I Write My All

LightBlog

Empat Band SMAK Regina Pacis Bajawa Layak Jadi Juara . Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan dunia band . Jemiri Band , nama band kel...

Empat Band SMAK Regina Pacis Bajawa Layak Jadi Juara


Empat Band SMAK Regina Pacis Bajawa Layak Jadi Juara. Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan dunia band. Jemiri Band, nama band keluarga kami. Gila kan? Bapa (alm.) lebih suka beli perangkat band dan soundsystem ketimbang beli tanah! Hahaha. Keluarga kami memang kocak sejak zaman prakambrium. Anyhoo, jadwal Jemiri Band nge-jam itu setiap Sabtu malam. Karena waktu itu saya masih SD, masih suka main tanah, tidak pernah eksis bersama Jemiri Band. Kalau Jemiri Band nge-jam, saya cuma bisa menonton Om Hans Boleng di lead guitar, Om Yolis Fernandez di bass, Om Takari di keyboard, Nanu Pharmantara di rythm, dan Toto Pharmantara (alm.) di drum beraksi. Apabila ada jadwal tampil maka nge-jam bisa setiap malam. Gara-gara Toto Pharmantara, saya berlatih otodidak menabuh drum sampai bisa. Jadi, saya bernyanyi sendiri, nabuh drum sendiri.

Baca Juga: Jangan Biarkan Anak-Anak Kecanduan Telepon Genggam

Tapi Bapa saya memang keren. Keren karena tidak membeli tanah bekal warisan anak cucu melainkan membeli perangkat band, termasuk keyboard yang selalu mengiringi saya bernyanyi. Satu lagu yang Bapa ciptakan dan sering saya nyanyikan berjudul Hompila Hompimpa. Yea, love him to the moon and back.


Tahun 2005 saya bergabung bersama Cendaga Band sebagai vokalis yang kemudian turut menciptakan lagu-lagu untuk band tersebut. Kami pernah tampil beberapa kali di Lapangan Pancasila Ende, lapangan serbaguna di Jalan Gatot Soebroto Ende, dan event-event yang diselenggarakan oleh pihak-pihak tertentu antara lain Malam Nostalgia di Lapangan Akper Ende. Lagu-lagu yang dibawakan waktu itu random alias bermacam genre. Pop, ska, reggae, blues, rock, rock'n'roll, bahkan dangdut. Sebut saja Come On Eileen dari Save Ferris, Call Me When You're Sober dari Evanescence, Terlalu Manis-nya Slank, Lelaki Buaya Darat dari Ratu, Terajana oleh Rhoma Irama, bahkan Ingin Marah Silahkah oleh Is Haryanto. Kami punya banyak buku yang disebut song bank.

Kesimpulannya saya harus bisa menyanyikan semua jenis lagu yang ditawarkan oleh setiap personil Cendaga Band dan/atau daftar lagu yang diminta oleh pemberi order. Menyenangkan sekali bergabung sama band karena punya teman-teman yang sudah seperti saudara sendiri. Cendaga Band waktu itu digawangi oleh Noel Fernandez (guitarist - melody), Thamrin a.k.a. bu Tham (guitarist - rhythm), Handri Baru (bassist), Alimin (drummer), dan Chonz Odja (keyboardist). Oh ya, tidak lupa saya sebagai vokalis. Untuk event tertentu ada beberapa vokalis tambahan. Cendaga Band kemudian bubar karena pemilik perangkat band dan soundsystem pindah kota. Entah, saya kurang tahu pasti informasi dari manajer kami waktu itu: Om Husni. Karena saya sendiri juga sibuk bekerja kantoran dan siaran di Radio Gomezone FM.

Setelah Cendaga Band bubar, saya dan Noel Fernandez masih sering ngumpul di rumah dan membikin begitu banyak lagu. Proyek kami itu kemudian bermuara pada nama Notes (Noel and Tuteh Sideproject). Notes bahkan telah mengeluarkan satu album. Haha. Kalian pasti tidak percaya kan kalau Notes punya album? Percaya deh. Album itu laku. Tetapi memang tidak diproduksi banyak. Setidaknya banyak teman dari luar daerah yang juga membelinya *kedip-kedip*. Karena lagu-lagu itu memang berbahasa Indonesia dan nge-pop.

Cukup nostalgianya.

Sekarang mari kita lanjut pada SMAK Regina Pacis yang berlokasi di Kota Bajawa, Ibu Kota Kabupaten Ngada. Sekolah keren dengan band-band keren. Tentu juga tentang festival band yang membikin saya bernostalgia di awal pos ini.

Festival Band Pelajar oleh Endemic


Adalah sekelompok anak muda Kota Ende membentuk komunitas bernama Ende Music Community (Endemic). Endemic kemudian menggelar Festival Band Pelajar 2020. Kegiatan berlangsung selama dua hari: Jum'at dan Sabtu, 21 dan 22 Februari 2020, berlokasi di Aula STIPAR Ende di Jalan Gatot Soebroto. Dalam festival ini, ada tiga lagu wajib yaitu Indonesia Tanah Air Beta, Gebyar-Gebyar, dan Bendera. Sedangkan lagu pilihannya adalah sebagai berikut:

Kau yang Terindah - Java Jive.
Belahan Jiwa - Kla Project.
Jalanmu Bukan Jalanku - Andra & The Backbone.
Selayang Pandang - Gugun Blues Shelter.
Film Favorit - Sheila on 7.
Eternal Love - Michael Learns To Rock.
Hotel California - Eagles.
Breakeven - The Script.
Hysteria - The Muse.
Three Little Birds - Bob Marley.

Skala festival ini adalah se-Pulau Flores. Jumlah peserta sebanyak sembilan yang berasal dari tiga kabupaten yaitu Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada, dan Kabupaten Nagekeo.

Peserta dari Kabupaten Ende berasal dari dua sekolah: dua band dari SMAK Syuradikara Ende yang menurunkan dua band. Correct me if I'm wrong, nama dua band itu Syuradikara 1 dan Syuradikara 2. Satu band dari SMA Negeri 1 Ende yaitu The Seven Brothers. Dan satu band dari SMK Yos Sudarso Ende.

Peserta dari Kabupaten Nagekeo berasal dari satu sekolah yaitu SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae. Nama band-nya Smafix.

Peserta dari Kabupaten Ngada berasal dari satu sekolah, SMAK Regina Pacis Bajawa, tapi menurunkan empat band sekaligus yaitu Unidade, Bumble Bee, The Project, dan Queen of Piece.

Festival yang diselenggarakan oleh Endemic ini seperti oase yang dirindukan para musafir. Terakhir festival band pelajar itu berlangsung di Lapangan SMAK Syuradikara Ende di mana saya turut menjadi juri. Diminta sama seniman Ende: Om Benny Laka. Kalau ada Orang Ende yang tidak tahu Om Benny Laka, sungguh terlalu, dan bisa dipastikan kehidupannya hanya berkutat di bawah tempurung. Haha. Ketika diminta untuk turut menjadi juri dalam festival oleh Endemic ini, saya mengiyakan sambil membayangkan seperti apa penampilan band-band yang akan berkompetisi. Paling begitu-begitu saja: bermusik di zona aman dan nyaman. Ekspetasi saya runtuh seketika saat peserta pertama tampil. Mereka dari SMAK Regina Pacis Bajawa; Queen of Piece.

Bukan Sekadar Band SMA


Dua peserta pertama berasal dari SMAK Regina Pacis Bajawa. Penampilan keduanya sudah bikin saya merinding. Manapula salah satu band itu, Bumble Bee dengan vokalis cewek, memainkan lagu pilihan dari The Muse, Hysteria. Setelah mereka, masih diselingi dengan peserta dari Ende, kembali ke Bajawa, Boawae, dan Ende. Pokoknya sembilan peserta berusaha tampil dengan sebaik-baiknya. Tetapi kemudian saya menjadi sadar bahwa ada yang jomplang antara empat band asal SMAK Regina Pacis Bajawa dengan band-band lainnya. Mereka terlalu bagus untuk band sekolah. Apanya yang bagus, Teh? Pasti kalian bertanya-tanya.

1. Skill dan Teknik


Secara keseluruhan, masing-masing personil empat band itu punya skill yang mumpuni, baik kemampuan teknis maupun feel (rasa). Teknik mereka setiap kali over tempo pun bikin kagum. Kalau kalian sering makan karipap atau Orang Ende biasa menyebutnya pastel, isian pastel ini sangat terasa/lengkap. Fill-nya sangat terdengar. Itulah yang saya dapat simpulkan ketika empat band dari SMAK Regina Pacis Bajawa ini tampil di panggung. Hal yang sama juga bisa dilihat dari teknik mic-ing. Improvisasinya pas, tidak berlebihan. Di luar dari itu, sesekali terdengar tabuhan drum keteteran, itu pasti. Tapi secara keseluruhan, mereka supa amazing.

2. Percaya Diri


Percaya diri memang mampu mengalahkan segalanya. Baru kali ini saya melihat vokalis yang menatap penonton dan juri dengan tatapan yang menunjukkan saya-percaya-diri tingkat tinggi. Vokalisnya tidak menoleh kanan kiri, tidak grogi (biasanya orang grogi di atas panggung itu mulai merapikan rambut, gulung ujung baju, dan lain sebagainya), tetap fokus pada apa yang harus disajikan kepada penonton. Percaya diri ini kemudian menjadikan aksi panggung mereka sangat menarik dan memukau. Jingkrak di panggung pun dijabanin tanpa ragu sedikit pun. Percayalah, ketika tampil dengan penuh percaya diri, siapa pun dapat memberikan yang terbaik. 

3. Kostum


Banyak orang bilang: yang penting skill, teknik, atau musikalitasnya. Kostum mah urusan ke-sekian. Itu pandangan yang keliru, kawan. Kostum merupakan ciri khas. Kostum pun dapat menimbulkan atau mendongkrak percaya diri. Empat band dari SMAK Regina Pacis Bajawa ini tampil dengan kostum kekinian. Misalnya pemain alat musik memakai jas, vokalisnya (kebetulan cewek) memakai jumpsuit putih berbunga merah. Pokoknya, menurut saya, penampilan mereka a la anak band kekinian banget lah. Top.

Yang Lain Juga Bagus


Band lain yang tampil juga bagus. Tetapi memang tetap terlihat dan terdengar jomplangnya dengan band dari SMAK Regina Pacis Bajawa. Saya pikir semua orang yang menonton malam itu juga setuju. Artinya, band-band yang belum beruntung menjadi juara harus lebih giat berlatih dan tampil sebanyak-banyaknya mewakili sekolah mengingat jangka waktu di SMA hanya tiga tahun. Jam terbang itu juga punya peranan yang penting. Menurut teman-teman kerja saya, band-band dari SMAK Regina Pacis Bajawa memang terbiasa tampil di acara-acara atau pesta-pesta. Artinya, band sekolah di sana memang diberi ruang gerak untuk menunjukkan kemampuan mereka sekaligus mereka memperoleh pengalaman atau jam terbang di dunia panggung. Ada sih band yang tidak pernah latihan tahu-tahu tampil, tapi itu personilnya kalau dicampur terdiri atas Ariel, Andra, Yuke, Thomas, dan lainnya. Hahaha. Byuuuuh.


Enam Band Lolos ke Babak Final


Malam babak penyisihan, setelah diskusi dan penghitungan nilai, maka terjaring enam band melaju ke babak final. Empat band berasal dari SMAK Regina Pacis Bajawa, satu band dari SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae, dan satu band dari SMA Negeri 1 Ende. Menjadi obyektif memang tidak bisa menyenangkan apalagi membahagiakan semua orang. Obyektif cenderung menyakitkan dan mengecewakan. Tetapi percayalah, obyektif membikin kita bisa tidur pulas. Hehe. Nada protes memang belum sampai ke telinga saya, tapi saya yakin nada protes itu pasti ada. Terutama, yang meragukan kemampuan saya menjuri dan menilai.

Lantas, siapakah yang menjadi juaranya?

Mari kita lihat.

Juara I - Unidade dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara II - Queen of Piece dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara III - Bumble Bee dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara Harapan I - The Project dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara Harapan II - Smafix dari SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae.
Juara Harapan III - The Seven Brothers dari SMA Negeri 1 Ende.


Sesuai dengan judul pos ini, empat band dari dari SMAK Regina Pacis Bajawa memang layak jadi juara. Mereka memenuhi semua kriteria yang ditetapkan untuk penjurian. Termasuk, best player pun banyak disabet oleh mereka. Bermusik itu, menurut saya pribadi, adalah tentang kenikmatan rasa. Feel dan fill imbang. Skill dan soul imbang. Kalau semuanya imbang, sudah pasti harmoni. Kalau harmoni tercipta, maka mereka memang nyaman sekali dalam bermusik. 

I Hope


Harapan saya, Endemic maupun komunitas lain dapat menggelar festival-festival serupa. Karena, masyarakat di Timur Indonesia itu selain terkenal eksotis juga punya kemampuan bermusik yang mumpuni. Bakat kaula muda di dunia musik harus ada wadahnya. Salah satunya dengan festival band pelajar. Hidup ini harus adil. Menurut saya. Kita tidak bisa fokus pada satu lini saja, misalnya literasi saja. Tetapi juga harus memerhatikan lini lainnya seperti musik, wisata, sampai kuliner. Itu baru namanya hidup yang seimbang (banyak menulis kata imbang di sini ya hahaha).

Baca Juga: Membikin Konten Youtube Memang Harus Tekun dan Ulet

Menulis ini bukan berarti saya mengabaikan band lainnya. Tidak. Seperti yang saya tulis di atas bahwa band lainnya juga bagus. Tetapi harus bisa belajar dan termotivasi dari kehebatan band lain. Di atas langit masih ada langit. Bukan begitu? Begitu bukan? Hehe. Kalau kalah saat masih SMA, siapa tahu kelak kalau sudah kuliah, bisa mewakili kampus mengikuti festival band kampus. Pokoknya harus tetap menjaga semangat dan terus menumbuhkan rasa percaya diri. Segala sesuatunya bisa diraih asal dilakukan dengan kemantapan hati. Ambil contoh: dulu saya ragu kekuatan pikiran dan sugesti mampu membikin saya lebih menikmati hidup. Ternyata kekuatan pikiran dan sugesti mampu membikin saya lebih menikmati hidup, salah satunya dengan tidak terlalu memikirkan kadar gula dalam darah. Haha haha haha *dikeplak dinosaurus*.

Terima kasih Om Benny Laka. Terima kasih Anggy Wonasoba. Terima kasih Endemic.

Sudah ah ...

Selamat Senin!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.
loading...

0 komentar:

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.