Embung Boelanboong

Embung Boelanboong terletak di Dusun Resetlemen. Namanya unik! Bahkan sebelum namanya menjadi Boelanboong, nama embung ini adalah Embung Resetlemen. Om Frederikus bercerita bahwa tanah tempat embung ini terpeta merupakan milik Mosalaki (ketua adat), salah satunya Bapak Pius Ndewi. Tapi embung ini dikelola atas kerjasama antara Taman Nasional Kelimutu (TNK) dengan Sentral Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) yang beranggotakan masyarakat setempat.

Bukit Roe

Memasuki Kota Mbay, yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, ada banyak bukit-bukit keren, salah satunya Bukit Roe. Saat itu yang nampak sungguh Gold and Geautiful!

Weworowet

Weworowet atau Bukit Rowet terletak di Desa Nggolonio, Kabupaten Nagekeo. Terletak di tepi jalan trans Mbay - Riung, bentuk bukit yang uni ini sungguh memikat. Di seberang Bukit Weworowet pernah dijadikan lokasi Festival Daging Domba.

Dapur Jadul

Masih dari Barat Kota Ende, tepatnya di daerah Pantai Raba (Nangaba) Dapur Jadul menjadi pusat kuliner dan wisata masyarakat Kota Ende dan sekitarnya. Banyak wahana asyik di tempat ini. Saat ini Dapur Jadul telah pindah lebih ke Timur sekitar 50 meter.

Hutan Wisata Kebesani

Untuk mencapai hutan ini, dari Kota Ende dibutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam (60,7 kilometer) ke arah Timur, di Pasar Detukeli belok kiri menuju Kampung Adat Wologai, dan mengikuti satu jalur hingga tiba di Hutan Wisata Kebesani. Kondisi jalan belum mulus sempurna; masih ada lobang-lobang dan jalanan tanpa aspal. Di musim hujan, sekitar empat kubangan besar akan kalian temui di tengah jalan, menutup hingga tepi. Tapi jangan kuatir, ikuti saja jalur bekas roda yang ada.

Thursday, April 30, 2020

5 Manfaat, 5 Tips, 5 Quotes, dan Pos Rangkuman Lainnya


5 Manfaat, 5 Tips, 5 Quotes, dan Pos Rangkuman Lainnya. Hai kalian semua, para pembaca BlogPacker, baik para blogger maupun yang bukan blogger. Apa kabar? Semoga kalian baik-baik saja dan selalu semangat mengikuti himbauan dan/atau aturan dari pemerintah untuk memerangi Covid-19. Jika pekerjaan kalian bisa dilakukan di rumah, dan dari rumah, tetap #DiRumahSaja. Jika pekerjaan kalian memang harus dilakukan di luar rumah, jangan lupa protokol yang wajib diikuti seperti memakai masker, menjaga jarak dengan orang lain, jangan menyentuh wajah (mata, hidung, mulut) sebelum mencuci tangan menggunakan sabun dan/atau hand sanitizer, dan bila perlu apabila telah kembali ke rumah wajib mandi. Semua itu dilakukan bukan untuk kebaikan diri kita sendiri dan keluarga tercinta, melainkan juga untuk kebaikan orang lain.

Baca Juga: 5 Kegiatan Yang Saya Lakukan Saat Di Rumah Saja

Bagi para blogger, work from home dan e-learning tentu memberi banyak waktu untuk nge-blog. Termasuk saya. Banyak ide-ide bermunculan untuk menulis konten blog terutama tentang suasana daerah kita pada masa pandemi Covid-19 ini, dan apa saja kegiatan yang dilakukan saat berada di rumah untuk waktu yang lebih lama dari hari-hari biasa. Saya pribadi masih tetap menulis konten blog berdasarkan tema harian yang telah disepakati bersama diri saya sendiri. Haha. Dan berdasarkan hasil mengamati statistik blog sehari-hari, ada konten-konten tertentu yang, ternyata, bertrafik sangat tinggi dibandingkan konten lainnya. Padahal, konten-konten itu bukan yang paling baru. Artinya, tema dari konten-konten itu memang paling banyak dicari oleh netizen, terutama melalui (menyangkut) pencarian di Google.

Saya membayangkan kata dan/atau kalimat kunci yang dicari oleh netizen di Google.

Minyak ikan paus. 

Manfaat minyak ikan paus.

Lidah buaya dan kegunaannya.

Lidah buaya untuk luka bakar.

Komentar Disquss.

Dan lain sebagainya ...


Atau, bisa jadi saat mereka scroll up-down linimassa Facebook dan Twitter milik saya, mereka menemukan tautan yang dibagikan (konten tersebut). Kalau dari grup WA atau WAG sih rasanya sulit, karena sudah lama sekali yang membagi tautan konten tersebut di atas karena konten-konten itu dipos tahun 2018. Selain itu, kalian juga bisa melihat berdasarkan data sumber lalu lintas di bawah ini:


Sebagai mesin pencari, Google masih menduduki peringkat paling atas.

Konten-konten tentang berbagai manfaat, kegunaan, tips, obat, dan sebangsanya merupakan konten yang paling banyak dilihat dan/atau dibaca. Tidak usah mencontoh orang lain, saya pribadi paling terakhir mencari tahu di Google tentang manfaat spirulina. Iya, karena saat ini sedang mengonsumsi spirulina dan diketawain sama Thika dan Melly. Kata mereka: Encim minum masker wajah. Hahaha. Bisa dikatakan konten tentang rangkuman baik manfaat, kegunaan, tips, obat, quotes, dan lain sebagainya, merupakan konten yang paling banyak diminati. Kalian tentu ingat tayangan televisi On the Spot bukan? Itu merupakan tayangan rangkuman. Kalian juga pasti ingat TenTik bukan? Itu merupakan situs tentang rangkuman. Makanya saya pernah membikin tema #RabuLima sedangkan tema #KamisLima masih berjalan sampai sekarang bergantian dengan tema #KamisLegit.

Pertanyaannya sekarang adalah apabila saya sendiri tahu bahwa konten tentang berbagai manfaat, kegunaan, tips, obat, dan sebangsanya yang merupakan konten rangkuman sangat digemari, mengapa tidak meneruskan dan/atau memperbanyak konten-konten semacam itu? Karena ini blog pribadi, kawan. Dan saya menginginkan blog ini menjadi semacam majalah kehidupan dengan berbagai cerita di dalamnya. Bukankah hidup ini penuh cerita dan penuh warna? Hehe. Ada begitu banyak cerita, kegiatan, hasil karya, pengalaman, yang ingin saya bagi dengan kalian semua. Oleh karena itu kalau ada yang bilang saya idealis ... bisa jadi. Mungkin, kalau rajin, saya bakal membikin blog sendiri dan mengkopi semua pos tentang berbagai manfaat ke blog baru itu. Kalau rajin loh ya. Jadi ... kita lihat saja nanti.

Baca Juga: Katanya Saat Wabah Covid-19 Urusan Pernikahan Lebih Lancar

Bagi kalian para blogger yang ingin mencoba menaikkan trafik blog-nya, boleh dicoba konten-konten seperti ini. Yang judulnya ada kata manfaat atau tips atau kegunaan. Tapi ingat, jangan click bait, ya. Tulislah konten yang orisinil dan isi konten sesuai dengan judul. Supaya apa? Supaya tidak berdosa. Haha. Kebayang kan pembaca mengumpat pemilik blog karena tulisannya tidak sesuai dengan judul, pun tulisan itu merupakan hasil kopi-tempel dari mana-mana alias bukan tulisan orisinil. Menulis tulisan orisinil itu mudah kok. Mulailah dari pengalaman sendiri.

Semoga bermanfaat!

#KamisLegit



Cheers.

Wednesday, April 29, 2020

Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat


Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat. Hari berganti hari, ketemu lagi sama Hari Rabu. Harinya kita berkreasi sepuas-puasnya. Sudah banyak hal dari dunia Do It Yourself (DIY) yang dibahas setiap Rabu. Mulai dari desk organizer, lilin berbentuk telur, mangkuk berbahan celana jin bekas, kafe-kafe berkonsep DIY seperti Kafe Hola dan Kedai Kampung Endeisme, aktifis seni daur ulang bernama Thomas Dambo, tempat-tempat tisu dan keranjang anyaman berbahan koran bekas, bunga gantung berbahan pantat botol plastik bekas, aneka kerajinan tangan berbahan kancing, huruf timbul BlogPacker, tas berbahan celana jin bekas, tempat/dompet koin berbahan botol plastik dan zipper, membikin permainan Monotuteh yang edukatif, sampai tentang membikin sendiri kebun mini di beranda belakang Pohon Tua.

Baca Juga: Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua

Saya berharap semua pos tentang dunia DIY bermanfaat bagi teman-teman. Misalnya, setelah membacanya, teman-teman langsung kepikiran untuk segera membikinnya. Kan asyik. Barang bekas bisa jadi sangat bermanfaat dan mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi sehingga dapat dijual. Oh tentu, saya sudah membuktikannya. Kalau diceritakan lagi, bisa panjang banget pos hari ini. Kita lanjut saja ya.

Kali ini saya bakal menulis tentang tutup botol plastik. Rata-rata masyarakat membuang botol plastik beserta tutup botolnya. Iyalah, kata Fico SUCI 3 itu, botol dan tutup botol selalu bersama sampai kemudian dia membeli air minum, lantas memisahkan botol dan tutup botolnya. Hehe. Kocak memang materi itu. Anyhoo, sebenarnya tutup botol plastik ini dapat dimanfaatkan untuk membikin berbagai produk DIY menarik. Produk apa sih yang bisa dihasilkan dari tutup botol plastik? Kalau kalian menonton di Youtube, tutup botol dapat dimanfaatkan sebagai tatakan gelas, penjepit sumpit bagi yang susah menggunakan sumpit, dapat pula dijadikan gantungan kunci, atau barang-barang DIY lainnya. Tapi saya memanfaatkan tutup botol plastik sebagai tempat alat tulis.


Modelnya: Kakak Flora Wodangange hahaha, penyanyi bersuara kece. Waktu main ke rumah, ngelihat tempat alat tulis berbahan tutup botol yang saya bikin. Gemas ... hehe.

Apa saja alat dan bahan yang dibutuhkan, serta bagaimana cara membikinnya? Melihat gambar di atas saya pikir kalian pasti tahu lah cara membikinnya.

Bahan:
1. Tutup botol.
2. Hot glue (gun).

Alat:
1. Gun for hot glue.

Haha.

Cara membikin:
Pertama-tama cuci bersih tutup botol plastik dan keringkan. Kemudian, mulai susun dasarnya terlebih dahulu membentul bulatan/lingkaran. Untuk menyatukan tutup botol, gunakan hot glue. Setelah itu, mulai bangun ke atas pelan-pelan mengelilingi dasar atau alasnya tersebut. Ukur ketinggian menggunakan alat tulis. Maksudnya, jangan sampai terlalu tinggi karena ini bukan membikin tempat sampah *ngikik*. Kalau sudah selesai, maka tempat alat tulis berbahan tutup botol plastik ini dapat digunakan. Apakah boleh dicat atau dipiloks? Tergantung kemauan kalian. Mana-mana suka.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Bagaimana, kawan? Mudah bukan? Mulai sekarang, jangan pernah membuang botol plastik bekas. Karena apa? Karena kita bisa berkreasi sepuas-puasnya menggunakan botol plastik bekas ini. Botolnya bisa dimanfaatkan sebagai pot tanaman atau untuk menyemai bibit (saya melakukannya untuk bibit daun sop), sedangkan tutup botolnya dapat dimanfaatkan untuk aneka kerajinan tangan. Kalian coba deh mencari di Google, tentang sebuah rumah yang artistik karena seluruh dindingnya dilapisi sama tutup botol dengan gradasi warna yang cantik!

Semoga bermanfaat.

#RabuDIY



Cheers.

Tuesday, April 28, 2020

Mengenal PhotoScape Untuk Keperluan Sunting Foto


Mengenal PhotoScape Untuk Keperluan Sunting Foto. Aplikasi sunting foto mana yang kalian pakai? Tentu rata-rata bakal menjawab Photoshop. Selalu iri kalau melihat orang-orang pamer foto atau pamflet hasil sunting di Photoshop karena sampai saat ini saya belum bisa menggunakannya. Kata orang-orang yang mahir memakai Photoshop, aplikasi sunting foto yang satu itu sangat mudah digunakan dan hasilnya luar biasa oke. Tapi bagi saya yang gaptek, menggunakan Photoshop sering bikin puyeng. Pada akhirnya saya tetap dan betah menggunakan aplikasi sunting foto yang sejak dulu terpasang di laptop. Apa lagi kalau bukan PhotoScape! Lagi pula Google PlayStore menawarkan begitu banyak aplikasi sunting foto di Android. Tinggal unduh, pasang, pakai. Selesai. Jauh lebih mudah dan bisa dilakukan di mana pun tanpa harus menenteng laptop.

Baca Juga: Ternyata Ada Teknologi Self-Sanitizing Door Handle Loh

Saya sudah pernah menulis sedikit tentang PhotoScape dalam pos berjudul 1 Video, 3 Aplikasi. Tapi pada pos itu saya menggabungkan tulisannya dengan dua aplikasi lain selain PhotoScape yaitu Sony Movie Studio Platinum (SMSP) dan ProShow Producer. Hari ini, marilah kenalan lebih jauh dengan PhotoScape. 

PhotoScape merupakan program pengeditan grafis yang dikembangkan oleh MOOII Tech, Korea Selatan. Kalian ingat Larva? Iya, animasi kocak itu diproduksi oleh Tuba Entertainment yang juga berbasis di Korea Selatan. Aplikasi ini dirilis tanggal 28 Mei 2008. Seperti yang dilansir oleh Wikipedia, Konsep dasar PhotoScape adalah 'mudah dan menyenangkan', memungkinkan pengguna untuk dengan mudah mengedit foto yang diambil dari kamera digital mereka atau bahkan ponsel. PhotoScape menyediakan antarmuka pengguna yang sederhana untuk melakukan peningkatan foto umum termasuk penyesuaian warna, memotong, mengubah ukuran, mencetak, dan animasi GIF. PhotoScape beroperasi pada sistem Microsoft Windows dan Mac, dan tidak tersedia di sistem Linux. Bahasa default adalah Bahasa Inggris dan Korea, dengan paket bahasa tambahan tersedia untuk diunduh. Untuk Windows 7 seperti yang saya pakai, bisa menggunakan yang versi 3.6.5.

Kalau kalian membuka situs PhotoScape maka tampilannya akan langsung menampilkan fitur-fitur yang ditawarkannya seperti berikut ini:


Banyak sekali fiturnya PhotoScape ini antara lain: Photo Viewer, Photo Editor, Photo Batch-Editor, Page Creator, GIF Animation, Featured Printer, Screen Capture, Color Picker, RAW Converter, Face Finder, hingga Screen Capture. 

Cara kerja PhotoScape sangat mudah. 

Pertama: buka aplikasinya seperti pada gambar berikut:


Kalian akan langsung diantar pada tampilan seperti berikut ini:


Mau meng'apa'kan foto kalian, silahkan lihat menu pada lingkaran menu layanan itu, atau pada bagian deretan menu bagian atas. Menu-menu utama antara lain PhotoScape, Penilik, Editor, Editor Tumpak, Halaman, Gabung, GIF Animasi, Cetak, Bantuan.

Pada bagian menyunting foto (Editor), kalian bisa memilih foto yang mau disunting melalui folder-folder pada sebelah kiri, dan bilah penyuntingan pada sebelah kanan. Menu menyunting foto ini menyediakan begitu banyak fitur seperti memotong, mengatur ulang ukuran, kontras, mempertajam warna, mempertajam gambar, tapis (foto bisa dibikin a la vintage hingga vignetting), menambah gambar dan objek (tulisan, baloon/quote, foto, ikon bawaan, dan lain sebagainya), clone stamp, dan lain sebagainya. Pada menu ini juga kalian bisa menempelkan sekalian menyunting hasil screenshoot yang di-paste ke situ dan menyimpannya.


Membikin halaman merupakan menu yang juga sering saya gunakan. Klik menu Halaman, silahkan pilih template dan ukuran serta warna latarnya, dan tambahkan foto-foto yang kalian inginkan.


Mudah sekali memakainya!

Untuk penyimpanan ada JPEG, BMP, PNG, GIF, dan TIFF.

Baca Juga: Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik

Saya sangat menyukai PhotoScape karena kemudahan menggunakannya atau memakainya. Tidak perlu harus menjadi seorang profesional. Hahaha. Dulu, saya paling sering mengutak-atik foto menggunakan PhotoScape, sekarang sih juga sering tapi hanya untuk keperluan nge-blog dan nge-Youtube saja. Alkisah, hasil sunting di Canva versi laptop sering saya screenshoot lantas ditempel di PhotoScape dan menyuntingnya, baru kemudian disimpan untuk keperluan nge-blog dan nge-Youtube. Nanti deh saya bikinkan video tata caranya hehehe.

Semoga pos ini bermanfaat terutama bagi kalian yang sama gaptek-nya dengan saya. Percayalah, memakai PhotoScape itu super mudah!

#SelasaTekno



Cheers.

Monday, April 27, 2020

Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy


Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy. Hola! Ketemu lagi di Hari Senin. Harinya saya bertugas alias piket di kantor. Iya, sejak minggu kemarin, saya kebagian piket di kantor setiap Senin dan Selasa, tetapi karena peraturan piket baru diberitahu pada Selasa dan saya membaca pesan itu Selasa siang, jadinya baru minggu ini saya memulai piket. Urusan piket ini sebenarnya sudah diberlakukan pada masa awal #DiRumahSaja di mana saya kebagian jaga kandang setiap Senin dan Rabu, tetapi sempat terhenti sejak keluarnya surat edaran kedua perpanjangan masa #DiRumahSaja, dan ketika surat edaran ketiga perpanjangan masa #DiRumahSaja kembali dikeluarkan, piket pun kembali diberlakukan. Senang? Tentu!

Baca Juga: Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online

Saya sudah pernah menulis bahwa selama berada di rumah (saja) banyak kegiatan yang telah dilakukan. Salah satunya adalah berkebun mini di beranda belakang Pohon Tua. Nah, hari Minggu kemarin ada sesuatu yang bikin saya happy. Akhirnya saya memanen sorgum yang tumbuh di petak tanah sisa 1 x 1 meter itu! Sebagai orang yang belum akrab dengan sorgum, saya harus bertanya terlebih dulu pada Cahyadi tentang kondisi sorgum, apakah sudah boleh dipanen atau belum? Ternyata kata Cahyadi, sorgum itu sudah boleh dipanen. Ayolah! Eits, tapi sebelumnya, Minggu pagi sekitar jam sepuluh kami berangkat ke kebun sorgum milik Cahyadi di daerah Woloare untuk mengambil tanah sekarung. Tanah ini bakal saya tanami anakan ubi tatas yang sudah mulai bertunas dari beberapa ubi tatas yang saya tanam sekitar dua minggu lalu. Selain membawa tanah sekarung, saya juga membawa pulang satu polybag anakan cabe dan satu polybag anakan cabe rawit.

Cerita tentang kebun sorgum milik Cahyadi dan panen sorgum di beranda belakang Pohon Tua silahkan kalian nonton pada video berikut:



Sebenarnya, apa sih sorgum itu?

Menurut Wikipedia, Sorgum (Sorghum spp.) adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Sebagai bahan pangan, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Sorgum merupakan makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-sahara. Sorgum juga mengandung serat tidak larut air atau serat kasar dan serat pangan, masing-masing sebesar 6,5% - 7,9% dan 1,1% - 1,23%. Kandungan proteinpun seimbang dengan jagung sebesar 10,11% sedangkan jagung 11,02%. Begitu pula dengan kandungan patinya sebesar 80,42% sedangkan kandungan pada jagung 79,95%. Hanya saja, yang membuat tepung sorgum sedikit peminat adalah karena tidak adanya gluten seperti pada tepung terigu. Masyarakat indonesia sudah tenggelam dalam nikmatnya elasitisitas terigu, karena tingginya gluten, dan inilah yang membuat adonan mie, dan roti menjadi elastis.

Terlalu banyak makan dari bahan pangan ber-gluten tidaklah terlalu baik untuk kesehatan, karena dapat menyebabkan celiac desease. Ini merupakan salah satu titik tolak bahwa alternatif tepung yang sehat dapat dikonsumsi adalah tepung sorgum. Selain itu Sorgum dikenal memiliki manfaat yang lebih baik daripada tepung terigu karena gluten free serta memiliki angka glikemik index yang rendah sehingga turut mendukung tren gerakan konsumen gluten free diet seperti di negara-negara maju.

Ceritanya sampai Cahyadi berkebun sorgum dan merembet ke saya adalah pada suatu hari, saya lupa tahun berapa (2017, 2018, atau 2019?), Cahyadi mengantar tamu yang hendak pergi ke Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ada apa di sana? Ada Mama Sorgum Indonesia yaitu Maria Loretha. Dari perjalanan itu Cahyadi membawakan saya kue sorgum dan butir-butir sorgum siap pakai. Dari situlah Cahyadi mulai kepikiran untuk ikut menanam sorgum, melihat manfaatnya yang sangat baik bagi kehidupan umat manusia. Pada tahun 2019 Cahyadi kembali pergi ke sana dan membawakan saya sebungkus bubuk sorgum; bubuk ini dapat dicampur air panas untuk diminum, boleh dicampur gula, boleh tidak dicampur gula, mana-mana suka.

Sampai sorgum kemudian tumbuh di petak tanah sisa 1 x 1 meter di beranda melakang Pohon Tua, silahkan baca pos berjudul Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua. Kalian akan tahu bahwa sorgum merupakan tanaman yang tidak sombong dan tidak repot untuk tumbuh. Dia bisa tumbuh di mana saja selama ada sinar matahari dan air. Saya sudah membuktikannya, saya sudah memanennya!







Setelah dipanen sorgum harus dijemur terlebih dahulu, kemudian digiling/ditumbuk untuk memisahkan isi dan kulit, baru deh diolah untuk dikonsumsi. Karena mesin penggiling sorgum tidak ada di Kota Ende (kabarnya ada di Kecamatan Detusoko, di tempatnya Nando Watu yang sudah terlebih dahulu menanam sorgum), kayaknya saya bakal menumbuknya menggunakan lesung kayu. Sama seperti menumbuk kopi yang sudah disangrai! Hehe. Kayaknya kegiatan menumbuk sorgum bakal seru dan bakal jadi pengalaman bagi kami serumah.


Baca Juga: Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme

Bagaimana, kawan? Ternyata tidak sulit kan memperoleh bahan pangan pengganti nasi? Jujur, gara-gara Covid-19 pun saya kepikiran menanam bahan pangan yang bisa dimakan sebagai pengganti nasi. Bahan pangan itu antara lain ubi tatas dan kentang. Ubi tatas sudah selesai disemai; dari dua sampai tiga biji ubi tatas yang saya tanam, menghasilkan belasan anakan yang ditanam di polybag terpisah setiap anakannya. Mungkin yang paling sulit itu kentang, karena sudah dua kali percobaan ini masih belum membuahkan hasil, hanya saja kentang yang waktu tanamnya bersama-sama ubi tatas saya bongkar dari polybag dan ternyata ... muncul tunas-tunas keciiiil banget dari mata kentang. Makanya kentang itu langsung saya potong dan tanam dengan bagian tunas ngintip dari balik tanah. Semoga tumbuh juga. Setidaknya ubi tatas dan kentang bisa bikin kenyang. Ha ha ha.

Semoga bermanfaat!

Mari berkebun!

#SeninCerita
#Ceritatuteh



Cheers.

Saturday, April 25, 2020

Inilah Bukti Bahwa Takut Tidak Butuh Penampakan Setan


Inilah Bukti Bahwa Takut Tidak Butuh Penampakan Setan. Hola! Kalian masih #DiRumahSaja? Sama dong. Sudah melakukan apa saja saat #DiRumahSaja? Kalau saya sih ... banyak! Mulai dari work from home di mana membikin berita, membikin video testimoni mahasiswa, hingga promosi kampus dilakukan tanpa harus mandi terlebih dahulu. Haha. Pssstttt, work from home bisa menghemat parfum! Selain itu, berkebun mini menjadi salah satu kegiatan harian yang menyenangkan. Sembari menunggu tanaman lain bertumbuh-kembang dan dapat dipanen, kemarin kami sudah memanen sayur kanggung, dimasak bersama tauge bikinan sendiri. Tauge itu dibikin oleh Melly yang super excited sama urusan kebun ha ha ha. Sebagai anak dacin, dia menunjukkan keseriusannya pada perkembangan dan pertumbuhan setiap tanaman.

Baca Juga: The Mentalist

Hari ini di #SabtuReview, setelah mengurus kebun, saya memutuskan untuk menulis tentang tiga filem kece yang wajib kalian nonton, terutama bagi kalian yang menggilai filem horor dan thriller. Tiga filem ini tidak melulu menampilkan penampakan hantu, setan, demit, dan sebangsanya. Iya, tiga filem ini membuktikan bahwa takut tidak butuh itu semua. Tidak percaya? Marilah disimak!

1. Don't Breathe


Hyess! Ini filem yang pernah membikin saya penasaran tingkat tinggi. Mengapa Hooq masih menggembok atau menyegel filem ini pada tahun 2019? Sedangkan filem-filem yang lebih baru sudah bisa ditonton tanpa permisi alias tidak perlu membayar sewa terlebih dulu. Jawabannya mudah. Ini filem bagus dan layak dipertahankan penggembokan atau penyegelannya. Don't Breathe merupakan filem horor thriller Amerika yang dirilis tahun 2016 dan disutradarai oleh Fede Alvarez. Filem menegangkan ini diproduseri oleh Fede Alvarez, Sam Raimi, dan Robert Tapert. Naskah filem yang ditulis oleh Fede Alvarez dan Rodo Sayagues ini dibintangi oleh Jane Levy (sebagai Rocky), Dylan Minnette (Alex), Daniel Zovatto (Money), dan Stephen Lang (sebagai Norman Nordstrom atau si veteran perang yang buta kedua matanya). Saya memang jarang mendengar atau membaca nama-nama itu tapi akting mereka tidak perlu dipertanyakan lagi. Karena belum tentu saya bisa berakting sebagus mereka. Haha.

Don't Breathe bercerita tentang Rocky, Alex, dan Money (yess, thankyou Wikipedia) yang adalah penjahat di Detroit. Pekerjaan mereka membobol rumah-rumah yang diamankan oleh perusahaan keamanan ayah si Alex dan menjual barang-barang curian tersebut. Mereka kemudian mendengar kabar bahwa ada seorang veteran perang Pasukan Khusus Angkatan Darat AS yang tinggal di lingkungan Detroit yang terabaikan (semacam lingkungan perumahan yang tidak dihuni begitu) memiliki uang 300.000 Dollar di rumahnya. Uang itu diterima si veteran sebagai penyelesaian setelah seorang perempuan muda kaya bernama Cindy Roberts yang secara tidak sengaja membunuh puterinya dalam kecelakaan mobil. Si veteran perang adalah seorang laki-laki buta karena ledakan selama perang. Ya, dialah Norman Nordstrom.

Berpikir mencuri di rumah orang yang buta: pasti mudah. Tinggal masuk, mengambil uangnya, terus kabur. Ternyata tidak semudah itu, bahkan nyawa mereka menjadi taruhannya, karena Norman Nordstrom ini 'melihat' segala sesuatunya melalui suara. Indera pendengarannya sangat terlatih. Maksud hati mencuri uang 300.000 Dollar, si Money justru duluan meregang nyawa. Keributan yang terdengar akibat upaya mereka bertiga masuk paksa ke rumah itu membikin Norman Nordstrom terbangun dan mencium aroma pembobolan. Siapapun yang masuk ke rumah itu tanpa permisi, sudah pasti tidak berniat baik bukan? Veteran perang yang buta itu ternyata punya kemampuan yang luar biasa; Rocky dan Alex kemudian harus menyelamatkan diri berhadapan dengan si jagoan yang bahkan dapat mendengar dengus nafas mereka dari jarak lumayan jauh.

Yang tidak disangka-sangka adalah ternyata di ruang bawah tanah rumah itu tersekap perempuan yang secara tidak sengaja membunuh anaknya Norman Nordstrom dalam kecelakaan. Ya, Cindy Roberts! Penemuan harta karun Cindy diketahui Rocky dan Alex saat mereka terjebak di ruangan bawah tanah.

Hiyyyy! Ngeri!

Menurut berita di CNN ini, Don't Breathe sedang dibikin sekuelnya. A-ha! Tidak sabar!

2. A Quiet Place


Jika Don't Breathe dirilis tahun 2016, maka dua tahun kemudian yaitu pada tahun 2018 A Quiet Place dirilis. A Quiet Place adalah filem drama fiksi ilmiah horor Amerika Serikat yang dirilis 3 April 2018 (Indonesia). Filem ini diperankan oleh Emily Blunt, John Krasinski, Millicent Simmonds, dan Noah Jupe. Emily Blunt yang pernah berperan dalam The Girl on the Train dan The Devil Wears Prada ini merupakan isteri dari John Krasinski, baik di dalam A Quiet Place maupun di dalam kehidupan nyata. Asyik ya suami-isteri main filem bareng. Skenarionya ditulis sendiri oleh John Krasinski bersama dan berdasarkan cerita oleh Bryan Woods dan Scott Beck.

Para kritikus mengatakan bahwa ini filem yang cerdas yang sangat mengerikan dan menakutkan.

Alkisah keluarga Abbott selamat dari invasi alien di bumi. Lee Abbott (John Krasinski) dan Evelyn Abbott (Emily Blunt) hidup bersama tiga orang anak yaitu Regan Abbott (Milicent Simmonds), Marcus Abbott (Noah Jupe), dan Beau Abbott (Cade Woodward). Sejak awal berjalan sudah digambarkan kondisi Evelyn yang sedang hamil tua.

Mari mulai dari keluarga Abbott. John, seorang ayah yang sangat dapat diandalkan dan bertanggungjawab pada keluarga, punya ruang kerja bawah tanah tempat monitor-monitor dan radio-radio disimpan. Mencari tahu segala sesuatu tentang invasi alien ini serta kekuatan dan (belum diketahui) kelemahannya. Dia juga membikin alat bantu dengar untuk puterinya yang bernama Regan. Evelyn, seorang ibu yang juga sangat bertanggungjawab pada keluarganya, yang bekerja sangat tenang dalam senyap, dan sedang hamil tua. Regan, puteri satu-satunya usia sekitar 14 (empat belas) tahun yang tuna rungu. Marcus, adik si Regan, usia sekitar 8 (delapan) tahun. Dan Beau yang masih berusia sekitar 5 (lima) tahun.

Cerita bermula ketika keluarga Abbott berada di suatu pusat perbelanjaan yang terlantar. Mereka mencari barang-barang yang bisa digunakan untuk kelangsungan hidup. John mencari barang-barang yang salah satunya untuk membikin alat bantu dengar untuk Regan. Di pusat perbelanjaan itu Beau tertarik dengan pesawat mainan. John menjelaskan pada Beau bahwa mainan itu berbahaya dan baterainya kemudian dilepas. Saat hendak pulang ke rumah, Regan mengambil pesawat mainan dan baterainya, menyerahkan kepada Beau. Dalam perjalanan pulang, saat sedang berjalan di atas pasir yang ditabur sebagai poros jalan mereka di luar rumah itu, Beau membunyikan pesawat mainannya.

Ya, sampai di sini, tamatlah riwayat Beau diserang alien.

Life must go on. 

Sampai suatu hari John pergi memancing bersama Marcus, Regan ngambek karena tidak diijinkan ikut lantas kabur dari rumah menuju jembatan tempat Beau diserang alien, dan tinggal si Evelyn sendiri. Ya, saat seperti itulah Evelyn mengalami kontraksi dan air ketubannya pecah. Yang bikin parah adalah Evelyn tidak sengaja menginjak paku yang terangkat gara-gara tersangkut buntelan kain pakaian yang hendak dibawa Evelyn ke luar ruang bawah tanah. Jeritannya meski tidak terlalu kuat, merupakan 'undangan' untuk para alien.

Dan ... ribut berarti mati.

Selama 90 (sembilan puluh) menit ketegangan benar-benar tersaji sempurna di dalam A Quiet Place. Bagaimana Evelyn berjuang melahirkan sendiri di bak mandi, bagaimana Marcus harus melakukan plan B yaitu menyalakan petasan sebagai pengalihan terhadap alien yang sedang berada di dalam rumah, bagaimana Regan sama sekali have no idea bahwa alat bantu dengarnya itu merupakan senjata ampuh melawan alien, bagaimana John yang sangat diandalkan itu kemudian mati, bagaimana, bagaimana, dan bagaimana yang lain. Kalian yang belum nonton, harus nonton. Hehehe.

3. Exorcism of Emily Rose


Inilah pertempuran antara ilmu pengetahuan dan agama; dari sudut pandang mana orang melihat seseorang yang kerasukan dan/atau bertingkah aneh. The Exorcism of Emily Rose adalah sebuah film horor supranatural Amerika Serikat yang dirilis pada tahun 2005. Filem ini digarap oleh Scott Derrickson dengan pemeran Laura Linney (sebagai Erin Christine Bruner), Tom Wilkinson sebagai (Padri Richard Moore), Campbell Scott (sebagai Ethan Thomas), dan tentu saja Jennifer Carpenter (sebagai Emily Rose). The Exorcism of Emily Rose diangkat dari kisah nyata seorang perempuan asal Jerman Barat yang bernama Anneliese Michel. Anneliese Michel lahir di Leiblfing, Bavaria, Jerman barat pada 12 september 1952. Ketika lulus SMA di pindah ke kota untuk kuliah dan menetap di (semacam) asrama.

Meskipun The Exorcism of Emily Rose diadaptasi dari kisah nyata kehidupan Anneliese Michel namun pada versi filem tentu tidak sepanjang kisah aslinya. Dan saya menulis berdasarkan filem yang sudah saya tonton berkali-kali itu. Tentu pada versi filem ada hal-hal yang tidak ikut masuk ke dalam frame karena perhitungan durasi.

Fast forward, Emily Rose lulus SMA dengan hasil yang memuaskan, dia sangat bahagia dan terlihat sangat sehat. Dia kemudian mulai kuliah dan tidur di (semacam) asrama. Di situlah dia mulai mengalami gangguan. Sedangkan pada kisah aslinya, Anneliese Michel dikatakan mulai menjauhi benda-benda religi (agama Katolik) dan dukun yang melihatnya mengakui bahwa Anneliese Michel memang kerasukan roh jahat. Atas permintaan keluarga kepada petinggi agama Katolik, maka Emily Rose dipertemukan dengan dua Pater (Padri) yang salah satunya bernama Richard Moore. Pater Moore mulai melakukan pengusiran setan terhadap Emily Rose. Selain itu Emily Rose juga ditangani secara medis. Para dokter mengklaim bahwa Emily Rose mengidap epilepsi. Dia juga dikatakan mengalami gangguan jiwa. Dan penanganan medis jangka panjang menggunakan obat anti-psikotik ternyata ... tidak berhasil.

Kepada Pater Moore, Emily Rose mengaku dia dirasuki oleh Judas Iscariot, Adolf Hitler, Nero, Cain, Fleischmann, hingga yang paling kuat yaitu Lucifer. Proses pengusiran setan dilakukan selama sepuluh bulan, sebanyak 67 kali. Di dalam filem, pengusiran setan terakhir itu yang paling parah karena Pater Moore dan kawannya harus berhadapan dengan Lucifer. Kandang kuda menjadi tempat terakhir di mana pengusiran setan dilakukan, menggambarkan kengerian demi kengerian saat Emily Rose berbicara dengan bahasa-bahasa lain, ular-ular bermunculan, dan lain sebagainya, tanpa menunjukkan batang hidung setan atau roh jahat itu sendiri. Ugh ... bergidik sekali saya meskipun sudah menontonnya berkali-kali.


Bisa membayangkan kengeriannya?

Hiiiiiy!

Don't Breathe, A Quiet Place, dan The Exorcism of Emily Rose adalah tiga filem yang membangun tensi menegangkan tanpa harus menunjukkan penampakan setan itu sendiri. Tidak ada pocong dan tante kunti (hahaha), tidak ada genderuwo, tidak ada sosok menakutkan bergigi taring berdarah, tidak ada pula badut lucu tetapi pembunuh berdarah dingin. Total, ketiga filem itu, hanya pada A Quiet Place saja kita bisa melihat satu atau dua kali penampakan alien ... tapi itu alien, bukan setan. Filem seperti ini yang saya sebut dengan kengerian tersembunyi itu jauh lebih mengerikan.

Baca Juga: Eko Poceratu Nyong Maluku Yang Mendunia Melalui Puisi

Semoga tiga filem di atas, meskipun bukan filem terbaru, dapat menjadi rekomendasi filem untuk kalian tonton saat berada di rumah sebagai upaya untuk memutus penyebaran Covid-19. Siapa tahu setelah menontonnya, kalian bakal menulis sendiri review-nya. Saya pribadi kalau ditanya apakah masih ingin menonton ketiga filem itu, ya jelas! Filem bagus harus ditonton berulang-ulang. Hahaha. Apalagi di Kota Ende belum ada bioskop kan *tertunduk lesu*. Tapi yang pasti, kalau kalian mengalami kengerian atau ketakutan, jangan pernah salahkan saya!

#SabtuReview



Cheers.






Friday, April 24, 2020

#PDL Kegiatan Blogger Nusantara dan Berjuta Pengalaman


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

#PDL Kegiatan Blogger Nusantara dan Berjuta Pengalaman. Jujur, saya rindu pada kegiatan-kegiatan yang mempertemukan para blogger dari seluruh Indonesia. Alhamdulillah pernah mengikuti kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Internet Sehat. Silahkan baca pos berjudul Berinternet Juga Ada Kode Etiknya dan Irisan 4; FGD2012 by Internetsehat. Berikutnya pernah mengikuti kegiatan Asean Blogger yang posnya bisa kalian baca Cerita 7 Tahun Lalu di Asean Blogger. Masih ada? Masih dong. Saya juga pernah mengikuti kegiatan Kopdar Blogger Nusantara 2012 di Makassar. Silahkan baca pos berjudul Cerita Cuti #7 Kopdar Blogger Nusantara 2012. Masih ada kegiatan-kegiatan lainnya tapi hari ini saya ingin mengenang kembali kegiatan di Makassar. Kopdar Blogger Nusantara 2012.

Baca Juga: #PDL Pernah Menikmati Masa Indah Bersama Walkman

Kopdar Blogger Nusantara 2012 diselenggarakan selama tiga hari yaitu 9 s.d. 11 November 2012 di Kota Makasar. 


Saya tidak menulis ulang, tetapi hanya ingin berbagi cerita bahwa ketika mengikuti kegiatan Kopdar Blogger Nusantara 2012 itu, banyak sekali pengalaman yang saya alami. Tidak hanya bertemu teman-teman blogger dari seluruh Indonesia, tetapi juga berbagai hal lainnya selain kegiatan utama.


Tahun 2012 itu saya mengantongi delapan tiket pesawat untuk serangkaian kegiatan baik tiket gratisan maupun tiket yang dibeli sendiri. Perjalanan itu dimulai dari:

Ende ke Kupang.
Kupang ke Jakarta (transit Surabaya).
Jakarta ke Yogyakarta.
Dari Yogyakarta naik travel ke Surabaya.
Surabaya  ke Kupang.
Kupang ke Ende.
Dari Ende naik travel ke Maumere.
Maumere ke Makassar.
Makassar ke Kupang.
Kupang ke Ende.

Pengalaman dan perjalanan terbanyak memang terjadi di tahun 2012. Sampai-sampai waktu tiba di Kota Ende hanya untuk bongkar-muat backpack, Mamatua bilang: Jadi Nona tiba hanya untuk kencing saja, terus pergi ke Maumere? Haha. Soalnya hari saya tiba di Kota Ende sekitar pukul 14.00 Wita, tiba di rumah untuk bongkar-muat isi backpack, lantas dijemput mobil travel untuk pergi ke Maumere karena tiket ke Makassar itu bertolak dari Maumere. Itu pun saat mobil travel menjemput, saya sedang makan ... terburu-buru.


Anyhoo, dari kegiatan Kopdar Blogger Nusantara 2012 saya jadi tahu Bandara Internasional Sultan HasanuddinWisma Kemensos di Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Gedung LAN Antang di Jalan Baruga tempat kegiatan berlangsung, berbagai komunitas seperti Komunitas Jalan-Jalan Seru Makassar, Komunitas Pecinta Anak Jalanan, Komunitas Makassar Berkebun, Tangan Di Atas Makssar, Komunitas Merajut Makassar, Komunitas Makassar Backpacker, Komunitas Cinematografi, hingga Lintas[dot]me.


Dari lini kuliner, saya juga merasakan nikmatnya Coto Makassar, Sup Konro, Mi Titi, hingga Saraba.

Kalau jalan-jalan, selain diajak Ucha makan Mi Titi di samping Carefour, kami juga diajak Rara dan teman-teman lainnya jalan-jalan ke Pantai Losari hingga Benteng Fort Rotterdam. Dan tentu, saya jadi tahu soal supir pete-pete! Iya, penasaran sama cuitan akun supir pete-pete di Twitter, jadilah saya mencoba menumpang pete-pete waktu hendak bertemu Ucha. Hehe.

Baca Juga: #PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu

Jujur, saya merindukan semua momen itu. Haha hihi sekaligus tambah pengalaman. Kapan lagi kalau bukan saat ketemu blogger dari seluruh Indonesia? Saya sering bertanya-tanya apakah saat ini masih ada kegiatan-kegiatan serupa yang dimulai dari Pesta Blogger itu? Atau ... saya saja yang kurang update? Mungkin saja kegiatan serupa masih terus dilakukan tetapi sayanya saja yang tidak tahu alias tidak diundang lagi. Ha ha ha. Tapi setidaknya kegiatan Kopdar Blogger Nusantara 2012 membikin saya mengantongi pula berjuta pengalaman! Kapan terulang lagi? Entah. Hihihi.

#PDL



Cheers.

Thursday, April 23, 2020

Katanya Saat Wabah Covid-19 Urusan Pernikahan Lebih Lancar

Pada pernikahan Aram dan Mila.

Katanya Saat Wabah Covid-19 Urusan Pernikahan Lebih Lancar. Sejak himbauan jarak sosial yang kemudian menjadi jarak fisik diberlakukan, pesta pernikahan menjadi sorotan masyarakat. Ya, terhitung sejak jarak sosial diberlakukan, ada satu pesta pernikahan di Kota Ende digelar sangat meriah layaknya pesta pernikahan pada hari-hari normal. Ribuan orang berkumpul untuk merayakan pernikahan pasangan tersebut. Saya pikir, karena masih awal, tidak terlalu menjadi masalah, meskipun ada status Facebook satu dua orang yang menyayangkan pesta tersebut. Saya sendiri memposisikan diri sebagai si empu pesta. Rencana yang sudah disusun sejak tahun 2019 kemudian batal begitu saja kan ... sayang. Hehe. Untungnya waktu pesta tersebut berlangsung, dengan sangat meriah, Kabupaten Ende (bahkan mungkin Provinsi NTT) masih berstatus zona (sangat) hijau. Kalau sekarang sih saya belum tahu pasti ... setelah video viral pengakuan seorang lelaki tentang dirinya yang positif Covid-19 tapi tidak merasakan apa-apa di tubuhnya.

Baca Juga: Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati

Fast forward, langsung pada menikah di saat wabah Covid-19 yang katanya urusannya lebih lancar. Benarkah demikian? Dari begitu banyak status WA dan status Facebook, saya melihat satu dua tulisan tentang: nikah sudah sekarang, pangkas biaya pesta.

Wow. Hahaha.

Wajar saja ketika ada yang menulis seperti itu, terutama Orang Ende, karena memang demikian adanya. Dalam adat Suku Ende, perihal pesta ini sudah dimulai sejak Buku Pelulu ketika pihak calon pengantin laki-laki datang melamar calon pengantin perempuan. Aneka kudapan disiapkan oleh masing-masing pihak. Berdasarkan adat Suku Ende, sebelum pihak calon pengantin laki-laki datang ke rumah pihak calon pengantin perempuan, pihak calon pengantin laki-laki ini sudah menyiapkan aneka kudapan yang disuguhkan untuk keluarga dan tetangga yang datang. Keluarga dan tetangga ini nantinya bersama-sama keluarga inti berbondong-bondong pergi ke rumah pihak calon pengantin perempuan. Di rumah calon pengantin perempuan pun, keluarga dan tetangga yang menunggu kedatangan pihak pengantin laki-laki beserta keluarga dan tetangganya, juga disuguhi aneka kudapan. Bagi saya, meskipun skalanya kecil, ini pun disebut pesta. Defenisi pesta menurut saya pribadi adalah ketika di situ ada banyak orang, makanan, dan musik.

Itu baru Buku Pelulu-nya, belum lagi kegiatan menjelang pernikahan, serta drama-drama yang terjadi. Ugh, biaya itu pasti ada.

Pernikahan dan pesta ibarat dua sisi mata uang koin. Yang satu tidak bisa jalan sendiri tanpa yang lain. Kalau ada yang tidak sependapat dengan saya dan contoh Buku Pelulu di atas belum sepenuhnya dipahami, ini ada contoh lain. Dalam pernikahan agama Islam, misalnya, setelah ijab kabul alias Islamic marriage contract, tentu pihak keluarga tetap menyiapkan kudapan dan makanan usai ijab kabul kan? Itu namanya pesta juga, meskipun skalanya juga kecil, karena ijab kabul biasanya hanya dihadiri oleh orang-orang penting saja seperti Penghulu, Saksi, Orangtua, dan keluarga serta tetangga terdekat. Jadi, saya akan tetap menulis pernikahan dan pesta itu ibarat dua sisi mata uang koin. Sampai di sini kita sependapat dulu, ya. Jangan protes lagi. Hahaha *pemaksaan*.

Ketika ada yang menulis menikah di saat wabah Covid-19 memangkas biaya pesta dan urusan lebih lancar, saya pikir-pikir dulu. Bukaaaaan, bukan karena saya mau menikah, ha ha ha. Jadi begini ... menikah, dalam kondisi apa pun, tetap mengeluarkan biaya. Besar atau kecil biaya, tergantung, tetapi besar atau kecilnya biaya pun tidak seberapa jauh bedanya. Tetap ada biaya yang dikeluarkan. Biaya yang paling pasti adalah mengurus perijinan menikah. Mulai dari menyiapkan dokumen, menggandakan dokumen, pas foto, dan biaya lain-lainnya. Biaya berikutnya adalah pakaian. Kita boleh saja bersikap masa bodoh tetapi penghormatan dan penghargaan pada diri sendiri itu penting. Menikah, insha Allah, terjadi satu kali seumur hidup. Oleh karena itu, berilah penghormatan dan penghargaan pada diri sendiri dengan memakai pakaian yang baik; pakaian pengantin. Biaya berikutnya adalah kamar pengantin yang perlu dihias. Biaya berikutnya, ini penting, berhubungan dengan konsumsi. Mau paling sederhana pun, seperti hanya menyiapkan kopi - teh - kudapan, tetap ada biayanya. Tetap ada. 

Biaya yang tidak dikeluarkan saat melangsungkan pernikahan saat wabah Covid-19 hanya biaya pesta (besar) dengan undangan ribuan orang. Pesta itu memang memakan cukup banyak biaya selain konsumsi. Mencetak undangan butuh biaya, juga perlu memikirkan biaya gedung dan dekorasi. Tapiiii ada kok orang yang melangsungkan pesta pernikahan usai ijab kabul (pagi hari), dilanjutkan dengan ramah-tamah sederhana, dan bubar menjelang Shalat Dzuhur. Biaya? Tetap ada! Haha.

Urusan memperlancar segalanya pun saya pikir tidak. Justru pada saat wabah Covid-19 urusan tidak lancar-lancar amat. Kita harus menjaga jarak, memakai masker, sering mencuci tangan ... hal-hal yang tidak sering kita lakukan pada hari-hari normal. Biasanya pergi ke studio foto untuk foto pas bakal buku nikah, langsung selonong ke ruang foto, sekarang harus cuci tangan dulu di depannya. Biasanya kumpul-kumpul malam Deba sebelum hari pernikahan, pasti dilarang lah, karena saat ini pihak berwajib sangat ketat dan selalu membubarkan kerumunan. Di kompleks perumahan saya pernah itu anak-anak muda yang sedang berkumpul dibubarkan oleh polisi yang patroli. Lari tunggang-langgang lah mereka.

Kesimpulannya apa, Teh?

Baca Juga: Mengurai Makna Karantina Diri Sendiri dan Liburan

Kesimpulannya adalah: kalau ada yang bilang saat wabah Covid-19 urusan pernikahan lebih lancar, itu keliru. Saya tidak bilang salah loh ya, tapi keliru. Urusan tidak mendadak menjadi lebih lancar. Biaya tidak mendadak jauh jatuhnya. Biaya tetap ada dan perbedaannya hanya pada urusan pesta, mau pesta kecil atau pesta besar. Itu saja sih. Hehe.

Bagaimana menurut kalian?

#KamisLegit



Cheers.

Wednesday, April 22, 2020

Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua


Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua. Salah satu cara memutus rantai penyebaran Covid-19 bagi para pekerja kantoran adalah work from home. Sedapat mungkin pekerjaan dilakukan di rumah dan dari rumah. Namun, apabila terpaksa harus keluar rumah, maka harus dilakukan dengan mematuhi protokol perlindungan diri, yang dilakukan juga demi perlindungan orang lain, yaitu dengan memakai masker, menjaga jarak, dan tidak boleh menyentuh wajah sebelum mencuci tangan minimal dua puluh detik dan/atau membasuh tangan dengan hand sanitizer. Protokol perlindungan diri ini insha Allah selalu kami lakukan, termasuk untuk siapa saja yang masuk ke dalam Pohon Tua, rumah kami, mereka wajib membersihkan tangan dengan sabun atau hand sanitizer.


Kembali lagi pada work from home. Apakah asyik? Ya, asyik! Tidak perlu harus mandi terlebih dulu, bisa dilakukan dengan mengenakan pakaian rumah, dan seringnya dilakukan di kamar karena laptop (dan meja kerja) berada di kamar. Asyik lainnya adalah bisa mengisi waktu kosong karena durasi pekerjaan tidak memakan waktu sampai delapan jam sehari seperti kehadiran kita di kantor pada hari-hari normal. Waktu kosong itu saya manfaatkan dengan melakukan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah berkebun (mini) di beranda belakang Pohon Tua. Kenapa saya sebut beranda, bukan halaman? Karena halaman Pohon Tua itu letaknya di samping-belakang, berdekatan dengan jalan, sedangkan bagian belakang Pohon Tua itu betul-betul seperti beranda di mana ada bekas dapur anak kos zaman dulu, bak penampung air, hingga tempat menjemur pakaian yang tanahnya dilapisi semen. Tanah yang tersisa hanya sekitar 1 x 1 meter saja (yang tidak dilapisi semen), serta di bagian pojok/sudut atas.


Berkebun bukan baru pertama kali ini saya lakukan. Dulu juga sudah saya lakukan dan telah membuahkan hasil yang dinikmati oleh banyak orang. Tanaman daun sop sudah dibagi-bagi kepada siapa pun yang memintanya, cabe sudah dinikmati hampir setiap hari, cocor bebek dan daun mengkudu diminta sama yang membutuhkan untuk obat, dan lidah buaya telah saya pergunakan untuk dikonsumsi sebagai penurun kadar gula dalam darah. Selain itu lidah buaya saya oleskan pada bekas-bekas luka yang menghitam. Haha. Gini hareeee masih ada bekas luka, main di parit lu, Teh? Sayangnya waktu itu tomat tidak bisa dinikmati karena hama dari Negara Api menyerang. Sayur sawi yang mulai mekar hancur ... entah akibat perbuatan siapa. Dududud.




Tahun 2020 saya kembali membakar semangat. Hahahaha.

Berawal dari suatu hari saat saya kembali menyalakan api asmara ingin bercengkerama dengan aneka tanaman. Maka saya mengisi lima polybag dengan tanah setelah meminta bibit tanaman pada Cahyadi. Tanahnya diambil dari samping-belakang Pohon Tua. Cahyadi datang membawa bibit-bibit untuk ditanam antara lain terong, cabe, dan sawi. Tetapi dua minggu berlalu, tidak ada satu pun tanda-tanda kehidupan dari polybag tersebut. Miris. Artinya tanah itu tidak mampu menopang pertumbuhan bibit. Apa yang tidak saya ketahui adalah bahwa pada hari itu juga, selain menanam bibit terong, cabe, dan sawi, diam-diam Cahyadi pergi ke beranda belakang Pohon Tua untuk menanam sorgum dan marungge (kelor) pada sekitar 1 x 1 meter tanah sisa itu. Inilah sumber segala sumber kegilaan saya ... kemudian. Sorgum dan marungge tumbuh menjulang tanpa kami sadari! Amboiiiiii.


Bibit terong, cabe, dan sawi itu memang tidak tumbuh. Tapi saya tidak menyerah. Saya harus bisa menumbuhkan tanaman di tahun ini! Tahun pandemi Covid-19! Melihat itu, Cahyadi (mungkin) merasa kasihan, maka dia membawakan saya tujuh polybag kecil anakan tanaman. Dua anakan terong, satu anakan cabe, dan empat anakan marungge. Duh, tujuh polybag itu saya sayang-sayang seperti pacar sendiri.

Bermodal tujuh polybag dan semangat yang menggila, saya mengajak Thika Pharmantara dan Melly untuk membenahi beranda belakang. Rak pot bunga berbahan kayu yang berada di teras Pohon Tua dipindah ke beranda belakang, berdekatan dengan bak air yang sudah tidak terpakai itu. Polybag sudah disiapkan. Tanahnya? Saya pun meminta tanah pada Abang Umar Hamdan, pentolannya Anak Cinta Lingkungan (ACIL). Dapat satu karung! Horeeee. Abang Umar sampai terkekeh mendengar permintaan tanah (subur). Orang lain minta tanah berhektar-hektar, saya minta tanah sekarung buat tanaman. Ya mau bagaimana lagi? Semangat ada, bibit ada, lahan tidak ada. Tapi selama masih ada polybag dan tanah, mari lanjutkan.


Cahyadi datang membawa tas berkebunnya yang berisi: aneka bibit dan dua sendok semen. Sore yang hangat itu kami menanam bibit terong, bibit cabe, bibit tomat. Ketiganya kami beli bibitnya di Toko Sabatani (yang murah, per bungkus hanya 2K saja). Lantas, Cahyadi menanam bawang putih di dua  polybag, dan bibit bengkoang di tanah sisa sebelah sudut atas. Kemudian, kami membeli lagi bibit sawi, kali ini yang dalam kemasan pabrik, agak mahalan sih harganya. Dan ... tentu saja kembali mendapat hibah sekarung tanah dari Abang Umar Hamdan. Mari, lanjut menanam.

Baca Juga: Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah

Apa saja yang kami tanam? Bibit sawi, wortel, bawang merah, kentang, ubi tatas, hingga batang kangkung yang daunnya sudah dipakai memasak! Haha. Eits jangan salah ... tumbuh bagus loh kangkungnya. Saat saya menulis ini, bibit-bibit sudah tumbuh baik, dan saya sudah memindahkan terong pemberian Cahyadi ke wadah yang lebih besar karena si terong memang tumbuh besar!

 Terong dan cabe yang sudah dipindah ke polybag besar.

Terong dan cabe waktu masih di polybag kecil. 

Bengkoang yang mulai disentuh sinar matahari. 

Kangkungnya tumbuh, gengs. Padahal cuma dari batang sisa. 

Bibit sawi yang bermunculan ini bikin bahagia. 

Dan ini anakan terung dari bibit 2K, yang ternyata ... tumbuh.

Kalau yang dipanah itu, bawang putih.

Yang belum bisa saya foto karena memang belum nampak hasilnya. Hehe. Tapi, asli, saya bahagia melihat tanaman-tanaman ini tumbuh.

Berbekal pengalaman sebelum-sebelumnya, serta melihat cuaca (saat ini sering turun hujan), maka saya menerapkan pola yang berbeda untuk tanaman-tanaman yang masih mini ini. Setiap tanaman tentu membutuhkan sinar matahari untuk berfotosintesis dan membuat makanan. Tanpa cahaya matahari, susah sekali tanaman bisa tumbuh. Sinar buatan dari cahaya lampu tidak akan sama dengan sinar matahari yang alami dan gratis. Haha. Tanaman juga membutuhkan air, tetapi kalau kebanyakan air, bisa rusak pula tanaman itu. Apalagi yang basi baby begitu! Jadi, polanya adalah setiap pagi semua polybag akan dikeluarkan dari bagian beratap agar mereka terpapar sinar matahari. Kecuali kangkung yang memang kami biarkan saja di rak kayu butut itu. Setiap sore, semua polybag bakal kami simpan kembali ke bagian beratap untuk menghindari hujan di malam hari. Pola ini akan terus dilakukan sampai semua tanaman besar dan cukup kuat untuk menahan air hujan.

Capek donk? Memang! Tapi di dunia ini tidak ada pekerjaan yang tidak membikin capek. Dan percayalah, capek itu nantinya akan dibalas dengan hasil yang insha Allah baik.

Baca Juga: Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan

Gara-gara kebun mini di beranda belakang Pohon Tua saya jadi punya aktivitas yang betul-betul baru dan rutin. Setiap pagi, bergantian dengan Thika dan Melly, memindahkan polybag agar tanaman terpapar sinar matahari. Setiap dua jam sekali saya kembali ke sana untuk memercik semua polybag dengan air. Sore hari, setelah disiram air, semua polybag dimasukkan lagi ke bagian beranda yang beratap. Ini aktivitas rutin yang menyenangkan karena setiap pagi selalu ada kejutan baru dari setiap tanaman. Ada yang tumbuh besar, ada pula yang mengintip malu-malu dari tanah. Sebagai 'orangtua' tentu saya senang (bahagia lebih tepatnya) melihat pertumbuhan mereka.

Berikutnya kami akan coba menanam jahe, kunyit, dan kawan-kawan se-geng-nya.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Di rumah saja jadi punya banyak waktu kan? Ayo berkebun. Jangan bilang kalian tidak punya lahan. Berkebun tidak selamanya harus punya lahan. Selama masih ada polybag/wadah dan tanah yang bisa diminta (tanah subur), tentu kita bisa berkebun mini. Kalau saya yang lebih suka nge-game ini bisa ... kalian juga bisa. Kebun mini mungkin tidak bisa menghidupi kita setiap hari, tetapi suatu saat dia pasti akan menjadi kebanggaan. Iya, bangga ... ketika sayur yang ada di piring itu berasal dari kebun mini sendiri.

Semoga bermanfaat!

#RabuDIY



Cheers.

Tuesday, April 21, 2020

Ternyata Ada Teknologi Self-Sanitizing Door Handle Loh

Credits: Yanko Design.

Ternyata Ada Teknologi Self-Sanitizing Door Handle Loh. Sampai kapan kita akan terus menulis dan/atau berbicara tentang virus Corona atau Covid-19? Sampai badai virus ini benar-benar berlalu. Atau, sampai telah ditemukan anti virusnya di mana anti virus itu mudah diperoleh masyarakat semudah memperoleh parasetamol. Kapankah badai virus ini berlalu? Itu yang tidak kita ketahui dan sulit untuk diprediksi karena tergantung pada kepatuhan masyarakat terhadap berbagai himbauan dari pemerintah. Himbauan yang dikeluarkan itu bukan untuk kepentingan pemerintah semata, tetapi juga untuk kepentingan masyarakat itu sendiri. Covid-19 tidak saja membikin pola hidup manusia berubah tetapi juga membikin manusia berinovasi.

Baca Juga: Pengalaman Menggunakan Camtasia Screen Recorder

Salah satu inovasinya bisa kalian baca pada pos berjudul Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir. Salah dua inovasinya, mau saya bahas hari ini di #SelasaTekno.

Self-Sanitizing Door Handle


Seperti biasa, situs rujukan pos ini adalah Yanko Design. Seperti namanya, Self-Sanitizing Door Handle berarti pegangan pintu yang membersihkan (tangan yang memegangnya secara otomatis. Self-Sanitizing Door Handle didesain oleh Sum Ming Wong dan Kin Pong Li. Keduanya merupakan siswa di Hongkong. Mereka berdua selangkah lebih maju dalam hal mensterilkan tangan. Kalau kita masih memakai, bahkan masih berburu, hand sanitizer, maka mereka mendesain gagang pintu sanitizer. Gagang pintu dan/atau pegangan pintu itu menggunakan cahaya agar selalu disterilkan. Pada tahun 2020, ini diklasifikasikan sebagai objek pintar dan setara dengan seseorang yang mengetahui pentingnya mencuci tangan.

Para siswa terinspirasi oleh wabah SARS pada tahun 2000-an dan membayangkan bahwa pegangan pintu self-sanitizing lebih efektif daripada proses pembersihan berbasis bahan kimia yang kita gunakan saat ini. Pegangan terbuat dari tabung kaca dengan tutup aluminium di setiap ujung dan seluruh pegangan ditutupi dengan lapisan fotokatalitik bubuk yang terbuat dari mineral yang disebut titanium dioksida. Bakteri terurai melalui reaksi kimia yang diaktifkan oleh sinar UV yang bereaksi dengan lapisan tipis pada tabung gelas. Didukung oleh generator internal, pegangan mengubah energi kinetik dari gerakan pembukaan / penutupan pintu menjadi energi cahaya dan begitulah cara lampu UV selalu melakukan tugasnya. Produk pembunuh kuman ini benar-benar menghancurkan 99,8% mikroba selama tes laboratorium dan itu lebih dari apa yang dilakukan Thanos dengan batu infinity-nya.

CreditsYanko Design.

Selain menjadi pahlawan pegangan, Self-Sanitizing Door Handle memiliki estetika visual modern dan bentuk yang ramping. Lampu latar hampir membuatnya tampak seperti lampu lava! Bayangkan jika menyala hijau atau merah untuk menunjukkan apakah pegangannya aman untuk disentuh atau tidak. Para siswa dipengaruhi oleh jumlah orang yang terinfeksi dan dibunuh selama SARS dan ingin melakukan sesuatu untuk mengubah gambaran kesehatan masyarakat melalui desain inovatif. Mengingat bahwa pegangan pintu publik adalah titik panas bagi bakteri, ini bisa menjadi awal dalam membuat infrastruktur yang lebih aman untuk dunia yang lebih siap untuk menangani pandemi.

Self-Sanitizing Door Handle adalah salah satu entri pemenang untuk James Dyson Awards 2019.

Apakah Kita Membutuhkannya?


Jelas! Semua umat manusia membutuhkannya. Dengan Self-Sanitizing Door Handle ini maka setiap orang tidak perlu mencuci tangan setiap hendak memasuki rumah dan/atau ruangan karena otomatis tangan sudah dibersihkan saat memegang gagang pintu. Penggunaan hand sanitizer pun bisa ditekan. Tetapi skala prioritas belum mengijinkan kita memperolehnya. Karena, skala prioritas saat ini tentulah bagaimana tim medis di seluruh dunia, terkhusus di Indonesia, bisa memperoleh Alat Pelindung Diri (APD) atau Personal Protective Equipment. Agar mereka tidak perlu terlalu was-was setiap menangani pasien Covid-19. Berikutnya, bisa ditemukan anti virusnya atau obat yang betul-betul ampuh. Berikutnya, masyarakat terdampak Covid-19 dapat terbantu. Ya, sebagian masyarakat Indonesia harus betul-betul dibantu perekonomiannya. Tidak perlu banyak, tetapi mencukupi dan/atau bersifat menambah.


Baca Juga: Puasnya Melihat Hasil Foto dan Video Kamera Realme 5i

Bagaimana menurut kalian, kawan? Bagus kan Self-Sanitizing Door Handle ini? Karena sangat membantu aktivitas kita sehari-hari apalagi bagi siapa pun yang lupa mencuci tangan. Saya tidak berharap Self-Sanitizing Door Handle terpasang di Pohon Tua, toh pintu Pohon Tua rata-rata memakai gerendel karena menghindari pergeseran daun pintu saat gempa. Zadul kan? Hahaha. Tapi yang jelas, dalam kondisi terdesak, wabah (SARS, Covid-19) dapat menjadi daya dorong bagi manusia untuk berinovasi, dan mengubah pola hidup.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno.



Cheers.

Monday, April 20, 2020

Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online


Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online. Hola! Minggu kemarin merupakan minggu paling tidak produktif. Tapi bohong. Hehe. Tidak produktif di blog, tapi sangat produktif di belakang rumah, bercengkerama dengan tanah, polybag, bibit, tunas, dan anakan. Pagi ini, saya sangat gembira melihat bibit sawi yang bertumbuh, mengintip dari celah tanah, mencari sesuatu yang disebut sinar (matahari). Horeee! Kekuatiran saya, bahwa mereka bakal gagal tumbuh, pun sirna. Saya pernah menanam bibit sawi, pernah melihatnya bertumbuh hingga remaja, kemudian dihancurkan oleh ... entah ... manusia atau ayam. Jahat. Kali ini tidak boleh terjadi lagi pengrusakan itu, Ferguso! Haha. Oalah ... intro-nya kepanjangan. Mari lanjut dengan Kelas Blogging Online.

Baca Juga: Mengenang Pak De yang Humoris, Murah Hati, dan Merakyat

Tahun 2018 saya bersama Om Bisot dan Kanaz membuka kelas blogging. Cerita tentang kelas blogging tersebut bisa kalian baca pada pos berjudul: 5 Alasan Membuka Kelas Blogging NTT, Angkatan II Kelas Blogging NTT, 5 Kelas Blogging, 5 Peserta Favorit Kelas Blogging#PDL BAT Dan Kelas-Kelas Blogging Yang Mereka Bangun. Alasan membangun kelas blogging adalah agar teman-teman di luar sana yang belum punya blog bisa belajar membikin dan membangun blog, serta teman-teman yang sudah punya blog bisa belajar mengelola blog dengan baik. Kami bertiga murni hanya ingin berbagi informasi dan sedikit pengetahuan. Tidak sepeser pun bayaran dipungut. Iya, berdasarkan kesenangan saja. Kelas blogging tersebut berjalan di WhatsApp Group (WAG).

Tahun 2020, kami kembali membuka kelas blogging, tapi agak berbeda.


Berbeda apanya sih?

Pertama: Kami bekerja sama dengan Sekolah Relawan.
Kedua: Kali ini berbayar!


Setiap orang yang ingin menjadi peserta Kelas Blogging Online 2020, wajib membayar biaya pendaftaran sejumlah Rp 100.000. Biaya pendaftaran langsung dikirimkan pada rekening Sekolah Relawan, lantas mengirimkan bukti transfer pada nomor WA Kanaz, dan nanti akan di-add pada WAG Kelas Blogging Online 2020.


Biaya pendaftaran yang dikirimkan pada rekening Sekolah Relawan tersebut akan dimanfaatkan untuk membantu masyarakat terdampak Covid-19. Makanya kami menulis Belajar Blog Sambil Donasi. Kapan lagi? Ya sekarang lah.

Waktu (kembali) diajak Kanaz untuk membuka kelas blogging saya langsung semangat. Karena, setiap orang punya caranya masing-masing untuk membantu. Apalagi saat kondisi seperti sekarang di mana virus Corona a.k.a. Covid-19 merajai dunia. Kami yang work from home, tentu sangat senang bisa melakukan ini, di sela-sela pekerjaan yang juga tak kalah banyak. Ini ibarat oase di padang pasir. Kerinduan untuk bercengkerama dengan lebih banyak orang (baru) meskipun hanya melalui WAG. Doakan semoga banyak pesertanya. Karena, semakin banyak peserta, semakin banyak masyarakat terdampak Covid-19 yang bisa terbantu.

Insha Allah.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.