saja dia menjawab pertanyaan Rawam: lancar jaya sampai Mbay. Selesai. Tidak ada warna. Tidak ada cerita. Makanya ketika hujan mengguyur Aigela beberapa saat lalu saat kami berada di sana, saya bilang: biar ada cerita. Karena hujan menyebabkan kami harus lebih lama nongkrong di lapak jagung rebus dan menyebabkan kami lebih detail memerhatikan sekitar. Jadi, lebih banyak cerita yang bisa disampaikan pada orang lain.

Agak keliru apabila saya, kalian, mereka, selalu mengeluhkan hal-hal di luar ekspetasi dan/atau harapan. Karena seperti yang sudah saya tulis di atas, itulah sejatinya hidup yang penuh warna dan cerita. Rencana liburan explore Kota Bajawa dan Kota Ruteng saat cuti bukanlah perkara yang harus saya keluhkan. Kalau rencana itu berjalan, ceritanya ya biasa-biasa saja: traveling, jalan sana-sini, menulis. Lelah, jelas. Karena mengendarai sendiri sepeda motor. Rencana yang batal itu justru menghadirkan warna dan cerita tersendiri. Memangnya apa yang saya lakukan saat cuti selain terlambat bangun, mengurus Mamatua, bermain game? Banyak!

Baca Juga: Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay

Dimulai dari membikin kue kering untuk bekal Natal Mamasia dan Mamalen. Melihat wajah bahagia mereka, tentu saya juga bahagia. Rumah menjadi perhatian saya di masa cuti: membersihkan rumah, mengganti gorden, mengubah letak ini itu, termasuk menambah asesoris yaitu siput-siput yang dibawa Cahyadi dari Desa Kolipadan di Kabupaten Lembata. Kamar pun tidak kalah: temboknya dicat ulang warna kuning serta pindah-pindah lemari. Lagi-lagi Cahyadi membawa bibit sayur sehingga di dekat ruang makan ada lima polybag berisi bibit wortel, tomat, selada, selada merah, dan terong. Saya bahkan mulai menulis cerita (novel) berjudul Mai Ka! Apa yang harus dikeluhkan? Hehe. Hidup memang penuh warna dan cerita bukan?

Berhenti mengeluh.
Selalu mencoba-ikhlas.
Rasakan sendiri nikmatnya.

Semoga pos ini bermanfaat bagi saya, kalian, dan mereka.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.
loading...

0 komentar:

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.