I Write My All

LightBlog

Credit : Tokopedia . Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian . Menulis tentang microphone jepit atau lebih sering dik...

Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian

Credit: Tokopedia.

Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian. Menulis tentang microphone jepit atau lebih sering dikenal dengan nama clip on bikin mupeng to the max. Karena saya sendiri memang tidak punya clip on. Dulu pernah pengen beli, tapi setelah dipikir-pikir memang belum sangat membutuhkannya. Kalian pasti setuju bahwa hidup itu berat, haha, kebutuhan hidup tidak sedikit, oleh karena itu harus pandai-pandai menahan diri. Salah satunya ya itu, menahan diri untuk tidak membeli clip on. Sekali dua syuting dokumenter yang butuh settingan saya mengakalinya dengan menggunakan microhpone standar. Microphone itu disembunyikan di balik laptop dan kabelnya disusup di balik taplak meja. Kalau ingat itu, duhaaaiiii jadi ngakak.

Baca Juga: Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir

Device perekam video memang dilengkapi dengan micrhopone bawaan. Namun microphone bawaan tersebut punya keterbatasan dalam hal menjangkau audio jarak jauh. Oleh karena itu orang-orang menggunakan clip on. Tetapi bagaimana jika tidak punya clip on sedangkan jarak kamera dengan sumber audio cukup jauh? Untuk aplikasi sunting Sony Movie Studio Platinum, atau aplikasi lainnya, audio bisa diakali dengan mem-boost-nya melalui track compressor. Namun otomatis natural sound di sekitarnya, yang rata-rata tidak penting, juga ikut jadi besar. Beda kalau proses syuting atau taping dilakukan di dalam studio kedap suara.



Lantas, bagaimana mengakalinya, Teh?

Waktu saya mengikuti rekam jejak Oe Din membikin konten video Ngobrol-Ngobrol Santai, dia menggunakan telepon genggam! Oke, mungkin kalian bertanya-tanya, bagaimana bisa? Bagaimana menyatukannya? Dan lain-lain pertanyaan. Tapi bagi tukang syuting, pasti paham betul bagaimana melakukannya, memprosesnya, hingga selesai. Proses ini dilakukan apabila kalian merasa bahwa sumber audio terlalu jauh dari letak kamera terkhusus kamera sedang merekam video dengan wide shoot atau full shoot

1. Posisikan kamera.
2. Posisikan subyek sebagai sumber audio.
3. Letakkan telepon genggam di dekat sumber audio.
4. Siapkan perekam suara di telepon genggam.
5. Rekam bersama-sama kamera dan perekam suara di telepon genggam.

Setelah proses syuting selesai, giliran menyuntingnya yang cukup ribet, hahaha, karena dibutuhkan lebih dari satu audio track. Itu pun kalau hanya menggunakan satu kamera. Jadi, satu video jika ditambahkan ke aplikasi sunting akan menghasilkan satu video track dan satu audio track. Kalau menggunakan empat kamera? Coba hitung sendiri! Saya pernah menyunting video yang menggunakan lima kamera dan itu bikin hidup jadi galau. Hahaha. Lihat gambar di bawah contoh satu video, perhatikan panahnya:


Audio itu adalah audio bawaan dari video yang bersangkutan (panah yang bawah). Penguatan audio yang direkam menggunakan telepon genggam ditambahkan di bagian bawah audio bawaan tersebut. Lihat gambar di bawah:


Panah tersebut menunjukkan audio hasil rekaman menggunakan telepon genggam. Saatnya mensinkronkan dan/atau menyesuaikan. Gunakan headset agar lebih teliti mendengarkan audio bawaan dari video, dan audio dari perekam suara di telepon genggam. Kalau videonya hanya satu, kira-kira seperti gambar di atas lah jadinya. Tapi kalau videonya lebih dari satu dan/atau menggunakan lebih dari satu kamera untuk video yang sama (beda sudut pengambilan)? 

Pertama-tama, tambahkan dulu video wide shoot atau full shoot di mana video itu adalah video itu semacam metronome-nya. Lalu tambahkan lagi video dari kamera lain. Sesuaikan terlebih dahulu audio-audio. Baru kalian boleh memotong/cut, khusus video ke-dua atau ke-tiga, mana yang dipakai, mana yang dibuang, mana yang dipakai untuk cut-to-cut. Setelah semua sudah oke, tambahkan audio dari perekam suara di telepon genggam. Sesuaikan. Selesai. Mudah bukan? Iya, mudah bagi yang sudah terbiasa menyunting video, tapi bagi awam bakal sangat sulit dilakukan. Sebenarnya semua tergantung faktor kebiasaan saja. Bisa karena biasa. Betul begitu? Begitu betul!

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian yang tidak punya clip-on, seperti saya, hahah. 

#SelasaTekno



Cheers.
loading...

0 komentar:

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.